NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Sedikit Lagi Saja...


1

"Oh, kangennya. Benar juga, gedung olahraga yang sebelah sini..."

Hari Sabtu, pertengahan bulan April telah berlalu. Aku mulai terbiasa dengan pekerjaanku di Moon Night Terrace. Setelah mendapat hari libur yang sudah lama kutunggu, aku pun berkunjung ke almamater SMA-ku.

Pepohonan sakura yang sedang mekar penuh berjejer di kedua sisi jalan setapak yang membelah area sekolah dari timur ke barat. Pemandangan deretan pohon sakura itu benar-benar menakjubkan.

Aku berjalan santai menyusuri jalan itu. Pikiranku tenggelam dalam kenangan masa SMA.

Klub sepak bola sedang berlatih di lapangan sebelah selatan. Sementara itu, para pelari jarak jauh dari klub atletik berlari memutari bagian luarnya.

Hmm, pemandangan yang sangat membuatku bernostalgia.

Sepertinya hari ini ada pertandingan latihan klub voli putri. Karena itulah aku datang ke sini untuk menonton.

Jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin melihat bagaimana penampilan Mahiru yang kini menjabat sebagai kapten. Demi menjaga kehormatanku, aku tegaskan bahwa aku sama sekali tidak punya niat mesum.

Mengingat anak itu masuk ke SMA yang sama denganku membuat mataku berkaca-kaca. Sepertinya aku jadi semakin cengeng seiring bertambahnya usia.

Aku melangkah menuju gedung olahraga kedua yang menjadi pusat kegiatan klub voli. Sepertinya sesi pemanasan mereka sudah selesai.

Para pemain berkumpul sesuai asal sekolah mereka masing-masing. Saat ini mereka sedang sibuk melakukan peregangan.

Sesuai dugaanku terhadap klub voli. Ada banyak sekali gadis yang postur tubuhnya lebih besar dariku di sini.

Biar kulihat, SMA Utara ada di sebelah sana, ya.

Mahiru, Mahiru...

Aku melihat Mahiru berdiri di depan spanduk berisi moto sekolah, yaitu "Semangat, Keyakinan, dan Keceriaan".

Sepertinya dia sedang mendiskusikan sesuatu dengan pelatihnya.

Kalau aku ke sana sekarang, pasti hanya akan mengganggu.

Aku naik ke lantai dua dan duduk di tempat yang kosong. Aku akan menjadikan tempat ini sebagai kursi dukunganku.

Pembicaraan mereka sepertinya sudah selesai. Aku pun memanggilnya dari kejauhan.

"Oooi, Mahiru!"

"?"

Dipanggil secara tiba-tiba membuat Mahiru menoleh ke sana kemari dengan bingung. Ngomong-ngomong, aku memang tidak memberitahunya kalau aku akan datang menonton hari ini.

"Di atas, di atas."

Wajah kecil Mahiru mendongak. Tatapan kami pun saling bertemu.

"Y-Yuu-nii!"

"Yo."

Mahiru berlari menghampiriku tepat di bawah balkon. Wajahnya terlihat memerah saat dilihat dari dekat. Apa mungkin itu karena efek pemanasan?

"Apa-apaan nih, kamu datang?"

"Aku datang untuk mendukung Kapten Mahiru."

"Jangan mengejekku, deh. Terus, dari mana kamu tahu kalau hari ini ada pertandingan?"

"Salah satu pelanggan tetap di tempat kerjaku kebetulan adalah ibu dari pemain sekolah lawan. Aku tanpa sengaja mendengar percakapan tentang pertandingan latihan melawan SMA Utara hari Sabtu ini."

"Jadi karena itu kamu datang?"

"Memangnya aku tidak boleh datang? Ah, apa jangan-jangan pacarmu juga datang?"

"Enggak, aku ini belum punya pacar. Boleh-boleh saja sih kalau kamu mau mendukungku. Tapi tolong jangan terlalu mencolok, ya."

"Aku tahu, kok. Aku akan menonton dengan tenang dari sini."

"...Dasar mesum."

"Hah—"

Bukan, maksudku bukan menonton yang seperti itu. Aku datang ke sini dengan niat yang murni dan sehat.

Baru saja aku hendak membela diri, Mahiru sudah membalikkan badannya dan kembali ke arah rekan-rekan setimnya.

◇

Aku benar-benar tidak menyangka Yuu-nii akan datang. Padahal ini cuma pertandingan latihan biasa.

Aduh, ada-ada saja.

"Kak Mahiru, cowok yang barusan itu jangan-jangan... pacar Kakak, ya?"

"Mahhi punya pacar?"

Rekan-rekan setimku langsung berkerumun mengelilingiku.

"Hei, akhirnya kamu punya pacar juga?"

"Aduh, sudah kubilang bukan. Hubungan kami tidak seperti itu."

"Tapi kalian kelihatan akrab banget, lho. Wajah Kakak juga merah merona begitu."

"I-Ini karena cuacanya panas."

"Padahal jendelanya dibuka lebar semua, lho."

"Salah satu sudut dari Tembok Besi Sang Gadis Suci akhirnya runtuh juga..."

Siapa coba yang memberiku julukan kekanak-kanakan seperti itu?

"Makanya aku bilang, dia itu cuma sosok yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Dia sering merawatku sejak aku masih kecil."

"Heee~"

"Oh, begitu~"

"Yah, kita anggap saja memang begitu untuk sekarang."

"Aduh, terserah kalian deh."

Dasar Yuu-nii. Situasinya jadi merepotkan begini, kan.

Lihat saja, akan kuhajar dia saat perjalanan pulang nanti.

"S-Sudahlah, abaikan saja soal itu. Pertandingannya sudah mau mulai, nih. Jangan lengah hanya karena ini pertandingan latihan, ya."

◇

Para pemain mulai membentuk lingkaran.

Mahiru dengan sigap memberikan instruksi, dan semua anggota tim mendengarkannya dengan saksama.

"SMA Utara... Fight!" seru Mahiru. Sedetik kemudian, anggota klub lainnya ikut berseru.

"Ooo!"

Pertandingan pun dimulai.

Aku tidak terlalu paham detail aturan permainan voli. Tapi intinya, mereka hanya perlu memukul bola agar jatuh ke area lawan, kan?

Bola melesat ke kanan dan ke kiri di udara. Suasana sangat riuh saat para pemain melompat, memantul, hingga meluncur mengejar bola.

Mahiru sepertinya menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai seorang kapten.

Jika ada rekannya yang melakukan kesalahan, dia akan berlari menghampiri untuk menyemangati mereka. Saat timnya mencetak poin, dia mengekspresikan kegembiraannya melebihi siapa pun untuk membangkitkan semangat anggota yang lain.

"Anak itu... sudah tumbuh sehebat itu, ya."

Kenanganku tentang Mahiru yang dulu sangat tomboi dan nakal seperti anak laki-laki kembali teringat. Mahiru yang itu.

Mahiru yang pendek, sombong, dan punya rasa percaya diri yang aneh itu, kini memimpin rekan-rekannya sebagai seorang kapten.

Melihat sosoknya sekarang, aku kembali merasakan betapa beratnya bobot waktu sepuluh tahun yang telah berlalu.

Mataku mulai terasa panas.

"Uwoooooo, Mahiru!"

Tanpa sadar aku sudah berdiri dari kursiku dan meneriakkan namanya keras-keras.

◇

"Uwah, ada apa dengan om-om itu? Dia memberi semangat sambil menangis."

"Padahal ini cuma pertandingan latihan..."

"Mahhi, orang itu cowok yang tadi, kan?"

"Haha, ya, dia bukan orang jahat, kok. Daripada mengurusi dia, mending kalian fokus ke pertandingan."

"Baiklah."

"Oke."

"Siap."

"Mahiru, berjuanglah!"

...Gimana mau fokus, coba.

Apa laki-laki itu tidak punya rasa malu sama sekali? Kenapa dia harus berteriak sekencang itu?

Dasar Yuu-nii bodoh.

Tapi yah, aku sebenarnya... senang sih dia memberiku dukungan.

◇

Pertandingan berakhir dengan kemenangan SMA Utara tanpa hambatan berarti.

Kami sedang dalam perjalanan pulang. Burung-burung gagak tampak terbang membelah langit senja.

Aku dan Yuu-nii berjalan berdampingan, membaur dengan para pekerja kantoran yang pulang bekerja dan ibu-ibu rumah tangga yang baru selesai berbelanja.

"Jangan menangis sungguhan sambil teriak-teriak begitu dong, padahal kamu sudah dewasa. Aku malu banget tahu, ditontonin orang banyak."

"Habisnya... habisnya, Mahiru sudah tumbuh jadi gadis yang begitu hebat... Uuuh."

Uwah, dia mulai menangis lagi.

Mau bagaimana lagi, deh.

"Cup, cup, cup. Sudah, sudah."

Aku merapatkan tubuhku padanya dan mengusap-usap kepala Yuu-nii.

"...Jangan memperlakukanku seperti anak kecil!"

"Bukankah tadi kamu sendiri yang menangis cengeng begitu?"

"Omong-omong, pukulan spike tadi sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka kecepatannya bisa secepat itu."

"Bahkan untuk pemain wanita, kecepatan seratus kilometer per jam itu sangat mudah dicapai, lho."

"Hebat sekali."

Yuu-nii tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.

Sepasang matanya menatap tajam langsung ke dalam mataku.

"Waktu sepuluh tahun itu... ternyata sangat lama, ya."

Dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.

"Tentu saja."

Di jalan pulang yang kami lalui berdua.

Bayangan yang memanjang di depan kami kini terlihat sama panjangnya.

 

ï¼’

——Istirahat siang pada hari Senin.

"Aku lapar sekaliiii."

"Oooi, Miya."

Mahiru memanggilku dari ambang pintu kelas.

"Aku ke sana sekarang."

Para siswa yang sejak pagi sibuk belajar kini menghabiskan waktu istirahat mereka. Mereka menyebar di berbagai tempat sesuka hati, duduk berkumpul bersama teman-teman dekat.

Kami memilih duduk di kursi meja dekat jendela kantin.

Kantin selalu penuh sesak setiap jam makan siang, jadi mencari tempat duduk selalu menjadi tantangan tersendiri. Untungnya, hari ini kami berhasil mendapatkan tempat duduk di dalam ruangan.

Kalau sedang sial, kami terpaksa makan di atas rumput di luar. Yah, walau sebenarnya makan di luar juga terasa menyenangkan kalau cuacanya sedang bagus.

"Nafsu makanmu masih luar biasa seperti biasa, ya."

Hidangan yang tersaji di hadapan Mahiru adalah paket mangkuk nasi dengan katsu porsi besar. Dia mampu melahap habis porsi yang bahkan sulit dihabiskan oleh anak laki-laki.

Kalau sedang dalam kondisi prima, dia bahkan sanggup menambah porsi. Benar-benar mengerikan.

Kurasa wajar saja kalau dadanya bisa tumbuh sebesar itu. Aku yakin dadaku juga tergolong besar, tapi ukuran milik Mahiru benar-benar berada di level yang berbeda.

"Habisnya jadwal pertama pagi ini adalah pelajaran olahraga. Aku malah heran bagaimana porsi sekecil itu bisa membuat Miya kenyang."

Menu makan siangku hari ini hanya terdiri dari roti isi, selada, dan puding sebagai hidangan penutup. Tidak ada yang istimewa dari makananku ini.

Sangat standar untuk ukuran makan siang seorang siswi SMA pada umumnya.

"Ngomong-ngomong Mahiru, kamu ada pertandingan latihan hari Sabtu kemarin, kan?"

"Hmm, iya. Oh iya, lawannya SMA Barat waktu itu."

Mahiru mengunyah sepotong katsu di mulutnya.

"Terus, bagaimana hasilnya?"

"Sudah pasti kami menang, dong."

Mahiru membusungkan dadanya dengan bangga.

"Selamat, ya. Sesuai dugaanku."

Klub voli putri di sekolah kami cukup terkenal sebagai salah satu tim terkuat di daerah ini. Di masa lalu, sekolah ini telah melahirkan atlet-atlet yang berprestasi sebagai perwakilan Jepang.

Saat Mahiru masih kelas satu, tim kami juga berhasil lolos ke turnamen tingkat nasional.

"Tapi pertandingannya lumayan berat, lho. Lagian ada masalah tak terduga yang terjadi di tengah-tengah."

"Eh? Masa sih? Masalah tak terduga apa?"

Ini sungguh hal yang tidak biasa.

Apakah tiba-tiba ada anggota yang tidak bisa ikut bermain? Atau jangan-jangan pelatih mereka mendadak tidak bisa hadir?

Mahiru tersenyum simpul dengan wajah berseri-seri saat dia mulai bercerita.

"Jadi begini, Yuu-nii tiba-tiba datang untuk memberiku dukungan, dan itu sangat merepotkan."

"Hee, Yuu-nii, ya..."

Hah?

"Yuu-nii benar-benar membuatku kerepotan. Dia menangis tersedu-sedu sambil berteriak 'Mahiru!' dan 'Berjuanglah!'. Aku malu banget, tahu nggak. Tolong ampuni aku, deh."

"Oh, begitu."

Mahiru menceritakan hal itu dengan wajah yang bersemu merah.

Sementara itu, aku yang duduk tepat di hadapannya juga ikut memerah, namun dengan arti yang sama sekali berbeda.

"Bisa-bisanya orang dewasa menangis di depan umum seperti itu? Padahal itu cuma pertandingan latihan biasa, apa yang harus dibikin terharu, coba? Gara-gara dia, aku sama sekali tidak bisa fokus, sangat mengganggu."

"Hee..."

Kalau hanya mendengar kata-katanya saja, itu memang terdengar seperti keluhan. Namun, ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan kalau dia sedang memamerkan kemesraan.

"Apalagi waktu jalan pulang, dia mulai menangis lagi. Sudah pasti seseorang akan tumbuh dan berubah dalam sepuluh tahun, kan. Rasanya menyebalkan banget karena dia terus saja menganggapku seperti anak kecil."

"Oh, ya ampun."

Hah?

Apa-apaan ini?

Kenapa Yuu-nii bisa sampai di sana?

"Katanya, ada orang tua dari pemain sekolah lawan yang kebetulan mampir ke tempat kerjanya. Aku padahal tidak memberitahunya apa-apa, tapi dia datang sendiri ke sana. Padahal aku sama sekali tidak menyuruhnya datang, lho."

Mahiru berkata seperti itu sambil tersenyum lebar.

"...Heee."

Gununu...

"Tidak menyuruhnya datang"?

"Menganggapku seperti anak kecil"?

Itu mah namanya pamer dengan kedok merendah, tahu!

"Yuu-nii memang punya sifat seperti itu sejak dulu, kan. Dia itu terlalu ikut campur, atau bisa dibilang terlalu overprotektif."

"...Begitulah."

Hatiku kini sedang terbakar oleh api kecemburuan. Padahal dia tahu aku selama ini berjuang sendirian, tapi dia malah asyik bermesraan dengan Yuu-nii.

Padahal aku menganggapnya sebagai sahabat yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, teman sejak TK tingkat akhir dengan hubungan yang sudah terjalin lebih dari sepuluh tahun... Begitu ya, berani-beraninya kamu mencuri start dariku.

Tunggu dulu?

Pipi yang merona merah dan tatapan mata yang sayu itu... Jangan-jangan si Dada Besar ini naksir dengan Yuu-nii?

Sontak rasa merinding langsung menjalar di punggungku.

Kalau begitu, ini gawat.

Aku tidak tahu persis apa preferensi Yuu-nii, tapi kalau kami bersaing hanya dengan mengandalkan ukuran dada, aku sudah pasti kalah telak.

Ngomong-ngomong, aku ingat saat kami bertemu lagi, dia seolah sengaja memeluk Yuu-nii dan diam-diam menekan dadanya ke arah laki-laki itu. Kalau Yuu-nii ternyata adalah pencinta payudara...

"A-aaawawawa..."

"Awa? Maksudmu busa?"

Oh, begitu rupanya. Jadi dia berniat menggoda Yuu-nii dengan cara itu.

Padahal waktu SMP dulu dia pernah curhat kalau dia malu dipandangi oleh anak laki-laki, tapi sekarang dia malah menggunakan senjata itu semaksimal mungkin, ya?

Dasar makhluk yang sangat tidak tahu malu...

"Oh iya, waktu itu aku sempat membahas hal ini dengan Yuu-nii. Bagaimana kalau kita bertiga pergi jalan-jalan bersama nanti?"

"Aku ikut~♪"

"Kamu pasti ingin cepat kembali ke hubungan kita yang dulu, kan? Aku juga ingin kita bisa segera kumpul-kumpul dan bersenang-senang seperti sepuluh tahun yang lalu. Aku akan membantumu."

Aku ikut, aku ikuuuuut.

Mahiru memang sangat baik hati, ya. Walau umur kami sama, dia selalu membimbingku layaknya seorang kakak perempuan dan sangat perhatian.

Sejak dulu aku sangat mengagumi sifatnya yang satu itu~♪

Teman yang paling bisa diandalkan memang adalah sahabat sendiri. Sudah kuduga dari sahabat terbaikku sejak TK.

"Mahiru, puding ini buatmu saja."

"Eh? Apa tidak apa-apa?"

"Iya."

"Kalau begitu, lebih cepat lebih baik. Biar kucoba hubungi Yuu-nii sekarang, ya."

Mahiru mengeluarkan ponsel pintarnya.

"Ah, aku kan tidak tahu kontaknya. Miya, apa kamu tahu?"

"Aku juga belum bertukar kontak dengannya. Bagaimana kalau kita telepon saja ke Moon Night Terrace dulu?"

"Ide bagus."

Angin musim semi yang berhembus sepoi-sepoi masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Di dalam hatiku pun, angin yang sangat menyegarkan ikut berhembus.

 

3

Pukul setengah lima sore. Di alun-alun depan stasiun.

"Yo, Yuu-nii."

"Selamat sore, Yuu-nii."

"Yo."

Keduanya datang bersamaan mengenakan seragam SMA berupa blazer hijau tua yang dipadukan dengan rok bermotif kotak-kotak. Di bagian kaki, mereka mengenakan sepatu pantofel berwarna hitam.

"Maaf, apa aku membuat kalian menunggu?"

"Tidak, aku juga baru saja sampai, kok."

"Begitu, ya."

Percakapan kami barusan benar-benar terasa seperti janji temu untuk kencan. Aku tidak pernah menyangka akan ada momen dalam hidupku di mana aku mengucapkan kalimat seperti itu.

Terlebih lagi, lawan bicaraku adalah siswi SMA aktif yang usianya sepuluh tahun lebih muda dariku...

Siang tadi, Mahiru mengusulkan agar kami pergi bermain bertiga bersama dengan gadis cantik misterius ini.

Aku langsung setuju karena kuanggap ini sebagai kesempatan bagus untuk mencari tahu siapa nama asli gadis cantik misterius tersebut. Namun setelah kupikir-pikir lagi, apakah secara etika pantas bagi pria tua berusia sekitar tiga puluh tahun sepertiku untuk jalan-jalan dengan siswi SMA?

Kalau Mahiru sih tidak masalah. Tapi gadis yang satunya lagi kan adalah gadis cantik yang namanya saja tidak aku ketahui...

Bagaimana kalau orang-orang di sekitarku berpikir kalau kami sedang melakukan kencan bayaran? Di masa lalu, aku pernah dituduh macam-macam karena berbagai kesalahpahaman sampai hampir berurusan dengan polisi—untungnya semua kesalahpahaman itu bisa diselesaikan dengan baik—jadi aku agak khawatir juga.

"Hup."

Sambil berkata begitu, Mahiru langsung melingkarkan lengannya ke lenganku. Sensasi kelembutan yang luar biasa dahsyat mendadak menyerang lengan atasku.

"Woa, he-hei, apa yang kamu—"

"Apanya yang apa? Dulu kan kita juga sering bergandengan tangan, tahu."

"Itu kan cerita zaman dulu."

"Tidak apa-apa dong, kita kan sedang kencan."

"Kita bukan sedang kencan, woi."

Tinggi badan Mahiru sekarang tidak jauh berbeda denganku. Malahan, Mahiru mungkin beberapa sentimeter lebih tinggi. Saat dia menempelkan tubuhnya, wajah Mahiru seketika berada sangat dekat denganku.

Ah, bulu matanya lumayan panjang, ya. Apalagi bibir berwarna merah muda sakuranya terlihat sangat kenyal—

Dasar aku bodoh!

Lawan bicaraku ini Mahiru, lho?

Meskipun sekarang dia sudah tumbuh jadi gadis cantik, tidak seharusnya aku merasa berdebar pada sosok yang sudah kuanggap adik sendiri sejak kecil.

"Kalau begitu, aku ambil tangan yang sebelah sini, ya."

Gadis cantik misterius itu berbicara sambil perlahan menggenggam tanganku yang satu lagi.

Kehangatan dari telapak tangannya yang mungil merambat pelan ke kulitku.

Ada apa ini? Memangnya aku habis berbuat apa?

Kenapa Tuhan memberikan jalan cerita layaknya adegan komedi romantis seperti ini kepadaku...?

Apakah jangan-jangan aku akan mati besok?

Ataukah ini hadiah kompensasi dari Tuhan atas penderitaanku selama sepuluh tahun bekerja di perusahaan yang mengeksploitasi karyawan?

Ini benar-benar situasi memegang bunga di kedua tangan seperti arti kiasannya.

Orang-orang yang berpapasan denganku—terutama para pria—menatap tajam dengan penuh kebencian ke arahku.

"Tidak, tidak, ini benar-benar tidak bagus. Cepat lepaskan tanganku, kalian berdua."

Aku memaksa melepaskan genggaman kedua gadis itu.

"Muu..."

"Cih. Ya sudahlah. Kalau begitu, kita mau pergi ke mana sekarang?"

"Aku sih belum menentukan apa-apa. Apa ada tempat yang ingin kalian datangi?"

"Apa-apaan nih Yuu-nii. Kamu tidak punya rencana apa pun padahal sedang mengencani dua siswi SMA sekaligus, hah?"

"Berhenti menggunakan pilihan kata yang aneh begitu."

"Ano... aku ingin pergi ke tempat karaoke."

Gadis cantik misterius itu memberikan usulan.

"Karaoke? Boleh juga. Setuju tidak, Yuu-nii?"

"Tentu saja."

Dengan begitu, tujuan kami pun diputuskan ke tempat karaoke.

◇

Fufu, si Miya sepertinya mulai panik, ya?

Kalau tidak segera membuang harga diri konyolmu itu, nanti kamu benar-benar akan tertinggal sendirian, lho?

Lengan Yuu-nii terasa sangat kokoh dan hangat, ya...

Aku perlahan menyentuh bagian dadaku.

Jantungku berdebar sangat kencang, bahkan rasanya detakannya bisa dirasakan menembus lapisan blazer ini.

 

Kami tiba di tempat karaoke terdekat. Kakak resepsionis menatap kami dengan curiga, tapi aku memilih untuk tidak mempedulikannya.

"Etoo, paket bebas waktu untuk tiga orang. Ah, apa kami bisa memakai diskon pelajar untuk dua orang saja? Kalau begitu—"

"...!"

Mataku langsung berbinar seketika.

Ini adalah kesempatan emasku!

Untuk mendapatkan diskon pelajar, mereka perlu menunjukkan kartu pelajar. Dan sudah pasti, nama asli mereka tercantum di sana.

Orang mungkin akan menganggapku pengecut.

Tapi kalau tanpa sengaja terlihat, itu namanya murni tidak disengaja, kan?

Setidaknya tidak akan ada kutukan yang menimpaku hanya karena aku melihat satu huruf saja.

Lagipula, menebak nama lengkap orang yang sama sekali tidak aku kenal adalah ujian yang terlampau sulit.

Kalau aku tidak menggunakan celah licik semacam ini, aku pasti tidak akan pernah menemukan jawabannya.

Mahiru dan gadis cantik misterius itu mengeluarkan kartu pelajar mereka. Aku diam-diam memiringkan tubuhku dari samping mereka.

Sial, sedikit lagi tolong geser kepalamu ke samping.

Aduh, aku benar-benar tidak bisa melihat tangannya karena terhalang oleh posisi dada Mahiru!

Ah, benar juga, ada cermin di bagian belakang meja resepsionis. Mungkin aku bisa melihat pantulannya dari sana. Namun, saat memikirkan hal itu, mataku malah bertatapan dengan gadis cantik di dalam cermin.

"Ah."

"Kakak berniat menyontek, ya. Itu perbuatan yang tidak baik, lho."

Ucap gadis cantik itu sambil mengacungkan jari telunjuknya.

"Yuu-nii pengecut banget, ih."

Guh. Rupanya mereka sudah tahu rencanaku.

"Yuu-nii merokok tidak?"

"Tidak, kok."

"Kalau begitu, tolong berikan ruangan yang bebas asap rokok, ya."

Setelah mengambil minuman di stan drink bar, kami pun melangkah menuju ruangan kami.

"Aaa, aa. Sip. Ayo kita menyanyi!"

Layaknya siswi SMA pada umumnya, Mahiru banyak memilih lagu-lagu romantis dari penyanyi pop yang sedang tren.

Padahal dulu kami selalu menonton anime untuk anak laki-laki bersama-sama, rupanya dia tetaplah seorang anak perempuan tulen, ya.

Mahiru bernyanyi dengan penuh semangat sambil menggerakkan tangannya.

Dia ternyata cukup pandai menyanyi.

Suaranya sangat lantang dan jelas, ritmenya pun sangat pas.

Sembari menikmati lagu yang dinyanyikan Mahiru, sebuah judul lagu yang sangat familier tiba-tiba muncul di layar antrean.

'○utter-Fly'

Oh, batinku.

Padahal aku baru saja berpikir untuk menyanyikan lagu ini nanti.

Ada pepatah yang mengatakan kalau pria berusia dua puluhan tidak boleh pulang sebelum menyanyikan lagu ini saat sedang karaokean.

"Hm? Kamu yang memasukkan lagu ini, Mahiru?"

"Bukan aku, tuh."

"Eh? Kalau begitu..."

"Itu aku."

Gadis cantik misterius itu langsung memegang mikrofon dengan ekspresi penuh percaya diri.

"Hee, kamu tahu lagu ini rupanya. Padahal ini adalah lagu soundtrack anime di masa kecilku, lho. Lagunya saja sudah berusia dua puluh tahun lebih, kan?"

"Fufu. Habisnya, aku dulu sering mendengarnya waktu main di rumah kenalanku."

Meski itu lagu untuk vokalis pria, dia berhasil menyanyikannya dengan sangat sempurna. Tanpa sadar aku pun langsung bertepuk tangan memujinya.

"Ehehe."

Setelah itu, lagu-lagu pilihan si gadis misterius selalu saja merupakan lagu yang membawa rasa nostalgia bagiku.

'Ka○buta'

'○-e'

'○atch You Catch Me'

'Kawaita Sa○ebi'

'Me○issa'

'Kaze to I○shoni'

Lagu-lagu itu secara alami memanggil kembali memori masa kecilku.

Pulang sekolah, bermain tanpa mempedulikan pekerjaan rumah, bermain game di rumah teman...

◇

Bagaimana, Yuu-nii?

Lagu-lagunya bikin kangen, kan?

Ini semua adalah lagu dari anime yang dulu kita tonton dari siaran ulang atau dari DVD yang kamu pinjam, lho.

Kamu masih ingat tidak?

Kalau aku terus menyerangnya dengan lagu-lagu bernuansa nostalgia seperti ini, kenangan di masa lalu pasti akan kembali mengalir di otaknya.

'Ngomong-ngomong, sepertinya aku dulu pernah menonton semua anime ini bersama Miya... Apalagi aneh banget kalau ada anak seumurannya yang tahu lagu-lagu jadul seperti ini. Eh, tunggu dulu, jangan-jangan kamu... kamu ini Miya, ya?'

'Akhirnya kamu sadar juga ya, Yuu-nii.'

'Aku tidak menyangka kamu akan tumbuh jadi gadis secantik ini.'

"Kukuku."

Aku tertawa kecil sambil diam-diam melirik ke arah Yuu-nii.

"Uuuh, hiks."

Eee!?

Dia menangis!?

K-Kenapa coba?

"Masa-masa itu... benar-benar menyenangkan, ya. Tidak ada stres beban hidup... Setiap hari terasa menggembirakan... Punya banyak sekali teman bermain... Hiks."

G-Gawat.

Padahal aku ingin dia mengingat masa sepuluh tahun yang lalu. Tapi dia malah mengingat terlalu jauh mundur ke belakang, hingga masa kecilnya sekitar dua puluh tahun yang lalu!

Tapi ngomong-ngomong, kalau dia sampai menangis haru hanya karena mengingat memori masa kecilnya, memangnya seberat apa penderitaan yang dia alami selama di Tokyo dulu?

"Cup, cup, cup. Sudahlah, Yuu-nii."

Mahiru mendadak pindah ke sebelahnya dan menarik kepala Yuu-nii ke dalam pelukannya.

"Uuuh, Mahiru—hei, berhenti mengelus kepalaku. Malu tahu!"

"Hehe."

Cih.

Aku mendecakkan lidahku kesal di dalam hati.

Si Dada Besar itu... dia menempelkan dadanya pada Yuu-nii lagi tanpa kentara.

Operasi 'Memancing Ingatannya dengan Lagu Tema Anime yang Pernah Ditonton Bersama' telah resmi gagal total.

 

4

Kematian.

Api.

Kegelapan.

Serangga.

Trauma adalah sesuatu yang berada di luar ketakutan yang secara naluriah dirasakan oleh manusia. Itu adalah luka psikologis yang diderita secara didapat.

Penyebabnya sungguh sangat beragam. Ada yang disebabkan oleh hubungan antarmanusia seperti perundungan, pelecehan kekuasaan, hingga pelecehan seksual. Ada pula yang muncul karena menyaksikan adegan mengejutkan dari suatu kecelakaan atau insiden.

Intinya, hal itu berbeda pada setiap orang.

Dan yang paling menyebalkan adalah, meskipun hal itu tampak sepele bagi orang lain, bagi sang korban, itu adalah bentuk penderitaan dan stres yang luar biasa berat.

Benda, tempat, bau, suara, atau situasi tertentu...

Hal-hal itu membangkitkan kembali trauma masa lalu dan mengikat mereka yang sedang berjuang di masa kini. Aku berharap dunia ini bisa menjadi tempat yang ramah di mana setiap manusia dapat saling menghormati satu sama lain.

◇

Pukul sepuluh lewat tiga puluh malam. Ponselku berdering.

Prrrrror

(Hik)

Saat kulihat layarnya, ternyata panggilan itu datang dari atasan sekaligus manajer penjualan kantorku.

Keringat dingin mengalir di ketiakku, dan dadaku mulai terasa sesak. Meskipun firasatku buruk, aku tidak punya pilihan selain mengangkat panggilan tersebut.

(Hei, apa itu kamu, Aizuki?)

(Ah, selamat malam, Pak.)

(Apa kamu sedang sibuk?)

Nada suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

(Eh, ya, begitulah.)

(Barusan ada pemberitahuan barang kosong dari pusat logistik. Sepertinya saus botol lima ratus mililiter untuk Toko G kurang satu.)

(Begitu ya.)

Sialan.

(Maaf, tapi bisakah kamu pergi mengantarkannya sekarang?)

(Hah? Dari sekarang?)

(Benar.)

Pekerjaanku adalah bagian pengiriman dan penjualan di perusahaan makanan menengah. Bagian penjualan di perusahaan kami tidak hanya bertugas menjual, tetapi juga merangkap tugas mengirimkan barang ke toko-toko terdekat.

Produk yang dibuat di pabrik akan dikirim langsung ke toko-toko retail.

Namun, untuk beberapa toko, prosedurnya adalah mengumpulkan barang terlebih dahulu di pusat logistik, baru kemudian pihak jasa ekspedisi yang mengirimkannya ke masing-masing cabang.

(Tolong ya.)

(Ehm, maksudnya ke Toko G?)

Nada suara atasanku langsung berubah drastis.

(Bodoh! Coba pikirkan jam berapa sekarang! Kalau kamu pergi ke toko sekarang, memangnya ada orang di sana?!)

(Seharusnya Anda yang memikirkan waktunya.)

(M-Mohon maaf.)

(Sungguh.)

Jika terjadi kekurangan stok selama proses penyortiran di pusat logistik seperti kali ini, kami akan dipaksa mengantarkannya langsung ke pusat.

Jika tokonya cukup fleksibel, kami sebenarnya bisa mengirimkannya pada pagi hari sambil meminta maaf, dan masalahnya biasanya akan beres.

Namun, fakta bahwa ada keluhan tentang kekurangan stok akan tetap tercatat dengan jelas.

Mungkin karena ingin menghindari hal itu, bagian penjualan kami selalu menjadikan penanganan di hari yang sama sebagai prinsip utama sebisa mungkin.

Sialan, siapa sebenarnya petugas pengiriman yang bertugas hari ini?

(Tapi, kalau aku pergi ke pusat logistik sekarang, perjalanan pulang-pergi akan memakan waktu lima ja—)

(Kamu tinggal langsung berangkat kerja saja setelah dari sana, kan? Kalau tidak salah, truk di sana berangkat jam tiga, kan? Kamu masih punya banyak waktu. Lagipula, kamu bisa tidur sebentar di sana.)

(T-Tapi.)

(Apa ada tapi-tapi segala, bodoh! Membuang-buang waktu dengan mengeluh seperti ini adalah hal yang sia-sia. Cepat sana berangkat, Bodoh!)

◇

Aku terbangun dengan terperanjat. Seluruh tubuhku basah oleh keringat dingin.

"Uuh, sial sekali."

Aku baru saja mengalami mimpi buruk. Mimpi tentang perusahaan lamaku.

Lagipula, kenapa harus adegan itu yang muncul di mimpiku?

Aku diperlakukan dengan sangat buruk di perusahaan lamaku. Terutama penanganan kekurangan stok di tengah malam adalah hal yang paling menyiksaku.

Aku dipaksa menyetir selama berjam-jam tanpa tidur sama sekali. Berkat itu, aku hampir mengalami kecelakaan berkali-kali.

Di bagian penjualan, panggilan telepon dari manajer setelah jam sembilan malam biasa disebut sebagai "Panggilan Iblis".

Jika tidak diangkat, keesokan harinya aku akan dimarahi habis-habisan...

Jika dipikirkan kembali sekarang, kenapa aku bisa bertahan sampai sepuluh tahun di perusahaan seperti itu?

Sepuluh tahun berharga di usia dua puluhan. Waktu yang cukup untuk mengubah seorang anak kecil menjadi orang dewasa. Apakah aku berhasil berkembang selama sepuluh tahun itu...

Aku melirik ke arah jam.

Hari masih menunjukkan pukul empat pagi.

Luar jendela diselimuti kegelapan tipis, dan angin malam yang dingin membuat tirai bergoyang-goyang.

Aku merangkum tubuhku ke dalam selimut untuk tidur, tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

"Ah, tidak bisa."

Begitu aku menutup mata untuk tidur, kelanjutan mimpi tadi seolah berputar kembali di kepalaku.

Pada akhirnya, hari itu aku harus bekerja seharian dalam keadaan kurang tidur, tapi aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu.

◇

"Sudah lama sekali rasanya aku tidak naik ke kamar Yuu-nii."

Malam harinya, Mahiru yang mampir ke toko sepulang dari kegiatan klub mengatakan ingin berkunjung ke kamarku setelah sekian lama, jadi aku membiarkannya masuk.

Membiarkan seorang siswi SMA aktif masuk ke dalam kamar adalah masalah besar jika diketahui orang lain, tapi karena ini Mahiru, jadi aman.

"Tidak ada barang yang menarik di sini."

"Hmm, rasanya masih sama seperti dulu."

Mahiru merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dari arah belakang. Dadanya yang berisi berayun pelan.

"Ah, hari ini melelahkan sekali."

"Kerja bagus, Kapten."

"Berhenti memanggilku seperti itu, aku malu."

"Hahaha."

Aku duduk di tepi ranjang.

Dulu, tempat ini bahkan terasa sangat luas ketika kami bertiga berbaring bersama saat masih anak-anak. Tapi sekarang, satu orang saja sudah menghabiskan lebih dari setengah bagian kasur.

"Kamu sedang memikirkan hal yang menyebalkan, kan?"

"Bodoh. Mana mungkin."

"Hmm."

Mahiru tersenyum tipis seperti iblis kecil.

"Rasanya bernostalgia sekali. Ngomong-ngomong, dulu kalian bertiga hampir setiap hari datang bermain ke kamarku, ya."

"Benar juga."

"Ah, benar."

"Hm?"

"Itu, lain kali ajak Miya juga ke sini ya."

Aku bahkan belum pernah bertemu lagi dengan Miya sejak aku kembali ke Kota Fujinomiya. Seharusnya Mahiru bisa mengajak Miya berserta gadis misterius itu ke sini. Aku rasa mustahil bagi mereka berdua untuk saling menjauh atau bermusuhan... Tapi, tidak mungkin, kan?

"Hmm, yah..."

Ekspresi wajah Mahiru terlihat sedikit kaku sesaat. Dia tiba-tiba bangkit dari tidurnya, lalu berkata,

"Ah, Yuu-nii. Berikan nomor kontaknya dong."

Mahiru duduk tepat di sebelahku. Aroma wangi yang lembut tercium. Aroma deodoran, aroma tubuh Mahiru, dan sedikit aroma keringat bercampur menjadi satu menciptakan wangi yang harum... Tunggu, apa aku ini seorang pria mesum?

"Kita kan belum bertukar kontak, kan? Nomor ponsel, Line, dan juga alamat email."

Mahiru mengeluarkan ponsel dari sakunya.

"Oh, boleh."

"Aku repot kalau kamu tiba-tiba menghilang lagi dalam waktu lama."

"Bodoh. Aku sudah kapok meninggalkan kota ini lagi. Ah, tapi aku tidak punya akun Line."

"Eh? Kenapa?"

Mahiru memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung yang jelas.

"Karena kalau pakai itu, pesan yang sudah dibaca akan langsung ketahuan karena ada tanda centangnya."

"Alasan macam apa itu yang suram banget. Ya sudahlah. Kalau begitu berikan nomornya dulu."

Aku memberikan nomor ponselku kepada Mahiru.

"Kalau begitu, aku akan meneleponmu sekali supaya nomormu tersimpan."

"Eh? Ah, Mahiru tunggu sebentar—"

Peringatanku terlambat. Jari putih Mahiru sudah mengetuk layar ponselnya. Setelah jeda sesaat, suara dering panggilan bergemuruh di dalam ruangan—

Prrrrror

(—!)

Begitu mendengar suara mekanis itu, pandanganku mendadak menjadi putih. Rasa tidak nyaman yang membuat peredaran darahku berbalik menyerangku, dan napasku mulai menjadi tidak beraturan.

(Hei, Aizuki?)

Suara halusinasi berbisik di telingamu.

Mataku kehilangan fokus, dan rasa mual mulai mendesak naik.

"U-Uhh, hah, hah."

Aku memegang dadaku dan membungkukkan badan.

"Eh? Yu-Yuu-nii?"

Keringat dingin yang pekat memancar dari seluruh tubuhku, membuatku kesulitan bernapas. Melihat perubahan diriku yang begitu mendadak, wajah Mahiru langsung memucat.

"Kamu tidak apa-apa? A-Aku panggil ambulans, ya?"

"Tidak, ti-tidak apa-apa, hah, hah."

Tidak perlu sampai sejauh itu. Aku menghentikan Mahiru yang hendak menelepon nomor darurat seratus sembilan belas.

"A-Ada apa? Kamu kenapa?"

Mahiru menatapku dengan cemas. Ah benar, aku belum menceritakannya pada Mahiru. Aku memiliki ketakutan terhadap suara dering panggilan ponsel.

Selama beberapa tahun terakhir, bagi diriku, suara dering ponsel adalah pertanda buruk dari iblis yang memberikan perintah-perintah tidak masuk akal.

Di satu waktu, aku harus pergi ke prefektur sebelah untuk menangani keluhan pelanggan meskipun itu bukan kesalahanku. Di waktu yang lain, aku dipaksa pergi mengantar barang tengah malam seorang diri hanya karena ada produk yang kosong.

"Begini, ini sebenarnya cerita yang memalukan..."

Menyingkirkan rasa maluku, aku menceritakannya kepada Mahiru.

Rasa sesak di dadanya masih belum hilang.

"—begitulah ceritanya."

Apakah dia akan merasa kecewa padaku?

Seorang pria dewasa yang ketakutan mendengar suara dering ponsel...

"Kamu tidak memalukan!"

"Eh?"

Mahiru meraih lenganku dan menarikku ke dalam pelukannya.

Wajahku membenamkan diri di dadanya yang empuk.

"T-Tunggu, Mahiru."

"Hup."

Mahiru langsung merebahkan tubuhku bersamanya, membuat kami berdua berpelukan di atas tempat tidur. Wajahku terbungkus di dadanya, bagaikan seorang ibu yang memeluk anaknya sendiri.

"Kamu pasti sudah bekerja keras, Yuu-nii."

Sambil berkata begitu, Mahiru dengan lembut mengelus kepalaku.

"Kamu tidak perlu takut apa pun. Di sini hanya ada aku dan Yuu-nii."

Kehangatan Mahiru meresap ke dalam tubuhku.

"Kalau kamu merasa tersiksa, ceritakan saja semuanya padaku. Kita kan sudah sangat dekat, Yuu-nii. Apapun itu, aku akan mendengarkan semuanya."

"Mahiru..."

"Sepuluh tahun lalu aku selalu ditolong olehmu, tapi sekarang sudah berbeda, tahu."

Pelukannya semakin mengerat.

"...Terima kasih, ya."

"Hehe."

Tanpa disadari, debar jantungku yang tadinya kencang kini sudah mulai mereda.

 

5

Enam orang berkumpul di meja aula besar, duduk di sana dalam keheningan tanpa ada yang membuka suara. Mereka saling melirik satu sama lain secara diam-diam.

Mereka semua menyadari hal ini. Bahwa ada seorang pembunuh berantai yang tengah menyusup di antara mereka.

Tatapan tidak nyaman yang saling menyelidiki melayang di udara, membuat suasana berubah menjadi semakin tegang.

Seiring dengan menyebarnya udara yang suram, rasa tegang dan kecurigaan mulai menguasai pikiran setiap orang.

Tidak tahan lagi menahan tekanan tersebut, seorang wanita berdiri dari kursinya. Dia adalah seorang gadis muda bergaya masa kini dengan riasan gyaru yang mencolok serta mengenakan pakaian terbuka.

(Ah, aku sudah muak. Aku tidak mau berada di tempat yang sama dengan seorang pembunuh!)

Sambil mengibaskan rambut cokelat panjangnya, wanita itu berlari keluar ruangan. Rekan-rekannya meneriakkan kata-kata peringatan ke arah punggungnya.

(Hei, tunggu!)

(Justru berbahaya kalau sendirian.)

(Kembalilah.)

(Jangan ikuti aku—!)

Para pria mencoba mengejarnya, namun tepat sebelum mereka berhasil menangkapnya, wanita itu mengurung diri di kamarnya sendiri dan mengunci pintu.

Suara klik yang keras bergema.

(Hei, buka pintunya!)

(Apa-apaan, apa kamu pelakunya? Kamu mau membunuhku?)

(Bukan, kita akan jauh lebih aman kalau bersama-sama.)

(Aku tidak bisa tinggal bersama orang yang sudah membunuh Taku-kun dan Mii-san!)

Pria itu menggedor-gedor pintu dengan keras, namun tidak ada respons dari dalam.

(Kalian berdua, mereka diincar saat sedang sendirian di kamar.)

(......)

(—Sialan, dasar bodoh.)

Menilai bahwa situasinya sudah tidak bisa ditangani, pria itu menghela napas dan meninggalkan tempat tersebut.

◇

"Baik, cut!"

Peran gadis yang mengurung diri di kamar—aku keluar dari kamar.

"B-Bagaimana?"

"Kerja bagus, Miya. Aktingmu tadi bagus sekali."

Ketua Klub Penelitian Misteri, Seina-chan, memberiku handuk.

"Terima kasih, Seina-chan."

"Kamu memang selalu tampak fotogenik."

"Ehehe."

Sebagai kegiatan utama Klub Penelitian Misteri, kami biasanya menerbitkan majalah buatan anggota yang berisi cerita misteri atau mengadakan sesi diskusi karya.

Namun tahun ini, kami memutuskan untuk mengambil tantangan besar dengan memproduksi sebuah film.

Bekerja sama dengan klub penyiaran dan klub teater, kami menargetkan penayangan film ini pada festival budaya musim gugur. Dan entah bagaimana, aku justru ditunjuk sebagai pemeran utama dalam film tersebut.

Tentu saja aku tidak begitu suka tampil mencolok, jadi awalnya aku berniat menolak tawaran itu. Namun, aku akhirnya menyerah setelah kalah oleh bujukan gigih dari Seina-chan, dan menerima peran tersebut.

"Apa aktingku tadi terlihat aneh?"

"Bagus banget, kok."

Seina-chan mengacungkan jempolnya. Naskah asli untuk film yang kami buat kali ini adalah cerita misteri yang ditulis olehnya sendiri.

"Maksudku, ekspresi 'orang ini sebentar lagi akan dibunuh' itu sangat terpancar."

"Itu pujian bukan?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu baguslah."

Tempat ini adalah sebuah vila sewa yang dibangun di pinggiran kota. Berkat koneksi di mana kerabat dari anggota Klub Penelitian Misteri adalah pemilik vila ini, kami bisa menyewanya dengan harga yang sangat murah.

Kami akan menginap mulai hari Jumat, Sabtu, dan Minggu untuk menyelesaikan proses syuting secara maraton, jadi situasinya hampir mirip seperti kegiatan pelatihan kilat.

"Karena aku belum pernah terbiasa berakting sebelumnya..."

Bukan hanya sekadar diarahkan kamera, pada dasarnya aku bahkan merasa tidak nyaman saat harus berdiri di hadapan banyak orang.

Situasinya masih bisa ditoleransi karena orang-orang di sekitarku adalah sesama anggota klub yang sudah akrab.

Tapi jika aku membayangkan film ini nantinya akan diputar di hadapan seluruh siswa sekolah, perutku langsung terasa mulas.

"Memang agak kaku sih, tapi ya sudahlah, masih masuk batas kelulusan. Lagipula, nilai jual utama kita adalah fakta bahwa si Gadis Suci yang Tembok Besi menjadi pemeran utamanya. Fufufu, responnya pasti bakal luar biasa nanti."

"Tolong hentikan sebutan itu, sungguh. Dan ingat, ini hanya untuk sekali ini saja, ya."

Ngomong-ngomong, karakter yang aku perankan bukanlah Korban C—melainkan pelaku pembunuhan beruntun yang sebenarnya.

Rencana sang pelaku adalah berpura-pura terbunuh sekali untuk mengubah status kategorinya dari tersangka menjadi korban, sehingga dia bisa lebih mudah melakukan aksi kejahatannya berikutnya.

"Aku baru pakai riasan gaya gyaru lagi sejak festival cosplay kelas satu. Pakaian ini juga berenda-renda dan bagian kainnya sedikit banget, bikin malu."

"Suasana aura cewek bodohnya benar-benar keluar, jadi itu bagus."

"Makanya, itu pujian bukan sih?"

Setelah itu, kami menyelesaikan adegan penemuan mayatku secara berurutan. Ada penemuan menarik di mana cairan darah palsu ternyata terasa agak manis, jadi secara keseluruhan meskipun ada beberapa hal yang dikeluhkan, prosesnya cukup menyenangkan.

"Baiklah, kita istirahat sebentar, dan hari ini kita akan langsung lanjut mengambil adegan bagian Haruyama-san secara sekaligus."

Ucap siswi anggota klub penyiaran yang bertindak sebagai sutradara.

"Baik—"

"Berikutnya giliranmu muncul sebagai pembunuh berantai, jadi siapkan dirimu dengan baik, ya."

Seina-chan menepuk pundakku. Kelihatannya mereka menaruh harapan besar padaku.

"Meskipun kamu bilang begitu..."

Untuk saat ini, mari istirahat dulu.

Aku sangat menyukai cerita misteri, tapi aku sama sekali tidak bisa mengerti bagaimana perasaan seorang pembunuh berdarah dingin yang membenci orang lain sampai ingin membunuh mereka.

Aku terpaksa mengambil peran utama ini karena permintaan Seina-chan, tapi di lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa kalau aku lebih cocok bekerja di balik layar.

Sambil meminum teh dari botol minumku, aku duduk di kursi terdekat dan mengambil ponselku. Saat kulihat, ada pesan Line yang dikirimkan oleh Mahiru.

"Ada apa ya."

Aku membuka layar obrolan.

Sebuah foto dikirimkan bersama dengan pesan berbunyi 'Sepertinya dia kelelahan dan tertidur—'.

Foto swafoto Mahiru yang sedang memeluk kepala seseorang.

"Eh? I-Ini..."

Meskipun wajahnya tidak terlihat karena terbenam di dada, itu jelas adalah seorang laki-laki.

"..."

Bagian atas kepala yang rambutnya mulai menipis.

"..."

Bentuk telinga dan tahi lalat di belakang daun telinga.

"..."

Ruangan yang terlihat familiar.

"..."

Aku langsung menyadari identitas asli orang itu dalam sekejap.

"..."

Menyadari bahwa pesannya telah kubaca, Mahiru mengirimkan pesan susulan.

'Yuu-nii benar-benar tidur nyenyak banget sampai aku repot sendiri, nih—'

"..."

◇

"Baiklah, action!"

Aku, sang pelaku utama yang memegang katana replika, mendekati anggota klub yang berperan sebagai korban terakhir. Aku memperkecil jarak langkah demi langkah dengan ekspresi wajah bagaikan raksasa, lalu melompat ke arahnya.

(Uooooooraaaaaaah!)

(Hiiihiii!)

(Karena kaulah, orang yang sangat kuciptakan telah direnggut dariku!)

(Kyaaaaaaah!)

(Semua ini salahmu! Domba betina sialan!)

(Tolong, selamatkan aku...)

(Gara-gara kamu, semuanya mati!)

(Tidaaaaaaak!)

Aku bisa mengeluarkan teriakan yang bahkan tidak akan sanggup aku keluarkan dalam keadaan normal. Rambutku berdiri tegak. Dan tatapan mata yang tajam terekam langsung oleh kamera.

(Hyaahahaha, kamu adalah yang terakhir. Berakhirlah sudah, pembalasanku telah tuntas. Hihihi, hyaahahaha!)

"W-Wah, Haruyama-san keren banget, ya?"

"Aktingnya beda banget sama bagian pertama tadi. Rasanya auranya begitu mencekam, seperti ada roh lain yang merasuki tubuhnya."

"Ayame-chan sampai menangis beneran lho."

"Melihat siswi pendiam seperti Haruyama-san bisa se-ekstrem ini, rasanya... aku jadi bangkit sisi lain."

"Ketua, sebaiknya kita hentikan dulu..."

"Hmm, iya, sepertinya ini terlalu berlebihan. Intensitas emosinya terlalu tinggi sampai terlihat mencolok, cut cut."

"Hah, hah."

"M-Miya, tolong turunkan sedikit emosimu, ya?"

"Tidak bisa."

"Ayame-chan, kamu tidak apa-apa?"

Ayame, adik tingkat di Klub Penelitian Misteri, memeluk Seina-chan. Wajahnya basah oleh air mata dan cairan hidung.

"Kak Nonomura..."

"Serem banget ya, nah, sudah, cup cup."

"Grrrrrrr..."

"Sebenarnya referensi apa sih yang kamu pakai buat bangun karakter ini?"

"Hah, hah."

"Matamu merah menyala, tahu."

Aku tidak bisa mengendalikan emosiku dengan baik.

Jika aku tidak berhati-hati, kesadaranku akan runtuh, dan keberadaanku saat ini mungkin akan berubah wujud menjadi monster tanpa akal sehat.

"Miya, tolong redam sedikit lagi. Ayame-chan juga sudah tidak apa-apa, kan? Kalau begitu, kita ambil sekali lagi, action!"

(Uoooooooraaaaaaah!!)

"Cut!"

Pada akhirnya, aku dicopot dari peran pemeran utama.

 

6

"Yuu-nii ternyata punya sisi manja juga, ya."

Mahiru berkata dengan senyum penuh kasih sayang.

"Hee."

"Apa semua laki-laki memang seperti itu? Aku tidak pernah punya pacar, jadi kurang tahu, sih."

"Entahlah."

"Awalnya dia tampak malu-malu, tapi lama-lama jadi tenang. Tahu-tahu dia sudah tertidur."

"Hee."

"Yah, dulu 'kan kita yang selalu manja padanya. Sesekali membiarkan Yuu-nii bermanja-manja tidak ada salahnya, 'kan?"

"Hee."

"Tapi aku benar-benar kewalahan, loh. Dia menempel terus seperti itu selama hampir satu jam."

"Hah?"

"Lenganku sampai kebas dan kesemutan."

"Hee."

"Begitu akhirnya bangun, wajahnya langsung memerah. Lagipula kita ini bukan orang asing, jadi tidak usah malu begitu, padahal dulu kita jauh lebih sering menempel, 'kan."

"...Benar juga."

"Terus di saat yang kurang tepat, Bibi datang."

"Hee."

"Bibi bilang, 'Mengingatkan pada masa lalu, ya.' Yuu-nii yang gelagapan mencoba membela diri malah terlihat seperti dulu, lucu sekali."

"Hahaha."

Di belakang gedung olahraga. Karena tidak mendapat tempat duduk di kantin, aku dan Mahiru memutuskan untuk makan siang di sini.

Hari ini kami berdua membawa bekal.

Kami menikmati waktu makan siang yang damai sambil duduk di undakan taman bunga. Kupu-kupu menari dengan anggun, dan hangatnya mentari musim semi terasa sangat nyaman.

Selain bekal, Mahiru juga memakan roti isi dan makanan ringan. Apa dia berencana untuk tumbuh lebih besar lagi?

Setelah selesai menyantap bekalku, aku pun bertanya padanya.

"Ngomong-ngomong, Mahiru."

Aku masih belum menanyakan hal yang paling penting.

"Ada apa?"

"Siapa yang memeluk duluan?"

Hening sejenak di antara kami.

"Eh? Ya aku, dong."

"Hoo..."

"Terus, ya—"

"Bukan 'aku, dong', woi!"

Kenapa si dada besar ini mencoba menganggap remeh hal itu?

"Hee?"

Bukan 'hee'.

"Hah? Apa maksudnya semua ini? Aku sama sekali tidak paham dengan situasinya."

"Bagaimana ceritanya kamu bisa memeluk Yuu-nii, menjatuhkannya, lalu tidur bersama di ranjang? Kalau ini bukan kelakuan wanita mesum, lalu apa namanya, dasar si dada besar cabul!"

"Bukan begitu, yang tidur itu cuma Yuu-nii, sedangkan aku tetap bangun."

"Bukan itu masalahnya!"

"Tenang, tenanglah sedikit. Dengar ya, ada alasan yang saaaangat mendalam di balik ini."

Ekspresi wajah Mahiru berubah menjadi serius.

"Alasan mendalam?"

Jangan-jangan dia mau bilang, "Yang dalam itu belahan dadaku."

"Benar. Sebenarnya aku sudah minta izin pada Yuu-nii untuk memberitahu Miya dan Asaka, makanya aku akan cerita—"

Mahiru pun menceritakan hal mengerikan yang membuatku bergidik.

Mulai dari perlakuan buruk yang diterima Yuu-nii di Tokyo, hingga traumanya terhadap nada dering ponsel.

Terdengar suara gemeletuk gigi dari mulutku sendiri.

"Sampai seperti itu..."

"Iya, sepertinya dia sendiri juga masih kepikiran."

"..."

"Bagi kita yang hidup normal, nada dering ponsel hanyalah hal sepele yang tak ada artinya. Tapi, Yuu-nii justru dipaksa menjalani kehidupan yang membuatnya ketakutan terhadap hal itu di Tokyo..."

"Jahat sekali."

"Iya, 'kan?"

Ah, sekarang aku mungkin bisa memahami perasaan pembunuh berantai di film-film. Emosi yang kelam dan pekat mendidih di dalam dadaku.

Ungkapan 'darah mendidih' pastilah digunakan untuk menggambarkan perasaan seperti yang kualami saat ini.

"Aku tidak bisa memaafkan mereka yang telah menyiksa Yuu-nii."

"Kalau soal itu, aku juga setuju."

"..."

Keheningan menyelimuti tempat itu.

"...Mahiru, maaf. Padahal aku tidak tahu apa-apa, tapi aku malah, um, cemburu."

"Tidak apa-apa."

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu mengalir di pipiku.

Tetesan air mata jatuh berlinang.

"E-Eh?"

"Miya?"

"M-Maaf, kenapa, ya."

Air mata terus bercucuran deras. Aku menutupi mata dengan telapak tangan dan mencoba menyekanya, tapi air mata ini tak kunjung berhenti.

Saat menyadari bahwa Mahiru dan Yuu-nii sudah berada dalam hubungan di mana mereka bisa berbagi masalah seberat itu, diriku yang bahkan belum bisa menyebutkan nama ini terasa sangat bodoh.

Bagi Yuu-nii, diriku yang sekarang hanyalah orang asing yang namanya pun tidak ia ketahui.

Terpaku pada harga diri yang sepele, bersikap keras kepala... Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?

"Hiks, srot."

Mahiru mendekat tanpa sepatah kata pun, lalu memeluk kepalaku. Wajahku terbenam lembut di dadanya yang besar.

Hangat sekali.

"Ada apa?"

Tanya Mahiru dengan suara yang lembut.

"Aku, aku... Aku takut Yuu-nii dan Mahiru akan meninggalkanku dan melangkah maju sendirian... Aku merasa cemas."

"Aaah."

"Aku cemburu melihat Mahiru bermesraan dengan Yuu-nii, aku marah. Padahal kalian berdua adalah orang yang sangat berharga bagiku... Uuuh, uuu."

"Maafkan aku, Miya."

"Fue?"

"Sebelumnya aku pernah bilang mau membantu, 'kan? Itu artinya aku ingin mendorong perasaanmu."

"Aku pikir dengan menunjukkan kemesraan kami, kau akhirnya akan membulatkan tekad untuk memberitahu identitasmu... Um, niatku sih ingin memotivasimu, tapi ternyata malah jadi bumerang, ya."

"...Tekad."

"Aku cuma ingin kita berempat, Yuu-nii, Miya, Asaka, dan aku bisa bersama-sama lagi."

"Aku juga."

Ya, alangkah bahagianya jika kami berempat bisa bersama lagi seperti sepuluh tahun yang lalu.

"Yuu-nii juga peduli padamu, kok, Miya."

"Uuuh."

Namun—

"Bolehkah aku bersikap keras kepala sedikit lagi?"

Ternyata, aku masih ingin Yuu-nii yang menyadarinya sendiri.

Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku telah berubah seperti ini.

Mahiru mengelus kepalaku dengan lembut.

"Berusaha keras itu bagus, tapi kau juga harus tahu kapan harus mundur. Kalau kau terus-terusan keras kepala, kau sendiri yang akan hancur nanti, Miya."

"Iya. Maaf, seragammu jadi basah."

Kemeja Mahiru sedikit basah karena air mataku.

"Tidak apa-apa. Astaga, orang-orang di sekitarku ternyata cengeng semua, ya."

Ucap Mahiru sambil tertawa.

"Meskipun kita seumuran, bagiku kau itu seperti adik perempuan yang manis, loh. Aku akan selalu mendukungmu."

"...Padahal aku yang lahir lebih dulu."

"Jangan bersaing soal itu, dong."



Interlude III | ToC | Interlude IV

Post a Comment

Post a Comment

close