Chapter
4
Insiden
Ledakan
1
"Halo!"
"Halo!"
"Halo!"
Lonceng berbunyi gemerincing, dan aku menoleh ke arah pintu masuk. Ada
pelanggan yang datang.
Di sana berdiri tiga gadis kecil yang manis, yaitu Misora, Tatsuki, dan
Mei.
"Oh, selamat datang."
Ketiganya mengenakan kaus yang terlihat sejuk.
"Rasanya
kita sudah lama tidak bertemu, ya."
Misora
menatapku dan berkata demikian.
"Bukannya
aku baru saja bertemu denganmu di pesta ulang tahun Mahiru?"
"Bukan
itu maksudnya. Maksudku, kita jarang main bareng akhir-akhir ini."
"Ah,
iya, benar juga."
Saat
liburan musim panas, hampir setiap pagi aku bertemu dengan mereka di taman
setelah senam radio, lalu bermain basket bersama. Namun, setelah semester baru
dimulai, hal itu tidak bisa dilakukan lagi.
Waktu
anak-anak berangkat ke sekolah bertabrakan dengan waktu luangku di pagi hari.
Karena
itu, setiap pagi aku hanya berjalan-jalan atau melakukan lemparan bebas
sendirian di taman dengan kesepian.
"Makanya, Yuu-san, ayo main basket."
Tatsuki mengangkat bola basket yang dibawanya.
"Boleh saja, tapi hari ini aku baru istirahat jam empat, jadi
tunggu sampai jam segitu, ya."
Waktu menuju jam empat tinggal sekitar lima belas menit lagi.
"Baik!"
"Baik!"
"Baik!"
Ketiganya duduk di kursi meja dekat dinding. Mereka meminum pesanan
masing-masing sambil menunggu waktu berlalu.
"Aku
pesan kola."
"Aku
pesan soda."
"Tolong
pesankan Calpis."
"Misora-chan
pesan kola, Tatsuki-chan soda, dan Mei-chan Calpis, ya."
Aku
pergi ke dapur dan membuatkan pesanan mereka bertiga.
"Ini
dia, silakan dinikmati."
Sambil
meminum minuman mereka, ketiga gadis kecil itu mulai mengobrol santai.
Entah
kenapa, melihat mereka seperti ini membuatku teringat masa lalu.
Saat
Miya dan yang lainnya masih menjadi bocah nakal kelas satu SD, mereka juga
pernah mengelilingi meja bertiga seperti itu.
Namun,
gadis-gadis cilik di depanku ini sekarang sudah kelas tiga SD. Topik
pembicaraan mereka pun terdengar sedikit lebih dewasa.
"Hei,
akhir-akhir ini anak laki-laki sering bertingkah menyebalkan, kan?" ujar
Misora.
"Ah,
iya, mereka suka cari gara-gara, ya."
Tatsuki
mengangguk setuju.
"Lagipula,
Yamada itu selalu mengincar Mei saat kita main petak umpet atau dodgeball,
kan?"
Misora
berkata sambil menoleh ke arah Mei.
"Apa
jangan-jangan aku dibenci, ya..."
"Tenang
saja, kami berdua akan melindungimu, kok."
"Terima
kasih ya, kalian berdua."
Di
usia mereka sekarang, anak laki-laki dan perempuan yang sebelumnya bisa bermain
bersama dengan santai perlahan mulai berubah.
Kesadaran
akan perbedaan gender yang muncul secara bertahap itu sering kali memicu
kecanggungan atau bahkan permusuhan di antara mereka.
Anak
laki-laki mulai merasa malu jika bermain dengan anak perempuan.
Namun
karena jauh di lubuk hatinya mereka tetap ingin akrab, mereka sering mengganggu
atau sengaja bersikap jahil.
Di
sisi lain, anak perempuan yang tidak menyadari niat tersebut menganggap
perlakuan anak laki-laki itu kekanak-kanakan.
Pada
akhirnya, tanpa sadar mereka malah membalas dengan sikap yang kasar.
Namun,
hal tersebut juga merupakan salah satu bukti dari pendewasaan.
Aku
jadi merasa bernostalgia sambil mendengarkan obrolan mereka, teringat bahwa aku
juga pernah melewati masa-masa seperti itu. Mungkin Yamada-kun sebenarnya
menyukai Mei.
Tak
lama kemudian, melodi lagu "Gunung Fuji" yang berfungsi sebagai
penanda waktu mulai bergema di penjuru kota.
"Sudah jam empat, nih," ucap Misora.
Ketiganya
menenggak habis sisa minuman mereka secara bersamaan lalu berdiri.
"Ayo
kita pergi."
Mei
menggenggam tanganku. Mungkin karena dia baru saja memegang gelas, tangan
mungilnya itu terasa sedikit dingin.
"Tunggu
sebentar, aku mau lepas celemek dulu."
Setelah
itu, aku keluar dari kafe bersama mereka bertiga. Awan-awan
besar yang tampak samar melayang di langit yang biru.
Langit bagian barat mulai menguning, pertanda bahwa matahari akan
segera terbenam sebentar lagi.
"Aku sudah belajar trik baru, lho."
Misora menatapku dengan penuh rasa percaya diri seraya menyeringai
lebar.
"Hari ini aku pasti akan menang telak."
"Wah, aku jadi tidak sabar melihatnya."
"Aku juga sudah makin jago melakukan putaran Roll Turn,
lho."
Tatsuki berkata sambil memantulkan bolanya ke tanah.
"Meliuk, seperti ini!"
Tatsuki memutar tubuhnya di atas jalan aspal, memperagakan gerakan
putarannya. Rambut hitam yang diikat bergaya ekor kuda miliknya berkibar
melayang di udara.
"Hei,
hei, jangan main di jalanan, itu bahaya."
Kami
akhirnya tiba di taman. Meski ada banyak anak-anak yang sedang bermain,
untungnya ring basket di sana sedang kosong dan tidak digunakan oleh siapa pun.
"Kalau
begitu, kita main sampai jam lima, ya."
"Baik!"
"Baik!"
"Baik!"
◇
Dalam
perjalanan pulang sekolah, aku mampir ke Moon Night Terrace seperti biasa.
"Selamat sore!"
"Oh, Miya-chan, selamat datang."
"Selamat datang."
"Eh?
Bibi, Yuu-nii ke mana?"
Biasanya
Yuu-nii akan menyambutku dengan raut wajah santainya, namun saat ini hanya ada
paman dan bibi di sini.
"Yuu
sedang istirahat sekarang."
"Berarti
dia ada di kamarnya, ya."
"Tidak,
dia baru saja keluar. Dia bilang mau pergi main basket
bersama Misora-chan dan teman-temannya."
"Sama
Misora?"
"Juga
sama Tatsuki-chan dan Mei-chan. Mereka baru pergi pas jam empat tadi, jadi
kalian pasti berselisipan di jalan."
Waktu
sekarang menunjukkan pukul empat lewat empat menit. Mumpung sudah ke sini,
kurasa aku akan menyusul mereka saja.
Lagipula
mereka itu cuma anak kecil. Ini waktu yang tepat bagiku untuk unjuk gigi
memamerkan kehebatan seorang kakak perempuan di depan mereka.
"Aku
mau menyusul ke sana, ah."
"Lho,
Miya-chan tidak belajar?"
"Nanti
saja sehabis main."
Aku
meletakkan barang-barangku di kamar Yuu-nii, lalu berjalan menuju taman.
◇
"Hup!"
"Apa?!"
Bola
basket meluncur mulus melewati celah kedua kakiku, lalu mendarat tepat di
tangan Misora yang memotong lari secara menyilang.
Aku
segera menoleh ke belakang dan mencoba melakukan blok, tetapi sayangnya
semuanya sudah terlambat karena tembakan lay-up dari Misora sukses
menggetarkan jaring ring basket kami.
"Hehe,
masuk, kan!"
"Jadi
trik baru yang kamu maksud tadi itu mengoper lewat kolong kaki?"
"Bagaimana,
hebat, kan?"
Dia
sudah mempelajari trik yang sangat merepotkan.
Dengan
perbedaan ukuran tubuh kami, tentu saja mudah bagi anak kecil sepertinya untuk
meloloskan bola melalui celah kaki orang dewasa yang terbuka lebar.
"Hebat,
sih. Tapi jujur, rasanya bikin ketar-ketir..."
"?"
Membayangkan
seandainya lemparan bola itu meleset dari sasarannya dan malah menghantam area
vital milikku secara langsung, seketika itu juga membuat bulu kudukku merinding
ngeri.
Setelah
kami berempat bersenang-senang bermain basket selama beberapa saat, mendadak
terdengar sebuah suara yang tak asing memanggil kami entah dari mana asalnya.
"Hei!"
Suara
lesu yang terdengar begitu santai ini, jangan-jangan...
"Ah,
Kakak."
Misora
membelalakkan matanya karena terkejut.
"Halo!"
Saat
menoleh mengikuti arah pandangan anak-anak itu, aku melihat sosok Miya tengah
berlari-lari kecil ke arah kami.
Gadis
yang terlihat masih mengenakan seragam sekolahnya itu pun mendekati kami sambil
melambaikan tangan.
"Ada
apa, Miya? Tumben sekali kamu mampir ke sini."
Apa
mungkin dia kebetulan lewat taman ini sepulang sekolah?
Namun, melihatnya datang dengan tangan kosong benar-benar mengundang
tanda tanya besar di kepalaku.
"Tadi aku mampir ke kafe dan dengar kalau Yuu-nii lagi main basket
di taman. Makanya aku ikut menyusul kemari."
"...Lalu bagaimana dengan belajarmu?"
"Nanti saja sekembalinya ke kafe."
"Kakak
datang kemari mau ngapain, sih?"
Tampak
raut wajah ketidakpuasan tergambar di wajah Misora.
"Mau
apa lagi? Tentu saja karena aku ingin ikut bermain dengan kalian."
"Miya-san juga mau ikut main basket?"
Tatsuki
melontarkan pertanyaannya.
"Tentu
saja aku ikut!"
"Eh, jangan dong. Kakak kan mainnya payah."
"Apa kamu bilang, Misora?"
"Kan memang benar kenyataannya begitu."
"Sudah, sudah. Ngomong-ngomong, apa kamu bisa main basket,
Miya?"
"Jangan sembarangan, ya. Dulu aku kan sering main basket di taman
ini bersama kalian."
"Oh, iya, benar juga."
Diingat-ingat kembali, sewaktu Miya dan kawan-kawan masih duduk di
kelas satu SD, aku memang sering bermain basket di taman ini bersama mereka.
"Tapi
masalahnya, kamu pakai sepatu loafer, lho."
Apakah
dia akan baik-baik saja dengan sepatu seperti itu? Semua orang juga tahu kalau
ketidakmampuan fisik Miya dalam berolahraga bukanlah sesuatu yang bisa
diremehkan.
"Mau
bagaimana lagi. Pokoknya Kakak jangan sampai merepotkan kami berdua, lho."
"Iya,
iya, aku mengerti, kok."
"Kalau
begitu, mari kita bagi kelompok dan langsung mulai pertandingannya."
Andaikan
saja ada tambahan satu orang pemain lagi di tempat ini, pastilah kami bisa
memainkan laga tiga lawan tiga.
Namun
rasanya mustahil untuk berharap akan ada orang lewat yang mau meluangkan
waktunya untuk bermain bersama.
Karena
permainan ini menjadi pertandingan tiga orang melawan dua, aku berusaha
merancang kelompok sedemikian rupa dengan mempertimbangkan keseimbangan
kekuatan yang ada.
Pada
akhirnya kami memutuskan agar pertandingannya dilakukan antara tim
beranggotakan aku dan Mei, melawan tim yang berisi Miya, Misora, serta Tatsuki.
"Kakak,
terima ini!"
"Uwaa!"
Meski
sekilas bola nyaris terlepas dari tangannya, Miya bisa menemukan cara agar
terhindar dari hadangan Mei lalu segera mengambil posisi menembak.
Sayang
seribu sayang, serangkaian gerakan yang dilakukannya memakan waktu yang sangat
lambat.
"Hiyah!"
Alhasil,
aku dengan mudah dan lancar menepis jauh bola yang hampir dilempar tersebut
tanpa perlawanan apa pun darinya.
"Ih,
apa-apaan sih Yuu-nii ini!"
"Persiapan
gerakanmu itu terlalu lama."
Dari
saat dia bersiap sampai dia mau menembakkan bola ke ring saja sudah
menghabiskan waktu lima detik.
"Perasaanku
saja, atau kamu dulu mainnya jauh lebih mahir daripada sekarang?"
"Uuu, tidak benar kok."
Sekarang giliran tim kami yang menyerang balik.
Aku mengumpan bola ke arah Mei lalu berlari menuju area di bawah ring.
Miya dan Tatsuki langsung menjagaku.
Skenario idealnya adalah aku menerima umpan dari Mei tanpa perlawanan,
tapi pertahanan tangguh Misora membuat Mei tidak bisa mengoper bola. Duel
antara Mei dan Misora pun berakhir dengan kemenangan telak Misora tanpa
kesulitan berarti.
"Maaf,
ya."
"Tidak
apa-apa, mari kita ubah cara berpikir pada peluang penyerangan kita
selanjutnya."
"Baik."
Serangan
balas dari tim Miya kini dilakukan kembali.
"Miya-san, tangkap!"
"Oke, hop, ei!"
Menerima umpan dari Tatsuki, Miya melakukan dribel kaku melewati Mei dan
mengambil ancang-ancang untuk lay-up. Tetap saja, gerakannya sangat
canggung dan lambat. Bahkan dari posisiku yang agak jauh pun, aku masih punya
cukup waktu untuk melakukan blok.
Aku melompat miring dengan cepat. Hampir bersamaan, Miya juga melompat
ke arah ring.
Aku mengulurkan tanganku, menepis bola dari tangan Miya dengan sukses,
sehingga mencegahnya mencetak angka.
"Waah!"
Tapi, sepertinya aku melompat terlalu kuat, sehingga momentumku tak
tertahan. Begitu juga Miya.
Eh? Sepertinya kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.
Ah, itu waktu aku main basket dengan Mahiru. Untuk mencegah kejadian
memalukan itu terulang, aku segera memutar tubuh agar tidak bersentuhan
langsung dengan tubuh Miya—terutama bagian dadanya yang besar.
Kami berdua bertabrakan di udara.
"Aduh!"
"Uwoh!"
Kehilangan
keseimbangan, kami pun jatuh terduduk di aspal.
Namun,
aku merasa lega karena yang saling berbenturan hanya dadaku dan bahu kirinya.
Untunglah,
aku tidak perlu merasakan momen canggung seperti dulu.
Mei
kemudian mengambil bola. Sekarang giliran kami menyerang.
"Fuh."
"Aduh,
Yuu-nii ih!"
"Ah,
maaf, maaf...!"
Tiba-tiba,
aku menahan napas karena terkejut.
Miya
terjatuh dalam posisi duduk, dengan kedua kakinya terbuka lebar.
Mengingat
ia masih memakai seragam sekolah, otomatis bawahannya adalah sebuah rok.
Sialnya,
posisi mendarat kami saling berhadapan.
Apa
yang kulihat saat itu—pancaran putih bersih di balik bayangan rok Miya—sungguh
tak terhindarkan.
Seketika
aku memalingkan pandanganku.
"Eh?
Ah!"
Melihat
reaksiku, Miya pun menyadari apa yang baru saja terjadi.
Ia
langsung berdiri dan merapatkan kakinya, lalu menutupi roknya dengan kedua
tangannya dengan panik.
"Y-Yuu-nii
bodoh!"
Wajahnya
merah padam, dan suaranya bergetar menahan malu sekaligus marah.
"M-Maaf. Aku tidak sengaja, kok."
"...Kamu
tadi melihatnya, kan?"
Miya
menatapku dengan tatapan tajam nan menusuk.
"Tidak, itu, itu kan..."
"D-Dasar mesum!"
"Ini cuma salah paham!"
Buntut dari kejadian itu, aku harus berjanji untuk mentraktir Miya kopi
selama seminggu penuh.
Pelajaran
hari ini: Jangan bermain basket kalau sedang memakai rok.
2
Lounge
SMA Swasta Hiyuri Khusus Perempuan.
Pencahayaan
di sana diatur agar sedikit remang-remang, dengan meja-meja yang ditata
berjauhan.
Dindingnya
dilapisi panel kayu bermotif mosaik klasik, sementara lantai beralaskan karpet
tebal berwarna merah tua.
Di bagian dalam terdapat konter, tempat seorang ibu tua pemilik tempat
ini berdiri dengan tenang.
Jika
didengarkan saksama, alunan musik jazz pelan yang diputar dapat menenangkan
pikiran.
Tempat
ini terasa seperti sebuah bar rahasia yang elegan, sebuah oase tempat
murid-murid memulihkan diri dari kepenatan belajar sehari-hari.
Sambil
duduk di tepi jendela, aku menikmati secangkir cokelat panas.
Kutatap
bulan yang benderang di pekatnya malam, merasakan kelembutan rasa manis
membelai lidahku.
"Fuh..."
Memang
enak, tapi cokelat buatan Moon Night Terrace terasa puluhan kali lebih nikmat.
Ini bukan tentang kualitas bahan semata.
Tanpa
kehadiran Yuu-nii, apa pun yang ku makan atau ku minum, tak ada yang bisa
mengisi kekosongan hatiku.
"Haa..."
Hari
Sabtu dan Minggu lalu begitu menyenangkan.
Hari
Sabtu aku merayakan ulang tahun Mahiru-chan, dan keesokan harinya, aku pergi
kencan berdua saja dengan Yuu-nii ke Kebun Binatang Nihondaira...
"Haa..."
Betapa
tersiksanya aku selama lima hari ini tanpa Yuu-nii.
Seiring
berlalunya hari pertama ke hari kedua, rasa gelisah ini semakin menjadi-jadi,
sampai puncaknya, rasa cemas membuatku tak bisa tidur di malam hari.
Seperti
penderita kecanduan narkoba yang sedang sakau, tubuhku benar-benar
mendambakan Yuu-nii.
Kalau
sudah begini, aku sungguh menyesal karena tidak bersikeras sekolah di
Fujinomiya saja. Ironisnya, semua "gejala" ini lenyap begitu aku
bertemu dengannya. Manusia memang makhluk yang unik.
Ah, tak sabar rasanya menunggu akhir pekan.
"Gendouji-san, akhir pekan ini kamu mau pergi keluar lagi?"
Tenryuuji-san, teman sekelasku, duduk di depanku dengan segelas jus
jeruk di tangan.
"Tentu saja, Tenryuuji-san."
Jawabku dengan tenang.
"..."
"Ada
apa?"
"Gendouji-san,
apa musim panas kemarin kamu sudah jadian dengan pacarmu?"
"Eh?"
Tenryuuji-san
menatapku dengan sorot mata curiga yang tajam.
"Habisnya,
sejak liburan musim panas usai, kamu terlihat sangat bahagia, dan setiap akhir
pekan selalu keluar terus."
"...Ehehe."
Aku
membalasnya dengan senyuman kecil.
"Sikap
santai itu... tebakanku benar, kan!"
Sebenarnya,
lebih dari sekadar pacar, Yuu-nii adalah seluruh hidupku.
Tapi
karena menjelaskannya terlalu rumit, biarlah ia menganggapnya begitu. Lagipula,
dipanggil "pacar" juga terdengar manis.
Sambil
pura-pura menangis, Tenryuuji-san berseru, "Bukankah kita, sebagai siswi
Hiyuri, sudah bersumpah untuk saling menjaga kesucian?! Dasar
pengkhianat!"
"Ah,
tidak, kesucianku masih—"
"Katanya
Himura-san dan Yanaginomiya-san juga jadian musim panas kemarin. Masa
Gendouji-san tega meninggalkanku sendiri?"
Kali
ini ia tidak pura-pura menangis lagi, tapi benar-benar menitikkan air mata.
Sepertinya,
fakta didahului oleh teman-teman sekelasnya dalam hal asmara sangat melukai
harga dirinya.
"Sudah,
sudah."
"Aku
juga mau punya pacar!"
"Tapi
Tenryuuji-san kan sudah punya Sugita-san dari Kaiser."
Kaiser
adalah grup unit seiyuu pria muda. Awalnya
grup itu adalah favorit Kujou-san.
Namun, karena ingin merasakan bersentuhan dengan pria sungguhan,
Tenryuuji-san ikut acara jabat tangan mereka, dan akhirnya malah ia sendiri
yang tergila-gila.
Tambahan, kabarnya Tenryuuji-san adalah fans berat Daisuke
Sugita, sang leader.
Yah, karena aku tidak tertarik pada laki-laki selain Yuu-nii, aku tidak
terlalu mengerti letak daya tarik idol itu.
"Oshi dan pacar itu beda tempat!"
"Iya, iya, tenang."
Butuh waktu lima belas menit bagiku untuk membujuk Tenryuuji-san yang
terus meratap di atas meja.
Setelah reda, dengan mata sembab dan memerah, Tenryuuji-san kembali
mendongak sambil cemberut.
"Orangnya
seperti apa? Anak SMA? Anak kuliahan?"
"Itu...
rahasia."
"Pakai
rahasia segala."
Karena
statusku masih sebagai siswa SMA, aku harus merahasiakannya demi nama baik
Yuu-nii.
"Ketemu
di mana?"
"Eh...
bukan ketemu waktu liburan musim panas, sih. Lebih tepatnya kenalan lama."
"Eh?
Terus siapa yang nembak?"
"Tentu
saja aku."
"Eh,
Gendouji-san agresif juga, ya?"
"Ah,
tidak juga."
Tenryuuji-san
mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik.
"Jadi,
bagaimana? Apa rasanya sakit?"
"Ha?"
"Jangan
pura-pura bodoh. Kalau jadiannya waktu musim panas, tidak mungkin belum
'melakukan' apa-apa, kan?"
Wajahnya
merona, dengan ekspresi campuran antara rasa ingin tahu dan ngeri menatapku.
"A-ah."
"S-sudah
'melakukan' itu, kan?"
"Eh,
anu..."
Tiba-tiba,
kenangan malam itu di Shounan—saat aku mengungkapkan perasaanku pada
Yuu-nii—kembali terlintas di benakku, membuat perut bagian bawahku terasa
hangat.
"B-bagaimana
rasanya?"
"Bagaimana
apanya..."
Meski
pada saat itu kami tak sampai 'melakukan' hal itu, namun karena kami hampir
saja melakukannya, rasanya wajar jika kuanggap kami sudah 'melakukan'-nya.
"S-santai
saja, kok?"
Aku
membetulkan letak kacamataku dengan telunjuk.
"Hah..."
Dengan
pandangan penuh kekaguman, Tenryuuji-san menjauhkan tubuhnya dan bersandar pada
kursi dengan tatapan sedikit kagum.
"A-aura
orang dewasa..."
"Hehe."
Tiba-tiba
aku merasa sangat bangga, dan sedikit membusungkan dada.
Setelah
menikmati waktu minum teh bersama Tenryuuji-san selama sekitar sejam, aku
kembali ke kamarku lalu pergi mandi.
"Fuh."
Aku duduk di atas tempat tidur.
Tadi aku sedikit pamer di depan Tenryuuji-san, tapi sebenarnya hatiku
sedang tidak tenang.
Waktu
lima hari dari Senin hingga Jumat terasa sangat panjang.
Selain
karena tidak bisa bertemu Yuu-nii, ada hal lain yang mengkhawatirkanku.
Sebuah
foto yang dikirim ke grup Line milikku, Miya-chan, Mahiru-chan, dan Yuu-nii.
"Indah
sekali."
Foto
pemandangan kota Fujinomiya di malam hari itu dikirimkan bersama komentar
Miya-chan.
Kudengar,
dia diajak pergi naik mobil oleh Yuu-nii ke Gunung Fuji dan mampir ke spot
tempat melihat pemandangan malam hari.
Sungguh
membuat iri. Aku juga ingin menikmati suasana romantis memandangi pemandangan
malam berdua saja dengan Yuu-nii.
Aku
hanya bisa bertemu Yuu-nii pada hari Sabtu dan Minggu saja. Cuma dua hari. Tapi
kudengar Miya-chan setiap hari mampir ke Moon Night Terrace untuk belajar.
"Enak banget sih, Miya-chan."
Perbedaan ini sangat tidak adil. Dulu aku sudah memperingatkan
Miya-chan agar menghindari hal-hal yang dapat memicu kesalahpahaman, demi nama
baik Yuu-nii.
Tapi
melihat kelakuannya sekarang, dia pasti sudah melupakannya.
Bisa
saja saat aku berada di Kanagawa, kepolosan Miya-chan meledak dan mendekatkan
jaraknya dengan Yuu-nii. Biar bagaimana pun, Miya-chan itu sangat imut.
Ditambah
lagi, kepribadian alami Miya-chan yang seolah memancing insting "ingin
merawat", kurasa sangat pas dengan sisi kebapakan yang ada pada Yuu-nii.
Kedua
orang itu sangat berbahaya jika dibiarkan berduaan.
Waktu
yang kumiliki hanya dua hari dalam seminggu. Aku harus menyusun strategi khusus
untuk menaklukkan hati Yuu-nii dengan waktu yang terbatas ini...
◇
"Hehe."
Aku menggunting sebuah foto dengan hati-hati. Foto wajah Yuu-nii yang
telah kupotong dalam bentuk oval.
Hasil
potonganku rapi sekali. Aku lalu memasukkannya ke dalam liontin berukuran pas
pemberian Yuu-nii. Sempurna.
"Hehe."
Bandul
liontin berwarna keemasan itu memantulkan cahaya lampu.
Saat
sedang memandangi liontin itu, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari
ponselku. Ada pesan grup Line dari Miya.
"Selesai
belajar~"
Sepertinya
hari ini pun Miya belajar di kamar Yuu-nii di Moon Night Terrace.
"Enak
banget sih, Miya."
Dengan
dalih belajar, Miya bisa dengan mudah masuk ke kamar Yuu-nii. Lagipula Miya tak
perlu merasa canggung, mungkin dia hanya bersikap seperti biasa. Sebenarnya,
aku juga ingin mampir sepulang dari klub.
Tapi
karena akhir-akhir ini latihanku sering sampai larut malam, ditambah rapat
untuk persiapan turnamen musim semi, aku jadi tidak punya banyak waktu.
"Kerja
bagus," balas Asaka.
"...Asaka."
Dan
akhir pekan ini Asaka pasti akan datang lagi ke Fujinomiya. Minggu lalu kami
pergi ke kebun binatang.
Entah
ke mana kami akan pergi minggu ini. Dengan karakter Asaka, dia mungkin akan
melakukan hal-hal gila seperti waktu di Shounan lagi.
Selama
aku sibuk dengan klubku, jarak antara Asaka dan Yuu-nii akan semakin dekat.
Bisa-bisa
saat aku menyadarinya, mereka berdua sudah berpacaran. Jika itu terjadi,
semuanya akan berakhir buruk.
Tapi...
"Kamu
akan mendukungku, kan?"
Atas
kata-kata itu, aku tidak bisa mengungkapkan isi hati yang sebenarnya.
Aku
tak bisa mengatakan bahwa aku juga menyukai Yuu-nii, sehingga aku tak mungkin
bisa mendukung cintanya pada Yuu-nii.
Aku
merasa menyedihkan karena tak punya keberanian untuk melangkah.
Tapi
di dunia ini, tak ada kisah semanis cerita dongeng di mana kau bisa mendapatkan
apa yang kau mau hanya dengan berdiam diri.
Jika
tidak bergerak, aku takkan mendapatkan apa-apa. Jika ada yang kuinginkan, aku
harus merebutnya dengan tanganku sendiri...
"Haa..."
Kurebahkan
badanku di atas kasur sembari memeluk erat liontin ini.
"Kalau
cuma bicara memang gampang."
Andai
Yuu-nii tahu bagaimana perasaanku kepadanya, hubungan kami saat ini pastinya
takkan pernah bisa sama lagi.
Namun,
jika aku terus berdiam diri, aku hanya akan bisa menatap kosong saat Asaka
merebut Yuu-nii dariku.
"Kerja
bagus," aku pun ikut membalas pesan.
Tinggal
dua hari lagi sebelum hari Sabtu tiba.
◇
"Hnnghh."
Aku
meregangkan badanku dengan kuat untuk melemaskan otot-otot yang tegang.
"Hnn."
Badanku
terasa kaku seperti kayu karena terlalu lama duduk belajar menghadap meja.
Kuhabiskan sisa cafe au lait di glasku, lalu berdiri.
Seketika,
aku menyadari bahwa kakiku kesemutan dan akhirnya aku pun ambruk ke lantai
dalam posisi yang aneh.
"Ngapain
kamu?"
Yuu-nii
yang sedang membaca novel saku di atas tempat tidurnya, bertanya dengan nada
keheranan.
"Ka-kakiku
kesemutan."
"...Oh,
ini."
Yuu-nii
pelan-pelan menendang telapak kakiku.
"Hya!"
Rasa
kesemutan itu langsung menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun.
"Ini,
ini."
"Hyaaaaa!"
"Hahaha."
"B-bodoh."
"Maaf,
maaf."
Butuh
sekitar lima menit hingga kesemutan di kakiku hilang. Benar-benar
deh, Yuu-nii usil banget.
"Yuu-nii,
antarkan aku pulang, dong~"
"Oke."
Waktu
menunjukkan pukul setengah delapan. Di luar hari sudah gelap gulita. Angin
malamnya terasa sangat menyejukkan.
Begitu masuk ke mobil Yuu-nii, aku langsung bersandar nyaman pada jok
mobil.
"Miya,
pakai sabuk pengamanmu."
"Ah,
iya."
Mengecek
aplikasi Line, Mahiru dan Asaka sama-sama mengirimkan balasan "Kerja
bagus".
Aku ingin bermain dengan mereka lagi. Andai saja akhir pekan segera
tiba. Aku lalu mengetik balasan, "Sekarang aku diantarkan pulang oleh
Yuu-nii".
3
Hari
Jumat.
Matahari
mulai condong ke barat. Pengunjung kafe yang didominasi oleh pelajar sepulang
sekolah dan ibu-ibu yang baru pulang berbelanja mulai ramai berdatangan.
Sambil
bekerja dengan cekatan, aku terus memusatkan perhatian pada pendengaranku.
"Selanjutnya,
kami meliput secara eksklusif para siswi SMA di prefektur ini yang mengincar
turnamen nasional musim semi."
Mendengar hal itu, ibu menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah
televisi yang tergantung di dinding.
"Ara, i-ini, kan?"
Aku pun ikut mengarahkan pandanganku ke televisi. Acara yang sedang
disiarkan adalah program berita lokal sore hari.
"Kami mewawancarai langsung para gadis yang mendedikasikan masa
muda mereka untuk bola voli."
Seorang penyiar wanita berusia matang berkata sambil tersenyum.
Tayangan lalu berganti, dan pemandangan yang tak asing lagi memenuhi layar.
Dengan latar belakang Gunung Fuji yang megah, gerbang torii merah Kuil
Sengen Taisha terlihat di layar.
"Kota Fujinomiya, Prefektur Shizuoka. Di kota yang terbentang di
kaki Gunung Fuji yang merupakan warisan dunia ini, para gadis yang
mendedikasikan masa mudanya untuk bola voli..."
Para pelanggan di kafe tampaknya juga bereaksi mendengar kata
"Kota Fujinomiya".
Pandangan
mereka pun terpaku pada televisi.
Selama
sekitar lima detik, pemandangan kota Fujinomiya ditayangkan.
Setelah
itu, layar berganti menampilkan jalanan berpepohonan di SMA Kita, gedung
sekolah, dan kemudian gimnasium kedua.
Tampak
para anggota klub voli putri sedang berlatih keras. Ibu memekik saat menemukan
sosok Mahiru di antara mereka.
"I-itu,
barusan Mahiru-chan kelihatan, lho! Kamu lihat, Yuu?"
"Aku
lihat, kok. Tapi Ibu semangat banget, ya."
Sambil
berkata begitu, aku sendiri juga merasakan perasaan menggebu-gebu di dalam
diriku. Perasaan yang aneh.
Beberapa
hari yang lalu, Mahiru memberitahuku bahwa ada stasiun televisi yang meliput
klub voli putri SMA Kita. Ia juga bilang liputan khusus itu akan ditayangkan
hari ini.
Klub
voli putri SMA Kita memang dikenal sebagai tim tangguh di tingkat nasional.
Memang sering ada program berita lokal yang meliput siswa SMA di
prefektur ini.
Namun, saat sekolah di kotamu sendiri—yang juga merupakan
almamaterku—masuk televisi, entah kenapa rasanya membuatku tidak tenang.
Apalagi
ada kemungkinan Mahiru akan muncul di televisi. Wajar saja kalau aku jadi
gelisah.
"Kira-kira
rekamannya jalan nggak, ya? Coba kamu periksa."
"Iya."
Ayahku
yang biasanya pendiam dan santai, bergerak secepat ninja naik ke lantai dua. Ia
lalu segera kembali ke bawah.
"Sudah
kurekam, kok."
"Syukurlah."
Karena
tidak tahu kapan liputan khusus itu akan ditayangkan, kami merekam seluruh
program acara tersebut. Kami menonton televisi dengan
perasaan berdebar-debar.
Sambil menayangkan cuplikan latihan, narator menjelaskan tentang SMA
Kita.
"Klub voli putri SMA Kita adalah tim tangguh yang sudah
berkali-kali bertanding di turnamen nasional. Sekolah ini juga dikenal sebagai
almamater Koharu Hanayama, atau Koharun, yang merupakan atlet tim nasional
Jepang."
"Sayangnya, tahun lalu mereka gagal karena kurang tenaga—"
"Aduh, tayangkan Mahiru-chan lebih banyak dong."
Ibu memprotes kerja kameramen.
"Jangan minta yang tidak masuk akal.... Koharu Hanayama?"
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Siapa,
ya...
"Permisi,
saya mau pesan!"
"Ah,
iya, sebentar!"
Aku
bergegas menuju meja pelanggan untuk menerima pesanan. Ayah dan ibuku
sepertinya terlalu asyik menonton televisi.
Karena
pergerakan mereka lebih lambat dari biasanya, aku harus menutupi kekurangan
mereka.
Tak
lama kemudian, sosok Mahiru muncul di layar. Sebuah teks bertuliskan
"Tahun Ketiga, Mahiru Ryushaku" muncul di bagian bawah layar.
"Kami
mewawancarai Mahiru Ryushaku, sang kapten tim."
"Ah,
itu Mahiru-chan!"
"Jangan
berisik, Bu."
Di
layar, wajah Mahiru terlihat sedikit kaku dan tegang. Ia mungkin merasa gugup.
Namun,
ia mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Hal itu menunjukkan kemampuannya
sebagai kapten.
"Ya,
sa—bagi kami anak kelas tiga, ini adalah turnamen terakhir. Jadi, kami akan
berlatih keras agar tidak ada penyesalan, dan berjuang bersama-sama untuk
menghadapi turnamen musim semi."
Melihat
Mahiru yang sedang diwawancarai, entah kenapa rasanya jantungku seperti diremas
kencang.
Karena
ini akan disiarkan ke seluruh penjuru Shizuoka, kuharap ia tidak salah bicara. Aku juga berharap dia tidak mengatakan hal yang aneh-aneh.
Eh, ini kan bukan siaran langsung. Kenapa aku
harus khawatir, sih?
Setelah
itu, disisipkan cuplikan latihan Mahiru. Bersamaan
dengan adegan ia melakukan spike, narator pun memperkenalkannya.
"Ryushaku-san sudah bermain sebagai pemain inti sejak kelas satu,
dan telah berjuang keras sebagai pilar tim. Terlebih lagi, kabarnya saat ini ia
sedang diincar oleh dua tim korporat."
"Perjalanan
kariernya di masa depan sangat patut untuk kita nantikan, ya."
Bagian
Mahiru pun selesai, dan beralih ke wawancara dengan guru pembimbing. Aku merasa
pernah melihatnya di mana.
Ternyata
aku baru ingat kalau guru itu juga pembimbing klub voli putri waktu aku masih
bersekolah di sana. Hal itu sedikit membuatku bernostalgia.
Setelah
itu, Mahiru tidak lagi disorot, dan segmen tersebut pun berakhir.
"Demikian
liputan khusus dari kami. Selanjutnya, prakiraan cuaca untuk esok hari—"
Layar
berganti ke studio, dan sang penyiar mengumumkan dimulainya segmen cuaca.
Hampir semua orang, termasuk diriku, sudah memalingkan pandangan dari televisi.
"Wah,
hebat, ya. Jantungku masih berdebar-debar, lho."
Selama
beberapa saat setelah itu, ibu terus bekerja dengan mata berbinar-binar.
"Untuk apa Ibu berdebar-debar segala, sih?"
"Soalnya hebat kan, Mahiru-chan sampai diwawancarai masuk
televisi."
"Memang sih."
Tepatnya, liputan itu bukan hanya untuk Mahiru, melainkan untuk seluruh
klub voli SMA Kita. Tapi karena ada kenalan yang muncul, mata kami jadi lebih
tertuju pada Mahiru.
Begitu
juga halnya denganku.
"Oh
ya Bu, Ibu kenal Koharu Hanayama?"
Ketika
aku bertanya tentang nama yang disebut di liputan tadi, ibu menatapku seolah
melihat hal yang tidak masuk akal.
"Kamu
nggak kenal Koharun?"
"Rasanya
pernah dengar namanya. Dia atlet voli, kan?"
"Dia
atlet voli lulusan SMA Kita, dan juga pemain timnas, lho."
"Dari
SMA Kita?"
"Kalau
nggak salah, dia adik kelasmu yang beda dua tahun. Anak ini benar-benar—"
Beda
dua tahun di bawahku, berarti dia kelas satu saat aku kelas tiga SMA... Ah!
Iya,
aku ingat. Koharu Hanayama.
Dia
adalah pacar sahabatku. Pantas saja aku merasa pernah mendengar namanya.
Aku
tidak ingat apakah aku pernah mengobrol langsung dengannya atau tidak. Tapi aku
ingat dia adalah gadis yang sangat cantik, mungkin nomor satu atau dua di
sekolah.
Tapi,
tak kusangka dia menjadi pemain di tim korporat. Hebatnya lagi, dia bahkan
menjadi pemain tim nasional.
"Tuh,
tolong bersihkan meja di sebelah sana."
"Oke."
Saat
itu...
"Hei,
cewek yang tadi imut banget, ya."
"Iya, yang jadi kapten itu, kan."
Aku tak sengaja mendengar percakapan dua pemuda yang duduk di meja
dekat jendela. Dari penampilannya, mereka sepertinya adalah mahasiswa.
"Kaya idola, ya."
"Bener banget."
"..."
Setelah itu, mereka langsung mengganti topik pembicaraan. Mendengar
mereka membahas soal kuliah, sepertinya mereka memang mahasiswa.
Perasaan
apa ini... Mereka hanya sekadar mengungkapkan kesan mereka tentang program yang
baru saja mereka tonton.
Meskipun begitu, aku merasakan sesuatu yang mengganjal di hatiku.
Perasaan
ini sama seperti yang kurasakan saat menonton wawancara Mahiru tadi. Saat aku
mengkhawatirkannya, aku tidak menyadarinya.
Namun
rupanya, perasaan aneh ini bercampur aduk dengan rasa khawatirku saat itu.
Sebenarnya perasaan apa ini...?
◇
Ruang
klub voli putri.
"Woooo!"
"Woooo!"
"Woooo!"
Anggota
klub yang menghentikan latihan mereka untuk menonton televisi, serempak
berteriak kegirangan saat liputan khusus tentang mereka selesai.
"Gila,
beneran disiarin dong."
"Kita
masuk TV!"
"Ngomong-ngomong,
Mahiru-senpai tadi gugup banget, ya?"
"Suaranya
lebih tinggi dari biasanya."
"B-berisik.
Siapa pun pasti gugup kalau disorot kamera, kan."
Tapi,
aku merasa berbicara cukup panjang saat wawancara tadi. Entah kenapa yang
ditayangkan hanya sedikit.
Atau
mungkin karena aku terlalu gugup, jadi rasanya lama.
"Nah,
kalian semua, istirahatnya sudah selesai. Ayo
kembali berlatih."
"Baik!"
"Baik!"
"Baik!"
Didorong oleh sang pelatih, anggota klub berbondong-bondong keluar dari
ruang klub.
"Ah, hujan."
Sejak pagi langit memang mendung, tapi entah sejak kapan hujan gerimis
mulai turun. Gawat, aku lupa bawa payung.
Semoga hujannya reda saat latihannya selesai. Mungkin
karena euforia masuk televisi, konsentrasi anak-anak sepertinya agak menurun
saat latihan.
"Ayo,
semuanya fokus."
Meski
berkata begitu, aku sendiri merasa agak tegang. Aku
tidak bisa bergerak seperti biasa.
Apa
karena wawancaraku ditayangkan di televisi?
Bukan,
bukan itu. Hari ini hari Jumat.
Besok,
Asaka akan kembali dari Kanagawa. Untuk menemui Yuu-nii di kota ini...
Latihan
selesai menjelang pukul delapan malam. Aku
mandi dan mengganti baju.
"Hah,
laparnya."
Hujan
semakin deras turun dari langit. Suara rintiknya yang menghantam tanah
terdengar jelas dari dalam gedung.
Bagaimana,
ya? Apa aku minta dijemput Mama saja, ya?
Saat
mengecek ponsel, ada pesan Line dari Yuu-nii. Sepertinya dia sudah menonton
liputan khusus itu dan memberikan komentarnya.
Walaupun
aku sendiri yang memberitahunya, tapi rasanya malu juga karena ditonton oleh
Yuu-nii. Begitu status pesannya berubah menjadi "Telah dibaca",
Yuu-nii langsung mengirim pesan lagi.
"Kamu
baru selesai latihan, ya?"
"Iya."
"Kerja
bagus."
"Tapi
masih hujan, jadi aku belum bisa pulang."
"Kenapa?"
"Aku
lupa bawa payung."
"Ya
sudah, aku jemput saja."
"Boleh,
nih?"
"Tunggu
di depan gedung olahraga, ya."
"Oke."
Setelah
obrolan itu selesai, aku baru sadar kalau kesannya aku seperti sengaja minta
dijemput. Merasa nggak enak, sih.
Tapi,
aku senang bisa bertemu Yuu-nii. Setelah mengunci ruang klub, aku melangkah
keluar.
Hujannya
deras sekali. Aku berteduh di bawah atap gimnasium kedua agar mudah terlihat
jika mobilnya datang.
Saat
itulah, kulihat ada sosok yang sudah tak asing lagi. Seorang pria bertubuh
besar berdiri termenung di bawah cahaya lampu jalan.
Rambut
cepaknya bergaya soft mohawk, tubuhnya tinggi berotot, dan ia mengenakan baju
latihan basket. Dia adalah Serizawa.
"Yo,
Serizawa."
"Eh,
Ryushaku rupanya."
"Ngapain
kamu di sini?"
Apa
dia juga lupa bawa payung dan nunggu jemputan sepertiku? Tidak, Serizawa memegang payung yang tertutup di tangan kanannya.
"Aku
lagi nungguin Rin, nih."
Sambil
berkata begitu, Serizawa menoleh ke arah gimnasium pertama. Klub basket putri sedang beres-beres setelah latihan.
"Oh, pacarmu, ya."
"Bodoh, bukan gitu maksudku!"
Wajah Serizawa memerah hingga ke telinga dengan jelas. Ia melipat
tangannya dan memalingkan wajah.
Seluruh penjuru sekolah sudah tahu kalau Rin Hanayama dan Serizawa
berpacaran. Namun, mereka berdua masih saja berusaha menutupinya.
Setiap kali digoda, mereka selalu mengelak dengan bilang "Kami
belum pacaran" atau "Nggak kaya gitu, kok". Padahal, belum lama
ini junior klub voli memergoki mereka berdua sedang makan siang bersama di
belakang sekolah.
Serizawa dan Rin sudah pensiun dari klub olahraga mereka. Tapi karena
Serizawa mantan kapten dan Rin mantan wakil kapten, katanya mereka kadang
datang untuk membantu latihan.
Paham, deh. Kalau dia menunggu di dekat gimnasium pertama, mungkin dia
akan digoda oleh anggota klub lain.
Karena
itulah dia menunggu di gimnasium kedua.
"Jangan
malu-malu, dong."
Bisa
saling mencintai dengan orang yang disukai itu sungguh indah. Aku jadi iri pada
Serizawa.
"O-omong-omong,
kamu juga baru selesai latihan? Capek juga ya sampai selarut ini."
"Ganti
topiknya kaku banget, deh."
"Berisik,
biarin aja ngapa."
"Iya,
iya, maaf."
"Kamu
lagi nunggu jemputan, ya?"
"Iya,
lupa bawa payung."
"Tiap
hari pulang malam, berat juga, ya."
"Ya,
mau gimana lagi. Kami kan mau ikut turnamen musim semi."
"Mumpung
ikut, menangin sekalian, dong."
"Kamu
ngomongnya gampang banget."
"Ya,
kan Nona Ryushaku udah diincar pro."
"Aku belum mutusin buat gabung ke sana, kok."
Saat obrolan kami terhenti sejenak, kilat tiba-tiba menyambar dan
menerangi sekeliling. Beberapa detik kemudian, guntur menggelegar bagaikan
auman binatang buas.
"Dekat banget jatuhnya."
"Oh ya, Rin pernah bilang. Tim Kumamoto Empress yang nawarin kamu
itu, ada kakak perempuannya Rin, lho."
"Eh?! Masa, sih?"
"Kamu nggak pernah dengar nama Koharu Hanayama, ya?"
"Aku
tahu Koharu Hanayama, sih... Tapi Hanayama itu, ah!"
"Itu
kakak perempuannya Rin, tahu."
"Oh,
gitu rupanya."
"Kamu
nggak tahu, ya?"
"Aku
tahu Rin punya kakak perempuan, tapi nggak nyangka kalau itu Koharu Hanayama.
Rin nggak pernah cerita apa-apa."
"...Aku
juga nggak tahu banyak, sih. Tapi katanya mereka berdua kurang akur."
"Hoo."
Waktu
kelas satu, aku sekelas dengan Rin. Dia orangnya ceria dan gampang bergaul
dengan siapa saja.
Mengejutkan
rasanya mendengar dia kurang akur dengan kakak kandungnya sendiri. Saat itu,
terdengar suara mesin menderu yang menggetarkan perut di sela rintik hujan.
Cahaya
lampu mobil perlahan mendekat. Itu mobil Yuu-nii.
Mobil
Civic-nya pun berhenti di bahu jalan dekat deretan pepohonan di depanku.
◇
Jutaan
rintik hujan turun deras dari langit malam yang gelap bagai tinta tumpah.
Derasnya hujan tak kunjung mereda, sesekali diiringi gemuruh guntur.
Wiper
mobilku bekerja tanpa henti menyapu kaca depan. Benda
itu terlihat begitu sibuk bergerak ke sana kemari.
Aku masuk dari gerbang barat dan menyusuri jalan berpepohonan lurus
menuju gerbang timur. Wajar saja jika tidak ada siswa yang berlatih di tengah
hujan deras ini.
Namun, aku masih bisa melihat cahaya menyala dari beberapa jendela di
gedung sekolah. Aku pun menghentikan mobil di bahu jalan depan gimnasium.
Aku mengambil ponselku yang kutaruh di kursi penumpang. Aku hendak
mengabari Mahiru kalau aku sudah sampai.
Saat itulah, kulihat ada dua orang siswa berdiri di bawah atap
gimnasium dari balik jendela. Detik itu juga, suara rintik hujan yang
memekakkan telinga seketika lenyap.
Duniaku tiba-tiba menjadi hening.
"Itu kan..."
Salah satunya adalah Mahiru. Dan pemuda jangkung di sebelahnya itu...
Dengan perawakan atletis khas anak klub olahraga, mereka berdua
terlihat asyik mengobrol sambil tertawa. Berduaan sampai selarut ini, di tengah
hujan pula...
Jangan-jangan...
"Wah, yang bener aja, nih."
Begitu gumamanku meluncur dari bibir, barulah aku bisa kembali
mendengar suara. Derasnya hujan yang menghantam atap mobil terasa sangat
dingin.
Akhirnya saat ini tiba juga, ya. Keringat dingin mengalir dari ketiakku.
Tiba-tiba
perutku terasa mual. Mahiru bukan anak kecil lagi.
Meskipun dia sibuk dengan kegiatan klub, dia tetaplah seorang siswi SMA
yang sedang mekar. Aku tahu suatu saat hal ini pasti akan terjadi.
Tapi karena belum mempersiapkan diri, aku merasa seolah baru saja
melihat sesuatu yang terlarang. Mahiru sudah punya pacar?
Bukankah ini hal yang membahagiakan? Mahiru yang sombong dan selalu
membuatku repot itu, kini punya pacar...
Perasaan
yang sama seperti saat menonton liputan klub voli SMA Kita tadi kembali
menyerangku. Ini adalah perasaan misterius yang tak bisa kuungkapkan dengan
kata-kata.
Tak
lama kemudian, Mahiru melambaikan tangan kecilnya pada anak laki-laki itu. Ia
pun berlari ke arahku.
Pintu
mobil terbuka, dan wajah Mahiru yang tersenyum muncul di baliknya.
"Makasih,
Yuu-nii."
"O-oh."
Mahiru
dengan gesit duduk di kursi penumpang. Aroma sampo menguar lembut dari
tubuhnya, sepertinya dia habis mandi.
"Aku
lupa banget ngecek ramalan cuaca, nih."
"O-oh."
Bagaimana
ini? Rasa penasaran ini sungguh tak tertahankan.
Meskipun
aku merasa lancang jika menanyakannya langsung, aku tidak bisa menahannya.
"Eh,
ngomong-ngomong, nggak apa-apa kalau nggak ngajak anak cowok tadi
sekalian?"
"Anak
cowok?"
Mahiru
menatapku dengan heran.
"Itu
lho, cowok di sana."
Aku
menunjuk ke arah pemuda yang ditinggal sendiri di bawah atap gimnasium.
"Oh,
Serizawa? Kenapa emangnya?"
Mahiru
memiringkan kepalanya.
"Kenapa,
ya... itu..."
Ah,
aku mengerti. Dia pasti ingin merahasiakan hubungannya.
Banyak
juga pasangan yang tidak mau mengumumkan kalau mereka pacaran. Waktu aku masih
SMA dulu, ada beberapa pasangan yang bersikap seperti itu.
Tapi,
Mahiru yang biasanya blak-blakan ini sampai menyembunyikan hal ini dariku...
Segitunyakah dia menyukai pemuda itu?
Perasaanku
ini ibarat seorang ayah yang akan melepas anak perempuannya menikah. Mahiru
sudah kuanggap seperti adik sendiri sejak kecil.
Kenyataan
bahwa ia menyukai pria yang tidak kukenal dan menyembunyikannya dariku sungguh
menyesakkan.
"Nggak
apa-apa kok, dia lagi nunggu pacarnya."
"Hah?"
Pacarnya,
katanya? Bukannya pacarnya itu kamu?
Hampir
saja kata-kata itu keluar dari mulutku, tapi aku menelannya kembali. Kulihat
seorang siswi berlari-lari kecil dari arah gimnasium pertama.
Siswi
berjaket olahraga itu menghampiri pemuda di bawah atap gimnasium.
"Ah,
orangnya udah datang."
Gadis
itu memiliki rambut hitam sebahu. Pemuda itu kemudian membuka payungnya dan
membiarkan gadis itu masuk ke dalam.
Mereka
berdua pun berbagi payung dan berjalan menghilang di tengah rintik hujan.
"..."
Jangan-jangan,
tadi aku cuma salah paham, ya?
"Dua orang itu..."
"Kan udah kubilang. Cowok tadi cuma lagi nungguin pacarnya, dan
aku kebetulan lagi neduh di sana."
"Oh, begitu rupanya."
Syukurlah, ternyata aku hanya terlalu cepat mengambil kesimpulan.
"Fuh."
Aku
menghela napas panjang, baru sadar kalau hatiku merasa begitu lega. Inikah yang
dinamakan insting kebapakan?
"Apa
sih, Yuu-nii ini?"
"Eh?
Ah, nggak. Tadi aku kira cowok itu pacar kamu."
"Hah!?"
Mahiru
mengerutkan kening dengan jelas.
"Tiba-tiba
ngomong apa sih."
"Habisnya,
kalian berduaan malam-malam begini di tempat kaya gitu. Aku jadi mikir yang
enggak-enggak..."
Mahiru
menghela napas berat.
"Kan
udah pernah kubilang, aku nggak punya pacar."
"B-begitu
ya."
Nada
suaraku terdengar sedikit kesal. Mungkin dia juga terganggu dengan kenyataan
kalau dia belum punya pacar.
"Mahiru."
"Apa?"
"Jangan
khawatir. Anak sepertimu pasti cepat dapat paca—Aduh, aduh, aduh!"
Mahiru
mencubit pipiku dengan kuat. Sepertinya aku baru saja menginjak ranjau.
"Bawel,
ih."
"Maaf,
maaf."
Sambil
menahan perih di pipi, aku mulai melajukan mobil.
"Mau
makan dulu?"
"Nggak
usah, Mama udah nungguin di rumah."
"O-oh
ya, aku udah nonton liputannya lho. Keren juga bisa masuk TV."
"Oh,
iya."
"Tenang
aja, udah kurekam kok."
"H-hah!?
Ngapain direkam segala!?"
Wajah
Mahiru memerah seketika.
"Wajar dong, kan Mahiru masuk TV."
"Yuu-nii ini bener-bener, deh."
"Besok
kutunjukkan ke Miya dan Asaka, ah."
Biasanya
Miya datang ke rumahku untuk belajar, tapi hari ini dia tidak datang. Katanya
dia ada urusan rapat klub tentang film misteri yang akan diputar di festival
sekolah.
Keduanya
pasti kaget kalau tahu Mahiru sudah debut di televisi. Yah, Miya mungkin sudah
tahu, sih.
"Asaka kayanya bakal datang besok siang, jadi aku harus jemput
dia. Mahiru besok latihan juga?"
"I-iya.
Dari siang."
"Kalau
gitu, malamnya kita makan bareng aja."
"Ide
bagus."
Sambil
mengobrol, tak terasa kami sudah tiba di depan rumah keluarga Ryushaku.
"Sudah
sampai, nih."
Kutengok
ke samping, Mahiru sepertinya belum berniat untuk turun dari mobil.
"Mahiru?"
◇
"Yuu-nii, aku belum pengen pulang, nih."
Aku berkata sambil memandang ke luar jendela.
"Hah?"
"Aku pengen jalan-jalan keliling naik mobil sebentar lagi."
"Hmm, boleh aja."
Sayang banget kalau waktu berduaan sama Yuu-nii cuma berjalan sepuluh
menit. Mumpung kami lagi bisa berduaan begini.
"Kalau
gitu, kita keliling nyari jalan aja, ya."
Tanpa
menunjukkan raut wajah keberatan, Yuu-nii kembali menjalankan mobilnya. Aku
lalu mengirim pesan Line ke Mama kalau aku bakal pulang agak telat.
Mobil
kami melaju memasuki jalan bypass. Di tengah guyuran hujan, ada banyak
mobil yang berlalu lalang.
Di
tengah perjalanan, Yuu-nii mampir ke minimarket untuk membelikan minuman.
Manisnya kola dan sensasi soda yang menggelitik terasa menyegarkan tubuhku yang
lelah.
Dari
balik seragam latihanku, kalung pemberian Yuu-nii terasa hangat. Padahal bagian
yang menyentuh kulitku seharusnya dingin, tapi entah kenapa terasa sangat
panas.
Mobil
kami terus melaju ke arah Yamanashi melalui jalur Ootsuki. Tiba-tiba, kenangan
saat kami pergi berkemah bersama terlintas di pikiranku.
Saat
itu aku belum tahu kalau Asaka sedang mengincar Yuu-nii. Karenanya, kami semua bisa bersenang-senang tanpa beban.
Padahal hal itu baru terjadi beberapa minggu yang lalu. Namun
rasanya seperti kenangan yang sudah sangat lama.
Kira-kira
apa ya yang dipikirkan Yuu-nii soal Asaka? Meskipun sudah hampir melewati
batas, apakah Yuu-nii masih menganggapnya seperti adik sendiri?
Aku
tahu Yuu-nii bukan orang yang gampang menuruti hawa nafsu. Tapi setelah
kejadian itu, mustahil kalau Yuu-nii nggak menaruh perhatian padanya.
Aku
harus melakukan sesuatu sebelum Yuu-nii menerima perasaan Asaka... Besok Asaka
bakal balik ke sini lagi.
Pasti
dia bakal menggoda Yuu-nii lagi. Tapi apa yang harus kulakukan?
"Oh
ya, kamu udah mutusin mau gabung ke tim Hokkaido atau Kumamoto?"
Yuu-nii
tiba-tiba bertanya.
"...Belum
kutentuin."
"Keduanya
saling bertolak belakang sih ya, yang satu di utara, satu di selatan. Karena
Bibi Asuka asalnya dari Kumamoto, mungkin lebih baik pilih Kumamoto, ya."
"Ahaha."
Aku
meminum kola untuk menyembunyikan jawabanku.
"Sekarang
yang penting fokus buat Turnamen Musim Semi dulu."
"Iya,
ya. Dulu jangkauan angkatan kami cuma sampai babak pertama aja, jadi kamu harus
menang buat nebus kekalahan kami."
"Lah, Yuu-nii kan anak klub basket."
"Iya juga, sih."
Tak terasa mobil kami memasuki area parkir sebuah rest area di Dataran
Tinggi Asagiri. Terdapat beberapa mobil campervan dan minivan yang terparkir di
sana.
Mungkin karena hujan, tak ada seorang pun yang terlihat di luar. Kami
berdua pun tak ada niat untuk keluar mobil.
Bisa-bisa
basah kehujanan. Lagipula, hujan di malam hari lumayan menakutkan.
"Eh,
ngomong-ngomong soal syuting TV, ada bapak-bapak yang pegang mikrofon gede
berbulu itu, nggak?"
"Kayaknya
nggak ada yang berbulu, deh."
"Oh,
gitu."
Padahal
obrolan kami cuma membahas hal-hal sepele. Tapi entah kenapa perasaanku jadi
hangat begini, ya.
"Tapi
tetep aja keren, lho. Kamu bisa masuk TV gitu."
"Yuu-nii
juga mau masuk TV?"
"Nggak
sama sekali."
Yuu-nii
menjawab dengan tegas.
"Malu,
tau."
"Apaan,
deh."
Andai
saja waktu ini bisa terus berlanjut. Sambil berharap dari lubuk hatiku, kami
menghabiskan waktu bersama ditemani rintik hujan.
"—Nah,
udah waktunya pulang, nih."
"Eh?
Udah mau pulang aja?"
"Ini
udah jam sepuluh, lho."
"Eh,
iya bener."
Melihat
layar navigasi mobil, waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam.
"Pulang, ya."
"Iya."
Orang bilang waktu bersenang-senang bakal berlalu dengan cepat. Tapi
rasanya nggak percaya kalau kami udah ngobrol selama satu jam.
Kuminum
sisa kola di dasar botol. Sodanya sudah hilang sama sekali.
Aku
masih belum puas ngobrol. Masih banyak hal yang ingin kuceritakan padanya.
Yang terpenting, aku belum mengatakan hal yang paling krusial. Soal tawaran pencari bakat, dan soal Asaka.
Hanya
pada Yuu-nii, aku ingin menyampaikan keputusanku. Bahwa
aku tak ada niat untuk bergabung dengan tim korporat.
Mungkin
karena sudah larut malam, jalanan pulang terasa lengang. Tak butuh waktu lama, kami sudah kembali ke daerah perkotaan.
Aku
harus cepat bicara sebelum kami sampai di rumahku. Aku harus menyusun kata-kata
dari sekarang.
Pikiranku
berputar kencang. Semua hal bercampur aduk di dalam kepala.
Asaka.
Tawaran tim pencari bakat.
Malam
di Shounan. Tim korporat.
"Hei,
Yuu-nii."
"Hnn?"
"Aku
suka padamu."
"...Hah?"
Interlude III | ToC | Interlude IV



Post a Comment