NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken Volume 2 Chapter 3

Chapter 3

Arabesque


“......Ngh......”

 

Silau. Sinar matahari pagi menimpa wajah, membuatku perlahan-lahan terbangun.

 

Aku membuka mata seolah berusaha mengibaskan sisa-sisa ingatan tadi malam. Lalu,

 

“Selamat pagi.”

 

Di depan mataku, ada seorang dewi.

 

Sambil tersenyum lembut, gadis itu──Yukimura Mizuki──berbaring di sampingku sembari menatap wajahku.

 

“......Apa?”

 

“Wajah manismu saat tidur.”

 

“......Jangan dilihat. Wajah seperti itu.”

 

“Tidak boleh. Perlihatkan dengan jelas, ya?”

 

Dia menyingkirkan tanganku yang menutupi wajah, lalu tersenyum jahil.

 

Sejak kami mulai berpacaran, aku merasa ekspresi wajahnya menjadi jauh lebih kaya.

 

......Tidak, apakah dia hanya kembali seperti dulu?

 

Sewaktu kecil, hanya di hadapanku saja dia sering tersenyum. Hal seperti itu baru aku teringat kembali sekarang.

 

“Iori?”

 

Saat aku melamun terpesona oleh kecantikannya, pipiku dielus dengan lembut. Sensasi sentuhan tangannya yang halus. Entah mengapa, aku malah menempelkan pipiku ke tangannya.

 

Seketika, tatapan matanya meleleh penuh kasih.

 

“Iori, kamu sedang manja, ya?”

 

Chuu, sebuah kecupan mendarat di bibirku.

 

Tanpa jeda, dia juga mengecup pipi dan leherku.

 

Gadis secantik ini, ditambah lagi dia adalah gadis yang kusukai, jika melakukan hal seperti itu...... tentu saja,

 

“......”

 

“......Ah.”

 

──Tubuhku secara alami langsung bereaksi.

 

Melihat hal itu, Mizuki tersenyum gembira.

 

“Fufu...... tidak boleh, lho. Hari ini kita masih harus sekolah.”

 

“......Aku tahu, kok.”

 

Saat aku mengucapkannya dengan nada merajuk, senyumnya justru tampak semakin gembira.

 

......Entah mengapa, rasanya membahagiakan sampai-sampai terasa menakutkan.

 

Mizuki tidak pernah menolak apa pun yang kulakukan. Apa pun yang kuintai, dia akan menerimanya dengan senang hati.

 

Hal itu membuatku merasa sedikit takut.

 

(Ini berbahaya......)

 

Begitu bahagia dan sangat terpenuhi...... jika aku lengah sedikit saja, rasanya aku akan tenggelam di dalamnya. Aku merasa seperti itu.

 

“Hei, Iori.”

 

“Nn?”

 

Saat aku beranjak dari tempat tidur dan memakai celana dalam serta celana panjang, dia yang masih tanpa busana memanggilku.

 

“Aku ini berat, lho.”

 

“......?”

 

Apa maksudnya? Aku memiringkan kepala karena bingung.

 

Jika berbicara tentang berat badan, aku malah berpikir dia terlalu ringan untuk ukuran tingginya.

 

Namun, jawabannya adalah:

 

“Selama 10 tahun...... banyak hal yang menumpuk.”

 

“......Sama saja, kok.”

 

Aku menghela napas dan menjawab demikian.

 

Dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku selama 10 tahun ini. Melihatnya mengatakannya tanpa rasa bersalah sama sekali, rasanya aku ingin membalas bahwa akulah yang seharusnya mengatakan kalimat itu.

 

“Nn. Perasaan Iori juga akan kuterima dengan baik. Jadi, mohon bantuannya untuk perasaanku juga, ya.”

 

“......Ya.”

 

Begitulah pagi kami berlalu.

 

Kehidupan sehari-hari yang sama sekali berbeda dari sebelum-sebelumnya. Mungkinkah suatu saat nanti akan tiba waktunya aku terbiasa dengan kebahagiaan ini?

 

......Kuharap saat seperti itu tidak akan pernah datang. Aku berpikir demikian.

 

◇

 

“......Ngomong-ngomong, sebentar lagi prapembelajaran lapangan, ya?”

 

Sambil memotong salmon panggang aluminium foil dengan sumpit saat sarapan, aku bergumam.

 

Baik aku maupun Mizuki sama-sama menyukai menu sarapan ala Jepang. Nasi putih, sup miso, ikan panggang, dan telur gulung. Menu yang mencerminkan bagaimana seharusnya seorang orang Jepang menikmati hidangan.

 

Porsi Mizuki sedikit karena dia makan dalam jumlah kecil. Sementara aku makan lumayan banyak di pagi hari.

 

Meski begitu, aku tidak menjadi gemuk dan ototku juga tidak terbentuk. Apakah ini faktor genetik...... sumpah dari ibu yang sangat rewel soal penampilan? Di dalam benakku, terlintas bayangan sesosok wanita yang hampir berusia 40 tahun tetapi berpenampilan jauh lebih muda.

 

Mizuki memisahkan daging ikan salmon dengan gerakan yang anggun, lalu mengangguk menanggapi perkataanku.

 

“Nn, ke Kyoto, kan?”

 

“Ya. Karena peminatnya paling banyak.”

 

Jujur saja, hal ini juga mengejutkan bagiku.

 

Kyoto hanya berisi kuil-kuil Buddha dan Shinto. Bukankah siswa SMA lebih tertarik pada Hokkaido, Okinawa, atau bahkan luar negeri? Atau mungkinkah ini ciri khas sekolah unggulan? Jujur, aku sendiri senang jika pergi ke Kyoto.

 

(Gion, Kiyomizu-dera, dan...... Kinkaku-ji sebaiknya tidak usah, deh.)

 

Entah mengapa, aku merasa sebaiknya tidak melihat tempat itu. Benar-benar hanya sekadar perasaan saja, sih.

 

“Kira-kira, kita bisa sekelompok tidak, ya?”

 

Saat aku sedang membayangkan Kyoto yang belum pernah kulihat, Mizuki bergumam. Mendengar hal itu, aku berpikir sejenak lalu menggelengkan kepala.

 

“Mungkin sulit. Anak-anak dari 'Pengawal Royal'-mu tidak akan tinggal diam, kan?”

 

Mendengar perkataanku, Mizuki memiringkan kepalanya dengan bingung.

 

Tidak, kenapa bingung? Kamu pasti paham, kan.

 

Perjalanan wisata sekolah ini cuma sekali seumur hidup. Pengikut fanatiknya itu tidak mungkin mengalah dan membiarkan orang lain berada di kelompok yang sama dengan Mizuki.

 

“Kalau Iori yang sekarang, aku rasa semua orang pasti bisa terima, kok.”

 

Kepada aku yang merasa lelah dan lesu ini, Mizuki mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui maksudnya.

 

......Aku yang sekarang? Apa maksudnya?

 

Saat aku memintanya untuk menjelaskan,

 

“Kamu dapat juara 3 di Mister Contest, kan?”

 

Hanya dengan satu kalimat itu, aku mendadak menghentikan gerakan sumpitku.

 

“......Mana mungkin ada hubungannya.”

 

Mungkin penilaian orang terhadapku sedikit meningkat. Namun, hal itu dan masalah ini adalah dua hal yang berbeda.

 

Aku meneguk teh hingga masuk ke kerongkongan. Melihat hal itu, Mizuki tersenyum, tampak bersenang-senang.

 

“──Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang coba minta ke semuanya? Bilang kalau aku ingin pergi perjalanan wisata sekolah bersama Iori.”

 

“Gohuk!”

 

Aku langsung menyemburkan tehku.

 

Anak ini, berani-beraninya bicara hal semenakutkan itu.

 

Memang benar, jika Mizuki yang mengatakannya, dari luar mereka pasti akan menuruti...... ya, dari luar saja.

 

Demi meredam kegugupan, dengan tangan yang gemetar aku mengambil sepotong ikan salmon lalu menyuapnya ke dalam mulut. Aroma kecap asin dan menteganya terasa sangat gurih. Dari semua jenis ikan, aku paling suka makarel, tetapi salmon juga tidak buruk.

 

“......”

 

Namun, Mizuki bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengulur waktu.

 

Bagaimana? Mizuki menatap ke arahku seolah bertanya demikian...... dan aku pun menghela napas panjang.

 

“......Baiklah. Aku akan coba memikirkannya.”

 

“Nn, terima kasih.”

 

Setelah mengatakan itu, Mizuki kembali menikmati makanannya dengan raut puas.

 

......Ancaman yang sungguh kejam. Sama sekali tidak ada lucu-lucunya bagaikan sebuah permintaan manja. Anak ini sadar betul akan pengaruh dan kecantikannya sendiri, makanya sifatnya sungguh buruk.

 

Sambil mengunyah salmon perlahan, di dalam hati aku memegang kepala karena pusing.

 

◇

 

“──Baiklah, sekian garis besar mengenai perjalanan wisata sekolah. Mengenai kelompok dan rutenya, silakan masing-masing menyusunnya di lembar formulir dan kumpulkan sebelum tenggat waktu.”

 

Setelah guru wali kelas keluar ruangan, suasana kelas seketika menjadi bising. Ada murid yang berkumpul dengan kelompok yang sudah ditentukan sebelumnya, dan ada juga yang terburu-buru memanggil teman dekat mereka.

 

Dalam penentuan kelompok yang akan menentukan nasib perjalanan wisata sekolah ini, mata semua orang tampak berubah penuh ambisi.

 

“Lalu, bagaimana dengan kita, Iori?”

 

“Nngg......”

 

Di tengah riuhnya suasana, kami berdua hanya terduduk diam di kursi masing-masing.

 

Aku dari awalnya memang punya sedikit teman, sedangkan Renji...... dia sedang diselimuti rasa saling jaga dan intimidasi dari anak-anak laki-laki lain.

 

Bukan berarti dia dirundung, melainkan itu adalah reaksi pertahanan anak-anak laki-laki agar murid perempuan di kelompok mereka tidak direbut olehnya.

 

......Secara pribadi, menurutku keputusan mereka sangatlah tepat. Bagaimanapun juga, 1 kelompok terdiri dari 4 orang. Dengan kata lain, kami perlu mencari 2 orang lagi.

 

“Kelihatannya sebagian besar sudah pada terbentuk, ya...... Walau aku yakin pasti ada saja yang tersisa.”

 

Kekejaman dari penentuan kelompok semacam ini.

 

Karena batasan 1 kelompok harus 4 orang, pasti ada saja orang yang terabaikan. Maka dari itu, jika kelompok belum terbentuk, tinggal mengajak orang yang tersisa tersebut.

 

Begitulah sistemnya berjalan, tetapi......

 

“Bukan begitu! Mumpung perjalanan wisata sekolah, tentu saja ingin mengajak anak perempuan, kan!”

 

“......”

 

Sudah kuduga dia akan berkata begitu. Melihat Renji mengepalkan tangannya erat-erat, mataku hanya bisa memandang jauh ke depan.

 

Ingin mengajak anak perempuan ke dalam kelompok. Itu adalah keinginan jujur dari lubuk hati seorang anak laki-laki SMA. Namun, orang yang bisa mengatakannya secara terang-terangan sangatlah terbatas.

 

Dalam artian tersebut, anak ini bisa dibilang sosok terpilih...... terlepas dari baik atau buruknya. Dan sayangnya, saat ini aku juga tidak berada dalam posisi yang bisa mengetawakannya.

 

Mataku perlahan melirik ke arah kerumunan paling besar di dalam kelas.

 

“Yu-Yukimura-san! Aku punya kerabat di Kyoto dan tahu banyak hal tentang sana, lho! Aku bisa mengantarmu ke tempat-tempat tersembunyi yang bagus!”

 

“Hei, kamu yang di sana! Jangan seenaknya mengajak bicara!!”

 

Suara anak-anak laki-laki yang sama sekali tidak memiliki ketenangan. Semua orang saling berlomba untuk menjadi yang pertama mengajak Mizuki bicara.

 

Melihat pemandangan yang dipenuhi hawa membunuh itu, aku dan Renji tanpa sadar menarik diri.

 

“......Itu sih sudah seperti sekte agama, ya. Menakutkan sekali.”

 

Renji, yang mengikuti arah pandanganku, berbisik pelan agar tidak terdengar.

 

Sekte agama. Sebuah kiasan yang sangat tepat. Masalahnya adalah, ada kemungkinan taring kegilaan itu akan mengarah kepadaku.

 

(Menerobos ke dalam sana dan mengajak Mizuki......?)

 

Itu tindakan bunuh diri. Ujung-ujungnya aku pasti akan hancur berkeping-keping.

 

Pikirku demikian...... tetapi aku sudah terlanjur berjanji pada Mizuki. Lagipula, terlepas dari janji itu, aku pun memiliki keinginan untuk menghabiskan perjalanan wisata sekolah bersama kekasihku.

 

Mundur, atau melakukan serangan nekat yang mempertaruhkan nyawa?

 

Di samping Renji yang mengundurkan diri karena tidak ingin terlibat, aku sibuk memutar otak......

 

“──Anu, permisi, apa boleh minta waktunya sebentar?”

 

Dari luar kesadaranku, terdengar sebuah suara yang terdengar sungkan.

 

“Eh......?”

 

Saat aku mendongak, terlihat rambut cokelat model semipanjang yang berkibar halus. Melihat sosok gadis jelita yang tersenyum agak ragu-ragu itu, mulutku seketika menganga lebar.

 

(Kashiwagi-san?)

 

“Nn, oh? Ada apa, Kashiwagi-chan?”

 

Renji yang berada di sampingku juga membuka matanya lebar-lebar karena terkejut. Kepada kami berdua, Kashiwagi-san tersenyum dengan raut wajah yang tampak serba salah.

 

“Kalian berdua belum menentukan kelompok, kan?”

 

“Eh...... ya, begitulah.”

 

Aku mengangguk ragu. Renji di sampingku juga tampak bingung.

 

Kepada kami, Kashiwagi-san pun berkata,

 

“Kalau begitu, bagaimana? Kalau tidak keberatan, bolehkah aku bergabung dengan kalian?”

 

“......Eh?”

“......Hah?”

 

Aku dan Renji memberikan reaksi yang hampir sama persis.

 

Seketika, aku tidak bisa memahami apa yang baru saja dikatakannya.

 

Boleh bergabung...... jangan-jangan, ke dalam kelompok kami?

 

(......Kenapa?)

 

Itu adalah pilihan yang paling pertama kubuang jauh-jauh.

 

Aku, Renji, dan Kashiwagi-san. Kami bertiga sudah saling mengenal sejak kelas satu. Jika tidak ada perselisihan apa pun di antara kami, mungkin kami akan mengundangnya tanpa ragu. Namun, sekarang sudah berbeda. Kami yang sekarang bukan lagi berada dalam hubungan yang bisa melakukan hal seperti itu.

 

Mengenai hal itu, Kashiwagi-san sendiri seharusnya menjadi orang yang paling memahaminya.

 

“Teman-teman dekatku ada 5 orang. Jadi aku memisahkan diri dari mereka.”

 

Mendengar perkataan itu, mataku mengarah ke sudut kelas.

 

Teman-teman yang biasanya bersamanya sedang melihat ke arah sini dengan cemas...... tidak, beberapa dari mereka malah memperhatikan sambil tersenyum jahil.

 

"Semangat, ya, Kashiwagi-san!" terdengar sorakan dari mereka.

 

Mendengar hal itu, Kashiwagi-san menyusutkan badannya dengan malu-malu.

 

“E-eh......”

 

Pikiranku menjadi kacau. Namun, sebelum aku sempat membuka mulut,

 

“T-tidak, tentu saja boleh! Sangat disambut dengan tangan terbuka! Benar kan, Iori?!”

 

Renji yang berada di sampingku berdiri dan merentangkan tangannya.

 

Jika dilihat lebih dekat, peluh menetes di wajahnya. Tentu saja. Aku sendiri pun bingung dengan situasi ini. Aku menatap ke depan. Mataku bertemu dengan pandangan Kashiwagi-san yang tampak cemas. Tatapan mata itu membuatku kehabisan kata-kata.

 

Seharusnya aku menolak. Akal sehatku mengatakan demikian. Akan tetapi...... tanpa sengaja aku melihatnya.

 

Tangan Kashiwagi-san gemetar sedikit.

 

(......Ah, sialan.)

 

Sifatku yang seperti inilah yang merupakan kelemahanku.

 

Pilihan ini tidak akan membawa kebaikan, baik untuk diriku maupun untuk Kashiwagi-san.

 

Meskipun menyadari hal itu...... tetap saja, aku tidak mampu menepis tangannya.

 

“......Ya. Kalau kamu mau bergabung, aku senang sekali.”

 

Aku mengucapkan hal itu sambil mengangguk. Mendengar perkataanku, wajah Kashiwagi-san seketika berseri-seri.

 

“Y-ya! Terima kasih. Mohon bantuannya, ya?”

 

“O-oh!”

 

“......Nn, mohon bantuannya.”

 

Sambil mengangguk demikian──di dalam hati, aku menyadari bahwa diriku merasa lega. Rasa lega karena hubunganku dengan gadis ini belum benar-benar terputus.

 

(......Bodoh sekali aku ini.)

 

Padahal aku sendiri yang telah menghempaskannya, lalu atas dasar apa aku merasa begitu? Di dalam hati, aku memaki diriku sendiri.

 

“L-lalu, satu orang lagi bagaimana? Sebaiknya 2 perempuan dan 2 laki-laki, kan? Mungkinkah kita bisa mengajak salah satu teman Kashiwagi-chan?”

 

“Ah, anu, teman-teman dekatku semuanya sudah punya kelompok......”

 

Bagaimana, ya? Kashiwagi-san menatapku sambil tersenyum getir.

 

Seolah ingin melarikan diri dari tatapannya, aku mengalihkan pandangan ke sekeliling.

 

“Berisik! Ini kan perjalanan wisata sekolah yang cuma sekali seumur hidup! Apa salahnya kalau aku ingin jalan-jalan bersama Yukimura-san!”

 

“Tahu diri sedikit, lah, dasar gurita!”

 

Lalu di tengah kelas. Kelompok yang tadi kini semakin memanas.

 

Anak laki-laki dan perempuan bercampur menjadi satu, dan suasananya benar-benar sudah tidak terkendali.

 

Mizuki tampak tenang-tenang saja. Namun......

 

“......Maaf. Bisa minta waktunya sebentar?”

 

“Nn?”

 

Ada apa? Renji bertanya lewat tatapan matanya. Tanpa bicara, aku menatap titik pusat ledakan di dalam kelas yang masih membara hingga saat ini.

 

(Keadaannya sedikit berubah, tapi...... mau bagaimana lagi.)

 

Bergabungnya Kashiwagi-san sungguh di luar dugaan. Jika sudah begini, akan sulit untuk mengajak Mizuki. Namun...... apakah itu berarti aku tidak akan mengajak Mizuki dan pergi berwisata bersama Kashiwagi-san?

 

(......Tidak mungkin.)

 

Setidaknya, jika aku berada di posisi Mizuki, aku pasti tidak akan merasa senang. Aku memantapkan hati dan menarik napas dalam-dalam.

 

“Bagaimana kalau kita coba mengajak Yukimura-san?”

 

Mendengar kata-kata itu, Renji membeku. Kashiwagi-san pun ikut membeku. Namun, aku memaksakan diri untuk mempertahankan ekspresi datar. Mengikuti alur saja, setengah nekat karena putus asa.

 

Mendengar perkataan tersebut, Renji menatapku seolah sedang melihat sosok makhluk asing.

 

“......Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?”

 

“Tidak, sama sekali tidak.”

 

“Apa-apaan, sih.”

 

Renji menggelengkan kepalanya seolah tidak habis pikir. Habisnya, aku sendiri sadar kalau aku sedang mengatakan hal yang konyol.

 

Mengajak Mizuki. Memasukkan Mizuki dan Kashiwagi-san ke dalam kelompok yang sama.

 

Aku tahu ini langkah yang buruk. Meski begitu, ini adalah perjalanan wisata sekolah yang hanya terjadi sekali seumur hidup.

 

Setidaknya, aku ingin mengabulkan keinginan manja dari kekasihku.

 

“Tentu saja, kalau kalian berdua tidak keberatan.”

 

Sambil berkata demikian, aku mengalihkan pandangan ke arah Kashiwagi-san. Walau aku bilang kalian berdua, sebenarnya yang dimaksud terutama adalah satu orang ini.

 

Aku sangat tahu tentang rasa minder yang dimiliki gadis ini. Maka dari itu, jika Kashiwagi-san merasa keberatan sedikit saja, aku berniat untuk menyerah.

 

Mengenai Mizuki...... aku akan menggantinya dengan cara lain. Jika perlu, aku bisa menabung uang lalu pergi berwisata berdua bersamanya. Namun, setelah ragu-ragu sejenak, Kashiwagi-san......

 

“......Ya, menurutku tidak apa-apa. Aku juga ingin berbicara dengan Yukimura-san secara baik-baik.”

 

Dia mengatakannya dengan tegas seolah telah memantapkan hatinya. Mendengar hal itu, aku menghela napas lega. Lega karena perasaan Kashiwagi-san terhadap Mizuki bukanlah rasa benci yang tak tertolong.

 

Di sisi lain, mata Renji terbelalak penuh kebingungan sambil menatap kami berdua secara bergantian.

 

“Y-yang benar saja...... Yah, kalau aku sih sama sekali tidak masalah. Tapi bagaimana cara mengundangnya? Aku saja tidak akan sanggup, lho! Menerobos barikade pengepungan itu......”

 

“......”

 

Di sudut pandangku, terlihat lingkaran kerumunan orang yang mengelilingi sang primadona sekolah.

 

......Bukannya jumlah mereka malah bertambah dibanding yang tadi?

 

“Kalian terus yang berbuat curang! Ini pelanggaran Undang-Undang Anti-Monopoli!”

 

“Berisik! Mana mungkin kami membiarkan anak laki-laki yang niat terselubungnya kelihatan jelas seperti kalian mendekat!”

 

Perang yang terbagi antara kubu laki-laki dan perempuan.

 

Keinginan kuat untuk tidak mundur sama sekali. Kedua belah pihak sangat gigih. Menerobos kelompok itu...... tidak ada strategi praktis yang menguntungkan.

 

Lantas, bagaimana tindakan konkretnya?

 

(Terabas langsung dari depan, ya.)

 

Dunia ini memang sulit dijalani. Terutama bagi anak laki-laki.

 

Di dalam hati, aku membuat tanda salib. Setidaknya, semoga aku bisa kembali dengan selamat.

 

Meninggalkan Renji dan Kashiwagi-san yang terperangah melihat perselisihan itu, aku menyelusup di antara kerumunan yang kian memanas, lalu berdiri di hadapan Mizuki.

 

Kemudian,

 

“──Yukimura-san. Bisa minta waktunya sebentar?”

 

Saat aku menyapa, anak-anak laki-laki dan perempuan di sekeliling seketika menoleh ke arahku bersamaan.

 

(Ah, ini bahaya.)

 

Merasakan niat membunuh yang melampaui bayanganku, wajahku menjadi kejang. Seberapa serius sih kalian ini? Tatapan mata seperti itu sungguh tidak pantas ditujukan kepada teman sekelas.

 

“Ada apa, Amano-kun?”

 

Dan, Mizuki menyikapinya dengan begitu tenang hingga rasanya menyebalkan.

 

Gara-gara siapa coba keadaannya jadi seperti ini?

 

Sambil memikirkan hal itu, aku menoleh ke belakang, dan terlihat Renji sedang membuat tanda salib pelan.

 

Awas kau, ya.

 

Setelah melirik sejenak ke arah Kashiwagi-san yang tampak cemas di sampingnya, aku pun memantapkan hati.

 

“......Kalau tidak keberatan, mau bergabung dengan kelompok kami? Saat ini baru ada 3 orang.”

 

......Ah, aku mengatakannya. Terlanjur kuucapkan.

 

Seketika, hawa membunuh di sekeliling melonjak pesat. Tubuhku mendadak kaku.

 

Anak-anak laki-laki maupun perempuan sama-sama menaikkan alis mereka, bersiap menyemburkan makian padaku secara serentak──

 

“──Ya, terima kasih.”

 

......Tepat saat mereka hendak menyemburkannya, kalimat singkat itu langsung memadamkan amarah mereka.

 

“Hah......?”

 

“Eh, Yu-Yukimura-san?”

 

Anak-anak perempuan dari kelompok 'Pengawal Royal' tampak kebingungan. Namun, Mizuki berkata dengan nada suara yang lembut dan hangat:

 

“Maaf, ya. Kali ini, aku akan bergabung dengan kelompoknya Amano-kun.”

 

Setelah berkata demikian, dia bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju ke arahku.

 

Didorong oleh tatapan matanya yang seolah mengajak pergi, aku berjalan menuju kursi tempat Renji dan Kashiwagi-san menunggu.

 

Aku melirik sedikit ke belakang. Terlihat anak-anak laki-laki dan perempuan yang tadinya tertegun, akhirnya mulai memahami situasinya.

 

“H-haaahhh?!”

 

“Yukimura-san?! K-kenapa?!”

 

Teriakan yang terdengar bagaikan keputusasaan. Sosok anak-anak laki-laki yang tersungkur lemas.

 

Seberapa besar mereka mempertaruhkan harapan pada perjalanan wisata sekolah ini. Pemandangan itu memperlihatkannya dengan sangat jelas.

 

──Ratapan Para Kawula. Rasanya judul seperti itu sangat cocok untuk gambaran suasana tersebut. Dan tangisan dari para kawulanya itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Sang Ratu.

 

“Mohon bantuannya, ya.”

 

Dia tersenyum lembut kepada Renji dan Kashiwagi-san.

 

Mendengar hal itu, punggung Renji seketika ditegakkan dengan sempurna.

 

“Mo-mohon bantuannya juga!”

 

Bagaikan teladan karyawan teladan, dia membungkukkan badannya tegak lurus sembilan puluh derajat dengan sangat rapi.

 

“A-aku juga, mohon bantuannya, ya.”

 

Kashiwagi-san pun menundukkan kepalanya, tampak sedikit gugup.

 

Mizuki menatap Kashiwagi-san seperti itu selama beberapa saat.

 

──Terima kasih.

 

Sambil menatapku, dia mengucapkannya hanya melalui gerakan bibirnya.

 

◇

 

Lalu, sepulang sekolah. Meskipun aku sempat waspada terhadap serangan mendadak dari para penggemar Mizuki...... terlepas dari anak-anak laki-laki, secara mengejutkan respons dari anak-anak perempuan ternyata tidak begitu buruk.

 

『......Ada Kashiwagi-san, Miyama-kun, dan Amano-kun, ya.』

 

『Y-yah, dibanding anak-anak laki-laki yang penuh niat terselubung, ini sih jauh lebih mending...... Kalau terjadi sesuatu, tinggal tenggelamkan Miyama-kun saja ke Sungai Kamo di Kyoto.』

 

『Dua peringkat teratas murid tampan dan cantik di kelas kita...... Benar-benar memanjakan mata. Terima kasih atas pemandangannya.』

 

Anak-anak dari 'Pengawal Royal' juga tampaknya dengan enggan memberi nilai ambang batas lulus setelah melihat susunan kelompok kami.

 

『Hei, Iori...... Aku kan tidak melakukan apa-apa, kenapa malah aku yang mau ditenggelamkan?』

 

Renji bertingkah cemas sambil memanggil-manggilku, tetapi aku memilih untuk mengabaikannya pelan-pelan.

 

Bagaimanapun juga, aku berhasil berada di kelompok yang sama dengan Mizuki.

 

Sisa masalahnya adalah Kashiwagi-san...... niatnya masih belum kuketahui.

 

Aku berpikir hubungan kami sudah benar-benar terputus. Kufikir mulai sekarang, interaksi di antara kami juga akan semakin berkurang.

 

......Ya, aku berpikir demikian, tetapi.

 

“......”

“......”

 

Ruang perpustakaan sepulang sekolah.

 

Duduk di depan meja konter, aku dan Kashiwagi-san bertugas menjaga meja resepsionis dalam diam tanpa bersuara.

 

(Ah, begitu ya...... Hal seperti ini bisa saja terjadi, kan.)

 

Hari ini kebetulan jadwal piket petugas perpustakaanku dan Kashiwagi-san bertepatan. Pemeriksaan stok buku dan pembersihan ruang perpustakaan sudah selesai dilakukan, sisanya kami hanya perlu menunggu sampai waktunya selesai.

 

Singkatnya, tidak ada hal yang perlu dikerjakan. Namun, kami tidak bisa lagi saling menyapa dengan santai seperti dulu, sehingga kecanggokan dalam diam ini terus berlanjut.

 

“......Maaf, ya, Amano-kun.”

 

Saat aku sedang mencari jalan untuk memulai percakapan, Kashiwagi-san bergumam pelan.

 

“Eh?”

 

“Soal kelompok perjalanan wisata sekolah, aku memaksa masuk. Pasti menyusahkan, ya?”

 

“......Tidak, kok.”

 

Melihat ekspresi wajahnya yang tampak sedikit ketakutan itu, aku ragu sejenak lalu menggelengkan kepala.

 

“Sama sekali tidak menyusahkan. Temanku juga sedikit. Justru aku malah terbantu.”

 

Aku sengaja mengatakannya dengan nada bercanda. Mendengar itu, Kashiwagi-san sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum.

 

“Benarkah? Padahal kamu sukses besar di Mister Contest, bukankah temanmu jadi bertambah?”

 

“Mana ada. Memang yang mengajakku bicara jadi sedikit bertambah, tapi...... aku tetaplah diriku. Tidak bisa semudah itu langsung berteman.”

 

Saat aku mengatakannya sambil tersenyum getir, Kashiwagi-san pun tertawa merasa lucu.

 

Melihat ukiran senyum itu, bagian dalam dadaku terasa sedikit nyeri.

 

『Tapi syukurlah...... Amano-kun tidak sampai direbut oleh Yukimura-san.』

 

......Jika saja, aku memberitahukan kebenarannya. Apakah gadis ini akan membenciku?

 

“Rasanya membangkitkan kenangan lama, ya.”

 

“Eh?”

 

“Sampai beberapa waktu lalu, mengobrol di perpustakaan seperti ini adalah hal yang biasa, kan.”

 

“......”

 

Mendengar perkataan itu, aku teringat akan kejadian satu tahun yang lalu. Baik aku maupun Kashiwagi-san, kala itu kami berdua masih merasa canggung...... meski begitu, sesekali kami bertugas piket berdua seperti ini. Masa-masa yang menyenangkan. Bahkan jika kuingat-ingat kembali sekarang, jujur aku merasa demikian.

 

“Soalnya aku berpikir, mungkin kita tidak akan pernah bisa mengobrol lagi untuk kedua kalinya.”

 

Padahal pasti jauh lebih baik jika memang begitu, kan, Kashiwagi-san tersenyum dengan raut wajah kesepian.

 

(......Ah, sungguh.)

 

Pada akhirnya, aku memang tidak bisa menjadi seperti Renji. Rasanya aku tidak akan sanggup untuk bersikap acuh tak acuh. Perasaan bersalah ini tidak mau sirna.

 

......Terlebih lagi jika orangnya adalah gadis ini.

 

Tak lama kemudian, Kashiwagi-san tertawa seperti mengejek dirinya sendiri, lalu bersuara riang seolah ingin mengubah suasana.

 

“Perjalanan wisata sekolah nanti, aku sudah tidak sabar, ya. Amano-kun, apa kamu suka Kyoto?”

 

“Ah...... ya. Aku suka kuil-kuil Shinto dan Buddha, tapi aku sendiri belum pernah pergi ke Kyoto.”

 

“Ah, aku juga! Begini-begini aku lumayan suka mengumpulkan cap kuil, lho. Walau tidak tahu bisa mengunjungi berapa banyak, aku ingin pergi ke semua tempat yang terkenal.”

 

Begitulah, percakapan kami terus berlanjut tanpa terputus hingga jam tutup perpustakaan tiba.

 

 

“Selamat datang kembali.”

 

Dengan langkah kaki yang terasa berat, aku pulang ke rumah. Di hadapan Mizuki yang menyambut kedatanganku, aku hanya bisa berdiri terpaku tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

 

“......Iori?”

 

“......Nngg.”

 

“Ada apa?”

 

Mizuki mengelus kepalaku dengan lembut saat aku hanya bisa membisu. Sensasi usapannya itu akhirnya membuat bahuku tidak lagi tegang.

 

......Aku telah memilih cinta pertamaku ini.

 

Aku tidak menyesali hal itu sama sekali. Oleh karena itu, perasaan bersalah ini harus secepatnya kubuang jauh-jauh.

 

Ketika aku merenggangkan tubuh, Mizuki menempelkan tangannya dengan lembut di pipiku.

 

“Sudah tidak apa-apa?”

 

“......Ya, maafkan aku.”

 

“Tidak apa-apa. Lagipula, tadi kamu kelihatan manis.”

 

Sambil tersenyum begitu, Mizuki menarik tanganku untuk mengajak kembali ke ruang keluarga.

 

Sambil ditarik oleh tangannya, aku kembali ke dalam dunia yang hanya milik kami berdua.

 

Sejak kecil, dia selalu berada di sisiku sebagai hal yang wajar. Kehilangan hal itu adalah sesuatu yang sangat kutakuti sejak dulu.

 

──Seandainya saja aku memilih Kashiwagi-san. Apakah tempatku berpulang ini akan sirna? Apakah teman masa kecilku ini akan pergi jauh dariku?

 

Hal tersebut terasa jauh lebih menakutkan dibanding sebelumnya...... bahkan jauh lebih menakutkan daripada sebelum kami berpacaran.

 

◇

 

“Hee, perjalanan wisata sekolah bersama 2 primadona sekolah, ya. Alangkah mewahnya posisi Anda itu?”

 

“......Kenapa kamu yang malah merajuk, sih?”

 

Saat sedang berlatih di ruang kebugaran sekolah sepulang sekolah, seorang gadis yang mengaku sebagai gadis blasteran atletis (haha) datang menantangku. P○kemon kah? Rasanya memang ada karakter seperti ini.

 

“Tentu saja karena aku iri! Aku juga ingin pergi berwisata bersama Mizuki-senpai! Ingin dimanja oleh senpai idaman!”

 

“Apa-apaan itu.”

 

Sambil mengabaikan adik kelas yang berisik di sampingku ini, aku menekan batang chest press dengan sekuat tenaga.

 

Berat. Katanya dalam latihan beban, beban berat dengan repetisi sedikit lebih baik daripada beban ringan dengan repetisi banyak...... tapi tetap saja ini amat berat.

 

“Ah, tidak perlu memaksakan diri mengangkat beban yang terlalu berat, lho? Kuncinya, beban terbaik adalah yang bisa diangkat sekitar sepuluh kali. Kalau terlalu memaksakan diri, ototnya cuma bakal cedera.”

 

“......Saran itu ingin kudengar sedikit lebih awal.”

 

Aku menyerah menekan batangnya, lalu menurunkan bebannya satu tingkat, klang.

 

“Ngapain juga sih Senpai latihan beban segala? Jujur saja, itu bukan tipe Senpai banget, kan?”

 

Kan daya tarik Senpai itu tipe yang imut-imut, begitulah saran sok tahu yang dilemparkannya padaku. Justru karena aku tidak suka dipanggil begitu makanya aku latihan, dasar bodoh.

 

“Tidak apa-apa. Setidaknya aku harus melatih tubuhku sedikit.”

 

Lagipula aku ini anak laki-laki. Terus-terusan diejek oleh Renji juga membuatku kesal.

 

Saat aku mengatakannya sambil memutar bahu, respon yang terdengar hanyalah gumaman cuek seolah tidak begitu tertarik.

 

Padahal anak ini sendiri yang bertanya.

 

“Yah, walau tidak punya otot, Senpai kan punya keahlian main piano. Yang itu jauh lebih cocok untuk Senpai!”

 

“Berisik.”

 

“Tidak, tidak, aku ini sedang memuji, lho.”

 

Curi-curi, dia mencolek-colek lenganku yang gemetar akibat latihan beban.

 

Hei, hentikan.

 

“Mister Contest kemarin, jujur saja keren banget. Lagu Moonlight, kan?”

 

“Terima kasih kalau begitu...... tapi kamu tidak cocok membicarakan judul lagu piano.”

 

“G-gaduh sekali! Biar begini, aku ini memang gadis desa yang tadinya lari-larian di dalam gunung!”

 

Asahi adalah murid pindahan dari daerah yang datang ke Tokyo melalui jalur beasiswa olahraga.

 

Menurut pengakuannya sendiri, daerah asalnya adalah "tempat yang tidak punya apa-apa selain ladang dan gunung". Aku tidak tahu seberapa pelosok tempat itu, tetapi sejak datang ke kota besar, setiap hari baginya adalah kejutan budaya yang tiada henti.

 

“L-lalu! Apakah Senpai tidak mau ikut kompetisi piano atau semacamnya?”

 

“Ada apa tiba-tiba?”

 

“Banyak anak-anak di kelas yang bertanya padaku! Entah dari mana, kabar kalau aku dan Senpai itu karib banget malah bocor.”

 

“Siapa yang karib dengan siapa, coba.”

 

Tolonglah, henti-hentikan itu. Lagipula, bukankah itu gara-gara kamu yang selalu membicarakan tentangku di mana-mana?

 

Baru-baru ini saja, di koridor terdengar suara lantangmu yang berteriak 『Iori-senpai itu~』. Rasanya saat itu juga aku ingin langsung pulang saja.

 

“Jadi, bagaimana?”

 

Dia mendadak memajukan wajahnya mendekat. Kenapa anak ini ngotot sekali, sih.

 

Aku ragu apakah harus menjawabnya atau tidak, tetapi akhirnya dengan enggan aku membuka suara.

 

“......Setidaknya, guru pianoku memang menyuruhku untuk ikut.”

 

“Ooh!”

 

“Tapi, aku masih ragu apakah akan ikut atau tidak.”

 

Saat aku berkata demikian, Asahi memiringkan kepalanya dengan bingung.

 

“Eh, kenapa begitu? Kalau sudah mendapat jaminan dari guru, ikut saja kan tidak apa-apa.”

 

“Memang begitu, sih.”

 

Perkataan Asahi memang ada benarnya. Trauma yang kualami dulu kini sudah tidak terasa lagi. Jika aku mau ikut, aku bisa saja ikut. Namun, alasan mengapa aku masih belum bisa memantapkan hati adalah......

 

『──Piano milik Iori, akan terus kudengarkan selamanya.』

 

Aku yang bertanding di kompetisi piano. Memainkan piano untuk orang lain selain Mizuki.

 

......Apakah Mizuki benar-benar menginginkan hal tersebut?

 

Aku menggelengkan kepala, lalu melontarkan alasan yang terdengar masuk akal.

 

“......Aku kan tidak berniat untuk menjadi profesional. Dibandingkan kompetisi, belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi jauh lebih penting.”

 

Meskipun hanya sekadar alasan, hal itu juga merupakan fakta. Tidak seperti saat Mister Contest waktu itu, kali ini tidak ada alasan yang jelas. Lagipula, latihan secara bersungguh-sungguh sambil dibarengi dengan belajar untuk ujian tentu akan terasa sangat berat.

 

Namun, mendengar pembelaan dariku tersebut...... Asahi entah mengapa malah menghela napas dengan raut wajah yang seolah berkata 'duh, ampun deh'.

 

“A-ada apa?”

 

“Astaga...... Senpai benar-benar tidak ada ubahnya dari dulu, ya. Caper banget.”

 

“Hah?”

 

“Dengar ya, Senpai? Aku pun saat baru keluar dari desa tentu saja merasa takut, tahu! Tapi, kalau kita tidak mengambil tindakan, jalan hidup kita tidak akan pernah berubah!”

 

Tidak seperti biasanya, dia mengatakannya dengan tatapan mata yang sangat serius seakan sedang mendesakku.

 

Dalam perkataannya itu, terasa ada kenyataan yang sungguh menusuk. Hal itu membuatku membisu dan menyimaknya dengan saksama.

 

“Kalau ada kesempatan, Senpai harus mencobanya! Lagipula, kita tidak akan pernah tahu apa yang bakal kita dapatkan sebelum mencobanya sendiri!”

 

“......Apakah memang seperti itu?”

 

“Memang seperti itu!”

 

Asahi menegaskannya dengan mantap. Sama sekali tidak disangka, aku malah penceramahi oleh anak ini.

 

“Maka dari itu, mulai dari sekarang tolong ikut aku sebentar.”

 

“Eh?”

 

“Ah, tidak ada hak untuk menolak, ya.”

 

Sambil berkata demikian, Asahi mencengkeram tanganku dan menyeretku.

 

Mau tidak mau, aku pun diseret pergi tanpa tahu apa tujuan tempat yang akan kami datangi.

 

 

“......Lalu?”

 

“Ya?”

 

“Apa-apaan tempat ini?”

 

“Pusat perbelanjaan, tahu!”

 

Tempat aku diseret pergi ternyata adalah sebuah pusat perbelanjaan di depan stasiun.

 

Melihat Asahi yang membusungkan dadanya yang rata dengan bangga, di dalam hati aku membalas: Kalau cuma itu aku juga sudah tahu, kali.

 

“Bukan itu maksudku. Kenapa kita ke sini?”

 

“──Senpai. Di sana Senpai lihat apa?”

 

Tanpa menjawab pertanyaanku, Asahi langsung menunjuk ke suatu arah. Arah yang ditunjuknya tepat berada di tengah-tengah pusat perbelanjaan.

 

Di atas sebuah panggung buatan yang tingginya sedikit menonjol, berdiri megah sebuah benda yang tampak begitu anggun.

 

“......Itu piano grand, kan?”

 

“Yup. Siapa saja boleh memainkannya kalau punya keberanian.”

 

“......”

 

Kalau punya keberanian, katanya.

 

Yah, memang benar, sih. Memainkan piano di tengah-tengah pusat perbelanjaan ramai seperti ini, kalau bukan orang yang kelewat tebal muka, pasti cuma orang bodoh......

 

Eh, tunggu sebentar. Jangan-jangan, anak ini.

 

“A-Asahi?”

 

“Ya! Mulai sekarang Senpai harus memainkan piano di sana!”

 

Asahi mengatakannya sambil memasang pose yang seolah-olah diiringi efek suara menggelegar.

 

Mendengar perkataan itu, pikirkanku seketika menjadi kosong. Adik kelas satu ini sebenarnya sedang bicara apa, sih?

 

“Hal yang kurang dari Senpai saat ini adalah keberanian untuk melangkah satu tingkat! Oleh karena itu, ayo!”

 

“Bukan 'ayo', masalahnya!”

 

Aku kan sama sekali tidak pernah bilang mau memainkannya.

 

Tanpa sadar aku hampir saja memutar balik langkahku. Namun, melihat hal itu, Asahi malah tersenyum menyeringai seolah mengejek, 'Arah mana, tuh?'.

 

“Senpai mau kabur, ya?”

 

“......Ha?”

 

“Begitu ya~ Ternyata Senpai itu cuma anak penakut yang ciut cuma gara-gara piano di pusat perbelanjaan, ya~?

 

Pantas saja kalau ikut kompetisi piano tentu saja tidak akan sanggup, kan~?”

 

“......”

 

“Penampilan di Mister Contest kemarin cuma kebetulan saja, ya~ Aduh, sayang sekali~”

 

......Mendengar nada bicaranya yang dibuat-buat dan datar seperti membaca teks itu, aku sadar kalau wajahku kini mulai menegang.

 

Jika yang mengatakannya adalah Renji...... atau, kalaupun harus mengalah seribu langkah, jika Mizuki yang mengatakannya, mungkin aku masih bisa menahannya. Namun, jika dikatakan oleh adik kelas yang satu ini, rasanya benar-benar tidak bisa kutoleransi.

 

Gengsi seorang senior? Harga diri? Padahal kupikir aku sama sekali tidak memiliki hal semacam itu.

 

“......Aku akan memainkannya.”

 

“Ya?”

 

“Perhatikan baik-baik. Akan kubuktikan padamu kalau itu bukan sekadar kebetulan.”

 

Sambil berkata demikian, aku melangkah menuju piano. Dari belakang, terdengar sorakan dukungan yang kelewat asal-asalan seperti "Kyaa, keren banget~". Awas kau ya, ingat saja nanti.

 

“Astaga.”

 

Aku duduk di depan piano, mengumpat pelan, lalu menarik napas dalam-dalam.

 

Saat melihat ke sekeliling, beberapa orang tampak menghentikan langkah mereka sambil menatapku. Suasana seolah-olah mempertanyakan "Anak itu, apa dia benar-benar mau memainkannya?" terasa sangat menyengat di kulit.

 

Sungguh menyiksa. Dalam artian tertentu, cobaan yang jauh lebih berat ketimbang saat Mister Contest waktu itu malah datang secepat ini.

 

(Sialan, persetan lah. Tinggal mainkan saja, kan?)

 

Dengan penuh dorongan nekat, aku menekan tuts pertama.

 

Lagu yang kupilih tentu saja──Moonlight Sonata Gerakan Ketiga.

 

Lagu yang sudah meresap di dalam tubuhku itu mulai kumainkan seolah meniru penampilanku saat Mister Contest dulu.

 

Baru seminggu berlalu sejak festival budaya itu. Tidak mungkin aku bisa melupakannya begitu saja dalam rentang waktu singkat.

 

Tanpa perlu dipikirkan pun jari-jariku bergerak dengan sendirinya, dan aku hanya bisa membiarkan diriku hanyut di dalamnya.

 

......Lalu, waktu pun berlalu sekitar lima menit.

 

Tanpa kusadari bahwa aku telah begitu fokus, saat aku selesai memainkan lagu dan mendongakkan kepala:

 

──Prok, prok, prok......!

 

Orang-orang yang tanpa kusadari telah berkumpul di sekitar panggung seketika bertepuk tangan secara serentak.

 

Tanpa sadar mataku membelalak lebar. Saat melihat ke bawah panggung, terlihat wajah Asahi yang tersenyum dengan bangga.

 

(Sejak kapan......)

 

Bingung harus berbuat apa, aku pun menundukkan kepala sedikit. Mendapat respons itu, tepuk tangan penonton malah menjadi semakin riuh.

 

Sambil memandang ke sekeliling pemandangan tersebut...... tiba-tiba, bayangan pemandangan saat Mister Contest waktu itu terlintas di dalam benakku.

 

『──Waaaaa!!』

 

Sorak tepuk tangan yang kupikir tidak akan pernah ada hubungannya dengan hidupku seumur hidup.

 

Kala itu aku memainkan piano adalah──demi memberi kepastian pada cinta pertamaku yang telah terpendam selama bertahun-tahun.

 

Karena ada perasaan yang ingin kusampaikan pada Mizuki. Karena aku ingin gadis itu mendengarkannya.

 

Namun...... apakah hal yang kudapatkan dari Mister Contest waktu itu benar-benar hanya sebatas itu saja?

 

“Bagaimana rasanya, Senpai?”

 

Sambil menutup penutup piano, aku menundukkan kepala meminta maaf kepada orang-orang yang meminta penampilan ulang. Diiringi suara helaan napas kecewa dari penonton, aku turun dari panggung, lalu Asahi menghampiriku sambil tersenyum-senyum jahil.

 

“......Apa maksudmu dengan 'bagaimana'?”

 

“Wajah Senpai kelihatan seperti bilang 'lumayan juga', tuh?”

 

Saat dikatakan begitu, aku mendadak kehabisan kata-kata.

 

Lalu, tepat pada saat itu.

 

“──A-anu!”

 

Dari arah dekat, terdengar sebuah suara. Ketika aku menoleh, di sana berdiri seorang gadis yang tidak kukenal.

 

Apakah dia seorang siswi SMA? Seragamnya berbeda dengan seragam sekolah kami.

 

“......Anu, ada apa, ya?”

 

“M-maaf! Tiba-tiba mengajak bicara......! Kamu Amano-kun yang ikut Mister Contest di SMA Shirayanagi, kan?”

       

“Eh...... ya, benar, sih.”

 

“A-aku memilihmu saat pemungutan suara! Penampilanmu keren sekali! I-ini, kalau tidak keberatan......!”

 

“Ha? Tunggu sebentar──”

 

Gadis itu menyodorkan selembar kertas ke tanganku, lalu berlari pergi begitu saja sebelum sempat kuhentikan.

 

“......”

 

“......Senpai? Aku membawamu ke sini bukan untuk tebar pesona, lho?”

 

“Tunggu, tunggu, bukan begitu!”

 

Aku tidak melakukan apa-apa, loh.

 

Sambil memikirkan hal itu, aku melihat selembar kertas di tanganku.

 

Sebuah ID LINE yang ditulis dengan tulisan tangan bulat yang imut.

 

Jujur saja, menurutku ini agak ceroboh dari sisinya.

 

“Senpai? Kenapa tersenyum-senyum begitu? Apa Senpai senang dimintai kontak duluan oleh anak perempuan?”

 

“B-bukan begitu.”

 

Aku mendesak mundur Asahi yang memajukan tubuhnya mendekat.

 

Sungguh, ini bukan masalah seperti itu.

 

“......Asahi.”

 

“Ya?”

 

“Diakui oleh orang lain itu...... rasanya membahagiakan, ya.”

 

Tanpa sadar, kata-kata itu terucap dari mulutku.

 

Di Mister Contest waktu itu, aku memainkannya demi Mizuki. Asalkan Mizuki mendengarkannya, kupikir itu sudah cukup bagiku. Namun jika dipikir-pikir kembali sekarang...... ternyata tidak hanya sebatas itu saja. Ketika aku mandi sorak tepuk tangan di Mister Contest waktu itu,

 

──Aku memang benar-benar merasa bahagia.

 

“Fufun, akhirnya Senpai sadar juga, ya.”

 

Asahi membusungkan dadanya dengan bangga.

 

Entah mengapa rasanya agak menyebalkan karena seolah-olah aku termakan oleh rencananya, tapi......

 

“......Maksudmu, kamu menyuruhku untuk mencoba ikut kompetisi, kan?”

 

“Ya!”

 

Apakah hal itu ada artinya atau tidak, aku sendiri belum tahu. Namun pastinya, hal yang dikatakan oleh anak ini ada benarnya.

 

Berani mengambil tantangan. Melangkah maju ke depan.

 

Jika aku ingin bisa berdiri sejajar dengan teman masa kecilku itu...... aku tidak boleh menghentikan langkahku di sini.

 

Sekali lagi, aku membatin dan menegaskan hal itu di dalam hati.



Chapter 2 | ToC | Interlude

0

Post a Comment

close