NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken Volume 2 Prolog

Prolog


──Masa-masa ketika aku belum lama mengenal Iori.

 

Kala itu, aku bukanlah seorang “manusia”.

 

『Mizuki-chan... padahal cantik, tapi tidak pernah tersenyum, ya.』

『Dia juga jarang bicara, sudah seperti boneka saja.』

 

Apa pun yang kulihat, apa pun yang kusentuh. Hati ini tak pernah tergerak. Tak ada emosi yang membuncah.

 

Aku ‘rusak’.

 

Sejak saat itu, aku sudah menyadarinya.......Namun, hanya ada satu orang.

 

『──Mizuki-chan. Ayo main bareng!』

 

Ada seorang anak laki-laki yang aneh.

 

──Sewaktu kecil, ibuku setengah lepas tangan dalam merawatku, dan petugas pembantu rumah tangga hanya menyelesaikan pekerjaan seadanya. Oleh karena itu, aku hampir tidak tahu apa-apa tentang hiburan yang menjadi norma umum.

 

Kartu remi, Othello, permainan video... semua permainan yang diketahui orang-orang, dialah yang mengajariku.

 

Mengapa dia mau memedulikanku? Mengapa aku tidak menolak uluran tangannya?

 

Aku tidak tahu. Hanya saja, anehnya aku tidak merasa ingin menolak tangan itu.

 

『Mizuki-chan, makan malam di sini, kan? Nah, Iori! Ambilkan cangkir untuk Mizuki-chan.』

 

『Hahaha. Iori benar-benar menyukai Mizuki-chan, ya. Mizuki-chan, anggap saja rumah sendiri, ya.』

 

Kedua orang tuanya pun menyambutku seolah-olah aku adalah putri kandung mereka. Tempat yang hangat dan penuh kelembutan. Kupikir, di sanalah ‘kebahagiaan’ itu berada.

 

......Meski begitu, aku tetap tidak berubah.

 

『──Jadi anak yang baik ya, Mizuki.』

 

Suatu hari, tak lama setelah aku masuk sekolah dasar. Setelah ibu yang jarang memperlihatkan wajahnya itu pergi dari rumah. Tanpa sepengetahuan petugas pembantu yang bersiaga di rumah, aku menyelinap keluar.

 

Itu hampir menyerupai sebuah dorongan histeris. Terkadang ada saat-saat di mana tubuhku bergerak sendiri tanpa sadar seperti ini.

 

Aku melangkah lunglai menyusuri jalanan kota di malam hari. Tak ada tujuan. Tak ada pula hal yang ingin kulakukan. Hanya saja, jika aku melakukan ini...... mungkin ada sesuatu yang berubah. Aku berpikir demikian.

 

──Bahkan jika hal itu adalah sesuatu yang disebut dengan ‘kematian’.

 

『Hei Nak, kamu cantik sekali. Sendirian saja?』

 

Sesekali ada yang menyapaku, tetapi semuanya kuhiraukan. Jika dipikir-pikir sekarang, itu adalah tindakan yang terlalu ceroboh.

 

Tanpa sadar bahwa aku sedang menempuh risiko bahaya, aku hanya terus berjalan menyusuri kota.

 

......Hingga akhirnya, aku sampai di depan sebuah penyeberangan jalan yang entah ada di mana.

 

『......』

 

Mobil-mobil melintas bergantian di depanku. Cahaya yang bersinar lalu menghilang, kemudian digantikan oleh cahaya lainnya.

 

Pada saat itu...... entah mengapa, semua itu terlihat sangat indah bagiku.

 

──Apa yang akan terjadi jika aku melompat ke arah cahaya itu?

 

Itu hanyalah rasa ingin tahu yang sepele. Bukan keinginan membesar-besarkan seperti hasrat untuk bunuh diri. Hanya ketertarikan biasa. Namun, pergerakan hati yang samar itulah yang menggerakkan tubuhku.

 

Secara tak sadar, tubuhku melayang ringan di udara. Aku melemparkan diri ke arah cahaya yang sedang melaju mendekat. Dan kemudian......

 

Ckiiit...... Brakk!

 

Suara melengking tajam bersahutan dengan suara hantaman sesuatu.

 

Aku memejamkan mata. Namun...... tidak terjadi apa-apa pada tubuhku hingga waktu yang lama berlalu.

 

『......?』

 

Merasa heran, aku membuka mata.

 

Tanpa kusadari, aku sudah terduduk di tempatku semula. Aku memiringkan kepala keheranan. Dan, saat aku menoleh ke sekeliling,

 

『......Ah.』

 

Tak jauh dari sana──kulihat seorang anak laki-laki tergeletak. Darah merah mengalir darinya, dan dia tidak bergerak sedikit pun.

 

Melihat sosok itu...... tanpa sadar aku menahan napas.

 

『H, hei! Panggil ambulans!』

 

『Sialan! Jangan bercanda! Bocah itu tiba-tiba saja melompat keluar......!』

 

Suara kepanikan orang-orang dewasa membumbung. Namun tak satu pun dari suara itu yang merasuk ke telingaku. Hanya bayangan anak laki-laki itulah yang tertancap kuat di mataku.

 

『......Iori......?』

 

Suara yang keluar dari mulutku terdengar bergetar.

 

Mengapa dia ada di sini? Mengapa dia tergeletak di sana?

 

Aku tidak tahu. Namun, tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan.

 

Aku terduduk terpaku. Tak lama kemudian, sebuah mobil putih datang, dan anak laki-laki itu diangkut pergi. Aku hanya bisa melepas kepergiannya dengan tatapan kosong.

 

──Setelah itu, aku tidak terlalu mengingatnya dengan jelas. Ketika tersadar, aku sudah berada di kamar rawat rumah sakit, menatap sosok anak laki-laki yang terbaring tidur di atas ranjang.

 

Secara ajaib, nyawanya berhasil terselamatkan. Luka robek dangkal di kepala dan beberapa patah tulang. Sungguh hanya bisa dikatakan sebagai keajaiban bahwa lukanya hanya sebatas itu, begitulah kata dokter.

 

『Iori......!』

 

『Ah, syukurlah......!』

 

Paman dan Bibi meneteskan air mata.

 

Kini aku menyadarinya. Dia telah melindungiku. Namun tanpa menyalahkanku sepatah kata pun, orang tuanya hanya merayakan keselamatan dirinya dan juga diriku.

 

『──Mizuki.』

 

Plak.

 

Tak lama kemudian, ibu yang datang ke kamar rawat menampar pipiku. Itu adalah kali pertama dalam hidupku. Namun, seperti biasa, aku tidak merasakan apa-apa. Rasa takut maupun kesedihan tidak juga membuncah. Melihat diriku yang seperti itu, tidak biasanya wajah ibuku menggerutu bersungut-sungut penuh kekesalan.

 

──Sejak hari itu, aku terus mendatangi kamar rawatnya setiap hari. Mungkin karena efek benturan di kepalanya, anak laki-laki itu masih belum sadarkan diri.

 

Dokter mengatakan bahwa nyawanya tidak dalam bahaya. Namun, aku yang masih kecil tidak sanggup memahaminya. Aku meminta bantuan ibunya agar membawaku ke rumah sakit, lalu terus menatap wajah tidurnya sepanjang waktu.

 

Tanpa mengajak berbicara sepatah kata pun. Tanpa memahami pula mengapa aku melakukan hal tersebut. Hari-hari seperti itu terus berlanjut...... hingga akhirnya, beberapa hari kemudian.

 

『......Engh......』

 

Kelopak mata anak laki-laki itu bergetar pelan.

 

Tanpa sadar bahuku terlonjak. Tak lama kemudian, dia membuka matanya perlahan.

 

『......gh.』

 

Tatapan matanya samar dan kosong.

 

Melihat hal itu, aku mencoba membuka mulut...... tetapi pada akhirnya, tak ada sepatah kata pun yang keluar. Namun, begitu menemukan sosokku dengan matanya yang masih remang-remang itu......

 

『......Mizuki, chan?』

 

Dia memanggil namaku dengan suara serak seperti itu.

 

──Saat mendengar suara itu...... sebuah sensasi asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya membuncah di dalam diriku.

 

Tubuhku gemetar. Aku tidak bisa bernapas dengan baik. Terasa berat, menyakitkan, dan menyesakkan. Melihat diriku yang hanya menunduk dan bergeming tanpa kata......

 

『......Kenapa kamu menangis?』

 

Dia mengucapkannya dengan raut wajah yang tampak sedih.

 

Menangis. Untuk sejenak, aku tidak mampu memahami arti kata tersebut. Lalu dia...... merentangkan tangannya yang belum bisa digerakkan dengan baik itu ke arahku sambil gemetar.

 

『......Jangan menangis, ya.』

 

Ucapnya, seraya mengusap pipiku.

 

『......Ah......』

 

──Kalau dipikir-pikir, tempat ini pastilah titik mulanya.

 

Hanya sebuah boneka. Barang cacat yang tidak memiliki ‘hati’. Bagian dalam diriku yang seperti itu, kini mulai retak.

 

『......Maaf.』

 

Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkannya. Menanggapi hal itu, dia menurunkan alisnya dengan wajah serba salah.

 

Aku ini rusak. Aku selalu berpikir demikian.

 

Siapa pun yang hilang dari sisiku, aku pasti tidak akan bisa merasa sedih. Bahkan jika orang itu adalah anak laki-laki ini.

 

......Namun, aku keliru.

 

Makan bersama setiap hari, bermain bersama, tidur bersama. Hanya keseharian itulah yang selama ini menopang dan mengikat diriku. Ternyata, kehilangan sesuatu terasa semengerikan ini. Untuk pertama kalinya, aku menyadari emosi yang dinamakan ‘rasa takut’.

 

『......Iori.』

 

Aku memeluk anak laki-laki di depanku. Seketika wajahnya memerah padam dan dia menjadi gugup panik.

 

『......E-eh, tunggu......』

 

Yukimura Mizuki memang ‘rusak’. Kenyataan itu pasti tidak akan pernah berubah. Namun...... hanya saat bersama anak laki-laki inilah, aku bisa menjadi seorang ‘manusia’.

 

Aku bisa tertawa, bahkan bisa menangis. Anak laki-laki inilah belahan jiwaku yang selama ini hilang.

 

『......Terima kasih.』

 

──Itulah saat di mana akhirnya, aku berhasil menyadarinya.



Illustrasi | ToC | Chapter 1

Post a Comment

Post a Comment

close