Prolog
1
Gendouji Asaka membuka matanya.
Ranjang berukuran king itu terlalu besar untuk ditiduri seorang anak
kecil sendirian. Kamarnya pun luas, seolah sebanding dengan besarnya ranjang
tersebut.
Teman-temannya, Haruyama Miya dan Ryuuseki Mahiru, sampai sangat
terkejut saat pertama kali berkunjung ke sana.
"Huaa."
Dia memakai kacamata yang ada di samping bantalnya, lalu meregangkan
tubuh. Liburan musim panas kini sudah mencapai pertengahan.
Sinar matahari pagi yang menyusup dari jendela yang menghadap ke timur
terasa menyenangkan. Saat dia mengintip ke luar, sekelilingnya sudah menjadi
terang.
Begitu dia selesai bersiap-siap dan keluar dari kamar, seorang nenek
pengurus rumah tangga kebetulan datang untuk memanggilnya.
"Selamat
pagi."
"Selamat
pagi, Nona. Sarapan sudah siap."
"Baik,
terima kasih."
Setelah
bertukar salam yang terasa kaku dan formal, Asaka berjalan menuju ke ruang
makan.
Para
pekerja di rumahnya memang baik, tapi Asaka yang masih anak-anak pun mengerti
bahwa hal itu karena tuntutan pekerjaan.
Jika
dia meminta untuk ditemani bermain, mereka pasti akan menurutinya. Lagipula,
merawat Asaka juga termasuk dalam pekerjaan mereka.
Namun,
hubungan antara Asaka dan para pekerja itu tidak pernah lebih dari sekadar
majikan dan pelayan.
Permainan
yang dilakukan dengan perhatian terlalu berlebihan terhadap Asaka, justru
membuatnya sadar bahwa mereka hanya sedang menjaga perasaannya.
Bagi
mereka, menemaninya hanyalah sebuah pekerjaan.
Asaka
sangat mengerti akan hal itu.
"Selamat
makan."
Asaka
lahir dari ayah seorang presiden direktur produsen alat medis ternama 〈Gendouji〉
dan ibu seorang pengacara.
Sebagai
anak yang lahir saat orang tuanya sudah berumur, ia memang dibesarkan dengan
penuh kasih sayang. Namun, kedua orang tuanya sedang berada di puncak karier,
sehingga jarang berada di rumah.
Dia
memiliki dua kakak perempuan yang usianya terpaut jauh. Sayangnya, yang satu
telah pindah ke luar negeri, sedangkan yang lainnya sudah menikah dan tinggal
jauh dari rumah.
Karena
mereka hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, bagi Asaka mereka lebih
terasa seperti bibi dari pihak kerabat ketimbang kakak kandungnya sendiri.
Kakek
dari pihak ayahnya juga tinggal bersama mereka. Namun, karena usianya yang
sudah sangat tua dan mulai menunjukkan gejala demensia, beliau jarang ingin
keluar dari kamarnya.
Pada
jam segini, mungkin kakeknya bahkan belum bangun.
"Terima
kasih atas makanannya."
Dia
menyelesaikan makanannya sendirian lalu kembali ke kamar.
Waktu
menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Sudah saatnya pergi untuk mengikuti
senam radio.
Dia
mengalungkan kartu stempel dan memakai topi jeraminya, lalu bergegas berhambur
keluar rumah.
"Aku berangkat."
"Hati-hati di jalan, Nona."
Meskipun
berada di rumahnya sendiri, entah mengapa Asaka selalu merasa kesepian.
◇
"Hei,
hari ini boleh main ke rumah Asaka?"
Tanya
Miya.
"Iya,
boleh."
Sepulang
dari senam radio, mereka mampir ke 〈Moon
Night Terrace〉.
Meskipun
belum masuk jam buka, mereka diberi izin khusus untuk berada di sana.
Mereka bertiga dengan akrab meminum susu kopi sambil asyik bermain game
portabel.
Aritsuki, yang secara harfiah dibangunkan paksa oleh Miya dan Mahiru,
tampak mengantuk sambil menyesap jus jeruknya.
"Yuu
juga harus ikut, ya."
Saat
Asaka memintanya dengan suara manja, Aritsuki mengerjapkan matanya.
"Boleh
saja, tapi aku n-ngantuk...."
"Benarkah!?"
Asaka
merasa sangat gembira hingga rasanya ingin menari saat itu juga.
Jika
Aritsuki bersedia datang ke rumahnya, waktu yang dihabiskannya di sana pasti
akan terasa menyenangkan.
"Rumah
Asaka itu luar biasa, lho," kata Mahiru.
"Begitu,
ya?"
"Ada
kolam yang besar, terus di atas kolamnya ada jembatan. Gunung Fuji juga
kelihatan jelas dari sana."
"TV-nya juga besar banget. Sebesaaaar ini, lho."
Miya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Aku
sama sekali nggak kebayang."
"Pokoknya,
ayo kita pergi."
Asaka
menggenggam tangan Aritsuki dan langsung menariknya.
"Iya,
iya. Tapi, hari ini Asaka agresif sekali, ya."
"Cepat,
cepat."
"Iya,
aku ngerti. Aku mau siap-siap dulu, jadi tunggu sebentar, ya."
Aritsuki
berjalan naik ke lantai dua untuk bersiap-siap.
"Cepat
dong, Yuu-nii."
"Lari
dong, Yuu-nii."
Melihat
Miya dan Mahiru melontarkan seruan itu, Asaka bergumam sangat pelan.
"Yuu-ni... Yuu."
"Kamu
bilang sesuatu, Asaka?"
Mahiru
menoleh ke arahnya.
"B-Bukan
apa-apa, kok."
Tak
lama kemudian, Aritsuki kembali ke bawah, sehingga mereka bertiga langsung
menandaskan susu kopi masing-masing.
2
"Uwooh."
Hanya
butuh kurang dari dua puluh menit berjalan kaki dari 〈Moon Night Terrace〉.
Aku
tanpa sadar menggumamkan suara kekaguman.
Kediaman Gendouji ini berdiri di pertengahan gunung kecil yang agak
landai. Lokasinya berada di bagian barat kota.
Rumah besar ini memiliki perpaduan gaya Jepang dan Barat, dengan bagian
belakang yang langsung berbatasan dengan area pegunungan.
Ada teras observasi yang menjorok di lereng bukit. Pantas
saja, Gunung Fuji sepertinya akan terlihat sangat indah dari sana.
Aku
sudah sering mendengar kalau dia berasal dari keluarga kaya, tapi ini memang
luar biasa hebat.
Siapa
sangka ada rumah mewah yang dibangun di lokasi dengan pemandangan ke seluruh
kota di kaki Gunung Fuji ini.
Hanya
dengan memandangi deretan bangunan yang terlihat seperti miniatur kota sambil
menebak-nebak letak rumahku saja sudah terasa menyenangkan.
"Silakan
masuk."
"P-Permisi."
"Permisiii."
Sementara
aku melangkah masuk dengan ragu-ragu, dua bocah nakal itu masuk dengan gaya
santai seolah sudah hafal seluk-beluk tempat ini.
"Uwooh."
Guci
atau lukisan aneh yang biasanya ada di rumah orang kaya dalam manga maupun
anime memang tidak terlihat. Namun, dari kualitas barang-barang yang ada,
sekadar sepasang sandal tidur saja memancarkan aura 'kami menggunakan barang
mahal'.
"Hebat,
'kan?"
Mahiru
membusungkan dadanya yang rata.
"Kenapa
malah kamu yang sombong?"
"Selamat
datang kembali, Nona.... Oh, ada tamu, ya."
Tiba-tiba,
seorang wanita tua muncul dari balik sudut lorong.
"Ishikawa,
tolong bawakan teh ke kamarku. Ah, Yuu lebih suka kopi, 'kan?"
"Hm,
yah, begitulah."
"Kalau
begitu, tolong siapkan kopi untuk Yuu."
"Baik,
Nona."
Wanita
tua yang dipanggil Ishikawa itu melirik sekilas ke arahku. Dia mengulas senyum
kecil sebelum akhirnya menghilang ke bagian dalam rumah.
Mungkinkah
dia yang namanya pengurus rumah tangga seperti yang sering dibicarakan
orang-orang?
"Sebelah
sini kamarku."
"Uwooooh."
Ruangan
yang luar biasa luas. Ukurannya pasti sekitar dua puluh tatami.
Ranjang berukuran king duduk dengan megah di dekat jendela. Sama
seperti yang Miya bilang, TV yang diletakkan di dinding juga sangat besar,
mungkin sekitar sembilan puluh inci.
Suhu
di kamar ini tidak terlalu dingin maupun terlalu panas. AC-nya berfungsi dengan
baik sehingga terasa sangat nyaman.
Lantai
kayunya dilapisi oleh karpet bermotif kotak-kotak. Di atasnya, terdapat sebuah
meja kaca mungil.
"Uwooooh."
Kalau
saja aku bisa menonton DV... eh, main video game di TV sebesar ini.
"Oh
ya, Asaka. Ayah atau ibumu ada di rumah? Aku mau memberikan ini."
Ibuku
membekaliku sekotak kue kering ala Barat sebagai buah tangan.
Mendengar itu, ekspresi Asaka langsung meredup.
"Ayah sedang di kantor. Ibu belakangan ini juga jarang pulang
karena sibuk persiapan si-dang."
"B-Begitu, ya."
Gawat, sepertinya aku baru saja menginjak ranjau.
Orang tuanya pasti sangat sibuk bekerja sampai mereka jarang bisa
bertemu.
Aku berusaha keras untuk bersikap ceria dan langsung menimpalinya.
"Kalau
begitu, kita makan sama-sama saja, ya?"
"Boleh?"
"Horeee!"
Di
samping Miya dan Mahiru yang melompat kegirangan, Asaka kembali memamerkan
senyumnya.
"Fiuh."
Aku
pun merasa lega.
"Silakan
duduk. Ah, Yuu di sebelah sini."
Kami berempat mengelilingi meja kaca kecil tersebut. Asaka langsung
duduk tepat di sebelahku.
Pengurus rumah datang membawakan minuman di saat yang tepat, jadi kami
pun langsung memulai waktu minum teh.
Setelah itu, kami menonton film dan bermain game di TV yang besar itu.
Meski apa yang kami lakukan tidak berbeda dari biasanya, Asaka terlihat
jauh lebih gembira hari ini.
Menjelang siang, mungkin karena kelelahan bermain sejak pagi, tiga
bocah nakal itu sudah tertidur nyenyak bersama di atas ranjang yang besar.
Aku juga merasa mengantuk. Namun, mana mungkin aku ikut berbaring di
kasur siswi perempuan SD.
Untuk
mengusir rasa kantuk, aku meminum sisa kopiku sampai tandas.
Meski begitu, rumah ini benar-benar sangat besar.
Di taman yang terlihat dari jendela, terdapat sebuah kolam. Tepat
seperti yang Mahiru katakan, ada sebuah jembatan kecil membentang di atasnya.
Aku bisa melihat seorang paman mengenakan pakaian terusan sedang
merawat petak bunga. Mungkin dia adalah tukang kebunnya.
Dari yang kulihat, penghuni di rumah ini hanyalah orang-orang dewasa
yang bekerja sebagai pengurus rumah.
Meski tidak benar-benar sendirian, rasanya pasti kesepian jika menjadi
satu-satunya anak kecil di rumah seluas ini.
"Yuu."
"Hm?"
Saat aku menoleh, ternyata Asaka sudah bangun dari tidurnya.
"Umm...."
Asaka melirik sekilas ke arah dua temannya yang masih asyik tertidur di
ranjang.
"Ada apa?"
Dengan wajah yang tersipu malu, dia meraih dan menggenggam tanganku.
Apakah
dia menyuruhku untuk mengikutinya?
Sambil
bergandengan tangan dengan Asaka, kami melangkah keluar menuju teras yang
sempat kulihat dari luar saat aku baru tiba.
Kami
bisa melihat keindahan Gunung Fuji yang besar dari sini.
Pemandangan
yang sangat menakjubkan.
"Umm,
Yuu."
"Ada
apa?"
Aku
mengusap kepala Asaka yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Kemudian, aku
berjongkok agar pandangan kami bisa sejajar.
Sambil
menggeliat dengan gelisah, Asaka berbicara dengan suara yang jauh lebih pelan
dari biasanya.
"Umm...
apa aku juga boleh memanggilmu Yuu-nii?"
Setelah
mengatakan hal itu, Asaka menunduk dalam-dalam dengan wajah yang memerah
sepenuhnya.
'Ah,
cuma hal seperti itu rupanya,' pikirku sebagai orang dewasa. Tapi bagi gadis
kecil ini, dia pasti butuh mengumpulkan keberanian besar hanya untuk bisa
mengucapkannya.
Aku
kembali mengusap kepala Asaka dengan lembut.
"Tentu
saja boleh. Lagi pula, Mahiru sudah memanggilku begitu sejak pertama kali kita
bertemu. Aku malah menunggu-nunggu kapan Asaka akan memanggilku seperti itu,
lho."
Wajah
Asaka langsung kembali berbinar cerah.
"Ehehe,
Yuu-nii."
Asaka
seketika memelukku erat, dan aku langsung mendekap serta menggendongnya sambil
berdiri.
Terbawa
oleh embusan angin yang hangat, suara dentang lonceng tanda tengah hari bergema
memenuhi udara.
Illustrasi | ToC | Chapter 1



Post a Comment