Chapter 3
Rasanya Jadi Ayah Seperti Ini Ya
1
"A-Aduhh, panasnya..."
Hari ini adalah hari penerbitan majalah
buletin Klub Penelitian Misteri.
Sambil terpanggang sinar matahari pagi
yang terik tak henti-henti, aku berjalan melangkahkan kaki menuju sekolah.
"Uuugh..."
Area leherku terasa sangat gerah
tertutup rambut, sementara pantulan hawa panas dari aspal menyerang kakiku
tanpa ampun.
Di tengah rute jalan ke sekolah ada
sebuah minimarket. Aku berniat membeli minuman olahraga di sana untuk mengisi
ulang cairan tubuh. Setelah itu, aku akan mendinginkan tubuhku dengan AC-nya!
Oase yang kutunggu-tunggu akhirnya
kelihatan juga.
Aku berlari-lari kecil menyeberangi
area parkir yang luasnya tidak kentara itu, lalu menerobos masuk ke dalam
minimarket.
"Fuuuh..."
Hawa dingin AC yang sangat kuat
perlahan mendinginkan tubuhku hingga ke tulang. Keringatku seketika mengering,
bahkan rasanya malah sampai agak merinding dingin.
Surga dunia, benar-benar surga dunia.
Namun perjalananku baru setengah jalan.
Aku harus kembali lagi ke jalanan yang
membara bagikan neraka itu.
Setelah membasahi tenggorokan dengan
minuman olahraga dan mendinginkan tubuh lebih lanjut dengan es krim Gai-Gai
Kun rasa kola, aku memantapkan hati untuk melangkah keluar.
"Uweeeh..."
Tubuh yang tadinya sudah dingin
seketika menyerap hawa panas matahari dalam sekejap mata, dan cairan tubuh yang
baru saja diisi ulang malah keluar lagi menjadi keringat.
Tampaknya trik kecil manusia sama
sekali tidak mempan di hadapan kedahsyatan alam. Setelah menaiki tanjakan dan
melewati gerbang sekolah, tubuhku sudah basah kuyup oleh keringat.
Di lapangan tenis sedang berlangsung
pertandingan persahabatan melawan sekolah lain, sehingga ada banyak orang yang
berkumpul di sana.
Di tepi jalan berderet pohon yang
membujur dari barat ke timur kawasan sekolah, beberapa siswa laki-laki yang
mengenakan jersey SMA Nishi tampak duduk-duduk sambil asyik mengobrol.
Di lapangan bagian selatan, anak-anak
klub sepak bola sedang beraktivitas, berlarian ke sana kemari di tengah cuaca
panas yang menyiksa bagaikan neraka ini.
Bisa-bisanya mereka melakukan olahraga
berat di bawah terik matahari seperti ini, stamina macam apa yang mereka
miliki?
Padahal aku sendiri baru sampai sekolah
saja sudah kehabisan tenaga.
Nanti pas jalan pulang, aku mau mampir
ke Moon Night Terrace ah, mau minum yang dingin-dingin sambil membaca majalah
buletin klub.
Aku masuk ke dalam gedung sekolah dan
bergegas menuju ruangan Klub Penelitian Misteri.
"Maaf ya bikin menunggu~"
"Lama banget sih,
Haruyama-san."
Rupanya semua orang sudah berkumpul.
"Maaf, maaf ya, Fujino-kun."
Wakil ketua klub yang berkacamata dan
bertubuh kurus—Shintaro Fujino—mengambil satu eksemplar dari tumpukan majalah
buletin di tangannya.
"Nih, bagian buat
Haruyama-san."
"Terima kasih."
"Miyo, keringatmu banyak
banget, lho?"
Seina-chan menuangkan air untukku
dari dispenser.
"Terima kasih. Duh, rasanya panas
banget, panas banget."
"Haruyama-san kan memang tidak
tahan panas."
Fujino-kun menatapku dengan raut wajah
heran.
"Tapi anak ini juga tidak tahan
dingin, tahu."
"U-Udah, berisik ah."
Setelah itu, tema dan tenggat waktu
untuk majalah buletin berikutnya diumumkan, lalu perkumpulan pun dibubarkan.
"Nah, saatnya pulang~"
Aku meninggalkan ruangan klub dan
berjalan menuju loker sepatu.
Pada saat itu...
"Lho, bukannya itu
Miyo-senpai?"
Terdengar suara yang tidak asing di
telingaku, membuatku refleks menoleh ke belakang.
"Aah, Yuuhi-chan!"
Rambut pirangnya berkilauan indah
dipadu dengan kulit yang putih bersih seperti salju.
Mata birunya mengingatkan pada batu
safir, dan tubuhnya yang mungil membuatnya terlihat persis seperti peri. Kalau
dikira-kira lewat mata, tingginya sekitar 140 cm bagian akhir.
Dia adalah salah satu anggota 'Srikandi
Benteng Besi'—entah siapa yang mengarang julukan aneh seperti ini—sama seperti
aku dan Mahiru, sekaligus sosok idola di sekolah ini, Yuuhi Togami.
"Ada apa, Senpai? Kok pagi-pagi
begini sudah di sekolah?"
"Ada urusan klub sebentar, aku
habis mengambil majalah buletin."
"Ooh, begitu."
"Kalau Yuuhi-chan sendiri sedang
ada apa?"
"Aku ada kelas bimbingan musim
panas."
"Hebat banget, ya~"
"Omong-omong, keringat Senpai
banyak banget, lho."
"Ah, soalnya panas banget
sih."
"Mau pakai ini?"
Sambil berkata begitu, Yuuhi-chan
mengeluarkan saputangan dari saku bajunya.
"Enggak usah deh, tidak enak.
Aku bawa handuk kok."
"Begitu ya. Padahal sayang
sekali."
...Sayang kenapa coba?
"Woi, lihat, itu dua orang
Srikandi Benteng Besi!"
"Syukurlah ikut kelas
bimbingan."
"Imut banget..."
"Bisa ketemu Haruyama-senpai
pas liburan musim panas begini rasanya berkah banget."
"Yuuhi-chan, lihat ke sini
dong~!"
Entah muncul dari mana, anak-anak cowok
mulai berkumpul mererungut.
"Agak mencolok ya kalau di sini.
Miyo-senpai, apa masih ada waktu?"
"Eh? Iya."
"Kalau begitu tolong ikuti aku
sebentar. Ada hal yang ingin kubicarakan."
"Hal apa?"
Sambil berkata begitu, Yuuhi-chan
menarik tanganku.
Di musim seperti ini, sebagian
besar ruang kelas kosong. Aku dibawa masuk ke salah satu ruangan
di lantai tiga.
Dari luar jendela, terdengar suara
sorakan anak-anak klub olahraga yang sedang berlatih.
"Di sini kurasa aman."
"A-Ada apa?"
Yuuhi-chan menatapku dengan raut
wajah serius, lalu bersuara.
"Tidak, aku cuma ingin memastikan
sesuatu."
"?"
"Miyo-senpai, belakangan ini apa
ada laki-laki mencurigakan yang menguntit Senpai?"
"Eh? Nggak ada kok?"
Kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal
seperti itu?
"Contohnya, pas Senpai masuk ke
suatu toko, lalu digoda sama pelayannya, atau dipaksa tukaran nomor
kontak."
Kalau cuma sekadar digoda laki-laki
saat jalan di kota sih, yah, lumayan sering ada—meski ini terdengar agak
sombong—tapi kalau dari pelayan yang sedang bekerja rasanya tidak pernah.
"Mmm, tidak ada yang begitu
sih."
"Begitu ya. Kalau begitu
syukurlah."
Yuuhi-chan tersenyum puas.
"Miyo-senpai kan imut, jadi
laki-laki gampang salah paham. Senpai harus hati-hati ya."
"Ehehe, tidak sejauh itu
kok."
"Tidak tidak, ini beneran.
Laki-laki di dunia ini sebagian besar isinya cuma cowok-cowok yang ketagihan
sama anak SMA."
"Masa sih?"
"Beneran tahu. Lagian, orang
dewasa berpacaran sama anak SMA itu kan rasanya sudah seperti kejahatan."
Yuuhi-chan menegaskannya dengan mantap.
"Yah, kalau tidak ada apa-apa
baguslah. Terima kasih atas waktunya."
"Sama-sama, santai saja."
Setelah berpisah dengan Yuuhi-chan, aku
keluar dari gedung sekolah.
Saat mengintip ke dalam gedung
olahraga, anak-anak klub bola voli putri sedang berlatih.
"Oh, Miyo!"
Mahiru yang sedang melakukan peregangan
menyadari keberadaanku, lalu berlari menghampiri.
"Ada apa? Miyo ada urusan klub
juga?"
"Iya, ada urusan sebentar sama
Klub Misteri. Tapi sudah selesai kok."
"Aku hari ini ada latihan
seharian~"
Baju latihan putihnya mengembang besar,
sampai-sampai aku berpikir jangan-jangan dia menyembunyikan bola voli di balik
bajunya. Ukurannya masih sebesar biasanya.
"Kira-kira selesai jam
berapa?"
"Mmm, jam lima atau jam enam kali
ya."
"Kalau gitu, pas selesai nanti ayo
kita makan bareng!"
"Okelah!"
"Nanti Yuu-nii sama Asaka biar aku
yang beri tahu. Kalau begitu, semangat ya!"
"Sip!"
Setelah melepas keberangkatan Mahiru,
aku melangkah pulang.
Sambil berjalan, aku berpikir. Apa
Yuu-nii juga sebenarnya suka anak SMA, ya?
Secara umum di masyarakat, hubungan
asmara antara orang dewasa pekerja dan anak di bawah umur itu memang dianggap
kejahatan... atau setidaknya, angin penolakannya sangat kencang, itu fakta.
Walaupun secara tepatnya usia delapan
belas tahun itu sudah dewasa, tapi secara perlakuan sosial rasanya tidak banyak
berubah.
Lagipula aku dan Yuu-nii belum punya
hubungan yang seperti itu, tapi seperti yang baru saja dikatakan Asaka, kalau
sampai orang sekitar salah paham, posisi sosial Yuu-nii bisa terancam.
Aku menyukai Yuu-nii... tapi, aku tidak
mau kalau Yuu-nii sampai diperlakukan seperti penjahat.
Di berita-berita TV juga sering ada
tayangan soal kasus tindak asusila pada anak di bawah umur.
Sip, aku harus sebisa mungkin menahan
diri dari tindakan yang bisa memicu kesalahpahaman seperti itu!
Aku memantapkan tekadku di dalam
hati.
Tak terasa, aku sudah sampai di
Moon Night Terrace.
"Ooh, Miyo."
Yuu-nii tampak sedang sibuk.
"Wah, ramai banget ya."
Semua kursi, termasuk kursi di
teras depan, tampak terisi penuh.
"Maaf ya, di bawah lagi enggak
ada tempat kosong. Kalau di lantai atas tidak apa-apa?"
"Boleh kok. Aku pesan cream
soda, ya!"
"Sip."
Aku naik ke lantai dua dan masuk ke
kamar Yuu-nii. Mengusap keringat dengan handuk, lalu merawat kulit
dengan tisu deodoran.
"Fuuu, segar!"
Nyalakan kipas angin, lalu
merebahkan diri di atas kasur Yuu-nii sambil membaca majalah buletin.
"Hmm hmm... Oh, sepertinya
orang ini pelakunya!"
Mungkin karena posisi berbaring,
atau karena lelah berjalan di tengah cuaca yang sangat panas, rasa kantuk yang
sangat berat mendadak menyerang.
"Uuugh..."
Aroma khas Yuu-nii tercium dari
kasurnya.
Aroma yang sudah kukenal sejak dulu.
Aroma yang menenangkan dan menyenangkan.
Pikiranku perlahan melayang, dan
aku pun bertualang ke alam mimpi.
◇
"Maaf ya lama. Ini cream soda-nya... Miyo?"
Saat masuk ke kamar, Miyo sedang
tertidur di atas kasurku.
Berbaring telentang, dia
menghembuskan napas napas tidur yang terdengar sangat nyaman.
Dadanya yang busung naik turun
secara perlahan.
"Woi, Miyo."
Aku meletakkan cream soda
dan sendok di atas meja, lalu menghampiri tepi kasur.
"Bangun gih."
Padahal aku sudah terbiasa melihat
Miyo mengenakan seragam sekolah, tapi entah kenapa kali ini ada kesan seksi
yang aneh.
Poni rambut yang menempel karena
keringat. Pipi yang sedikit memerah karena panas.
Bintik-bintik kaki mulus putih yang
mengintip dari balik rok yang berantakan terkena hembusan kipas angin.
Serta kemeja seragamnya yang menonjol
tinggi, menunjukkan samar-samar bayangan pakaian dalam berwarna biru muda...
Aku seketika memalingkan pandangan.
A-Apa-apaan anak ini! Bisa-bisanya
tidur dengan posisi tanpa pertahanan begini di kamar seorang pria!
Karena aliran darah di seluruh tubuhku
hampir terkonsentrasi ke bagian bawah, aku membayangkan pemandangan kompetisi
binaraga untuk menetralkan gejolak tersebut.
Mendadak perkataan Yuuhi kemarin
melintas di kepalaku.
'Paman-paman yang mengincar anak SMA
itu namanya kejahatan, lho!'
Benar juga, aku tidak boleh punya
perasaan tidak murni pada adik-adikanku sendiri. Bukan sekadar karena perbedaan
orang dewasa dan anak SMA saja.
Meski itu juga berpengaruh, yang
terpenting, merasakan gairah pada anak yang sudah kukenal sejak kecil itu
adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan mereka.
Lagipula, mereka cuma memandangku
sebagai paman tetangga yang dulu sering mengajak mereka bermain.
"Miyo, bangun."
Aku menempelkan handuk dingin ke wajah
Miyo.
"Hyaah!"
Akhirnya bangun juga.
"Ini cream soda-mu."
"A-Ah, terima kasih."
Sambil menggeliat malas, Miyo
merenggangkan tubuhnya.
"Datang-datang langsung
tidur?"
"Mendadak ngantuk banget.
Selamat makan~ Mmm, enak banget!"
Miyo mulai menikmati cream soda-nya.
Enak saja dia bersantai tanpa tahu
perasaanku.
"Ya sudah, aku balik ke bawah
ya."
"Iya. Ah, benar juga!"
"Apa?"
"Hari ini ayo kita makan malam
bareng-bareng!"
"Ooh, boleh saja."
"Aku sudah beri tahu Mahiru, jadi
tinggal hubungi Asaka."
Miyo mengeluarkan ponselnya.
"Restorannya pilih sembarangan
saja. Aku mau balik kerja dulu."
"Sip."
Meninggalkan Miyo sendirian, aku keluar
dari kamar.
Makan malam bareng tiga anak SMA,
ya?
Kalau dipikir-pikir, ini juga bukan
hal yang wajar di mata masyarakat umum.
Pasti cuma masalah waktu sampai mereka
punya pacar dan lepas dari lindunganku.
Miyo, Mahiru, maupun Asaka adalah
gadis-gadis yang sangat cantik sampai-sampai terasa aneh kalau mereka tidak
punya pacar. Kira-kira berapa lama lagi waktu yang tersisa sampai saat itu
tiba?
Saat memikirkan hal itu, dada bagian
dalamku terasa sedikit nyeri.
...Perasaan apa ini?
"Yuu."
Saat turun ke lantai bawah, Ibu
memanggilku.
"Aah, ada apa?"
"Bisa bicara sebentar?"
Senyumnya terlihat berlebihan.
Berdasarkan pengalaman, aku tahu persis kalau dalam situasi seperti ini
biasanya tidak akan berakhir baik.
"Ibu ada sedikit permintaan—"
2
Keesokan harinya sebelum pukul delapan
pagi, aku sudah berada di terminal bus Stasiun Fujinomiya.
"Maaf ya, Arizuki-kun. Mendadak
begini."
Hikari berbicara dengan raut wajah
serba salah.
"Ah, tidak apa-apa, santai
saja."
"Nee, Mama, aku haus."
"Mau minum teh saja? Misora sama
Mei mau—"
Dan tiga anak perempuan.
"Ah, busnya datang!"
Ruki menunjuk ke arah datangnya bus.
Itu adalah bus shuttle menuju Pos 5
Gunung Fuji. Kami pun segera naik. Tentu saja, tujuan kami adalah
Gunung Fuji.
Di perjalanan, bus berhenti beberapa
kali, dan setiap kali berhenti, penumpang lain yang bertujuan sama dengan kami
ikut naik.
Setelah melewati area perkotaan, bus
menyusuri jalanan mendaki gunung. Pemandangan di luar jendela perlahan-lahan
didominasi warna hijau rimbun.
"Uwaa, besar banget!"
Gunung Fuji membentang megah di depan
mata, membuat Misora berseru kagum.
"Mei, bangun! Gunung Fujinya
besar banget, lho!"
Ruki mengguncang tubuh Mei yang
matanya masih merem melek.
"Kan tiap hari juga
kelihatan..."
"Lihat dulu sekarang! Lebih besar
dari biasanya, tahu!"
"Ruki, ada penumpang lain, jadi
tenanglah sedikit."
Hari ini, kami akan mendaki gunung
nomor satu di Jepang itu.
Katanya, rencana pendakian Gunung
Fuji kali ini diprakarsai oleh anak-anak sendiri.
Misora, Ruki, dan Mei menyampaikan
keinginan mereka untuk mendaki Gunung Fuji kepada orang tua masing-masing,
namun sayangnya keluarga Haruyama tidak bisa menyesuaikan jadwal libur mereka.
Lalu untuk alasan yang kurang
jelas, keluarga Kawarasaki berada dalam situasi orang tua yang tidak ada di
rumah, sehingga kakek-nenek yang sudah lanjut usia yang merawat Mei.
Karena ini masalah sensitif, aku
tidak bertanya lebih detail. Pokoknya, mendaki gunung di tengah musim panas
yang terik rasanya terlalu berat untuk orang tua lanjut usia.
Namun, kalau Hikari harus mengawasi
tiga anak sendirian, situasinya juga cukup sulit mengingat medan yang akan
dihadapi.
Ibu yang mendengar hal itu—jaringan
komunikasi ibu-ibu rumah tangga memang luar biasa—langsung menawarkan
"Kalau begitu pakai Yuu saja" kepada Hikari tanpa persetujuanku
terlebih dahulu, seperti pola yang sudah-sudah.
Yah, bagiku sendiri rasanya tidak
tega menolak bantuan untuk teman, lagipula bisa libur kerja secara legal sambil
jalan-jalan itu seperti menyelam sambil minum air.
Masalahnya cuma satu, apakah fisiku
bakal kuat mendaki di tengah musim panas begini?
Sepertinya kali ini kami akan mendaki
sampai ke puncak.
Meski hampir setiap pagi aku bermain
basket bersama Misora dan yang lainnya untuk berolahraga, stamina paman-paman
usia around thirty pasti tidak ada separuh dari masa jayanya dulu.
Bisa-bisa setelah turun gunung nanti,
fisiku bakal lumpuh gara-gara nyeri otot.
Lagipula, mendadak ingin mendaki Gunung
Fuji begini, angin dari mana yang berembus?
Tempo hari Ruki dan yang lainnya sempat
berkunjung ke Pusat Warisan Dunia Gunung Fuji, apa jangan-jangan gara-gara
itu...?
◇
Rute pendakian menuju Gunung Fuji
secara garis besar dibagi menjadi empat.
Rute Yoshida dari arah Fujiyoshida,
Prefektur Yamanashi.
Rute Subashiri dari arah Subashiri
(sekarang Kota Oyama), sebelah timur laut Prefektur Shizuoka.
Rute Gotemba yang juga berasal dari
arah Kota Gotemba, Prefektur Shizuoka.
Dan rute kami, Rute Fujinomiya yang
masuk dari Kota Fujinomiya.
Untuk Rute Fujinomiya, karena Jalur
Skyline Gunung Fuji menerapkan pembatasan kendaraan pribadi selama periode
pendakian, kami harus menggunakan bus shuttle atau taksi untuk bergerak.
"Ah, Arizuki-kun, mau
permen?"
"Terima kasih."
Aku menerima permen rasa kola dari
Hikari. Permen itu bergulir di dalam mulut. Rasanya sederhana
dan membangkitkan kenangan lama.
"Shimomura dulu pernah mendaki
sampai puncak, kan?"
"Iya, waktu SMA dulu."
"Masa SMA, ya."
"Waktu itu Arizuki-kun kelihatan
capek banget setiap hari, ya."
"Bukan cuma capek biasa. Tiap hari
harus melayani bocah-bocah nakal—"
Bus yang berangkat dari Stasiun
Fujinomiya beristirahat sejenak di tempat parkir Taman Mizugatsuka untuk buang
air, lalu tak lama kemudian tiba di tujuan akhir, tempat parkir Pos Baru Ke-5.
"Mei, bangun!"
"Uhe?"
"Ooh, bikin kangen ya."
Kenangan masa kecilku mendadak bangkit
kembali.
Benar juga, dulu tempat ini juga
dipenuhi lautan manusia seperti ini, dan karena lebih dekat ke matahari, terik
sinarnya terasa sangat menyengat. Aku terhanyut dalam kenangan saat masih
menjadi anggota pramuka.
"Lihat Arizuki-kun, tinggi
banget!"
Hikari berbicara sambil menatap
pemandangan kota yang terhampar luas di bawah sana.
Mengenakan topi pelindung lebar
berwarna putih, windbreaker merah, dan celana ramping yang tampak nyaman
untuk bergerak.
Di punggungnya tergendong ransel
besar, dan selembar handuk terlilit di lehernya.
"Iya, tinggi banget
ya..."
Di titik ini saja ketinggiannya
sudah mencapai sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut.
Teluk Suruga dan Semenanjung Izu di
seberangnya tampak terlihat samar-samar.
"Ke sana, ke sana!"
Misora melompat-lompat gembira.
Di lereng gunung sudah terbentuk
deretan antrean manusia yang menyambung hingga ke atas.
Saat menengadah ke arah puncak,
pepohonan tumbuh jarang-jarang, terlihat persis seperti bebatuan berlumut.
"Yuu-san, barang yang itu sudah
dibawa, kan~?"
"Sudah kubawa kok."
"Sip!"
Misora menyunggingkan senyum lebar
di sudut bibirnya.
"Kalau begitu, ayo jalan."
Jalur Fujinomiya punya titik awal
ketinggian yang lebih tinggi dibanding rute lainnya, sehingga jarak menuju
puncak lebih pendek.
Namun, kemiringannya cukup terjal
dan banyak area bebatuan kasar.
Apa anak-anak ini bakal sanggup
mendakinya sampai tuntas?
Kami menaiki jalan menanjak yang
dibatasi tali.
Tanjakannya tergolong santai, namun
tanahnya berupa bebatuan keras yang terekspos.
Setelah berjalan santai cukup lama,
kami akhirnya tiba di Pos Ke-6, Pondok Unkaiso.
Di sini kami membeli tongkat kongo-zue,
barang wajib untuk pendakian Gunung Fuji.
"Ooh, keren banget!"
Ruki membunyikan lonceng kecil yang
menggantung di ujung tongkatnya.
"Kayak biksu yang lagi
bertapa," puji Misora.
"Di rumahku juga ada yang begini,
lho~"
"Kalau begitu, kakeknya Mei-chan
mungkin dulu juga pernah mendaki Gunung Fuji, ya."
"Ayo kita lanjut."
Mulai dari titik ini tanjakannya makin
terjal, ditambah lagi pijakan kaki makin licin karena kerikil berpasir.
Dengan Hikari di paling depan dan aku
di paling belakang, kami membentuk formasi menjepit anak-anak di tengah, lalu
mulai mendaki.
"Haa, haa..."
"Mei-chan, kamu tidak
apa-apa?"
"Iya..."
"Coba istirahat sebentar. Ooi,
Shimomura!"
"Iya~"
Di tengah jalan, kami menyempatkan
istirahat secara berkala demi menghindari risiko penyakit ketinggian (altitude
sickness).
"Puhaa, segarnya!"
Setelah menghabiskan minuman
olahraganya, Mei menghela napas lega.
"Lelah?"
Saat kutanya, Mei memiringkan kepalanya
sedikit, lalu bersuara.
"Mungkin masih tidak
apa-apa..."
"Hahaha, semangat ya!"
"Iya!"
Makin sering berinteraksi dengan ketiga
anak ini, aku makin memahami sifat mereka masing-masing.
Misora dan Ruki tergolong aktif,
sedangkan Mei agak polos atau linglung, rasanya seperti dia cuma terseret oleh
keaktifan dua temannya.
Mungkin disesuaikan dengan tema
pendakian Gunung Fuji, bando yang menjadi ciri khasnya berwarna motif
kamuflase.
"Nee Mama, hari ini kita menginap,
kan?"
Ruki bertanya.
"Iya, Mama sudah pesan pondok
gunung kok."
Pendakian kilat tanpa menginap dalam
sehari (bullet climbing) sangat berbahaya karena mudah memicu penyakit
ketinggian, terutama untuk gunung tinggi seperti Gunung Fuji.
Kali ini Hikari sudah memesankan pondok
gunung di Pos Ke-8.
"Fufufu, lalu sambil menyambut
terbitnya matahari..."
Misora menyunggingkan senyum misterius.
"Mama, minta karamelnya lagi
dong."
"Iya, iya."
"Oke, ayo kita jalan lagi!"
Kami pun bangkit berdiri.
◇
"Ayo kita istirahat lagi di
sekitar sini."
Aku sendiri sudah lumayan lelah.
Cara paling efektif untuk mencegah
penyakit ketinggian adalah mendaki dengan tempo yang santai.
Duduk di tempat yang agak terbuka, saat
kupandang ke bawah, lautan awan membentang di sebelah timur.
"Ooh, lebih tinggi dari
awan~!"
Ruki berseru polos.
"Semuanya, minum air ya, ada
camilan juga nih."
"Baiiik~"
"Baiiik~"
"Baiiik~"
Mengisi ulang kalori dan cairan tubuh. Anak-anak mulai mengambil foto dengan ponsel mereka di depan pagar
pembatas.
"Fujinomiya sebelah mana
ya~?"
"Bukan di situ. Yang
di sana itu Tagonoura, jadi—"
Pada saat itu, sepasang suami istri
lansia melintas di depan kami, lalu menyapa.
"Senang ya bisa mendaki Gunung
Fuji bersama keluarga begini."
"Eh, bukan kok..."
Belum sempat meluruskan kesalahpahaman,
pasangan lansia itu sudah melangkah naik ke atas dengan gesit.
"...Entah kenapa, dulu juga pernah
ada kejadian seperti ini ya."
Hikari memindahkan pandangannya
dengan canggung.
"A-Ah... Iya... benar
juga."
Memang sih, kombinasi pria dan
wanita usia around thirty bersama anak-anak SD kelas bawah pasti bakal
dilihat seperti itu oleh orang lain.
"Lagi ngobrolin apa~?"
Ruki berjalan mendekat ke arah kami.
"Tidak ada apa-apa kok. Cuma
dipuji kalau anak Mama cantik dan lincah."
"Heheen~"
Ruki bertolak pinggang sambil
membusungkan dadanya dengan bangga.
"Misora-chan, Mei-chan, sebentar
lagi kita jalan ya~"
"Baiiik~"
"Baiiik~"
Setelah itu kami mendaki lebih jauh
lagi, dan sekitar lima jam telah berlalu sejak kami berangkat dari Pos Ke-5.
Sesuai dugaan, rasa lelah tidak bisa
disembunyikan lagi dari wajah semuanya. Terutama Mei, kelelahannya terlihat
sangat menonjol.
Pemandangan hijau sudah hampir tidak
ada lagi, digantikan dinding batu berwarna merah kecokelatan yang menandakan
betapa ganasnya medan di dekat puncak.
Jarak antara aku dan ketiga anak
yang berjalan di depan melebar hingga beberapa meter.
"Mei-chan, kamu tidak
apa-apa?"
"Iya..."
"Sini."
Aku berjongkok di hadapannya.
"?"
"Tinggal sedikit lagi kok, ayo
kugendong."
Sebentar lagi kami sampai di pondok
gunung.
"...Boleh?"
"Iya."
"Ahuu, terima kasih banyak."
Aku menggeser ranselku ke depan,
lalu menggendong Mei di punggungku.
"Oke, ayo jalan."
Bagaimanapun dia cuma anak kecil.
Apalagi anak perempuan.
Ringan sekali.
"―Kayak Pa..."
"Eh? Kamu bilang apa?"
"Enggak ada apa-apa kok~"
Dengan begitu, kami akhirnya tiba di
tujuan kami hari ini, pondok gunung di Pos Ke-8.
Hari ini kami memutuskan untuk
istirahat.
Tidur lebih awal, lalu bangun di tengah
malam. Setelah itu kami akan menuju puncak agar sempat menyaksikan matahari
terbit.
Setelah makan di ruang makan pondok
gunung, kami diantar ke kamar yang sudah dipesan.
Kamar itu terasa sangat sederhana untuk
disebut sebagai kamar. Luasnya bahkan tidak sampai empat tatami setengah.
Lantai tataminya agak kusam dengan
langit-langit berbalok kayu terekspos. Dindingnya hanya berupa papan kayu
tipis, hingga suara dari kamar sebelah terdengar jelas.
Namun bagi kami yang sudah kelelahan
akibat pendakian sejauh ini, bisa berbaring saja sudah terasa bagaikan surga.
"Aduuh, capeknya!"
"Udah lemas banget..."
Misora dan Ruki langsung berbaring
di atas lantai tatami.
"Mama~ minta baju ganti sama
tisunya dong!"
"Iya, iya."
Hikari mengeluarkan tisu deodoran dari
dalam tasnya. Di pondok gunung ini memang tidak ada fasilitas pancuran atau
kamar mandi.
"Arizuki-kun, ini juga buat
kamu."
"Ah, terima kasih... Eh,
maaf-maaf!"
Aku segera keluar dari kamar. Kalau ada
aku yang laki-laki di dalam, Hikari dan anak-anak tidak bisa berganti pakaian.
Aku memutuskan untuk menunggu di
lorong. Tiba-tiba dari arah ruang makan datang seorang wanita paruh baya
pegawai pondok, lalu bersuara.
"Ah, Pak Suami. Ini punya Istrinya
ketinggalan."
Sambil berkata begitu, dia
menyerahkan topi pelindung lebar milik Hikari. Sepertinya
Hikari lupa membawanya saat dilepas waktu makan tadi.
"Terima kasih. Tapi anu—"
Tadinya aku mau meluruskan kalau kami
bukan suami istri, tapi mungkin karena pekerjaannya sedang sibuk, wanita itu
langsung melangkah lebar dan menghilang di ujung lorong.
"Arizuki-kun, sudah boleh
masuk!"
"Ooh. Ah, Shimomura, ini tadi
ketinggalan di ruang makan. Diantarkan sama petugasnya."
"Terima kasih! Pantesan tadi
kucari-cari tidak ada."
Setelah menyerahkan topi pada Hikari,
kali ini giliran aku sendiri yang masuk kamar untuk berganti pakaian dengan
cepat.
Aroma manis dari deodoran dan tisu
pembersih memenuhi seluruh ruangan. Entah kenapa ini mengingatkanku pada
masa-masa SMA dulu.
"Ayo kita tidur."
Sambil merapikan barang-barang ke
sudut ruangan, Hikari bersuara.
"Iya, benar."
"Masa sudah tidur sih~"
protes Ruki.
"Luar kan masih terang~"
ucap Mei sambil mengintip ke luar jendela.
Misora yang sudah berbaring duluan
menimpali.
"Tidak apa-apa. Hari ini kita
harus cepat tidur buat persiapan esok hari."
"Tapi kan matahari masih ada, apa
bisa tidur ya?"
Ruki melepas kuncir ponytail-nya
lalu berbaring di samping Hikari. Mei juga melepas bandonya dan berbaring di
sampingku.
Aku dan Hikari menjepit anak-anak di
tengah, berbaring sejajar membentuk angka tiga di ruangan sempit itu. Urutannya
adalah Hikari, Ruki, Misora, Mei, lalu aku.
Waktu baru menunjukkan belum ada jam
six sore, namun berkat rasa lelah yang menumpuk, anak-anak bisa tertidur dengan
sangat lelap.
"Arizuki-kun, kamu belum
tidur?"
"Iya."
"Hari ini terima kasih banyak ya.
Kalau cuma aku sendiri, mungkin aku tidak akan sanggup mengawasi mereka
bertiga."
Hikari mengusap-usap perut Ruki. Ketiga
anak itu sudah tertidur lelap sambil menghembuskan napas tidur yang teratur.
"Santai saja. Aku sudah terbiasa
kok."
"Dasar penyuka anak-anak."
"...Jangan pakai frasa yang memicu
kesalahpahaman gitu dong."
"Ahahaha. Tapi serius deh, pas
coba merawat anak sendiri, ternyata satu anak saja sudah repot banget.
Anak-anak itu kan suka melakukan hal di luar jangkauan pemikiran kita secara
mendadak, terus tahu-tahu sudah menghilang entah ke mana... Dulu waktu Arizuki-kun
merawat tiga anak sekaligus, sekarang aku baru sadar betapa hebatnya kamu waktu
itu."
" dibilang merawat juga, aku
kan tidak membesarkan mereka. Cuma jadi teman main sebentar dalam sehari. Tidak
ada apa-apanya dibanding orang tua yang mengasuh dan membesarkan anak dari pagi
sampai malam."
"Tapi tetap saja itu hebat
banget. Orang biasa tidak akan sanggup melayani anak-anak yang tidak ada
hubungan darah setiap hari begitu. Kalau cuma sesekali diajak main sih mungkin
masih bisa."
"...Sekali lagi kutegaskan ya,
aku ini bukan lolicon."
"Aku sudah paham, kok."
Hikari tersenyum lebar, lalu
bersuara.
"Oh iya, omong-omong soal
lolicon, dulu waktu Arizuki-kun membawa Megumi pulang..."
Cerita masa lalu pun mengalir hangat di
antara kami berdua.
◇
Seseorang mengguncang-guncang tubuhku.
"―san."
"Mmm?"
"Yuu-san."
Saat kubuka mata, cahaya bulan
menerobos masuk ke dalam ruangan yang remang-remang, memperlihatkan wajah Mei
di hadapanku.
"Ada apa, Mei-chan?"
Dengan suara yang sedikit agak tinggi,
Mei bersuara.
"Anu, mau ke toilet."
"Toilet?"
Dia menggigit bibir bawahnya sambil
memutar-mutar tubuhnya canggung.
"Aku mau ke toilet."
Paham, sepertinya dia takut kalau harus
pergi sendirian.
Ini tempat yang baru pertama kali
dikunjunginya, ditambah lagi ini pondok gunung di malam hari yang dipenuhi
orang tidak dikenal.
Saat kuperiksa jam, waktu menunjukkan
pukul sembilan lewat lima belas menit malam.
"Oke, sebentar."
Aku bangkit berdiri, lalu membawa Mei
keluar dari kamar.
Lorong itu hanya digantungkan bohlam
lampu tua.
Cahayanya yang temaram terlalu redup
untuk menerangi seluruh koridor, justru karena terang setengah-setengah itulah
yang membuatnya berkesan seram.
Para tamu lain sepertinya sudah pada
tidur, sehingga suasana terasa sangat sunyi.
"Takut..."
Mei merapatkan tangannya, berpegangan
erat pada tanganku.
Wajar saja kalau dia tidak mau pergi
sendirian.
Koridor ini benar-benar mirip lorong
rumah hantu.
"Seram, ya."
"Uuugh..."
Aku mengantar Mei sampai ke depan
toilet.
"Tolong tunggu di sini ya."
"Iya, aku di sini kok."
Setelah menunggu beberapa menit...
"Maaf ya sudah menunggu."
"Sip."
Mei kembali menggandeng tanganku.
Kami kembali ke kamar, dan Mei
berbaring di tempatnya semula.
Saat aku kembali berbaring, Mei
merapatkan tubuhnya ke arahku.
Dia menempelkan kepalanya,
menyembunyikan wajahnya di dadaku.
"Ngh..."
"Waktunya masih lama, tidur yang
lelap ya."
"Baik."
Saat mengusap punggung kecilnya,
mendadak aku merasa dejavu.
Rasanya dulu pernah ada kejadian yang
mirip seperti ini.
Saat kucoba mengingat-ingat sejenak,
aku teringat dulu waktu malam badai topan, aku juga pernah tidur seperti ini
bersama Asaka.
3
Kringgg!
Kringgg!
Suara alaram berdering nyaring.
"Arizuki-kun, sudah
waktunya."
"Ngh, hoam. Iya, bangun nih."
Di bawah sinar lampu listrik, Hikari
membangunkan anak-anak.
Saat kulirik jam, waktu menunjukkan
pukul satu malam pas.
Sambil mengucek mata yang masih
mengantuk, aku merapikan barang-barangku.
"Wah, Misora-chan bisa bangun
dengan benar, ya."
"Ya jelaslah! Aku kan beda sama
Kakak. Terus, barang yang itu jangan sampai lupa, ya!"
"Tenang saja."
"Minta waktu lima menit lagi buat
tidur..."
"Gak boleh, Ruki! Mei juga cepat
bangun!"
"Uwaaa..."
Misora membangunkan kedua temannya.
Setelah semuanya terbangun, kami
berjalan menuju ruang makan.
Tempat itu sudah ramai oleh pendaki
lain yang juga berniat berangkat di tengah malam seperti kami.
Setelah menyantap makanan sederhana,
akhirnya kami berangkat.
"Wah, hebat banget!"
Begitu keluar ke luar ruangan, Ruki
langsung berseru kagum.
Tanpa ada satu pun penghalang,
langit malam bertabur bintang terhampar luas di atas sana.
"Wah, itu Bima Sakti!"
"Yang mana?"
"Yang mana?"
"Yang mana~?"
Aku menunjuk ke arah langit sebelah
timur yang tinggi.
"Tuh, yang kumpulannya banyak
cahaya bintang itu namanya Bima Sakti."
"Bima Sakti itu, yang ada di
Tanabata?"
Mei menengadah menatapku.
"Iya, benar. Di kedua ujung Bima Sakti ada dua bintang yang bersinar terang, kan?
Itu Hikoboshi dan Orihime. Nah, kalau digabung sama bintang bersinar terang
yang ada di tengah Bima Sakti, itu dinamakan Segitiga Musim Panas."
"Hoo..."
"Eh, yang mana sih?"
"Yang itu, Ruki. Indah banget
ya..."
Hikari bersuara dengan nada
terbuai.
Saat mengalihkan pandangan ke bawah,
kali ini kami bisa menikmati pemandangan daratan yang berkilauan oleh
pemandangan malam.
Di langit dan di bumi, butiran-butiran
cahaya memenuhi seluruh sudut pandang.
Semuanya terpesona oleh pemandangan
yang terhampar di depan mata...
"―Tujuan kita kan bukan cuma lihat
ini!"
Misora bersuara seolah baru tersadar.
"Kalau enggak cepat-cepat mendaki,
nanti enggak keburu lihat matahari terbit!"
"Iya, iya."
Dengan begitu, kami mulai melangkah
menuju puncak.
Jalanan gunung yang gelap dan sulit
dipijaki kami daki dengan perlahan dan memakan waktu.
Jalanannya berkerikil dan terasa
seperti ditaburi pasir sehingga agak licin untuk dipijaki.
Ditambah lagi dengan kegelapan, membuat
Mei sempat beberapa kali hampir tersandung.
"Auu..."
"Ups, awas."
"Terima kasih banyak."
"Jangan terburu-buru, jalan
pelan-pelan saja."
Bisa gawat kalau sampai ada yang
cedera.
Saat menoleh ke belakang, jajaran
cahaya dari lampu kepala (headlamp) berderet menyambung seperti rantai.
Kami menyusuri jalan menanjak yang
berbelok-belok dengan perlahan namun pasti.
Rasa lelah menumpuk di kaki, membuatnya
terasa berat seperti dipasangi pemberat.
"Haa, haa, rasanya makin berat
nih..."
Suara Misora terdengar mulai dihinggapi
rasa lelah.
"Ayo, semuanya semangat! Paman usia around thirty saja masih berjuang, lho!"
"Sebentar, sebentar, kalau Arizuki-kun
dipanggil paman, nanti aku juga jadi dipanggil bibi, dong!"
"Hahaha, maaf, maaf."
Sambil mengalihkan rasa lelah dengan
mengobrol, kami terus menggerakkan kaki. Entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Area sekitar masih tetap diselimuti kegelapan.
"Haa, haa..."
"Hii, hii..."
Tak lama kemudian, kami keluar di
sebuah area yang datar.
"Lho? Jangan-jangan..."
Hikari menahan langkahnya, lalu menoleh
ke arah kami.
Di depan mata kami berdiri megah sebuah
gerbang Torii yang anggun, disampingnya berdiri bangunan kuil batu.
"Horeee!" seru Ruki
sambil melompat memeluk pinggang Hikari.
"Sudah sampai di garis
akhir!"
"Capek banget..."
Misora dan Mei saling berpelukan
untuk mengekspresikan rasa gembira mereka.
"Wah, bikin kangen ya~"
Hikari merapatkan kedua telapak
tangannya sambil bersuara.
Tiang kayu bertuliskan "Kuil
Sengen Taisha Okumiya Puncak Gunung" berdiri tegak di samping pilar.
Akhirnya sampai juga, ya.
Pukul 04.12 pagi.
Kami tiba di puncak Gunung Fuji.
Namun tidak ada waktu untuk terhanyut
dalam rasa haru atau beristirahat.
Karena secara tepatnya, di sini
bukanlah garis akhir yang sebenarnya.
Mulai dari sinilah tujuan utama
pendakian kali ini, titik perjuangan terakhir yang sesungguhnya.
"Nee, kita harus jalan ke mana
lagi?"
"Etto, ke arah sana."
Kami mulai melangkah kembali.
Menyusuri lereng terjal yang disebut
"Punggung Kuda" dengan penuh kehati-hatian.
Setelah melewati area tersebut, muncul
tangga bebatuan yang berserakan.
Melewati bangunan berkesan kokoh di
sampingnya—yang belakangan kuthui adalah stasiun pengamatan—sebuah tugu batu
bertuliskan "Puncak Tertinggi Jepang Gunung Fuji Kengamine 3.776
Meter" menyambut kedatangan kami.
"In-Ini garis akahirnya? Titik
paling tinggi?"
Misora bertanya.
"Iya, benar."
"Artinya kita beneran sudah
sampai?"
"Iya."
"Horeeee!"
Dengan begitu, kami akhirnya berhasil
menapakkan kaki di titik tertinggi di Jepang.
"Yuu-san, barang yang
itu!"
"Sip!"
Aku mengeluarkan perlengkapan kopi
dari dalam tas.
Tujuan utama pendakian kali ini
adalah meminum kopi sambil menikmati matahari terbit di titik tertinggi di
Jepang.
Gagasan ini diprakarsai oleh Misora.
Anak kecil begini bisa-bisanya
terpikirkan hal yang cukup bergaya.
Yah, paling-paling dia terpengaruh oleh
acara khusus di TV atau sejenisnya.
"Arizuki-kun, airnya sudah
mendidih!"
"Sip."
Di ketinggian seperti Gunung Fuji,
titik didih air menjadi jauh lebih rendah dibanding di daratan rendah karena
pengaruh tekanan udara.
Tapi menurut cerita Ayahku, hal itu
tidak terlalu mempengaruhi rasanya.
Yah, kalau makan dan minum di situasi
seperti ini sih, makanan atau minuman apa pun pasti bakal terasa nikmat.
"Siapa yang mau pakai gula sama
krimer?"
"Saya!"
"Saya!"
"Saya!"
"...Saya juga."
"Shimomura juga mau?"
"Ehe."
Setelah menyeduh kopi sesuai jumlah
orang, kami menunggu datangnya goraiko (matahari terbit dari puncak
gunung).
Area sekitar sudah mulai terang
benderang, dan langit sebelah timur berubah warna menjadi rona fajar.
Dan pada pukul 04.47 pagi...
"Ah, muncul!"
Misora bersuara.
Cahaya memancar di garis cakrawala.
Lereng gunung di sekeliling kami berubah warna menjadi kemerahan, dan matahari
yang menandakan datangnya pagi mulai menampakkan wujudnya.
"Ooh..."
Cahaya anggun yang menyelimuti kami
seketika menyucikan seluruh rasa lelah yang menumpuk dari tadi.
"Indah banget ya, Ruki."
"Iya."
Mei yang duduk di atas pangkuanku
juga ikut terpesona melihat keindahannya.
"...Luar biasa."
"Kuuu, mantap banget!"
Sambil meminum caffe latte
penuh krimer, Misora menatap ke arah matahari terbit.
Tak lama kemudian, warna merah
membara itu perlahan-lahan memudar, berubah menjadi cahaya hangat dan lembut
yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam.
◇
Sore hari di hari yang sama.
"Minum kopi sambil melihat
matahari terbit dari tempat tertinggi di Jepang tuh rasanya enak banget, lho!
Perubahan warna langit dari hitam jadi biru muda, putih, terus jadi oranye sama
merah itu cuma bisa dinikmati dari puncak Gunung Fuji, tahu!"
Misora melirik sebentar ke arahku,
lalu bersuara.
"Yah, hal kayak gini sih
enggak akan paham kalau belum pernah ngerasain sendiri."
"Guh..."
Nakal banget ini adik!
Baru saja pulang langsung pamer
begitu. Apa dia berniat membalas dendam soal kejadian kemping
kemarin?
"Cih, kalau cuma matahari terbit
sih dari sini juga kelihatan jelas."
"Ah, beda dong! Mau dilihat dari
tengah kota kayak gimana pun, itu kan matahari yang sudah naik ke atas garis
cakrawala. Jadi bukan matahari terbit yang sebenarnya! Yah, kalau Kakak sih
mending duduk manis di atas tanah sambil ngelihatin matahari terbit palsu yang
bisa dilihat kapan saja, sekalian berburu serangga sana!"
"Gununu..."
"Kalau masih puas sama kopi di
daratan rendah sih, masih amatir banget ya~"
Bocah nakal ini...
"Tunggu, Miyo, mau ke mana? Sudah
waktunya makan malam!" Suara Ibu terdengar dari belakangku.
"Cuma sebentar kok!"
Aku bergegas menuju Moon Night
Terrace.
"Yuu-nii!! Aku juga mau pergi
ke Gunung Fuji... lho? Lagi ngapain kamu, Mahiru?"
Saat masuk ke kamar Yuu-nii, Mahiru ada
di sana.
"Mmm? Kata Yuu-nii badannya
pegal-pegal parah, makanya aku pijitin."
Yuu-nii berbaring tengkurap di atas
kasur, sementara Mahiru sedang memijat betisnya.
"Yuu-nii, enggak apa-apa? Sakit
enggak?"
"Aah, enggak apa-apa kok. Enak
banget rasanya."
"Hehe."
Bermesraan di dalam kamar tertutup
begini sebenarnya bermasalah, tapi sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu.
"Miyo, kalau aku sih sudah lulus
dari Gunung Fuji."
"Aku juga mau minum kopi sambil
lihat matahari terbit dari puncak! Ayo pergi sekali lagi~!"
Aku mengguncang-guncang tubuh Yuu-nii.
"Enggak bakal sanggup, dengan
fisikmu itu jelas enggak mungkin. Fisikku saja sampai hancur begini,
lho."
"Kalau Miyo sih paling belum
sampai Pos 1 saja sudah kibarkan bendera putih," tawa Mahiru.
"Muuu~"
Pada akhirnya, selama beberapa hari
berikutnya, aku terus-terusan jadi sasaran pamer oleh Misora.





Post a Comment