NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ochibure Tensai Reijou no Gohoushi de Bonjin no Ore wa Saikyou ni Naru V1 Chapter 4

 Penerjemah: Kaori Translation

Proffreader: Kaori Translation


Chapter 4

Hipotesis Ada untuk Dibuktikan

Seolah-olah pertarungan hidup dan mati yang terjadi di aula besar yang pengap beberapa hari lalu hanyalah kebohongan, cahaya matahari yang tenang menyinari Akademi Sihir Aurora. 


Sambil memikirkan hal bodoh seperti, "Hari yang benar-benar sempurna untuk berkencan," aku melirik gadis yang berjalan di sampingku. Sayangnya, berbanding terbalik dengan langit cerah tanpa sedikit pun awan, suasana hati antara aku dan Alphiria justru sangat berat.


"Dengar ya, Shinya. Jangan bicara yang tidak perlu, ya? Aku yang akan menjelaskan semuanya kepada Kepala Akademi, jadi kau diam saja dan cukup mengangguk. Mengerti?"


"Aku tahu. Aku akan benar-benar menjadi manekin. Tenang saja."


Aku mengangguk sambil tersenyum kecut. Peringatan ini sudah kudengar berkali-kali sebelum kami meninggalkan kamar, sampai-sampai telingaku rasanya sudah kapalan.


Ngomong-ngomong, kami sedang berjalan di lorong akademi. Tujuan kami, seperti biasa, adalah ruang kepala akademi. Aku dipanggil oleh Kepala Akademi Orthea untuk menjelaskan kejadian yang terjadi di dungeon beberapa hari lalu.


"Kalau ditanya apa pun, kau harus tetap bilang tidak tahu apa-apa, ya? Aku yang memutuskan bahwa itu bukan Goblin Lord, lalu melenyapkannya tanpa meninggalkan jejak dengan sihirku. Mengerti?"


"Aria ternyata cukup pencemas juga, ya."


"Aku hanya tidak ingin siapa pun selain kita tahu apa yang terjadi di ruangan itu."


Meski mengatakannya dengan suara tenang, pipinya justru memerah. Jelas sekali apa yang tidak ingin dia ketahui orang lain. Meski begitu, aku juga sama. Sejujurnya, hanya dengan mencoba mengingat sensasinya saja rasanya tubuhku hampir mendidih.


Ciuman manis dan panas yang kami tukarkan di ambang kematian. Saat bibir kami bertemu, sejumlah besar kekuatan sihir menyembur dari jantungku. Apakah itu kebetulan atau keajaiban? Namun, jika ternyata itu memang sesuatu yang sudah ditakdirkan, berbagai masalah akan langsung terselesaikan sekaligus.


Sambil memikirkan hal itu, kami akhirnya tiba di ruangan tujuan. Ini kedua kalinya aku datang ke sini, tetapi pintunya masih sama besarnya seperti sebelumnya. Alphiria berdiri di depannya, menarik napas dalam-dalam, lalu menguatkan diri sebelum mengetuk tiga kali.


"Masuklah."


Mengikuti suara tenang dari dalam, pintu itu terbuka sendiri dengan bunyi berat. Aku dan Alphiria saling berpandangan sebelum dengan hati-hati melangkahkan kaki memasuki sarang iblis itu.


"Kalian berdua sudah datang, padahal baru saja mengalami kejadian berat. Terima kasih. Kondisi tubuhmu sudah baik-baik saja, Shinya?"


Kepala Akademi Orthea menyambut kami dengan senyum seperti seorang ibu suci. Mungkin sedang beristirahat sejenak dari pekerjaannya, karena di tangannya ada cangkir teh yang masih mengepulkan sedikit uap, sementara di sebelahnya bertumpuk setumpuk dokumen.


"Berdiri sambil berbicara juga tidak nyaman. Bagaimana kalau kalian minum teh sambil menceritakannya dengan santai?"


Nada suaranya memang lembut, tetapi tatapannya dalam dan tajam, seolah hendak melihat menembus segala sesuatu. Aku dan Alphiria serempak menelan ludah sebelum duduk di sofa.


"Nah, langsung saja. Bisa ceritakan apa yang terjadi di dungeon?"


"...Baik."


Atas dorongan Kepala Akademi Orthea, Alphiria mulai melaporkan seluruh kejadian. Dia menjelaskan secara singkat alasan kami masuk ke dungeon, pertemuan kami dengan makhluk mutan, serta kemampuannya yang luar biasa.


"Hmm... Goblin Lord mutan, ya. Apalagi memiliki kemampuan regenerasi. Lawan yang merepotkan."


"Memang cukup mengejutkan ketika lukanya menutup dalam sekejap. Jadi, aku mengerahkan seluruh kekuatan sihir yang tersisa ke dalam sebuah sihir dan melenyapkannya tanpa meninggalkan jejak. Syukurlah kami berhasil mengalahkannya."


Bahkan hanya dengan mendengarkan dari samping, penjelasan Alphiria terdengar sempurna. Intonasinya pas, tidak berlebihan tetapi juga tidak terdengar dibuat-buat. Cara efektif untuk membuat sebuah kebohongan dipercaya adalah dengan mencampurkan kebenaran ke dalamnya. Benar-benar seperti menyembunyikan pohon di dalam hutan.


"Selama pertarungan, apa yang dilakukan anak laki-laki itu?"


"Shinya pingsan karena ketakutan. Katanya, di dunia asalnya tidak ada dungeon ataupun monster."


Alphiria langsung menjawab, bahkan sebelum aku sempat membuka mulut. Aku sempat protes karena sebenarnya dia tidak perlu membuatku seolah-olah pingsan, tetapi protesku ditolak. Aku juga ingin mengatakan bahwa dia sendiri sebelumnya sampai terduduk di lantai dengan mata berkaca-kaca, tetapi itu rahasia.


"Begitu, ya. Memang, meskipun dia adalah familiar, kalau tidak bisa menggunakan sihir, keberadaannya justru bisa mengganggu pertarungan. Apalagi melawan makhluk mutan. Keputusanmu untuk melenyapkannya dalam satu serangan memang tepat, Alphiria."


Kepala Akademi Orthea mengangguk puas sambil meletakkan cangkir tehnya. Semuanya berakhir jauh lebih lancar daripada yang kukira, sehingga dalam hati aku mengembuskan napas lega.


"Namun, kalau begitu, ada satu hal yang aneh. Setelah kalian melarikan diri dari dungeon, guild menerima laporan dari para petualang yang kalian selamatkan dan mengirim tim penyelidik. Saat itu, di antara sisa-sisa kekuatan sihir yang terdeteksi di dalam ruang bos, ternyata terdapat kekuatan sihir yang tidak diketahui asalnya."


"...Kekuatan sihir yang tidak diketahui?"


Wajah Alphiria sedikit menegang karena gugup. Aku mati-matian menahan perasaan agar kegelisahanku tidak terlihat. Seolah bisa membaca isi hati kami, Kepala Akademi Orthea melanjutkan pembicaraannya dengan senyum penuh arti.


"Setelah dianalisis secara mendalam, ternyata itu merupakan atribut misterius yang tidak termasuk dalam satu pun atribut yang masih ada saat ini. Yah, bagiku kekuatan itu terasa cukup nostalgia... tetapi kau tidak memiliki kekuatan seperti itu, bukan, Alphiria Glastonbury?"


"I-itu... mungkin saja kekuatan sihir milik makhluk mutan itu?"


"Sayangnya, bukan. Memang ada kekuatan sihir asing lainnya, tetapi yang satu itu sudah dipastikan bukan milik Goblin Lord."


Hipotesis yang dipaksakan Alphiria langsung dipatahkan tanpa ampun. Kepala Akademi mengalihkan pandangan dari muridnya yang nyaris saja mendecakkan lidah frustasi kepadaku, lalu melancarkan serangan terakhir.


"Sisa-sisa kekuatan sihir yang tidak diwariskan hingga zaman modern. Kira-kira siapa pemiliknya?"


Akhirnya aku mengerti. Tujuan kami dipanggil sejak awal adalah untuk menanyakan, "Siapa yang mengalahkan makhluk mutan itu?" dan "Siapa pemilik kekuatan tersebut?" Dan Kepala Akademi sudah tahu sejak awal bahwa orang itu adalah aku.


"Nanatsuma Shinya. Saat tuanmu sedang bertarung melawan musuh yang kuat, apa kau benar-benar hanya pingsan begitu saja?"


"............"


Alphiria yang duduk di sampingku memberikan tekanan tanpa suara yang jelas-jelas mengatakan, "Jangan bicara apa pun." Namun, tatapan magis Kepala Akademi Orthea yang terus menatapku jauh lebih menakutkan.


Dia tahu semuanya, tetapi berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku sama sekali tidak tahu mengapa dia melakukan itu.


"...Aku tidak melakukan apa-apa. Aku benar-benar hanya pingsan, dan ketika sadar, aku sudah berada di atas tempat tidur."


"Fufufu. Sebagai seorang familiar, mematuhi perintah tuan dengan setia memang merupakan hal yang benar. Namun, berbohong kepadaku bukanlah sesuatu yang bisa kuterima."


Bulu kudukku langsung merinding. Senyum di bibirnya tidak berubah sedikit pun. Yang berubah adalah aura yang terpancar darinya. Tekanan seperti air terjun yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Goblin Lord. 


Udara di dalam ruangan seakan bergetar karena ketakutan. Sulit untuk menganggapnya sebagai manusia biasa. Kekuatan yang dimilikinya sebagai makhluk hidup benar-benar berada pada tingkatan yang berbeda.


"Aku bertanya sekali lagi. Apa kau benar-benar tidak melakukan apa-apa?"


"...Maaf. Aku yang melakukannya."


"Tu-tunggu, Shinya!? Apa yang kau bicarakan───!?"


Sambil merasakan seolah-olah sedang dipaksa untuk mengaku, aku menundukkan kepala dan mengakui semuanya. 


Tidak mungkin aku bisa melarikan diri dari tekanan Kepala Akademi Orthea yang secara tersirat memerintahkanku untuk menceritakan semuanya. Sambil meminta maaf dalam hati kepada Alphiria, aku menguatkan diri dan melanjutkan ceritaku.


"Yang mengalahkan Goblin Lord mutan itu adalah aku."


"Seperti yang diharapkan dari seseorang dari dunia lain... ingin rasanya mengatakan begitu, tetapi bagaimana kau mengalahkannya? Baik ketika pertama kali bertemu maupun sekarang, aku sama sekali tidak bisa merasakan kekuatan sihir darimu."


"Itu juga sebenarnya aku tidak begitu mengerti. Hanya saja... aku memeluk Aria dan menciumnya. Lalu───"


"Shinya bodoh───! Kenapa dari semua hal yang ada, kau malah mengatakan bahwa kita berciuman!?"


Alis Kepala Akademi Orthea berkedut. Sementara itu, wajah Alphiria memerah karena malu dan dia memukul-mukul bahuku dengan sekuat tenaga. Pukulan bertubi-tubi itu begitu kuat sampai aku merasa tulangku akan remuk.


"Oh... Putri keluarga Glastonbury berciuman dengan pria yang baru dikenalnya kemarin atau hari ini. Rupanya Alphiria-san juga ternyata seorang gadis muda, ya?"


"Ti-tidak! Bukan begitu! Itu hanya... sesaat aku kehilangan akal sehat. Aku cuma berpikir, kalau memang akan mati, setidaknya aku ingin mencobanya sekali!"


"...Aria, sebaiknya kau berhenti bicara. Kau cuma sedang menggali lubang untuk dirimu sendiri."


"Anak muda, ceritakan sedikit lebih rinci. Apa yang terjadi setelah kalian berciuman?"


"E-eh... setelah kami berciuman, bagian dalam jantungku terasa panas seperti terbakar... lalu kekuatan mulai meluap dari dalam diriku."


"Begitu rupanya. Sekarang aku kurang lebih mengerti. Karena suasana hatiku sedang bagus, untuk kali ini aku akan secara khusus memaafkan usahamu untuk menipuku."


"Ah, terima kasih, Kepala Akademi."


Alphiria menundukkan kepala dengan wajah serba salah. Melihat itu, Kepala Akademi Orthea terkekeh geli sebelum kembali duduk di kursinya.


"Tetapi tetap saja... setelah berpelukan dan berciuman, kekuatan sihirnya meluap, ya. Ini benar-benar menarik. Sepertinya bukan hanya Shinya yang mengalami perubahan, tetapi Alphiria juga terkena dampaknya."


"...Anda bisa mengetahuinya?"


"Tentu saja. Kau pikir aku ini siapa? Alphiria, kekuatan sihirmu... memang hanya sedikit, tetapi sudah mulai pulih, bukan?"


Setelah Kepala Akademi tepat mengenai sasaran, bahu Alphiria tersentak dan wajahnya memerah sampai ke telinga. Rupanya Kepala Akademi sudah mengetahui semuanya tentang percakapan kami di ruang perawatan.


"Faktanya, kalian berdua bisa menghasilkan kekuatan sihir setelah berciuman, bukan? Namun, kontak fisik sederhana dari anak-anak polos seperti kalian hanya menghasilkan daya yang sangat lemah dan tidak stabil. Untuk benar-benar mengubah jantungnya menjadi inti tungku seorang penyihir, dibutuhkan ‘rangsangan’ yang jauh lebih kuat."


"Rangsangan yang jauh lebih kuat...?"


Aku punya firasat buruk.


"Benar. Tidak ada salahnya mencoba. Selagi ada kesempatan, bagaimana kalau kita melakukan sedikit terapi yang agak keras?"


Dengan suara riang, Kepala Akademi Orthea bangkit dari meja kerjanya dan berpindah ke sofa di hadapanku. Ia menjatuhkan diri dengan santai, lalu menepuk-nepuk pangkuannya sambil berkata,


"Ke sini, Shinya. Sebagai hadiah khusus untukmu yang berhasil memenangkan pertempuran pertamamu dengan mempertaruhkan nyawa, aku akan memberimu sesuatu yang istimewa. Letakkan kepalamu di sini."


"Eh... jangan-jangan... Anda mau memangku kepalaku?"


"Tepat sekali. Memangnya menurutmu ini terlihat seperti apa? Ayo, jangan sungkan. Manjakan dirimu sepuasnya."


Dengan senyum penuh kasih sayang bagaikan seorang ibu suci, Kepala Akademi Orthea memandangku. Melihat pahanya yang putih mulus, kenyal, dan tampak begitu lembut, tanpa sadar aku menelan ludah.


Namun pada saat yang sama, aku merasakan tatapan sedingin nol mutlak dari sampingku.


Harimau di depan, serigala di belakang. Meski begitu, ada pepatah yang mengatakan bahwa menolak hidangan yang sudah tersaji adalah tindakan bodoh. Kesempatan seperti ini mungkin takkan datang untuk kedua kalinya.


"Ba-baiklah... kalau begitu aku akan menerima kebaikan Anda... permisi."


Aku mengumpulkan keberanian, berdiri, lalu menghampiri Kepala Akademi. Dengan hati-hati aku membaringkan tubuh di atas sofa dan meletakkan kepalaku di atas pahanya.


"...!?"


Begitu kepalaku menyentuh pahanya, otakku seakan berhenti bekerja karena kenyamanannya.


Berbeda dengan paha Alphiria yang ramping dan kencang, paha Kepala Akademi memiliki kelembutan yang seolah menyerap kepala, lengkap dengan kehangatan yang menenangkan.


Inilah bantal pangkuan terbaik yang benar-benar bisa membuat seseorang terlena.


"Hehe. Bagaimana? Suka dengan bantal pangkuanku?"


"I-iya..."


Aku nyaris saja berkata, 'Aku ingin mengubur wajahku di sana,' namun berhasil menelannya tepat waktu.


Terakhir kali aku dipangku seperti ini adalah saat masih duduk di sekolah dasar oleh nenek buyutku. Saat itu rasanya menenangkan.


Namun sekarang justru kebalikannya. Bukannya tenang, jantungku malah berdebar tak karuan.


"Anak yang jujur. Tak perlu takut, Shinya. Serahkan semuanya padaku."


Sambil berbisik dengan suara manis, Kepala Akademi mulai membelai kepalaku dengan gerakan penuh kasih.


Jari-jarinya yang putih indah menyisir rambutku dengan lembut, meluruhkan semua ketegangan yang selama ini memenuhi tubuhku.


Hembusan napasnya yang hangat dan lembut menyapu telingaku, membuat seluruh tenagaku menghilang. Namun ketenangan itu segera tergantikan oleh sensasi lain.


"Rilekskan tubuhmu. Rasakan keberadaanku lebih dalam."


Sesaat kemudian, kepalaku diangkat, lalu seluruh pandanganku dipenuhi kelembutan yang begitu empuk.


Karena semuanya terjadi begitu mendadak, aku baru menyadari beberapa saat kemudian bahwa wajahku sedang ditekan ke dada Kepala Akademi yang penuh dan lembut.


"Mmph...!?"


Hidungku tertutup oleh kelembutan yang berat namun elastis. Dari sana tercium aroma wanita dewasa yang matang, harum, dan memabukkan, seolah langsung melelehkan otakku.


Bukan aroma ibuku. Bukan aroma nenek buyutku. Bukan pula aroma Alphiria. Ini adalah pesona wanita dewasa yang sama sekali baru bagiku, sampai-sampai aku hampir lupa bagaimana caranya bernapas.


Di tengah kebingungan itu, tangan Kepala Akademi perlahan bergerak dari dadaku menuju perutku, membelai kulitku dari balik pakaian tipis.


"Hmm... tubuhmu ternyata lebih terlatih daripada yang kukira. Meski begitu, akan lebih baik kalau ototmu bertambah sedikit lagi."


"I-iya..."


Padahal ia hanya mengusap tubuhku dengan ujung jarinya, tetapi sensasinya membuat seluruh tubuhku bergetar seperti dialiri listrik.


Aku ingin menghindar dari rasa nikmat yang membuat gelisah itu, tetapi tak bisa bergerak karena wajahku masih tertekan pada dadanya.


"Aku bisa merasakan detak jantungmu semakin cepat... bagaimana? Ada perubahan pada tubuhmu?"


Aku mengangguk berkali-kali.


Seiring detak jantungku meningkat, aku bisa merasakan suhu tubuhku ikut naik. Rasanya seperti menginjak pedal gas hingga mesin meraung.


"Hehe. Kalau reaksimu semanis itu, jadi ingin menggodamu. Bagaimana?"


"Eh...?"


Sebelum sempat bertanya apa yang hendak dilakukannya, jari-jari putihnya perlahan meluncur semakin ke bawah menuju perut bagian bawah.


Seluruh indraku dikuasai sensasi yang begitu kuat.


Di dasar perutku mulai muncul panas yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sensasi hangat itu menjalar ke seluruh tubuh, seolah membakar habis kesadaranku.


"Kelihatannya kau kesakitan. Mau kubuat lebih ringan?"


"T-tidak... tapi..."


Naluri dalam diriku berteriak agar aku mengangguk. Namun sedikit akal sehat yang tersisa memaksaku untuk menolak.


"Bukankah tadi sudah kubilang ini hadiah? Hari ini saja, tak apa kalau kau memanjakan dirimu. Jadi... katakan, kau ingin bagaimana?"


Sambil berbisik dengan suara menggoda, ia mengusap perlahan bagian bawah pusarku. Jaraknya tinggal beberapa sentimeter lagi.


Begitu aku menyadarinya, jantungku berdentum keras seakan hendak meledak. Panas seperti magma mendidih menyembur keluar dari dalam tubuhku.


"Ugh... haaah!?"


"Sh-Shinya! Kau tidak apa-apa!?"


Alphiria yang sedari tadi hanya diam akhirnya menyadari keadaanku dan berseru cemas.


Namun aku bahkan tak sanggup menjawab. Dari ujung kaki hingga kepala, bagian dalam tubuhku terasa seperti sedang terbakar.


"Hmm... luar biasa. Jumlah sihir yang dihasilkan ternyata jauh melampaui perkiraanku."


Kepala Akademi tersenyum puas. Lalu ia kembali menekan wajahku ke dadanya dengan lebih kuat hingga bentuknya sedikit berubah.


Pandanganku mulai memutih. Kalau begini, rasanya aku bahkan rela mati kehabisan napas.


"Tu-tunggu! Bukankah ini sudah cukup, Kepala Akademi!?"


"Belum. Tenanglah, fokus. Bayangkan panas yang diciptakan jantungmu mengalir bersama darah ke seluruh tubuh."


Ia mengetuk dadaku tepat di atas jantung, lalu kembali menggerakkan tangannya di atas tubuhku.


Namun kali ini gerakannya bukan lagi untuk menggodaku. Ia sedang membantu mengarahkan aliran panas itu.


Dalam kesadaranku yang mulai kabur, aku mati-matian membayangkan panas yang berkumpul di dadaku menyebar ke seluruh tubuh.


Perlahan rasa sakitnya menghilang. Panas yang tadi menyiksa kini berubah menjadi kehangatan yang terasa nyaman.


"Haa... haa... Kepala Akademi..."


"Kerja bagus, Shinya. Memang metode ini cukup ekstrem, tetapi sekarang jantungmu telah diubah menjadi sebuah 'inti tungku' yang menghasilkan kekuatan sihir."


Sambil mengucapkan selamat dengan suara lembut, Kepala Akademi kembali mengusap kepalaku.


Rasa panas perlahan mereda, tetapi aku masih bisa merasakan energi sihir itu terus bersirkulasi di dalam tubuh mengikuti detak jantungku.


"Itu... maksudnya apa?"


Aku bertanya sambil terengah-engah.


Kepala Akademi memejamkan mata dengan puas.


"Agar kau bisa terus bertarung sebagai familiar mulai sekarang, aku harus mengubah jantungmu menjadi sebuah 'inti tungku'. Untuk itu diperlukan proses 'penyalaan' yang dipicu oleh peningkatan detak jantung secara drastis."


"Kalau begitu... kenapa harus memakai bantal pangkuan segala...?"


"Aku memang bisa memaksanya dengan menempatkanmu dalam ketakutan atau situasi hidup dan mati. Namun cara itu terlalu membebani jantung dan sangat berbahaya. Untuk menciptakan inti tungku yang paling aman sekaligus berkualitas tinggi, cara terbaik adalah memberimu kenikmatan dan gairah yang luar biasa. Dan faktanya, kalian berdua sudah pernah berhasil melakukannya sekali."


Mendengar penjelasan itu, wajahku dan Alphiria sama-sama memerah.


Kepala Akademi melanjutkan sambil melengkungkan bibirnya membentuk senyum bak bulan sabit.


"Selain itu, aku juga ingin mengetahui secara langsung seberapa besar 'wadah' yang dimiliki seseorang dari dunia lain sepertimu. Dan hasilnya jauh melampaui bayanganku. Jumlah sihir yang kau hasilkan, serta kemampuan adaptasimu... terus terang saja, aku benar-benar terkejut."


Matanya yang menyipit seolah sedang menilai sebuah barang berharga. Tatapan penuh gairah itu membuatku kembali menelan ludah.


"Eh... kalau begitu... terima kasih... kurasa?"


Dengan ragu-ragu aku memberikan jawaban yang samar. Kepala Akademi lalu semakin mendekatkan wajahnya dan berbisik dari jarak yang cukup dekat hingga embusan napas manisnya terasa.


"Aku tidak mungkin membiarkan bakat sepertimu begitu saja. ...Karena itu aku mendapat ide yang bagus. Bagaimana kalau kau menjadi murid langsungku, Shinya? Akan kuajari kau berbagai hal dengan teliti. Bukan hanya sihir, tapi juga urusan malam dan masih banyak lagi."


"Tolong hentikan, Kepala Akademi Orthea! Shinya itu familiar-ku, tahu!? Jangan seenaknya menggodanya!"


Entah karena kesabarannya sudah benar-benar habis, Alphiria yang kehilangan ketenangan mencengkeram kerah belakang bajuku dan menarikku secara paksa, melepaskanku dari kelembutan dan kehangatan yang begitu membahagiakan.


"Dan kau juga, Shinya! Jangan diam seperti itu! Masa cuma dipangku dan dadanya ditempelkan sedikit saja sudah bergairah? Mesum sekali, dasar familiar cabul!"


"Mana adil begitu..."


Sambil terjatuh di lantai, aku mengatur napasku yang memburu. Adakah pria yang tidak akan berdebar setelah mendapat hadiah semanis itu? Tentu saja tidak.


"Kalau begini terus, nanti kau akan membuatnya muak, Alphiria. Memang jantung Shinya kini sudah bisa menghasilkan mana, tapi itu baru sebatas itu saja. Keluaran mananya masih lemah dan tidak stabil. Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"


"A-aku tahu tanpa perlu diberi tahu!"


"Kalau begitu bagus. Kalau kau butuh bantuanku, datanglah kapan saja. Kalau perlu kita berdua bisa melakukan sesuatu pada Shinya—"


"Kami pamit dulu! Ayo pergi, Shinya!"


Dengan wajah merah padam karena marah, Alphiria menggenggam tanganku dengan paksa lalu menyeretku keluar ruangan. 


Sementara kami meninggalkan ruang kepala akademi, dari balik pintu yang tertutup terdengar suara Kepala Akademi Orthea berkata, "Kalau kesulitan, datanglah kapan saja."


Alphiria berjalan cepat menyusuri koridor. Dari punggungnya terpancar rasa cemburu yang tak mampu ia sembunyikan, disertai semangat untuk bersaing yang bahkan lebih kuat.


"...Shinya. Nanti setelah kita kembali ke kamar, kita lanjutkan."


Ucapnya ketus. Namun ada satu hal yang tidak ia sadari. Dibanding saat dipangku Kepala Akademi, justru sekarang, ketika kami berjalan sambil bergandengan tangan di koridor seperti ini, detak jantungku jauh lebih cepat.


*****


Kamar pribadi Alphiria yang berada di lantai paling atas asrama putri Akademi Sihir Aurora.


Sepanjang perjalanan pulang ke sana, kami tidak mengucapkan sepatah kata pun. Jantungku masih belum sepenuhnya tenang setelah perlakuan Kepala Akademi Orthea, dan aku terus khawatir suara detaknya terdengar oleh Alphiria.


Sesampainya di kamar, kami membuka pintu lalu menguncinya dengan bunyi klik. Tanpa berkata apa pun, kami seolah dituntun memasuki kamar tidurnya. Begitu masuk, udara di sana langsung dipenuhi panas yang lengket. Terpisah sepenuhnya dari dunia luar, hanya suara napas kami yang kasar dan bunyi detak jam yang terdengar begitu jelas.


"Shinya. Kau ini familiar milik siapa?"


Pertanyaan yang sederhana. Namun nada suaranya tajam.


Jantungku berdegup keras. Sisa-sisa sensasi saat dipermainkan Kepala Akademi masih mengamuk di dalam dadaku. Setelah menelan ludah dengan gugup, aku menjawab perlahan.


"A-aku... adalah familiar milik Alphiria Glastonbury."


"Benar. Kau adalah familiarku, kan? Kalau begitu kenapa kau bisa tergoda oleh Kepala Akademi Orthea?"


Alphiria berbalik dan langsung mencengkeram kerah bajuku. Meski bibirnya tersenyum, urat di pelipisnya tampak menonjol, sementara di matanya menyala api hasrat untuk memiliki.


"Setelah kau mengambil yang pertama dariku, sekarang malah terpikat wanita lain... berani juga kau."


"Bukan begitu... Itu benar-benar di luar kendaliku... Kurasa pria mana pun akan bereaksi seperti itu..."


"Aku tidak mau dengar alasan! Sekalian saja akan kuukir ke tubuhmu agar kau tidak pernah lupa lagi siapa tuanmu!"


Berkebalikan dengan ucapannya yang tegas, suaranya sedikit bergetar. Berusaha keras menyembunyikan kegugupannya, Alphiria duduk di tepi ranjang.


Ia menyilangkan kaki jenjangnya, lalu perlahan mengangkat ujung roknya seolah ingin memamerkannya. Paha putih mulus bagaikan porselen, namun tetap berisi dan sehat, pun terlihat.


"Ayo, rebahkan kepalamu di sini seperti tadi."


Sambil memalingkan wajah ke arah lain, Alphiria menepuk-nepuk pahanya.


Meski kupikir tidak perlu memaksakan diri kalau memang semalu itu sampai telinganya memerah, aku tahu mengatakan hal tersebut hanya akan memperkeruh keadaan. Akhirnya aku menurut saja dan membaringkan kepalaku di pangkuannya.


"...Mm!?"


Berbeda dengan kelembutan matang milik Kepala Akademi Orthea, pangkuan Alphiria terasa muda dan kenyal, seolah memeluk kepalaku. Ditambah kehangatan tubuhnya yang sedikit memanas, jadilah pangkuan yang terasa luar biasa nyaman.


Kalau harus diringkas dalam satu kata—Luar biasa.


"Bagaimana? Pangkuanku. Lebih suka yang mana? Punyaku atau milik Kepala Akademi?"


"I-itu..."


Pertanyaan itu terlalu kejam hingga aku tak bisa langsung menjawab. Namun Alphiria tampaknya menganggap kebisuanku sebagai tanda kekalahannya. Ia menggembungkan pipinya.


"Hmph... Kalau begitu bagaimana kalau begini? Rasakan aku lebih dalam..."


Sambil berkata begitu, wajahnya semakin memerah. Ia lalu memeluk kepalaku erat ke dadanya.


Volume dan kelembutannya sama sekali tidak kalah dari Kepala Akademi Orthea. Meski masih terhalang seragam, hidungku tenggelam di sela-selanya, sementara setiap tarikan napas dipenuhi kehangatan tubuh dan aroma manis segar seperti buah-buahan yang langsung mengguncang pikiranku.


"Hehe... Detak jantungmu makin keras, ya."


Ujung jarinya yang memeluk kepalaku membelai tengkuk hingga belakang leherku dengan lembut.


"Tapi... masih belum cukup. Sekarang jantungmu sudah menjadi inti mana, jadi kita harus memastikan apakah benar-benar bisa menghasilkan mana."


"A-Aria...?"


"Lagi pula aku kesal karena diremehkan orang itu. Jadi... Shinya. Kalau begitu biar aku memberimu rangsangan yang jauh lebih kuat daripada sekadar dipangku Kepala Akademi."


Setelah berkata dengan suara yang begitu menggoda, Alphiria melepaskan wajahku dari dadanya. Dengan mata biru yang basah menatapku, ia perlahan mendekatkan wajahnya—


"Chu..."


Awalnya hanya sentuhan ringan, seperti burung kecil yang mematuk. Namun tak lama kemudian Alphiria memejamkan mata rapat dan menciumku dengan lebih dalam.


"...!"


Ciuman pertama seorang gadis bangsawan yang belum berpengalaman, didorong oleh rasa cemburu dan harga dirinya.


Kami saling kehilangan ritme napas, saling merasakan kehangatan satu sama lain. Lengannya yang melingkari leherku seakan tak ingin membiarkanku lepas.


"Haah... Shinya... berdebarlah hanya karena aku..."


Begitu kami sempat menarik napas, benang-benang air liur tipis membentang. Alphiria berbisik dengan mata yang dipenuhi gairah, lalu kembali menciumku tanpa memberi kesempatan bernapas.


Kami bahkan tidak membuka pakaian. Hanya berciuman. Namun sensasi kuat itu membuat darahku seakan mendidih dan akal sehatku nyaris lenyap.


Deg! Deg! Deg! Jantungku mulai berdetak dengan kecepatan yang tidak normal.


"Hebat... Jantungmu berdetak begitu keras... bahkan lebih kencang daripada milikku..."


"A-Aria... aku... sudah..."


Pada saat aku menghirup napas manisnya yang memenuhi paru-paruku—


Dengan hentakan dahsyat yang nyaris seperti mencapai puncak kenikmatan, mana dalam jumlah luar biasa meluap keluar dari lubuk jantungku.


"...!?"


Cahaya terang meledak hingga pandanganku memutih.


Dari bibir kami yang saling bertemu, panas yang berasal dariku mengalir deras memasuki tubuh Alphiria.


"Haah... luar biasa... Mana yang panas ini... masuk ke dalam tubuhku..."


Tubuh Alphiria bergetar hebat. Dilanda arus mana yang begitu besar, ia mencengkeram bahuku sambil melengkungkan tubuhnya ke belakang. Mana yang tercipta secara berlebihan berubah menjadi partikel-partikel cahaya bintang yang memenuhi seluruh ruangan dengan warna-warni pelangi yang fantastis.


Sambil memandangi pemandangan indah itu dengan samar, aku diselimuti rasa lelah yang sangat nyaman dan perlahan kehilangan kesadaran.


"Haah... haah... Dasar Shinya. Kau terlalu bersemangat deh."


Dengan suara manis yang terdengar seperti sedang menggerutu, Alphiria menjatuhkan tubuhnya lemas lalu menyandarkan kepalanya di dadaku.


Benar-benar tidak adil. Padahal dia sendiri juga sama kalutnya.


"Benar-benar... kau memang familiar yang mesum..."


Gumamnya penuh kasih sayang sambil membenamkan wajah di dadaku. Rambutnya berantakan, matanya masih basah, dan pipinya tetap memerah.


Sambil menikmati sisa-sisa suasana itu, aku memusatkan sedikit kesadaranku untuk mengalirkan mana pekat yang dipompa jantungku ke seluruh tubuh.


Karena itulah aku melewatkan kata-kata yang ia ucapkan pelan.


"...Repot juga. Kurasa aku bisa jadi ketagihan dengan ciuman ini."


"Hm? Kau bilang sesuatu, Aria?"


"Aku tidak bilang apa-apa! Lagi pula sampai kapan kau mau terus tidur di pangkuanku!? Cepat bangun!"


"...Tidak adil."


Sambil menggerutu, aku tetap tidak melepaskan Alphiria. Perlahan aku menutup mata dan membiarkan kesadaranku tenggelam ke dalam mimpi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close