Prolog
──Masa-masa
ketika aku belum lama mengenal Iori.
Kala
itu, aku bukanlah seorang “manusia”.
『Mizuki-chan...
padahal cantik, tapi tidak pernah tersenyum, ya.』
『Dia juga jarang
bicara, sudah seperti boneka saja.』
Apa pun yang kulihat, apa
pun yang kusentuh. Hati ini tak pernah tergerak. Tak ada emosi yang membuncah.
Aku ‘rusak’.
Sejak saat itu, aku sudah
menyadarinya.......Namun, hanya ada satu orang.
『──Mizuki-chan. Ayo
main bareng!』
Ada seorang anak laki-laki
yang aneh.
──Sewaktu kecil, ibuku
setengah lepas tangan dalam merawatku, dan petugas pembantu rumah tangga hanya
menyelesaikan pekerjaan seadanya. Oleh karena itu, aku hampir tidak tahu
apa-apa tentang hiburan yang menjadi norma umum.
Kartu remi, Othello,
permainan video... semua permainan yang diketahui orang-orang, dialah yang
mengajariku.
Mengapa dia mau
memedulikanku? Mengapa aku tidak menolak uluran tangannya?
Aku tidak tahu. Hanya
saja, anehnya aku tidak merasa ingin menolak tangan itu.
『Mizuki-chan, makan
malam di sini, kan? Nah, Iori! Ambilkan cangkir untuk Mizuki-chan.』
『Hahaha. Iori
benar-benar menyukai Mizuki-chan, ya. Mizuki-chan, anggap saja rumah sendiri,
ya.』
Kedua orang tuanya pun
menyambutku seolah-olah aku adalah putri kandung mereka. Tempat yang hangat dan
penuh kelembutan. Kupikir, di sanalah ‘kebahagiaan’ itu berada.
......Meski begitu, aku
tetap tidak berubah.
『──Jadi anak yang
baik ya, Mizuki.』
Suatu hari, tak lama
setelah aku masuk sekolah dasar. Setelah ibu yang jarang memperlihatkan
wajahnya itu pergi dari rumah. Tanpa sepengetahuan petugas pembantu yang
bersiaga di rumah, aku menyelinap keluar.
Itu hampir menyerupai
sebuah dorongan histeris. Terkadang ada saat-saat di mana tubuhku bergerak
sendiri tanpa sadar seperti ini.
Aku melangkah lunglai
menyusuri jalanan kota di malam hari. Tak ada tujuan. Tak ada pula hal yang
ingin kulakukan. Hanya saja, jika aku melakukan ini...... mungkin ada sesuatu
yang berubah. Aku berpikir demikian.
──Bahkan jika hal itu
adalah sesuatu yang disebut dengan ‘kematian’.
『Hei Nak, kamu
cantik sekali. Sendirian saja?』
Sesekali ada yang
menyapaku, tetapi semuanya kuhiraukan. Jika dipikir-pikir sekarang, itu adalah
tindakan yang terlalu ceroboh.
Tanpa sadar bahwa aku
sedang menempuh risiko bahaya, aku hanya terus berjalan menyusuri kota.
......Hingga akhirnya, aku
sampai di depan sebuah penyeberangan jalan yang entah ada di mana.
『......』
Mobil-mobil melintas
bergantian di depanku. Cahaya yang bersinar lalu menghilang, kemudian
digantikan oleh cahaya lainnya.
Pada saat itu...... entah
mengapa, semua itu terlihat sangat indah bagiku.
──Apa yang akan terjadi
jika aku melompat ke arah cahaya itu?
Itu hanyalah rasa ingin
tahu yang sepele. Bukan keinginan membesar-besarkan seperti hasrat untuk bunuh
diri. Hanya ketertarikan biasa. Namun, pergerakan hati yang samar itulah yang
menggerakkan tubuhku.
Secara tak sadar, tubuhku
melayang ringan di udara. Aku melemparkan diri ke arah cahaya yang sedang
melaju mendekat. Dan kemudian......
Ckiiit...... Brakk!
Suara melengking tajam
bersahutan dengan suara hantaman sesuatu.
Aku memejamkan mata. Namun......
tidak terjadi apa-apa pada tubuhku hingga waktu yang lama berlalu.
『......?』
Merasa heran, aku membuka
mata.
Tanpa kusadari, aku sudah
terduduk di tempatku semula. Aku memiringkan kepala keheranan. Dan, saat aku
menoleh ke sekeliling,
『......Ah.』
Tak jauh dari
sana──kulihat seorang anak laki-laki tergeletak. Darah merah mengalir darinya,
dan dia tidak bergerak sedikit pun.
Melihat sosok itu......
tanpa sadar aku menahan napas.
『H, hei! Panggil
ambulans!』
『Sialan! Jangan
bercanda! Bocah itu tiba-tiba saja melompat keluar......!』
Suara kepanikan
orang-orang dewasa membumbung. Namun tak satu pun dari suara itu yang merasuk
ke telingaku. Hanya bayangan anak laki-laki itulah yang tertancap kuat di
mataku.
『......Iori......?』
Suara yang keluar dari
mulutku terdengar bergetar.
Mengapa dia ada di sini?
Mengapa dia tergeletak di sana?
Aku tidak tahu. Namun,
tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan.
Aku terduduk terpaku. Tak
lama kemudian, sebuah mobil putih datang, dan anak laki-laki itu diangkut
pergi. Aku hanya bisa melepas kepergiannya dengan tatapan kosong.
──Setelah itu, aku tidak
terlalu mengingatnya dengan jelas. Ketika tersadar, aku sudah berada di kamar
rawat rumah sakit, menatap sosok anak laki-laki yang terbaring tidur di atas
ranjang.
Secara ajaib, nyawanya
berhasil terselamatkan. Luka robek dangkal di kepala dan beberapa patah tulang.
Sungguh hanya bisa dikatakan sebagai keajaiban bahwa lukanya hanya sebatas itu,
begitulah kata dokter.
『Iori......!』
『Ah, syukurlah......!』
Paman dan Bibi meneteskan
air mata.
Kini aku menyadarinya. Dia
telah melindungiku. Namun tanpa menyalahkanku sepatah kata pun, orang tuanya
hanya merayakan keselamatan dirinya dan juga diriku.
『──Mizuki.』
Plak.
Tak lama kemudian, ibu
yang datang ke kamar rawat menampar pipiku. Itu adalah kali pertama dalam
hidupku. Namun, seperti biasa, aku tidak merasakan apa-apa. Rasa takut maupun
kesedihan tidak juga membuncah. Melihat diriku yang seperti itu, tidak biasanya
wajah ibuku menggerutu bersungut-sungut penuh kekesalan.
──Sejak hari itu, aku
terus mendatangi kamar rawatnya setiap hari. Mungkin karena efek benturan di
kepalanya, anak laki-laki itu masih belum sadarkan diri.
Dokter mengatakan bahwa
nyawanya tidak dalam bahaya. Namun, aku yang masih kecil tidak sanggup
memahaminya. Aku meminta bantuan ibunya agar membawaku ke rumah sakit, lalu
terus menatap wajah tidurnya sepanjang waktu.
Tanpa mengajak berbicara
sepatah kata pun. Tanpa memahami pula mengapa aku melakukan hal tersebut. Hari-hari
seperti itu terus berlanjut...... hingga akhirnya, beberapa hari kemudian.
『......Engh......』
Kelopak mata anak
laki-laki itu bergetar pelan.
Tanpa sadar bahuku
terlonjak. Tak lama kemudian, dia membuka matanya perlahan.
『......gh.』
Tatapan matanya samar dan
kosong.
Melihat hal itu, aku
mencoba membuka mulut...... tetapi pada akhirnya, tak ada sepatah kata pun yang
keluar. Namun, begitu menemukan sosokku dengan matanya yang masih remang-remang
itu......
『......Mizuki,
chan?』
Dia memanggil namaku
dengan suara serak seperti itu.
──Saat mendengar suara itu......
sebuah sensasi asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya membuncah di dalam
diriku.
Tubuhku gemetar. Aku tidak
bisa bernapas dengan baik. Terasa berat, menyakitkan, dan menyesakkan. Melihat
diriku yang hanya menunduk dan bergeming tanpa kata......
『......Kenapa kamu
menangis?』
Dia mengucapkannya dengan
raut wajah yang tampak sedih.
Menangis. Untuk sejenak,
aku tidak mampu memahami arti kata tersebut. Lalu dia...... merentangkan
tangannya yang belum bisa digerakkan dengan baik itu ke arahku sambil gemetar.
『......Jangan
menangis, ya.』
Ucapnya, seraya mengusap
pipiku.
『......Ah......』
──Kalau dipikir-pikir,
tempat ini pastilah titik mulanya.
Hanya sebuah boneka.
Barang cacat yang tidak memiliki ‘hati’. Bagian dalam diriku yang seperti itu,
kini mulai retak.
『......Maaf.』
Aku berusaha sekuat tenaga
untuk mengucapkannya. Menanggapi hal itu, dia menurunkan alisnya dengan wajah
serba salah.
Aku ini rusak. Aku selalu
berpikir demikian.
Siapa pun yang hilang dari
sisiku, aku pasti tidak akan bisa merasa sedih. Bahkan jika orang itu adalah
anak laki-laki ini.
......Namun, aku keliru.
Makan bersama setiap hari,
bermain bersama, tidur bersama. Hanya keseharian itulah yang selama ini
menopang dan mengikat diriku. Ternyata, kehilangan sesuatu terasa semengerikan
ini. Untuk pertama kalinya, aku menyadari emosi yang dinamakan ‘rasa takut’.
『......Iori.』
Aku memeluk anak laki-laki
di depanku. Seketika wajahnya memerah padam dan dia menjadi gugup panik.
『......E-eh, tunggu......』
Yukimura Mizuki memang ‘rusak’.
Kenyataan itu pasti tidak akan pernah berubah. Namun...... hanya saat bersama
anak laki-laki inilah, aku bisa menjadi seorang ‘manusia’.
Aku bisa tertawa, bahkan
bisa menangis. Anak laki-laki inilah belahan jiwaku yang selama ini hilang.
『......Terima
kasih.』
──Itulah saat di mana akhirnya, aku berhasil menyadarinya.
Illustrasi | ToC | Chapter 1



Post a Comment