Kenangan Bersama "Bocah Nakal" Part 3
Bocah Nakal Ingin Menjadi Kuat
1
Memasuki bulan Agustus, puncak musim panas akhirnya tiba.
Buah semangka.
Menangkap serangga.
Festival kembang api.
Ada banyak hal yang menjadi ciri khas liburan musim
panas. Namun, yang paling dekat dengan anak-anak pastilah siaran ulang anime
nostalgia.
Berbagai mahakarya masa lalu itu menggoda anak-anak
yang sedang bergelut dengan pekerjaan rumah.
"Seru banget, ya!"
Ucap Mahiru yang sedang duduk di atas pangkuanku. Miya
dan Asaka sepertinya sedang ada urusan, jadi hari ini hanya ada Mahiru
sendirian.
"Deryaryaryarya!"
Mahiru tiba-tiba berdiri tegak. Ia melancarkan pukulan
dan tendangan membabi buta ke udara kosong dengan tangan dan kakinya yang
ramping.
"Hah, rasakan ini!"
Sungguh pemandangan yang membuat tersenyum.
"Yuu-nii, ayo bertarung!"
Anime yang baru saja kami tonton adalah "Dra*on Ball
Z". Setelah selesai menonton anime aksi seperti ini, pastinya semua orang
pernah melewati fase ingin bermain perang-perangan.
"Hmm, majulah."
"Taaa!"
Aku menahan pukulan lurus kanan Mahiru yang lemah itu. Aku hanya menggunakan telapak tanganku sambil tetap duduk.
"Ugh. Derya!"
Serangan selanjutnya adalah sebuah tendangan. Namun,
serangan itu juga terlalu lemah sehingga bisa kutahan dengan mudah.
Yah, tenaga anak perempuan kelas satu SD memang hanya
sebatas ini.
"Fuhahaha, ada apa ini, padahal kamu selalu bilang
aku lemah tapi cuma segini saja kemampuanmu? Seranganmu sama sekali tidak
mempan, loh."
"Uwaaa!"
Aku berdiri, lalu mencengkeram kedua pergelangan kaki
Mahiru dan mengangkatnya terbalik.
Memang terasa kekanak-kanakan. Namun, mengingat bagaimana
dia biasanya memperlakukanku, rasanya pembalasan semacam ini masih bisa
dimaafkan.
Kausnya tersingkap, memperlihatkan pusar di perutnya yang
tidak terbakar sinar matahari.
Meski begitu, tubuh anak kecil benar-benar ringan,
ya.
"Hei, turunkan aku, Dasar Mesum!"
"Siapa yang kamu panggil mesum?"
Aku menurunkan Mahiru kembali dan membusungkan dada
dengan bangga.
"Nah, inilah kekuatan asliku yang sebenarnya. Kalau
kamu sudah paham, jangan panggil aku kroco lagi, ya?"
"Sialan, aku akan pergi berlatih! Awas kamu,
ya!"
Mahiru melontarkan ancaman dengan nada kesal, lalu
berlari keluar.
"Astaga."
Apa aku sedikit keterlaluan?
Tidak. Sesekali aku memang harus menunjukkan kekuatan
orang dewasa kepada para bocah nakal yang selalu meremehkanku ini.
2
"Uwoooo!"
Mahiru sedang berlari mengelilingi taman. Dia benar-benar
lengah hingga bisa dikalahkan telak oleh Aritsuki.
Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Mahiru bersumpah akan berlatih keras di sini untuk
meningkatkan kekuatannya dan membalas dendam.
"Huft, istirahat dulu."
Ia minum air di tempat minum umum, lalu berjalan menuju
tiang panjatan.
Ia memanjat hingga ke puncak dan menatap tanah di
bawahnya.
Melompat dari tempat ini akan melatih daya lompatnya.
"..."
Mari turun satu tingkat, tidak, dua tingkat lebih rendah.
Bukannya dia tiba-tiba merasa takut, ya.
"..."
Turun sedikit lagi saja, deh.
"Eiya!"
Ia mengumpulkan keberaniannya dan melompat turun dari
tiang panjatan. Dengan begini, kekuatan kakinya pasti sudah bertambah.
Sekarang waktunya melatih lengan.
"Hup, hup, hup."
Saat baru setengah jalan melewati besi bergantungan,
lengannya mulai terasa kebas. Namun, dia tidak akan bisa menjadi kuat jika
tidak melampaui batas.
Ia berhasil melewati titik di mana ia biasanya menyerah.
Mahiru akhirnya sukses mencapai garis akhir.
"Huft, lelahnya."
Tepat saat latihannya selesai, bel tanda tengah hari
berbunyi. Ia memutuskan untuk pulang sejenak dan makan siang.
Ia harus mengisi kembali energinya dengan baik.
"Tunggu pembalasanku, Yuu-nii."
Di tengah kelelahan yang menyelimuti tubuhnya serta
teriknya mentari musim panas, Mahiru merasakan tanda-tanda perkembangan yang
nyata.
3
Saat aku sedang bersantai membaca buku di kamar,
terdengar suara keributan dari arah tangga. Sesaat kemudian, Mahiru melompat
masuk.
"Yuu-nii, ayo bertarung sekali lagi!"
Waktu saat ini menunjukkan pukul setengah dua siang.
Sekitar tiga jam telah berlalu sejak kejadian tadi.
"Bertarung? Bukannya tadi sudah jelas siapa
pemenangnya?"
"Aku sudah berlatih dan menjadi lebih kuat."
Mahiru melipat tangannya dan menyeringai.
"Oh?"
Terlalu serius menghadapi anak kecil juga terkesan
kekanak-kanakan, jadi mungkin kali ini aku harus mengalah. Aku pun berdiri dan
berhadapan dengan Mahiru.
"Fuhuffu. Apa kamu datang ke sini untuk kukalahkan
lagi? Berapa kali pun kita bertarung, hasilnya akan tetap sama."
Aku sengaja mengucapkan dialog yang mirip seperti
tokoh jahat.
"Berisiiik. Majulah!"
Setelah mengatakan itu, Mahiru merentangkan kedua
tangannya yang sudah terbakar sinar matahari lebar-lebar.
"Kekuatan kegelapan, mengalir masuk ke dalam
tubuhku!"
Menakutkan sekali.
"Terimalah hukuman suci ini!"
Ke mana perginya kekuatan kegelapan tadi?
Mahiru menarik kembali tangannya yang terentang ke depan
dada, lalu memiringkan postur tubuhnya.
"Rasakan ini! Inilah kekuatan kehancuran!"
Setidaknya konsistenlah dengan elemen kekuatanmu. Yah,
namanya juga anak-anak, mau bagaimana lagi.
Meskipun begitu, aku ini sungguh baik hati karena mau
meladeni lelucon anak kecil ini—
"Eiya!"
Tak.
"Haguu."
Dalam sekejap, pandanganku menjadi putih bersih. Rasa
sakit yang menyiksa menembus seluruh tubuhku, dan aku pun tumbang di tempat.
Tinju kanan Mahiru mendarat dengan telak tepat di
selangkanganku.
Sebuah keajaiban yang tercipta akibat perbedaan
tinggi badan kami.
Benar-benar pembunuhan raksasa sejati.
"A-Aaah."
Kenangan masa kecil dan wajah ibuku muncul dan menghilang
silih berganti di pelupuk mata. Sensasi mual seolah organ dalamku teraduk-aduk
seketika menyerang tubuhku.
"Hi, Hii."
Rasa sakitnya tidak kunjung mereda, dan aku mulai
mengeluarkan keringat dingin.
"Uwaaa, Yuu-nii, kamu tidak apa-apa?!"
Mahiru merengkuh kepalaku dan meletakkannya di atas
pangkuannya.
"M-Maaf, aku terlalu serius mengeluarkan
kekuatanku."
"A-Agugu."
"Tapi, bisa mengalahkan Yuu-nii hanya dengan satu
serangan begini... Sepertinya aku sudah menjadi terlalu kuat."
To-Tolong, siapa pun, selamatkan aku.
"...Aku akan menyegel kekuatan ini."
Siapa pun, tolong aku.
"Suatu saat nanti, demi mengalahkan musuh yang
sebenarnya."
Siapa pun...
Tim Penjelajah Bocah Nakal
1
"Ayo kita buat tim penjelajah."
Miya tiba-tiba berkata. Tempatnya ada di kamar Miya di
kediaman keluarga Haruyama.
Itu adalah kamar pribadi yang diberikan kepadanya sejak
masuk SD. Sebuah kamar yang kental dengan nuansa anak perempuan dengan warna
dasar merah muda.
"Miya-chan, penjelajahan itu, kita mau
ngapain?"
Tanya Asaka sambil meminum jusnya. Itu adalah pertanyaan
yang sangat wajar.
"Eh? Tentu saja mencari harta karun atau mengalahkan
monster, dong."
"Eeh, monster? Seram, ah."
"Tenang saja, Asaka. Kalau soal membasmi monster,
serahkan padaku."
Mahiru mengatakannya sambil berdiri dengan gaya melompat.
Gadis yang mengenakan pakaian aktif berupa kemeja lengan pendek dan celana
pendek itu menggenggam erat tinju kecilnya.
"Dua hari yang lalu, aku mengalahkan Yuu-nii hanya
dengan satu serangan. Monster sih bisa kuhabisi dalam sekali pukul."
"Benarkah!?"
Miya terkejut dan memajukan tubuhnya.
"Aku habis latihan, tahu. Latihan khusus yang sangat
keras."
"Hebatnya,"
Timpal Asaka.
"Bisa kalah dari anak perempuan, Yuu-nii ternyata
memang cupu, ya."
"Sudah, sudah, Miya. Yuu-nii memang cupu, tapi ini
juga karena aku yang sudah jadi terlalu kuat."
"Mahiru-chan keren sekali. Aku jadi merasa tenang.
Terus Miya-chan, kita mau menjelajah ke mana?"
"Hmm, ke mana yang bagus, ya."
Miya duduk bersila di atas kasurnya. Ia menempelkan kedua
jari telunjuk di kepalanya dan memutarnya.
"Kamu masih belum menentukannya?"
"Ehehe."
"Kalau begitu, aku tahu tempat yang bagus.
Sebenarnya aku sudah penasaran dari dulu."
Mahiru memunculkan senyum penuh keberanian.
"Di mana, di mana?"
"Itu lho, kalau kita jalan terus ke arah gunung dari
jalan raya di ujung kawasan pertokoan, ada sebuah rumah besar, kan?"
"Iya, ada. Tempat apa itu, ya?"
"Sepertinya sudah lama tidak ada yang tinggal di
sana. Anak laki-laki kelas dua sempat ribut dan bilang kalau itu rumah hantu,
loh."
"Rumah hantu, ya, sepertinya menarik."
Miya melompat turun dari kasurnya dengan hati riang.
"Baiklaaah, tim penjelajah, berangkat!"
"Ooo!"
"Ooo!"
2
"Cih, dasar Yuu-nii. Padahal aku berniat
menjadikannya bawahan tim penjelajah kita."
Mereka bertiga sempat mampir ke Moon Night Terrace, namun
sayangnya Aritsuki sedang tidak ada. Menurut Sayaka, dia baru saja pergi
keluar.
"Di sini tempatnya."
Tempat yang mereka bertiga tuju adalah sebuah rumah
bergaya Barat yang sudah tua. Dinding bata di beberapa bagian sudah terkelupas
dan jatuh, sementara jaring laba-laba bersarang di jendela-jendelanya yang
kusam.
Burung-burung gagak hinggap di halaman depan yang
terbengkalai. Pohon-pohon mati yang tampak bagaikan mayat pun tersebar
di sana-sini.
Eksistensi bangunan itu benar-benar berbeda dengan
rumah-rumah warga di sekitarnya.
Sambil menatap pintu gerbang besi yang berkarat parah,
mereka bertiga menelan ludah.
Meskipun rasa takut yang tidak sedikit mulai muncul, rasa
penasaran khas anak-anak sedikit lebih mendominasi.
"Kira-kira ada tempat untuk masuk tidak, ya."
Saat mereka berjalan mengelilingi pagar, mereka menemukan
bagian pagar di belakang telah runtuh dan membentuk sebuah lubang.
"Kita bisa masuk dari sini."
Ujar Mahiru.
Mereka membungkuk dan melewati lubang tersebut.
Tempat itu sepertinya adalah halaman belakang.
Kolam yang lebih mirip rawa. Permukaan tanah yang
ditumbuhi rumput liar yang lebat. Sebuah bangku putih yang warnanya sudah
memudar.
Dan sebuah patung batu malaikat yang bagian atas
tubuhnya telah hancur.
Tempat seperti apa ini sebelumnya? Manusia macam apa yang
pernah tinggal di sini?
Bagi para penikmat yang merasakan nilai romantis dalam
sebuah reruntuhan, mereka pasti akan membiarkan diri mereka terhanyut dalam
sentimentalitas itu dan membayangkan pemandangan para penghuni di masa lalu.
—Namun,
"Uwaa, luar biasa!"
"Benar-benar mirip rumah hantu, ya."
"N-nee. Hantunya tidak akan muncul, kan?"
Sensitivitas seperti itu sama sekali tidak ada pada para
bocah nakal ini.
"Miya, sebelah sana."
Di ujung tempat yang ditunjuk Mahiru, terdapat sebuah
jendela yang pecah berantakan. Entah ada yang sengaja memecahkannya atau pecah
karena alasan lain.
Hal semacam itu tidaklah penting.
Mereka bisa masuk ke dalam.
Fakta itu membuat antusiasme mereka bertiga mencapai
puncaknya. Dengan Mahiru berada di depan, para bocah nakal itu akhirnya
melangkah masuk.
"Uwah, gelap sekali."
Ucap Mahiru sambil melihat sekeliling. Meskipun saat
itu masih siang hari, bagian dalamnya tampak remang-remang.
"Syukurlah kita bawa senter."
Miya menyalakan senter yang dipegang di tangan
kanannya. Cahaya yang bergerak di tengah kegelapan itu tampak persis seperti
pedang laser.
"Mahiru-chan, jangan lepaskan tanganku, ya."
"Oh."
Asaka dan Mahiru saling menggenggam tangan satu sama lain
dengan erat.
Saat ini, mereka bertiga baru saja melewati ruangan
pertama yang mereka masuki dan sedang berjalan menyusuri lorong yang panjang.
Lukisan-lukisan digantung di dinding, sementara karpet di bawah kaki mereka
sangat kotor oleh debu dan kelembapan.
"Luar biasa, rasanya seperti berada di dalam gim
horor."
"Ruangan ini apa, ya?"
Miya membuka pintu yang muncul di sebelah kanannya. Saat
masuk, tempat itu sepertinya adalah sebuah ruang arsip. Buku-buku tebal
berjejalan rapat di rak buku yang tingginya mencapai langit-langit.
"Cuma ada buku. Membosankan."
Mereka kembali ke lorong. Pada saat itulah.
"Eh?"
Sahut Asaka.
"Ada apa?"
Tanya Mahiru.
"Tadi, di sebelah sana... sepertinya ada sesuatu
yang bergerak."
"Sebelah sana?"
Miya mengarahkan cahaya senternya ke ujung lorong, namun
di sana hanya ada sebuah belokan.
"M-mungkin kamu cuma salah lihat?"
"Kalau itu monster, aku yang akan
menghajarnya."
"Kamu yakin, Mahiru-chan?"
"Tentu saja yakin. Sudah kubilang tadi, kan? Aku ini
mengalahkan Yuu-nii dalam sekali pukul."
Miya dan Asaka menatap Mahiru yang sedang membusungkan
dada itu dengan pandangan penuh rasa hormat.
"Hei, apa ada orang di sana?"
Mahiru meninggikan suaranya. Namun, yang kembali
kepadanya hanyalah keheningan yang senyap.
"Hmm, sepertinya aku memang... salah lihat?"
"Kita akan tahu kalau maju terus, ayo."
Dengan Miya yang memegang sumber cahaya di depan,
rombongan itu mulai berjalan perlahan.
Mungkin karena mereka terdiam, setiap kali mereka
mengambil langkah, suara derit kayu mulai terdengar dari bawah kaki mereka. Hal
itu semakin memicu rasa takut.
Lima meter lagi menuju belokan.
Empat meter.
Tiga meter.
Dua meter.
Satu meter.
"Tangga?"
Begitu berbelok, mereka menemukan tangga yang menuju
lantai dua.
Miya mengarahkan cahaya serong ke atas.
"Naik ke atas, ya. Menarik."
Mahiru menyeringai.
Saat menaiki tangga, mereka tiba di sebuah tempat seperti
aula yang luas.
Sinar matahari yang masuk melalui jendela penerangan
besar semakin memberikan kesan usang pada tempat itu. Bau apek jamur memenuhi
udara, dan meski sedang puncak musim panas, entah mengapa udara di sana terasa
dingin.
Banyak patung batu malaikat—seperti yang ada di halaman
belakang—ditempatkan di sana. Mata patung yang tak bernyawa itu seakan menatap
tajam ke arah mereka bertiga.
"A-aku rasanya mulai ketakutan... mungkin."
Asaka menggenggam tangan Mahiru kuat-kuat.
"Tenang saja, siapa pun yang datang akan kuhajar
habis-habisan."
Begitu melewati aula, mereka keluar menuju lorong yang
panjang dan sempit. Terdapat beberapa pintu di sisi kanan dan kirinya, dan
mereka bertiga memasuki salah satunya.
Di bagian dalam ruangan ada pintu lagi, dan ketika
memasukinya, itu adalah ruangan lain. Begitu melewatinya, mereka kembali ke
lorong.
Sepertinya lantai dua memiliki struktur yang cukup rumit.
Hanya dalam sekejap, mereka kehilangan arah dan tidak
tahu di mana posisi mereka saat ini.
Mereka memasuki sebuah ruangan gelap.
Tempat ini tidak memiliki jendela, dan tentu saja tidak
ada aliran listrik, jadi mereka hanya bisa mengandalkan cahaya dari senter.
Mungkin karena sudah lama ditutup rapat, udaranya terasa pengap dan
menyesakkan.
"Kyaa!"
Asaka menjerit.
"Ada apa?"
Miya bergegas menghampirinya.
"I-itu, ada yang lembek. Di sana."
Saat Miya mengarahkan cahaya senter, terlihat sebuah
tempat lilin dengan sisa-sisa lilin yang sudah meleleh menumpuk di atasnya.
Mungkin saja hawa panas ini telah membuatnya meleleh. Ada
kemungkinan juga hal ini karena lilin tersebut telah dibiarkan rusak dalam
waktu yang lama.
Bagaimanapun juga, tampaknya Asaka tak sengaja
menyentuhnya.
"Benda putih yang lembek, menjijikkan."
"Ini perangkap monster!"
"Aku ingin cuci tangan, ah."
"Ayo cari dapur."
Tentu saja, karena aliran air di rumah ini juga
terhenti, mencari dapur adalah hal yang sia-sia. Namun, tanpa menyadari fakta
itu, para bocah nakal ini justru semakin tersesat jauh ke dalam rumah.
"Hei, kalian dengar suara yang aneh tidak?"
Ujar Mahiru.
"Masa?"
Miya mengayunkan cahaya senternya.
"Bunyinya haaah... Seperti suara napas."
"Berarti memang ada sesuatu di sini."
Saat mereka maju hingga ujung lorong, ada dua buah
patung batu malaikat seperti sebelumnya yang berjejer. Di tengah-tengahnya,
terdapat pintu ganda berwarna merah menyala yang terkunci rapat dengan gembok
dan rantai.
Berada di dalam rumah, namun ada pintu yang dikunci
dari luar. Ketiganya menelan ludah saat berdiri di hadapannya.
"A-apaan ini."
"Ada sesuatu yang disegel... Ugh, baunya!"
Saat Miya mendekatkan wajahnya ke celah pintu, bau
busuk yang belum pernah dihirupnya menusuk hidung. Bahkan bocah-bocah nakal ini
akhirnya mulai menyadari kalau ada sesuatu yang salah dengan rumah ini.
"H-hei, kita... pulang saja, yuk."
Saat Miya berbicara, keduanya pun mengangguk.
Kemudian, mereka berbalik arah.
"Loh."
Celetuk Miya.
"Ada apa?"
Tanya Mahiru.
"Tadi kita masuk lewat jalan yang mana, ya?"
◇
Melewati pintu, masuk ke ruangan lain, dan membuka pintu
lagi. Terkadang mereka keluar ke lorong, namun kadang juga terjebak di jalan
buntu.
Entah sudah berapa kali mereka mengulanginya.
"H-hei, bukannya kita sudah lewat sini tadi?"
"P-pintu keluarnya... kita harus cari
tangganya."
"Ada suara lagi, tuh."
Mereka bertiga berkeliaran dengan wajah yang sudah
setengah menangis.
Tersesat di tempat yang baru pertama kali dikunjungi dan
tidak tahu seluk-beluknya. Itu adalah hal yang wajar.
Tidak ada orang dewasa yang bisa diandalkan, namun mereka
sendiri tidak bisa melakukan apa-apa. Saat menyadari hal tersebut, ketiganya
akhirnya menyadari seberapa gawatnya situasi mereka.
Mungkinkah mereka tidak akan pernah bisa pulang lagi?
Ketakutan semacam itu merayap naik dari ujung kaki mereka.
"Wawaah!"
Kaki Mahiru tersandung sesuatu yang tergeletak di
bawahnya hingga ia terjatuh.
"Aduh, apaan sih ini...!"
"Kamu tidak apa-apa?"
"Kamu tidak apa-apa?"
Papan dinding di sekitar sana sudah membusuk dan
mengelupas. Sepertinya kakinya tersangkut pada salah satu dari papan tersebut.
"Uugh."
Air mata perlahan mulai menggenang.
"Aku sudah... mau pulang... Uwaaah."
Melihat tangisan Mahiru yang biasanya selalu keras
kepala, dua anak lainnya pun ikut terbawa suasana.
"Uwaaaaa."
"Ibuuu."
Mereka bertiga duduk lemas di tempat itu dan menangis
tersedu-sedu.
"Waaaah."
"Yuu-nii."
"Tolong siapa pun tolong kami..."
Seakan-akan memojokkan ketiga anak tersebut, suara
langkah kaki misterius mendekat dari arah belakang mereka.
Tap.
Tap.
Tap.
"Hii."
"S-siapa?"
Tap.
Tap.
Tap.
"Lagi pada ngapain sih kalian ini."
Sosok yang muncul itu adalah Aritsuki.
"Yuu-nii!"
"Yuu-nii!"
"Yuu-san."
Alasan mengapa ia ada di tempat ini sudah tidak penting
lagi. Perasaan lega membanjiri mereka dalam wujud air mata.
"Hei, jangan nempel-nempel begini dong. Panas,
tahu. Astaga, ayo kita pulang."
3
"Dengar ya, kalian tidak boleh masuk sembarangan ke
rumah yang tak dikenal. Untung saja aku yang menemukan kalian, kalau itu paman
mesum bagaimana?"
"Hiks, srot."
"Ueeeh."
"Yuu-nii, Yuu-nii."
Ketiga anak itu masih belum berhenti menangis.
Lagipula, saat anak-anak ini menyusup ke rumah itu, aku
benar-benar jantungan.
Ke Tempat Suci Warisan, alias Tempat Pembuangan Buku
Dewasa itu.
Pinggir sungai. Taman. Hutan kecil.
Tentu tidak sedikit pemuda di masa puber yang tertolong
oleh tempat-tempat semacam ini. Baik sebagai lokasi membuang buku dewasa yang
sulit disingkirkan, maupun sebagai lokasi menikmati buku dewasa yang dibuang.
Rumah kosong itu juga salah satunya.
Aku menemukan tempat ini saat masih kelas enam SD. Saat
memasukinya untuk ajang uji nyali, aku menemukan tumpukan buku dewasa yang
dibuang di salah satu sudut halamannya.
Tampaknya ada laki-laki yang secara rutin membuang atau
menyembunyikan buku dewasa di rumah kosong yang sudah tidak memiliki penghuni
maupun pengurus itu. Aku sendiri sering mampir ke sana untuk mengagumi
buku-buku tersebut.
Akan tetapi, baru kali ini aku benar-benar masuk
sampai ke dalam rumahnya.
Niat awalnya aku mengikuti anak-anak ini untuk
menakut-nakuti mereka sebagai pembalasan yang biasa, tapi tak kusangka mereka
malah sampai menangis.
Walaupun terlihat sombong, mereka tetaplah anak-anak.
Aku sudah melakukan hal buruk.
Apa setelah pulang nanti kutraktir pencuci mulut saja,
ya?
Namun tetap saja, rumah itu punya aura yang sangat
berbahaya.
Pintu tertutup itu, sebenarnya apa, sih? Memangnya ada
barang berbahaya yang dikurung di sana?
"Hei, mau sampai kapan kalian menangis."
"Habisnyaa."
Pada saat itulah, seseorang menepuk-nepuk punggungku.
"Ah, Nak. Boleh minta waktunya sebentar?"
"Eh?"
Saat aku menoleh, ada beberapa polisi berdiri di sana. Sebuah mobil patroli tampak terparkir di belakang mereka.
Hal yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat tubuhku
mematung.
"Hah?"
"Kami mendapat laporan tentang anak perempuan
yang menangis keluar dari rumah kosong bersama seorang laki-laki. Bisa
tolong ceritakan kejadiannya?"
Eh? Hah?
"Kalian tenang saja, sekarang sudah tidak
apa-apa."
"B-bukan, tunggu dulu."
Polisi-polisi bertubuh kekar mulai mengepung
sekelilingku.
"Tu-tunggu—"
"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah sana?"
Tanya polisi paruh baya pada bocah-bocah nakal itu.
Kumohon, jangan katakan hal yang aneh-aneh.
"Ada benda putih yang lembek,"
Sahut Asaka.
"Baunya busuk,"
Ujar Miya.
"Sakit sekali,"
Imbuh Mahiru.
"...Kurasa kami perlu mendengar penjelasanmu
lebih lanjut di kantor polisi."
"T-tidak, Anda salah paham. Anak-anak
ini hanya kenalan saya."
"Ya, kami akan mendengarkan ceritamu nanti."
Orang-orang di sekitar menatapku dengan pandangan
dingin.
Bukan begitu. Ini cuma salah paham.
Bukan begituuuuu.
◇
Pada akhirnya bocah-bocah nakal itu berhenti menangis
dan kesalahpahaman berhasil diselesaikan. Namun, ini benar-benar pengalaman
yang sangat buruk bagiku.




Post a Comment