Chapter
3
Arabesque
“......Ngh......”
Silau. Sinar matahari pagi
menimpa wajah, membuatku perlahan-lahan terbangun.
Aku membuka mata seolah berusaha
mengibaskan sisa-sisa ingatan tadi malam. Lalu,
“Selamat pagi.”
Di depan mataku, ada seorang
dewi.
Sambil tersenyum lembut, gadis
itu──Yukimura Mizuki──berbaring di sampingku sembari menatap wajahku.
“......Apa?”
“Wajah manismu saat tidur.”
“......Jangan dilihat. Wajah
seperti itu.”
“Tidak boleh. Perlihatkan dengan
jelas, ya?”
Dia menyingkirkan tanganku yang
menutupi wajah, lalu tersenyum jahil.
Sejak kami mulai berpacaran, aku
merasa ekspresi wajahnya menjadi jauh lebih kaya.
......Tidak, apakah dia hanya
kembali seperti dulu?
Sewaktu kecil, hanya di hadapanku
saja dia sering tersenyum. Hal seperti itu baru aku teringat kembali sekarang.
“Iori?”
Saat aku melamun terpesona oleh
kecantikannya, pipiku dielus dengan lembut. Sensasi sentuhan tangannya yang
halus. Entah mengapa, aku malah menempelkan pipiku ke tangannya.
Seketika, tatapan matanya meleleh
penuh kasih.
“Iori, kamu sedang manja, ya?”
Chuu, sebuah kecupan mendarat di
bibirku.
Tanpa jeda, dia juga mengecup
pipi dan leherku.
Gadis secantik ini, ditambah lagi
dia adalah gadis yang kusukai, jika melakukan hal seperti itu...... tentu saja,
“......”
“......Ah.”
──Tubuhku secara alami langsung
bereaksi.
Melihat hal itu, Mizuki tersenyum
gembira.
“Fufu...... tidak boleh, lho.
Hari ini kita masih harus sekolah.”
“......Aku tahu, kok.”
Saat aku mengucapkannya dengan
nada merajuk, senyumnya justru tampak semakin gembira.
......Entah mengapa, rasanya
membahagiakan sampai-sampai terasa menakutkan.
Mizuki tidak pernah menolak apa
pun yang kulakukan. Apa pun yang kuintai, dia akan menerimanya dengan senang
hati.
Hal itu membuatku merasa sedikit
takut.
(Ini berbahaya......)
Begitu bahagia dan sangat
terpenuhi...... jika aku lengah sedikit saja, rasanya aku akan tenggelam di
dalamnya. Aku merasa seperti itu.
“Hei, Iori.”
“Nn?”
Saat aku beranjak dari tempat
tidur dan memakai celana dalam serta celana panjang, dia yang masih tanpa
busana memanggilku.
“Aku ini berat, lho.”
“......?”
Apa maksudnya? Aku memiringkan
kepala karena bingung.
Jika berbicara tentang berat
badan, aku malah berpikir dia terlalu ringan untuk ukuran tingginya.
Namun, jawabannya adalah:
“Selama 10 tahun...... banyak hal
yang menumpuk.”
“......Sama saja, kok.”
Aku menghela napas dan menjawab
demikian.
Dia sendiri tidak tahu bagaimana
perasaanku selama 10 tahun ini. Melihatnya mengatakannya tanpa rasa bersalah
sama sekali, rasanya aku ingin membalas bahwa akulah yang seharusnya mengatakan
kalimat itu.
“Nn. Perasaan Iori juga akan
kuterima dengan baik. Jadi, mohon bantuannya untuk perasaanku juga, ya.”
“......Ya.”
Begitulah pagi kami berlalu.
Kehidupan sehari-hari yang sama
sekali berbeda dari sebelum-sebelumnya. Mungkinkah suatu saat nanti akan tiba
waktunya aku terbiasa dengan kebahagiaan ini?
......Kuharap saat seperti itu
tidak akan pernah datang. Aku berpikir demikian.
◇
“......Ngomong-ngomong, sebentar
lagi prapembelajaran lapangan, ya?”
Sambil memotong salmon panggang
aluminium foil dengan sumpit saat sarapan, aku bergumam.
Baik aku maupun Mizuki sama-sama
menyukai menu sarapan ala Jepang. Nasi putih, sup miso, ikan panggang, dan
telur gulung. Menu yang mencerminkan bagaimana seharusnya seorang orang Jepang
menikmati hidangan.
Porsi Mizuki sedikit karena dia
makan dalam jumlah kecil. Sementara aku makan lumayan banyak di pagi hari.
Meski begitu, aku tidak menjadi
gemuk dan ototku juga tidak terbentuk. Apakah ini faktor genetik...... sumpah
dari ibu yang sangat rewel soal penampilan? Di dalam benakku, terlintas
bayangan sesosok wanita yang hampir berusia 40 tahun tetapi berpenampilan jauh
lebih muda.
Mizuki memisahkan daging ikan
salmon dengan gerakan yang anggun, lalu mengangguk menanggapi perkataanku.
“Nn, ke Kyoto, kan?”
“Ya. Karena peminatnya paling
banyak.”
Jujur saja, hal ini juga
mengejutkan bagiku.
Kyoto hanya berisi kuil-kuil
Buddha dan Shinto. Bukankah siswa SMA lebih tertarik pada Hokkaido, Okinawa,
atau bahkan luar negeri? Atau mungkinkah ini ciri khas sekolah unggulan? Jujur,
aku sendiri senang jika pergi ke Kyoto.
(Gion, Kiyomizu-dera, dan......
Kinkaku-ji sebaiknya tidak usah, deh.)
Entah mengapa, aku merasa
sebaiknya tidak melihat tempat itu. Benar-benar hanya sekadar perasaan saja,
sih.
“Kira-kira, kita bisa sekelompok
tidak, ya?”
Saat aku sedang membayangkan
Kyoto yang belum pernah kulihat, Mizuki bergumam. Mendengar hal itu, aku
berpikir sejenak lalu menggelengkan kepala.
“Mungkin sulit. Anak-anak dari
'Pengawal Royal'-mu tidak akan tinggal diam, kan?”
Mendengar perkataanku, Mizuki
memiringkan kepalanya dengan bingung.
Tidak, kenapa bingung? Kamu pasti
paham, kan.
Perjalanan wisata sekolah ini
cuma sekali seumur hidup. Pengikut fanatiknya itu tidak mungkin mengalah dan
membiarkan orang lain berada di kelompok yang sama dengan Mizuki.
“Kalau Iori yang sekarang, aku
rasa semua orang pasti bisa terima, kok.”
Kepada aku yang merasa lelah dan
lesu ini, Mizuki mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui maksudnya.
......Aku yang sekarang? Apa
maksudnya?
Saat aku memintanya untuk
menjelaskan,
“Kamu dapat juara 3 di Mister
Contest, kan?”
Hanya dengan satu kalimat itu,
aku mendadak menghentikan gerakan sumpitku.
“......Mana mungkin ada
hubungannya.”
Mungkin penilaian orang
terhadapku sedikit meningkat. Namun, hal itu dan masalah ini adalah dua hal
yang berbeda.
Aku meneguk teh hingga
masuk ke kerongkongan. Melihat hal itu, Mizuki tersenyum, tampak
bersenang-senang.
“──Kalau begitu, bagaimana
kalau aku saja yang coba minta ke semuanya? Bilang kalau aku ingin pergi
perjalanan wisata sekolah bersama Iori.”
“Gohuk!”
Aku langsung menyemburkan
tehku.
Anak ini, berani-beraninya
bicara hal semenakutkan itu.
Memang benar, jika Mizuki
yang mengatakannya, dari luar mereka pasti akan menuruti...... ya, dari luar
saja.
Demi meredam kegugupan,
dengan tangan yang gemetar aku mengambil sepotong ikan salmon lalu menyuapnya
ke dalam mulut. Aroma kecap asin dan menteganya terasa sangat gurih. Dari semua
jenis ikan, aku paling suka makarel, tetapi salmon juga tidak buruk.
“......”
Namun, Mizuki bahkan tidak
memberiku kesempatan untuk mengulur waktu.
Bagaimana? Mizuki menatap
ke arahku seolah bertanya demikian...... dan aku pun menghela napas panjang.
“......Baiklah. Aku akan
coba memikirkannya.”
“Nn, terima kasih.”
Setelah mengatakan itu,
Mizuki kembali menikmati makanannya dengan raut puas.
......Ancaman yang sungguh
kejam. Sama sekali tidak ada lucu-lucunya bagaikan sebuah permintaan manja.
Anak ini sadar betul akan pengaruh dan kecantikannya sendiri, makanya sifatnya
sungguh buruk.
Sambil mengunyah salmon
perlahan, di dalam hati aku memegang kepala karena pusing.
◇
“──Baiklah, sekian garis
besar mengenai perjalanan wisata sekolah. Mengenai kelompok dan rutenya,
silakan masing-masing menyusunnya di lembar formulir dan kumpulkan sebelum
tenggat waktu.”
Setelah guru wali kelas
keluar ruangan, suasana kelas seketika menjadi bising. Ada murid yang berkumpul
dengan kelompok yang sudah ditentukan sebelumnya, dan ada juga yang
terburu-buru memanggil teman dekat mereka.
Dalam penentuan kelompok
yang akan menentukan nasib perjalanan wisata sekolah ini, mata semua orang
tampak berubah penuh ambisi.
“Lalu, bagaimana dengan
kita, Iori?”
“Nngg......”
Di tengah riuhnya suasana,
kami berdua hanya terduduk diam di kursi masing-masing.
Aku dari awalnya memang
punya sedikit teman, sedangkan Renji...... dia sedang diselimuti rasa saling
jaga dan intimidasi dari anak-anak laki-laki lain.
Bukan berarti dia
dirundung, melainkan itu adalah reaksi pertahanan anak-anak laki-laki agar
murid perempuan di kelompok mereka tidak direbut olehnya.
......Secara pribadi,
menurutku keputusan mereka sangatlah tepat. Bagaimanapun juga, 1 kelompok
terdiri dari 4 orang. Dengan kata lain, kami perlu mencari 2 orang lagi.
“Kelihatannya sebagian
besar sudah pada terbentuk, ya...... Walau aku yakin pasti ada saja yang
tersisa.”
Kekejaman dari penentuan
kelompok semacam ini.
Karena batasan 1 kelompok
harus 4 orang, pasti ada saja orang yang terabaikan. Maka dari itu, jika
kelompok belum terbentuk, tinggal mengajak orang yang tersisa tersebut.
Begitulah sistemnya
berjalan, tetapi......
“Bukan begitu! Mumpung
perjalanan wisata sekolah, tentu saja ingin mengajak anak perempuan, kan!”
“......”
Sudah kuduga dia akan
berkata begitu. Melihat Renji mengepalkan tangannya erat-erat, mataku hanya
bisa memandang jauh ke depan.
Ingin mengajak anak perempuan
ke dalam kelompok. Itu adalah keinginan jujur dari lubuk hati seorang anak laki-laki
SMA. Namun, orang yang bisa mengatakannya secara terang-terangan sangatlah
terbatas.
Dalam artian tersebut,
anak ini bisa dibilang sosok terpilih...... terlepas dari baik atau buruknya. Dan
sayangnya, saat ini aku juga tidak berada dalam posisi yang bisa
mengetawakannya.
Mataku perlahan melirik ke
arah kerumunan paling besar di dalam kelas.
“Yu-Yukimura-san! Aku punya
kerabat di Kyoto dan tahu banyak hal tentang sana, lho! Aku bisa mengantarmu ke
tempat-tempat tersembunyi yang bagus!”
“Hei, kamu yang di sana!
Jangan seenaknya mengajak bicara!!”
Suara anak-anak laki-laki
yang sama sekali tidak memiliki ketenangan. Semua orang saling berlomba untuk
menjadi yang pertama mengajak Mizuki bicara.
Melihat pemandangan yang
dipenuhi hawa membunuh itu, aku dan Renji tanpa sadar menarik diri.
“......Itu sih sudah
seperti sekte agama, ya. Menakutkan sekali.”
Renji, yang mengikuti arah
pandanganku, berbisik pelan agar tidak terdengar.
Sekte agama. Sebuah kiasan
yang sangat tepat. Masalahnya adalah, ada kemungkinan taring kegilaan itu akan
mengarah kepadaku.
(Menerobos ke dalam
sana dan mengajak Mizuki......?)
Itu tindakan bunuh diri.
Ujung-ujungnya aku pasti akan hancur berkeping-keping.
Pikirku demikian......
tetapi aku sudah terlanjur berjanji pada Mizuki. Lagipula, terlepas dari janji
itu, aku pun memiliki keinginan untuk menghabiskan perjalanan wisata sekolah
bersama kekasihku.
Mundur, atau melakukan
serangan nekat yang mempertaruhkan nyawa?
Di samping Renji yang
mengundurkan diri karena tidak ingin terlibat, aku sibuk memutar otak......
“──Anu, permisi, apa boleh
minta waktunya sebentar?”
Dari luar kesadaranku,
terdengar sebuah suara yang terdengar sungkan.
“Eh......?”
Saat aku mendongak,
terlihat rambut cokelat model semipanjang yang berkibar halus. Melihat sosok
gadis jelita yang tersenyum agak ragu-ragu itu, mulutku seketika menganga
lebar.
(Kashiwagi-san?)
“Nn, oh? Ada apa,
Kashiwagi-chan?”
Renji yang berada di
sampingku juga membuka matanya lebar-lebar karena terkejut. Kepada kami berdua,
Kashiwagi-san tersenyum dengan raut wajah yang tampak serba salah.
“Kalian berdua belum
menentukan kelompok, kan?”
“Eh...... ya, begitulah.”
Aku mengangguk ragu. Renji
di sampingku juga tampak bingung.
Kepada kami, Kashiwagi-san
pun berkata,
“Kalau begitu, bagaimana?
Kalau tidak keberatan, bolehkah aku bergabung dengan kalian?”
“......Eh?”
“......Hah?”
Aku dan Renji memberikan
reaksi yang hampir sama persis.
Seketika, aku tidak bisa
memahami apa yang baru saja dikatakannya.
Boleh bergabung......
jangan-jangan, ke dalam kelompok kami?
(......Kenapa?)
Itu adalah pilihan yang
paling pertama kubuang jauh-jauh.
Aku, Renji, dan
Kashiwagi-san. Kami bertiga sudah saling mengenal sejak kelas satu. Jika tidak
ada perselisihan apa pun di antara kami, mungkin kami akan mengundangnya tanpa
ragu. Namun, sekarang sudah berbeda. Kami yang sekarang bukan lagi berada dalam
hubungan yang bisa melakukan hal seperti itu.
Mengenai hal itu,
Kashiwagi-san sendiri seharusnya menjadi orang yang paling memahaminya.
“Teman-teman dekatku ada 5 orang.
Jadi aku memisahkan diri dari mereka.”
Mendengar perkataan itu,
mataku mengarah ke sudut kelas.
Teman-teman yang biasanya
bersamanya sedang melihat ke arah sini dengan cemas...... tidak, beberapa dari
mereka malah memperhatikan sambil tersenyum jahil.
"Semangat, ya,
Kashiwagi-san!" terdengar sorakan dari mereka.
Mendengar hal itu,
Kashiwagi-san menyusutkan badannya dengan malu-malu.
“E-eh......”
Pikiranku menjadi kacau.
Namun, sebelum aku sempat membuka mulut,
“T-tidak, tentu saja boleh!
Sangat disambut dengan tangan terbuka! Benar kan, Iori?!”
Renji yang berada di
sampingku berdiri dan merentangkan tangannya.
Jika dilihat lebih dekat,
peluh menetes di wajahnya. Tentu saja. Aku sendiri pun bingung dengan situasi
ini. Aku menatap ke depan. Mataku bertemu dengan pandangan Kashiwagi-san yang
tampak cemas. Tatapan mata itu membuatku kehabisan kata-kata.
Seharusnya aku menolak.
Akal sehatku mengatakan demikian. Akan tetapi...... tanpa sengaja aku
melihatnya.
Tangan Kashiwagi-san
gemetar sedikit.
(......Ah, sialan.)
Sifatku yang seperti
inilah yang merupakan kelemahanku.
Pilihan ini tidak akan
membawa kebaikan, baik untuk diriku maupun untuk Kashiwagi-san.
Meskipun menyadari hal itu......
tetap saja, aku tidak mampu menepis tangannya.
“......Ya. Kalau kamu mau
bergabung, aku senang sekali.”
Aku mengucapkan hal itu
sambil mengangguk. Mendengar perkataanku, wajah Kashiwagi-san seketika
berseri-seri.
“Y-ya! Terima kasih. Mohon
bantuannya, ya?”
“O-oh!”
“......Nn, mohon
bantuannya.”
Sambil mengangguk
demikian──di dalam hati, aku menyadari bahwa diriku merasa lega. Rasa lega
karena hubunganku dengan gadis ini belum benar-benar terputus.
(......Bodoh sekali aku
ini.)
Padahal aku sendiri yang
telah menghempaskannya, lalu atas dasar apa aku merasa begitu? Di dalam hati,
aku memaki diriku sendiri.
“L-lalu, satu orang lagi
bagaimana? Sebaiknya 2 perempuan dan 2 laki-laki, kan? Mungkinkah kita bisa
mengajak salah satu teman Kashiwagi-chan?”
“Ah, anu, teman-teman
dekatku semuanya sudah punya kelompok......”
Bagaimana, ya?
Kashiwagi-san menatapku sambil tersenyum getir.
Seolah ingin melarikan
diri dari tatapannya, aku mengalihkan pandangan ke sekeliling.
“Berisik! Ini kan perjalanan
wisata sekolah yang cuma sekali seumur hidup! Apa salahnya kalau aku ingin
jalan-jalan bersama Yukimura-san!”
“Tahu diri sedikit, lah,
dasar gurita!”
Lalu di tengah kelas.
Kelompok yang tadi kini semakin memanas.
Anak laki-laki dan perempuan
bercampur menjadi satu, dan suasananya benar-benar sudah tidak terkendali.
Mizuki tampak
tenang-tenang saja. Namun......
“......Maaf. Bisa minta
waktunya sebentar?”
“Nn?”
Ada apa? Renji bertanya
lewat tatapan matanya. Tanpa bicara, aku menatap titik pusat ledakan di dalam
kelas yang masih membara hingga saat ini.
(Keadaannya sedikit
berubah, tapi...... mau bagaimana lagi.)
Bergabungnya Kashiwagi-san
sungguh di luar dugaan. Jika sudah begini, akan sulit untuk mengajak Mizuki. Namun......
apakah itu berarti aku tidak akan mengajak Mizuki dan pergi berwisata bersama
Kashiwagi-san?
(......Tidak mungkin.)
Setidaknya, jika aku
berada di posisi Mizuki, aku pasti tidak akan merasa senang. Aku memantapkan
hati dan menarik napas dalam-dalam.
“Bagaimana kalau kita coba
mengajak Yukimura-san?”
Mendengar kata-kata itu,
Renji membeku. Kashiwagi-san pun ikut membeku. Namun, aku memaksakan diri untuk
mempertahankan ekspresi datar. Mengikuti alur saja, setengah nekat karena putus
asa.
Mendengar perkataan
tersebut, Renji menatapku seolah sedang melihat sosok makhluk asing.
“......Kamu sadar dengan
apa yang kamu katakan?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Apa-apaan, sih.”
Renji menggelengkan
kepalanya seolah tidak habis pikir. Habisnya, aku sendiri sadar kalau aku
sedang mengatakan hal yang konyol.
Mengajak Mizuki.
Memasukkan Mizuki dan Kashiwagi-san ke dalam kelompok yang sama.
Aku tahu ini langkah yang
buruk. Meski begitu, ini adalah perjalanan wisata sekolah yang hanya terjadi
sekali seumur hidup.
Setidaknya, aku ingin
mengabulkan keinginan manja dari kekasihku.
“Tentu saja, kalau kalian
berdua tidak keberatan.”
Sambil berkata demikian,
aku mengalihkan pandangan ke arah Kashiwagi-san. Walau aku bilang kalian
berdua, sebenarnya yang dimaksud terutama adalah satu orang ini.
Aku sangat tahu tentang
rasa minder yang dimiliki gadis ini. Maka dari itu, jika Kashiwagi-san merasa
keberatan sedikit saja, aku berniat untuk menyerah.
Mengenai Mizuki...... aku
akan menggantinya dengan cara lain. Jika perlu, aku bisa menabung uang lalu
pergi berwisata berdua bersamanya. Namun, setelah ragu-ragu sejenak,
Kashiwagi-san......
“......Ya, menurutku tidak
apa-apa. Aku juga ingin berbicara dengan Yukimura-san secara baik-baik.”
Dia mengatakannya dengan
tegas seolah telah memantapkan hatinya. Mendengar hal itu, aku menghela napas
lega. Lega karena perasaan Kashiwagi-san terhadap Mizuki bukanlah rasa benci
yang tak tertolong.
Di sisi lain, mata Renji
terbelalak penuh kebingungan sambil menatap kami berdua secara bergantian.
“Y-yang benar saja......
Yah, kalau aku sih sama sekali tidak masalah. Tapi bagaimana cara
mengundangnya? Aku saja tidak akan sanggup, lho! Menerobos barikade pengepungan
itu......”
“......”
Di sudut pandangku,
terlihat lingkaran kerumunan orang yang mengelilingi sang primadona sekolah.
......Bukannya jumlah
mereka malah bertambah dibanding yang tadi?
“Kalian terus yang berbuat
curang! Ini pelanggaran Undang-Undang Anti-Monopoli!”
“Berisik! Mana mungkin kami
membiarkan anak laki-laki yang niat terselubungnya kelihatan jelas seperti
kalian mendekat!”
Perang yang terbagi antara
kubu laki-laki dan perempuan.
Keinginan kuat untuk tidak
mundur sama sekali. Kedua belah pihak sangat gigih. Menerobos kelompok itu......
tidak ada strategi praktis yang menguntungkan.
Lantas, bagaimana tindakan
konkretnya?
(Terabas langsung dari
depan, ya.)
Dunia ini memang sulit
dijalani. Terutama bagi anak laki-laki.
Di dalam hati, aku membuat
tanda salib. Setidaknya, semoga aku bisa kembali dengan selamat.
Meninggalkan Renji dan
Kashiwagi-san yang terperangah melihat perselisihan itu, aku menyelusup di
antara kerumunan yang kian memanas, lalu berdiri di hadapan Mizuki.
Kemudian,
“──Yukimura-san. Bisa minta
waktunya sebentar?”
Saat aku menyapa,
anak-anak laki-laki dan perempuan di sekeliling seketika menoleh ke arahku
bersamaan.
(Ah, ini bahaya.)
Merasakan niat membunuh
yang melampaui bayanganku, wajahku menjadi kejang. Seberapa serius sih kalian
ini? Tatapan mata seperti itu sungguh tidak pantas ditujukan kepada teman
sekelas.
“Ada apa, Amano-kun?”
Dan, Mizuki menyikapinya
dengan begitu tenang hingga rasanya menyebalkan.
Gara-gara siapa coba
keadaannya jadi seperti ini?
Sambil memikirkan hal itu,
aku menoleh ke belakang, dan terlihat Renji sedang membuat tanda salib pelan.
Awas kau, ya.
Setelah melirik sejenak ke
arah Kashiwagi-san yang tampak cemas di sampingnya, aku pun memantapkan hati.
“......Kalau tidak
keberatan, mau bergabung dengan kelompok kami? Saat ini baru ada 3 orang.”
......Ah, aku
mengatakannya. Terlanjur kuucapkan.
Seketika, hawa membunuh di
sekeliling melonjak pesat. Tubuhku mendadak kaku.
Anak-anak laki-laki maupun
perempuan sama-sama menaikkan alis mereka, bersiap menyemburkan makian padaku
secara serentak──
“──Ya, terima kasih.”
......Tepat saat mereka
hendak menyemburkannya, kalimat singkat itu langsung memadamkan amarah mereka.
“Hah......?”
“Eh, Yu-Yukimura-san?”
Anak-anak perempuan dari
kelompok 'Pengawal Royal' tampak kebingungan. Namun, Mizuki berkata dengan nada
suara yang lembut dan hangat:
“Maaf, ya. Kali ini, aku
akan bergabung dengan kelompoknya Amano-kun.”
Setelah berkata demikian,
dia bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju ke arahku.
Didorong oleh tatapan
matanya yang seolah mengajak pergi, aku berjalan menuju kursi tempat Renji dan
Kashiwagi-san menunggu.
Aku melirik sedikit ke
belakang. Terlihat anak-anak laki-laki dan perempuan yang tadinya tertegun,
akhirnya mulai memahami situasinya.
“H-haaahhh?!”
“Yukimura-san?! K-kenapa?!”
Teriakan yang terdengar
bagaikan keputusasaan. Sosok anak-anak laki-laki yang tersungkur lemas.
Seberapa besar mereka
mempertaruhkan harapan pada perjalanan wisata sekolah ini. Pemandangan itu
memperlihatkannya dengan sangat jelas.
──Ratapan Para Kawula.
Rasanya judul seperti itu sangat cocok untuk gambaran suasana tersebut. Dan
tangisan dari para kawulanya itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Sang Ratu.
“Mohon bantuannya, ya.”
Dia tersenyum lembut
kepada Renji dan Kashiwagi-san.
Mendengar hal itu,
punggung Renji seketika ditegakkan dengan sempurna.
“Mo-mohon bantuannya juga!”
Bagaikan teladan karyawan
teladan, dia membungkukkan badannya tegak lurus sembilan puluh derajat dengan
sangat rapi.
“A-aku juga, mohon
bantuannya, ya.”
Kashiwagi-san pun
menundukkan kepalanya, tampak sedikit gugup.
Mizuki menatap
Kashiwagi-san seperti itu selama beberapa saat.
──Terima kasih.
Sambil menatapku, dia
mengucapkannya hanya melalui gerakan bibirnya.
◇
Lalu, sepulang sekolah. Meskipun
aku sempat waspada terhadap serangan mendadak dari para penggemar Mizuki......
terlepas dari anak-anak laki-laki, secara mengejutkan respons dari anak-anak perempuan
ternyata tidak begitu buruk.
『......Ada
Kashiwagi-san, Miyama-kun, dan Amano-kun, ya.』
『Y-yah, dibanding
anak-anak laki-laki yang penuh niat terselubung, ini sih jauh lebih mending......
Kalau terjadi sesuatu, tinggal tenggelamkan Miyama-kun saja ke Sungai Kamo di
Kyoto.』
『Dua peringkat
teratas murid tampan dan cantik di kelas kita...... Benar-benar memanjakan
mata. Terima kasih atas pemandangannya.』
Anak-anak dari 'Pengawal
Royal' juga tampaknya dengan enggan memberi nilai ambang batas lulus setelah
melihat susunan kelompok kami.
『Hei, Iori......
Aku kan tidak melakukan apa-apa, kenapa malah aku yang mau ditenggelamkan?』
Renji bertingkah cemas
sambil memanggil-manggilku, tetapi aku memilih untuk mengabaikannya
pelan-pelan.
Bagaimanapun juga, aku
berhasil berada di kelompok yang sama dengan Mizuki.
Sisa masalahnya adalah
Kashiwagi-san...... niatnya masih belum kuketahui.
Aku berpikir hubungan kami
sudah benar-benar terputus. Kufikir mulai sekarang, interaksi di antara kami
juga akan semakin berkurang.
......Ya, aku berpikir
demikian, tetapi.
“......”
“......”
Ruang perpustakaan
sepulang sekolah.
Duduk di depan meja
konter, aku dan Kashiwagi-san bertugas menjaga meja resepsionis dalam diam
tanpa bersuara.
(Ah, begitu ya......
Hal seperti ini bisa saja terjadi, kan.)
Hari ini kebetulan jadwal
piket petugas perpustakaanku dan Kashiwagi-san bertepatan. Pemeriksaan stok
buku dan pembersihan ruang perpustakaan sudah selesai dilakukan, sisanya kami
hanya perlu menunggu sampai waktunya selesai.
Singkatnya, tidak ada hal
yang perlu dikerjakan. Namun, kami tidak bisa lagi saling menyapa dengan santai
seperti dulu, sehingga kecanggokan dalam diam ini terus berlanjut.
“......Maaf, ya, Amano-kun.”
Saat aku sedang mencari
jalan untuk memulai percakapan, Kashiwagi-san bergumam pelan.
“Eh?”
“Soal kelompok perjalanan
wisata sekolah, aku memaksa masuk. Pasti menyusahkan, ya?”
“......Tidak, kok.”
Melihat ekspresi wajahnya
yang tampak sedikit ketakutan itu, aku ragu sejenak lalu menggelengkan kepala.
“Sama sekali tidak
menyusahkan. Temanku juga sedikit. Justru aku malah terbantu.”
Aku sengaja mengatakannya
dengan nada bercanda. Mendengar itu, Kashiwagi-san sempat tertegun sejenak
sebelum akhirnya tersenyum.
“Benarkah? Padahal kamu
sukses besar di Mister Contest, bukankah temanmu jadi bertambah?”
“Mana ada. Memang yang
mengajakku bicara jadi sedikit bertambah, tapi...... aku tetaplah diriku. Tidak
bisa semudah itu langsung berteman.”
Saat aku mengatakannya
sambil tersenyum getir, Kashiwagi-san pun tertawa merasa lucu.
Melihat ukiran senyum itu,
bagian dalam dadaku terasa sedikit nyeri.
『Tapi syukurlah......
Amano-kun tidak sampai direbut oleh Yukimura-san.』
......Jika saja, aku
memberitahukan kebenarannya. Apakah gadis ini akan membenciku?
“Rasanya membangkitkan
kenangan lama, ya.”
“Eh?”
“Sampai beberapa waktu
lalu, mengobrol di perpustakaan seperti ini adalah hal yang biasa, kan.”
“......”
Mendengar perkataan itu,
aku teringat akan kejadian satu tahun yang lalu. Baik aku maupun Kashiwagi-san,
kala itu kami berdua masih merasa canggung...... meski begitu, sesekali kami
bertugas piket berdua seperti ini. Masa-masa yang menyenangkan. Bahkan jika
kuingat-ingat kembali sekarang, jujur aku merasa demikian.
“Soalnya aku berpikir,
mungkin kita tidak akan pernah bisa mengobrol lagi untuk kedua kalinya.”
Padahal pasti jauh lebih
baik jika memang begitu, kan, Kashiwagi-san tersenyum dengan raut wajah
kesepian.
(......Ah, sungguh.)
Pada akhirnya, aku memang
tidak bisa menjadi seperti Renji. Rasanya aku tidak akan sanggup untuk bersikap
acuh tak acuh. Perasaan bersalah ini tidak mau sirna.
......Terlebih lagi jika
orangnya adalah gadis ini.
Tak lama kemudian,
Kashiwagi-san tertawa seperti mengejek dirinya sendiri, lalu bersuara riang
seolah ingin mengubah suasana.
“Perjalanan wisata sekolah
nanti, aku sudah tidak sabar, ya. Amano-kun, apa kamu suka Kyoto?”
“Ah...... ya. Aku suka
kuil-kuil Shinto dan Buddha, tapi aku sendiri belum pernah pergi ke Kyoto.”
“Ah, aku juga!
Begini-begini aku lumayan suka mengumpulkan cap kuil, lho. Walau tidak tahu
bisa mengunjungi berapa banyak, aku ingin pergi ke semua tempat yang terkenal.”
Begitulah, percakapan kami
terus berlanjut tanpa terputus hingga jam tutup perpustakaan tiba.
“Selamat datang kembali.”
Dengan langkah kaki yang
terasa berat, aku pulang ke rumah. Di hadapan Mizuki yang menyambut
kedatanganku, aku hanya bisa berdiri terpaku tanpa sanggup mengucapkan sepatah
kata pun.
“......Iori?”
“......Nngg.”
“Ada apa?”
Mizuki mengelus kepalaku
dengan lembut saat aku hanya bisa membisu. Sensasi usapannya itu akhirnya
membuat bahuku tidak lagi tegang.
......Aku telah memilih
cinta pertamaku ini.
Aku tidak menyesali hal
itu sama sekali. Oleh karena itu, perasaan bersalah ini harus secepatnya
kubuang jauh-jauh.
Ketika aku merenggangkan
tubuh, Mizuki menempelkan tangannya dengan lembut di pipiku.
“Sudah tidak apa-apa?”
“......Ya, maafkan aku.”
“Tidak apa-apa. Lagipula,
tadi kamu kelihatan manis.”
Sambil tersenyum begitu,
Mizuki menarik tanganku untuk mengajak kembali ke ruang keluarga.
Sambil ditarik oleh
tangannya, aku kembali ke dalam dunia yang hanya milik kami berdua.
Sejak kecil, dia selalu
berada di sisiku sebagai hal yang wajar. Kehilangan hal itu adalah sesuatu yang
sangat kutakuti sejak dulu.
──Seandainya saja aku
memilih Kashiwagi-san. Apakah tempatku berpulang ini akan sirna? Apakah teman
masa kecilku ini akan pergi jauh dariku?
Hal tersebut terasa jauh
lebih menakutkan dibanding sebelumnya...... bahkan jauh lebih menakutkan
daripada sebelum kami berpacaran.
◇
“Hee, perjalanan wisata
sekolah bersama 2 primadona sekolah, ya. Alangkah mewahnya posisi Anda itu?”
“......Kenapa kamu yang
malah merajuk, sih?”
Saat sedang berlatih di
ruang kebugaran sekolah sepulang sekolah, seorang gadis yang mengaku sebagai
gadis blasteran atletis (haha) datang menantangku. P○kemon kah? Rasanya
memang ada karakter seperti ini.
“Tentu saja karena aku iri!
Aku juga ingin pergi berwisata bersama Mizuki-senpai! Ingin dimanja oleh senpai
idaman!”
“Apa-apaan itu.”
Sambil mengabaikan adik
kelas yang berisik di sampingku ini, aku menekan batang chest press
dengan sekuat tenaga.
Berat. Katanya dalam
latihan beban, beban berat dengan repetisi sedikit lebih baik daripada beban
ringan dengan repetisi banyak...... tapi tetap saja ini amat berat.
“Ah, tidak perlu memaksakan
diri mengangkat beban yang terlalu berat, lho? Kuncinya, beban terbaik adalah
yang bisa diangkat sekitar sepuluh kali. Kalau terlalu memaksakan diri, ototnya
cuma bakal cedera.”
“......Saran itu ingin
kudengar sedikit lebih awal.”
Aku menyerah menekan
batangnya, lalu menurunkan bebannya satu tingkat, klang.
“Ngapain juga sih Senpai
latihan beban segala? Jujur saja, itu bukan tipe Senpai banget, kan?”
Kan daya tarik Senpai itu
tipe yang imut-imut, begitulah saran sok tahu yang dilemparkannya padaku.
Justru karena aku tidak suka dipanggil begitu makanya aku latihan, dasar bodoh.
“Tidak apa-apa. Setidaknya
aku harus melatih tubuhku sedikit.”
Lagipula aku ini anak laki-laki.
Terus-terusan diejek oleh Renji juga membuatku kesal.
Saat aku mengatakannya
sambil memutar bahu, respon yang terdengar hanyalah gumaman cuek seolah tidak
begitu tertarik.
Padahal anak ini sendiri
yang bertanya.
“Yah, walau tidak punya
otot, Senpai kan punya keahlian main piano. Yang itu jauh lebih cocok untuk
Senpai!”
“Berisik.”
“Tidak, tidak, aku ini
sedang memuji, lho.”
Curi-curi, dia
mencolek-colek lenganku yang gemetar akibat latihan beban.
Hei, hentikan.
“Mister Contest kemarin, jujur
saja keren banget. Lagu Moonlight, kan?”
“Terima kasih kalau begitu......
tapi kamu tidak cocok membicarakan judul lagu piano.”
“G-gaduh sekali! Biar
begini, aku ini memang gadis desa yang tadinya lari-larian di dalam gunung!”
Asahi adalah murid
pindahan dari daerah yang datang ke Tokyo melalui jalur beasiswa olahraga.
Menurut pengakuannya
sendiri, daerah asalnya adalah "tempat yang tidak punya apa-apa selain
ladang dan gunung". Aku tidak tahu seberapa pelosok tempat itu, tetapi
sejak datang ke kota besar, setiap hari baginya adalah kejutan budaya yang
tiada henti.
“L-lalu! Apakah Senpai
tidak mau ikut kompetisi piano atau semacamnya?”
“Ada apa tiba-tiba?”
“Banyak anak-anak di kelas
yang bertanya padaku! Entah dari mana, kabar kalau aku dan Senpai itu karib
banget malah bocor.”
“Siapa yang karib dengan
siapa, coba.”
Tolonglah, henti-hentikan
itu. Lagipula, bukankah itu gara-gara kamu yang selalu membicarakan tentangku
di mana-mana?
Baru-baru ini saja, di
koridor terdengar suara lantangmu yang berteriak 『Iori-senpai itu~』. Rasanya saat itu
juga aku ingin langsung pulang saja.
“Jadi, bagaimana?”
Dia mendadak memajukan
wajahnya mendekat. Kenapa anak ini ngotot sekali, sih.
Aku ragu apakah harus
menjawabnya atau tidak, tetapi akhirnya dengan enggan aku membuka suara.
“......Setidaknya, guru
pianoku memang menyuruhku untuk ikut.”
“Ooh!”
“Tapi, aku masih ragu
apakah akan ikut atau tidak.”
Saat aku berkata demikian,
Asahi memiringkan kepalanya dengan bingung.
“Eh, kenapa begitu? Kalau
sudah mendapat jaminan dari guru, ikut saja kan tidak apa-apa.”
“Memang begitu, sih.”
Perkataan Asahi memang ada
benarnya. Trauma yang kualami dulu kini sudah tidak terasa lagi. Jika aku mau
ikut, aku bisa saja ikut. Namun, alasan mengapa aku masih belum bisa
memantapkan hati adalah......
『──Piano milik
Iori, akan terus kudengarkan selamanya.』
Aku yang bertanding di
kompetisi piano. Memainkan piano untuk orang lain selain Mizuki.
......Apakah Mizuki
benar-benar menginginkan hal tersebut?
Aku menggelengkan kepala,
lalu melontarkan alasan yang terdengar masuk akal.
“......Aku kan tidak
berniat untuk menjadi profesional. Dibandingkan kompetisi, belajar untuk ujian
masuk perguruan tinggi jauh lebih penting.”
Meskipun hanya sekadar
alasan, hal itu juga merupakan fakta. Tidak seperti saat Mister Contest waktu
itu, kali ini tidak ada alasan yang jelas. Lagipula, latihan secara
bersungguh-sungguh sambil dibarengi dengan belajar untuk ujian tentu akan
terasa sangat berat.
Namun, mendengar pembelaan
dariku tersebut...... Asahi entah mengapa malah menghela napas dengan raut
wajah yang seolah berkata 'duh, ampun deh'.
“A-ada apa?”
“Astaga...... Senpai
benar-benar tidak ada ubahnya dari dulu, ya. Caper banget.”
“Hah?”
“Dengar ya, Senpai? Aku pun
saat baru keluar dari desa tentu saja merasa takut, tahu! Tapi, kalau kita
tidak mengambil tindakan, jalan hidup kita tidak akan pernah berubah!”
Tidak seperti biasanya,
dia mengatakannya dengan tatapan mata yang sangat serius seakan sedang
mendesakku.
Dalam perkataannya itu,
terasa ada kenyataan yang sungguh menusuk. Hal itu membuatku membisu dan
menyimaknya dengan saksama.
“Kalau ada kesempatan,
Senpai harus mencobanya! Lagipula, kita tidak akan pernah tahu apa yang bakal
kita dapatkan sebelum mencobanya sendiri!”
“......Apakah memang
seperti itu?”
“Memang seperti itu!”
Asahi menegaskannya dengan
mantap. Sama sekali tidak disangka, aku malah penceramahi oleh anak ini.
“Maka dari itu, mulai dari
sekarang tolong ikut aku sebentar.”
“Eh?”
“Ah, tidak ada hak untuk
menolak, ya.”
Sambil berkata demikian,
Asahi mencengkeram tanganku dan menyeretku.
Mau tidak mau, aku pun
diseret pergi tanpa tahu apa tujuan tempat yang akan kami datangi.
“......Lalu?”
“Ya?”
“Apa-apaan tempat ini?”
“Pusat perbelanjaan, tahu!”
Tempat aku diseret pergi
ternyata adalah sebuah pusat perbelanjaan di depan stasiun.
Melihat Asahi yang
membusungkan dadanya yang rata dengan bangga, di dalam hati aku membalas: Kalau
cuma itu aku juga sudah tahu, kali.
“Bukan itu maksudku. Kenapa
kita ke sini?”
“──Senpai. Di sana Senpai
lihat apa?”
Tanpa menjawab
pertanyaanku, Asahi langsung menunjuk ke suatu arah. Arah yang ditunjuknya
tepat berada di tengah-tengah pusat perbelanjaan.
Di atas sebuah panggung
buatan yang tingginya sedikit menonjol, berdiri megah sebuah benda yang tampak
begitu anggun.
“......Itu piano grand,
kan?”
“Yup. Siapa saja boleh
memainkannya kalau punya keberanian.”
“......”
Kalau punya keberanian,
katanya.
Yah, memang benar, sih.
Memainkan piano di tengah-tengah pusat perbelanjaan ramai seperti ini, kalau
bukan orang yang kelewat tebal muka, pasti cuma orang bodoh......
Eh, tunggu sebentar. Jangan-jangan,
anak ini.
“A-Asahi?”
“Ya! Mulai sekarang Senpai
harus memainkan piano di sana!”
Asahi mengatakannya sambil
memasang pose yang seolah-olah diiringi efek suara menggelegar.
Mendengar perkataan itu,
pikirkanku seketika menjadi kosong. Adik kelas satu ini sebenarnya sedang
bicara apa, sih?
“Hal yang kurang dari
Senpai saat ini adalah keberanian untuk melangkah satu tingkat! Oleh karena
itu, ayo!”
“Bukan 'ayo', masalahnya!”
Aku kan sama sekali tidak
pernah bilang mau memainkannya.
Tanpa sadar aku hampir
saja memutar balik langkahku. Namun, melihat hal itu, Asahi malah tersenyum
menyeringai seolah mengejek, 'Arah mana, tuh?'.
“Senpai mau kabur, ya?”
“......Ha?”
“Begitu ya~ Ternyata Senpai
itu cuma anak penakut yang ciut cuma gara-gara piano di pusat perbelanjaan,
ya~?
Pantas saja kalau ikut
kompetisi piano tentu saja tidak akan sanggup, kan~?”
“......”
“Penampilan di Mister
Contest kemarin cuma kebetulan saja, ya~ Aduh, sayang sekali~”
......Mendengar nada
bicaranya yang dibuat-buat dan datar seperti membaca teks itu, aku sadar kalau
wajahku kini mulai menegang.
Jika yang mengatakannya
adalah Renji...... atau, kalaupun harus mengalah seribu langkah, jika Mizuki
yang mengatakannya, mungkin aku masih bisa menahannya. Namun, jika dikatakan
oleh adik kelas yang satu ini, rasanya benar-benar tidak bisa kutoleransi.
Gengsi seorang senior?
Harga diri? Padahal kupikir aku sama sekali tidak memiliki hal semacam itu.
“......Aku akan
memainkannya.”
“Ya?”
“Perhatikan baik-baik. Akan
kubuktikan padamu kalau itu bukan sekadar kebetulan.”
Sambil berkata demikian,
aku melangkah menuju piano. Dari belakang, terdengar sorakan dukungan yang
kelewat asal-asalan seperti "Kyaa, keren banget~". Awas kau ya, ingat
saja nanti.
“Astaga.”
Aku duduk di depan piano,
mengumpat pelan, lalu menarik napas dalam-dalam.
Saat melihat ke
sekeliling, beberapa orang tampak menghentikan langkah mereka sambil menatapku.
Suasana seolah-olah mempertanyakan "Anak itu, apa dia benar-benar mau
memainkannya?" terasa sangat menyengat di kulit.
Sungguh menyiksa. Dalam
artian tertentu, cobaan yang jauh lebih berat ketimbang saat Mister Contest
waktu itu malah datang secepat ini.
(Sialan, persetan lah.
Tinggal mainkan saja, kan?)
Dengan penuh dorongan
nekat, aku menekan tuts pertama.
Lagu yang kupilih tentu
saja──Moonlight Sonata Gerakan Ketiga.
Lagu yang sudah meresap di
dalam tubuhku itu mulai kumainkan seolah meniru penampilanku saat Mister
Contest dulu.
Baru seminggu berlalu
sejak festival budaya itu. Tidak mungkin aku bisa melupakannya begitu saja
dalam rentang waktu singkat.
Tanpa perlu dipikirkan pun
jari-jariku bergerak dengan sendirinya, dan aku hanya bisa membiarkan diriku
hanyut di dalamnya.
......Lalu, waktu pun
berlalu sekitar lima menit.
Tanpa kusadari bahwa aku
telah begitu fokus, saat aku selesai memainkan lagu dan mendongakkan kepala:
──Prok, prok, prok......!
Orang-orang yang tanpa
kusadari telah berkumpul di sekitar panggung seketika bertepuk tangan secara
serentak.
Tanpa sadar mataku
membelalak lebar. Saat melihat ke bawah panggung, terlihat wajah Asahi yang
tersenyum dengan bangga.
(Sejak kapan......)
Bingung harus berbuat apa,
aku pun menundukkan kepala sedikit. Mendapat respons itu, tepuk tangan penonton
malah menjadi semakin riuh.
Sambil memandang ke
sekeliling pemandangan tersebut...... tiba-tiba, bayangan pemandangan saat Mister
Contest waktu itu terlintas di dalam benakku.
『──Waaaaa!!』
Sorak tepuk tangan yang
kupikir tidak akan pernah ada hubungannya dengan hidupku seumur hidup.
Kala itu aku memainkan
piano adalah──demi memberi kepastian pada cinta pertamaku yang telah terpendam
selama bertahun-tahun.
Karena ada perasaan yang
ingin kusampaikan pada Mizuki. Karena aku ingin gadis itu mendengarkannya.
Namun...... apakah hal
yang kudapatkan dari Mister Contest waktu itu benar-benar hanya sebatas itu
saja?
“Bagaimana rasanya, Senpai?”
Sambil menutup penutup
piano, aku menundukkan kepala meminta maaf kepada orang-orang yang meminta
penampilan ulang. Diiringi suara helaan napas kecewa dari penonton, aku turun
dari panggung, lalu Asahi menghampiriku sambil tersenyum-senyum jahil.
“......Apa maksudmu dengan
'bagaimana'?”
“Wajah Senpai kelihatan
seperti bilang 'lumayan juga', tuh?”
Saat dikatakan begitu, aku
mendadak kehabisan kata-kata.
Lalu, tepat pada saat itu.
“──A-anu!”
Dari arah dekat, terdengar
sebuah suara. Ketika aku menoleh, di sana berdiri seorang gadis yang tidak
kukenal.
Apakah dia seorang siswi
SMA? Seragamnya berbeda dengan seragam sekolah kami.
“......Anu, ada apa, ya?”
“M-maaf! Tiba-tiba mengajak
bicara......! Kamu Amano-kun yang ikut Mister Contest di SMA Shirayanagi, kan?”
“Eh...... ya, benar, sih.”
“A-aku memilihmu saat
pemungutan suara! Penampilanmu keren sekali! I-ini, kalau tidak keberatan......!”
“Ha? Tunggu sebentar──”
Gadis itu menyodorkan
selembar kertas ke tanganku, lalu berlari pergi begitu saja sebelum sempat
kuhentikan.
“......”
“......Senpai? Aku
membawamu ke sini bukan untuk tebar pesona, lho?”
“Tunggu, tunggu, bukan
begitu!”
Aku tidak melakukan
apa-apa, loh.
Sambil memikirkan hal itu,
aku melihat selembar kertas di tanganku.
Sebuah ID LINE yang
ditulis dengan tulisan tangan bulat yang imut.
Jujur saja, menurutku ini
agak ceroboh dari sisinya.
“Senpai? Kenapa
tersenyum-senyum begitu? Apa Senpai senang dimintai kontak duluan oleh anak perempuan?”
“B-bukan begitu.”
Aku mendesak mundur Asahi
yang memajukan tubuhnya mendekat.
Sungguh, ini bukan masalah
seperti itu.
“......Asahi.”
“Ya?”
“Diakui oleh orang lain itu......
rasanya membahagiakan, ya.”
Tanpa sadar, kata-kata itu
terucap dari mulutku.
Di Mister Contest waktu
itu, aku memainkannya demi Mizuki. Asalkan Mizuki mendengarkannya, kupikir itu
sudah cukup bagiku. Namun jika dipikir-pikir kembali sekarang...... ternyata
tidak hanya sebatas itu saja. Ketika aku mandi sorak tepuk tangan di Mister
Contest waktu itu,
──Aku memang benar-benar
merasa bahagia.
“Fufun, akhirnya Senpai
sadar juga, ya.”
Asahi membusungkan dadanya
dengan bangga.
Entah mengapa rasanya agak
menyebalkan karena seolah-olah aku termakan oleh rencananya, tapi......
“......Maksudmu, kamu
menyuruhku untuk mencoba ikut kompetisi, kan?”
“Ya!”
Apakah hal itu ada artinya
atau tidak, aku sendiri belum tahu. Namun pastinya, hal yang dikatakan oleh
anak ini ada benarnya.
Berani mengambil
tantangan. Melangkah maju ke depan.
Jika aku ingin bisa
berdiri sejajar dengan teman masa kecilku itu...... aku tidak boleh
menghentikan langkahku di sini.
Sekali lagi, aku membatin
dan menegaskan hal itu di dalam hati.



Post a Comment