Penerjemah: Kaori Translation
Proffreader: Kaori Translation
Interlude 1
Hasrat Tersembunyi Cyril
Waktu kembali ke malam setelah pelaksanaan latihan praktik di dalam dungeon.
"...Benar-benar... aku melihat sesuatu yang sulit dipercaya."
Di sebuah kamar asrama putri Akademi Sihir Aurora. Setelah selesai mandi, aku, Cyril Felix, mengeringkan rambutku dengan handuk sambil mengingat kembali pemandangan yang kulihat siang tadi.
Itu adalah kejadian beberapa jam sebelumnya, di Labirin Bawah Tanah Aurora—
Saat itu, ketika aku sedang menuju lantai terdalam dungeon, aku berpapasan dengan teman-teman sekelas yang melarikan diri dengan wajah pucat.
Dari mereka aku mendengar bahwa Goblin Lord yang muncul di lantai terdalam ternyata adalah varian mutan, monster mengerikan yang jauh melampaui dugaan. Dan demi memberi kesempatan semua orang melarikan diri, Alphiria dan pelayannya, Shinya, bertahan sebagai umpan dan sedang bertarung melawannya.
(Dasar Aria bodoh! Meskipun kau jenius, mana mungkin kau bisa menghadapi monster mutan itu hanya berdua dengan pelayan yang cuma menjadi beban!)
Meski merasa kesal, firasat buruk membuatku bergegas menuju aula besar.
Dan ketika aku tiba, pemandangan pertama yang kulihat adalah sahabatku yang wajahnya dipenuhi keputusasaan setelah kehabisan mana di hadapan monster mutan itu.
(Kalau begini terus, Aria akan...!)
Aku harus menolongnya.
Saat tangan hendak meraih tongkat-pedangku, ada seseorang yang bergerak lebih cepat dariku.
Dia tidak lain adalah Shinya, pelayan Alphiria yang dalam pengukuran mana tadi hanya memperoleh nilai 5.
Dengan tubuhnya sendiri, ia memeluk Alphiria dan berhasil menghindarkan mereka dari hantaman mematikan Goblin Lord tepat pada detik terakhir.
(Bagus sekali, Tuan Pelayan! Sisanya biar aku yang—!)
Saat aku hendak melompat untuk membantu mereka—
Pikiranku berhenti total karena menyaksikan sesuatu yang sama sekali tak terduga.
Di tengah situasi hidup dan mati, saat gada raksasa sang malaikat maut telah terangkat di atas kepala mereka...
Entah bagaimana, keduanya saling memandang seolah tertarik satu sama lain, saling memeluk erat, lalu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam.
(T-tunggu... hah!? Aria, di saat seperti ini kau sedang apa!?)
Tepat pada detik berikutnya.
Dugun! Suatu denyut yang begitu kuat hingga membuat udara di aula besar bergetar bergema, dan dari tubuh mereka yang saling bertaut, meledaklah arus panas dan mana yang luar biasa dahsyat.
Gada sebesar batang pohon milik Goblin Lord terpental oleh dinding panas tak kasatmata lalu hancur berkeping-keping.
Namun itu bukanlah mana milik Alphiria. Melainkan mana yang menyembur keluar dari tubuh Shinya—orang yang seharusnya hanya memiliki mana sebesar butiran kacang.
Akan tetapi, lebih daripada fenomena aneh itu, lebih daripada besarnya mana yang melampaui nalar...
Yang benar-benar membuat mataku terpaku adalah sosok sahabatku yang berada di pusat pusaran panas itu.
"...Ah... aa..."
Suara lirih Alphiria yang samar terdengar, membuat sensasi manis merambat di sepanjang tulang punggungku.
Biasanya Alphiria adalah "si cantik yang tak tersentuh", sosok yang selalu anggun dan sedingin es terhadap siapa pun.
Namun saat itu, matanya basah dan setengah terpejam. Sudut bibirnya mengendur tanpa daya, sementara ia terus merapatkan tubuhnya pada Shinya seakan memohon lebih banyak ciuman.
Wajahnya bagaikan wajah seorang wanita yang seluruh akal sehatnya telah larut dalam kenikmatan.
(A-apa... itu...?)
Melihat ekspresi Alphiria yang belum pernah kulihat sebelumnya, aku hanya bisa tertegun.
Sampai Shinya melepaskan Alphiria, berdiri, lalu memusnahkan Goblin Lord mutan dengan sihir yang berada jauh di luar batas kewajaran...
Tatapanku terus terpaku pada sahabatku yang terduduk lemas, tubuhnya masih dipenuhi sisa-sisa panas.
Pelukan yang terasa begitu panjang itu akhirnya berakhir ketika Shinya dengan lembut mendorong bahunya.
Chu...dengan suara kecil, bibir mereka terpisah.
Alphiria menggenggam erat bagian dada pakaian Shinya seolah enggan melepaskannya, lalu menatapnya dengan mata yang masih berkabut seperti orang yang sedang bermimpi.
Shinya mengusap kepalanya dengan lembut sebelum berdiri dan menghadap Goblin Lord. Pada saat itu atmosfer yang menyelimuti dirinya berubah drastis.
(...Eh?)
Suasana manis yang memenuhi ruangan seketika lenyap. Sebagai gantinya, tekanan mana yang begitu besar hingga terasa membakar kulit menguasai seluruh aula.
Shinya mengambil tongkat-pedang yang terjatuh milik Alphiria, lalu menggunakan sihir elemen api yang menjadi keahlian Alphiria.
Namun kekuatannya berada pada tingkat yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya.
Dalam sekejap, Goblin Lord mutan itu lenyap tanpa meninggalkan jejak, berubah menjadi abu.
Kekuatan penghancur yang mutlak. Dan kehancuran yang begitu indah sekaligus mengerikan.
Sesaat setelah menyelesaikan semuanya, seolah tenaganya telah habis, Shinya roboh begitu saja.
Hingga Alphiria menjerit pilu dan segera menangkap tubuhnya, aku hanya mampu menahan napas sambil menatap pemandangan itu.
*****
Mengingat kembali kejadian yang sama sekali sulit dipercaya beberapa jam lalu, aku mengembuskan napas pelan.
Aku melempar handuk yang kupakai mengeringkan rambut ke samping lalu duduk di atas ranjang.
Padahal mandi tadi seharusnya sudah menurunkan panas tubuhku. Namun jauh di dalam tubuhku—terutama di sekitar perut bagian bawah—masih tersisa panas aneh yang belum juga padam.
"Hanya karena sebuah ciuman saja, Aria bisa dibuat selemas itu..."
Dengan ujung jariku, aku perlahan membelai bibirku sendiri.
Sebagai seorang penyihir, tentu saja aku tertarik pada mana luar biasa yang keluar dari tubuh pelayan itu.
Namun lebih daripada itu, yang benar-benar menarik perhatianku adalah ciuman pelayan itu sendiri, yang mampu melelehkan seluruh akal sehat Alphiria hingga seperti itu.
Keinginan untuk merasakan sendiri seperti apa rasanya perlahan mulai memenuhi hatiku.
"Ciuman dengan Tuan Pelayan... memang seenak itu ya...?"
Padahal itu hanyalah ciuman yang masih canggung dan polos seperti permainan anak-anak.
Kalau saja aku yang mengajarinya ciuman orang dewasa, kira-kira seberapa besar kenikmatan dan panas yang akan bisa ia berikan kepadaku?
Hanya dengan membayangkannya saja, sensasi manis sudah membuat bulu kudukku merinding.
...Meski begitu, sebenarnya aku sendiri juga belum pernah berciuman dengan laki-laki, jadi aku pun tidak berhak berkata banyak.
"Mungkin... aku juga akan mencicipinya."
Tanpa kusadari, sudut bibirku terangkat membentuk senyum.
Kalau suatu saat nanti aku berdua saja dengan Tuan Pelayan, mungkin tidak ada salahnya mencoba mencuri ciumannya.
Sambil memikirkan hal yang pasti akan membuat kedua orang tuaku pingsan jika mereka mengetahuinya...
Di dalam kamar yang gelap, aku menikmati sendirian rasa penasaran yang tak terbendung dan hasrat terlarang yang perlahan mulai tumbuh di dalam dadaku.



Post a Comment