Penerjemah: Kaori Translation
Proffreader: Kaori Translation
Chapter 5
Kencan Belanja dan Duel
Hari libur pertama sejak mulai bersekolah di Akademi Sihir Aurora.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama terbebas dari ketegangan, aku bermalas-malasan di atas ranjang kamarku sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi.
"Hei, Shinya! Mau tidur dengan penampilan berantakan begitu sampai kapan? Cepat bangun dan ganti baju!"
Suara keras disertai pintu yang dibanting terbuka menghancurkan ketenangan pagi itu, lalu majikanku masuk ke dalam kamar.
Saat aku bangkit sambil mengusap mata yang masih mengantuk, kulihat dia sudah berganti ke pakaian santai.
Berbeda dengan seragam akademi yang selalu dikenakannya dengan rapi tanpa cela, hari ini ia mengenakan gaun putih polos yang anggun dipadukan dengan kardigan tipis berwarna biru muda.
Tubuhnya yang proporsional tetap memikat meski hanya berdiri diam. Terlebih lagi, dadanya yang berisi seolah menuntut perhatian. Bahkan tertutup pakaian pun terlihat begitu lembut hingga membuat mata sulit berpaling.
Ditambah rambut pirang indahnya yang berkilau diterpa sinar matahari pagi, penampilannya sebagai gadis cantik dengan pakaian santai itu langsung mengusir seluruh rasa kantukku.
"...Apa? Kenapa menatapku terus? Ja-jangan-jangan... baju ini tidak cocok untukku?"
"Justru sebaliknya. Kamu sangat cocok memakainya. Cantik sekali."
".....!"
"B-Bodoh! Pagi-pagi begini kenapa malah mengigau begitu!"
"Ini nggak adil..."
Begitu aku mengatakan pendapatku dengan jujur, wajah Alphiria langsung memerah seperti hendak mengeluarkan asap. Ia segera melempar bantal terdekat ke arahku.
Benar-benar majikan yang tidak masuk akal. Namun aku tahu itu hanya caranya menyembunyikan rasa malu, jadi aku menerima serangan bantal empuk itu sambil tersenyum kecut.
Melihat reaksiku yang tenang, ia tampak sedikit kesal. Setelah berdeham dengan sengaja, ia kembali berbicara.
"Sudah, nggak usah memuji deh. Cepat bangun dan ganti baju, Shinya. Hari ini kita pergi belanja ke kota."
"Mendadak sekali. Memangnya ada yang perlu dibeli?"
Asrama Akademi Sihir Aurora menyediakan semua kebutuhan sehari-hari.
Bahkan kamar pribadi yang diberikan kepada murid-murid berprestasi seperti Alphiria dipenuhi barang-barang mewah. Dari sudut pandangku yang berasal dari Bumi dan tidak tahu apa-apa tentang dunia ini pun, semuanya tampak mahal.
Lagi pula kalau ada yang habis, semuanya akan terisi kembali secara otomatis. Jadi kurasa sebenarnya tidak perlu pergi berbelanja.
"U-Untuk refreshing! Refreshing! Sesekali kita juga harus menghirup udara luar, kalau tidak nanti sesak, kan!?"
"Refreshing...? Kalau begitu bukankah lebih baik aku tidak ikut?"
Kalau terus bersama di bawah satu atap sepanjang waktu pasti akan terasa melelahkan. Sesekali setiap orang juga butuh waktu sendiri.
"Apa...! Ka-kalau kamu tidak ikut, tidak ada artinya!"
Alphiria menghentakkan kaki ke lantai berkali-kali dengan kuat. Emosinya benar-benar tidak stabil. Saat kutatap dengan mata penuh keraguan, ia sempat tersentak, lalu menunduk untuk menutupi rasa gugupnya.
"Shinya, aku sudah bilang, kan? Kamu akan membantuku mengembalikan kekuatan sihirku. Jangan bilang kamu sudah lupa."
"Aku memang bilang begitu... tapi apa hubungannya dengan refreshing?"
"Ciuman ki-kita memang sedikit memulihkan kekuatan sihirku, tapi itu masih jauh dari cukup. Makanya hari libur pun tidak boleh disia-siakan. Kalau kamu memang familiar-ku, patuhi saja perintah majikanmu!"
Agar aku tidak bertanya lebih jauh, Alphiria buru-buru mengeluarkan berbagai alasan.
Entah kenapa, tingkahnya mengingatkanku pada anak anjing yang merengek minta diajak jalan-jalan. Lucunya bukan main, meski tentu saja aku menyimpannya dalam hati. Lagi pula kalau alasannya demi memulihkan kekuatan sihir, aku memang sulit menolak.
Aku menghela napas, bangkit dari tempat tidur, berganti pakaian, lalu mengikuti arus hingga akhirnya kami menuju kota untuk menikmati hari libur.
Kami keluar dari area akademi dan berjalan di jalan utama berbatu yang ramai.
Di tengah suasana damai orang-orang yang menikmati hari libur, Alphiria yang berjalan di sampingku tampak gelisah. Ia beberapa kali memainkan rambut pirangnya, lalu diam-diam melirik ke arahku.
"Jadi benar ya... pergi berdua memang bikin jantung berdebar... Tapi masa aku benar-benar harus menyuruhnya memilihkan pakaian dalamku, Marie!?"
Karena ramainya suasana, aku tidak bisa mendengar jelas gumamannya.
Yang terlihat hanya wajahnya yang berganti-ganti antara merah, pucat, lalu memegangi kepala. Dari sudut pandang orang lain, ia tampak seperti baru saja meminum obat aneh.
"E-eh... Aria, apa badanmu tidak enak?"
"T-Tidak! Aku sama sekali tidak kenapa-kenapa!"
Jawabannya terbata-bata hingga sama sekali tidak terdengar meyakinkan. Namun melihat ekspresinya yang berubah-ubah begitu cepat justru membuatku tersenyum.
"Hmph... Apa yang lucu?"
"Aku cuma berpikir kalau majikanku ini lucu sekali."
"B-B-Bodoh! Tiba-tiba saja kamu ngomong apa sih!"
Ucapan jujurku membuat telinga Alphiria memerah sampai ke ujungnya. Ia memukul-mukul lenganku pelan, tapi sama sekali tidak terasa sakit.
Sebenarnya aku penasaran bagaimana reaksinya kalau aku mengusap kepalanya.
Tapi kalau benar kulakukan, kemungkinan besar aku akan dihajar sihir, jadi aku mengurungkan niat itu.
"Ngomong-ngomong, Aria. Kita sebenarnya mau ke mana?"
Sebelum ia benar-benar ngambek, aku mengalihkan pembicaraan. Dengan wajah yang masih memerah, Alphiria berdeham.
"Ke toko pakaian. Sebentar lagi cuaca akan semakin panas, jadi aku ingin melihat-lihat pakaian yang lebih sejuk. Sekalian untukmu juga."
"Hah? Buatku juga?"
"Tentu saja. Kamu hampir tidak punya pakaian, kan?"
Kalau dipikir-pikir memang benar. Pakaian santai milikku hanya yang kupakai saat dipanggil dari Bumi. Sisanya hanyalah pakaian yang disediakan akademi.
Aku semula mengira hanya akan dijadikan tukang membawa barang belanjaannya. Ternyata dia juga memikirkan kebutuhanku.
"Terima kasih, Aria. Aku senang."
"Hmph! Jangan salah paham! Familiar yang berpakaian compang-camping hanya akan mempermalukan majikannya. Jadi ini wajar saja. Bersyukurlah."
Dengan wajah memerah, Alphiria memalingkan muka.
Namun tiba-tiba ia berhenti berjalan. Suasana manis yang tadi terasa seketika berubah tegang. Tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, ia berkata dengan suara dingin.
"Jadi... sampai kapan kau berniat bersembunyi di sana, Cyril?"
Sesaat setelah suaranya menggema, bayangan di gang sempit bergoyang.
Teman sekelas kami, si gadis cantik berambut perak Cyril, muncul sambil tersenyum anggun tanpa sedikit pun merasa bersalah.
"Selamat siang, Aria. Tuan pelayan. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."
"Kebetulan apanya? Jangan pura-pura. Sejak keluar dari akademi kau terus mengikuti kami, kan? Apa tujuanmu?"
"Kebetulan kok, sungguh. Aku memang juga mau keluar. Hanya saja toko yang kutuju searah dengan tujuanmu. Tidak ada maksud lain."
Sambil tersenyum tenang, Cyril berjalan dengan gerakan alami hingga berdiri tepat di sebelah kananku, di sisi berlawanan dari Alphiria.
Aroma manis dari rambut peraknya perlahan menggelitik hidungku.
"Hei, Tuan Pelayan. Mumpung bertemu, mau menemani aku berbelanja juga? Ada sesuatu yang ingin kupilihkan bersamamu."
"...Memangnya kau mau membeli apa?"
Dengan sedikit gugup aku bertanya.
Cyril mendekatkan wajahnya ke telingaku. Dengan bibir yang membentuk senyum nakal, ia berbisik dengan suara yang menggoda.
"Hehe... pakaian dalam. Belakangan ini bagian dadaku mulai terasa sempit, jadi aku ingin membeli yang baru."
"H-Hah!?"
"Cyril! Apa yang sedang kau katakan!?"
Aku menjerit karena terkejut, sementara Alphiria berseru penuh amarah. Bahkan orang-orang yang lewat pun berhenti dan menoleh ke arah kami.
"Ara? Wajahmu merah sekali, Tuan Pelayan. Ternyata reaksimu polos sekali. Lucu."
Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar, Cyril langsung menyelipkan lengannya ke lenganku. Kemudian ia sengaja menarik lenganku hingga menempel pada dadanya yang lembut.
"T-Tunggu, Cyril... itu... lenganku menyentuh..."
"Hehe. Memang sengaja kutempelkan."
"Berhentiiii! Apa yang kau lakukan pada Shinya-ku!?"
Akhirnya kesabaran Alphiria habis. Dengan wajah merah padam ia menyelip di antara kami dan memisahkan kami secara paksa.
Sambil melindungiku di belakang punggungnya, ia menatap dada Cyril dengan sorot mata tajam seolah menghadapi musuh bebuyutan.
"Pertama-tama, apa maksudmu dadamu semakin sempit!? Jangan bilang sampai sekarang masih terus membesar!?"
"Iya. Merepotkan sekali. Mungkin memang masih masa pertumbuhan. Padahal kalau makin besar cuma bikin bahu pegal, dan pilihan pakaian dalam lucu juga semakin sedikit... benar-benar menyusahkan."
Sambil tertawa kecil, Cyril dengan sengaja mengangkat dadanya yang montok. Terdengar suara Alphiria menggertakkan gigi.
Aku memang tidak tahu rata-rata ukuran di dunia ini. Namun bagiku, dada Alphiria sendiri sudah lebih dari cukup besar dan sangat menarik.
Tentu saja, kata-kata itu mustahil kuucapkan.
"Hmph...! Tinggalkan saja perempuan mesum ini. Ayo, Shinya! Pilihkan aku pakaian yang lucu!"
"Hah? T-Tunggu, Aria! Jangan menarikku sekuat itu! Lenganku bisa copot! Dan kenapa aku yang harus memilih!?"
"Jangan ngambek, Aria. Ah, iya. Bagaimana kalau sekalian saja Tuan Pelayan memilihkan pakaian dalam yang cocok untuk kita berdua? Dengan begitu tidak ada yang bisa protes, kan?"
Alphiria terus menyeret lenganku sambil berjalan cepat, sedangkan Cyril mengikuti di belakang dengan senyum penuh percaya diri.
Di tengah tatapan hangat sekaligus penuh rasa penasaran dari orang-orang sekitar, aku hanya bisa mendongak ke langit.
Hari libur yang seharusnya menjadi waktu untuk bersantai ternyata justru akan menjadi hari yang sangat melelahkan.
*****
Tempat yang dibawa Alphiria ternyata adalah sebuah toko pakaian mewah, dengan deretan pakaian berdesain elegan yang dipajang di balik etalase kaca besar.
Begitu memasuki toko, kukira kami akan langsung menuju area pakaian wanita. Namun entah mengapa, kedua gadis itu justru saling berlomba berjalan lurus menuju bagian pakaian pria.
"Pertama-tama, mari kita belikan pakaian untukmu dulu, Tuan Pelayan."
"T-Tidak usah... aku bisa memilih sendiri."
"Tidak perlu sungkan. Ah, bagaimana kalau kemeja yang ini? Kurasa akan sangat cocok untukmu."
Cyril mengambil sebuah kemeja hitam dari gantungan, lalu membawaku ke depan cermin. Setelah itu ia berdiri tepat di belakangku dan melingkarkan kedua lengannya seolah memelukku dari belakang sambil mencocokkan pakaian itu ke tubuhku.
"Nah, tegakkan punggungmu dan berdiri yang benar."
Bisikannya terdengar tepat di telingaku, tetapi aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi karena ada sesuatu yang lembut menekan punggungku.
"Bagaimana? Sepertinya ukurannya pas, ya?"
"Ku-kurasa cukup pas. Tapi... bisakah kau segera melepaskanku?"
"Eh? Kenapa?"
Dengan suara manis seolah tidak tahu apa-apa, Cyril malah semakin menekan dadanya hingga bentuknya berubah karena tekanan.
Melalui pantulan cermin kulihat senyum menggoda menghiasi wajahnya.
Wanita ini benar-benar sengaja. Dia jelas menikmati reaksiku. Yang lebih menyeramkan lagi, aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia terus menempel sedekat ini.
"Kamu jadi diam. Benar-benar menggemaskan, Tuan Pelayan. Rasanya ingin kumakan saja."
"T-Tunggu, Cyril!?"
Saat ia hendak menggigit lembut daun telingaku, Alphiria datang menghampiri. Ia langsung mencengkeram tengkuk Cyril dan menyeretnya menjauh dengan paksa.
Selamat...aku menghela napas lega dalam hati.
"Ara... Padahal suasananya sedang bagus. Jahat sekali kau mengganggu, Aria."
"Bukan gayamu bersikap seperti sedang birahi di depan umum, Cyril."
Dengan suara dingin, Alphiria menegurnya.
Aku berharap percikan api yang seolah terlihat di antara mereka hanyalah khayalanku. Kalau boleh jujur, aku ingin berbalik dan kabur dari tempat ini secepat mungkin.
Namun sebelum sempat melakukannya, Alphiria mendekat.
"...Shinya."
"Y-Ya!"
"Menghadap ke sini. Dan jangan bergerak."
Suara tenangnya membuatku otomatis berdiri tegak seperti katak yang dihipnotis ular.
Alphiria berdiri tepat di depanku, lalu menyampirkan sebuah jaket ramping berwarna biru tua dengan sulaman benang perak yang elegan ke tubuhku.
"Kurasa warna-warna tenang seperti ini memang lebih cocok untukmu. Kalau dipadukan dengan... kemeja putih ini bagaimana?"
Dengan nada yang terdengar sedikit bersemangat, ia mengambil kemeja putih dan mencocokkannya di depan dadaku.
Jaket biru tua dan kemeja putih. Entah kenapa, kombinasi warnanya mengingatkanku pada gaun putih dan kardigan biru muda yang dikenakannya hari ini.
"Bahunya mungkin sedikit kebesaran... Biar kuperbaiki bagian kerahnya."
Dengan tatapan serius, ia mulai memeriksa ukuran pakaian.
Tanpa sadar, demi melakukan itu, jarak kami semakin dekat. Aroma manis seperti nektar bunga perlahan memenuhi hidungku.
"Panjang lengannya... ya, sepertinya tidak masalah. Sekarang bagian leher..."
"T-Tunggu, Aria..."
Karena sedikit menjinjit untuk merapikan kerahku, Alphiria sama sekali tidak menyadari bahwa jarak kami kini benar-benar nol.
Dadanya yang montok menekan dadaku dengan lembut. Namun melihat ekspresinya yang begitu serius, rasanya tidak sopan kalau aku membiarkan pikiran yang aneh-aneh muncul.
Aku mati-matian mengosongkan pikiranku.
"Ya, bagus. Sangat cocok untukmu, Shinya."
"Te-Terima kasih, Aria."
Klap! Klap! Klap!
Suara tepuk tangan yang dibuat-buat memecah suasana hangat di antara kami. Saat kami menoleh, Cyril berdiri di sana dengan senyum jahil.
"Serius sekali kau mengukur tubuhnya, Aria. Lucunya, setelah memarahiku tadi, ternyata kau sendiri malah menempel lebih erat dariku. Bukankah itu curang?"
"Hah? Menempel...?"
Ucapan Cyril membuat Alphiria tersadar.
Ia perlahan menunduk. Barulah ia menyadari bahwa dadanya benar-benar menempel erat di dadaku.
Wajahnya langsung memerah seperti mendidih, lalu ia buru-buru melompat mundur. Namun Cyril kembali menyerang dengan nada riang.
"Ditambah lagi warna pakaiannya juga sengaja disamakan... Kalian sudah bukan seperti majikan dan pelayan lagi, melainkan pasangan kekasih."
"K-Kekasih...!?"
Karena malu telah menempel begitu dekat, ditambah lagi warna pakaian yang ternyata serasi denganku disadari orang lain, wajah Alphiria langsung memerah hingga mencapai batas maksimal.
"B-Bukan! Aku cuma terpaksa melakukan itu supaya bisa mengukur ukuran bajunya! D-Dan soal warna juga cuma kebetulan! Dasar bodoh, Shinya! Kenapa kamu diam saja menerima semua itu!?"
"Ini benar-benar tidak adil, tahu!?"
Duk! Sebuah pukulan lurus dari tangan kanan Alphiria yang sedang panik karena malu menghantam telak ulu hatiku.
"Guh... a-aku... tidak bisa bernapas..."
Sambil memegangi perut, aku berjongkok kesakitan.
Air mata hampir keluar karena rasa sakit itu. Saat itulah sebuah tangan dengan lembut menepuk-nepuk punggungku.
"Aduh... Aria memang kasar sekali, ya. Tuan Pelayan, kamu nggak apa-apa?"
Dengan suara penuh perhatian, Cyril berjongkok di sampingku.
Ia mendekatkan wajahnya hingga mata kami bertemu dari jarak yang sangat dekat. Tatapan matanya yang mempesona dan penuh kekhawatiran membuat jantungku berdebar.
"Punya majikan seperti itu memang berat, ya. Kalau kamu mau, aku akan selalu siap menghiburmu."
Sambil tersenyum lembut seperti seorang orang suci, Cyril menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya.
Sentuhan tangannya yang lembut dan suaranya yang manis membuat kepalaku terasa sedikit melayang.
"Tuan Pelayan, bisa berdiri?"
"A-Ah... aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih, Cyril."
Sambil menyadari pipiku mulai terasa hangat, aku berdiri perlahan. Meski rasa nyeri masih tersisa, setidaknya aku sudah bisa bergerak.
"Hehe. Syukurlah. Nah, karena pakaianmu sudah dipilih, sekarang giliran kami. Ayo pindah."
"Hah? Tu-Tunggu, Cyril! Jangan menarikku tiba-tiba! Bahaya! E-Eh, tunggu... arah itu kan...!"
Sebelum sadar, aku sudah sepenuhnya mengikuti iramanya.
Tanganku diseret begitu saja. Tujuan kami bukan lagi area pakaian pria yang tenang, melainkan sebuah sudut toko yang jauh lebih mencolok, penuh warna, dan dipenuhi pakaian dengan kain yang sangat minim.
"Sudah kubilang, kan? Aku ingin membeli pakaian dalam baru. Tuan Pelayan, kau akan memilihkannya untukku, bukan?"
"Tidak! Aku menolak mentah-mentah!"
"Berhenti! Sejak tadi kau terlalu akrab dengan pelayanku, Cyril!"
Teriakan histerisku dan suara marah Alphiria yang mengejar dari belakang bergema di seluruh toko.
"Aduh, aduh. Di dalam toko harus tenang, Aria."
"D-Dan menurutmu ini semua gara-gara siapa...!?"
"Nanti mengganggu pelanggan lain, lho. Nah, tarik napas dulu."
"Grrr...!"
Justru Cyril—penyebab semua kekacauan ini—malah bersikap seolah orang paling masuk akal.
Alphiria hanya bisa menggertakkan gigi sambil gemetar menahan kesal.
Melihat mereka seperti orang dewasa yang sedang menghadapi anak kecil, tanpa sadar aku hampir tertawa.
"...Hehe."
Mungkin menyadari perubahan ekspresiku, Cyril mengalihkan pandangannya dari Alphiria lalu menatapku dengan senyum menggoda, seolah berkata bahwa pertunjukan sesungguhnya baru dimulai.
"Sudah cukup mengobrolnya. Sekarang mari mulai berbelanja."
Cyril yang kini sepenuhnya menguasai keadaan mulai melihat-lihat isi toko dengan senyum penuh percaya diri.
Ia berjalan lebih ke dalam, lalu dengan santainya mengambil satu set pakaian dalam.
"Tuan Pelayan, bagaimana menurutmu yang ini?"
Saat aku kebingungan karena ke mana pun memandang hanya ada renda dan rumbai berwarna-warni, Cyril menyodorkan satu set pakaian dalam hitam transparan yang dihiasi aplikasi bunga mawar.
Desainnya tampak dewasa. Namun kalau dikenakan wanita secantik dirinya, pasti akan terlihat sangat cocok, terlebih lagi berpadu dengan rambut peraknya.
Seolah mengetahui apa yang sedang kubayangkan, Cyril tersenyum penuh arti.
"Sepertinya Tuan Pelayan menyukainya."
"...Aku bahkan belum mengatakan apa pun."
"Oh? Belum tahu ya? Mata bisa berbicara lebih banyak daripada mulut. Tatapanmu saat melihatku tadi sangat nakal... dan sangat mesum."
"Hei! Itu benar-benar tuduhan yang tidak adil!?"
Meski begitu, aku hanyalah seorang siswa SMA laki-laki yang sehat di masa pubertas. Disuruh menemani seorang gadis cantik berambut perak yang kecantikannya tak cukup digambarkan hanya dengan kata "cantik" memilih pakaian dalam, rasanya mustahil untuk tidak membayangkan hal-hal semacam itu.
"Astaga. Sudahlah, berhentilah menggodai Shinya terus."
Sambil menghela napas dengan wajah pasrah, Alphiria menghampiri kami. Meski berbicara dengan nada serius, di tangannya ternyata juga tergenggam satu set pakaian dalam.
"Kasar sekali. Aku benar-benar serius meminta pendapat Tuan Pelayan, lho. Bahkan aku sempat berpikir untuk mencobanya nanti lalu meminta kesannya."
"Itu namanya menggodanya. Jangan jadikan pelayanku sebagai mainan."
"Kalau begitu, Aria, apa yang sedang kau pegang itu? Tuan Pelayan, sekalian saja beri pendapatmu."
Mendengar ucapan Cyril, tanpa sadar pandanganku beralih ke tangan Alphiria.
"Ah...!"
Alphiria buru-buru mencoba menyembunyikannya di belakang punggung, tetapi sudah terlambat. Cyril dengan gesit berputar ke belakang dan merebutnya.
"Hei! Kembalikan, Cyril!"
"Oh... jadi Aria memilih warna merah, ya. Menurutku itu cocok sekali. Terlihat penuh semangat, sama sepertimu. Bagaimana menurutmu, Tuan Pelayan?"
Sambil menghindari Alphiria yang berusaha merebutnya kembali, Cyril mengangkat pakaian itu tepat di depan mataku.
Pilihan majikanku adalah sebuah kamisol merah menyala seperti kobaran api.
Di bagian tepinya terdapat sulaman benang emas yang indah, membuatnya tampak anggun dan sangat cocok dengan kepribadian Alphiria yang mulia.
Namun masalahnya adalah bahannya.
"Ya... kurasa memang cocok untukmu, Aria. Tapi..."
"B-Bodoh, Shinya! Jangan menatapnya terus!"
Karena rasa malunya sudah mencapai batas, Alphiria berteriak seolah wajahnya akan mengeluarkan api.
Meski ia menyuruhku berhenti melihat, sulit menghapus bayangan itu dari pikiranku. Karena—
(Warnanya memang sangat cocok, tapi ini benar-benar terbuat dari kain tipis yang tembus pandang!)
Walaupun cukup lebar untuk menutupi dadanya yang montok, bahannya begitu tipis hingga kulit di baliknya dapat terlihat jelas.
Potongannya juga mengecil ketat dari bawah dada hingga pinggang sehingga pasti akan semakin menonjolkan lekuk tubuhnya.
"Aria, boleh kutanya sesuatu? Kenapa memilih yang ini?"
Dengan senyum jahil, Cyril memiringkan kepala dan bertanya dengan suara polos. Seolah terkena sasaran, bahu Alphiria bergetar. Ia mengalihkan pandangan ke sana kemari lalu buru-buru menjawab.
"Itu...! Sesekali aku ingin mencoba suasana baru. Lagi pula model kamisol kainnya lebih banyak, jadi terasa lebih aman. Bagian perut juga tertutup, dan karena tidak terlalu terbuka, desainnya terlihat lebih anggun, kan?"
"Oh... jadi karena kainnya lebih banyak, menurutmu lebih sopan dan aman."
"I-Itu benar! Jauh lebih baik daripada memilih pakaian dalam yang terlalu vulgar seperti punyamu—"
"Pakaian yang setransparan ini dipilih olehmu sendiri, jadi kurasa kau tidak berhak mengatakan itu."
".....!?"
Memotong ucapan Alphiria, Cyril terkekeh lalu membentangkan kamisol merah itu.
Di bawah cahaya terang toko, kain tipisnya begitu transparan hingga bentuk jari Cyril di baliknya terlihat jelas.
"Percuma kainnya banyak kalau semuanya tetap terlihat. Bahkan bisa dibilang malah lebih menggoda. Padahal tadi kau menguliahi aku. Jangan-jangan sebenarnya kau ingin Tuan Pelayan melihatmu sebanyak mungkin?"
"B-Bukan begitu! Aku hanya merasa desainnya lucu, lalu kebetulan saja bahannya tipis! Sama sekali tidak ada niat aneh!"
Meski alasannya langsung dipatahkan oleh kenyataan, Alphiria tetap berusaha membela diri dengan wajah semerah kepiting rebus, tanpa sadar justru semakin memperburuk keadaannya.
"Aduh, alasan yang manis sekali. Bagaimana, Tuan Pelayan? Sekalian saja katakan sesuatu."
"Mau bilang apa coba!?"
Jangan lempar pembicaraan ini kepadaku, pikirku. Obrolan seperti ini cukup kalian berdua saja yang membahasnya. Jangan menyeret laki-laki ke dalamnya.
"Begini saja. Misalnya setelah mandi, Aria muncul di depanmu mengenakan pakaian dalam ini. Kira-kira kamu akan senang atau tidak?"
Seusai mandi. Kulit putih yang masih memerah karena uap hangat, tubuh yang lembut, dibalut kamisol merah tipis yang memperlihatkan siluet kulit di baliknya.
Bisikan iblis dari Cyril membuat bayangan itu muncul begitu jelas di kepalaku hingga pikiranku berhenti bekerja dan wajahku langsung memanas.
"Hei! Kau ini bodoh, ya!? Kenapa pembahasannya bisa sampai ke situ!?"
Melihatku membeku, Alphiria berteriak paling keras sepanjang hari sambil seolah mengeluarkan asap dari kepalanya.
Namun Cyril hanya tertawa kecil dan kembali menyerang.
"Bagaimana, Tuan Pelayan? Kalau diam saja aku tidak akan tahu. Atau... jangan-jangan kau baru bisa memberi pendapat kalau melihat Aria benar-benar memakainya?"
"Hah!? B-Bukan begitu..."
Aku spontan hendak menyangkal. Namun naluriku berbisik, 'Yakin mau menyangkal?' Kalau ditanya ingin melihat atau tidak, tentu saja jawabannya ingin.
Tapi kalau aku mengakuinya dengan jujur, yang menungguku pasti hukuman tanpa ampun.
"Hmm... kamu memang susah memberi jawaban. Kalau begitu tidak ada pilihan lain. Aria, ayo."
"T-Tunggu! Mau ke mana!? Jangan menarikku!"
Melihat sikapku yang ragu-ragu, Cyril menghela napas lalu menggenggam lengan Alphiria dan menyeretnya pergi.
"Sudah jelas. Ke ruang ganti. Kita harus memastikan sendiri apakah Tuan Pelayan benar-benar akan senang."
"Tidak perlu! Lagi pula aku sudah tahu Shinya akan menyukainya tanpa harus mencobanya!"
"Oh? Percaya diri sekali. Memangnya apa dasarnya?"
Mata Cyril langsung berubah tajam seperti pemburu yang berhasil menjebak mangsanya. Sementara itu, Alphiria sama sekali tidak menyadarinya dan malah mulai menyerang balik.
"Shinya itu familiar—eh, maksudku pelayanku. Kami selalu bersama setiap hari, jadi aku tahu pakaian seperti apa yang membuatnya berdebar tanpa perlu memastikan lagi."
Dengan wajah bangga, Alphiria membusungkan dada.
Yah, memang benar. Kalau aku bersemangat, kekuatan sihir akan mengalir ke tubuhnya. Tapi aku benar-benar berharap ia juga memikirkan bagaimana ucapan itu terdengar bagi orang yang tidak tahu situasinya.
"Selalu bersama, ya... begitu rupanya. Pantas saja kalian keluar bersama dari asrama putri yang seharusnya melarang laki-laki masuk."
Melihat senyum licik Cyril yang semakin lebar, aku langsung sadar.
Selesai sudah, dan Cyril pun melancarkan serangan pamungkas kepada majikanku yang malang, yang sama sekali belum sadar telah menjebak dirinya sendiri.
"Kalau begitu... berarti hubungan kalian bukan sekadar majikan dan pelayan, ya?"
"...Hah?"
Alphiria hanya berkedip-kedip dengan wajah kosong.
Kasihan sekali. Rupanya ia belum sadar kalau baru saja salah bicara. Melihat reaksinya, Cyril tersenyum semakin lebar.
"Hehehe. Jadi inilah yang disebut cinta terlarang. Hebat juga kau, Aria. Aku jadi melihatmu dengan pandangan baru."
"Cinta terlarang? Cyril, apa yang sebenarnya kau—"
"Siapa yang mulai duluan? Tuan Pelayan yang jatuh cinta pada pandangan pertama? Atau justru Aria? Tenang saja, akan kurahasiakan. Ceritakan semuanya padaku!"
Dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu, Cyril terus mendesak Alphiria tanpa memberinya kesempatan kabur.
Rupanya gadis-gadis di dunia lain juga sama saja. Mereka sangat menyukai gosip semacam ini, pikirku sambil merasa seperti orang luar.
"Kau salah paham! Aku dan Shinya sama sekali bukan hubungan seperti itu!"
"Iya, iya. Malu mengaku, ya? Kalau tidak enak membicarakannya di depan Tuan Pelayan, ayo kita ke ruang ganti. Sekalian kita buktikan apakah dia benar-benar akan senang."
"Kenapa malah jadi begitu!? Tolong jangan tarik aku! Shinya, tolong!"
"Aku bisa saja menolongmu... tapi kalau begitu aku juga akan mengorek semua rahasia Tuan Pelayan. Kalau tidak mau, duduk saja di sofa itu dan tunggu kami."
"Aku akan menunggu dengan tenang."
Tanpa ragu sedikit pun, aku mengangguk lalu duduk di sofa empuk yang ditunjuknya. Bagaimanapun juga, setiap manusia pasti lebih mementingkan keselamatan dirinya sendiri.
"Hei, Shinya!? Majikanmu sedang dalam bahaya, tapi kau langsung meninggalkanku tanpa berpikir sedikit pun!? Dasar tidak setia!"
"Ayo, Aria. Menyerahlah dan ikut denganku. Tenang saja, aku akan memperlakukanmu dengan lembut."
"Tidaaaak! Jangan seret akuuuu!"
Seperti seorang putri yang sedang diculik, Alphiria berteriak dengan mata berkaca-kaca. Namun Cyril hanya tersenyum lebar sambil terus menyeretnya menuju ruang ganti VIP di bagian belakang toko.
"Maaf, Aria. Kurasa aku memang tidak mungkin menang melawan Cyril."
Aku hanya bisa menyatukan kedua tangan dalam hati sampai sosok majikanku menghilang di balik tirai sambil terus mengulurkan tangan meminta pertolongan.
*****
Keesokan paginya, setelah hari libur yang terasa seperti neraka berkedok "refreshing", suasana kelas kembali seperti biasa.
Karena seharian harus mati-matian membujuk Alphiria yang masih ngambek akibat insiden memilih pakaian dalam, tubuh dan pikiranku sudah benar-benar kelelahan.
Aku pun merebahkan kepala di atas meja, mempersiapkan diri menghadapi hari yang panjang.
"Lawan aku, Shinya."
Bang! Seseorang menepuk mejaku keras-keras sambil mengucapkan kalimat yang terdengar sangat berbahaya dengan suara tenang.
Dia adalah teman sekelasku, Talon Muramore.
Di wajahnya tidak hanya terlihat kemarahan, tetapi juga aura membunuh yang begitu kuat hingga rasanya ia memandangku seperti musuh yang telah membunuh keluarganya.
"...Hah? Apa katamu?"
Aku masih kebingungan karena ajakan yang datang begitu mendadak itu dan tidak mengerti maksud perkataannya.
Melihat reaksiku, Talon menggertakkan giginya semakin keras, sementara raut wajahnya menjadi semakin garang.
"Aku sudah dengar. Kemarin saat hari libur, kau pergi berkencan sambil berbelanja dengan Alphiria-san, bukan? Dan yang lebih parah lagi, katanya kalian bahkan dengan mesra memilih pakaian dalam bersama!"
Sambil berkata demikian dengan wajah merah padam, Talon menunjukku dengan tegas.
Begitu kata-kata itu menggema di kelas, suasana yang tadinya ramai seketika menjadi sunyi senyap. Lalu, pada detik berikutnya...
"Kencan belanja!? Tadi dia bilang kencan belanja!?"
"Bukannya cuma menemani majikannya belanja?"
"Tapi... masa menyuruh pelayan memilih pakaian dalam? Mana mungkin begitu, kan!?"
Tatapan penuh rasa ingin tahu sekaligus iri dari teman-teman sekelas, baik laki-laki maupun perempuan, langsung tertuju kepadaku.
Seharusnya sejak Cyril melihat kami kemarin, aku sudah memperkirakan kemungkinan seperti ini. Namun aku sama sekali tidak menyangka ternyata dia juga melihat saat kami memilih pakaian dalam.
"Dan bukan cuma bersama Alphiria-san! Kudengar Cyril-san juga ikut! Itu bukan hanya tidak tahu malu, tapi juga keterlaluan!"
Talon berteriak dengan wajah memerah.
Melihat situasi yang bisa berubah menjadi baku hantam kapan saja, tanpa sadar aku menoleh kepada majikanku yang duduk di sebelah, meminta pertolongan.
"Aku hanya mengajak pelayanku menemani belanja. Tidak ada yang aneh dengan itu, bukan?"
Dengan wajah tenang sambil menyilangkan tangan, Alphiria menjawab seolah berkata, 'Lalu memangnya kenapa?'
Memang benar. Mau berbelanja dengan siapa pun saat hari libur adalah urusan pribadi, dan orang lain tidak berhak ikut campur. Namun itu hanya berlaku bagi orang biasa.
Bagi seseorang seterkenal Alphiria, tentu ceritanya berbeda.
Di dunia asalku pun aku sering melihat gosip seperti ini. Hanya saja, aku tidak pernah membayangkan suatu hari aku sendiri akan menjadi tokoh utamanya.
"Aria benar. Lagi pula, Tuan Pelayan hanya membantuku memilih pakaian dalam yang baru. Tidak terjadi apa-apa selain itu. Jadi sama sekali tidak ada yang tidak senonoh."
Cyril ikut menimpali dengan nada santai.
Akibatnya, kelas menjadi semakin gaduh. Bukannya menyiram minyak ke api, dia malah seperti melemparkan sihir ledakan ke tengah kobaran.
"Kalau hanya belanja tentu aku tidak akan mempermasalahkannya! Tapi mengajak pelayan membeli pakaian dalam jelas keterlaluan!"
Talon menyampaikan pendapat yang benar-benar masuk akal.
Bagus! Teruskan! Aku diam-diam menyemangatinya dalam hati. Masa depanku yang damai bergantung padamu!
Sayangnya lawan yang dihadapinya terlalu tangguh.
"Hehehe. Cemburu seorang pria memang jelek dilihat, ya, Talon. Atau jangan-jangan... sebenarnya kau juga ingin pergi membeli pakaian dalam bersama Aria? Bukankah itu justru lebih tidak tahu malu?"
"...Apa!?"
"B-Bukan! Aku sama sekali tidak punya niat seperti itu...!"
Entah karena ucapannya tepat sasaran atau karena gugup diejek, Talon langsung panik dan membela diri dengan wajah merah.
Sayangnya, teman-teman sekelas hanya memandangnya dengan tatapan kasihan seolah berkata,
"Jadi kau memang seperti itu, ya..."
"Grrr...!"
Tak mampu melampiaskan rasa malu dan kesalnya, Talon akhirnya mengalihkan seluruh emosinya kepadaku, padahal aku sendiri bahkan tidak mengatakan apa-apa.
"Nanatsuma Shinya! Bertarunglah denganku! Aku akan memastikan sendiri apakah kau benar-benar pantas berdiri di sisi Alphiria-san sebagai pelayannya!"
"Kenapa malah jadi begini..."
"Sejak awal pun aku tidak pernah menganggap orang yang hanya memiliki 5 poin kekuatan sihir sepertimu layak menjadi murid akademi. Dan perkataan ini juga kutujukan kepada Anda, Alphiria-san."
"...Apakah itu sebuah nasihat untukku, Muramore?"
Sudut bibir Alphiria terangkat membentuk senyum. Namun berlawanan dengan senyum lembut itu, kedua matanya sama sekali tidak tersenyum. Sebaliknya, kemarahan perlahan mulai terpancar darinya.
Sepertinya hanya aku dan Cyril yang menyadarinya.
"Ya. Dengan status keluarga Glastonbury, seharusnya Anda bisa mendapatkan pelayan yang jauh lebih berkualitas. Paling tidak, pria tak berguna seperti dia sama sekali tidak pantas menjadi pengawal ataupun pelayan."
"Dia adalah pelayan yang kupekerjakan secara pribadi. Keluarga Glastonbury tidak ada hubungannya."
"Kalau begitu justru kualitasnya harus lebih diperhatikan! Membiarkan pria yang bahkan memiliki kekuatan sihir lebih rendah daripada bayi berdiri di sisi Anda itu—"
Sebagian besar ucapan Talon memang benar. Dan orang yang paling menyadari hal itu adalah aku sendiri.
Memang sekarang aku sudah bisa menghasilkan kekuatan sihir. Namun jumlahnya sangat sedikit. Aku bahkan tidak yakin bisa menggunakan sihir.
Bagi Alphiria, dan bagi dunia ini, aku hanyalah seseorang yang tidak seharusnya berada di sini.
"Dengar ya, Muramore. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Kau ingin aku melakukan apa? Aku tidak suka berbasa-basi."
"Kalau begitu akan kukatakan langsung. Pecat Nanatsuma Shinya sekarang juga. Pria ini tidak pantas berada di sisi Anda."
"Kutolak. Kau tidak punya hak mengaturku."
Percikan ketegangan seolah beterbangan di antara mereka berdua.
Benar-benar terlalu berapi-api. Kalau ada masalah, bukan berarti semuanya harus diselesaikan dengan adu kekuatan.
Bukankah lebih baik menyelesaikannya dengan bicara baik-baik?
"Hehehe. Jadi orang populer memang merepotkan ya, Shinya."
"Hei... jangan bicara seolah ini bukan urusanmu. Tolong hentikan mereka berdua, Cyril."
Sambil tersenyum jahil, Cyril menepuk bahuku.
Aku benar-benar tidak ingin mengalami situasi seperti di manga shoujo yang berbunyi, "Jangan bertengkar demi aku."
"Haa... begini terus juga tidak akan ada habisnya."
"Aria?"
Melihat Alphiria mengangkat bahu dengan pasrah, firasat buruk langsung menyelimutiku.
"Shinya. Bertarunglah melawan Muramore."
"...Hah?"
"Menangkan duel itu, lalu buktikan bahwa kau memang pantas menjadi pelayan sekaligus pengawalku."
Mendengar perintah yang begitu mendadak, aku langsung membeku. Talon pun mendengus puas.
"Alphiria-san sudah mengizinkannya. Sekarang kau tidak bisa lagi lari dari duel."
"Ampun deh..."
Aku benar-benar menghela napas dari lubuk hati.
Bukannya ditolong, justru majikanku sendiri yang menutup semua jalan keluarku. Seumur hidup aku bahkan hampir tidak pernah berkelahi.
Bagaimana mungkin sekarang langsung harus berduel?
"Hei, apa kalian senang sekali membuatku pusing sejak pagi?"
Pintu kelas terbuka. Dari pintu masuk terdengar suara penuh kejengkelan.
Di sana berdiri Eldor-sensei dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan, 'Aku benar-benar muak dengan tingkah kalian.'
Selamat! Masih belum terlambat. Kalau aku memohon kepada Eldor-sensei sekarang juga, mungkin duel bodoh ini bisa dibatalkan. Beliau pasti akan menghentikannya.
Saat aku hendak membuka mulut...
"Kalau boleh jujur, aku ingin memarahi kalian karena mengambil keputusan sendiri... tapi sudahlah. Kebetulan pelajaran pertamaku hari ini memang latihan praktik. Daripada kalian terus ribut di kelas, lebih baik aku izinkan duel ini."
"Yeeeeeeah!!"
Sorak-sorai teman-teman sekelas menggema. Sementara harapanku hancur berkeping-keping.
Bukankah tugas seorang guru seharusnya menghentikan perkelahian?
"—Menarik juga perkembangan ini, Eldor-sensei."
Saat suasana kelas semakin ramai, seseorang lagi muncul.
Begitu suara tegas itu terdengar, Eldor-sensei menghela napas panjang. Talon, Cyril, dan seluruh murid lainnya segera meluruskan punggung dan berdiri dengan sikap hormat.
"Ada keperluan apa, Kepala Akademi Orthea? Kami akan segera memulai homeroom dan pelajaran. Bisakah Anda tidak mengganggu?"
Di wajah Guru Eldoa jelas tertulis kalimat, "Masalah besar datang lagi."
Aku pun sependapat. Melihat sifat Kepala Akademi, kemunculannya di saat seperti ini jelas bukan kebetulan.
"Mengganggu, katamu? Justru kalian yang aneh. Mana ada guru yang memakai jam pelajaran untuk mengadakan duel? Jangan menghabiskan waktu belajar murid demi pertengkaran pribadi."
Oh? Alurnya berubah. Jangan-jangan Kepala Akademi akan menjadi penengah?
"Ini bagian dari latihan pertarungan nyata. Bukankah justru Kepala Akademi Orthea sendiri yang pernah mengatakan bahwa pengalaman bertarung melawan sesama penyihir adalah hal terpenting?"
"Memang benar... tapi bukankah pertarungan antara Shinya dan Muramore sama sekali tidak seimbang?"
"Mungkin saja begitu. Namun ini adalah keputusan mereka sendiri. Kurasa tidak pantas jika aku ikut campur."
"Begitu, ya."
Kepala Akademi Orthea mengangguk sambil tersenyum.
Lalu sebenarnya beliau datang untuk apa? Kalau akhirnya langsung kalah berdebat begini, lebih baik tadi tidak usah muncul.
"Meski begitu, kalau pihak yang akan bertarung sendiri masih kebingungan, duel tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Sebaiknya beri mereka sedikit waktu. Tidak masalah, kan, Talon Muramore?"
"Tentu saja tidak masalah. Mau diberi waktu berapa lama pun hasilnya tidak akan berubah."
Talon sama sekali tidak menyembunyikan rasa percaya diri dan keyakinannya.
Memang benar. Dilihat dari jumlah kekuatan sihir saja, mustahil aku menang. Belum lagi pengalaman sebagai penyihir. Kalau bertarung secara normal, duel ini memang tidak akan seimbang.
"Baiklah. Duel akan dilaksanakan tiga puluh menit lagi, di pertengahan pelajaran pertama. Alphiria, kau bertanggung jawab memastikan Shinya siap bertarung. Mengerti?"
Tak perlu dijelaskan lagi apa maksudnya.
Alphiria segera memahami. Ia mengangguk pelan, menggenggam tanganku, lalu mulai berjalan.
"Baik. Ayo, Shinya. Ikut denganku."
"T-Tunggu, Aria! Jangan menarikku terlalu keras...!"
"Diam dan ikut saja. Kita hanya punya tiga puluh menit!"
"Aku akan menjadi saksi duel. Sekarang semuanya menuju arena latihan!"
Dan begitulah, hanya karena satu keputusan dari Kepala Akademi Orthea, duel antara aku dan Talon resmi diputuskan akan dilaksanakan.
*****
Seolah melarikan diri dari keramaian ruang kelas, Alphiria mencengkeram pergelangan tanganku dan menyeretku setengah paksa menuju sebuah ruangan yang terletak di samping area latihan.
Begitu pintunya dibuka, ruangan itu ternyata kosong. Udara dingin dan aroma debu yang samar langsung menyentuh hidungku.
"...Tiga puluh menit."
Menyandarkan punggungnya ke pintu sambil mengembuskan napas pelan, Alphiria bergumam lirih. Rupanya hanya aku yang panik menghadapi perkembangan situasi yang begitu kacau ini. Tuanku tetap mempertahankan sikap tenangnya yang biasanya. Bahkan, di matanya tampak cahaya penuh tantangan sekaligus kegembiraan.
"Hei, Aria. Kenapa kau menerima duel itu? Kubilang ya, aku sama sekali tidak percaya diri bisa menang."
"Karena menurutku ini kesempatan yang pas untuk menambah pengalaman bertarung. Tidak lebih dan tidak kurang."
Tanpa sedikit pun merasa bersalah, Alphiria menyilangkan tangan dan tersenyum penuh percaya diri. Ini benar-benar latihan ala Spartan yang keterlaluan. Sudah jelas bagaimana jadinya jika seorang amatir disuruh bertarung melawan petarung profesional.
"Selain itu, aku juga ingin memperlihatkan kepada semua orang di sini... kekuatanmu yang sebenarnya. Bahwa kau adalah pria yang pantas berdiri di sisiku."
Sambil berkata demikian, Alphiria melangkah mendekat hingga jarak kami nyaris tak ada lagi. Ia mendorong tubuhku ke dinding, lalu menahan jalan keluarku dengan kedua tangannya dalam posisi kabedon.
"A-Alphiria...?"
"Lagi pula, Shinya. Aku bukan orang dewasa yang bisa diam saja ketika familiar milikku dihina."
Matanya yang menyipit penuh kenakalan menatapku dengan panas, seolah seekor pemburu yang telah mengunci mangsanya.
"Baiklah, Shinya. Kita tidak punya banyak waktu. Ayo mulai."
"Mulai... apa?"
Sebenarnya aku sudah bisa menebak apa yang hendak dilakukannya. Bukannya menjawab pertanyaanku, Alphiria justru mengangkat tangan ke pita di dadanya.
Suara lembut kain sutra bergesekan bergema di ruangan yang sunyi ketika ia mulai membuka kancing blusnya satu demi satu tanpa sedikit pun ragu.
"T-Tunggu! Bagaimanapun juga, di tempat seperti ini...!?"
"Kita tidak punya waktu memilih tempat, bukan? Kita harus menghasilkan cukup banyak mana supaya bajingan Talon itu bisa kuhempaskan ke tanah."
Dengan nada tegas, ia melepaskan blusnya hingga melorot dari kedua bahunya.
Di ruang persiapan yang remang-remang, yang tampak adalah kulit putihnya yang sebening porselen, serta pakaian dalam tipis berenda yang membingkai tubuhnya. Di balik kain tipis itu, lekuk dadanya yang berisi tampak bergoyang lembut, seolah nyaris meluap keluar.
Pemandangan seorang wanita secantik dirinya yang begitu terbuka dan menggoda membuatku kehilangan kata-kata. Tanpa sadar aku menelan ludah.
"...!? Aria!?"
"Ayo... jangan cuma bengong. Cepat... peluk aku."
Dengan suara berbisik yang hangat dan manis, Alphiria membuka kedua lengannya.
Tanpa sadar aku menurut. Perlahan aku mengulurkan tangan dan memeluk tubuh rampingnya dengan hati-hati.
"Ah... nn..."
Begitu tubuh kami saling menempel, aroma bunga yang manis langsung memenuhi udara.
Kelembutan tubuhnya terasa seperti bantal air, hangat oleh suhu tubuh manusia, membuat pikiranku perlahan berhenti bekerja. Bahkan melalui pakaian dalamnya, aku bisa merasakan jantungnya berdetak cepat.
Duk... duk... duk...
Sikap percaya dirinya yang tadi penuh tantangan kini sudah menghilang. Pipi Alphiria memerah karena panas.
Ini bukan sekadar rayuan. Ini adalah tekadnya. Ia rela menahan rasa malu demi memberiku kesempatan untuk menang.
"B-Bagaimana, Shinya...? Jantungmu... berdebar?"
"Iya... rasanya... jantungku hampir meledak..."
Berpelukan dengan gadis secantik dirinya di ruang persiapan yang kosong.
Tidak mungkin aku tidak gugup dalam situasi klasik seperti ini. Namun rasa takut untuk bertarung yang masih bersarang di dalam hatiku menghalangi mana untuk lahir.
"Tidak apa-apa, Shinya. Tenangkan dirimu. Tarik napas yang dalam."
Suaranya dipenuhi kasih sayang yang lembut, seolah hendak mencairkan hatiku yang membeku.
"Kau tidak sendirian. Aku ada bersamamu. Jadi tidak perlu takut."
Begitu mendengar suara dan tatapan lembutnya, terasa seolah ada api yang menyala jauh di dalam jantungku yang sebelumnya membeku karena ketakutan.
Detak jantungku meningkat semakin cepat. Api itu berubah menjadi panas luar biasa, lalu mulai melahirkan mana dalam jumlah besar bagaikan raungan kobaran api.
"Hehe... jantungmu berdetak kencang sekali, Shinya. Sudah sedikit lebih tenang?"
"Iya... terima kasih, Aria."
Ketegangan di pundakku perlahan menghilang. Aku melingkarkan kedua tanganku ke pinggang rampingnya dan memeluknya erat seolah mencari sandaran.
Kubenamkan wajahku di bahunya yang lembut, menghirup dalam aroma bunga yang manis itu.
Ia pun membalas dengan mengusap punggungku lembut, seperti menenangkan seorang anak yang besar.
Perlahan, detak jantung dan kehangatan tubuh kami seakan melebur menjadi satu.
Beberapa saat kemudian, ketika aku mengangkat wajah, mataku langsung bertemu dengan sepasang mata biru esnya yang basah oleh emosi dari jarak yang sangat dekat.
Pada jarak sedekat itu hingga napas kami saling bercampur, ia membuka bibir merah mudanya yang sedikit bergetar.
"Shinya... bagaimana kalau kita berciuman?"
Bahkan sebelum sempat menjawab ataupun mengangguk, Alphiria telah lebih dulu mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibirku.
Saat itu, dari balik pintu terdengar suara Cyril yang kebingungan.
"Aneh ya. Rasanya Aria dan kepala pelayan itu tadi ke arah sini... mereka pergi ke mana, ya?"
Seolah disiram air dingin, aku langsung kembali sadar dan buru-buru melepaskan bibirku darinya.
"Haa... haa... ah... kenapa... berhenti...?"
Dengan tatapan yang masih sayu seperti sedang bermimpi, Alphiria menatapku penuh ketidakpuasan. Tampaknya ia terlalu larut hingga tidak menyadari Cyril berada tepat di luar.
"Pelan-pelan. Cyril ada tepat di dekat sini. Kalau ketahuan, kita benar-benar dalam masalah."
"Hee...? Kenapa Cyril ada di sini...?"
"Mungkin dia sedang mencari kita..."
Apa yang harus kulakukan?
Kalau Cyril melihat Alphiria dengan wajah memerah dan hanya mengenakan pakaian dalam, entah apa yang akan dikatakannya.
Suara langkah kaki di luar masih terdengar. Kapan saja ia bisa masuk.
"Jangan-jangan mereka sedang bersembunyi melakukan sesuatu? Kalau begitu... ruangan ini cukup mencurigakan."
Gawat. Dia akan masuk.
Tanpa pikir panjang aku memungut blus Alphiria yang terjatuh di lantai, menggenggam tangannya yang masih linglung, lalu menariknya ke sebuah lemari besi sempit tempat menyimpan alat kebersihan di sudut ruangan.
Aku ikut masuk setelahnya dan segera menutup pintu lemari.
Beberapa detik kemudian, seperti yang kuduga, terdengar bunyi pelan pintu ruang persiapan terbuka.
"...Tidak ada siapa-siapa."
Suara gumaman Cyril terdengar bersamaan dengan langkah kakinya yang berjalan mengelilingi ruangan.
Di dalam lemari yang gelap gulita, kami saling berhimpitan.
"Mm... ah..."
Tiba-tiba terdengar suara pelan Alphiria bersamaan dengan sensasi lembut yang terasa di tangan kananku.
Karena tadi panik saat masuk, tanpa sadar tanganku ternyata menggenggam salah satu bagian dadanya.
"M-Maaf...!"
Aku buru-buru hendak melepaskan tangan. Namun entah mengapa, dalam kegelapan, tangan Alphiria yang hangat justru menggenggam pergelangan tanganku agar tidak menjauh.
"...Sentuh aku... lagi."
Meskipun berada dalam situasi seperti ini, ia membisikkan kata-kata itu dengan suara yang manis dan bergetar. Sambil berkata demikian, ia justru semakin mendekatkan tubuhnya ke tanganku.
Aku menelan ludah, lalu menurutinya dengan mengusapnya secara lembut.
Ia menggigit jarinya sendiri agar tidak mengeluarkan suara ketika sentuhan itu membuat napasnya sedikit bergetar.
"Tidak ada juga ya... Mungkin memang bukan di sini?"
Langkah kaki Cyril perlahan semakin mendekati lemari tempat kami bersembunyi.
Gawat. Karena gugup, tanpa sadar tanganku sedikit menegang. Dari bibir Alphiria terdengar suara lirih.
"Ah... ah..."
"Hm? Barusan... seperti ada suara?"
Tepat di depan loker, suara langkah Cyril mendadak berhenti. Ia berada tepat di balik pintu tipis yang memisahkan kami. Gawat. Kalau begini terus, kami pasti ketahuan.
Refleks, aku menutup lembut mulut Alphiria yang napasnya masih memburu dengan tangan kiriku, sementara aku sendiri menahan napas.
Di dalam loker besi yang sempit itu, detak jantung kami berdua berdentum keras—duk... duk...—hingga terasa memekakkan telinga.
Tolong... cepatlah keluar dari ruangan ini...
Namun, seolah mengejek kegelisahanku, Alphiria justru melakukan sesuatu yang sama sekali di luar dugaan.
"Mm... chuu... slurp... chup... mm..."
"......!?!?"
Jeritan tanpa suara hampir lolos dari bibirku.
Padahal Cyril masih berdiri tepat di luar, tetapi Alphiria malah memasukkan jari yang menutupi mulutnya ke dalam mulutnya, lalu mulai mengisap dan menjilatinya. Lidahnya melilit jari itu, mengusap perlahan sambil mengisapnya.
"Mm... chup... churu... slurp... mm..."
"Aria... apa yang sedang kau lakukan...?"
Aku tak bisa bersuara keras. Namun membiarkannya begitu saja juga sama sekali tidak baik bagi kewarasanku, jadi aku hanya mampu melontarkan protes lirih.
Tetapi Alphiria hanya menatapku dengan mata yang telah dipenuhi hasrat, sama sekali tidak berniat menghentikan ulahnya.
Sementara tangan kananku masih meremas dadanya yang lembut, sensasi hangat lidahnya yang menjilat ujung jari tangan kiriku membuat pikiranku seakan meleleh.
Jantungku berdegup begitu keras hingga aku khawatir suaranya terdengar keluar. Bersamaan dengan itu, kekuatan sihir terus tercipta dalam jumlah besar, membuat seluruh tubuhku semakin panas.
"Mm... chup... churu... haa..."
Dengan suara lirih, Alphiria akhirnya melepaskan jariku dari mulutnya. Benang bening air liur masih menggantung dari sudut bibirnya ketika ia memohon dengan suara manis yang bergetar.
"Tolong, Shinya... sentuh langsung..."
"H-Hah...?"
"Kalau masih terhalang pakaian dalam rasanya tidak cukup. Jadi... ya?"
Sebelum aku sempat bertanya apa maksud "jadi" itu, ia sudah meraih punggungnya sendiri.
Tuk. Dengan bunyi kecil itu, kait pakaian dalamnya terlepas. Payudaranya yang montok dan lembut langsung menempel ke dadaku.
"Tak usah sungkan... sentuh... payudaraku... buat jantungmu berdebar lebih kencang... ciptakan... kekuatan sihir… Aku ingin lebih banyak..."
Sambil berbisik seperti hendak menangis, ia kembali menggenggam tangan kananku dan membimbingnya ke kulitnya secara langsung.
Akal sehatku berteriak agar berhenti. Namun naluri yang berbisik, penuhi keinginan tuanmu, jauh lebih kuat.
"Ya ampun... padahal sebentar lagi duel dimulai. Sebenarnya mereka pergi ke mana?"
Suara keluhan Cyril terdengar tepat di depan loker.
Kalau kami terus begini, pasti ketahuan. Namun ketegangan yang luar biasa, ditambah rasa bersalah yang justru memacu gairah, telah membakar habis sisa-sisa kewarasan kami.
"Ah... haa... aaah..."
Sentuhan langsung itu sama sekali tak bisa dibandingkan dengan sebelumnya.
Di telapak tanganku terasa kelembutan hangat bagaikan balon air yang begitu empuk hingga jariku seolah terus tenggelam ke dalamnya, namun tetap memiliki elastisitas yang kokoh.
"Hnn... tangan Shinya hangat sekali... enak rasanya... bagian ujungnya juga... tolong... sentuh..."
Setiap kali jemariku bergerak meremas kelembutan itu, bahu Alphiria bergetar dan ia mengeluarkan desahan pelan. Lalu, demi memenuhi permintaannya, aku menyentuh ujung dadanya yang mulai mengeras.
Saat aku mengusapnya perlahan dengan ujung jari, tubuh Alphiria langsung tersentak.
"Ah... aaah...!"
Suaranya semakin keras.
Kalau begini terus, kami benar-benar akan ketahuan.
Aku hendak kembali menutup mulutnya, tetapi sebelum sempat melakukannya, Alphiria berjinjit dan kembali menciumku untuk kedua kalinya.
"Mm... chuu... slurp... mm..."
Entah agar suaranya tidak keluar, atau untuk melampiaskan gairah yang memenuhi dirinya.
Sambil terus menempelkan tubuhnya erat-erat hingga bagian bawah tubuh kami saling bersentuhan, ia memaksa lidahnya masuk melalui celah kecil di antara bibir kami, lalu saling melilitkannya dengan lidahku.
"Ah... mm... chup..."
Belaiannya dan ciuman yang begitu dalam. Perpaduan keduanya, ditambah situasi yang bisa menghancurkan kami jika sampai ketahuan, membuat gairahku terus meningkat tanpa batas.
Suara basah yang menggema langsung di telingaku. Detak jantungnya yang kurasakan melalui telapak tanganku.
Jantungku sendiri juga berdegup sekeras yang belum pernah kurasakan sebelumnya, menghasilkan ledakan kekuatan sihir yang mengalir ke seluruh tubuh.
"...Mungkin hanya perasaanku saja."
Dari balik pintu, Cyril bergumam pelan.
"Mana mungkin mereka bersembunyi di loker sekecil ini."
Sesaat setelah gumaman yang terdengar seperti mengejek dirinya sendiri itu, suara langkah kaki yang membuat kami begitu tegang perlahan menjauh.
Tak... tak...Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu berat ditutup. Brak!
Keheningan pun kembali menyelimuti ruang tunggu.
"Ah... haa... haa..."
Mungkin karena akhirnya merasa lega setelah kehadiran Cyril menghilang, bibir Alphiria perlahan terlepas dari bibirku.
Bahaya terbesar telah berlalu. Sekarang kami akhirnya bisa keluar dari loker itu. Namun meski begitu, keintiman kami tidak berhenti—lebih tepatnya, kami tidak mampu menghentikannya.
Ketegangan yang selama ini menahan kami akhirnya terputus, dan rasa haus akan kekuatan sihir yang selama ini ditekan meledak bersamaan dengan hasrat yang meluap.
Alphiria bersandar erat di dadaku, benang-benang air liur keperakan masih menghubungkan bibir kami. Dengan mata yang berkabut oleh gairah, ia mendongak menatapku.
"Shinya... haa... ah... cium aku lagi... lebih banyak lagi... ya...? Banyak ciuman... supaya sihir kita... ah... ah... tercipta lagi... mmh..."
Ia ngambek dengan suara yang cadel dan manja. Godaan yang begitu menggoda—sesuatu yang sama sekali tak terbayangkan dari sosoknya yang biasanya anggun dan tegas—membuatku hampir tanpa sadar merangkul pinggangnya semakin erat dan kembali menyatukan bibir kami.
"Ah... mmh... nnh... mm...chuu!"
Lidah kami saling bertautan erat. Air liur kami bercampur, sementara suara kecupan yang basah menggema di dalam loker sempit itu. Tangan kiriku memeluk pinggangnya erat, sedangkan tangan kananku meremas lembut dadanya yang terbuka. Setiap sentuhan membuat desahan manisnya mengalir langsung ke dalam ciuman kami.
Kekuatan sihir dalam jumlah besar yang lahir dari gairah dan kenikmatan mengalir ke dalam tubuh Alphiria, lalu kembali mengalir kepadaku.
"Ah... mmh... masuk...! Haa... ah... kekuatan sihir Shinya yang hangat... ah...!"
Sirkulasi kekuatan sihir dan kehangatan itu membawa kebahagiaan yang begitu memabukkan, seolah tubuh dan jiwa kami benar-benar melebur menjadi satu. Baik aku maupun Alphiria kehilangan sisa-sisa akal sehat kami.
"Haa... ah... rasanya... enak sekali...! Shinya... lebih... beri aku lebih banyak...! Penuhi diriku dengan kehangatan sihirmu...!"
Permohonan Alphiria yang terdengar hampir seperti jeritan membuatku semakin kehilangan kendali. Hampir tanpa sadar tubuh kami saling mendekat, dan pada saat yang sama, inti kekuatan di dalam diriku mencapai batasnya.
"───!!"
Kekuatan sihir yang meluap mengalir deras ke dalam diri Alphiria. Seketika itu juga, punggung mungilnya melengkung kuat.
"Haa... ah... banyak sekali...! Hangat...! Kepalaku... jadi kosong...! Ah... Shinya... ini... tidak... ah...!"
Dari bibir Alphiria terlepas jeritan bernada tinggi saat puncak kenikmatan dan limpahan kekuatan itu mencapai batasnya. Tubuhnya bergetar hebat, tak mampu lagi menahan arus panas dan kekuatan sihir yang memenuhi dirinya. Lututnya akhirnya lemas, dan ia jatuh lemas ke dalam pelukanku.
"───! Aria!?"
Tubuhnya yang kehilangan seluruh tenaga langsung bertumpu padaku. Di dalam loker yang begitu sempit, aku tak mampu menahan benturan itu, dan kami pun terguling keluar dalam keadaan saling berpelukan.
Dengan bunyi dumm, punggungku menghantam lantai yang dingin. Cahaya yang tiba-tiba memenuhi pandanganku membuat kulit putih bagaikan porselen milik Alphiria yang sedang kupeluk terlihat jelas, hingga jantungku yang seharusnya sudah tenang kembali berdebar.
"A-Aria... kau nggak apa-apa?"
Aku memanggil tuanku yang terjatuh tepat di atas dadaku dengan hati-hati, tetapi tak ada jawaban. Alphiria hanya menyembunyikan wajahnya di dadaku, sementara bahunya bergetar pelan.
Sisa-sisa puncak kenikmatan dan hangatnya kekuatan sihir yang telah memenuhi dirinya perlahan memudar. Bersamaan dengan itu, akal sehat dan rasa malunya yang sempat larut dalam kenikmatan pun perlahan kembali.
"U-uh... aku... sudah melakukan sesuatu yang begitu memalukan..."
Dengan wajah masih tersembunyi di dadaku, Alphiria mengerang lirih. Telinga hingga tengkuknya yang tampak di balik rambut keemasannya memerah seperti udang rebus.
Seorang putri dari keluarga terpandang telah melepaskan pakaian dalamnya sendiri, membiarkan familiar-nya menyentuh tubuhnya secara langsung, lalu memohon dengan kata-kata yang begitu memalukan sebelum akhirnya mencapai puncak kenikmatan. Jika dipikirkan dengan kepala dingin, tak heran bila sekarang ia merasa begitu malu hingga ingin menghilang dari hadapan siapa pun.
"E-emm... Aria..."
"Jangan! Tetap seperti ini dulu! Biarkan aku begini sebentar lagi!"
Tak ada lagi jejak rayuan menggoda ataupun sikap angkuh dan percaya dirinya yang biasa. Yang tersisa hanyalah seorang gadis yang menggeliat karena rasa malu. Perbedaan itu begitu mencolok hingga membuatnya terlihat sangat menggemaskan dan membangkitkan keinginan untuk melindunginya.
"...Baiklah. Dan terima kasih. Sekarang rasanya aku tidak akan kalah dari siapa pun."
Saat aku berkata demikian sambil mengusap punggungnya dengan lembut, tubuh Alphiria yang semula gemetar langsung berhenti. Ia sedikit mengangkat wajahnya.
"...Benarkah? Kau bisa mengalahkan Talon?"
Mata birunya menatapku dari bawah, masih dipenuhi sisa air mata karena rasa malu sekaligus kecemasan.
"Tentu saja. Kalau kita mengukur kekuatan sihirku sekarang, hasilnya pasti luar biasa. Semua ini berkat kerja kerasmu, Aria."
Begitu aku tersenyum, wajah Alphiria semakin merah.
"B-bodoh..." gumamnya pelan. Namun tangannya tetap mencengkeram kemejaku dan sama sekali tidak berniat melepaskannya.
"Kalau kekuatan sihirnya berhasil tercipta, itu sudah cukup. Lagi pula aku ini tuanmu. Melakukan hal seperti ini... sudah sewajarnya."
Sambil berusaha mempertahankan harga dirinya, Alphiria menyandarkan kepalanya di dada kiriku dan perlahan memejamkan mata, seolah hendak tertidur.
"E-emm... Alphiria-san? Akan sangat membantu kalau kau mau turun sekarang..."
"Mmm... tidak bisa. Lima menit lagi..."
"Memangnya kau murid yang susah bangun tidur?"
"Ini salahmu, Shinya. Karena kau mengalirkan terlalu banyak kekuatan sihir... kakiku jadi tak bertenaga."
"Yang kau maksud kekuatan sihir, kan!? Cara bicaramu bisa bikin orang salah paham!"
Dengan nada manja dan sedikit ngambek, Alphiria terus menjadikan tubuhku sebagai bantal. Sejujurnya, lima menit ataupun sepuluh menit aku tak keberatan tetap seperti ini. Namun kalau kami terus berpelukan seperti ini, bisa berbahaya dalam berbagai arti.
"Masih ada waktu sebelum tiga puluh menit yang kita janjikan habis, bukan? Sesekali turuti perkataan tuanmu, wahai familiar yang tidak berguna."
"Aku juga ingin memanjakanmu... tapi setidaknya pakailah seragammu dulu."
"...Eh? Seragam?"
Dengan mata yang masih setengah mengantuk, Alphiria memiringkan kepalanya kebingungan. Aku menunjuk ke arah tubuhnya sambil mengalihkan pandangan.
Barulah ia menyadari bagaimana penampilannya saat ini.
"Hya... aaah...!?"
Wajahnya langsung semerah tomat, seolah akan mengeluarkan bunyi pop. Padahal tadi kakinya masih lemas, tetapi kini ia langsung melompat menjauh dariku dan buru-buru menutupi dadanya yang telanjang dengan kedua lengan, sebelum terduduk lemas di lantai.
"Shinya, bodoh! Mesum! Dasar cabul! Kenapa tidak bilang dari tadi!?"
"Hei, itu tidak adil!"
Sambil menerima omelan tuanku yang hampir menangis, aku ikut bangkit berdiri. Alphiria segera membelakangiku dan mengenakan kembali pakaian dalamnya. Bagi remaja sepertiku, pemandangan itu justru semakin menggoda, sehingga aku buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.
"Mmh...."
Di ruang tunggu yang sunyi, terdengar suara lirih yang terdengar begitu memesona. Bunyi kecil pengait pakaian dalam yang dikancingkan, disusul suara lembut kain yang bergesekan ketika ia mengenakan kembali blusnya, terdengar jelas tepat di belakangku.
(Jangan melihat. Jangan melihat. Jangan melihat...!)
Semakin aku mengingatkan diri sendiri sambil memejamkan mata, semakin jelas pula kenangan akan kelembutan yang tadi sempat kurasakan memenuhi pikiranku.
"...Sudah selesai. Kau boleh melihat sekarang."
Beberapa saat kemudian, terdengar suara Alphiria yang masih sedikit malu. Aku perlahan membuka mata dan menoleh.
Di sana berdiri Alphiria seperti biasanya, pakaiannya telah rapi, meski rona merah masih tersisa samar di pipinya. Aku mengembuskan napas lega.
"Astaga, kerah bajumu miring. Kau harus lebih rapi."
Ia berjinjit sedikit, lalu dengan suara lembut membenarkan kerah kemejaku yang berantakan. Sentuhan ujung jarinya, rambut keemasan yang sedikit berantakan, dan aroma manis yang samar tercium darinya membuat bulu kudukku merinding—bukan karena takut menghadapi pertarungan yang akan datang, melainkan karena alasan lain.
"Nah, selesai! Ayo, Shinya. Tunjukkan pada Talon. Buktikan bahwa kau memiliki kekuatan yang pantas untuk berdiri di sisi Alphiria Glastonbury."
Sambil memperlihatkan senyum penuh percaya diri sekaligus begitu indah, ia menepuk bahuku dengan mantap. Di balik tatapan itu tersimpan kepercayaan mutlak dan kasih sayang yang mendalam.
"Baik. Serahkan padaku, Tuanku."
"Hehe. Buat mereka semua terpukau, Shinya."
*****
Saat aku melangkah memasuki arena latihan bersama Alphiria, langkahku langsung terhenti karena begitu banyak tatapan tajam yang mengarah kepada kami.
Rupanya kabar tentang keributan ini telah menyebar meski pelajaran masih berlangsung. Bukan hanya teman sekelas, bahkan banyak murid lain ikut berdatangan sebagai penonton hingga tribun yang menyatu dengan arena telah dipenuhi para siswa.
Bagi kami yang beberapa menit sebelumnya baru saja berbagi rahasia di ruang tunggu, pemandangan ini terasa seolah-olah semua orang sedang menyingkap dosa kami. Tenggorokanku terasa tercekat.
"Hei, kalian berdua lama sekali. Dari tadi ke mana dan sedang apa—eh...?"
Cyril menghampiri sambil memasang wajah kesal, tetapi begitu melihat wajah kami, langkahnya mendadak berhenti. Ia menyipitkan mata, bergantian menatapku dan Alphiria, lalu mendekatkan wajahnya ke arahku dan mengendus pelan.
"Hei, Tuan Pelayan. Kenapa tubuhmu berbau sama seperti Aria? Dan lagi, dari kalian berdua tercium aroma manis seperti madu yang belum pernah kucium sebelumnya... atau hanya perasaanku saja?"
"...Itu hanya perasaanmu. Kami tidak melakukan apa pun yang mencurigakan."
"Aku bahkan tidak bertanya apakah kalian melakukan sesuatu yang mencurigakan... Tapi ngomong-ngomong, Aria, kancing blusmu meleset. Sebaiknya dibenarkan."
"──!? "
Sambil tersenyum jahil, Cyril menunjukkannya. Alphiria buru-buru memeriksa pakaiannya. Benar saja, mulai dari kancing kedua ke bawah semuanya bergeser. Rupanya karena tadi ia mengenakannya dengan tergesa-gesa.
"Jadi kalian melakukan sesuatu sampai kancing blusmu bergeser, ya? Hei, Aria, sebenarnya apa yang kalian lakukan di ruang tunggu?"
"T-ti-tidak melakukan apa-apa! Aku dan Shinya di dalam loker cuma──"
"Berhentiiiii! Jangan lanjutkan lagi, Aria! Semakin kau bicara, semakin memperburuk keadaan!"
Wajah Alphiria memerah seperti bom yang baru meledak. Dalam kepanikannya, ia hampir saja membongkar semuanya, sehingga aku buru-buru menghentikannya.
"Lupakan itu! Yang lebih penting, apa maksud semua ini, Eldor-sensei!?"
Untuk menghindari interogasi Cyril lebih jauh, Alphiria dengan sangat memaksa mengalihkan pembicaraan kepada guru wali kelas kami.
"Kenapa ada begitu banyak orang berkumpul di sini? Apa duel ini sengaja dijadikan tontonan?"
"Maaf. Aku sudah berusaha menghentikannya, tetapi Kepala Akademi sama sekali tidak mau mendengarkan... Aku benar-benar minta maaf."
Eldor-sensei menundukkan kepala dalam-dalam kepada kami dengan wajah penuh rasa bersalah.
Sejujurnya aku sudah menduga penyebabnya, jadi bukannya terkejut, aku justru lebih merasa kesal.
Sebenarnya apa yang dipikirkan orang itu? Padahal aku baru saja mulai mengubah penilaianku terhadapnya. Sekarang malah turun derajat menjadi sekadar biang kerok yang senang membuat kekacauan.
"Hahaha! Jangan terlalu menyalahkan Eldor-sensei. Kalau memang harus bertarung, bukankah lebih baik hasilnya diputuskan secara terbuka agar tak menyisakan dendam?"
Pelaku utamanya, Kepala Akademi Orthea, berjalan menghampiri kami dengan langkah lebar sambil tertawa riang.
Tatapan Alphiria langsung dipenuhi amarah dingin. Dari tubuhnya masih memancar hawa panas akibat kekuatan sihir dalam jumlah besar yang baru saja kutuangkan kepadanya beberapa saat lalu.
"Jangan menatapku dengan wajah seseram itu, Alphiria. Lagi pula semua ini kulakukan demi kalian."
"Bagian mana dari situasi ini yang demi kami? Kalau ingin mengigau, lakukan saat tidur. Kalau mengatakannya saat sedang bangun, itu hanya omong kosong."
"Hahahaha! Kau memang tajam sekaligus lucu, Alphiria."
"Aku tidak senang dipuji. Daripada itu, jelaskan alasannya. Kenapa duel antara Shinya dan Talon dijadikan pertandingan terbuka? Apa yang terjadi selama tiga puluh menit ini?"
"Jangan terlalu emosi. Alasannya sederhana. Karena──"
Di tengah kalimatnya, Kepala Akademi berhenti, lalu mendekatkan wajahnya agar tak terdengar orang lain dan berbisik pelan.
"Bukankah akan jauh lebih mudah ke depannya kalau Talon Muramore dikalahkan di sini?"
Mata Alphiria langsung membelalak seolah baru menyadari sesuatu. Kepala Akademi menyeringai dan melanjutkan.
"Kalau Talon kalah, tak akan ada lagi yang berani mencari gara-gara dengan Shinya. Dan Alphiria, kalau suatu hari ada yang menantangmu berduel, kau tinggal menunjuk Shinya sebagai wakilmu."
Saat ini kekuatan sihir Alphiria selalu berada sekitar dua puluh persen dari kondisi normal. Jika dipaksa berduel dalam keadaan seperti itu, ia pasti akan kesulitan, bahkan bisa saja kalah.
"Bukankah ini kesempatan langka untuk terbebas dari semua kerepotan itu?"
Napas Alphiria sempat terhenti. Tepat mengenai sasaran. Ia menggigit bibirnya dengan kesal.
"...Ada benarnya juga. Meski aku tidak suka mengakuinya."
"Kukuku... Syukurlah niat baikku tersampaikan. Berjuanglah demi tuanmu, Shinya. Kalian sudah menghasilkan banyak kekuatan sihir di ruang tunggu, bukan?"
"Gawat..."
Kepala Akademi menepuk-nepuk bahuku. Dari cara bicaranya, jelas ia mengetahui apa yang terjadi di ruang tunggu antara aku dan Alphiria. Keringat dingin mengalir di punggungku sementara aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Anda benar-benar terlalu menghargai orang tidak berguna itu, Kepala Akademi Orthea."
Suara rendah penuh amarah terdengar. Pemiliknya tentu saja Talon Muramore, lawanku dalam duel ini.
Meski nada bicaranya tenang, ekspresinya sangat serius. Aura yang dipancarkannya membuatku merasa seolah ia bisa saja mencabut pedang tongkatnya dan menyerang kapan saja.
"Bahkan sampai mengambil hati Kepala Akademi. Kau memang pria yang serendah itu."
"Dia adalah pelayan yang dipilih sendiri oleh Alphiria Glastonbury. Wajar kalau aku memihaknya. Kalau tidak terima, buktikan saja lewat duel."
Tanpa diduga, Kepala Akademi malah memprovokasi Talon.
Wajah Talon memerah kehitaman karena terhina, sementara percikan api mulai bermunculan dari tubuhnya.
Aku ingin memprotes kenapa beliau sengaja memancingnya, tetapi sebelum sempat berbicara, Kepala Akademi bertepuk tangan keras.
"Baiklah, semua pemain sudah berkumpul. Saatnya memulai duel. Shinya, ke sini. Alphiria, silakan menuju tribun penonton."
"Shinya, pakailah ini."
Alphiria mencabut pedang tongkat yang terselip di pinggangnya, lalu menyodorkannya ke dadaku.
Saat menyerahkannya, diam-diam ia menyelipkan jemarinya ke sela-sela jariku sesaat agar tak terlihat siapa pun.
Sentuhan itu membuatku teringat kembali kedekatan kami di ruang gelap tadi, hingga jantungku berdetak kencang.
"Aku akan mengatakannya sekali lagi. Menanglah. Mengerti?"
"...Aku akan menang. Apa pun yang terjadi."
"Aku percaya padamu, Shinya."
Pedang tongkat itu terasa berat di tanganku. Di dalamnya terkandung kekuatan sihir Alphiria, sekaligus perasaannya.
Melihat ia menyerahkan senjata itu kepadaku, para penonton langsung bergemuruh.
Saat menatap punggung Alphiria yang berjalan menuju tribun sambil menarik napas panjang—
"Kau... apa kau sadar apa arti tindakan itu?"
Talon berteriak suara yang dipenuhi tekanan. Yang terdengar dari suaranya bukan sekadar amarah, melainkan kecemburuan yang begitu dalam.
"Maksudmu?"
Aku benar-benar tidak mengerti.
Talon mendecakkan lidah keras. Jangan salah paham. Aku benar-benar tidak sedang berpura-pura bodoh.
"Bagi seorang penyihir, pedang tongkat sama berharganya dengan nyawanya. Menitipkannya kepada orang lain sama saja mempercayakan nyawanya. Bahwa Alphiria-san sampai mempercayaimu sejauh itu... sungguh iri... maksudku, itu pantas dihukum mati!"
"Aku tahu. Bahkan terasa terlalu berat untuk kupikul. Dan satu lagi, kalau mau menyembunyikan isi hatimu, lakukan dengan lebih baik. Kalau tidak, semuanya jadi sia-sia."
Aku menyelipkan pedang tongkat itu ke pinggang.
Sejujurnya, bukan berarti aku sama sekali tidak gugup. Ini baru kedua kalinya aku bertarung sejak datang ke dunia ini.
Bahkan ini adalah pertarungan pertamaku melawan manusia, dan lawanku adalah penyihir berbakat yang benar-benar kuat.
Kalau dipikir secara normal, peluangku untuk menang hampir tidak ada. Mungkin sebagian besar orang di sini juga berpikir begitu. Namun anehnya aku sama sekali tidak merasa takut.
Selama panas yang manis dan berat ini terus mengalir dari dalam tubuhku, aku tidak akan kalah dari siapa pun.
Aku tidak boleh kalah.
"Hanya orang tidak berguna saja... Berani sekali bersikap setenang itu. Sebentar lagi akan kuhapus senyummu."
Talon meludah sinis. Udara di sekelilingnya bergetar seperti fatamorgana karena amarahnya.
Aura membunuh yang menusuk kulit memang mengerikan, tetapi dibandingkan Goblin Lord yang pernah kuhadapi di dungeon, itu tak lebih dari embusan angin.
"Astaga. Kalian terlalu terburu-buru."
Kepala Akademi Orthea melangkah santai di antara kami sambil menghela napas.
"Sebagai pengingat, jangan terlalu mencampurkan urusan pribadi ke dalam duel ini."
Kalau memang tidak ingin ada urusan pribadi, bukankah lebih baik duel ini dibatalkan saja dari awal? pikirku.
"Baik, akan kujelaskan aturannya. Duel berakhir jika salah satu tidak mampu bertarung lagi, menyerah, atau aku sebagai wasit menilai pertarungan sudah terlalu berbahaya. Paham?"
""Ya.""
Aku dan Talon menjawab bersamaan.
"Bagus. Kalau begitu, bertarunglah sebagaimana layaknya seorang penyihir. Kerahkan seluruh pengetahuan dan seluruh kekuatan sihir yang kalian miliki."
Kepala Akademi perlahan mengangkat tangan kanannya ke langit. Seketika itu juga, hiruk-pikuk yang memenuhi arena lenyap seolah dipadamkan.
Aku merasakan tak terhitung banyaknya tatapan tertuju ke seluruh tubuhku. Di bawah tekanan berat itu, pandanganku menangkap satu sosok di tribun penonton───Alphiria. Dengan ekspresi yang tegas, ia menggenggam kedua tangannya erat seakan sedang berdoa, menatapku tanpa mengalihkan pandangan.
"Sudah siap? Kalau begitu───mulai!"
Bersamaan dengan aba-aba yang tajam itu, tangan kanan Kepala Akademi diayunkan ke bawah.
"Terbakarlah───『Fire Serpent Barrage』!!"
Seiring teriakan itu, kobaran api dahsyat menyembur dari tongkat-pedang Talon yang diacungkan ke depan. Api itu mengangkat kepalanya layaknya ular hidup yang memiliki kehendak sendiri, lalu menerjang ke arahku seolah hendak melahapku hidup-hidup.
"───Cepat!"
Seseorang di antara para penonton berteriak.
Memang, jika itu adalah diriku yang biasa, jangankan menghindar, bereaksi pun aku tak akan sempat. Aku pasti sudah berubah menjadi arang tanpa sempat melangkah sedikit pun.
Namun sekarang, ketika pandanganku memerah karena emosi yang memuncak, gerakan ular-ular api itu justru tampak sangat lambat.
"...Huu..."
Di dunia yang terasa bergerak dalam gerakan lambat itu, aku mengembuskan napas pendek sambil menggenggam gagang tongkat-pedang di pinggangku.
Di dalam kepalaku, seolah terdengar suara lembut sang majikan yang masih basah oleh gairah.
"Pergilah, Shinya."
Tanpa sadar sudut bibirku terangkat.
"...Haaah!"
Dengan teriakan penuh semangat, aku mencabut tongkat-pedang dari sarungnya.
Satu tebasan. Hanya gelombang tebasan itu saja sudah cukup untuk membelah ular-ular api menjadi dua hingga buyar menjadi kabut.
"...Hah?"
Talon mengeluarkan suara bodoh yang sama sekali tidak pantas terdengar di tengah pertarungan. Para penonton pun membeku karena tak mampu memahami apa yang baru saja terjadi.
Wajar saja. Tak seorang pun menyangka pria yang hanya memiliki kekuatan sihir 5 mampu menghancurkan sihir secara fisik. Tak seorang pun, kecuali Alphiria.
"Kau... apa yang baru saja kau lakukan!?"
Mata Talon membelalak penuh ketidakpercayaan.
Sepertinya sejak awal ia berniat mengakhiriku dengan serangan mendadak begitu duel dimulai.nTak heran reaksinya seperti itu setelah serangannya dipatahkan begitu mudah.
"Ada apa? Sudah selesai?"
"...Akan kubunuh kau!"
Bahkan aku sendiri terkejut mendengar nada dingin dalam provokasiku bergema di arena latihan.
Wajah Talon dipenuhi rasa hina. Ia kembali mengacungkan tongkat-pedangnya.
Namun kali ini bukan hanya satu serangan. Hujan bola-bola api ditembakkan secara membabi buta ke arahku.
Menghadapi semua itu aku sengaja tidak bergerak selangkah pun. Bukan karena tak bisa menghindar. Melainkan karena memang tidak perlu.
"Haaa!? Apa-apaan ini!?"
Sekali lagi Talon menjerit kaget.
Kini, di sekeliling tubuhku berputar sejumlah besar mana pekat yang meluap dari jantungku. Mana itu membentuk dinding tak kasatmata yang meniadakan seluruh bola api milik Talon.
Semua serangan itu menguap tepat beberapa sentimeter dari tubuhku, bagaikan tetesan hujan yang jatuh di atas besi membara.
"Kau...! Jangan macam-macam! Kurang ajar!"
Meski murka, Talon tetap mampu berpikir jernih. Begitu sadar sihirnya tak mempan, ia langsung menggenggam tongkat-pedangnya dan meloncat mendekat.
Keputusannya sangat cepat.
"Akan kutebas kau secara langsung!"
Ia mengayunkan pedangnya dari atas dengan seluruh tenaganya. Aku pun mengangkat tongkat-pedangku untuk menyambutnya.
Krakkk!! Suara logam yang memekakkan telinga menggema di seluruh arena. Pedang kami saling mengunci. Wajah Talon yang dipenuhi amarah kini tepat berada di depan mataku.
"Hah... hah... hah... dasar orang tak berguna...! Bagaimana mungkin kau bisa menahan sihirku...!"
Di balik sorot matanya yang penuh amarah, kini mulai tampak kebingungan dan ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan.
Sebaliknya, aku tetap tenang. Tekanan membunuh yang ia keluarkan bahkan tak sebanding dengan aura monster Goblin Lord bermutasi yang dulu mengincar Alphiria.
"Sial... kenapa aku justru kesulitan melawan───gh!?"
Saat Talon hendak menambah tenaga pada pedangnya, hidungnya bergerak aneh.
"...A-apa ini...? Kenapa tubuhmu berbau Alphiria-san!?"
Begitu mendengar itu jantungku berdetak keras.
Kenangan tentang panasnya ruang loker yang sempit dan gelap itu, yang selama ini kutekan jauh ke dasar kesadaranku, langsung menyeruak kembali.
Aroma tubuh Alphiria yang masih tertinggal di kerah bajuku bercampur dengan bau hangus sihir api Talon, menciptakan sensasi bersalah yang membuat tulang punggungku merinding.
Wajah Talon perlahan dipenuhi kecemburuan yang dalam.
Ia sadar. Aroma seperti itu tak mungkin menempel kecuali kami saling berpelukan erat, saling menempel, hingga aroma tubuh kami bercampur.
"Jawab aku! Apa yang kalian lakukan selama tiga puluh menit itu!? Jangan-jangan alasan kau menjadi pelayan hanya kedok! Sebenarnya kau cuma kekasih gelapnya!?"
"...Hah?"
Tanpa sadar aku menghela napas heran, bahkan di tengah pertarungan hidup dan mati.
"Dasar bajingan...! Berani-beraninya dia memilih pria tak berguna sepertimu! Dasar wanita murahan!"
Duk. Sesuatu yang hitam dan panas memenuhi dadaku. Kepalaku tetap dingin, namun darahku seolah mendidih dalam sekejap.
"...Apa yang baru saja kau katakan?"
Mana meluap dari belakang tubuhku. Udara di sekitar menjadi begitu berat. Tongkat-pedang Talon yang saling mengunci denganku mulai berderit retak.
"K-khii...!?"
"Aku tanya sekali lagi...apa yang baru saja kau katakan?"
Suara rendahku yang terdengar seperti merayap di atas tanah membuat wajah Talon pucat ketakutan. Sesuatu yang tertidur jauh di dalam dadaku mengaum hebat.
Alphiria telah mempercayakan harga dirinya, tubuhnya, bahkan nyawanya sebagai seorang penyihir kepadaku. Dan pria ini telah menginjak-injak semua perasaan itu.
"Orang sepertimu tidak pantas menyebut nama Alphiria Glastonbury!"
Aku mengalirkan mana ke tongkat-pedang yang diwariskan Alphiria kepadaku. Bilah pedang itu memancarkan cahaya pelangi yang menyilaukan.
Batu-batu di sekitarnya tak mampu menahan tekanannya dan hancur berkeping-keping. Para siswa di tribun menjerit sambil menjauh ketakutan.
"Gah... gah...! A-apa-apaan mana ini...!"
Tak sanggup menahan tekanan mana yang luar biasa itu, lutut Talon akhirnya roboh. Meski wajahnya dipenuhi penderitaan, amarahku belum juga mereda.
Saat tanpa sengaja aku menoleh ke tribun. Tatapanku bertemu dengan Alphiria. Matanya dipenuhi air mata.
"S-sial... apa yang sebenarnya terjadi...? Gah...!"
Aku mencengkeram kerah Talon dengan tangan kiri lalu mengangkatnya secara paksa.
Seluruh mana yang kumiliki kukumpulkan di tangan kanan. Bukan sebagai sihir. Melainkan dipadatkan menjadi massa murni di dalam kepalan tanganku.
Alasan aku memakai tinju, bukan tongkat-pedang, sangat sederhana. Karena jika menggunakan pedang, aku yakin akan membunuhnya.
"T-tunggu! Aku menyerah! Jadi───!"
"Terlambat."
Pukulanku menghantam ulu hatinya.
DOOOOOON!!
Ledakan dahsyat mengguncang dinding arena latihan. Bunyinya bukan seperti pukulan ke tubuh manusia. Melainkan seperti dua bongkah besi raksasa yang saling bertabrakan.
"Gah... ah..."
Seluruh udara di paru-paru Talon dipaksa keluar dengan suara napas basah yang bergema di arena yang sunyi. Tubuhnya melesat puluhan meter seperti peluru meriam.
BRAK! Ia menghantam dinding luar hingga retakan seperti sarang laba-laba menjalar ke segala arah. Lalu matanya memutih, dan tubuhnya jatuh lemas ke tanah.
"Minta maaf kepada Alphiria."
Suaraku yang sedingin es memecah keheningan. Tak satu pun penonton mampu berkata-kata.
Pria tak berguna dengan mana hanya 5, telah meniadakan sihir salah satu murid elit akademi. Lalu mengalahkannya hanya dengan satu pukulan, tanpa menggunakan sihir sedikit pun. Tak seorang pun mampu mempercayai kenyataan itu.
Di balik kepulan asap putih, aku memandang dingin sosok Talon yang tertanam di dinding luar.
Aku mengembuskan napas panjang lalu memasukkan kembali tongkat-pedang ke dalam sarungnya. Panas yang memenuhi tubuhku perlahan mereda. Digantikan oleh rasa puas yang tenang namun nyata.
"Cukup sampai di sini. Pemenangnya, Nanatsuma Shinya!"
Suara Kepala Akademi Orthea akhirnya memecahkan kesunyian.
Entah sejak kapan ia sudah berdiri di sampingku. Ia menepuk pundakku pelan seolah memberi selamat. Namun aku sengaja mengabaikannya dan menoleh ke tribun penonton.
Di sana berdiri Cyril yang masih terpaku tak percaya. Dan disampingnya, Alphiria. Pipinya memerah. Ia menatapku dengan bangga, namun di balik itu tersimpan tatapan yang begitu hangat.
Aku hanya menggerakkan bibirku tanpa mengeluarkan suara.
"Aku menang, Aria."
Setetes air mata menggenang di matanya.
Lalu, dengan senyum paling indah yang pernah kulihat—senyum yang memancarkan kasih sayang seorang gadis suci namun sekaligus memiliki pesona yang begitu memikat—Ia mengangguk pelan.



Post a Comment