NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Prelude


“......Engh.”

 

Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melewati sela-sela tirai membangunkan mataku. Tubuh terasa lelah dan lesu. Kelopak mata terasa amat berat.

 

Di tengah kesadaran yang masih samar, aku membuka mataku perlahan.

 

(......Lho, aku)

 

Kapan aku tertidur, ya?

 

Sentuhan kain sprei yang mengelus kulit terasa begitu nyata dan jelas. Di tengah alur pikiranku yang masih buram, aku menyentak tubuh hendak bangun.

 

──Fuyu.

 

(......?)

 

Sesuatu yang lembut menyentuh lengan kananku.

 

Apa ini? Begitu menoleh ke sebelah, aku melihatnya.

 

“......Ngh......”

 

“!?”

 

Seketika seluruh tubuhku membeku saat melihat sosok itu.

 

Rambut hitam berkilau yang terurai menutupi wajah. Bulu mata yang lentik. Paras cantik yang bagaikan ilusi. Dan...... kulit putih nan bening yang mengintip dari balik sprei.

 

(......Hah?)

 

Pikiranku terhenti seketika. Sosok yang tengah bernapas tenang dalam lelap di sampingku adalah teman masa kecilku──Yukimura Mizuki. Dia membiarkan bagian bahu dan dadanya terbuka, memperlihatkan wajah tidurnya yang serba tanpa pertahanan.

 

Saat melihat sosok yang seakan tak masuk akal itu...... pemandangan tadi malam kembali terngiang di dalam benakku.

 

『──Aku tidak akan melepaskanmu lagi.』

 

“......Ah.”

 

Benar. Kemarin, aku bersama gadis ini. Itu adalah ingatan yang amat membekas dan terasa sangat nyata.

 

Paras cantik jelita yang berada begitu dekat. Pipi yang memerah hangat. Tubuh yang terasa begitu lembut di luar dugaan. Sosok teman masa kecilku yang memperlihatkan ekspresi serta suara yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

 

“......gh.”

 

Aku memegang kepalaku lalu menimbunkan wajah ke atas kasur.

 

(......Ini beneran nyata?)

 

Cinta pertama yang tak mungkin terwujud. Sesuatu yang sejak entah kapan, bahkan tidak berani lagi kuharapkan.

 

Padahal begitu...... tapi mengapa bisa jadi seperti ini?

 

Mataku berganti menatap sosok teman masa kecilku yang sedang mengembuskan napas tidur yang amat menggemaskan. Melihat wajah tidurnya yang tampak begitu tenang tanpa beban...... mendadak aku teringat akan masa lalu.

 

(......Sudah berapa lama ya, aku tidak melihat wajah tidur Mizuki?)

 

Sewaktu kecil, dia sering sekali menginap di rumahku. Setiap malam tiba, dia akan mendekap bantalnya dan melangkah pelan mengekor di belakangku menuju kamarku.

 

『──Iori, ayo tidur bareng?』

 

『Anu......』

 

Dia menelengkan kepalanya yang imut. Tanpa menunggu jawabanku, dia menata bantalnya tepat di samping bantal milikku.

 

Mengingat Mizuki kecil yang menyusup masuk ke dalam selimut, diriku saat itu dengan canggung dan berdebar-debar ikut masuk ke atas tempat tidur yang sama.

 

──Dahulu, hal itu adalah hal yang wajar. Namun seiring tubuh yang makin beranjak dewasa, perbedaan gender yang kian jelas, serta paras cantiknya yang makin menonjol...... tanpa sadar aku mulai menjaga jarak darinya. Tidak terlalu dekat, juga tidak terlalu jauh. Sebuah benteng pertahanan minimal.

 

......Meskipun Mizuki sangat membenci hal itu.

 

Perlahan aku mengulurkan tangan ke wajah tidurnya. Mengusap helai rambutnya, lalu menyentuh pipinya.

 

“......Sungguh, kamu makin cantik saja ya.”

 

Gumamku lirih dengan nada setengah tak percaya.

 

Bagaimanapun juga, bisa tumbuh menjadi wanita secantik ini benar-benar di luar nalar. Model, aktris, ataupun selebritas. Dibandingkan dengan sosok-sosok itu pun, kecantikannya terasa berbeda kelas. Dia adalah sosok yang kelak akan pergi jauh dariku. Aku sudah memasrahkan diri akan hal itu sejak lama.

 

『──Aku juga menyukaimu, Iori.』

 

Namun, tadi malam. Setelah dia menumpahkan seluruh isi hatinya sedemikian rupa, mau tak mau aku tersadar. Cinta bertepuk sebelah tanganku...... ternyata sama sekali tidak bertepuk sebelah tangan.

 

(......Padahal, aku sudah berniat untuk menyerah)

 

Menyampaikan perasaan untuk terakhir kalinya, lalu mengakhiri cinta pertama ini. Tekad itulah yang kusetor ke dalam lagu “Gekkou”.

 

Namun pada akhirnya...... gadis ini tidak pernah pergi meninggalkanku. Bahkan melompati sekian banyak tingkatan. Kini dia terbaring di sampingku, bernapas dalam lelapnya.

 

“......Haa.”

 

Perkembangannya terlalu cepat. Sembari memegang kepala yang pusing, aku berniat keluar dari tempat tidur......

 

『──Semoga berhasil ya, dengannya.』

 

“......gh.”

 

Rasa sakit yang tumpul menjalar di dadaku.

 

Terbayang di dalam benak, sosok gadis berambut cokelat dengan tatapan yang lembut. Gadis yang menyampaikan cintanya padaku, sosok yang pernah menjadi temanku.

 

(......Ah, begitu ya)

 

Sosok dirinya saat terakhir kali kulihat. Menahan air mata, memaksa dirinya tersenyum untuk melepas kepergianku. Seorang pekerja keras, cantik, baik hati...... gadis yang sangat kuhormati tanpa ragu.

 

──Meski demikian, aku tetap memilih cinta pertama ini.

 

Aku tidak menyesal. Sekalipun waktu bisa diputar kembali, aku akan tetap mengambil pilihan yang sama. Namun...... walau tahu aku tak berhak merasakannya, bagian dalam dadaku tetap terasa nyeri dan berdenyut.

 

(......Andai saja, dia gadis yang jahat)

 

Aku memikirkan hal konyol seperti itu. Tapi kalau begitu, dari awal kami tidak akan pernah terlibat satu sama lain.

 

“......Ngh......”

 

Saat itu, terdengar suara kecil bagaikan anak kucing.

 

“......Iori?”

 

Saat melihat ke samping, mata indahnya terbuka perlahan. Lalu, tangannya yang lentik nan putih itu terulur mencari keberadaanku. Tanpa sadar aku menggenggam tangan itu. Teman masa kecilku pun tersenyum lega dan manja melihatnya.

 

──Ah.

 

Melihat ekspresi itu, dadaku terasa sesak. Wajah tanpa pertahanan seperti ini, sudah begitu lama tidak kulihat sampai-sampai aku tak mampu lagi mengingatnya.

 

......Aku tak bisa melihatnya lagi. Padahal aku sudah memasrahkan diri dan menyerah akan hal itu.

 

“Selamat pagi, Iori.”

 

Suara yang indah dan terdengar begitu jernih.

 

Mendengarnya, aku berusaha menahan suaraku yang nyaris bergetar.

 

“......Selamat pagi, Mizuki.”

 

Sapaan yang telah kuulang tak terhitung bunyinya hingga kini, kuucapkan kembali sembari meresapi tiap maknanya.

 

◇

 

......Tok, tok.

 

Suara pisau dapur. Nada suara pagi hari yang sudah sangat terbiasa kudengar.

 

Sambil duduk di kursi depan meja makan, aku menatap ke arahnya dengan pandangan kosong.

 

“Ada apa?”

 

“!?”

 

Mendadak, Mizuki menoleh ke belakang.

 

“Soalnya dari tadi, kamu melihatku terus.”

 

“Ah......”

 

Gawat. Sepertinya aku terlalu terang-terangan menatapnya. Melihat Mizuki yang tampak heran, aku bingung harus berkata apa.

 

“......Cuma berpikir, ternyata kita benar-benar sudah jadi sepasang kekasih, ya.”

 

Tanpa sadar aku menyuarakan apa yang ada di dalam pikiranku. Mendengar itu, Mizuki sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa kecil.

 

“Memang. Soalnya Iori tidak pernah mengucapkannya, sih.”

 

Mendengar ucapannya yang bernada menggoda, aku hanya bisa mengerang tertahan. Tak perlu diperjelas lagi apa maksudnya. Dibilang penakut secara tak langsung membuat bahuku terkulai lemas.

 

Tak ada kata yang bisa kubalas. Padahal gadis ini sudah menungguku sekian lama.

 

“......Maaf ya.”

 

“Tidak apa-apa. Soalnya aku senang kamu mau mengucapkannya dengan jelas.”

 

Mizuki kembali memasak dengan suasana hati yang baik.

 

Suara tok-tok saat memotong sayuran. Suara air mendidih yang bergolak pelan. Bahkan terasa membangkitkan rasa rindu. Dahulu, hal seperti ini adalah sesuatu yang lumrah.

 

“......Padahal ini bukan hal yang bisa dianggap lumrah, ya.”

 

“?”

 

Suara hatiku bocor keluar. Mendengar itu, Mizuki sekali lagi menoleh ke belakang. Lalu saat menatapku, dia terkekeh pelan.

 

“Kamu kesepian ya sewaktu tidak ada aku?”

 

“......Nggak juga.”

 

“Maaf ya? Karena sudah kabur dari rumah.”

 

Dia menatapku dengan raut jenaka dari balik area dapur. Menanggapi hal itu, aku hanya bisa memalingkan wajah dengan gusar. Melihat responsku, Mizuki keluar dari dapur dan melangkah mendekat.

 

“Nih.”

 

Lalu di depanku, entah mengapa dia merentangkan kedua tangannya.

 

“Eh, apa ini?”

 

“Aku berpikir mau memelukmu.”

 

“Tidak...... tidak usah.”

 

“Beneran?”

 

Seolah-olah bisa melihat menembus seluruh gengsi dan pura-puraku. Melihat Mizuki yang merentangkan tangan menunggu seakan berkata "kemarilah", aku sempat dilanda ragu yang teramat sangat.

 

“......”

 

“Fufu.”

 

Seraya manja, aku menyerahkan diriku ke dalam pelukannya. Mizuki menyambut diriku dengan raut gembira.

 

“Tidak apa-apa. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi.”

 

Dia berbisik dengan nada suara yang seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

 

“......Begitu, ya.”

 

“Iya.”

 

Semoga saja begitu. Batinku sembari berada dalam dekapan Mizuki.

 

Tinggal bersama, memakan makanan yang sama. Ke mana pun pergi dan apa pun yang dilakukan, gadis ini akan selalu berada di sampingku.

 

──Aku berharap keseharian seperti ini bisa terus berlanjut selamanya. Segenap hati aku memanjatkan doa itu.

 

“Iori.”

 

“Ngh?”

 

Mendengar bisikan suaranya yang manis, aku mengangkat wajah yang sebelumnya terbenam di bahu Mizuki. Seketika paras cantik yang sudah sangat kukenal terpampang di depan mata, lalu tersenyum hangat.

 

“Mulai sekarang, mohon bantuannya ya.”

 

“......Ah, iya.”

 

Sama-sama.

 

Bergumam lirih, aku membalasnya.

 

◇

 

Setelah itu kami menyantap sarapan dan berangkat ke sekolah. Namun di saat melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, pandangan mata teman-teman sekelas seketika tertuju ke arahku.

 

“──Ah, Amano-kun datang!”

 

Lalu, mereka berbondong-bondong berlari mendekatiku.

 

Ada apa ini? Saat aku melangkah mundur kebingungan, seorang gadis di kelas menatapku dengan mata berbinar-binar.

 

“Selamat ya atas juara 3 Mister Contest! Permainan pianomu keren banget!!”

 

“A-ah, iya.”

 

Juara 3. Kalau dipikir-pikir memang benar begitu.

 

Soalnya perhatianku sudah tersedot sepenuhnya oleh urusan Mizuki dan Kashiwagi-san, jadi aku sama sekali tidak memikirkannya.

 

“Tidak disangka kamu punya bakat terpendam begitu. Tampan, pintar, terus bisa main piano lagi...... sepertinya kemarin aku agak meremehkanmu, ya?”

 

“Ter...... terima kasih?”

 

“Sialan, kutolak perkataanku! Padahal kukira kamu cuma pria lemah yang cuma bisa belajar doang......! Dasar pengkhianat!”

 

“Hei, siapa yang kamu maksud pria lemah!”

 

Siapa yang cuma bisa belajar dan lemah?

 

Kekesalanku memuncak karena tidak bisa membantahnya.

 

Apa aku mulai latihan beban saja, ya?

 

Setelah itu, berbagai orang terus-menerus mengajakku berbicara.

 

Entah mereka sedang memujiku atau malah mengejekku. Kalau dibilang senang ya tentu saja senang, tapi karena sebelumnya tidak pernah disanjung dan dielu-elukan seperti ini, aku jadi bingung harus merespons bagaimana.

 

Setelah berhasil keluar dari kerumunan teman-teman sekelas, aku akhirnya bisa meletakkan tas di kursiku.

 

“Yo, Juara 3.”

 

“......Pagi, Juara 2.”

 

Mendengar sapaan itu, Renji yang duduk bersandar di kursi sebelah menyapa sambil tersenyum jahil.

 

Saat aku membalasnya acuh tak acuh, entah mengapa Renji merengut tidak puas.

 

“Beneran nih...... aku Juara 2! Gara-gara suara yang harusnya masuk ke aku malah lari ke kamu, senior kelas 3 itu jadi hajar juara 1, tahu!”

 

“Bukan urusanku.”

 

Aku mengibas-ibaskan tangan, mengusir Renji yang terus mengoceh tak henti-henti.

 

......Tetapi kalau dipikir-pikir sekarang, sepertinya dia memang cukup serius. Permainan gitar yang ditampilkannya juga bukan hasil latihan sehari-dua hari. Di luar dugaan, mungkin dia memang benar-benar mengincar posisi juara 1.

 

Yah, walau...... aku sendiri tidak tahu apakah dia bisa menang atau tidak jika aku tidak ikut.

 

“Semangat ya buat tahun depan.”

 

“Ya jelaslah! Terus kenapa kamu ngomong seolah tidak ada sangkut pautnya begini? Kamu juga ikut lagi.”

 

“Tidak mau.”

 

Hal seperti itu cukup sekali saja seumur hidup. Malah, bisa terjadi sekali saja sudah sangat mengejutkan bagiku.

 

Terlebih lagi, posisi juara 3 kali ini lebih mirip seperti keberuntungan dari aksi sesaat. Belum tentu bisa mendapat hasil yang sama di kesempatan berikutnya.

 

Saat aku mengatakan hal itu, seperti yang sudah kuduga, Renji kembali mengoceh gusar. Aku mengabaikannya dan mengalihkan pandangan ke sekeliling kelas. Lalu, tepat di depan sana.

 

“......!”

 

“Ah......”

 

Mataku beradu dengan mata seorang gadis. Di detik berikutnya, dia terburu-buru memalingkan wajahnya.

 

Rambut cokelat sebahu. Seorang gadis cantik dengan aura yang lembut. Di tengah lingkaran beberapa temannya, dia beberapa kali mencuri pandang ke arahku dengan ragu-ragu.

 

(......Kashiwagi-san)

 

Setelah festival budaya hari itu.

 

『──Aku...... tidak bisa membalas perasaan Kashiwagi-san.』

 

Aku telah menyampaikan jawabanku padanya. Namun, aku belum menceritakan apa pun tentang apa yang terjadi setelahnya. Apa yang kulakukan setelah peristiwa itu.

 

Mungkin memang tidak ada keharusan untuk memberitahunya. Aku bisa saja tetap diam seperti ini dan menjaga jarak secara perlahan.

 

Tetapi......

 

『──Suatu hari nanti, aku ingin kamu mengenalkanku padanya. Gadis yang disukai oleh Amano-kun.』

 

Aku yakin, aku tidak boleh melarikan diri. Aku berpikir demikian.

 

“──Ah, Yukimura-san!”

 

Suasana kelas mendadak riuh seketika.

 

Karena terkejut, aku menoleh ke belakang dan melihat sosok sang madonna sekolah.

 

“Yu-Yukimura-san! Keren banget! Miss Contest kemarin benar-benar luar biasa!!”

 

“Menang Miss Contest 2 kali berturut-turut! Seperti yang diharapkan! Beneran dewi!!”

 

Baik laki-laki maupun perempuan berbondong-bondong mengelilingi Mizuki. Pencapaian luar biasa memenangkan Miss Contest 2 kali berturut-turut yang belum pernah diraih siapa pun sebelumnya. Prestasi itu tidak hanya membuat kelas ini gempar, tetapi juga seluruh sekolah.

 

“Meskipun gadis itu memang beda kelas, sih...... tapi sialan, kalau saja aku juga bisa dapat juara 1......”

 

Renji menggerutu penuh penyesalan yang tak jelas.

 

Tidak, sepertinya sekalipun kamu dapat juara 1, suasananya tidak akan jadi seperti itu.

 

Aku mengabaikannya dan terus memperhatikan Mizuki dengan mataku.

 

Di tengah kerumunan teman-teman sekelas, dia berjalan menuju kursinya dengan ekspresi tenang. Orang-orang di sekitarnya memujinya bak bawahan yang mengagumi penguasa, tetapi gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan peringkat Miss Contest.

 

Sesuai dugaan, dia mengabaikan percakapan di sekitarnya dan mulai memainkan ponselnya.

 

“Lagian aku kan Juara 2, tapi kok tidak disanjung-sanjung seperti kamu atau Yukimura-san, ya? Menurutmu bagaimana?”

 

“Sudah kubilang aku tidak tahu. Lagipula kalau buat kamu, bukannya itu hal yang biasa?”

 

“Oh! Kamu berpikir begitu juga!? Yah, memang benar sih? Pria setampan aku mah sudah sewajarnya──”

 

Aku mengabaikan kata-kata yang menyertainya setelah itu.

 

Alasan dia tidak dipuja kemungkinan besar karena merepotkan. Kalau dipuji, dia bakal makin melunjak.

 

(......Nah)

 

Aku mengakhiri obrolan dengan Renji lalu menarik napas dalam-dalam.

 

Sudah waktunya aku menata tekad. Tanpa menyimpan kembali ponsel yang sudah kukeluarkan, aku mengirimkan sebaris pesan kepada satu orang lagi yang dari tadi terus mengarahkan pandangannya ke arahku.

 

【Bisa bicara sebentar?】

 

【Bisa】

 

Balasan yang singkat. Balasan yang berkesan dingin itu mencerminkan hubungan kami saat ini.

 

Tidak apa-apa begini. Ini adalah hasil dari pilihan yang kubuat.

 

Aku menyimpan ponselku, lalu meninggalkan satu patah kata untuk Renji yang menatapku heran sebelum melangkah keluar dari kelas.

 

 

──Dan tempat yang kutuju adalah bangku di taman sekolah.

 

“Maaf ya. Tiba-tiba memanggilmu begini.”

 

“Tidak apa-apa.”

 

Kepada gadis yang baru saja melangkah mendekat, aku menundukkan kepala pelan. Gadis itu duduk dengan tenang di sampingku, menyisakan jarak satu orang di antara kami.

 

Sekarang sudah bulan November. Angin dingin terasa mengelus kulit. Aku tidak ingin berlama-lama di sini.

 

Orang yang duduk di sampingku adalah Kashiwagi Kotoha-san. Gadis yang dijuluki “tercantik kedua di sekolah”. Temanku yang dipanggil dengan julukan seperti itu.

 

......Gadis yang pernah menyatakan menyukaiku.

 

“Mengenai hal itu......”

 

“Iya.”

 

Aku tidak bisa menatap wajah Kashiwagi-san secara langsung.

 

Pasti dia juga sudah paham. Apa yang akan kubicarakan setelah ini. Dia datang dengan memahaminya. Karena kami berdua pasti merasa bahwa hal ini memang diperlukan.

 

Setelah memantapkan tekad, aku mulai membuka suara perlahan.

 

“......Aku sudah berpacaran. Dengan teman masa kecilku.”

 

Di saat aku menyampaikan hal itu, aku dapat merasakan Kashiwagi-san yang duduk di sampingku menahan napas pelan. Keheningan sejenak melingkupi kami. Dan kemudian.

 

“Begitu ya...... Selamat, ya. Cinta pertamamu akhirnya terwujud.”

 

Dia mengucapkan hal itu dengan suara yang terdengar begitu lembut.

 

Mendengar nada suaranya yang sedikit bergetar, tanpa sadar aku mengepalkan tanganku erat-erat.

 

“Terima kasih ya, sudah memberitahuku.”

 

Kashiwagi-san berkata demikian sembari tersenyum tegar.

 

Andai saja dia mau memaki atau memarahiku, pasti akan terasa lebih mudah. Tetapi gadis ini tidak melakukan hal itu.

 

......Aku sudah tahu betul kalau dia memang tipe gadis yang seperti itu sejak dulu.

 

“......Maaf ya.”

 

“Kenapa minta maaf? Amano-kun kan tidak melakukan kesalahan apa-apa.”

 

“......”

 

Tidak melakukan kesalahan apa-apa. Mendengar kata-kata itu, raut wajahku menggeletuk perih.

 

(Mana ada begitu.)

 

Aku telah membuat gadis ini bersedih. Dan selama ini, aku sama sekali tidak menyadari perasaannya. Terlebih lagi──siapa sosok yang sebenarnya kusukai. Bahkan sampai di tahap ini pun, aku masih belum memiliki keberanian untuk menyampaikannya.

 

“Tapi, dengan begini aku patah hati juga, ya. Yah, lagipula kita kan masih SMA. Nanti aku bisa cari cinta berikutnya santai-santai.”

 

Kashiwagi-san tertawa kecil sambil berseloroh. Namun, aku sama sekali tidak sanggup membalas tawa itu.

 

“......Nee, Amano-kun.”

 

“......?”

 

Kashiwagi-san bergumam pelan.

 

“Apakah kita...... masih boleh tetap berteman?”

 

“......gh.”

 

Mendengar pertanyaan itu, aku tak mampu memberikan jawaban. Melihatku yang membisu tanpa kata, Kashiwagi-san tersenyum gersang.

 

“M-maaf ya? Malah bikin kamu bingung.”

 

Sembari berujar untuk menutupi kecanggungannya, Kashiwagi-san beranjak berdiri dari bangku taman.

 

“Nah, sebentar lagi kita harus kembali. Jam wali kelas mau dimulai.”

 

“......I-iya, benar juga.”

 

Berteman.

 

Saat kata itu diucapkan, untuk sekilas tebersit di benakku.

 

Walau sudah punya kekasih...... kalau cuma sebatas teman, mungkin......

 

──Padahal hal semacam itu sama sekali tak mungkin bisa dilakukan.

 

◇

 

“Selamat datang kembali.”

 

“......Aku pulang.”

 

Penghujung hari itu. Bahkan setelah jam pelajaran usai, aku masih terus diajak mengobrol oleh teman-teman sekelas hingga kepulanganku agak terlambat.

 

Setibanya di rumah, aku disambut oleh Mizuki yang sudah pulang lebih dulu.

 

Pada dasarnya, rumahnya adalah rumah sebelah persis...... Tetapi karena kedua orang tuaku bekerja di luar negeri, entah bagaimana ceritanya, dia sudah hampir menyerupai penghuni tetap yang tinggal di rumah ini.

 

Sudah bertahun-tahun. Seolah-olah hal itu adalah sebuah kewajaran.

 

“Shizuka-san hari ini tidak pulang lagi?”

 

“Iya. Mungkin.”

 

Jawaban yang singkat nan dingin. Seakan ingin menegaskan bahwa dia sudah tak peduli lagi sejak lama.

 

Ibunya yang seorang gila kerja memang sangat jarang berada di rumah. Dan Mizuki sendiri pun tidak menunjukkan raut kesepian akan hal itu.

 

Apakah dia memang merasa tidak masalah? Ataukah hanya aku saja yang berharap agar ibunya mau lebih memperhatikan Mizuki?

 

“Aku masak dulu ya. Kamu mau makan apa?”

 

“Kalau begitu...... daging hamburg?”

 

“Ngh...... fufu, lidah anak kecilmu itu benar-benar tidak berubah ya.”

 

“Berisik, ah.”

 

Percakapan yang biasa. Suasana seperti biasanya. Namun, hal itu membuatku bahagia. Sesuatu yang sempat hampir sirna. Jika waktu itu aku tak melakukan apa-apa, keseharian ini pasti sudah lenyap.

 

Begitu memikirkan hal itu, mendadak rasa takut langsung merayapi diriku.

 

“......Iori?”

 

“!”

 

Saat tersadar dan menatap ke depan, Mizuki sedang menelengkan kepalanya heran tepat di hadapanku.

 

“Ada apa? Kok melamun?”

 

Celemek bermotif kucing yang menggemaskan. Sesuatu yang sebenarnya kurang cocok dengan penampilannya yang dewasa.

 

Tetapi kalau diingat-ingat, celemek ini juga merupakan hadiah yang kuberikan padanya saat SMP dulu.

 

Dengan beberapa jahitan perbaikan di sana-sini, dia terus memakai celemek ini sampai sekarang.

 

......Padahal tinggal ganti saja dengan yang lebih cocok untuknya secepat mungkin.

 

“Enggak, bukan apa-apa kok.”

 

“Bohong.”

 

Melihatku menggelengkan kepala, Mizuki menurunkan sudut alisnya dengan raut sedih.

 

“Bahkan setelah jadi pacar pun, kamu masih belum mau bersikap jujur dan bersandar padaku, ya.”

 

Aku selalu lemah menghadapi ekspresi gadis ini yang seperti ini. Dan gadis ini pun sangat menyadari hal itu. Menurutku, sisi dirinya yang itu sungguh licik.

 

“Aku selalu bersandar padamu, kok. ......Beneran, ini cuma hal sepele.”

 

Saat aku mencoba mengalihkannya, Mizuki menatap mataku lekat-lekat sejenak sebelum akhirnya berkata,

 

“Aku buat hamburg-nya dulu, ya.”

 

Ucapnya, lalu melangkah menuju dapur.

 

Melihat punggungnya dari belakang, aku mengembuskan napas pelan. Lalu aku duduk di kursi depan meja makan, menatap sosok Mizuki yang sedang memasak persis seperti tadi pagi.

 

Sesuatu yang tak berubah sejak zaman SMP. Sebuah pemandangan yang terkesan wajar, namun sebenarnya tidak biasa.

 

『Mizuki-chan! Kalau sudah besar nanti, nikah sama aku ya!』

 

『Ah, kamu curang! Mizuki! Nikahnya sama aku saja!』

 

Sejak masih kecil, kecantikannya memang sudah sangat menonjol. Tak ada anak laki-laki yang tak terpikat olehnya. Siapa pun berusaha setengah mati untuk membuat gadis itu menoleh.

 

Padahal begitu......

 

『Maaf ya. Aku lebih suka sama Iori-kun.』

 

Entah mengapa, dia selalu memilih berada di sampingku.

 

Aku merasa senang. Namun di saat yang sama, rasa heran juga menyelimuti. Mengapa gadis ini melabuhkan pilihannya padaku?

 

『──Iori. Selalu bersama terus, ya.』

 

Janji semacam itu pun, bagaimanapun hanyalah obrolan sewaktu masih anak-anak.

 

Setelah 10 tahun berlalu, pasti sudah terlupakan.

 

Kupikir begitu, tapi......

 

“......Padahal kukira kamu bakal cepat-cepat cari pacar lain.”

 

“Apa?”

 

“Enggak, bukan apa-apa.”

 

Gumamku pelan.

 

Saat dia menanyakannya kembali, aku sedikit panik.

 

Aku menggelengkan kepala untuk mengalihkannya, sementara Mizuki tetap memunggungiku.

 

“Aku, dari dulu hanya selalu melihat Iori, kok.”

 

Sambil menyajikan daging yang dipanggangnya dengan mahir ke atas piring, dia bergumam seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

 

(......Kedengaran, tahu.)

 

Bahu terkulai lemas, aku menggaruk kepalaku.

 

 

──Setelah itu, kami menyantap makanan, mandi, lalu menggosok gigi.

 

Saat ini Mizuki sedang mandi secara bergantian. Jika seperti sebelum-sebelumnya, di jam seperti ini dia pasti sudah pulang ke rumah sebelah sejak tadi.

 

Pulang ke rumah masing-masing, lalu tidur di tempat terpisah. Hal itu adalah sesuatu yang wajar. Namun──hubungan kami sudah berubah. Tak ada lagi alasan untuk tidur terpisah.

 

“──Sudah selesai mandinya, nih?”

 

“!”

 

Suara yang terdengar dari belakang membuat bahuku tersentak.

 

Saat menoleh, tampak Mizuki mengenakan kaus tipis dan celana sweatpants.

 

......Sungguh, pakaian apa pun yang dia kenakan selalu terlihat memesona bagaikan lukisan. Tinggi badan lebih dari 170 cm dengan proporsi tubuh yang tak kalah dari seorang model.

 

Padahal dia tidak melakukan pembatasan makan yang ketat. Tuhan memang tidak adil.

 

“......Hari ini, anu, kamu menginap di sini, kan?”

 

“Iya.”

 

Tanpa sadar aku memastikannya kembali. Mizuki pun mengangguk santai tanpa beban.

 

Aku menyisakan keheningan tanpa kata. Mizuki melangkah begitu saja lalu duduk perlahan di samping tempat tidur.

 

“......”

“......”

 

Kami berdua saling membisu.

 

Mizuki hanya bersandar dengan tenang tepat di sisiku. Detak jantungku bergemuruh bising. Mungking saja Mizuki yang berada di sebelahku juga bisa mendengarnya.

 

Hal yang diinginkan Mizuki. Hal yang ingin kulakukan. Saling tersampaikan satu sama lain. Kalau begitu, sisanya tinggal mengulurkan tangan saja.

 

......Ya, padahal aku sudah memahaminya, tetapi.

 

“Iori.”

 

Saat itu, jemari Mizuki terulur lembut menggenggam tanganku.

 

“Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu takut.”

 

Sembari berkata demikian, dia perlahan merapatkan tubuhnya padaku.

 

“Soalnya kita sudah jadi sepasang kekasih.”

 

Aroma manis dari sampo yang dikenakannya semerbak lembut menusuk hidung.

 

Pada lenganku, aku bisa merasakan hangat dan lembutnya tubuh gadis itu.

 

“......Begitu ya.”

 

“Iya.”

 

Mendengar perkataan serta merasakan kehangatan itu, mendadak seluruh ketegangan di tubuhku melemas.

 

Saat menoleh ke samping, pandanganku beradu dengannya yang juga sedang menatap ke arahku. Manik mata berwarna merah berkilauan, bagaikan sebuah permata.

 

Seolah terhisap ke dalam mata itu, secara alami bibir kami saling bertaut.

 

“Ngh......”

 

Terasa lembut dan manis.

 

Padahal kemarin sudah melakukan sebanyak itu, tapi aku sama sekali tidak terbiasa.

 

Beberapa saat bibir kami saling bersentuhan...... hingga akhirnya, Mizuki menekan bibirnya lebih dalam lagi.

 

“......Ngh......!?”

 

Terkejut, aku berniat menarik wajahku mundur, namun tangannya telah melingkar di belakang kepalaku.

 

Seketika lidahnya menyusup masuk. Saling bertautan seakan melelehkan seluruh kesadaranku.

 

“......Ngh......”

 

Saling berpadu, meresapi, dan menjelajah. Entah puluhan detik atau beberapa menit. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami seperti itu.

 

“......Hah.”

 

Saat akhirnya memisahkan wajah, tepat di depan mataku terpampang paras cantik jelita yang tampak sedikit terbuai dalam kenikmatan. Aura pesona dan kecantikannya membuat kesadaranku goyah seketika.

 

“......Ciumannya, terasa enak ya.”

 

“......Iya.”

 

“Bisa-bisa bikin ketagihan, nih.”

 

Mendengar tawanya yang terkekeh, aku memantapkan tekad lalu mendorong tubuhnya hingga terbaring.

 

Menatap dari atas sosok dirinya yang pasrah dibaringkan. Mata yang besar, wajah mungil yang seakan tak nyata. Kulit putih mulus tanpa cela sedikit pun. Sejak kecil tumbuh bersama...... gadis yang selalu kusukai dari dulu.

 

“Ada apa?”

 

“......Enggak, cuma berpikir, kamu benar-benar cantik sekali.”

 

“Ngh...... fufu, baru sadar sekarang?”

 

“......Dari dulu juga sudah mikir begitu, kok.”

 

“Aku tahu.”

 

“Dasar.”

 

Melihat teman masa kecilku yang tampak semringah bahagia, aku pura-pura memasang raut wajah gusar. Sikap pura-puraku itu pun pasti sudah terbaca sepenuhnya oleh dirinya.

 

Seolah menegaskan bahwa dia tidak punya pilihan lain, dia mencium bibirku sekali lagi.

 

“Nah.”

 

Dia merentangkan kedua tangannya, siap menyambut dan memelukku. Menatap tatapan matanya yang meluapkan penuh kasih sayang itu, aku......

 

“......Mizuki.”

 

“Ngh?”

 

“Aku menyukaimu. Sejak dulu.”

 

“......Ehm, aku juga. Tapi kalau bisa, aku ingin mendengarnya sedikit lebih awal, sih.”

 

“Maaf ya.”

 

“Tidak apa-apa. Kumaafkan.”

 

Melihatnya tersenyum saat mengucapkan hal itu, dia terasa begitu kukasihi dari lubuk hati yang terdalam.

 

Sekali lagi kami menyatukan bibir, lalu aku merapatkan tubuh menyatu dengannya.

 

◇

 

『......Nee, Iori.』

 

『Apa?』

 

Itu adalah kenangan di masa yang sudah sangat lampau. Sosok Mizuki dan diriku sewaktu kecil, sedang berjalan bergandengan tangan.

 

Lokasinya di taman. Lingkungan sekitar gelap gulita, tak ada seorang pun manusia di sana. Sama sekali bukan waktu yang pantas bagi anak-anak untuk berkeliaran. Namun dahulu, kami sering berjalan berdua di tengah malam seperti ini.

 

Mizuki yang dulu memiliki kebiasaan menyelinap keluar rumah saat malam hari. Dia tiba-tiba menghilang di tengah malam, lalu aku akan mencarinya dan membawanya pulang ke rumah.

 

Ayah dan ibu sangat khawatir sampai-sampai marah besar. Tetapi setiap kali Mizuki menghilang, aku akan panik dan berusaha keras mencarinya tanpa peduli walau sudah larut malam. Rasanya, dia seakan bisa lenyap begitu saja...... Aku merasa jika tidak mencarinya, semuanya akan terlambat.

 

Berlari ke sana kemari, menemukannya, lalu menggandeng tangannya untuk pulang. Mengapa Mizuki selalu menghilang? Apa yang sedang dia lakukan? Aku tidak tahu. Namun...... hal itu tidak masalah bagiku. Asalkan dia berhasil ditemukan dan mau pulang bersamaku.

 

『Iori, kenapa kamu selalu datang mencariku?』

 

Sambil tetap berpegangan tangan, Mizuki kecil menelengkan kepalanya penuh keheranan.

 

Mendengar itu, aku membalas pertanyaannya walau sempat merasa bingung.

 

『Kenapa, bilang? ......Kan bahaya!』

 

『Bahaya?』

 

『Di luar gelap. Ayah dan ibu juga bilang, kalau malam tidak boleh jalan-jalan sendirian.』

 

『Kenapa?』

 

『K-kenapa, bilangnya......』

 

Saat ditanya begitu, aku tersumpal tanpa kata.

 

Itu adalah norma umum yang ditanamkan oleh orang dewasa. Malam hari itu berbahaya. Tidak boleh pergi ke luar rumah. Semua orang tentu sudah mengetahuinya.

 

Tetapi jika ditanya mengapa bisa begitu......

 

Aku berusaha setengah mati mencari kata-kata yang pernah diucapkan oleh orang tua maupun guru di dalam kepalaku.

 

『Anu...... nanti bisa diculik orang aneh, atau ditabrak mobil?』

 

Meskipun pada akhirnya bernada ragu, aku tetap menegaskan bahaya tersebut sekuat tenaga. Oleh karena itu, aku ingin dia menghentikannya. Jangan menghilang sembarangan lagi. Aku berharap demikian.

 

Namun.

 

『......Kalau diculik atau ditabrak, memangnya kenapa?』

 

Mizuki bertanya dengan suara yang hampa tanpa emosi.

 

Pertanyaan itu membuatku terpaku. Memangnya kenapa? Memangnya kenapa, bilang......

 

Sekali lagi aku tersumpal tanpa kata. Namun, aku berusaha keras membuka mulut.

 

『......Nanti, m-meninggal......』

 

Kata itu bahkan terasa menakutkan untuk diucapkan dari mulutku.

 

Aku tidak ingin mengucapkannya. Membayangkannya saja aku tidak mau. Membayangkan Mizuki mengalami nasib seperti itu saja sudah membuatku hampir menangis. Genggaman tanganku makin mengerat. Namun Mizuki bahkan tidak menoleh ke arahku.

 

『Kalau meninggal, memangnya tidak boleh, ya?』

 

Gumamnya pelan seolah sedang berbicara pada diri sendiri. Mendengar itu, aku terperanjat kaget.

 

『......Tidak boleh, lah! Nanti sedih, aku tidak mau!』

 

Saat aku memohon padanya sekuat tenaga, Mizuki menatapku dengan wajah polos keheranan. Seolah dia tidak begitu memahaminya. Bagaimana caranya agar hal ini bisa tersampaikan padanya? Di saat aku sedang kebingungan......

 

『──Begitu, ya.』

 

Maaf ya.

 

Bergumam lirih, dia tersenyum lembut.

 

“......gh!”

 

Aku terbangun. Keringat dingin membasahi tubuh, terasa menyebalkan. Detak jantungku bergemuruh bising. Rasanya aku baru saja bermimpi buruk.

 

“......Ngh......”

 

Aku menoleh saat mendengar suara halus.

 

Ketika melihat ke samping, tampak sosok teman masa kecilku dengan kulit mulus yang terbuka tanpa busana.

 

Sambil tetap menggenggam tanganku, dia bernapas tenang dalam lelapnya.

 

“......gh.”

 

Tanpa sadar aku memeluk tubuhnya erat-erat. Namun gara-gara hal itu, kelopak matanya bergetar lalu terbuka perlahan.

 

“......Iori?”

 

Suaranya terdengar agak samar. Gawat, batinku panik. Aku malah membangunkannya. Namun saat melihatku yang memeluknya seolah sedang bergantung padanya, Mizuki......

 

“Ada apa......? Bermimpi buruk, ya?”

 

“......”

 

Melihatku yang tak menjawab apa-apa, Mizuki mengulurkan tangannya perlahan. Lalu dengan lembut dia mengelus kepalaku, menyandarkan wajahku dengan hangat ke dadanya.

 

“Kalau begini, bisa merasa tenang?”

 

Tuk-tuk, tuk-tuk. Suara detak jantung terdengar dari balik dadanya tempat wajahku terbenam.

 

Mendengarkan suara itu membuat tubuhku yang semula tegang perlahan-lahan menjadi rileks.

 

“......Maaf, ya.”

 

“Enggak, kok.”

 

Aku sendiri tidak begitu paham untuk apa aku meminta maaf.

 

Apakah karena telah membangunkannya? Ataukah karena hal lain?

 

“Tidak apa-apa kok, Iori.”

 

Mizuki berbisik menenangkan diriku yang seperti ini.

 

Suaranya terasa begitu manis, hingga perlahan-lahan kelopak mataku mulai terpejam kembali.

 

Di tengah kesadaran yang kian memudar, pada akhirnya......

 

──Aku akan selalu bersamamu, kok.

 

Terdengar sebaris suara lirih yang bergumam pelan.



Prolog | ToC | Chapter 2

Post a Comment

Post a Comment

close