NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Perasaan Berwarna Merah Scarlet


1

SMA Swasta Himeyuri.

Sebuah SMA swasta putri berkonsep asrama penuh yang terletak di bagian barat Prefektur Kanagawa.

Sekolah ini merupakan sekolah putri terkemuka yang menjadi tempat berkumpulnya para nona muda dari keluarga terpandang maupun perusahaan besar dari seluruh penjuru negeri, sekaligus merupakan sekolah afiliasi dari Universitas Putri Himeyuri.

Tidak hanya dalam hal akademis, para siswi di sini juga dituntut dan dididik secara ketat untuk memiliki anggunnya seorang wanita kelas atas—mulai dari gerak-gerik, penampilan, hingga tata bahasa.

Skala fasilitas asramanya pun tidak kalah dari hotel mewah.

Selain setiap siswi mendapatkan kamar pribadi masing-masing, fasilitas pendukung untuk melepas penat seperti ruang santai, spa, kafetaria, hingga ruang teater juga sangat lengkap.

Taman para gadis yang terlarang bagi kaum pria, tempat para gadis cantik dari berbagai daerah berkumpul dan bersenang-senang bersama—semua itu hanyalah sebuah fantasi belaka.

Sebab bagaimanapun cantiknya para nona muda ini, mereka tetaplah gadis-gadis di usia remaja.

Semakin ditahan dan dikekang, sudah menjadi kodrat manusia untuk semakin menginginkannya.

Para siswi yang berkumpul di ruang santai. Topik pembicaraan mereka yang sudah terbiasa dengan "kekeringan pria" dalam kehidupan sehari-hari tentu saja...

"Haaa, ingin punya pacar, deh."

"Setuju banget."

"Musim panas tahun ini harus dapat!"

"Ngomong-ngomong, Kujou-san, besok hari Sabtu kamu mau datang ke acara jabat tangan kaiser, kan?"

Kata Himura sambil mengusap rambut panjangnya yang berwarna rami dan bergelombang.

"Iya. Aku beli lima puluh keping CD, jadi aku bisa high-five dan pelukan juga."

kaiser adalah grup unit pengisi suara pria muda yang saat ini sedang naik daun.

"Enaknya, bisa bersentuhan langsung dengan pria sungguhan. Aku memang nggak tertarik sama pengisi suara, tapi kalau bisa menyentuh tubuh kekar pria asli, apa aku beli CD-nya juga saja, ya?"

"Lho, Tenryuuji-san, bukannya kamu nggak nonton anime?" tanya Kujou.

"Aku menonton animenya, tapi nggak tertarik sama pengisi suaranya. Aku kan spesialis dunia dua dimensi."

"Bukankah itu kontradiktif?"

"Itu hal yang berbeda. Aku memang lebih suka dunia dua dimensi, tapi kalau ada kesempatan menyentuh pria asli, ya tentu saja mau."

"Ehh..."

Mulai dari tenaga pengajar hingga staf umum, SMA Putri Himeyuri ini sepenuhnya dioperasikan oleh kaum wanita.

Meskipun hubungan pacaran antara laki-laki dan perempuan tidak dilarang oleh peraturan sekolah, para siswi yang tidak memiliki lawan jenis di lingkungan sehari-hari berusaha mencari berbagai celah untuk bisa berkontak dengan pria.

Peraturan ketat hanya berlaku dalam lingkup pendidikan sekolah saja, sedangkan kehidupan pribadi mereka tidak begitu mengekang.

Asalkan menyerahkan surat izin keluar, kegiatan di hari libur pada dasarnya bebas.

"Oh iya, kalian sudah dengar rumor kalau klub musik ringan mau mengadakan joint gig bareng klub musik ringan putra SMA Kaien?"

Tiba-tiba Kujou berbicara dengan suara berbisik.

"Baru dengar, coba ceritakan lebih detail."

Sorot mata Tenryuuji yang mengaku spesialis dua dimensi mendadak menjadi tajam.

"Mereka berniat tampil bareng, lalu setelah itu lanjut 'sesi malam' juga, ya?"

Mendengar detail dari rumor tersebut, raut wajah Himura pun ikut memburu.

"Sebelum berubah jadi pergaulan bebas yang menyimpang, bagaimana kalau kita laporkan saja ke komite kedisiplinan?"

Atau lebih tepatnya, ini sepertinya cuma karena mereka tidak rela disalip oleh siswi lain.

"Ngomong-ngomong, teknisi yang datang kemarin ganteng banget, kan? Iya 'kan, Gendouji-san?"

"……Iya, benar sekali, Himura-san."

Saat ditanya, aku—Gendouji Asaka—hanya bisa mengulas senyum canggung.

"Ah, sebentar lagi kuisnya mulai."

Kujou menyalakan TV. Tak lama kemudian, anime idola pria yang ditujukan untuk penonton wanita mulai ditayangkan.

"Kyaaa!"

"Kyaaa!"

"Kyaaa!"

Pria-pria tampan dari dunia dua dimensi menghiasi layar TV. Mengabaikan sorakan ketiga temanku, aku hanya bisa menghela napas pelan.

Setelah selesai menonton anime, kami pun berpisah dan kembali ke kamar masing-masing.

Duduk di kursi dekat jendela sambil memandangi langit malam, bulan yang indah tampak mengapung di sana.

"..."

Aku merasa tidak puas.

Apa pun yang kulakukan, aku selalu merasa diriku berada satu langkah di belakang.

Rasanya seperti sedang menonton sebuah pertunjukan panggung sebagai penonton belaka.

Menonton anime atau mengobrol asyik dengan teman-teman sekolah memang menyenangkan. Namun, rasa senang itu tidak cukup untuk memenuhi hatiku.

Aku tidak bisa menikmati kehidupan sehari-hari dari lubuk hatiku yang paling dalam.

Aku hanya hidup karena rutinitas belaka.

Hanya sekadar hidup karena belum mati.

Sebenarnya demi apa aku hidup dan bersenang-senang?

Pandanganku beralih ke bingkai foto di samping tempat tidur.

Tiga orang gadis kecil termasuk diriku, dan pria yang berdiri di belakang kami. Meskipun fotonya sudah agak pudar, kenangan di masa itu masih teringat dengan sangat jelas.

Masa-masa itu sangat menyenangkan.

Meski kurun waktunya tidak sampai satu tahun, hari-hari yang kuhabiskan bersama orang itu—Yuu-nii—adalah harta karunku yang paling berharga.

Setiap hari terasa penuh kejutan dan debaran yang sangat menyenangkan.

Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak Miya-chan memberitahuku bahwa Yuu-nii telah kembali setelah sepuluh tahun.

Kudengar mereka sempat melakukan permainan tebak-tebakan konyol yang membuatku tertawa, tapi aku merasa lega mendengar permainan itu sudah berakhir dengan selamat.

Setiap kali memikirkan Yuu-nii, bagian dalam dadaku terasa hangat sekaligus sesak secara bersamaan.

Jika aku pulang ke Shizuoka, di sana ada Yuu-nii.

Dia yang sangat ingin kutemui, kini berada di tempat yang hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan...

Kenyataan itu justru semakin menghimpit hatiku.

Keesokan paginya, hari Sabtu.

"Ah, Gendouji-san, matamu merah sekali?"

Tenryuuji yang duduk di hadapanku saat makan pagi di ruang makan bertanya dengan raut khawatir.

"Benarkah?"

"Kurang tidur?"

"……Bisa dibilang begitu."

"Kujou-san juga tadi pergi dengan mata setengah terpejam karena masih mengantuk."

"Ah, acara pengisi suara itu, ya?"

"Aku juga baru dapat kabar dari temanku yang mengajak ketemuan setelah sekian lama, jadi aku mau menginap di luar. Gendouji-san sendiri ada rencana untuk akhir pekan ini?"

Aku berpikir sejenak, lalu menjawab,

"……Tidak ada. Aku berniat santai-santai saja di kamar."

Begitulah kataku.

 

2

Menjelang pukul lima sore, di 〈Moon Night Terrace〉.

"Ini teh susunya."

"Makasih."

"Ah, selamat datang!"

Setelah meletakkan teh susu, Yuu-nii pergi melayani pelanggan yang baru datang.

"Haaa."

Aku menghela napas pelan.

Permainan tebak nama yang berlangsung selama hampir dua setengah bulan telah berakhir dengan aman, dan aku akhirnya berhasil membuat Yuu-nii menyadari identitasku yang sebenarnya. Namun, siapa sangka masalah baru justru menghadang di depan mata...

"Hei, Yuu-nii."

Aku mencoba memanggilnya, namun suara tawa pelanggan lain, berita lokal dari TV yang tertempel di dinding, serta musik latar toko yang terputar pelan menenggelamkan suaraku sehingga dia tidak menyadarinya.

"Haaa."

Aku mengalihkan pandanganku dengan hampa ke layar TV. Sepertinya sedang menayangkan liputan khusus tentang bola voli putri.

‘—dan kami telah menyusup ke latihan gabungan Kumamoto Empress. Hanayama Koharu dari Empress ternyata saat masa SMA berada di Fujinomiya Kita—’

Sambil menonton TV secara sekilas, aku berpikir.

Jika ini terjadi saat aku masih kecil dulu, aku tidak akan peduli dengan pandangan orang sekitar dan akan memanggilnya dengan suara keras atau langsung memeluk Yuu-nii. Tapi kalau aku yang sekarang sudah jadi anak SMA melakukan hal seperti itu di depan umum, aku cuma akan terlihat seperti orang aneh.

Saat Yuu-nii berjalan mendekati mejaku, aku memanggilnya sekali lagi.

"N-Nda, Yuu-nii."

"Kenapa, mau tambah lagi?"

"Bukan, kalau ini sudah habis, aku boleh naik ke atas?"

"Boleh saja."

"Yuu-nii kapan istirahatnya?"

"Masih sibuk. Nanti kalau Ibu sudah selesai istirahat, baru kita bergantian."

"Gitu, ya."

"Nanti ngobrol lagi, ya."

Setelah berkata begitu, Yuu-nii kembali melayani pelanggan yang baru saja masuk. Hari ini tokonya terasa sangat ramai.

Sambil memandangi Yuu-nii yang bekerja dengan sibuk, aku menghabiskan teh susuku lalu berjalan naik ke lantai dua.

"Haaa, harus bagaimana, ya."

Aku sedang merasa bingung.

Yah, mungkin ini bukan masalah yang begitu serius, tapi ini juga bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah. Pasalnya, aku tidak bisa bersikap kepada Yuu-nii seperti saat aku masih kecil dulu.

Diriku yang sekarang memiliki kepribadian yang lebih tenang dibandingkan saat kecil. Hal inilah yang justru membawa petaka.

Jika diingat-ingat kembali, diriku di masa kecil bertindak berdasarkan emosi dan suasana hati saat itu, sehingga sama sekali tidak sungkan terhadap Yuu-nii.

Aku sering sekali melakukan kontak fisik yang menempelkan seluruh tubuhku padanya, bermanja-manja tanpa memikirkan situasi Yuu-nii sama sekali, bahkan terkadang merepotkannya habis-habisan. Benar-benar berbuat sesuka hati.

Hal itu bisa dimaklumi karena aku masih anak-anak, dan diriku yang dulu pun tidak merasa hal itu aneh.

Tentu saja begitu. Lagipula hubungan kami saat itu adalah hubungan antara orang dewasa dan anak kecil.

Namun, setelah sepuluh tahun berlalu dan diriku kini telah matang secara emosional, tentu saja aku tidak bisa melakukan hal yang sama seperti dulu.

Hubungan antara orang dewasa dan anak kecil itu telah berakhir.

Sekarang kami adalah seorang pria dan seorang wanita dewasa.

Sejak kepulangan Yuu-nii hingga saat ini, aku berinteraksi dengannya sebagai 'gadis cantik misterius'. Namun saat harus berkomunikasi sebagai Haruyama Miya yang sebenarnya, aku mendadak bingung harus melakukan apa.

Mahiru dan yang lainnya terlihat berinteraksi tanpa ada yang berubah dari sepuluh tahun lalu, tapi dia pasti tahu dan paham batasan yang tidak boleh dilewati... kan?

Aku iri dengan kelakuan bebasnya itu.

Aku ingin bermanja-manja dan menempel padanya, tapi aku tidak bisa melakukannya seperti saat masih kecil, dan rasanya juga agak malu.

Saat sedang bingung memikirkan sesuatu, membaca buku adalah pilihan yang tepat. Perasaan jadi lebih tenang, dan karena otak bekerja dengan cukup baik, terkadang ide penyelesaian masalah bisa bermunculan.

Sambil duduk di atas tempat tidur, aku mulai membaca novel misteri.

Kamar Yuu-nii memang paling membuat hati tenang.

Ketika waktu menunjukkan lewat pukul enam sore, pemilik kamar tersebut akhirnya memunculkan wajahnya.

"Akhirnya bisa istirahat juga."

"Ah, selamat datang kembali."

Dengan wajah yang tampak lelah, Yuu-nii masuk ke dalam kamar sambil membawa dua gelas kopi es.

"Nih."

"Makasih, kelihatannya sibuk banget, ya."

"Hari ini entah kenapa pelanggannya ramai sekali."

"Bagus dong kalau begitu."

"Iya sih."

Yuu-nii duduk tanpa beban tepat di sampingku. Padahal aku sedang bingung memikirkan jarak di antara kami, tapi pria ini sama sekali tidak memikirkannya.

"..."

"..."

"..."

"..."

Ugh, percakapannya tidak berlanjut.

Saat masih kecil dulu, bagaimana cara aku mengobrol dengan Yuu-nii, ya? Atau lebih tepatnya, aku bahkan tidak tahu harus membicarakan apa terlebih dahulu. Sifat pemaluku yang memang pada dasarnya tidak pandai berbicara dengan orang lain justru menjadi penghambat di saat seperti ini. Padahal waktu kecil dulu seingatku tidak begini, tapi sejak kapan aku berubah menjadi pribadi yang begitu pemalu?

Aku memutar otakku secara maksimal, mencari celah untuk memulai percakapan.

"Y-Yuu-nii, hari ini cuacanya bagus, ya."

"……Ngh? Iya sih. —Sebentar, kenapa mendadak begitu?"

"Hari ini Gunung Fuji kelihatan indah banget."

"Kalau cerah kan memang selalu kelihatan."

"Gunununu."

Ah, astaga! Kenapa malah memotong pembicaraan, sih!

Padahal orang sudah susah payah—

"Ngomong-ngomong, kamu lagi baca apa?"

"Fueh?"

Jantungku berdegup semakin kencang.

Wajah Yuu-nii mendadak menyodorkan wajahnya ke arahku. Tepat di depan dadaku, ada wajah Yuu-nii...

"N-Novel misteri..."

"Oho, Arisugawa Aris, ya. Apa, kamu juga baca novel misteri... Maksudku, kamu suka membaca buku!?"

Yuu-nii menunjukkan ekspresi terkejut yang sangat jelas.

Keterlaluan sekali!

"Klubku di sekolah itu Klub Penelitian Misteri, tahu! Aku memang suka membaca. Sejak Yuu-nii pergi ke Tokyo, aku mulai membaca novel-novel misteri yang ada di kamar ini, terus jadi ketagihan deh."

Saat aku menjelaskan alasan bagaimana aku bisa menjadi penggemar novel misteri, ekspresi Yuu-nii langsung berbinar-binar.

"Begitu rupanya. Padahal dulu kalau bicara soal buku, kamu cuma tahu manga."

Sambil berkata demikian, dia menepuk-nepuk punggungku pelan.

"Hiyak!"

Bagian punggungku yang tersentuh terasa begitu hangat.

Entah kenapa aku jadi tegang dan keluar keringat dingin.

Apakah di mata orang ini, aku masih tetap dianggap sebagai bocah nakal?

"Ngomong-ngomong, antara Alice sang Penulis dan Alice sang Mahasiswa, kamu lebih suka yang mana?"

"……Umm, sepertinya Alice sang Mahasiswa, deh. Soalnya susunan logikanya dibangun secara perlahan, dan cara pembuatan closed circle-nya sangat rapi."

"Aku paham."

"Secara pribadi, aku lebih ingin seri Alice sang Mahasiswa yang diadaptasi jadi dorama."

"Eh, memangnya pernah ada adaptasi doramanya? Kapan?"

"Sudah lumayan lama, kok. Yuu-nii nggak tahu?"

"Aduh, waktu di Tokyo dulu aku sama sekali nggak ada waktu buat nonton TV."

"Ehh..."

Orang ini dulu bekerja di lingkungan yang seperti apa, sih?

"Memang misteri ortodoks itu paling mantap, ya. Suasananya itu lho, pas banget."

"Misteri berlatar tempat megah seperti puri atau mansion?"

"Nah, benar! Mansion misterius dengan gadis cantik yang bernasib malang itu paling terbaik. Kalau narrative trick menurutmu bagaimana?"

"Sebagai ending sih boleh-boleh saja, tapi kalau di sampul bukunya sudah dibocorkan 'Ini adalah karya dengan trik narasi', rasanya jadi malas membaca. Seperti tulisan 'Plot twist tak terduga' atau 'Anda pasti akan tertipu'."

"Memang benar. Novel dengan trik narasi yang sudah ketahuan dari awal itu hal yang paling membosankan."

"Harusnya diberikan sebagai kejutan tanpa pemberitahuan, ya."

"Kalau begitu, kalau inverted detective story—"

Lho?

Aku terkejut melihat diriku sendiri yang bisa berbicara dengan sangat lancar, seolah rasa cemas tadi hanyalah bohong belaka. Saat berada di samping pria ini, rasa cemas itu sendiri mendadak lenyap bagaikan es yang dilemparkan ke dalam air panas.

Hati terasa tenang sekaligus gembira secara bersamaan.

Sebuah perasaan yang sangat misterius.

"Hmm, aku sama sekali nggak menyangka hari di mana aku bisa diskusi soal novel misteri bersamamu bakal datang. Lagipula, di dekatku nggak ada orang yang bisa diajak diskusi soal misteri, jadi ini terasa segar banget."

Setelah berkata demikian, wajah Yuu-nii mengulas senyum lebar.

"Begitu, ya... Hehe."

Melihat senyuman itu, aku baru menyadari bahwa aku sedang berada di kursi yang sangat istimewa.

Meskipun aku tidak bisa bersikap persis seperti dulu lagi, namun kenyamanan saat menghabiskan waktu bersamamu masih tetap sama seperti masa-masa itu.

 

3

Suara hujan yang deras terus terdengar tanpa henti.

"Akhirnya masuk musim hujan juga, ya."

Ibu berkata sambil memandang ke luar jendela dengan tatapan muram.

Langit berwarna abu-abu gelap melapisi seluruh angkasa dengan berat. Tetesan air hujan yang tak terhitung jumlahnya menghantam permukaan aspal.




Sejak pagi hujan turun rintik-rintik tanpa henti, tetapi lewat tengah hari curah hujannya semakin lebat.

Meskipun demikian, jumlah pelanggan tidak berkurang, sehingga sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap operasional 〈Moon Night Terrace〉.

Baguslah kalau hal itu tidak memengaruhi pekerjaan, tapi turun hujan membuat kegiatan di luar rumah terasa sangat merepotkan.

Mungkin akan lebih baik jika aku punya mobil, tapi aku tidak punya kendaraan pribadi.

Semasa di Tokyo, aku mengendarai mobil perusahaan untuk bekerja, sedangkan untuk keperluan lain aku biasanya berjalan kaki atau naik kereta.

Lagipula, aku tidak punya waktu luang untuk bepergian menggunakan mobil saat hari libur. Hari libur biasanya kuhabiskan dengan tidur dari pagi sampai malam demi melunasi utang tidur selama hari kerja.

Namun, aku kan sudah menginjak usia kepala tiga. Sepertinya memiliki mobil sendiri bukan ide yang buruk.

Khususnya di daerah pedesaan, tanpa mobil sering kali terasa merepotkan.

Tabunganku juga lumayan cukup, jadi mungkin aku akan membulatkan tekad untuk membeli mobil.

Ayahku sangat suka mobil, jadi nanti aku akan coba bertanya padanya. Sambil memikirkan hal semacam itu, aku bekerja dengan tekun hari ini.

Lewat pukul tujuh, Mahiru datang sepulang dari kegiatan klub, jadi aku menyuruhnya naik ke kamar.

Dia masih mengenakan pakaian jersey olahraganya yang biasa, tapi mungkin karena hujan, sedikit bagian rambut dan bajunya tampak basah.

Aroma deodoran, aroma khas Mahiru, dan sedikit bau keringat bercampur menjadi satu, menciptakan wangi yang membuat pusing kepala――tunggu, apa aku ini seorang hentai?

"Ada apa, Yuu-nii?"

"Bukannya apa-apa?"

Rambut basah itu memiliki pesona emosional tersendiri yang membuat dada terasa berdegup.

Walaupun rasanya menyebalkan karena aku malah merasa terpikat oleh sisi feminin Mahiru.

"A-Apa aku bau keringat? Maaf ya, akhir-akhir ini udaranya mulai terasa pengap."

Mahiru mundur selangkah dengan ekspresi panik.

"Tidak, tidak, tidak kok."

Suara hujan terdengar sedikit menjauh.

Kami duduk berdampingan di hadapan meja.

"Ngomong-ngomong, sebentar lagi ulang tahun Miya, ya," kata Mahiru.

Ulang tahun Miya adalah tanggal 25 Juni. Tinggal dua minggu lebih sedikit.

"Oh iya, ya. Waktu itu aku pernah memberinya jepit rambut bentuk hati, kan?"

"Berani sekali menyebut sepuluh tahun lalu sebagai 'waktu itu', ya. Tapi ya sudahlah, untung saja sempat terkejar sebelum hari ulang tahunnya."

"Memangnya apa yang terkejar?"

"Ya apa lagi, kalau bukan menyadari identitas Miya. Kalau sampai hari ulang tahunnya datang tapi Yuu-nii masih belum sadar juga, kasihan banget anak itu."

"Ugh... Memang benar, bisa menyadarinya juga berkat kebetulan, jadi masa depan seperti itu sangat mungkin terjadi."

"Kalau sampai hal itu terjadi, kurasa aku yang bakal membocorkannya."

Jika dipikir-pikir kembali, Miya sebenarnya sudah memberikan petunjuk berupa hari ulang tahunnya itu.

Padahal seharusnya aku menyadari kebenarannya sejak saat itu. Padahal itu adalah petunjuk yang paling terang-terangan.

"Kira-kira apa ya yang bagus untuk kado? Mahiru sudah memutuskan mau beri apa?"

Mahiru mengusap gelang di pergelangan tangan kirinya, lalu menjawab,

"Aku juga belum memutuskan... Tahun lalu aku memberinya pakaian, sih."

Kira-kira kado apa yang cocok diberikan kepada anak gadis seusia mereka?

Karena aku sama sekali tidak pernah punya pacar, pengetahuan mengenai hal semacam itu sangat minim.

Yah, masih ada waktu dua minggu lagi. Aku bisa memikirkannya perlahan-lahan.

"Omong-omong, kenapa kamar ini panas banget, ya?"

Mahiru membuka ritsleting jersey-nya dan mengibas-ngibaskan tangan untuk mendinginkan tubuhnya.

"Karena ruangannya tertutup rapat, sih."

Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, kamarku tetap tidak memiliki AC.

Ditambah dengan jendela yang harus ditutup rapat karena hujan serta kelembapan musim hujan yang pekat, ruangan ini terasa seperti sauna mini.

Mahiru membuka jendela sedikit.

"Sebentar lagi hujannya reda, kali, ya... Ah, ternyata masih agak gerimis."

"Kata ramalan cuaca, hujannya bakal turun sampai menjelang subuh besok――o-oi, Mahiru."

Melihat Mahiru yang berbalik, aku tertegun sampai tidak bisa berkata-kata.

"Hmm?"

Pakaian latihan berwarna putih di balik jersey miliknya.

Sesuatu yang tersembul di baliknya adalah kain berwarna hijau yang menopang dada besar Mahiru secara brutal.

"K-Kau..."

Pakaian dalamnya tampak tembus pandang karena basah oleh keringat.

Entah karena ukurannya yang terlalu besar atau karena bajunya basah, bentuk renda pakaian dalamnya bahkan terlihat jelas.

Dua bulatan besar berwarna hijau muda. Itu benar-benar tampak seperti buah melon...

"Cepat sembunyikan!"

Apa yang sebenarnya sedang kupikirkan ini?

Kenapa aku malah berdebar-debar karena Mahiru.

Dia ini Mahiru, dia ini Mahiru, dia ini Mahiru...

Meskipun aku sudah memalingkan wajah, bayangan dari sepasang bukit kembar itu sudah telanjur tercetak jelas di balik kelopak mataku.

"Eh? Ah!"

Mahiru sepertinya juga baru menyadarinya.

"Dasar hentai."

Mahiru menatapku tajam dengan mata setengah tertutup.

"M-Maaf."

Untuk kali ini sebenarnya aku tidak berbuat apa-apa, tapi aku tetap meminta maaf saja.

"Sungguh deh."

Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Mahiru kembali duduk di posisi semula.

Dia menarik ujung pakaian latihannya dan mengibas-ngibaskannya untuk memasukkan udara ke bagian dalam baju.

"..."

"..."

"Bukannya malah dinaikin ritsletingnya!"

"Eh?"

 

4

Aku sangat menyukai hujan.

Terutama hujan deras yang turun bagaikan ditumpahkan dari ember seperti hari ini.

Setelah selesai bersiap-siap untuk tidur, aku meletakkan kacamata di samping bantal dan merebahkan diri di atas ranjang.

"Haaa."

Dengan meringkuk di dalam selimut dan mendengarkan suara hujan deras, aku bisa mengenang malam itu dengan jauh lebih jelas, dan itulah sebabnya aku menyukainya.

Malam penuh badai saat kami tidur sambil saling berpelukan. Tangan besar pria itu mendekapku dengan hangat.

Di antara sekian banyak kenangan yang kumiliki, malam badai itulah salah satu yang paling berkilau.

Mandi bersama, makan bersama, bermain sampai mengantuk, dan kemudian――

Sambil mengenang kehangatan orang itu pada saat tersebut, aku memejamkan mataku.

"Yuu-nii."



Prolog | ToC | Interlude I

Post a Comment

Post a Comment

close