Final Chapter
Siang yang Abadi
1
"Aku
suka padamu."
Entah
bagaimana kata itu bisa meluncur dari mulutku.
Aku sendiri pun tak mengerti.
Niat awalku adalah membicarakan soal Asaka dan tawaran scouting,
tapi yang keluar dari mulutku malah kata yang sama sekali tak kuduga.
Apa
karena aku cemas Asaka akan kembali besok?
Atau
jangan-jangan, aku mencoba mengungkapkan perasaanku sebelum Asaka datang besok,
mumpung dia sedang tidak ada di sini?
Atau
mungkin, harapan naif bahwa Yuu-nii akan menerima perasaanku lah yang
mendorongku bertindak seperti itu?
Atau
mungkinkah aku merasa harus memberitahukan alasan mengapa aku tak ingin
meninggalkan Fujinomiya, sebelum aku menolak tawaran dari tim scouting?
Apa
pun alasannya, aku sudah terlanjur mengatakannya. Aku sudah mengungkapkan
perasaanku yang sebenarnya.
Perasaan
yang selalu kusembunyikan, yang selama ini kujaga agar tidak ketahuan.
Suka.
Aku
menyukai Yuu-nii.
Hanya
dengan mengucapkan satu kata itu, seluruh tubuhku terasa panas seperti
terbakar, dan jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit.
Napas
memburu, aku tak bisa menghirup udara dengan baik, seolah tubuhku tak lagi mau
mendengarkan perintahku.
Ah,
Asaka pasti merasakan hal yang sama.
Mengungkapkan
perasaan pada orang yang disukai lewat kata-kata... Meski tanpa sadar kata itu
terlontar dari mulutku, Asaka pasti merasa lebih menderita karena butuh tekad
kuat baginya untuk akhirnya bisa mengatakannya.
Mengungkapkan
perasaan itu bukan hal yang mudah, dan yang terpenting, ini bukan sesuatu yang
bisa diselesaikan seorang diri.
Sebuah
pengakuan baru akan bermakna jika pihak lain menerimanya.
Aku
menoleh ke arah kursi kemudi. Di sana, kulihat wajah Yuu-nii yang kebingungan.
"...Hah?"
Yuu-nii
menatapku dengan pandangan kosong dan mulut setengah terbuka, seolah tak
percaya dan tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Melihat
ekspresi wajahnya, panas yang menguasai tubuhku perlahan menghilang, digantikan
oleh rasa dingin yang membekukan hati, seakan aku baru saja melompat ke lautan
di tengah musim dingin.
Rasa penyesalan yang mendalam menggelegak di dalam dada, mengguncang
hatiku.
Guncangan itu menjalar ke seluruh tubuh, membuat bibirku bergetar
layaknya saat menahan hawa dingin.
"A..."
Kenapa
aku mengatakan hal seperti itu?
Entah
karena bibirku yang bergetar, suaraku tak bisa keluar dengan lancar.
"Ah,
e-anu..."
Aku
mencoba mencari alasan untuk mengelak, seolah-olah kata 'suka' tadi ditujukan
untuk hal lain, tapi tak ada satu pun alasan yang terlintas di pikiranku.
"I-itu,"
Suara
hujan yang menghantam atap mobil semakin kencang, seolah siap menelanku.
Setelah
itu, kami berdua hanya diam membisu, namun terlihat jelas bahwa Yuu-nii juga
sama terguncangnya denganku.
Tak
lama kemudian, mobil berhenti di depan rumahku.
"..."
"..."
Yuu-nii
menatap sekilas ke arah bawah, lalu menatap mataku.
Dengan
ragu-ragu, dia membuka mulutnya.
Aku
takut.
Setelah
badai penyesalan mereda, hanya perasaan itulah yang tersisa.
"A-anu,
Mahiru,"
Aku
takut mendengar jawabannya.
Dari
reaksi Yuu-nii, jelas terlihat bahwa dia tidak pernah memandangku sebagai
seorang wanita.
Pasti,
Yuu-nii tidak merasa senang saat menerima pengakuan cinta dari gadis sepertiku.
Karena
itu, dia pasti akan menolakku.
Aku
takut mendengar kata-kata penolakan itu. Aku takut ditolak oleh Yuu-nii.
Tanpa
sadar, aku sudah membuka pintu dan melompat keluar dari mobil.
Aku
menerobos hujan deras dan berlari menuju pintu depan rumahku, masuk ke dalam
tanpa menoleh ke belakang.
"Hah,
hah."
"Eh,
Mahiru, sudah pulang?"
Suara Mama terdengar dari ruang tengah.
"Diantar
Yuu-nii? Sudah makan belum?"
"...Belum."
Mama
menyusul ke pintu masuk.
"Ya
ampun, kamu basah kuyup. Sana mandi dulu!"
"...Iya."
Aku
masuk ke ruang ganti dan melepaskan pakaianku yang basah. Liontin pemberian
Yuu-nii terasa sangat dingin di kulitku.
Mungkin
karena aku basah kuyup, Mama tak menyadari kalau aku sedang menangis.
Aku membenamkan tubuhku ke dalam bak mandi. Rasanya aku ingin terus
tenggelam ke dasar...
◇
Kata-kata
Mahiru terus terngiang di kepalaku.
Sambil
memarkirkan mobil di area parkir depan Moon Night Terrace, aku kembali
memikirkan percakapan kami beberapa saat lalu.
Yah,
meski sebenarnya itu tak bisa disebut percakapan. Hanya satu kata. Dia dengan
jelas mengatakan: "Aku suka padamu."
Awalnya
aku sama sekali tidak paham maksudnya.
Apakah
dia menyukai kola yang diminumnya, atau dia menyukai perjalanan berkendara di
malam hari saat hujan?
Ataukah dia menyukai lagu yang sedang diputar di mobil?
Aku
berusaha keras mencari makna yang pas, namun aku yakin kata-kata itu bukan
ditujukan untuk semua hal tadi.
Wajahnya
yang memerah, dan posisi kami yang sedang berduaan.
Serta
kata "suka" itu sendiri. Sebodoh apa pun seorang pria, pasti mengerti
apa maksud di balik semua itu.
Mahiru
menyukaiku?
Saat
menyadari hal itu, pikiranku benar-benar kosong, dan hampir saja aku
menyebabkan kecelakaan.
Tentu
saja, aku juga menyayangi Mahiru, tapi hanya sebagai adik perempuanku yang
manis. Perasaanku pada Miya dan Asaka juga sama. Rasa sayang ini seharusnya
bukanlah perasaan cinta. Pasalnya, mereka semua masih anak SMA.
Malam
itu di Shounan, saat Asaka mengatakan perasaannya padaku, aku sangat
kebingungan.
Namun
sekarang, kebingunganku jauh melebihi saat itu.
Mahiru
yang itu, atau justru karena dia adalah Mahiru...
Memang,
sejak kejadian dengan Asaka malam itu, aku jadi lebih waspada terhadap jarak
antara aku dan bocah-bocah nakal itu.
Tapi
kukira itu hanya karena aku terlalu berlebihan menilai diriku sendiri, sebab
sebelumnya aku tak pernah menyadari perasaan Asaka padaku.
Mahiru
yang selalu ceria, selalu menebar senyum kepada semua orang, dan selalu
berjuang keras sebagai kapten klub volinya.
Sosok
Mahiru yang tidak berubah sejak dia masih kecil dulu.
Mahiru
yang selalu dekat denganku sejak dia pindah dari Tokyo ke Fujinomiya.
Jujur
saja, sulit rasanya untuk percaya. Aku tak menyangka Mahiru menyimpan perasaan
semacam itu padaku.
Memang,
kedekatan kami dan seringnya kami bersentuhan fisik, rasanya terlalu dekat
untuk ukuran teman laki-laki dan perempuan biasa.
Namun,
aku selalu menganggap hubungan kami layaknya kakak dan adik yang telah terjalin
selama sepuluh tahun. Setidaknya begitulah anggapanku.
"...Mahiru."
Begitu
sampai di rumahnya, Mahiru langsung turun dari mobil. Sejak membisikkan kata
"suka", dia tak mengatakan sepatah kata pun.
Apakah
dia marah karena aku tak memberikan reaksi apa-apa?
Dia membuka pintu mobil dan berlari seolah melarikan diri.
Aku merasa malu karena tak bisa langsung menjawab pengakuannya, tapi
jika ditanya apakah aku bisa memberikan jawaban pasti saat itu juga, sungguh
aku tak bisa.
Pikiranku dipenuhi oleh Asaka.
Asaka juga memendam perasaan padaku, dan hingga saat ini, aku belum
bisa memberikan jawaban yang pasti padanya.
Tapi,
ada satu perasaan yang selalu kupegang teguh.
Baik
Asaka maupun Mahiru, mereka sudah seperti adik sendiri bagiku.
Umur
kami terpaut cukup jauh, dan mereka masih berstatus siswi SMA.
Fakta
itulah yang menahan perasaanku.
Bagaimanapun
juga, mereka masih anak-anak.
Tentu
saja, aku sama sekali tak bermaksud meremehkan perasaan mereka, tapi...
Apa
yang harus kulakukan?
Bagaimana
aku harus menanggapi perasaan mereka... Tunggu, ada masalah yang jauh lebih
krusial.
Asaka
dan Mahiru.
Mana
yang harus... ku...
Jepang
menganut sistem monogami. Seandainya aku siap membalas perasaan mereka, aku
hanya bisa memilih salah satu dari mereka...
Ah,
tidak, terlalu cepat bagiku untuk memikirkan hal itu.
Saat
aku keluar dari mobil, hujan yang turun deras seperti ditumpahkan dari langit
langsung membasahi sekujur tubuhku.
Suhu
udara yang dingin dan hujan membuat tubuhku gemetar, namun hatiku terasa panas
bagaikan minyak yang mendidih.
Apa
pun itu, aku harus bicara dengan Mahiru dulu.
Aku
berteduh di bawah atap teras, mengeluarkan ponselku, dan memanggil nomor
Mahiru.
Namun,
yang kudengar hanyalah suara rintik hujan dan nada sambung.
Angin
yang berhembus kencang meniupkan hujan hingga ke teras.
Aku
terus menelpon Mahiru sambil kehujanan, namun tak kunjung ada jawaban darinya.
2
"Aku
sudah berlatih keras agar menjadi kuat."
"Aku,
sudah lama menginginkan ini."
"Grr,
awas kau! Tahun depan aku pasti juara satu."
"Hehe,
tak ada hal yang kutakuti di dunia ini."
Kenangan
tentang Mahiru kecil terputar kembali di benakku seperti sedang menonton video
rumahan.
Mahiru
yang selalu penuh semangat, yang kadang terlalu nakal hingga membuatku
kerepotan, dan sosok yang menjadi pemimpin bagi Miya serta Asaka.
Sepertinya
hujan telah reda tanpa kusadari.
Di tengah kesunyian malam yang hening, terdengar suara burung hantu
bergema.
Kulihat jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Sejak kejadian itu, aku sudah mencoba menelpon dan mengirim pesan Line
padanya berkali-kali, namun tak ada satu pun yang berbalas.
Keesokan harinya, hari Sabtu.
Semalam aku kesulitan tidur dan sering terbangun, membuat kepalaku
pening dan tubuhku terasa lemas akibat kurang tidur.
Cuaca hari ini tidak terlalu bersahabat. Langit diselimuti awan kelabu
yang membuat udara terasa sedikit gerah.
Meski sudah memasuki akhir September, sisa-sisa hawa musim panas masih
terasa.
Aku bekerja di kafe hingga lewat tengah hari, lalu pergi ke stasiun
untuk menjemput Asaka pada siang hari.
Biasanya aku berjalan kaki karena jarak stasiun lumayan dekat, namun
karena rencananya aku akan mampir ke rumah keluarga Ryushaku, aku memutuskan
untuk menggunakan mobil.
Pengakuan Mahiru kemarin terlalu mendadak sehingga aku tak bisa
merespons apa-apa.
Bukan berarti aku bisa memberikan jawaban pasti saat ini juga, namun
aku harus menemuinya terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
Aku
memencet bel pintu, dan tak lama kemudian Bibi Asuka membukakan pintu.
"Oh,
ada Yuu-kun rupanya."
Dari
belakangnya, tiga ekor anjing peliharaannya datang berlari kecil.
"Makasih
ya untuk kemarin malam. Sudah repot-repot mengantar Mahiru
pulang."
"Ah, bukan apa-apa. Oh ya, Mahirunya ada?"
"Oh, dia ada klub olahraga. Hari ini dia latihan seharian dari
pagi."
"Begitu,
ya."
Aku
baru menyadarinya sesaat setelah bertanya.
Seingatku,
kemarin Mahiru bilang kegiatan klubnya baru dimulai siang hari, tapi... Entah
pertanyaanku tersampaikan atau tidak, Bibi Asuka menambahkan penjelasannya.
"Katanya
sih awalnya latihan siang, tapi diubah jadi seharian penuh."
"O-oh,
begitu ya."
Setelah
mengobrol basa-basi sebentar, aku pun pamit.
Pada
akhirnya, aku tak bisa bertemu dengan Mahiru.
Sepertinya
aku harus menunggu sampai latihannya selesai.
Aku
melajukan mobilku dari rumah keluarga Ryushaku menuju stasiun, lalu
memarkirkannya di area penjemputan.
Tak
lama setelah aku duduk menunggu di bangku pintu utara stasiun, Asaka pun tiba.
"Yuu-nii."
"O-oh,
Asaka."
"Maaf
membuatmu menunggu."
Ia
mengenakan blus merah muda dengan pita hitam di bagian dadanya.
Rok
panjang hitam yang dikenakannya terlihat tembus pandang di bawah lutut,
memberikan kesan yang memikat.
Lebih
mengejutkannya lagi, blusnya memiliki model tanpa lengan yang mengekspos bagian
ketiaknya.
"Masih
panas saja ya, akhir-akhir ini."
Asaka
menyisir poninya dengan sebelah tangan, dan memamerkan ketiaknya yang mulus.
Ketiak putihnya terekspos tepat di depan mataku.
Dengan
gugup, aku langsung berdiri.
"A-ayo,
kita pergi."
"Iya."
"Sudah
makan?"
"Belum."
"Mau
makan di luar?"
"Aku
lebih ingin makan di Moon Night Terrace daripada di tempat lain."
"Oh,
begitu ya. Baiklah."
Setelah
masuk ke dalam mobil, Asaka menoleh ke arahku.
"Yuu-nii,
ada mata pandanya, lho. Kamu kurang tidur, ya?"
"Ah,
iya. Sedikit."
Aku
belum menceritakan kejadian kemarin kepada siapa pun, apalagi kepada Asaka.
Sebagai
orang yang telah menerima pengakuan perasaannya, aku belum memberikannya
jawaban yang pasti (meski Asaka tampak tak keberatan dengan itu).
Di
tengah situasi seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa jujur dan memberitahunya
kalau Mahiru juga menyatakan perasaannya padaku?
Asaka
dan Mahiru sudah seperti saudara perempuan karena sudah bersahabat sejak lama,
namun bagiku yang mengetahui segalanya, mereka berdua saat ini bagaikan saingan
dalam cinta.
Aku
jadi pusing membayangkan kalau mereka mengetahui perasaan satu sama lain lalu
bertengkar karenaku. Keduanya sama-sama adik perempuan yang manis bagiku.
"Tak
baik lho seperti itu. Kamu harus menjaga pola tidurmu."
"O-oke."
"Mau
mampir ke suatu tempat untuk istirahat sebentar?"
"Istirahat
apa maksudmu? Mengganggu pelanggan saja kalau aku tidur di kafe."
"Kalau
tempatnya memang khusus untuk tidur, pasti tidak masalah, kan? Misalnya—"
Asaka
menempelkan telunjuknya di bibir, membuat suara ciuman kecil. Ia melirikku dari
sudut matanya dan berkata,
"Di
hotel, misalnya."
"Hah!?"
"Di sana ada kasur dan juga bak mandi. Cocok banget buat
istirahat."
"J-jangan bicara yang aneh-aneh!"
"Fufu, bercanda, kok."
Asaka tertawa cekikikan. Bercandaannya sama sekali tak terdengar
seperti lelucon di telingaku.
"Sudahlah, ayo pergi."
"Baiklah."
Aku
menyalakan mesin mobil dan melaju menuju Moon Night Terrace. Lalu, aku teringat
akan suatu hal.
Pengakuan
Asaka di malam itu di Shounan hanya diketahui oleh kami berdua. Begitu pula
pengakuan Mahiru semalam, yang hanya diketahui olehku dan dirinya.
Namun,
jika Mahiru kebingungan dengan perasaannya, ia mungkin akan curhat kepada
temannya. Cukup masuk akal dan wajar jika ia berkonsultasi dengan sahabat
lamanya, Asaka.
Jika
hal itu sampai terjadi, maka Asaka akan tahu bahwa Mahiru juga menyukaiku. Dan
hal sebaliknya pun bisa terjadi.
Untuk
saat ini, hanya aku yang mengetahui gambaran penuh dari cinta segitiga yang
rumit ini.
Dan
aku sendirilah yang harus bertanggung jawab untuk memberikan jawabannya.
Perutku
terasa mulas. Bagaimana caranya menyelesaikan semua masalah ini? Aku tak
berniat menolak keduanya, tapi dengan memilih salah satu, otomatis aku menolak
yang lainnya.
Jika
itu sampai terjadi, pihak yang tertolak pasti akan sangat terluka, dan mustahil
bagi kami untuk mempertahankan hubungan dekat kami seperti biasa.
Asaka
dan Mahiru adalah gadis cantik yang terlalu sempurna untuk pria sepertiku, dan
daya tarik mereka sebagai wanita tak tertandingi.
Tidak
mungkin pria yang tak memiliki pengalaman dalam percintaan sepertiku bisa
menangani dua pengakuan cinta secara bersamaan.
Apa
yang harus kulakukan?
"N-ngomong-ngomong,
Asaka."
"Ya?"
"Katanya
hari ini Mahiru ada kegiatan klub seharian."
Aku
mencoba memancing pembicaraan tentang Mahiru secara halus, tapi tanggapannya...
"Oh,
begitu rupanya. Tapi pasti nanti malam selesai, kan? Nanti
kita pergi makan bareng-bareng saja."
"O-oh, ide yang bagus."
Reaksi
Asaka tampak biasa saja. Sepertinya Mahiru belum membicarakan masalah ini
dengan Asaka.
Memang
benar sih, rasanya tidak mungkin dia curhat secepat ini setelah kejadian
semalam. Aku menghela napas lega.
Kira-kira
apa ya yang sedang dipikirkan Mahiru sekarang?
Aku
sangat ingin bertemu dan bicara dengannya, tapi aku juga sangat cemas dan tidak
tahu harus berekspresi seperti apa jika bertemu nanti.
"Kita
sudah sampai."
Akhirnya
kami kembali ke Moon Night Terrace.
"Paman,
Bibi. Ini ada oleh-oleh untuk kalian."
"Wah,
repot-repot sekali."
"Terima
kasih, ya."
Asaka
menyerahkan buah tangan dari Kanagawa kepada kedua orang tuaku. Setelah itu, ia
memesan pasta untuk makan siang.
Tepat
saat Asaka sedang asyik menyantap makanannya, Miya pun datang.
"Eh,
Asaka udah datang. Paman, aku pesan pasta gaya Jepang dan es kopi satu,
ya."
Miya
duduk di meja kami dan mengeluarkan alat tulis dari tasnya.
"Miya-chan, sudah mau belajar, ya?"
"Iya, tadi pagi aku udah puas main bareng Misora dan teman-teman,
jadi siang ini aku mau fokus belajar."
Dari ceritanya, ternyata Misora, Tatsuki, dan Mei bermain di rumah
keluarga Haruyama, dan Miya harus menemani mereka bermain.
Miya
pun menceritakan betapa melelahkannya mengurus anak-anak kecil itu.
"Kenapa
tidak dimakan dulu saja?"
"Nggak
bisa, aku tak mau membuang waktuku sedikit pun."
Setelah
mengucapkan kalimat keren tersebut, Miya meminum seteguk es kopi pesanannya
yang baru saja dihidangkan di atas meja.
"...Miya-chan,
bukannya kalimat itu lebih cocok untuk orang yang pandai membagi waktu
sehari-harinya, ya?"
"B-berisik,
ah."
Setelah
itu Miya terus-terusan mengoceh tentang betapa melelahkannya menjaga anak
kecil, namun pada saat ia memegang pensil mekaniknya, pasta pesanannya pun
dihidangkan.
"—Uwaah,
kelihatannya enak, ya."
Pada
akhirnya, ia sama sekali tak belajar apa pun selama menunggu makanannya datang.
Seusai
makan, kami semua naik ke lantai dua.
Karena
Miya ingin belajar di kamarku, kami memutuskan untuk bersantai di ruang
keluarga agar tak mengganggunya.
"Yuu-nii,
aku ingin jalan-jalan keluar."
Ucap
Asaka.
"Jalan-jalan,
ya."
Jujur
saja, aku sedang tak bersemangat untuk bepergian.
Aku
sangat mengkhawatirkan Mahiru, dan pikiranku dipenuhi oleh cara menyelesaikan
cinta segitiga rumit yang baru saja kusadari antara aku, Asaka, dan Mahiru.
"Yuu-nii,
ayo dong."
Asaka
menggenggam tanganku di bawah meja. Tiba-tiba...
"Kalau
mau pergi jalan-jalan, aku juga mau ikut!"
Miya
sudah berdiri di ambang pintu. Asaka buru-buru melepaskan genggamannya.
"Miya-chan,
bukannya kamu harus belajar?"
Asaka
memarahinya selayaknya seorang ibu, namun Miya membalas dengan santai.
"Santai
saja, hari biasa aku juga udah sering belajar kok."
"Iya
sih, dia memang selalu belajar di kamarku sampai malam."
Mungkin
Miya ingin menghabiskan waktu bersama Asaka mumpung ia ada di sini.
Karena
ia biasanya sangat rajin belajar, tak masalah jika hari ini ia bersantai
sedikit di akhir pekan.
"...Oh,
begitu."
Pada
akhirnya, kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan.
"Lalu,
kita mau pergi ke mana?"
Miya
bertanya pada kami berdua.
"Aku
terserah saja, sih."
"Kalau
gitu kita ke tempat karaoke! Aku udah lama nggak ke sana."
Miya
mengangkat tangannya untuk memberikan saran.
"Karaoke
boleh juga."
"Aku
setuju saja."
Kami
pun segera berangkat ke tempat karaoke terdekat.
Dulunya
tempat ini bernama Shidax, namun saat aku pindah kembali ke Fujinomiya,
tempatnya telah berganti nama menjadi Karaoke-kan.
"Bikin
kangen, ya. Dulu kita sering ke sini berempat."
Asaka menatap papan nama berwarna biru itu dengan pandangan
bernostalgia.
"Dulu
saat pertama kali ke sini, kalian berdua sempat nyasar, kan."
"Masa,
sih? Bukannya waktu itu yang nyasar Asaka dan Mahiru, ya?"
Setelah
melapor di meja resepsionis, kami mengambil minuman di area minuman gratis,
lalu berjalan menuju ruangan.
"Aku
mau ke toilet sebentar."
"Kalau
begitu, aku bawakan ini, ya."
Asaka
mengambil gelas minuman Miya, lalu kami berdua masuk ke ruangan lebih dulu.
Saat
aku duduk di tengah sofa, Asaka malah masuk melewatu lututku hanya untuk duduk
di sebelahku. Payudaranya yang besar melintas tepat di depan wajahku.
"H-hei.
Kau bisa lewat memutari mejanya, kan?"
"Soalnya
kalau lewat sana terlalu jauh."
"Tetap
saja."
"Yuu-nii,
sepertinya hari ini kamu kelihatan lesu, ya."
Asaka
duduk di sebelahku dan mengintip wajahku. Di ruangan yang remang-remang ini,
matanya terlihat bersinar tak wajar.
Tatapannya
seakan-akan mampu melihat segala rahasia di dalam diriku.
"Enggak,
kok."
"Masa,
sih? Kelihatannya kamu gelisah banget padahal lagi nggak semangat."
"Eh?"
"Pandangan
matamu dari tadi tak fokus, kamu juga terlihat cemas."
"A-aku
tidak apa-apa, kok."
"Benarkah?
Kalau kamu ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku akan selalu ada di pihak
Yuu-nii."
Asaka menggenggam tanganku dengan lembut.
"Apa terjadi sesuatu padamu?"
Suaranya yang merdu dan lembut seakan meresap masuk dan membelit hatiku
secara perlahan.
Tunggu sebentar...
Jangan-jangan gadis ini sudah tahu semuanya.
Apa jangan-jangan ia hanya pura-pura dan mencoba memancingku untuk
bicara?
Tidak,
tidak mungkin. Aku tak menceritakan kejadian semalam pada siapa pun.
Rasa
curiga ini pasti muncul karena aku punya rahasia yang kusembunyikan.
Kedua
gadis itu telah mengungkapkan perasaan padaku, tapi aku malah menyembunyikan
hal tersebut dari mereka masing-masing, dan belum memberikan jawaban yang
pasti.
"Aku
kembali~"
Miya
masuk ke ruangan, dan Asaka langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Nah,
waktunya nyanyi!"
Miya
ikut duduk di sampingku, sehingga aku kini terjepit di antara mereka berdua.
Miya
mulai memilih lagu melalui tablet khusus yang tersedia di ruangan.
Selama
beberapa waktu, Miya dan Asaka bernyanyi bergantian, dan sesekali aku ikut
menyanyi atas permintaan mereka berdua. Namun, suasana hatiku tak kunjung
membaik.
"Aku
permisi ke toilet sebentar."
Asaka
beranjak dari tempat duduknya.
Karena
ada Miya di sisi lainnya, dia tak bisa lagi memaksakan diri untuk lewat di
depanku. Kali ini dia keluar ruangan dengan memutari meja.
"~🎵"
Aku
menatap Miya yang sedang asyik menyanyikan lagu anime, dan mulai berpikir.
"..."
Apakah
sebaiknya aku curhat saja pada Miya?
Sebagai
seseorang yang tak berada dalam lingkaran cinta segitiga rumit ini dan dekat
dengan kami bertiga, Miya pasti bisa memberikan dukungan padaku.
Dia
mungkin juga bisa menjadi penengah antara Mahiru dan Asaka.
Memikirkan hal itu, aku langsung menggelengkan kepala.
Tidak, tidak boleh.
Menyerahkan urusan Mahiru dan Asaka kepada Miya tidak akan
menyelesaikan masalah utamanya, dan Miya juga sedang sibuk belajar untuk ujian
masuk universitas. Aku tidak boleh menambah beban pikirannya.
Sepertinya aku memang harus memutuskannya sendiri. Tapi
antara Asaka dan Mahiru, aku hanya bisa memilih salah satu. Dan salah satunya
pasti akan terluka.
Sejujurnya,
aku tak pernah menyukai mereka dalam konteks romantis, namun aku sadar akan
pesona mereka sebagai wanita.
Saat
Asaka menyusup ke kamarku di vila di Shounan malam itu, aku sempat merasa
terangsang.
Saat
itu, aku memang menganggap Asaka sebagai seorang wanita.
Sejak
saat itu aku mulai menyadari dengan jelas bahwa bocah-bocah nakal itu sudah
bukan anak-anak lagi, melainkan gadis-gadis cantik yang memesona.
Gadis-gadis
kecil dari masa lalu itu telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang seutuhnya,
baik secara fisik maupun emosional.
Namun,
menyukai gadis yang sudah kukenal sejak kecil, yang umurnya terpaut sepuluh
tahun denganku, rasanya sangatlah tidak wajar.
"Aku
kembali."
Asaka
telah kembali dari toilet.
Mahiru
pasti akan bergabung dengan kami nanti malam. Saat itu tiba, jawaban apa yang
harus kuberikan padanya...
◇
"Oke,
latihan hari ini cukup sampai di sini."
"Terima
kasih banyak!"
Suara
para anggota klub bergema di seluruh ruangan gimnasium. Waktu menunjukkan pukul
lima sore.
Sambil memandangi teman-teman klub yang berbondong-bondong pergi ke
ruang ganti, aku menghampiri sang pembimbing.
"Permisi,
Pak."
"Ada
apa, Ryushaku?"
"Ada yang ingin saya bicarakan."
"Tentang apa?"
"Anu, soal tawaran scouting itu..."
◇
Pukul setengah enam sore.
Setelah membayar di meja resepsionis, kami keluar dari tempat karaoke.
Langit mulai berwarna biru tua, menandakan bahwa malam akan segera tiba.
Saat sedang berjalan melewati area parkir yang remang-remang, Miya
tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Lho?"
Miya mengambil ponselnya dan menatap layarnya.
"Ada apa, Miya-chan?"
Asaka yang berjalan di belakangnya, meletakkan kedua tangannya di pundak
Miya.
"Kata
Mahiru, latihannya bakal sampai larut malam, jadi dia nggak bisa ikut makan
bareng."
"Hah!?"
"Namanya
juga lagi latihan. Kan Mahiru-chan lagi fokus buat turnamen musim semi."
"Yahh,
padahal Asaka udah repot-repot datang ke sini."
Mahiru
tidak datang?
"Eh
Miya, tolong teleponin Mahiru sebentar, dong."
"Eh,
buat apa?"
"Tolong,
telpon saja, ya."
"Ya
sudah, kalau memaksa."
Miya menempelkan ponsel ke telinganya dan memandangi bintang di langit
dengan hampa.
Sekitar semenit berlalu, Mahiru tidak mengangkat teleponnya, dan Miya
menurunkan ponselnya dengan kecewa.
"Nggak
diangkat. Mungkin dia masih latihan."
"B-begitu,
ya."
Setelah
mengungkapkan perasaannya semalam, Mahiru kabur dari mobilku layaknya orang
yang sedang melarikan diri.
Sejak
saat itu, dia sama sekali tak merespons setiap pesan dan telepon dariku. Dan
sekarang, dia membatalkan rencana makan malam ini...
Semua
itu membuatku merasa cemas dan berpikir jangan-jangan dia sedang menghindariku.
Bukan, dia pasti benar-benar menghindariku. Meski terjadi secara
tiba-tiba, wajar jika ia marah padaku karena tak merespons pengakuannya sama
sekali.
"...Haa."
Aku
mendesah pelan.
◇
Sikap
Yuu-nii sungguh aneh.
Kira-kira
apa yang sedang ia pikirkan, ya?
Saat
mendengar Mahiru-chan tidak bisa ikut, reaksinya jelas menunjukkan
keterkejutan.
Dan
entah kenapa, membiarkan Miya-chan menelpon Mahiru-chan daripada ia sendiri
yang menelpon, terasa sedikit mencurigakan bagiku.
Apakah
terjadi sesuatu padanya yang berhubungan dengan Mahiru-chan?
...Hmm.
3
Hari
Minggu, tepat setelah tengah hari.
"Halo,
Asaka?"
"Eh,
Mahiru-chan. Ada apa?"
"Ah, nggak, anu..."
Mendengar suara Asaka, rasa bersalah langsung memenuhi dadaku.
"Hari ini aku juga sibuk dengan kegiatan klub, jadi aku nggak bisa
main sama kalian, ya."
"Yah,
sayang sekali. Kemarin juga nggak ketemu, padahal aku ingin ketemu nanti malam,
lho."
"M-maaf.
Ya, ya udah, ya."
"Oh
ya, Mahiru-chan."
"A-ada
apa?"
"Ini
soal Yuu-nii."
"Y-Yuu-nii?"
"Iya.
Entah kenapa Yuu-nii kelihatan murung, sepertinya sedang memikirkan
sesuatu."
"—!"
"Aku
kira Mahiru-chan tahu sesuatu."
"E-enggak,
a-aku nggak tahu. Udahan ya, istirahatku udah mau kelar."
"Oke, maaf nanyain hal yang aneh."
"S-sampai nanti."
"Iya, semangat latihannya. Dah."
Panggilan telepon terputus, dan suara hampa yang monoton bergema di
telingaku. Sambil menatap layar yang menunjukkan bahwa panggilan telah
berakhir, aku menghela napas panjang.
Sambil berbaring di tempat tidur, aku disiksa oleh rasa benci pada diri
sendiri. Sebenarnya, hari ini tak ada latihan klub sama sekali.
Ini adalah hari libur penuh pertamaku setelah sekian lama.
Sinar
matahari yang masuk melalui jendela terlihat begitu terang benderang, namun
bagi diriku saat ini, sinar itu terasa terlalu menyilaukan. Saat aku menatap
kosong ke layar ponsel, tampilannya berubah menjadi panggilan masuk. Nomor yang
tak kukenal.
"Halo."
"Halo.
Apakah ini Ryushaku-chan? Saya Yoshimura dari Kumamoto
Empress."
"Ah, iya."
Kalau tak salah, Yoshimura adalah pria paruh baya, orang dari pihak tim
pencari bakat yang pernah kutemui sebelumnya.
"Saya sudah dengar dari gurumu. Katanya
kamu ingin membicarakan hal ini lebih detail. Saya sangat senang
mendengarnya."
"Anu,
bukannya saya sudah mengambil keputusan, tapi lebih ke arah saya ingin
mendengar seperti apa gambarannya, begitu."
"Tentu
saja, tak masalah. Kamu bersedia mendengarkan saja sudah cukup bagi kami."
Kemarin,
aku telah meminta tolong kepada guru pembimbingku agar aku bisa mendengar lebih
rinci mengenai tawaran masuk dari tim Kumamoto Empress.
"Kebetulan,
hari Sabtu minggu depan kami ada jadwal pertandingan tandang di Shizuoka. Jika
Ryushaku-chan ada waktu luang, silakan datang sekalian menonton. Kamu bisa melihat langsung permainan para atlet kami dari dekat.
Tempatnya di—"
Aku mengambil pulpen dan buku catatan kecil, lalu menuliskan alamat
gedung olahraga kota yang disebutkan oleh Yoshimura-san.
"Baiklah, kami tunggu kedatanganmu minggu depan."
Panggilan berakhir, dan aku meletakkan ponselku di dekat bantal.
"Itu
artinya pilihan untuk melarikan diri harus selalu ada di dalam kepalamu."
Itulah
yang dikatakan Yuu-nii di hari ulang tahunku.
"Saat
menghadapi hal yang tidak menyenangkan atau menyakitkan, tentu saja
menghadapinya itu penting. Tapi ada juga hal-hal yang tak bisa diselesaikan
hanya dengan usaha."
"Kadang,
melarikan diri itu perlu."
Aku
sudah tak bisa lagi memiliki hubungan yang sama dengan Yuu-nii seperti dulu.
Sebenarnya aku tak punya niat untuk menyatakan perasaanku, tapi kepalaku sangat
penuh dengan masalah Asaka dan tawaran klub, hingga tanpa sengaja perasaanku
keceplosan begitu saja.
Karena
perasaanku sudah ketahuan, aku tak bisa lagi bersikap seperti biasa pada
Yuu-nii. Kami takkan bisa saling bercanda atau bermain layaknya kakak adik
lagi.
Namun,
aku tak punya keberanian untuk mendengar jawaban Yuu-nii. Jika dia menolakku,
aku akan sangat ketakutan...
Di
riwayat panggilan, ada banyak catatan panggilan masuk dari Yuu-nii. Namun, aku
tak punya nyali untuk menjawabnya.
Kalau
aku menerima tawaran tim korporat itu, lalu hidupku semakin sibuk dengan voli,
mungkin aku tak perlu lagi bertemu dengan Yuu-nii.
Melarikan diri bukanlah hal yang buruk. Ya, itu bukan hal yang buruk...
◇
Hari
Senin.
"Mahiru,
ayo makan siang."
Miya
berdiri di ambang pintu kelasku.
"Ah,
ayo."
Kami
duduk di meja yang agak mojok di kantin.
"Akhir-akhir
ini Mahiru kelihatan sibuk, ya."
Ucap Miya sambil menyantap sandwich-nya.
"Yah begitulah, kan aku menargetkan Turnamen Musim Semi."
"Sibuk banget ya, sampai-sampai akhir pekan kemarin kamu nggak
bisa main sama sekali."
"...Ahaha."
"Oh
ya, hari Minggu kemarin luar biasa banget, lho. Tiba-tiba Asaka ngajak pergi ke
Fuji-Q Highland, tahu nggak? Yang wahana rumah hantu Labirin Berdarah itu, lho.
Rasanya kaya mau mati. Aku dan Asaka terus nempel ke Yuu-nii—"
Miya
bercerita dengan ceria.
"Apa
Yuu-nii menikmatinya?"
"Eh?
Yuu-nii malah ikut teriak-teriak juga."
"Bukan
di rumah hantunya, maksudku Fuji-Q Highland-nya."
"Hmm,
kalau dipikir-pikir lagi, dia kayaknya kurang bersemangat buat pergi. Mungkin
kecapekan, kali."
Kemarin
siang, Asaka juga bilang kalau Yuu-nii kelihatan kurang bersemangat. Berarti,
urusanku juga membebani pikiran Yuu-nii.
"Mahiru,
kamu lagi nggak bersemangat, ya?"
Miya
mengintip wajahku dengan tatapan khawatir.
"Aku cuma kecapekan."
"...Begitu, ya."
Jika
aku mengatakan padanya bahwa aku menyatakan perasaan pada Yuu-nii, apa reaksi
Miya? Dia pasti kaget. Namun karena kami sudah lama bersahabat, Miya pasti mau
mendengarkan ceritaku dengan penuh empati. Namun, karena Miya punya kedekatan
dengan Yuu-nii, aku jadi ragu.
"Akhir
pekan ini juga ada kegiatan klub terus?"
"...I-iya."
"Oh
gitu. Jangan terlalu memaksakan diri ya, Mahiru."
Miya mengatakan hal itu dengan senyum polosnya.
Setelah itu, waktu berlalu tanpa aku pernah menginjakkan kaki di Moon
Night Terrace lagi. Yuu-nii sudah menghubungiku berkali-kali, tapi aku tidak
punya keberanian untuk menjawabnya.
Seakan mencoba mengalihkan pandanganku dari Yuu-nii, aku menenggelamkan
diri dalam voli. Tanpa kusadari hari ini sudah hari Jumat. Setelah hari ini
berakhir, esok sudah memasuki akhir pekan. Dan Asaka
akan datang lagi untuk menemui Yuu-nii...
Hari
kerja terakhir, istirahat makan siang.
Karena
katanya hari ini ada perkumpulan Klub Penelitian Misteri, Miya segera bergegas
pergi ke gedung sekolah tempat ruang klubnya berada setelah menghabiskan makan
siangnya dengan cepat. Karena duduk melamun di kantin membuatku gelisah, aku
pun menuju ruang loker untuk berjalan-jalan keluar.
Aku
melangkahkan kakiku tanpa arah di bawah langit yang mendung. Di lapangan, ada
murid-murid laki-laki yang sedang bermain sepak bola. Di bahu jalan
berpepohonan, terlihat pasangan kekasih yang sedang duduk berdampingan sambil
makan bekal.
Tanpa
sadar aku sudah berada di halaman tengah sekolah. Tak ada seorang pun di
sekitarku. Aku pun duduk di atas rerumputan.
"Haa."
Tiba-tiba—
"Waah!"
Tepat
saat kurasakan ada tangan yang menyentuh bahuku, sebuah suara nyaring bergema
di telingaku, mengejutkanku.
"Kyaa...
Ternyata kamu, Yuhi-chan."
Rambut pirang yang indah dipadu dengan mata biru jernih, serta wajah
rupawan yang mewarisi darah Inggris.
Yuhi Sotogami berdiri menatap ke arahku.
◇
Dada besar, kulit seputih pualam, dan paha yang padat berisi. Melihat Mahiru-senpai,
salah satu dari Gadis Suci Bertembok Besi, berjalan gontai sendirian, Yuhi pun
iseng mengikutinya secara diam-diam.
Karena Mahiru-senpai duduk begitu saja di rerumputan halaman tengah
dengan memunggunginya tanpa menyadari kehadirannya, Yuhi pun mencoba iseng
mengejutkannya dari belakang.
Reaksi yang diberikannya jauh lebih mengejutkan dari dugaan Yuhi, dan
entah kenapa itu membuatnya merasa sedikit senang.
"Kaget, ya?"
"Tentu saja."
Yuhi pun ikut duduk di sebelah Mahiru-senpai yang sedang duduk memeluk
lututnya.
"Ada
apa? Tumben di tempat begini."
"Cuma
mau bersantai saja."
Suara
Mahiru-senpai terdengar agak kaku. Raut wajahnya juga tampak murung, tidak
seperti biasanya yang penuh energi dan ceria layaknya matahari di pertengahan
musim panas.
Jika
diibaratkan, saat ini suasananya terasa muram seperti langit mendung kelabu.
Keceriaannya seolah-olah ditutupi oleh awan yang tebal.
Ada
apa dengannya?
"Senior
sedang ada masalah, ya?"
"...Ketahuan,
ya?"
"Tentu
saja. Auranya beda dari biasanya."
"...Sebenarnya, aku habis nembak orang yang kusuka."
"...Oh, begitu."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"...Eeeeeeeh!?"
"T-tunggu, jangan teriak kencang-kencang begitu."
"Ah, m-maaf. E-anu, mungkinkah orang yang Senior suka itu...
laki-laki?"
Mahiru-senpai menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan
menjawab "Iya" dengan pelan.
I-imut banget. Eh, bukan begitu maksudku—
Rasa terkejut bagaikan kejatuhan baskom logam di kepala melanda sekujur
tubuh Yuhi.
Ah, sudah kuduga.
Seakrab apa pun mereka, ternyata Senior Miya benar-benar hanya sekadar
teman baginya.
Sudah curiga sih, tapi ternyata mereka berdua memang cuma berteman.
Yuhi merasa kalau selama ini dia cuma salah paham terhadap kedekatan mereka.
"...Haa."
"Yuhi-chan juga sedang punya masalah?"
"Ah,
nggak apa-apa. Jangan pedulikan aku. Walaupun aku shock banget, tapi tak
usah dipikirkan."
"B-begitu,
ya."
Dan
Mahiru-senpai pun mulai bercerita.
Suaranya
sangat pelan, sangat tidak terbayangkan untuk ukuran Mahiru-senpai yang
biasanya. Namun, seperti bendungan yang jebol, kata-katanya
mengalir tanpa henti.
Bahwa selama ini dia menyembunyikan perasaan cintanya yang bertepuk
sebelah tangan.
Bahwa
dia merasa takut hubungan mereka akan berubah jika dia menyatakan perasaannya.
Dan,
bahwa secara tidak sengaja perasaannya itu malah tersampaikan.
Orang
ini pasti sangat ingin mencurahkan isi hatinya pada seseorang sejak lama.
Tak
bisa membicarakan masalahnya pada siapa pun dan harus menanggungnya sendirian.
Begitulah yang ditangkap oleh Yuhi.
"—Terus,
padahal aku nggak ada niat untuk mengatakannya, tapi tanpa sadar aku malah
bilang suka."
"Oh, begitu ya ceritanya. Lalu, tanggapan orang itu
bagaimana?"
Mana mungkin ada pria bodoh di dunia ini yang berani menolak pernyataan
cinta dari Mahiru-senpai.
Coba bayangkan, tubuh seksi padat yang terbentuk dari hasil latihan voli
ini bisa dinikmatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lho!
"..."
"Mahiru-senpai?"
"Aku belum mendengarnya. Lebih tepatnya, aku tidak mau
mendengarnya."
"...Hah? Maksudnya tidak mau dengar itu apa?"
"Itu karena..."
Bahkan jika pernyataan cinta itu tidak disengaja, tidak mendengar
jawabannya adalah sesuatu yang aneh.
Tak peduli bagaimana prosesnya, setelah perasaannya tersampaikan,
bukankah tidak ada pilihan lain selain mendengar jawaban dari pihak tersebut?
Apa
pun hasilnya nanti, dia harus menerima jawaban itu.
Terlebih
lagi, kalau tidak mendengar jawabannya, bukankah dia sendiri yang akan merasa
gelisah?
Lagipula
kalau misalnya pun ditolak, dia bisa melepaskan perasaannya.
Walau
bagiku, mana mungkin ada cowok yang mau menolak cinta Mahiru-senpai.
Ah,
jangan-jangan dia saat ini ingin fokus pada voli, jadi dia berusaha menjauhi
urusan percintaan.
Mahiru-senpai
kan pernah bilang kalau dia menargetkan Turnamen Musim Semi.
Namun,
kata-kata yang keluar dari mulut Mahiru-senpai benar-benar meleset dari
perkiraan Yuhi.
"...Aku
takut."
Suaranya
gemetar seolah-olah berada di tempat yang sangat dingin. Bisa kulihat kedua
matanya berkaca-kaca.
"Takut...?"
"Jawabannya...
Kalau dia bilang kita nggak bisa pacaran."
Setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Nada suaranya mulai
diwarnai isak tangis.
"Aku nggak bisa bersamanya lagi. Padahal aku
ingin terus berada di sisinya. Padahal akhirnya aku bisa berada di dekatnya.
Padahal, padahal aku berniat untuk menyembunyikannya selamanya, tapi perasaanku
malah tersampaikan... Kalau orang itu bilang dia tak menyukaiku, aku nggak
bakal bisa bersamanya lagi."
"Mahiru-senpai,
belum tentu juga kamu bakal ditolak—"
"Makanya, aku tak ingin mendengarnya."
Suara Mahiru-senpai bergema di
bawah langit yang mendung.
"Terus,
mau bagaimana?"
"Nggak
mau ngapa-ngapain. Seperti ini saja sudah cukup."
"Maksudnya,
Senior akan membiarkannya begitu saja tanpa mendengar jawabannya?"
"Iya."
"Tapi,
kalau Senior bertemu dengannya dengan perasaan mengganjal seperti itu, kalian
berdua kan cuma bakal merasa canggung—"
"Aku nggak bakal menemuinya."
"Hah?"
"Kalau bertemu, aku kan harus mendengar jawabannya. Makanya,
aku nggak akan menemuinya."
"Nggak
menemuinya, katamu..."
"Lagi
pula sekarang aku sibuk dengan klub voli, dan tahu sendiri kan, masih ada
urusan dengan pencari bakat."
"..."
Meskipun
dia sibuk dengan kegiatan klub dan jalur karirnya, mereka masih bisa
berkomunikasi lewat telepon atau Line.
Tidak mungkin dua orang benar-benar bisa memutuskan hubungan begitu
saja.
Apalagi mereka adalah orang yang sudah saling mengenal.
"Mahiru-senpai..."
Jangan-jangan,
dia hanya mencari-cari alasan?
Yuhi
bisa mengerti ketakutannya kalau hubungan mereka akan berubah.
Oleh
karena itu, menyembunyikan perasaan juga bisa menjadi salah satu pilihan. Yuhi
menganggap itu masuk akal.
Namun,
tidak peduli seberapa logisnya pun, memilih untuk tidak mendengarkan jawaban
dari seseorang adalah hal yang kekanak-kanakan dan tidak masuk akal. Mahiru-senpai
seharusnya juga menyadari hal itu.
Namun,
karena dia terus mencoba membenarkan tindakannya sendiri secara paksa, dia
malah membuat semuanya menjadi semakin aneh.
"Maaf
kalau omonganku ini agak kasar, tapi apa yang Senior lakukan sekarang ini cuma
melarikan diri biar Senior sendiri merasa tenang, kan?"
Mendengar kata-kata Yuhi, punggung Mahiru-senpai tersentak dan tegak.
"M-melarikan diri itu bukan hal yang buruk, kan."
"Aku
tahu. Kalau ada hal yang menyakitkan, Yuhi pun rasanya ingin lari saja. Tapi,
kita harus menghadapi kesulitan itu!"
"...!"
"Menghadapi
kesulitan, berusaha sekuat tenaga, dan kalau pun tetap gagal, barulah pilihan
untuk melarikan diri itu muncul. Senior sudah terlanjur bilang suka, kan? Kalau
begitu, kuatkan tekadmu dan terimalah jawaban orang itu."
"...K-kalau
ditolak, aku nggak bakal bisa ketemu dia lagi, dong."
"Lagian,
bukannya sekarang pun Senior nggak ada niat untuk menemuinya?"
"Ugh."
"Terus,
kalau Senior terus-terusan mengulur waktu tanpa mendengar jawabannya, setelah
itu Senior mau bagaimana?"
"Itu..."
"Sebenarnya
apa yang paling ingin Mahiru-senpai lakukan?"
Angin
berembus. Dahan-dahan pohon bergoyang pelan, dan angin sejuk menyelimuti mereka
berdua.
Berapa
lama mereka sudah berdiam seperti itu?
Mahiru-senpai
terus bungkam sambil menatap rumput di tanah.
"—Ingin,"
"Eh?"
"Aku
ingin terus bersamanya."
Suaranya
yang terdengar seolah dipaksakan keluar itu, terbawa angin dan terserap ke
dalam langit yang mendung.
4
—Hari
Sabtu, sekitar pukul sembilan pagi.
Langit
terlihat mendung.
Setelah
keluar dari Stasiun Shizuoka, aku berjalan menuju gedung olahraga yang
diberitahukan oleh Yoshimura-san.
Jaraknya
hanya beberapa menit berjalan kaki dari stasiun.
Berkat
dorongan semangat dari Yuhi-chan kemarin, sepertinya sebuah tekad telah
terbentuk di dalam diriku. Sebuah tekad untuk menerima dengan lapang dada apa
pun jawaban yang akan diberikan oleh Yuu-nii.
Harapanku
adalah terus bersama dengan Yuu-nii. Untuk mewujudkan hal itu, aku harus
mendengar jawaban darinya.
Entah
jawabannya "ya" atau "tidak", aku harus menerima perasaan
Yuu-nii.
Aku
tak ingin memikirkan hal ini, tapi jika aku ditolak oleh Yuu-nii, aku takkan
pernah mau jatuh cinta lagi. Aku akan mendedikasikan seluruh hidupku untuk
bermain voli.
Dua
buah bus berukuran besar terparkir di area parkir yang luas. Kudengar, mereka
sedang melakukan persiapan terakhir bersama tim dari Shizuoka sebelum musim
kompetisi dimulai pada bulan Oktober. Saat aku masuk melalui pintu utama,
Yoshimura-san sudah ada di sana.
"Ah,
aku sudah menunggumu. Ryushaku-chan."
"Halo,
sudah lama tidak bertemu."
Sambil
mengusap perut buncitnya, Yoshimura-san memandu langkahku.
"Saat
ini sedang ada pertandingan latihan. Tontonlah."
"Baik."
Di dalam gedung olahraga, sedang berlangsung pertandingan yang saking
sengitnya tak terlihat seperti pertandingan latihan biasa.
Bola melesat dengan cepat, dan para pemain di bangku cadangan tak
henti-hentinya meneriakkan dukungan dengan suara lantang.
Aku naik ke lantai dua melalui tangga di sudut ruangan, dan menonton
pertandingan sambil bersandar pada pagar pembatas.
"Pemain
di posisi Libero itu adalah bintang andalan kami, Koharu Hanayama alias
Koharun. Kamu tahu, kan?"
Sebenarnya
aku ingin menonton sendirian, tapi entah mengapa Yoshimura-san terus
mengikutiku.
Yah,
kalau aku memang ingin bergabung dengan tim ini, aku harus akrab dengannya,
jadi aku tak boleh bersikap tak sopan.
Koharu
Hanayama adalah pemain berpostur tubuh kecil, namun gerakannya sangat lincah.
Secepat apa pun bolanya, ia selalu bisa mengejar dan menerimanya. Kegigihannya
terhadap bola benar-benar luar biasa.
"Hebatnya..."
Pertandingan
berakhir dengan kemenangan untuk tim Kumamoto Empress.
Setelah
istirahat sejenak, sepertinya mereka akan bertanding lagi dengan susunan pemain
yang berbeda.
Awalnya
aku dijadwalkan untuk diperkenalkan pada para pemain Kumamoto Empress setelah
pertandingan usai, namun karena tiba-tiba ada peliputan mendadak, aku disuruh
menunggu di ruangan lain.
Saat
aku sedang menunggu sambil melamun, seorang wanita masuk ke dalam ruangan.
Dia
memiliki rambut cokelat panjang, tubuh yang proporsional, dan wajah yang sangat
rupawan layaknya seorang idola.
Ia
mengenakan seragam Libero berwarna merah, dengan handuk yang dikalungkan di
lehernya.
"Oh,
kamu anak yang tadi menonton dari lantai atas, ya?"
Itu
Koharu Hanayama.
Aku pun berdiri dan memberi salam.
"S-salam kenal, nama saya Mahiru Ryushaku."
"Kamu Ryushaku-chan yang dirumorkan itu, ya. Namaku
Koharu Hanayama. Salam kenal, ya!"
"Mohon bantuannya,
Hanayama-san."
"Panggil
Koharu saja tidak apa-apa."
"Kalau
begitu, Koharu-san."
"Yoshimura-san
sampai heboh bilang kalau dia menemukan pemain baru yang luar biasa, lho."
"Ahaha,
tidak juga."
"Sudah,
jangan kaku begitu. Duduklah."
Sambil
berkata demikian, Koharu-san duduk di depanku.
"Aku
juga dengar dari Yoshimura-san, katanya Ryushaku-chan dari SMA Kita, ya?"
"Ah,
iya, benar."
"Aku
juga alumni SMA Kita, lho. Bikin kangen, ya."
"Adikku
juga kebetulan sekarang kelas tiga di SMA Kita."
"Ah,
Rin, kan?"
"Kamu
kenal?"
"Iya,
kami lumayan akrab, kok."
"Wah,
dunia ini sempit, ya."
Koharu-san
adalah sosok yang bersinar layaknya matahari, dia bersikap ceria padaku yang
baru pertama kali ditemuinya. Hanya dengan mengobrol dengannya saja, perasaanku
ikut terbawa gembira...
Kenapa
orang sebaik ini bisa tidak akur dengan adiknya sendiri, ya.
"Rin
itu dari dulu manja banget, tahu—"
"Anu,
mungkin tidak sopan menanyakan hal ini, tapi aku dengar Koharu-san kurang akur
dengan Rin..."
"I-itu, kamu dengar dari siapa?"
"Dari
pacarnya Rin."
"Eh,
Rin punya pacar!?"
"Iya."
"Rin
nakal, ya. Harusnya dia kasih tahu kalau sudah punya pacar, dong."
"Apa kalian sedang bertengkar?"
"Hmm, dibilang bertengkar juga bukan, ya. Bagaimana, ya
mengatakannya... Mungkin lebih tepatnya perbedaan prinsip, kali ya."
Koharu-san
menyipitkan matanya seolah menerawang jauh, lalu menghela napas.
"Ryushaku-chan sendiri punya pacar, nggak?"
"T-tidak, aku nggak punya pacar."
Aku mengibaskan tangan di depan wajahku.
"...Dari
reaksimu, sepertinya kamu punya orang yang disukai."
"Eh?"
"Wajahmu
merah banget, lho."
Koharu-san
tersenyum menyeringai.
"Baguslah,
masa muda memang indah, ya. Aku jadi teringat masa SMA-ku."
"Koharu-san,
waktu SMA dulu pernah jatuh cinta?"
"Pernah,
dong. Agak gimana gitu mengatakannya sendiri, tapi aku ini tipe orang yang
sadar diri kalau aku ini manis."
"Aku
sangat percaya diri dengan penampilanku. Tapi saat aku menembak cinta pertamaku
untuk pertama kalinya seumur hidup, aku langsung ditolak mentah-mentah."
Kata
penolakan itu terasa berat membebani hatiku.
"Tapi aku nggak menyerah dan terus mendekatinya, lho."
"Eh?"
"Aku mencoba berbagai macam cara dan taktik untuk
mendekatinya."
"Kalau dipikir-pikir lagi, hari-hariku waktu itu lumayan berat
juga, lho."
Koharu-san melipat tangannya dan mengangguk-angguk setuju.
"Tapi,
kan kamu sudah ditolak sekali."
Bukankah
dalam percintaan, jika ditolak berarti semuanya sudah berakhir?
"Iya.
Tapi aku merasa tak bisa memikirkan orang lain selain dia."
"Dan yang terpenting, aku tak ingin menyesal. Hidup
ini cuma sekali, kan. Sayang banget kalau menyerah pada perasaanku cuma karena
tersandung sekali."
"...!"
Pada
saat itu, aku merasa ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam diriku.
"Ada
banyak rintangan sih, tapi pada akhirnya kami bisa jadian. Bahkan sampai
sekarang hubungan kami masih berlanjut—"
"Oi,
Hana-chan, ke sini sebentar, dong!"
Dipanggil
oleh pemain lain, Koharu-san pun beranjak dari tempat duduknya.
"Iya!
Ya sudah, sampai nanti, ya."
"Ah,
iya."
Ditinggal
sendirian, aku mencerna kembali kata-kata Koharu-san.
Hidup
ini cuma sekali. Sayang banget kalau menyerah.
"..."
Selama
ini aku selalu berpikir kalau menyatakan cinta itu adalah pertarungan sekali
jalan.
Ya
atau tidak, depan atau belakang, hasilnya akan ditentukan hanya dalam satu kali
kesempatan. Begitulah pemahamanku.
Namun,
menyerah pada perasaanku hanya karena satu kegagalan—
"Sayang
banget... ya."
Saat
aku memandang ke luar jendela, langit yang tadinya mendung entah sejak kapan
telah berubah menjadi cerah.
5
Hari
Minggu.
Langit
mendung yang berkepanjangan akhirnya usai pada siang kemarin, digantikan oleh
langit cerah musim gugur yang menyegarkan.
Angin
yang berembus terasa dingin, namun sengatan sinar matahari yang cukup terik
membuat cuacanya terasa pas. Meski cuaca hari ini begitu cerah, langit di dalam
hatiku masih tertutup awan mendung.
Sambil
membereskan kursi-kursi di teras, aku menghela napas panjang.
"Haa..."
Sudah
lebih dari seminggu aku tak bertemu dengan Mahiru.
Sepertinya
dia memberitahu Miya dan Asaka bahwa dia sibuk dengan kegiatan klub, namun
Mahiru jelas-jelas menghindariku.
Bukan,
dia pasti sedang marah. Ditelepon pun tak diangkat, dan dia juga tak pernah
mampir ke Moon Night Terrace lagi.
Aku
sangat menyesal karena saat dia menyatakan cintanya Jumat malam minggu lalu,
aku tak bisa menerima perasaannya dengan baik. Mungkin itu penyebab utamanya.
Padahal
dia sudah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan cinta, namun aku malah
terpaku saking terkejutnya. Siapa pun pasti akan marah jika diperlakukan
seperti itu.
Selama
seminggu ini, aku telah memikirkan banyak hal, termasuk soal Asaka.
Menerima
perasaan salah satu dari mereka, berarti aku harus membuang perasaan yang
satunya.
Apalagi,
kami bertiga bukanlah orang asing. Kami bertiga sudah terikat dalam hubungan
yang dalam sejak sepuluh tahun lalu.
Entah
itu Mahiru atau Asaka, tak peduli siapa pun yang kupilih, memburuknya
hubunganku dengan pihak yang tertinggal adalah hal yang tak bisa dihindari.
Aku
tak ingin melihat mereka berdua yang bersahabat baik harus saling membenci atau
bertengkar karenaku.
Meski
aku sendiri tak punya pengalaman dalam hal percintaan, aku sudah sering
mendengar kisah neraka akibat cinta segitiga dari rekan kerja dan klienku
sewaktu aku masih di Tokyo.
Karena
itu, aku berpikir. Daripada hubungan Mahiru dan Asaka hancur karenaku, mungkin
menolak pernyataan cinta mereka berdua adalah pilihan yang terbaik.
Mereka
berdua masih anak SMA. Mereka masih anak-anak. Sejak awal, merupakan sebuah
kesalahan jika mereka terpaku pada pria tua sepertiku.
Iya,
benar begitu. Di masa depan, Mahiru dan Asaka mungkin akan bertemu pria yang
jauh lebih baik. Mereka tak boleh terjebak dengan pria sepertiku.
Mereka
hanyalah adik perempuan yang manis bagiku, dan usiaku terpaut lebih dari
sepuluh tahun dari mereka.
Keduanya
adalah gadis cantik dan anak yang baik, terlalu sempurna untuk pria sepertiku.
Dan yang terpenting, mereka masih siswi SMA.
Ada kemungkinan yang tak terbatas membentang di hadapan mereka.
Begitulah aku meyakinkan diriku sendiri.
"...Fuh."
Kurasa
inilah jawaban terbaik yang bisa kuberikan saat ini.
Dengan
begitu, meski kami tak bisa mempertahankan hubungan seperti sediakala,
setidaknya aku bisa menghindari situasi terburuk.
Karena
aku akan menolak pernyataan cinta mereka, sudah pasti aku akan dibenci atau
membuat mereka sebal.
Hubungan
kami pun mungkin akan menjadi canggung. Tapi, ini satu-satunya jawaban yang
paling aman.
Masalahnya
adalah, kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Lebih cepat lebih baik.
Mahiru
dan Asaka belum menyadari kalau mereka berdua menyukai orang yang sama, yaitu
diriku.
Kalau
aku menolak mereka satu per satu dengan benar, mereka takkan bertengkar karena
menyukai pria yang sama.
Setelah
selesai merapikan kursi teras dan kembali ke dalam kafe, kulihat Miya yang
seharusnya belajar di kamarku malah turun ke lantai bawah.
Sepertinya
dia sedikit lapar, karena dia sedang menyantap parfait stroberi di meja konter.
Waktu
menunjukkan pukul tiga lewat. Waktu yang pas untuk camilan.
"Miya, belajarnya lancar, nggak?"
"Lancar, kok."
Sambil memasukkan parfait ke dalam mulutnya, Miya memasang wajah
bahagia.
"Ah,
iya. Mahiru dan Asaka katanya mau datang ke sini nanti."
"Eh?"
Karena
ada urusan keluarga, Asaka memang bilang kalau dia akan datang menjelang sore
hari. Tapi, Mahiru yang seperti biasa tidak bisa dihubungi itu...
"M-Mahiru
juga?"
"Iya. Hari ini klubnya libur, jadi dia ngirim pesan Line bilang
mau datang bareng Asaka."
"B-begitu, ya."
Mahiru akan datang...
Sejak malam pengakuan itu, sudah lebih dari seminggu kami tak bertatap
muka.
Bahkan saat aku mencoba menemuinya, selalu ada saja alasan yang ia buat
untuk menghindar, mulai dari sibuk dengan klub hingga hal lainnya. Pesan Line
dan teleponku pun selalu diabaikan.
Tapi hari ini, justru Mahiru yang datang menemuiku.
Di balik rasa senang, muncul kecemasan tentang bagaimana aku harus
menghadapi Mahiru nanti.
Karena kami akan bertemu, aku tak bisa menghindar dari pembahasan
tentang pernyataan cintanya. Namun, hal itu harus dilakukan di tempat yang jauh
dari pandangan Miya dan Asaka.
"Hei,
hari ini mau makan malam di mana?"
Miya
bertanya soal makan malam.
"Belum
kutentuin, emangnya ada tempat yang pengen kamu datangi?"
"Hmm,
hari ini aku pengen makan masakan Jepang."
"Itu
bukan kalimat yang pas diucapin sama orang yang lagi makan parfait, tahu."
"Justru
karena lagi makan parfait makanya aku jadi kangen masakan Jepang!"
"Iya,
iya."
Mungkin
aku akan mengajak mereka ke kedai soba.
Sekitar
jam setengah enam sore, Mahiru dan Asaka datang bersamaan.
"O-oh,
Mahiru."
"Ada
apa? Wajah Yuu-nii tegang banget, lho."
Mahiru
terlihat sama seperti biasanya.
"Yuu-nii,
kita mau makan malam di mana?"
Tanya
Asaka.
"Ah,
anu, kupikir kita bakal makan soba hari ini."
"Ide
yang bagus."
"Padahal
aku pengen makan makanan yang lebih berat."
"Nggak
apa-apa, kan, Mahiru-chan. Di kedai soba juga biasanya ada katsudon."
"Bener
juga. Oke deh, ayo pergi, Yuu-nii."
"O-oh."
"Ayo, Miya-chan."
"Oke."
Sikap Mahiru yang begitu natural seolah pengakuan malam itu tak pernah
terjadi membuatku tercengang.
Aku senang bisa bertemu lagi dengan Mahiru, namun jujur saja, perasaan
bingunglah yang mendominasi hatiku.
Ada
apa ini?
Sembilan
hari terakhir ini, Mahiru jelas-jelas menghindariku.
Tapi sekarang ia bersikap dengan jarak kedekatan seperti biasa.
Aku lega melihatnya baik-baik saja, namun sebenarnya apa maksudnya
ini...
Dengan perasaan mengganjal di dada, aku membawa mereka bertiga berjalan
kaki menuju kedai soba legendaris di kawasan perbelanjaan. Di
tengah perjalanan, Mahiru merajuk.
"Kalian
pergi ke wahana hiburan minggu lalu, kan? Padahal aku juga mau ikut."
Mahiru
berbicara seolah sedang merajuk.
"Lagian
akhir-akhir ini Mahiru sibuk sama klub terus, sih," timpal Miya.
"Lain
kali, kalau hari libur kita berempat pas barengan, kita pergi lagi ke sana,
ya."
Asaka mendongak dan menatapku sambil berkata, "Iya, kan?"
"I-iya,
tentu saja."
Tak
lama kemudian, kami tiba di kedai soba.
"Yuu-nii
mau minum alkohol?"
"Enggak, malam ini aku lewat."
"Aku mau soba dingin dua porsi, katsudon porsi besar, sama seafood
tempura campur."
"Porsi makanmu masih banyak seperti biasa, ya, Mahiru."
Melihat
keseharian kami kembali seperti semula, dadaku terasa sesak karena haru.
Namun,
membayangkan bahwa aku harus memberikan keputusan berat terkait pengakuan cinta
Asaka dan Mahiru nanti, membuat dadaku berdenyut sakit.
Tak
mungkin Mahiru tidak memikirkannya. Dia pasti menemuiku hari ini karena dia
sudah siap untuk membicarakan pengakuan cintanya.
Hari
ini, aku akan memberikan jawaban atas pengakuannya. Aku harus dengan tegas
menyampaikan bahwa aku tak bisa membalas perasaannya.
Lalu,
di hari lain aku akan menyampaikan hal yang sama pada Asaka. Bahwa aku tak bisa
menerima perasaannya.
Ya,
dengan ini semua akan baik-baik saja. Inilah solusi terbaik yang bisa kuambil.
Setelah
selesai makan, kami berjalan dari kawasan perbelanjaan menuju Kuil Sengen
Taisha dan berjalan-jalan di sekitar halaman kuil.
Di
halaman kuil yang sunyi dan diselimuti kegelapan malam, hanya terdengar suara
angin dan serangga.
Bintang-bintang
berkelap-kelip di langit, dan bulan memancarkan cahaya indahnya yang menawan.
Sambil
berjalan, aku menyusun kata-kata penolakan untuk Mahiru di dalam kepalaku.
Setelah
itu, kami berjalan menuju Stasiun Fujinomiya untuk mengantar Asaka.
"Sampai
jumpa minggu depan."
"Daaah!"
"Sampai
jumpa."
Miya
dan Mahiru melambaikan tangannya. Dari belakang mereka, aku juga ikut
melambaikan tangan kecil. Asaka melewati gerbang tiket dan turun menuju peron.
Setelah
mengantar Miya ke rumah keluarga Haruyama, kini tinggallah aku berdua dengan
Mahiru.
Aku
berjalan menyusuri jalanan malam berdampingan dengan Mahiru.
"..."
"..."
Kami
terus melangkahkan kaki dalam diam, entah ke mana arahnya. Baik aku maupun
Mahiru, sama-sama tahu apa yang harus kami bicarakan.
Inilah
saatnya membahas tentang pengakuan di malam hujan waktu itu. Tapi, bagaimana
cara memulainya?
Tanpa
terasa, kami sudah tiba di depan Moon Night Terrace.
"...Mau
jalan-jalan sebentar lagi?"
"Iya."
Kami
pun menuju sebuah taman di dekat sana. Kami
duduk di bangku taman dan menatap langit bersama. Akhirnya, saatnya tiba.
Tubuhku menegang karena gugup.
"Mengenai hal itu, Mahiru—"
Saat aku baru saja membuka suara, Mahiru langsung memotong ucapanku.
"Yuu-nii,
maafkan aku."
"Eh?"
"Selama
ini aku... mengabaikanmu."
"Ah,
tidak apa-apa..."
"Sebenarnya,
aku sama sekali tak berniat untuk menyatakan perasaanku."
"Eh?"
"Aku
ketakutan saat membayangkan apa jadinya kalau Yuu-nii menolakku setelah aku
menyatakan cintaku."
"..."
"Kalau
akhirnya bakal begitu, kupikir lebih baik aku terus menyembunyikan perasaanku.
Tapi tanpa sadar aku malah mengatakannya."
"Mahiru."
"Tapi,
karena sudah terlanjur bilang, aku harus mendengarkan jawabanmu. Tapi aku tak
mau jawaban itu ternyata adalah penolakan."
"Karena
itu aku tak ingin bertemu dengan Yuu-nii, dan malah mengabaikan semua pesan dan
panggilan darimu... Maafkan aku."
"Ah,
begitu toh alasannya."
"Maaf
ya, aku bersikap kekanak-kanakan."
Aku
bisa memahami alasan di balik sikap Mahiru.
Dia
hanya mengkhawatirkan perubahan hubungan kami. Namun, jawaban yang akan
kuberikan padanya bukanlah jawaban yang menyenangkan baginya. Kali ini aku
harus bersikap tegas dan tega padanya.
"Mahiru,
aku—"
"Makanya,
untuk sekarang aku tidak mau mendengarnya."
"...Hah?"
"Yuu-nii
pasti masih menganggapku seperti adik perempuanmu, kan?"
Mahiru
menoleh ke arahku. Mata besarnya menatap tajam ke arahku, seolah mengunci
pandanganku.
"Jadi tolong, tunda dulu jawabanmu."
"T-tunda?"
"Aku
tak mau mendengar jawaban lain selain iya. Aku akan terus berusaha dan takkan
menyerah sampai Yuu-nii bisa menyukaiku, sampai kamu menganggapku sebagai
seorang wanita."
"M-Mahiru.
Apa yang kau bicarakan—"
"Entah
seperti apa perasaan Yuu-nii saat ini, tapi kalau jawabannya bukan iya, tolong
jangan katakan apa-apa."
"Yah,
walau kamu memberikan penolakan sekalipun, aku sama sekali tak berniat untuk
menyerah. Hidup ini cuma sekali, jadi aku takkan pernah menyerah."
Apa
yang sedang aku lakukan sekarang. Bukankah seharusnya aku menolak Mahiru dengan
tegas?
Kenapa
aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Oleh
karena itu, kalau suatu saat Yuu-nii mulai menyukaiku sebagai seorang wanita,
saat kamu merasa siap berpacaran denganku, tolong berikan jawabanmu lagi saat
itu."
"Berapa
lama pun, aku akan tetap menunggunya."
Kemudian,
kurasakan wajah Mahiru mendekat.
Diikuti suara ciuman kecil, sebuah sensasi lembut mendarat di pipiku.
"Suka."
Hanya
itu yang diucapkannya sebelum Mahiru mendadak berdiri.
"Kalau
begitu, sampai besok, ya."
Mahiru
pun berlari kecil meninggalkan tempat itu, hingga punggungnya perlahan
menghilang ditelan kegelapan malam.
Sensasi
dari bibir Mahiru masih tertinggal di pipiku.
'Aku
tidak akan menyerah.' Dari kata-kata itu, aku bisa merasakan semacam keseriusan
dan tekad yang kuat dari Mahiru.
Meski
suara dan nada bicaranya terdengar tenang, ada aura intimidasi yang terpancar
darinya—persis seperti hewan karnivora yang sedang memburu mangsanya.
Saat
aku menatap ke ruang hampa di udara, sesuatu yang terasa tumpul dan berat
perlahan mengalir ke sudut kepalaku.
Perasaan
itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru, hingga akhirnya memenuhi isi otakku.
Itu bukanlah perasaan yang tidak menyenangkan.
Perasaan tersebut malah lebih mirip dengan rasa lega yang membuatku
bisa menghela napas bebas.
Sebenarnya... perasaan apakah ini?
Interlude IV | ToC | Epilog






Post a Comment