Final Chapter
Mengejar Pagi
1
—Seolah-olah,
aku tertipu oleh ilusi seakan-akan ada sebuah boneka yang wujud dari dunia
lain.
Rambut
hitam berkilau yang dibiarkan tergerai sampai ke punggung. Kulit seputih salju
dengan rona kemerahan yang samar di pipinya.
Sebuah
gaun putih pas badan yang seakan-akan menonjolkan lekuk dada penuhnya. Tinggi
badannya terpaut sekitar satu kepala lebih rendah dariku.
Ia
memancarkan atmosfer seperti seorang gadis malang bernasib tragis, namun
bayangan si anak manja itu benar-benar nyata melekat pada dirinya.
"Yo."
Sepasang
mata besar yang mengintip di balik kacamatanya bergetar menampakkan
keterkejutan dan kebingungan, sementara mulutnya yang terbuka membentuk kata
"Ah..." tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan menutup.
Fuffuffu,
rupanya kejutan kali ini berhasil dengan sukses.
Begitu
ya, pantas saja Hanayoshi-san sampai mengerahkan sifat kebapakan yang begitu
berlebihan. Siapa sangka bocah nakal itu bisa tumbuh menjadi seorang gadis
cantik bergaya tradisional Jepang seperti ini.
Kenangan
bersama Asaka bermunculan silih berganti bagaikan tayangan kilas balik dalam
benakku.
"Sudah
lama ya—"
Tepat
pada detik saat aku melangkah maju ke depan.
Begitu
mendengar suara derapan kaki menendang tanah, sosok Asaka lenyap dari
pandanganku seketika.
"Eh?"
Gadis itu melesat kabur dari beranda depan, berlari menuju bagian
belakang vila.
"Eh? Eh?"
Kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat kepalaku gagal
mencerna situasi.
Ada
apa?
Kenapa
dia malah berlari...
Seolah-olah
sedang berusaha kabur dariku...
"Tunggu
sebentar."
Tubuhku
bergerak lebih cepat daripada pikiranku.
Terlambat sekian detik, aku turut mengejar di belakangnya.
Asaka menerobos masuk ke dalam area hutan di bagian belakang.
"Woi,
Asakaaa!"
Jangan-jangan,
dia tidak bisa mengenali siapa diriku. Karena tiba-tiba ada seorang pria tak
dikenal yang mendatangi kediamannya, mungkin saja ia merasa keselamatan jiwanya
terancam...
Sambil
mengejar punggung putihnya di tengah rimbunnya hutan yang sulit untuk berlari,
aku berteriak.
"Ini
aku, Arotsuki Yuu."
Entah
suaraku sampai atau tidak, Asaka sempat berhenti sejenak, namun ia kembali
melangkah kencang.
"Asaka?"
Tanpa
mengerti apa pun yang sedang terjadi, aku terus mengejar Asaka.
"Atau
lebih tepatnya, cepat banget!"
◇
Kenapa?
Kenapa
Yuu-nii bisa ada di sini?
"Asakaaa!"
"Hah,
hah."
Atmosfer
santai yang begitu khas.
Suara
hangat yang memanggil namaku.
Serta
tatapan mata lembut itu.
Wujudnya
benar-benar tidak berubah sedikit pun dari Yuu-nii yang ada di dalam
ingatanku... aku, aku ini...
"Hah,
hah."
Bagian
dalam dadaku terasa begitu panas.
Kenangan
masa lalu itu bangkit kembali dengan begitu jelas.
Pergi
bersama ke kolam renang, dibantu mengerjakan pekerjaan rumah, melihat kembang
api, menginap bersama, merayakan ulang tahun Yuu-nii bersama-sama...
"Hah, hah."
"Tolong tunggu sebentar."
Satu-satunya
orang yang tahu keberadaanku di sini hanyalah Ayah. Kalau begitu, pasti Ayah
yang usil menelepon Yuu-nii.
Itu
benar-benar tindakan ikut campur yang tidak perlu.
Aku, aku ini—
Kan tidak mau bertemu dengannya.
"Tolong jangan mendekat."
Tak lama kemudian, barisan hutan itu terhenti dan pemandangan di
hadapanku berubah menjadi bentangan warna biru yang luas.
"Ah."
Ujung jalan ini ternyata adalah sebuah tebing.
Aku menghentikan langkah tepat di tepi tebing. Beberapa detik kemudian,
Yuu-nii berhasil menyusulku.
"Asaka,
ini aku. Apa kamu tidak ingat?"
"..."
Rambutku
tersibak oleh terpaan angin yang berhembus melintasi lautan.
Langit biru cerah yang terbentang di depan mata terasa begitu kontras,
berbanding terbalik dengan isi hatiku saat ini.
Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dadaku.
"Aku Arotsuki Yuu. Supaya bisa memberimu kejutan, aku datang
bersama Hanayoshi-san dan—"
"Silakan
pulang sekarang juga, Arotsuki-san."
Suaraku
terdengar begitu dingin hingga membuat diriku sendiri terkejut.
"Eh?"
"Kalau
kamu mendekat lagi, aku akan melompat turun dari sini."
◇
"Kalau
kamu mendekat lagi, aku akan melompat turun dari sini."
"Ha?
T-Tunggu sebentar."
Aku
sama sekali tidak bisa memahami situasi ini.
Sepertinya
ia memang mengingatku. Tapi sikap dingin ini...
Ada
apa ini? Jangan-jangan dia marah karena aku tidak pulang selama sepuluh tahun?
Sampai
memanggilku Arotsuki-san segala, seolah memperlakukan orang lain sebagai orang
asing...
"Maafkan
aku karena tidak pernah pulang sekalipun sejak pergi ke Tokyo. Tapi, itu semua
ada alasannya—"
"Sekali
lagi aku katakan. Kumohon, tolong pulang saja sekarang, Arotsuki-san."
"......Asaka?"
Nada
suaranya sama sekali tidak menyiratkan kemarahan. Suara bergetar itu
seolah-olah menahan emosi yang meluap-luap, atau bisa dibilang ini justru...
"Kumohon,
tetaplah menjadi dirimu yang indah seperti di dalam ingatanku."
"......Apa
maksudmu? Kenapa kamu malah lari dariku?"
"Bagiku,
keberadaanmu hanyalah sebuah eksistensi di dalam kenangan. Benteng pertahanan
terakhir dari semua kenangan indahku."
"Kenangan?"
"Kenangan
itu, jika sampai ternoda, tidak akan pernah bisa direbut kembali untuk kedua
kalinya."
"Apakah
ada sesuatu yang terjadi?"
"..."
"..."
Suara
debparan ombak yang menghantam dinding tebing terdengar memecah keheningan
setiap beberapa detik sekali.
Ketinggian
dari permukaan laut diperkirakan mencapai lebih dari tiga puluh meter. Aku
ingin mencari celah untuk menarik Asaka kembali ke tempat yang aman, tapi...
Saat
aku mencoba mengangkat kaki sekecil mungkin tanpa menimbulkan suara, tubuh
Asaka pun ikut bergerak tipis.
"Sudah
kukatakan tadi, jangan mendekat."
"Tempat
ini berbahaya, kalau ingin ngobrol mari kita lakukan di sana. Kemarilah."
"Kalau
kamu pergi, aku juga akan kembali."
Aku
sama sekali tidak bisa menangkap niat sesungguhnya dari Asaka, mengapa ia
separah itu menolak kehadiranku.
Hanya
suara desir angin dan buih ombak yang tertinggal di telinga.
Berapa
lama waktu telah berlalu?
Keheningan
yang terasa tak berujung itu akhirnya dipecahkan oleh suara Asaka.
"Ibu
yang mengatakannya."
"Ibu?"
Bahkan
sepuluh tahun lalu pun aku belum pernah bertemu dengan ibu Asaka.
Aku
baru tahu setelah pulang kembali ke Fujinomiya bahwa beliau telah meninggal
dunia akibat kecelakaan tak terduga beberapa tahun lalu.
"Kamu
tahu kan kalau kakekku menderita demensia? Karena kelelahan merawatnya... pada
suatu hari, Ibu mengatakan hal ini tentang Kakek."
Tolong
cepat mati saja, suara Asaka yang menggumamkan kalimat itu begitu bergetar
hebat seolah-olah ia hendak menangis detik itu juga.
"Aku
tidak percaya Ibu bisa mengucapkan hal seperti itu. Rasanya begitu menyiksa dan
menyedihkan, tapi setelah itu Ibu langsung meninggal karena kecelakaan lalu
lintas. Padahal sosok Ibu di dalam ingatanku adalah sosok yang begitu indah,
dan aku sangat menyayangi Ibu, tapi sekarang setiap kali aku mengingat Ibu,
yang terbayang di kepalaku justru wujudnya saat menggumamkan 'Tolong cepat mati
saja'. Padahal seharusnya ada banyak sekali kenangan indah bersama Ibu, tapi
semuanya sudah ternoda sampai aku tidak bisa melihat apa pun lagi."
"Kenangan
itu... ternoda."
"Meskipun
aku menghadapi hal yang tidak menyenangkan, meskipun aku mengalami hal yang
menyakitkan, aku terus menahannya dengan sabar dan berjuang menjadikan kenangan
masa kecil bersamamu sebagai tumpuanku. Tapi, kalau terus-menerus menjadikan
masa lalu sebagai tempat bersandar... entah sejak kapan, aku jadi tidak bisa
lagi merasakan kebahagiaan di masa sekarang."
Pada
saat itu, aku melihat jejak tetesan air tampak berbekas di dekat kaki Asaka.
"Itulah
sebabnya aku tidak boleh sampai kehilangan kenangan tentangmu juga. Bagiku, kenangan adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Kalau
sampai hilang, aku tidak akan bisa mendapatkannya lagi. Kalau sampai hilang,
hidupku tidak akan punya arti apa-apa lagi."
Asaka berteriak.
"Makanya aku tidak mau bertemu denganmu."
"......Begitu
rupanya."
Aku
bisa memahami alasannya.
Seiring
berjalannya waktu, hampir segala hal pasti akan berubah.
Baik
itu manusia maupun benda, mustahil ada hal yang bisa terus bertahan dalam wujud
yang sama selamanya.
Dan,
ketidaksiapan mental untuk menerima perubahan tersebut hingga mencapai titik
yang tak bisa dipulihkan lagi, itulah yang membuat seseorang merasa tidak
tahan.
Seiring
bertambah dewasa, manusia memang menjadi kotor. Ketika aku mulai terjun ke
masyarakat dan menyadari bahwa dunia ini tidak berputar di atas hal-hal ideal
yang bersih semata, aku pun sempat merasakan syok yang luar biasa.
Aku
bahkan pernah merasakan kemarahan besar tatkala menyadari ada manusia di dunia
ini yang tanpa beban mengarahkan niat jahat kepada sesamanya.
Jika
diriku, jika kepribadianku telah berubah menjadi seperti itu, maka Asaka tidak
akan bisa lagi mengenang masa lalunya bersamaku dengan perasaan yang suci dan
murni.
Begitu
ya.
"Maafkan
aku ya."
"Untuk
apa?"
"Kalau
saja aku pulang dari Tokyo lebih cepat dan tetap berada di sisi kalian, mungkin
aku bisa menjadi tempat bersandar bagi kalian."
"......Hal
semacam itu, dikatakan sekarang pun aku hanya akan merasa bingung."
"Aku
sendiri juga bertahan selama sepuluh tahun ini dengan menjadikan kenangan
bersama kalian bertiga sebagai tumpuanku, tapi pada akhirnya fisikku tumbang,
aku muak dengan kehidupan di Tokyo... dan aku kabur."
"..."
"Waktu
itu aku sangat membenci diri sendiri dan merasa diriku adalah orang yang tidak
punya ketegaran mental, tapi kalau dipikir-pikir kembali sekarang, aku yakin
pilihan yang kuambil saat itu tidaklah salah. Kita memang harus menghadapi
kesulitan, tapi tidak apa-apa untuk lari dari hal-hal yang menyakitkan dan
memuakkan. Bertahan menghadapi hal semacam itu tidak akan menghasilkan apa pun.
Itu hanya akan menggerus hatimu."
"..."
"Kalau
kamu memang tidak menyukaiku, silakan terus lari dariku seperti ini."
"..."
Aku
mengambil napas sejenak, lalu bertanya,
"Apakah
kamu membenciku?"
"Arotsuki-san,
fokus pembicaraannya keliru. Aku tidak mau membencimu, makanya aku tidak mau
bertemu denganmu."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"Sudahlah,
apa kamu tidak mau memanggilku Yuu-nii lagi?"
"......!"
"..."
"......"
"......"
"......Sialan,
itu curang banget."
Asaka
berbalik dan langsung menerjang ke arahku, seolah ditarik oleh magnet. Wajahnya
yang basah kuyur oleh air mata terbenam di dadaku.
"Yuu-nii."
"Asaka."
Saat
mendekap Asaka erat-erat, air mataku mendadak ikut mendesak keluar. Asaka terus
terisak seperti anak kecil dengan wajah yang masih membenamkan diri di dadaku.
"Aku kangen, kangen banget, kangen banget... uwaaaaaa."
"Kamu pasti menderita banget ya sendirian."
"Maafkan aku, maaf karena sudah ngomong hal-hal jahat."
"Nggak usah dipikirin. Aku sendiri yang salah karena nggak pernah
datang menemuimu selama sepuluh tahun ini."
"Tolong, jangan tinggalkan aku sendirian lagi."
Untuk
beberapa saat lamanya, aku dan Asaka saling berpelukan sambil menangis.
Seolah-olah ingin meluapkan seluruh emosi yang telah tertimbun selama sepuluh
tahun lamanya.
Begitu
tangisan itu mulai reda, Asaka tiba-tiba berkata,
"Yuu-nii,
aku punya satu permintaan."
"Apaan?"
"Hidupku
ini sama sekali nggak menyenangkan. Makanya—"
Sambil
tetap menempelkan wajahnya di dadaku, Asaka melanjutkan.
"Bolehkah
aku menjadikanmu sebagai tujuan hidupku?"
☆☆☆
"U,
ugh."
Suara
kepompong jangkrik berisik sekali.
Sudah
pagi rupanya.
Penglihatan
yang masih remang-remang perlahan-lahan menjadi semakin jelas seiring cahaya
matahari pagi yang menyusup masuk dari jendela.
Rasa
dingin yang menusuk ini mungkin karena pendingin ruangan yang menyala
semalaman. Udara sejuk memenuhi seisi ruangan.
Hm?
AC?
Seharusnya
di kamarku tidak ada AC...
Untuk sesaat, aku sempat bingung berada di mana. Beberapa detik
kemudian, baru aku sadar kalau aku sedang berada di vila keluarga Gendouji.
Ah benar juga, kemarin aku datang ke vila ini, lalu malam harinya makan
masakan Tionghoa bersama Hanayoshi-san dan Asaka, dan langsung menginap di
sini.
"Hm?"
Ada
sensasi tekanan dan kehangatan yang terasa janggal di dalam selimut.
Selimut yang menggelembung secara tidak wajar.
Kalau diperhatikan baik-baik, benda itu naik turun perlahan seolah
sedang bernapas.
"......"
Gimana ya, nggak mungkin kan.
Dengan perasaan ngeri-ngeri sedap, aku menyingkap selimut itu.
"Ah."
Ternyata
Asaka ada di dalam.
Menempelkan
wajahnya di dadaku, Asaka tertidur lelap dengan napas yang terdengar puas.
"K-Kenapa?"
Aku
ingat betul saat menyelinap ke tempat tidur semalam, aku tidur sendirian.
Sebenarnya, sejak kapan dia...
Ah,
tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah pakaian yang dikenakan Asaka. Ia hanya
mengenakan sehelai kamisol tipis dan pakaian dalam, benar-benar pakaian yang
kelewatan batas. Panas tubuhnya langsung menjalar ke perutku tempat dadanya
yang besar menempel, membuat akal sehatku nyaris terbang sesaat.
I-Ini
gawat.
Atau
lebih tepatnya, sentuhan lembut ini... jangan-jangan anak ini tidak pakai bra—?
Seluruh
darah di tubuhku langsung terkonsentrasi ke bagian bawah.
Gawat.
Aku buru-buru membayangkan tubuh telanjang ayahku untuk menetralkan gelora ini.
A-Nyaris
saja.
"Hei
Asaka, bangun."
Aku
menepuk punggung kecilnya. Kulitnya sangat mulus tanpa noda sedikit pun,
bagaikan sutra.
"Asaka."
"Ehm?
Ah, Yuu-nii. Selamat pagi."
Mengeluarkan
suara yang terdengar manja dan meleleh, Asaka malah semakin melilitkan tubuhnya
padaku.
"Kamu
ini lagi apa sih. Sumpah deh."
"Kepengen tidur bareng Yuu-nii lagi. Ehehe, jadi
inget masa-masa kecil ya."
Tanpa
menunjukkan rasa bersalah sedikit pun, Asaka enggan beranjak dan tetap
memelukku erat-erat.
Aroma
manis samar seperti bunga berpadu dengan suhu tubuh Asaka sukses mengguncang
kewarasanku.
"Yuu-nii,
hangat ya."
"Kita
kan sekarang sudah sama-sama dewasa, hal kayak gini tuh—"
Ucapanku
terhenti di tengah jalan.
Asaka
menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu...
benci ya sama aku?"
"......Mana
mungkin aku benci."
"Ehehe,
kalau begitu biarin aku berbuat sesuka hatiku ya."
Setelah
itu untuk beberapa saat lamanya, Asaka sama sekali tidak mau melepaskan
pelukannya dariku.
Beneran
deh, anak ini tidak berubah sedikit pun, tetap saja tukang manja bahkan setelah
sepuluh tahun berlalu.
Kemarin,
Asaka sempat menanyakan hal ini.
Apakah
boleh menjadikanku sebagai tujuan hidupnya.
Mungkin
saja, Asaka saat ini memang sangat membutuhkan pegangan secara mental.
Mengingat ia bahkan tidak bisa menikmati masa sekarang dan menjadikan kenangan
masa lalu sebagai satu-satunya tumpuan hati.
Kalau
kehadiranku bisa menggantikan peran itu, demi adik perempuan kecilku yang imut
ini, aku rela pasang badan. Lagipula, ada kekhawatiran besar kalau aku menolak
Asaka di tempat tadi, dia benar-benar akan nekat melompat dari atas tebing.
Makanya
aku menjawab begini.
"Boleh
kok, lakuin aja apa yang Asaka mau."
Meskipun
aku berkata begitu, aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan menempel
manja separah waktu masih anak-anak dulu...
Manja
waktu masih kecil sih wajar-wajar saja, tapi kalau diukur dengan standar
sekarang, bukankah ini sudah benar-benar kelewat batas? Dulu hubungan kami wajar selayaknya kakak beradik karena statusnya anak
SMA dan anak SD, tapi sekarang aku om-om dan dia anak SMA. Bukankah ini
setengah kriminal?
"Asaka, ayo bangun. Aku mau mandi."
"Iya, paham."
Aku lantas berjalan menuju kamar mandi. Layaknya vila orang kaya pada
umumnya, memiliki kamar mandi pribadi di setiap kamar sungguh membuatku takjub.
"Tunggu sebentar, Asaka."
"Iya?"
Asaka menatapku dengan mata berkedip polos.
"Kenapa
ikut masuk?"
"Mau
bantu membasuh punggungmu."
Ujar Asaka sambil tersenyum manis.
"Punggung..."
Penampilannya yang hanya berbalut kamisol dan pakaian dalam benar-benar
membuatku bingung harus membuang pandangan ke mana.
"Nggak usah, makasih."
"Jangan sungkan begitu."
"Bukannya
sungkan... kan cuma mau mandi biasa... hah!"
Kalau
aku menolak lagi di sini, dia bisa salah paham dan mengira aku menolaknya
mentah-mentah. Asaka dari dulu memang sangat peka terhadap hal-hal seperti itu.
Kalau begitu caranya...
"Asaka,
daripada itu, aku lagi lapar banget nih. Coba
tolong cek apakah sarapannya sudah siap? Bisa tolongin kakak?"
"Iya,
paham."
Asaka
berlari kecil keluar kamar.
"Eh,
pakai bajunya dulu!"
"Iyaa."
"Ampun
deh."
Setelah
selesai mandi dengan aman dan merapikan pakaian, Hanayoshi-san datang
menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, sepertinya ia sedang
mengalami mabuk darat atau mabuk laut akibat semalam.
"Yo,
selamat pagi."
Suaranya
terdengar lebih berat dari biasanya.
"Selamat
pagi juga."
"Duh,
semalam aku minum terlalu banyak. Kepalaku masih pusing nih."
"Kamu
nggak apa-apa?"
"Yuu-kun
kelihatan segar banget ya."
"Aku
minumnya secukupnya sih."
Semalam
aku memang menemani Hanayoshi-san minum-minum sampai larut malam. Asaka juga
ada di sana, tapi tentu saja dia tidak minum alkohol dan malah terpaksa
menemani para om-om mabuk sampai malam.
"Hari
ini aku mau istirahat santai dulu di kamar. Urusan menemani Asaka kuserahkan
padamu ya. Kelihatannya dia senang banget bisa ketemu lagi sama kamu setelah
sekian lama."
"Y-Ya."
"Kalau
begitu ya."
Bagaimanapun
juga, akhirnya aku bisa melepas rindu dan bertemu kembali dengan Asaka dengan
selamat.
Bisa
berjumpa lagi dengan ketiga anak nakal itu membuatku merasa benar-benar telah
kembali pulang.
Yah,
meskipun tempat ini adalah Shounan sih.
◇
Hatiku
terasa begitu ringan.
Rasanya
bagaikan tumbuh sepasang sayap di punggung. Diriku yang merasa terpuruk hingga
kemarin seolah hanya kebohongan belaka.
Segala
hal yang terpampang di mata terasa begitu segar, dunia ini begitu cerah
seolah-olah aku baru pertama kalinya mengenali warna.
"Fufufun,
fufufun."
Dengan
langkah kaki yang ringan, aku menyusuri koridor dan kembali ke kamar Yuu-nii.
"Yuu-nii,
sarapannya sebentar lagi siap ya."
"Yoi."
Hanya
dengan melihat wujud Yuu-nii saja, hatiku sudah terasa penuh. Ditambah lagi
saat menyentuhnya, rasanya bagaikan sumber kebahagiaan dialirkan memenuhi
sekujur tubuhku.
Aku
meraih tangan Yuu-nii, lalu menggenggamnya dengan kedua belah tangan. Tangan
besar yang kapalan. Tangan kesayangan yang selalu mengusap kepalaku sejak dulu.
"Ada
apa, Asaka?"
"Nggak
apa-apa kok."
Aku
merasa begitu bahagia, sampai-sampai berharap waktu detik ini bisa berjalan
abadi selamanya.
Dulu
aku begitu mati-matian menolak untuk bertemu dengannya, tapi sekarang aku
bahkan tidak sanggup membayangkan hidup tanpa keberadaan Yuu-nii.
Aku
ingin mendedikasikan sisa hidupku untuk orang ini.
Karena
orang inilah yang menjadi satu-satunya tujuan hidupku.
Begitulah tekadku sekali lagi di dalam hati.
2
"Fiuh."
Selesai menikmati secangkir kopi setelah makan, aku bersantai di sofa
ruang keluarga hingga Asaka menyusul datang.
Kupikir dia akan duduk di sebelahku, namun gadis itu justru merebahkan
diri di atas sofa dan meletakkan kepalanya di atas pangkuanku.
"Yuu-nii."
"Duh
ampun Asaka, kamu kan sudah SMA?"
"Ehehe,
abisnya sudah lama banget kan."
Rasanya
bahkan sepuluh tahun lalu pun dia tidak pernah bermanja-manja separah ini...
"Dasar anak nggak ada obat."
"Aku
pengen diginiin terus. Yuu-nii, jangan pergi ke mana-mana lagi ya."
"Iya, aku bakal terus ada di dekat kalian kok."
"Kalau sampai pergi lagi tanpa izin, bakal ku kejar sampai ke
ujung dunia loh ya."
"Hahaha,
ngeri banget."
Asaka
ternyata sudah pandai melontarkan candaan sekarang.
"Asaka
nanti pas libur musim panas balik lagi ke Shizuoka kan?"
"Iya!
Liburan musim panas dilewati berempat, aku udah nggak sabar dari
sekarang."
Asaka
melepas kacamatanya lalu meletakkannya di atas meja.
"Yuu-nii,
usap kepala aku."
"Kamu ini beneran kayak anak anjing atau kucing aja."
Aku terkejut mendapati Asaka yang dulunya begitu mungil kini telah
tumbuh menjadi seorang gadis cantik jelita bak boneka hidup, namun sifat
aslinya ternyata sama sekali tidak berubah.
Meskipun si Mahiro masih menyisakan sedikit sifat urakan masa kecilnya
namun kini tumbuh menjadi pribadi yang dapat diandalkan, rasanya si Asaka ini
tetap kekanak-kanakan entah itu dalam artian yang baik maupun buruk.
Mungkin karena ia terlalu terkurung di dalam bayang-bayang kenangan
masa lalu.
Aku sangat senang karena dia begitu menghargai kenangan kami berdua
hingga menjadikannya sandaran hati, tapi membayangkan bagaimana hal itu justru
membelenggu Asaka selama sepuluh tahun lamanya membuat perasaanku menjadi
rumit.
Aku sendiri juga sangat memahami perasaan Asaka, sebab ketika aku
hendak bertemu kembali dengan Miya, aku sempat salah sangka mengira dia telah
berubah menjadi seorang gadis gal or yankee, dan seketika itu pula aku merasa
ketakutan setengah mati untuk menemuinya.
Menerima sebuah perubahan memang membutuhkan keberanian yang luar
biasa.
Saat aku membelai rambutnya yang berkilau lembut, Asaka membenamkan
wajahnya ke arah perutku, lalu melingkarkan tangannya memeluk pinggangku.
"Eh,
Asaka, posisi kayak gini tuh gawat."
Kalau
sampai ada orang yang melihat, bisa-bisa memicu kesalahpahaman yang fatal.
"Apanya
yang gawat?"
Suara
dan embusan napas Asaka meresap menembus perut bagian bawahku.
"Ya
apanya..."
Aku
buru-buru memikirkan tubuh telanjang Ayah dan Hanayoshi-san untuk mengusir
gelora yang mulai bangkit.
"Ufufu,
Yuu-nii."
Saat
itu, sebuah bayangan tampak melintasi kaca buram pintu. Gawat, siluet itu
pastinya Hanayoshi-san. Kalau sampai kedapatan dalam posisi begini, aku pasti
bakal dicurigai macam-macam lagi.
Memori
masa lalu saat bermain gulat melintas begitu saja di dalam kepalaku.
Krieet,
tepat pada detik pintu itu terbuka—Asaka dengan kilat melepaskan pelukannya
dariku seolah kutub magnet yang berlawanan, lalu duduk tegak dengan wajah tanpa
dosa di atas sofa.
"Oh,
kalian berdua di sini rupanya."
Sambil
mengenakan kacamatanya kembali, Asaka berkata,
"Ayah
baru bangun tidur ya? Ini kan sudah jam sepuluh."
"Kepalaku
pusing banget gara-gara mabuk."
"Sebaiknya
istirahat agak lamaan lagi deh. Yuu-nii, ayo kita pergi."
Ditarik
tangannya oleh Asaka, aku beranjak keluar.
Pantai
pribadi keluarga Gendouji yang terletak di sisi bukit tempat vila itu berdiri.
Ombak yang berdebur di atas pasir putih tampak berkilau memantulkan cahaya
matahari. Sebuah kapal layar tampak mengambang di garis horison
tempat bertemunya langit dan laut biru.
"Pantainya indah banget ya."
Mendongak ke arah bukit di sebelah kiri, aku bisa melihat ujung tebing
tempatku bertemu kembali dengan Asaka kemarin. Jatuh dari ketinggian segitu
pastinya tidak akan selamat.
Melepas sandal jepitnya dan mengangkat ujung gaun putihnya, Asaka
melangkah masuk ke dalam air laut. Kaki jenjangnya yang seputih salju terekspos
hingga bagian paha, membuatku reflek memalingkan wajah.
"Hya, dingin banget."
Sambil menciptakan cipratan air ber-cipratan ria, Asaka terus berjalan
semakin ke tengah.
"Yuu-nii
juga ayo ke sini."
"Ampun
deh."
Ngomong-ngomong,
sudah lama sekali aku tidak main ke pantai. Karena tidak membawa pakaian
renang, aku tidak bisa leluasa bermain air. Berusaha menyusul langkah Asaka,
gadis itu justru berjalan semakin jauh ke depan.
"Woi,
jangan jalan terlalu ke tengah!"
"Aku
paham kok, eh—"
Mungkin
kakinya tersangkut pasir, keseimbangan Asaka mendadak oleng.
"Makanya
dibilangin."
Aku
berlari cepat dan meraih tangan Asaka.
"Pegang yang erat."
"Wa-wah."
Alhasil, Asaka terjatuh ke arahku, ditambah lagi kondisi pijakan pasir
yang labil membuatku ikut tersungkur bersama.
Kami berdua basah kuyur bersama-sama.
"Hei, kamu nggak luka kan?"
"Nggak
apa-apa kok."
"Duh
ampun deh—!"
Gaun
putihnya basah oleh air laut, membuat pakaian dalam berwarna biru mudanya
tembus pandang. Kain tipis gaun tersebut menempel erat pada pakaian dalam biru
yang membungkus gundukan buah dada besarnya.
"Yuu-nii?
Kenapa?"
"M-Makanya
tutupin. Tembus pandang tuh."
"Ah... Yuu-nii mesum."
"K-Kan ini unsur ketidaksengajaan."
Seluruh tubuhku kini berlumuran air laut. Mau tidak mau aku harus mandi
dan mencuci pakaian ini.
"Asaka,
di vila ada mesin cuci kan?"
"Iya,
ada kok."
Dari
pantai menuju ke vila terdapat tangga batu yang membelah tebing. Usai menaiki
anak tangga yang cukup curam tersebut, kami masuk ke vila lewat pintu belakang.
"Yuu-nii,
mumpung begini sekalian mandi di pemandian terbuka saja."
"Emang ada yang seperti itu?"
"Ada,
kalau cuaca begini kita bisa melihat pemandangan laut dengan sangat indah.
Lewat sini."
Dipandu
oleh Asaka, aku diantar menuju pemandian luar ruangan di lantai dua.
Lantai
pijakannya dilapisi batu kerikil, dan bak pemandian bergaya batu ala pemandian
air panas sudah terisi air hangat.
Ketika
melayangkan pandangan ke arah laut, terdapat celah di antara pepohonan hutan
yang menyajikan pemandangan birunya laut secara langsung.
Kontras
warna hijau dan biru yang begitu menyejukkan mata.
"Wah."
"Pakaian
yang basah taruh saja di keranjang sebelah sana ya. Nanti aku bawakan pakaian
ganti."
"Makasih
ya."
Begitu
Asaka berlari keluar, aku menanggalkan pakaianku hingga polos, membasuh sisa
air laut dengan shower, lalu langsung merendamkan diri ke dalam pemandian.
"Hoooh."
Segar banget.
Berendam sambil menikmati pemandangan alam ternyata senyaman ini.
Bikin
ketagihan kalau begini caranya. Sambil melemaskan otot-otot, aku merentangkan
tubuhku.
Seekor
burung terbang melintasi langit biru.
Sungguh
waktu yang penuh berkah.
Terdengar suara derit pintu digeser bersamaan dengan langkah kaki
telanjang.
"Aku
membawakan pakaian gantinya."
Suara
Asaka.
"Makasih."
"Pakaiannya
sedang dicuci. Karena ada mesin pengeringnya, nanti bakal cepat kering
kok."
"Makasih
banyak ya."
"Bagaimana
suhu airnya?"
"Ah,
pas banget."
"Begitu
ya. Kalau begitu aku ikutan masuk ya."
Byur,
suara riak air tercipta di permukaan kolam.
"......Eh?"
3
Di
dalam kafe 〈Moonlight Terrace〉.
Hari
ini pun kami kembali belajar untuk ujian. Yu-nii sepertinya akan pulang malam
ini.
"Asaka
pasti kaget banget, ya," kataku.
Mahiru menghentikan tangan yang memegang pensil mekaniknya,
"Soalnya
itu benar-benar kejutan."
"Asaka kan sudah kangen banget dari dulu, ya."
"Jangan-jangan dia bakal menempel terus kayak waktu masih
kecil."
"Mana
mungkin. Kita kan sudah dewasa."
Asaka
punya kepribadian dewasa yang suka melihat segala sesuatu dari sudut pandang
objektif. Jadi, Yu-nii pasti bakal terkejut.
"Ya
benar juga, sih."
"Iya,
kan."
Mungkin
hal itu wajar terjadi saat masih anak-anak, tetapi khusus untuk Asaka sekarang,
tidak mungkin hal itu terjadi.
"Ahahaha."
"Ngomong-ngomong,
vila di sana punya pantai, kan?" kata Mahiru seakan teringat sesuatu.
Beberapa
tahun lalu, aku dan Mahiru pernah pergi bermain ke vila di Shonan. Aku memang kurang mahir berenang, tetapi aku suka bermain di tepi air.
Waktu itu, kami bermain bertiga saja, ya.
"Mungkin mereka berdua sudah duluan berenang."
Laut biru, awan putih, dan pasir pantai yang membara.
Ditemani angin laut dan suara cicak sebagai latar musik, berenang,
bermain, lalu makan...
Membayangkannya saja sudah membuat suasananya menjadi seru. Apalagi
tahun ini ada Yu-nii bersama kita.
"Duh, irinya. Aku juga jadi nggak sabar pengen cepet-cepet
berenang."
Mahiru
meletakkan sikunya di atas meja lalu menopang wajahnya dengan kedua tangan.
"Daripada
mikirin itu, Mahiru, tanganmu berhenti bergerak, tuh. Sebelum liburan musim
panas tiba, kita harus melewati ujian ini dulu."
"Aku
tahu. Lagipula, muka Miya juga lagi cengar-cengar-cengir begitu."
"M-mana ada aku cengar-cengar-cengir... Emangnya muka
cengar-cengar-cengir itu kayak gimana?!"
"Ah,
Paman, minta es kolanya satu lagi, ya."
Liburan
musim panas sudah menanti!
◇
"Eh?"
Kulit putih lembut itu tenggelam ke dalam air hangat.
"Nyaman banget, ya."
Bahu kami bersentuhan, dan suhu panas yang melebihi temperatur air
tercipta di sana.
"A-Asaka?"
Aku langsung menutupi bagian depannya dengan tangan.
"K-kau, i-ini..."
Aku memang menutupi bagian depan dengan handuk, tetapi begitu masuk ke
dalam bak mandi, handuk itu hanya akan mengapung dan efek penutupannya pun
berkurang.
"Kita kan pernah mandi bersama waktu masih kecil. Kakak nggak
ingat?"
Malam saat badai menerpa dan aku menginap di kediaman Gendouji, aku
memang sempat mandi bersama Asaka, tapi...
"Memang iya, sih, tapi..."
Waktu itu Asaka mengenakan pakaian renang, tetapi sekarang dia tidak
memakai sehelai benang pun.
"Biarkan
aku melakukan apa yang kuinginkan, ya. Aku kan sudah mendapatkan persetujuan
Kakak."
Dia
melingkarkan tangannya dan merapatkan tubuhnya, bersamaan dengan itu sensasi
kenyal menyerangku.
"—gh."
Setelah
itu, Asaka menindihku dan membiarkan tubuhnya bersandar begitu saja padaku.
Karena sama-sama tidak mengenakan pakaian, sentuhan itu terasa secara langsung.
Dia
mengangkat dan menggelung rambut panjangnya, memperlihatkan tengkuk putihnya
yang menawan.
"Hei,
apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku
nggak mau lepas."
Dia
melingkarkan tangannya ke punggungku dan membenamkan wajahnya di leherku.
Belum
sampai lima menit kami berendam di air hangat, kepalaku sudah mulai pusing.
"Yu-nii
hari ini mau pulang, kan? Kita nggak akan bisa ketemu lagi untuk beberapa waktu
kedepan."
Begitu
selesai berkata, Asaka mendekatkan bibirnya ke leherku.
"Asaka?"
Terdengar
suara kecupan kecil di dekat leherku.
"Aku
suka aroma Yu-nii. Nggak berubah dari dulu."
Aku
terus-menerus membayangkan tubuh telanjang para paman yang pernah kutemui
selama hidupku. Kalau tidak melakukan itu, aku tidak akan bisa menahan diri
lagi.
Asaka hanya menganggapku sebagai kakak dan mengandalkanku. Mengambil kesempatan dalam kesempitan kepada adik angkat adalah hal yang sangat tabu.
Aroma manis Asaka yang menguar lembut dan hawa panas pemandian yang menyelimuti seluruh tubuh membuat kepalaku berputar hebat.
"A-Asaka..."
"Yu-nii, kamu adalah satu-satunya alasan bagiku untuk hidup. Kamu adalah segalanya bagiku. Karena itu, aku juga akan mendedikasikan seluruh diriku untukmu. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku ini... adalah milikmu—"
Ingatan setelah momen itu terputus.
"Ha—”
Saat aku sadar, diriku sudah dibaringkan di atas sofa ruang tamu.
"Ah, sudah bangun, ya?"
Hanayoshi-san yang duduk di sofa seberang memanggilku.
"Eh? Hah? Kenapa..."
"Pingsan karena kepanasan, jangan-jangan Yuu-kun sebenarnya masih mabuk ya? Untung saja tadi Asaka sempat pergi melihat keadaanmu, kalau tidak bisa gawat."
"Ah, maafkan aku."
Sepertinya aku pingsan karena terlalu lama berendam. Aku samar-samar ingat masuk ke pemandian bersama Asaka—atau lebih tepatnya dia yang memaksa masuk—tapi...
"Yu-nii, silakan minum airnya."
Asaka datang dari arah dapur sambil membawa sebuah gelas.
"Ah, terima kasih."
Air dingin itu membasahi tenggorokanku yang kering.
"Yu-nii."
Asaka mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu berbisik,
"Soal kita mandi bersama tadi, itu rahasia, ya."
"..."
Jadi aku benar-benar berendam di air yang sama dengan Asaka?
Meskipun kami sudah akrab sejak kecil, mandi bersama siswi SMA aktif rasanya hampir mirip seperti tindakan kriminal.
Baik Mahiru maupun Asaka, sepertinya mereka harus memiliki kesadaran moral yang lebih baik. Khusus untuk Asaka, mungkin dia hanya memperlakukanku sama seperti saat kami masih kecil.
Ngomong-ngomong, saat itu—sesaat sebelum aku pingsan, Asaka sepertinya mengatakan sesuatu, tapi aku tidak dapat mengingatnya.
Namun, aku tidak mungkin menanyakan hal itu di depan Hanayoshi-san, jadi aku menghabiskan sisa hari itu dengan perasaan gelisah.
Atas kebaikan Hanayoshi-san, makan malam kami diisi dengan menikmati barbekyu di pantai.
Kami mengelilingi panggangan sambil melihat matahari terbenam di garis horizon.
"Yu-nii, silakan ambil satu."
Asaka mengulurkan sekaleng bir kepadaku.
"Ah, terima kasih... tapi aku nggak boleh minum. Aku kan mau pulang hari ini."
"Wah, sayang sekali."
"Asaka, Ayah juga mau minum, tahu."
"Ambil sendiri sana."
"Ah, iya."
Saat aku sedang memindahkan daging ke atas piring, Asaka mendekatiku dan membuka mulutnya lebar-lebar. Apakah dia menyuruhku menyuapinya? Dia kan sudah bukan anak kecil lagi.
"Nih, masih panas."
"Ahm."
Gerakannya yang menjilat saus di bibirnya dengan lidah terlihat begitu menggoda.
Bibir...?
Tiba-tiba aku merasa sensasi panas di leherku seolah hidup kembali.
"Ada apa, Yu-nii?"
"Ah, bukan apa-apa."
Setelah makan malam selesai, aku mulai bersiap-siap untuk pulang.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya."
"Iya."
"Hati-hati di jalan."
"Terima kasih atas tumpangannya."
Aku masuk ke dalam mobil Civic dan menyalakan mesinnya. Dua hari yang penuh kesan, terasa begitu singkat sekaligus panjang.
Meskipun banyak hal terjadi, aku senang bisa bertemu lagi dengan Asaka setelah sepuluh tahun.
"Sampai jumpa."
Saat aku membuka jendela, Asaka memasukkan wajahnya ke dalam mobil. Aroma manisnya menggelitik rongga hidungku.
"Yu-nii, aku senang sekali."
"Ya, nanti kalau liburan musim panas tiba, kita main lagi ya."
"Iya. Terima kasih karena sudah datang menemuiku. Kalau mengandalkan keberanianku saja, kurasa aku tidak akan pernah berani."
"Kalau begitu, lain kali giliran Asaka yang datang menemuiku ya."
"Iya, pasti."
Asaka menjauhkan wajahnya dengan ekspresi enggan berpisah.
Wajah yang tampak kesepian itu membangkitkan bayangan Asaka di masa kecil. Ekspresi murung setiap kali kami harus berucap selamat tinggal...
Padahal kami toh bisa bertemu lagi besok, tetapi Asaka selalu memasang wajah sedih setiap kali perpisahan tiba.
"Kalau begitu, aku jalan dulu ya."
Aku melajukan mobil dan meninggalkan vila keluarga Gendouji.
"Ah."
Begitu memasuki jalur Tomei, aku baru sadar kalau aku masih mengenakan pakaian ganti yang dipinjamkan oleh Asaka.
Pakaianku sendiri tertinggal di vila keluarga Gendouji.
"...Yah, sudahlah."
Aku bisa mengembalikannya saat kami bertemu lagi nanti.
Mobil melaju membelah jalan tol di malam hari.
Aroma manis Asaka tertinggal memenuhi seluruh isi kabin mobil.
◇
Yu-nii pulang begitu saja tanpa mengganti pakaiannya.
Padahal baru saja aku cuci bersih.
Kemeja, celana panjang, bahkan pakaian dalamnya juga...
"...Hah."
Aroma tubuh Yu-nii memenuhi rongga hidungku.
"Suka."
Aku merasa sangat, sangat bahagia.
Interlude IV | ToC | Epilog





Post a Comment