Epilog
"Penyelesaian
dan Dukungan"
1
Waktu sedikit berputar mundur, saat senja di hari Sabtu.
Setelah selesai melihat-lihat pameran di Kumamoto Empress, aku akhirnya
kembali ke Fujinomiya.
Pemberangkatan
kereta di Stasiun Fujinomiya saat senja.
Keluar
dari kerumunan orang yang berjalan menuju tangga, aku membeli sebotol cola di
mesin penjual otomatis lalu duduk di bangku.
Sambil
melepas kepergian kereta yang melaju, aku meminum cola itu seteguk demi
seteguk. Sensasi desis karbonasi dan rasa manisnya terasa begitu menyenangkan.
"Hah..."
Seolah
keraguan yang selama ini membelengguku hanyalah bualan belaka, perasaan hatiku
terasa begitu lega.
Setelah
mendengarkan nasihat dari Yuuhi-chan dan Koharu-san, aku baru benar-benar sadar
betapa kekanak-kanakannya tindakanku selama ini.
Terutama
obrolan dengan Koharu-san hari ini benar-benar membuka mataku, atau lebih
tepatnya, membuatku terkejut karena menyadari bahwa ada cara berpikir seperti
itu juga.
Aku
tadinya mengira bahwa cinta adalah sesuatu yang ditentukan sepenuhnya dari
hasil sebuah pengakuan perasaan.
Jika
ditolak, semuanya selesai.
Karena
pemikiran itulah yang melekat di kepalaku, aku jadi bersikap begitu keras
kepala.
Keinginanku
yang jujur adalah ingin terus bersama dengan Yuu-nii. Itulah kenapa aku
menyembunyikan perasaanku sendiri, tapi kalau ternyata aku bisa mencoba lagi
berkali-kali...
Karena hidup hanya sekali, aku tidak akan berkompromi.
Terus berjuang dan menyerang tanpa menyerah sampai dia berpaling padaku
adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang.
Memangnya
hidup tanpa bisa berada di sisi Yuu-nii itu ada artinya?
Tentu
saja tidak.
Tanganku
menggenggam liontin roket yang ada di dadanya.
Benda
itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Yuu-nii.
Saat
kubuka, foto Yuu-nii yang kumasukkan sendiri menatap lurus ke arahku.
"Yuu-nii..."
Hari
ini atau besok, aku harus menemui Yuu-nii dan membicarakan soal pengakuan
perasaan itu, tapi sebelum itu ada satu hal yang harus kulakukan.
Aku
mengeluarkan ponselku lalu membuat panggilan. Sesaat kemudian, sambungan
telepon terhubung.
"Halo,
Mahiru-chan?"
◇
Pukul
sembilan malam di hari itu. Aku mengunjungi kediaman Gendouji dengan berjalan
kaki.
Mendengar
permintaanku yang ingin bertemu berdua saja malam ini, Asaka langsung
mengajakku dengan berkata, "Kalau begitu, datanglah ke rumahku."
"Maaf
ya, sudah datang kemaruhan."
"Tidak
apa-apa."
Aku
diantar masuk ke kamar Asaka.
"Mau
minum sesuatu?"
"Eh,
kalau begitu, cola saja."
"Baiklah,
tunggu sebentar ya."
Kamar
Asaka selalu terasa sama kapan pun aku mengunjunginya.
Tata
letak furnitur, barang-barang yang diletakkan di sana —bahkan hingga
benda-benda kecilnya—, serta aroma yang menguar di ruangan ini semuanya masih
sama seperti masa kecil kami dulu.
Bermain
gulat di atas tempat tidur besar itu, atau mengadakan pesta camilan di meja
ini... Aroma kenangan yang begitu melimpah memenuhi ruangan ini.
Asaka
kembali dengan nampan yang membawa segelas cola dan es teh.
"Menunggu
lama."
"Terima
kasih."
Aku
meneguk cola tersebut. Asaka juga duduk di sebelahku sambil meminum es tehnya.
"Akhir-akhir
ini kita jarang bertemu, jadi aku merasa kesepian, tahu."
"Abisnya,
kegiatan klubku sedang sibuk banget."
"Mahiru-chan,
kudengar hari ini kamu pergi ke Shonzou, ya?"
"Iya, tim pencari bakat datang untuk pertandingan tandang. Ada
banyak hal yang kupelajari."
"Kamu memutuskan untuk bergabung dengan tim itu?"
"Entahlah, bukan begitu juga sih sebenarnya."
Kupikir
Asaka tadi pergi menemui Yuu-nii hari ini, tapi rupanya tidak begitu. Katanya,
keluarga Arizuki sedang pergi ke rumah kerabat mereka.
"Makanya
hari ini aku berkencan dengan Miya-chan. Kami pergi belanja dan karaoke."
"Anak
itu, memangnya urusan belajarnya bagaimana..."
"Ufufu,
katanya dia sudah berusaha keras pada hari kerja, kok."
Asaka
menirukan cara bicara Miya.
"Mirip banget sama Miya barusan."
"Fufu, benarkah?"
Setelah itu, untuk beberapa saat kami menghabiskan waktu dengan
mengobrol santai sambil bertukar kabar terbaru.
"Ngomong-ngomong, Asaka."
"Ada apa?"
Aku duduk bersila dan menghadap ke arah Asaka. Jantungku berdegup
kencang, dan tubuhku terasa panas meskipun cuaca tidak gerah.
"...Aku,
ada sesuatu yang harus kusampaikan untuk meminta maaf padamu, Asaka."
"...Eh?"
Keheningan
melingkupi di antara kami. Suara detik jarum jam yang mekanis
terdengar begitu nyaring.
Dengan tekad bulat, aku membuka mulut.
"Sebenarnya, waktu di vila itu, orang yang menelepon..."
Hanya dengan mendengar itu saja, Asaka sepertinya langsung mengerti
segalanya.
"Waktu itu, akulah yang mengganggu Asaka. Aku
benar-benar minta maaf."
Aku
menundukkan kepala.
"...Begitu
ya."
Aku
tadinya berpikir kalau aku dimarahi atau dipukul pun aku tidak akan bisa
protes, tapi reaksi Asaka justru di luar dugaan.
Wajahnya
merona, menyentuh pipinya, lalu mengalihkan pandangannya.
"Begitu,
ya. H-heh... begitu."
Ia
menutupi mulutnya dengan tangan yang tadi menyentuh pipinya, lalu terus menatap
lurus ke arah lantai dengan ekspresi malu-malu.
"Kamu
melihatnya ya, Mahiru-chan..."
"Iya,
maaf."
"...Kamu
melihat dari mana?"
"Dari
balkon. Ada celah di tirainya."
"Ah."
Malam
saat perjalanan ke Shonan, aku menceritakan proses bagaimana aku sampai
mengintip ke kamar Yuu-nii; mulai dari berniat pergi untuk berkonsultasi dengan
Yuu-nii, mendapati pintu kamar Yuu-nii terkunci, hingga melihat pintu kamar
Asaka yang terbuka.
"Aku
merasa aneh kenapa bisa ada telepon tanpa nomor di saat seperti itu. Oh, begitu
ya. Begitu rupanya. Kalau Mahiru-chan, tentu saja dia tahu kalau Yuu-nii punya
trauma dengan suara dering ponsel."
"Asaka.
Aku juga, menyukai Yuu-nii."
Begitu
aku mengatakannya, Asaka kembali mengarahkan pandangannya kepadaku. Ia melipat
kedua tangannya di atas pangkuan dan menatapku lekat-lekat.
Senyuman
tersungging di bibirnya, namun tatapan matanya menyiratkan keseriusan yang
mutlak.
"Aku
sudah menyatakan perasaanku pada Yuu-nii."
Senyuman di bibir Asaka menghilang.
"Lalu
apa kata Yuu-nii?"
"...Entah. Aku belum mendengar jawabannya."
"...?
Apa maksudmu?"
Lalu
aku menjelaskan kronologi pengakuan perasaan yang kulakukan seminggu lalu.
"––Jadi,
padahal aku tadinya sama sekali tidak berniat untuk menyatakan perasaan, tapi
kepalaku jadi kacau balau dan aku malah keceplosan bilang suka. Tapi setelah
itu aku jadi takut mendengarkan jawabannya, dan aku jadi tahu kalau menyatakan
perasaan itu ternyata hal yang sangat menakutkan."
Aku
mengepalkan kedua tanganku erat-erat.
"...Aku
merasa sudah melakukan hal yang keterlaluan padamu, Asaka."
"Padaku?"
"Asaka
sudah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan pada Yuu-nii, tapi aku
malah merusaknya."
Baru
setelah aku berada di posisi yang sama, aku mengerti betapa kejamnya tindakan
yang kulakukan itu.
Asaka
menyampaikan perasaannya kepada Yuu-nii tanpa melarikan diri, tetapi aku justru
menghancurkan hal itu demi kepentingan egoku sendiri.
"Maafkan
aku, Asaka."
Aku
kembali menundukkan kepala.
"Mahiru-chan,
angkat kepalamu."
"Asaka."
Asaka
sudah kembali tersenyum.
"Aku
ini, tidak marah, kok."
"...Bohong."
Mana
mungkin ada orang yang tidak marah jika pengakuan cinta sekali seumur hidupnya
dirusak orang lain.
"Sungguh.
Soalnya kalau posisi aku dan Mahiru-chan ditukar, aku pasti akan melakukan hal
yang sama seperti Mahiru-chan. Cara ngomongnya mungkin tidak bagus, tapi urusan
percintaan itu pada akhirnya tidak ada artinya kalau kita sendiri tidak bisa
bahagia."
"Iya,
kalau soal itu aku sependapat."
"Makanya,
aku akan merebut Yuu-nii dengan cara apa pun. Aku sudah melakukan itu sejak
dulu dan berniat akan terus melakukannya ke depan. Jadi Mahiru-chan juga tidak
perlu sungkan padaku."
Meskipun
nada bicaranya lembut, aku bisa merasakan tekad yang begitu kuat di dalamnya.
Begitu besar dan kuatnya perasaan Asaka terhadap Yuu-nii.
"......Terima
kasih."
"Besok
kamu mau menemui Yuu-nii?"
"Iya.
Tapi sebelum itu, aku rasa meminta maaf pada Asaka adalah bentuk
pertanggungjawaban yang harus kulakukan."
"Mahiru-chan,
kamu serius sekali ya."
"Begitukah?"
Ya.
Permintaan maaf kepada Asaka adalah hal yang memang harus kulakukan.
Tidaklah
masuk akal jika aku, yang sempat mengganggu Asaka secara diam-diam,
menyampaikan seluruh isi hatiku kepada Yuu-nii tanpa menyampaikan permohonan
maaf apa pun mengenai hal itu.
"Sudah
malam begini, mau menginap sekalian?"
Dioanggurkan?
Melihat
jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam.
"Boleh?"
"Ya."
"Kalau
begitu, aku terima tawaran baikmu."
Setelah
itu kami mandi bersama, dan aku meminjam pakaian ganti milik Asaka. Saat kami
masuk ke dalam tempat tidur, Asaka menggenggam tanganku.
"Mahiru-chan,
bagian mana dari diri Yuu-nii yang kamu sukai?"
"Um,
bagian dia yang baik, atau semacamnya."
"Fufu,
sama."
Kami
selalu bersama sejak kecil, hubungan kami sudah seperti saudara perempuan,
bukan sekadar teman biasa.
Tapi
mulai sekarang, kami adalah rival. Hari ini adalah malam terakhir...
2
Pemandangan malam yang terlihat di balik jendela. Getaran
yang merambat dari kursi.
Perjalanan
kembali ke Kanagawa selalu terasa suram. Sebab aku tidak akan bisa menemui Yuu-nii
lagi sampai hari libur berikutnya tiba.
Omong-omong, kemarin aku benar-benar terkejut.
Jadi itulah alasan kenapa belakangan ini gerak-gerik Yuu-nii terlihat
aneh.
Aku sempat menduga ada sesuatu yang terjadi menyangkut Mahiru-chan,
tapi tidak menyangka kalau dia sampai menyatakan perasaan.
Akan menjadi rival yang tangguh. Karena sifat kaku Yuu-nii itu tidak
biasa.
"Ufufu. Aku mendukungmu, lho, Mahiru-chan."
Tapi, yang akan menang adalah aku.
Cinta itu tidak ada artinya jika diri sendiri tidak bahagia.
Bagiku, Yuu-nii adalah hidup itu sendiri, jadi hidup tanpa bisa bersatu
dengan Yuu-nii sama sekali tidak ada artinya.
Jika aku memejamkan mata, hari-hari penuh kenangan indah berlapis kilau
akan muncul di balik kelopak mataku.
Aku,
Mahiru-chan, Miya-chan, dan Yuu-nii.
Hari-hari berharga yang kami habiskan berempat...
3
Cahaya
matahari pagi terasa menyilaukan mata.
Sambil membelah udara pagi yang dingin, mobil-mobil lalu-lalang di
jalanan depan.
Suara deru knalpot yang menggetarkan keheningan terasa begitu menyayat
hati, mungkinkah karena hari ini adalah hari Senin?
Sambil memegang sapu, aku mulai membersihkan area kursi teras.
Sisa-sisa kemeriahan musim panas yang sempat menghiasi kota ini sudah
tidak bersisa sama sekali, musim sepertinya telah mulai berganti jubah menuju
musim gugur.
Aku bukan tidak suka musim gugur, tapi juga tidak begitu menyukainya.
Padahal hari ulang tahunku sendiri berada di tengah-tengah musim gugur.
Semangat dan nuansa non-reguler yang dimiliki musim panas.
Semakin besar hal itu, semakin menyenangkan musim panas tersebut, maka
perasaan sepi setelah musim panas berlalu —seperti suasana sepi setelah
perayaan usai— akan terasa semakin kuat.
Apa
yang ingin kukatakan adalah, yah, semacam itu. Musim panas tahun ini sungguh
menyenangkan, begitulah.
Pergi
bermain ke berbagai tempat bersama mereka berdua, menikmati musim panas
sepuasnya.
Hari-hari yang menyenangkan itu tidak akan bisa kembali lagi.
Setidaknya, tidak dengan hubungan yang sama seperti sebelumnya...
"Yuu-nii."
Suara yang sudah sangat familiar itu menyapa telingaku, membuat
jantungku berdegup kencang.
Saat
menoleh, di sana sudah ada Mahiru yang mengenakan pakaian training olahraga.
"Oh,
oh. Mahiru. Selamat pagi."
"Pagi."
"Pagi
sekali."
Waktu
saat ini baru menunjukkan pukul enam lewat lima puluh menit.
"Karena
ada latihan pagi."
"B,
begitu ya."
Kira-kira
apa yang harus kukatakan?
"Yuu-nii."
"A,
ada apa?"
Mahiru
melipat kedua tangannya di depan perut sambil bergerak gelisah.
"Um,
soal yang kukatakan kemarin, aku ini serius, lho!"
Wajahnya
merona merah jambu seperti buah apel.
"Aku
akan menunggu selamanya, kok."
"Selamanya
itu maksudnya..."
"Selamanya
ya selamanya. Kalau begitu ya."
Mahiru
berlari kecil meninggalkan tempat itu.
Punggungnya
berpapasan dengan bayangan kejadian semalam, membuat kenangan malam tadi
bangkit kembali di dalam benakku.
Aku
berniat menolak Mahiru. Seharusnya aku bersikap seperti orang dewasa dengan
mengatakan bahwa aku tidak bisa membalas perasaannya.
Bukan
hanya Mahiru. Aku juga berniat menolak Asaka —yang memiliki perasaan yang sama
padaku— dengan tegas agar keduanya tidak sampai bermusuhan gara-gara aku.
Namun,
Mahiru justru mengucapkan kata-kata yang jauh melampaui imajinasiku.
Seolah-olah
ia bisa menebak apa yang hendak kukatakan, ia mendahuluiku dan memasang benteng
pertahanan dengan mengatakan tidak ingin mendengarkan jawabanku sekarang.
Mahiru
berniat menunggunya sampai perasaanku condong kepadanya. Tekad dan aura yang
terpancar dari Mahiru membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Atau lebih
tepatnya, mengatakan apa pun sekarang tidak ada gunanya lagi. Karena Mahiru
bertekad akan terus menunggu selamanya.
Kenapa
hal ini bisa sampai terjadi?
Apakah
aku telah salah mengambil keputusan di suatu tempat?
Aku
tidak bisa menepis perasaan bahwa situasi berkembang ke arah yang buruk dengan
vektor yang berbeda dari perkiraanku semula.
Prioritas
utama seharusnya adalah memastikan hubungan antara Mahiru dan Asaka tidak
memburuk karena aku. Namun, jika Mahiru bertekad untuk terus menunggu tanpa
mempedulikan perasaanku saat ini, maka itu sudah menjadi keinginan yang
mustahil terwujud.
Hanya
tinggal menunggu waktu saja sampai Mahiru dan Asaka menyadari perasaan
masing-masing.
Mereka
berdua adalah adik-adik manis bagiku, namun kenyataannya aku juga sudah mulai
menyadari mereka sebagai seorang wanita. Apa yang akan terjadi pada hubungan
kami bertiga ke depannya?
Memikirkannya
membuat lambungku terasa nyeri.
◇
"Mahie, semangat banget dari pagi."
"Karena
ini latihan, kalau tidak mengerahkan seluruh tenaga ya percuma, tahu."
"Tapi
rasanya semangatmu hari ini lebih membara dari biasanya."
"Begitukah?"
"Gerakanmu
juga lebih lincah dari biasanya. Ada hal bagus yang terjadi?"
"Yah, ahaha."
Mungkin karena kegelisahan yang selama ini membebaniku telah
terselesaikan, tubuhku terasa begitu ringan luar biasa. Rasanya seperti aku
memiliki sayap di punggungku.
Selesai latihan pagi, aku mandi lalu mengenakan seragam sekolah.
Aku tidak menyesali jalan yang telah kupilih. Hanya inilah yang bisa
kulakukan, dan menyerah pada Yuu-nii adalah hal yang sama sekali tidak
kuinginkan.
Namun, jika ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku, itu adalah
soal Asaka.
Selama ini kami adalah sahabat karib yang tidak berlebihan jika disebut
sebagai saudara perempuan. Tapi mulai sekarang, kami akan menjadi rival yang
saling merebut seorang pria.
Percintaan
adalah sebuah perang.
Dan
pemenang dari perang cinta itu hanya ada satu orang.
Meskipun
lawannya adalah Asaka, aku sama sekali tidak berniat untuk kalah.
Waktu
istirahat siang tiba, aku menyantap makan siang bersama Miya.
"Eh,
Mahiru, kamu makan sebanyak itu?"
"Porsi
segini kan biasa."
"Bukankah
ini lebih banyak dari biasanya? Padahal kemarin kamu sudah makan banyak di
kedai mi soba..."
"Karena
energiku habis dipakai latihan pagi, jadi tidak apa-apa."
Dibandingkan
dengan gabungan menu set hamburger, mangkuk besar loco moco, roti
yakisoba, dan roti lapis buah sebagai hidangan penutup, jumlah segini kan tidak
sampai membuat heboh.
"Hamburger
dan hamburgernya dobel..."
"Hamburger
itu sumber tenaga paling mantap."
Selesai
makan siang, aku bangkit dari kursi.
"Mau
ke mana? J, jangan bilang kamu masih mau nambah..."
"Bukan begitu. Ada urusan sebentar."
"Hmm, oke deh."
Berpisah dengan Miya, aku menuju ke lantai tiga tempat kelas-kelas
tingkat dua berderet.
"Um, sepertinya... ah, ketemu. Halo, Yuuhi-chan."
Aku memunculkan wajah dari ambang pintu dan memanggil Yuuhi-chan.
Sepertinya dia sudah selesai makan, karena dia sedang asyik mengobrol
dengan temannya di dekat jendela.
"Eh? Ah, ya-!"
Begitu menyadari keberadaanku, Yuuhi-chan berlari kecil menghampiri.
"A-ada
apa, ya?"
"Soal
minggu lalu, aku ingin mengucapkan terima kasih. Bisa minta waktunya
sebentar?"
"Iya!"
◇
Kami
berdua duduk di tempat yang sama seperti hari Jumat pekan lalu.
Sinar
matahari siang terasa hangat dan menyenangkan, sementara awan putih berarak
santai di langit.
Meskipun
jam istirahat siang selalu berjalan santai seperti biasa, hati Yuuhi justru
terasa berat berbanding terbalik dengan langit biru yang damai.
Pembicaraan
Mahiru-senpai kemungkinan besar menyangkut pengakuan cinta.
Waktu
itu, karena Mahiru-senpai mengucapkan hal yang terlalu kekanak-kanakan, Yuuhi
sampai memasang wajah galak untuk memberinya dorongan semangat.
Tapi,
Yuuhi belum tahu bagaimana hasil akhir dari cinta Mahiru-senpai itu.
Bagaimana
kalau hasilnya ternyata gagal? Bagaimana cara menghiburnya?
"Terima
kasih ya, Yuuhi-chan."
"Untuk
apa?"
"Berkat
Yuuhi-chan yang mendorongku, aku jadi memantapkan tekad."
"Tidak,
Yuuhi tidak melakukan hal sehebat itu. —Atau lebih tepatnya, rasanya Yuuhi
terlalu ikut campur."
"Aku, tidak akan pernah menyerah."
"Tidak menyerah..."
Eh? Jangan-jangan dia ditolak?
Mungkinkah hasilnya gagal...?
"Se-Mahiru-senpai, bagaimana hasil akhirnya?"
Ujar Yuuhi sambil memberanikan diri bertanya.
"Sebenarnya—"
Dan apa yang kemudian diceritakan oleh Mahiru-senpai benar-benar berada
di luar dugaan Yuuhi.
"––Makanya,
aku akan terus menunggu. Bagaimana pun perasaannya saat ini, sampai orang itu
berpaling padaku, aku tidak akan menyerah dan akan menunggu selamanya."
"...Eh?"
Mendengar
penjelasan Mahiru-senpai, Yuuhi hanya bisa memegang kepalanya di dalam hati.
Bukannya
bagaimana-bagaimana, ya.
Meskipun
wajahnya terlihat begitu berseri-seri, inti dari ucapannya adalah dia akan
terus terobsesi sampai orang itu berpaling padanya, kan?
Gara-gara
dorongan Yuuhi, saklar yang aneh sepertinya malah tertekan di dalam diri
seniornya itu.
Yah,
memang ada orang yang tidak menyerah memikirkan seseorang meskipun ditolak
sekali atau dua kali, tapi tindakan yang coba dilakukan Mahiru-senpai ini,
kalau salah sedikit mirip seperti penguntit...
Gawat,
gawat banget. Yuuhi tadinya tidak berniat sampai sejauh ini.
Yuhi
hanya ingin Mahiru-senpai tidak melarikan diri ke arah yang membuat situasinya
terasa mudah, melainkan menghadap ke depan untuk menerima perasaan sang pujaan
hati, makanya ia memberikan semangat.
Tapi
Mahiru-senpai yang sekarang justru hanya melihat ke arah orang itu dan terus
menempel di punggungnya. Keteguhan hati Mahiru-senpai justru bekerja ke arah
vektor yang menyimpang.
"Oleh
karena itu, aku punya permintaan untuk Yuuhi-chan."
Mahiru-senpai
melirik ke arah Yuuhi. Tatapan matanya itu bersih, namun menatap tajam layaknya
pembunuh bayaran. Rasanya seperti inilah perasaan katak yang ditatap oleh ular.
"I-iya.
Ada apa?"
"Mulai
sekarang, maukah kamu terus mendengarkan curhatku soal percintaan?"
"Eh,
um, ke Yuuhi?"
"Iya.
Sebagai sesama anggota kubu 'Gadis Suci Tak Tergoyahkan'. Boleh ya?"
Mengingat
Yuuhi sendiri yang sudah memancingnya, dia tidak bisa berkata 'tidak' bahkan
jika lidahnya harus robek, lagipula kalau tidak ada tempat curhat, Mahiru-senpai
mungkin malah akan mengamuk.
Tidak,
dia pasti akan mengamuk. Mengingat dia memilih jalan berduri dengan berkata
akan menunggu selamanya, rasanya jika dibiarkan bebas dia akan melakukan hal
yang berbahaya suatu saat nanti.
Mau
bagaimana lagi, Yuuhi juga harus membulatkan tekadnya. Daripada
setengah-setengah ikut campur, lebih baik ia menyaksikannya sampai akhir.
"...I-iya. Aku mengerti."
"Benarkah? Terima kasih."
Mahiru-senpai
memeluk Yuuhi. Sentuhan dari kelembutan dadanya yang besar membuat Yuuhi
meleleh. Omong-omong, sampai begitu terobsesi dengan dada seperti ini, pria
yang menjadi incarannya itu sebenarnya sudah berbuat kebajikan apa di kehidupan
sebelumnya?
"Ngomong-ngomong,
pria yang jadi incarannya itu orang seperti apa?"
"Eh?"
"Orang
dari sekolah kita?"
"Ehm...
itu..."
Mahiru-senpai
merona merah dan mengalihkan pandangannya ke bawah. Ia menutupi mulutnya dengan
kedua tangan, lalu bergumam pelan.
"Masih
rahasia."
Gemas
sekali.
Padahal
ia mengira seniornya itu adalah perwujudan dari konsep keceriaan itu sendiri,
tapi begitu menyangkut urusan percintaan, sisi aktifnya langsung surut total
dan berubah menjadi gadis pemalu yang murni. Kesenjangannya luar biasa sekali.
"Pokoknya,
bukan hanya Miya-chan, tapi fakta bahwa aku menyukai seseorang jangan
diceritakan kepada siapa pun. Untuk saat ini, biarkan ini menjadi rahasia
antara aku dan Yuuhi-chan saja. Tolong ya!"
Saat
ia merangkapkan kedua tangannya, tonjolan besar di dadanya ikut berguncang
lembut.
"Aku
mengerti, aku mengerti."
Jika
sudah dipinjami dada empuk itu untuk meminta tolong, mana mungkin Yuuhi bisa
berkata tidak. Tapi ngomong-ngomong, dengan begini salah satu dari kubu Gadis
Suci Tak Tergoyahkan telah tumbang, ya.
"Terima
kasih."
"Ngomong-ngomong,
kalau dari tipe, pria yang sedang kamu incar itu tipenya seperti apa?"
"Tipe
ya. Hmmm."
Mahiru-senpai
memasang wajah berpikir sambil merenung. Mengingat yang dicintainya adalah Mahiru-senpai,
pria itu pasti memiliki semangat tinggi dan berkesan jantan.
"Santai, agak linglung, lamban—"
...Memangnya itu citra yang bagus?
"Tapi, baik."
"Begitu ya."
Pria yang begitu dipuja oleh Mahiru-senpai. Dia pasti orang yang baik.
Tidak lama kemudian, bel penanda berakhirnya jam istirahat siang
berbunyi menggema di seluruh sekolah, membuat Yuuhi dan Mahiru kembali ke kelas
masing-masing.



Post a Comment