Final
Chapter
Dihidangkan
Makanan tapi Tidak Memakannya adalah Aib bagi Seorang Pria
1
Angin laut yang berembus masuk dari
celah jendela. Lautan yang terbentang luas sejauh mata memandang.
Aroma pantai yang pekat serta sinar
matahari yang menyilaukan.
"Uooo, rasanya nyaman
sekali."
Ucap Mahiru yang duduk di kursi
penumpang bagian depan.
"Miya-chan, bangunlah. Lautnya
sudah terlihat, lho."
"Unyuun."
Miya dan Asaka duduk di kursi
penumpang bagian belakang. Asaka pun membangunkan Miya yang sedang tertidur
lelap.
"Hng, apa kita sudah sampai?"
"Sebentar lagi kita sampai,
kok."
"Huaaah."
Kami sedang dalam perjalanan menuju
vila milik keluarga Gendouji di Shounan.
Sejak menerima ajakan Asaka di malam
festival musim panas, jumlah orang yang ikut berkumpul ternyata lumayan banyak.
Di depan kami ada mobil Supra milik
Ayah, dan di belakang kami ada minivan milik keluarga Haruyama yang melaju
seolah mengawal kami dari depan dan belakang.
Pertama, ada aku, Miya, Mahiru, dan
Asaka.
Jika ditambah dengan kedua orang tuaku,
keluarga Haruyama, ibu dan anak keluarga Shimomura, serta Mei, totalnya menjadi
dua belas orang rombongan besar.
Asaka juga mengajak orang lain selain
rombongan ini, tapi pada akhirnya yang bisa meluangkan waktu hanya kami berdua
belas saja.
Ngomong-ngomong, Hikari, Tatsuki, dan
Mei bertiga naik di minivan keluarga Haruyama.
"Aku jadi ingin cepat-cepat
berenang, nih~"
Mahiru menatap tajam ke arah pantai di
samping jalan dengan pandangan berbinar-binar.
Sebenarnya, sekitar satu setengah bulan
yang lalu, aku sudah pernah berkunjung ke vila yang kami tuju saat ini.
Kami berdua belas kembali bertemu
dengan Asaka setelah sepuluh tahun berlalu, dan kami bertiga menghabiskan waktu
yang sangat menyenangkan bersama Hanayoshi-san.
Begitu, ya. Ternyata sudah satu
setengah bulan berlalu sejak saat itu.
"Sesaat lagi, belok kiri. Di
depan ada tikungan."
Sesuai dengan panduan dari navigasi
mobil, aku membelokkan kemudi ke arah hutan.
Setelah melaju mendaki jalanan
menanjak berkelok-kelok yang diapit pepohonan di sisi kanan dan kirinya selama
beberapa menit, pemandangan pun terbuka luas.
Sebuah bangunan berlantai dua
bergaya pensiun menyambut kedatangan kami. Setelah memarkirkan mobil di garasi,
aku pun melangkah ke luar.
"Akhirnya kita sampai juga,
ya."
Mahiru meregangkan tubuhnya kuat-kuat.
Gara-gara gerakan itu, kausnya sedikit tertarik hingga pusarnya sempat
mengintip dari balik bajunya.
Paduan suara riang dari tonggeret
terdengar nyaring dari pepohonan di sekitar.
Aroma hutan yang kaya menyelimuti tempat itu, berbaur dengan semerbak lautan, memberikan sensasi layaknya sedang berada di dunia lain.
"Uwaa, luar biasa!"
"Tadi lautnya juga kelihatan,
lho."
"Rumah yang indah..."
Misora, Tatsuki, dan Mei melompat
keluar dari minivan. Melihat vila yang mewah itu, anak-anak tampak sangat
kegirangan.
Mereka memandang ke sekeliling dengan
rasa penasaran. Dari belakang mereka, Hikari dan Mirai-san ikut turun.
"Panas sekali, ya."
"Mirai-san, terima kasih
tehnya."
"Sama-sama."
"Ara, tempat yang indah sekali,
ya."
Ibu berseru penuh kekaguman.
"Shun-san, nanti kita pergi lari,
yuk."
"Boleh."
"Yuu, kamu juga ikut, ya."
Tacchan menoleh ke arahku.
"Eh, aku juga?"
"Semuanya, ayo kita taruh
barang-barang dulu dan mendinginkan diri di dalam."
Atas aba-aba dari Asaka, kami semua
berbondong-bondong masuk ke dalam vila.
Kamar tidur berada di lantai dua,
dan kami pun diarahkan ke sana. Di lorong lantai dua, terdapat lima buah pintu
yang berjajar dengan jarak yang sama di sisi kiri dan kanan.
Itu artinya, tempat ini bisa menampung
maksimal sepuluh kelompok tamu.
"Semuanya, silakan gunakan kamar
mana pun yang kalian suka. Setiap kamar sudah dilengkapi
dengan kamar mandi dan toilet."
Asaka menjelaskannya dengan
singkat.
"Kalau begitu, aku mau yang
ini!"
Misora membuka salah satu pintu
yang berjajar di sisi kiri.
"Mana boleh Misora menempatinya
sendirian. Kamu harus sekamar denganku."
Miya yang sedang dalam mode kakak
perempuan menegur Misora.
"Eee!"
"Ada keluhan?"
"Sekamar dengan Kakak itu
merepotkan, tahu~"
"Apa kamu bilang~"
Miya masuk ke kamar yang sama dengan
Misora sambil terus mengomel.
"Yuu-nii, apa kamu mau kamar yang
sama seperti sebelumnya?"
"Hm? Yah, aku sih di mana saja
boleh."
"Kalau begitu, kamar Yuu-nii di
sebelah sini."
Diantar oleh Asaka, aku dibawa ke kamar
nomor dua dari ujung kanan. Itu adalah kamar tempatku menginap sebelumnya.
Aku meletakkan barang bawaanku, lalu
mendekat ke arah jendela. Pepohonan dengan warna-warna cerah
memenuhi seluruh pandanganku.
"Rasanya menenangkan."
Setelah beberapa saat memanjakan
mata dengan pemandangan hijau itu, tiba-tiba sosok Misora muncul dalam
pandanganku.
"Uwaa."
"Eh? Yuu-san."
"Eh? Misora-chan... kamu
melayang?"
"Hah? Bicara apa sih."
"Yaho~"
"Yuu-san."
Menyusul di belakangnya, Tatsuki dan
Mei juga muncul.
Ini kan lantai dua, pikirku
kebingungan. Namun sedetik kemudian, aku teringat akan adanya balkon.
Terlebih lagi, tidak ada papan pemisah
di antara setiap balkon, sehingga sepertinya semua kamar di satu sisi saling
terhubung.
Mungkin mereka berjalan merambat lewat
balkon dari kamar entah di mana.
"Kami sedang melakukan
ekspedisi," ucap Mei.
Bagi anak-anak, vila sebesar ini
pasti menjadi tempat bermain yang sangat sempurna.
Aku tersenyum simpul mengingat dulu
Miya dan yang lainnya juga sering membentuk tim ekspedisi.
"Yosh, ayo berangkat."
Misora memberikan aba-aba, lalu
mereka melangkah semakin jauh.
"...Jangan berlebihan,
ya."
Aku duduk di tepi ranjang sambil
meminum sisa kopi kemasan botol yang sudah tidak dingin lagi.
"Huft."
Saat aku sedang memandangi
permukaan seprai yang tertata rapi, tiba-tiba ingatan tentang waktu itu kembali
terngiang di benakku.
Pagi hari setelah aku kembali
bertemu Asaka, suhu tubuh, aroma, dan kelembutan Asaka yang tertidur lelap di
ranjang ini...
"A-apa yang sedang kupikirkan
ini."
Aku menggelengkan kepalaku
kuat-kuat, berusaha menghapus pemandangan bernuansa merah muda yang terlintas
di otakku.
Biarpun aku sedang sangat haus akan
belaian wanita, membayangkan hal aneh pada sosok yang kuanggap seperti adik
sendiri adalah hal yang terendah.
Pada saat itulah, terdengar suara
ketukan pintu.
"Yuu-nii."
"Uwoaa."
Orang yang masuk tak lain adalah Asaka
sendiri.
"Tidak perlu sekaget itu juga,
kan."
"Maaf, maaf."
Ia mengenakan blus tanpa lengan
berwarna hitam yang dipadukan dengan rok putih.
Gara-gara ingatan kotor tentang
pagi itu yang baru saja berputar di kepalaku, aku sampai mengeluarkan suara
aneh.
"Mau teh dingin?"
"Ah, boleh juga."
Setelah selesai merapikan barang
bawaan, kami semua berkumpul di ruang tengah untuk beristirahat sejenak.
"Asaka-chan, biar
kubantu."
"Tidak apa-apa kok."
"Sudahlah, biar kubantu."
"Terima kasih banyak."
Ibu dan Asaka melangkah menuju
dapur.
"Hebat banget, lho. Di
lotengnya ada tempat seperti markas rahasia."
"Benarkah, hebat sekali, ya."
Tatsuki sedang melaporkan hasil
ekspedisinya pada Hikari.
"Eh? Tatsuki-chan, Misora dan
Mei-chan di mana?"
Miya menengok ke kanan dan kiri melihat
sekeliling ruang tengah.
"Ah, mereka berdua bilang masih
mau menjelajah sedikit lagi."
"Ekspedisi apanya, sifat
mereka benar-benar masih anak-anak, ya... Ada apa, Yuu-nii?"
"Enggak, bukan apa-apa
kok."
Dulu kalian juga sering melakukan
hal yang sama tahu, sanggahku dalam hati, menahan kata-kata itu di tenggorokan.
Lagipula dulu kalian malah sampai
tersesat dan tidak bisa keluar.
"Maaf menunggu lama."
Asaka dan Ibu datang membawakan minuman
untuk kami.
Bagian dalam ruangan memang terasa
nyaman karena pendingin udaranya menyala, tapi cuaca di luar sana sangat terik
hingga melebihi tiga puluh derajat.
Teh hijau dingin itu pun terasa sangat
menyegarkan saat membasahi tenggorokan.
Ngomong-ngomong, pembagian kamarnya
menjadi seperti berikut ini.
Dari pojok kanan: Asaka, aku, Mahiru,
lalu suami-istri Haruyama. Dari pojok kiri: Ibu dan anak Shimomura bersama Mei,
kedua orang tuaku, lalu Miya dan Misora.
Total ada tujuh kamar yang terpakai.
Selain itu, menurut cerita Asaka, para
asisten rumah tangga sedang tidak ada di sini, jadi ini benar-benar perjalanan
liburan pribadi. Hanayoshi-san juga kabarnya baru akan bergabung nanti malam.
Perjalanan liburan singkat selama tiga
hari dua malam yang hanya berisi orang-orang terdekat.
Sepertinya ini akan menjadi waktu yang
menyenangkan untuk menutup liburan musim panas.
◇
Mungkin ini bisa dibilang bahwa
rintangan pertama telah berhasil dilewati.
Kedua orang tua Yuu-nii bersedia ikut
berpartisipasi tanpa masalah, dan kamarku serta kamar Yuu-nii juga
bersebelahan.
Di depan Misora-chan, Miya-chan akan
bertingkah sok menjadi kakak perempuan, jadi sifat polos naturalnya yang konyol
tidak akan muncul. Jujur saja, kali ini yang paling harus kuwaspadai adalah
Miya-chan.
Aku tidak boleh sampai termakan oleh
kepolosannya yang tak terduga seperti saat berkemah waktu itu. Karena aku tidak
tahu apa yang akan dia perbuat, ada kemungkinan rencanaku bisa hancur
berkeping-keping dari akarnya.
Yah, mereka berada di kamar yang sama,
jadi Misora-chan pasti bisa menahannya dengan baik...
Dengan berkumpulnya orang sebanyak ini,
sudah tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.
Yuu-nii yang punya rasa tanggung jawab
tinggi itu pasti akan pasrah dan menyerah.
Nah, sekarang aku tinggal menunggu
malam tiba.
Ufufufufu.
2
"Araa, ara, araa."
Terdengar suara melengking Ibu dari
arah dapur.
"Luar biasa, ya."
"Aku sudah menyiapkan banyak
sekali khusus untuk hari ini."
Asaka sedang menjelaskannya.
"Ada banyak minuman keras juga,
lho."
"Araa."
Mendengar obrolan mereka secara
sepotong-sepotong, sepertinya mereka sedang membicarakan soal bahan makanan.
Tampaknya mereka sudah menyiapkan banyak bahan makanan untuk perjalanan kali
ini.
"Kalau begitu, ini waktu yang pas,
mungkin aku akan segera mulai memasak."
Anak-anak yang telah selesai meminum
jus mereka berjalan menuju arah pintu masuk.
"Yosh, Tatsuki, Mei, tim ekspedisi
kembali dilanjutkan."
"Ooh."
"Ooh."
"Misora-chan, kalian mau pergi ke
luar?"
Tanyaku.
"Huum."
Sepertinya kali ini mereka akan
menjelajahi area di sekitar vila.
"Ah, benar juga. Misora-chan,
bagian dalam hutan sana adalah tebing, jadi berhati-hatilah."
Vila ini dibangun di tengah-tengah
bukit, dan bagian ujungnya merupakan tebing jurang.
Teringat saat aku mengejar Asaka satu
setengah bulan yang lalu hingga sampai ke tebing itu, aku pun memberikan
peringatan.
"Begitu, ya? Aku
mengerti~"
Jawaban yang sangat optimis.
Seingatku, tebing itu tingginya hampir mencapai tiga puluh meter.
Jika terjatuh dari sana, itu adalah
ketinggian yang berbahaya bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Apalagi bagi
anak-anak, jadi sebaiknya aku ikut pergi sebagai pelindung mereka.
"Aku juga ikut."
"Yuu-san juga mau ikut
ekspedisi?"
Tatsuki menoleh ke belakang.
"Apa Yuu-san juga mau ikut
berekspedisi bersama?"
Mei menggandeng tanganku. Tangannya
yang mungil itu terasa seperti akan patah jika digenggam terlalu kuat.
"Mau bagaimana lagi. Kalau begitu,
Yuu-san jadi bawahannya, ya," ucap Misora.
"Iya, iya."
Dengan Misora berada di barisan paling
depan, kami masuk ke dalam hutan di belakang vila seolah melarikan diri dari
terik matahari yang menyengat.
Tidak ada jalan setapak yang layak,
sehingga kami harus berjalan sambil menyibak rerumputan yang tumbuh lebat.
"Ngomong-ngomong, dulu Miya dan
yang lainnya juga pernah membentuk tim ekspedisi, lho."
"Kakak?"
"Iya. Mereka menyusup masuk ke
rumah kosong, tapi malah tidak bisa keluar, lalu menangis meraung-raung."
"Upupu, nanti coba kutanyakan pada
Kakak, deh."
"Oh, aku menemukan barang
bagus."
Tatsuki tiba-tiba membungkuk.
"Bagus juga itu," ucap
Misora.
Benda yang dipungut oleh Tatsuki adalah
sebatang dahan pohon dengan ukuran yang pas.
Selain memancarkan kesan 'sedang
berekspedisi', benda itu juga merupakan item yang sangat praktis untuk menyibak
rerumputan dan menyingkirkan sarang laba-laba.
"Aku juga mau cari, ah."
Misora mulai memusatkan perhatiannya ke
permukaan tanah.
Sambil memanjakan mata dengan tingkah
polos anak-anak dan pemandangan alam, kami mendaki tanjakan yang landai itu.
Waktu berkunjung ke sini sebelumnya,
aku terlalu sibuk mengejar dan berusaha mati-matian untuk membujuk Asaka. Kini,
aku kembali menyadari betapa nyamannya tempat ini saat melihat sekilas lautan
dari celah pepohonan, serta aroma pantai dan pepohonan yang menyelimutiku.
Tempat yang bagus.
Sambil mengeluarkan keringat yang
menyegarkan, kami mendaki tanjakan tersebut, hingga akhirnya pemandangan
berubah dari hijau menjadi biru.
"Ooh, pemandangan yang
indah."
Misora berseru dengan penuh rasa
pencapaian. Kami telah tiba di tebing yang berada di ujung bukit.
Di depan kami, warna biru dari langit
dan laut membentang luas, saling berbaur di garis cakrawala. Burung hitam tampak terbang riang menuju gumpalan awan yang melayang
samar-samar.
Saat menoleh ke arah barat, kami
bisa melihat pantai pribadi milik keluarga Gendouji di bawah sana.
"Uwaa, tinggi sekali~"
"Ah, Tatsuki-chan, awas bahaya
lho."
"Aku tahu kok~"
Karena tidak ada pagar atau apa pun,
jika kaki sampai terpeleset maka tamatlah riwayat kami.
Genggaman tangan Mei pada tanganku pun
menjadi semakin kuat.
"Menakutkan..."
Aku menarik Mei dan memeluknya.
"Uwaa, kalau jatuh dari tempat
seperti ini pasti bakal mati, ya."
Suara Misora terdengar bergetar.
Satu setengah bulan yang lalu, Asaka
berada di tepi tebing itu.
Sudah satu setengah bulan berlalu sejak
aku berjanji akan menjadi sandaran bagi hatinya yang selama ini hanya
mengandalkan kenangan masa lalu.
Selama liburan musim panas ini,
setidaknya dari apa yang kulihat, Asaka telah menjalani hari-harinya dengan
menyenangkan. Namun, hal itu juga akan segera berakhir. Sebentar lagi Asaka
harus kembali pulang ke Kanagawa.
Apakah hati Asaka sudah pulih hingga ia
mampu berdiri sendiri?
Mengatasi konflik dengan mendiang
ibunya dan kenangan masa kecil yang tak akan pernah kembali bukanlah hal yang
mudah. Sebagai sosok kakak baginya, hanya hal itulah yang kukhawatirkan.
"Sebaiknya kita kembali
sekarang."
"Huum."
"Iya, ya."
"Iya."
Begitu kami kembali ke vila, tercium
aroma harum yang menggugah selera. Tepat pada saat itu, makan siang rupanya
telah selesai dibuat.
"Ah, kalian sudah pulang. Yuu-nii,
semuanya, ayo kita makan."
Asaka melirik sekilas ke arah
tanganku yang sedang menggandeng tangan Mei.
"Kalian akrab sekali,
ya."
Ucapnya sambil tersenyum riang.
Di atas meja makan, berjajar
berbagai hidangan yang banyak menggunakan bahan makanan laut. Mulai dari
sashimi, tataki, gorengan, dan lain-lain.
Menu utamanya adalah pescatore yang
dipenuhi hidangan laut, dengan aroma asam tomat yang menggugah selera.
Di antara semua itu, ada juga
hidangan misterius berupa sesuatu berbentuk kotak seukuran dadu yang mengapung
di dalam mangkuk berisi es.
Saat aku duduk di ujung meja, Asaka
duduk bersebelahan di sebelah kananku.
Makan siang yang damai pun dimulai.
"―Terus, ya, jalan buntunya
itu jurang tebing lho~"
Anak-anak sedang melaporkan hasil
ekspedisi mereka tadi kepada orang tua masing-masing.
"Yuu-nii, ini udang buatmu."
Miya yang duduk di seberangku
memindahkan udang ke piringku.
"Padahal udangnya juga tidak ada
kulitnya, kan?"
"Yah, entah kenapa akhir-akhir ini
aku jadi kurang suka makan udang."
"Yuu-nii, silakan makan tiramnya
juga."
Asaka membagikan tiram yang masih
ada di cangkangnya.
"Hei, hei, ini mentah,
kan?"
Dari tadi aku memang sudah
penasaran, tapi makan tiram mentah di musim panas itu bahaya, kan.
"Itu tiram batu lho. Karena
dikirim langsung dari tempat asalnya, jadi sangat segar."
"Aku juga sudah memakannya,
rasanya enak tahu."
Ucap Mahiru.
"Yah, rasanya pasti enak sih,
tapi apa ini benar-benar aman?"
Waktu SMA dulu, aku pernah
keracunan setelah memakan tiram mentah.
Aku ingat bagaimana cairan keluar
tanpa henti dari setiap lubang di sekujur tubuhku, memberikanku penderitaan
yang bagaikan di neraka.
"Etto, katanya tiram batu itu
memang sedang musimnya di musim panas, jadi aman kok."
Miya membantuku mencarinya lewat
ponsel. Kemudian, Misora yang duduk agak jauh dari kami berseru.
"Kakak, tidak boleh main ponsel
saat sedang makan tahu."
"B-berisik~"
Tawa pun meledak seketika di ruangan
itu.
"Nah, Yuu-nii. Kumpulkan
keberanianmu."
"O-oh."
Aku memeras sedikit lemon ke atasnya,
lalu dengan takut-takut menjepit tiram batu itu dengan sumpit dan memasukkannya
ke dalam mulut.
"...Enak!"
Rasa gurih yang meleleh seketika
menyebar memenuhi seisi mulutku.
"Tiram disebut sebagai susu
laut lho. Gizinya sangat melimpah, dan juga punya efek untuk menambah vitalitas
dan stamina."
Asaka tersenyum dengan lembut.
Ufufu, lewat berkah dari lautan ini,
kumpulkanlah gizi dan stamina yang banyak, ya.
3
Selesai makan, kami memutuskan untuk
bermain di laut pada siang harinya.
Saat aku sedang mengganti pakaian
dengan baju renang, terdengar ketukan pintu.
"Yuu-nii."
"Asaka, ya."
Asaka yang mengenakan bikini hitam
datang menghampiriku.
Pakaian renang berwarna gelap itu
sangat kontras dengan kulit putihnya, membuatnya terlihat memesona.
"Tabir suryaku sudah habis, apa Yuu-nii
masih punya persediaan lebih?"
"Aku punya kok."
"Terima kasih banyak."
"...!"
Setelah menerima tabir surya tersebut,
tanpa disangka-sangka Asaka langsung mulai mengoleskannya di tempat itu juga.
Tangan mungil Asaka mengusap kulit
lembutnya seolah membelai saat ia mengoleskan tabir surya itu. Tengkuk, belahan
dada, hingga paha bagian dalam.
Disuguhi pemandangan dengan gerakan
menggoda tepat di depan mata seperti itu—meski dia sendiri mungkin tak
menyadarinya—aku harus membayangkan sosok Ayah dan Tacchan memakai baju renang
demi meredam gejolak nafsuku.
Kukira dia sudah selesai
mengoleskannya, tapi tiba-tiba Asaka berbalik memunggungiku.
"Bisakah Yuu-nii bantu
mengoleskannya di punggungku?"
"Hah?"
"Tanganku tidak sampai, jadi
tolong bantu aku, ya."
"T-tidak, tidak, sebaiknya kamu
minta tolong pada Miya atau Mahiru saja..."
"...Baiklah."
Tanpa mengindahkan perkataanku, Asaka
menyodorkan tabir surya itu kepadaku, lalu terdiam sambil menghadap ke arah
dinding.
Tengkuknya yang putih, tulang
belikatnya, dan garis pinggangnya yang indah. Bagian yang harusnya menonjol
terlihat menonjol, dan bagian yang harusnya ramping terlihat kencang. Tubuhnya
benar-benar bagaikan sebuah karya seni...
"A-aku oleskan, ya."
"Iya."
Tekstur kulitnya sangat halus...
Oles, oles.
"..."
Oles, oles.
"..."
Oles, oles.
"Hyaa."
Tubuh Asaka tersentak kecil.
"Yuu-nii, geli tahu."
"Eh, padahal aku tidak menyentuh
bagian yang aneh-aneh lho!"
Oles, oles.
"..."
Aku pun akhirnya berhasil menyelesaikan
tugasku dengan membayangkan turnamen sumo para pria berminyak.
"Sudah selesai."
"Terima kasih banyak. Kalau
begitu, mari kita pergi."
Aku pun pergi menuju laut dengan
dipandu oleh Asaka.
Langit biru, awan putih, pasir pantai
yang hangat, dan lautan luas membentang. Ini adalah pantai pribadi milik
keluarga Gendouji yang berada di sebelah bukit tempat vila ini berada.
"Indah sekali, ya."
Miya masuk ke dalam air laut. Setiap
kali ia melompat-lompat mencipratkan air, dua gundukan di balik bikini birunya
itu ikut berguncang hebat, benar-benar merusak pemandangan.
"Segarnya~"
"Ya ampun, Kakak girang sekali
seperti anak kecil."
Misora menghela napas. Gadis yang
biasanya mengikat rambut panjangnya dengan gaya kuncir dua rendah itu, kini
mengenakan pakaian renang one-piece bermotif kotak-kotak biru putih dan
mengikat rambutnya bergaya kuncir kuda.
"Rasakan ini, Misora."
Miya membungkuk dan menyipratkan air ke
arah Misora. Air yang menari-nari di udara memantulkan kilauan cahaya matahari.
"Wah, astaga, kamu berani,
ya."
Tak mau kalah dari kakaknya, Misora pun
masuk ke dalam laut dan mulai mencipratkan air sekuat tenaga.
"Kyaa."
"Oryaaa~"
"Tunggu, Misora, jangan dengan
tepat cuma mengincar wajahku saja!"
Pemandangan yang sangat damai.
Sambil memandangi aksi saling ciprat
air antara Haruyama bersaudara itu, kami mulai mendirikan payung di tepi
pantai.
"Kalau begitu, jadi tidak ketahuan
siapa yang adiknya, ya." Ucap Mahiru.
Dua gunung besar yang tertampung dalam
bikini model cross halter berwarna putih miliknya itu terlihat seperti akan
tumpah kapan saja, membuatku selalu was-was setiap kali ia bergerak.
Sepertinya ia berencana untuk bermain
voli pantai, karena ia sudah mulai menyiapkan net bersama Asaka.
Ayah dan ibu tampak berbaring di kursi
santai untuk berjemur.
"Liburan itu memang paling enak
dihabiskan di laut, ya."
"...Benar juga."
Namun di usiaku yang sekarang ini, aku
tidak pernah menyangka akan melihat sosok ibuku sendiri memakai bikini...
"Ombak yang bagus sedang
datang." Ucap Tacchan.
"Papaa, hati-hati ya,"
peringat Mirai-san.
"Oke."
Mirai-san mengenakan bikini ala Brasil.
Ukuran dada dan bokongnya nyaris sama, membuatnya terlihat seperti patung tanah
liat dogu. Benar-benar tubuh sintal yang luar biasa.
"Aku berangkat dulu."
Tacchan pun melesat ke arah laut sambil
membawa papan selancar.
"Taichi-san suka berselancar,
ya?"
Saat Hikari bertanya, Mirai-san
mengernyitkan alisnya seolah sedang kebingungan.
"Dia selalu mengerahkan seluruh
tenaganya saat bermain, padahal usianya sudah tidak muda lagi."
"Ahaha."
Hikari mengenakan pelindung ruam di
atas pakaian renang two-piece yang ketat.
Sosok rampingnya itu mengingatkanku
pada masa-masa saat kami masih sekolah.
"Yuu-san, aku ingin membuat istana
pasir."
Ucap Mei. Dia mengenakan pakaian renang
two-piece berwarna putih dengan renda yang menggemaskan.
"Kalau begitu mari kita buat di
tempat yang tidak terjangkau oleh ombak."
Kami memutuskan untuk mendirikan istana
pasir di sebelah payung.
"Aku juga mau ikut~"
Tatsuki pun ikut bergabung. Gadis yang
mengenakan bikini merah itu, kulit di bagian badannya sama sekali belum
terbakar matahari, membuat perutnya yang putih terlihat mencolok.
"Aku yang menang, Kakak payah
banget, deh."
"Aah, astaga, tiba-tiba
langsung basah kuyup begini."
Miya dan yang lainnya pun ikut
menepi.
"Membuat istana? Aku juga mau
ikut~"
Misora pun bergabung sebagai tukang
bangunan.
"Lagipula," ucap Miya
yang duduk di sebelahku.
"Berkumpul bersama semuanya
benar-benar menyenangkan, ya~"
"Benar juga."
Seolah membakar semangat semua
orang, matahari pun bersinar terik.
"Yosh, tinggal memasang
bendera dan istananya pun selesai!"
Sekitar lima belas menit sejak
pekerjaan dimulai, istana pasir itu akhirnya rampung.
Itu adalah istana berbentuk huruf U
dengan dua pasang menara, dan bendera merah yang tertancap di bagian dindingnya
tampak berkibar tertiup angin laut.
"Semuanya, mari kita minum
dulu."
Hikari dan Mirai-san mengeluarkan
minuman olahraga dari dalam kotak pendingin, lalu membagikannya kepada
anak-anak.
Di bawah terik matahari yang menyengat
ini, berdiam diri sebentar saja di pantai berpasir akan membuat keringat terus
bercucuran.
Jika tidak mendapat cukup asupan cairan
dan mineral, kita bisa terkena serangan panas.
"Ini buat Arizuki-kun juga."
"Oh, terima kasih."
Aku mengebaskan pasir dari tanganku,
lalu menerima botol minuman plastik itu.
"Ooi, Yuu-nii, ayo kita
mulai."
Mahiru berseru ke arahku sambil
memegang sebuah bola karet. Persiapan voli pantai di sana tampaknya
juga sudah selesai.
"Mau main voli pantai?"
Tatsuki menatap net yang terpasang di
pantai pasir dan garis batas kotak putih panjang dengan pandangan mata
berbinar-binar.
"Ke mana Bibi dan Paman?"
"Mereka pergi berjalan-jalan di
sepanjang pantai."
Ya ampun, ayah dan ibu benar-benar
mesra meski di usia mereka saat ini.
"Lalu bagaimana pembagian
timnya?"
Tanya Miya entah kepada siapa.
"Karena ada anak-anak juga, kita
harus membaginya agar seimbang. Bagaimana kalau Miya-chan setim dengan
Misora-chan saja?"
Saran Asaka.
"Eeh, setim dengan Kakak? Dia itu
cuma akan jadi beban, tahu."
Misora menyampaikan keluhannya.
"Apa kamu bilang~"
"Aku tidak mau sama Kakak, aku mau
sama Mahiru-chan. Soalnya dia yang paling jago."
"Aku? Boleh saja."
"Asyik."
"Yuu-nii, kamu mau setim dengan
siapa?"
Tepat saat Asaka melangkahkan satu
kakinya ke arahku dan mengucapkan kata-kata itu, Mei tiba-tiba meraih tanganku.
"Aku mau setim dengan
Yuu-san."
"Hm? Denganku?"
"Apa boleh?"
"Tentu saja boleh."
"Horee."
"Mei-chan sangat akrab dengan Yuu-nii,
ya."
Asaka berjongkok dan melemparkan
senyuman pada Mei.
"Soalnya Yuu-san sangat baik
hati."
"Yuu-nii kan memang suka anak
kecil."
Mahiru menghela napas.
"Hei, jangan bicara yang
mengundang kesalahpahaman dong!"
"Ahahahahaha."
Suasana pun diliputi oleh gelak tawa.
Aku memang suka merawat anak-anak, tapi
itu bukan karena preferensi seksualku, tahu.
Wanita yang aku sukai itu wanita yang
bentuk badannya ramping dan seksi seperti jam pasir, tahu!!
"Kalau begitu, aku setim dengan
Asaka-chan~"
"Iya, boleh."
Tatsuki memeluk pinggang Asaka.
"Hikari-san dan Mirai-san,
bagaimana kalau kalian ikut juga?"
"Pakaian renangku ini kurang cocok
untuk gerakan yang heboh, jadi aku akan menyemangati kalian dari sini
saja."
Mirai-san menolaknya dengan nada penuh
penyesalan.
"Mama, ayo ikut main."
"Iya, iya, baiklah."
Setelah berkata begitu, Hikari pun
melepas pelindung ruamnya. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping.
"Kalau begitu, Miya setim dengan
Shimomura."
"Eh? Memangnya tidak apa-apa kalau
orang dewasa berdua setim?"
"Tidak masalah sama sekali.
Lagipula kemampuan Miya itu kan setara dengan kemampuan anak SD."
"Kurang ajar!"
Dan dengan demikian, pembagian
timnya pun menjadi seperti berikut ini.
Aku dan Mei.
Mahiru dan Misora.
Asaka dan Tatsuki.
Miya dan Hikari.
◇
Sejumlah bola besar yang memantul di
pantai pasir.
Setiap kali bola karet melintasi net,
bola alami milik Mahiru dan Asaka pun juga ikut bergoyang. Benar-benar
bergoyang ke sana kemari.
Pertandingan antara Mahiru dan Misora
melawan Asaka dan Tatsuki pun dimulai.
Ini adalah sistem turnamen dengan empat
tim, dan tim yang lebih dulu mencetak lima poin akan keluar sebagai pemenang.
"Hop!"
Saat Mahiru melepaskan satu pukulan
keras, guncangan hebat melanda dadanya, dan cipratan keringat pun berkilauan di
udara.
"Teeyaaa."
Pukulan keras itu mengarah tajam ke
tepi garis belakang lawan, namun Asaka berhasil melompat menangkisnya.
Dadanya terbenam di pasir, meninggalkan
bekas yang sangat kentara di atas pasir yang lembut.
"Ini."
Bola yang diangkat oleh Asaka kemudian
berhasil dikembalikan ke area lawan oleh Tatsuki. Kuda-kudanya terpasang sangat
rendah, gerakannya sungguh bagus.
"Ini, Mahiru-chan."
Misora juga merendahkan posisi
pinggulnya, dan melemparkan operan atas.
"Bagus, oryaaa~"
Sekali lagi, Mahiru melepaskan spike
tajam.
Namun biarpun disebut bola, itu
bukanlah bola kulit sintetis resmi untuk bertanding melainkan hanya bola karet
mainan yang empuk.
Lagipula, anak-anak juga ikut bermain
di sini, jadi Mahiru menahan diri sehingga kecepatan pukulannya tidak terlalu
cepat.
Pertarungan saling balas yang
seimbang pun berlangsung selama beberapa saat.
Namun, saat melihat gerakan heboh
mereka, entah mengapa aku merasa khawatir apakah baju renang mereka tidak akan
bergeser turun.
Ngomong-ngomong, timku dan Mei
kalah melawan tim Hikari dan Miya.
Seperti dugaanku, kemampuan Miya
sangatlah payah, namun refleks saraf motorik dan keahlian Hikari memberikan
dukungan yang lebih dari cukup.
Ia menutupi kesalahan Miya, dan
berhasil menangkap lalu mengembalikan berbagai lemparan bola yang sulit
sekalipun.
Meski usianya sama denganku yang
mendekati usia tiga puluh, tidak kusangka pergerakannya bisa selincah itu...
Gerakan mantan anggota klub
olahraga yang pernah tampil di turnamen nasional memang berbeda.
"Uwaa, pukulannya tidak akan
sempat terkejar~"
Pertandingan di kubu ini akhirnya juga
menemukan titik akhir.
Pukulan spike yang dilancarkan Mahiru
berhasil di-blok oleh Asaka tepat di depan net.
Bola berkecepatan tinggi itu pun
memantul kembali ke area Mahiru dan tidak sempat dijangkau oleh Misora.
Karena Mahiru melompat terlalu tinggi,
bola lebih dulu menyentuh tanah sebelum ia mendarat.
"Horeee."
"Asaka-chan, blok yang
bagus."
"Ehehe."
Asaka dan Tatsuki pun melakukan tos
bersama. Tim Asaka dan Tatsuki adalah pemenangnya.
"Walaaah, kita kalah~"
Misora berlutut dan memegangi
kepalanya. Kemudian, Miya berjalan menghampirinya, lalu meletakkan tangannya di
atas bahu adiknya itu.
"...Kakak?"
"Nah, nah, tim yang kalah harus
segera keluar lapangan, tahu~"
"Nyebelin."
Urat-urat biru terlihat menegang di
dahi Misora.
"Karena pertandingan finalnya akan
segera dimulai, lho~"
"Kakak jangan besar kepala deh,
kamu menang kan semuanya berkat Bibi Hikari."
"Yang menang ya tetap menang
dong~"
"Gununu..."
"Kalian ini, jangan
bertengkar."
Mirai-san selaku ibu mereka melerai
keduanya. Lalu pertandingan final pun dimulai, dan insiden itu
terjadi tepat pada momen ini.
Pertandingan sedang berada di
puncaknya. Skor berimbang empat sama. Pertarungan yang sengit.
Omong-omong, semua skor kehilangan
poin dari tim Miya dan Hikari itu diakibatkan oleh Miya sendiri.
"Eiyaa."
Pukulan spike Asaka mengarah tajam ke
sudut lapangan.
"Yaa."
Hikari dengan sigap berhasil
menangkapnya.
"Miya-chan, sisanya kuserahkan
padamu."
"Hueeh!?"
Bola yang melambung tinggi di udara
akan jatuh tepat di tepi sebelum melewati net.
Hikari sedang terbaring di pasir
pantai, dan ia tak akan sempat untuk bangkit kembali. Cuma Miya yang bisa
menyelesaikannya.
"Awawawa."
"Kakak, kamu sudah sampai di titik
ini jadi selesaikan dengan benar~"
"U-um."
Mungkin karena mendapat dukungan dari
Misora, Miya pun langsung melompat di titik jatuhnya bola.
Namun, bagi dirinya yang punya insting
olahraga nol persen, memprediksi titik jatuhnya bola dan melompat di saat yang
tepat sangatlah sulit.
Karena melompat terlalu dekat dengan
net, Miya yang melompat miring ke arah depan itu memang berhasil memukul bola,
tetapi bertepatan dengan momen pendaratannya, dadanya malah menyentuh net.
Kain berwarna biru muda yang menutupi
bagian dadanya tersibak hingga membuat talinya terlepas, lalu baju renangnya
pun terlempar ke udara.
Singkat cerita, pemandangan bukit
kembar Miya yang tak terlindungi itu akhirnya terekspos terang-terangan di
bawah birunya langit musim panas.
"Ah!"
Pukulan spike cupu melayang menuju area
Asaka dan Tatsuki, namun tak satu pun dari mereka meresponsnya.
Tatsuki, Asaka, dan siapa pun yang
berada di sana merasa tertegun hingga kaku oleh insiden yang terlalu mendadak
ini.
"Kyaaaaaaa!"
Jeritan Miya membumbung tinggi menyatu
dengan birunya langit.
"A-apa yang sedang kamu lakukan, Miya? Yuu-nii, buang muka, jangan lihat."
Mahiru tiba-tiba menyela di antara aku
dan Miya.
"Uooh."
Aku langsung membuang muka tanpa pikir
panjang.
"Tersangkut, deh."
"Kakak, a-a-apa kamu bodoh, ya!?"
"Y-Yuu-nii, kamu lihat?"
Sambil menutupi dadanya dengan kedua
tangan, Miya menoleh dengan wajah seperti mau menangis.
"Tidak, dari tempat kami cuma
kelihatan punggungmu saja."
Itu adalah fakta. Aku cuma bisa melihat
punggungnya dan bagian yang sedikit menonjol dari balik punggungnya.
"Benarkah?"
"Benar kok. Iya, kan? Mei-chan."
"Huum, kamu aman kok."
"K-kalau begitu syukurlah."
Dengan begitu, di tengah suasana yang
canggung, turnamen voli pantai pertama pun dimenangkan oleh pasangan Miya dan
Hikari.
4
Miya-chan, kalau dia melakukan hal itu
tanpa disengaja, dia benar-benar musuh yang sangat tangguh.
Mungkin memang lebih baik kalau dia
dipasangkan dengan Misora-chan. Kalau begitu, dia pasti tidak akan
melakukan hal nekat seperti itu.
Tapi tetap saja, bagaimana caranya dia
bisa mempraktikkan cara menggeser baju renang seperti itu, ya?
Tidak, tidak. Meskipun dia sengaja
melakukannya, teknik kasar menggeser bikini dengan cara menyenggolkannya ke net
itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Sama seperti saat berkemah, sifat
polosnya yang tak terduga ini benar-benar membuatku repot karena tidak ada cara
untuk mengantisipasinya.
Untuk sekarang mungkin masih tidak
masalah, tapi bulu kudukku merinding saat memikirkan kalau sifat polosnya itu
meledak di malam hari.
Ngomong-ngomong, sepertinya Mei-chan
juga menyukai Yuu-nii.
Aku juga harus memastikannya secara
diam-diam apakah hal ini akan mengganggu rencanaku atau tidak.
Setelah itu, kami mengatur ulang
pasangan tim dan menikmati permainan voli pantai. Selesai bermain, kali ini
kami masuk ke laut dan bermain air.
Air laut yang dingin meresap ke dalam
tubuh kami yang terasa panas akibat bermain voli pantai di bawah terik
matahari.
Kami berenang, menyelam, saling
menyipratkan air, dan diciprat air.
Saat kami selesai bermain sepuasnya dan
kembali ke vila, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
Kami membilas tubuh yang lengket akibat
air laut di kamar mandi, lalu memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan santai
hingga makan malam tiba.
Aku ikut bergabung ke dalam
lingkaran anak-anak yang sedang meminum jus di ruang tengah.
"Boleh aku ikut duduk di
sini?"
Aku pun duduk di sebelah Mei-chan.
"Ah, Asaka-chan. Boleh
kok."
"Silakan."
"Huum~"
"Kalian sedang mengobrolkan
apa?"
"Tahu tidak, waktu mendaki Gunung
Fuji tempo hari―"
Misora-chan mengeluarkan ponselnya,
lalu membuka aplikasi album foto. Kemudian, ia mulai bercerita dengan penuh
percaya diri.
"―Lalu, ya, di tempat paling
tinggi di Gunung Fuji, kami minum kopi sambil melihat matahari terbit."
"Aku jadi ingin pergi lagi,
deh~"
Tatsuki-chan mengatakannya dengan
wajah terpesona.
Ponsel Misora-chan menampilkan foto
cahaya matahari pagi yang bersinar terang. Begitu, ya.
Minum kopi di puncak Gunung Fuji
bersama Yuu-nii. Itu benar-benar situasi yang sempurna.
"Tapi rasanya capek sekali,
ya," ujar Mei-chan.
"Mei itu benar-benar tidak
punya stamina, tahu. Padahal kan kamu hampir terus-terusan digendong oleh
Yuu-san."
Misora-chan menimpali.
"Ehehe."
"Begitu, ya."
"Mei terlalu manja pada Yuu-san,
tahu."
Pembicaraan ini mengalir ke arah
yang bagus.
"Mei-chan sangat akrab dengan
Yuu-nii, ya. Jangan-jangan, kamu menyukai Yuu-nii?"
Aku langsung bertanya pada intinya.
"Eh?"
Entah kenapa, aku merasa ada
sesuatu dari dalam diri Mei-chan yang mirip dengan diriku saat masih kecil. Ini
bukan tentang sifat luarnya atau penampilannya.
Ya, kalau harus diungkapkan dengan
kata-kata, mungkin aku akan menyebutnya sebagai watak. Sebagai
sesama perempuan, aku bisa merasakan aura yang sama darinya.
Mei-chan memiringkan kepalanya seolah
sedikit kebingungan, lalu menjawab.
"Kalau dibilang suka, yah, aku
bukannya tidak suka, tapi, umm, bagaimana bilangnya, ya..."
"?"
"Dia terasa seperti seorang ayah
bagiku."
"Ayah?"
"Ayah?"
"Ayah?"
Jika ditebak dari nada suara dan
ekspresi wajahnya, sepertinya dia mengatakan hal itu bukan untuk menyembunyikan
rasa malunya.
"Aku merasa tenang saat
bersamanya. Kira-kira seperti itu..."
"Ah, aku mungkin mengerti
maksudmu," ucap Tatsuki-chan.
"Tatsuki-chan juga merasa
begitu?"
"Aku dan Mei kan tidak punya
ayah. Jadi, sekadar ada orang dewasa yang mau bermain bersama kami saja sudah
membuat kami tanpa sadar ingin bermanja padanya."
"Huum, iya, mungkin rasanya
seperti itu."
Mei-chan menyetujuinya.
Begitu, ya. Ayah, kah.
Yuu-nii memang suka merawat anak-anak,
dan dia juga tipe pria berhati lapang yang jarang sekali marah.
Bahkan saat kami masih kecil dulu, dia
hampir selalu memaafkan kami tak peduli seberapa nakalnya kejahilan yang kami
lakukan.
Berdasarkan cerita yang kudengar,
sepertinya orang tua Mei-chan tidak ada bersamanya, jadi mungkin dia semakin
tertarik pada sosok kebapakan yang dimilikinya.
Kalau dipikir-pikir lagi, untuk anak
seumuran mereka, Yuu-nii memang terlalu tua, ya.
Memang patut disyukuri karena dia tidak
menganggap Yuu-nii sebagai objek asmara, namun kalau dia menempel terlalu
berlebihan pada Yuu-nii, hal itu juga akan mengganggu rencanaku.
Kalau seandainya Mei-chan tiba-tiba
bilang ingin tidur sekamar dengan Yuu-nii, rencanaku ini akan gagal total.
Nah, apa yang harus kulakukan, ya...
5
Seusai mandi, aku mengeringkan
rambutku yang basah dengan pengering rambut.
"Howaaa~"
Kelelahan terasa menjalar ke seluruh
tubuhku.
Hari ini, aku menempuh perjalanan
panjang dari pagi ke vila dengan mobil Yuu-nii, lalu bermain sepuasnya di laut
setelahnya.
Aku melompat-lompat saat main voli
pantai, berenang di laut, lalu berjalan-jalan di pantai berpasir. Padahal ini
masih sore, tapi aku sudah sangat kelelahan.
Aku berbaring tengkurap di atas ranjang
dan membuka laptopku.
Novel misteri yang kutulis bersama
Yuu-nii juga sudah selesai ditulis hingga bagian akhir.
Sekarang tinggal bagian deduksi
dari sang detektif dan bagian epilognya saja.
Jika semuanya berjalan lancar, novel
ini pasti akan selesai ditulis selama kami menginap di vila ini.
"Fufu."
Meski begitu, menulis novel di sebuah
vila tepi laut membuatku merasa seperti seorang sastrawan hebat.
Saat aku sedang asyik menenggelamkan
diri dalam pekerjaanku, suara nyanyian jangkrik higurashi terdengar dari luar
jendela. Suaranya yang berbunyi 'kana, kana, kana...' terdengar begitu
kesepian.
Musim panas juga akan segera berakhir,
ya.
Musim panas tahun ini terasa panjang.
Berkat Yuu-nii, hari-hariku terasa
sangat berkesan, menjadikannya liburan musim panas yang sangat menyenangkan.
"Huaaa."
Aku jadi mengantuk. Pada saat itulah,
terdengar suara ketukan pintu.
"Hei, Miya."
Orang yang muncul adalah Yuu-nii,
membuat rasa kantukku langsung menghilang.
"Ada apa?"
"Katanya kalau Hanayoshi-san sudah
datang, kita semua akan pergi makan di restoran masakan Tionghoa."
"Aku mengerti~"
"Oh, kamu sedang menulis
novel, ya?"
"Huum."
Yuu-nii duduk di tepi ranjang dan
mengintip ke arah layar. Kalau dia melakukan hal itu, otomatis wajah Yuu-nii jadi
mendekat ke wajahku.
Hal ini membuat jantungku
berdebar-debar, lho. Apa wajahku tidak memerah, ya?
Padahal aku baru saja diperingatkan
oleh Asaka sebelumnya agar tidak melakukan hal yang bisa mengundang
kesalahpahaman, tapi rasanya jarak kami ini terlalu dekat... Lebih tepatnya,
aku ini juga seorang gadis SMA tahu, jadi menurutku Yuu-nii boleh-boleh saja
kalau mau sedikit peka dan memperhatikanku.
"Sekarang sudah sampai bagian
mana?"
"Sekarang, ya, bagian di mana
detektifnya sedang membeberkan deduksinya."
"Sudah masuk tahap akhir,
ya."
"Novelnya mungkin akan selesai
ditulis selama liburan ini."
"Aku jadi tidak sabar."
"Oh iya, Yuu-nii. Kalau novel ini
sudah selesai, bolehkah aku mengikutkannya ke dalam sebuah penghargaan?"
"Kebetulan ada lomba
penghargaan novel misteri yang tenggat waktunya di bulan September."
"Boleh-boleh saja sih. Tapi
kamu tidak perlu repot-repot menanyakannya padaku segala."
"Habisnya, yang memikirkan
trik utama di novel ini kan Yuu-nii. Bagaimana kalau novel ini nanti
menang?"
Bagaimana ini kalau ternyata malah
lahir seorang penulis novel misteri gadis SMA yang cantik? Pasti nanti akan ada
wawancara dari televisi dan semacamnya, kan.
Aku juga pasti akan diundang ke upacara
penghargaan. Bagi diriku yang pemalu ini, tampil di depan banyak orang tak
dikenal yang jumlahnya tidak menentu itu rasanya sama seperti sebuah siksaan.
Yosh, untuk sementara aku akan
beraktivitas sebagai penulis anonim saja.
"Hei, hal-hal semacam itu baru
boleh kamu pikirkan kalau novelnya sudah menang, tahu."
"Ehehe."
Aku memang menyukai Yuu-nii, tapi
bagaimana pandangan Yuu-nii terhadap diriku, ya? Aku sering sekali melakukan
kecerobohan dan merepotkannya, apa sampai sekarang aku masih sekadar dianggap
sebagai adiknya saja?
Walaupun sekadar melakukan obrolan
santai seperti ini saja sudah membuatku bahagia, tapi pasti suatu hari nanti
akan tiba saatnya bagiku untuk menyampaikan perasaanku ini kepadanya. Dan
lagipula, meski rasanya masih samar-samar, jauh di lubuk hatiku aku yakin kalau
suatu saat nanti kami akan berada dalam hubungan yang seperti itu.
Suatu saat nanti... meski aku belum
tahu kapan hal itu akan terjadi.
◇
Sekitar pukul setengah enam sore,
Hanayoshi-san pun tiba.
"Semuanya, selain Yuu-kun, sudah
lama kita tidak bertemu, ya."
"Hana-san, tadi ada ombak yang
bagus lho."
Tacchan menepuk bahu Hanayoshi-san.
"Syukurlah kalau begitu."
Selama sepuluh tahun
ketidakhadiranku, ikatan antar setiap keluarga sepertinya menjadi semakin erat,
sehingga hubungan mereka sudah terasa bagaikan sebuah keluarga besar.
Mungkin karena anak-anak dari generasi
Miya juga merupakan teman sekelas.
"Gendouji-san, maaf karena kami
juga ikut merepotkan Anda."
Hikari mengatakannya dengan nada
sungkan.
"Tidak, tidak. Berkumpul
dengan banyak orang pasti akan lebih menyenangkan. Bersantailah dengan bebas
dan anggap saja seperti di rumah sendiri."
"Terima kasih banyak."
Setelah itu, kami pun pergi menuju
restoran masakan Tionghoa menggunakan taksi.
Sepertinya tempat ini adalah restoran
langganan keluarga Gendouji.
Waktu aku datang ke Shounan sebelumnya,
aku juga pernah berkunjung ke mari bersama Hanayoshi-san dan Asaka.
Meskipun tempat ini tidak bisa dibilang
sebagai restoran kelas atas, bagian dalam restorannya yang memiliki desain
bernuansa merah itu benar-benar berbeda dari restoran masakan Tionghoa pada
umumnya.
Tempat ini lebih terasa seperti
restoran terkenal yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.
Mei tampaknya baru pertama kali
datang ke restoran masakan Tionghoa, matanya tampak membulat takjub melihat
meja yang bisa berputar itu.
"Mei-chan, mau makan lumpia?"
"Huum."
Asaka yang duduk di sebelah Mei tampak
merawatnya dengan sangat telaten. Sejak kapan mereka berdua menjadi seakrab
ini?
Kelompok orang dewasa yang dipimpin
oleh ibuku sedang minum arak Shaoxing dengan masakan Tionghoa sebagai
camilannya.
Karena aroma khas dan rasa uniknya itu
kurang cocok dengan seleraku, aku memutuskan untuk minum bir saja sebagai
pilihan yang aman.
"Daging babi rebus ini enak
sekali."
Mahiru menghabiskan sepiring penuh
daging babi rebus itu dalam sekejap.
"Permisi, saya pesan satu porsi
lagi untuk menu yang sama."
"Mahiru, kamu masih mau
makan?"
"Makanan segini sih bahkan baru
mengisi sepersepuluh perutku."
Bisa-bisanya dia memakan dua piring
makanan dengan rasa kuat dan berlemak seperti ini.
Kapasitas perut gadis SMA dari klub
olahraga benar-benar menakutkan.
Sama seperti yang pernah kupikirkan
sebelumnya, di mana tepatnya semua makanan ini tertampung di dalam perutnya
yang ramping itu, ya?
"Mama, tolong ambilkan udang saus
pedas manisnya."
"Iya, iya."
"Ah, aku saja yang putar
mejanya."
Tatsuki memutar meja putar
tersebut. Piring berisi udang saus pedas manis pun tiba di depan kelompok
anak-anak.
"Ngomong-ngomong, Kakak kenapa
benci udang?"
Tanya Misora sambil memasukkan
udang berbalut saus cabai merah menyala ke dalam mulutnya.
"Aku bukannya benci kok. Cuma
aku tidak menganggapnya sebagai makanan saja."
Bukannya hal itu berarti kamu
membencinya, sanggahku dalam hati.
"Padahal ini enak sekali
lho?"
"Iya, kan~"
"Iya, ya~"
Anak-anak itu memakan udang saus pedas
manis dengan senyum lebar di wajah mereka.
Miya menatap pemandangan itu dengan
wajah pahit, lalu berkata,
"Yah, dulu aku memang bisa
memakannya sih. Tapi, udang yang masih ada kulitnya itu penampilannya persis
seperti serangga, kan? Rasanya seperti sedang membedah serangga lalu
memakannya..."
"Benar juga. Kalau udang ada di
daratan, mereka pasti hanya terlihat seperti serangga, ya."
Asaka menyetujuinya.
"Yah, asalkan rasanya enak, apa
pun tak masalah, kan," celetuk Mahiru.
Tanpa disadari, piring kedua daging
babi rebusnya sudah kosong melompong.
"K-kamu sudah
menghabiskannya?"
"Soalnya hari ini aku banyak
bergerak, jadi perutku sangat lapar."
Setelah itu, kami menikmati masakan
Tionghoa sambil berbincang-bincang santai selama sekitar satu jam sebelum
akhirnya kembali ke vila.
◇
"Karena ada pemandian air panas
luar ruangan, silakan masuk secara bergantian."
Kami sepakat untuk menggunakan
pemandian air panas luar ruangan secara terpisah antara pria dan wanita.
Para wanita akan masuk lebih dulu, jadi
aku bergegas ke kamar untuk mengambil pakaian ganti.
"Luar biasa~"
Anak-anak tampak sangat kegirangan
melihat pemandian air panas luar ruangan yang mewah itu.
Sebuah bak mandi berukuran besar tampak
mengepulkan uap panas di area luas yang beralaskan hamparan kerikil bulat.
Langit belum sepenuhnya gelap, dan
bintang-bintang tampak berkelap-kelip di langit yang berwarna biru keunguan.
Terdapat celah di antara pepohonan
hutan di depan kami, sehingga suara ketenangan laut bisa terdengar sampai ke
mari.
"Huft, rasanya benar-benar
meresap ke dalam tubuh, ya."
Ucap Bibi Sayaka dengan suara yang
santai. Bak mandi ini sangat luas, bahkan masih tersisa banyak ruang meskipun
dimasuki oleh sembilan orang sekaligus.
Setelah beberapa saat kami berendam
sambil memandangi langit malam, Bibi Mirai yang berada di sebelahku membuka
mulutnya.
"Ngomong-ngomong, aku dengar
dari Asuka-san, katanya kamu direkrut oleh tim perusahaan dari Kumamoto, ya,
Mahiru-chan?"
"Eh? Ah, begitulah."
"Hebat sekali, selamat, ya!"
Bibi Sayaka bertepuk tangan, dan semua
orang pun ikut mengucapkan selamat kepadaku.
"Eeh, Mahiru, kamu akan pergi ke
Kumamoto?"
Miya sontak berdiri.
"Bukan begitu, ini masih belum
diputuskan kok."
"Kalau kamu bisa menorehkan
prestasi di tim perusahaan, menjadi perwakilan Jepang bukanlah sekadar mimpi,
lho. Aduh, bagaimana ini, apa aku harus minta tanda tanganmu dari sekarang,
ya."
Bibi Sayaka mulai terlihat antusias
seolah-olah hal itu terjadi pada dirinya sendiri.
"Mahiru-chan, kamu mau ikut
Olimpiade?"
Tatsuki-chan berteriak kegirangan.
"Hebat sekali~"
"Sangat luar biasa."
Misora-chan dan Mei-chan juga
menatapku dengan tatapan seolah sedang melihat sesuatu yang menyilaukan.
"Selamat, ya, Mahiru-chan."
Asaka memamerkan senyumnya yang lembut.
"...Haha, terima kasih. Tapi, hal
ini masih belum diputuskan kok."
Aduh, gawat nih. Suasananya sudah
sepenuhnya berubah menjadi perayaan.
"Aku tidak maauuu, aku tidak mau
berpisah dengan Mahiruuuu~"
Miya langsung memelukku.
"Kan sudah kubilang
berkali-kali kalau ini belum pasti."
"Tim yang mana di Kumamoto?"
Tanya Hikari-san.
"Etto, seingatku namanya Kumamoto
Empress."
"Benarkah!? Aku punya teman yang
main di sana lho."
"Seriusan?"
"Dia adik kelasku sewaktu SMA.
Namanya Hanayama Koharu, apa kamu kenal?"
"Eh, yah, kenal sih."
"Eh!? Hanayama Koharu yang itu?
Ah, benar juga, ya. Dilihat dari generasinya, dia kan adik kelasnya
Hikari-chan."
Bibi Mirai mengatakannya dengan
wajah terkejut.
"Waktu aku masih kelas tiga, dia
itu kelas satu."
"Hee."
Betapa sempitnya dunia ini. Hubungan antar manusia itu terkadang bisa terhubung di tempat yang tak
terduga, ya.
Tapi karena Hikari-san juga merupakan
pemain tingkat nasional, hal ini tidak terlalu mengherankan sih.
"Nanti aku akan berpesan padanya
agar tidak menindas juniornya, jadi kamu tenang saja, ya."
"Haha..."
Hmm, dengan suasana seperti ini, aku
sama sekali tak bisa mengatakannya.
Mengatakan kalau aku berencana untuk
menolak tawaran itu karena aku tidak ingin berpisah dengan Yuu-nii.
Sebagai pilihan masa depan, mengabdikan
hidupku untuk bermain voli memang bisa menjadi salah satu pilihan. Dan kalau
ini adalah diriku di tahun lalu, aku pasti akan menerima tawaran ini dengan
senang hati.
Lagipula, kesempatan seperti ini sangat
jarang terjadi.
Tapi, sejak memasuki tahun ini,
situasinya telah berubah total.
Apakah mengejar mimpi dengan harus
mengorbankan keseharianku bersama Yuu-nii itu adalah pilihan yang tepat?
Saat aku menengadahkan wajahku menatap
langit, tampak bulan yang indah tengah mengambang di atas sana.
◇
"Huft, benar-benar seperti
neraka."
Sesi mandi untuk kelompok pria telah
selesai.
Disuruh menggosok punggung tiga
orang om-om, membuatku sama sekali tak bisa merasa relaks. Mungkin nanti aku
akan mandi lagi sendirian.
Di ruang tengah, kelompok wanita
yang sudah selesai mandi lebih dulu tampak sedang menyiapkan minuman untuk
bersantai di malam hari.
Aku mengurungkan niat untuk melontarkan
komentar 'Kalian masih mau minum?' karena rasanya terlalu tidak peka. Aku pun
ikut menenggak segelas bir sehabis mandi.
"Kuhaa."
Kami duduk di tempat yang kami sukai,
dan pesta pun dimulai.
Televisi dibiarkan menyala meski tak
ada yang menontonnya.
Kami menyerahkan diri pada minuman
dan waktu yang mengalir dengan santai.
Anak-anak duduk berkerumun
memainkan gim untuk empat orang, sementara salah satu dari kelompok orang
dewasa secara bergantian mengisi posisi pemain keempat.
Waktu telah menunjukkan lewat dari
pukul sepuluh malam. Ini sudah waktunya bagi anak-anak untuk tidur.
"Misora, sudah waktunya bagimu
untuk tidur."
Ucap Mirai-san.
"Iyaaa~ Ayo kita tidur, Kak."
Miya tampak sedang terkantuk-kantuk
sambil bersandar di sofa.
Mungkin karena dia sudah
menghabiskan banyak tenaganya saat bermain voli pantai di siang hari tadi.
Kakak beradik itu pun melangkah
menuju kamar mereka dengan langkah kaki yang gontai.
"Ini juga sudah waktunya bagi
Tatsuki dan Mei-chan untuk tidur, ya."
Hikari mengatakannya dengan nada
bicara layaknya seorang ibu.
"Huum."
"Iya."
Tatsuki dan Mei juga tampak sedang
mengucek mata. Mei berjalan gontai menghampiriku.
"Yuu-saan."
Kemudian, Asaka yang berada di dekat
kami tiba-tiba menyela.
"Mei-chan mau tidur bersama Yuu-nii,
ya?"
"Huum."
"Kalau begitu, Yuu-nii. Kamar
Mei-chan dan Tatsuki-chan ada di kamar Hikari-san, jadi tolong tidurkan mereka,
ya."
"A-aku yang menidurkannya?"
"Tuh lihat, mereka berdua sudah
sangat mengantuk."
Tatsuki dan Mei juga sudah menjadi
sangat tenang layaknya sakelar mereka telah dimatikan.
"Kalau begitu, Arizuki-kun,
sisanya kuserahkan padamu."
"Mau bagaimana lagi, deh."
"Ah, pastikan mereka menyikat gigi
dengan benar, ya."
"Iya, iya."
Aku membawa mereka berdua menuju kamar
Hikari. Seingatku, kamarnya berada di ujung paling kiri.
Aku duduk di kursi samping ranjang,
lalu menunggu Tatsuki dan Mei tertidur pulas.
Mereka berdua berbaring sambil
berpegangan tangan dengan akrabnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara
napas teratur dari mereka berdua. Aku pun berdiri perlahan agar tidak
membangunkan keduanya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
◇
Aku menang.
Kalau situasinya sudah sejauh ini,
kemenangan sudah berada di tanganku.
Bagaimana ini, entah kenapa aku jadi
merasa gugup.
Apa rasanya nanti akan sakit, ya? Nanti aku harus mandi lagi ah.
Rasa senang dan cemas berbaur
menjadi satu di dalam kepalaku.
Pada saat itulah, suara bel pintu
berbunyi.
Siapa itu, ya.
Tidak mungkin ada tamu di jam segini,
dan seharusnya tidak ada lagi orang yang berencana berkunjung ke mari hari ini
selain kami berdua belas.
Merasa curiga, aku pun mengecek layar
kamera bel pintu tersebut.
"Hii!"
Hawa dingin tiba-tiba menjalar di
sepanjang punggungku.
"Ada yang datang?"
Ayah mengintip ke arah kamera dari
balik bahuku.
"Ternyata dia datang juga pada
akhirnya."
"A-Ayah, jangan-jangan Ayah
yang memberitahunya tentang acara hari ini?"
"Iya. Habisnya Asaka sendiri
yang bilang kalau berkumpul dengan banyak orang pasti akan lebih
menyenangkan... Kenapa? Apa ini masalah?"
"...Tidak."
Layar itu menampilkan senyuman jahat
milik kakak perempuanku, Touka.
"Ada yang datang?"
Mahiru-chan ikut mengintip ke layar
kamera bel pintu tersebut.
"Ah, jangan-jangan ini
Touka-san?"
"U-uum."
"Hee, sudah berapa tahun ya sejak
terakhir kali kita bertemu?"
"Bagi Mahiru-chan, ini mungkin
sudah sekitar tiga tahun berlalu, ya..."
Putri kedua keluarga Gendouji, Gendouji
Touka, adalah orang yang berjiwa bebas.
Ia menggunakan uang keluarga untuk
bermain keliling dunia, dan belum tentu akan kembali ke Jepang walau hanya
beberapa kali dalam setahun.
Ia memang pasti akan pulang di hari
peringatan kematian ibu, tetapi di luar itu, pada dasarnya ia bertindak murni
berdasarkan suasana hati dan ide yang terlintas begitu saja.
Karena itulah, ada kalanya kami cuma
bisa bertemu dengannya sekali dalam setahun.
Mungkin karena sudah lama hidup di luar
negeri, dia sangat pandai berbaur dengan orang lain.
Dia bisa langsung akrab bahkan dengan
orang yang baru pertama kali ditemuinya.
Oleh karena itu, dia memang sosok yang
sangat cocok untuk memeriahkan acara perkumpulan seperti kali ini. Namun...
Dia tidak pernah memikirkan segala
sesuatunya secara mendalam, dan pada dasarnya dia hanya hidup terbawa oleh
suasana saja.
Oleh karena itu, dia punya kebiasaan
buruk sering menimbulkan masalah yang tidak perlu.
Dia adalah anak bermasalah dengan arah
yang berbeda jika dibandingkan dengan Miya-chan.
Apalagi, saat ini kakakku yang satu
lagi, Kyouka-neesama, sang pengawas yang selalu menahannya, tidak ada di sini.
Kehadirannya sudah pasti akan
mengacaukan segalanya.
Hari ini adalah hari di mana aku sama
sekali tidak boleh gagal. Aku harus menegarkan hati untuk mengusirnya pergi...
Aku bergegas menuju pintu masuk.
"A-chan, lama tak jumpa~"
"Kyaa."
Ternyata dia sudah masuk duluan. Kakakku ini langsung memelukku dengan erat.
Kulit yang terbakar matahari hingga
hitam legam dan rambut pendek yang diwarnai pirang.
Penampilannya terlihat seperti
Kogyaru dari beberapa dekade yang lalu.
"K-Kakak, kenapa kamu ada di
sini?"
"Yah, musim panas tahun ini
kebetulan aku lagi ada di Okinawa. Terus, karena Ayah bilang kalau aku sedang
ada di Jepang, dia menyuruhku mampir. Apalagi,
kudengar kalian sedang mengadakan acara perkumpulan dengan banyak orang,
kan."
"Okinawa? Tumben sekali."
"Terkadang ada kalanya aku juga
ingin merasakan suasana khas Jepang, lho. Biar bagaimanapun juga, darah yang
mengalir di nadiku ini kan darah orang Jepang asli, ya."
"...Begitu, ya."
"Ah, benar juga. Aku
bawa oleh-oleh lho."
Gawat, aku benar-benar termakan oleh
ritme Kakak.
"A-ano, Kakak, hari ini―"
"Oh, Touka, kamu sudah
datang?"
Ayah datang dari belakangku.
"Hah! Hei,
apa-apaan dengan penampilanmu yang terlihat seperti Gyaru dari masa lalu
itu?"
"Ah, si bawel sudah datang. Lari
adalah kunci kemenangan."
Setelah mengatakan hal itu,
Touka-neesama pun berlari ke ujung lorong.
"Ooh, ada wajah-wajah yang
kukenal, tapi banyak juga wajah-wajah baru di sini."
Kehadiran penyusup yang tiba-tiba ini
membuat seisi ruangan menjadi riuh.
Namun, karena sebagian besar dari
mereka sedang di bawah pengaruh alkohol, keributan ini tidak membesar.
Kalau ingatanku tidak salah,
Hikari-san, anak-anak yang sudah tertidur, serta Yuu-nii seharusnya belum
pernah bertemu dengan Touka-neesama.
"Lama tidak berjumpa, ya."
Tanpa ragu sedikit pun, Touka-neesama
langsung duduk di kursi pesta perjamuan itu.
"Oya, si cantik di sebelah sana
itu sepertinya kita baru pertama kali bertemu, ya."
Dia menatap ke arah Hikari-san.
"Salam kenal. Apa kamu ini kakak
perempuannya Asaka-chan?"
"Yees. Terima kasih karena sudah
selalu menjaga Asaka. Hmm? Kamu ini siapa?"
Kali ini ia menatap ke arah Yuu-nii.
"Umm, namaku Arizuki Yuu―"
Hampir bersamaan dengan Yuu-nii
mengucapkan kalimatnya, Touka-neesama langsung berdiri dan berseru.
"Ternyata kamu, ya! Kamu yang
selalu membuat A-chan menangis, kan!?"
"Hah?"
"Padahal A-chan itu selalu
menangis sambil bilang ingin bertemu, ingin bertemu denganmu tahu,
sialaaaaan!"
Kemudian ia mengunci kepala Yuu-nii
dengan lengannya dari belakang.
"M-maafkan aku."
"Tunggu, Touka-neesama."
Dengan panik, aku bergegas
melerainya.
"M-menyerah, menyerah."
Dengan wajah pucat pasi, Yuu-nii
menepuk-nepuk lengan Touka-neesama yang telah menguncinya kuat-kuat.
"Bercanda kok~ Menjadi anggota
masyarakat itu ada banyak lika-likunya, kan."
Ia melepaskan kuncian kepalanya
dengan mudah, lalu tertawa terbahak-bahak seolah tak terjadi apa-apa.
"Gehok, gehok."
"Yang paling penting itu
adalah masa sekarang, tahu. Mempermasalahkan hal-hal di masa lalu itu cuma
buang-buang waktu saja."
"I-iya."
"Ahaha."
B-benar-benar seenaknya.
Dalam sekejap, dia langsung
mengambil alih inisiatif di ruangan ini.
"Ooh, Mahiru-chan, kamu jadi
semakin besar, ya."
"Kamu sedang membicarakan
tinggi badanku, kan?"
"T-tentu saja. Ahaha."
"Touka-san, kulitmu terbakar
matahari parah banget, ya."
"Aku baru saja pulang dari
Okinawa. Ya ampun, sengatan matahari di Yonaguni benar-benar luar biasa
menyengat, lho. Benar juga, aku kan bawa oleh-oleh."
Ia mengeluarkan botol minuman keras
dari kantong kertas di dekat kakinya.
"Jeng jeng."
"Ara, Donan, ya."
Mata Bibi Sayaka berbinar-binar.
"Kakak, apa itu?"
"Ini arak khas Okinawa, dan
rasanya itu ueenak tenaaaan. Ayo, ayo, semuanya kosongkan gelas
kalian."
Touka-neesama menuangkan minuman
bernama Donan itu ke setiap gelas milik semua orang.
"Ah, benar juga. Malam ini aku mau
tidur di kamar A-chan, lho."
"Hah?"
"Aku kan ingin tidur bersamamu
untuk pertama kalinya setelah sekian lama."
"T-tidak bisa, kita ini kan sudah
dewasa. Lagipula, masih ada kamar kosong lainnya kok."
"Tidak mau."
"Apanya yang tidak mau."
Di saat kami sedang berdebat di
sisi sini, tanpa disadari Yuu-nii yang berada di ujung sana tampak sudah ambruk
terkulai lemas.
"Yuu-nii, kamu tidak
apa-apa?"
Mahiru-chan mengelus-elus punggung Yuu-nii.
"Ini, minumlah."
Yuu-nii menerima segelas air dari Bibi
Sayaka, lalu meneguknya hingga habis dalam sekali teguk.
"Tunggu, Yuu-nii kenapa?"
"Ugh, m-minuman apa ini."
Yuu-nii bergumam dengan suara seraknya
sambil menatap gelas di hadapannya.
"Kamu ini, Yuu. Kadar alkoholnya
ini enam puluh derajat, lho, jadi kamu harus meminumnya sedikit demi
sedikit."
Bibi Sayaka menenggak minumannya
dengan anggun.
"E-enam puluh derajat..."
Setelah menggumamkan hal itu dengan
wajah yang merah padam, Yuu-nii bersandar dalam-dalam ke sofa, dan langsung
jatuh tertidur.
"K-Yuu-nii?"
Meski aku menggoyangkan bahu Yuu-nii,
satu-satunya balasan yang kuterima hanyalah dengkuran halusnya saja.
"Kayaknya dia tidak akan
bangun sampai besok pagi, nih," ujar Bibi Sayaka.
"Ugh!"
Apa-apaan ini.
Padahal belum sampai lima belas menit
sejak Touka-neesama menerobos masuk, tapi Yuu-nii sudah tumbang. Yuu-nii itu
tidak terlalu kuat minum alkohol.
Kalau keadaannya begini, dia pasti tak
akan bangun hingga besok pagi, jadi rencanaku malam ini terpaksa ditunda untuk
besok.
Tunggu dulu.
Kalau dia berencana untuk menginap juga
di malam esok, aku harus memikirkan cara untuk mengantisipasinya.
Pilihan terbaik adalah dengan
membocorkan informasi keberadaan Touka-neesama pada Kyouka-neesama, dan
memintanya untuk menjemput orang ini.
Pertama-tama―
"Ah, kalau dipikir-pikir lagi, aku
kan punya janji minum dengan Nenetchi."
Tiba-tiba, Touka-neesama mengatakan hal
itu dan bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Eh? Kakak?"
"A-chan, maaf yaa~ Aku pulang,
deh."
Sambil memamerkan raut wajah memelas
yang tampak menyesal, ia menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Hah?"
"Sayang sekali dengan acaranya,
padahal sedang asyik-asyiknya berkumpul, tapi aku sudah buat janji lebih dulu
nih. Aku benar-benar lupa. Yah, tapi syukurlah setidaknya kita bisa bertatap
muka untuk pertama kalinya setelah sekian lama."
"Tung-tung-tunggu sebentar,
Kakak, kamu baru saja minum alkohol, kan?"
"Aku belum meminumnya kok. Aku
cuma menuangkannya saja untuk semuanya. Kayaknya kita baru akan bertemu lagi
saat Tahun Baru nanti, deh. Kalau begitu semuanya, dadaaah~"
Kesunyian bagaikan badai yang baru
saja berlalu kembali menyelimuti kami.
Semua orang memasang wajah
tercengang.
Sudah buat janji dengan orang lain?
Kalau begitu, kenapa dia tidak
langsung saja pergi menemui orang itu dari awal.
Padahal baru saja saat aku pikir
semuanya akan berjalan lancar, dia malah datang di waktu yang sangat tepat
hanya untuk mengacaukan segalanya...
Aku melirik sekilas ke arah Yuu-nii.
Dia sudah tertidur sangat pulas, dan sepertinya hal-hal kecil tak akan bisa
membangunkannya.
"Touka-san benar-benar orang yang
berjiwa bebas, ya."
Mahiru-chan mengangguk-anggukkan
kepalanya seolah kagum pada sosok kakakku.
"Anak itu benar-benar orang
yang tidak bisa tenang."
Ayah mengernyitkan pangkal alisnya.
"Haaah."
Aku hanya bisa menghela napasku
panjang-panjang.
6
"Ugh, kepalaku, sakit."
Saat aku terbangun, atau lebih
tepatnya, saat aku sadar, langit-langit putih memasuki pandanganku. Sepertinya
aku tertidur di atas ranjang di kamarku yang ada di vila, tapi...
"Eh?"
Sejak kapan aku tertidur? Aku sama
sekali tidak ingat. Rasanya kesadaranku melayang begitu saja, seolah-olah aku
baru saja dibius total.
"Etto."
Seingatku semalam aku menikmati pesta
minum, dan setelah menidurkan anak-anak, seingatku...
"Benar juga, kakak perempuan Asaka
datang, lalu setelah itu?"
Aku hanya ingat sampai di situ. Lebih
tepatnya, ingatanku terputus sampai di sana. Biarpun aku berusaha mengingatnya,
pemandangan setelah itu benar-benar putih bersih, dan aku sama sekali tak bisa
mengingat apa-apa.
Lalu, rasa sakit yang berdenyut dan
rasa mual yang berputar-putar di kepalaku ini adalah gejala khas mabuk sehabis
minum.
Tapi tetap saja, sampai minum-minum
hingga hilang ingatan begini, biarpun ini cuma liburan singkat bersama
orang-orang yang sudah kukenal, aku ini benar-benar keterlaluan lepas kendali.
Saat aku melihat jam, waktu sudah
menunjukkan pukul sembilan pagi lewat.
Sambil memegangi kepalaku yang
terasa berat, aku pun berdiri perlahan-lahan.
Aku mandi dan mengalirkan air
dingin ke dalam perutku.
Saat aku melangkah keluar ke balkon
dan membiarkan tubuhku terpapar sinar matahari musim panas, tubuhku
perlahan-lahan mulai terasa lebih baik.
"Yuu-nii, apa kamu sudah
bangun?"
Asaka datang menghampiriku.
"Oh, Asaka. Selamat pagi."
"Selamat pagi, tapi wajahmu
terlihat pucat lho."
"Yah, aku cuma sedikit mabuk
sehabis minum. Ah, tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik, kok."
"...Begitu, ya."
"Apa kakakmu sudah pulang?"
"Iya, dia sudah pulang sejak
tadi malam."
"Begitu, ya. Gara-gara
alkohol, sebenarnya aku tidak terlalu mengingat kejadian semalam. Apa aku minum
sebanyak itu, ya?"
"Bukannya kamu minum sendiri, tapi
lebih tepatnya kamu dipaksa minum..."
Asaka membuang mukanya, terlihat
kesulitan untuk mengatakannya.
Melihat reaksinya ini, sepertinya
semalam aku memang terlalu lepas kendali dan dikalahkan oleh alkohol.
"...Hari ini sebaiknya aku
berhati-hati agar tidak minum terlalu banyak."
"Benar juga. Yuu-nii kan tidak
terlalu kuat minum alkohol, jadi tolong hari ini tahan dirimu, ya."
"Iya, iya, aku mengerti."
Terdengar suara knalpot bernada rendah
yang berat dari suatu tempat. Itu adalah suara Supra milik Ayah. Apa dia mau
pergi ke suatu tempat?
"Yuu-nii, apa kamu bisa
sarapan?"
"Ah, aku makan, aku makan."
Setelah itu, aku pun berjalan menuju
ruang tengah. Sepertinya aku adalah orang terakhir yang bangun.
"Ayah pergi ke luar?"
Aku bertanya pada Ibu sambil menyantap
sarapanku.
"Iya, dia pergi bersama
Taichi-kun."
"Bersama Tacchan?"
"Katanya mereka mau pergi menemui
'Petir Shounan'."
"?"
"Ini, Yuu-kun, kopinya."
Mirai-san membawakan kopi untukku.
"Terima kasih banyak.
Ngomong-ngomong, Miya ada di mana?"
"Dia sedang menulis novel di
kamarnya."
"Begitu, ya."
"Mahiru-chan dan anak-anak sudah
pergi ke laut, lho. Apa Yuu-nii mau ikut berenang juga?"
"Tidak, efek alkoholnya masih
tersisa di tubuhku. Aku mau mandi cahaya matahari saja untuk menghilangkan
mabukku."
Selesai makan, aku pun berjalan-jalan
sendirian di sekitar vila.
Saat aku berjalan menyusuri hutan,
suara jangkrik tonggeret terus bergema tanpa henti di telingaku.
Biarpun musim panas sudah hampir
berakhir, mereka ini benar-benar makhluk yang bersemangat.
Begitu aku turun ke pantai, tampak
anak-anak dan Mahiru sedang asyik bermain di laut.
"Ah, Yuu-nii."
Mahiru yang mengenakan bikini
berhiaskan pita depan itu berlari menghampiriku.
"Kalian semua sudah bersemangat
sekali sejak pagi, ya."
"Yuu-nii mau masuk juga?"
"Tidak, alkoholnya masih sedikit
tersisa, jadi aku akan melihat kalian dari sini saja."
Mereka berempat naik ke atas ban
pelampung dan mulai bermain. Sambil membiarkan ombak yang menyapu membasahi
kakiku, aku berjalan-jalan menyusuri pantai.
Meski pasir masuk ke sela-sela sandal
dan telapak kakiku, hal itu sama sekali tidak terasa tidak nyaman.
Aku pun duduk di atas pasir pantai,
lalu memandangi Mahiru dan yang lainnya serta lautan yang membentang di
seberang sana.
"Haaah."
Damainya.
Menghabiskan waktu dengan sekadar
memandangi laut kosong sejak pagi tanpa melakukan apa-apa, ini benar-benar cara
menggunakan waktu yang sangat mewah.
Padahal biasanya aku sangat sibuk
membersihkan kedai dan menyiapkan bahan masakan.
Apa ini yang dinamakan dengan
menyegarkan jiwa dan raga?
Sesekali berdiam diri melamun tanpa
memikirkan apa pun ternyata merupakan pilihan yang bagus juga.
Saat aku sedang asyik memandangi laut
selama beberapa saat seperti itu, pandanganku tiba-tiba dipenuhi oleh sepasang
gunung kembar yang sangat besar.
"Yuu-nii? Kamu masih hidup?"
"Hm? Uwaa."
Tanpa kusadari, Mahiru ternyata sudah
berada di depanku.
Karena ia menekuk pinggangnya dan
mencondongkan badannya ke depan untuk mengintip wajahku, pandanganku pun dipenuhi oleh dada besarnya itu.
"Jangan mengagetkanku dong."
"Maaf, maaf. Soalnya aku khawatir
karena kamu tidak bereaksi saat dipanggil."
Tubuh sehat Mahiru yang basah oleh air laut itu tampak bersinar cemerlang bagaikan matahari musim panas.
"...Hei, Yuu-nii."
Mahiru mengalihkan pandangannya ke
bawah secara diagonal,
"Ada apa?"
"...Ah, enggak, lupakan
saja."
"Hah?"
"Aku bilang bukan apa-apa."
Mahiru membalikkan badannya dan berlari
ke arah laut.
"Ada apa dengan anak itu."
Perasaanku sudah kembali pulih dan efek
alkoholnya pun sudah hilang. Aku juga mau ikut berenang ah.
Untuk berganti pakaian dengan baju
renang, aku melangkah menuju vila.
◇
Kalau aku bilang aku direkrut oleh tim
perusahaan, apa yang akan Yuu-nii katakan, ya. Mungkin dia akan terkejut sampai
terjengkang.
Apa dia akan mendukungku, ya? Atau
mungkin dia malah bilang kalau dia tidak mau berpisah denganku... Tidak, tidak
mungkin begitu, ya.
Karena Yuu-nii itu orangnya baik, dia
pasti akan ikut merasa senang seolah-olah hal itu terjadi pada dirinya sendiri.
Aku bisa dengan mudah membayangkan sosoknya yang akan berkata 'Syukurlah,
Mahiru'.
...Apa Yuu-nii tidak masalah kalau aku
pergi jauh, ya? Karena pasti nanti waktuku akan banyak tersita untuk latihan
dan pertandingan, dan jarak dari Shizuoka juga jauh.
Aku tidak mau berpisah dari Yuu-nii.
Apa yang seharusnya aku lakukan?
◇
Di malam hari kedua, kami memutuskan
untuk mengadakan barbeku di pinggir pantai.
Sebelumnya hanya ada aku, Asaka, dan
Hanayoshi-san, tapi kali ini pesertanya mencapai total tiga belas orang.
Memang benar, barbeku itu lebih seru
kalau dilakukan bersama banyak orang.
Suara gemeretak api yang meletup
terdengar memecah keheningan malam di tepi laut.
Langit malam itu nyaris tanpa awan, dan
bintang-bintang dengan berbagai ukuran yang bertaburan memancarkan cahaya
redup.
"Ini, sudah matang nih~"
Ibu membagikan daging ke piring
anak-anak.
"Enak, ya."
Misora mengatakannya dengan wajah
tersenyum.
"Huum."
Mei menyuapkan daging ke dalam
mulutnya dengan senyuman lebar.
"Mama, aku beri ini, ya."
Tatsuki menaruh labu kuning di atas
piring Hikari.
"Hei, makan sayurnya juga dong. Ya
ampun."
"Heheee."
Tatsuki berlari memutari panggangan dan
menghampiri kelompok Miya.
"Aku baru pertama kali makan
barbeku."
Mei yang datang ke sebelahku
mengatakan hal itu.
Saus yang menempel di sekitar
mulutnya membuatnya terlihat menggemaskan.
"Oh, ya? Bagaimana? Seru,
kan?"
"Iya."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ehehe."
"Mei-chan, ada saus yang menempel
di pipimu, lho."
"Eh?"
"Biar aku bersihkan, ya."
Asaka yang muncul dari belakangku
membersihkan mulut Mei dengan saputangan.
"Nah, sudah bersih sekarang."
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Yuu-nii, sebaiknya
kamu jangan minum alkohol terlalu banyak agar tidak terjadi kejadian seperti
kemarin, ya."
"Benar juga. Setelah kaleng
ini habis, aku tidak akan minum lagi, deh."
Aku mengocok perlahan kaleng bir
keduaku.
"Ada bir non-alkohol juga,
lho."
"Oh."
Dari cerita yang kudengar,
sepertinya aku mabuk berat semalam gara-gara meminum minuman beralkohol dengan
kadar enam puluh derajat yang dibawa oleh kakak perempuannya Asaka—seingatku
namanya Touka, ya.
Dunia ini memang luas, ya. Selain
minuman dengan kadar alkohol setinggi itu memang benar-benar ada di dunia ini,
ternyata ada juga orang yang bisa meminumnya dengan wajah santai.
Seperti yang dikatakan Asaka, hari ini
aku harus membatasi diri.
"Ngomong-ngomong, Miya, novelmu
sudah selesai ditulis?"
"Hm?"
Miya meminum seteguk teh hijau, lalu
menjawab.
"Tinggal bagian epilog saja, besok
pasti selesai kok."
"Begitu, ya. Aku jadi tidak
sabar. Kalau sudah selesai, biarkan aku membacanya lebih dulu."
"Iya, aku mengerti~"
"Kalian sedang mengobrolkan
apa seru banget?" ucap Mahiru.
"Tentang novel yang kutulis
bersama Miya."
"Oh, kalau yang itu aku pas."
"Fufufu, aku akan membiarkanmu
membacanya juga, kok."
"Tidak usah. Cuma dengan membaca
buku yang isinya teks semua sebanyak satu halaman saja, kepalaku sudah langsung
pusing."
"Kamu ini, selama ini bagaimana
caramu menjalani hidup..."
Seusai barbeku di pinggir pantai, kami
menikmati kembang api yang sudah dibeli sebelumnya.
Cahaya dengan berbagai macam warna
tampak berterbangan membelah kegelapan malam.
"Indah, ya."
Gumam Asaka.
"Benar juga."
"Benar-benar sangat
menyenangkan..."
"Benar juga."
Ini adalah liburan yang
menyenangkan, sangat cocok untuk menutup akhir musim panas kali ini.
"Bagaimana kalau kita jadikan
liburan ini sebagai acara rutin tahunan?"
"Hei, apa tidak masalah?"
"Iya. Nanti aku yang akan bicara
pada Ayah."
Setelah mengatakan hal itu, Asaka pun
tersenyum.
"Yosh, bersiap, ya."
Tacchan menyalakan kembang api
berbentuk tabung. Tak lama kemudian, sebuah bunga besar mekar di langit malam.
Setelah puas menikmati festival kembang
api, kami mandi secara bergantian, lalu kembali ke kamar masing-masing.
"Huft."
Selesai berendam di pemandian air panas
luar ruangan, aku merebahkan diri di atas ranjang.
Sensasi hangat setelah mandi berpadu
dengan efek mabuk ringan, memberikan sensasi nyaman yang tak bisa dijelaskan
dengan kata-kata.
Besok liburan ini akan berakhir,
ya.
Makan, minum, dan bermain, ini
adalah waktu yang sangat menyenangkan.
Besok malam aku pasti sudah berada
di atas ranjang di kamarku yang sempit itu, ya.
Rasanya sedikit sedih, tapi di sisi
lain aku juga merindukan suasana Shizuoka.
Aku kan bisa datang ke sini lagi
nanti.
Asaka juga bilang ingin
menjadikannya acara rutin musim panas, jadi ini bukan berarti acara ini hanya
akan diadakan pada tahun ini saja.
"Hmm."
Rasa kantuk perlahan-lahan mulai
merayapiku.
Pandanganku mulai mengabur.
Lalu, aku pun tertidur pulas.
7
"Hng, hm?"
Merasa ada tekanan di perutku, aku pun
terbangun. Lampu yang seingatku sudah kumatikan kini menyala.
Berdasarkan perasaanku, rasanya belum
sampai sejam sejak aku tertidur.
Sepertinya aku juga terbangun bukan
karena ingin buang air kecil.
"Ada apa ini?"
Sensasi ini, apa ada seseorang yang
menindihku dari atas?
Aku mengalihkan pandanganku ke arah
tubuhku. Dan seketika, rasa kantukku langsung menghilang
sepenuhnya.
"A-Asaka."
"Yuu-nii."
Asaka sedang duduk mengangkang di
sekitar pinggangku.
Yang paling mengejutkan adalah
penampilannya.
Dia hanya mengenakan sehelai baju
tidur negligee berwarna merah muda pucat dengan hiasan renda dan celana dalam.
Apalagi kainnya transparan.
Dada Asaka yang besar beserta
ujungnya terlihat menonjol dari balik kain tipis itu...
"Asaka, a-apa yang sedang
kamu..."
"Apa maksudmu? Hanya ada satu hal
yang bisa dilakukan oleh pria dan wanita saat sedang berduaan saja di malam
hari, kan?"
"H-hah!?"
"Aku sudah tahu semuanya,
lho."
Asaka melanjutkan ucapannya dengan
suara yang sayu.
"Bagaimana cara membuat
bayi."
"Apa yang sedang kamu katakan―"
Pada saat itu juga, pemandangan
kenangan dari masa lalu yang jauh terlintas dari lubuk terdalam ingatanku.
'Bagaimana cara membuat bayi itu,
ya?'
Sosok Asaka di masa kecil yang
menggumamkan hal itu dengan sorot mata polos tiba-tiba terbayang di ingatanku.
Kalau tidak salah, itu terjadi saat
kami sedang memikirkan tema untuk tugas penelitian bebas di liburan musim
panas.
Bagi anak-anak, keseharian mereka itu
dipenuhi oleh pertanyaan. Karena itulah, wajar jika dia merasa penasaran akan
hal itu.
Tindakan pria dan wanita yang saling
bersetubuh, hingga melahirkan tunas kehidupan baru.
Bagiku saat itu, aku menganggap bahwa
hal itu masih terlalu dini untuk diketahui oleh anak-anak, sehingga aku
berusaha sekeras mungkin untuk mengelak.
Namun Asaka yang sekarang ini sudah
menjadi siswi kelas tiga SMA. Tentu saja, dia sudah mengetahuinya. Ya, wajar
saja kalau dia sudah tahu...
Bagaimana caranya membuat bayi.
Dan apa yang harus dilakukan demi
mencapainya.
"Asaka... kamu ini."
"Fufu."
Jari-jari putih Asaka membelai perutku
dengan lembut.
"Apa maumu."
"Apa maksudmu? Bukankah sudah
kukatakan tadi. Kita ini sedang berada di dalam ruangan tertutup di malam hari
dengan hanya berduaan saja, lho? Di saat seperti ini, kira-kira apa yang akan
kita lakukan, ya."
"Berhentilah bercanda."
"Menurutmu aku akan melakukan hal
ini sebagai candaan?"
Ia menatapku dengan sorot mata yang
penuh gairah.
"Yuu-nii, aku menyukaimu."
"H-hah?"
Kata-kata tak terduga terlontar dari
mulutnya. Asaka menyukaiku?
"Aku sangat menyukaimu. Aku
mencintaimu."
"...!?"
Aku tak bisa berkata-kata.
Memang benar terkadang Asaka menempel
padaku dengan sikap yang lengket layaknya sepasang kekasih, tapi itu hanyalah
karena dia sedang bermanja seperti saat ia masih kecil dulu.
Bagi Asaka yang menjadikan kenangan
masa lalu sebagai sandaran hatinya, tak heran jika ia melakukan hal-hal yang
mengingatkannya pada masa kecilnya.
Oleh karena itu, perasaan yang dipendam
Asaka kepadaku itu pastilah sekadar perpanjangan dari perasaan kagum seorang
anak kepada orang dewasa.
Perasaan sayangnya itu tidak mungkin
merupakan sebuah rasa cinta.
Asaka pasti telah salah mengartikan hal
itu.
Aku memalingkan wajahku dari Asaka,
"...Bodoh. Kamu, ka-kamu cuma
salah paham saja."
"Salah paham?"
Demi melarikan diri dari ketakutan akan
kehilangan kenangannya, di saat dia sedang bergantung padaku, Asaka mengira
bahwa perasaan kagumnya kepadaku sebagai sosok kakak itu adalah perasaan cinta.
Pasti begitu.
"Cobalah melihat dunia ini sedikit
lebih luas lagi. Saat ini, kamu hanya sedang berdiri diam di tempat.
Jika kamu sudah bisa melangkah maju dan mandiri, dunia yang kamu lihat pasti
akan berubah. Kalau kamu bisa melakukan hal itu, suatu hari nanti pasti akan
muncul pria yang benar-benar bisa kamu cintai dengan sepenuh hati―"
"Haaah."
Asaka menghela napas.
"Karena Yuu-nii itu tidak peka,
kali ini aku akan mengatakannya dengan jelas, ya. Aku sama sekali tidak
menganggap Yuu-nii sebagai kakakku."
"Eh?"
Asaka meletakkan tangannya di dada,
lalu berkata,
"Aku menyukaimu sebagai seorang
pria."
"Makanya kubilang, itu..."
"Perasaanku ini bukanlah sesuatu
yang baru saja muncul. Aku sudah menyukaimu sejak sepuluh tahun yang
lalu."
"Ukh!"
"Aku memang tidak tahu apa
tepatnya yang menjadi pemicunya, tapi di hari perpisahan kita saat itu, aku
sudah jatuh cinta padamu. Apa Yuu-nii membenciku?"
"M-mana mungkin aku membencimu.
Tapi."
"Tapi?"
"S-sampai seperti ini, padahal
kita kan tidak pacaran..."
"Yuu-nii memang kaku sekali dalam
hal seperti ini, ya."
Asaka terkekeh geli, lalu berkata,
"Kita anggap saja kalau ini adalah
karena pengaruh alkohol dan malam musim panas. Terbawa suasana dan akhirnya
melakukannya, itu hal yang lumrah, kan."
"T-tapi kan ada orang lain juga di
sini."
Bukan cuma kami berdua yang saat ini
sedang berada di vila ini.
"Benar juga, ya. Kalau kita
menyambut pagi di kamar yang sama, semua orang pasti akan menyadari apa yang
baru saja kita lakukan."
Kalau sampai ketahuan bahwa aku
meniduri siswi SMA karena terbawa suasana, itu akan menjadi masalah besar.
Apalagi di sini juga ada Hanayoshi-san
dan kedua orang tuaku.
"B-bagaimana kalau hal itu sampai
terjadi."
"Kalau sudah begitu, tolong
bertanggung jawablah, ya?"
Asaka mencondongkan tubuhnya, lalu
menjatuhkan dirinya ke arah tubuhku.
"J-jangan bicara yang
bodoh-bodoh."
Aroma menggoda yang membuat kepalaku
pusing merasuk dari hidung ke otakku, dan tubuh lembut Asaka tenggelam di
atasku.
Bagaikan menyiramkan minyak ke dalam
api, gairah di dalam diriku pun seketika membara.
Demi menekannya, aku berusaha sekuat
tenaga untuk mengingat kembali memori saat aku berendam di pemandian air panas
bersama Ayah, Tacchan, dan Hanayoshi-san.
"Guh."
Namun, perlawananku sia-sia saja,
rasanya seolah-olah seluruh darah di tubuhku mengalir deras ke tubuh bagian
bawahku.
"Karena ini adalah yang pertama
bagiku, tolong bersikaplah lembut, ya."
Asaka membenamkan wajahnya ke
leherku dan berbisik.
Aroma rambutnya menggelitik rongga
hidungku, dan jantungku berdegup kencang hingga bunyinya terdengar jelas oleh
diriku sendiri. Ini juga yang pertama bagiku.
"..."
Hembusan napas yang menyapa leherku.
Aroma manis yang tercium dari
rambutnya.
Berat dan suhu tubuh Asaka yang
kurasakan dengan seluruh tubuhku.
Sangat lembut dan juga hangat.
"..."
A-apa yang seharusnya aku lakukan.
Kalau aku mengulurkan tanganku, aku
bisa langsung menyentuh bokong Asaka.
Tidak, tidak, hal seperti itu tidak
perlu dipikirkan lagi.
Jauhkan dia darimu, diriku.
Lawanmu itu Asaka, lho.
Anak perempuan yang sudah kukenal
sejak kecil, yang sudah kuanggap seperti adik sendiri, mana mungkin aku sebagai
om-om yang hampir berumur tiga puluh tahun boleh menyentuhnya.
Cepat singkirkan Asaka dari atas
tubuhmu!
Umur kami terpaut lebih dari sepuluh
tahun, dan dia juga masih berstatus siswi SMA.
Jauhkan dia.
Cepat jauhkan dia!
Sebelum terjadi kesalahan fatal!
"Menjauhlah dariku, Asaka!"
"Ah, ternyata sudah berdiri,
ya."
Naluriku benar-benar sudah
terpancing oleh situasi ini.
Gairah luar biasa yang belum pernah
kurasakan sebelumnya terkonsentrasi di tubuh bagian bawahku.
"Asaka, hentikan,
sungguh..."
"Bicaramu boleh saja begitu,
tapi tubuhmu berkata jujur, lho."
"Ugh..."
"Tegang sekali, ya. Besar
sekali, lho."
"Dasar bodoh."
Rasa benci pada diri sendiri yang
tak tertahankan langsung menyelimutiku.
Pria macam apa aku ini. Merasakan
gairah nafsu pada seseorang yang kuanggap sebagai adik sendiri, aku benar-benar
tak tahu malu.
Namun, rasa gairah yang setara atau
bahkan lebih besar dari itu terus merasuki sekujur tubuhku.
Aroma tubuh Asaka yang menggoda dan
mempesona, suaranya yang terdengar manis, serta kelembutan kulitnya yang
menempel erat pada kulitku, semua itu benar-benar melelehkan otakku.
Seberapa nyamannya perasaanku jika aku
menyerahkan diriku pada hasrat ini, ya.
"Hah, hah."
"Yuu-nii, aku menyukaimu."
Asaka mengubah posisinya, mengangkat
sedikit badannya, lalu kembali memelukku sambil menempelkan dadanya ke wajahku.
Terhimpit di belahan dada yang dalam,
wajahku semakin terbenam di kedalamannya.
Sangat empuk, kenyal, harum, dan
hangat.
"Fufu, apakah kamu
menyukainya?"
Tentu saja aku menyukainya, tapi
aku tidak boleh melakukannya, bertahanlah.
"Kamu juga boleh menyentuhnya,
lho?"
Godaan iblis itu perlahan-lahan mulai
meluluhlantakkan akal sehatku.
"Ugh..."
Sambil memegang kepalaku dengan tangan
kirinya, Asaka mulai membelai benda paling berhargaku itu dari luar celana
dengan tangan satunya.
"Kamu tidak perlu menahannya
lho?"
Belai, belai...
"Ugugu."
Tahan dirimu, diriku.
"Ayo jadikan diri kita merasa
nyaman."
"A-Asaka."
Batas itu, aku sama sekali tidak boleh
melewati batas yang satu itu.
◇
"Hngg."
Aku tidak bisa tidur.
Aku sudah mencoba berbagai macam
posisi, tapi rasa kantuk tak kunjung datang.
Padahal sudah lebih dari satu jam
sejak aku berbaring di atas ranjang.
Sifat ini sudah kumiliki sejak dulu.
Kalau ada hal yang tidak menyenangkan
atau sedang memikirkan sesuatu, aku jadi sulit untuk tidur.
Biarpun aku sudah memejamkan mata,
bagian dalam kepalaku terus bergerak aktif, dan berbagai macam hal tidak
penting muncul dan tenggelam, membuatku sama sekali tidak merasa ngantuk.
Lalu, karena aku terus mendesak diriku
sendiri untuk cepat tidur, otakku malah jadi bekerja lebih keras, menciptakan
sebuah lingkaran setan.
"Yuu-nii..."
Pada akhirnya, aku gagal membicarakan
soal rekrutmen itu dengan Yuu-nii.
Tapi, kurasa aku tetap harus
menyampaikannya pada Yuu-nii.
Lagipula, cepat atau lambat dia pasti
akan mendengarnya dari orang tua kami, jadi akan lebih baik kalau aku yang
menyampaikannya sendiri.
Yuu-nii pasti akan menyuruhku untuk
pergi ke Kumamoto, dan semua orang yang lain juga pasti percaya dan berharap
kalau aku akan menerima tawaran itu.
Tapi, aku ingin terus berada di sisi Yuu-nii.
Tak peduli seberapa banyak orang
menentangnya, aku tidak ingin kehilangan hari-hari keseharian bersama kami
berempat yang akhirnya berhasil kuraih kembali ini.
Tapi, menolak tawaran sebesar ini
karena alasan seperti itu, itu rasanya tidak normal, kan.
Karena itulah aku belum bisa bilang
pada siapa pun tentang niatku untuk menolaknya, dan aku juga belum bisa
mengatakannya sekarang.
"Apa dia masih bangun, ya."
Aku tidak membutuhkan jawabannya
sekarang juga, dan aku sendiri juga belum bisa membuat keputusan yang pasti.
Tapi, entah kenapa aku merasa kalau
sekadar membicarakannya dengan Yuu-nii saja sudah cukup untuk meringankan
bebanku.
Saat aku melihat jam, waktu sudah
menunjukkan pukul satu dini hari.
Aku pun turun dari ranjang.
Tepat saat aku melangkah keluar ke
lorong, terdengar suara pintu ditutup hampir di waktu yang bersamaan. Suaranya
berasal dari sebelah, dari kamar Yuu-nii.
Sepertinya Yuu-nii masih bangun.
Apa dia baru saja pergi ke pemandian
air panas luar ruangan, ya? Atau jangan-jangan dia mencari makan di bawah?
Klek.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi
keras kunci diputar di lorong yang gelap itu.
"?"
Kenapa dia mengunci pintu?
Padahal di vila ini cuma ada
orang-orang yang saling kenal...
Rasa canggung mulai memenuhi isi
kepalaku.
Pada saat itu juga, aku menyadari bahwa
pintu kamar Asaka yang berada di ujung lorong terlihat sedikit terbuka.
Imajinasi buruk seketika melintas di benakku.
Tidak, mana mungkin hal itu terjadi.
Aku melangkah dengan hati-hati
menembus keremangan malam yang sepi senyap. Padahal
jaraknya cuma beberapa meter saja, tapi entah kenapa terasa sangat jauh.
"Asaka?"
Saat aku mengintip ke dalam kamar
Asaka, tak ada seorang pun di sana.
Di mana dia?
Lalu, aku pun mencari ke seluruh
penjuru vila, mulai dari ruang tengah, dapur, ruang loteng, pemandian air panas
luar ruangan, toilet, hingga gudang, namun aku tak berhasil menemukan sosok
Asaka di mana pun.
Terkecuali di satu tempat.
Satu-satunya tempat yang tersisa adalah
kamar Yuu-nii. Cuma itu satu-satunya tempat yang paling masuk akal.
Kalau begitu, orang yang tadi masuk ke
kamar dan menguncinya dari dalam itu bukan Yuu-nii, melainkan Asaka?
Kalau memang begitu, kenapa dia
repot-repot mengunci pintunya...
Imajinasi buruk terus berkembang di
kepalaku. Rasanya dadaku seperti mau hancur berkeping-keping.
Aku sudah berkali-kali berniat untuk
bertanya.
Saat sedang berkemah, atau saat di
festival Miya Odori, aku hampir saja menanyakannya, namun pada akhirnya aku
gagal melakukannya. Mana mungkin aku bisa menanyakannya.
'Asaka, apa kamu menyukai Yuu-nii?'
Jika kita berasumsi bahwa Asaka menaruh
perasaan cinta pada Yuu-nii, dan dia diam-diam mengadakan pertemuan rahasia
tengah malam begini, itu artinya sekarang mereka berdua sedang berada di
dalam...
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.
Tidak, mana mungkin mereka melakukan
itu.
Hubungan mereka berdua pasti belum
sampai sejauh itu.
"..."
Aku ingin memastikannya sendiri.
Tapi pintu kamar Yuu-nii dikunci, jadi
aku tidak bisa masuk... Benar juga.
Seingatku, balkon luar terhubung dengan
seluruh kamar di salah satu sisi bangunan ini. Aku bergegas kembali ke kamarku,
lalu keluar ke balkon dari jendela.
Angin kencang sedang bertiup. Pepohonan
di hutan bergoyang hebat ditiup angin. Hal itu seolah-olah menggambarkan
perasaanku saat ini.
Bulan tertutup oleh awan, dan
kegelapan yang temaram menyebar di sekeliling.
Dengan mengendap-endap, aku
berjalan menuju bagian luar kamar Yuu-nii.
Kebetulan sekali, gordennya tidak
tertutup dengan rapat, sehingga masih ada celah di antaranya. Cahaya tampak
membias keluar dari celah tersebut.
Tidak akan terjadi apa-apa kok.
Pasti aman.
Mereka pasti cuma sedang mengobrol
saja.
Setelah kulihat sekilas, kalau ternyata
tidak terjadi apa-apa, aku akan minta agar aku juga diizinkan masuk dari arah
lorong.
Lalu, aku akan berkonsultasi soal arah
masa depanku dengan mereka berdua―
Lalu, aku pun mengintip ke dalam kamar.
"...!"
Pemandangan yang kulihat dari celah
gorden itu adalah pemandangan yang sama sekali tak bisa kupercaya.
"Bohong, kan, Asaka."
Otakku tak bisa memproses semua ini
karena aku terlalu terkejut.
Di atas ranjang, Asaka tampak memeluk Yuu-nii
dengan posisi menindihnya.
Kecemasanku menjadi kenyataan.
Ternyata dugaanku benar, Asaka memang
menyukai Yuu-nii.
Dia tidak lagi memandang Yuu-nii
sebagai seorang kakak yang sering bermain dengannya di masa kecil, melainkan
memandangnya sebagai seorang pria seutuhnya.
Tapi, aku tidak pernah mendengar kalau
mereka berdua itu berpacaran, dan jika mengingat hubungan mereka selama ini,
aku sama sekali tak bisa membayangkan kalau mereka memiliki hubungan seperti
itu.
Lagipula, kalau seandainya hal itu
memang terjadi, kami ini kan sahabat dekat, dia pasti akan menceritakannya
padaku.
Jika mendengarkan percakapan mereka
dari luar, sepertinya Asaka-lah yang mengambil inisiatif melakukan kunjungan
malam ini secara sepihak.
Tapi kalau terus begini, hancurnya akal
sehat Yuu-nii hanyalah masalah waktu. Biarpun aku melihatnya dari sudut pandang
seorang wanita, Asaka itu adalah gadis cantik yang sangat memesona, lho.
Kalau aku menerobos masuk dari balkon,
Asaka pasti akan langsung mundur, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu.
Berbeda denganku, Asaka telah
mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan perasaannya kepada Yuu-nii.
Sebagai seorang sahabat, aku tidak
mungkin mengganggu usahanya itu. Tapi, tapi, aku juga menyukai Yuu-nii.
Kalau begini ceritanya, haruskah aku
diam saja dan melihat mereka berdua bersatu begitu saja...
Apa yang harus kulakukan...
Kupikir angin yang menerpa pipiku ini
terasa dingin, ternyata itu adalah air mataku yang sedang mengalir.
◇
"Hah, hah."
Napasku tersengal-sengal.
"Ukh."
Tanpa sadar, kedua tanganku sudah
hampir menyentuh punggung Asaka.
A-gawat.
Kalau saja aku memeluknya tadi, mungkin
aku sudah tak bisa kembali lagi.
"Kalau diteruskan lagi, kita tidak
bisa menganggapnya sebagai candaan, lho."
"Sejak awal aku memang serius
kok."
"...Asaka."
"Ya ampun, kamu ini
benar-benar tidak bisa ditebak, ya."
Setelah mengatakan hal itu, Asaka pun
bangkit.
Syukurlah, sepertinya dia sudah paham
maksudku.
Saat tubuh Asaka menjauh dariku, aku
memang sedikit merasa enggan untuk melepaskannya, tapi setidaknya dengan
begini, aku tak perlu khawatir akan terjadi kesalahan fatal.
"Yuu-nii, cepatlah bangun
juga."
"O-oh."
Kemudian, kali ini giliran Asaka yang
merebahkan dirinya di tempatku berbaring tadi.
"Eh, Asaka?"
Dia menurunkan dagunya, lalu meletakkan
jari telunjuknya di bibirnya yang berwarna merah muda itu.
Tatapan matanya yang menatapku dari
bawah terasa begitu panas hingga seperti akan membakarku.
Lekuk tubuh Asaka yang menonjol di balik baju
tidur transparan itu langsung mencuri seluruh perhatianku dalam sekejap.
Bahkan saat aku berusaha memalingkan
wajah, entah kenapa pandanganku kembali terkunci pada sosok Asaka.
Gairah yang bergejolak di tubuh bagian
bawahku masih belum mereda. Malahan, rasanya gejolaknya menjadi semakin parah.
Dibandingkan dengan sebelumnya, dadaku
terasa semakin sesak, dan api nafsuku kian membara. Aku ingin melepaskan
penderitaan yang memuncak ini!
Hasrat itu perlahan-lahan mulai
merongrong akal sehatku.
"Silakan, kamu boleh melakukan apa
pun yang kamu mau kok."
Asaka sepertinya juga sedang gugup,
dadanya tampak naik turun dengan cepat.
Keringat tipis terlihat mengalir di
tulang selangkanya, dan ia menggesek-gesekkan kedua pahanya seolah sedang
merasa kesepian.
Rambut hitamnya yang berkilau, dadanya
yang montok, pinggang ramping dengan kulit yang seputih susu, serta bagian
bawah tubuhnya yang sintal dan padat.
Dilihat sebagai seorang wanita, Asaka
sudah bukan lagi sosok anak nakal yang selama ini kukenal.
"Silakan, nikmatilah
sesukamu."
"...Asaka."
Aku menelan ludah, dan tanpa sadar aku
sudah mencondongkan tubuhku ke depan. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang
terputus di dalam diriku.
"..."
Sudah, lah, persetan dengan semua ini.
Apa gunanya aku terus menahannya?
"Ayo, Yuu-nii."
Sambil menghirup dalam-dalam aroma
tubuh Asaka, aku perlahan-lahan semakin mencondongkan tubuhku ke depan.
"Kemarilah."
"Aaa."
Bodoh, hentikan, berhenti!
Namun, tubuhku mengabaikan perintah
dari otakku sendiri.
Menghadapi kenikmatan yang terbentang
di depan mata, sepertinya aku akan membiarkan diriku tenggelam begitu saja ke
dalamnya...
Aroma manis tubuh Asaka yang menguar kini menjerat diriku.
"Asaka."
"Tolong bersikaplah lembut,
ya."
Tangan Asaka melingkari leherku, dan ia
pun memejamkan mata.
"Aaa."
Sedikit demi sedikit, jarak di antara
kami berdua semakin menipis.
"Yuu-nii, aku menyukaimu."
Aku sudah tidak bisa memikirkan apa-apa
lagi.
Satu-satunya hal yang kupahami hanyalah
satu.
Bahwa aku pasti tidak akan berhenti
sampai aku mencicipi habis tubuh luar biasa yang ada di depan mataku ini.
Semua ini sekarang adalah milikku.
Akan kulampiaskan seluruh gairah nafsu
duniawi yang mendidih ini pada betina ini.
Naluriku sebagai seekor jantan
meneriakkan hal itu.
Akan kubuat dia mengerti dengan
tubuhnya sendiri, apa jadinya jika dia menggoda pria dewasa.
Urusan belakangan... bisa kupikirkan
setelah semuanya selesai.
"Asaka."
"Yuu-nii."
Saat aku mencengkeram bahu mungil
Asaka, tubuhnya tersentak kecil.
Kehangatan Asaka merambat melalui kulit
kami yang saling bersentuhan.
Bibirku perlahan-lahan mendekati
bibirnya yang berwarna merah muda pucat.
Tinggal beberapa sentimeter lagi
sampai bibir kami berdua saling bersentuhan...
Dan kemudian―
Prrrrrrr!
"―!"
Seketika suara itu mencapai
telingaku, gairah seksual yang sebelumnya menguasaiku menghilang dalam sekejap
layaknya es yang dilemparkan ke dalam air panas.
Sebagai gantinya, hawa dingin yang
membekukan menusuk seluruh tubuhku.
"Hii, aaaa."
Tubuhku tersentak hebat, lalu aku
menjatuhkan punggungku ke bagian dalam ranjang.
Langit-langit terasa
berputar-putar, dan hari-hari bagaikan neraka itu kembali berkelebat di dalam
kepalaku.
Suara bentakan bosku.
Pekerjaan yang sangat menyiksa.
'Arizuki, besok datanglah lebih awal
jam empat.'
'Arizuki, kamu bisa lembur hari ini?'
'Sudah sewajarnya kan kalau uang lembur
itu tidak dibayarkan.'
'Orang yang mengambil cuti berbayar itu
gagal sebagai anggota masyarakat. Apa kamu tidak malu mendapat uang tanpa
bekerja?'
'Jangan manja.'
'Kalau kamu berhenti sekarang, semua
usahamu selama ini akan sia-sia, lho?'
'Ada kesalahan pengiriman barang,
tolong kamu antarkan ini.'
'Mulai sekarang, aku akan menghajar
kalian.'
'Bisa tolong bertahan sedikit lagi?'
'Arizuki.'
'Arizuki.'
'Arizuki.'
"Aaaaa, uaaaaaa!"
"Ah, m-maafkan aku. Aku lupa
mengubahnya ke mode senyap."
Asaka turun dari ranjang dan
mengulurkan tangannya ke meja di dekatnya. Aku masih belum bisa mengatasi rasa
traumaku terhadap nada dering tersebut.
"Hiii..."
Meski suaranya sudah berhenti, getaran
di tubuhku tak kunjung mereda untuk beberapa saat.
"Yuu-nii, tidak apa-apa kok."
Asaka memelukku dengan wajah seperti
mau menangis.
"Hah, hah... Asaka."
"Tidak ada yang perlu
ditakutkan."
Sambil mengelus punggungku, ia terus
melontarkan kata-kata lembut untuk menenangkanku.
"Huft, hah, terima kasih."
Saat aku mulai tenang, diriku dipenuhi
oleh rasa benci pada diri sendiri dan perasaan menyedihkan. Seiring dengan kepalaku yang mulai dingin, rasa penyesalan datang
menerjangku.
Dasar diriku yang bodoh. Apa yang
baru saja ingin kau lakukan tadi?
Kau baru saja berniat meniduri
Asaka, gadis manis yang sudah kau anggap seperti adikmu sendiri sejak kecil,
lho. Menyerahkan diri pada emosi sesaat, dan berniat menyentuh siswi SMA.
"Yuu-nii, apa kamu sudah
merasa lebih baik?"
"Iya, terima kasih, ya."
"Maafkan aku, aku lupa mengubahnya
ke mode senyap."
"Tidak, tidak apa-apa. Lagipula,
apa kamu tidak perlu meneleponnya kembali?"
"Soalnya, panggilannya dari nomor
tak dikenal."
Mendapat panggilan dari nomor tak
dikenal di tengah malam begini benar-benar menakutkan.
"Suasananya jadi rusak, ya."
Asaka mengeluarkan suara yang sedih.
Saat kulihat, air mata tampak menggenang tipis di pelupuk matanya.
"Asaka, maafkan aku. Kamu pasti
ketakutan, kan."
"Apanya?"
"Terhanyut oleh nafsu, dan
berniat, umm, menidurimu."
"Kan aku sendiri yang menggodamu
duluan, jadi kamu tidak perlu memikirkannya."
"Bagiku, kamu itu adalah salah
satu adik perempuanku yang manis. Meski hanya sesaat, aku merasa sangat malu
karena telah mengarahkan hasrat seksualku padamu..."
"Yuu-nii, semua yang kukatakan
tadi itu adalah kebenaran, lho. Aku menyukai Yuu-nii. Sebagai seorang
pria."
"..."
"Karena itulah, aku merasa sangat
senang karena Yuu-nii sudah melihatku sebagai seorang wanita."
Asaka mengatakannya dengan nada seolah
telah meraih kemenangan.
"Asaka, soal itu."
Memang benar, tadi aku sempat
memandang Asaka sebagai seorang wanita. Itu adalah fakta yang tak terbantahkan.
"Apa Yuu-nii membenciku?"
"Mana mungkin aku membencimu.
Tapi, memendam perasaan seperti itu pada orang yang kuanggap adik sendiri itu
rasanya aneh."
"Aku ini sudah bukan anak-anak
lagi."
"Bagi pandanganku, kamu ini masih
anak-anak. Aku sudah mengenalmu sejak kamu masih sekecil ini, tahu."
Aku menempatkan telapak tanganku secara
horizontal pada ketinggian sekitar satu meter dari lantai.
"Perasaan menyukai seseorang itu
tidak memandang orang dewasa maupun anak-anak, dan juga tidak berhubungan
dengan umur. Lagipula, dengan begini kamu jadi mulai menyadarinya, kan."
"...Tanpa komentar."
"Fufu, itu pun tak masalah. Untuk
hari ini, suasananya sudah tidak mendukung lagi, ya. Sayang sekali, tapi aku
akan kembali ke kamarku."
Asaka berdiri secara perlahan. Aku
memalingkan wajahku dari baju tidur negligee-nya yang tembus pandang itu.
"Iya."
"Kali ini perjalanannya juga
banyak yang terlewat, ya. Kelanjutannya akan kutunda sampai malam saat kita
hanya berduaan saja, ya."
"Asaka, aku―"
"Yuu-nii, aku mencintaimu."
Meninggalkan kata-kata itu, Asaka pun
berjalan keluar dari kamarku.
◇
Setelah memastikan Asaka keluar dari
kamar, aku juga kembali ke kamarku.
Syukurlah. Benar-benar hampir saja.
Entah bagaimana aku berhasil
mengendalikan situasi ini.
Meski agak sedikit memaksa, tapi aku
tak bisa menemukan cara lain selain cara ini.
Maafkan aku, Asaka. Maafkan aku,
Yuu-nii.
"Hiks, ugh."
Padahal seharusnya aku merasa lega,
tapi entah kenapa air mataku tak kunjung berhenti mengalir.
8
Keesokan paginya, Asaka yang datang ke
kamarku tampak seperti biasa tanpa ada perubahan. Meski semalam telah terjadi
hal seperti itu, dia terlihat begitu tenang.
"Selamat pagi, Yuu-nii."
"S-selamat pagi."
Kaus putih dan rok mini hitam.
Tiba-tiba bayangan tubuh menggoda Asaka yang terlihat tembus pandang semalam
kembali terbayang sebagai ilusi, membuatku menampar kedua pipiku dengan
tanganku sendiri.
"K-Yuu-nii? Ada apa?"
"Ah, tidak apa-apa kok."
"?"
Bisa-bisanya anak ini bersikap
setenang itu. Kalau begini ceritanya, rasanya seolah-olah aku benar-benar sadar
dan memandang Asaka sebagai seorang wanita.
Wajahku terasa panas.
Meskipun pendingin ruangan menyala,
tubuhku terasa sangat panas dan membara.
Tunggu dulu, jangan-jangan semua itu
hanyalah mimpi yang diciptakan oleh otakku saja...
Benar juga, kalau memang begitu berarti
tidak ada masalah apa pun.
"Yuu-nii, maaf ya kemarin aku
bertindak terlalu berlebihan."
Ternyata bukan mimpi.
"Asaka, kejadian waktu
itu..."
"Seperti yang sudah kubilang
kemarin, aku menyukai Yuu-nii."
Asaka menatapku lekat-lekat dengan
wajah memerah.
"Aku tidak sedang bercanda atau
mengerjaimu. Bagi Yuu-nii, aku ini mungkin masih anak-anak, tapi suatu hari
nanti aku pasti akan menaklukkanmu."
"Menaklukkanku..."
"Ehe."
Dia benar-benar serius.
Bukan sebagai sosok kakak yang
dikenal layaknya Miya dan Mahiru, tapi anak ini benar-benar memandangku sebagai
seorang pria. Rasanya seperti senang sekaligus sedih, sebuah perasaan yang
sangat rumit.
Di saat-saat seperti ini, balasan
seperti apa yang paling tepat untuk diucapkan?
"..."
Aku merasa sangat menyedihkan karena
tak bisa mengucapkan apa pun.
"Tolong bersiaplah, ya."
"Ugh..."
Asaka memamerkan senyumannya, lalu
berjalan keluar dari kamar.
◇
"Padahal aku baru saja berniat
membuat fakta yang tak terbantahkan."
Sekembalinya ke kamarku sendiri, aku
meraih ponselku.
Niatku membawa ponsel untuk mengambil
foto atau video sebagai bukti malah menjadi bumerang bagiku. Kalau tahu akan
jadi begini, seharusnya aku mengambil fotonya terlebih dahulu di awal.
Teks bertuliskan nomor tak dikenal
yang tertinggal di riwayat panggilan. Kira-kira siapa yang menelepon di jam
segitu...?
◇
"Loh? Mahiru tidak ada,
ya."
Sosok Mahiru tak terlihat di kursi meja
makan pagi.
"Biar aku yang panggil."
Miya bangkit dari kursinya, dan di saat
yang bersamaan Mahiru pun datang.
"Pagi."
"Oh, tumben kamu
terlambat."
"Ah, huum. Kayaknya aku
sedikit terlalu banyak tidur, deh."
Meski dia bilang begitu, tapi
rasanya ada kantung mata hitam di bawah matanya...
Wajahnya juga sedikit terlihat
pucat, kan?
"Mahiru-chan, kamu sudah
selesai?"
Tanya Asaka dengan raut wajah
keheranan.
"Huum, perutku sudah
kenyang."
Dia juga tampak tak selera makan, dan
menyisakan sedikit sarapannya. Sungguh pemandangan langka melihat Mahiru si
tukang makan melakukan hal ini.
"Apa kamu merasa kurang enak
badan?"
"Tidak, aku baik-baik saja
kok. Cuma merasa sedikit aneh saja gara-gara terlalu banyak tidur."
"Begitu, ya? Syukurlah kalau
begitu."
Seusai acara minum teh sehabis
sarapan, kami semua menghabiskan waktu bebas masing-masing.
"Mahiru-chan, ayo pergi ke
laut."
Misora menghampiri Mahiru.
"Aku ingin melihat siapa yang
lebih jago main voli antara Mama dan Mahiru-chan!"
Tatsuki menggenggam tangan Hikari.
"Boleh saja."
Mahiru yang sedang merebahkan dirinya
di atas sofa pun bangkit berdiri.
"Hei, Mahiru, kamu tidak
apa-apa?"
"Tidak apa-apa apanya?"
"Kondisi tubuhmu, sebenarnya
sedang tidak baik-baik saja, kan?"
Mahiru sempat memasang wajah serius
sejenak, namun ia langsung memamerkan senyumannya,
"Tidak kok."
"Jangan memaksakan dirimu."
"...Iya. Aku bilang aku tidak
apa-apa, kan."
Mahiru pun langsung berjalan keluar
bersama anak-anak. Saat ia keluar, Miya datang masuk ke ruangan tersebut.
"Yuu-nii. Novelnya sudah selesai,
lho~"
Miya menarik tanganku.
"Oh, sudah selesai rupanya. Coba
kulihat."
Saat melangkah keluar dari ruang
tengah, aku berpapasan dengan Asaka. Ia meletakkan jari di bibir merah muda
pucatnya, lalu memberikan ciuman jarak jauh dari sudut yang hanya bisa kulihat.
Karena gairah semalam hampir bangkit
kembali, aku pun menatap tajam ke arah Ayah yang sedang bersantai di kursi
goyang dekat jendela.
"A-ada apa, Yuu."
"Tidak, bukan apa-apa..."
"Yuu-nii, cepatlah~"
"Iya, iya, aku mengerti―"
Setelah itu, kami menikmati sisa
liburan musim panas di Shounan hingga waktu kepulangan kami dari vila pada sore
harinya.
Perjalanan liburan singkat selama tiga
hari yang terasa panjang namun juga singkat.
Sambil diantar oleh langit senja, kami
masuk ke dalam mobil, meninggalkan vila tempat kami menghabiskan waktu yang
menyenangkan. Mahiru sepertinya kelelahan sehabis bermain, ia langsung tertidur
bahkan sebelum sepuluh detik berlalu sejak ia duduk di kursi penumpang depan.
"Tahun depan aku ingin ke sini
lagi, ya," ujar Miya.
"Benar juga." Asaka tersenyum
tipis.
Dengan begitu, perjalanan ke Shounan
selama tiga hari dua malam pun akhirnya resmi ditutup.
Saat kuingat kembali di kemudian hari,
liburan inilah yang mungkin menjadi awal mula pemicu perubahan besar dalam
hubungan kami.
Interlude IV | ToC | Epilog







Post a Comment