NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Interlude I

Kenangan Bersama "Bocah Nakal" Part 1


1

Memasuki akhir bulan Juli, musim panas yang sebenarnya pun akhirnya dimulai.

Suara cicak yang terus-menerus terdengar di telinga, sengatan terik matahari yang menyilaukan, serta aroma hijaunya dedaunan yang rimbun.

Musim yang paling penuh energi dalam setahun telah tiba.

Beberapa hari setelah liburan musim panas terakhir di masa SMA dimulai—

"Isamu, kalau kamu kerjaannya cuma bersantai-santai saja, bantu jaga kedai sana. Ada pelanggan yang imut, lho."

Saat aku sedang makan es krim sambil menonton televisi di ruang keluarga yang sejuk, Ibu menongolkan kepalanya dan berkata.

"Hmm, aku mengerti."

Keluarga kami mengelola kedai kopi bernama Moon Night Terrace, dan aku pun terkadang ikut membantu.

Ini adalah kedai yang telah berjalan sejak zaman kakekku, dengan interior bergaya rumah kayu serta kursi teras yang disediakan di luar kedai, membuat jumlah pelanggan yang datang tergolong cukup ramai.

Aku bergabung dengan klub bola basket putra, dan karena kesibukan klub, aku hampir tidak pernah punya kesempatan bekerja paruh waktu.

Aku hanya sesekali membantu di kedai untuk sekadar mencari uang saku tambahan.

Namun, sekarang setelah kami menelan kekalahan di babak pertama turnamen musim panas, jadwal libur musim panku benar-benar kosong melompong sampai upacara kelulusan klub di akhir Juli, membuat hari-hariku diisi dengan bermalas-malasan saja.

"Hm? Imut?"

Aku merasakan firasat buruk yang samar-samar.

Mengenakan apron pelayan, aku melangkah keluar menuju area kedai.

"Halo, Kak Isamu."

Tiga orang gadis tampak menguasai meja di sudut paling dalam. Salah satu dari mereka—Miyo—condong ke depan.

"Yo."

"Hari ini aku sengaja membawakan teman-temanku untukmu, lho."

"Tidak ada satu orang pun yang meminta, ya."

"Halo."

"Halo."

Kedua gadis yang duduk mengapit Miyo saling bertukar pandang sejenak sebelum memberikan salam.

"Ah, halo."

Dilihat sekilas, usia mereka sepertinya sebaya dengan Miyo.

"Yang ini Mahiru, dan yang pakai kacamata ini Asaka."

Miyo memperkenalkan mereka. Mahiru adalah gadis berambut pendek dengan kulit yang agak kecokelatan karena terbakar matahari.

Dia memancarkan aura ceria dengan pakaian bernuansa musim panas seperti kemeja tanpa lengan dan celana pendek.

Sebaliknya, Asaka adalah gadis berpenampilan tenang dengan rambut hitam panjang dan mengenakan gaun berenda.

Ketiganya tampak memesan soda krim dan sedang asyik bermain game di ponsel masing-masing.

Meskipun Miyo biasanya bersikap sok, melihatnya bersenang-senang dan bermain bersama teman-temannya seperti ini terasa begitu menggemaskan.

Baiklah, saatnya kembali bekerja.

Tepat saat aku hendak meninggalkan meja tersebut, Mahiru mendongak menatapku dan berkata,

"Hmm, jadi dia ini anak buahnya Miyo, ya?"

Hm? Tadi aku mendengar kalimat yang agak aneh, apakah itu hanya perasaanku saja?

"Eh, Mahiru-chan, tidak boleh bicara begitu pada orang dewasa. Nanti kamu dimarahi lho."

Asaka menegur dengan suara pelan.

"Tapi, kalau dia anak buah Miyo, berarti dia juga anak buah kita sebagai temannya Miyo, kan?"

"Eh, begitu ya. Ah, begitu rupanya……"

Begitu rupanya, kepalamu. Jangan malah manggut-manggut begitu.

"Tunggu-tunggu, hei Miyo. Kamu memperkenalkan aku kepada teman-temanmu sebagai apa, hah?"

"Eh? Apaan sih, mbuuuh-hufu..."

Aku mencubit dan menarik kedua sisi pipi Miyo dengan kedua tanganku.

"Nah, makanya hati-hatilah sebelum kamu melanjutkan kata-katamu."




"Ua-ua-ua!"

"A~paan, sih?"

"Hayo, jangan suka mengusili anak yang lebih kecil!"

Bersamaan dengan teriakan marah Ibu, sebuah pukulan karate menghantam ubun-ubun kepalaku.

"Guheh!"

"Sana, cepat kembali kerja! Meja yang di sebelah sana sudah kosong, cepat bersihkan!"

"Wah, ternyata lemah banget," ujar Mahiru.

"Fufun, cuma kroco," ceplos Miyo.

"Uwah, kelihatannya sakit sekali," tambah Asaka.

Bocah nakal ini, jangan-jangan dia sengaja membawa teman-temannya ke ladang pertempuran yang jelas-jelas merugikanku karena ada Ibu di sini?

Tidak, aku ragu dia punya otak sejelas itu untuk merencanakan hal seperti ini.

Akan tetapi—

"Bibi~ kalau kami sudah selesai minum ini, boleh kan kami semua main game di lantai dua?"

"Boleh dong~!"

"!?"

Lantai dua!? Kalau anak ini bilang mau menempel di lantai dua, itu kan sudah pasti kamar tidurku!

Dengan meminta izin kepada Ibu dan bukan kepadaku, dia berhasil mengabaikan keinginanku menggunakan taktik tingkat tinggi. Apakah dia sudah memprediksi bahwa jika dia mengajak teman-temannya masuk ke kamarku secara terang-terangan, aku pasti akan mengusir mereka keluar?

"Eh, tunggu dulu sebentar—"

"Tidak apa-apa kan, mereka kan teman-temannya Miyo-chan. Dari pada itu, cepat bersihkan meja yang kosong itu!"

"Horeee!"

Dengan begini, kamarku resmi berubah menjadi tempat nongkrong para bocah nakal.

 

ï¼’

Beberapa hari kemudian.

Ini benar-benar situasi yang sangat, sangat gawat. Bahkan jauh lebih gawat daripada menemukan tugas sekolah yang belum tersentuh sedikit pun di hari terakhir liburan musim panas.

Aku panik setengah mati.

"Dengar ya, Mahiru. Item yang di sebelah sini tuh—"

"Coba pinjam."

"Nih."

Miyo yang duduk di pinggiran tempat tidur menyerahkan konsol game genggamnya kepada Mahiru. Sementara itu, Asaka sepertinya menyukai manga shounen koleksiku dan sedang membacanya dengan sangat lahap di depan rak buku.

"Miyo, kalau yang ini kan karakternya... harusnya pakai yang di sebelah sini tahu."

"Aah, jadi begitu toh!"

"Anu, Mas Isamu, bisakah tolong ambilkan komik volume selanjutnya untukku?"

"A-Ah, iya. Ini dia."

Kamarku telah sepenuhnya bertransformasi menjadi markas nongkrong bocah-bocah ini.

Sejak dikuasai beberapa hari yang lalu, mereka bertiga bertingkah seolah-olah ruangan ini milik mereka sendiri, bersantai dengan sangat santai tanpa beban sama sekali.

Menghadapi gerombolan anak berisik yang bertambah memang merepotkan, tetapi ada hal yang jauh lebih berbahaya dari situasi ini.

Masalahnya adalah...

Di bawah bantal di tempat tidurku, ada buku eksotis dewasa yang tersembunyi.

Aku benar-benar lengah.

Semalam, aku mendengar rumor dari teman-teman klub olahraga bahwa menaruh buku dewasa di bawah bantal bisa membuat kita bermimpi indah. Iseng-iseng, aku mencobanya sebelum tidur.

Lalu aku menyimpannya di sana dan lupa sama sekali sampai detik ini, baru teringat lagi saat bocah-bocah ini datang.

Kecerobohan yang sangat fatal!

Jika buku itu sampai ditemukan oleh mereka...

‘Uwah, menjijikkan!’

‘Aku melaporkannya ke Bibi, ah!’

‘Ternyata Mas Isamu seorang pemikir mesum, ya.’

Gawat gawat gawat!

Aku harus menemukan cara untuk mengusir mereka keluar dari kamar ini dan menyelamatkan buku berharga itu!

"Aah~ tidak bisa, aku tidak bisa menang!"

Miyo menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, menjatuhkan kepalanya di atas bantal dengan suara kepakan pelan.

"Owaaaaaah!"

"Kaget aku! Ada apa sih Kak Isamu? Kok tiba-tiba berteriak keras begitu?"

"T-Tidak, bukan apa-apa! D-Dari pada itu, kalian tidak mau main di luar saja?"

"Tidak mau, di luar panas," jawab Mahiru tanpa ragu sedikit pun.

Kamu ini, padahal pakai pakaian tanpa lengan yang memamerkan bahu dan kulitmu sudah terbakar cokelat begitu, masih bilang tidak mau ke luar?

"Lagipula tadi kita kan sudah main di luar," kata Miyo sambil menatap langit-langit kamar.

"K-Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan es krim di kedai bawah?"

"Tadi kami sudah diberi es krim soft serve oleh Bibi," sahut Asaka.

"A-Ooh, begitu."

Sepertinya sangat sulit untuk memancing anak-anak ini keluar dari kamar.

Tugasku sebenarnya tidak terlalu rumit: selamatkan buku dewasa itu tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun dari mereka.

Namun, dalam situasi ini, satu kesalahan langkah saja bisa langsung berujung pada kematian sosial.

Lantas, apa yang harus kulakukan...?

"Hei, Kak Isamu ikut main game juga dong. Game ini bisa pertarungan multipemain cuma pakai satu catridge kok."

Mahiru menarik-narik tanganku. Dia duduk di tepi tempat tidur, meluruskan kakinya yang ramping bagaikan ranting kayu secara santai seperti anak laki-laki.

"O-Ooh...!"

Ini kesempatan emas!

Aku berhasil duduk di samping Mahiru secara alami, tepat di dekat posisi bantal.

Nah, masalah sebenarnya dimulai dari sini.

Mari kita petakan posisi masing-masing. Target penyelamatan, yaitu buku dewasa, berada tepat di belakangku di bawah bantal.

Namun, saat ini Miyo sedang menguasai tempat tidur, dan kepala kecilnya berada tepat di atas bantal itu. Di sampingku ada Mahiru, dan sedikit lebih jauh di dekat jendela, Asaka sedang asyik membaca komik.

Jaraknya sangat dekat, hanya sejangkauan tangan. Asaka sedang tenggelam dalam komiknya, sementara bagi Mahiru yang fokus pada game, area bantal berada di titik buta penglihatannya.

Saat Miyo bergeser turun dari tempat tidur nanti, aku akan mengulurkan tangan ke belakang, menyelipkan buku itu ke dalam bajuku di bagian punggung. Setelah itu, aku akan pamit keluar kamar sebentar untuk menyembunyikannya di tempat lain.

Rencana yang sangat sempurna!

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Misi penyelamatan dimulai!

"Uaang, ampun deh! Mahiru jago banget!"

"Miyo sih, celahnya terlalu banyak!"

"Nah, kalau begitu ganti Kak Isamu!"

"Eh?"

Miyo menyerahkan konsol game itu ke tanganku. Sepertinya ini game aksi pertarungan. Sejujurnya, aku lumayan jago dalam game jenis ini. Waktu SMP dulu, aku sering main game pertarungan dan tembak-tembakan di arcade.

Ini kesempatan bagus untuk membungkam anak-anak yang selalu meremehkanku ini.

Tapi tunggu, sekarang bukan waktunya untuk itu! Kedua tanganku jadi terikat, dan pandanganku terpaksa terkunci ke layar game.

"T-Tidak deh, aku tidak ikut dulu."

"Kenapa, takut kalah ya?"

Mahiru tersenyum mengejek di sampingku.

"Apa kamu bilang?"

"Takut kalah dari anak kecil, ya?"

"...Baiklah kalau begitu, bakal kubantai kamu sampai tak berbekas!"

"Fufun!"

Gawat, aku malah terpancing provokasi murahan!

Seharusnya aku sengaja kalah dengan cepat agar bisa bertukar peran lagi dengan Miyo, tetapi kalau aku kalah begitu saja setelah gertakan tadi, mereka akan semakin meremehkanku.

Aku bisa membayangkan Mahiru tersenyum sinis sambil berkata, ‘Masa orang dewasa kalah sama anak kecil? Lemah banget.’

Kalau begitu, aku harus bertarung secara sengit dan sengaja kalah tipis di detik-detik terakhir!

"Orya, bagaimana ini?!"

"Mu, Kak Isamu lumayan juga ya. Kalau begitu aku harus mulai serius nih!"

Serangan Mahiru mendadak berubah menjadi sangat gencar.

"Aku mau ke kamar mandi dulu."

Miyo beranjak turun dari tempat tidur. Momen yang sangat luar biasa! Pertarungan sengit sudah tersaji dengan pas, dan area tempat tidur kini kosong bebas hambatan. Baiklah, saatnya aku menerima kekalahan!

"Yoshaa, aku menang!"

"S-Sialan! K-Kalau begitu, berikutnya giliran Asaka ya?"

Namun, saat aku mengira misi akan berjalan lancar...

"Uuh, panas sekali."

Asaka yang berada di dekat jendela merapikan komiknya, meminum jus di atas meja, lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Poni rambutnya menempel karena keringat, dan pipinya merona merah bagaikan buah apel. Dia langsung merebahkan tubuhnya santai di atas tempat tidur.

"Uahn, aku mau istirahat sebentar..."

Apa-apaan ini?!

Kamu kan dari tadi cuma duduk membaca komik saja!

Bagian mananya yang bikin capek?!

"Asaka memang stamina-nya lemah sih~ Biarkan dia tidur siang sebentar. Nah, Kak Isamu, ayo ronde kedua!"

Kamu seriusan?!

"Siapa yang menang tadi~?"

Di saat yang bersamaan, Miyo sudah kembali ke kamar.

"Mana mungkin Kak Isamu bisa menang melawanku!"

"Eeh~ kalau begitu ganti giliran dong~!"

Miyo mulai melompat-lompat di atas tempat tidur.

Per kasur mencicit keras, menciptakan guncangan yang tidak beraturan.

"I-Iya, aku mengerti, aku mengerti—!"

"Miyo-chan, membal-membal nih~"

Asaka bergoyang-goyang mengikuti getaran kasur. Merasa hal itu lucu, Miyo malah makin menjadi-jadi melompat.

"Ahahaha!"

"B-Bodoh, Miyo, hentikan!"

Getaran yang dibuat Miyo merambat sampai ke bantal, dan secara perlahan-lahan buku dewasa itu mulai bergeser keluar merayap di atas seprai!

G-Gawat, sudut bukunya! Sudut bukunya mulai kelihatan!

"Kalau ronde itu selesai, ganti giliran denganku ya~!"

"Iya aku paham, makanya jangan melompat-lompat! Getarannya sampai ke lantai bawah toko tahu!"

Sambil berteriak, aku merebahkan badanku ke belakang untuk menutupi sudut buku yang menyembul dari bawah bantal menggunakan tubuhku.

H-Hampir saja!

Eh, tunggu, bahaya!

Kalau aku merebahkan badan seperti ini, kepalaku bisa menabrak dada Asaka yang sedang berbaring!

Bagaimana ini?!

Menyelamatkan buku dewasa adalah prioritas utama, tetapi meskipun dia masih anak SD, mendaratkan kepala di dada seorang anak perempuan adalah tindakan yang...

Aku mengerahkan seluruh kekuatan otot perutku, menahan posisi badan agar kepalaku tidak sampai menyentuh dada Asaka.

"Ugugugugu!"

B-Berat sekali!

"Lho, apa itu? Ada sesuatu di bawah bantal."

"!?"

Miyo melihatnya!

"Eh?"

Mahiru ikut menoleh ke arah bantal.

Aah, riwayatku benar-benar tamat!

Tuhan, Dewa, atau Raja Yama sekalipun, tolong selamatkan aku!

Pada saat yang krusial itu—

"Anak-anak~ Ibu sudah memotong buah semangka, nih~!"

Apakah doaku dikabulkan? Suara Ibu bergema dari lantai bawah.

"Semangka~?"

Miyo langsung melompat turun ke lantai.

"Asyik! Bangun, Asaka!"

"Fuee?"

Suara langkah kaki berderap heboh saat bocah-bocah itu berlarian keluar dari kamar.

Tinggal aku seorang diri yang tersisa, menghempaskan tubuhku sepenuhnya ke atas kasur.

"S-Selamat..."

Semangka yang sangat tepat waktu! Aku mengatur napasku yang tersengal-sengal dan berhasil mengamankan buku dewasa itu tanpa kendala.

Sangat berbahaya membiarkan buku ini tersimpan di jangkauan penglihatan mereka. Aku harus membuat tempat penyembunyian yang baru—bertambah lagi satu misi di liburan musim panasku kali ini.



Chapter 1 | ToC | Chapter 2

0

Post a Comment

close