Epilog
1
Cuaca
yang bagus.
Hari
ini pun Gunung Fuji terlihat dengan jelas.
Mengukir
cahaya matahari pagi yang menyusup dari langit timur dalam ingatanku, aku mulai
membersihkan area teras.
Melihat
gunung Fuji yang besar dan menjulang di utara itu selalu berhasil membuat
hatiku merasa tenang.
Meskipun
aku hanya tinggal di Shounan selama dua hari saja, aku merasa seolah-olah sudah
berada di sana hampir dua minggu lamanya.
Itu
adalah dua hari yang begitu padat.
Dimulai
dari pertemuan kembali yang dramatis (?) dengan Asaka, interaksi kami yang
serasa kembali menjadi anak-anak, dan kemudian perpisahan.
Hanya
dengan mengingatnya saja tubuhku sudah terasa panas.
Hal
lain yang ikut terlintas kembali di benakku adalah kelembutan serta sentuhan
kulitnya yang mulus. Serta aroma menawanku yang terus melekat...
Bodoh!
Asaka
mempercayaiku, jadi tahu dirilah karena memikirkan hal seperti itu.
Terlebih
lagi, merasa memiliki hasrat terhadap adik perempuan sendiri adalah hal yang
keterlaluan.
Yah,
terlepas dari itu, baguslah kalau Asaka sudah menemukan pegangan hidupnya, tapi
apakah aku sanggup mengemban peran itu dengan baik?
Pada
akhirnya, masalah "ketakutan akan perubahan" yang dirasakan Asaka
belum benar-benar terselesaikan.
Anak itu pasti masih merasa cemas terhadap
perubahan antara dunia kenangan dan dunia nyata.
Tidak seorang pun bisa menghentikan dunia yang terus berubah.
Kenangan
hanya bisa untuk Dikenang kembali.
Itulah
sebabnya, manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk menikmati masa
"sekarang".
Jika
ada hal yang bisa kulakukan agar Asaka bisa melangkah maju dan terus hidup, aku
akan melakukan apa pun.
Karena
dia adalah salah satu adik perempuan kesayanganku.
Hanya saja, aku ingin dia sedikit mengurangi kontak fisik yang
berlebihan.
Setelah selesai membersihkan, aku kembali masuk ke dalam kafe.
Pertemuan berikutnya dengan Asaka adalah setelah liburan musim panas
dimulai.
Mungkin sekitar dua atau tiga minggu lagi.
Miya, Mahiru, Asaka.
Musim
panas yang akan kuhabiskan bersama mereka sudah semakin dekat.
Aku
tidak sabar.
2
"Panasnya."
Matahari
enggan untuk terbenam.
Ia
bertahan di langit barat bagaikan seorang pelaku pembunuhan yang sedang didesak
oleh detektif. Menyeka keringat di leherku dengan handuk, aku melangkah cepat
keluar sekolah.
Selepas
jam sekolah, aku mampir ke 〈Moon
Night Terrace〉 untuk
menyalakan semangat dan motivasiku.
Aku
memesan café au lait dan berjalan menuju meja di bagian sudut.
Ujian
akhir semester akhirnya akan dilangsungkan pada hari Rabu, Kamis, dan Jumat
minggu ini.
Hari
ini dan besok adalah saat penentuan.
Meskipun
begitu, aku sudah memasukkan sebagian besar materinya ke dalam kepala.
Selama
aku berhati-hati terhadap kecerobohan kecil, seharusnya tidak ada masalah.
Meskipun
terdengar agak sombong jika dikatakan oleh diri sendiri, aku adalah wanita yang
cukup bisa diandalkan.
Yang
tersisa sekarang adalah melakukan tinjauan menyeluruh dan bersiap menghadapi
ujian yang sebenarnya.
Beberapa
saat kemudian, Yuu-nii membawakan café au lait pesananku.
"Eh?
Mahiru nggak ikut?"
"Mahiru
bilang dia ada urusan sebentar, jadi dia akan datang setelah urusannya
selesai."
"Ooh."
"Omong-omong,
Yuu-nii, apa Asaka baik-baik saja di sana?"
Bisa
bertemu kembali dengan Yuu-nii setelah sekian lama—sepuluh tahun
lamanya—terlebih lagi dengan cara yang mengejutkan. Asaka pasti sangat
terkejut, dan Yuu-nii juga pasti kaget melihat pertumbuhan Asaka.
Semasa
kecil, dia adalah tipe adik perempuan yang manja.
Tapi,
mungkin karena didikan di sekolah asrama perempuan terkemuka, sekarang dia
memancarkan aura nona muda yang suci dan bersih, menjadikannya yang paling
dewasa di antara kami bertiga.
Sebenarnya,
aku sengaja menyembunyikan fakta bahwa Asaka telah tumbuh menjadi gadis seperti
itu dari Yuu-nii selama ini.
Itu
adalah keisenggangan kecilku karena ingin melihat Yuu-nii terkejut dengan
kesenjangan pada diri Asaka.
"……Eh,
ah, un. Dia baik-baik saja kok."
"?"
Rasanya
ada jeda yang aneh barusan.
"Reaksi
apa itu?"
"Memangnya
kenapa?"
"Kamu
ketemu sama Asaka, kan?"
"Ah,
iya benar. Dia kelihatan sehat."
"Hih..."
...Gerak-geriknya terasa aneh.
Suaranya datar dan terkesan canggung. Apakah sesuatu terjadi di
Shounan?
Bayangan yang tidak menyenangkan melintas di benakku.
Tidak mungkin, Asaka tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh. Dia
adalah orang dewasa yang punya akal sehat dan bukan anak kecil lagi.
Bukan seperti Mahiru.
Memang benar sepuluh tahun yang lalu Asaka adalah anak yang paling
lengket menempel pada Yuu-nii, tapi sebagai anak SMA, dia pasti tidak akan
melakukan hal serupa.
Tapi
reaksi Yuu-nii ini...
Membuatku
penasaran.
Kucoba
pancing dia saja.
"Asaka
sama sekali nggak berubah, kan?"
"Yah,
si manja itu memang sama sekali nggak berubah."
"Eh?"
"A, ada apa?"
"Nggak berubah... ya?"
"Begitulah,
baik penampilan maupun isinya hampir sama persis seperti dulu."
"B,
begitu."
"Dalam
hal itu, dia sama seperti Mahiru. Nggak ada bedanya dari masa-masa bocah nakal
dulu."
"Ahaha."
"—Ah, ya, sebentar lagi datang."
Dipanggil
oleh pelanggan lain, Yuu-nii beranjak untuk melayani mereka.
Aku
merenungkan kembali percakapan barusan.
Penampilannya
maupun isinya...?
Lalu
kata "si manja" tadi...
Nggak
berubah...
"..."
J,
jangan-jangan, kalau dilihat dari reaksi canggung Yuu-nii tadi... jangan-jangan
dia bersikap ke Yuu-nii persis seperti saat mereka masih anak-anak!?
Tidak,
tidak, tidak, tidak. Itu jelas sudah melewati batas.
Jika
diingat kembali, tingkat kemanjaan Asaka di masa kecilnya benar-benar luar
biasa.
Aku
pernah dengar cerita kalau saat badai dan Yuu-nii tidak bisa pulang sehingga
terpaksa menginap di kediaman Gendouji, mereka pernah mandi bersama dan tidur
di ranjang yang sama.
Tapi
itu karena dia adalah adik kecil yang bermanja-manja kepada kakak laki-lakinya
yang bertindak sebagai wali. Jika hal itu dilakukan di usia mereka yang
sekarang, sudah pasti mereka akan berurusan dengan penegak hukum.
Yah,
tentu saja tidak sampai separah itu sih.
Tapi
Asaka yang seperti itu, ya.
Kupikir
dia adalah adik perempuan yang bisa diandalkan, tapi rupanya dia bisa kembali
menjadi anak kecil saat berada di hadapan Yuu-nii.
"..."
Sejauh
apa yang sudah mereka lakukan?
A,
aku penasaran.
Meskipun
harus berkonsentrasi menghadapi ujian, pikiranku malah teralihkan dan tidak
bisa belajar.
Kapasitas
otakku terus direbut oleh Asaka dan Yuu-nii.
Ini gawat.
Aku mengeluarkan ponselku dan melangkah keluar toko.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh detik bagi Asaka untuk mengangkat
panggilannya.
"Miya-chan?"
"Ah,
Asaka?"
"Ada
apa?"
"Begini,
aku kan tadi ngobrol sama Yuu-nii. Soalnya Yuu-nii baru balik dari sana
kemarin."
"Ufufu,
begitu ya."
"Dia
kelihatannya senang banget bisa ketemu Asaka setelah sekian lama."
"Aku
juga senang."
Entah
kenapa suara dan cara bicaranya terdengar begitu lembut. Padahal biasanya dia
jauh lebih tegas.
"G,
gimana? Yuu-nii setelah sepuluh tahun?"
"......Luar
biasa."
"Eh?"
Luar
biasa?
K,
kalimat penuh tafsir apa itu?
Jangan-jangan,
hal-hal yang terjadi melebihi apa yang kubayangkan—?
Ah!
Benar
juga, mereka berdua kan sudah menjadi pria dan wanita dewasa.
Sepasang
pria dan wanita, vila di tepi pantai, dua hari. Jika ini adalah dunia novel
percintaan, mustahil jika tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Karena dia datang secara tiba-tiba, aku jadi kaget banget."
"Ah, begitu rupanya. Bukan itu maksudku, aku cuma penasaran apa
yang kalian berdua lakukan di sana... Maksudku, kita kan sudah dewasa..."
"Kalau kamu nggak usah khawatir yang aneh-aneh. Kami cuma
menghabiskan waktu bersama-sama persis seperti waktu masih anak-anak kok."
"Begitu, ya... benar juga, ya."
"Iya, Ayah juga ada di rumah kok, jadi kami bertiga menghabiskan
waktu dengan menyenangkan."
"Begitu, ya."
Benar juga.
Asumsi merah jambu yang sempat terlintas di kepalaku sepertinya memang
hanya ketakutan belaka.
Bagus deh, bagus.
Setelah itu, kami saling menceritakan kabar masing-masing sebelum
akhirnya mengakhiri panggilan telepon.
"Kalau
begitu, Asaka, sampai jumpa di liburan musim panas nanti ya."
"Iung,
dadah."
"Dadah."
Haduh,
rugi sendiri aku tadi sempat merasa khawatir.
Aku
kembali masuk ke dalam kafe, lalu membuka buku catatan serta buku latihan soal.
Soal-soal itu bisa aku kerjakan dengan lancar di luar dugaanku.
Ujian
akhir semester kali ini, aku rasa aku bisa mendapatkan hasil yang cukup bagus.




Post a Comment