Chapter
2
Valse Anak Anjing
“──Iori, ayo makan.”
“Nn.”
Saat jam istirahat
sekolah. Dipanggil oleh Renji, aku menutup buku teks dan berdiri.
Aku melirik sekilas ke
arah Kashiwagi-san. Gadis itu sedang dikelilingi oleh teman-temannya dan keluar
dari kelas sambil tertawa.
“Ada apa? Kalau tidak
cepat, tempatnya akan ramai.”
“Ah, maaf.”
Aku keluar kelas bersama
Renji.
Asalkan dia bisa
tertawa, itu sudah cukup.
Aku mengibaskan perasaan
rumit seperti itu dari benakku. Lalu, saat berjalan di koridor bersama Renji...
tiba-tiba aku merasa ada yang aneh.
“...Ada apa, ya? Kok
rasanya kita sedang dilihatin?”
Laki-laki dan perempuan
yang berpapasan di koridor entah kenapa melirik-lirik ke arahku.
Melihatku yang memiringkan
kepala kebingungan, Renji terkekeh.
“Ini efek Mister Contest.
Bagaimana rasanya jadi orang terkenal?”
“Ugh... ini gara-gara itu,
ya?”
Mendengar perkataan Renji,
aku mencibirkan bibir.
Gara-gara mendapatkan
peringkat ketiga yang sebenarnya tidak pantas untukku, aku jadi dinilai oleh
orang-orang.
“Kenapa aku bisa dapat
peringkat ketiga, ya... Padahal masih ada orang lain. Anak klub basket atau
klub sepak bola, misalnya.”
“Tidak, lah. Kalau disuguhi
penampilan seperti itu di depan mata, ya wajar saja jadinya begitu. Jujur saja,
aku sendiri sempat berpikir itu benar-benar luar biasa... Bagaimana, Iori?
Bagaimana kalau memanfaatkan kesempatan ini untuk berhenti jadi anak antisosial?”
“Jangan ngomong yang
tidak-tidak.”
Mana mungkin berubah
semudah itu.
Meski aku pernah berharap
ingin berubah, sifat bawaan lahir—bagian paling mendasar dari diriku—tidak akan
bisa berubah begitu saja.
Saat aku mendesah pelan,
Renji tiba-tiba membuka suara seolah baru teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong soal
penilaian, Kashiwagi-chan juga──”
Begitu nama itu terucap,
kata-katanya terhenti.
Dia membeku sejenak, lalu
menggaruk kepalanya dengan canggung.
“Hei, Iori.”
“Nn?”
“Soal Kashiwagi-chan...”
Kelanjutan kalimat itu
tidak perlu kudengar lagi untuk bisa kupahami.
Dia pun tidak lepas dari
urusan ini. Kepada Renji, yang juga merupakan teman dari Kashiwagi-san, aku
menundukkan kepala.
“Maaf. Aku rasa, kita tidak
bisa berhubungan seperti dulu lagi.”
“...Begitu, ya.”
Hanya dengan kata-kata
itu, dia sepertinya sudah paham. Dengan ekspresi yang tampak rumit, Renji
menepuk bahuku dengan keras.
“Kalau begitu, untuk
sementara waktu, kita makan berdua antarlaki-laki saja, ya.”
“...Terima kasih, ya.”
“Kenapa malah berterima
kasih, sih?”
Renji tertawa
terbahak-bahak. Aku benar-benar berutang banyak padanya.
Suatu saat nanti, aku
berharap bisa membalasnya dengan sesuatu.
Sambil memikirkan hal itu,
kantin sekolah akhirnya mulai terlihat.
“──Loh? Iori-senpai?”
Terdengar suara yang ceria
dan bersemangat.
Saat aku menoleh, di sana
berdiri seorang gadis berambut hitam pendek.
“Geh.”
“Sebentar, apa-apaan
respons "geh" itu! Tega sekali kepada adik kelas yang imut ini!”
Matanya bulat berbinar
dengan senyuman cerah. Tubuhnya kecil, tetapi bertubuh jenjang. Seorang gadis
yang sangat cocok digambarkan dengan kata kepribadian yang periang dan polos.
[Inoue Asahi].
Dia adalah murid kelas 1 anggota
klub basket. Sejak kami saling kenal karena "suatu kejadian", dia
entah kenapa jadi sangat akrab dan menempel padaku.
“Ooh, Asahi-chan! Kamu
tetap imut seperti biasa, ya. Sudah lama tidak ketemu!”
“Ah, Miyama-senpai! Sudah
lama tidak bertemu! Senpai masih tebar pesona seperti biasa, ya? Bisakah Senpai
tidak mendekat-dekat?”
“Baru juga ketemu, tega
banget, sih?”
Adik kelas yang satu ini
pada dasarnya selalu ceria dan ramah, tetapi dia cukup pedas khusus kepada
Renji.
Alasannya adalah karena
Renji pernah menembaknya hanya dalam waktu 3 detik setelah mereka pertama kali
bertemu.
Menurut pengakuan Renji
sendiri, alasannya sangat ringan: Bukankah adik kelas cantik yang sporty itu
sangat menarik?
Tentu saja dia langsung
ditolak mentah-mentah saat itu juga, dan sejak saat itu dia selalu diwaspadai.
Perempuan jangan
pernah percaya pada laki-laki tampan berambut pirang... Itu persis seperti yang
dikatakan nenek, atau semacamnya.
“Ah, ngomong-ngomong,
Senpai! Maksudnya itu apa, sih!”
“Itu?”
“Mister Contest, lho! Aku
sama sekali tidak pernah dengar kalau Senpai bisa bermain piano!?”
Asahi mendesak mendekat.
Ya, mau dibilang tidak
pernah dengar juga...
“Ya, soalnya aku memang
tidak pernah bilang.”
“Kenapa tidak bilang, sih!”
“Eeh...”
Mana mungkin aku pamer hal
memalukan seperti, "Sebenarnya aku bisa main piano, lho." Lagipula,
kalaupun aku mengatakannya, kamu pasti akan mengejekku dengan berkata, Senpai,
pamer seperti itu agak menjijikkan, lho?
“Gagaga... Anak-anak
perempuan di kelas juga sampai bertanya padaku, "Kira-kira Amano-senpai
sudah punya pacar belum, ya?", jadinya perasaanku agak campur aduk...”
“Ah, anak-anak di kelasku
juga ada yang bilang begitu. Katanya tidak sesuai dengan bayangan mereka atau
apa lah.”
“Nah, itu dia! Maksudku,
aku ingin Iori-senpai itu lebih seperti... mekar secara sembunyi-sembunyi di
balik bayangan!”
“Kalian berdua jangan
seenaknya saja bicara, ya.”
Bukan nah, itu dia!
juga. Jangan seenaknya memberi label karakter yang aneh-aneh pada orang lain. Masing-masing
dari mereka saja sudah merepotkan, apalagi kalau digabungkan, makin merepotkan
saja. Lain kali aku harus berhati-hati agar tidak menyatukan mereka berdua. Aku
memantapkan hati akan hal itu.
“Lalu, Inoue. Kami mau
pergi makan sekarang.”
Maksudku mengatakannya
adalah: Kalau tidak ada urusan lagi, pergilah sana. Namun, adik kelas
itu justru membusungkan pipinya kesal.
“Kenapa Senpai sedikit
memperlakukanku seperti pengganggu, sih! ...Tunggu, Inoue? Kenapa memanggil
dengan nama keluarga?”
“Kenapa, ya...”
Kamu malah
mempermasalahkan bagian situ?
Mana mungkin aku
bilang: "Soalnya aku sudah punya pacar, jadi memanggil anak perempuan lain
dengan nama depannya itu agak..."
Saat aku bingung
memikirkan alasan apa yang harus kuberikan—
“Ha! Jangan-jangan karena
Senpai dapat peringkat ketiga di Mister Contest, Senpai merasa posisimu sudah
terlalu tinggi untuk memedulikan orang sepertiku!? Apa aku ini sudah tidak
berguna lagi!?”
“Bukan begitu, hentikan!
Jangan berteriak hal-hal yang bikin orang salah paham! Semua orang melihat ke
arah kita, tahu!”
Tatapan orang-orang di
sekitar terasa menyakitkan. Mereka seperti sedang berbisik-bisik. Namun Asahi,
sama sekali tidak menyadari pandangan orang-orang di sekitarnya.
“Ti-tidak mau~! Tidak mau,
tidak mau, tidak mau~! Panggil aku "Asahi" seperti dulu lagi!!”
“H-hei, jangan memelukku!”
“Tidak mau~! Aku tidak akan
melepaskannya sampai Senpai memanggil nama depanku~!”
“I-iya, aku paham! Asahi!
Nah, sudah puas, kan?”
“Fufun, baguslah kalau
Senpai paham.”
Asahi langsung melepaskan
tangannya.
Aku bernapas lega dari
dalam hati. Di sampingku, Renji terkekeh jahil. Sungguh... kenapa aku bisa
sangat disukai oleh anak ini, ya?
“Aduh, iri banget aku sama
kamu, Iori-senpai. Disukai sama adik kelas seimut ini.”
“Kalau begitu, mau tukaran?”
“Ah, tidak dulu deh.”
Renji mengangkat kedua
tangannya.
Aku pun bukannya benci
pada anak ini. Hanya saja, rasanya melelahkan.
“Keterlaluan! Padahal Senpai sama
sekali tidak menghargai keberadaanku! Bisa ditemani oleh anak SMA seimut aku
ini, kalau nanti sudah dewasa bisa makan biaya mahal, lho?”
“......”
Aku menatap adik kelas
yang sedang mendongak itu dengan pandangan dingin.
Entah kenapa, aku jadi
merasa khawatir. Anak ini kelak tidak akan ditipu oleh orang aneh, kan? Seperti
pekerjaan paruh waktu mencurigakan berbayar tinggi. Dia kelihatannya tipe yang
bakal menurut saja kalau diiming-imingi.
“...Kamu, kelak kalaupun
ada masalah, jangan pernah tergiur ikut papa katsu, ya?”
“Mana mungkin aku ikut
begitu!? Maksud Senpai apa, sih!”
Aku memikirkan masa depan
adik kelewat polos ini. Selain itu, ada juga klub host. Rasanya dia cuma bakal
jadi sasaran empuk.
Saat memikirkan hal itu,
tiba-tiba aku menyadari bahwa keadaan di sekitar menjadi riuh.
“...Nn?”
“Oh?”
“Ada apa, ya?”
Renji dan Asahi sepertinya
juga menyadarinya. Arah pandangan orang-orang di sekitar.
Saat menyusuri arah
tersebut—
“──”
Seorang gadis cantik
berambut hitam panjang berjalan sambil dikelilingi oleh kelompok pengikutnya
yang seperti biasa. Pintu masuk kantin yang terbilang cukup padat, langsung
terbelah lebar hanya karena dia berjalan melintasinya.
Melihat sosok itu, aku dan
Renji menghentikan pergerakan kami. Namun, adik kelas di sampingku—
“A-apa itu...
Yukimura-senpai? Itu Yukimura-senpai, kan!?”
“Uwah!”
Aku terkejut. Jangan
tiba-tiba berteriak dengan suara keras, lah.
Tanpa sadar aku melotot,
tetapi Asahi tidak menyadarinya sama sekali dan melontarkan suara yang tampak
terpesona.
“Fuwah, Yukimura-senpai
yang asli... C-cantik banget...!”
Asahi mengepalkan kedua
tangannya seolah sangat terharu. Mendengar suara itu, gadis di sebelah sana
juga menyadari keberadaan kami.
“......”
Mata kami saling
bertatapan sejenak. Kemudian, dia tersenyum tipis dan melambaikan tangannya
perlahan.
“...-h!”
Bodoh, apa yang dilakukan
si aneh itu?
“H-hei, Iori. Barusan...”
Saat Renji hendak
mengatakan sesuatu—
“P-Permisi!”
Kesadaranku ditarik
kembali oleh suara yang tiba-tiba melengking.
“...?”
“Yukimura-senpai, kan?”
Mizuki memiringkan
kepalanya menatap gadis bertubuh kecil yang menyapanya itu.
Pada saat itu, pandangan
gadis-gadis di sekitarnya menjadi tajam. Anak ini nekat juga. Berani-beraninya
menerobos ke dalam arena berdarah itu. Laki-laki pun jarang ada yang berani
melakukannya.
“Namaku Inoue Asahi! Kelas 1
SMA! A-anu, aku sudah sering mendengar rumor tentang Senpai... Suatu kehormatan
bisa bertemu denganmu!”
“U-un.”
Mizuki tampak
bingung—suatu hal yang langka—saat Asahi mendadak menempel padanya seperti
seekor anak anjing.
“Fuwah... Dilihat dari
dekat ternyata makin cantik...! Wajahnya kecil banget, matanya besar... A-aku
tahu! Orang seperti Senpai ini dinamakan gadis kelas atas, kan!?”
“Bfuh!”
Renji menyemburkan
tawanya. Dia langsung tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Di
sisi lain, Mizuki menatap ke arahku dengan ekspresi bingung.
Namun, kalau bersikap sok
akrab seperti itu, tentu saja...
“...Siapa? Anak ini?”
“Kenalan Yukimura-san?”
Gadis-gadis kelompok
pengawal yang mengelilinginya menatap Asahi dengan raut wajah tajam seolah
sedang menilai.
Ini bahaya.
Aku pun bergegas maju ke
depan.
“Oi, Asahi.”
Aku menepuk bahunya,
mengisyaratkan untuk melihat situasi sekitar.
“Ha! M-maaf. Aku refleks
merasa terharu... A-anu, kalau boleh, salaman saja juga tidak apa-apa...!”
“Un, boleh kok.”
Mizuki dengan lembut
menggenggam tangan Asahi yang diulurkan secara sopan, tanpa tampak terganggu
sedikit pun.
“Eh, tunggu dulu—”
“Yukimura-san!?”
Suara yang hampir
menyerupai jeritan terdengar dari sekeliling. Namun, Asahi tidak peduli sama
sekali dan meremas pelan tangannya dengan raut wajah sangat terharu.
“Hawah. Halus banget,
lembut... Uuh, beda jauh sama tanganku yang keras gara-gara main basket...”
Asahi meremas-remas lembut
tangan Mizuki dengan kedua tangannya. Para anggota kelompok pengawal mulai
memancarkan hawa membunuh.
...Hal yang bisa dimaklumi
seperti ini memang keistimewaan sesama anak perempuan, ya.
Saat aku melarikan diri
dari kenyataan dengan memikirkan hal tersebut—
“Amano-kun dan yang lainnya
sedang apa?”
Mizuki mengalihkan
pandangannya padaku dan menyapa.
Mendengar itu, aku merasa
ragu sejenak sebelum membalas perkataannya.
“Tidak, kami cuma berniat
makan siang biasa, sih.”
Sebelum akhirnya
diganggu oleh adik kelas bodoh ini.
Sebelum kalimat itu sempat
terucap dari mulutku—
“Ah, Iori-senpai itu, lho?
Sedihnya, dia masih belum punya pacar sampai sekarang dan menjalani masa muda
yang layu, jadi sebagai adik kelas, aku berniat memeriahkannya!”
Si adik kelas bodoh
menyombongkan jiwanya sambil membusungkan dadanya yang rata.
Benar-benar perhatian yang
sangat tidak dibutuhkan. Lagipula, kamu sendiri juga tidak punya pacar, kan?
Saat aku menepuk
kepalanya, dia menatapku dengan mata jengkel sambil mengaduh, “Aduh!”. Pandangan jengkel
seperti itu justru harusnya ditunjukkan olehku.
“Begitu, ya. Kalian akrab
banget, ya.”
Mizuki bergumam sambil
tersenyum tipis, dengan tangannya yang masih digenggam oleh Asahi.
Aku berniat langsung
membantah perkataan itu. Namun entah kenapa, Asahi justru tertawa malu-malu.
“Ya-yah, begitulah. Untuk
saat ini, kami cuma sebatas senior dan junior, sih.”
Dia melirik ke arahku
secara sekilas.
Untuk saat ini itu maksudnya
apa? Sampai kapan pun bakal tetap begitu, tahu.
Aku mengalihkan pandangan
ke arah Mizuki untuk meluruskan perkataan yang memancing prasangka tersebut.
Namun, Mizuki justru sedang menatap Asahi dengan pandangan yang entah kenapa
tampak termenung.
(...Mizuki?)
Saat aku merasa aneh
dengan tatapannya itu—
“Kalau begitu, aku pergi
dulu, ya.”
“I-iya! Terima kasih
banyak!”
Saat hendak pergi, Mizuki
mengelus lembut kepala Asahi, lalu berlalu pergi.
Asahi menatap punggung
Mizuki yang menjauh itu dengan mata berbinar-binar.
“...Oi, Asahi?”
“Fuwah, aku beneran bicara
sama dia... Bagaimana ini. Cantik banget. Wanginya enak banget. Itu dia sang
juara berturut-turut Miss Contest...”
“Ya walau gadis itu memang
agak spesial, sih. Tapi Asahi-chan juga cukup imut, kok.”
“Fufu, aku harus pamer ke
teman-teman. Eh, aaah! Harusnya tadi aku minta foto bareng!”
Asahi benar-benar
mengabaikan godaan ala laki-laki tebar pesona milik Renji, lalu tenggelam dalam
euforianya sendiri.
Sambil membiarkan mereka
berdua, aku berjalan menuju kantin sekolah dengan perasaan yang sedikit lelah.
──Lalu, setelah selesai
makan siang.
Aku sendirian berjalan menuju atap sekolah.
Sebenarnya tempat itu dilarang masuk. Namun, karena kuncinya rusak, siapa pun bisa masuk dengan mudah.
...Giii...
Aku membuka pintu atap perlahan-lahan. Lalu di sana, tampak sosok seseorang yang sudah datang lebih dulu.
“...-h!”
Melihat pemandangan itu, aku sampai menahan napas. Seorang gadis bersandar di pagar dengan rambut hitam panjangnya yang berkibar tertiup angin.
Pemandangan yang begitu fantastis dan indah. Tak lama kemudian, dia berbalik perlahan ke arahku. Mata kami saling bertatapan. Melihatku yang berdiri terpaku, dia tersenyum tipis.
“Di sini dilarang masuk, lho, Amano-kun?”
“...Kamu juga sama bersalahnya kok, Yukimura-san.”
Kami sengaja saling memanggil dengan nama keluarga.
Tidak ada orang lain di sini. Namun saat berhubungan di sekolah, aku selalu memintanya untuk memanggilku dengan nama keluarga.
...Padahal untuk membujuknya soal hal itu, aku harus berjuang cukup keras.
“Ada apa? Tiba-tiba memanggilku ke sini.”
Saat aku berjalan mendekat ke sampingnya, Mizuki menyapaku dengan suasana santai yang sama persis seperti saat di rumah.
Sambil makan siang tadi, aku sempat mengirim pesan LINE kepadanya. Meskipun penyampaianku berkesan "kalau memungkinkan", sepertinya dia berhasil meloloskan diri dengan baik.
“...Soal Asahi. Maksudku supaya kamu tidak salah paham.”
“Salah paham?”
“Maksudku, anak itu jaraknya terlalu dekat denganku. Tapi sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa di antara kami kok.”
Malahan, kenapa aku bisa disukai sampai sejauh itu olehnya? Aku sendiri pun tidak tahu. Hanya saja, menurutku punya jarak sedekat itu padahal sudah punya kekasih memang tetap tidak baik.
“Tidak apa-apa. Aku tidak memikirkannya, kok.”
“Be-begitu, ya?”
“Karena aku percaya padamu, Iori.”
Setelah bergumam demikian, Mizuki mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan kota yang terlihat dari pagar. Dari profil samping wajahnya, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Seraya merasa sedikit kecewa karena reaksinya biasa saja, aku pun mengutarakan satu hal lain yang mengganjal di hatiku.
“...Tolong sampaikan hal yang baik juga soal Asahi kepada gadis-gadis di kelompok pengawalmu, ya.”
“Un.”
Skenario terburuknya, ada kemungkinan Asahi bakal dijadikan sasaran empuk.
Saat SMP dulu, hal-hal seperti itu sering kali terjadi. Bayangan pemandangan itu terlintas di benakku. Tanpa sadar aku mengerutkan wajah, lalu menggelegengkan kepala pelan. Kemudian aku berdiri berdampingan dengan Mizuki, memandangi pemandangan dari atap sekolah.
“...Semua orang memuji Iori, lho.”
Saat aku memandangi pemandangan di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mizuki bergumam.
“Nn?”
“Katanya, penampilan pianomu di Mister Contest keren banget.”
“Aah...”
Membicarakan hal itu, ya? Aku jadi teringat keributan tadi pagi. Sampai saat ini, sudah tak terhitung berapa banyak orang yang memujiku.
“Apakah kamu senang, Iori?”
“Nn...”
Ditatap oleh Mizuki, aku pun berpikir.
Memang benar, kalau kubilang tidak senang, itu bohong. Dipuji oleh orang sebanyak itu. Diakui oleh mereka. Hal seperti itu adalah yang pertama kali bagiku. Hanya saja... satu hal yang pasti bisa kukatakan adalah:
“...Aku main piano bukan demi mereka, kok.”
Aku memalingkan wajah dan bergumam. Mendengar perkataan berbelit-belit itu, Mizuki mengedipkan matanya sejenak.
“...Fufu.”
“Kenapa?”
“Tidak ada apa-apa. Terima kasih, ya.”
Dia tersenyum tampak senang.
“Sudah waktunya kembali. Jam istirahat sepertinya hampir selesai.”
“Un.”
Menanggapi Mizuki yang mengangguk, aku berjalan menuju pintu keluar atap. Namun pada saat itu, sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benakku.
“...Mizuki.”
“Nn, ada apa?”
Mengenai hubunganku dengan Mizuki yang sekarang menjadi seperti ini...
Aku harus melaporkannya kepada orang itu.
“Sepulang sekolah hari ini... maukah kamu pergi menemui Tokiko-sensei bersamaku?”
Saat aku menanyakan hal itu, Mizuki jeda sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.
◇
Setelah sekolah selesai. Aku berjanji janji temu dengan Mizuki, lalu kami turun di stasiun yang berjarak sekitar dua stasiun dari rumah kami. Tempat yang biasa kudatangi sampai lulus SMP. Namun sejak masuk SMA, aku sengaja menghindarinya.
Kalau dipikir-pikir sekarang... sepertinya kegagalan di kompetisi bukanlah satu-satunya alasan. Perpisahan yang suatu saat akan datang. Saat di mana aku harus berpisah dengan teman masa kecilku. Tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan ini pasti hanya akan terasa menyakitkan bagiku.
“Nah, silakan untuk kalian berdua.”
Bersamaan dengan suara lembut itu, teh dan camilan disajikan di depan kami. Mendapati hal itu, aku mengucapkan terima kasih seperti biasa, dan Mizuki pun menganggukkan kepalanya pelan.
“Terima kasih.”
“Terima kasih banyak.”
Mizuki tampak sedikit canggung. Jarang sekali dia menunjukkan ekspresi seperti ini.
Katanya, Mizuki juga tidak pernah bertemu Tokiko-sensei lagi sejak lulus SMP.
...Padahal Mizuki tidak perlu ikut-ikutan menjaga jarak padanya. Namun, meski ini adalah pertemuan kembali setelah sekitar 2 tahun, reaksi Tokiko-sensei persis seperti yang kubayangkan.
『──Aah, kamu makin cantik saja ya, Mizuki-chan.』
Tanpa heboh berlebihan ataupun memuji-muji setinggi langit. Beliau hanya tersenyum gembira karena kami sudi datang menemuinya.
Padahal biasanya, orang-orang di hadapan Mizuki akan bersikap kelewat cari muka atau merasa segan padanya.
Memang khas beliau. Begitulah pikirku.
“Lalu, Iori-kun?”
“Ya?”
“Mengajak Mizuki-chan ke sini... berarti ibu boleh menganggapnya seperti itu, kan?”
Beliau bertanya dengan nada menggoda dan senyum terkembang.
Mendengar itu, aku sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk enggan.
“...Iya. Kami... sudah berpacaran.”
“Ara ara.”
Dengan raut wajah yang memancarkan kegembiraan penuh, Sensei menangkupkan kedua tangannya di pipi.
...Tetap saja rasanya malu. Terlebih karena beliau adalah orang yang sudah mengenalku sejak kecil.
“Baguslah kalau begitu, Mizuki-chan.”
“Iya.”
Dengan ekspresi lembut, Sensei mengatakannya kepada Mizuki.
Mizuki pun mengangguk menanggapi ucapan itu. Namun, aku justru merengut kebingungan.
“Anu, bukannya ucapan "baguslah" itu harusnya ditujukan padaku?”
Kenapa malah ke Mizuki?
Saat aku menanyakan hal itu, entah kenapa mereka malah menatapku dengan pandangan terheran-heran.
“Astaga... Iori-kun? Kalau kamu kelewat tidak peka, nanti bisa-bisa ditinggalkan, lho?”
“Eh?”
“Padahal Mizuki-chan dari dulu cuma setia padamu, lho.”
Benar, kan?
Beliau menoleh ke arah Mizuki. Saat aku melihat ke samping, Mizuki mengangguk pelan.
“Soalnya Iori memang tidak peka.”
“Benar, kan? Padahal sudah sejelas ini.”
“......”
Aku ditatap lekat-lekat oleh mereka berdua. Rasanya benar-benar sangat canggung dan tidak nyaman. Meskipun dibilang begitu... habisnya, selama ini dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu...
Saat aku kebingungan, Sensei tersenyum jahil lalu bertanya:
“Mizuki-chan, memangnya Iori-kun bilang apa waktu menyatakan cintanya?”
“Eh...”
“Tunggu, tunggu, tidak usah dibilang!”
Tahan, aku terburu-buru menghentikannya. Melihatku yang panik karena pertanyaan yang tidak-tidak itu, Sensei tertawa dari lubuk hatinya yang paling dalam.
──Setelah itu, sambil terus-menerus digoda, kami bertiga menghabiskan waktu bersama seperti masa lalu.
Makan camilan, mengobrol dan didengar oleh Sensei, lalu bermain piano. Sama seperti masa-masa itu, Mizuki duduk manis di kursi khusus tempat favoritnya dahulu sambil mendengarkanku bermain piano.
『Ara ara, kenangan yang rindukan ya.』
Sensei tersenyum gembira bergumam demikian.
Setelah itu kami disuguhi makan malam... dan tanpa terasa, waktu sudah cukup malam saat kami keasyikan mengobrol berbagai hal.
Saat kami menyampaikan niat untuk pamit pulang, Sensei tampak sedikit sedih.
“Maaf ya, kami sampai disuguhi makan malam segala.”
“Tidak apa-apa, kok. Datang lagi, ya? Mizuki-chan juga.”
“Iya.”
Mizuki mengangguk pelan kepada Sensei yang mengantar kami sampai ke pintu depan. Menurutku, memang pilihan yang benar mengikutkannya ke sini. Sensei... dan Mizuki pun tampak senang.
“Kalau begitu, kami permisi.”
Saat aku menundukkan kepala perlahan dan hendak meninggalkan rumah Sensei—
“──Iori-kun.”
Dipanggil dengan suara pelan seperti itu, aku pun menoleh.
“? Ya?”
“Itu, lho... ini sebenarnya cuma sekadar usul, sih...”
“...?”
Saat aku memiringkan kepala melihat Sensei yang tidak biasanya tampak ragu-ragu untuk berbicara—
“──Kompetisi. Maukah kamu mencoba ikut lagi?”
◇
Setelah pulang ke rumah. Aku berbaring melamun di atas sofa sambil berpikir.
Seharian ini, Sensei tampak gembira dari awal hingga akhir. Sebaliknya, hal itu justru menjadi bukti betapa kesepiannya beliau selama ini... rasanya sedikit menyakitkan.
Tokiko-sensei itu lajang. Bagi beliau, kami berdua mungkin sudah seperti anak kandungnya sendiri. Mulai sekarang, aku harus lebih sering menjenguknya.
Saat aku memikirkan hal itu—
“──Sedang memikirkan sesuatu?”
Dari atas sofa, Mizuki mengintip ke arahku. Paras cantiknya memenuhi sudut pandangku. Sampai sekarang pun, kalau melihatnya dari jarak sedekat ini, rasanya napasku hampir berhenti. Tercium aroma manis dari rambutnya, dan sambil berusaha keras mempertahankan ekspresi datar, aku membuka suara.
“...Aku berpikir, ternyata selama ini kita membuat Tokiko-sensei merasa kesepian, ya.”
“...Nn, benar juga.”
Mendengar perkataanku, Mizuki pun mengangguk. Baik aku maupun Mizuki, sejak kecil selalu dirawat oleh beliau. Kami dilimpahi kasih sayang olehnya.
...Setidaknya, lebih dari ibu kandung Mizuki sendiri.
Maka dari itu—
“Lain kali, ayo main ke sana lagi bersama-sama.”
“Un.”
Setelah membuat janji kecil itu, aku melemaskan seluruh tubuhku. Rasanya ada sentuhan lembut di kepalaku. Saat aku membuka mata sedikit, Mizuki sedang mengelusku dengan lembut. Usapan itu terasa nyaman hingga membuat kelopak mataku tertutup.
『──Kompetisi. Maukah kamu mencoba ikut lagi?』
Perkataan yang diucapkan Tokiko-sensei terlintas kembali di kepala.
“...Kompetisi, ya.”
Jujur saja, aku sama sekali tidak pernah memikirkannya.
Mister Contest. Menyatakan perasaan pada Mizuki.
Mengenai apa yang akan terjadi setelah semua itu selesai... aku bahkan tidak punya luang pikiran untuk memikirkannya.
(Tapi, begitu ya... ternyata aku masih bisa melanjutkannya.)
Trauma itu sudah berhasil kulewati. Jika aku yang sekarang naik ke atas panggung lagi, aku tidak akan membeku seperti waktu itu.
Kalau begitu, apakah aku... harus mencoba menantangnya sekali lagi?
“Kamu ingin ikut kompetisi?”
Mizuki menangkap gumamanku dan menanyakannya.
Mendengar itu, aku pun berpikir. Jika ditanya apakah aku ingin ikut atau tidak—
(...Perasaan ingin mencoba ikut sih, memang ada.)
Aku ingin menguji sejauh mana kemampuanku yang sekarang. Namun, perasaan itu rasanya sangat "ringan" bagi diriku yang sekarang. Aku tidak memiliki motivasi yang jelas... ataupun "gairah" seperti saat Mister Contest waktu itu.
“...Kalau Mizuki sendiri, bagimana?”
“?”
“Apakah kamu senang kalau aku ikut kompetisi?”
Saat aku menanyakan hal itu, Mizuki sedikit menyipitkan matanya. Lalu, setelah jeda sejenak.
“Entahlah... mau ikut atau tidak, bagiku sama saja tidak ada yang berubah.”
“...Tidak ada yang berubah?”
Aku memiringkan kepala mendengar jawaban yang tidak terlalu kupahami.
“Meski tidak ikut kompetisi pun, aku akan selalu mendengarkan alunan pianomu.”
“......”
“Kalau cuma begitu, masih belum cukup?”
Paras cantik di depanku membisikkan kata-kata manis. Suara yang seolah sanggup melelehkan otak itu membuat jalannya pikiranku lambat.
Ah, benar juga. Persis seperti yang dikatakan Mizuki.
Pada akhirnya, alasanku bermain piano adalah demi teman masa kecilku ini. Asalkan anak ini mau mendengarkannya, bukankah itu saja sudah cukup? Aku jadi berpikir demikian.
“Iya... sebenarnya, harusnya begitu saja sudah cukup, ya.”
Mendengar perkataanku, Mizuki memiringkan kepalanya. Apa yang dikatakan Mizuki memang tidak salah. Hal yang benar-benar kuinginkan dari lubuk hati yang paling dalam pasti hanya itu.
...Namun.
“Tapi, aku harus berubah.”
Ada Mizuki, ada Tokiko-sensei, dan segalanya telah terpenuhi. Kalau aku terus memanjakan diri dalam kenyamanan ini, aku pasti akan menyesal nantinya. Perasaanku mengatakan demikian.
“Bahkan jika kubilang, aku menyukai Iori yang apa adanya seperti sekarang ini?”
“...Iya.”
Aku tersenyum getir. Justru karena dia terus memanjakanku seperti ini, aku jadi makin lemah.
“Soalnya, aku ingin bisa menerima diriku sendiri.”
“...Begitu, ya.”
Bergumam demikian, Mizuki menarik tubuhnya dari sisiku.
Apakah jawaban ini berbeda dari apa yang dia harapkan? Meskipun begitu, menurutku hal ini memang diperlukan.
Bagaimana pun bentuknya, aku harus terus melangkah ke depan. Agar tidak tenggelam dalam kasih sayang manis yang diberikan Mizuki, aku sekali lagi memperingatkan diriku sendiri.
(Seandainya... aku ikut kompetisi dan berhasil menorehkan suatu pencapaian...)
Apakah aku akan bisa lebih membanggakan diriku sendiri dibandingkan yang sekarang?
◇
SIDE : Kotoha
“...Haaah.”
Aku berguling di atas tempat tidur kamar dan menghela napas yang kesekian kalinya, sampai-sampai aku sendiri sudah lupa hitungannya.
──Satu minggu telah berlalu sejak Festival Shiroyanagi waktu itu.
Luka akibat patah hati yang belum juga sembuh ini membuatku hanya menghabiskan hari demi hari tanpa melakukan apa pun yang berguna.
(...Padahal kalau di sekolah, aku bisa bersikap biasa saja, sih.)
Tidak ada yang mengatakan apa-apa padaku. Kurasa aku berhasil menyembunyikannya dengan cukup baik. Namun, begitu sampai di rumah, semuanya menjadi kacau. Aku tidak punya gairah untuk melakukan apa pun, dan buku teks serta catatan yang terbentang di atas meja hampir tidak pernah kusentuh sejak seminggu yang lalu.
Ujian masuk perguruan tinggi tinggal 1 tahun beberapa bulan lagi. Padahal aku harus berjuang.
“──Kotoha-chan~? Sampai kapan kamu mau mengurung diri terus~?”
“......”
Di luar kamar, terdengar suara kakak perempuanku.
Sambil tetap berbaring di tempat tidur, aku meringkuk ke dalam selimut seolah berusaha melarikan diri.
“Makan malamnya sudah siap, lho~?”
“...Aku tidak nafsu makan.”
Saat aku mengatakannya dengan suara yang hampir tak terdengar, ketukan pintu berlanjut kembali. Karena merasa jengkel, aku mengabaikannya, tetapi dia malah membuka pintu sendiri tanpa izin dan masuk.
“...Jangan masuk sembarangan.”
Seorang mahasiswi berambut cokelat panjang, dengan mata terkulai yang sangat mirip denganku, dan memancarkan santai yang terkesan linglung. Berbeda denganku yang pemalu sejak kecil, meskipun gayanya santai dan linglung, segala hal yang dilakukannya selalu terkesan mencolok dan berani.
...Jujur saja, dia adalah tipe kakak perempuan yang agak sulit kuhadapi.
“Ara~ kamu sedang murung, ya? Ah, jangan-jangan... kamu ditolak oleh laki-laki yang itu, ya?”
“-h!?”
Mendengar perkataan itu, aku mendadak tersentak dan menegakkan tubuhku.
“Ke-kenapa... bisa tahu...?”
“Gimana tidak tahu? Padahal kamu dapat juara 2 Miss Contest, tapi pulang-pulang malah pasang raut wajah sedalam dan semuram itu, siapa pun pasti bakal langsung paham.”
Kakakku mengatakannya dengan nada geli. Aku hanya bisa melotot tak percaya mendengarnya.
“Amano-kun, kan? Anak yang main piano di Mister Contest itu, kan? Wajahnya memang tampan, sih, pasti dia populer banget. Tipe seperti dia sepertinya agak cocok juga dengan selera Kakak.”
“-h!? Ti-tidak boleh!”
Aku refleks menaikkan nada suaraku.
Kakakku ini, dari luar memang tampak berpenampilan polos dan memiliki aura yang kekanak-kanakan, tetapi kenyataannya dia adalah tipe pemangsa yang luar biasa ganas.
Setahuku saja, jumlah laki-laki yang pernah berpacaran dengannya sudah tidak bisa dihitung hanya dengan jari kedua tangan.
Kalau laki-laki seperti Amano-kun sampai diincar oleh kakakku ini, dia bisa-bisa bakal langsung dilalap habis...!
Melihatku yang panik seperti itu, kakakku tertawa geli dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Fufu, tenang saja. Kakak tidak akan merebut laki-laki berharga kepunyaan Kotoha-chan, kok.”
“...-h.”
Dia mengelus kepalaku lembut. Wajahku mendadak terasa panas membara.
...Sejak dulu memang selalu begitu. Kakakku ini selalu memperlakukanku yang kaku dan serba tidak cekatan ini seperti seorang anak kecil.
Aku benci bagian dari dirinya yang seperti itu... dan aku jauh lebih benci diriku sendiri karena selalu saja bermanja-manja padanya.
“Lalu~? Kotoha-chan dibilang apa sampai bisa ditolak begitu?”
Sambil terus mengelus kepalaku, Kakak kembali ke topik pembicaraan sebelumnya.
Setelah agak ragu, akhirnya aku... mengutarakan isi hatiku secara enggan.
“...Soalnya dia bilang, ada gadis lain yang disukainya.”
“Ara~”
“Katanya sih, teman masa kecil. Tapi aku tidak tahu siapa orangnya.”
Sudah tidak ada gunanya lagi disembunyikan, pikirku sambil mengaku.
Benar. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Gadis yang disukai Amano-kun itu siapa, di mana, dan seperti apa sosoknya. Namun mendengar hal itu, Kakak justru menghela napas pasrah.
“Ke-kenapa?”
“...Kotoha-chan~ Mengapa kamu sama sekali tidak melakukan riset tentang rivalmu, sih~? Kalau begitu caranya, kamu bakal kalah sebelum bertarung, tahu?”
“T-tapi! Amano-kun kelihatannya agak enggan membicarakannya...”
“Mouu, justru karena kamu langsung mundur makanya tidak berhasil! Cinta itu kan perang. Padahal kamu punya buah dada yang bagus begitu, harusnya kamu desak sampai dia buka suara walau harus sambil menempelkannya!”
“D-dada tidak ada hubungannya, kan!?”
Aku langsung menutupi dadaku dengan kedua tangan secara reflek.
Jahat sekali. Padahal ini salah satu bagian tubuh yang bikin aku rendah diri. Teman perempuan suka sekali menyentuhnya, dan anak laki-laki selalu memandanginya lekat-lekat. Sama sekali tidak pernah ada hal menyenangkan dari memiliki bagian tubuh ini.
Melihat mataku yang mulai berkaca-kaca, Kakak tersenyum getir seolah tak punya pilihan lain.
“...Begini ya, Kotoha-chan. Kamu memang anak yang jujur dan baik hati, berbeda denganku... Tapi kalau kamu terus-terusan jadi anak baik seperti ini, kamu pasti cuma bakal menanggung kerugian, tahu?”
“......”
“Dunia ini tidak cuma diisi oleh anak-anak baik seperti Kotoha-chan. Kalau kamu tetap begini, Kakak yakin kamu pasti akan menyesal nantinya.”
“...I-itu...”
Mendengar perkataan itu, aku tidak mampu membalas apa pun.
Memang ada hal yang terlintas di pikiranku terkait kata-katanya. Bahkan, situasiku yang sekarang ini adalah bukti nyatanya. Orang yang sangat kusukai telah direbut oleh seorang gadis yang bahkan aku tidak tahu wajah maupun namanya.
“...Aku tidak mengerti. Meskipun Kakak bilang begitu.”
Aku memeluk bantal erat-erat. Melihat reaksimu yang seperti itu, Kakak entah kenapa malah memelukku dari samping.
“Fufu, Kotoha-chan imut banget, ya.”
“...-h.”
Berisik. Biarkan aku sendiri. Kata-kata itu hampir saja keluar dari mulutku, tetapi langsung kutelan kembali. Jika aku merajuk seperti itu, rasanya malah akan makin terlihat menyedihkan.
“Hei, Kotoha-chan.”
“Apa?”
“Kamu sendiri sebenarnya ingin bagaimana?”
“......”
“Mau menyerah begitu saja lalu mencari laki-laki lain?”
Mendengar pertanyaan langsung itu, aku membenamkan wajahku ke dalam bantal.
Apakah aku ingin menyerah, atau tidak? Jika ditanya begitu...
“Aku tidak... ingin menyerah.”
“Nn?”
“Aku tidak ingin menyerah.”
Pada awalnya, aku hanya berpikir bahwa dia adalah seorang laki-laki yang tampan. Namun, setelah bekerja bersama sebagai anggota komite perpustakaan, dia ternyata orang yang bersungguh-sungguh, pekerja keras, dan punya sisi yang agak canggung.
Hingga akhirnya...
『Menurutku kamu tidak perlu membandingkan diri.』
『Kashiwagi-san itu anak yang luar biasa. Kamu punya banyak daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh Yukimura-san.』
Percakapan yang kuucapkan bersama Amano-kun waktu itu, sampai sekarang pun masih terus kuingat.
“Soalnya, cuma Amano-kun satu-satunya... yang benar-benar memperhatikanku.”
“...Begitu, ya.”
“Tapi, Amano-kun itu...”
Laki-laki itu sudah pergi ke tempat gadis lain. Teman masa kecil yang selalu dibilang sangat disukainya. Besarnya perasaan itu, mau tidak mau bisa kurasakan.
...Pasti alunan Sinar Rembulan waktu itu juga dimainkan demi gadis tersebut, pikirku.
“Bukannya kamu tidak perlu menyerah sama sekali?”
“Eh...?”
“Dia kan belum menikah. Kalau kamu benar-benar suka, rebut saja, kan selesai?”
“A... A-apa-apaan bicara begitu!”
Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu.
Melihatku yang panik, Kakak tersenyum tipis. Senyuman itu terasa begitu dewasa, dan entah mengapa memancarkan pengalaman yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan denganku.
“Dengar ya, Kotoha-chan? Kakak akan katakan sekali lagi. Kalau kamu terus-terusan jadi anak baik seperti ini, kamu tidak akan pernah mendapatkan apa pun, tahu?”
Hanya meninggalkan pesan itu, Kakak mengakhiri wejangannya dan berjalan keluar dari kamar.
“......”
Tinggal aku seorang diri yang tersisa di kamar dalam keadaan bingung.
『──Kalau kamu terus-terusan jadi anak baik seperti ini, kamu tidak akan pernah mendapatkan apa pun, tahu?』
Satu kalimat itu benar-benar melekat di kepalaku.
Amano-kun sudah punya pacar. Lagi pula, dia adalah teman masa kecil yang sudah lama disukainya. Dia pasti bahagia bisa berpacaran dengan orang itu. Merebutnya... aku tidak ingin menjadi manusia sejahat itu.
Namun...
“...Aku tidak ingin... menyerah.”
Itulah perasaan sejujurnya yang murni tanpa rekayasa. Aku tidak tahu harus bagaimana. Namun, jika masih ada sedikit kemungkinan...
“......”
Aku refleks mengambil tas sekolahku dan mengaduk-aduk isinya. Yang kutinggalkan dan kuambil adalah sebuah kertas bertuliskan "Pemberitahuan Studi Wisata".
Sejak kelas 1, aku diam-diam sudah menantikannya. Berharap jika beruntung, aku bisa satu kelompok dengan orang yang kusukai.
(...Studi wisata, ya.)
Aku belum memiliki keberanian. Namun, jika ini bisa menyelesaikan perasaanku—
“Kotoha-chan, ayo makan~”
“Ah, sudah-sudah, aku datang sekarang!”
Memotong jalan pikiranku itu, aku pun beranjak keluar dari dalam selimut.




Post a Comment