NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 5 Epilog

Epilog

"Penyelesaian dan Dukungan"


1

Waktu sedikit berputar mundur, saat senja di hari Sabtu.

Setelah selesai melihat-lihat pameran di Kumamoto Empress, aku akhirnya kembali ke Fujinomiya.

Pemberangkatan kereta di Stasiun Fujinomiya saat senja.

Keluar dari kerumunan orang yang berjalan menuju tangga, aku membeli sebotol cola di mesin penjual otomatis lalu duduk di bangku.

Sambil melepas kepergian kereta yang melaju, aku meminum cola itu seteguk demi seteguk. Sensasi desis karbonasi dan rasa manisnya terasa begitu menyenangkan.

"Hah..."

Seolah keraguan yang selama ini membelengguku hanyalah bualan belaka, perasaan hatiku terasa begitu lega.

Setelah mendengarkan nasihat dari Yuuhi-chan dan Koharu-san, aku baru benar-benar sadar betapa kekanak-kanakannya tindakanku selama ini.

Terutama obrolan dengan Koharu-san hari ini benar-benar membuka mataku, atau lebih tepatnya, membuatku terkejut karena menyadari bahwa ada cara berpikir seperti itu juga.

Aku tadinya mengira bahwa cinta adalah sesuatu yang ditentukan sepenuhnya dari hasil sebuah pengakuan perasaan.

Jika ditolak, semuanya selesai.

Karena pemikiran itulah yang melekat di kepalaku, aku jadi bersikap begitu keras kepala.

Keinginanku yang jujur adalah ingin terus bersama dengan Yuu-nii. Itulah kenapa aku menyembunyikan perasaanku sendiri, tapi kalau ternyata aku bisa mencoba lagi berkali-kali...

Karena hidup hanya sekali, aku tidak akan berkompromi.

Terus berjuang dan menyerang tanpa menyerah sampai dia berpaling padaku adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang.

Memangnya hidup tanpa bisa berada di sisi Yuu-nii itu ada artinya?

Tentu saja tidak.

Tanganku menggenggam liontin roket yang ada di dadanya.

Benda itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Yuu-nii.

Saat kubuka, foto Yuu-nii yang kumasukkan sendiri menatap lurus ke arahku.

"Yuu-nii..."

Hari ini atau besok, aku harus menemui Yuu-nii dan membicarakan soal pengakuan perasaan itu, tapi sebelum itu ada satu hal yang harus kulakukan.

Aku mengeluarkan ponselku lalu membuat panggilan. Sesaat kemudian, sambungan telepon terhubung.

"Halo, Mahiru-chan?"

◇

Pukul sembilan malam di hari itu. Aku mengunjungi kediaman Gendouji dengan berjalan kaki.

Mendengar permintaanku yang ingin bertemu berdua saja malam ini, Asaka langsung mengajakku dengan berkata, "Kalau begitu, datanglah ke rumahku."

"Maaf ya, sudah datang kemaruhan."

"Tidak apa-apa."

Aku diantar masuk ke kamar Asaka.

"Mau minum sesuatu?"

"Eh, kalau begitu, cola saja."

"Baiklah, tunggu sebentar ya."

Kamar Asaka selalu terasa sama kapan pun aku mengunjunginya.

Tata letak furnitur, barang-barang yang diletakkan di sana —bahkan hingga benda-benda kecilnya—, serta aroma yang menguar di ruangan ini semuanya masih sama seperti masa kecil kami dulu.

Bermain gulat di atas tempat tidur besar itu, atau mengadakan pesta camilan di meja ini... Aroma kenangan yang begitu melimpah memenuhi ruangan ini.

Asaka kembali dengan nampan yang membawa segelas cola dan es teh.

"Menunggu lama."

"Terima kasih."

Aku meneguk cola tersebut. Asaka juga duduk di sebelahku sambil meminum es tehnya.

"Akhir-akhir ini kita jarang bertemu, jadi aku merasa kesepian, tahu."

"Abisnya, kegiatan klubku sedang sibuk banget."

"Mahiru-chan, kudengar hari ini kamu pergi ke Shonzou, ya?"

"Iya, tim pencari bakat datang untuk pertandingan tandang. Ada banyak hal yang kupelajari."

"Kamu memutuskan untuk bergabung dengan tim itu?"

"Entahlah, bukan begitu juga sih sebenarnya."

Kupikir Asaka tadi pergi menemui Yuu-nii hari ini, tapi rupanya tidak begitu. Katanya, keluarga Arizuki sedang pergi ke rumah kerabat mereka.

"Makanya hari ini aku berkencan dengan Miya-chan. Kami pergi belanja dan karaoke."

"Anak itu, memangnya urusan belajarnya bagaimana..."

"Ufufu, katanya dia sudah berusaha keras pada hari kerja, kok."

Asaka menirukan cara bicara Miya.

"Mirip banget sama Miya barusan."

"Fufu, benarkah?"

Setelah itu, untuk beberapa saat kami menghabiskan waktu dengan mengobrol santai sambil bertukar kabar terbaru.

"Ngomong-ngomong, Asaka."

"Ada apa?"

Aku duduk bersila dan menghadap ke arah Asaka. Jantungku berdegup kencang, dan tubuhku terasa panas meskipun cuaca tidak gerah.

"...Aku, ada sesuatu yang harus kusampaikan untuk meminta maaf padamu, Asaka."

"...Eh?"

Keheningan melingkupi di antara kami. Suara detik jarum jam yang mekanis terdengar begitu nyaring.

Dengan tekad bulat, aku membuka mulut.

"Sebenarnya, waktu di vila itu, orang yang menelepon..."

Hanya dengan mendengar itu saja, Asaka sepertinya langsung mengerti segalanya.

"Waktu itu, akulah yang mengganggu Asaka. Aku benar-benar minta maaf."

Aku menundukkan kepala.

"...Begitu ya."

Aku tadinya berpikir kalau aku dimarahi atau dipukul pun aku tidak akan bisa protes, tapi reaksi Asaka justru di luar dugaan.

Wajahnya merona, menyentuh pipinya, lalu mengalihkan pandangannya.

"Begitu, ya. H-heh... begitu."

Ia menutupi mulutnya dengan tangan yang tadi menyentuh pipinya, lalu terus menatap lurus ke arah lantai dengan ekspresi malu-malu.

"Kamu melihatnya ya, Mahiru-chan..."

"Iya, maaf."

"...Kamu melihat dari mana?"

"Dari balkon. Ada celah di tirainya."

"Ah."

Malam saat perjalanan ke Shonan, aku menceritakan proses bagaimana aku sampai mengintip ke kamar Yuu-nii; mulai dari berniat pergi untuk berkonsultasi dengan Yuu-nii, mendapati pintu kamar Yuu-nii terkunci, hingga melihat pintu kamar Asaka yang terbuka.

"Aku merasa aneh kenapa bisa ada telepon tanpa nomor di saat seperti itu. Oh, begitu ya. Begitu rupanya. Kalau Mahiru-chan, tentu saja dia tahu kalau Yuu-nii punya trauma dengan suara dering ponsel."

"Asaka. Aku juga, menyukai Yuu-nii."

Begitu aku mengatakannya, Asaka kembali mengarahkan pandangannya kepadaku. Ia melipat kedua tangannya di atas pangkuan dan menatapku lekat-lekat.

Senyuman tersungging di bibirnya, namun tatapan matanya menyiratkan keseriusan yang mutlak.

"Aku sudah menyatakan perasaanku pada Yuu-nii."

Senyuman di bibir Asaka menghilang.

"Lalu apa kata Yuu-nii?"

"...Entah. Aku belum mendengar jawabannya."

"...? Apa maksudmu?"

Lalu aku menjelaskan kronologi pengakuan perasaan yang kulakukan seminggu lalu.

"––Jadi, padahal aku tadinya sama sekali tidak berniat untuk menyatakan perasaan, tapi kepalaku jadi kacau balau dan aku malah keceplosan bilang suka. Tapi setelah itu aku jadi takut mendengarkan jawabannya, dan aku jadi tahu kalau menyatakan perasaan itu ternyata hal yang sangat menakutkan."

Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat.

"...Aku merasa sudah melakukan hal yang keterlaluan padamu, Asaka."

"Padaku?"

"Asaka sudah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan pada Yuu-nii, tapi aku malah merusaknya."

Baru setelah aku berada di posisi yang sama, aku mengerti betapa kejamnya tindakan yang kulakukan itu.

Asaka menyampaikan perasaannya kepada Yuu-nii tanpa melarikan diri, tetapi aku justru menghancurkan hal itu demi kepentingan egoku sendiri.

"Maafkan aku, Asaka."

Aku kembali menundukkan kepala.

"Mahiru-chan, angkat kepalamu."

"Asaka."

Asaka sudah kembali tersenyum.

"Aku ini, tidak marah, kok."

"...Bohong."

Mana mungkin ada orang yang tidak marah jika pengakuan cinta sekali seumur hidupnya dirusak orang lain.

"Sungguh. Soalnya kalau posisi aku dan Mahiru-chan ditukar, aku pasti akan melakukan hal yang sama seperti Mahiru-chan. Cara ngomongnya mungkin tidak bagus, tapi urusan percintaan itu pada akhirnya tidak ada artinya kalau kita sendiri tidak bisa bahagia."

"Iya, kalau soal itu aku sependapat."

"Makanya, aku akan merebut Yuu-nii dengan cara apa pun. Aku sudah melakukan itu sejak dulu dan berniat akan terus melakukannya ke depan. Jadi Mahiru-chan juga tidak perlu sungkan padaku."

Meskipun nada bicaranya lembut, aku bisa merasakan tekad yang begitu kuat di dalamnya. Begitu besar dan kuatnya perasaan Asaka terhadap Yuu-nii.

"......Terima kasih."

"Besok kamu mau menemui Yuu-nii?"

"Iya. Tapi sebelum itu, aku rasa meminta maaf pada Asaka adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus kulakukan."

"Mahiru-chan, kamu serius sekali ya."

"Begitukah?"

Ya. Permintaan maaf kepada Asaka adalah hal yang memang harus kulakukan.

Tidaklah masuk akal jika aku, yang sempat mengganggu Asaka secara diam-diam, menyampaikan seluruh isi hatiku kepada Yuu-nii tanpa menyampaikan permohonan maaf apa pun mengenai hal itu.

"Sudah malam begini, mau menginap sekalian?"

Dioanggurkan?

Melihat jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam.

"Boleh?"

"Ya."

"Kalau begitu, aku terima tawaran baikmu."

Setelah itu kami mandi bersama, dan aku meminjam pakaian ganti milik Asaka. Saat kami masuk ke dalam tempat tidur, Asaka menggenggam tanganku.

"Mahiru-chan, bagian mana dari diri Yuu-nii yang kamu sukai?"

"Um, bagian dia yang baik, atau semacamnya."

"Fufu, sama."

Kami selalu bersama sejak kecil, hubungan kami sudah seperti saudara perempuan, bukan sekadar teman biasa.

Tapi mulai sekarang, kami adalah rival. Hari ini adalah malam terakhir...

 

2

Pemandangan malam yang terlihat di balik jendela. Getaran yang merambat dari kursi.

Perjalanan kembali ke Kanagawa selalu terasa suram. Sebab aku tidak akan bisa menemui Yuu-nii lagi sampai hari libur berikutnya tiba.

Omong-omong, kemarin aku benar-benar terkejut.

Jadi itulah alasan kenapa belakangan ini gerak-gerik Yuu-nii terlihat aneh.

Aku sempat menduga ada sesuatu yang terjadi menyangkut Mahiru-chan, tapi tidak menyangka kalau dia sampai menyatakan perasaan.

Akan menjadi rival yang tangguh. Karena sifat kaku Yuu-nii itu tidak biasa.

"Ufufu. Aku mendukungmu, lho, Mahiru-chan."

Tapi, yang akan menang adalah aku.

Cinta itu tidak ada artinya jika diri sendiri tidak bahagia.

Bagiku, Yuu-nii adalah hidup itu sendiri, jadi hidup tanpa bisa bersatu dengan Yuu-nii sama sekali tidak ada artinya.

Jika aku memejamkan mata, hari-hari penuh kenangan indah berlapis kilau akan muncul di balik kelopak mataku.

Aku, Mahiru-chan, Miya-chan, dan Yuu-nii.

Hari-hari berharga yang kami habiskan berempat...

 

3

Cahaya matahari pagi terasa menyilaukan mata.

Sambil membelah udara pagi yang dingin, mobil-mobil lalu-lalang di jalanan depan.

Suara deru knalpot yang menggetarkan keheningan terasa begitu menyayat hati, mungkinkah karena hari ini adalah hari Senin?

Sambil memegang sapu, aku mulai membersihkan area kursi teras.

Sisa-sisa kemeriahan musim panas yang sempat menghiasi kota ini sudah tidak bersisa sama sekali, musim sepertinya telah mulai berganti jubah menuju musim gugur.

Aku bukan tidak suka musim gugur, tapi juga tidak begitu menyukainya.

Padahal hari ulang tahunku sendiri berada di tengah-tengah musim gugur.

Semangat dan nuansa non-reguler yang dimiliki musim panas.

Semakin besar hal itu, semakin menyenangkan musim panas tersebut, maka perasaan sepi setelah musim panas berlalu —seperti suasana sepi setelah perayaan usai— akan terasa semakin kuat.

Apa yang ingin kukatakan adalah, yah, semacam itu. Musim panas tahun ini sungguh menyenangkan, begitulah.

Pergi bermain ke berbagai tempat bersama mereka berdua, menikmati musim panas sepuasnya.

Hari-hari yang menyenangkan itu tidak akan bisa kembali lagi. Setidaknya, tidak dengan hubungan yang sama seperti sebelumnya...

"Yuu-nii."

Suara yang sudah sangat familiar itu menyapa telingaku, membuat jantungku berdegup kencang.

Saat menoleh, di sana sudah ada Mahiru yang mengenakan pakaian training olahraga.

"Oh, oh. Mahiru. Selamat pagi."

"Pagi."

"Pagi sekali."

Waktu saat ini baru menunjukkan pukul enam lewat lima puluh menit.

"Karena ada latihan pagi."

"B, begitu ya."

Kira-kira apa yang harus kukatakan?

"Yuu-nii."

"A, ada apa?"

Mahiru melipat kedua tangannya di depan perut sambil bergerak gelisah.

"Um, soal yang kukatakan kemarin, aku ini serius, lho!"

Wajahnya merona merah jambu seperti buah apel.

"Aku akan menunggu selamanya, kok."

"Selamanya itu maksudnya..."

"Selamanya ya selamanya. Kalau begitu ya."

Mahiru berlari kecil meninggalkan tempat itu.

Punggungnya berpapasan dengan bayangan kejadian semalam, membuat kenangan malam tadi bangkit kembali di dalam benakku.

Aku berniat menolak Mahiru. Seharusnya aku bersikap seperti orang dewasa dengan mengatakan bahwa aku tidak bisa membalas perasaannya.

Bukan hanya Mahiru. Aku juga berniat menolak Asaka —yang memiliki perasaan yang sama padaku— dengan tegas agar keduanya tidak sampai bermusuhan gara-gara aku.

Namun, Mahiru justru mengucapkan kata-kata yang jauh melampaui imajinasiku.

Seolah-olah ia bisa menebak apa yang hendak kukatakan, ia mendahuluiku dan memasang benteng pertahanan dengan mengatakan tidak ingin mendengarkan jawabanku sekarang.

Mahiru berniat menunggunya sampai perasaanku condong kepadanya. Tekad dan aura yang terpancar dari Mahiru membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Atau lebih tepatnya, mengatakan apa pun sekarang tidak ada gunanya lagi. Karena Mahiru bertekad akan terus menunggu selamanya.

Kenapa hal ini bisa sampai terjadi?

Apakah aku telah salah mengambil keputusan di suatu tempat?

Aku tidak bisa menepis perasaan bahwa situasi berkembang ke arah yang buruk dengan vektor yang berbeda dari perkiraanku semula.

Prioritas utama seharusnya adalah memastikan hubungan antara Mahiru dan Asaka tidak memburuk karena aku. Namun, jika Mahiru bertekad untuk terus menunggu tanpa mempedulikan perasaanku saat ini, maka itu sudah menjadi keinginan yang mustahil terwujud.

Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai Mahiru dan Asaka menyadari perasaan masing-masing.

Mereka berdua adalah adik-adik manis bagiku, namun kenyataannya aku juga sudah mulai menyadari mereka sebagai seorang wanita. Apa yang akan terjadi pada hubungan kami bertiga ke depannya?

Memikirkannya membuat lambungku terasa nyeri.

◇

"Mahie, semangat banget dari pagi."

"Karena ini latihan, kalau tidak mengerahkan seluruh tenaga ya percuma, tahu."

"Tapi rasanya semangatmu hari ini lebih membara dari biasanya."

"Begitukah?"

"Gerakanmu juga lebih lincah dari biasanya. Ada hal bagus yang terjadi?"

"Yah, ahaha."

Mungkin karena kegelisahan yang selama ini membebaniku telah terselesaikan, tubuhku terasa begitu ringan luar biasa. Rasanya seperti aku memiliki sayap di punggungku.

Selesai latihan pagi, aku mandi lalu mengenakan seragam sekolah.

Aku tidak menyesali jalan yang telah kupilih. Hanya inilah yang bisa kulakukan, dan menyerah pada Yuu-nii adalah hal yang sama sekali tidak kuinginkan.

Namun, jika ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku, itu adalah soal Asaka.

Selama ini kami adalah sahabat karib yang tidak berlebihan jika disebut sebagai saudara perempuan. Tapi mulai sekarang, kami akan menjadi rival yang saling merebut seorang pria.

Percintaan adalah sebuah perang.

Dan pemenang dari perang cinta itu hanya ada satu orang.

Meskipun lawannya adalah Asaka, aku sama sekali tidak berniat untuk kalah.

Waktu istirahat siang tiba, aku menyantap makan siang bersama Miya.

"Eh, Mahiru, kamu makan sebanyak itu?"

"Porsi segini kan biasa."

"Bukankah ini lebih banyak dari biasanya? Padahal kemarin kamu sudah makan banyak di kedai mi soba..."

"Karena energiku habis dipakai latihan pagi, jadi tidak apa-apa."

Dibandingkan dengan gabungan menu set hamburger, mangkuk besar loco moco, roti yakisoba, dan roti lapis buah sebagai hidangan penutup, jumlah segini kan tidak sampai membuat heboh.

"Hamburger dan hamburgernya dobel..."

"Hamburger itu sumber tenaga paling mantap."

Selesai makan siang, aku bangkit dari kursi.

"Mau ke mana? J, jangan bilang kamu masih mau nambah..."

"Bukan begitu. Ada urusan sebentar."

"Hmm, oke deh."

Berpisah dengan Miya, aku menuju ke lantai tiga tempat kelas-kelas tingkat dua berderet.

"Um, sepertinya... ah, ketemu. Halo, Yuuhi-chan."

Aku memunculkan wajah dari ambang pintu dan memanggil Yuuhi-chan.

Sepertinya dia sudah selesai makan, karena dia sedang asyik mengobrol dengan temannya di dekat jendela.

"Eh? Ah, ya-!"

Begitu menyadari keberadaanku, Yuuhi-chan berlari kecil menghampiri.

"A-ada apa, ya?"

"Soal minggu lalu, aku ingin mengucapkan terima kasih. Bisa minta waktunya sebentar?"

"Iya!"

◇

Kami berdua duduk di tempat yang sama seperti hari Jumat pekan lalu.

Sinar matahari siang terasa hangat dan menyenangkan, sementara awan putih berarak santai di langit.

Meskipun jam istirahat siang selalu berjalan santai seperti biasa, hati Yuuhi justru terasa berat berbanding terbalik dengan langit biru yang damai.

Pembicaraan Mahiru-senpai kemungkinan besar menyangkut pengakuan cinta.

Waktu itu, karena Mahiru-senpai mengucapkan hal yang terlalu kekanak-kanakan, Yuuhi sampai memasang wajah galak untuk memberinya dorongan semangat.

Tapi, Yuuhi belum tahu bagaimana hasil akhir dari cinta Mahiru-senpai itu.

Bagaimana kalau hasilnya ternyata gagal? Bagaimana cara menghiburnya?

"Terima kasih ya, Yuuhi-chan."

"Untuk apa?"

"Berkat Yuuhi-chan yang mendorongku, aku jadi memantapkan tekad."

"Tidak, Yuuhi tidak melakukan hal sehebat itu. —Atau lebih tepatnya, rasanya Yuuhi terlalu ikut campur."

"Aku, tidak akan pernah menyerah."

"Tidak menyerah..."

Eh? Jangan-jangan dia ditolak?

Mungkinkah hasilnya gagal...?

"Se-Mahiru-senpai, bagaimana hasil akhirnya?"

Ujar Yuuhi sambil memberanikan diri bertanya.

"Sebenarnya—"

Dan apa yang kemudian diceritakan oleh Mahiru-senpai benar-benar berada di luar dugaan Yuuhi.

"––Makanya, aku akan terus menunggu. Bagaimana pun perasaannya saat ini, sampai orang itu berpaling padaku, aku tidak akan menyerah dan akan menunggu selamanya."

"...Eh?"

Mendengar penjelasan Mahiru-senpai, Yuuhi hanya bisa memegang kepalanya di dalam hati.

Bukannya bagaimana-bagaimana, ya.

Meskipun wajahnya terlihat begitu berseri-seri, inti dari ucapannya adalah dia akan terus terobsesi sampai orang itu berpaling padanya, kan?

Gara-gara dorongan Yuuhi, saklar yang aneh sepertinya malah tertekan di dalam diri seniornya itu.

Yah, memang ada orang yang tidak menyerah memikirkan seseorang meskipun ditolak sekali atau dua kali, tapi tindakan yang coba dilakukan Mahiru-senpai ini, kalau salah sedikit mirip seperti penguntit...

Gawat, gawat banget. Yuuhi tadinya tidak berniat sampai sejauh ini.

Yuhi hanya ingin Mahiru-senpai tidak melarikan diri ke arah yang membuat situasinya terasa mudah, melainkan menghadap ke depan untuk menerima perasaan sang pujaan hati, makanya ia memberikan semangat.

Tapi Mahiru-senpai yang sekarang justru hanya melihat ke arah orang itu dan terus menempel di punggungnya. Keteguhan hati Mahiru-senpai justru bekerja ke arah vektor yang menyimpang.

"Oleh karena itu, aku punya permintaan untuk Yuuhi-chan."

Mahiru-senpai melirik ke arah Yuuhi. Tatapan matanya itu bersih, namun menatap tajam layaknya pembunuh bayaran. Rasanya seperti inilah perasaan katak yang ditatap oleh ular.

"I-iya. Ada apa?"

"Mulai sekarang, maukah kamu terus mendengarkan curhatku soal percintaan?"

"Eh, um, ke Yuuhi?"

"Iya. Sebagai sesama anggota kubu 'Gadis Suci Tak Tergoyahkan'. Boleh ya?"

Mengingat Yuuhi sendiri yang sudah memancingnya, dia tidak bisa berkata 'tidak' bahkan jika lidahnya harus robek, lagipula kalau tidak ada tempat curhat, Mahiru-senpai mungkin malah akan mengamuk.

Tidak, dia pasti akan mengamuk. Mengingat dia memilih jalan berduri dengan berkata akan menunggu selamanya, rasanya jika dibiarkan bebas dia akan melakukan hal yang berbahaya suatu saat nanti.

Mau bagaimana lagi, Yuuhi juga harus membulatkan tekadnya. Daripada setengah-setengah ikut campur, lebih baik ia menyaksikannya sampai akhir.

"...I-iya. Aku mengerti."

"Benarkah? Terima kasih."

Mahiru-senpai memeluk Yuuhi. Sentuhan dari kelembutan dadanya yang besar membuat Yuuhi meleleh. Omong-omong, sampai begitu terobsesi dengan dada seperti ini, pria yang menjadi incarannya itu sebenarnya sudah berbuat kebajikan apa di kehidupan sebelumnya?

"Ngomong-ngomong, pria yang jadi incarannya itu orang seperti apa?"

"Eh?"

"Orang dari sekolah kita?"

"Ehm... itu..."

Mahiru-senpai merona merah dan mengalihkan pandangannya ke bawah. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan, lalu bergumam pelan.

"Masih rahasia."

Gemas sekali.

Padahal ia mengira seniornya itu adalah perwujudan dari konsep keceriaan itu sendiri, tapi begitu menyangkut urusan percintaan, sisi aktifnya langsung surut total dan berubah menjadi gadis pemalu yang murni. Kesenjangannya luar biasa sekali.

"Pokoknya, bukan hanya Miya-chan, tapi fakta bahwa aku menyukai seseorang jangan diceritakan kepada siapa pun. Untuk saat ini, biarkan ini menjadi rahasia antara aku dan Yuuhi-chan saja. Tolong ya!"

Saat ia merangkapkan kedua tangannya, tonjolan besar di dadanya ikut berguncang lembut.

"Aku mengerti, aku mengerti."

Jika sudah dipinjami dada empuk itu untuk meminta tolong, mana mungkin Yuuhi bisa berkata tidak. Tapi ngomong-ngomong, dengan begini salah satu dari kubu Gadis Suci Tak Tergoyahkan telah tumbang, ya.

"Terima kasih."

"Ngomong-ngomong, kalau dari tipe, pria yang sedang kamu incar itu tipenya seperti apa?"

"Tipe ya. Hmmm."

Mahiru-senpai memasang wajah berpikir sambil merenung. Mengingat yang dicintainya adalah Mahiru-senpai, pria itu pasti memiliki semangat tinggi dan berkesan jantan.

"Santai, agak linglung, lamban—"

...Memangnya itu citra yang bagus?

"Tapi, baik."

"Begitu ya."

Pria yang begitu dipuja oleh Mahiru-senpai. Dia pasti orang yang baik.

Tidak lama kemudian, bel penanda berakhirnya jam istirahat siang berbunyi menggema di seluruh sekolah, membuat Yuuhi dan Mahiru kembali ke kelas masing-masing.



Final Chapter | ToC | Afterword

Post a Comment

Post a Comment

close