NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Interlude IV

Kenangan Bersama "Bocah Nakal" Part 4 


Tuanku adalah Bocah Nakal

1

"Ayo, Pochi. Salaman."

"G-Guk."

Aku, yang kini dipanggil Pochi, meletakkan kepalan tanganku di atas telapak tangan kecil Asaka yang terulur.

"Anak pintar, anak pintar."

Sambil mengatakan itu, Asaka mengelus kepalaku dengan gemas.

"Selanjutnya, duduk."

"...Guk."

Aku pun duduk di tempat.

"Salaman."

"...Guk."

Aku kembali meletakkan kepalan tanganku di atas telapak tangan kecil Asaka.




"Pochi pintar, ya."

Pastinya tidak ada manusia di dunia ini yang senang diperlakukan seperti anjing oleh gadis yang sepuluh tahun lebih muda darinya. Jika ada orang seperti itu, dia pastilah pria mesum yang sangat keterlaluan.

"Hahaha, Asaka. Bermainlah dengannya menggunakan ini. Anjing 'kan sangat suka bermain bola."

Miya menyodorkan sebuah bola karet.

"Baik, Ayah. Baiklah, ini dia, Pochi. Eiya!"

Asaka melemparkan bola karet itu dengan postur tubuh yang canggung. Bola karet itu pun memantul ke sana kemari di dalam kamarku yang sempit.

"Ayo, Pochi. Ambil bolanya!"

Aku memungut bola karet itu sambil merangkak. Setelah itu, aku kembali ke hadapan bocah nakal yang menjadi tuanku ini.

"Pintar sekali, anak pintar."

"..."

Betapa memalukannya hal ini.

Sungguh sebuah penghinaan.

Kenapa bisa jadi begini, tentu saja ada alasan mendalam di baliknya.

 

2

"Yuu-nii, hari ini kita akan bermain rumah-rumahan, loh."

Di suatu hari yang cerah pada awal bulan Agustus. Miya mengatakan hal itu segera setelah mereka datang ke kamarku.

"Rumah-rumahan?"

Ketiga bocah nakal itu datang sambil membawa barang bawaan yang besar. Saat kulihat, ternyata itu adalah set mainan rumah-rumahan.

Peralatan makan, bahan makanan, dan alat masak yang terbuat dari plastik dijejerkan di sudut kamarku.

Pemandangan ini entah kenapa terasa bernostalgia. Dulu saat masih TK, aku juga sering bermain dengan benda-benda seperti ini.

Benar juga, mainan ini direkatkan dengan perekat velcro sehingga kita bisa berpura-pura memotongnya.

"Ada apa ini, apa aku yang jadi ayahnya?"

"Bukan, loh," ucap Mahiru.

"Kalau begitu, aku jadi anak laki-lakinya?"

"Kamu jadi anjing peliharaannya."

"Jangan bercanda."

"Kami juga sudah membawa perlengkapan khusus untuk itu, loh."

Miya mengeluarkan sebuah bando telinga anjing dan kerah leher sabuk berwarna merah cerah.

"Tunggu sebentar, Miya. Apa-apaan itu. Dari mana kamu membawa barang seperti itu?"

"Eh? Dari dalam lema— di kamar Ayah dan Ibu..."

"Tidak, sudah. Kamu tidak perlu melanjutkannya lagi. Pokoknya, aku jadi makin tidak mau memerankan anjing."

"Kalau begitu, bagaimana kalau yang kalah suit saja yang jadi anjing?"

Usul Asaka.

"Mau bagaimana lagi, kami akan menuruti keegoisan Yuu-nii, deh."

Padahal sejauh ini tidak ada satu pun keinginanku yang dihormati. Namun, kalau aku bisa menghindari peran anjing, aku akan menerimanya saja.

"Jan, ken, pon!" seru kami berempat secara bersamaan.

Tiga orang mengeluarkan batu, sedangkan satu orang mengeluarkan gunting.

"Ah, aku kalah."

Hasilnya, Asaka menjadi satu-satunya yang kalah. Astaga, padahal dengan begini aku sudah berhasil menghindari peran anjing.

"Nah, kalau begitu, ini untukmu, Asaka."

Miya menyodorkan bando telinga anjing dan kerah leher itu kepada Asaka.

"Uuuh."

Asaka memakai bando telinga anjing itu dengan enggan.

Tunggu dulu?

Anak perempuan kelas satu SD memakai telinga anjing dan kerah leher? Bukankah itu akan menjadi pemandangan yang sangat tidak senonoh?

"Cocok, kok," puji Mahiru.

"Ehehe."

Asaka yang memakai telinga anjing. Telinga berbulu lebat itu menjadi aksen yang manis di atas rambut hitamnya yang berkilau.

Yah, memang terlihat imut, sih.

Kemudian, ia pun mulai mengulurkan tangan untuk memakai kerah leher.

"..."

Meskipun memakai telinga anjing masih bisa ditoleransi, kerah leher tetap saja gawat. Di zaman sekarang ini, hal itu benar-benar sangat gawat.

Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!

"Tunggu. A-Aku rasa aku ingin memainkan peran anjing, deh."

"Ada apa, Yuu-nii? Apa kamu sebegitunya ingin menjadi anjing kami?"

Jangan menggunakan ungkapan yang menyebalkan begitu.

"Tapi, Asaka 'kan lebih imut."

"Bukan begitu, aku ini sangat menyukai anjing. Sampai-sampai cita-citaku di masa depan adalah menjadi seekor anjing."

"Kalau kamu sudah bilang begitu, Asaka, maukah kamu bertukar peran dengannya?"

Mendengar pertanyaan Miya, Asaka pun melepaskan bando telinga anjingnya sambil berkata, "Mau bagaimana lagi, ya."

Begitulah ceritanya, aku pun menjadi anjing peliharaan para bocah nakal ini.

 

3

"Baiklah, Pochi. Selanjutnya, duduk memohon."

"Guk."

"Aku pulang, hahaha."

"Selamat datang, Ayah. Mau makan dulu? Atau mau mandi dulu?"

Omong-omong, dalam permainan rumah-rumahan ini Miya berperan sebagai ayah, Mahiru sebagai ibu, dan Asaka sebagai anak.

"Haha, kalau begitu aku makan dulu, deh. Masakan Ibu 'kan sangat lezat."

"Ayah ini, bisa saja. Nah, ini makanannya."

Mahiru menyodorkan masakannya. Di atas piring itu terdapat lobak dan stroberi.

"Ini adalah semur lobak dan stroberi."

"Haha, kelihatannya enak sekali."

"Kombinasi macam apa itu?"

"Hei, anjing tidak boleh berbicara, loh!"

Tegur Asaka dengan tegas.

"...Guk."

"Ibu, bolehkah aku memberi makan Pochi juga?"

"Ya ampun, Pochi sudah lapar juga, ya. Tapi belum boleh, loh? Tunggu."

Mahiru mengarahkan telapak tangannya dan memberikan perintah.

"Tunggu."

"Guk."

Aku dibiarkan terlantar dalam posisi duduk. Di sebelahku, para bocah nakal itu melanjutkan permainan rumah-rumahan mereka yang kacau.

"Nah, sepertinya ini sudah waktunya mandi. Haha."

"Ah, Ayah, apa ini? Ayah berselingkuh, ya?"

Mahiru memegang kartu yang terbuat dari kertas lipat berwarna merah muda dan mendesak Miya.

"Bukan begitu. Aku diajak oleh direktur perusahaan."

"Jadi, Ayah berselingkuh, ya!"

Kalian semua ini, apa kalian mengerti makna dari apa yang kalian perankan?

"Araa, apa kamu istrinya?"

Asaka muncul dengan memerankan karakter seperti wanita simpanan. Tunggu, bukannya tadi kamu berperan sebagai anak?

"Orang ini adalah milikku."

"Kita cerai saja."

"Tunggu dulu!"

Setelah itu, mereka bertiga keluar ke balkon melalui jendela.

"Itu tidak benar, orang yang kucintai hanyalah dirimu seorang!"

Aku yang ditinggalkan sendirian hanya bisa diam dan terus melakukan perintah 'tunggu'.

Di balkon, Miya dan Mahiru saling berpelukan sementara Asaka berpura-pura menangis. Drama penuh intrik itu pun terus berlanjut.

Pada saat itu, pintu kamarku terbuka dan Ibu pun masuk.

"Nah, anak-anak, ada camilan, ayo turun—Yuu?"

"Hah?"

Wajah Ibu memucat dan tubuhnya pun menegang.

"K-Kamu, apa yang... T-Tidak, tidak apa-apa. Ibu bukannya mau menyangkal hobi anehmu itu, kok."

"A-Apa yang Ibu katakan... Hah!"

Aku pun tersadar dengan keadaanku saat ini sebagai anjing peliharaan para bocah nakal itu. Aku buru-buru berdiri, lalu melepaskan bando telinga anjing dan kerah leherku.

"Ibu salah paham, ini..."

"Nanti, kita bicarakan ini baik-baik bersama Ayah, ya. Tapi, melakukan hal semacam itu bersama anak kecil... Tidak boleh, ya?"

"Bukan begitu! Ini cuma bagian dari permainan rumah-rumahan. Woi, cepat kalian semua kembali dan jelaskan pada Ibu!"

"Ada apa, sih?"

"Ah, kenapa perlengkapan anjingnya dilepas?"

"Padahal Yuu-nii sendiri yang bilang kalau dia mau jadi anjing."

Seru Asaka.

"Dirinya sendiri?"

Wajah Ibu semakin berkerut.

"Bukan begitu, ada banyak alasan di balik ini semua! Hei, tunggu dulu, Ibu. Dengarkan penjelasanku!"

Setelah itu, aku berhasil menjelaskan semuanya dan masalah ini pun selesai. Namun, aku bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah lagi memerankan anjing dalam permainan rumah-rumahan.

 

Bocah Nakal Yang Sangat Ingin Tahu

1

Bulan Agustus sudah hampir memasuki pertengahan.

Ketiga bocah nakal itu diam-diam mengerjakan pekerjaan rumah mereka sambil membentangkan buku "Teman Liburan Musim Panas" di atas meja. Aku berperan seperti guru les privat yang akan mengajari mereka jika ada bagian yang tidak dimengerti atau membuat mereka kesulitan.

"Hei, apa kalian berdua sudah mengerjakan tugas penelitian bebas?"

Ucap Asaka dengan ragu-ragu saat keadaan mulai sedikit tenang.

"Aku mau membuat buku harian observasi kumbang badak, loh."

Ucap Miya dengan penuh percaya diri. Anak ini benar-benar sangat menyukai kumbang badak, ya.

"Hee, hebat, ya. Kalau Mahiru?"

"Aku sudah mencari tahu dan merangkum sejarah game di Jepang."

"Hee~"

"Katanya, waktu paman-paman itu masih kecil, mereka bermain game yang tidak ada layar sentuhnya, loh."

"Ada apa ini, apa anak SD zaman sekarang sudah ada tugas penelitian bebas sejak kelas satu?"

"Apa Yuu-nii dulu tidak mengerjakannya?" tanya Miya.

"Zamanku dulu sejak kelas tiga... eh, kelas empat, ya?"

Ingatanku agak samar. Namun, sepertinya memang sejak saat itu.

"Hmm."

"Penelitian bebas itu sebaiknya mengerjakan apa, ya."

Asaka bergumam entah kepada siapa.

"Kamu tinggal mencari tahu hal-hal yang membuatmu penasaran atau merasa aneh, Asaka. Mencari tahu hal-hal semacam itu sendirilah yang membuatnya jadi bermakna."

"Sesekali Yuu-nii bisa mengatakan hal yang bagus juga, ya."

Ucap Mahiru dengan gaya sok hebat.

"Apa maksudmu dengan 'sesekali'? Pokoknya, coba sebutkan hal-hal seperti itu."

"Hal yang membuatku penasaran atau merasa aneh..."

Asaka memegangi kepalanya dengan raut wajah bingung. Aku mengulurkan tangan mengambil gelas berisi teh barley.

"Kenapa manusia melakukan hal-hal yang jahat, ya."

"...Itu sih pertanyaan filosofis yang tidak akan pernah ada habisnya. Bukan yang seperti itu, tapi yang lebih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari."

"Hmm, kalau begitu, kenapa langit berwarna biru, ya."

"Oh, itu ide yang bagus. Hal semacam itu saja."

"Kenapa air mendidih pada suhu 100°C, ya."

"Iya, iya, yang seperti itu."

"Bagaimana caranya bayi bisa dibuat, ya."

"Pffft!"

Aku menyemburkan teh barley yang ada di dalam mulutku.

"Uwa, Yuu-nii. Jangan menyemburkan tehnya begitu, dong! Miya, tolong ambilkan handuk."

"Ini dia."

"Ada apa, Kak?"

Asaka menatapku dengan raut wajah kebingungan. Matanya terlihat begitu jernih dan murni tanpa cela.

"I-Itu adalah hal yang tidak perlu kamu ketahui!"

"Kenapa begitu? Aku jadi penasaran."

"Benar juga, aku juga tidak tahu. Meski aku tahu kalau cerita tentang burung bangau yang mengantar bayi itu cuma bohong belaka."

"Bukankah cukup dengan berciuman saja? Ciuman, loh."

Miya memanyunkan bibirnya.

"Bukan begitu, woi."

"Ada apa? Apa Yuu-nii tahu tentang hal itu?"

Mahiru menatap tajam ke arahku dengan pandangan curiga.

"T-Tidak, aku tidak tahu, kok! Daripada itu, bukankah topik tentang langit yang tadi sudah bagus? Aku juga penasaran dengan hal itu. Padahal luar angkasa itu hitam pekat, sungguh aneh, ya."

"Benar juga, ya. Hmm, kenapa bisa begitu, ya."

"Aku juga jadi penasaran dengan hal itu."

Bagus, topiknya berhasil dialihkan.

Para bocah nakal ini memang terkadang bersikap terlalu dewasa di saat yang aneh, sih. Sebelumnya saja mereka sudah memainkan drama rumah-rumahan yang penuh intrik...

Lebih baik aku segera mengarahkan mereka sebelum pikiran mereka berubah lagi.

"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita langsung pergi ke perpustakaan saja untuk mencari tahu?"

"Ooo!"

 

2

Di salah satu sudut perpustakaan kota, tepatnya di area anak-anak. Rak-rak buku setinggi pinggang berjajar sejajar dalam beberapa barisan.

Tempat itu dipenuhi oleh anak-anak mulai dari balita hingga siswa kelas atas SD beserta para wali mereka. Ruangan itu terasa sangat nyaman karena pendingin ruangan menyala dengan suhu yang pas serta pencahayaan yang tidak terlalu terang.

Asaka mengambil beberapa buku dari sudut sains untuk anak-anak, lalu mulai mencari tahu dengan raut wajah yang serius. Di sebelahnya, Miya dan Mahiru sedang membaca buku anak-anak dalam diam.

Katanya buku ini untuk tugas menulis esai ulasan. Suara lembaran kertas yang dibalik dan derap langkah kaki menggema di dalam ruangan yang luas itu.

Terkadang hanya terdengar suara bisikan yang pelan agar tidak mengganggu orang-orang di sekitar. Syukurlah, sepertinya para bocah nakal ini pun tidak berniat membuat keributan di tempat seperti ini.

"Bagaimana, apa kamu sudah memahaminya?"

"Hmm."

Asaka memiringkan kepalanya. Apa topik ini terlalu sulit untuk anak kelas satu SD?

"Cahaya matahari itu ada banyak, tapi semuanya punya warna yang berbeda-beda, dan cahaya biru itu lebih mudah menyebar...?"

"Kenapa bisa lebih mudah menyebar?"

"Eto, ada sesuatu yang namanya 'gelombang', dan gelombang yang pendek itu, karena di udara ada banyak sekali debu, jadi lebih mudah menabraknya... Terus, karena cahaya biru itu gelombangnya pendek... kalau menabrak debu, cahayanya akan menyebar. Karena banyak cahaya biru yang menyebar, langit pun terlihat berwarna biru... begitulah katanya."

"Hebat sekali. Setelah ini kamu hanya perlu merangkumnya dengan baik agar mudah dipahami."

"Ehehe."

Sebenarnya aku juga baru mengetahui hal itu hari ini, tapi itu rahasia. Asaka pun mulai menyalin dengan rajin isi yang telah ia pelajari ke dalam buku catatannya.

Nah, mumpung sedang berada di perpustakaan. Aku juga akan membaca buku, deh.

Sebenarnya aku tidak membenci aktivitas membaca, malah bisa dibilang aku lumayan menyukainya. Genre favoritku adalah fantasi dan novel petualangan, tapi belakangan ini aku mulai ketagihan membaca novel misteri.

Di antara semuanya, aku paling menyukai novel misteri otentik yang lebih menitikberatkan pada pemecahan teka-teki. Saat aku kembali ke meja setelah memilih buku, ternyata hanya ada Asaka sendirian di sana.

"Apa kamu bisa mengerjakan sisanya sendirian?"

"Bisa."

Baguslah, kalau begitu mari kita mulai membaca tanpa perlu memikirkan hal lain.

Sebuah rumah tua yang usang. Sebuah klan yang berlumuran darah.

Seorang gadis cantik yang penuh misteri. Ditambah lagi dengan misteri keluarga dan tema ruang tertutup.

Hmm, ini benar-benar latar cerita yang menarik dan sangat sesuai dengan seleraku. Beberapa saat kemudian, Asaka bersorak kecil kegirangan.

"Huft, sudah selesai."

Hampir bersamaan dengan itu, Mahiru kembali menghampiri kami.

"Asaka, lihatlah ini. Aku menemukan sesuatu yang bagus, loh."

"Waah."

Sepertinya dia menemukan semacam buku yang menarik. Tolong jangan membuat keributan, ya.

Sekarang ceritanya sedang berada di bagian yang sangat bagus, nih. Ah, bagian ini sepertinya adalah sebuah pertanda...

―Baru saja aku berpikir begitu, kali ini giliran Miya yang kembali.

"Oi, mereka sedang memutar film di lantai dua, loh!" teriaknya.

"Miya, tenanglah sedikit."

Pustakawan di sana sedang memelototimu, tuh.

"Eh, apa?"

"Film?"

Mahiru dan Asaka berdiri dari tempat duduk mereka.

"Yuu-nii, bolehkah kami pergi ke sana?"

"Tetaplah tenang di sana, ya."

Rupanya sedang ada acara pemutaran film. Yah, anak-anak memang lebih mudah tertarik pada tayangan visual daripada tulisan.

Ya sudahlah. Berkat kepergian anak-anak berisik itu, aku jadi bisa berkonsentrasi membaca.

Meski begitu, makin lama aku membaca karya ini, ceritanya makin tepat menusuk ke dalam titik seleraku.

◇

"Fuh."

Ini benar-benar sebuah karya yang luar biasa.

Logika yang disusun sedikit demi sedikit berhasil membongkar trik yang ada, lalu memunculkan sang pelaku secara logis. Di saat yang sama, rahasia memilukan dari keluarga itu juga terungkap, lalu berlanjut pada akhir cerita yang sangat menyentuh hati.

Ceritanya terlalu menarik sampai-sampai aku benar-benar larut ke dalamnya. Mahakarya itu pastilah merujuk pada karya seperti ini.

Tapi, siapa sangka kalimat yang itu ternyata adalah pertanda... Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang?

Saat kulihat jam tanganku, ternyata sudah pukul empat sore. Dua jam telah berlalu begitu saja.

Sepertinya aku terlalu fokus sampai tidak memedulikan keadaan di sekitarku sama sekali. Anak-anak itu juga pasti akan segera kembali.

Saat aku mengalihkan kesadaranku pada sekeliling, entah kenapa aku merasakan tatapan penuh rasa ingin tahu dari para wanita yang menjadi wali di sana. Mereka tampak saling berbisik membicarakan sesuatu...

Apa karena aku sendirian berada di area anak-anak ini? Tapi jika memang begitu, suasananya terasa agak aneh, sih.

Sambil merasa keheranan, aku pun tiba-tiba menurunkan pandanganku ke arah meja. Sepertinya anak-anak itu pergi tanpa membereskan buku yang mereka bawa, tapi buku apa sebenarnya yang...

"Dari Manakah Bayi Berasal?"

"Pendidikan Seksual Melalui Manga"

"Rahasia Ibu"

"A-Apa..."

B-Bocah-bocah nakal sialan itu... Buku macam apa yang...

Tidak, tunggu dulu. Reaksi orang-orang di sekitar ini...

Jangan-jangan, orang lain di sini mengira kalau akulah yang meminjam buku-buku itu...

"A-A-Anak-anak nakal sialan!"

Terdengar seruan marah yang melayang ke arah punggungku saat aku berlari menaiki tangga menuju lantai dua.

"Harap tenang di dalam perpustakaan!"

 

Bocah Nakal Ingin Membangunkan

1

―Pukul tiga dini hari.

"Uwooooonn, hiks, syukurlah. Kalian berdua masih bisa bertemu... ugh, hiks. Syukurlah."

Aku menangis tersedu-sedu. Entah sudah berapa tahun lamanya sejak perasaanku terguncang hingga menangis sungguhan seperti ini.

Hal yang menghancurkan bendungan air mataku adalah sebuah novel misteri.

Gadis tokoh utama itu dibuang oleh ibunya, menjalani kehidupan malang di rumah kerabatnya. Suatu ketika, dia diselamatkan oleh ayah kandung yang tak pernah ia kenal wajahnya, lalu dibawa untuk tinggal di sebuah rumah mewah.

Kehidupannya berbalik menjadi seorang nona besar. Melalui pertemuannya dengan adik tiri beda ibu, ia tumbuh secara emosional dan memupuk ikatan di antara mereka.

Namun, akibat intrik licik orang-orang dewasa di sekitarnya, ikatan keduanya pun terkoyak.

Beberapa tahun berlalu sejak saat itu. Sebuah kasus pembunuhan terjadi di kediaman tempat gadis itu diadopsi.

Rahasia yang tersembunyi, pembunuhan di masa lalu, dan buku harian misterius. Serta sebuah mayat yang baru saja digali.

Setelah berbagai perkembangan cerita yang mengejutkan, sang detektif mengandalkan petunjuk logika. Kebenaran yang akhirnya dia capai sungguh di luar dugaan.

Foreshadowing yang ditebar dengan cerdik serta pembangunan suasana misteri mansionnya memang luar biasa. Namun lebih dari itu, novel ini memiliki elemen 'drama penguras air mata' yang sangat kuat.

Siapa sangka novel misteri tentang pembunuhan, hubungan manusia yang keruh, dan saling dendam ini bisa memberikan kesan akhir yang begitu menyegarkan. Ini benar-benar mahakarya yang luar biasa.

Buku ini kupinjam saat perjalanan pulang dari perpustakaan bersama bocah-bocah nakal itu siang tadi. Niat awalnya hanya ingin membaca bagian prolog sedikit sebelum tidur.

Namun tanpa sadar, aku malah membacanya sampai habis dalam sekali duduk.

Ini sudah jam tiga pagi, kan. Sebaiknya aku segera tidur.

Aku menyeka air mataku, lalu membaringkan tubuh di atas kasur.

"..."

Aku tidak bisa tidur. Gawat.

Ada apa ini? Mataku tidak mengantuk sama sekali.

Apa gara-gara itu? Akibat tiga kaleng kopi hitam yang menemaniku membaca tadi?

Aku melototi kaleng-kaleng kosong yang tergeletak di atas meja samping. Ataukah kegembiraanku setelah membaca buku itu masih belum mereda?

Begitu aku lengah, kepalaku mulai berimajinasi tentang kehidupan seperti apa yang dijalani oleh dua gadis itu setelahnya. Sampai sebegitunya aku terpikat oleh dunia di dalam buku itu.

Karena sedang liburan musim panas, begadang sebenarnya bukan masalah besar. Tapi, sebisa mungkin aku ingin menghindari meladeni bocah-bocah nakal itu dalam keadaan kurang tidur.

Lagipula, mereka pasti akan datang lagi besok.

Sudahlah, kalau aku menutup mata rapat-rapat, nanti juga pasti ketiduran sendiri. Aku pun memejamkan kelopak mataku kuat-kuat.

"..."

Semakin aku berusaha untuk tidur, otakku malah terasa bekerja semakin aktif. Hei brengsek, boleh saja kau bersemangat sekarang, tapi yang akan menyesal besok itu dirimu sendiri, tahu?

Aku ini bukan anak kecil, ya. Aku tidak akan tidur siang besok!

 

ï¼’

"Hei, Yuu-nii. Kamu masih hidup, kan?"

Miya menerobos masuk ke dalam kamar dengan penuh tenaga. Hari ini dia mengenakan kaus merah muda dan celana pendek longgar, dipadukan dengan gaya rambut kuncir kuda yang terlihat sejuk.

"Yuu-nii?"

Biasanya akan ada balasan seperti 'Aku masih hidup, tahu' atau 'Kamu berisik sekali sepagi ini'. Namun khusus hari ini, hanya suara putaran kipas angin yang terdengar sunyi menyapu ruangan.

Sang pemilik kamar, Aritsuki, masih berada di atas tempat tidur.

"Guuh."

"Tidur, ya? Mau tidur sampai jam berapa, sih..."

Waktu saat ini menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Pada akhirnya, Aritsuki baru benar-benar terlelap setelah lewat pukul enam pagi.

"Hiaa."

Miya mengambil sedikit ancang-ancang. Dia lalu melompat bagai menyelam ke arah Aritsuki yang sedang tidur telentang di atas kasur.

"Gohuk."

"Bangun dong!"

Tubuh kecil Miya mendarat telak di bagian dada Aritsuki. Miya sendiri sebenarnya juga merasa sedikit kesakitan.

Namun, pemuda itu tetap tidak bangun.

"Eh?"

Siklus tidur manusia bergantian antara tidur nyenyak (Non-REM) dan tidur dangkal (REM) dalam rentang sekitar sembilan puluh menit. Sudah sekitar dua setengah jam berlalu sejak Aritsuki mulai tertidur.

Tidur Non-REM terbagi menjadi empat tahap berdasarkan kedalamannya. Dan saat ini, dia berada di tahap keempat yang merupakan fase tidur paling nyenyak.

Terlebih lagi, kelelahan yang menumpuk akibat begadang semalam dan rutinitasnya meladeni para bocah nakal itu semakin menariknya ke dalam dunia mimpi. Singkatnya, Aritsuki saat ini sedang dalam kondisi tidur yang sangat pulas.

"Muu."

Kalau benturan fisik tidak bisa membangunkannya, sekarang giliran suara. Miya mengambil jam weker di meja samping kasur, lalu mengarahkan jarum alarm ke waktu saat ini.

Setelah alarm disetel, beberapa saat kemudian jam itu pun mulai berdering nyaring.

"Rasakan ini!"

Kriiing! Kriiing! Kriiing!

Meskipun Miya mendekatkan jam itu tepat ke telinga Aritsuki, tidak ada reaksi yang memuaskan dari pemuda itu.

Kriiing! Kriiing! Kriiing!

Kriiing! Kriiing! Kriiing!

Kriiing! Kriiing! Kriiing!

"...Berisik tahu."

Miya mematikan alarm tersebut. Kalau Aritsuki saja tidak terbangun, suara berisik itu hanya akan menyiksa telinga Miya sendiri.

"Yuu-nii!"

Gadis itu kembali naik ke kasur dan menyingkap baju Aritsuki. Dia meletakkan jari-jarinya di atas otot perut pemuda itu yang cukup terbentuk, lalu mulai menggelitikinya.

"Bangun!"

Kalau perut tidak mempan, berarti giliran ketiaknya. Miya menduduki perut Aritsuki dan menggelitik ketiaknya sekuat tenaga.

Sekalian saja lehernya juga digelitik!

"...Haa, haa."

Miya malah kelelahan sendiri. Dia menjatuhkan badannya dan berbaring tengkurap di atas tubuh Aritsuki.

Belum pernah sekalipun pemuda ini tidak bangun setelah diganggu sampai sejauh ini.

"Iih, dasar!"

Lebih baik aku datang lagi nanti. Padahal aku sudah repot-repot datang ke sini pagi-pagi buta karena Mahiru dan Asaka sedang ada urusan sehingga tidak bisa bermain.

Tapi, kalau aku pulang begitu saja tanpa hasil, aku yang akan merasa kalah.

Miya mengambil spidol permanen yang tergeletak di atas meja. Dia mengendap-endap ke arah Aritsuki, lalu menggoreskan spidol itu di dahinya.

"Fuhihi."

Nah, sekarang saatnya pulang dulu ke rumah buat makan es krim.

 

3

"Huaaahm, nyenyaknya... Sekarang jam berapa, ya?"

Seingatku, aku gelisah tak bisa tidur sampai lewat jam lima pagi tadi. Tapi kurasa aku akhirnya ketiduran juga tanpa sadar.

Entah kenapa jam wekerku sudah berpindah ke atas kasur. Saat kulihat, jarumnya menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit.

"Lapar juga, nih."

Aku berniat meminta Ibu untuk membuatkan makan siang, tapi kedai pasti sedang sangat sibuk di jam segini. Mungkin sebaiknya aku beli sesuatu di minimarket saja.

Karena malas ganti baju, aku putuskan pergi dengan pakaian tidur ini. Aku pun melangkah keluar rumah.

Matahari bersinar terik hari ini, cuacanya terasa sangat panas.

"Kikikiki."

"Fufufu."

Entah mengapa aku merasa orang-orang yang lewat sedang menatapku. Apa aku ini cuma terlalu percaya diri?

"Hm?"

Ah, benar juga. Mungkin karena aku masih memakai baju tidur.

Tapi, rasanya kaus oblong dan celana pendek bukanlah pakaian yang terlalu mencolok. Beberapa menit kemudian, aku tiba di minimarket.

"Selamat dataaang... eh? Pffft."

Nah, makan apa hari ini, ya. Karena baru bangun tidur, aku tidak terlalu ingin memakan sesuatu yang berat.

Mungkin onigiri dan salad saja sudah cukup. Oh iya, aku juga harus sekalian membeli jus.

"Te-terima kashih, bhanyak."

Pelayan tokonya bicara dengan sangat tidak jelas. Dia juga tampak gemetaran, apa mungkin karena AC-nya terlalu dingin?

"Panasnyaaa."

Begitu keluar, udara panas kembali menyengat. Perbedaan suhu yang drastis dengan bagian dalam toko ber-AC membuat udara luar terasa jauh lebih panas.

Namun, aku sama sekali tidak membenci musim panas.

Mumpung lagi di luar. Bagaimana kalau aku makan di taman saja?

Apa cuma aku yang merasa kalau makanan minimarket terasa lebih enak jika dimakan di luar ruangan?

Aku berjalan menuju taman terdekat dan duduk di bangku yang teduh. Di bangku sebelah, sekumpulan ibu-ibu yang membawa anak mereka sedang duduk sambil asyik mengobrol.

"Ada apa, ya?"

"Jangan-jangan dia sedang menjalani hukuman?"

Aku segera melahap onigiri dan salad itu, lalu membasahi tenggorokanku dengan jus. Hmm, cuaca yang sangat cerah.

 

ï¼”

Miya kembali mengunjungi Aritsuki pada pukul dua siang. Setelah dia pulang ke rumah tadi, ibunya ternyata memergokinya karena belum mengerjakan PR liburan musim panas kemarin.

Alhasil, dia dihukum dilarang keluar rumah sampai PR kemarin dan hari ini selesai dikerjakan, yang membuatnya tertahan sampai jam segini.

Kepalanya terasa pusing berputar-putar karena harus mengerjakan PR untuk jatah dua hari sekaligus.

Yah, biarlah.

Toh setelah ini dia bisa bermain dengan Aritsuki. Memikirkan hal itu membuat semangat Miya kembali membara.

Kalau sudah jam segini, pemuda itu pasti sudah bangun.

"Hei, Yuu-nii. Oh, kamu sudah bangun, ya."

"Oh, aku sudah menunggumu, lho."

"Padahal aku sudah ke sini tadi pagi. Ampun deh, mentang-mentang libur, kamu malah bangun kesiangan..."

"Bocah nakal, sudah kuduga ini ulahmu!"

Setelah mengatakan itu, Aritsuki langsung mendorong Miya jatuh ke atas tempat tidur. Dia kemudian mulai menggelitik gadis itu sekuat tenaga.

"Uhyahya, a-apa-apaan sih, Yuu-nii! Ahahahahaha!"

"Apanya yang 'apa-apaan'. Kamu kan yang menulis kata 'Daging' di dahiku?"

"Ahaha, hihi!"

"Bocah sialan. Gara-gara kamu, aku sampai keluar rumah tanpa sadar! Mana kamu menuliskannya pakai spidol permanen segala."

"Kamu tahu tidak betapa susahnya menghapus tulisan ini?"

Tangan Aritsuki menari-nari menggelitik ke seluruh tubuh Miya.

"Ahaha, he-hentikaaan!"

"Aku tidak akan berhenti sampai kamu benar-benar menyesal, ya!"

"Ahahahahaha! I-Iya. Aku menyesaaal!"

"Kamu beneran menyesal?"

"I-Iya, aku beneran menyesal, kok. Uhihi."

"Baguslah kalau begitu. Fuh."

"Haa... haa..."

Keduanya menghela napas tersengal-sengal sambil menikmati hembusan angin dari kipas.

"Oke, sekarang kita mau ngapain?"

"Kamu sebenarnya sama sekali tidak menyesal, kan?"

Dari entah dari mana, suara nyanyian tonggeret terdengar sayup-sayup.

 

Bocah Nakal Memiliki Rasa Ingin Memiliki yang Kuat

1

"Nga-Ngantuk banget."

Kepalaku terasa pening. Pandanganku seperti tertutup selaput tipis, membuat bentuk bayangan tampak kabur. Aku meninggalkan rumah dan langsung menuju ke rumah Haruyama tepat di sebelah.

Begitu aku menekan bel pintu, tak lama kemudian ibu Miya, yaitu Haruyama Mirai, muncul. Penampilannya membuat mataku langsung terbuka lebar.

Rambut cokelat panjangnya diikat jadi satu dan dibiarkan menjuntai di bahu kanan. Ia mengenakan kaus putih dengan potongan dada yang rendah serta celana denim panjang tiga perempat.

Bentuk tubuhnya yang proporsional sama sekali tidak mencerminkan kalau dirinya sudah pernah melahirkan anak.

"Ah, Yuu-kun. Selamat pagi."

"Selamat pagi."

"Pagi-pagi begini pasti melelahkan, ya. Hari ini tolong bantu, ya."

"Ya, mau bagaimana lagi."

"Sayaka baik-baik saja?"

"Dia sudah tidak bisa bergerak dari tempat tidur, tapi ayahnya ada di sampingnya jadi tidak apa-apa."

"Oiii, Yuu-nii!"

Miya tiba-tiba menyerbu keluar dari balik punggung Mirai.

"Yo, semangat sekali kamu pagi-pagi begini."

"Wajah Yuu-nii kelihatan seperti zombi, tuh."

"Aduh, Miya, tidak boleh ngomong begitu, ya. Maafkan dia, ya, Yuu-kun."

"Ah, tidak apa-apa kok."

Aku membalas dengan senyuman yang ceria.

"Selalu saja... Miya merepotkanmu terus."

"......Tidak apa-apa."

Aku membalasnya dengan senyuman yang sedikit kaku.

"Yuu-nii juga ikut?"

"Iya, punggung Ibu kan sedang sakit."

"Begitu ya."

"Kalau begitu, mari kita berangkat senam pagi."

Waktu menunjukkan pukul enam lewat sedikit.

Gunung Fuji yang megah menjulang di hadapan kami, disinari oleh cahaya mentari pagi yang menerangi lereng hijaunya. Meskipun sedang musim panas, udara pagi terasa begitu dingin dan menusuk kulit.

Tak lama kemudian, kami tiba di taman yang menjadi tujuan.

Belum ada siapa pun yang datang rupanya.

Di lingkungan tempat tinggal kami, tugas memimpin senam pagi saat libur musim panas bergiliran menggunakan sistem piket.

Hari ini adalah giliran keluarga Aritsuki dan keluarga Haruyama.

Sebenarnya Ibu yang dijadwalkan bertugas, tapi tadi malam saat sedang membersihkan toko setelah tutup, punggungnya tiba-tiba sakit. Alhasil, aku pun terpaksa mengambil alih sebagai pengganti sementara.

Aku meletakkan pemutar kaset di atas bangku.

"Hei, hei, kenapa kamu bawa bola basket juga?"

Tanya Miya. Aku memang sengaja membawa bola basket.

"Rencananya aku mau main sebentar setelah senam pagi selesai."

Di taman ini memang ada fasilitas ring basket. Waktu sejak aku pensiun belum begitu lama, tapi aku sudah mulai merindukan sensasi suara jaring yang bergoyang itu.

"Kamu kalah di babak pertama makanya mau latihan sekuat tenaga, ya?"

"Bukan begitu. Aku kan sudah pensiun."

"Aku juga mau ikut main."

Mendengar ucapan Miya, Mirai langsung menyela di antara kami.

"Miya, kalau mau main, selesaikan dulu PR-nya. Selesai nanti, langsung pulang ke rumah, ya!"

"Baiklah—!"

Sambil mengobrol, anak-anak mulai berdatangan satu per satu.

Dibandingkan anak kelas bawah yang tampak riang gembira, anak-anak kelas atas terlihat benar-benar malas.

"Mahiru, Asaka, Yuu-nii datang, tuh."

"Seriusan?"

"Eh?"

Miya membawa kedua anak itu menghampiriku.

"Benar juga, Yuu-nii."

"Yuu-nii."

"Yo, kalian."

Melihat stempel kartu yang menggantung di leher mereka, sungguh pemandangan yang menggemaskan.

"Kenapa Yuu-nii yang ada di sini?"

Mahiru dan Asaka masing-masing menggenggam kedua tanganku lalu mengayun-ayunkannya ke atas dan ke bawah.

"Menggantikan Ibu."

"Besok datang lagi tidak?"

"Tidak, cuma jadi pengganti hari ini saja."

Mendengar itu, Asaka memasang ekspresi kecewa sambil merengut.

"Padahal libur musim panas, tapi malas banget harus bangun jam segini setiap hari."

"Nah, Yuu-kun. Waktunya sudah pas, sebaiknya kita..."

Melihat jam di taman, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh.

"Ah, iya. Nah, bubar-bubar."

Anak-anak mulai menyebar dengan memberikan jarak tertentu.

Begitu Mirai menekan tombol pemutar kaset, alunan musik yang penuh nostalgia pun mulai mengalun.

◇

"Buat dua baris, ya, ayo, ayo."

Anak-anak membuat antrean di depan aku dan Mirai untuk mendapatkan stempel.

"Yuu-nii, hari ini aku ada urusan jadi tidak bisa main. Sampai jumpa besok, ya."

"Aku juga."

Mahiru dan Asaka menerima stempel mereka dengan ekspresi enggan berpisah, lalu pulang.

"Miya, Yuu-nii, dadah."

"Miya-chan, Yuu-san, dadah-dadah."

Keduanya melambaikan tangan sambil berjalan pulang.

"Dadah-dadah."

"Yo."

Miya sepertinya akan tinggal paling akhir karena ingin pulang bersama Mirai.

"Aku kenal Kakak itu. Yang dari , kan?"

"Ah, aku juga pernah lihat."

"Pantesan dari tadi kayak pernah lihat di mana gitu."

Sekelompok anak perempuan yang sepertinya anak kelas atas tiba-tiba mendekatiku.

"Kakak ini anak SMA, ya?"

"Iya betul."

"Wih, sudah dewasa."

"Tangannya besar banget."

Tiba-tiba salah satu dari mereka meraih telapak tanganku dan menggenggamnya.

"T-Tunggu sebentar."

"Tuh kan, lebih besar daripada tangan kakaknya Nako. Keren banget anak SMA."

"Iya beneran. Kasar tapi keras."

"U-Udah, antreannya jadi macet di belakang. Kalau sudah dapat stempelnya, geser ke samping."

"Iyaaa."

"Baiklah."

Giliran Miya yang maju.

"Nah, stempelnya kukasih ya."

Miya menyerahkan kartunya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Ada apa ini?

Kenapa anak ini terlihat badmood begitu?

"Woi, ada apa, Miya? Perutmu sakit?"

"Biasa saja."

Setelah menerima kartunya, Miya merebut bola basket yang kupegang.

"Cepat main, yuk."

"Tunggu dulu, Miya. Selesaikan dulu PR libur musim panasnya."

Mirai memperingatkan.

"Biarin, sebentar doang kok."

"Tidak boleh. Pulang dulu ke rumah sekali."

"Sebentar saja."

"Tidak boleh."

"Hm, Yuu-nii, tungguin aku, ya."

Menyadari bahwa merajuk pun tidak ada gunanya, Miya berlari pergi seorang diri.

"Kalau begitu, pemutar kaset dan stempelnya akan kubawa ke rumah petugas piket selanjutnya. Yuu-kun, hari ini terima kasih banyak bantuannya."

"Sama-sama."

"Salam ya buat Sayaka-san."

Ucap Mirai sambil berjalan cepat menyusul putrinya. Nah, kalau begitu, sesuai rencana aku mau main basket saja.

Berkat senam pagi tadi, aku tidak perlu melakukan pemanasan lagi.

Memantulkan bola, merasakan pantulannya kembali ke tangan.

Hmm, rasanya sangat menyenangkan.

Sambil melakukan dribble, aku mendekati ring dan memasukkan tembakan lay-up. Suara jaring yang bergoyang menggema di tengah keheningan pagi.

"Eh?"

Saat jarum jam melewati pukul tujuh, aku melihat tiga anak perempuan SD sedang memperhatikan ke arah sini dari jarak yang tidak terlalu jauh. Usia mereka sedikit di atas Miya—mungkin sekitar kelas tiga atau empat SD. Salah satu dari mereka bahkan membawa bola basket.

Wah, batinku.

Di taman ini hanya ada satu ring basket. Keberadaanku seorang diri membuat anak-anak ini jadi tidak bisa bermain.

Sebagai anak-anak, mereka pasti merasa takut untuk meminta orang dewasa minggir... Mau bagaimana lagi, lebih baik kuberikan saja pada mereka.

Aku memungut bola dan menjauh dari area ring.

Saat aku memanggil mereka dan berkata, "Silakan pakai saja," sebuah jawaban tak terduga justru terdengar.

"Um, mau main bersama kami tidak?"

 

2

"Uwooooo, Yuu-nii!"

Miya berlari sekencang-kencangnya.

Apakah Aritsuki benar-benar menunggunya?

Waktu menunjukkan hampir pukul delapan pagi.

Miya telah menyelesaikan PR-nya dengan kecepatan kilat. Alih-alih memikirkan apakah jawabannya benar atau tidak, ia lebih memfokuskan diri pada seberapa cepat ia bisa mengisi lembar yang kosong.

Mungkin nanti ia akan mengalami neraka saat ibunya memeriksa dan mencoretinya, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin segera pergi bermain.

"Uhuk, hoek."

Berlari sekuat tenaga membuat perutnya terasa mual. Padahal Miya baru saja selesai sarapan.

Karena sudah dekat dengan taman, sisa perjalanan ia tempuh dengan berjalan kaki.

Suara pantulan bola terdengar, buk, buk.

Mereka ada di sana, baguslah.

"Oiii, Ka—"

Begitu Miya melangkah masuk lewat gerbang, pemandangan yang langsung menyambut retinanya adalah sosok Aritsuki yang sedang asyik bermain basket dengan seorang anak perempuan asing.

◇

"Eh? Kamu sudah pulang? Mana Yuu-kun?"

"En-tah."

"Kenapa, kalian bertengkar?"

"Biasa saja."

Berusaha menepis rentetan pertanyaan sang ibu, Miya langsung berlari masuk ke kamarnya.

Ia merebahkan diri di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamar.

"..."

Rasanya sungguh aneh.

Sensasinya mirip seperti ada orang asing tak dikenal yang menerobos masuk ke dalam kamar pribadinya dengan memakai sepatu. Di dalam tubuhnya seperti ada sebuah gunung berapi yang hampir meletus...

"Bodoh."

Melihat Aritsuki bermain dengan anak-anak lain —terutama anak perempuan— membuat bagian dalam dadanya terasa sesak dan gundah.

Padahal saat Aritsuki bermain bersama Mahiru atau Asaka, ia sama sekali tidak merasakan perasaan seperti ini.

"Apaan ini."

Omong-omong, emosi yang sama juga ia rasakan saat menerima stempel tadi, ketika anak-anak perempuan yang lebih tua mengerubungi Aritsuki.

Perasaan ini sedikit berbeda dari kesedihan. Mirip seperti kemarahan, tapi juga bukan.

Bagi Miya yang masih kecil, pengalaman hidupnya masih terlalu singkat untuk memahami emosi yang bernama cemburu.

Atau mungkin bisa diungkapkan dengan kata lain, rasa ingin memiliki.

Sebuah hasrat posesif ingin agar Aritsuki "hanya menjadi Yuu-nii milik mereka bertiga saja".

Terlalu egois, kekanak-kanakan, dan begitu naif...

Musim panas di usia tujuh tahun, saat ia menyadari satu sisi dari dirinya sendiri.

Air mata yang mengalir di pipinya terasa jauh lebih asin dari biasanya.

 

3

"Oper, oper."

"Ayo, tembak!"

"Ah, aman."

Suara anak-anak SD bersahut-sahutan di lapangan basket.

"......Huft."

Miya tidak kunjung datang.

Waktu sudah hampir lewat pukul setengah delapan pagi. Padahal biasanya ini sudah waktunya dia datang bermain.

Apakah dia masih bergelut dengan PR-nya?

Selesai senam pagi, kami berdua pulang sekitar pukul tujuh kurang sedikit. Seharusnya sekarang sudah waktunya dia datang.

"Kakak?"

"......"

Ataukah jangan-jangan di tengah jalan tadi dia mengalami kecelakaan...?

Tidak, kalau begitu aku pasti akan mendengar suara sirene ambulans atau mobil polisi, dan anak itu tidak mungkin... Tapi, ya mana tahu...

"Giliran kita yang menyerang nih?"

"Sori, aku mau pulang dulu ya. Terima kasih banyak."

"Eh, iya."

Setelah berpamitan kepada anak-anak perempuan yang sudah membiarkannya ikut bergabung, aku berjalan cepat menuju rumah keluarga Haruyama.

"Ah, Yuu-kun."

Mirai menyambutku dengan pakaian yang masih sama seperti tadi pagi.

"Miya ada di kamarnya?"

"Iya, naiklah ke atas. Miya ada di kamarnya."

Baguslah.

"Permisi, numpang masuk ya."

Aku diundang masuk oleh Mirai ke dalam kediaman keluarga Haruyama.

"Tadi itu, dia baru pergi sebentar terus langsung pulang lagi."

"Eh? Ada apa emangnya?"

"Aku sendiri juga kurang paham. Ditanya apa pun jawabnya cuma 'biasa saja' atau 'gitu deh'. Lagian kelihatannya dia lagi badmood banget."

"Begitu ya..."

Waduh, sebaiknya aku pulang saja kali ya?

Aku memang sudah tenang karena Miya baik-baik saja, tapi firasatku mengatakan ada hal buruk.

Aku mengetuk pintu kamar yang dipasangi papan nama bertuliskan .

"Oii, Miya, aku masuk ya."

Sudah lama aku tidak masuk ke kamar Miya.

Di atas meja belajarnya terbentang buku "Teman Liburan Musim Panas", berserakan dengan kotak pensil dan alat tulis bergambar anak perempuan yang imut.

Begitu aku melangkah masuk ke dalam kamar, sebuah bantal kecil tiba-tiba melayang ke arahku.

"Pluk."

Bantal itu mendarat telak di wajahku.

"Apa-apaan sih?"

"Bukan apa-apa, karena kamu tidak datang-datang makanya kujemput. Sebentar lagi jam sembilan, tahu. PR-mu memang sudah se—lho, kamu habis nangis?"

Area sekitar mata Miya tampak merah dan bengkak serta basah.

Suaranya pun terdengar serak, dan bantal tadi ternyata sedikit basah.

Gadis itu duduk di tepi ranjang, menatapku tajam dengan mata yang memerah.

"Nih."

Aku mengembalikan bantal itu ke tempat semula.

"Aku tidak nangis kok."

Ucapnya sambil mengusap-usap matanya dengan kasar.

Bukan dengan jari, melainkan mengusap air matanya menggunakan telapak tangan—itulah cara Miya menangis.

Setelah puas mengusap matanya, ia berbaring di tempat tidur dan membenamkan wajahnya ke bantal.

"Kenapa, perutmu masih sakit?"

"Biasa saja."

"PR-mu belum kelar?"

"Udah kelar kok."

Suara dingin terdengar membalas. Nada bicaranya sama sekali tidak bernada.

Ada apa ini, jelas-jelas dia sedang kesal.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi?

Apa dia bertengkar dengan ibunya?

"Makanya, bangun."

Saat aku meraih tangan Miya yang sedang berbaring, tangannya langsung menepis tanganku dengan ketus.

Wuah, anak ini benar-benar sedang ngambek berat.




"Hah? Kenapa kamu ke sini?"

"Habisnya kamu tidak datang-datang juga, makanya―"

"Mendingan kamu lanjut main basket saja sama kakak-kakak perempuan itu."

"Apa?"

"Main sama mereka pasti lebih menyenangkan, kan?"

Tiba-tiba bicara apa sih dia... basket? Ah, dia pasti melihatku bermain dengan anak-anak perempuan tadi, ya.

Oh, begitu rupanya. Dia pasti berpikir kalau aku mengabaikannya dan malah asyik bermain dengan anak lain, kan?

Masih anak-anak saja sudah berani cemburu segala. Padahal aku dari tadi terus-terusan menunggu kedatangannya.

"Bukan begitu, tahu. Di sana ring basketnya cuma ada satu, makanya mereka berbaik hati mengajakku main bareng."

"Padahal Yuu-nii yang main duluan, kan?"

"Aku sempat mengalah dan memberikan ring itu pada mereka. Rasanya kekanak-kanakan kan kalau aku memonopolinya sendirian? Setelah itu, barulah mereka mengajakku main bersama."

"Kalau begitu, main saja terus sana sama mereka―"

Miya merebahkan tubuhnya hingga berbaring telentang. Matanya masih tampak berkaca-kaca.

"Aku sama sekali tidak marah, kok."

"Haaah..."

Aku menghela napas panjang. Ampun deh, berurusan dengan anak kecil memang merepotkan.

Apa perasaanku tidak akan tersampaikan jika tidak diungkapkan dengan kata-kata secara langsung?

Aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap ke arah Miya.

"Dasar bodoh. Aku kembali ke sini karena ingin bermain denganmu, tahu."

"Eh?"

"Biar kelihatannya begini, sebenarnya aku ini pemalu. Mengobrol dengan anak-anak perempuan yang tidak kukenal itu benar-benar menguras tenaga karena aku harus ekstra menjaga sikap."

"H-hmm..."

"Nah, ayo bangun. Kita makan yang dingin-dingin di rumahku saja."

Aku meraih tangan Miya. Kali ini, telapak tangan kecil itu dengan patuh membalas genggamanku.



Chapter 4 | ToC | Chapter 5

Post a Comment

Post a Comment

close