Chapter 2
Permainan Sederhana
1
Bulan April. Itu adalah musim permulaan.
Para pelajar yang merasa sedikit lebih dewasa berkat
kenaikan tingkat dan kelas.
Para karyawan baru yang membusungkan dada, merasa diri
mereka kini telah menjadi bagian dari masyarakat.
Sambil melirik sekilas ke arah orang-orang yang penuh
antisipasi menyambut kehidupan baru tersebut, aku melangkah menuju kantor Hello
Work.
Sudah seminggu lebih sejak aku kembali ke kampung
halaman. Aku terus mencari pekerjaan di Hello Work, tetapi belum juga menemukan
lowongan yang membuatku merasa "ini dia".
Pasalnya—
Semua lowongan kerja di sana terlalu white
sampai-sampai membuatku tergiur dan kebingungan sendiri!
Begitu tiba di Hello Work, aku langsung merangsek ke
depan komputer khusus pencarian lowongan. Deretan lowongan pekerjaan yang
begitu ideal di layar membuatku merasa pusing.
"Eh, libur tahunan lebih dari seratus hari?
Karena setahun itu ada sekitar lima puluh dua minggu, artinya aku bisa libur
hampir dua hari setiap minggunya?!"
Perusahaanku yang dulu dasarnya hanya libur sehari
dalam seminggu, itu pun masih ditambah masuk kerja di hari libur sekitar dua
kali sebulan.
"Eh, perusahaan ini bakal ngasih uang tambahan kalau
kita lembur?!"
Padahal aku mengira uang lembur itu adalah konsep dari
dunia fiksi.
"Eh, perusahaan yang ini gajinya naik setiap
tahun?!"
Padahal atasanku bilang kalau gaji tidak berubah selama
sepuluh tahun adalah hal yang lumrah.
"Hmm."
Setiap perusahaan memang tampak menarik, tapi karena aku
pulang kampung dengan tekad bulat untuk mereset hidup, aku tidak boleh
berkompromi.
Untuk sementara, aku akan membawa pulang lembar lowongan
dari tempat-tempat yang terlihat bagus untuk dipertimbangkan.
Aku pulang dengan berjalan kaki, lalu berhenti di depan
rumah yang berada tepat di sebelah rumahku. Keluarga Haruyama... ah, sekarang
tempat itu bukan lagi rumah keluarga Haruyama. Papan namanya bertuliskan
Nakano.
Dari apa yang kudengar dari Ibu kemarin, rupanya keluarga
Nakano ini juga sudah pindah, dan saat ini rumah tersebut kosong tanpa
penghuni.
Rumah yang dipenuhi oleh kenangan bersama si bocah nakal.
Sebagai seseorang yang mengenal keseharian penuh keributan di masa lalu,
rasanya ada sedikit kehampaan di dalam dada.
"Kira-kira apa kabar ya mereka bertiga?"
Di manakah dan sedang melakukan apa Miyo sekarang?
Mahiru, dan juga Asaka. Hanya ada bayangan masa kecil mereka di dalam ingatanku
yang melintas di kepala.
Aku berjalan dari area kedai menuju rumah.
"Aku pulang."
"Oh, sudah pulang rupanya."
Ibu menatapku sambil tersenyum penuh arti.
"Ada apa sih. Hm?"
Seorang gadis SMA berseragam tampak duduk seorang
diri di kursi konter. Dia sepertinya sedang menikmati es kopi hitam.
Rambut cokelat panjang dan perawakan yang ramping. Saat
dia menoleh sekilas ke arahku, aku merasa familiar dengan wajahnya.
"Ah."
Bukankah dia gadis SMA yang mengantarkan dompetku tempo
hari?
Gadis itu sepertinya juga menyadari keberadaanku, lalu
memberikan salam kecil seraya berkata, "Ah, halo." Gadis SMA itu
memindahkan tas sekolahnya yang tadi diletakkan di kursi sebelah ke bagian
lantai.
"Apakah baru pulang sekolah?"
"Ya, meskipun ini masih libur musim semi, tapi ada
kegiatan klub."
Datang ke sekolah mengenakan seragam, berarti dia anak
klub bidang seni atau budaya, ya.
"Kalau boleh, silakan."
Apakah maksudnya menyuruhku duduk di sebelah kursinya?
Meskipun senyuman usil Ibu terasa menyebalkan, toh aku tidak punya alasan untuk
menolaknya.
Aku melangkah dan duduk di sebelah gadis SMA tersebut.
Jika dilihat dari jarak dekat begini, gadis ini
benar-benar luar biasa manis.
Terlebih lagi, dia memancarkan aroma harum yang
membuatku merasa pusing—eh, tidak-tidak, apa yang sedang kupikirkan ini?
Lawanku ini adalah seorang anak SMA. Merasa terpesona oleh gadis SMA, bukankah
itu berarti aku seorang lolicon?
"Tentang yang kemarin itu... terima kasih atas
dompetnya."
"T-Tidak apa-apa."
Suaranya begitu jernih, terdengar seperti kicauan
burung kecil.
"Karena ini rumah orang tuaku, biar kutraktir
ya. Kemarin aku belum sempat membalas budi."
"Jangan, tidak enak rasanya."
"Tidak apa-apa, santai saja."
"Tapi, aku juga punya kupon diskon..."
"Eh, apakah kamu sering datang ke sini?"
"...Ya, sekitar dua atau tiga kali seminggu."
Bukankah dia pelanggan tetap?
Ah, begitu rupanya. Aku
mengangguk paham dalam hati.
"Oh, jadi karena itulah kamu tahu rumahku di sini,
ya? Nama marga Aritsuki cuma ada satu di kota ini."
"Iya, maaf kalau dianggap lancang, tapi kemarin aku
sempat memeriksa SIM-mu."
"Lancang apanya, sama sekali tidak."
Jantungku seolah tertusuk saat dia mendongak menatapku
dari sudut pandang sedikit di bawah.
Imut, manis sekali gadis ini.
◇
Buka-an-nya!
Aduh, dia benar-benar lambat menangkap sinyal.
Bibi terus saja senyam-senyum melihat ke arah kami.
Enak banget dia cuman nonton sambil bertindak sebagai
penonton tak berkepentingan.
"Oh iya, kemarin aku belum sempat menanyakan namamu,
ya."
Kak Isamu tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu.
"Eh?"
N-Nah, bagaimana aku harus menanggapinya?
Nama.
Itu adalah satu-satunya hal yang tidak berubah meskipun
sepuluh tahun telah berlalu.
Sebuah simbol yang menghubungkan diriku yang sekarang
dengan diriku yang dulu sebagai si bocah nakal, sekaligus kesempatan emas untuk
mematahkan kesalahpahaman Kak Isamu.
Namun, jika aku menyebutkan nama asliku sendiri sekarang
setelah sampai sejauh ini, rasanya sangat menyebalkan di harga diri……
"Aku Isamu Aritsuki."
Aku sudah tahu kali.
"Um, kalau aku……"
Aduh, ekspresi Bibi sudah kelihatan seperti mau tertawa
lepas.
D-Dia benar-benar menantikannya.
Saat aku menyebutkan namaku dan Kak Isamu jatuh panik.
"Kalau aku, a—"
Rasa gugup dan euforia bercampur menjadi satu, membuat
suhu tubuhku naik drastis.
Kak Isamu mungkin hanya iseng menanyakan nama orang yang
telah menolongnya, tetapi jantungku berdegup kencang sampai aku bisa
mendengarnya sendiri.
Dasar laki-laki tidak peka.
Aku bisa melihat Paman dan Bibi juga mengintip ke arah
kami dengan cemas dari kejauhan. Yah, kalau Bibi sih kelihatannya cuma
menikmati tontonan gratis yang menghibur.
Aku tidak mau menggunakan nama palsu. Aku tidak mau
berbohong kepada Kak Isamu.
Tetapi demikian, memperkenalkan diri secara
terang-terangan juga terasa gengsi.
Apa yang harus kulakukan……?
Hari-hari penuh kenangan bersama Kak Isamu berkelebat di
dalam benakku bagaikan guliran film masa lalu.
Benar juga!
Kenangan-kenangan itulah yang membangkitkan kembali jiwa
usil masa kecilku.
"Itu rahasia."
Begitu aku mengatakannya, Kak Isamu menunjukkan ekspresi
tercengang seolah kehilangan kata-kata.
"Eh?"
Menghadap kembali kepadanya, aku tersenyum manis.
"Bolehkah aku memanggilmu Isamu-san?"
Sensasi ini, sudah lama sekali.
Sensasi masa lalu di mana aku bisa mempermainkan dan
membuat Kak Isamu kewalahan.
"Boleh saja, sih."
"Kalau begitu, Isamu-san. Mari kita buat sebuah
permainan kecil. Jika kamu berhasil menang, aku akan menuruti satu permintaan
apa pun darimu."
"Permintaan apa pun, eh? Game?"
"Ya. Tidak ada batas waktunya. Coba tebak
namaku."
◇
"Kesempatan menjawabnya adalah sekali sehari. Kalau
kamu berhasil menebak namaku dengan tepat, aku akan menuruti permintaan apa pun
darimu."
"Hah? Hah?"
Aku hanya menanyakan namanya, tapi kenapa malah berujung
pada pertarungan melawan seorang gadis SMA?
Maksudku, hei, tunggu dulu.
Kenapa jadi begini?
"K-Kalau misalnya, aku tidak bisa menebaknya?"
"Kalau begitu, kamu harus menerima hukuman. Nah,
silakan."
Meskipun disuruh "silakan", mana mungkin aku
bisa tahu nama seseorang yang baru saja kutemui.
Aku mengirimkan tatapan memohon pertolongan kepada Ibu.
Beliau balas menatapku dengan tangan menutupi mulut untuk menahan tawa.
"Tentu saja, tidak boleh bertanya secara diam-diam
kepada orang lain, ya."
"Ugh."
Mau tak mau, aku harus menebaknya secara ngasal.
"Kalau begitu……"
Ketegangan yang aneh menyelimuti seluruh ruangan kedai.
Sebenarnya apa tujuannya? Atau jangan-jangan dia hanya
tidak ingin memberitahu namaku saja?
"Madoka Senrenji, mungkin?"
"……"
"……"
"Salah."
"Sudah kuduga."
"Kalau begitu, waktunya hukuman."
Sambil berkata begitu, gadis SMA itu mengulurkan
tangannya ke arah pinggangku.
"!?"
Lalu dia mulai menggelitikiku dengan lembut.
"Pu, uhahahahaha."
Jari-jemarinya bergerak lincah menari-nari di area
ketiakku.
Sensasi geli yang membelai kulit serta rasa bersalah
karena sedang disentuh oleh seorang gadis SMA membuat tingkat kepekaanku
meningkat drastis—tunggu, aku ini sedang jadi orang mesum atau bagaimana?!
"Fu, fuhihihihi."
"Tahan ya. Ini adalah hukumannya."
Gadis SMA itu mendongak menatapku dengan ekspresi yang
seolah menahan senyum usil.
"Uuh, fuhahahahaha."
Setelah puas menggelitiku cukup lama, dia menunjukkan
ekspresi puas yang mendalam.
"Hah, aku jadi berkeringat karena terlalu banyak
menggelitikmu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi."
Meninggalkan kata-kata itu, gadis SMA tersebut melangkah
pergi meninggalkan kedai.
"Madoka Senrenji, Madoka Senrenji…… Pukukuku, selera
penamaan macam apa itu. Tidak banget."
Ibu menelungkupkan wajahnya di atas meja sambil
mengguncangkan bahunya menahan tawa.
"Bising banget. Karena dia kelihatan seperti anak
orang kaya terpandang, makanya aku mikir nama yang bernuansa seperti itu.
Lagian, aku sendiri juga bingung kok. Bu, Ibu tahu kan siapa anak itu?"
"Tahu sih, tapi kalau kami yang memberitahukannya,
itu namanya melanggar aturan."
Ada-ada saja.
Area ketiakku terasa panas. Tidak, seluruh tubuhku terasa
panas.
Bahkan setelah gadis itu pulang, rasa hangat yang
membakar di tubuhku tak kunjung mereda.
Tidak, tidak. Lawanku itu anak SMA. Perasaan
semacam ini jelas sebuah kejahatan.
Tapi……
"Anak itu adalah pelanggan tetap di sini, kan?"
"Betul. Siapa tahu besok dia datang lagi. Dari
pada itu, kamu tadi pergi ke Hello Work kan? Dapat tempat yang bagus?"
"Hm, ya. Masalahnya, semua tempat terlalu white
sampai-sampai aku bingung sendiri."
Aku duduk di kursi meja terdekat dan mengeluarkan
lembar lowongan dari dalam tas.
"Kamu tidak punya kriteria khusus gitu? Soal
gaji atau jam kerja, misalnya."
"Hmm, tidak ada permintaan khusus sih, tapi kalau
boleh milih, tempat yang setidaknya punya libur minimal sehari dalam seminggu,
tidak ada panggilan darurat di hari libur, bisa cuti dengan tenang, uang
lemburnya dibayar penuh, dan atasannya tidak melakukan kekerasan verbal maupun
fisik, rasanya itu sudah cukup bagus."
"Kamu ini, sebenarnya kerja di perusahaan model apa
sih dulu……"
Aku membandingkan lembar-lembar lowongan yang berjajar di
atas meja.
"Yah, ini kan hidupmu sendiri, jadi pikirkan
baik-baik. Aku mau istirahat sebentar ya."
Setelah berpamitan kepada Ayah, Ibu berniat melangkah
naik ke lantai dua.
"……!"
Tunggu dulu?
Jika dipikir-pikir kembali, tempat kerja paling white
sedunia bukanlah di luar sana, melainkan di Moon Night Terrace ini, bukan?
Karena lantai duanya adalah rumah kami sendiri, waktu
tempuh perjalanan praktis sama dengan nol, dan tidak ada jam lembur.
Karyawannya hanya anggota keluarga sendiri, jadi kecil
kemungkinan akan terjadi masalah hubungan interpersonal. Toko ini juga punya dua hari libur tetap dalam seminggu.
Umurku sudah hampir kepala tiga.
Daripada melamar masuk ke perusahaan antah berantah lewat
jalur tenaga kerja umum, meneruskan usaha keluarga mungkin adalah pilihan
terbaik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih stabil.
"Hei, Bu—"
Ibu menongolkan kepalanya dari arah tangga.
"Hm?"
"Ayah juga."
Ayah yang tadinya berada di balik konter ikut menoleh ke
arahku.
"Begini, aku akan meneruskan kedai ini."
2
Sejak saat itu, aku mulai bekerja di Moon Night Terrace
sebagai pegawai magang.
Meskipun aku memiliki sedikit pengalaman membantu di
kedai saat masih SMA layaknya pekerjaan paruh waktu sambilan, aku sama sekali
tidak punya pengalaman profesional di bidang industri pelayanan pelanggan.
Berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya di bidang
penjualan, melayani berbagai macam pelanggan memberikan kesegaran tersendiri
sekaligus tantangan yang luar biasa berat.
Karena karakteristik pelanggan dan tingkat kesibukan
berubah drastis tergantung pada jam operasionalnya, manajemen waktu menjadi hal
yang sangat krusial di sini.
Tetapi demikian, sebagai pekerja magang yang masih hijau,
tugas utamaku sebagian besar hanyalah pekerjaan serabutan.
"Isamu, tolong cuci piring-piring ini."
"Baik."
Aku membawa piring-piring kotor ke bak cuci dan mulai
mengerjakannya.
Meskipun begitu, yang terus berkecamuk di dalam
pikiranku adalah gadis sangat cantik kemarin.
Kenapa aku harus terseret ke dalam permainan tebak
nama yang aneh itu, sungguh di luar pemahamanku.
Menyuruh seseorang menebak nama orang yang baru saja
dikenal tanpa memberikan petunjuk apa pun, bukankah itu sama sekali tidak masuk
akal jika disebut sebagai sebuah game?
Dia bahkan tidak memberikan pilihan ganda atau
petunjuk yang mengarah pada namanya. Ditambah lagi ada bonus hukuman bagi pihak
yang salah menebak.
Lagi pula, untuk apa dia sengaja membuat permainan
seperti itu? Hal itu justru jauh lebih membuatku penasaran ketimbang namanya
sendiri.
Meskipun dia cukup baik untuk mengantarkan dompetku, tapi
dia bersikeras tidak mau memberitahu namanya.
Terlebih lagi, dia adalah pelanggan tetap kedai ini.
Hubungannya dengan kedua orang tuaku bahkan tampak sudah cukup akrab.
Bagaimana bisa ada situasi seperti itu?
Sambil menggerutu kesal di dalam hati, aku bekerja dengan
tekun sebagai pegawai magang di Moon Night Terrace.
Kumohon percayalah, ini sama sekali bukan karena aku
punya motif tersembunyi ingin memperbesar peluang bertemu dengannya dengan
bekerja di sini.
Apalagi didorong oleh niat mesum agar bisa menjadi akrab
dengan gadis itu, sama sekali bukan.
"Dengar ya, setelah selesai mencuci piring,
lanjutkan dengan membersihkan toilet. Jangan lupa mengisi ulang tisu toiletnya.
Setelah itu, sapu area depan kedai."
Ibu memberikan instruksi dengan sigap.
"Baiklah."
Entah saat aku sedang mencuci peralatan makan,
menyikat mangkuk toilet putih bersih menggunakan sikat, ataupun saat menyapu
halaman depan kedai dengan sapu ijuk, bayangan wajah gadis itu selalu terlintas
di sudut pikiranku.
Rambut cokelat panjang dengan sepasang mata yang
besar. Pipi yang mulus dan hidung yang mancung.
Bibir berwarna merah jambu lembut serta volume dada
yang membuatku sempat berpikir apakah dia menyembunyikan buah melon di balik
bajunya.
Kulit seputih sutra dipadu dengan suara yang hangat
dan menenangkan.
Dia jauh lebih imut berlipat-lipat kali ganda
ketimbang idol-idol papan atas.
Setiap kali memikirkan gadis cantik itu, entah kenapa
dadaku selalu terasa bergemuruh.
Jangan-jangan, aku telah jatuh cinta kepada gadis
yang usianya hampir terpaut satu dekade lebih muda dariku?
Memang benar gadis itu sangat cantik, dadanya besar
dan harum pula…… Tunggu, dasar bodoh!
Betapa mesumnya aku ini sebagai seorang pria dewasa.
Ah, hanya dengan mengayunkan sapu sambil memikirkan
hal-hal semacam ini saja jantungku sudah berdebar-debar tidak karuan……
"……"
Hm?
Berdebar?
Kenapa jantungku berdebar-debar?
Pada detik itu, aku menyadari bahwa di dalam emosiku
terhadap dirinya, terselip semacam perasaan tegang dan waspada. Tentu saja,
porsi rasa kagum dan sukanya tetap jauh lebih mendominasi.
Aku bahkan tidak bisa memahami perasaanku sendiri.
Kepalaku dipenuhi oleh deretan tanda tanya besar.
Setelah selesai membersihkan bagian luar, aku kembali
masuk ke dalam kedai. Waktu menunjukkan sedikit lewat pukul empat sore.
"Pekerjaanku sudah beres. Karena tidak ada
pelanggan, aku mau istirahat sejenak ya."
"Apa yang kamu bicarakan. Kalau sedang tidak ada
pelanggan, manfaatkan waktunya untuk belajar cara menyeduh kopi dari Ayahmu. Oh
ya, sebut mereka 'pelanggan', jangan 'tamu'."
Suara lonceng pintu bergemerincing ringan menandakan
pintu terbuka.
Aku mengarahkan pandangan ke arah pintu masuk.
Pandanganku langsung terpaku sepenuhnya ke satu titik
dalam sedetik.
Detak jantungku mendadak berpacu lebih cepat, dan suaraku
terdengar sedikit melengking.
"S-Selamat, datang."
Sore hari di musim semi yang hangat.
"Selamat sore, Isamu-san."
Gadis cantik yang selalu membuatku pusing itu kini
berdiri di sana.
"Tolong siapkan satu cangkir espresso
untuk meja teras di luar."
Ucapannya selesai, dia melangkah keluar dari pintu
menuju ke kursi teras.
"Nah, Isamu. Pesanannya apa?"
Ibu bertanya sambil tersenyum usil.
"Ah, iya, satu espresso."
Menempatkan cangkir espresso di atas nampan,
aku bergegas menghampiri gadis cantik yang sudah menunggu di meja teras.
"Maaf membuatmu menunggu. Ini espresso
pesananmu."
"Terima kasih banyak. Isamu-san sudah mulai bekerja
di sini, ya?"
"Ya, begitulah."
Gadis itu duduk di kursi teras yang menghadap ke jalanan
kota, menikmati cangkirnya sambil diterpa cahaya lembut matahari senja.
Sungguh pemandangan yang estetik. Jika saja momen ini
difoto lalu dijadikan sketsa, pasti akan tercipta sebuah lukisan mahakarya yang
diakui semua orang.
Gadis cantik itu mengalihkan pandangannya lurus kepadaku,
lalu tersimpuh senyum manis.
"Cuaca hari ini sangat cerah, ya. Terasa hangat dan sangat menyenangkan."
"Haha, benar juga ya."
"Kamu tidak perlu repot-repot menggunakan bahasa
formal begitu. Lagian usiaku lebih muda darimu."
"Ngomong-ngomong, soal yang kemarin kamu katakan
tentang menebak namamu... itu, kalau aku berhasil menebaknya, kamu akan...
menuruti apa pun kataku, kan?"
"Artinya benar-benar sesuai dengan kata-kata itu.
Silakan katakan apa pun yang ingin kamu suruh aku lakukan."
Sambil berujar demikian, gadis cantik itu bangkit berdiri
dan melangkah mendekatiku satu langkah.
Aroma manis dan lembut menggelitik rongga hidungku.
Aromanya begitu harum hingga membuatku merasa pusing dan
hampir kehilangan kesadaran.
"Eh, anu, tu—tunggu..."
Dia menempelkan jari telunjuknya ke dadaku, lalu berbisik
ringan.
"Mau aku lakukan apa pun, lho?"
◇
Fufu, dia penasaran, dia penasaran banget.
Meskipun agak malu, tapi melihat Kak Isamu panik seperti
itu membuatku sanggup menahannya.
Kapan dia bakal sadar ya, lalu bagaimana reaksinya saat
sadar nanti? Membayangkannya saja sudah bikin berdebar antusias.
"Oh iya, hari ini ada sesuatu yang ingin kutunjukkan
kepadamu."
Aku kembali ke kursi, lalu mengeluarkan sebuah benda dari
dalam tas.
Mempermainkan si cowok tak peka ini memang menyenangkan
sih, tapi bagaimanapun juga tujuan utamaku adalah membuatnya menyadari
identitasku yang sebenarnya.
Akan tetapi, aku sudah sangat tahu betapa lemotnya pria
bernama Isamu Aritsuki ini sejak kami masih kecil.
Maka dari itu, aku harus memberikan sinyal sedikit demi
sedikit dari sisiku dan memberinya petunjuk.
"Apa itu?"
Kak Isamu mengintip ke arah tanganku.
"Belakangan ini aku sedang keranjingan
ramalan."
Yang kukeluarkan adalah sebuah buku ramalan zodiak yang
kelihatan sangat mencurigakan.
Wajah seorang spiritual talent nostalgia menghiasi
sampulnya, ditandai dengan kata-kata yang tampak sangat meragukan seperti
'Takdir' dan 'Misteri'.
Meskipun aku sendiri adalah tipe orang yang hanya percaya
setengah-setengah pada hal seperti ramalan, tapi buku zodiak ini seharusnya
bisa menjadi senjata ampuh melawan Kak Isamu. Mengapa? Karena—
"Isamu-san, kapan ulang tahunmu?"
"Ulang tahun? Tanggal dua Oktober, sih."
"Kalau begitu kamu Libra, ya. Sekadar informasi, aku
lahir tanggal dua puluh lima Juni, jadi zodiakku Cancer."
Bagus!
Secara alami aku berhasil mengalihkan topik ke hari ulang
tahun dan menginfokan tanggal lahirku kepada Kak Isamu.
Ini terlihat seperti hal sepele, tetapi sebenarnya
merupakan petunjuk yang sangat agresif.
Aku masih ingat betul, sewaktu masih kecil dulu, Kak
Isamu selalu merayakan ulang tahunku setiap tahun sampai dia pergi ke Tokyo. Orang tidak akan dengan mudah bertemu dengan seseorang yang tanggal
lahirnya persis sama, kan?
Rumus bahwa 25 Juni = ulang tahun si bocah nakal
Haruyama Miyo seharusnya sudah tertanam di dalam otak Kak Isamu. Apakah ini
akan membuatnya langsung sadar?
Aku mengamati reaksi Kak Isamu.
"Hee, begitu ya."
Respon yang sangat tipis!
Reaksi dingin macam apa itu?!
Wajahnya seolah menyorotkan tulisan 'mana mungkin aku
percaya hal kekanak-kanakan seperti ramalan'.
Aduh, sadar dong!
Waktu aku kelas satu SD, kamu kan yang ngasih jepit
rambut bentuk hati ke aku?
Sampai sekarang masih kusimpan baik-baik, tahu!
Apa perlu besok kupakai di depanmu sekalian?!
Gununu.
Sudah kuduga, dia adalah lawan yang cukup tangguh. Aku
sekali lagi menyadari betapa parahnya ketidakpekaan pria bernama Isamu Aritsuki
ini.
◇
Entah kenapa, gadis cantik itu mendadak menatapku dengan
tajam.
Ada apa, ya? Apakah raut wajahku terang-terangan
menunjukkan pikiran 'mana mungkin aku percaya hal kekanak-kanakan seperti
ramalan'?
Gawat, sebelum dia benar-benar marah, aku harus
berpura-pura tertarik pada ramalan itu.
"O-Oh, bukunya kelihatan menarik ya, coba dong aku
lihat~ (nada datar)"
"Silakan."
"A-Ah, sepertinya ada halaman ramalan kecocokan
juga~"
Aku berkata sambil membuka bagian daftar isi.
"Coba kita lihat ah~ cuma bercanda sih..."
"Boleh juga tuh."
Sepertinya suasananya sudah kembali membaik. Aku pun
bergegas membalik halaman demi halaman.
Paling-paling isinya cuma tulisan mengambang yang sering
ada di buku-buku model begini. Nah, bagaimana kecocokan antara Libra dan
Cancer...
'Tingkat kecocokan antara anak laki-laki Libra dan anak
perempuan Cancer adalah sembilan puluh persen!'
"Yang benar saja?!"
"Hee... hehe."
'Benar-benar pasangan yang dicintai oleh Tuhan. Semua
jenis kecocokan terasa sangat luar biasa cocok! Tidak ada lagi yang bisa
menghalangi jalan kalian berdua. Jika pun ada, itu adalah hal yang sudah kalian
lalui bersama sebelum kalian bersatu. Dengan kata lain, kalian berdua bisa
terikat dengan sangat dalam dengan cara melewati rintangan besar bersama-sama!'
Tuh kan, ujung-ujungnya cuma tulisan abstrak mengambang
yang tertulis di sana. Namun, mendapat kecocokan sembilan puluh persen dengan
gadis secantik ini rasanya tidak buruk juga. Malah
terasa menyenangkan. Tidak, bukan berarti aku seorang lolicon, ya.
"Ehehe, katanya sembilan puluh persen, lho."
Pihak sebelah juga tampak tidak keberatan sama sekali
dengan hasil itu.
Namun, kalau bicara soal rintangan, hal itu pasti merujuk
pada nama gadis ini, kan?
Ya, itu benar-benar sebuah rintangan.
Nama adalah data pribadi paling krusial untuk
mengenal dirinya sebagai seorang individu. Tanpa
mengetahui hal itu, mana mungkin hubungan kami bisa berkembang.
Setelah menghabiskan espresso-nya, gadis cantik
itu berujar.
"Nah, kalau begitu mari kita dengar jawabanmu untuk
hari ini."
"Ah, uumm..."
Pada tahap ini, aku bahkan belum memiliki bahan sedikit
pun untuk melakukan deduksi.
Pada akhirnya aku cuma bisa menjawab asal-asalan lagi,
ya.
"Anu... Reiko Kotomori, mungkin?"
"Salah."
"Pasti, lah."
"Kalau begitu, waktunya hukuman."
Sambil berkata demikian, dia merogoh tasnya. Benda yang
dikeluarkannya adalah sebuah spidol marker.
"Eh? Jangan-jangan...?"
"Tenang saja, ini spidol berbasis air kok."
Sambil menahan tawa, gadis cantik itu menggoreskan
spidolnya dengan lincah.
Ah, tanpa perlu melihat cermin pun, dari sensasi yang
merambat di kulit aku sudah tahu apa yang sedang dia tulis.
"Tolong sampaikan kepada Paman dan Bibi kalau
makanannya sangat lezat. Kalau begitu, sampai jumpa."
Dengan cara itulah, setelah menerima gelar 'Daging' di
dahi dan uang pembayaran espresso, aku kembali ke dalam kedai.
3
"Fuhihi."
Aku berbaring terlentang di atas tempat tidur sambil
mengangkat buku ramalan zodiak.
"Ehehe~"
Entah sudah berapa lama aku memandangi halaman yang
lipatannya sudah sangat kentara itu. Aku sama sekali tidak merasa bosan.
'Tingkat kecocokan antara anak laki-laki Libra dan anak
perempuan Cancer adalah sembilan puluh persen!'
'Benar-benar pasangan yang dicintai oleh Tuhan'
"Fuhe, ehehehehe."
Meskipun di dalam otakku tahu betul bahwa buku ramalan
yang diterbitkan oleh spiritual talent yang sudah redup kepopulerannya
ini sama sekali tidak memiliki kredibilitas, tetapi saat memandangi deretan
kata di sana, senyuman di wajahku tetap saja tidak bisa ditahan.
Kak Isamu juga kelihatan gugup dan salah tingkah kemarin,
jadi hasilnya all right, kan?
Walaupun aku sempat merasa sedikit kesal dan sedih karena
dia tidak menyadari identitasku padahal aku sudah memberitahukan tanggal
lahirku.
Namun, manusia itu memang makhluk yang aneh.
Hanya dengan melihat hasil ramalan yang jelas-jelas
bohong ini saja, perasaan negatif semacam itu langsung sirna begitu saja.
Begitu ya, sekarang aku bisa sedikit memahami psikologi
anak perempuan yang keranjingan ramalan.
"—eh."
Hanya saja, ini bukanlah garis akhir. Seperti yang
tertulis di ramalan ini, hubungan kami berdua tidak akan pernah berkembang jika
rintangan itu belum teratasi.
"—hoi."
Bagaimana caranya agar dia sadar, ya? Padahal menurutku
umpan kali ini sudah cukup agresif, tapi si cowok tak peka itu masih saja belum
sadar juga.
Namun, kalau aku memberikan petunjuk yang terlalu
kentara, nanti aku dikira sangat kebelet—meskipun kenyataannya memang begitu
sih—jadi aku harus menyusun strategi yang lebih cerdik lagi.
"Kakak!"
"Hya!"
Bukunya langsung ditarik paksa, dan sebagai gantinya,
wajah adikku yang sedang membusungkan pipinya karena kesal masuk ke dalam jarak
pandangku.
"Ah, Misora, ada apa?"
Misora Haruyama. Dia adalah adik perempuanku, seorang
anak berusia sembilan tahun yang selisih sembilan tahun denganku. Rambut
cokelat panjangnya diikat low-twin, dipadukan dengan kaus yang agak
kebesaran dan celana pendek.
"Pakai tanyakan ada apa segala! Ini sudah waktunya
makan malam, tahu. Padahal dari tadi sudah kupanggil berkali-kali. Tapi Kakak
malah bikin muka aneh dan sama sekali tidak mendengarkanku."
"M-Muka aneh katamu..."
"Cepat turun, nanti Mama marah lho."
"I-Iya, aku paham. Sini, kembalikan bukunya."
Misora merebut buku itu lalu membalik-balik halamannya
dengan acak.
"Kakak kan tidak pernah punya pacar, membaca buku
seperti ini memangnya ada gunanya?"
"Mugh."
Anak kecil itu sungguh menakutkan karena selalu bicara
tanpa disaring. Kata-katanya selalu menusuk tepat di poin yang paling
menyakitkan.
Lagipula aku bukannya kebelet ingin punya pacar, kok.
Cuma gara-gara di sekitarku memang tidak ada cowok yang
bisa kusukai saja.
Dan sekarang keadaannya sudah berbeda.
"I-Itu bukan sesuatu yang boleh dibaca oleh anak
kecil. Cepat kembalikan."
"Buku begini sih anak kecil juga tidak akan
percaya."
D-Dasar bocah nakal ini.
Padahal dulu dia sangat imut dan selalu menempel padaku
sambil memanggil 'Kakak, Kakak', tapi belakangan ini dia malah suka membangkang
dan selalu mengajak adu argumen.
"Sudahlah, daripada memikirkan itu, makan malam
sudah siap."
Setelah menutup buku itu dan melemparnya asal ke atas
tempat tidur, Misora pun berlari pergi dengan langkah kaki berderap.
"Aduh. Dasar, Misora ini ada-ada saja."
Sehabis makan, saat aku kembali ke kamar, lampu
notifikasi di ponselku tampak berkedip. Begitu kuperiksa, ternyata ada pesan
LINE yang masuk.
"Dari siapa, ya?"
Aku merebahkan diri di atas tempat tidur lalu membuka
aplikasi LINE. Nama yang sangat kukenal terpampang di layar.
'Apa benar Kak Isamu sudah pulang?'
Rupanya dia membalas pesan yang kukirimkan tadi tentang
laporan bahwa Kak Isamu sudah kembali ke kampung halaman.
Aku pun mengetik balasan.
'Beneran, kok.'
Statusnya langsung berubah menjadi dibaca.
'Yang benar? Kalau begitu besok aku mau ke sana ah.'
Besok?
'Tunggu sebentar!'
Setelah mengirimkan pesan itu, aku langsung
meneleponnya dengan panik. Pergi ke sana sih boleh-boleh saja, tapi informasi
tentang diriku harus benar-benar ditutup rapat. Kalau dia sampai keceplosan
bilang 'Aku dengar dari Miyo, lho~', semuanya bisa berantakan total!
"Halo? Mahiru?"




Post a Comment