NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 5 Final Chapter

Final Chapter

Siang yang Abadi


1

"Aku suka padamu."

Entah bagaimana kata itu bisa meluncur dari mulutku.

Aku sendiri pun tak mengerti.

Niat awalku adalah membicarakan soal Asaka dan tawaran scouting, tapi yang keluar dari mulutku malah kata yang sama sekali tak kuduga.

Apa karena aku cemas Asaka akan kembali besok?

Atau jangan-jangan, aku mencoba mengungkapkan perasaanku sebelum Asaka datang besok, mumpung dia sedang tidak ada di sini?

Atau mungkin, harapan naif bahwa Yuu-nii akan menerima perasaanku lah yang mendorongku bertindak seperti itu?

Atau mungkinkah aku merasa harus memberitahukan alasan mengapa aku tak ingin meninggalkan Fujinomiya, sebelum aku menolak tawaran dari tim scouting?

Apa pun alasannya, aku sudah terlanjur mengatakannya. Aku sudah mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.

Perasaan yang selalu kusembunyikan, yang selama ini kujaga agar tidak ketahuan.

Suka.

Aku menyukai Yuu-nii.

Hanya dengan mengucapkan satu kata itu, seluruh tubuhku terasa panas seperti terbakar, dan jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit.

Napas memburu, aku tak bisa menghirup udara dengan baik, seolah tubuhku tak lagi mau mendengarkan perintahku.

Ah, Asaka pasti merasakan hal yang sama.

Mengungkapkan perasaan pada orang yang disukai lewat kata-kata... Meski tanpa sadar kata itu terlontar dari mulutku, Asaka pasti merasa lebih menderita karena butuh tekad kuat baginya untuk akhirnya bisa mengatakannya.

Mengungkapkan perasaan itu bukan hal yang mudah, dan yang terpenting, ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan seorang diri.

Sebuah pengakuan baru akan bermakna jika pihak lain menerimanya.

Aku menoleh ke arah kursi kemudi. Di sana, kulihat wajah Yuu-nii yang kebingungan.

"...Hah?"

Yuu-nii menatapku dengan pandangan kosong dan mulut setengah terbuka, seolah tak percaya dan tak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Melihat ekspresi wajahnya, panas yang menguasai tubuhku perlahan menghilang, digantikan oleh rasa dingin yang membekukan hati, seakan aku baru saja melompat ke lautan di tengah musim dingin.

Rasa penyesalan yang mendalam menggelegak di dalam dada, mengguncang hatiku.

Guncangan itu menjalar ke seluruh tubuh, membuat bibirku bergetar layaknya saat menahan hawa dingin.

"A..."

Kenapa aku mengatakan hal seperti itu?

Entah karena bibirku yang bergetar, suaraku tak bisa keluar dengan lancar.

"Ah, e-anu..."

Aku mencoba mencari alasan untuk mengelak, seolah-olah kata 'suka' tadi ditujukan untuk hal lain, tapi tak ada satu pun alasan yang terlintas di pikiranku.

"I-itu,"

Suara hujan yang menghantam atap mobil semakin kencang, seolah siap menelanku.

Setelah itu, kami berdua hanya diam membisu, namun terlihat jelas bahwa Yuu-nii juga sama terguncangnya denganku.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumahku.

"..."

"..."

Yuu-nii menatap sekilas ke arah bawah, lalu menatap mataku.

Dengan ragu-ragu, dia membuka mulutnya.

Aku takut.

Setelah badai penyesalan mereda, hanya perasaan itulah yang tersisa.

"A-anu, Mahiru,"

Aku takut mendengar jawabannya.

Dari reaksi Yuu-nii, jelas terlihat bahwa dia tidak pernah memandangku sebagai seorang wanita.

Pasti, Yuu-nii tidak merasa senang saat menerima pengakuan cinta dari gadis sepertiku.

Karena itu, dia pasti akan menolakku.

Aku takut mendengar kata-kata penolakan itu. Aku takut ditolak oleh Yuu-nii.

Tanpa sadar, aku sudah membuka pintu dan melompat keluar dari mobil.

Aku menerobos hujan deras dan berlari menuju pintu depan rumahku, masuk ke dalam tanpa menoleh ke belakang.

"Hah, hah."

"Eh, Mahiru, sudah pulang?"

Suara Mama terdengar dari ruang tengah.

"Diantar Yuu-nii? Sudah makan belum?"

"...Belum."

Mama menyusul ke pintu masuk.

"Ya ampun, kamu basah kuyup. Sana mandi dulu!"

"...Iya."

Aku masuk ke ruang ganti dan melepaskan pakaianku yang basah. Liontin pemberian Yuu-nii terasa sangat dingin di kulitku.

Mungkin karena aku basah kuyup, Mama tak menyadari kalau aku sedang menangis.

Aku membenamkan tubuhku ke dalam bak mandi. Rasanya aku ingin terus tenggelam ke dasar...

◇

Kata-kata Mahiru terus terngiang di kepalaku.

Sambil memarkirkan mobil di area parkir depan Moon Night Terrace, aku kembali memikirkan percakapan kami beberapa saat lalu.

Yah, meski sebenarnya itu tak bisa disebut percakapan. Hanya satu kata. Dia dengan jelas mengatakan: "Aku suka padamu."

Awalnya aku sama sekali tidak paham maksudnya.

Apakah dia menyukai kola yang diminumnya, atau dia menyukai perjalanan berkendara di malam hari saat hujan?

Ataukah dia menyukai lagu yang sedang diputar di mobil?

Aku berusaha keras mencari makna yang pas, namun aku yakin kata-kata itu bukan ditujukan untuk semua hal tadi.

Wajahnya yang memerah, dan posisi kami yang sedang berduaan.

Serta kata "suka" itu sendiri. Sebodoh apa pun seorang pria, pasti mengerti apa maksud di balik semua itu.

Mahiru menyukaiku?

Saat menyadari hal itu, pikiranku benar-benar kosong, dan hampir saja aku menyebabkan kecelakaan.

Tentu saja, aku juga menyayangi Mahiru, tapi hanya sebagai adik perempuanku yang manis. Perasaanku pada Miya dan Asaka juga sama. Rasa sayang ini seharusnya bukanlah perasaan cinta. Pasalnya, mereka semua masih anak SMA.

Malam itu di Shounan, saat Asaka mengatakan perasaannya padaku, aku sangat kebingungan.

Namun sekarang, kebingunganku jauh melebihi saat itu.

Mahiru yang itu, atau justru karena dia adalah Mahiru...

Memang, sejak kejadian dengan Asaka malam itu, aku jadi lebih waspada terhadap jarak antara aku dan bocah-bocah nakal itu.

Tapi kukira itu hanya karena aku terlalu berlebihan menilai diriku sendiri, sebab sebelumnya aku tak pernah menyadari perasaan Asaka padaku.

Mahiru yang selalu ceria, selalu menebar senyum kepada semua orang, dan selalu berjuang keras sebagai kapten klub volinya.

Sosok Mahiru yang tidak berubah sejak dia masih kecil dulu.

Mahiru yang selalu dekat denganku sejak dia pindah dari Tokyo ke Fujinomiya.

Jujur saja, sulit rasanya untuk percaya. Aku tak menyangka Mahiru menyimpan perasaan semacam itu padaku.

Memang, kedekatan kami dan seringnya kami bersentuhan fisik, rasanya terlalu dekat untuk ukuran teman laki-laki dan perempuan biasa.

Namun, aku selalu menganggap hubungan kami layaknya kakak dan adik yang telah terjalin selama sepuluh tahun. Setidaknya begitulah anggapanku.

"...Mahiru."

Begitu sampai di rumahnya, Mahiru langsung turun dari mobil. Sejak membisikkan kata "suka", dia tak mengatakan sepatah kata pun.

Apakah dia marah karena aku tak memberikan reaksi apa-apa?

Dia membuka pintu mobil dan berlari seolah melarikan diri.

Aku merasa malu karena tak bisa langsung menjawab pengakuannya, tapi jika ditanya apakah aku bisa memberikan jawaban pasti saat itu juga, sungguh aku tak bisa.

Pikiranku dipenuhi oleh Asaka.

Asaka juga memendam perasaan padaku, dan hingga saat ini, aku belum bisa memberikan jawaban yang pasti padanya.

Tapi, ada satu perasaan yang selalu kupegang teguh.

Baik Asaka maupun Mahiru, mereka sudah seperti adik sendiri bagiku.

Umur kami terpaut cukup jauh, dan mereka masih berstatus siswi SMA.

Fakta itulah yang menahan perasaanku.

Bagaimanapun juga, mereka masih anak-anak.

Tentu saja, aku sama sekali tak bermaksud meremehkan perasaan mereka, tapi...

Apa yang harus kulakukan?

Bagaimana aku harus menanggapi perasaan mereka... Tunggu, ada masalah yang jauh lebih krusial.

Asaka dan Mahiru.

Mana yang harus... ku...

Jepang menganut sistem monogami. Seandainya aku siap membalas perasaan mereka, aku hanya bisa memilih salah satu dari mereka...

Ah, tidak, terlalu cepat bagiku untuk memikirkan hal itu.

Saat aku keluar dari mobil, hujan yang turun deras seperti ditumpahkan dari langit langsung membasahi sekujur tubuhku.

Suhu udara yang dingin dan hujan membuat tubuhku gemetar, namun hatiku terasa panas bagaikan minyak yang mendidih.

Apa pun itu, aku harus bicara dengan Mahiru dulu.

Aku berteduh di bawah atap teras, mengeluarkan ponselku, dan memanggil nomor Mahiru.

Namun, yang kudengar hanyalah suara rintik hujan dan nada sambung.

Angin yang berhembus kencang meniupkan hujan hingga ke teras.

Aku terus menelpon Mahiru sambil kehujanan, namun tak kunjung ada jawaban darinya.

 

2

"Aku sudah berlatih keras agar menjadi kuat."

"Aku, sudah lama menginginkan ini."

"Grr, awas kau! Tahun depan aku pasti juara satu."

"Hehe, tak ada hal yang kutakuti di dunia ini."

Kenangan tentang Mahiru kecil terputar kembali di benakku seperti sedang menonton video rumahan.

Mahiru yang selalu penuh semangat, yang kadang terlalu nakal hingga membuatku kerepotan, dan sosok yang menjadi pemimpin bagi Miya serta Asaka.

Sepertinya hujan telah reda tanpa kusadari.

Di tengah kesunyian malam yang hening, terdengar suara burung hantu bergema.

Kulihat jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Sejak kejadian itu, aku sudah mencoba menelpon dan mengirim pesan Line padanya berkali-kali, namun tak ada satu pun yang berbalas.

Keesokan harinya, hari Sabtu.

Semalam aku kesulitan tidur dan sering terbangun, membuat kepalaku pening dan tubuhku terasa lemas akibat kurang tidur.

Cuaca hari ini tidak terlalu bersahabat. Langit diselimuti awan kelabu yang membuat udara terasa sedikit gerah.

Meski sudah memasuki akhir September, sisa-sisa hawa musim panas masih terasa.

Aku bekerja di kafe hingga lewat tengah hari, lalu pergi ke stasiun untuk menjemput Asaka pada siang hari.

Biasanya aku berjalan kaki karena jarak stasiun lumayan dekat, namun karena rencananya aku akan mampir ke rumah keluarga Ryushaku, aku memutuskan untuk menggunakan mobil.

Pengakuan Mahiru kemarin terlalu mendadak sehingga aku tak bisa merespons apa-apa.

Bukan berarti aku bisa memberikan jawaban pasti saat ini juga, namun aku harus menemuinya terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah selanjutnya.

Aku memencet bel pintu, dan tak lama kemudian Bibi Asuka membukakan pintu.

"Oh, ada Yuu-kun rupanya."

Dari belakangnya, tiga ekor anjing peliharaannya datang berlari kecil.

"Makasih ya untuk kemarin malam. Sudah repot-repot mengantar Mahiru pulang."

"Ah, bukan apa-apa. Oh ya, Mahirunya ada?"

"Oh, dia ada klub olahraga. Hari ini dia latihan seharian dari pagi."

"Begitu, ya."

Aku baru menyadarinya sesaat setelah bertanya.

Seingatku, kemarin Mahiru bilang kegiatan klubnya baru dimulai siang hari, tapi... Entah pertanyaanku tersampaikan atau tidak, Bibi Asuka menambahkan penjelasannya.

"Katanya sih awalnya latihan siang, tapi diubah jadi seharian penuh."

"O-oh, begitu ya."

Setelah mengobrol basa-basi sebentar, aku pun pamit.

Pada akhirnya, aku tak bisa bertemu dengan Mahiru.

Sepertinya aku harus menunggu sampai latihannya selesai.

Aku melajukan mobilku dari rumah keluarga Ryushaku menuju stasiun, lalu memarkirkannya di area penjemputan.

Tak lama setelah aku duduk menunggu di bangku pintu utara stasiun, Asaka pun tiba.

"Yuu-nii."

"O-oh, Asaka."

"Maaf membuatmu menunggu."

Ia mengenakan blus merah muda dengan pita hitam di bagian dadanya.

Rok panjang hitam yang dikenakannya terlihat tembus pandang di bawah lutut, memberikan kesan yang memikat.

Lebih mengejutkannya lagi, blusnya memiliki model tanpa lengan yang mengekspos bagian ketiaknya.

"Masih panas saja ya, akhir-akhir ini."

Asaka menyisir poninya dengan sebelah tangan, dan memamerkan ketiaknya yang mulus. Ketiak putihnya terekspos tepat di depan mataku.

Dengan gugup, aku langsung berdiri.

"A-ayo, kita pergi."

"Iya."

"Sudah makan?"

"Belum."

"Mau makan di luar?"

"Aku lebih ingin makan di Moon Night Terrace daripada di tempat lain."

"Oh, begitu ya. Baiklah."

Setelah masuk ke dalam mobil, Asaka menoleh ke arahku.

"Yuu-nii, ada mata pandanya, lho. Kamu kurang tidur, ya?"

"Ah, iya. Sedikit."

Aku belum menceritakan kejadian kemarin kepada siapa pun, apalagi kepada Asaka.

Sebagai orang yang telah menerima pengakuan perasaannya, aku belum memberikannya jawaban yang pasti (meski Asaka tampak tak keberatan dengan itu).

Di tengah situasi seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa jujur dan memberitahunya kalau Mahiru juga menyatakan perasaannya padaku?

Asaka dan Mahiru sudah seperti saudara perempuan karena sudah bersahabat sejak lama, namun bagiku yang mengetahui segalanya, mereka berdua saat ini bagaikan saingan dalam cinta.

Aku jadi pusing membayangkan kalau mereka mengetahui perasaan satu sama lain lalu bertengkar karenaku. Keduanya sama-sama adik perempuan yang manis bagiku.

"Tak baik lho seperti itu. Kamu harus menjaga pola tidurmu."

"O-oke."

"Mau mampir ke suatu tempat untuk istirahat sebentar?"

"Istirahat apa maksudmu? Mengganggu pelanggan saja kalau aku tidur di kafe."

"Kalau tempatnya memang khusus untuk tidur, pasti tidak masalah, kan? Misalnya—"

Asaka menempelkan telunjuknya di bibir, membuat suara ciuman kecil. Ia melirikku dari sudut matanya dan berkata,

"Di hotel, misalnya."

"Hah!?"

"Di sana ada kasur dan juga bak mandi. Cocok banget buat istirahat."

"J-jangan bicara yang aneh-aneh!"

"Fufu, bercanda, kok."

Asaka tertawa cekikikan. Bercandaannya sama sekali tak terdengar seperti lelucon di telingaku.

"Sudahlah, ayo pergi."

"Baiklah."

Aku menyalakan mesin mobil dan melaju menuju Moon Night Terrace. Lalu, aku teringat akan suatu hal.

Pengakuan Asaka di malam itu di Shounan hanya diketahui oleh kami berdua. Begitu pula pengakuan Mahiru semalam, yang hanya diketahui olehku dan dirinya.

Namun, jika Mahiru kebingungan dengan perasaannya, ia mungkin akan curhat kepada temannya. Cukup masuk akal dan wajar jika ia berkonsultasi dengan sahabat lamanya, Asaka.

Jika hal itu sampai terjadi, maka Asaka akan tahu bahwa Mahiru juga menyukaiku. Dan hal sebaliknya pun bisa terjadi.

Untuk saat ini, hanya aku yang mengetahui gambaran penuh dari cinta segitiga yang rumit ini.

Dan aku sendirilah yang harus bertanggung jawab untuk memberikan jawabannya.

Perutku terasa mulas. Bagaimana caranya menyelesaikan semua masalah ini? Aku tak berniat menolak keduanya, tapi dengan memilih salah satu, otomatis aku menolak yang lainnya.

Jika itu sampai terjadi, pihak yang tertolak pasti akan sangat terluka, dan mustahil bagi kami untuk mempertahankan hubungan dekat kami seperti biasa.

Asaka dan Mahiru adalah gadis cantik yang terlalu sempurna untuk pria sepertiku, dan daya tarik mereka sebagai wanita tak tertandingi.

Tidak mungkin pria yang tak memiliki pengalaman dalam percintaan sepertiku bisa menangani dua pengakuan cinta secara bersamaan.

Apa yang harus kulakukan?

"N-ngomong-ngomong, Asaka."

"Ya?"

"Katanya hari ini Mahiru ada kegiatan klub seharian."

Aku mencoba memancing pembicaraan tentang Mahiru secara halus, tapi tanggapannya...

"Oh, begitu rupanya. Tapi pasti nanti malam selesai, kan? Nanti kita pergi makan bareng-bareng saja."

"O-oh, ide yang bagus."

Reaksi Asaka tampak biasa saja. Sepertinya Mahiru belum membicarakan masalah ini dengan Asaka.

Memang benar sih, rasanya tidak mungkin dia curhat secepat ini setelah kejadian semalam. Aku menghela napas lega.

Kira-kira apa ya yang sedang dipikirkan Mahiru sekarang?

Aku sangat ingin bertemu dan bicara dengannya, tapi aku juga sangat cemas dan tidak tahu harus berekspresi seperti apa jika bertemu nanti.

"Kita sudah sampai."

Akhirnya kami kembali ke Moon Night Terrace.

"Paman, Bibi. Ini ada oleh-oleh untuk kalian."

"Wah, repot-repot sekali."

"Terima kasih, ya."

Asaka menyerahkan buah tangan dari Kanagawa kepada kedua orang tuaku. Setelah itu, ia memesan pasta untuk makan siang.

Tepat saat Asaka sedang asyik menyantap makanannya, Miya pun datang.

"Eh, Asaka udah datang. Paman, aku pesan pasta gaya Jepang dan es kopi satu, ya."

Miya duduk di meja kami dan mengeluarkan alat tulis dari tasnya.

"Miya-chan, sudah mau belajar, ya?"

"Iya, tadi pagi aku udah puas main bareng Misora dan teman-teman, jadi siang ini aku mau fokus belajar."

Dari ceritanya, ternyata Misora, Tatsuki, dan Mei bermain di rumah keluarga Haruyama, dan Miya harus menemani mereka bermain.

Miya pun menceritakan betapa melelahkannya mengurus anak-anak kecil itu.

"Kenapa tidak dimakan dulu saja?"

"Nggak bisa, aku tak mau membuang waktuku sedikit pun."

Setelah mengucapkan kalimat keren tersebut, Miya meminum seteguk es kopi pesanannya yang baru saja dihidangkan di atas meja.

"...Miya-chan, bukannya kalimat itu lebih cocok untuk orang yang pandai membagi waktu sehari-harinya, ya?"

"B-berisik, ah."

Setelah itu Miya terus-terusan mengoceh tentang betapa melelahkannya menjaga anak kecil, namun pada saat ia memegang pensil mekaniknya, pasta pesanannya pun dihidangkan.

"—Uwaah, kelihatannya enak, ya."

Pada akhirnya, ia sama sekali tak belajar apa pun selama menunggu makanannya datang.

Seusai makan, kami semua naik ke lantai dua.

Karena Miya ingin belajar di kamarku, kami memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga agar tak mengganggunya.

"Yuu-nii, aku ingin jalan-jalan keluar."

Ucap Asaka.

"Jalan-jalan, ya."

Jujur saja, aku sedang tak bersemangat untuk bepergian.

Aku sangat mengkhawatirkan Mahiru, dan pikiranku dipenuhi oleh cara menyelesaikan cinta segitiga rumit yang baru saja kusadari antara aku, Asaka, dan Mahiru.

"Yuu-nii, ayo dong."

Asaka menggenggam tanganku di bawah meja. Tiba-tiba...

"Kalau mau pergi jalan-jalan, aku juga mau ikut!"

Miya sudah berdiri di ambang pintu. Asaka buru-buru melepaskan genggamannya.

"Miya-chan, bukannya kamu harus belajar?"

Asaka memarahinya selayaknya seorang ibu, namun Miya membalas dengan santai.

"Santai saja, hari biasa aku juga udah sering belajar kok."

"Iya sih, dia memang selalu belajar di kamarku sampai malam."

Mungkin Miya ingin menghabiskan waktu bersama Asaka mumpung ia ada di sini.

Karena ia biasanya sangat rajin belajar, tak masalah jika hari ini ia bersantai sedikit di akhir pekan.

"...Oh, begitu."

Pada akhirnya, kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan.

"Lalu, kita mau pergi ke mana?"

Miya bertanya pada kami berdua.

"Aku terserah saja, sih."

"Kalau gitu kita ke tempat karaoke! Aku udah lama nggak ke sana."

Miya mengangkat tangannya untuk memberikan saran.

"Karaoke boleh juga."

"Aku setuju saja."

Kami pun segera berangkat ke tempat karaoke terdekat.

Dulunya tempat ini bernama Shidax, namun saat aku pindah kembali ke Fujinomiya, tempatnya telah berganti nama menjadi Karaoke-kan.

"Bikin kangen, ya. Dulu kita sering ke sini berempat."

Asaka menatap papan nama berwarna biru itu dengan pandangan bernostalgia.

"Dulu saat pertama kali ke sini, kalian berdua sempat nyasar, kan."

"Masa, sih? Bukannya waktu itu yang nyasar Asaka dan Mahiru, ya?"

Setelah melapor di meja resepsionis, kami mengambil minuman di area minuman gratis, lalu berjalan menuju ruangan.

"Aku mau ke toilet sebentar."

"Kalau begitu, aku bawakan ini, ya."

Asaka mengambil gelas minuman Miya, lalu kami berdua masuk ke ruangan lebih dulu.

Saat aku duduk di tengah sofa, Asaka malah masuk melewatu lututku hanya untuk duduk di sebelahku. Payudaranya yang besar melintas tepat di depan wajahku.

"H-hei. Kau bisa lewat memutari mejanya, kan?"

"Soalnya kalau lewat sana terlalu jauh."

"Tetap saja."

"Yuu-nii, sepertinya hari ini kamu kelihatan lesu, ya."

Asaka duduk di sebelahku dan mengintip wajahku. Di ruangan yang remang-remang ini, matanya terlihat bersinar tak wajar.

Tatapannya seakan-akan mampu melihat segala rahasia di dalam diriku.

"Enggak, kok."

"Masa, sih? Kelihatannya kamu gelisah banget padahal lagi nggak semangat."

"Eh?"

"Pandangan matamu dari tadi tak fokus, kamu juga terlihat cemas."

"A-aku tidak apa-apa, kok."

"Benarkah? Kalau kamu ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku akan selalu ada di pihak Yuu-nii."

Asaka menggenggam tanganku dengan lembut.

"Apa terjadi sesuatu padamu?"

Suaranya yang merdu dan lembut seakan meresap masuk dan membelit hatiku secara perlahan.

Tunggu sebentar...

Jangan-jangan gadis ini sudah tahu semuanya.

Apa jangan-jangan ia hanya pura-pura dan mencoba memancingku untuk bicara?

Tidak, tidak mungkin. Aku tak menceritakan kejadian semalam pada siapa pun.

Rasa curiga ini pasti muncul karena aku punya rahasia yang kusembunyikan.

Kedua gadis itu telah mengungkapkan perasaan padaku, tapi aku malah menyembunyikan hal tersebut dari mereka masing-masing, dan belum memberikan jawaban yang pasti.

"Aku kembali~"

Miya masuk ke ruangan, dan Asaka langsung melepaskan genggaman tangannya.

"Nah, waktunya nyanyi!"

Miya ikut duduk di sampingku, sehingga aku kini terjepit di antara mereka berdua.

Miya mulai memilih lagu melalui tablet khusus yang tersedia di ruangan.

Selama beberapa waktu, Miya dan Asaka bernyanyi bergantian, dan sesekali aku ikut menyanyi atas permintaan mereka berdua. Namun, suasana hatiku tak kunjung membaik.

"Aku permisi ke toilet sebentar."

Asaka beranjak dari tempat duduknya.

Karena ada Miya di sisi lainnya, dia tak bisa lagi memaksakan diri untuk lewat di depanku. Kali ini dia keluar ruangan dengan memutari meja.

"~🎵"

Aku menatap Miya yang sedang asyik menyanyikan lagu anime, dan mulai berpikir.

"..."

Apakah sebaiknya aku curhat saja pada Miya?

Sebagai seseorang yang tak berada dalam lingkaran cinta segitiga rumit ini dan dekat dengan kami bertiga, Miya pasti bisa memberikan dukungan padaku.

Dia mungkin juga bisa menjadi penengah antara Mahiru dan Asaka.

Memikirkan hal itu, aku langsung menggelengkan kepala.

Tidak, tidak boleh.

Menyerahkan urusan Mahiru dan Asaka kepada Miya tidak akan menyelesaikan masalah utamanya, dan Miya juga sedang sibuk belajar untuk ujian masuk universitas. Aku tidak boleh menambah beban pikirannya.

Sepertinya aku memang harus memutuskannya sendiri. Tapi antara Asaka dan Mahiru, aku hanya bisa memilih salah satu. Dan salah satunya pasti akan terluka.

Sejujurnya, aku tak pernah menyukai mereka dalam konteks romantis, namun aku sadar akan pesona mereka sebagai wanita.

Saat Asaka menyusup ke kamarku di vila di Shounan malam itu, aku sempat merasa terangsang.

Saat itu, aku memang menganggap Asaka sebagai seorang wanita.

Sejak saat itu aku mulai menyadari dengan jelas bahwa bocah-bocah nakal itu sudah bukan anak-anak lagi, melainkan gadis-gadis cantik yang memesona.

Gadis-gadis kecil dari masa lalu itu telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang seutuhnya, baik secara fisik maupun emosional.

Namun, menyukai gadis yang sudah kukenal sejak kecil, yang umurnya terpaut sepuluh tahun denganku, rasanya sangatlah tidak wajar.

"Aku kembali."

Asaka telah kembali dari toilet.

Mahiru pasti akan bergabung dengan kami nanti malam. Saat itu tiba, jawaban apa yang harus kuberikan padanya...

◇

"Oke, latihan hari ini cukup sampai di sini."

"Terima kasih banyak!"

Suara para anggota klub bergema di seluruh ruangan gimnasium. Waktu menunjukkan pukul lima sore.

Sambil memandangi teman-teman klub yang berbondong-bondong pergi ke ruang ganti, aku menghampiri sang pembimbing.

"Permisi, Pak."

"Ada apa, Ryushaku?"

"Ada yang ingin saya bicarakan."

"Tentang apa?"

"Anu, soal tawaran scouting itu..."

◇

Pukul setengah enam sore.

Setelah membayar di meja resepsionis, kami keluar dari tempat karaoke.

Langit mulai berwarna biru tua, menandakan bahwa malam akan segera tiba.

Saat sedang berjalan melewati area parkir yang remang-remang, Miya tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Lho?"

Miya mengambil ponselnya dan menatap layarnya.

"Ada apa, Miya-chan?"

Asaka yang berjalan di belakangnya, meletakkan kedua tangannya di pundak Miya.

"Kata Mahiru, latihannya bakal sampai larut malam, jadi dia nggak bisa ikut makan bareng."

"Hah!?"

"Namanya juga lagi latihan. Kan Mahiru-chan lagi fokus buat turnamen musim semi."

"Yahh, padahal Asaka udah repot-repot datang ke sini."

Mahiru tidak datang?

"Eh Miya, tolong teleponin Mahiru sebentar, dong."

"Eh, buat apa?"

"Tolong, telpon saja, ya."

"Ya sudah, kalau memaksa."

Miya menempelkan ponsel ke telinganya dan memandangi bintang di langit dengan hampa.

Sekitar semenit berlalu, Mahiru tidak mengangkat teleponnya, dan Miya menurunkan ponselnya dengan kecewa.

"Nggak diangkat. Mungkin dia masih latihan."

"B-begitu, ya."

Setelah mengungkapkan perasaannya semalam, Mahiru kabur dari mobilku layaknya orang yang sedang melarikan diri.

Sejak saat itu, dia sama sekali tak merespons setiap pesan dan telepon dariku. Dan sekarang, dia membatalkan rencana makan malam ini...

Semua itu membuatku merasa cemas dan berpikir jangan-jangan dia sedang menghindariku.

Bukan, dia pasti benar-benar menghindariku. Meski terjadi secara tiba-tiba, wajar jika ia marah padaku karena tak merespons pengakuannya sama sekali.

"...Haa."

Aku mendesah pelan.

◇

Sikap Yuu-nii sungguh aneh.

Kira-kira apa yang sedang ia pikirkan, ya?

Saat mendengar Mahiru-chan tidak bisa ikut, reaksinya jelas menunjukkan keterkejutan.

Dan entah kenapa, membiarkan Miya-chan menelpon Mahiru-chan daripada ia sendiri yang menelpon, terasa sedikit mencurigakan bagiku.

Apakah terjadi sesuatu padanya yang berhubungan dengan Mahiru-chan?

...Hmm.

 

3

Hari Minggu, tepat setelah tengah hari.

"Halo, Asaka?"

"Eh, Mahiru-chan. Ada apa?"

"Ah, nggak, anu..."

Mendengar suara Asaka, rasa bersalah langsung memenuhi dadaku.

"Hari ini aku juga sibuk dengan kegiatan klub, jadi aku nggak bisa main sama kalian, ya."

"Yah, sayang sekali. Kemarin juga nggak ketemu, padahal aku ingin ketemu nanti malam, lho."

"M-maaf. Ya, ya udah, ya."

"Oh ya, Mahiru-chan."

"A-ada apa?"

"Ini soal Yuu-nii."

"Y-Yuu-nii?"

"Iya. Entah kenapa Yuu-nii kelihatan murung, sepertinya sedang memikirkan sesuatu."

"—!"

"Aku kira Mahiru-chan tahu sesuatu."

"E-enggak, a-aku nggak tahu. Udahan ya, istirahatku udah mau kelar."

"Oke, maaf nanyain hal yang aneh."

"S-sampai nanti."

"Iya, semangat latihannya. Dah."

Panggilan telepon terputus, dan suara hampa yang monoton bergema di telingaku. Sambil menatap layar yang menunjukkan bahwa panggilan telah berakhir, aku menghela napas panjang.

Sambil berbaring di tempat tidur, aku disiksa oleh rasa benci pada diri sendiri. Sebenarnya, hari ini tak ada latihan klub sama sekali. Ini adalah hari libur penuh pertamaku setelah sekian lama.

Sinar matahari yang masuk melalui jendela terlihat begitu terang benderang, namun bagi diriku saat ini, sinar itu terasa terlalu menyilaukan. Saat aku menatap kosong ke layar ponsel, tampilannya berubah menjadi panggilan masuk. Nomor yang tak kukenal.

"Halo."

"Halo. Apakah ini Ryushaku-chan? Saya Yoshimura dari Kumamoto Empress."

"Ah, iya."

Kalau tak salah, Yoshimura adalah pria paruh baya, orang dari pihak tim pencari bakat yang pernah kutemui sebelumnya.

"Saya sudah dengar dari gurumu. Katanya kamu ingin membicarakan hal ini lebih detail. Saya sangat senang mendengarnya."

"Anu, bukannya saya sudah mengambil keputusan, tapi lebih ke arah saya ingin mendengar seperti apa gambarannya, begitu."

"Tentu saja, tak masalah. Kamu bersedia mendengarkan saja sudah cukup bagi kami."

Kemarin, aku telah meminta tolong kepada guru pembimbingku agar aku bisa mendengar lebih rinci mengenai tawaran masuk dari tim Kumamoto Empress.

"Kebetulan, hari Sabtu minggu depan kami ada jadwal pertandingan tandang di Shizuoka. Jika Ryushaku-chan ada waktu luang, silakan datang sekalian menonton. Kamu bisa melihat langsung permainan para atlet kami dari dekat. Tempatnya di—"

Aku mengambil pulpen dan buku catatan kecil, lalu menuliskan alamat gedung olahraga kota yang disebutkan oleh Yoshimura-san.

"Baiklah, kami tunggu kedatanganmu minggu depan."

Panggilan berakhir, dan aku meletakkan ponselku di dekat bantal.

"Itu artinya pilihan untuk melarikan diri harus selalu ada di dalam kepalamu."

Itulah yang dikatakan Yuu-nii di hari ulang tahunku.

"Saat menghadapi hal yang tidak menyenangkan atau menyakitkan, tentu saja menghadapinya itu penting. Tapi ada juga hal-hal yang tak bisa diselesaikan hanya dengan usaha."

"Kadang, melarikan diri itu perlu."

Aku sudah tak bisa lagi memiliki hubungan yang sama dengan Yuu-nii seperti dulu. Sebenarnya aku tak punya niat untuk menyatakan perasaanku, tapi kepalaku sangat penuh dengan masalah Asaka dan tawaran klub, hingga tanpa sengaja perasaanku keceplosan begitu saja.

Karena perasaanku sudah ketahuan, aku tak bisa lagi bersikap seperti biasa pada Yuu-nii. Kami takkan bisa saling bercanda atau bermain layaknya kakak adik lagi.

Namun, aku tak punya keberanian untuk mendengar jawaban Yuu-nii. Jika dia menolakku, aku akan sangat ketakutan...

Di riwayat panggilan, ada banyak catatan panggilan masuk dari Yuu-nii. Namun, aku tak punya nyali untuk menjawabnya.

Kalau aku menerima tawaran tim korporat itu, lalu hidupku semakin sibuk dengan voli, mungkin aku tak perlu lagi bertemu dengan Yuu-nii.

Melarikan diri bukanlah hal yang buruk. Ya, itu bukan hal yang buruk...

◇

Hari Senin.

"Mahiru, ayo makan siang."

Miya berdiri di ambang pintu kelasku.

"Ah, ayo."

Kami duduk di meja yang agak mojok di kantin.

"Akhir-akhir ini Mahiru kelihatan sibuk, ya."

Ucap Miya sambil menyantap sandwich-nya.

"Yah begitulah, kan aku menargetkan Turnamen Musim Semi."

"Sibuk banget ya, sampai-sampai akhir pekan kemarin kamu nggak bisa main sama sekali."

"...Ahaha."

"Oh ya, hari Minggu kemarin luar biasa banget, lho. Tiba-tiba Asaka ngajak pergi ke Fuji-Q Highland, tahu nggak? Yang wahana rumah hantu Labirin Berdarah itu, lho. Rasanya kaya mau mati. Aku dan Asaka terus nempel ke Yuu-nii—"

Miya bercerita dengan ceria.

"Apa Yuu-nii menikmatinya?"

"Eh? Yuu-nii malah ikut teriak-teriak juga."

"Bukan di rumah hantunya, maksudku Fuji-Q Highland-nya."

"Hmm, kalau dipikir-pikir lagi, dia kayaknya kurang bersemangat buat pergi. Mungkin kecapekan, kali."

Kemarin siang, Asaka juga bilang kalau Yuu-nii kelihatan kurang bersemangat. Berarti, urusanku juga membebani pikiran Yuu-nii.

"Mahiru, kamu lagi nggak bersemangat, ya?"

Miya mengintip wajahku dengan tatapan khawatir.

"Aku cuma kecapekan."

"...Begitu, ya."

Jika aku mengatakan padanya bahwa aku menyatakan perasaan pada Yuu-nii, apa reaksi Miya? Dia pasti kaget. Namun karena kami sudah lama bersahabat, Miya pasti mau mendengarkan ceritaku dengan penuh empati. Namun, karena Miya punya kedekatan dengan Yuu-nii, aku jadi ragu.

"Akhir pekan ini juga ada kegiatan klub terus?"

"...I-iya."

"Oh gitu. Jangan terlalu memaksakan diri ya, Mahiru."

Miya mengatakan hal itu dengan senyum polosnya.

Setelah itu, waktu berlalu tanpa aku pernah menginjakkan kaki di Moon Night Terrace lagi. Yuu-nii sudah menghubungiku berkali-kali, tapi aku tidak punya keberanian untuk menjawabnya.

Seakan mencoba mengalihkan pandanganku dari Yuu-nii, aku menenggelamkan diri dalam voli. Tanpa kusadari hari ini sudah hari Jumat. Setelah hari ini berakhir, esok sudah memasuki akhir pekan. Dan Asaka akan datang lagi untuk menemui Yuu-nii...

Hari kerja terakhir, istirahat makan siang.

Karena katanya hari ini ada perkumpulan Klub Penelitian Misteri, Miya segera bergegas pergi ke gedung sekolah tempat ruang klubnya berada setelah menghabiskan makan siangnya dengan cepat. Karena duduk melamun di kantin membuatku gelisah, aku pun menuju ruang loker untuk berjalan-jalan keluar.

Aku melangkahkan kakiku tanpa arah di bawah langit yang mendung. Di lapangan, ada murid-murid laki-laki yang sedang bermain sepak bola. Di bahu jalan berpepohonan, terlihat pasangan kekasih yang sedang duduk berdampingan sambil makan bekal.

Tanpa sadar aku sudah berada di halaman tengah sekolah. Tak ada seorang pun di sekitarku. Aku pun duduk di atas rerumputan.

"Haa."

Tiba-tiba—

"Waah!"

Tepat saat kurasakan ada tangan yang menyentuh bahuku, sebuah suara nyaring bergema di telingaku, mengejutkanku.

"Kyaa... Ternyata kamu, Yuhi-chan."

Rambut pirang yang indah dipadu dengan mata biru jernih, serta wajah rupawan yang mewarisi darah Inggris.

Yuhi Sotogami berdiri menatap ke arahku.

◇

Dada besar, kulit seputih pualam, dan paha yang padat berisi. Melihat Mahiru-senpai, salah satu dari Gadis Suci Bertembok Besi, berjalan gontai sendirian, Yuhi pun iseng mengikutinya secara diam-diam.

Karena Mahiru-senpai duduk begitu saja di rerumputan halaman tengah dengan memunggunginya tanpa menyadari kehadirannya, Yuhi pun mencoba iseng mengejutkannya dari belakang.

Reaksi yang diberikannya jauh lebih mengejutkan dari dugaan Yuhi, dan entah kenapa itu membuatnya merasa sedikit senang.

"Kaget, ya?"

"Tentu saja."

Yuhi pun ikut duduk di sebelah Mahiru-senpai yang sedang duduk memeluk lututnya.

"Ada apa? Tumben di tempat begini."

"Cuma mau bersantai saja."

Suara Mahiru-senpai terdengar agak kaku. Raut wajahnya juga tampak murung, tidak seperti biasanya yang penuh energi dan ceria layaknya matahari di pertengahan musim panas.

Jika diibaratkan, saat ini suasananya terasa muram seperti langit mendung kelabu. Keceriaannya seolah-olah ditutupi oleh awan yang tebal.

Ada apa dengannya?

"Senior sedang ada masalah, ya?"

"...Ketahuan, ya?"

"Tentu saja. Auranya beda dari biasanya."

"...Sebenarnya, aku habis nembak orang yang kusuka."

"...Oh, begitu."

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"...Eeeeeeeh!?"

"T-tunggu, jangan teriak kencang-kencang begitu."

"Ah, m-maaf. E-anu, mungkinkah orang yang Senior suka itu... laki-laki?"

Mahiru-senpai menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan menjawab "Iya" dengan pelan.

I-imut banget. Eh, bukan begitu maksudku—

Rasa terkejut bagaikan kejatuhan baskom logam di kepala melanda sekujur tubuh Yuhi.

Ah, sudah kuduga.

Seakrab apa pun mereka, ternyata Senior Miya benar-benar hanya sekadar teman baginya.

Sudah curiga sih, tapi ternyata mereka berdua memang cuma berteman. Yuhi merasa kalau selama ini dia cuma salah paham terhadap kedekatan mereka.

"...Haa."

"Yuhi-chan juga sedang punya masalah?"

"Ah, nggak apa-apa. Jangan pedulikan aku. Walaupun aku shock banget, tapi tak usah dipikirkan."

"B-begitu, ya."

Dan Mahiru-senpai pun mulai bercerita.

Suaranya sangat pelan, sangat tidak terbayangkan untuk ukuran Mahiru-senpai yang biasanya. Namun, seperti bendungan yang jebol, kata-katanya mengalir tanpa henti.

Bahwa selama ini dia menyembunyikan perasaan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

Bahwa dia merasa takut hubungan mereka akan berubah jika dia menyatakan perasaannya.

Dan, bahwa secara tidak sengaja perasaannya itu malah tersampaikan.

Orang ini pasti sangat ingin mencurahkan isi hatinya pada seseorang sejak lama.

Tak bisa membicarakan masalahnya pada siapa pun dan harus menanggungnya sendirian. Begitulah yang ditangkap oleh Yuhi.

"—Terus, padahal aku nggak ada niat untuk mengatakannya, tapi tanpa sadar aku malah bilang suka."

"Oh, begitu ya ceritanya. Lalu, tanggapan orang itu bagaimana?"

Mana mungkin ada pria bodoh di dunia ini yang berani menolak pernyataan cinta dari Mahiru-senpai.

Coba bayangkan, tubuh seksi padat yang terbentuk dari hasil latihan voli ini bisa dinikmatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lho!

"..."

"Mahiru-senpai?"

"Aku belum mendengarnya. Lebih tepatnya, aku tidak mau mendengarnya."

"...Hah? Maksudnya tidak mau dengar itu apa?"

"Itu karena..."

Bahkan jika pernyataan cinta itu tidak disengaja, tidak mendengar jawabannya adalah sesuatu yang aneh.

Tak peduli bagaimana prosesnya, setelah perasaannya tersampaikan, bukankah tidak ada pilihan lain selain mendengar jawaban dari pihak tersebut?

Apa pun hasilnya nanti, dia harus menerima jawaban itu.

Terlebih lagi, kalau tidak mendengar jawabannya, bukankah dia sendiri yang akan merasa gelisah?

Lagipula kalau misalnya pun ditolak, dia bisa melepaskan perasaannya.

Walau bagiku, mana mungkin ada cowok yang mau menolak cinta Mahiru-senpai.

Ah, jangan-jangan dia saat ini ingin fokus pada voli, jadi dia berusaha menjauhi urusan percintaan.

Mahiru-senpai kan pernah bilang kalau dia menargetkan Turnamen Musim Semi.

Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Mahiru-senpai benar-benar meleset dari perkiraan Yuhi.

"...Aku takut."

Suaranya gemetar seolah-olah berada di tempat yang sangat dingin. Bisa kulihat kedua matanya berkaca-kaca.

"Takut...?"

"Jawabannya... Kalau dia bilang kita nggak bisa pacaran."

Setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Nada suaranya mulai diwarnai isak tangis.

"Aku nggak bisa bersamanya lagi. Padahal aku ingin terus berada di sisinya. Padahal akhirnya aku bisa berada di dekatnya. Padahal, padahal aku berniat untuk menyembunyikannya selamanya, tapi perasaanku malah tersampaikan... Kalau orang itu bilang dia tak menyukaiku, aku nggak bakal bisa bersamanya lagi."

"Mahiru-senpai, belum tentu juga kamu bakal ditolak—"

"Makanya, aku tak ingin mendengarnya."




Suara Mahiru-senpai bergema di bawah langit yang mendung.

"Terus, mau bagaimana?"

"Nggak mau ngapa-ngapain. Seperti ini saja sudah cukup."

"Maksudnya, Senior akan membiarkannya begitu saja tanpa mendengar jawabannya?"

"Iya."

"Tapi, kalau Senior bertemu dengannya dengan perasaan mengganjal seperti itu, kalian berdua kan cuma bakal merasa canggung—"

"Aku nggak bakal menemuinya."

"Hah?"

"Kalau bertemu, aku kan harus mendengar jawabannya. Makanya, aku nggak akan menemuinya."

"Nggak menemuinya, katamu..."

"Lagi pula sekarang aku sibuk dengan klub voli, dan tahu sendiri kan, masih ada urusan dengan pencari bakat."

"..."

Meskipun dia sibuk dengan kegiatan klub dan jalur karirnya, mereka masih bisa berkomunikasi lewat telepon atau Line.

Tidak mungkin dua orang benar-benar bisa memutuskan hubungan begitu saja.

Apalagi mereka adalah orang yang sudah saling mengenal.

"Mahiru-senpai..."

Jangan-jangan, dia hanya mencari-cari alasan?

Yuhi bisa mengerti ketakutannya kalau hubungan mereka akan berubah.

Oleh karena itu, menyembunyikan perasaan juga bisa menjadi salah satu pilihan. Yuhi menganggap itu masuk akal.

Namun, tidak peduli seberapa logisnya pun, memilih untuk tidak mendengarkan jawaban dari seseorang adalah hal yang kekanak-kanakan dan tidak masuk akal. Mahiru-senpai seharusnya juga menyadari hal itu.

Namun, karena dia terus mencoba membenarkan tindakannya sendiri secara paksa, dia malah membuat semuanya menjadi semakin aneh.

"Maaf kalau omonganku ini agak kasar, tapi apa yang Senior lakukan sekarang ini cuma melarikan diri biar Senior sendiri merasa tenang, kan?"

Mendengar kata-kata Yuhi, punggung Mahiru-senpai tersentak dan tegak.

"M-melarikan diri itu bukan hal yang buruk, kan."

"Aku tahu. Kalau ada hal yang menyakitkan, Yuhi pun rasanya ingin lari saja. Tapi, kita harus menghadapi kesulitan itu!"

"...!"

"Menghadapi kesulitan, berusaha sekuat tenaga, dan kalau pun tetap gagal, barulah pilihan untuk melarikan diri itu muncul. Senior sudah terlanjur bilang suka, kan? Kalau begitu, kuatkan tekadmu dan terimalah jawaban orang itu."

"...K-kalau ditolak, aku nggak bakal bisa ketemu dia lagi, dong."

"Lagian, bukannya sekarang pun Senior nggak ada niat untuk menemuinya?"

"Ugh."

"Terus, kalau Senior terus-terusan mengulur waktu tanpa mendengar jawabannya, setelah itu Senior mau bagaimana?"

"Itu..."

"Sebenarnya apa yang paling ingin Mahiru-senpai lakukan?"

Angin berembus. Dahan-dahan pohon bergoyang pelan, dan angin sejuk menyelimuti mereka berdua.

Berapa lama mereka sudah berdiam seperti itu?

Mahiru-senpai terus bungkam sambil menatap rumput di tanah.

"—Ingin,"

"Eh?"

"Aku ingin terus bersamanya."

Suaranya yang terdengar seolah dipaksakan keluar itu, terbawa angin dan terserap ke dalam langit yang mendung.

 

4

—Hari Sabtu, sekitar pukul sembilan pagi.

Langit terlihat mendung.

Setelah keluar dari Stasiun Shizuoka, aku berjalan menuju gedung olahraga yang diberitahukan oleh Yoshimura-san.

Jaraknya hanya beberapa menit berjalan kaki dari stasiun.

Berkat dorongan semangat dari Yuhi-chan kemarin, sepertinya sebuah tekad telah terbentuk di dalam diriku. Sebuah tekad untuk menerima dengan lapang dada apa pun jawaban yang akan diberikan oleh Yuu-nii.

Harapanku adalah terus bersama dengan Yuu-nii. Untuk mewujudkan hal itu, aku harus mendengar jawaban darinya.

Entah jawabannya "ya" atau "tidak", aku harus menerima perasaan Yuu-nii.

Aku tak ingin memikirkan hal ini, tapi jika aku ditolak oleh Yuu-nii, aku takkan pernah mau jatuh cinta lagi. Aku akan mendedikasikan seluruh hidupku untuk bermain voli.

Dua buah bus berukuran besar terparkir di area parkir yang luas. Kudengar, mereka sedang melakukan persiapan terakhir bersama tim dari Shizuoka sebelum musim kompetisi dimulai pada bulan Oktober. Saat aku masuk melalui pintu utama, Yoshimura-san sudah ada di sana.

"Ah, aku sudah menunggumu. Ryushaku-chan."

"Halo, sudah lama tidak bertemu."

Sambil mengusap perut buncitnya, Yoshimura-san memandu langkahku.

"Saat ini sedang ada pertandingan latihan. Tontonlah."

"Baik."

Di dalam gedung olahraga, sedang berlangsung pertandingan yang saking sengitnya tak terlihat seperti pertandingan latihan biasa.

Bola melesat dengan cepat, dan para pemain di bangku cadangan tak henti-hentinya meneriakkan dukungan dengan suara lantang.

Aku naik ke lantai dua melalui tangga di sudut ruangan, dan menonton pertandingan sambil bersandar pada pagar pembatas.

"Pemain di posisi Libero itu adalah bintang andalan kami, Koharu Hanayama alias Koharun. Kamu tahu, kan?"

Sebenarnya aku ingin menonton sendirian, tapi entah mengapa Yoshimura-san terus mengikutiku.

Yah, kalau aku memang ingin bergabung dengan tim ini, aku harus akrab dengannya, jadi aku tak boleh bersikap tak sopan.

Koharu Hanayama adalah pemain berpostur tubuh kecil, namun gerakannya sangat lincah. Secepat apa pun bolanya, ia selalu bisa mengejar dan menerimanya. Kegigihannya terhadap bola benar-benar luar biasa.

"Hebatnya..."

Pertandingan berakhir dengan kemenangan untuk tim Kumamoto Empress.

Setelah istirahat sejenak, sepertinya mereka akan bertanding lagi dengan susunan pemain yang berbeda.

Awalnya aku dijadwalkan untuk diperkenalkan pada para pemain Kumamoto Empress setelah pertandingan usai, namun karena tiba-tiba ada peliputan mendadak, aku disuruh menunggu di ruangan lain.

Saat aku sedang menunggu sambil melamun, seorang wanita masuk ke dalam ruangan.

Dia memiliki rambut cokelat panjang, tubuh yang proporsional, dan wajah yang sangat rupawan layaknya seorang idola.

Ia mengenakan seragam Libero berwarna merah, dengan handuk yang dikalungkan di lehernya.

"Oh, kamu anak yang tadi menonton dari lantai atas, ya?"

Itu Koharu Hanayama.

Aku pun berdiri dan memberi salam.

"S-salam kenal, nama saya Mahiru Ryushaku."

"Kamu Ryushaku-chan yang dirumorkan itu, ya. Namaku Koharu Hanayama. Salam kenal, ya!"




"Mohon bantuannya, Hanayama-san."

"Panggil Koharu saja tidak apa-apa."

"Kalau begitu, Koharu-san."

"Yoshimura-san sampai heboh bilang kalau dia menemukan pemain baru yang luar biasa, lho."

"Ahaha, tidak juga."

"Sudah, jangan kaku begitu. Duduklah."

Sambil berkata demikian, Koharu-san duduk di depanku.

"Aku juga dengar dari Yoshimura-san, katanya Ryushaku-chan dari SMA Kita, ya?"

"Ah, iya, benar."

"Aku juga alumni SMA Kita, lho. Bikin kangen, ya."

"Adikku juga kebetulan sekarang kelas tiga di SMA Kita."

"Ah, Rin, kan?"

"Kamu kenal?"

"Iya, kami lumayan akrab, kok."

"Wah, dunia ini sempit, ya."

Koharu-san adalah sosok yang bersinar layaknya matahari, dia bersikap ceria padaku yang baru pertama kali ditemuinya. Hanya dengan mengobrol dengannya saja, perasaanku ikut terbawa gembira...

Kenapa orang sebaik ini bisa tidak akur dengan adiknya sendiri, ya.

"Rin itu dari dulu manja banget, tahu—"

"Anu, mungkin tidak sopan menanyakan hal ini, tapi aku dengar Koharu-san kurang akur dengan Rin..."

"I-itu, kamu dengar dari siapa?"

"Dari pacarnya Rin."

"Eh, Rin punya pacar!?"

"Iya."

"Rin nakal, ya. Harusnya dia kasih tahu kalau sudah punya pacar, dong."

"Apa kalian sedang bertengkar?"

"Hmm, dibilang bertengkar juga bukan, ya. Bagaimana, ya mengatakannya... Mungkin lebih tepatnya perbedaan prinsip, kali ya."

Koharu-san menyipitkan matanya seolah menerawang jauh, lalu menghela napas.

"Ryushaku-chan sendiri punya pacar, nggak?"

"T-tidak, aku nggak punya pacar."

Aku mengibaskan tangan di depan wajahku.

"...Dari reaksimu, sepertinya kamu punya orang yang disukai."

"Eh?"

"Wajahmu merah banget, lho."

Koharu-san tersenyum menyeringai.

"Baguslah, masa muda memang indah, ya. Aku jadi teringat masa SMA-ku."

"Koharu-san, waktu SMA dulu pernah jatuh cinta?"

"Pernah, dong. Agak gimana gitu mengatakannya sendiri, tapi aku ini tipe orang yang sadar diri kalau aku ini manis."

"Aku sangat percaya diri dengan penampilanku. Tapi saat aku menembak cinta pertamaku untuk pertama kalinya seumur hidup, aku langsung ditolak mentah-mentah."

Kata penolakan itu terasa berat membebani hatiku.

"Tapi aku nggak menyerah dan terus mendekatinya, lho."

"Eh?"

"Aku mencoba berbagai macam cara dan taktik untuk mendekatinya."

"Kalau dipikir-pikir lagi, hari-hariku waktu itu lumayan berat juga, lho."

Koharu-san melipat tangannya dan mengangguk-angguk setuju.

"Tapi, kan kamu sudah ditolak sekali."

Bukankah dalam percintaan, jika ditolak berarti semuanya sudah berakhir?

"Iya. Tapi aku merasa tak bisa memikirkan orang lain selain dia."

"Dan yang terpenting, aku tak ingin menyesal. Hidup ini cuma sekali, kan. Sayang banget kalau menyerah pada perasaanku cuma karena tersandung sekali."

"...!"

Pada saat itu, aku merasa ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam diriku.

"Ada banyak rintangan sih, tapi pada akhirnya kami bisa jadian. Bahkan sampai sekarang hubungan kami masih berlanjut—"

"Oi, Hana-chan, ke sini sebentar, dong!"

Dipanggil oleh pemain lain, Koharu-san pun beranjak dari tempat duduknya.

"Iya! Ya sudah, sampai nanti, ya."

"Ah, iya."

Ditinggal sendirian, aku mencerna kembali kata-kata Koharu-san.

Hidup ini cuma sekali. Sayang banget kalau menyerah.

"..."

Selama ini aku selalu berpikir kalau menyatakan cinta itu adalah pertarungan sekali jalan.

Ya atau tidak, depan atau belakang, hasilnya akan ditentukan hanya dalam satu kali kesempatan. Begitulah pemahamanku.

Namun, menyerah pada perasaanku hanya karena satu kegagalan—

"Sayang banget... ya."

Saat aku memandang ke luar jendela, langit yang tadinya mendung entah sejak kapan telah berubah menjadi cerah.

 

5

Hari Minggu.

Langit mendung yang berkepanjangan akhirnya usai pada siang kemarin, digantikan oleh langit cerah musim gugur yang menyegarkan.

Angin yang berembus terasa dingin, namun sengatan sinar matahari yang cukup terik membuat cuacanya terasa pas. Meski cuaca hari ini begitu cerah, langit di dalam hatiku masih tertutup awan mendung.

Sambil membereskan kursi-kursi di teras, aku menghela napas panjang.

"Haa..."

Sudah lebih dari seminggu aku tak bertemu dengan Mahiru.

Sepertinya dia memberitahu Miya dan Asaka bahwa dia sibuk dengan kegiatan klub, namun Mahiru jelas-jelas menghindariku.

Bukan, dia pasti sedang marah. Ditelepon pun tak diangkat, dan dia juga tak pernah mampir ke Moon Night Terrace lagi.

Aku sangat menyesal karena saat dia menyatakan cintanya Jumat malam minggu lalu, aku tak bisa menerima perasaannya dengan baik. Mungkin itu penyebab utamanya.

Padahal dia sudah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan cinta, namun aku malah terpaku saking terkejutnya. Siapa pun pasti akan marah jika diperlakukan seperti itu.

Selama seminggu ini, aku telah memikirkan banyak hal, termasuk soal Asaka.

Menerima perasaan salah satu dari mereka, berarti aku harus membuang perasaan yang satunya.

Apalagi, kami bertiga bukanlah orang asing. Kami bertiga sudah terikat dalam hubungan yang dalam sejak sepuluh tahun lalu.

Entah itu Mahiru atau Asaka, tak peduli siapa pun yang kupilih, memburuknya hubunganku dengan pihak yang tertinggal adalah hal yang tak bisa dihindari.

Aku tak ingin melihat mereka berdua yang bersahabat baik harus saling membenci atau bertengkar karenaku.

Meski aku sendiri tak punya pengalaman dalam hal percintaan, aku sudah sering mendengar kisah neraka akibat cinta segitiga dari rekan kerja dan klienku sewaktu aku masih di Tokyo.

Karena itu, aku berpikir. Daripada hubungan Mahiru dan Asaka hancur karenaku, mungkin menolak pernyataan cinta mereka berdua adalah pilihan yang terbaik.

Mereka berdua masih anak SMA. Mereka masih anak-anak. Sejak awal, merupakan sebuah kesalahan jika mereka terpaku pada pria tua sepertiku.

Iya, benar begitu. Di masa depan, Mahiru dan Asaka mungkin akan bertemu pria yang jauh lebih baik. Mereka tak boleh terjebak dengan pria sepertiku.

Mereka hanyalah adik perempuan yang manis bagiku, dan usiaku terpaut lebih dari sepuluh tahun dari mereka.

Keduanya adalah gadis cantik dan anak yang baik, terlalu sempurna untuk pria sepertiku.

Dan yang terpenting, mereka masih siswi SMA.

Ada kemungkinan yang tak terbatas membentang di hadapan mereka.

Begitulah aku meyakinkan diriku sendiri.

"...Fuh."

Kurasa inilah jawaban terbaik yang bisa kuberikan saat ini.

Dengan begitu, meski kami tak bisa mempertahankan hubungan seperti sediakala, setidaknya aku bisa menghindari situasi terburuk.

Karena aku akan menolak pernyataan cinta mereka, sudah pasti aku akan dibenci atau membuat mereka sebal.

Hubungan kami pun mungkin akan menjadi canggung. Tapi, ini satu-satunya jawaban yang paling aman.

Masalahnya adalah, kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Lebih cepat lebih baik.

Mahiru dan Asaka belum menyadari kalau mereka berdua menyukai orang yang sama, yaitu diriku.

Kalau aku menolak mereka satu per satu dengan benar, mereka takkan bertengkar karena menyukai pria yang sama.

Setelah selesai merapikan kursi teras dan kembali ke dalam kafe, kulihat Miya yang seharusnya belajar di kamarku malah turun ke lantai bawah.

Sepertinya dia sedikit lapar, karena dia sedang menyantap parfait stroberi di meja konter.

Waktu menunjukkan pukul tiga lewat. Waktu yang pas untuk camilan.

"Miya, belajarnya lancar, nggak?"

"Lancar, kok."

Sambil memasukkan parfait ke dalam mulutnya, Miya memasang wajah bahagia.

"Ah, iya. Mahiru dan Asaka katanya mau datang ke sini nanti."

"Eh?"

Karena ada urusan keluarga, Asaka memang bilang kalau dia akan datang menjelang sore hari. Tapi, Mahiru yang seperti biasa tidak bisa dihubungi itu...

"M-Mahiru juga?"

"Iya. Hari ini klubnya libur, jadi dia ngirim pesan Line bilang mau datang bareng Asaka."

"B-begitu, ya."

Mahiru akan datang...

Sejak malam pengakuan itu, sudah lebih dari seminggu kami tak bertatap muka.

Bahkan saat aku mencoba menemuinya, selalu ada saja alasan yang ia buat untuk menghindar, mulai dari sibuk dengan klub hingga hal lainnya. Pesan Line dan teleponku pun selalu diabaikan.

Tapi hari ini, justru Mahiru yang datang menemuiku.

Di balik rasa senang, muncul kecemasan tentang bagaimana aku harus menghadapi Mahiru nanti.

Karena kami akan bertemu, aku tak bisa menghindar dari pembahasan tentang pernyataan cintanya. Namun, hal itu harus dilakukan di tempat yang jauh dari pandangan Miya dan Asaka.

"Hei, hari ini mau makan malam di mana?"

Miya bertanya soal makan malam.

"Belum kutentuin, emangnya ada tempat yang pengen kamu datangi?"

"Hmm, hari ini aku pengen makan masakan Jepang."

"Itu bukan kalimat yang pas diucapin sama orang yang lagi makan parfait, tahu."

"Justru karena lagi makan parfait makanya aku jadi kangen masakan Jepang!"

"Iya, iya."

Mungkin aku akan mengajak mereka ke kedai soba.

Sekitar jam setengah enam sore, Mahiru dan Asaka datang bersamaan.

"O-oh, Mahiru."

"Ada apa? Wajah Yuu-nii tegang banget, lho."

Mahiru terlihat sama seperti biasanya.

"Yuu-nii, kita mau makan malam di mana?"

Tanya Asaka.

"Ah, anu, kupikir kita bakal makan soba hari ini."

"Ide yang bagus."

"Padahal aku pengen makan makanan yang lebih berat."

"Nggak apa-apa, kan, Mahiru-chan. Di kedai soba juga biasanya ada katsudon."

"Bener juga. Oke deh, ayo pergi, Yuu-nii."

"O-oh."

"Ayo, Miya-chan."

"Oke."

Sikap Mahiru yang begitu natural seolah pengakuan malam itu tak pernah terjadi membuatku tercengang.

Aku senang bisa bertemu lagi dengan Mahiru, namun jujur saja, perasaan bingunglah yang mendominasi hatiku.

Ada apa ini?

Sembilan hari terakhir ini, Mahiru jelas-jelas menghindariku.

Tapi sekarang ia bersikap dengan jarak kedekatan seperti biasa.

Aku lega melihatnya baik-baik saja, namun sebenarnya apa maksudnya ini...

Dengan perasaan mengganjal di dada, aku membawa mereka bertiga berjalan kaki menuju kedai soba legendaris di kawasan perbelanjaan. Di tengah perjalanan, Mahiru merajuk.

"Kalian pergi ke wahana hiburan minggu lalu, kan? Padahal aku juga mau ikut."

Mahiru berbicara seolah sedang merajuk.

"Lagian akhir-akhir ini Mahiru sibuk sama klub terus, sih," timpal Miya.

"Lain kali, kalau hari libur kita berempat pas barengan, kita pergi lagi ke sana, ya."

Asaka mendongak dan menatapku sambil berkata, "Iya, kan?"

"I-iya, tentu saja."

Tak lama kemudian, kami tiba di kedai soba.

"Yuu-nii mau minum alkohol?"

"Enggak, malam ini aku lewat."

"Aku mau soba dingin dua porsi, katsudon porsi besar, sama seafood tempura campur."

"Porsi makanmu masih banyak seperti biasa, ya, Mahiru."

Melihat keseharian kami kembali seperti semula, dadaku terasa sesak karena haru.

Namun, membayangkan bahwa aku harus memberikan keputusan berat terkait pengakuan cinta Asaka dan Mahiru nanti, membuat dadaku berdenyut sakit.

Tak mungkin Mahiru tidak memikirkannya. Dia pasti menemuiku hari ini karena dia sudah siap untuk membicarakan pengakuan cintanya.

Hari ini, aku akan memberikan jawaban atas pengakuannya. Aku harus dengan tegas menyampaikan bahwa aku tak bisa membalas perasaannya.

Lalu, di hari lain aku akan menyampaikan hal yang sama pada Asaka. Bahwa aku tak bisa menerima perasaannya.

Ya, dengan ini semua akan baik-baik saja. Inilah solusi terbaik yang bisa kuambil.

Setelah selesai makan, kami berjalan dari kawasan perbelanjaan menuju Kuil Sengen Taisha dan berjalan-jalan di sekitar halaman kuil.

Di halaman kuil yang sunyi dan diselimuti kegelapan malam, hanya terdengar suara angin dan serangga.

Bintang-bintang berkelap-kelip di langit, dan bulan memancarkan cahaya indahnya yang menawan.

Sambil berjalan, aku menyusun kata-kata penolakan untuk Mahiru di dalam kepalaku.

Setelah itu, kami berjalan menuju Stasiun Fujinomiya untuk mengantar Asaka.

"Sampai jumpa minggu depan."

"Daaah!"

"Sampai jumpa."

Miya dan Mahiru melambaikan tangannya. Dari belakang mereka, aku juga ikut melambaikan tangan kecil. Asaka melewati gerbang tiket dan turun menuju peron.

Setelah mengantar Miya ke rumah keluarga Haruyama, kini tinggallah aku berdua dengan Mahiru.

Aku berjalan menyusuri jalanan malam berdampingan dengan Mahiru.

"..."

"..."

Kami terus melangkahkan kaki dalam diam, entah ke mana arahnya. Baik aku maupun Mahiru, sama-sama tahu apa yang harus kami bicarakan.

Inilah saatnya membahas tentang pengakuan di malam hujan waktu itu. Tapi, bagaimana cara memulainya?

Tanpa terasa, kami sudah tiba di depan Moon Night Terrace.

"...Mau jalan-jalan sebentar lagi?"

"Iya."

Kami pun menuju sebuah taman di dekat sana. Kami duduk di bangku taman dan menatap langit bersama. Akhirnya, saatnya tiba. Tubuhku menegang karena gugup.

"Mengenai hal itu, Mahiru—"

Saat aku baru saja membuka suara, Mahiru langsung memotong ucapanku.

"Yuu-nii, maafkan aku."

"Eh?"

"Selama ini aku... mengabaikanmu."

"Ah, tidak apa-apa..."

"Sebenarnya, aku sama sekali tak berniat untuk menyatakan perasaanku."

"Eh?"

"Aku ketakutan saat membayangkan apa jadinya kalau Yuu-nii menolakku setelah aku menyatakan cintaku."

"..."

"Kalau akhirnya bakal begitu, kupikir lebih baik aku terus menyembunyikan perasaanku. Tapi tanpa sadar aku malah mengatakannya."

"Mahiru."

"Tapi, karena sudah terlanjur bilang, aku harus mendengarkan jawabanmu. Tapi aku tak mau jawaban itu ternyata adalah penolakan."

"Karena itu aku tak ingin bertemu dengan Yuu-nii, dan malah mengabaikan semua pesan dan panggilan darimu... Maafkan aku."

"Ah, begitu toh alasannya."

"Maaf ya, aku bersikap kekanak-kanakan."

Aku bisa memahami alasan di balik sikap Mahiru.

Dia hanya mengkhawatirkan perubahan hubungan kami. Namun, jawaban yang akan kuberikan padanya bukanlah jawaban yang menyenangkan baginya. Kali ini aku harus bersikap tegas dan tega padanya.

"Mahiru, aku—"

"Makanya, untuk sekarang aku tidak mau mendengarnya."

"...Hah?"

"Yuu-nii pasti masih menganggapku seperti adik perempuanmu, kan?"

Mahiru menoleh ke arahku. Mata besarnya menatap tajam ke arahku, seolah mengunci pandanganku.

"Jadi tolong, tunda dulu jawabanmu."

"T-tunda?"

"Aku tak mau mendengar jawaban lain selain iya. Aku akan terus berusaha dan takkan menyerah sampai Yuu-nii bisa menyukaiku, sampai kamu menganggapku sebagai seorang wanita."

"M-Mahiru. Apa yang kau bicarakan—"

"Entah seperti apa perasaan Yuu-nii saat ini, tapi kalau jawabannya bukan iya, tolong jangan katakan apa-apa."

"Yah, walau kamu memberikan penolakan sekalipun, aku sama sekali tak berniat untuk menyerah. Hidup ini cuma sekali, jadi aku takkan pernah menyerah."

Apa yang sedang aku lakukan sekarang. Bukankah seharusnya aku menolak Mahiru dengan tegas?

Kenapa aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

"Oleh karena itu, kalau suatu saat Yuu-nii mulai menyukaiku sebagai seorang wanita, saat kamu merasa siap berpacaran denganku, tolong berikan jawabanmu lagi saat itu."

"Berapa lama pun, aku akan tetap menunggunya."

Kemudian, kurasakan wajah Mahiru mendekat.

Diikuti suara ciuman kecil, sebuah sensasi lembut mendarat di pipiku.




"Suka."

Hanya itu yang diucapkannya sebelum Mahiru mendadak berdiri.

"Kalau begitu, sampai besok, ya."

Mahiru pun berlari kecil meninggalkan tempat itu, hingga punggungnya perlahan menghilang ditelan kegelapan malam.

Sensasi dari bibir Mahiru masih tertinggal di pipiku.

'Aku tidak akan menyerah.' Dari kata-kata itu, aku bisa merasakan semacam keseriusan dan tekad yang kuat dari Mahiru.

Meski suara dan nada bicaranya terdengar tenang, ada aura intimidasi yang terpancar darinya—persis seperti hewan karnivora yang sedang memburu mangsanya.

Saat aku menatap ke ruang hampa di udara, sesuatu yang terasa tumpul dan berat perlahan mengalir ke sudut kepalaku.

Perasaan itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru, hingga akhirnya memenuhi isi otakku.

Itu bukanlah perasaan yang tidak menyenangkan.

Perasaan tersebut malah lebih mirip dengan rasa lega yang membuatku bisa menghela napas bebas.

Sebenarnya... perasaan apakah ini?



Interlude IV | ToC | Epilog

0

Post a Comment

close