NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 2 Chapter 3

Chapter 3

Kutukan


"S-Sial banget."

Sambil menatap ke luar jendela dari meja belajar, aku menghela napas berat.

Butiran air hujan turun dengan begitu derasnya dari langit kelabu. Jalanan berlumpur, dan genangan air terbentuk di sana-sini. Udara yang lembap terasa semakin pekat, dan suasana hatiku bahkan jauh lebih suram dibanding langit musim hujan.

Prakiraan cuaca pagi tadi bilang hari ini akan cerah seharian. Pagi tadi, langit biru yang jernih—yang jarang terlihat di musim seperti ini—membentang luas, dan udaranya pun terasa relatif segar.

Namun, menjelang siang, cuaca mulai terlihat mencurigakan, dan hujan turun tepat sebelum homeroom jam kepulangan dimulai.

"Bertahanlah sebentar lagi gitu lho."

Kepulangan tinggal selangkah lagi, tapi malah hujan.

Padahal hari ini kegiatan klub libur.

"Haah."

Kenapa aku sampai sesuram ini, orang yang peka pasti sudah tahu.

Singkatnya, aku lupa membawa payung.

Kalau sekadar gerimis, mungkin tidak apa-apa basah sedikit untuk pulang... Tapi, tidak, tidak boleh. Karena pakai baju musim panas, pakaian dalamku nanti bisa tembus pandang.

Mau tidak mau. Di sini aku harus menelepon Ibu untuk datang menjemput.

"Ah, halo?"

"Apa, Kakak?"

Yang mengangkat telepon adalah Miku.

"Miku? Tolong operkan ke Mama."

"Kalau Mama, sudah pergi belanja."

"Eh! Bukannya kalian bersama? Tapi ponselnya..."

"Ini? Kayaknya ketinggalan di rumah."

"Bohong."

Tentu saja aku tidak mungkin menyuruh Miku yang masih kelas tiga SD untuk membawakan payung sampai ke SMA.

"Jangan-jangan Kakak lupa bawa payung, ya? Upupu. Bodoh banget, deh."

"B-Bising. Ibu pergi belanja sekitar jam berapa?"

"Mungkin sepuluh menit lalu. Paling tidak bakal pulang satu jam lagi."

"Duh, ampun deh."

Gawat juga.

Kuhabiskan waktu di sekolah saja sampai Ibu pulang. Kalau membaca buku di ruang klub Klub Misteri, satu atau dua jam itu hal yang mudah. Lagi pula, siapa tahu saat berteduh di sekolah nanti hujan mendadak berhenti.

Lalu, aku pun berjalan menuju ruang klub Klub Misteri.

Hujan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, terus turun dengan tempo yang konstan tanpa jeda.

Sekitar tiga puluh menit setelah aku mulai membaca buku di ruang klub, tiba-tiba ponselku berdering. Dari Ibu.

"Halo?"

"Ah, Kakak?"

"Apaan, Miku lagi rupanya."

"Kenapa nada bicaranya begitu. Padahal orang-orang sudah repot-repot membawakan payung."

"Eh? Miku, kamu membawakan payung?"

"Iya. Sepertinya sebentar lagi aku sampai, jadi tunggu di dekat selasar sepatu, ya."

"Terima kasih."

Aduh, betapa sayangnya adikku ini pada kakaknya.

Sikap bocah nakal yang biasanya itu benar-benar bagaikan kebohongan.

Jika dia berjalan kaki di tengah hujan begini, pasti dingin sekali.

Nanti di jalan pulang, aku harus membelikannya camilan di minicon.

"Ufufu."

Setelah buru-buru membereskan barang, aku bergegas menuju selasar.

Menunggu di sana selama beberapa menit.

Sesosok bayangan yang menggunakan payung abu-abu mendekati area selasar. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya bukan murid. Mungkin guru atau petugas kebersihan sekolah.

"Dingin banget."

Apakah karena suhu turun akibat hujan, angin yang membelai kulit terasa sangat dingin.

Miku mana, ya. Kuharap dia tidak masuk angin.

Pria berpayung abu-abu yang sedari tadi masuk dalam pandanganku tiba-tiba mendekat ke arahku.

...Eh?

Jangan-jangan itu,

"Yo, Miya. Sudah lama nunggu?"

"Yuu-nii?"

Kaos hitam dan celana jins yang sudah pudar warnanya. Bagian bawahnya basah kuyup, sekilas langsung ketahuan kalau dia sudah berjalan lama di tengah hujan.

"K-Kenapa Yuu-nii bisa..."

"Disuruh sama Miku-chan, sih."

"M-Miku yang suruh?"

"Begini, aku tadinya mau meminjamkan novel misteri terbaru yang kubeli kemarin ke kamu, jadi aku pergi ke rumahmu tapi kamu belum pulang. Pas banget waktu aku sampai, sepertinya ada telepon soal kamu yang lupa bawa payung, lalu aku disuruh Miku-chan untuk datang menjemputmu."

Begitu ya, rupanya begitu.

Miku... kamu hebat!

"G-Begitu ya, terima kasih ya."

"Biasa saja."

Tadi rasanya dingin, tapi entah kenapa bagian dalam tubuhku perlahan mulai menghangat. Hujan yang menyebalkan ini pun, kalau bisa pulang bersama Yuu-nii malah terasa bernuansa romantis.

Rasanya dunia ini sedang berpihak kepadaku.

"Nih."

Yuu-nii mengulurkan payung lipat berwarna merah muda.

"Terima kasih."

"Habisnya, kamu ini dari dulu ceroboh banget, sih. Mana ada orang tidak bawa payung di musim hujan."

"Ih, bising."

Aku melepas sarung payungnya, lalu membuka payung lipat tersebut.

"Eh..."

Yang muncul adalah payung bobrok dengan banyak lubang di sana-sini serta kerangka yang sudah copot ke sana kemari.

Apa yang akan terjadi kalau aku berjalan di tengah hujan lebat menggunakan payung seperti ini?

"Ah, rusak ya."

"I-Ini diserahkan oleh Miku?"

"Ada sarungnya tadi, jadi Miku-chan sepertinya tidak sadar."

"Hahaha..."

Kalau begitu, satu-satunya payung yang ada hanyalah payung yang sedang dipegang oleh Yuu-nii.

Agar kami berdua bisa menggunakan satu payung dan pulang tanpa basah kuyup...

"..."

"..."

Bocah nakal itu, benar-benar mempermainkanku!

◇

Yuu-nii merapatkan posisinya denganku saat kami berjalan di tengah hujan.

Agar dua orang dewasa bisa masuk ke dalam ruang payung berdiameter satu meter itu, kami harus menempel sangat dekat.

Begini rasanya jadi mirip seperti pasangan kekasih saja.

Waktu kecil dulu, berbagi payung seperti ini adalah hal yang biasa kulakukan, tapi sekarang aku malah merasa sangat gugup.

Aku jadi iri pada diriku yang masih anak-anak dan tidak perlu memikirkan apa pun.

"Rasanya makin deras aja, ya."

"Iya, ya."

Yuu-nii memasang ekspresi melamun yang tidak pernah berubah seperti biasanya.

Apakah cuma aku saja yang merasa salah tingkah?

Bagaimanapun juga, di mata Yuu-nii sepertinya aku masih dianggap anak kecil.

"Miya, bahumu basah tuh. Sinian lagi."

"U-Un."

Jarak kami semakin menyusut, aroma khas Yuu-nii membelai indra penciumanku.

Aroma kesukaanku sejak dulu yang sama sekali tidak pernah berubah.




"Wah."

Mobil yang datang dari arah depan mencipratkan genangan air, membuat kami menggunakan payung sebagai perisai dan menepi ke pinggir jalan.

Wajahku menempel di dada Yuu-nii.

"......!"

"Bahaya banget. Kamu nggak basah, kan?"

"Un, nggak apa-apa."

"Hah? Kenapa dari tadi senyam-senyum sendiri?"

"Biaaasa aja."

"?"

"Ayo kita cepat pulang."

"Yo."

Aku melangkah maju dengan langkah ringan.

Karena detak jantung Yuu-nii juga berdegup sangat kencang.

 

2

Sekalipun hujan turun atau tombak jatuh dari langit, latihan bola voli tidak akan mengalami pengaruh besar.

Di dalam gedung olahraga yang luas, semua anggota klub bola voli putri bersemangat menjalani latihan dengan sungguh-sungguh.

Di tengah waktu istirahat, salah satu teman klub tiba-tiba melontarkan ucapan seperti ini.

"Eh, Mahii, kamu tahu Hamamoto-kun dari klub basket putra nggak?"

"Hamamoto... Ah, anak dari kelas enam?"

"Betul-betul. Katanya Hamamoto-kun itu penasaran sama kamu, lho."

"Oh, begitu ya."

Aku sama sekali tidak peduli.

"Jawabannya lemes banget... Reaksinya masih tetap datar seperti biasa, ya. Padahal Hamamoto-kun itu keren dan seru, lho."

"Habisnya, aku bahkan belum pernah ngobrol dengannya."

"Aku kan sekelas dengannya, mau aku kenalin nggak?"

"Nggak usah, makasih."

Aku sudah muak dengan cowok-cowok yang kerjanya cuma melihat bagian dadaku duluan sebelum melihat wajahku. Kalau bisa, aku sama sekali tidak ingin berurusan dengan mereka dari pihakku.

"Atau gini deh, kenapa kamu nggak cari pacar aja? Makanya kamu dijuluki sebagai Saint Benteng Besi yang bau chuunibyou gara-gara sikapmu itu."

"......Ehm, sekarang kan begini, kegiatan klub lagi sibuk-sibuknya."

"Hih, terus paman yang datang buat nyemangatin kamu pas pertandingan latihan kemarin itu siapa?"

"Heeh, ke-kenapa tiba-tiba ngebahas kejadian lama itu—"

"Gampang banget ditebak!"

"I-Itu cuma kayak kakak laki-laki yang dulu pernah ngurusin aku, jadi kami belum ada hubungan seperti itu."

"Masih, ya."

"A-Apaan sih."

"Yah, anggap saja begitu deh."

Setelah kegiatan klub selesai, aku membersihkan diri dengan mandi di ruang pancuran yang tersedia sebelum pulang. Saat mampir ke 〈Moon Night Terrace〉, Miya dan Yuu-nii kebetulan baru saja hendak keluar.

"Eh, Mahiru, baru pulang dari klub?"

"Ya. Ngomong-ngomong, kalian mau pergi ke mana?"

"Aku mau pergi makan sesuatu. Mahiru mau ikut juga? Nanti kutraktir."

Yuu-nii menatap lekat-lekat ke dalam mataku. Tatapan santai yang selalu sama seperti biasanya.

"Tentu saja. Dari tadi habis selesai klub aku belum makan apa-apa, jadi perutku kosong."

Aku melingkarkan lenganku ke lengan Yuu-nii.

"W-Woi, Mahiru, jangan nempel-nempel terlalu dekat di luar."

"Kenapa? Kalau di dalam rumah boleh gitu?"

"Bukannya begitu maksudku. Pemandangannya kelihatan tidak senonoh tahu."

Meskipun berkata demikian, Yuu-nii sama sekali tidak berusaha melepaskannya secara paksa. Miya menatap ke arah kami dengan pandangan seolah ingin mengatakan sesuatu.

"Daripada mikirin hal itu, ayo kita cepat berangkat. Aku sudah kelelahan karena latihan dan kelaparan."

Nafsu makanku sedang berada di tingkat maksimal setelah pulang dari kegiatan klub.

"Begitu ya, enaknya di mana? Kalian berdua pilih mana."

"Yu-Yuu-nii, aku sih di mana saja boleh, tapi sebaiknya kita cari tempat yang ada menu all-you-can-eat. Mahiru sekarang sepertinya sanggup makan porsi untuk sepuluh orang."

"Be-Benar juga ya."

"Apaan sih Miya, ngomongin aku kayak orang rakus aja. Mana mungkin aku sanggup makan porsi sepuluh orang."

"Kan emangnya kamu tukang makan."

"Kalau begitu, kita makan yakiniku saja," ujar Yuu-nii.

"Asyik."

"Memangnya tidak apa-apa, Yuu-nii?"

Miya bertanya dengan nada khawatir.

"Kalau tempatnya menyediakan paket makan sepuasnya, harusnya aman kok. Miya dan Mahiru nggak usah sungkan-sungkan, ya."

Lalu kami berjalan kaki menuju restoran yakiniku.

"Ngomong-ngomong, Asaka lagi apa ya sekarang,"

Di tengah perjalanan, Yuu-nii berucap tanpa menunjukkannya kepada siapa pun.

"Kita kan sama kayak dia, sebentar lagi waktunya makan, kan?"

"Kehidupan di asrama itu kelihatannya keren, ya."

"Sekolah Asaka kan sekolah khusus anak orang kaya. Orang yang santai kayak Miya pasti nggak bakal sanggup ikutan."

"A-Aku nggak santai, tahu!"

"Hahaha."

"Yuu-nii, ngetawain apa sih."

"Nggak, cuma lagi teringat masa lalu aja."

Sambil memandang pemandangan di kejauhan, Yuu-nii menyipitkan matanya.

"Kalau melihat kalian bertiga yang suka heboh sendiri, kenangan masa itu jadi bangkit lagi."

Masa itu—waktu singkat ketika kami masih duduk di kelas satu sekolah dasar.

Kenangan bersama Yuu-nii yang bahkan belum genap setahun itu adalah harta berharga bagi kami bertiga.

 

3

"Um, Yuu-san."

"Ada apa?"

Yuu-nii berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan pandanganku.

Suaraku menjadi pelan karena gugup.

"Um... bolehkah aku juga memanggilmu Yuu-nii?"

Dipenuhi rasa cemas, aku menunduk. Kepala ku yang tertunduk itu diusap dengan lembut oleh Yuu-nii.

"Boleh kok. Lagian, Mahiru kan sudah manggil begitu sejak hari pertama kita ketemu. Aku bahkan sempat nungguin kapan Asaka bakal manggil aku begitu."

Rasanya seperti ada cahaya yang membentang di hadapanku.

"Ehehe, Yuu-nii."

Sambil mengangkatku yang memeluknya erat, Yuu-nii berdiri.

Menumpang angin yang hangat, lonceng tengah hari bergemerincing.

"Haah."

Suasana hati yang sangat menyenangkan.

Aku terbangun dalam balutan rasa bahagia.

Diterangi oleh cahaya matahari pagi yang menembus jendela, seluruh ruangan terasa begitu hangat dan nyaman.

Hari ini sepertinya adalah hari cerah di tengah musim hujan.

Aku mengulurkan tangan ke dekat bantal lalu mengenakan kacamata.

Padahal hanya melakukan gerakan sepele, tapi wajahku langsung tersenyum simpul.

"Ufufu."

Bahkan rasanya hatiku melayang gembira. Semua itu berkat dunia mimpi yang baru saja kuKunjungi.

Di dalam keseharianku yang berwarna abu-abu, satu-satunya kesenanganku adalah bermimpi.

Sebab jika sedang beruntung, aku bisa memimpikan masa kecilku.

Seberapa banyak pun uang yang dibayarkan, dan seberapa besar usaha yang dikerahkan, seseorang tidak akan pernah bisa kembali menjadi anak kecil.

Aliran waktu tidak bisa diputar mundur.

Itu adalah kebenaran di dunia ini, aturan mutlak yang takkan berubah.

Namun, jika di dalam mimpi, hanya di dalam ilusi semalam saja, aku bisa mengalami kembali masa-masa itu.

Aku merenungkan kembali mimpi masa kecil yang baru saja kulihat sambil bersiap-siap.

Itu adalah adegan saat aku pertama kali memanggilnya "Yuu-nii".

Di dalam kenanganku, hari musim panas itu adalah hari yang paling indah... sungguh suasana hati yang menyenangkan.

Saat sedang menikmati sarapan di ruang makan, seorang teman di seberang meja menatapku lekat-lekat.

"Eh? Gendouji-san, kelihatan senang banget."

"Fufu, begitu ya?"

"Iya, ada hal bagus yang terjadi?"

"Ya, ada hal yang sangat menyenangkan..."

"Eh, apa? Apakah ramalan bintang pagi tadi bilang peringkat pertama?"

"Fufu, rahasia."

Sambil mengingat kembali sentuhan saat kepalaku diusap oleh orang itu di dalam mimpi, aku melewatkan hari ini dengan penuh kebahagiaan.

Malam harinya. Pukul sepuluh malam.

Berharap agar aku bisa memimpikan masa kecil lagi, aku menyelinap ke dalam selimut dengan menyimpan harapan di dada.

Tepat saat aku hendak memejamkan mata, dering telepon ponsel menghentikanku.

Belum terlalu larut untuk disebut jam segini, tapi siapa ya yang menelepon?

Ketika kulihat, tertera tulisan 'Haruyama Miya' di layar.

"Miya-chan?"

"Ah, Asaka-kah?"

"Ada apa?"

"Gimana ya, aku lagi pengen denger suara Asaka. Lagi ngapain sekarang?"

"Baru saja mau tidur."

"Begitu ya, ma-maaf ya."

"Nggak apa-apa, kok."

Setelah itu kami mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting.

"Oh iya, Asaka, akhir pekan nanti dateng, kan?"

Nada suara Miya berubah menjadi tidak tenang.

Kalau membicarakan akhir pekan, itu berarti hari ulang tahunnya. Rasa sakit yang dingin mulai menyebar di lubuk dadaku.

"Tahun ini kan ada Yuu-nii juga, jadi kita semua bakal—"

"Maaf ya."

"Eh?"

"Maaf ya, Miya-chan. Tahun ini aku agak sibuk, dari segi waktu juga kelihatannya sulit, jadi... sepertinya aku nggak bisa dateng."

"Eh! Be-Begitukah?"

Suara Miya terdengar melemah.

"Maafkan aku ya."

"Begitu ya, nggak apa-apa kok... ahaha."

"Maaf ya."

Begini saja sudah cukup. Aku meyakinkan diriku sendiri.

"Maaf ya, maaf ya..."

 

4

Jumat, 23 Juni.

"U-Um, Haruyama-san, ini."

"A-Terima kasih... banyak."

Aku diberi sekotak kecil kue oleh seorang anak laki-laki dari kelas sebelah yang jarang sekali ngobrol denganku. Kemasannya tampak mewah.

"Haruyama, ada waktu sebentar?"

"Ya?"

Anak laki-laki dengan wajah memerah itu memanggilku.

Seingatku dia adalah anak dari kelas sebelah.

Kami sekelas saat kelas satu dulu, tapi kami tidak begitu dekat.

Aku dipanggil ke ruang kelas kosong, lalu sebuah kotak panjang berwarna hitam disodorkan kepadaku.

"Eh? Eh??"

Dia berbicara dengan nada serius.

"Bisakah kamu menerima perasaanku?"

"Pe-Perasaan..."

Dia tersenyum menyeringai lalu membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat kalung berhiaskan liontin berbentuk hati yang berkilauan.

Kalau tidak salah, aku pernah dengar merek ini sangat populer di kalangan anak SMA dan harganya cukup mahal...

"Selamat ulang tahun, walaupun sebenarnya lusa sih. Kamu adalah malaikatku. Kalau boleh, maukah kamu berpacaran denganku—"

"I-I-Itu tidak bisa kuteri-ma. Ah."

Karena keterkejutan dan ketegangan yang teramat sangat, lidahku jadi keseleo. Aku langsung berlari keluar kelas.

"Tunggu, aku nggak bakal menyerah."

"Aku repot lho."

"Ah, Haruyama-san, ada waktu sebentar?"

"Eh?"

"Haruyama-san."

"Haruyama."

"Haruyama-san—"

Setiap jam istirahat aku selalu dipanggil, membuatku sama sekali tidak bisa beristirahat.

◇

Lusa, 25 Juni. Hari ulang tahunku.

Karena hari itu jatuh pada hari Minggu, di hari Jumat sebagai hari kerja terakhir, banyak orang memberiku hadiah.

Di antaranya bahkan ada hadiah berat yang membuatku ragu untuk menerimanya.

Hari dalam setahun di mana hanya diriku sendiri yang menjadi pemeran utama... namun, aku tidak pandai menjadi pusat perhatian karena hal itu membuat lambungku terasa sakit.

Cukup orang-orang terdekat saja yang merayakannya, itu sudah membuatku senang.

Kalau aku menerima banyak hadiah dari begitu banyak anak laki-laki seperti itu, para anak perempuan yang tidak terlalu dekat denganku akan menatapku dengan dingin.

"Kamu ini, tahun ini heboh banget ya. Pantas saja dijuluki sebagai Saint Benteng Besi."

Sambil memandangi tumpukan hadiah ulang tahun yang menggunung, Seina-chan berkata dengan nada kagum.

"Habisnya, jujur saja aku tidak menyangka bakal dapat sebanyak ini."

"Waktu giliran Suto-kamisama juga heboh banget lho."

"Ah, kudengar dari gosip waktu giliran Yuuhi-chan, bagasi truk pikap sampai penuh."

"Pantas saja disebut sebagai Saint Benteng Besi ya. Kamu juga coba penuhi sampai seukuran truk sana."

"Aku kan nggak lagi bersaing."

"Ngomong-ngomong, ini dariku. Kamu suka kan hal semacam ini."

Sambil berucap demikian, Seina-chan meletakkan jajanan kemasan satuan di atas mejaku.

"Nih, Kabu-toumushi Gummy."

"Kamu ngeledek ya?!"

"Canda kok. Ini yang aslinya."

Novel terbaru dari penulis misteri kesukaanku.

"Wah, terima kasih."

"Kebetulan kemarin hari rilisnya, jadi waktunya pas banget."

"Wuaa, terima kasih Seina-chan."

Lalu pada malam hari tanggal 25 Juni dua hari kemudian, pesta ulang tahun diadakan di rumahku.

Selain keluarga, aku juga mengundang Yuu-nii dan Mahiru.

Tentu saja Asaka juga diundang, namun sepertinya tahun ini dia sedang sibuk dengan urusan sekolah, jadi sepertinya tidak bisa datang. Sayang sekali.

Semua orang selain aku menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Rasanya agak canggung mendapati diriku sudah kelas tiga SMA tapi masih diginiin, namun perasaannya tidak buruk.

Tapi, meniup lilin ulang tahun mungkin terasa agak memalukan.

Saat aku meniup delapan belas batang lilin yang berjajar rapi, semua orang menarik pita popper.

Suara letupan renyah dan ucapan "Selamat ulang tahun" bergema di ruang keluarga.

Ibu mulai memotong kue.

"Eh, Asaka-chan nggak datang?"

Miku membesarkan pipinya.

"......Sepertinya dia sibuk."

"Cih—"

Waktu kami mengobrol di telepon, Asaka berkali-kali mengulang kata maaf.

Pesta ulang tahun yang hanya mengumpulkan orang-orang dekat layaknya keluarga.

Alangkah bahagianya jika Asaka ada di tengah-tengah pemandangan ini.

Namun, Asaka punya urusannya sendiri jadi mau bagaimana lagi.

Karena aku bukan anak kecil lagi, aku tidak boleh egois.

"Ini, Miya."

Mahiru menyodorkan kantong yang sudah dibungkus rapi. Saat kulihat isinya, ternyata itu adalah sandal berornamen kucing.

"Wah, lucu banget. Terima kasih."

Mahiru sepertinya mampir sepulang dari klub, karena dia masih mengenakan baju latihan biasanya.

"Tahun ini kan ada Yuu-nii. Musim panas nanti kita jalan-jalan ke berbagai tempat yuk."

"Betul juga."

"Yo, serahin aja ke aku."

Yuu-nii menyantap kue sambil mengacungkan jempolnya.

"Kalau nanti aku sudah beli mobil, bakal kuajak keliling ke banyak tempat. Bersiaplah ya."

"Woi Yuu, aku sudah dengar dari Shun-san. Katanya kamu mau beli mobil sport, ya?"

"Eh? Tacchan, aku kan belum mutusin mau beli mobil apa."

Yuu-nii tampaknya sudah akrab dengan ayahku—Haruyama Taichi—sejak kecil, sampai-sampai memanggil ayah dengan sebutan Tacchan.

"Eh, om-om saling panggil pakai nama begitu, jijik banget."

Serangan tajam Miku mendarat telak, membuat suasana langsung meriah.

Ayah menarik Yuu-nii ke sofa bagian dalam, lalu mulai memberikan kuliah tentang mobil sport sambil menenggak bir.

"Dasar anak laki-laki," Ibu tersenyum tipis.

"Miku-chan kasih hadiah apa ke Kakak?"

Mahiru bertanya kepada Miku yang duduk di pangkuannya.

"Un, penghapus beraroma stroberi."

"......Hahaha."

Setelah itu kami menonton video rumahan saat aku masih kecil, lalu mengadakan turnamen video game bersama-sama, menjadikannya perayaan ulang tahun yang sangat menyenangkan.

Tahun ini aku bisa merayakannya bersama Yuu-nii untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, namun sebagai gantinya Asaka yang biasanya selalu hadir malah absen.

Perasaan seolah-olah terjadi pergantian posisi itu pasti hanya perasaanku saja. Sebagai ganti Yuu-nii yang kembali, sekarang giliran Asaka yang...

Mana mungkin hal seperti itu terjadi.

Aku malah memikirkan hal aneh di hari ulang tahun yang membahagiakan ini.

Asaka juga pasti akan mampir ke sini kalau urusan sekolahnya sudah tenang.

Tahun ini kan Yuu-nii juga sudah kembali, jadi kita berempat seharusnya bisa berkumpul bersama lagi.

Pasti begitu.

◇

"Yuu-nii, minum sebanyak itu nggak apa-apa?"

Mahiru menyerahkan segelas air kepada Yuu-nii.

"Terima kasih. Aku nggak apa-apa kok. Makanya, lihat nih, Miya."

Yuu-nii yang wajahnya sudah memerah sepenuhnya menyerahkan sebuah kotak kecil. Ujung jarinya sedikit bergetar. Sepertinya Ayah tadi terbawa suasana dan terlalu banyak memberinya minum.

"Selamat ulang tahun."

"Terima kasih. Boleh kubuka?"

"Silakan."

Hadiah ulang tahun dari Yuu-nii, setelah sepuluh tahun lamanya.

Saat kuperiksa bagian dalamnya, ada bulan sabit yang berkilau di sana.

"Ini, jepit rambut?"

Bulan sabit kecil berwarna emas menghiasi bagian ujungnya, barang berkualitas tinggi yang nuansanya berbeda dari jepit rambut anak-anak yang kudapat sepuluh tahun lalu.

"Waktu aku keliling toko aksesori, benda ini langsung menarik perhatianku. Aku yakin banget ini bakal cocok buat Miya. Memang nggak ada bedanya sama sepuluh tahun lalu, sama-sama kurang modal..."

"Nggak kok, aku senang banget."

"Bagus deh kalau begitu."

Aku langsung mencobanya.

"Bagaimana?"

"Cocok kok."

"Bagus kan, Miya."

"Ehehe."

"Anak yang tadinya sekecil itu, sekarang sudah berumur delapan belas tahun ya..."

"Umurku sekarang sama kayak Yuu-nii waktu itu, kan."

"......Iya juga ya. Waktu itu, kita benar-benar kacau ya."

"Ya, begitu ya?"

"Gara-gara kalian berdua, tahu nggak seberapa sering aku dikira sebagai orang mencurigakan."

"I-Iya kah? Mahiru."

"I-Iya, kayaknya memang pernah ada kejadian begitu..."

Aku bertukar pandangan dengan Mahiru, lalu memasang ekspresi pura-pura tidak tahu.

"Apaan, kalian lupa? Awalnya kan begitu, waktu kalian berdua di rumah kosong—"

Saat itu, bel pintu berbunyi.

Siapa ya bertamu jam segini?

Aku bergegas menuju pintu depan.

"Iya sebentar."

Sosok yang menungguku saat pintu dibuka adalah—

"Ah, Asaka!"

Ada Asaka di sana.

◇

"Asaka?"

Suara Miya terdengar. Padahal sudah ada kabar kalau dia tidak bisa datang, tapi tak disangka dia malah benar-benar muncul.

"Upu..."

Aku berusaha berdiri dengan sigap tapi malah terhuyung. Sepertinya aku sudah mabuk berat. Mahiru yang ada di sebelahku langsung meminjamkan bahunya.

"A-Araknya keluar."

"Yuu-nii, bahaya tahu."

"M-Maaf... Mahiru."

Asaka setelah sepuluh tahun.

Bocah nakal yang meskipun pendiam tapi selalu menempel tanpa peduli sekitar. Kira-kira si manja yang kesepian itu tumbuh jadi anak seperti apa sekarang. Dadaku dipenuhi rasa antisipasi.

"Hati-hati."

Disangga oleh Mahiru, aku melangkah pelan menuju pintu depan, tapi yang ada di sana ternyata cuma Miya seorang.

"Eh? Asaka mana..."

"Sudah pulang. Katanya besok ada sekolah, jadi dia sengaja datang cuma buat nyerahin hadiahnya doang."

Miya memegang bungkusan yang dikemas rapi dengan perasaan berbunga-bunga.

"Walau sebentar, aku senang bisa ketemu Asaka di hari ulang tahunku."

Aku juga ingin ketemu.

Aku melompat keluar ke luar.

"Asakaaa!"

Tepat saat sebuah taksi berbelok ke kiri di tikungan jalan yang jauh sana.

Di tengah gelapnya malam, sisa cahaya merah lampu rem melebur perlahan.

"Dapat apa kamu, Miya?"

Mahiru memperhatikan barang di tangan Miya.

"Tunggu sebentar."

Hadiah yang diberikan oleh Asaka adalah sebuah bros berbentuk daun mapel.

◇

Begini saja sudah cukup.

Aku senang bisa ikut merayakan ulang tahun Miya secara langsung.

Kalau seandainya yang membukakan pintu tadi Yuu-nii, aku pasti sudah melempar hadiahku lalu kabur lari terbirit-birit.

Begini saja sudah benar.

Kenanganku telah terjaga.

Saat memandang ke arah jendela, pandanganku beradu dengan pantulan diriku sendiri. Sepertinya hujan mulai turun. Garis-garis titik air terlihat di kaca jendela.

Seiyu utama dari anime yang sangat kusukai waktu kecil menderita penyakit parah, dan setelah berjuang melawan sakitnya dalam waktu yang lama, akhir tahun lalu dia pergi ke surga.

Aku merasa sangat sedih, tapi di sudut hatiku ada perasaan lega yang terselip.

Baguslah.

Berkat itu, dia akan tetap tinggal sebagai kenangan yang indah. Tanpa perlu khawatir diterpa skandal atau komentar pedas akibat ucapan yang kurang pantas.

Dia akan tetap menjadi sosok berharga yang menghiasi kenanganku.

Orang yang berpikiran seperti itu saat mendengar kabar duka seseorang pastilah manusia yang sangat menyebalkan.

Aku ingin kenangan itu tetap indah.

Pemikiran itu muncul di benakku berawal dari satu kalimat Ibu.

Itu terjadi tujuh tahun lalu, saat pertengahan musim semi ketika aku baru saja menginjak kelas lima sekolah dasar.

Kakek dari pihak ayah menderita demensia, dan gejalanya sudah mulai terlihat sejak aku mulai paham keadaan sekitar.

Gejalanya semakin parah setiap tahun, dan saat aku kelas lima, beliau sering membuat kehebohan di malam hari atau berjalan-jalan tanpa tujuan.

Tiba-tiba berkeliaran keluar rumah di tengah malam, menimbulkan masalah dengan tetangga, mengamuk di dalam rumah seperti anak kecil...

Membereskan kekacauan dari tingkah laku aneh Kakek seperti itu adalah tugas Ibu.

Baru saja beliau berhenti dari pekerjaannya yang melelahkan sebagai pengacara dan menikmati kebebasan, kesibukan itu langsung digantikan dengan mengurus perawatan Kakek bersama para pengasuh.

Kakek yang merupakan ketua kehormatan produsen alat medis besar tidak diizinkan oleh 'Keluarga Gendoji' dan 'Perusahaan' untuk dibuang ke panti jompo atau fasilitas perawatan, sehingga setiap hari Ibu harus meminta maaf kepada orang-orang sekitar jika Kakek membuat masalah.

Hal itu pastilah menjadi sumber stres yang berat.

 

『Cepatlah mati saja. 』

Suatu pagi, aku mendengarkan Ibu bergumam seperti itu di dekat wastafel.

Ibu adalah orang yang baik. Seseorang yang sering tertawa dan banyak bicara.

Pendiriannya kuat, dan apa yang dipikirkannya selalu diucapkan secara terus terang, namun di dasarnya tersimpan rasa kepedulian yang mendalam. Ibu adalah orang seperti itu.

Setidaknya, itulah sosok Ibu yang aku kenal saat masih anak-anak.

Aku sama sekali tidak bisa percaya dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ibu yang seperti itu bisa berkata 'mati saja' kepada seseorang.

Entah Ibu menyadari atau tidak kalau aku mendengarkan ucapan itu, aku tidak tahu. Tidak ada ruang untuk memikirkan hal semacam itu. Aku hanya ingat berlari ke kamarku sendiri dengan kepala yang dilanda kebingungan.

Kejadian saat itu memberikan syok yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Suara retakan hati menggema di dalam dadaku.

Seorang ibu bukanlah Bunda Maria.

Beliau adalah manusia biasa.

Bisa merasa marah, dan terkadang merasakan kepedulian yang pahit. Ada kalanya ingin meluapkan keluh kesah, dan ada kalanya juga membenci seseorang.

Karena beliau adalah manusia biasa yang memiliki emosi.

Saat masih kecil, aku tidak menyadari hal itu.

Aku hanya percaya begitu saja bahwa beliau adalah sosok yang suci.

Ibu meninggal dunia karena terlibat kecelakaan lalu lintas pada musim panas tahun itu.

Kematian Ibu memang sangat menyedihkan, tapi yang jauh lebih menyedihkan adalah setiap kali aku mengenang Ibu, punggung penuh kepedulian yang bergumam 'mati saja' itu ikut terpikirkan bersama.

Ibu pergi membawa kenangan yang telah tercemar.

Seperti Ibu, aku takut kehilangan Yuu-nii.

Aku tidak ingin kehilangan orang yang sangat kucintai itu.

Makanya aku tidak ingin bertemu dengannya.

Biar sosoknya selamanya tetap menjadi kenangan yang bersinar terang...



Interlude II | ToC | Interlude III

Post a Comment

Post a Comment

close