Chapter
1
Prelude
“......Engh.”
Cahaya
matahari pagi yang menerobos masuk melewati sela-sela tirai membangunkan
mataku. Tubuh terasa lelah dan lesu. Kelopak mata terasa amat berat.
Di
tengah kesadaran yang masih samar, aku membuka mataku perlahan.
(......Lho,
aku)
Kapan
aku tertidur, ya?
Sentuhan
kain sprei yang mengelus kulit terasa begitu nyata dan jelas. Di tengah alur
pikiranku yang masih buram, aku menyentak tubuh hendak bangun.
──Fuyu.
(......?)
Sesuatu
yang lembut menyentuh lengan kananku.
Apa
ini? Begitu menoleh ke sebelah, aku melihatnya.
“......Ngh......”
“!?”
Seketika
seluruh tubuhku membeku saat melihat sosok itu.
Rambut
hitam berkilau yang terurai menutupi wajah. Bulu mata yang lentik. Paras cantik
yang bagaikan ilusi. Dan...... kulit putih nan bening yang mengintip dari balik
sprei.
(......Hah?)
Pikiranku
terhenti seketika. Sosok yang tengah bernapas tenang dalam lelap di sampingku
adalah teman masa kecilku──Yukimura Mizuki. Dia membiarkan bagian bahu dan
dadanya terbuka, memperlihatkan wajah tidurnya yang serba tanpa pertahanan.
Saat
melihat sosok yang seakan tak masuk akal itu...... pemandangan tadi malam
kembali terngiang di dalam benakku.
『──Aku
tidak akan melepaskanmu lagi.』
“......Ah.”
Benar.
Kemarin, aku bersama gadis ini. Itu adalah ingatan yang amat membekas dan
terasa sangat nyata.
Paras
cantik jelita yang berada begitu dekat. Pipi yang memerah hangat. Tubuh yang
terasa begitu lembut di luar dugaan. Sosok teman masa kecilku yang
memperlihatkan ekspresi serta suara yang tak pernah kuketahui sebelumnya.
“......gh.”
Aku
memegang kepalaku lalu menimbunkan wajah ke atas kasur.
(......Ini
beneran nyata?)
Cinta
pertama yang tak mungkin terwujud. Sesuatu yang sejak entah kapan, bahkan tidak
berani lagi kuharapkan.
Padahal
begitu...... tapi mengapa bisa jadi seperti ini?
Mataku
berganti menatap sosok teman masa kecilku yang sedang mengembuskan napas tidur
yang amat menggemaskan. Melihat wajah tidurnya yang tampak begitu tenang tanpa
beban...... mendadak aku teringat akan masa lalu.
(......Sudah
berapa lama ya, aku tidak melihat wajah tidur Mizuki?)
Sewaktu
kecil, dia sering sekali menginap di rumahku. Setiap malam tiba, dia akan
mendekap bantalnya dan melangkah pelan mengekor di belakangku menuju kamarku.
『──Iori,
ayo tidur bareng?』
『Anu......』
Dia
menelengkan kepalanya yang imut. Tanpa menunggu jawabanku, dia menata bantalnya
tepat di samping bantal milikku.
Mengingat
Mizuki kecil yang menyusup masuk ke dalam selimut, diriku saat itu dengan
canggung dan berdebar-debar ikut masuk ke atas tempat tidur yang sama.
──Dahulu,
hal itu adalah hal yang wajar. Namun seiring tubuh yang makin beranjak dewasa,
perbedaan gender yang kian jelas, serta paras cantiknya yang makin menonjol......
tanpa sadar aku mulai menjaga jarak darinya. Tidak terlalu dekat, juga tidak
terlalu jauh. Sebuah benteng pertahanan minimal.
......Meskipun
Mizuki sangat membenci hal itu.
Perlahan
aku mengulurkan tangan ke wajah tidurnya. Mengusap helai rambutnya, lalu
menyentuh pipinya.
“......Sungguh,
kamu makin cantik saja ya.”
Gumamku
lirih dengan nada setengah tak percaya.
Bagaimanapun
juga, bisa tumbuh menjadi wanita secantik ini benar-benar di luar nalar. Model,
aktris, ataupun selebritas. Dibandingkan dengan sosok-sosok itu pun,
kecantikannya terasa berbeda kelas. Dia adalah sosok yang kelak akan pergi jauh
dariku. Aku sudah memasrahkan diri akan hal itu sejak lama.
『──Aku
juga menyukaimu, Iori.』
Namun,
tadi malam. Setelah dia menumpahkan seluruh isi hatinya sedemikian rupa, mau
tak mau aku tersadar. Cinta bertepuk sebelah tanganku...... ternyata sama
sekali tidak bertepuk sebelah tangan.
(......Padahal,
aku sudah berniat untuk menyerah)
Menyampaikan
perasaan untuk terakhir kalinya, lalu mengakhiri cinta pertama ini. Tekad
itulah yang kusetor ke dalam lagu “Gekkou”.
Namun
pada akhirnya...... gadis ini tidak pernah pergi meninggalkanku. Bahkan
melompati sekian banyak tingkatan. Kini dia terbaring di sampingku, bernapas
dalam lelapnya.
“......Haa.”
Perkembangannya
terlalu cepat. Sembari memegang kepala yang pusing, aku berniat keluar dari
tempat tidur......
『──Semoga
berhasil ya, dengannya.』
“......gh.”
Rasa
sakit yang tumpul menjalar di dadaku.
Terbayang
di dalam benak, sosok gadis berambut cokelat dengan tatapan yang lembut. Gadis
yang menyampaikan cintanya padaku, sosok yang pernah menjadi temanku.
(......Ah,
begitu ya)
Sosok
dirinya saat terakhir kali kulihat. Menahan air mata, memaksa dirinya tersenyum
untuk melepas kepergianku. Seorang pekerja keras, cantik, baik hati...... gadis
yang sangat kuhormati tanpa ragu.
──Meski
demikian, aku tetap memilih cinta pertama ini.
Aku
tidak menyesal. Sekalipun waktu bisa diputar kembali, aku akan tetap mengambil
pilihan yang sama. Namun...... walau tahu aku tak berhak merasakannya, bagian
dalam dadaku tetap terasa nyeri dan berdenyut.
(......Andai
saja, dia gadis yang jahat)
Aku
memikirkan hal konyol seperti itu. Tapi kalau begitu, dari awal kami tidak akan
pernah terlibat satu sama lain.
“......Ngh......”
Saat
itu, terdengar suara kecil bagaikan anak kucing.
“......Iori?”
Saat
melihat ke samping, mata indahnya terbuka perlahan. Lalu, tangannya yang lentik
nan putih itu terulur mencari keberadaanku. Tanpa sadar aku menggenggam tangan
itu. Teman masa kecilku pun tersenyum lega dan manja melihatnya.
──Ah.
Melihat
ekspresi itu, dadaku terasa sesak. Wajah tanpa pertahanan seperti ini, sudah
begitu lama tidak kulihat sampai-sampai aku tak mampu lagi mengingatnya.
......Aku
tak bisa melihatnya lagi. Padahal aku sudah memasrahkan diri dan menyerah akan
hal itu.
“Selamat
pagi, Iori.”
Suara
yang indah dan terdengar begitu jernih.
Mendengarnya,
aku berusaha menahan suaraku yang nyaris bergetar.
“......Selamat
pagi, Mizuki.”
Sapaan
yang telah kuulang tak terhitung bunyinya hingga kini, kuucapkan kembali
sembari meresapi tiap maknanya.
◇
......Tok,
tok.
Suara
pisau dapur. Nada suara pagi hari yang sudah sangat terbiasa kudengar.
Sambil
duduk di kursi depan meja makan, aku menatap ke arahnya dengan pandangan
kosong.
“Ada
apa?”
“!?”
Mendadak,
Mizuki menoleh ke belakang.
“Soalnya
dari tadi, kamu melihatku terus.”
“Ah......”
Gawat.
Sepertinya aku terlalu terang-terangan menatapnya. Melihat Mizuki yang tampak
heran, aku bingung harus berkata apa.
“......Cuma
berpikir, ternyata kita benar-benar sudah jadi sepasang kekasih, ya.”
Tanpa
sadar aku menyuarakan apa yang ada di dalam pikiranku. Mendengar itu, Mizuki
sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Memang.
Soalnya Iori tidak pernah mengucapkannya, sih.”
Mendengar
ucapannya yang bernada menggoda, aku hanya bisa mengerang tertahan. Tak perlu
diperjelas lagi apa maksudnya. Dibilang penakut secara tak langsung membuat
bahuku terkulai lemas.
Tak
ada kata yang bisa kubalas. Padahal gadis ini sudah menungguku sekian lama.
“......Maaf
ya.”
“Tidak
apa-apa. Soalnya aku senang kamu mau mengucapkannya dengan jelas.”
Mizuki
kembali memasak dengan suasana hati yang baik.
Suara
tok-tok saat memotong sayuran. Suara air mendidih yang bergolak pelan. Bahkan
terasa membangkitkan rasa rindu. Dahulu, hal seperti ini adalah sesuatu yang
lumrah.
“......Padahal
ini bukan hal yang bisa dianggap lumrah, ya.”
“?”
Suara
hatiku bocor keluar. Mendengar itu, Mizuki sekali lagi menoleh ke belakang. Lalu
saat menatapku, dia terkekeh pelan.
“Kamu
kesepian ya sewaktu tidak ada aku?”
“......Nggak
juga.”
“Maaf
ya? Karena sudah kabur dari rumah.”
Dia
menatapku dengan raut jenaka dari balik area dapur. Menanggapi hal itu, aku
hanya bisa memalingkan wajah dengan gusar. Melihat responsku, Mizuki keluar
dari dapur dan melangkah mendekat.
“Nih.”
Lalu
di depanku, entah mengapa dia merentangkan kedua tangannya.
“Eh,
apa ini?”
“Aku
berpikir mau memelukmu.”
“Tidak......
tidak usah.”
“Beneran?”
Seolah-olah
bisa melihat menembus seluruh gengsi dan pura-puraku. Melihat Mizuki yang
merentangkan tangan menunggu seakan berkata "kemarilah", aku sempat
dilanda ragu yang teramat sangat.
“......”
“Fufu.”
Seraya
manja, aku menyerahkan diriku ke dalam pelukannya. Mizuki menyambut diriku
dengan raut gembira.
“Tidak
apa-apa. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi.”
Dia
berbisik dengan nada suara yang seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
“......Begitu,
ya.”
“Iya.”
Semoga
saja begitu. Batinku sembari berada dalam dekapan Mizuki.
Tinggal
bersama, memakan makanan yang sama. Ke mana pun pergi dan apa pun yang
dilakukan, gadis ini akan selalu berada di sampingku.
──Aku
berharap keseharian seperti ini bisa terus berlanjut selamanya. Segenap hati
aku memanjatkan doa itu.
“Iori.”
“Ngh?”
Mendengar
bisikan suaranya yang manis, aku mengangkat wajah yang sebelumnya terbenam di
bahu Mizuki. Seketika paras cantik yang sudah sangat kukenal terpampang di
depan mata, lalu tersenyum hangat.
“Mulai
sekarang, mohon bantuannya ya.”
“......Ah,
iya.”
Sama-sama.
Bergumam
lirih, aku membalasnya.
◇
Setelah
itu kami menyantap sarapan dan berangkat ke sekolah. Namun di saat melangkahkan
kaki masuk ke dalam kelas, pandangan mata teman-teman sekelas seketika tertuju
ke arahku.
“──Ah,
Amano-kun datang!”
Lalu,
mereka berbondong-bondong berlari mendekatiku.
Ada
apa ini? Saat aku melangkah mundur kebingungan, seorang gadis di kelas
menatapku dengan mata berbinar-binar.
“Selamat
ya atas juara 3 Mister Contest! Permainan pianomu keren banget!!”
“A-ah,
iya.”
Juara
3. Kalau dipikir-pikir memang benar begitu.
Soalnya
perhatianku sudah tersedot sepenuhnya oleh urusan Mizuki dan Kashiwagi-san,
jadi aku sama sekali tidak memikirkannya.
“Tidak
disangka kamu punya bakat terpendam begitu. Tampan, pintar, terus bisa main
piano lagi...... sepertinya kemarin aku agak meremehkanmu, ya?”
“Ter......
terima kasih?”
“Sialan,
kutolak perkataanku! Padahal kukira kamu cuma pria lemah yang cuma bisa belajar
doang......! Dasar pengkhianat!”
“Hei,
siapa yang kamu maksud pria lemah!”
Siapa
yang cuma bisa belajar dan lemah?
Kekesalanku
memuncak karena tidak bisa membantahnya.
Apa
aku mulai latihan beban saja, ya?
Setelah
itu, berbagai orang terus-menerus mengajakku berbicara.
Entah
mereka sedang memujiku atau malah mengejekku. Kalau dibilang senang ya tentu
saja senang, tapi karena sebelumnya tidak pernah disanjung dan dielu-elukan
seperti ini, aku jadi bingung harus merespons bagaimana.
Setelah
berhasil keluar dari kerumunan teman-teman sekelas, aku akhirnya bisa
meletakkan tas di kursiku.
“Yo,
Juara 3.”
“......Pagi,
Juara 2.”
Mendengar
sapaan itu, Renji yang duduk bersandar di kursi sebelah menyapa sambil
tersenyum jahil.
Saat
aku membalasnya acuh tak acuh, entah mengapa Renji merengut tidak puas.
“Beneran
nih...... aku Juara 2! Gara-gara suara yang harusnya masuk ke aku malah lari ke
kamu, senior kelas 3 itu jadi hajar juara 1, tahu!”
“Bukan
urusanku.”
Aku
mengibas-ibaskan tangan, mengusir Renji yang terus mengoceh tak henti-henti.
......Tetapi
kalau dipikir-pikir sekarang, sepertinya dia memang cukup serius. Permainan
gitar yang ditampilkannya juga bukan hasil latihan sehari-dua hari. Di luar
dugaan, mungkin dia memang benar-benar mengincar posisi juara 1.
Yah,
walau...... aku sendiri tidak tahu apakah dia bisa menang atau tidak jika aku
tidak ikut.
“Semangat
ya buat tahun depan.”
“Ya
jelaslah! Terus kenapa kamu ngomong seolah tidak ada sangkut pautnya begini?
Kamu juga ikut lagi.”
“Tidak
mau.”
Hal
seperti itu cukup sekali saja seumur hidup. Malah, bisa terjadi sekali saja
sudah sangat mengejutkan bagiku.
Terlebih
lagi, posisi juara 3 kali ini lebih mirip seperti keberuntungan dari aksi
sesaat. Belum tentu bisa mendapat hasil yang sama di kesempatan berikutnya.
Saat
aku mengatakan hal itu, seperti yang sudah kuduga, Renji kembali mengoceh
gusar. Aku mengabaikannya dan mengalihkan pandangan ke sekeliling kelas. Lalu,
tepat di depan sana.
“......!”
“Ah......”
Mataku
beradu dengan mata seorang gadis. Di detik berikutnya, dia terburu-buru
memalingkan wajahnya.
Rambut
cokelat sebahu. Seorang gadis cantik dengan aura yang lembut. Di tengah
lingkaran beberapa temannya, dia beberapa kali mencuri pandang ke arahku dengan
ragu-ragu.
(......Kashiwagi-san)
Setelah
festival budaya hari itu.
『──Aku......
tidak bisa membalas perasaan Kashiwagi-san.』
Aku
telah menyampaikan jawabanku padanya. Namun, aku belum menceritakan apa pun
tentang apa yang terjadi setelahnya. Apa yang kulakukan setelah peristiwa itu.
Mungkin
memang tidak ada keharusan untuk memberitahunya. Aku bisa saja tetap diam
seperti ini dan menjaga jarak secara perlahan.
Tetapi......
『──Suatu
hari nanti, aku ingin kamu mengenalkanku padanya. Gadis yang disukai oleh
Amano-kun.』
Aku
yakin, aku tidak boleh melarikan diri. Aku berpikir demikian.
“──Ah,
Yukimura-san!”
Suasana
kelas mendadak riuh seketika.
Karena
terkejut, aku menoleh ke belakang dan melihat sosok sang madonna
sekolah.
“Yu-Yukimura-san!
Keren banget! Miss Contest kemarin benar-benar luar biasa!!”
“Menang
Miss Contest 2 kali berturut-turut! Seperti yang diharapkan! Beneran dewi!!”
Baik
laki-laki maupun perempuan berbondong-bondong mengelilingi Mizuki. Pencapaian
luar biasa memenangkan Miss Contest 2 kali berturut-turut yang belum pernah
diraih siapa pun sebelumnya. Prestasi itu tidak hanya membuat kelas ini gempar,
tetapi juga seluruh sekolah.
“Meskipun
gadis itu memang beda kelas, sih...... tapi sialan, kalau saja aku juga bisa
dapat juara 1......”
Renji
menggerutu penuh penyesalan yang tak jelas.
Tidak,
sepertinya sekalipun kamu dapat juara 1, suasananya tidak akan jadi seperti
itu.
Aku
mengabaikannya dan terus memperhatikan Mizuki dengan mataku.
Di
tengah kerumunan teman-teman sekelas, dia berjalan menuju kursinya dengan
ekspresi tenang. Orang-orang di sekitarnya memujinya bak bawahan yang mengagumi
penguasa, tetapi gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan peringkat Miss
Contest.
Sesuai
dugaan, dia mengabaikan percakapan di sekitarnya dan mulai memainkan ponselnya.
“Lagian
aku kan Juara 2, tapi kok tidak disanjung-sanjung seperti kamu atau
Yukimura-san, ya? Menurutmu bagaimana?”
“Sudah
kubilang aku tidak tahu. Lagipula kalau buat kamu, bukannya itu hal yang
biasa?”
“Oh!
Kamu berpikir begitu juga!? Yah, memang benar sih? Pria setampan aku mah sudah
sewajarnya──”
Aku
mengabaikan kata-kata yang menyertainya setelah itu.
Alasan
dia tidak dipuja kemungkinan besar karena merepotkan. Kalau dipuji, dia bakal
makin melunjak.
(......Nah)
Aku
mengakhiri obrolan dengan Renji lalu menarik napas dalam-dalam.
Sudah
waktunya aku menata tekad. Tanpa menyimpan kembali ponsel yang sudah
kukeluarkan, aku mengirimkan sebaris pesan kepada satu orang lagi yang dari
tadi terus mengarahkan pandangannya ke arahku.
【Bisa bicara sebentar?】
【Bisa】
Balasan
yang singkat. Balasan yang berkesan dingin itu mencerminkan hubungan kami saat
ini.
Tidak
apa-apa begini. Ini adalah hasil dari pilihan yang kubuat.
Aku
menyimpan ponselku, lalu meninggalkan satu patah kata untuk Renji yang
menatapku heran sebelum melangkah keluar dari kelas.
──Dan
tempat yang kutuju adalah bangku di taman sekolah.
“Maaf
ya. Tiba-tiba memanggilmu begini.”
“Tidak
apa-apa.”
Kepada
gadis yang baru saja melangkah mendekat, aku menundukkan kepala pelan. Gadis
itu duduk dengan tenang di sampingku, menyisakan jarak satu orang di antara
kami.
Sekarang
sudah bulan November. Angin dingin terasa mengelus kulit. Aku tidak ingin
berlama-lama di sini.
Orang
yang duduk di sampingku adalah Kashiwagi Kotoha-san. Gadis yang dijuluki
“tercantik kedua di sekolah”. Temanku yang dipanggil dengan julukan seperti
itu.
......Gadis
yang pernah menyatakan menyukaiku.
“Mengenai
hal itu......”
“Iya.”
Aku
tidak bisa menatap wajah Kashiwagi-san secara langsung.
Pasti
dia juga sudah paham. Apa yang akan kubicarakan setelah ini. Dia datang dengan
memahaminya. Karena kami berdua pasti merasa bahwa hal ini memang diperlukan.
Setelah
memantapkan tekad, aku mulai membuka suara perlahan.
“......Aku
sudah berpacaran. Dengan teman masa kecilku.”
Di
saat aku menyampaikan hal itu, aku dapat merasakan Kashiwagi-san yang duduk di
sampingku menahan napas pelan. Keheningan sejenak melingkupi kami. Dan
kemudian.
“Begitu
ya...... Selamat, ya. Cinta pertamamu akhirnya terwujud.”
Dia
mengucapkan hal itu dengan suara yang terdengar begitu lembut.
Mendengar
nada suaranya yang sedikit bergetar, tanpa sadar aku mengepalkan tanganku
erat-erat.
“Terima
kasih ya, sudah memberitahuku.”
Kashiwagi-san
berkata demikian sembari tersenyum tegar.
Andai
saja dia mau memaki atau memarahiku, pasti akan terasa lebih mudah. Tetapi
gadis ini tidak melakukan hal itu.
......Aku
sudah tahu betul kalau dia memang tipe gadis yang seperti itu sejak dulu.
“......Maaf
ya.”
“Kenapa
minta maaf? Amano-kun kan tidak melakukan kesalahan apa-apa.”
“......”
Tidak
melakukan kesalahan apa-apa. Mendengar kata-kata
itu, raut wajahku menggeletuk perih.
(Mana
ada begitu.)
Aku
telah membuat gadis ini bersedih. Dan selama ini, aku sama sekali tidak
menyadari perasaannya. Terlebih lagi──siapa sosok yang sebenarnya kusukai. Bahkan
sampai di tahap ini pun, aku masih belum memiliki keberanian untuk
menyampaikannya.
“Tapi,
dengan begini aku patah hati juga, ya. Yah, lagipula kita kan masih SMA. Nanti
aku bisa cari cinta berikutnya santai-santai.”
Kashiwagi-san
tertawa kecil sambil berseloroh. Namun, aku sama sekali tidak sanggup membalas
tawa itu.
“......Nee,
Amano-kun.”
“......?”
Kashiwagi-san
bergumam pelan.
“Apakah
kita...... masih boleh tetap berteman?”
“......gh.”
Mendengar
pertanyaan itu, aku tak mampu memberikan jawaban. Melihatku yang membisu tanpa
kata, Kashiwagi-san tersenyum gersang.
“M-maaf
ya? Malah bikin kamu bingung.”
Sembari
berujar untuk menutupi kecanggungannya, Kashiwagi-san beranjak berdiri dari
bangku taman.
“Nah,
sebentar lagi kita harus kembali. Jam wali kelas mau dimulai.”
“......I-iya,
benar juga.”
Berteman.
Saat
kata itu diucapkan, untuk sekilas tebersit di benakku.
Walau
sudah punya kekasih...... kalau cuma sebatas teman, mungkin......
──Padahal
hal semacam itu sama sekali tak mungkin bisa dilakukan.
◇
“Selamat
datang kembali.”
“......Aku
pulang.”
Penghujung
hari itu. Bahkan setelah jam pelajaran usai, aku masih terus diajak mengobrol
oleh teman-teman sekelas hingga kepulanganku agak terlambat.
Setibanya
di rumah, aku disambut oleh Mizuki yang sudah pulang lebih dulu.
Pada
dasarnya, rumahnya adalah rumah sebelah persis...... Tetapi karena kedua orang
tuaku bekerja di luar negeri, entah bagaimana ceritanya, dia sudah hampir
menyerupai penghuni tetap yang tinggal di rumah ini.
Sudah
bertahun-tahun. Seolah-olah hal itu adalah sebuah kewajaran.
“Shizuka-san
hari ini tidak pulang lagi?”
“Iya.
Mungkin.”
Jawaban
yang singkat nan dingin. Seakan ingin menegaskan bahwa dia sudah tak peduli
lagi sejak lama.
Ibunya
yang seorang gila kerja memang sangat jarang berada di rumah. Dan Mizuki
sendiri pun tidak menunjukkan raut kesepian akan hal itu.
Apakah
dia memang merasa tidak masalah? Ataukah hanya aku saja yang berharap agar
ibunya mau lebih memperhatikan Mizuki?
“Aku
masak dulu ya. Kamu mau makan apa?”
“Kalau
begitu...... daging hamburg?”
“Ngh......
fufu, lidah anak kecilmu itu benar-benar tidak berubah ya.”
“Berisik,
ah.”
Percakapan
yang biasa. Suasana seperti biasanya. Namun, hal itu membuatku bahagia. Sesuatu
yang sempat hampir sirna. Jika waktu itu aku tak melakukan apa-apa, keseharian
ini pasti sudah lenyap.
Begitu
memikirkan hal itu, mendadak rasa takut langsung merayapi diriku.
“......Iori?”
“!”
Saat
tersadar dan menatap ke depan, Mizuki sedang menelengkan kepalanya heran tepat
di hadapanku.
“Ada
apa? Kok melamun?”
Celemek
bermotif kucing yang menggemaskan. Sesuatu yang sebenarnya kurang cocok dengan
penampilannya yang dewasa.
Tetapi
kalau diingat-ingat, celemek ini juga merupakan hadiah yang kuberikan padanya
saat SMP dulu.
Dengan
beberapa jahitan perbaikan di sana-sini, dia terus memakai celemek ini sampai
sekarang.
......Padahal
tinggal ganti saja dengan yang lebih cocok untuknya secepat mungkin.
“Enggak,
bukan apa-apa kok.”
“Bohong.”
Melihatku
menggelengkan kepala, Mizuki menurunkan sudut alisnya dengan raut sedih.
“Bahkan
setelah jadi pacar pun, kamu masih belum mau bersikap jujur dan bersandar
padaku, ya.”
Aku
selalu lemah menghadapi ekspresi gadis ini yang seperti ini. Dan gadis ini pun
sangat menyadari hal itu. Menurutku, sisi dirinya yang itu sungguh licik.
“Aku
selalu bersandar padamu, kok. ......Beneran, ini cuma hal sepele.”
Saat
aku mencoba mengalihkannya, Mizuki menatap mataku lekat-lekat sejenak sebelum
akhirnya berkata,
“Aku
buat hamburg-nya dulu, ya.”
Ucapnya,
lalu melangkah menuju dapur.
Melihat
punggungnya dari belakang, aku mengembuskan napas pelan. Lalu aku duduk di
kursi depan meja makan, menatap sosok Mizuki yang sedang memasak persis seperti
tadi pagi.
Sesuatu
yang tak berubah sejak zaman SMP. Sebuah pemandangan yang terkesan wajar, namun
sebenarnya tidak biasa.
『Mizuki-chan!
Kalau sudah besar nanti, nikah sama aku ya!』
『Ah,
kamu curang! Mizuki! Nikahnya sama aku saja!』
Sejak
masih kecil, kecantikannya memang sudah sangat menonjol. Tak ada anak laki-laki
yang tak terpikat olehnya. Siapa pun berusaha setengah mati untuk membuat gadis
itu menoleh.
Padahal
begitu......
『Maaf
ya. Aku lebih suka sama Iori-kun.』
Entah
mengapa, dia selalu memilih berada di sampingku.
Aku
merasa senang. Namun di saat yang sama, rasa heran juga menyelimuti. Mengapa
gadis ini melabuhkan pilihannya padaku?
『──Iori.
Selalu bersama terus, ya.』
Janji
semacam itu pun, bagaimanapun hanyalah obrolan sewaktu masih anak-anak.
Setelah
10 tahun berlalu, pasti sudah terlupakan.
Kupikir
begitu, tapi......
“......Padahal
kukira kamu bakal cepat-cepat cari pacar lain.”
“Apa?”
“Enggak,
bukan apa-apa.”
Gumamku
pelan.
Saat
dia menanyakannya kembali, aku sedikit panik.
Aku
menggelengkan kepala untuk mengalihkannya, sementara Mizuki tetap
memunggungiku.
“Aku,
dari dulu hanya selalu melihat Iori, kok.”
Sambil
menyajikan daging yang dipanggangnya dengan mahir ke atas piring, dia bergumam
seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
(......Kedengaran,
tahu.)
Bahu
terkulai lemas, aku menggaruk kepalaku.
──Setelah
itu, kami menyantap makanan, mandi, lalu menggosok gigi.
Saat
ini Mizuki sedang mandi secara bergantian. Jika seperti sebelum-sebelumnya, di
jam seperti ini dia pasti sudah pulang ke rumah sebelah sejak tadi.
Pulang
ke rumah masing-masing, lalu tidur di tempat terpisah. Hal itu adalah sesuatu
yang wajar. Namun──hubungan kami sudah berubah. Tak ada lagi alasan untuk tidur
terpisah.
“──Sudah
selesai mandinya, nih?”
“!”
Suara
yang terdengar dari belakang membuat bahuku tersentak.
Saat
menoleh, tampak Mizuki mengenakan kaus tipis dan celana sweatpants.
......Sungguh,
pakaian apa pun yang dia kenakan selalu terlihat memesona bagaikan lukisan. Tinggi
badan lebih dari 170 cm dengan proporsi tubuh yang tak kalah dari seorang
model.
Padahal
dia tidak melakukan pembatasan makan yang ketat. Tuhan memang tidak adil.
“......Hari
ini, anu, kamu menginap di sini, kan?”
“Iya.”
Tanpa
sadar aku memastikannya kembali. Mizuki pun mengangguk santai tanpa beban.
Aku
menyisakan keheningan tanpa kata. Mizuki melangkah begitu saja lalu duduk
perlahan di samping tempat tidur.
“......”
“......”
Kami
berdua saling membisu.
Mizuki
hanya bersandar dengan tenang tepat di sisiku. Detak jantungku bergemuruh
bising. Mungking saja Mizuki yang berada di sebelahku juga bisa mendengarnya.
Hal
yang diinginkan Mizuki. Hal yang ingin kulakukan. Saling tersampaikan satu sama
lain. Kalau begitu, sisanya tinggal mengulurkan tangan saja.
......Ya,
padahal aku sudah memahaminya, tetapi.
“Iori.”
Saat
itu, jemari Mizuki terulur lembut menggenggam tanganku.
“Tidak
apa-apa. Kamu tidak perlu takut.”
Sembari
berkata demikian, dia perlahan merapatkan tubuhnya padaku.
“Soalnya
kita sudah jadi sepasang kekasih.”
Aroma
manis dari sampo yang dikenakannya semerbak lembut menusuk hidung.
Pada
lenganku, aku bisa merasakan hangat dan lembutnya tubuh gadis itu.
“......Begitu
ya.”
“Iya.”
Mendengar
perkataan serta merasakan kehangatan itu, mendadak seluruh ketegangan di
tubuhku melemas.
Saat
menoleh ke samping, pandanganku beradu dengannya yang juga sedang menatap ke
arahku. Manik mata berwarna merah berkilauan, bagaikan sebuah permata.
Seolah
terhisap ke dalam mata itu, secara alami bibir kami saling bertaut.
“Ngh......”
Terasa
lembut dan manis.
Padahal
kemarin sudah melakukan sebanyak itu, tapi aku sama sekali tidak terbiasa.
Beberapa
saat bibir kami saling bersentuhan...... hingga akhirnya, Mizuki menekan
bibirnya lebih dalam lagi.
“......Ngh......!?”
Terkejut,
aku berniat menarik wajahku mundur, namun tangannya telah melingkar di belakang
kepalaku.
Seketika
lidahnya menyusup masuk. Saling bertautan seakan melelehkan seluruh
kesadaranku.
“......Ngh......”
Saling
berpadu, meresapi, dan menjelajah. Entah puluhan detik atau beberapa menit. Aku
tidak tahu sudah berapa lama kami seperti itu.
“......Hah.”
Saat
akhirnya memisahkan wajah, tepat di depan mataku terpampang paras cantik jelita
yang tampak sedikit terbuai dalam kenikmatan. Aura pesona dan kecantikannya
membuat kesadaranku goyah seketika.
“......Ciumannya,
terasa enak ya.”
“......Iya.”
“Bisa-bisa
bikin ketagihan, nih.”
Mendengar
tawanya yang terkekeh, aku memantapkan tekad lalu mendorong tubuhnya hingga
terbaring.
Menatap
dari atas sosok dirinya yang pasrah dibaringkan. Mata yang besar, wajah mungil
yang seakan tak nyata. Kulit putih mulus tanpa cela sedikit pun. Sejak kecil
tumbuh bersama...... gadis yang selalu kusukai dari dulu.
“Ada
apa?”
“......Enggak,
cuma berpikir, kamu benar-benar cantik sekali.”
“Ngh......
fufu, baru sadar sekarang?”
“......Dari
dulu juga sudah mikir begitu, kok.”
“Aku
tahu.”
“Dasar.”
Melihat
teman masa kecilku yang tampak semringah bahagia, aku pura-pura memasang raut
wajah gusar. Sikap pura-puraku itu pun pasti sudah terbaca sepenuhnya oleh
dirinya.
Seolah
menegaskan bahwa dia tidak punya pilihan lain, dia mencium bibirku sekali lagi.
“Nah.”
Dia
merentangkan kedua tangannya, siap menyambut dan memelukku. Menatap tatapan
matanya yang meluapkan penuh kasih sayang itu, aku......
“......Mizuki.”
“Ngh?”
“Aku
menyukaimu. Sejak dulu.”
“......Ehm,
aku juga. Tapi kalau bisa, aku ingin mendengarnya sedikit lebih awal, sih.”
“Maaf
ya.”
“Tidak
apa-apa. Kumaafkan.”
Melihatnya
tersenyum saat mengucapkan hal itu, dia terasa begitu kukasihi dari lubuk hati
yang terdalam.
Sekali
lagi kami menyatukan bibir, lalu aku merapatkan tubuh menyatu dengannya.
◇
『......Nee, Iori.』
『Apa?』
Itu
adalah kenangan di masa yang sudah sangat lampau. Sosok Mizuki dan diriku
sewaktu kecil, sedang berjalan bergandengan tangan.
Lokasinya
di taman. Lingkungan sekitar gelap gulita, tak ada seorang pun manusia di sana.
Sama sekali bukan waktu yang pantas bagi anak-anak untuk berkeliaran. Namun
dahulu, kami sering berjalan berdua di tengah malam seperti ini.
Mizuki
yang dulu memiliki kebiasaan menyelinap keluar rumah saat malam hari. Dia
tiba-tiba menghilang di tengah malam, lalu aku akan mencarinya dan membawanya
pulang ke rumah.
Ayah
dan ibu sangat khawatir sampai-sampai marah besar. Tetapi setiap kali Mizuki
menghilang, aku akan panik dan berusaha keras mencarinya tanpa peduli walau
sudah larut malam. Rasanya, dia seakan bisa lenyap begitu saja...... Aku merasa
jika tidak mencarinya, semuanya akan terlambat.
Berlari
ke sana kemari, menemukannya, lalu menggandeng tangannya untuk pulang. Mengapa
Mizuki selalu menghilang? Apa yang sedang dia lakukan? Aku tidak tahu. Namun......
hal itu tidak masalah bagiku. Asalkan dia berhasil ditemukan dan mau pulang
bersamaku.
『Iori, kenapa kamu selalu
datang mencariku?』
Sambil
tetap berpegangan tangan, Mizuki kecil menelengkan kepalanya penuh keheranan.
Mendengar
itu, aku membalas pertanyaannya walau sempat merasa bingung.
『Kenapa, bilang? ......Kan
bahaya!』
『Bahaya?』
『Di luar gelap. Ayah dan
ibu juga bilang, kalau malam tidak boleh jalan-jalan sendirian.』
『Kenapa?』
『K-kenapa, bilangnya......』
Saat
ditanya begitu, aku tersumpal tanpa kata.
Itu
adalah norma umum yang ditanamkan oleh orang dewasa. Malam hari itu berbahaya.
Tidak boleh pergi ke luar rumah. Semua orang tentu sudah mengetahuinya.
Tetapi
jika ditanya mengapa bisa begitu......
Aku
berusaha setengah mati mencari kata-kata yang pernah diucapkan oleh orang tua
maupun guru di dalam kepalaku.
『Anu...... nanti bisa
diculik orang aneh, atau ditabrak mobil?』
Meskipun
pada akhirnya bernada ragu, aku tetap menegaskan bahaya tersebut sekuat tenaga.
Oleh karena itu, aku ingin dia menghentikannya. Jangan menghilang sembarangan
lagi. Aku berharap demikian.
Namun.
『......Kalau diculik atau
ditabrak, memangnya kenapa?』
Mizuki
bertanya dengan suara yang hampa tanpa emosi.
Pertanyaan
itu membuatku terpaku. Memangnya kenapa? Memangnya kenapa, bilang......
Sekali
lagi aku tersumpal tanpa kata. Namun, aku berusaha keras membuka mulut.
『......Nanti, m-meninggal......』
Kata
itu bahkan terasa menakutkan untuk diucapkan dari mulutku.
Aku
tidak ingin mengucapkannya. Membayangkannya saja aku tidak mau. Membayangkan
Mizuki mengalami nasib seperti itu saja sudah membuatku hampir menangis. Genggaman
tanganku makin mengerat. Namun Mizuki bahkan tidak menoleh ke arahku.
『Kalau meninggal,
memangnya tidak boleh, ya?』
Gumamnya
pelan seolah sedang berbicara pada diri sendiri. Mendengar itu, aku terperanjat
kaget.
『......Tidak boleh, lah!
Nanti sedih, aku tidak mau!』
Saat
aku memohon padanya sekuat tenaga, Mizuki menatapku dengan wajah polos
keheranan. Seolah dia tidak begitu memahaminya. Bagaimana caranya agar hal ini
bisa tersampaikan padanya? Di saat aku sedang kebingungan......
『──Begitu, ya.』
Maaf
ya.
Bergumam
lirih, dia tersenyum lembut.
“......gh!”
Aku
terbangun. Keringat dingin membasahi tubuh, terasa menyebalkan. Detak jantungku
bergemuruh bising. Rasanya aku baru saja bermimpi buruk.
“......Ngh......”
Aku
menoleh saat mendengar suara halus.
Ketika
melihat ke samping, tampak sosok teman masa kecilku dengan kulit mulus yang
terbuka tanpa busana.
Sambil
tetap menggenggam tanganku, dia bernapas tenang dalam lelapnya.
“......gh.”
Tanpa
sadar aku memeluk tubuhnya erat-erat. Namun gara-gara hal itu, kelopak matanya
bergetar lalu terbuka perlahan.
“......Iori?”
Suaranya
terdengar agak samar. Gawat, batinku panik. Aku malah membangunkannya. Namun
saat melihatku yang memeluknya seolah sedang bergantung padanya, Mizuki......
“Ada
apa......? Bermimpi buruk, ya?”
“......”
Melihatku
yang tak menjawab apa-apa, Mizuki mengulurkan tangannya perlahan. Lalu dengan
lembut dia mengelus kepalaku, menyandarkan wajahku dengan hangat ke dadanya.
“Kalau
begini, bisa merasa tenang?”
Tuk-tuk,
tuk-tuk. Suara detak jantung terdengar dari balik
dadanya tempat wajahku terbenam.
Mendengarkan
suara itu membuat tubuhku yang semula tegang perlahan-lahan menjadi rileks.
“......Maaf,
ya.”
“Enggak,
kok.”
Aku
sendiri tidak begitu paham untuk apa aku meminta maaf.
Apakah
karena telah membangunkannya? Ataukah karena hal lain?
“Tidak
apa-apa kok, Iori.”
Mizuki
berbisik menenangkan diriku yang seperti ini.
Suaranya
terasa begitu manis, hingga perlahan-lahan kelopak mataku mulai terpejam
kembali.
Di
tengah kesadaran yang kian memudar, pada akhirnya......
──Aku
akan selalu bersamamu, kok.
Terdengar
sebaris suara lirih yang bergumam pelan.



Post a Comment