Chapter 1
Perasaan Berwarna Merah Scarlet
1
SMA
Swasta Himeyuri.
Sebuah
SMA swasta putri berkonsep asrama penuh yang terletak di bagian barat Prefektur
Kanagawa.
Sekolah
ini merupakan sekolah putri terkemuka yang menjadi tempat berkumpulnya para
nona muda dari keluarga terpandang maupun perusahaan besar dari seluruh penjuru
negeri, sekaligus merupakan sekolah afiliasi dari Universitas Putri Himeyuri.
Tidak
hanya dalam hal akademis, para siswi di sini juga dituntut dan dididik secara
ketat untuk memiliki anggunnya seorang wanita kelas atas—mulai dari
gerak-gerik, penampilan, hingga tata bahasa.
Skala
fasilitas asramanya pun tidak kalah dari hotel mewah.
Selain
setiap siswi mendapatkan kamar pribadi masing-masing, fasilitas pendukung untuk
melepas penat seperti ruang santai, spa, kafetaria, hingga ruang teater juga
sangat lengkap.
Taman
para gadis yang terlarang bagi kaum pria, tempat para gadis cantik dari
berbagai daerah berkumpul dan bersenang-senang bersama—semua itu hanyalah
sebuah fantasi belaka.
Sebab
bagaimanapun cantiknya para nona muda ini, mereka tetaplah gadis-gadis di usia
remaja.
Semakin
ditahan dan dikekang, sudah menjadi kodrat manusia untuk semakin
menginginkannya.
Para
siswi yang berkumpul di ruang santai. Topik pembicaraan mereka yang sudah
terbiasa dengan "kekeringan pria" dalam kehidupan sehari-hari tentu
saja...
"Haaa,
ingin punya pacar, deh."
"Setuju
banget."
"Musim
panas tahun ini harus dapat!"
"Ngomong-ngomong,
Kujou-san, besok hari Sabtu kamu mau datang ke acara jabat tangan kaiser,
kan?"
Kata Himura sambil mengusap rambut panjangnya yang berwarna rami dan
bergelombang.
"Iya. Aku beli lima puluh keping CD, jadi aku bisa high-five
dan pelukan juga."
kaiser adalah grup unit pengisi suara pria muda yang saat ini sedang
naik daun.
"Enaknya, bisa bersentuhan langsung dengan pria sungguhan. Aku
memang nggak tertarik sama pengisi suara, tapi kalau bisa menyentuh tubuh kekar
pria asli, apa aku beli CD-nya juga saja, ya?"
"Lho, Tenryuuji-san, bukannya kamu nggak nonton anime?" tanya
Kujou.
"Aku menonton animenya, tapi nggak tertarik sama pengisi suaranya.
Aku kan spesialis dunia dua dimensi."
"Bukankah itu kontradiktif?"
"Itu hal yang berbeda. Aku memang lebih suka dunia dua
dimensi, tapi kalau ada kesempatan menyentuh pria asli, ya tentu saja
mau."
"Ehh..."
Mulai
dari tenaga pengajar hingga staf umum, SMA Putri Himeyuri ini sepenuhnya
dioperasikan oleh kaum wanita.
Meskipun
hubungan pacaran antara laki-laki dan perempuan tidak dilarang oleh peraturan
sekolah, para siswi yang tidak memiliki lawan jenis di lingkungan sehari-hari
berusaha mencari berbagai celah untuk bisa berkontak dengan pria.
Peraturan
ketat hanya berlaku dalam lingkup pendidikan sekolah saja, sedangkan kehidupan
pribadi mereka tidak begitu mengekang.
Asalkan
menyerahkan surat izin keluar, kegiatan di hari libur pada dasarnya bebas.
"Oh
iya, kalian sudah dengar rumor kalau klub musik ringan mau mengadakan joint
gig bareng klub musik ringan putra SMA Kaien?"
Tiba-tiba
Kujou berbicara dengan suara berbisik.
"Baru dengar, coba ceritakan lebih detail."
Sorot mata Tenryuuji yang mengaku spesialis dua dimensi mendadak
menjadi tajam.
"Mereka
berniat tampil bareng, lalu setelah itu lanjut 'sesi malam' juga, ya?"
Mendengar
detail dari rumor tersebut, raut wajah Himura pun ikut memburu.
"Sebelum
berubah jadi pergaulan bebas yang menyimpang, bagaimana kalau kita laporkan
saja ke komite kedisiplinan?"
Atau
lebih tepatnya, ini sepertinya cuma karena mereka tidak rela disalip oleh siswi
lain.
"Ngomong-ngomong, teknisi yang datang kemarin ganteng banget, kan?
Iya 'kan, Gendouji-san?"
"……Iya, benar sekali, Himura-san."
Saat ditanya, aku—Gendouji Asaka—hanya bisa mengulas senyum canggung.
"Ah,
sebentar lagi kuisnya mulai."
Kujou
menyalakan TV. Tak lama kemudian, anime idola pria yang ditujukan untuk
penonton wanita mulai ditayangkan.
"Kyaaa!"
"Kyaaa!"
"Kyaaa!"
Pria-pria
tampan dari dunia dua dimensi menghiasi layar TV. Mengabaikan sorakan ketiga
temanku, aku hanya bisa menghela napas pelan.
Setelah
selesai menonton anime, kami pun berpisah dan kembali ke kamar masing-masing.
Duduk di kursi dekat jendela sambil memandangi langit malam, bulan yang
indah tampak mengapung di sana.
"..."
Aku merasa tidak puas.
Apa pun yang kulakukan, aku selalu merasa diriku berada satu langkah di
belakang.
Rasanya seperti sedang menonton sebuah pertunjukan panggung sebagai
penonton belaka.
Menonton anime atau mengobrol asyik dengan teman-teman sekolah memang
menyenangkan. Namun, rasa senang itu tidak cukup untuk memenuhi hatiku.
Aku tidak bisa menikmati kehidupan sehari-hari dari lubuk hatiku yang
paling dalam.
Aku
hanya hidup karena rutinitas belaka.
Hanya sekadar hidup karena belum mati.
Sebenarnya demi apa aku hidup dan bersenang-senang?
Pandanganku beralih ke bingkai foto di samping tempat tidur.
Tiga orang gadis kecil termasuk diriku, dan pria yang berdiri di
belakang kami. Meskipun fotonya sudah agak pudar, kenangan di masa itu masih
teringat dengan sangat jelas.
Masa-masa
itu sangat menyenangkan.
Meski
kurun waktunya tidak sampai satu tahun, hari-hari yang kuhabiskan bersama orang
itu—Yuu-nii—adalah harta karunku yang paling berharga.
Setiap hari terasa penuh kejutan dan debaran yang sangat menyenangkan.
Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak Miya-chan memberitahuku bahwa
Yuu-nii telah kembali setelah sepuluh tahun.
Kudengar mereka sempat melakukan permainan tebak-tebakan konyol yang
membuatku tertawa, tapi aku merasa lega mendengar permainan itu sudah berakhir
dengan selamat.
Setiap kali memikirkan Yuu-nii, bagian dalam dadaku terasa hangat
sekaligus sesak secara bersamaan.
Jika
aku pulang ke Shizuoka, di sana ada Yuu-nii.
Dia
yang sangat ingin kutemui, kini berada di tempat yang hanya berjarak kurang
dari satu jam perjalanan...
Kenyataan
itu justru semakin menghimpit hatiku.
Keesokan
paginya, hari Sabtu.
"Ah,
Gendouji-san, matamu merah sekali?"
Tenryuuji
yang duduk di hadapanku saat makan pagi di ruang makan bertanya dengan raut
khawatir.
"Benarkah?"
"Kurang tidur?"
"……Bisa dibilang begitu."
"Kujou-san juga tadi pergi dengan mata setengah terpejam karena
masih mengantuk."
"Ah,
acara pengisi suara itu, ya?"
"Aku
juga baru dapat kabar dari temanku yang mengajak ketemuan setelah sekian lama,
jadi aku mau menginap di luar. Gendouji-san sendiri ada rencana untuk akhir
pekan ini?"
Aku
berpikir sejenak, lalu menjawab,
"……Tidak
ada. Aku berniat santai-santai saja di kamar."
Begitulah
kataku.
2
Menjelang
pukul lima sore, di 〈Moon Night
Terrace〉.
"Ini
teh susunya."
"Makasih."
"Ah,
selamat datang!"
Setelah
meletakkan teh susu, Yuu-nii pergi melayani pelanggan yang baru datang.
"Haaa."
Aku
menghela napas pelan.
Permainan
tebak nama yang berlangsung selama hampir dua setengah bulan telah berakhir
dengan aman, dan aku akhirnya berhasil membuat Yuu-nii menyadari identitasku
yang sebenarnya. Namun, siapa sangka masalah baru justru menghadang di depan
mata...
"Hei,
Yuu-nii."
Aku
mencoba memanggilnya, namun suara tawa pelanggan lain, berita lokal dari TV
yang tertempel di dinding, serta musik latar toko yang terputar pelan
menenggelamkan suaraku sehingga dia tidak menyadarinya.
"Haaa."
Aku
mengalihkan pandanganku dengan hampa ke layar TV. Sepertinya sedang menayangkan
liputan khusus tentang bola voli putri.
‘—dan
kami telah menyusup ke latihan gabungan Kumamoto Empress. Hanayama Koharu dari
Empress ternyata saat masa SMA berada di Fujinomiya Kita—’
Sambil
menonton TV secara sekilas, aku berpikir.
Jika
ini terjadi saat aku masih kecil dulu, aku tidak akan peduli dengan pandangan
orang sekitar dan akan memanggilnya dengan suara keras atau langsung memeluk
Yuu-nii. Tapi kalau aku yang sekarang sudah jadi anak SMA melakukan hal seperti
itu di depan umum, aku cuma akan terlihat seperti orang aneh.
Saat
Yuu-nii berjalan mendekati mejaku, aku memanggilnya sekali lagi.
"N-Nda,
Yuu-nii."
"Kenapa,
mau tambah lagi?"
"Bukan,
kalau ini sudah habis, aku boleh naik ke atas?"
"Boleh
saja."
"Yuu-nii
kapan istirahatnya?"
"Masih
sibuk. Nanti kalau Ibu sudah selesai istirahat, baru kita bergantian."
"Gitu,
ya."
"Nanti
ngobrol lagi, ya."
Setelah
berkata begitu, Yuu-nii kembali melayani pelanggan yang baru saja masuk. Hari
ini tokonya terasa sangat ramai.
Sambil
memandangi Yuu-nii yang bekerja dengan sibuk, aku menghabiskan teh susuku lalu
berjalan naik ke lantai dua.
"Haaa,
harus bagaimana, ya."
Aku
sedang merasa bingung.
Yah,
mungkin ini bukan masalah yang begitu serius, tapi ini juga bukan masalah yang
bisa diselesaikan dengan mudah. Pasalnya, aku tidak bisa bersikap kepada
Yuu-nii seperti saat aku masih kecil dulu.
Diriku
yang sekarang memiliki kepribadian yang lebih tenang dibandingkan saat kecil.
Hal inilah yang justru membawa petaka.
Jika
diingat-ingat kembali, diriku di masa kecil bertindak berdasarkan emosi dan
suasana hati saat itu, sehingga sama sekali tidak sungkan terhadap Yuu-nii.
Aku
sering sekali melakukan kontak fisik yang menempelkan seluruh tubuhku padanya,
bermanja-manja tanpa memikirkan situasi Yuu-nii sama sekali, bahkan terkadang
merepotkannya habis-habisan. Benar-benar berbuat sesuka hati.
Hal
itu bisa dimaklumi karena aku masih anak-anak, dan diriku yang dulu pun tidak
merasa hal itu aneh.
Tentu
saja begitu. Lagipula hubungan kami saat itu adalah hubungan antara orang
dewasa dan anak kecil.
Namun,
setelah sepuluh tahun berlalu dan diriku kini telah matang secara emosional,
tentu saja aku tidak bisa melakukan hal yang sama seperti dulu.
Hubungan
antara orang dewasa dan anak kecil itu telah berakhir.
Sekarang
kami adalah seorang pria dan seorang wanita dewasa.
Sejak
kepulangan Yuu-nii hingga saat ini, aku berinteraksi dengannya sebagai 'gadis
cantik misterius'. Namun saat harus berkomunikasi sebagai Haruyama Miya yang
sebenarnya, aku mendadak bingung harus melakukan apa.
Mahiru
dan yang lainnya terlihat berinteraksi tanpa ada yang berubah dari sepuluh
tahun lalu, tapi dia pasti tahu dan paham batasan yang tidak boleh dilewati...
kan?
Aku iri dengan kelakuan bebasnya itu.
Aku ingin bermanja-manja dan menempel padanya, tapi aku tidak bisa
melakukannya seperti saat masih kecil, dan rasanya juga agak malu.
Saat sedang bingung memikirkan sesuatu, membaca buku adalah pilihan
yang tepat. Perasaan jadi lebih tenang, dan karena otak bekerja dengan cukup
baik, terkadang ide penyelesaian masalah bisa bermunculan.
Sambil duduk di atas tempat tidur, aku mulai membaca novel misteri.
Kamar Yuu-nii memang paling membuat hati tenang.
Ketika waktu menunjukkan lewat pukul enam sore, pemilik kamar tersebut
akhirnya memunculkan wajahnya.
"Akhirnya
bisa istirahat juga."
"Ah,
selamat datang kembali."
Dengan
wajah yang tampak lelah, Yuu-nii masuk ke dalam kamar sambil membawa dua gelas
kopi es.
"Nih."
"Makasih,
kelihatannya sibuk banget, ya."
"Hari
ini entah kenapa pelanggannya ramai sekali."
"Bagus dong kalau begitu."
"Iya sih."
Yuu-nii duduk tanpa beban tepat di sampingku. Padahal aku
sedang bingung memikirkan jarak di antara kami, tapi pria ini sama sekali tidak
memikirkannya.
"..."
"..."
"..."
"..."
Ugh,
percakapannya tidak berlanjut.
Saat
masih kecil dulu, bagaimana cara aku mengobrol dengan Yuu-nii, ya? Atau lebih
tepatnya, aku bahkan tidak tahu harus membicarakan apa terlebih dahulu. Sifat
pemaluku yang memang pada dasarnya tidak pandai berbicara dengan orang lain
justru menjadi penghambat di saat seperti ini. Padahal waktu kecil dulu
seingatku tidak begini, tapi sejak kapan aku berubah menjadi pribadi yang
begitu pemalu?
Aku
memutar otakku secara maksimal, mencari celah untuk memulai percakapan.
"Y-Yuu-nii,
hari ini cuacanya bagus, ya."
"……Ngh?
Iya sih. —Sebentar, kenapa mendadak begitu?"
"Hari ini Gunung Fuji kelihatan indah banget."
"Kalau
cerah kan memang selalu kelihatan."
"Gunununu."
Ah,
astaga! Kenapa malah memotong pembicaraan, sih!
Padahal orang sudah susah payah—
"Ngomong-ngomong, kamu lagi baca apa?"
"Fueh?"
Jantungku berdegup semakin kencang.
Wajah Yuu-nii mendadak menyodorkan wajahnya ke arahku. Tepat di depan
dadaku, ada wajah Yuu-nii...
"N-Novel misteri..."
"Oho, Arisugawa Aris, ya. Apa, kamu juga baca novel
misteri... Maksudku, kamu suka membaca buku!?"
Yuu-nii
menunjukkan ekspresi terkejut yang sangat jelas.
Keterlaluan
sekali!
"Klubku
di sekolah itu Klub Penelitian Misteri, tahu! Aku memang suka membaca. Sejak
Yuu-nii pergi ke Tokyo, aku mulai membaca novel-novel misteri yang ada di kamar
ini, terus jadi ketagihan deh."
Saat
aku menjelaskan alasan bagaimana aku bisa menjadi penggemar novel misteri,
ekspresi Yuu-nii langsung berbinar-binar.
"Begitu
rupanya. Padahal dulu kalau bicara soal buku, kamu cuma tahu manga."
Sambil
berkata demikian, dia menepuk-nepuk punggungku pelan.
"Hiyak!"
Bagian
punggungku yang tersentuh terasa begitu hangat.
Entah
kenapa aku jadi tegang dan keluar keringat dingin.
Apakah
di mata orang ini, aku masih tetap dianggap sebagai bocah nakal?
"Ngomong-ngomong,
antara Alice sang Penulis dan Alice sang Mahasiswa, kamu lebih suka yang
mana?"
"……Umm,
sepertinya Alice sang Mahasiswa, deh. Soalnya susunan logikanya dibangun secara
perlahan, dan cara pembuatan closed circle-nya sangat rapi."
"Aku
paham."
"Secara
pribadi, aku lebih ingin seri Alice sang Mahasiswa yang diadaptasi jadi
dorama."
"Eh,
memangnya pernah ada adaptasi doramanya? Kapan?"
"Sudah
lumayan lama, kok. Yuu-nii nggak tahu?"
"Aduh,
waktu di Tokyo dulu aku sama sekali nggak ada waktu buat nonton TV."
"Ehh..."
Orang ini dulu bekerja di lingkungan yang seperti apa, sih?
"Memang misteri ortodoks itu paling mantap, ya. Suasananya
itu lho, pas banget."
"Misteri
berlatar tempat megah seperti puri atau mansion?"
"Nah,
benar! Mansion misterius dengan gadis cantik yang bernasib malang itu paling
terbaik. Kalau narrative trick menurutmu bagaimana?"
"Sebagai
ending sih boleh-boleh saja, tapi kalau di sampul bukunya sudah
dibocorkan 'Ini adalah karya dengan trik narasi', rasanya jadi malas membaca.
Seperti tulisan 'Plot twist tak terduga' atau 'Anda pasti akan tertipu'."
"Memang
benar. Novel dengan trik narasi yang sudah ketahuan dari awal itu hal yang
paling membosankan."
"Harusnya
diberikan sebagai kejutan tanpa pemberitahuan, ya."
"Kalau begitu, kalau inverted detective story—"
Lho?
Aku terkejut melihat diriku sendiri yang bisa berbicara dengan sangat
lancar, seolah rasa cemas tadi hanyalah bohong belaka. Saat berada di samping
pria ini, rasa cemas itu sendiri mendadak lenyap bagaikan es yang dilemparkan
ke dalam air panas.
Hati terasa tenang sekaligus gembira secara bersamaan.
Sebuah perasaan yang sangat misterius.
"Hmm, aku sama sekali nggak menyangka hari di mana aku bisa diskusi
soal novel misteri bersamamu bakal datang. Lagipula, di dekatku nggak ada orang
yang bisa diajak diskusi soal misteri, jadi ini terasa segar banget."
Setelah berkata demikian, wajah Yuu-nii mengulas senyum lebar.
"Begitu, ya... Hehe."
Melihat senyuman itu, aku baru menyadari bahwa aku sedang berada di
kursi yang sangat istimewa.
Meskipun aku tidak bisa bersikap persis seperti dulu lagi, namun
kenyamanan saat menghabiskan waktu bersamamu masih tetap sama seperti masa-masa
itu.
3
Suara hujan yang deras terus terdengar tanpa henti.
"Akhirnya
masuk musim hujan juga, ya."
Ibu berkata sambil memandang ke luar jendela dengan tatapan muram.
Langit berwarna abu-abu gelap melapisi seluruh angkasa dengan berat.
Tetesan air hujan yang tak terhitung jumlahnya menghantam permukaan aspal.
Sejak pagi hujan turun rintik-rintik tanpa henti, tetapi lewat tengah
hari curah hujannya semakin lebat.
Meskipun demikian, jumlah pelanggan tidak berkurang, sehingga sama
sekali tidak ada pengaruhnya terhadap operasional 〈Moon Night Terrace〉.
Baguslah kalau hal itu tidak memengaruhi pekerjaan, tapi turun hujan
membuat kegiatan di luar rumah terasa sangat merepotkan.
Mungkin akan lebih baik jika aku punya mobil, tapi aku tidak punya
kendaraan pribadi.
Semasa di Tokyo, aku mengendarai mobil perusahaan untuk bekerja,
sedangkan untuk keperluan lain aku biasanya berjalan kaki atau naik kereta.
Lagipula, aku tidak punya waktu luang untuk bepergian menggunakan mobil
saat hari libur. Hari libur biasanya kuhabiskan dengan tidur dari pagi sampai
malam demi melunasi utang tidur selama hari kerja.
Namun,
aku kan sudah menginjak usia kepala tiga. Sepertinya
memiliki mobil sendiri bukan ide yang buruk.
Khususnya di daerah pedesaan, tanpa mobil sering kali terasa
merepotkan.
Tabunganku juga lumayan cukup, jadi mungkin aku akan membulatkan tekad
untuk membeli mobil.
Ayahku
sangat suka mobil, jadi nanti aku akan coba bertanya padanya. Sambil memikirkan hal semacam itu, aku bekerja dengan tekun hari ini.
Lewat pukul tujuh, Mahiru datang sepulang dari kegiatan klub, jadi aku
menyuruhnya naik ke kamar.
Dia masih mengenakan pakaian jersey olahraganya yang biasa, tapi
mungkin karena hujan, sedikit bagian rambut dan bajunya tampak basah.
Aroma deodoran, aroma khas Mahiru, dan sedikit bau keringat bercampur
menjadi satu, menciptakan wangi yang membuat pusing kepala――tunggu, apa aku ini
seorang hentai?
"Ada
apa, Yuu-nii?"
"Bukannya
apa-apa?"
Rambut
basah itu memiliki pesona emosional tersendiri yang membuat dada terasa
berdegup.
Walaupun
rasanya menyebalkan karena aku malah merasa terpikat oleh sisi feminin Mahiru.
"A-Apa
aku bau keringat? Maaf ya, akhir-akhir ini udaranya mulai terasa pengap."
Mahiru mundur selangkah dengan ekspresi panik.
"Tidak, tidak, tidak kok."
Suara hujan terdengar sedikit menjauh.
Kami duduk berdampingan di hadapan meja.
"Ngomong-ngomong, sebentar lagi ulang tahun Miya, ya," kata
Mahiru.
Ulang tahun Miya adalah tanggal 25 Juni. Tinggal dua minggu lebih
sedikit.
"Oh iya, ya. Waktu itu aku pernah memberinya jepit rambut bentuk
hati, kan?"
"Berani sekali menyebut sepuluh tahun lalu sebagai 'waktu itu',
ya. Tapi ya sudahlah, untung saja sempat terkejar sebelum hari ulang
tahunnya."
"Memangnya apa yang terkejar?"
"Ya apa lagi, kalau bukan menyadari identitas Miya. Kalau sampai
hari ulang tahunnya datang tapi Yuu-nii masih belum sadar juga, kasihan banget
anak itu."
"Ugh... Memang benar, bisa menyadarinya juga berkat kebetulan,
jadi masa depan seperti itu sangat mungkin terjadi."
"Kalau sampai hal itu terjadi, kurasa aku yang bakal
membocorkannya."
Jika dipikir-pikir kembali, Miya sebenarnya sudah memberikan petunjuk
berupa hari ulang tahunnya itu.
Padahal
seharusnya aku menyadari kebenarannya sejak saat itu. Padahal itu adalah
petunjuk yang paling terang-terangan.
"Kira-kira
apa ya yang bagus untuk kado? Mahiru sudah memutuskan mau beri apa?"
Mahiru
mengusap gelang di pergelangan tangan kirinya, lalu menjawab,
"Aku
juga belum memutuskan... Tahun lalu aku memberinya pakaian, sih."
Kira-kira
kado apa yang cocok diberikan kepada anak gadis seusia mereka?
Karena
aku sama sekali tidak pernah punya pacar, pengetahuan mengenai hal semacam itu
sangat minim.
Yah,
masih ada waktu dua minggu lagi. Aku bisa memikirkannya perlahan-lahan.
"Omong-omong,
kenapa kamar ini panas banget, ya?"
Mahiru
membuka ritsleting jersey-nya dan mengibas-ngibaskan tangan untuk
mendinginkan tubuhnya.
"Karena
ruangannya tertutup rapat, sih."
Bahkan
setelah sepuluh tahun berlalu, kamarku tetap tidak memiliki AC.
Ditambah
dengan jendela yang harus ditutup rapat karena hujan serta kelembapan musim
hujan yang pekat, ruangan ini terasa seperti sauna mini.
Mahiru
membuka jendela sedikit.
"Sebentar
lagi hujannya reda, kali, ya... Ah, ternyata masih agak gerimis."
"Kata
ramalan cuaca, hujannya bakal turun sampai menjelang subuh besok――o-oi,
Mahiru."
Melihat
Mahiru yang berbalik, aku tertegun sampai tidak bisa berkata-kata.
"Hmm?"
Pakaian
latihan berwarna putih di balik jersey miliknya.
Sesuatu
yang tersembul di baliknya adalah kain berwarna hijau yang menopang dada besar
Mahiru secara brutal.
"K-Kau..."
Pakaian
dalamnya tampak tembus pandang karena basah oleh keringat.
Entah
karena ukurannya yang terlalu besar atau karena bajunya basah, bentuk renda
pakaian dalamnya bahkan terlihat jelas.
Dua
bulatan besar berwarna hijau muda. Itu benar-benar tampak seperti buah melon...
"Cepat sembunyikan!"
Apa yang sebenarnya sedang kupikirkan ini?
Kenapa
aku malah berdebar-debar karena Mahiru.
Dia
ini Mahiru, dia ini Mahiru, dia ini Mahiru...
Meskipun
aku sudah memalingkan wajah, bayangan dari sepasang bukit kembar itu sudah
telanjur tercetak jelas di balik kelopak mataku.
"Eh?
Ah!"
Mahiru
sepertinya juga baru menyadarinya.
"Dasar
hentai."
Mahiru
menatapku tajam dengan mata setengah tertutup.
"M-Maaf."
Untuk
kali ini sebenarnya aku tidak berbuat apa-apa, tapi aku tetap meminta maaf
saja.
"Sungguh
deh."
Seolah-olah
tidak terjadi apa-apa, Mahiru kembali duduk di posisi semula.
Dia
menarik ujung pakaian latihannya dan mengibas-ngibaskannya untuk memasukkan
udara ke bagian dalam baju.
"..."
"..."
"Bukannya
malah dinaikin ritsletingnya!"
"Eh?"
4
Aku
sangat menyukai hujan.
Terutama
hujan deras yang turun bagaikan ditumpahkan dari ember seperti hari ini.
Setelah
selesai bersiap-siap untuk tidur, aku meletakkan kacamata di samping bantal dan
merebahkan diri di atas ranjang.
"Haaa."
Dengan
meringkuk di dalam selimut dan mendengarkan suara hujan deras, aku bisa
mengenang malam itu dengan jauh lebih jelas, dan itulah sebabnya aku
menyukainya.
Malam penuh badai saat kami tidur sambil saling berpelukan. Tangan
besar pria itu mendekapku dengan hangat.
Di antara sekian banyak kenangan yang kumiliki, malam badai itulah
salah satu yang paling berkilau.
Mandi bersama, makan bersama, bermain sampai mengantuk, dan kemudian――
Sambil mengenang kehangatan orang itu pada saat tersebut, aku
memejamkan mataku.
"Yuu-nii."
Prolog | ToC | Interlude I




Post a Comment