Kenangan Bersama "Bocah
Nakal" Bagian 4
Bocah Nakal Ingin Mengerjaiku
1
"Ooraaa, Yuu-nii!"
"Yuu-nii!"
"Owaa!"
Pintu terbuka dengan kencang, dan
Mahiru menerobos masuk ke dalam. Di belakangnya, tampak pula sosok Asaka.
Aku menghentikan tanganku yang sedang
membaca buku, lalu berbalik menatap Mahiru.
"Kalian rupanya. Ada apa tiba-tiba
begini?"
"Hari ini kita akan bermain di
rumah Miya!"
"Ayo kita bermain."
"Iya, iya, aku mengerti, jadi
jangan tarik-tarik bajuku."
"Kamu sedang baca apa?"
Mahiru mengintip ke arah tanganku.
"Uwaa, isinya huruf semua."
"Tulisannya kecil-kecil, ya."
"Ini novel misteri, tahu."
"Apa membaca buku yang isinya
huruf semua begitu terasa menyenangkan?"
"Justru karena cuma ada huruf
sajalah, imajinasi kita bisa berkembang pesat."
"Sudah pasti komik jauh lebih
seru."
"Mahiru-chan..."
Asaka membisikkan sesuatu di telinga
Mahiru. Namun, aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan.
"Asal kamu tahu, ya. Novel itu
membuat otak kita mengubah rentetan huruf menjadi sebuah visual―"
"Hal semacam itu tidak
penting."
"Ayo kita segera pergi."
"Padahal kalian sendiri yang tadi
bertanya."
Ya ampun.
Padahal tumben-tumbenan hari ini para
bocah nakal itu tidak datang bermain, jadi aku pikir bisa menghabiskan waktu
membaca buku dengan tenang.
Mahiru yang berpenampilan tomboi dengan
kemeja lengan panjang dan celana pendek, bergegas menuruni tangga dengan
langkah kaki yang berisik.
"Ayo cepatan, cepatan~"
"Ayo lari."
"Kalian terlihat bersemangat
sekali, ya."
Lebih tepatnya, mereka terlihat
seperti sedang terburu-buru...?
"Mahiru-chan, Asaka-chan, bawalah
kola ini~"
"Terima kasih, Bibi."
"Terima kasih banyak."
"Yuu-nii, tolong pegangkan
ini."
"Iya, iya."
Aku menerima tiga botol plastik kola
dari ibu, lalu melangkah keluar dari kedai.
Kemudian, kami menuju rumah keluarga
Haruyama yang berada di sebelah.
Melihat tidak ada mobil minivan di
tempat parkir, sepertinya Mirai-san sedang pergi ke luar. Dilihat dari
waktunya, mungkin dia sedang pergi berbelanja.
"Permisi...!"
Begitu melangkah masuk ke dalam,
sebuah pemandangan yang luar biasa mengerikan menyambut mataku.
Seketika darahku terasa berdesir
hebat.
Tepat di bawah tangga, tampak Miya
tergeletak dengan posisi tengkurap. Sebagian rambut cokelatnya berlumuran warna
merah, dan genangan darah yang pekat menyebar di lantai.
"Eh? Hei, Miya?"
"Kyaaa!"
"Kyaaa!"
Mahiru dan Asaka menjerit secara
bersamaan. Mendengar jeritan mereka, aku langsung melempar botol
kola itu dan berlari menghampiri Miya.
"Miya, kamu tidak apa-apa?"
Tidak ada jawaban.
Apa dia terjatuh berguling dari tangga?
Di saat-saat seperti ini, sebaiknya
jangan memindahkan tubuhnya sembarangan.
Pertama-tama aku harus memanggil
polisi... Bukan, maksudku ambulans. Tanganku bergetar hebat, sehingga aku tidak
bisa mengoperasikan ponsel sesuai keinginanku.
Kemungkinan terburuk terlintas di
benakku. Kenanganku bersama Miya selama ini terbayang silih berganti bagaikan
tayangan lentera berputar, lalu menghilang.
Sensasi berdebar saat pertama kali
menggendong Miya yang masih bayi. Masa-masa saat dia mulai paham sekitarnya,
terus mengikutiku dari belakang, hingga akhirnya tumbuh menjadi seorang bocah
nakal...
"Miya, kamu akan baik-baik
saja. Aku akan segera memanggil ambulans untukmu..."
Hampir bersamaan dengan gumamanku
itu...
"Pff, pffft."
Tubuh Miya bergetar kecil.
"Eh? M-Miya?"
Miya langsung bangkit seolah tidak
terjadi apa-apa.
"Hei, apa kamu yakin tidak apa-apa
tiba-tiba bangkit begitu?"
"Aku sama sekali tidak apa-apa,
tahu~"
Miya yang paruh kiri wajahnya
berlumuran warna merah tua, memutar tubuhnya satu putaran di tempat. Dia sama
sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang terluka parah.
"A-apa ini? Apa maksudnya
ini?"
Aku sama sekali tidak bisa memahami
situasinya.
Syukurlah Miya selamat, tapi sebenarnya
ini...
Pada saat itulah, seseorang menepuk
pundakku.
Saat aku menoleh, Mahiru dan Asaka
memamerkan sesuatu sambil menyeringai lebar. Itu adalah sebuah plakat dari
kardus, dengan tulisan yang dibuat dari tempelan potongan kertas origami.
"SUKSES BESAR"
"Hah?"
"Tetteree~"
"Tetteree~"
"Tetteree~"
Mereka bertiga berseru serempak.
"Kamu kena tipu!"
Miya mengangkat kedua tangannya
tinggi-tinggi.
"Ternyata Yuu-nii masih belum
seberapa, ya."
"Yuu-nii, apa kamu kaget?"
B-bocah-bocah nakal ini. Mereka
telah mengerjaiku.
"Kaget apanya. Apa yang sedang
kalian lakukan?"
"Ini adalah sebuah jebakan
kejutan, tahu."
Mahiru melambai-lambaikan plakat kardus
itu.
"Kemarin ada acara seperti ini di
televisi."
"Jebakan kejutan?"
"Acara yang berjudul 'Grand Prix
Orang yang Tertipu' itu lho."
Kalau dipikir-pikir lagi, kemarin malam
memang ada siaran spesial tentang jebakan kejutan, ya.
"Hei, hei, kamu kaget, kan?
Kamu benar-benar mengira aku sudah mati, kan?"
"Miya, benda merah itu apa?"
"Yang ini? Ini saus tomat
lho."
Anak bodoh ini, dia bahkan meninggalkan
noda merah di pakaiannya. Kalau Mirai-san pulang nanti, dia pasti akan mengamuk
besar.
Terlepas dari itu, keberanian dan
kecerobohan mereka untuk mencoba melakukan jebakan kejutan di dunia nyata
karena terpengaruh acara televisi benar-benar menakutkan. Hal ini membuatku
kembali menyadari bahwa mereka memanglah sekumpulan bocah nakal.
Aku benar-benar tak menyangka hari di
mana aku dikerjai dengan jebakan kejutan akan tiba dalam hidupku. Jantungku
bahkan masih sedikit berdebar-debar.
"Miya, cepat bersihkan itu di
kamar mandi. Mahiru dan Asaka, bantu aku bersih-bersih."
"Kalau kita tidak membereskannya
sebelum Mirai-san pulang, dia pasti akan marah besar."
"Iyaaa~"
"Iyaaa~"
"Iyaaa~"
Miya pun berjalan menuju kamar mandi.
"Ya ampun, ini benar-benar
tidak baik untuk jantung."
Aku mengelap genangan darah—ralat,
genangan saus tomat di lantai dengan menggunakan kain pel. Setelah diamati
baik-baik, benda ini memang benar saus tomat.
Teksturnya kental dan warnanya
terlalu cerah. Kalau dilihat setelah tahu ini cuma jebakan, benda ini sama
sekali tidak terlihat seperti darah.
Apa mungkin aku salah mengenalinya
karena sedang panik? Benar-benar membuatku repot saja.
"Yuu-nii, tolong ambilkan
handuk~"
Terdengar suara Miya dari arah kamar
mandi.
"Tunggu sebentar."
Aku pergi ke kamar Miya dan
mengambil sebuah handuk mandi.
"Ini dia. Hah?"
Sosok Miya tidak ada di ruang
ganti. Aku pikir dia ada di dalam kamar mandi, tapi ternyata dia
tidak ada di sana.
"Miya?"
Pada saat itulah...
"Waa!"
"Owaa!"
Miya tiba-tiba melompat keluar dari
arah belakangku. Sepertinya dia bersembunyi di balik pintu.
Bahkan dia sama sekali belum
mengeringkan tubuhnya, membiarkan dirinya basah kuyup.
"Tetteree~"
"Tetteree~"
Kemudian, Mahiru dan Asaka berdiri
di ambang pintu sambil mengangkat plakat yang sama seperti tadi.
"Ahahahahaha, kamu pasti kaget,
kan?"
"Sudahlah, cepat keringkan badanmu
itu."
Aku menutupi wajah Miya dengan handuk.
"Hehe."
Setelah itu, para bocah nakal yang
semakin terbawa suasana ini terus menerus mengerjaiku.
"Yuu-nii, kamu mau permen
karet?"
Asaka menyodorkan permen karet
lembaran.
Meski aku sudah memprediksi apa yang
akan terjadi, dengan takut-takut aku tetap meraih permen karet itu.
Begitu kutarik, terdengar bunyi
jepretan yang nyaring.
"Aduh!"
Ibu jariku terjepit oleh pegas.
"Tetteree~"
"Tetteree~"
"Tetteree~"
◇
"Yuu-nii, coba buka kotak ini,
deh."
Miya menaruh sebuah kotak putih di atas
kedua tangannya.
Tatapan mata mereka bertiga yang penuh
dengan harap kini tertuju padaku.
"Aku tidak mau."
"Bukalah, kali ini benar-benar
aman kok."
Orang yang mengatakan 'kali ini
aman' biasanya justru adalah orang yang tidak aman.
"Hei, kumohon. Ini permohonan
sekali seumur hidupku."
"Aku sudah mendengar 'permohonan
sekali seumur hidup' milikmu itu lebih dari sepuluh kali. Ya sudahlah."
Meski perasaanku tidak enak, aku tetap
mencoba membukanya.
Dan benar saja...
"Uwaaaaa!!"
Lututku seketika terasa lemas.
Di dalam kotak itu, terdapat iblis
hitam berkilap yang sedang bersembunyi.
"Tetteree~"
"Tetteree~"
"Tetteree~"
"Ngomong-ngomong, ini cuma
miniatur lho."
Miya menjumput benda itu dengan
jarinya.
"Cepat simpan itu."
◇
"Yuu-nii, kamu boleh memakan
ini."
Mahiru meletakkan kue sus di atas
sebuah piring.
"Tidak perlu."
"Kue sus ini sangat lezat
lho."
"Kalau begitu, aku berikan padamu
saja, Mahiru. Makanlah."
"Eh, ti-tidak usah, aku kan sudah
memakannya..."
"Ini enak kok, jadi
makanlah."
"Rasanya sangat enak, lho."
Miya dan Asaka mengapitku dari kedua
sisi. Miya bahkan sudah menyiapkan plakat di belakang punggungnya.
Rasa antusiasme sama sekali tak bisa
disembunyikan dari raut wajah mereka. Kalau mau mengerjaiku, setidaknya
lakukanlah dengan lebih baik.
Wasabinya bahkan sudah tumpah keluar,
tahu!
"Aargh, sialan. Mau bagaimana
lagi."
Aku menggigit bagian terluar rotinya
sekecil mungkin.
Namun di saat itu juga, seisi mulutku
rasanya meledak.
"Guaaaaaaaaaaaaa!"
"Tetteree~"
"Tetteree~"
"Tetteree~"
2
"Ya ampun, tadi itu seru
sekali."
"Yuu-nii ini gampang banget
ditipu, ya~"
"Yuu-nii, apa tadi
menyenangkan?"
Mana mungkin hal itu menyenangkan.
Bisa-bisanya mereka besar kepala, dasar bocah-bocah nakal.
...Benar juga.
Sebuah ide cemerlang tiba-tiba
terlintas di otakku.
"Kayaknya sudah waktunya kita
bermain permainan lain~"
Usul Miya.
"Ayo main gim saja, main
gim," ujar Mahiru.
"Kukuku. Aku akan kembali ke rumah
sebentar, ya."
"Kenapa begitu?"
Tanya Mahiru.
"Ada barang yang tertinggal."
"Berangkatlah sambil berlari,
ya."
Miya mengatakan hal itu sambil
menyiapkan peralatan gim.
"Oke."
Aku kembali ke rumahku dan mencari
sesuatu di dalam lemari. Mainan masa kecilku seharusnya disatukan di sekitar
sini...
"Ah, ini dia."
Lalu, aku bergegas menuju dapur.
Bocah-bocah nakal itu sudah mengerjaiku habis-habisan. Kali ini giliran aku
yang akan mengerjai mereka.
"Huft, maaf, maaf membuat kalian
menunggu lama."
"Kamu lambat sekali."
"Maaf, maaf."
"Ini stik kontrolernya, Yuu-nii."
Asaka duduk di sebelahku.
"Terima kasih."
"Oh iya, sebenarnya tadi aku
menemukan benda seperti ini di dalam rumah."
Aku mengeluarkan barang yang
kumaksud dari dalam saku.
"Kyaa, i-itu pisau?"
Asaka mengeluarkan suara yang terdengar
lemah.
Benda itu adalah pisau mainan. Ada
sebuah trik di mana saat ujung mata pisaunya ditekan, bagian tajamnya akan
masuk ke dalam gagang.
Jadi, pisau ini bisa digunakan untuk
bermain pura-pura menusuk seseorang.
"Tenang saja, Asaka. Itu cuma
pisau mainan. Meski kamu berniat mengagetkan kami, kami tidak akan tertipu,
lho."
Ucap Mahiru sambil tertawa meremehkan.
"Ternyata kamu sudah tahu, ya.
Lihat ini."
"Kyaa, lho? Tidak menusuk,
ya."
Saat aku menusukkannya ke lengan atas
Asaka, bilah pisaunya meluncur masuk ke dalam gagang.
"Iya, kan?"
"Pinjamkan padaku juga dong~"
"Ini."
Para bocah nakal ini tampaknya sangat
tertarik dengan mainan baru tersebut. Tak lama kemudian, sesuai dugaanku,
mereka mulai mengarahkan pisau itu kepadaku.
Bagus, bagus, situasinya berjalan
lancar.
"Eiya, eiya!"
"Miya-chan, sekarang
giliranku."
"Ini."
"Ahahahahaha."
Sambil tertawa, Asaka menusukkan pisau
itu ke punggungku. Bagus, asalkan mengenai tempat itu.
Kukuku.
Sebenarnya, aku sudah memasang sebuah
kantong kecil berisi darah palsu di perut bagian kananku. Triknya adalah saat
pisau itu ditusukkan, darah palsu akan tertekan keluar dari celahnya.
Karena terbuat dari campuran saus tomat
dan kopi, warnanya jadi terlihat lumayan nyata.
Nah, cepat tusuk aku.
Lalu, terkejutlah saat melihat darah
palsu ini muncrat keluar.
"Eiya, eiya!"
Tapi ternyata dia tidak kunjung
mengenainya. Haruskah aku menggeser sudut tubuhku sedikit?
Pada saat itulah...
"Asaka, kalau kamu menusuknya
kuat-kuat begitu, Yuu-nii pasti kesakitan tahu."
Mahiru menegurnya dengan nada bicara
yang sedikit keras. Mendapat teguran itu, raut wajah Asaka jadi sedikit kesal.
"Padahal Mahiru-chan sendiri juga
selalu memukul Yuu-nii."
"Kalau aku sih tidak
apa-apa."
"Apa-apaan itu."
"Hei, hei, sebaiknya kalian akur
saja..."
"Asaka yang salah, tahu."
"Mahiru-chan juga salah."
Aku berusaha melerai mereka berdua,
tapi mereka tak mau mendengarnya. Tak lama kemudian, mereka pun mulai saling
baku hantam.
"Hentikan, jangan
bertengkar."
Karena mereka biasanya selalu akrab
bagaikan saudara kandung, ini adalah kali pertama aku melihat mereka
bertengkar.
"Dasar bodoh!"
"Orang yang bilang bodoh justru
adalah orang yang bodoh, tahu."
"Ah, barusan Asaka juga bilang
bodoh."
"Hah? Apa maksudmu."
"Hentikan."
Tepat saat aku menyela di tengah
mereka berdua dan mencoba memisahkan keduanya...
"Sudah kubilang hentikan...
Hah?"
Sosok Miya memasuki pandanganku.
Sambil memegang plakat itu, sekujur tubuhnya tampak bergetar hebat.
"Pffft, Yuu-nii, kamu tertipu
lagi."
"Lagi? Hah!"
J-jangan-jangan...
Mahiru dan Asaka yang sempat
berguling-guling di lantai kini juga ikut menyemburkan tawa. Tak lama kemudian,
mereka mulai tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahahaha."
"Ehehehehehe."
Mereka berdua bangkit berdiri dan
saling bergandengan tangan dengan akrabnya.
"Asaka, tadi tidak sakit,
kan?"
"Huum, tidak apa-apa kok."
"K-kalian semua, kalian
mengerjaiku lagi, ya..."
Apa mereka merencanakan hal ini saat
aku kembali ke rumah tadi?
"Tetteree~"
"Tetteree~"
"Tetteree~"
Ukh, aku kalah telak.
Bocah
Nakal dan Ubi Bakar
Kalau bicara soal musim gugur, apa
yang terlintas di pikiranmu?
Apakah musim gugur untuk
berolahraga?
Atau musim gugur untuk membaca buku?
Alangkah menyenangkannya berolahraga
di bawah cuaca cerah musim gugur yang menyegarkan tanpa terganggu oleh
kelembapan atau hawa panas. Membaca buku di malam musim gugur yang panjang
sambil mendengarkan alunan suara serangga juga bukan pilihan yang buruk.
Suhu udara mulai menurun, menjadikannya
musim yang sangat nyaman untuk dilewati. Melakukan hal apa pun terasa begitu
menyenangkan.
Olahraga atau membaca buku memang
bagus, tapi pada akhirnya yang terpenting adalah selera makan, bukan?
Kudengar, hal itu juga sudah dibuktikan
secara ilmiah.
Saat musim panas berakhir dan berganti
menjadi musim gugur dengan durasi sinar matahari yang lebih singkat, zat kimia
di otak yang disebut serotonin dan dihasilkan dari paparan sinar matahari akan
mengalami penurunan.
Zat serotonin ini sepertinya bisa
diproduksi dengan cepat dengan cara memakan sesuatu. Oleh karena itu, saat
seseorang kekurangan serotonin, selera makannya pun akan meningkat.
Terlepas dari hal itu, musim gugur
memang dipenuhi oleh makanan-makanan lezat.
Ikan sanma, jamur matsutake, jamur
maitake, ikan cakalang kembalian, kacang kastanya, ikan salmon musim gugur, dan
juga ubi jalar...
Oya?
Sepertinya para bocah nakal ini juga
berniat menikmati selera makan musim gugur, ya. Sambil membawa ubi jalar dalam
jumlah banyak...
◇
Kalau bicara soal musim gugur, sudah
pasti ini adalah musim gugur untuk membaca buku.
Aku masuk ke dalam kotatsu di ruang
tengah sambil membaca buku saku bergenre misteri.
Tenggelam dalam bacaan sepuas hati
sambil meminum kopi hangat di ruangan yang hangat. Itulah cara yang paling
benar untuk menghabiskan hari libur di musim gugur.
Lebih tepatnya, musim dingin sudah
semakin dekat, dan udara di luar benar-benar terasa dingin.
Di hari seperti ini, berdiam diri
menghangatkan badan di dalam ruangan memang pilihan terbaik. Aku menyesap kopi
dengan banyak susu, lalu membalikkan halaman buku.
Namun, waktu yang damai seperti itu
tentu tidak akan berlangsung lama—
"...!"
Terdengar suara derap langkah kaki
yang berisik. Ya ampun, anak-anak itu datang rupanya.
"Yuu-nii!"
"Yuu-nii!"
"Yuu-nii!"
"Ada apa kalian terburu-buru
begitu―"
Seketika hawa dingin merayap di
punggungku begitu melihat benda yang dipegang oleh Miya.
"Nihihihihi."
"Hei, Miya, benda apa itu? Untuk
apa kalian kemari!"
Lebih tebal dari lengan Miya, dan lebih
panjang dari wajahnya. Benda itu adalah iblis berwarna merah keunguan yang
melengkung dengan kokohnya.
Itu adalah ubi jalar. Rasa sakit luar
biasa di tubuh bagian bawahku seketika kembali terbayang.
Ukuran sebesar itu, aku tidak mungkin
salah. Itu adalah ubi jalar yang menusukku beberapa hari yang lalu.
"Yang ini? Ini kan ubi
jalar."
"Hiii, hentikan, jangan arahkan
ujungnya ke sini."
Sensasi tertekan seolah dipaksa terbuka
itu kembali teringat olehku.
"Tenang saja, kali ini aku tidak
akan terjatuh kok."
Meski berkata demikian, Miya terlihat
sedikit keberatan membawanya. Hal itu terlihat berbahaya sampai aku tak sanggup
melihatnya.
"Yuu-nii, hari ini kita akan
membuat ubi bakar, lho."
Asaka datang ke sebelahku dan
menarik tanganku.
"Keluarlah dari kotatsu."
Mahiru datang dari sisi yang
berlawanan.
Mereka berdua tidak memegang ubi
jalar, jadi untuk saat ini perasaanku sedikit lebih tenang.
"Ubi bakar?"
"Masa pematangannya sudah
selesai, jadi Bibi bilang kita sudah boleh memakannya."
Jelas Mahiru. Ubi jalar rupanya
akan menjadi lebih manis jika didiamkan selama beberapa waktu terlebih dahulu,
dibandingkan jika langsung dimakan setelah dipanen.
"Iya, iya, aku mengerti."
Aku pun berdiri menghadap Miya,
lalu menempelkan punggungku ke dinding.
"Apa yang sedang Yuu-nii
lakukan?"
"Yuu-nii terlihat seperti
mata-mata, deh."
"Sudahlah, kalian jalan saja
duluan sana."
Aku pun menggiring para bocah nakal itu
menuju tangga terlebih dahulu. Sambil menempelkan punggungku rapat-rapat ke
dinding, aku mengikuti mereka perlahan dari belakang.
Kami tiba di area kursi teras.
"Ooh, dinginnya."
Angin musim gugur telah membawa hawa
dingin musim dingin, membuat tubuhku seketika menciut.
"Bibi, aku sudah membawa Yuu-nii,
nih."
Ibu sedang berada di ujung kanan
area teras. Kukira dia sedang apa, ternyata dia sedang menyiapkan
tungku perapian.
"Ah, Yuu, kamu sudah datang?"
"Ooh, hangatnya."
Arang di bawah jaring panggangan tampak
menyala kemerahan. Saat aku mengulurkan tangan, terasa hawa hangat yang
merambat.
Di atas meja, terdapat ubi jalar,
kertas aluminium foil, dan tumpukan kertas koran. Di dekat kaki kami juga
terdapat ember yang terisi penuh dengan air.
"Bibi, bagaimana cara
memanggangnya?"
"Ah, Mahiru-chan, jangan
diletakkan begitu saja. Pertama-tama, bungkus ubi itu dengan kertas
koran."
"Seperti ini?"
Mereka bertiga mulai membungkus ubi
jalar menggunakan kertas koran.
"Ah, yang berukuran besar ini
bagian Yuu-nii, ya."
Seolah baru teringat sesuatu, Miya
menyerahkan ubi jalar raksasa miliknya itu kepadaku.
"Apa aku sungguh boleh
menerima yang paling besar ini?"
"U-uum."
"Syukurlah, ya, Yuu-nii."
"A-aku jadi iri deh~"
"?"
Saat aku memegangnya, terasa sangat
berat dan keras bagai batu. Ubi itu melengkung seperti pisang dengan permukaan
yang dipenuhi benjolan.
Padahal cuma sebuah ubi jalar, tapi
kehadirannya memancarkan aura yang tidak biasa. Pantas saja pantatku masih bisa
selamat setelah ditusuk benda seperti ini.
"Bibi, sudah selesai nih."
Ucap Miya.
"Kalau begitu selanjutnya,
celupkan ubi itu ke dalam ember air di sebelah sana."
"Eh, harus dibasahi, ya?"
Mahiru berseru dengan terkejut.
"Bukannya kita akan
memanggangnya?"
"Sudah, lakukan saja."
Ibu mencelupkan ubi jalar yang sudah
dibungkus koran ke dalam air. Melihat hal itu, para bocah nakal itu pun dengan
ragu ikut memasukkan ubi mereka ke dalam ember.
Kemudian, mereka membungkus lapisan
koran yang telah lepek itu dengan aluminium foil.
"Setelah itu, bungkus ubinya
dengan aluminium foil―"
Begitu, ya. Jika dibasahi terlebih
dahulu, kelembapannya akan menguap saat dipanggang, menciptakan kondisi
terkukus di bagian dalamnya, ya.
"Sudah selesai?"
"Sudah~"
"Sudah!"
"Sudah selesai."
"Kalau begitu, mari kita mulai
memanggangnya~"
Ibu menjajarkan ubi jalar di atas
jaring panggangan dengan menggunakan penjepit. Para
bocah nakal terus menatapnya lekat-lekat dengan mata berbinar.
"Berapa lama harus
dipanggang?"
Tanya Miya.
"Coba kulihat, mungkin sekitar
tiga puluh menit. Nah, karena aku harus kembali bekerja, Yuu, sisanya
kuserahkan padamu, ya."
"Iya, iya."
Setelah menerima penjepit dan sarung
tangan kerja dari ibu, aku pun resmi menjabat sebagai petugas panggangan.
Kami semua berjongkok mengelilingi
tungku perapian.
"Yuu-nii, masih belum, ya?"
"Miya-chan, ini baru lima menit
berlalu lho."
"Entah kenapa, rasanya jadi makin
dingin."
Mahiru memeluk kedua sikunya sambil
menggigil.
Hari ini memang terasa sangat dingin.
Meski cuacanya cerah, angin yang berhembus terasa dingin dan udaranya pun
kering.
Walaupun kami sedang berkumpul di
sekitar api, berdiam diri di bawah langit dingin dalam waktu lama tetap saja
terasa menyiksa.
Angin kencang kembali berhembus
menampar kami.
"Hatsyi, Yuu-nii, sisanya
kuserahkan padamu."
Ucap Mahiru sembari bangkit berdiri.
"Hah?"
"Kalau sudah matang, panggil aku,
ya."
"Hei, tunggu sebentar."
"Miya, Asaka, ayo main gim."
"Huum."
"Iya."
Kemudian, para bocah nakal itu berjalan
masuk ke dalam kedai.
"Bocah-bocah nakal itu..."
Bukankah mereka sendiri yang tadi
bilang ingin makan ubi bakar? Setelah melemparkan urusannya pada orang lain,
sekarang mereka malah menunggu makanannya matang di dalam ruangan yang hangat?
Enak sekali jadi mereka, ya. Lihat
saja, sebentar lagi mereka pasti kena batunya.
"Ya ampun."
Aku pun terpaksa lanjut memanggang ubi
jalar sendirian. Karena sudah sekitar lima belas menit berlalu semenjak mulai
dipanggang, aku membalikkan posisinya untuk memanggang sisi yang lain.
Sesekali, terdengar bunyi
letupan-letupan kecil.
Ngomong-ngomong, sudah lama juga
rasanya sejak terakhir kali membuat ubi bakar, ya.
Seingatku, aku pernah membuat ubi
bakar di bantaran Sungai Fuji sebagai penutup acara pendakian saat aku masih
jadi anggota pramuka.
Kurasa ini sudah cukup matang.
Aku pun memindahkan ubi bakar ke atas
piring di meja, lalu memadamkan apinya.
"Panas, panas."
Saat aku melepas bungkusan aluminium
foil-nya, sekujur ubi itu tampak hangus menghitam. Sempat terlintas rasa
khawatir kalau aku memanggangnya terlalu lama, tapi ternyata hanya lapisan
kertas korannya saja yang hangus.
Aku mengibas jatuh semua bagian yang
hangus, lalu mencoba membelah ubi itu menjadi dua.
"Ooh."
Bagian dalamnya berwarna perpaduan
kuning dan oranye, serta aroma manis yang menenangkan membumbung bersama
kepulan asap tipisnya.
"Kelihatannya enak sekali."
Sebelum memanggil mereka semua, lebih
baik aku mencicipinya duluan. Karena aku sudah bekerja keras memanggangnya di
tengah cuaca yang sangat dingin ini, setidaknya aku harus menikmati sedikit
keistimewaan.
Pada saat itulah, sesosok wajah yang
sudah tak asing bagiku lewat di depan kedai.
"Eh? Arizuki-kun."
"Oh, ternyata Shimomura, ya."
Gadis itu adalah Hikari. Dia mengenakan
sweter putih dan rok mini bermotif kotak-kotak merah dan hitam, pakaian yang
membuatku tak mengerti apakah dia sedang kedinginan atau kepanasan.
"Eh, apa itu? Kamu sedang
apa?"
"Ini ubi bakar, kau pasti tahu
kalau melihatnya."
"Hee."
Hikari terus menatap ke arah tanganku.
"Hmm~"
"...Kamu mau?"
"Boleh, nih!?"
"Matamu seakan sedang memintaku
memberikannya padamu, tahu."
"Ehehe."
Aku memberikan ubi bakar yang telah
kubelah dua tadi kepada Hikari.
"Wah, kelihatannya enak. Arizuki-kun
yang memanggangnya sendiri?"
"Aku dipaksa memanggangnya oleh
para bocah nakal."
"Sifat suka merawat orang lainmu
itu tidak berubah, ya."
"Bukan begitu maksudnya."
"Selamat makan~"
Sebaiknya aku juga mulai makan.
Aku pun menggigit ubi jalar
tersebut. Rasa manis yang hangat menyebar di dalam mulut, dan menghangatkan
tubuhku.
"Enak sekali!"
"Aku akui hasil pangganganku
ini luar biasa."
"Ngomong-ngomong, ubi jalar
ini besar sekali, ya."
Pada saat itulah...
"Ah, Yuu-nii! Kalau sudah
matang, panggil kami dong!"
Mahiru melangkah keluar ke arah teras.
"Miya, Asaka, ubinya sudah
matang~"
Mereka berdua pun datang menyusul
di belakangnya.
"Eh, ada Hikari," ucap
Mahiru.
"Yoo."
Hikari mengangkat salah satu tangannya.
"Aku sudah mencicipinya duluan
lho."
"Eh, Hikari-chan, jangan-jangan
itu..."
Wajah Miya seketika berubah pucat pasi.
"Jangan-jangan, kamu menerima
bagian ubi Yuu-nii...?"
Asaka juga menampilkan wajah yang
menegang kaku.
"Eh? Ada apa? Apa ada yang salah
dengan hal itu?"
Hikari memasukkan gigitan terakhirnya
ke dalam mulut.
"Habisnya, ubi jalar itu,
kan..."
"?"
Mereka bertiga saling bertatapan, lalu
dengan ragu Miya mulai membuka mulutnya.
"Itu adalah ubi jalar yang pernah
masuk ke pantat Yuu-nii lho?"
"Buhok!"
Hikari langsung menyemburkan ubi yang
sedang dikunyahnya.
"Hei, tunggu sebentar Miya,
gunakan bahasa Jepang yang benar."
Bukan pernah masuk, tapi kamu sendiri
yang menusukkannya padaku kan. Lagipula, bokongku terlindungi oleh celana, jadi
ubinya sama sekali tidak masuk!
"Arizuki-kun?"
"Itu salah, ini cuma salah paham. Waktu itu Miya tiba-tiba tersandung―"
"Sebenarnya, apa yang sudah
kamu lakukan dengan ubi jalar...?"
"Dengarkan penjelasanku
dulu!"
"Selamat makan~"
"Selamat makan~"
"Selamat makan~"
"Kalian semua, sebelum memakan
ubinya, tolong luruskan dulu kesalahpahaman ini."
"Ka-kalau begitu, aku pergi dulu,
ya... Ahaha."
"Itu sama sekali tidaaaaaaak
benaaaaaar!"
Setelah kejadian itu, aku pun kembali
menjelaskan seluruh situasinya dan kesalahpahaman itu akhirnya terselesaikan.



Post a Comment