NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 2 Interlude III

Kenangan Bersama Si "Bocah Nakal" Part 3


 Bocah Nakal dan Hadiah Ulang Tahun

1

"Haah, aku pulang."

Gendouji Hanayoshi pulang ke rumah setelah tiga hari tidak pulang. Mengingat mobil Mercedes-Benz milik istrinya tidak ada di area parkir, sepertinya sang istri juga belum pulang.

Karena sama-sama sibuk bekerja, jika waktu pulang mereka tidak cocok, mereka bahkan tidak akan bertatap muka.

"Selamat datang kembali, Tuan. Apakah mau disiapkan makan malam?"

Ishikawa, sang asisten rumah tangga, muncul dari samping.

"Ah, tidak usah. Aku sudah makan di luar."

"Selamat datang kembali, Ayah."

"Ooh, Asaka."

Begitu melihat wajah putri kesayangannya yang menggemaskan, rasa lelahnya langsung sirnah seketika.

"Nih, ada oleh-oleh."

Saat menyerahkan kantong kertas, wajah Asaka langsung berbinar senang.

Justru karena anak ini lahir saat usianya sudah makin lanjut, dia jadi sangat memanjakannya.

Ditambah lagi, putri pertama dan putri keduanya jarang sekali pulang ke rumah sejak mandiri, hal itu membuat perlakuan manjanya kepada Asaka semakin menjadi-jadi.

"Ayo kita mandi berendam sama-sama."

"Ah, ayo."

Hanayoshi merendam tubuhnya di bak mandi bersama Asaka. Beberapa bulan terakhir ini pekerjaannya sangat sibuk, sehingga dia tidak punya waktu untuk dilewatkan bersama putrinya seperti ini.

"Ayah, ada yang ingin kubanyakan."

"Apa itu?"

"Anak laki-laki kalau dapat hadiah ulang tahun, biasanya bakal senang kalau dikasih apa ya?"

"Hm?"

Anak laki-laki?

"Temanmu?"

"Emm, bukan hal yang seperti itu."

Reaksi dengan wajah yang agak memerah dan suara yang memelan penuh rasa malu ini, jangan-jangan...

"Hoho."

Rupanya begitu, Asaka punya anak yang disukai ya.

Meskipun rasanya agak sedikit kesepian, tetapi yang paling penting adalah kebahagiaan Asaka.

Namun, rasanya masih terlalu dini untuk berpikir sejauh itu.

Cinta anak SD itu tidak lebih dari sekadar perpanjangan dari permainan rumah-rumahan.

Setiap kali naik kelas, bakal ada anak laki-laki baru yang disukai, dan riwayat percintaannya selalu diperbarui.

Suatu saat nanti anak ini juga akan menemukan pria yang benar-benar dicintainya, lalu pergi meninggalkannya seperti putri-putrinya yang lain, tetapi itu masih sepuluh tahun lebih ke depan.

"Begitu ya, kalau anak laki-laki, mungkin robot?"

"Kalau robot aku tidak begitu paham..."

"Benda seperti apa ya yang lagi tren di kalangan anak laki-laki zaman sekarang. Waktu Ayah masih kecil dulu, Kamen Rder atau Mzinger Z sangat populer, sih."

"Emm, kalau yang seperti itu..."

"Hahaha. Asaka tidak tahu ya. Mengapa bingung, pada akhirnya kan ini masalah perasaan. Kalau orangnya bisa senang, itu saja sudah cukup."

"Yuu-nii sukanya benda yang seperti apa ya?"

Yuu-nii?

Apa-apaan, anak kelas atasnya?

Astaga, genit sekali anak ini.

"Anak yang dipanggil Yuu-nii itu kelas berapa?"

"Kelas tiga SMA."

"Hah?"

"Emm."

"T-Tunggu sebentar Asaka, kamu bilang anak SMA?"

"Iya."

"..."

Kalau anak SMA sih jelas terlalu jauh. Asaka masih kelas satu SD, sedangkan si Fulan itu kelas tiga SMA, yang berarti beda usianya adalah sebelas tahun.

Kalau anak SMP dan anak SMA berpacaran sih masih bisa dimaklumi, tetapi kalau sudah melibatkan anak SD, ceritanya bakal beda jauh. Malahan, itu sih sudah termasuk tindak kriminal.

"A-Asaka, bagaimana bisa kamu kenal sama anak SMA itu?"

"Eh? Dia tetangganya Miya-chan, kalau aku main ke sana dia selalu menemaniku bermain."

"B-Begitu ya."

Yah, mana mungkin anak SMA punya perasaan cinta terhadap anak SD—apalagi kelas bawah.

Asaka juga kelihatan manja padanya, sehingga Hanayoshi tidak bisa menginterogasinya terlalu mendalam.

 

2

"Jadi, gimana nih? Soal hadiah ulang tahun Yuu-nii."

Mahiru berkata sambil memutar-mutar es batu di dalam gelas kolanya.

"Kata ayahku sih lebih baik kasih Kamen R*der, tapi Yuu-nii kayaknya udah nggak nonton yang kayak gitu lagi deh."

"Yuu-nii kan suka basket, gimana kalau barang yang berhubungan sama basket?"

"Barang yang berhubungan sama basket tuh apa maksudmu, Miya?"

"Walaupun uang saku kita bertiga dikumpulin, kayaknya tetap nggak bisa beli barang yang mahal deh."

Asaka berucap dengan wajah murung.

"Benar juga, ada masalah uang ya! Eh, Bibi, Yuu-nii ada barang yang lagi dipengenin nggak?"

Sayaka menghentikan tangannya yang sedang mengelap meja.

"Gimana ya, kalau kalian bertiga memberikannya dengan sepenuh hati, pasti barang apa pun bakal bikin dia senang kok... Ah, benar juga."

"Apa?" tanya Miya.

"Bagaimana kalau bikin kue ulang tahun? Kali ini kalian bertiga ikut bantu, terus kue spesial buatan kalian bertiga dijadikan hadiahnya?"

"Kue ya."

"Boleh juga tuh?"

"Tapi aku belum pernah bikin kue."

"Tenang saja, nanti Bibi ajarin dengan benar kok, gimana?"

Keduanya saling bertatap muka.

"Aku mau."

"Aku ikut."

"Aku juga mau."

 

3

2 Oktober.

Hari ulang tahunku.

Hari peringatan sekali setahun di mana hanya diriku sendiri yang bisa menjadi sosok spesial.

Waktu masih kecil dulu, aku bakal tidak sabar menantikan hari ini tiba sepanjang tahun, lalu bakal heboh luar biasa gara-gara kue dan hadiah.

Namun begitu jadi anak SMA, dirayakan oleh keluarga atau teman malah terasa agak memalukan.

Sebenarnya aku ingin melewatkannya bersama seorang gadis, tetapi pacar saja tidak pernah punya selama delapan belas tahun hidup di dunia ini.

Anak perempuan di kelas yang ingat ulang tahunku lalu memberiku hadiah ulang tahun pun tidak ada.

Adik kelas yang tidak pernah ngobrol denganku memanfaatkan kesempatan ini untuk menyatakan cintanya pun tidak ada.

Inilah masa muda berwarna abu-abu akibat mengorbankan waktu demi kegiatan klub.

Ulang tahun tahun ini sepertinya bakal berakhir sebagai hari membosankan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Yah, tapi ada hal bagusnya juga sih.

Terhitung mulai hari ini, usiaku resmi menjadi delapan belas tahun.

Itu artinya, sekarang aku bisa membaca buku erotis dengan menegakkan dada. Ini adalah hari di mana masyarakat memberiku hak untuk membaca buku erotis.

Benar, kalau berpikir begitu, aku tidak bakal merasa kesepian.

Sambil memeluk sekantong U*ai-bou rasa sup jagung pemberian Endo teman dari klub basket, aku berjalan menyusuri jalan pulang.

"Aku pulang—"

Begitu masuk ke dalam kamar, tiga bocah nakal langsung menempel padaku.

"Yuu-nii selamat ulang tahun."

"Yuu-nii selamat ulang tahun."

"Yuu-nii selamat ulang tahun."

"Uwooh, kalian ada di sini?"

Sepertinya mereka menonton TV di atas tempat tidur sampai aku pulang.

"Hari ini ulang tahun Yuu-nii, kan?"

Sambil berkata demikian, Mahiru melompat ke punggungku.

"Kami yang buat kue ulang tahunnya, lho."

Miya berkata dengan penuh rasa percaya diri.

"Buat sendiri, kalian?!"

"Iya. Nanti kita makan sama-sama, ya."

Tanganku ditarik oleh Asaka, lalu didudukkan di atas tempat tidur. Baru kusedari kalau pemandangan di dalam kamar sudah berubah.

Hiasan rantai kertas berwarna-warni yang disambungkan, serta hiasan bintang dan hati mewarnai seluruh ruangan. Meja dipenuhi oleh jajanan, benar-benar mirip seperti pesta.

Anak-anak ini sampai mau melakukan hal sebegininya demi aku...

"K-Kalian... terima kasih ya."

"Fuffuffu, ada hadiahnya juga lho."

Mahiru memasang wajah bangga, lalu mengeluarkan tiga lembar kartu. Kertas tebal yang dipotong itu diberi hiasan berwarna-warni menggunakan kertas origami, selotip berwarna, dan pensil warna.

"Lihat nih, 'Kupon Menuruti Permintaan Apa Saja'."

Klise banget.

"Hebat juga bisa minta apa saja."

"Bakal kuturutin apa aja lho," ujar Miya.

"Tapi nggak bakal dikasih gratisan. Ini baru dikasih kalau Yuu-nii berhasil menjawab kuis dengan benar."

"Permainan kuis?"

"Iya, tolong tunggu sebentar."

Asaka membawa buku tebak-tebakan dari bagian dalam kamar.

"Nih gelasnya. Silakan, silakan diminum."

Miya menuangkan minuman jus dari botol plastik untukku.

"Pelan-pelan."

"Jajanannya ada banyak, tapi jangan banyak-banyak nanti nggak bisa makan kuenya, lho?"

Miya membuka kantong jajanan lalu meratakannya.

"Hari ini spesial lho. Nih, aamm."

Mahiru menyuapkan keripik kentang yang dijepit dengan jarinya.

"Amm... Anak kecil apa aku ini?"

Pengalaman disuapin pertama kali dalam hidup (selain Ibu) ternyata malah sama bocah nakal...




Perasaan senang dan sedih bercampur aduk menjadi satu.

"Kalau begitu, kita mulai ya! Pertanyaan pertama—"

Para bocah itu berusaha keras demi menghiburku.

Ini adalah ulang tahun yang terasa berbeda dari biasanya, sebuah perayaan yang untuk pertama kalinya dalam waktu lama membuatku merasa sangat bahagia.

 

Bocah Nakal dan Main Pegulat-pegulatan

1

"Fuffuffu."

"...Ayo maju!"

"Sini kalau berani!"

"Rasakan ini!"

Mahiru merentangkan lengannya yang kurus lalu mendaratkan pukulan lariat ke arahku.

"Taaah!"

Suara pukulan yang sangat lemah pun terdengar.

"Apa dia sudah kalah?"

"Hump."

Serangan selevel ini sama sekali tidak terasa sakit atau gatal buatku. Otot perutku berhasil memantulkan serangan Mahiru.

"Nggak mempan tuh? Sama sekali nggak mempan tahu."

"Kuh."

"Mahiru, mundur dulu. Kita atur ulang posisi!"

Sambil ditarik tangannya oleh Miya, Mahiru berpindah ke pinggir tempat tidur.

"Ciat!"

Asaka yang berada di luar tempat tidur menerjangku dari sisi berlawanan. Namun karena tubuhnya yang ringan, serangan ini juga sama sekali tidak memberikan damage.

"Fuhahaha, gerakanmu sudah kubaca!"

Aku merangkul Asaka yang menempel di pinggangku, lalu menangkapnya dengan membebatnya memakai selimut.

"Uwaa, tolong!"

Aku menahan pelan Asaka yang berontak di dalam selimut. Karena dia memakai kacamata, aku membiarkan bagian wajahnya tetap bebas.

"Lepaskan Asaka!"

Miya menerjang ke arahku, lalu memanfaatkan celah itu, Mahiru menyingkirkan selimut dan menyelamatkan Asaka.

"Haah, haah."

"Kamu nggak apa-apa, Asaka?"

"E-Emm."

"Kenapa? Cuma segini saja kemampuan kalian?"

"Dasar Yuu-nii sok gagah. Miya, Asaka, jepit dia dari samping!"

"Siap!"

"Emm!"

—Di sini adalah rumah keluarga Gendoji, kamar Asaka.

Yang sedang berlangsung di atas tempat tidur ukuran king size ini adalah pertarungan raid antara aku melawan para bocah nakal.

Aku tidak begitu paham standar kemenangan dalam permainan ini, tapi ini mungkin cuma perpanjangan dari main perang-perangan anak kecil.

Awal mulanya terjadi sekitar satu jam yang lalu.

Di TV sedang menayangkan acara spesial tentang gulat profesional, lalu para bocah nakal yang melihatnya mendadak bilang ingin mencobanya.

 

2

Di dalam layar kaca yang besar, para pria berpeluh keringat saling membenturkan tubuh mereka.

Cipratan keringat memantulkan cahaya lampu sorot dan berkilau indah.

"Uwaah, apa yang kayak gitu nggak sakit ya?"

Mahiru bergumam.

Itu adalah adegan saat jurus moonsault baru saja mendarat dengan sempurna.

Seorang pria berbadan besar yang berdiri di sudut ring melentingkan tubuhnya di udara, lalu mendarat di atas tubuh lawan yang sedang terkapar.

Kalau dilihat-lihat, banyak jurus dalam gulat profesional yang sepertinya juga terasa sakit bagi orang yang melancarkannya.

Sebagai seni bela diri yang berfokus pada hiburan, saling tukar jurus dan penampilan yang menawan adalah hal utama, sehingga beban yang ditanggung oleh para pegulat pasti sangat besar.

Meski begitu, mereka tidak menghindar dan menerima jurus itu dengan sempurna demi menghibur penonton, sungguh luar biasa.

Setelah itu, adegan saling tukar jurus hebat yang bikin cemas terus berlanjut hingga pertandingan memasuki babak akhir.

Di saat itulah—

"Ah, siapa nih orang ini!"

Miya berteriak kencang.

Seorang pengacau yang memakai topeng hitam naik ke atas ring, lalu melancarkan dropkick secara mendadak.

Setelah menjatuhkan salah satu pegulat, pegulat bertopeng hitam itu mengambil mikrofon dan memprovokasi satu orang yang tersisa.

Sepertinya pegulat bertopeng hitam itu adalah pegulat heel yang populer, sehingga sorakan ejekan dan teriakan riuh dari kursi penonton saling bersahutan, membuat suasana arena mencapai puncak antusiasme.

Tentu saja ini adalah bagian dari adegan settingan, tetapi anak-anak sering kali menganggap hal seperti ini secara serius.

"Kalahkan orang kayak gitu!"

"Curang banget sih!"

"Hajar diaaa!"

Bertiga yang sudah terhanyut ke dalam dunia gulat profesional pun bersorak memberikan dukungan dengan heboh.

Setelah itu, dua orang yang tadinya saling bertarung malah bekerja sama untuk mengalahkan si pegulat heel bertopeng hitam, menutup pertandingan dengan perkembangan alur persahabatan layaknya komik remaja.

Bahkan setelah penayangannya selesai, semangat gulat para bocah nakal ini tidak kunjung padam, dan tidak butuh waktu lama sampai mereka mulai merengek ingin mencoba gulat secara langsung.

Begitulah kronologinya.

◇

"Rasanya kurang dapet suasananya nih. Asaka, apa nggak ada barang yang kayak topeng hitam tadi?"

Miya bertanya.

"Barang yang bisa menutupi seluruh kepala?"

"Iya."

"Emmm... kayaknya nggak ada deh... Ah, tunggu sebentar!"

Sambil berkata begitu, Asaka berlari kecil keluar dari kamar.

Sepertinya mereka ingin menjadikanku sebagai pemeran heel yang muncul di tayangan tadi.

Mana mungkin ada topeng gulat yang pas secara kebetulan begitu, memangnya dia mau membawa apa?

Tidak lama kemudian, Asaka kembali sambil membawa selembar kain hitam.

"Topengnya memang nggak ada, tapi kalau ini dililitkan di kepala pasti bakal kelihatan mirip."

Barang yang diserahkan padaku adalah kain hitam dari bahan benang wol—sebuah syal.

"Baju atasannya juga lepas!"

Mahiru menarik kausku.

"I-Iya aku paham. Nanti melar tahu, jangan ditarik-tarik!"

Dengan begitu, aku yang luas area kain di tubuhnya sudah mendekati pegulat pun kembali bertarung melawan para bocah nakal.

"Ciat!"

Miya melancarkan dropkick tiruan yang pernah dilihatnya. Tapi jarak lompatannya sama sekali tidak cukup, sehingga dia jatuh duluan sebelum sempat mengenaku.

"Uwaaah!"

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Aku menindih tubuh Miya dan pura-pura meremukkannya.

"Lepaskan Miya, dasar mesum!"

Mahiru mulai memukuliku bertubi-tubi.

"Miya-chan, tunggu sebentar!"

Asaka menempel di punggungku. Aku mengulurkan tangan ke belakang untuk memegang perut Asaka, lalu menariknya ke bawah tubuhku.

"Kyaa!"

"Kamu juga sini!"

"Uwaah!"

Aku menarik tangan Mahiru, lalu menyeret anak ini juga. Tiga bocah nakal berontak di dalam pelukan lenganku.

"Hahaha, apa kalian mau mengaku kalah?"

"Mana mau!"

"Lepaskan, dasar mesum!"

"Tapi, gimana cara keluarnya?"

Fuhahaha.

Coba saja keluar kalau memang bisa.

Sesekali aku harus memberitahu para bocah nakal ini seberapa kuat diriku.

 

3

"Asaka, Ayah pulang...!"

Setelah sekian lama akhirnya pekerjaan selesai lebih cepat, Gendoji Hanayoshi yang membuka pintu kamar demi melihat wajah putri kesayangannya pun mendadak merinding ketakutan.

"Eh?"

Pria bertelanjang dada dengan kain hitam terlilit di kepalanya sedang menindih tiga anak perempuan di atas tempat tidur.

Apalagi kondisi di atas tempat tidur sangat berantakan dan kacau balau.

"A-Asaka!"

"Eh?"

"Keparat, lepaskan Asaka dan yang lainnya!"

"B-Bukan begitu!"

Hanayoshi menarik si orang mencurigakan dari anak-anak, lalu menguncinya.

"Ooh, ada pengacau!"

"Hebat banget, mirip kayak pertandingan tadi!"

"Ayah mau ikut main pegulat-pegulatan juga?"

"A-Apakah Anda ayahnya Asaka? S-Saya adalah—"

"Dasar kamu pria mesum!"

"Hei, kalian bertiga, buruan jelasin ke dia!"

"Asaka, semuanya, cepat lari! Panggil orang dewasa, terus telepon polisi!"

"Bukan begitu, ini salah paham!"

"Jangan berontak, dasar lolicon keparat!"

"Bukan begituuuuu!"

 

Setelah itu, kesalahpahaman berhasil diluruskan dengan susah payah.



Chapter 3 | ToC | Chapter 4

Post a Comment

Post a Comment

close