Kenangan Bersama "Bocah Sialan" Part 4
Selamat Datang di Kafe Bocah Nakal
1
Hujan turun rintik-rintik.
Bukan hujan deras mendadak layaknya hujan petang di musim panas, bukan
pula hujan berpetir layaknya hujan musim semi.
Hujan ini turun dengan tenang, seolah merasa bersalah karena telah
membasahi bumi.
"...Hujan,
ya."
Entah
sejak kapan hujan ini mulai turun. Syukurlah aku membawa payung lipat, jadi
perjalanan pulangku tidak akan terkendala.
"D-dinginnya."
Aku
menuntun sepedaku sambil berjalan menembus hujan.
Namanya juga musim dingin, wajar kalau udaranya dingin.
Namun, ini berbeda dari hawa dingin menusuk yang biasa kurasakan,
melainkan udara dingin nan sejuk yang memenuhi sekitarku.
Ribuan tetes air hujan berjatuhan dari langit yang kelabu. Di sela suara
monoton rintik hujan yang menghantam payungku, terdengar suara knalpot motor
bebek dari kejauhan.
Entah
kenapa hujan di musim dingin selalu terasa begitu sepi.
Aku
ingin cepat pulang dan meminum cokelat panas.
Tepat
saat aku mempercepat langkah kakiku dengan tekad tersebut, tiba-tiba angin
kencang berhembus dari samping dan hujan menerpaku.
"Uwoh."
Walaupun
aku tidak terlalu basah, tetap saja dinginnya rintik hujan itu menusuk tulang.
"Fuh,
aku pulang."
Aku
masuk ke dalam rumah dari arah kafe.
Bagian
dalamnya terasa hangat berkat alat penghangat ruangan, dan tubuhku yang
kedinginan perlahan-lahan mulai menghangat.
Aku
meletakkan barang bawaanku di meja yang kosong, lalu memanggil ibuku.
"Hei,
tolong buatkan aku cokelat panas, dong."
Jika
aku minum di kafe, aku bisa menikmati rasa profesional dengan harga murah
berkat diskon karyawan.
Itu
jauh lebih baik daripada membuat minuman instan sendiri.
Mendengar itu, Ibu menunjuk ke arah langit-langit.
"Tamu,
kami menerima pesanan di lantai dua."
"Hah?"
Apa
yang dia bicarakan?
"Bukan
begitu, aku cuma mau minta cokelat—"
"Yuu-nii!
Sudah pulang, ya?"
Miya datang menghampiri dari arah tangga.
"Oh,
kamu ada di sini toh.... Eh, pakaian apa itu?"
Miya
mengikatkan bandana merah di kepalanya dan mengenakan celemek anak-anak 'Moon
Night Terrace'.
"Ayo
cepat ke atas!"
"Tunggu,
tunggu, aku mau minum cokelat panas dulu."
"Di
atas saja, ya!"
"Hah?"
Miya
menarik tanganku dan membawaku ke lantai dua dengan paksa.
"Eh?
Apaan, nih?"
Di
depan kamarku, terpampang sebuah papan nama yang terbuat dari kardus dan kertas
gambar.
Di
sana tertulis 'Moon Night Terrace Cabang Lantai Dua' dengan krayon warna-warni,
serta dihiasi bunga dan bulan dari kertas origami.
Miya
membuka pintu dan berseru.
"Satu
tamu masuk!"
Pemandangan
kamarku telah berubah total.
"Apa-apaan
ini?"
Dindingnya
dihiasi rantai kertas yang terbuat dari origami. Mungkin untuk menambah
suasana, ada sebuah tanaman hias yang diletakkan di depan pintu masuk.
Seingatku
itu adalah tanaman yang ada di ruang tengah lantai dua.
Dari
pemutar CD mengalun lagu tema anime untuk anak perempuan, dan entah mengapa ada
lentera diletakkan di tengah meja.
"Selamat
datang!"
"Selamat
datang!"
Mahiru
dan Asaka, yang mengenakan bandana dan celemek yang sama dengan Miya,
membungkuk kecil.
Melihat
ini, aku akhirnya mengerti apa yang sedang dilakukan oleh bocah-bocah nakal
ini.
"Kalian
ini, sekarang main kafe-kafean, ya."
"Ini
bukan mainan, lho. Di sini itu cabang dari Moon Night Terrace," ucap Miya.
"Alamatnya
sama saja, tahu."
Ya
ampun, acara televisi macam apa lagi yang meracuni pikiran mereka kali ini.
Kalau
mau main kafe-kafean, harusnya di kafe lantai bawah saja.
Bisa-bisanya
mereka repot-repot merombak kamarku menjadi sebuah kafe.
"Pelanggan,
silakan duduk di sebelah sini."
Atas
arahan Mahiru, aku melabuhkan bokongku di kursi lesehan yang bisa direbahkan di
depan meja.
Ini juga barang yang sebenarnya ada di ruang tengah.
"Ini handuk basahnya!"
Asaka menyodorkan handuk basah kepadaku. Ini adalah barang yang selalu
digunakan di kafe bawah.
Jadi begitu, rupanya ayah dan ibu juga sudah bersekongkol dengan
mereka. Pantas saja tadi Ibu menyuruhku memesan di lantai dua.
Di atas meja terdapat daftar menu dari kertas gambar. Saat
kubuka, ada menu khas kafe yang ditulis dengan tulisan tangan.
"Ayo,
ayo, mau pesan apa?"
Miya
menatapku dengan mata penuh harap.
"Emm,
untuk sekarang, cokelat panas satu."
"Satu
cokelat panas!"
Miya
berseru dengan lantang.
"Baik,
satu cokelat panas."
Setelah
menerima pesanan, Mahiru segera keluar dari kamar.
Tak
lama kemudian, ia kembali dengan langkah hati-hati sambil membawa secangkir
cokelat panas di atas nampan perak.
"Terima
kasih sudah menunggu. Ini cokelat panas spesial dari koki kami."
Cangkir
dan nampan yang digunakannya juga berasal dari kafe bawah.
"Oh,
terima kasih."
Rasanya
pun sama persis dengan buatan Ayah yang biasa kuminum.
Sepertinya
minuman yang dipesan memang dibuat oleh kedua orang tuaku di lantai bawah.
Yah, hal itu memang sudah sewajarnya, sih.
"Ada camilan juga, lho."
Mendengar ucapan Asaka, aku membalik halaman menu berikutnya. Di sana
berderet menu makanan ringan seperti keripik kentang dan kue kering.
"Emm, kalau begitu, aku pesan paket kue kering ini."
"Pesanan
paket kue kering masuk!"
"Baik,
ditunggu sebentar, ya."
Kali
ini Miya yang keluar ruangan. Tak lama kemudian, ia membawa sepiring kertas
berisi kue kering.
Ini
adalah beberapa jenis kue kering kemasan yang ditata sedemikian rupa.
Aku
memakan kue kering itu sambil meminum cokelat panas.
Rasa
manis dan kehangatannya yang pas ternyata sukses membuatku merasa rileks.
Melihat
cangkir cokelat panasku kosong, Mahiru mendesakku untuk memesan lagi.
"Pelanggan,
mau pesan apa lagi selanjutnya?"
"Hmm,
apa ya."
Aku
membuka daftar menu itu kembali.
Sebenarnya
aku ingin memesan minuman hangat lagi, tapi aku harus memikirkan risikonya.
Jika
bocah-bocah nakal ini membawa minuman panas sambil menaiki tangga, ada
kemungkinan mereka akan menjatuhkannya dan menderita luka bakar.
"Kalau
begitu, aku pesan soda Calpis putih ini."
"Baik,
pesanan soda Calpis putih masuk."
"Dengan senang hati!"
Sekarang giliran Asaka yang keluar dari kamar.
"Main
kafe-kafean ternyata seru, ya."
"Iya,
nih."
Ya
ampun, kalau begini terus, aku bisa dipaksa makan dan minum sampai mereka
merasa puas.
Benar
saja, setiap kali gelasku kosong, bocah-bocah nakal itu selalu memintaku untuk
memesan menu baru.
Gara-gara
dipaksa menenggak bergelas-gelas minuman dingin, perutku sampai kembung.
Asaka
duduk di sebelahku dan mengeluarkan suara manja.
"Pelanggan,
bolehkah aku minta minumannya juga?"
"Hei,
itu sih gaya pelayan dari jenis kedai yang berbeda."
Dari
mana kalian belajar hal semacam itu!
"Aku
juga mau."
"Aku juga."
"Ah, terserah kalian. Pesan saja apa yang kalian mau."
"Horeee!"
"Horeee!"
"Horeee!"
Tanpa
kusadari, permainan kafe-kafean ini telah berubah menjadi pesta camilan biasa.
Suasananya
persis seperti keseharian kami, hanya saja kali ini kamarku disulap bergaya
kafe.
Selain
itu, meja kamarku juga dipenuhi menu-menu mewah Moon Night Terrace seperti
parfait dan panekuk yang biasanya tidak ada.
"Ngomong-ngomong
Yuu-nii, hari ini tidak ke sekolah mengemudi?"
Miya
bertanya sambil menyantap parfait stroberinya.
"Tidak,
hari ini libur."
"Kalau
begitu, boleh main sampai larut malam, kan?"
Asaka
mendongak menatapku.
"Boleh
saja, tapi kalian harus pulang sebelum gelap, ya."
Lagipula
hari ini sedang hujan.
Lebih
baik jangan membiarkan mereka berlama-lama di sini.
"Baik!"
"Baik!"
"Baik!"
Setelah
itu, kami menghabiskan waktu bermain game dan menonton anime
televisi seperti biasa.
2
Aku
mengantarkan bocah-bocah nakal itu kembali ke rumah masing-masing, lalu
menempuh perjalanan pulang.
Walaupun
hujannya sudah mereda, tapi gerimis kecil yang masih turun terasa dingin di
kulit.
"Fuh."
Perutku
rasanya masih kembung.
Gara-gara
makan dan minum banyak makanan manis, mungkin aku tidak akan sanggup memakan
makan malam hari ini.
Oh
ya, apakah aku harus mengembalikan tanaman hias itu ke tempat asalnya sendiri?
Dengan
perasaan malas memikirkan acara beres-beres, aku pun tiba di rumah.
"Aku
pulang. Hari ini makan malamnya sedikit saja, ya."
Saat
aku berkata demikian sambil berjalan menuju tangga, ibuku menyodorkan selembar
kertas.
"Tunggu
sebentar Pelanggan, Anda melupakan tagihannya."
"Hah?"
"Apakah
pembayarannya mau dipotong dari uang saku? Atau mau kerja paruh waktu untuk
melunasinya?"
Tunggu
sebentar.
"Eh?
Aku yang bayar?"
"Tentu
saja."
"Tapi
kan, aku biasanya bikin jus untuk mereka."
"Itu
kan karena mereka anak-anak. Anggap saja kamu sedang menjamu tamu kecil."
"Tapi,
tagihan makanan dan minuman yang kamu pesan dari menu toko itu urusan
berbeda."
"A-apa—"
Memang
benar sih, biasanya saat aku memesan minuman di kafe, aku tetap membayar
meskipun dapat diskon karyawan yang murah.
Aku mengamati tagihan itu dengan ragu. Berapa gelas yang kuminum tadi?
Saking terbuainya dengan pelayanan apik bocah-bocah nakal itu, aku jadi
minum cukup banyak...
Satuan,
puluhan, ratusan, ribuan...
"4.204
yen!?"
"Yap.
Terus bagaimana? Sebagai informasi, tagihan Miya-chan dan yang lainnya tidak
ikut dihitung, lho."
Memang
benar, yang tertulis di nota hanyalah menu-menu yang kupesan tadi.
Tapi
tetap saja, uang sebesar 4.000 yen lebih adalah kerugian besar bagi dompet anak
SMA sepertiku.
Bocah-bocah
nakal sialan...
"...Aku
kerja paruh waktu saja."
Konon,
setelah hari itu, 'Moon Night Terrace Cabang Lantai Dua' tidak pernah dibuka
untuk yang kedua kalinya.
Bocah
Nakal Ingin Jadi Ninja
1
Hari
Jumat.
Aku
mampir ke sebuah minimarket dalam perjalanan pulang dari sekolah.
"Ini,
sama..."
Sambil
memilih mi instan dan minuman untuk camilan malamku sendiri, aku juga mengambil
sekantong besar camilan untuk bocah-bocah nakal yang pasti sudah menunggu di
rumah.
Aku
memasukkan keripik kentang dan camilan cokelat ke dalam keranjang secara asal.
"Terima
kasih!"
Setelah
keluar dari minimarket, aku bergegas pulang.
"Aku
pulang."
Aku
masuk melalui pintu kafe.
"Selamat
datang kembali."
Hari
ini sepertinya tidak terlalu sibuk, ibuku sedang mengobrol dengan ibu-ibu
tetangga yang sedang berkunjung.
Aku
naik ke lantai dua dan menuju ke kamarku.
"Lho?"
Begitu
membuka pintu, aku terdiam mematung karena merasa ada yang tidak beres. Mana
mungkin hal seperti ini terjadi. Soalnya tidak ada seorang pun di kamarku.
Ruangan
itu diselimuti kesunyian yang mencekam hingga membuat telinga berdengung.
Pemandangannya
sama persis seperti saat aku berangkat ke sekolah tadi pagi.
"Tumben, mereka belum datang, ya."
Kukira bocah-bocah nakal itu sudah ada di dalam.
Jarang-jarang kejadian begini.
Biasanya bocah-bocah nakal itu sudah menguasai kamarku seolah-olah itu
kamar mereka sendiri, tapi sepertinya hari ini mereka belum datang.
Mereka juga tidak terlihat seperti sudah datang lalu pulang lagi.
Kalau mereka sudah datang, biasanya kasurku berantakan dan ada
sisa-sisa mereka bermain game atau membaca komik.
Karena tidak ada tanda-tanda seperti itu, berarti mereka memang belum
datang, kan?
Aku meletakkan kantong plastik minimarket di atas meja dan melepas
jaketku.
Aku duduk di tepi kasur dan mengambil novel saku yang belum selesai
kubaca di dekat bantal.
Saat ini pukul 15.30.
Bocah-bocah nakal itu seharusnya sudah pulang sekolah sejak tadi.
Mungkin mereka sedang bermain di rumah keluarga Haruyama.
Ya sudahlah. Kalau mereka tidak ada, aku bisa menikmati waktu luang
yang tenang dan bebas.
Aku membuka bungkus keripik kentang dan mulai membaca buku.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki yang ribut.
Aku langsung menatap ke arah pintu. Sesuai
dugaanku, tak lama kemudian pintu terbuka—tapi...
"Yuu."
Yang
muncul ternyata ibuku.
"Apaan
sih, ternyata Ibu."
"Apa
maksudmu dengan 'apaan sih'?"
"Ada
apa?"
"Tolong
antarkan papan pengumuman keliling ini sebentar, dong."
"Eh,
aku?"
"Ayah
dan Ibu sedang sibuk, tahu."
"Ya
sudahlah, mau bagaimana lagi."
Aku
berdiri dengan enggan.
Setelah
mengantarkan papan pengumuman keliling ke rumah tetangga sebelah, aku kembali
ke kamarku.
Nah, saatnya lanjut membaca buku.
Kres.
"Lho?"
Kapan
aku makan sebanyak ini? Bungkus keripik kentangku sudah kosong melompong.
Kres,
kres.
Apa
aku terlalu asyik membaca buku sampai tidak sadar?
Kres, kres. Kres, kres.
"..."
Aku berdiri di depan lemari pakaian dan membukanya lebar-lebar dengan
kuat.
"Wah, ketahuan, deh."
Di sana ada Mahiru yang bersembunyi dengan mulut penuh keripik kentang.
"Ngapain
kamu di situ?"
"Ugh,
kok bisa ketahuan, sih?"
"Jelas ketahuan, dong! Kres, kres, kres, kres, kres, kres...
Suaranya ribut banget, tahu."
"Sialan."
Lalu, pintu kaca balkon tiba-tiba terbuka...
"Mahiru, kamu ketahuan, ya?"
Miya masuk ke dalam kamar dengan mulut yang juga penuh dengan keripik
kentang.
"Wah,
Miya, ngapain kamu di situ?"
Tunggu
dulu. Kalau ada mereka berdua, Asaka juga pasti ada di suatu tempat.
"Hei,
Asaka, kamu sembunyi di mana?"
"Aku
di sini."
Terdengar
suara dari arah kakiku, dan Asaka pun muncul dari bawah kolong tempat tidur.
"Uwaah!
Bikin kaget aja, sih."
"Ehehe."
"Hei,
hei, rambutmu penuh debu, tuh."
Aku membersihkan debu yang menempel di tubuh Asaka.
"Kalian
ini, dari kapan ada di sini?"
"Sejak
Yuu-nii pulang, kami sudah ada di sini," jawab Mahiru.
"Kami
terus bersembunyi."
"Beneran?
Tapi kok sepatumu tidak ada di pintu masuk?"
"Aku
menyembunyikannya di balkon."
Miya
melihat ke arah jendela.
"Fuhaha."
Lalu
Miya menyilangkan kedua tangannya dan membuat segel ninja.
"Kami
ini ninja."
"Ninja?"
"Mahiru,
Asaka, misi kita gagal. Ayo mundur dulu."
"Siap."
"Siap."
"Eh, hei, tunggu dulu."
Bocah-bocah nakal itu dengan cepat keluar dari kamarku. Ya
ampun, kali ini mereka keracunan ninja rupanya. Mudah sekali ditebak.
Namun,
tak disangka ketiga bocah nakal itu kembali dengan wajah tertunduk.
"Lupa
sepatunya."
Dengan
wajah malu, mereka datang mengambil sepatu yang ada di balkon.
"Kalian
ini main ninja-ninjaan, ya."
Ninja.
Sesuai dengan namanya, mereka adalah orang yang bersembunyi. Itu artinya,
mereka menyusup ke kamarku dan menahan napas sambil bersembunyi, ya?
Agak
berbeda sih, tapi dulu aku juga sering main ninja-ninjaan. Dulu aku sering
latihan membuat segel tangan karena terpengaruh anime ninja terkenal itu.
Nostalgia banget.
"Kalau
begitu, aku punya mainan yang bagus, nih."
Aku
menarik kotak berisi mainan masa kecilku dari dalam lemari pakaian. Yang
kukeluarkan adalah mainan pisau Kunai.
Ini
adalah mainan berhadiah dari anime ninja tersebut, yang kukumpulkan saat masih
kecil dulu.
Selain
itu, ada juga mainan bintang Shuriken, ikat kepala ninja, dompet berbentuk
katak, dan berbagai perlengkapan ninja lainnya.
"Wah,
bagusnya."
Miya
melompat kegirangan.
"Yuu-nii,
minta dong."
"Tunggu
dulu, ini adalah milikku sang Raja Ninja. Kalau mau, menyusuplah ke kamarku
layaknya ninja sejati dan rebut barang ini dariku."
"Apa
katamu?" Kata Mahiru.
"Kalian
tidak percaya diri? Dasar ninja payah."
"Sial,
ayo kita kembali dulu dan menyusun rencana."
"Ooh."
"Ooh."
2
Miya,
Mahiru, dan Asaka menyusun rencana di rumah keluarga Haruyama.
Sambil
melipat kertas origami menjadi senjata Shuriken, mereka merancang rencana
pembunuhan untuk menyingkirkan sang Raja Ninja "Arizuki".
"Menurutku,
Yuu-nii pasti sedang menunggu di kamarnya, lho."
"Karena
itu, biar aku saja yang menyerbu masuk duluan dan menahannya, Miya tolong bantu
serang dari belakang pakai Shuriken, ya."
"Siap."
"Asaka,
di saat ada celah, kamu menyusup ke bagian belakang kamar dan tebas Yuu-nii
dari belakang."
"Oke."
Asaka menggenggam erat pedang yang terbuat dari gulungan kertas koran.
"Oke,
ayo berangkat."
Miya
berdiri, lalu Mahiru dan Asaka mengikutinya.
"Ooh!"
"Ooh!"
Begitulah,
ketiganya menyusup ke Moon Night Terrace yang menjadi markas musuh mereka.
Mereka
memenuhi kantong baju mereka dengan Shuriken origami sebanyak yang mereka bisa
bawa, memakai pelindung lengan dari kardus di kedua tangan mereka, dan membawa
pedang koran yang diselipkan di pinggang.
Bocah
ninja nakal... Bukan, kelompok Kunoichi itu tidak masuk lewat kafe, melainkan
lewat pintu masuk depan rumah.
"Sst."
Miya
meletakkan jari telunjuknya di bibir. Entah dari mana musuh akan muncul. Oleh
karena itu, mereka harus menyusup secara diam-diam.
Mereka
melangkah perlahan agar tidak ketahuan oleh musuh. Setibanya di depan tangga,
ketiganya melihat ke arah atas.
"Dari
sini kita langsung naik, ya."
Saat
Miya memberi aba-aba, Mahiru maju lebih dulu. Sambil memegang pedang di
pinggangnya, Mahiru melangkahkan kakinya ke tangga dengan perlahan.
Miya
dan Asaka mengikutinya dari belakang dengan Shuriken di tangan.
Kriet.
"!"
"!"
"!"
Tepat
saat mereka tiba di bordes, suara tangga yang berderit memecah kesunyian.
Ada
kemungkinan suara itu telah membuat musuh menyadari keberadaan mereka. Bagi
seorang ninja, suara sekecil apa pun bisa berakibat fatal.
"..."
Syukurlah
musuh tidak menampakkan dirinya. Sepertinya dia belum sadar.
"Oke,
ayo kita maju."
"Iya."
"Iya."
Ketiganya
menghentikan langkah mereka tepat sebelum menyelesaikan anak tangga terakhir.
Mahiru menyandarkan tubuhnya di dinding dan mengintip ke arah lorong.
"Ah."
"Ada
apa, Mahiru?"
"Gawat,
ada jebakan."
Lorong
menuju kamar Arizuki dipenuhi jebakan Makibishi.
Tentu
saja, karena ini adalah mainan Makibishi karet yang dulu dimainkan Arizuki saat
masih kecil, keselamatannya terjamin. Meski begitu, rasanya lumayan sakit juga
kalau terinjak.
"Aduh."
"Miya-chan,
kalau kamu bersuara keras, nanti kita ketahuan musuh, lho."
"Habisnya...
sakit."
"Ugh,
dasar Raja Ninja."
Mereka
bertiga berjalan di sepanjang lorong dengan hati-hati, sebisa mungkin tidak
menginjak jebakan itu.
Akhirnya,
mereka bertiga berhasil sampai di depan kamar dengan selamat, dan bersiap-siap
mendobrak masuk dengan mengambil posisi saling berhadapan di kanan dan kiri
pintu.
"Sesuai
rencana, aku yang akan masuk. Tolong lindungi aku dari belakang,
ya."
"Iya."
"Serahkan
padaku."
Dan
Mahiru masuk ke dalam kamar sendirian.
"Hiaa...
Lho?"
Namun,
musuh tidak ada di sana.
Di
dalam ruangan yang kosong, Mahiru menajamkan semua indranya. Lalu, pandangannya
tertuju pada tirai yang bergoyang dengan tidak wajar...
"Itu
dia!"
Mahiru
mengayunkan pedang kertas korannya ke arah tirai. Ada sesuatu yang terasa
mengenai pedangnya.
"Guah."
Arizuki bersembunyi di perbatasan antara kamar dan balkon. Dia membuka
jendela lebar-lebar dan berdiri di atas rel jendelanya.
"Bagus
sekali kau bisa sampai ke sini, wahai ninja payah."
Arizuki
memerankan tokoh penjahat dengan sangat antusias.
Dia memegang Kunai di tangannya, dan menutupi mulutnya dengan bandana. Ikat
kepala ninja juga terpasang di dahinya. Arizuki sangat bersemangat.
"Ei!"
Sesuai
rencana, Miya memberikan perlindungan dari belakang menggunakan Shuriken-nya.
Namun...
"Aduh."
"Ah,
maaf, Mahiru."
Karena
posisi Mahiru berada di antara Miya dan Arizuki, semua lemparan Shuriken itu
mengenai punggung Mahiru.
Terlebih
lagi, karena posisi Arizuki membelakangi balkon, Asaka tidak bisa menyelinap ke
belakangnya.
"Fuhahaha."
Arizuki
memanfaatkan celah dari pergerakan kelompok Kunoichi bocah nakal yang
berantakan, dan memeluk tubuh Mahiru.
"Uwaah."
"Mahiru!"
"Mahiru-chan!"
"Anak
ini sekarang sanderaku. Sebaiknya kalian menyerah secara damai."
"Ugh,
pengecut!"
"Mahiru-chan!"
"Ayo,
kalau kalian sayang nyawanya, buang semua senjata kalian dan menyerahlah!"
Arizuki
menahan Mahiru seolah menjadikannya sebagai perisai.
"Tidak
ada cara lain selain menyerah."
Miya
membuang Shuriken di tangannya ke lantai, dan Asaka juga menurunkan pedangnya.
Kini, satu-satunya cara yang tersisa adalah menyerah.
"Fuhaha,
aku tidak akan menyiksa kalian, kok."
Namun
pada saat itu juga...
"Ei!"
Mahiru
memegang pedangnya dengan posisi terbalik, lalu menusukkannya ke arah
selangkangannya. Di sana, ada sesuatu milik Arizuki...
"Ugh!"
Arizuki
yang terkena tusukan di titik vitalnya, melepaskan pelukannya pada Mahiru
karena tidak sanggup menahan rasa sakitnya.
"Bagus!"
"Guaaaaaaaaaah!"
Arizuki
mengerang kesakitan, rasa ngilunya terus menjalar dan bertahan lama.
Mungkin
karena dorongan naluri, ia perlahan melangkah mundur menuju area balkon.
Kelompok
Kunoichi bocah nakal tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Mahiru
dengan gesit menutup jendela dan menguncinya.
Setelah
berhasil menyingkirkan kejahatan dari dalam kamar, kelompok Kunoichi bocah
nakal pun memenangkan pertempuran tersebut.
◇
"Guoooooooooo."
D-dasar
bocah-bocah nakal sialan.
Itu
pelanggaran namanya. Butuh waktu sekitar tiga menit sampai rasa ngilu di
selangkanganku mereda.
"Ugh."
Kalau
sudah begini, aku akan membalas dendam dengan senjata rahasiaku itu. Aku meletakkan tanganku di atas kaca jendela.
Klek.
"Hm?"
Jendelanya terkunci. Rupanya, mereka mengunciku di luar.
"Hei, buka jendelanya."
Tirai terbuka, dan terlihat bocah-bocah nakal itu berdiri di sana
dengan raut wajah bangga.
"Fuhaha,
kalau kamu mau masuk, mengaku kalahlah," ujar Mahiru.
"Apa
katamu?"
"Kami
yang menang."
"Ugh...
Buka cepat."
Aku
menggedor-gedor jendela dan mencoba menggoyangnya, tapi bocah-bocah nakal itu
hanya memandangiku dengan senyum menyeringai.
Sialan,
masa aku harus menyerah begitu saja?
Kalau
aku turun dari balkon ke lantai bawah dan kembali masuk ke dalam rumah, masih
ada peluang untuk menang.
Ketinggiannya
tidak sampai 3 meter, jadi kalau aku melompat sambil berpegangan pada tiang
atau dinding di bawah, pasti aman.
Aku
pun mencondongkan tubuhku melewati pagar balkon.
"Hm?"
Tiba-tiba,
tatapan mataku bertemu dengan salah satu ibu tetangga yang tampak ketakutan
dengan wajah pucat pasi.
Dia
membelalakkan matanya seolah baru saja melihat hantu, dan menutupi mulutnya
dengan tangan, seolah ketakutan setengah mati.
"A-a,"
"A?"
"A-ada maling!"
"Hah?"
Aku
baru menyadari penampilanku sendiri.
Aku
menutupi mulutku dengan bandana dan memakai ikat kepala.
Penampilanku persis seperti maling yang sedang menyembunyikan wajah.
Terlebih lagi, tadi aku menggedor-gedor dan mencoba menggoyang jendela,
benar-benar mirip dengan kelakuan maling yang sedang mencoba masuk ke rumah.
"B-bukan, Bibi. Ini aku!"
Aku buru-buru melepas ikat kepala dan bandana untuk menunjukkan wajah
asliku.
Tapi terlambat, si bibi sudah terlanjur lari masuk ke dalam kafe.
"Arizuki-san! Ada perampok di luar!"
Setelah kejadian itu, ibuku marah besar padaku.



Post a Comment