NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ochibure Tensai Reijou no Gohoushi de Bonjin no Ore wa Saikyou ni Naru V1 Chapter 6

 Penerjemah: Kaori Translation

Proffreader: Kaori Translation


Chapter 6

Waktu Mandi Manis untuk Melepas Lelah

Setelah duel berakhir dan kami kembali ke kamar, langit di luar jendela sudah benar-benar gelap.


Kamar Alphiria yang perlahan mulai terasa seperti rumahku sendiri. Namun, saat pintunya tertutup, yang menyambut kami bukanlah ketenangan, melainkan keheningan sedingin es yang seakan menusuk kulit.


"E-eh... Alphiria-san?"


Dengan hati-hati aku mencoba menyapa majikanku.


Seperti yang diduga, Alphiria mengabaikanku begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan menuju sofa di ruang tamu dan duduk bersandar dengan dalam.


Lalu, sambil menyilangkan kaki, ia menatap tajam kotak kayu yang tadi kutaruh di atas meja.


"Haaah... Aku tidak menyangka Kepala Akademi benar-benar memberikan benda seperti ini... Dia benar-benar murah hati."


Alphiria bergumam dengan nada penuh kebencian, seolah-olah kotak itu adalah musuh bebuyutannya.


Memang benar kata orang, hati wanita berubah secepat cuaca musim gugur. Sebelum duel dimulai, kami seharusnya saling percaya sepenuhnya.


Namun begitu semuanya selesai, suasananya malah berubah seperti pasangan suami istri yang sedang menjalani perang dingin menjelang perceraian...


Atau lebih tepatnya, seperti suami yang ketahuan selingkuh lalu langsung diberi surat cerai secara sepihak.


Bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini?


Aku pun teringat kembali pada apa yang terjadi setelah duel berakhir.


Kilas Balik


"Sudah cukup. Pemenangnya, Nanatsuma Shinya!"


Tak lama setelah suara Kepala Akademi Orthea bergema di seluruh arena latihan, suasana yang tadinya tegang meledak menjadi hiruk-pikuk.


Para siswa berhamburan turun dari tribun dan berbondong-bondong mengerumuniku.


"Hebat sekali! Kau benar-benar mengalahkan Talon!"


"Bukankah mana-mu cuma 5!? Apa selama ini Alphiria-san menyuruhmu menyembunyikan kekuatanmu!?"


"Itu sihir? Teknik pedang? Bagaimana caramu menahan sihir Talon!?"


Aku dihujani pertanyaan tanpa henti. Bahu, punggung, bahkan kepalaku ditepuk-tepuk tanpa sungkan hingga aku benar-benar menjadi sasaran kerumunan.


Yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum kecut karena kebingungan. Dan di tengah keramaian itu, seseorang menarik lenganku dengan kuat.


"Itu luar biasa, Tuan Pelayan. Bisa mengalahkan Talon semudah itu...! Jujur saja, aku sampai sedikit terharu."


"Ahaha... terima kasih."


Orang itu adalah Cyril.


Ia memeluk lenganku erat. Aroma bunga yang segar terasa ke hidungku. Lengan kananku terjepit di antara dadanya yang tak kalah besar dari milik Alphiria. Sentuhan lembut itu membuat jantungku berdegup keras dan wajahku memanas.


"Jadi ini yang disebut elang menyembunyikan cakarnya, ya? Aku benar-benar tak menyangka Tuan Pelayan sekuat ini. Seperti yang diharapkan dari pelayannya Aria."


Dengan mata berkilau penuh antusias, Cyril menatapku dari bawah. Tatapan mata ungunya yang basah membuatku tanpa sadar menelan ludah.


Dan tepat pada saat itu, sku merasakan tatapan sedingin nol mutlak menusuk punggungku.


Dengan gugup aku menoleh. Di sana Alphiria sedang berjalan perlahan dari barisan paling depan sambil tersenyum manis. Namun entah kenapa, rasanya seolah-olah ada sosok raksasa berwajah iblis berdiri di belakangnya.


"...Ah."


"Astaga... sepertinya ini sedikit gawat."


Untuk pertama kalinya, aku dan Cyril memiliki pendapat yang sama.


Aura yang memancar dari seluruh tubuh Alphiria begitu kuat. Sasarannya bukan hanya aku dan Cyril, melainkan seluruh siswa di sekitar kami.


Pipinya menggembung seperti anak kecil yang sedang marah karena mainan berharganya diambil orang. Entah kenapa itu malah terlihat sedikit lucu.


"Kerja bagus, Shinya."


Semakin Alphiria mendekat semakin suasana arena yang tadinya riuh berubah menjadi sunyi, bagaikan permukaan air yang perlahan menjadi tenang.


Para siswa yang mengelilingiku mundur satu per satu, membuka jalan seolah laba-laba yang berpencar. Hanya Cyril yang masih memeluk lenganku.


"Hehehe... Kalian tampaknya sangat bersenang-senang, ya, Shinya? Dan kau juga, Cyril. Bukankah kau menempel padanya agak keterlaluan?"


Suara Alphiria terdengar tenang dan anggun. Namun tak ada sedikit pun emosi di dalamnya.


Aku dan Cyril serempak tersentak. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada seseorang yang tersenyum, tetapi matanya sama sekali tidak tersenyum.


"B-bukan berarti aku sedang bersenang-senang...ini cuma sedikit kontak fisik saja. Tidak ada maksud lain, jadi tenanglah."


Meski masih sengaja menekan dadanya ke lenganku sambil bercanda, sudut bibir Cyril jelas tampak berkedut gugup.


"Menurutku, terlalu sembarangan menempel pada pria bukanlah sikap yang pantas bagi seorang wanita terhormat, Cyril. Lagi pula, dia adalah pelayanku. Menyentuhnya sembarangan juga termasuk tidak sopan, bukan?"


"Hehe. Ada apa, Aria? Jangan-jangan... kau cemburu? Maksudmu jangan menyentuh pelayanmu?"


"Huhu... Baiklah. Tantangan itu kuterima. Bagaimana kalau duel berikutnya adalah antara kita berdua, Cyril?"


Tatapan kedua wanita cantik itu saling beradu hingga seolah memercikkan bunga api.


Dari luar mungkin terlihat seperti mereka sedang berebut diriku. Namun sebagai orang yang berada tepat di tengah-tengah, yang kurasakan hanyalah jantungku hampir copot.


Baru saja aku terbebas dari ketegangan duel. Sekarang aku malah masuk ke ketegangan yang berbeda. Perutku mulai terasa sakit.


"Fufu! Kalian akur memang bagus, tapi kalau mau bertengkar soal percintaan, tunggulah sampai jam pelajaran selesai."


Suara ceria itu memotong suasana yang nyaris meledak. Seperti seorang penyelamat, Kepala Akademi Orthea menyela di antara kami.


"Kami sama sekali tidak bertengkar soal percintaan. Aku hanya menerima tantangan yang dijual Cyril kepadaku."


"Aku sama sekali tidak menantangnya. Aria hanya malu karena aku mengatakan yang sebenarnya."


Alphiria dan Cyril berbicara hampir bersamaan, masing-masing mempertahankan pendapatnya. Kepala Akademi hanya tersenyum masam, lalu menepuk bahuku.


"Dikelilingi dua bunga sekaligus. Menjadi pria populer memang berat ya, Shinya."


"Tolong jangan memperkeruh suasana, Kepala Akademi."


Aku menarik kembali ucapanku. Orang ini sama sekali bukan penyelamat. Dia adalah penjahat yang senang menebarkan kekacauan.


Sayangnya tatapanku yang kesal sama sekali tidak membuatnya gentar. Ia terkekeh pelan lalu kembali menepuk bahuku.


"Sudahlah. Yang lebih penting, Shinya dan Alphiria. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua. Kita pergi ke ruang kepala akademi sekarang juga. Eldor-sensei, tidak masalah?"


"...Silakan sesuka hati."


Setelah mendengar jawaban pasrah dari Eldor-sensei, Kepala Akademi Orthea menepukkan kedua tangannya.


Plak! Sesaat kemudian tubuh kami terasa melayang ringan.


Bau debu arena latihan menghilang. Sebagai gantinya, hidungku dipenuhi aroma kayu mahoni yang berat dan wangi dupa manis yang memabukkan namun juga beracun.


Entah bagaimana aku dan Alphiria yang tadi berada di arena latihan kini sudah berdiri di ruang kepala akademi.


"Teleportasi tanpa mantra... sungguh luar biasa, Kepala Akademi."


"Hehe. Walaupun kau memujiku, tidak akan ada hadiah tambahan."


Dengan gerakan anggun ia duduk di balik meja kerjanya. Sambil menyilangkan kaki seolah sengaja memamerkannya, ia tersenyum nakal.


Sebelum aku sempat menegur bahwa sikap itu tidak pantas, Alphiria mengangkat tangannya dan menutupi pandanganku.


"Aku tidak sedang memuji Anda. Lagi pula, apa yang ingin Anda bicarakan?"


Alphiria menyipitkan matanya. Nada suaranya setajam saat berbicara dengan Cyril tadi. Namun Kepala Akademi tetap santai.


"Jangan terlalu marah begitu, Alphiria. Wanita yang mudah naik darah tidak akan disukai."


"Tidak perlu ikut campur. Kalau hanya ingin berceramah, kami akan pulang."


"Haaah... Kau memang wanita yang tidak sabaran, ya. Kalau terus begini, kau benar-benar... yah, sudahlah. Aku hanya ingin memberi hadiah kepada Shinya karena telah memenangkan duel."


Ia menjentikkan jarinya.


Jepret! Sebuah kotak kayu muncul begitu saja dari udara dan jatuh dengan bunyi keras tepat di depan kakiku. Sulap seorang pesulap pun mungkin kalah cepat.


"Terimalah, Shinya. Ini hadiah dariku."


"...Eh... terima kasih?"


Meski ia mengedipkan mata dengan penuh gaya, yang bisa kulakukan hanya tersenyum canggung.


Alphiria tampak semakin cemberut. Dan jujur saja, menerima sebuah kotak tanpa tahu isinya membuatku sedikit bingung.


"Hm? Ada apa? Jangan bilang kau tidak senang? Aku yakin kau pasti akan menyukainya setelah melihat isi kotaknya."


"Isinya?"


Atas dorongan Kepala Akademi, aku mengangkat kotak kayu itu dengan kedua tangan lalu membukanya.


"...! Ini..."


Aku dan Alphiria sama-sama terdiam.


Di dalam kotak itu tersimpan sebuah tongkat-pedang dengan bilah berwarna perak dan sebuah kristal biru tua bagaikan lautan dalam yang tertanam di bagian gagangnya.


Bahkan tanpa menyentuhnya pun, keberadaan luar biasa yang dipancarkannya—hampir seperti aura ilahi—terasa begitu kuat.


Dibandingkan dengannya, tongkat-pedang milik Alphiria pun tampak memudar. Benar-benar sebuah karya yang indah, namun sekaligus memancarkan hawa mengerikan.


"Kau menantang lawan yang lebih kuat, menjawab harapan majikanmu, lalu memenangkan duel. Sebagai familiar maupun sebagai penyihir, kau telah menunjukkan keberanian yang luar biasa. Karena itulah… Aku tidak bisa membiarkan keadaan ini terus seperti sekarang."


Tanpa suara sedikit pun Kepala Akademi mendekatiku. Jarak kami begitu dekat hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan.


Saat aku gugup karenanya, ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum menggoda, lalu dengan lembut mengusap tongkat-pedang pinjaman Alphiria yang masih terselip di pinggangku menggunakan ujung jarinya yang ramping.


"Saat mempertaruhkan nyawa dalam pertempuran, memakai senjata pinjaman itu kurang pantas. Sungguh... kenapa kau membiarkannya seperti ini, Alphiria?"


"Aku tidak membiarkannya begitu saja. Aku memang berniat menyiapkannya setelah Shinya benar-benar mampu mengendalikan mana dengan baik."


Alphiria menjawab tanpa sedikit pun terguncang oleh teguran bernada menyalahkan dari Kepala Akademi Orthea. Bagiku, yang bahkan tidak mampu menghasilkan sihir dengan baik dan telah menjalani kehidupan damai sebelum datang ke dunia ini, membawa pedang-tongkat ke mana pun pergi adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan.


"Itu memang ada benarnya. Namun, pedang-tongkat yang mampu menahan kekuatan sihir Shinya yang berada di luar nalar bukanlah sesuatu yang mudah disiapkan, bahkan di dunia ini. Sekalipun keluarga Glastonbury mengerahkan seluruh kemampuannya."


Entah karena menganggap perkataan itu sebagai penyangkalan terhadap dirinya, wajah Alphiria dipenuhi amarah. Namun Kepala Akademi Orthea hanya tersenyum geli seolah tidak peduli.


"Pedang-tongkat itu adalah peninggalan seorang kenalan lamaku. Sudah lama tertimbun debu, tetapi sangat cocok untuk Shinya. Kurasa benda itu pun akan senang digunakan olehnya."


Kepala Akademi Orthea merangkul bahuku dan berbisik lembut di dekat telingaku. Aroma kayu harum yang samar-samar tercium menimbulkan perasaan aneh, seolah-olah menimpa aroma khas Alphiria yang begitu melekat di tubuhku. Tidak bagus... kepalaku mulai terasa pening.


"Tolong menjauh dari Shinya, Kepala Akademi Orthea. Jangan setiap ada kesempatan Anda mencoba merayu familiar milik orang lain!"


Alphiria mencengkeram kerah belakang pakaian Kepala Akademi dan menarikku menjauh dari tangannya. Gawat. Kalau tadi kami terus menempel seperti itu, entah apa yang akan terjadi.


"Merayu? Aku tidak melakukannya kok. Aku hanya ingin memberi penghargaan kepada Shinya yang sudah berjuang keras dalam duel."


"...Sekadar ingin tahu, sebenarnya penghargaan seperti apa yang ingin Anda berikan?"


"Hm? Bukankah setelah bertarung sudah sewajarnya aku membantunya membasuh punggungnya? Kau bertanya hal yang aneh, Alphiria."


Sambil berkata begitu, Kepala Akademi Orthea menyeringai. Orang ini benar-benar berkepribadian buruk. Menggoda siswi yang jauh lebih muda darinya hanya demi bersenang-senang benar-benar tidak pantas bagi seorang yang lebih tua. Dan yang menyedihkan, gadis jenius ini dengan mudah terpancing oleh provokasi murahan itu.


"A-Apa!? Betapa tidak tahu malunya! Lagi pula, bagaimana itu bisa disebut sebagai penghargaan!?"


"Begitukah? Menurutku itu sudah lebih dari cukup sebagai hadiah. Shinya juga berpikir begitu, bukan?"


"Aku memilih menggunakan hak untuk tetap diam."


Tolong jangan lempar pertanyaan itu kepadaku sekarang. Berkat itu tatapan dingin Alphiria menusukku dan membuat jantungku nyaris berhenti.


"Dan kau bilang aku tidak tahu malu, tapi kalau soal itu bukankah kau juga sama saja? Lagi pula, di dalam loker ruang tunggu kalian berdua—"


"S-Stoooop! Jangan lanjutkan! Tolong jangan katakan! Lagi pula, bagaimana Anda bisa tahu!?"


"Akademi ini adalah wilayahku. Justru kenapa kau mengira aku tidak akan mengetahuinya? Meski begitu... Fufufu. Kalian ternyata cukup berani juga. Bahkan aku sampai terkejut."


"Percakapannya sudah selesai, kan!? Kalau begitu kami pamit dulu! Ayo pulang, Shinya!"


Dengan wajah merah padam hingga ke telinga seolah-olah akan mengeluarkan api, Alphiria menggenggam tanganku erat dan berjalan cepat menuju pintu. Dari belakang, Kepala Akademi masih sempat melontarkan godaan.


"Hari ini istirahatlah yang baik. Sayangi pedang itu dengan sepenuh hati, ya? Begitu juga tuannya."


Alphiria mengeluarkan jeritan tanpa suara, menggenggam tanganku begitu kuat hingga tulangku terasa berderit, lalu meninggalkan ruang kepala akademi tanpa sekalipun menoleh.


Akhir kilas balik.


Waktu kembali ke masa sekarang. Kami telah kembali ke kamar pribadi Alphiria di lantai paling atas asrama putri Akademi Sihir Aurora, tetapi sang majikan masih tetap dalam suasana hati yang buruk.


"Eh... pedang-tongkat yang diberikan kepala akademi itu memang sehebat itu?"


"Bukan sekadar hebat. Kemungkinan besar ini adalah sebuah Relik. Dan sepertinya berasal dari zaman yang sangat kuno."


Relik. Benda-benda yang konon merupakan ciptaan para dewa dan mustahil direproduksi lagi, tak peduli berapa puluh, ratusan, atau bahkan ribuan tahun berlalu.


Konon relik hanya muncul ketika dunia berada di ambang krisis. Karena itulah semua relik yang masih ada dijaga ketat oleh negara dan tidak pernah jatuh ke tangan individu. Fakta bahwa Kepala Akademi menyimpan benda sehebat itu bertahun-tahun hanya di dalam kotak kayu biasa membuatku bukan hanya terkejut, tetapi sampai tercengang.


"Bahkan batu sihir yang digunakan pada pedang-tongkat ini juga luar biasa. Batu sihir dengan kemurnian setinggi ini... bahkan keluarga Glastonbury belum tentu bisa mendapatkannya."


Sambil berkata begitu, Alphiria menggigit jarinya dengan ekspresi kesal.


Batu sihir adalah batu yang mengandung kekuatan sihir. Batu itu dipanaskan, ditempa, didinginkan, lalu dipanaskan dan ditempa lagi berulang kali hingga menjadi pedang-tongkat.


Kemurnian berarti seberapa besar kandungan sihir yang menyusun batu tersebut. Semakin tinggi kemurniannya, semakin langka nilainya, dan semakin menentukan kualitas pedang-tongkat yang dihasilkan.


"Sebegitu hebatnya?"


"Awalnya hanyalah batu biasa yang menyerap sihir di udara hingga berubah menjadi batu sihir. Bagaimanapun juga asalnya tetap batu biasa. Selama apa pun usianya, tidak mungkin ada batu sihir yang terbentuk dari sihir murni. Tapi pedang-tongkat ini..."


"...Begitu ya. Meskipun aku sama sekali awam soal sihir, setidaknya aku paham kalau pedang-tongkat pemberian Kepala Akademi ini benar-benar luar biasa."


"Memang menyebalkan, tapi bahkan jika keluarga Glastonbury mengerahkan seluruh kekuatannya, kami tetap tidak akan bisa menyiapkan benda yang setara dengannya."


Setelah berkata demikian sambil menggertakkan gigi karena kesal, Alphiria menghela napas panjang. Bahkan keluarga bangsawan terbesar di negeri ini pun tak mampu menandinginya. Memberikan benda luar biasa seperti itu hanya karena seseorang memenangkan duel jelas terdengar tidak masuk akal.


"Tapi, Shinya. Bukan itu alasan aku marah."


"...Eh?"


Saat aku hendak bertanya apa penyebab sebenarnya, Alphiria tersenyum manis.


"Sepertinya kau sangat menikmati saat semua orang memanjakanmu tadi, ya, Shinya."


Orang yang tersenyum sambil marah benar-benar menakutkan. Bahkan aku hampir ingin mengatakan bahwa itu lebih terlihat seperti cemburu daripada marah, tetapi berhasil kutahan. Bukan cuma mencari gara-gara, itu sama saja mencari maut.


"B-Bukan berarti aku menikmatinya..."


"Oh ya? Waktu Cyril menempel padamu dan menekan dadanya ke tubuhmu, wajahmu tampak mengendur karena senang. Apa cuma perasaanku?"


"Itu..."


Aku ingin langsung menjawab bahwa itu hanya salah paham, tetapi lidahku kelu.


"Dan aku tahu kau sampai menghasilkan sihir karena jantungmu berdebar. Kau cukup berani juga sampai terpikat pada perempuan lain."


Rasanya seperti sedang diinterogasi oleh kekasih yang mengetahui perselingkuhanku. Memang aku belum pernah punya pacar seumur hidup, jadi aku tidak tahu apakah rasanya benar-benar sama. Tapi satu hal yang pasti, Alphiria sedang merajuk luar biasa hebat.


Saat otakku bekerja keras mencari alasan, Alphiria meluruskan kakinya dan mendorong dadaku pelan dengan ujung kakinya.


"Bukan cuma Cyril. Kepala akademi juga menggoda dan membuatmu berdebar, kan? Kau benar-benar tidak punya pendirian."


"B-Bukan begitu..."


"Bohong. Aku bisa tahu dengan jelas bagaimana keadaan jantungmu. Bahkan sekarang pun... begitu."


Sambil berkata begitu, ia menggerakkan ujung kakinya membentuk lingkaran kecil secara menggoda. Sentuhan lembut jemarinya yang terbungkus stoking hitam tipis terasa jelas bahkan dari balik pakaianku.


"Aku ini, Shinya... sebenarnya tidak marah. Hanya saja, sedikit... sedikit sekali... ada sesuatu yang membuatku tidak senang."


"Tidak senang... karena apa?"


Saat aku bertanya dengan bingung, Alphiria tanpa berkata apa-apa mengangkat kakinya tinggi-tinggi lalu mengangkat daguku perlahan dengan ujung kakinya. Gerakannya yang begitu memesona membuat bulu kudukku merinding.


"Jawabannya sudah jelas, bukan? Aku tidak suka kalau tubuhmu membawa aroma perempuan selain aku."


Sambil berkata begitu, ujung kakinya mengusap leherku, lalu perlahan menyusuri tulang selangka dan dadaku, terus turun hingga hampir mencapai pusar. Sikapnya yang anggun bagaikan seorang ratu membuatku tanpa sadar menelan ludah.


"Melihat kekuatanmu diakui orang lain memang membuatku senang. Wajar kalau kau menjadi pusat perhatian. Tapi aku tidak bisa menerima kalau kau begitu mudah berdebar karena perempuan selain aku."


Senyumnya masih ada, tetapi suaranya mengandung kemarahan yang nyata. Ujung kakinya terus bergerak perlahan di bagian bawah perutku. Aku mengumpulkan sisa-sisa kewarasanku dan akhirnya berhasil berbicara.


"M-Maaf... tapi soal itu benar-benar tidak bisa kuhindari..."


"Aku tahu. Kau ini laki-laki. Kalau perempuan secantik Cyril atau Kepala Akademi menggoda, wajar kalau kau bereaksi. Tapi justru karena itulah..."


Alphiria berdiri, mendekat hingga nyaris tak ada jarak, lalu mencengkeram kerah bajuku dengan kuat. Napasku tertahan. Namun yang lebih membuatku sulit bernapas adalah aroma manis seperti madu yang langsung memenuhi inderaku.


"Akan kuajarkan pada tubuhmu... siapa sebenarnya pemilikmu."


Mata biru itu menatapku dari jarak yang sangat dekat. Di balik tatapannya bersemayam cahaya layaknya binatang buas—memancarkan hasrat untuk memiliki, menguasai, dan di atas segalanya, keinginan untuk menjadikan mangsa yang telah ditangkap sebagai miliknya sepenuhnya.


"A-Apa maksudmu mengajarkannya lewat tubuh...? Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?"


Rasanya aku sudah diajari lebih dari cukup, jadi apa lagi yang ingin dilakukannya? Rasa takut yang membuat bulu kuduk merinding jauh lebih besar daripada rasa penasaranku.


"Begini ya... Ah, aku punya ide bagus. Aku akan melakukan apa yang tadi ingin dilakukan Kepala Akademi Orthea."


"...Hah?"


Alphiria mengatakannya seolah baru saja menemukan ide brilian. Sambil memiringkan kepala, aku mencoba mengingat apa yang tadi ingin dilakukan Kepala Akademi Orthea. Yang ingin dilakukan wanita genit itu kalau tidak salah adalah—


"Tubuhmu yang sudah ternoda dalam berbagai arti... akan kubersihkan sendiri saat kita mandi."


"Anggap saja ini juga hadiah karena kamu menang duel," bisik Alphiria manis di dekat telingaku.


Duk! Jantungku berdebar keras. Pipi pun terasa memanas. Melihat reaksiku yang begitu mudah ditebak, Alphiria menyunggingkan senyum menggoda.


"Ti-tidak, tunggu dulu!? Bagaimanapun juga mandi bersama itu tidak pantas, kan!? Aku bisa mencuci tubuhku sendiri!"


"Memangnya kamu tidak mau kalau aku yang menggosok punggungmu? Atau... bukan aku yang kamu inginkan? Jangan-jangan kamu lebih ingin mandi bersama Kepala Akademi... atau malah bersama Cyril!?"


"Aku tidak pernah sekalipun bilang kalau aku tidak mau mandi bersamamu, Aria..."


Justru, kalau aku benar-benar mandi bersama Alphiria, firasatku bakal terjadi kecelakaan yang jauh lebih besar daripada saat kami berada di ruang tunggu. Kalau sampai melihat sosoknya tanpa sehelai benang pun—kecantikan bagaikan dewi yang keluar dari lukisan—rasanya aku bisa langsung meninggal di tempat.


"Sudah, jangan banyak alasan! Aku bilang akan menggosok punggungmu, jadi sekarang pindah ke kamar mandi dengan patuh!"


Nada suaranya sama sekali tidak memberi ruang untuk membantah. Kerah bajuku dicengkeram, lalu aku diseret setengah paksa menuju kamar mandi. Sama seperti saat disembunyikan di dalam loker, kali ini pun aku didorong masuk begitu saja.


"T-Tunggu, Aria!?"


"Jangan paksa aku mengulanginya lagi. Masuk dulu dan tunggu di dalam. Begitu selesai bersiap, aku akan segera menyusul."


"Bersiap? Bersiap untuk apa!?"


Sayangnya, Alphiria sama sekali tidak menjawab teriakanku. Dengan tanpa belas kasihan, pintu ditutup rapat lalu terdengar bunyi ceklek dari luar.


Saat kusadari bahwa aku dikurung di dalam, semuanya sudah terlambat. Yang bisa kurasakan hanyalah kehadiran majikanku yang semakin menjauh.


"Yang benar saja..."


Alphiria benar-benar serius.


Dengan perasaan campur aduk antara putus asa, harapan, dan kegembiraan, akhirnya aku menyerah dan mulai melepaskan seragamku yang telah kotor oleh keringat dan debu.


*****


Begitu membuka pintu kamar mandi, hawa lembap langsung menyelimuti tubuhku.


Aroma manis seperti bunga mawar memenuhi ruangan hingga membuat kepalaku sedikit pusing. Aku duduk di bangku tempat membasuh tubuh, mengambil shower, lalu mengguyurkan air hangat ke kepalaku.


Ada banyak hal yang membuatku terkejut sejak datang ke dunia ini, tetapi salah satu yang paling mengejutkan adalah tingkat peradabannya. Kukira tempat seperti pemandian tidak akan ada di dunia ini. Berkat itu, sampai hari ini aku bisa hidup dengan nyaman.


Namun, khusus hari ini, tempat ini terasa seperti gerbang pertama menuju neraka.


Di kamar mandi yang sunyi, suara detak jantungku berdenyut begitu keras hingga terdengar tidak wajar.


Di satu sisi aku ingin dia segera datang, tetapi di sisi lain aku berharap semua ini hanya lelucon.


Dalam situasi seperti ini... ya, menghitung bilangan prima mungkin bisa mengalihkan pikiranku.


"───Maaf sudah membuatmu menunggu, Shinya."


Harapanku sia-sia. Baru sampai menghitung angka tujuh, terdengar bunyi ceklek saat pintu kamar mandi di belakangku perlahan terbuka.


Dengan gugup aku menoleh. Di sana berdiri Alphiria, hanya mengenakan sehelai handuk mandi yang membalut tubuhnya.


"...Apa!?"


Aku kehilangan kata-kata. Seolah seorang dewi kecantikan sendiri berdiri tepat di hadapanku.


Rambut keemasan yang berkilau bagaikan cahaya bulan purnama. Tubuh ramping yang biasanya tersembunyi di balik seragam kini memerah seperti apel yang mulai matang, terselimuti uap hangat dari pancuran.


Melihat sosok majikanku yang begitu tanpa pertahanan, aku bahkan lupa bagaimana cara bernapas. Tenggorokanku terasa kering seketika, hingga air liur pun tak mampu kutelan.


"A-Ada apa...? Apa ada sesuatu yang menempel di tubuhku?"


Sambil menggenggam erat ujung handuk mandinya, Alphiria menunduk dan bertanya dengan suara lirih, seolah kehilangan kepercayaan diri.


Sial... Reaksi seperti ini benar-benar di luar dugaanku. Dia sendiri yang mengajakku mandi, tetapi sekarang malah malu-malu. Imutnya benar-benar keterlaluan.


Lekuk dadanya yang terbungkus handuk putih tampak sesak, justru semakin menegaskan kelembutan bentuknya. Dari pinggang yang ramping hingga pahanya tergambar lengkungan tubuh yang indah bahkan melalui kain, sementara kedua kakinya yang jenjang bagaikan karya seni yang sempurna.


"B-Bukan... Maksudku, ada dua yang... eh, bukan itu! Aria terlalu cantik sampai aku terpaku... eh, bukan begitu juga!"


"Dasar bodoh! Bagian itu tidak perlu kamu tarik kembali!"


Alphiria mengembuskan pipinya dengan kesal sambil menghentakkan kaki. Gerakannya membuat tubuhnya bergoyang, sehingga aku buru-buru mengalihkan pandangan dan mati-matian mencari topik lain.


"N-Ngomong-ngomong! Aria, boleh aku memastikan satu hal?"


"...Apa?"


"Di balik handuk itu... jangan-jangan... kamu benar-benar tidak memakai apa pun, kan?"


Begitu mendengar pertanyaanku, bahu Alphiria bergetar.


Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Bagaimanapun juga, aku hanyalah siswa SMA yang tumbuh di Jepang modern. Aku sudah membaca cukup banyak light novel dan manga untuk mengetahui pola seperti ini.


Seharusnya, di balik handuk itu pasti ada pakaian renang. Itulah standar ceritanya.


Namun, selalu ada pengecualian. Ada juga tokoh yang sengaja melanggar standar hanya demi mengejutkan lawan bicaranya, lalu dengan bangga berkata, "Ternyata aku tidak memakai apa-apa." Aku tidak boleh lengah.


"Kamu pikir aku ini siapa? Tentu saja aku memakai sesuatu. Bahkan pakaian yang paling cocok untuk menemanimu bersantai di sini."


Jari Alphiria menyentuh lipatan handuk di depan dadanya.


Aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang mengering. Perlahan, kekuatan di ujung jarinya mengendur.


Mengikuti tarikan gravitasi, handuk putih itu meluncur jatuh ke lantai, membuatku spontan berdiri hingga kursi yang kududuki hampir terbalik.


Yang muncul dari balik handuk memang sesuai dugaanku, tetapi dalam arti tertentu jauh melampaui dugaan itu.


Jika rambut emas Alphiria bagaikan bulan purnama, maka pakaian yang dikenakannya bagaikan langit malam yang gelap dan jernih.


"A-Apa... ini?"


Aku mengenal pakaian itu. Aku bahkan tahu namanya. Namun aku tidak mengerti.


Kenapa benda seperti itu bisa ada di dunia ini?


"K-Kenapa ada baju renang kompetisi di sini...?"


Tidak salah lagi. Itu benar-benar baju renang kompetisi yang kukenal. Kain hitamnya yang berkilau redup membalut tubuh Alphiria dengan sangat pas.


Bentuk tubuhnya yang proporsional tampak jelas tergambar di balik selembar kain tipis itu.


Seharusnya pakaian tersebut dirancang demi mengurangi hambatan air, tetapi pada tubuh Alphiria, fungsinya justru berubah menjadi sesuatu yang menonjolkan keindahan siluet tubuhnya.


Setiap kali ia menarik napas, kain itu ikut bergerak perlahan mengikuti irama dadanya.


Saat pandanganku sedikit turun, terlihat potongan tinggi di bagian samping pakaian renang itu. Kain hitam tersebut mengikuti garis tubuhnya dengan rapi, menciptakan kontras yang mencolok dengan kulitnya yang putih.


Penampilannya memberikan kesan yang jauh lebih mencolok daripada yang kubayangkan, sampai-sampai bahkan semburan air dari shower pun tak seberapa dibandingkan keterkejutanku.


"Ya ampun... Kamu diam lagi. Jangan-jangan... pakaian ini tidak cocok untukku?"


Alphiria membusungkan dadanya dengan bangga sambil meletakkan kedua tangan di pinggang, berpose layaknya seorang model. Namun, bertolak belakang dengan sikap dan ucapannya yang percaya diri, kulit yang tampak di sela-sela pakaian renangnya memerah karena uap hangat dan rasa malu. 


Berpadu dengan aroma mawar yang harum, suhu dan kelembapan di kamar mandi terasa meningkat drastis. Tidak... mungkin yang sebenarnya memanas adalah jantungku.


"Bagaimana? Setidaknya beri aku pendapatmu."


"E-eh... Sebelum bicara soal cocok atau tidak... sebenarnya itu apa?"


"Apa maksudmu 'apa'? Jelas ini baju renang, kan? Aku bertanya kepada para pelayan tentang 'pakaian yang disukai anak laki-laki', lalu mereka bilang kalau memakai ini pasti tidak akan salah... Apa ternyata bukan begitu?"


Entah karena mulai merasa malu atau justru khawatir, Alphiria menggeliat canggung sambil memainkan tubuhnya. Sebenarnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya benar. 


Aku ingin mengiyakannya, tetapi rasanya kalau mengakuinya berarti aku kalah, sehingga aku pun tidak tahu harus menjawab apa. Lagi pula, kenapa dia malah bertanya hal seperti itu kepada para pelayan?


"E-Emm... Sangat cocok... sampai-sampai aku tidak tahu harus melihat ke mana."


Wajahku terasa panas seperti terbakar.


Aku bahkan tidak sanggup menatap Alphiria dengan benar. Meski tidak telanjang, pakaian itu justru memperjelas lekuk tubuhnya, siluet pinggangnya yang ramping, dan membuat pesonanya terasa berlipat ganda.


"B-Begitu ya... Syukurlah kalau begitu! Kalau begitu, mari kita mulai."


"Mulai... mulai apa?"


"Jangan suruh aku mengulanginya lagi. Bukankah aku sudah bilang akan membersihkan tubuhmu? Nah, cepat duduk!"


Seolah tak memberiku kesempatan untuk membantah, ia mencengkeram kedua bahuku dan memaksaku duduk dengan kekuatan yang sama sekali tak terduga dari lengan rampingnya.


"Alphiria-san? Bukankah ini agak terlalu memaksa?"


"Diam. Kamu tinggal duduk manis saja. Jangan bergerak sedikit pun, mengerti?"


Melalui pantulan cermin, kulihat Alphiria menuangkan banyak sabun mandi cair ke dalam baskom berisi air hangat lalu mengaduknya hingga berbusa. Aroma mawar yang manis mulai memenuhi kamar mandi bersama uap hangat.


Aku bisa menebak apa yang hendak dilakukannya. Karena itulah jantungku berdetak semakin cepat hingga terasa nyeri.


"Kalau begitu... kita mulai dari punggungmu."


Sambil mengembuskan napas hangat di dekat telingaku, Alphiria mengambil busa yang telah dibuatnya lalu menuangkannya perlahan ke punggungku. Sensasi hangat yang lembut menyelimuti kulitku ketika ia meratakannya perlahan dengan telapak tangannya.


"O-oh..."


"Hehe... Ada apa? Aku baru mengusapnya dengan tangan saja, lho."


Bisikannya yang lembut membuat telingaku bergetar. Dengan gerakan tangan yang halus, ia mengoleskan busa dari bahuku, melewati tulang belikat, hingga ke pinggang.


Rasanya begitu nyaman, seolah dibelai kain sutra yang sangat lembut. Bunyi halus busa yang pecah di kulit seakan langsung mencapai kepalaku, membuat pikiranku perlahan menjadi kosong.


"Tidak boleh begitu, Shinya. Bahumu masih tegang, lho. Santailah sedikit."


Kalau dia mengatakannya dengan suara semanis itu, bagaimana mungkin aku bisa bersantai? Justru jantungku semakin berdebar. Aku bahkan harus mengalihkan pikiranku ke hal lain agar tidak kehilangan ketenangan.


Seolah mengetahui isi hatiku, Alphiria sengaja menggunakan ujung jarinya untuk mengusap perlahan sepanjang garis tulang punggungku dari atas ke bawah. Melihat tubuhku refleks gemetar, ia menambahkan lebih banyak busa lalu mulai memijat otot-ototku yang tegang.


"...Ah... A-Aria..."


"Kamu pasti lelah setelah duel tadi. Biar aku mengendurkan tubuhmu, jadi diam saja."


Seolah ingin menghapus semua kelelahan yang menumpuk sejak aku dipanggil ke dunia ini, ia memijat bahuku dengan lembut, lalu memberi pijatan ringan dari tulang belikat, sepanjang tulang punggung, hingga ke pinggang dengan gerakan melingkar. Otot-ototku yang kaku perlahan mengendur, seakan seluruh pikiranku ikut larut bersama busa putih itu.


"Hmm... Punggungmu ternyata lebih lebar daripada yang kukira."


"...I-iyakah?"


"Dari luar pakaian memang tidak kelihatan... tapi saat menyentuhmu begini, rasanya sangat dapat diandalkan... dan entah kenapa membuatku merasa tenang…"


Alphiria menghentikan pijatannya. Sambil menghela napas kagum, ia perlahan menyandarkan kepalanya di punggungku. Jemarinya mengusapnya seakan enggan melepaskannya, sebelum akhirnya perlahan menjauh.


"Punggungmu sudah bersih sekarang. ...Kalau begitu, ulurkan tanganmu."


"Hah? Tanganku?"


"Iya. Cyril tadi menempel padamu cukup lama, kan? Jadi aku akan mencucinya dengan lebih teliti."


Saat aku memutar tubuh di atas bangku sesuai permintaannya, pemandangan yang terbentang di depan mataku membuat napasku terhenti.


Sosok Alphiria yang berdiri menatapku begitu menggoda, namun pada saat yang sama juga begitu anggun bagaikan dewi.


Kulitnya yang putih bagaikan porselen memerah terkena uap hangat. Tubuhnya dipenuhi busa sabun, sementara pakaian renang hitamnya tertutup lapisan busa putih yang berkilau karena air.


"T-Tunggu, Aria!? Kenapa kamu malah mengoleskan busa ke tubuhmu sendiri...? Apa yang sebenarnya mau kamu—"


"Bukankah sudah jelas? Aku akan mencucinya seperti ini."


Memotong protesku, ia meraih lengan kananku, lalu menjepitnya di antara tubuhnya yang dipenuhi busa.


"───!?"


Jeritan yang tak sempat keluar hanya bergema di dalam kepalaku.


Meski terhalang pakaian renang, sensasi lembut itu tetap terasa saat lenganku terjepit dari kedua sisi. Busa menjadi pelumas, sehingga setiap kali Alphiria menggerakkan tubuhnya maju dan mundur, lenganku ikut bergeser dengan mulus.


"Hmm... Bagaimana, Shinya? Nyaman...?"


"I-Ini bukan soal nyaman atau tidak...!"


Karena ia menekannya begitu erat, aku bisa merasakan tekanan halus melalui kain pakaian renangnya setiap kali tubuhnya bergerak.


"Haa... haa... Tentu saja. Aku sedang menimpa semua bekas yang menempel di tubuhmu dengan milikku sendiri..."


Bisikannya yang hangat dipenuhi rasa ingin memiliki.


Dengan sengaja ia terus menggerakkan tubuhnya, sementara suara lembut gesekan kain yang basah dan busa bergema di kamar mandi yang sunyi.


"Ini... diajarkan oleh salah satu pelayan kepadaku. Katanya, 'Kalau ingin mencuci lengan seorang laki-laki, lakukan seperti ini. Mereka pasti akan senang'."


"B-Begitu ya..."


Aku menjawab dengan napas tersengal.


Baik pakaian renang itu maupun cara ini, sama sekali bukan sesuatu yang pantas diajarkan kepada seorang nona bangsawan yang polos. Pelayan yang mengajarinya benar-benar perlu ditegur.


"Awalnya aku juga ragu... tapi, hehehe. Melihat reaksimu, ternyata aku senang sudah diajari. Jantungmu berdetak sangat kencang, Shinya. Bahkan kekuatan sihirmu juga terus bertambah."


Sensasi tubuhnya yang lembut melalui pakaian renang, licinnya busa, dan terutama kenyataan bahwa lenganku berada begitu dekat dengannya membuat pikiranku nyaris berhenti bekerja.


"Haa... ah... Shinya, lenganmu ternyata kuat sekali... Gesekannya juga... hangat..."


Karena terus menggerakkan tubuhnya tanpa henti, wajah Alphiria pun semakin memerah. Matanya yang basah menyipit karena panas, sementara hembusan napasnya yang hangat menyentuh wajahku.


"Dengan begini... bagian yang tadi disentuh Cyril sudah bersih, kan...? Bau orang lain... sudah hilang semuanya, kan...?"


"I-Iya! Sudah bersih! Bersih sekali! Jadi... lengan yang ini sudah cukup...!"


"Tidak... masih belum cukup. Sekarang giliran lengan satunya lagi... akan kubersihkan juga."


Dengan senyum yang tampak begitu puas, Alphiria melepaskan lengan kananku, lalu menarik lengan kiriku. Agar lebih mudah, ia bahkan mengubah posisinya hingga duduk di salah satu pahaku.


"T-Tunggu, Aria!? Kenapa kamu malah naik ke atas...!"


"Diam. Kalau tidak begini... aku tidak bisa mengerahkan tenaga, kan...?"


Meski begitu alasannya, gerakannya justru menjadi semakin berani.


Berat tubuhnya terasa di atas pahaku, sementara lengan kiriku kembali berada di antara tubuhnya. Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya untuk mengusap lenganku, pinggangnya pun ikut bergerak, membuatnya terus bergeser di atas pahaku.


"Haa... ah... Lengan yang ini juga tegang sekali... Harus kulemaskan dengan baik..."


Tubuhku yang kaku karena gugup dan malu, ditambah suaranya yang semakin hangat, membuat kewarasanku berada di ambang batas.


"Berhenti───!! Aku sudah tidak tahan lagi!!"


Dengan sisa-sisa kewarasanku, aku berteriak sambil berdiri begitu cepat hingga bangku yang kududuki hampir terbalik.


Aku langsung meraih shower dan tanpa ampun menyiramkan air hangat ke arah wajah Alphiria.


"Hyaa!? T-Tunggu, Shinya! Apa yang tiba-tiba kamu lakukan... Ah!? H-Hentikan! Jangan siram aku terus!"


"Maafkan aku! Ini demi menjaga hubungan kita tetap sehat!"


Mengabaikan protesnya, aku membelakanginya dan langsung melompat ke dalam bak mandi yang penuh air hangat. Setelah merendam tubuh hingga leher, aku berusaha menenangkan napasku.


"............"


Keheningan menyelimuti ruangan. Tak tahan dengan suasana itu, aku perlahan mengintip dari balik tepian bak mandi.


Di sana berdiri Alphiria, rambut keemasannya meneteskan air sedikit demi sedikit. Wajahnya semerah tomat, sementara tubuhnya gemetar karena malu.


"L-Lihat apa sih...! Dasar mesum, Shinya!!"


"Hah!? Itu nggak adil!"


"Dasar bodoh, Shinya! Aku sudah tidak peduli lagi! Mulai sekarang, aku tidak akan pernah mencuci tubuhmu lagi!"


Di tengah kamar mandi yang dipenuhi aroma mawar, teriakan manis sang majikan bergema nyaring. Sementara itu, aku hanya bisa pasrah menerima semburan air shower balasan yang mengarah tepat ke wajahku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close