NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 2 Prolog

Prolog


1

Gendouji Asaka membuka matanya.

Ranjang berukuran king itu terlalu besar untuk ditiduri seorang anak kecil sendirian. Kamarnya pun luas, seolah sebanding dengan besarnya ranjang tersebut.

Teman-temannya, Haruyama Miya dan Ryuuseki Mahiru, sampai sangat terkejut saat pertama kali berkunjung ke sana.

"Huaa."

Dia memakai kacamata yang ada di samping bantalnya, lalu meregangkan tubuh. Liburan musim panas kini sudah mencapai pertengahan.

Sinar matahari pagi yang menyusup dari jendela yang menghadap ke timur terasa menyenangkan. Saat dia mengintip ke luar, sekelilingnya sudah menjadi terang.

Begitu dia selesai bersiap-siap dan keluar dari kamar, seorang nenek pengurus rumah tangga kebetulan datang untuk memanggilnya.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Nona. Sarapan sudah siap."

"Baik, terima kasih."

Setelah bertukar salam yang terasa kaku dan formal, Asaka berjalan menuju ke ruang makan.

Para pekerja di rumahnya memang baik, tapi Asaka yang masih anak-anak pun mengerti bahwa hal itu karena tuntutan pekerjaan.

Jika dia meminta untuk ditemani bermain, mereka pasti akan menurutinya. Lagipula, merawat Asaka juga termasuk dalam pekerjaan mereka.

Namun, hubungan antara Asaka dan para pekerja itu tidak pernah lebih dari sekadar majikan dan pelayan.

Permainan yang dilakukan dengan perhatian terlalu berlebihan terhadap Asaka, justru membuatnya sadar bahwa mereka hanya sedang menjaga perasaannya.

Bagi mereka, menemaninya hanyalah sebuah pekerjaan.

Asaka sangat mengerti akan hal itu.

"Selamat makan."

Asaka lahir dari ayah seorang presiden direktur produsen alat medis ternama 〈Gendouji〉 dan ibu seorang pengacara.

Sebagai anak yang lahir saat orang tuanya sudah berumur, ia memang dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Namun, kedua orang tuanya sedang berada di puncak karier, sehingga jarang berada di rumah.

Dia memiliki dua kakak perempuan yang usianya terpaut jauh. Sayangnya, yang satu telah pindah ke luar negeri, sedangkan yang lainnya sudah menikah dan tinggal jauh dari rumah.

Karena mereka hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, bagi Asaka mereka lebih terasa seperti bibi dari pihak kerabat ketimbang kakak kandungnya sendiri.

Kakek dari pihak ayahnya juga tinggal bersama mereka. Namun, karena usianya yang sudah sangat tua dan mulai menunjukkan gejala demensia, beliau jarang ingin keluar dari kamarnya.

Pada jam segini, mungkin kakeknya bahkan belum bangun.

"Terima kasih atas makanannya."

Dia menyelesaikan makanannya sendirian lalu kembali ke kamar.

Waktu menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Sudah saatnya pergi untuk mengikuti senam radio.

Dia mengalungkan kartu stempel dan memakai topi jeraminya, lalu bergegas berhambur keluar rumah.

"Aku berangkat."

"Hati-hati di jalan, Nona."

Meskipun berada di rumahnya sendiri, entah mengapa Asaka selalu merasa kesepian.

◇

"Hei, hari ini boleh main ke rumah Asaka?"

Tanya Miya.

"Iya, boleh."

Sepulang dari senam radio, mereka mampir ke 〈Moon Night Terrace〉.

Meskipun belum masuk jam buka, mereka diberi izin khusus untuk berada di sana.

Mereka bertiga dengan akrab meminum susu kopi sambil asyik bermain game portabel.

Aritsuki, yang secara harfiah dibangunkan paksa oleh Miya dan Mahiru, tampak mengantuk sambil menyesap jus jeruknya.

"Yuu juga harus ikut, ya."

Saat Asaka memintanya dengan suara manja, Aritsuki mengerjapkan matanya.

"Boleh saja, tapi aku n-ngantuk...."

"Benarkah!?"

Asaka merasa sangat gembira hingga rasanya ingin menari saat itu juga.

Jika Aritsuki bersedia datang ke rumahnya, waktu yang dihabiskannya di sana pasti akan terasa menyenangkan.

"Rumah Asaka itu luar biasa, lho," kata Mahiru.

"Begitu, ya?"

"Ada kolam yang besar, terus di atas kolamnya ada jembatan. Gunung Fuji juga kelihatan jelas dari sana."

"TV-nya juga besar banget. Sebesaaaar ini, lho."

Miya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

"Aku sama sekali nggak kebayang."

"Pokoknya, ayo kita pergi."

Asaka menggenggam tangan Aritsuki dan langsung menariknya.

"Iya, iya. Tapi, hari ini Asaka agresif sekali, ya."

"Cepat, cepat."

"Iya, aku ngerti. Aku mau siap-siap dulu, jadi tunggu sebentar, ya."

Aritsuki berjalan naik ke lantai dua untuk bersiap-siap.

"Cepat dong, Yuu-nii."

"Lari dong, Yuu-nii."

Melihat Miya dan Mahiru melontarkan seruan itu, Asaka bergumam sangat pelan.

"Yuu-ni... Yuu."

"Kamu bilang sesuatu, Asaka?"

Mahiru menoleh ke arahnya.

"B-Bukan apa-apa, kok."

Tak lama kemudian, Aritsuki kembali ke bawah, sehingga mereka bertiga langsung menandaskan susu kopi masing-masing.

 

2

"Uwooh."

Hanya butuh kurang dari dua puluh menit berjalan kaki dari 〈Moon Night Terrace〉.

Aku tanpa sadar menggumamkan suara kekaguman.

Kediaman Gendouji ini berdiri di pertengahan gunung kecil yang agak landai. Lokasinya berada di bagian barat kota.

Rumah besar ini memiliki perpaduan gaya Jepang dan Barat, dengan bagian belakang yang langsung berbatasan dengan area pegunungan.

Ada teras observasi yang menjorok di lereng bukit. Pantas saja, Gunung Fuji sepertinya akan terlihat sangat indah dari sana.

Aku sudah sering mendengar kalau dia berasal dari keluarga kaya, tapi ini memang luar biasa hebat.

Siapa sangka ada rumah mewah yang dibangun di lokasi dengan pemandangan ke seluruh kota di kaki Gunung Fuji ini.

Hanya dengan memandangi deretan bangunan yang terlihat seperti miniatur kota sambil menebak-nebak letak rumahku saja sudah terasa menyenangkan.

"Silakan masuk."

"P-Permisi."

"Permisiii."

Sementara aku melangkah masuk dengan ragu-ragu, dua bocah nakal itu masuk dengan gaya santai seolah sudah hafal seluk-beluk tempat ini.

"Uwooh."

Guci atau lukisan aneh yang biasanya ada di rumah orang kaya dalam manga maupun anime memang tidak terlihat. Namun, dari kualitas barang-barang yang ada, sekadar sepasang sandal tidur saja memancarkan aura 'kami menggunakan barang mahal'.

"Hebat, 'kan?"

Mahiru membusungkan dadanya yang rata.

"Kenapa malah kamu yang sombong?"

"Selamat datang kembali, Nona.... Oh, ada tamu, ya."

Tiba-tiba, seorang wanita tua muncul dari balik sudut lorong.

"Ishikawa, tolong bawakan teh ke kamarku. Ah, Yuu lebih suka kopi, 'kan?"

"Hm, yah, begitulah."

"Kalau begitu, tolong siapkan kopi untuk Yuu."

"Baik, Nona."

Wanita tua yang dipanggil Ishikawa itu melirik sekilas ke arahku. Dia mengulas senyum kecil sebelum akhirnya menghilang ke bagian dalam rumah.

Mungkinkah dia yang namanya pengurus rumah tangga seperti yang sering dibicarakan orang-orang?

"Sebelah sini kamarku."

"Uwooooh."

Ruangan yang luar biasa luas. Ukurannya pasti sekitar dua puluh tatami.

Ranjang berukuran king duduk dengan megah di dekat jendela. Sama seperti yang Miya bilang, TV yang diletakkan di dinding juga sangat besar, mungkin sekitar sembilan puluh inci.

Suhu di kamar ini tidak terlalu dingin maupun terlalu panas. AC-nya berfungsi dengan baik sehingga terasa sangat nyaman.

Lantai kayunya dilapisi oleh karpet bermotif kotak-kotak. Di atasnya, terdapat sebuah meja kaca mungil.

"Uwooooh."

Kalau saja aku bisa menonton DV... eh, main video game di TV sebesar ini.

"Oh ya, Asaka. Ayah atau ibumu ada di rumah? Aku mau memberikan ini."

Ibuku membekaliku sekotak kue kering ala Barat sebagai buah tangan.

Mendengar itu, ekspresi Asaka langsung meredup.

"Ayah sedang di kantor. Ibu belakangan ini juga jarang pulang karena sibuk persiapan si-dang."

"B-Begitu, ya."

Gawat, sepertinya aku baru saja menginjak ranjau.

Orang tuanya pasti sangat sibuk bekerja sampai mereka jarang bisa bertemu.

Aku berusaha keras untuk bersikap ceria dan langsung menimpalinya.

"Kalau begitu, kita makan sama-sama saja, ya?"

"Boleh?"

"Horeee!"

Di samping Miya dan Mahiru yang melompat kegirangan, Asaka kembali memamerkan senyumnya.

"Fiuh."

Aku pun merasa lega.

"Silakan duduk. Ah, Yuu di sebelah sini."

Kami berempat mengelilingi meja kaca kecil tersebut. Asaka langsung duduk tepat di sebelahku.

Pengurus rumah datang membawakan minuman di saat yang tepat, jadi kami pun langsung memulai waktu minum teh.

Setelah itu, kami menonton film dan bermain game di TV yang besar itu.

Meski apa yang kami lakukan tidak berbeda dari biasanya, Asaka terlihat jauh lebih gembira hari ini.

Menjelang siang, mungkin karena kelelahan bermain sejak pagi, tiga bocah nakal itu sudah tertidur nyenyak bersama di atas ranjang yang besar.

Aku juga merasa mengantuk. Namun, mana mungkin aku ikut berbaring di kasur siswi perempuan SD.

Untuk mengusir rasa kantuk, aku meminum sisa kopiku sampai tandas.

Meski begitu, rumah ini benar-benar sangat besar.

Di taman yang terlihat dari jendela, terdapat sebuah kolam. Tepat seperti yang Mahiru katakan, ada sebuah jembatan kecil membentang di atasnya.

Aku bisa melihat seorang paman mengenakan pakaian terusan sedang merawat petak bunga. Mungkin dia adalah tukang kebunnya.

Dari yang kulihat, penghuni di rumah ini hanyalah orang-orang dewasa yang bekerja sebagai pengurus rumah.

Meski tidak benar-benar sendirian, rasanya pasti kesepian jika menjadi satu-satunya anak kecil di rumah seluas ini.

"Yuu."

"Hm?"

Saat aku menoleh, ternyata Asaka sudah bangun dari tidurnya.

"Umm...."

Asaka melirik sekilas ke arah dua temannya yang masih asyik tertidur di ranjang.

"Ada apa?"

Dengan wajah yang tersipu malu, dia meraih dan menggenggam tanganku.

Apakah dia menyuruhku untuk mengikutinya?

Sambil bergandengan tangan dengan Asaka, kami melangkah keluar menuju teras yang sempat kulihat dari luar saat aku baru tiba.

Kami bisa melihat keindahan Gunung Fuji yang besar dari sini.

Pemandangan yang sangat menakjubkan.

"Umm, Yuu."

"Ada apa?"

Aku mengusap kepala Asaka yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Kemudian, aku berjongkok agar pandangan kami bisa sejajar.

Sambil menggeliat dengan gelisah, Asaka berbicara dengan suara yang jauh lebih pelan dari biasanya.

"Umm... apa aku juga boleh memanggilmu Yuu-nii?"

Setelah mengatakan hal itu, Asaka menunduk dalam-dalam dengan wajah yang memerah sepenuhnya.

'Ah, cuma hal seperti itu rupanya,' pikirku sebagai orang dewasa. Tapi bagi gadis kecil ini, dia pasti butuh mengumpulkan keberanian besar hanya untuk bisa mengucapkannya.

Aku kembali mengusap kepala Asaka dengan lembut.

"Tentu saja boleh. Lagi pula, Mahiru sudah memanggilku begitu sejak pertama kali kita bertemu. Aku malah menunggu-nunggu kapan Asaka akan memanggilku seperti itu, lho."

Wajah Asaka langsung kembali berbinar cerah.

"Ehehe, Yuu-nii."

Asaka seketika memelukku erat, dan aku langsung mendekap serta menggendongnya sambil berdiri.

Terbawa oleh embusan angin yang hangat, suara dentang lonceng tanda tengah hari bergema memenuhi udara.



Illustrasi | ToC | Chapter 1

Post a Comment

Post a Comment

close