NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 2 Epilog

Epilog


1

Cuaca yang bagus.

Hari ini pun Gunung Fuji terlihat dengan jelas.

Mengukir cahaya matahari pagi yang menyusup dari langit timur dalam ingatanku, aku mulai membersihkan area teras.

Melihat gunung Fuji yang besar dan menjulang di utara itu selalu berhasil membuat hatiku merasa tenang.

Meskipun aku hanya tinggal di Shounan selama dua hari saja, aku merasa seolah-olah sudah berada di sana hampir dua minggu lamanya.

Itu adalah dua hari yang begitu padat.

Dimulai dari pertemuan kembali yang dramatis (?) dengan Asaka, interaksi kami yang serasa kembali menjadi anak-anak, dan kemudian perpisahan.

Hanya dengan mengingatnya saja tubuhku sudah terasa panas.

Hal lain yang ikut terlintas kembali di benakku adalah kelembutan serta sentuhan kulitnya yang mulus. Serta aroma menawanku yang terus melekat...

Bodoh!

Asaka mempercayaiku, jadi tahu dirilah karena memikirkan hal seperti itu.

Terlebih lagi, merasa memiliki hasrat terhadap adik perempuan sendiri adalah hal yang keterlaluan.

Yah, terlepas dari itu, baguslah kalau Asaka sudah menemukan pegangan hidupnya, tapi apakah aku sanggup mengemban peran itu dengan baik?

Pada akhirnya, masalah "ketakutan akan perubahan" yang dirasakan Asaka belum benar-benar terselesaikan.

 Anak itu pasti masih merasa cemas terhadap perubahan antara dunia kenangan dan dunia nyata.

Tidak seorang pun bisa menghentikan dunia yang terus berubah.

Kenangan hanya bisa untuk Dikenang kembali.

Itulah sebabnya, manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk menikmati masa "sekarang".

Jika ada hal yang bisa kulakukan agar Asaka bisa melangkah maju dan terus hidup, aku akan melakukan apa pun.

Karena dia adalah salah satu adik perempuan kesayanganku.

Hanya saja, aku ingin dia sedikit mengurangi kontak fisik yang berlebihan.

Setelah selesai membersihkan, aku kembali masuk ke dalam kafe.

Pertemuan berikutnya dengan Asaka adalah setelah liburan musim panas dimulai.

Mungkin sekitar dua atau tiga minggu lagi.

Miya, Mahiru, Asaka.

Musim panas yang akan kuhabiskan bersama mereka sudah semakin dekat.

Aku tidak sabar.

 

2

"Panasnya."

Matahari enggan untuk terbenam.

Ia bertahan di langit barat bagaikan seorang pelaku pembunuhan yang sedang didesak oleh detektif. Menyeka keringat di leherku dengan handuk, aku melangkah cepat keluar sekolah.

Selepas jam sekolah, aku mampir ke 〈Moon Night Terrace〉 untuk menyalakan semangat dan motivasiku.

Aku memesan café au lait dan berjalan menuju meja di bagian sudut.

Ujian akhir semester akhirnya akan dilangsungkan pada hari Rabu, Kamis, dan Jumat minggu ini.

Hari ini dan besok adalah saat penentuan.

Meskipun begitu, aku sudah memasukkan sebagian besar materinya ke dalam kepala.

Selama aku berhati-hati terhadap kecerobohan kecil, seharusnya tidak ada masalah.

Meskipun terdengar agak sombong jika dikatakan oleh diri sendiri, aku adalah wanita yang cukup bisa diandalkan.

Yang tersisa sekarang adalah melakukan tinjauan menyeluruh dan bersiap menghadapi ujian yang sebenarnya.

Beberapa saat kemudian, Yuu-nii membawakan café au lait pesananku.

"Eh? Mahiru nggak ikut?"

"Mahiru bilang dia ada urusan sebentar, jadi dia akan datang setelah urusannya selesai."

"Ooh."

"Omong-omong, Yuu-nii, apa Asaka baik-baik saja di sana?"

Bisa bertemu kembali dengan Yuu-nii setelah sekian lama—sepuluh tahun lamanya—terlebih lagi dengan cara yang mengejutkan. Asaka pasti sangat terkejut, dan Yuu-nii juga pasti kaget melihat pertumbuhan Asaka.

Semasa kecil, dia adalah tipe adik perempuan yang manja.

Tapi, mungkin karena didikan di sekolah asrama perempuan terkemuka, sekarang dia memancarkan aura nona muda yang suci dan bersih, menjadikannya yang paling dewasa di antara kami bertiga.

Sebenarnya, aku sengaja menyembunyikan fakta bahwa Asaka telah tumbuh menjadi gadis seperti itu dari Yuu-nii selama ini.

Itu adalah keisenggangan kecilku karena ingin melihat Yuu-nii terkejut dengan kesenjangan pada diri Asaka.

"……Eh, ah, un. Dia baik-baik saja kok."

"?"

Rasanya ada jeda yang aneh barusan.

"Reaksi apa itu?"

"Memangnya kenapa?"

"Kamu ketemu sama Asaka, kan?"

"Ah, iya benar. Dia kelihatan sehat."

"Hih..."

...Gerak-geriknya terasa aneh.

Suaranya datar dan terkesan canggung. Apakah sesuatu terjadi di Shounan?

Bayangan yang tidak menyenangkan melintas di benakku.

Tidak mungkin, Asaka tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh. Dia adalah orang dewasa yang punya akal sehat dan bukan anak kecil lagi.

Bukan seperti Mahiru.

Memang benar sepuluh tahun yang lalu Asaka adalah anak yang paling lengket menempel pada Yuu-nii, tapi sebagai anak SMA, dia pasti tidak akan melakukan hal serupa.

Tapi reaksi Yuu-nii ini...

Membuatku penasaran.

Kucoba pancing dia saja.

"Asaka sama sekali nggak berubah, kan?"

"Yah, si manja itu memang sama sekali nggak berubah."

"Eh?"

"A, ada apa?"

"Nggak berubah... ya?"

"Begitulah, baik penampilan maupun isinya hampir sama persis seperti dulu."

"B, begitu."

"Dalam hal itu, dia sama seperti Mahiru. Nggak ada bedanya dari masa-masa bocah nakal dulu."

"Ahaha."

"—Ah, ya, sebentar lagi datang."

Dipanggil oleh pelanggan lain, Yuu-nii beranjak untuk melayani mereka.

Aku merenungkan kembali percakapan barusan.

Penampilannya maupun isinya...?

Lalu kata "si manja" tadi...

Nggak berubah...

"..."

J, jangan-jangan, kalau dilihat dari reaksi canggung Yuu-nii tadi... jangan-jangan dia bersikap ke Yuu-nii persis seperti saat mereka masih anak-anak!?

Tidak, tidak, tidak, tidak. Itu jelas sudah melewati batas.

Jika diingat kembali, tingkat kemanjaan Asaka di masa kecilnya benar-benar luar biasa.

Aku pernah dengar cerita kalau saat badai dan Yuu-nii tidak bisa pulang sehingga terpaksa menginap di kediaman Gendouji, mereka pernah mandi bersama dan tidur di ranjang yang sama.

Tapi itu karena dia adalah adik kecil yang bermanja-manja kepada kakak laki-lakinya yang bertindak sebagai wali. Jika hal itu dilakukan di usia mereka yang sekarang, sudah pasti mereka akan berurusan dengan penegak hukum.

Yah, tentu saja tidak sampai separah itu sih.

Tapi Asaka yang seperti itu, ya.

Kupikir dia adalah adik perempuan yang bisa diandalkan, tapi rupanya dia bisa kembali menjadi anak kecil saat berada di hadapan Yuu-nii.

"..."

Sejauh apa yang sudah mereka lakukan?

A, aku penasaran.

Meskipun harus berkonsentrasi menghadapi ujian, pikiranku malah teralihkan dan tidak bisa belajar.

Kapasitas otakku terus direbut oleh Asaka dan Yuu-nii.

Ini gawat.

Aku mengeluarkan ponselku dan melangkah keluar toko.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh detik bagi Asaka untuk mengangkat panggilannya.

"Miya-chan?"

"Ah, Asaka?"

"Ada apa?"

"Begini, aku kan tadi ngobrol sama Yuu-nii. Soalnya Yuu-nii baru balik dari sana kemarin."

"Ufufu, begitu ya."

"Dia kelihatannya senang banget bisa ketemu Asaka setelah sekian lama."

"Aku juga senang."

Entah kenapa suara dan cara bicaranya terdengar begitu lembut. Padahal biasanya dia jauh lebih tegas.

"G, gimana? Yuu-nii setelah sepuluh tahun?"

"......Luar biasa."

"Eh?"

Luar biasa?

K, kalimat penuh tafsir apa itu?

Jangan-jangan, hal-hal yang terjadi melebihi apa yang kubayangkan—?

Ah!

Benar juga, mereka berdua kan sudah menjadi pria dan wanita dewasa.

Sepasang pria dan wanita, vila di tepi pantai, dua hari. Jika ini adalah dunia novel percintaan, mustahil jika tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

"Karena dia datang secara tiba-tiba, aku jadi kaget banget."

"Ah, begitu rupanya. Bukan itu maksudku, aku cuma penasaran apa yang kalian berdua lakukan di sana... Maksudku, kita kan sudah dewasa..."




"Kalau kamu nggak usah khawatir yang aneh-aneh. Kami cuma menghabiskan waktu bersama-sama persis seperti waktu masih anak-anak kok."

"Begitu, ya... benar juga, ya."

"Iya, Ayah juga ada di rumah kok, jadi kami bertiga menghabiskan waktu dengan menyenangkan."

"Begitu, ya."

Benar juga.

Asumsi merah jambu yang sempat terlintas di kepalaku sepertinya memang hanya ketakutan belaka.

Bagus deh, bagus.

Setelah itu, kami saling menceritakan kabar masing-masing sebelum akhirnya mengakhiri panggilan telepon.

"Kalau begitu, Asaka, sampai jumpa di liburan musim panas nanti ya."

"Iung, dadah."

"Dadah."

Haduh, rugi sendiri aku tadi sempat merasa khawatir.

Aku kembali masuk ke dalam kafe, lalu membuka buku catatan serta buku latihan soal. Soal-soal itu bisa aku kerjakan dengan lancar di luar dugaanku.

Ujian akhir semester kali ini, aku rasa aku bisa mendapatkan hasil yang cukup bagus.



Final Chapter | ToC | Afterword

0

Post a Comment

close