NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 8 Prolog

Prolog


"Rasanya sudah lama kita tidak berkumpul bersama seperti ini, ya."

Sambil memandangi teman-teman yang sedang bersenda gurau dengan penuh kehangatan, Rose bergumam pelan.

Dia menatap mereka seolah sedang melihat sesuatu yang menyilaukan.

"Kamu benar..."

Segera setelah ujian masuk Babel selesai, ujian Gil pun dimulai.

Memang, sudah setengah tahun berlalu sejak terakhir kali kami bertatap muka serta makan dan minum bersama seperti ini.

"Toko ini juga kelihatannya sudah sangat laris, ya."

Kedai makanan di Liberty Town ini, 'Kedai Kucing Hitam', sekarang telah menjadi restoran paling populer di kota. Saking populernya, mendapatkan reservasi di sini sangatlah sulit.

"Ya, sepertinya Emi dan yang lainnya terus menjaga tempat ini selama Ash absen."

Ash telah mengambil cuti panjang dari kedai karena ujian sebelumnya. Di tengah situasi di mana koki terbaik mereka tiba-tiba absen, Emi dan staf lainnya saling bekerja sama demi mempertahankan operasional kedai.

'Kedai Kucing Hitam' adalah salah satu impian Ash, dan mereka telah melindungi tempat itu dengan penuh kepedulian hingga sekarang. Ash dari lubuk hatinya yang terdalam juga sangat berterima kasih kepada Emi dan kawan-kawan.

"Aku benar-benar senang bisa makan masakan Ash lagi."

"Tentu saja."

Bukan hanya Rose. Semua orang yang ada di sini pasti merasakan hal yang sama. Terutama—

"Masakan Ash! Masakan Ash! Masakan Ash!"

Faf, si gadis naga rakus di sebelahku, mengayun-ayunkan kakinya sambil memegang garpu dan pisau.

"Aku tidak sabar!"

Mendengar suara Miu, teman Faf,

"Nda cabal!"

Mari mengangkat tangan kirinya dan menirukan ucapan Miu.

"Aku mau hamburger!"

Fen yang berada di atas pangkuanku juga ikut mengangkat tangan kanannya yang mungil.

Hmm. Sepertinya anak-anak kecil yang rakus ini juga sedang sangat bersemangat.

"Sudah siap!"

"Semuanya sudah siap, lho!"

Ash dan Emi keluar dari dapur dengan membawa piring di kedua tangan mereka. Keduanya kemudian mulai menata hidangan tersebut di atas meja.

Melihat berbagai macam hidangan warna-warni yang disajikan silih berganti oleh pelayan kedai,

"Wah!"

"Wahhh!"

"Waahh!"

Faf, Miu, dan Mari bersorak gembira dengan gaya mereka masing-masing.

"Daging, daging, daging!"

Mata Fen berbinar-binar dan dia mengibaskan ekornya dengan penuh semangat.

"Tampilannya memang terlihat lezat."

Sambil mengelus Fen yang ada di pangkuanku, aku pun mengutarakan pendapatku dengan jujur.

Setelah kami menikmati hidangan lezat buatan Ash dan yang lainnya, Faf mengajak Miu dan kawan-kawan pergi bermain.

Alhasil, kami pun bersantai sambil meminum teh herbal usai makan. Saat itulah hal itu terjadi.

"Kai, terkait pertemuan besok, pada akhirnya apa yang akan kamu lakukan?"

Rose bertanya padaku dengan nada ragu. Hari ini adalah perayaan kembalinya Ash.

Melihat raut wajah Rose yang tampak bersalah, dia sepertinya juga tidak ingin membahas politik kotor di tengah suasana perayaan ini. Namun, kemungkinan besar dia tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.

"Bukankah sebelumnya sudah kukatakan? Itu sepenuhnya tergantung pada Gil dan yang lainnya. Lagi pula, ini bukanlah sesuatu yang pantas kucampuri."

Besok, pertemuan tiga pihak yang diselenggarakan oleh Cat Nya akan dilangsungkan. Pertemuan ini juga akan melibatkan Negara Kabut yang sebelumnya dikuasai oleh mendiang Procyon dan Negara Kegelapan milik Ash.

Tentu saja, dari negara monster Cat Nya, Gil dan beberapa monster seperti Kiji akan hadir. Perwakilan mereka adalah Gil.

Hal ini diputuskan berdasarkan kesepakatan bulat para monster. Aku sama sekali tidak memberikan instruksi apa pun terkait hal tersebut.

Para monster berdiskusi bersama dan memilih seorang manusia bernama Gil sebagai pemimpin mereka. Fakta ini membuktikan bahwa Cat Nya sudah sepenuhnya lepas dari campur tanganku.

Ini juga berarti aku tidak boleh lagi mengutarakan pendapat apa pun di masa depan.

"Namun, aku tidak bisa membayangkan kalau kaum iblis akan membiarkan diri mereka dikuasai oleh manusia maupun monster!"

Konflik antara manusia, monster, dan kaum iblis telah berlangsung sejak zaman kuno. Permusuhan ini bagaikan kutukan yang terus mengekang tindakan serta moralitas kami.

Oleh karena itu, kekhawatiran yang Rose rasakan sangatlah wajar dan sama sekali tidak meleset. Akan tetapi—

"Memang begitu. Namun, khusus untuk kali ini, tidak akan ada masalah."

Aku langsung menepis kegelisahan Rose.

"Mereka tidak akan terima dikuasai, tapi kamu bilang tidak ada masalah!? Apa maksudmu sebenarnya!?"

Rose mencondongkan tubuhnya ke depan, dan aku pun menjawab,

"Karena menurutku, Gil yang sekarang tidak akan memilih jalan pintas untuk menguasai kaum iblis begitu saja."

Aku menegaskan hal itu dengan penuh keyakinan.

Gil pernah berdiskusi denganku mengenai hal ini, jadi aku memberinya sebuah buku tentang sistem pemerintahan dunia lain yang kudapatkan di Labirin.

Jika dia membacanya, Gil pasti akan menemukan jawaban yang tepat.

"Metode untuk merangkul kaum iblis alih-alih menguasai mereka...!? Kai, jangan-jangan kamu berniat memperkenalkan sistem parlementer di negara monster dan kaum iblis!?"

Rose melompat dari kursinya, membuka kedua matanya lebar-lebar, dan berteriak terkejut.

"Apakah menurutmu ada cara lain untuk melewati situasi sulit ini?"

Penyatuan kali ini melibatkan tiga pihak: monster, kaum iblis, dan manusia. Berani sumpah, jika kita menerapkan sistem di mana satu ras berkuasa, hal itu pasti akan memicu konflik di suatu tempat.

Sistem semacam itu pada akhirnya akan runtuh dalam waktu dekat. Satu-satunya cara untuk mencegah hal itu terjadi adalah melalui sistem parlementer.

"Tidak... kamu benar. Aku rasa memang hanya itu satu-satunya cara."

Rose bergumam menyetujuinya, lalu mulai berpikir keras dengan wajah serius.

"Apakah negara manusia, monster, dan kaum iblis benar-benar bisa dikelola dengan baik menggunakan sistem parlementer yang Master katakan itu?"

Zack meneguk bir yang diracik di 'Kedai Kucing Hitam' dan melontarkan pertanyaan inti dari persoalan ini dengan nada santai.

Padahal aku yakin dia tidak terlalu tertarik dengan masalah ini, tapi Zack selalu bisa mengajukan pertanyaan yang tepat sasaran.

Meski terlihat seperti orang bodoh, otak Zack bekerja dengan sangat cepat. Mungkin itu bisa disebut sebagai kemampuan untuk melihat esensi dari segala hal.

Tidak hanya dalam seni bela diri, dia juga mampu menangkap hakikat kehidupan pribadinya, bahkan untuk urusan yang sangat spesifik seperti kali ini.

Mungkin itulah alasan mengapa dia disukai oleh kawan-kawan ceria dari Tim Penakluk Monster.

"Tentu saja tidak akan semudah itu. Mereka pasti akan menemui hambatan berkali-kali."

"Maksudmu, menemui hambatan masih lebih baik daripada tidak sama sekali?"

Orang ini benar-benar luar biasa.

"Tepat sekali. Jika Gil dan yang lainnya memimpin dengan paksaan, segalanya akan segera hancur. Sistem parlementer dirancang untuk mencegah hal tersebut. Sisanya, semua bergantung pada bagaimana Gil dan kawan-kawan akan menggunakan instrumen pemerintahan tersebut ke depannya."

Sistem parlementer pada dasarnya adalah metode pemerintahan di mana segala keputusan diambil melalui musyawarah.

Manusia, monster, dan kaum iblis memiliki perbedaan dalam segala hal, mulai dari budaya, pandangan, hingga moralitas.

Tentu saja akan sangat sulit mengharapkan mereka bisa menyelesaikan masalah hanya melalui dialog semata. Itulah alasan mengapa aku berkata bahwa ini bukanlah hal yang mudah.

"Sungguh ironis. Pada tahap ini, sistem parlementer adalah metode yang masih sulit diterapkan di negara kita. Namun, sistem ini justru akan diterapkan di negara yang dibentuk oleh monster dan kaum iblis, sosok yang selalu dianggap sebagai musuh alami manusia..."

"Benar, jalur dialog memang sulit, tapi bukan berarti mustahil."

Tidak berlebihan jika aku mengatakan bahwa situasi saat ini, setelah tumbangnya Raja Iblis Kabut Procyon yang menindas rakyatnya, adalah satu-satunya kesempatan emas untuk menerapkan sistem tersebut.

Lagi pula, pihak manusia dan monster yang memenangkan peranglah yang pertama kali mengusulkan sistem pemerintahan berbasis dialog ini.

Dengan demikian, kemungkinan besar pihak musuh akan menerimanya.

Aku justru yakin mereka dapat menjalankan sistem parlementer ini jauh lebih baik dibandingkan Kerajaan Amelia, yang saat ini masih dirongrong oleh permasalahan bangsawan kelas atas.

"Kamu... benar."

Rose menggigit bibir bawahnya dengan raut wajah sedikit kesal.

"Rose, kamu ingin mengubah Kerajaan Amelia, bukan? Kalau begitu, kamu hanya perlu mewujudkannya dengan cara yang kamu yakini."

"Kamu benar..."

Dalam arti tertentu, reformasi sistem pemerintahan di Kerajaan Amelia jauh lebih sulit daripada yang dihadapi oleh Gil dan kawan-kawan.

Bagaimana tidak, mereka harus berhadapan dengan kepentingan kelompok, yang merupakan kekuatan paling merepotkan dan tangguh di sana.

Membangun segala sesuatu dari nol seperti yang dilakukan Gil justru akan jauh lebih mudah.

"Bagaimanapun juga, semuanya kini bergantung pada pilihan Gil dan rekan-rekannya."

"Karena ada Nail, pasti semuanya akan baik-baik saja!"

Ash telah menyerahkan posisi perwakilan Negara Kegelapan kepada Nail. Ash sengaja mengambil keputusan ini dengan penuh pertimbangan.

Mengingat Raja Iblis Kabut Procyon sudah tiada, kehadiran Ash yang berstatus sebagai Raja Iblis di pertemuan tersebut hanya akan membuat Negara Kegelapan terlihat terlalu mendominasi.

Hal ini dikhawatirkan dapat merusak keseimbangan kekuatan tiap faksi, dan musyawarah yang setara pun tidak akan pernah terwujud.

Oleh karena itu, Ash memilih untuk turun takhta dari posisinya sebagai Raja Iblis Kegelapan.

Dia kemudian menyerahkan kursi kepemimpinan tersebut kepada tangan kanannya, Nail, lalu memutuskan untuk menjalani sisa hidupnya sebagai kaum iblis biasa.

"Saat ini, Gil dan Nail pasti sedang mempersiapkan pertemuan besok dengan wajah pucat pasi."

Itulah alasan mengapa Gil dan Nail tidak menghadiri pesta hari ini.

Lagipula, jika pertemuan besok berjalan lancar, sebuah pesta perayaan yang meriah telah dijadwalkan.

Kami hanya perlu menghargai kerja keras Gil, Nail, dan kawan-kawan pada saat itu tiba.

"Gil dibantu oleh Kiji dan rekan-rekannya, sedangkan Nail mendapat dukungan dari Paman Cliff. Mungkin pertemuan besok memang benar-benar tidak perlu dikhawatirkan."

Seperti yang dikatakan Rose, Paman Cliff kini mendukung penuh kepemimpinan Nail yang bertindak sebagai perwakilan Negara Kegelapan. Ya, seorang manusia bertindak sebagai asistennya.

Awalnya kami menduga hal ini akan memicu penolakan keras dari para petinggi Negara Kegelapan, tapi mereka menerimanya dengan sangat mulus.

Aku yakin ini semua berkat ketelatenan kaum iblis dari Iquori yang terus memberikan penjelasan mengenai sosok Paman Cliff kepada masyarakat Negara Kegelapan.

"Singkatnya, semuanya bergantung pada apa yang terjadi besok. Besok, aku dan Rose akan hadir sebagai saksi dalam pertemuan tersebut. Tidak masalah, kan?"

"Ya, aku juga berniat begitu."

Rose mengucapkan kalimat itu dengan tatapan mata penuh tekad.

"Master, persiapan ritual Spy sudah selesai."

Aku sempat bingung karena Asta tidak terlihat di mana pun usai makan. Rupanya dia sedang melakukan penyesuaian akhir untuk ritual tersebut.

"Kerja bagus. Kalau begitu, mari kita pergi."

Aku pun beranjak dari kursiku.

"Semuanya, silakan bersantai dan nikmati waktu kalian."

Aku menatap wajah mereka satu per satu sambil menyampaikan pesan tersebut.

"Aku juga ikut."

Zack bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku. Aku kemudian melirik ke arah Asta, dan seketika itu juga dia memetik jarinya.

Dalam sekejap, pandanganku beralih ke sebuah ruangan luas berwarna putih bersih.

Lantai putih tanpa celah itu membentuk sebuah garis cakrawala tanpa batas. Di atas lantai itulah Spy terlihat sedang duduk bersila, tubuhnya terikat oleh banyak rantai berwarna merah darah.

"Spy, kamu yakin tidak masalah dengan hal ini? Aku pastikan prosedur ini sangat berbahaya, lho."

Hal yang akan kami coba lakukan sekarang adalah ritual penggabungan menggunakan monster bernama Typhon.

Kemampuan Typhon dalam memanipulasi waktu memang sangat kuat.

Akan tetapi, dia pada dasarnya hanyalah seonggok monster kroco yang langsung terluka parah saat kuhajar sedikit.

Kupikir Spy bisa menyatu dengannya tanpa memberikan beban fisik yang terlalu berat.

Namun, Asta telah memperingatkanku.

Jika Spy nekat bersatu dengan Typhon tanpa perlindungan yang memadai, jiwa dan tubuh Spy tidak akan sanggup menahan beban dari proses tersebut dan akhirnya hancur berkeping-keping.

Sejak awal, peningkatan kekuatan ini hanyalah sekadar hadiah belaka.

Tentu saja, aku tidak ingin dia mempertaruhkan nyawanya hanya demi hal ini.

Maka wajar saja kalau aku sempat berniat membatalkan metode ini. Sayangnya, Girimehkala sudah telanjur memberitahukan masalah ini kepada Spy.

Spy terus-menerus memohon padaku untuk tetap melangsungkan ritual penggabungan tersebut.

Dengan berat hati, aku pun memerintahkan Asta untuk merancang formula khusus demi meringankan beban pada tubuh dan jiwa Spy selama ritual berlangsung.

Oleh sebab itu, saat ini aku sedang memastikan ulang tekad bulat Spy.

"Aku sama sekali tidak masalah. Aku harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Aku ingin tumbuh lebih kuat supaya bisa lebih berguna bagi Anda. Itulah satu-satunya harapanku."

Spy memberikan jawaban singkat itu dengan raut wajah setajam orang yang sedang menginjakkan kakinya di wilayah musuh.

Sejujurnya, aku tidak terlalu bersemangat melakukan ritual ini.

Namun, karena ini sudah dijanjikan sebagai sebuah hadiah, rasanya sangat mustahil untuk membatalkannya sekarang. Meski begitu—

"Begitu, ya... Asta, tolong lakukan."

Aku tidak pernah suka menempatkan bawahanku dalam bahaya. Mungkin karena itulah aku memberikan perintah pada Asta dengan ekspresi wajah yang tampak sangat masam.

"Tuan Kai, Anda tidak perlu cemas. Aku bukanlah pria lemah."

Spy tersenyum tipis dan mengucapkannya dengan penuh keyakinan, seolah ingin meredakan kegelisahanku.

"Aku sangat tahu betul hal itu."

Aku kembali melirik Asta, dan dia membalasnya dengan anggukan tegas. Kemudian—

"Activate."

Saat Asta merapal mantranya, formasi lingkaran sihir tiga dimensi berjumlah tak terhingga muncul.

Bersamaan dengan hal itu, gumpalan daging yang sebelumnya merupakan wujud Typhon kini melayang tepat di atas Spy.

Aura berwarna merah pekat memancar dari lingkaran sihir tiga dimensi tersebut.

Aura itu kemudian menyelimuti Spy dan gumpalan daging Typhon, mengubah keduanya menjadi bentuk bola yang melayang di udara.

Tak lama setelahnya, dua bola berlapis aura merah menyala itu mulai bergerak mendekat secara perlahan.

Belasan menit kemudian, Spy terbaring telentang di atas lantai putih. Aku bisa merasakan hawa merinding di kulitku.

Sepertinya kekuatannya telah meningkat ke level yang tak tertandingi dibanding sebelumnya.

"Tampaknya peningkatan kekuatanmu berjalan dengan sangat lancar."

Jika dia bisa menggunakan God-Sealing Gauntlets dengan baik, Spy mungkin sudah berada pada tingkatan di mana dia mampu bertarung habis-habisan melawanku.

"Ini sama sekali bukan sesuatu yang bisa dibilang 'lancar'! Kenapa penyatuan biasa bisa menghasilkan peningkatan kekuatan yang begitu mengerikan!? Tunggu sebentar, ini sama sekali bukan sekadar peningkatan, ini justru, justruuuuuuu!!!"

Dengan keringat mengucur deras bak air terjun di dahi, Asta menggerak-gerakkan kedua tangannya dan kembali melontarkan kalimat berlebihan seperti biasanya.

"Tidak sampai seheboh itu. Kekuatan ini hanya cukup membuatnya menjadi teman bermainku. Itu pun hanya jika dia menggunakan God-Sealing Gauntlets. Lagi pula, orang kuat dengan tingkatan sehebat itu sudah sangat umum dijumpai di dunia ini."

Walau berkata begitu, satu hal yang pasti adalah Spy kini telah berhasil melangkahkan kakinya ke dalam dunia para petarung terkuat.

"Terlepas dari berbagai macam batasan yang ada, kemampuan untuk bisa menjadi teman bermain Master saja sudah sangat di luar nalar."

Sambil melipat kedua lengannya di dada, Zack mengutarakan pendapatnya dengan pandangan kosong.

"Aku benar-benar setuju denganmu. Master harus lebih menyadari betapa mengerikannya tingkat kekuatan monster milik Anda itu."

Mendengar komentar Asta yang kurang ajar itu, aku menanggapi,

"Aku akan mempertimbangkannya dengan baik. Nah, kurasa butuh waktu sampai hasil fusi ini benar-benar menyatu dengan tubuhnya. Biarkan dia istirahat sejenak."

Setelah memberikan instruksi tersebut kepada Asta, aku membalikkan badan.

"Dimengerti."

Begitu Asta memetikkan jarinya, aku dan Zack langsung kembali diteleportasi menuju 'Kedai Kucing Hitam' di Liberty Town.

◇◆◇

Di aula pertemuan besar yang terletak di pusat kota Cat Nya, Gil beserta para monster, Nail dan jajaran petinggi eksekutif Negara Kegelapan, serta para pejabat penting dari Negara Kabut yang diwakili oleh perdana menteri saat ini, Magan Fogle, tengah berkumpul bersama.

Awalnya, Gil dan Nail memohon untuk melangsungkan pertemuan ini di Liberty Town yang berada di wilayah East End, dengan harapan bisa meredakan kecurigaan pihak Negara Kabut.

Akan tetapi, pihak Negara Kabut menolak usulan tersebut dan bersikeras mengadakan pertemuan di Cat Nya.

Alasan di balik keputusan ini, tentu saja, sudah bisa ditebak sejak awal.

Saat ini, ketiga belah pihak tersebut telah duduk manis mengelilingi sebuah meja bundar berukuran besar yang terletak di aula pertemuan agung.

Pihak pertama adalah faksi monster yang terdiri dari Gil, Kiji, Boo, ketua suku Cyclops bernama Cyclone, dan ketua suku perempuan dari klan Kobold, Hana.

Faksi kedua merupakan perwakilan dari Negara Kegelapan, yang diduduki oleh Nail, Paman Cliff, dan beberapa petinggi eksekutif penting lainnya.

Dan pihak terakhir adalah Perdana Menteri Negara Kabut, Magan Fogle, bersama jajaran penguasa yang kini mengendalikan Negara Kabut.

Karena berstatus sebagai pihak luar, aku dan Rose tidak duduk di meja bundar itu.

Kami berdua hanya duduk di kursi yang berada di sudut ruangan, mengamati jalannya musyawarah dengan saksama.

Kali ini kami hanyalah pengamat belaka.

Sekalipun terjadi suatu masalah selama pertemuan berlangsung, kami tidak berhak mencampuri dan mengutarakan pendapat sedikit pun.

Cukup dengan sekali pandang, aku bisa melihat Perdana Menteri Magan dan seluruh peserta dari Negara Kabut tampak tegang dan kaku.

Namun di saat yang bersamaan, pancaran mata mereka memperlihatkan sebuah tekad kuat bahwa apa pun yang terjadi, mereka harus menyukseskan musyawarah ini.

Sepertinya perkembangan pertemuan kali ini akan jauh melampaui ekspektasiku ke arah yang positif.

"Di antara kita semua, negara kamilah satu-satunya pihak yang menelan kekalahan! Tuntutan utama kami adalah perlindungan bagi seluruh rakyat Negara Kabut! Tentu saja, sebagai pihak yang mengatur pemerintahan di negara pecundang ini, kami sudah siap lahir dan batin menerima hukuman apa pun!"

Seruan pertama dalam musyawarah itu dilontarkan langsung oleh Perdana Menteri Negara Kabut, Magan.

Tampaknya memang tidak semua hal di Negara Kabut telah membusuk.

"Sejak awal, kami tidak pernah berniat untuk menelantarkan rakyat Negara Kegelapan maupun Negara Kabut."

Mendengar ucapan Gil yang terdengar tenang namun penuh ketegasan itu, kerutan di dahi para perwakilan Negara Kabut pun mulai mengendur.

"Dalam hal kekalahan, Negara Kegelapan kami juga bernasib sama. Sosok yang selalu melakukan tindakan kejam terhadap warga Cat Nya dan Negara Kabut adalah Dolce, yang merupakan salah satu dari Tiga Jenderal Iblis Negara Kegelapan. Dan Dolce itu kini telah dikalahkan oleh Tuan Gilbert, perwakilan para monster yang duduk di hadapan kalian ini. Nasibnya persis seperti raja kalian, si Procyon."

Kalimat Nail yang terdengar sedikit menyiratkan kesedihan itu...

"Tuan Nail benar. Jika mau ditarik kesimpulan, baik kalian dari Negara Kabut maupun kami dari Negara Kegelapan, sama-sama hanyalah boneka konyol yang menari-nari di atas telapak tangan dewa jahat. Tidak ada gunanya menimpakan seluruh tanggung jawab atas tragedi ini hanya kepada kalian saja. Lagipula, sikap kami selama ini juga menjadi salah satu penyebab utama mimpi buruk ini terjadi."

Salah seorang petinggi Negara Kegelapan menyela dan menambahi argumen itu dengan raut wajah seolah baru saja menelan buah simalakama sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Tentu saja begitu. Baik kalian dari Negara Kegelapan maupun Negara Kabut selalu melimpahkan seluruh beban dan tanggung jawab kepada keberadaan Raja Iblis. Kalian terus mempercayai alasan kuno nan sepele tentang keharusan menuruti tradisi nenek moyang secara turun-temurun, sebuah pembenaran yang sama sekali tidak masuk akal. Sayangnya, fenomena konyol itu juga berlaku bagi kami umat manusia."

Paman Cliff mengangguk tegas saat menanggapi perkataan para petinggi Negara Kegelapan, sekaligus melontarkan kata-kata sindiran.

Kemungkinan besar, pamanku itu sedang menyinggung soal insiden Ash dan Charl secara tersirat. Para petinggi Negara Kegelapan yang menyadari maksud tersebut pun langsung menundukkan pandangan mereka dengan ekspresi canggung.

"Ya, dan itulah yang menjadi penyebab utama di balik tragedi kali ini. Tindakan melimpahkan segalanya kepada keberadaan Raja Iblis justru memicu sebuah perpecahan, dan kini bom waktu itu pun meledak."

Perkataan Gil benar-benar tepat sasaran.

Salah satu dari Tiga Jenderal Iblis, Dolce, terus memendam kebencian mendalam atas segala tindakan brutal yang dilakukan Pahlawan Mashiro.

Sebenarnya, jika Dolce mau mengungkapkan sedikit saja isi hatinya kepada rekan sejawatnya, bawahannya, atau Ash selaku Raja Iblis, amarahnya pasti bisa diredam.

Tragisnya, di Negara Kegelapan kala itu, Ash sang Raja Iblis telah melarang secara mutlak segala bentuk perbuatan yang bertujuan untuk mengobarkan kebencian terhadap manusia.

Alhasil, Dolce pun terpaksa mengambil peran untuk menenangkan amarah rekan-rekan dan bawahannya.

Dia bahkan tidak punya hak untuk sekadar memaki secara terang-terangan sosok yang sangat dibencinya. Situasi itu pasti terasa seperti neraka baginya.

Tentu saja, keputusan yang diambil Ash pada masa itu tidaklah salah. Apalagi Negara Kegelapan memang sudah dihadapkan pada banyak masalah internal, seperti bencana kelaparan dan wabah penyakit yang berkepanjangan.

Dalam kondisi seperti itu, berperang melawan ras manusia jelas bukan pilihan yang bijak.

Rencana untuk segera mengakhiri perang, mengaktifkan kembali pakta non-agresi seperti sedia kala, serta berfokus pada pembangunan negara merupakan jalan pemikiran yang sangat logis. Apalagi jika jumlah individu yang membenci manusia terus meningkat, sudah dapat dipastikan kalau hal itu akan berujung pada perlawanan total terhadap ras manusia.

Namun, jika ada satu kelemahan fatal dari keputusan tersebut, itu adalah kegagalan Ash sebagai raja untuk mendengarkan masukan dari pihak lain sebelum mengambil keputusan krusial.

Sebagaimana yang diucapkan Paman Cliff, hal ini tidak hanya terjadi pada kaum iblis saja.

Di kalangan umat manusia pun, raja maupun kaum bangsawanlah yang mengambil semua keputusan, sementara masyarakat biasa yang hidup di bawah bayang-bayang mereka tak henti-hentinya memupuk rasa tidak puas.

Emosi negatif yang terpendam itu bagaikan gunung berapi aktif yang sewaktu-waktu siap meletus.

Oleh karena itu, jika ada sedikit saja provokasi yang memicu, pertahanan logika dan moral mereka akan dengan mudahnya runtuh, serta memperlihatkan taring kebencian yang sesungguhnya.

"Kalian menolak untuk menyerahkan segala wewenang kepada seorang raja. Kalau begitu, sistem pemerintahan seperti apa yang akan kalian bangun?"

Menanggapi pertanyaan Perdana Menteri Negara Kabut, Magan, yang dilontarkan dengan dahi berkerut,

"Sistem pemerintahan tanpa adanya figur seorang raja."

Gil memberikan jawaban seketika itu juga. Sudah kuduga dia akan berkata begitu. Dengan ini, setidaknya satu langkah awal telah terjamin. Selanjutnya—

"Pemerintahan tanpa seorang raja? Apakah menurutmu hal tidak masuk akal seperti itu mungkin dilakukan!?"

Perdana Menteri Negara Kabut, Magan, segera bangkit usai menggebrak meja dengan kedua tangannya.

Meskipun mulutnya melontarkan penolakan keras, jauh di lubuk hatinya yang terdalam memancarkan kilau emosi membara, layaknya seekor binatang buas yang sedang mengintai mangsanya.

"Tentu saja mungkin. Biarkanlah rakyat yang memegang kendali atas urusan pemerintahan, bukan lagi sang raja."

"Rakyat yang memegang urusan pemerintahan? Hah! Konyol sekali! Mustahil jutaan orang bisa mengatur pemerintahan secara bersamaan!"

"Memang benar. Sangat tidak masuk akal jika setiap rakyat langsung campur tangan dalam urusan pemerintahan. Fakta itu tak bisa dibantah. Namun, bayangkan jika rakyat memilih beberapa perwakilan untuk menjalankan roda pemerintahan atas nama mereka. Melalui para wakil tersebut, aspirasi rakyat akan terakomodasi dalam kebijakan negara."

"Rakyat memilih wakil, dan perwakilan itulah yang mengatur pemerintahan? Kalau begitu caranya... memang secara teoretis hal itu mampu mengakomodasi aspirasi rakyat ke dalam pemerintahan... tetapi..."

Magan mencengkeram kepalanya yang botak dengan telapak tangan kanannya sambil mengerang pelan.

Hmm. Saat Gil tiba-tiba membahas soal hal ini, awalnya aku mengira dia akan kebingungan karena tak mengerti maknanya, atau justru keras kepala menolak dan menganggapnya sebagai suatu kemustahilan. Reaksi semacam ini sungguh sedikit di luar dugaanku.

Ternyata sosok bernama Magan ini merupakan figur yang cukup kompeten.

Tentu saja. Dia adalah orang yang berhasil menopang Negara Kabut hingga saat ini, di saat sang penguasa lalim bernama Procyon melakukan banyak tindakan tak masuk akal.

Seseorang pasti membutuhkan daya pikir yang luar biasa fleksibel agar mampu bertahan di posisi seperti itu.

"Sekali lagi, maaf jika saya bersikap lancang, tapi bolehkah saya bertanya satu hal?"

Sempat terdiam dalam lamunan sejenak, Magan kembali mengangkat kepalanya.

Dengan tatapan penuh keyakinan, dia mengedarkan pandangannya secara bergantian ke arah Gil dan Nail, seolah sedang meminta izin untuk mengajukan pertanyaan.

"Soal keikutsertaan rakyat Negara Kabut dalam urusan pemerintahan, bukan? Tentu saja, kami berencana melibatkan rakyat kalian."

Gil langsung memberikan tanggapan, seakan sudah bisa memprediksi pertanyaan tersebut.

"A-apakah itu benar!?"

Magan memajukan badannya ke depan sambil memekik kegirangan.

"Tentu. Kami berencana menjalankan pemerintahan melalui sebuah musyawarah besar yang dihadiri oleh 150 perwakilan, yang terdiri dari 50 perwakilan kami, 50 perwakilan Negara Kegelapan, dan 50 perwakilan Negara Kabut."

Magan langsung memasang ekspresi terkejut saat Gil menawarkan persyaratan tersebut dengan nada penuh percaya diri.

"K-kalau begitu, hubungan kami dengan kalian akan menjadi benar-benar setara!?"

"Tepat sekali. Memang hubungan yang setaralah yang kami idam-idamkan selama ini. Benar begitu, semuanya?"

Gil mengonfirmasikan hal tersebut kepada para perwakilan monster dari Cat Nya yang turut hadir dalam pertemuan tersebut.

"Benar. Itulah kesepakatan bulat yang telah diambil oleh seluruh monster di Cat Nya."

Kiji menjawab mewakili seluruh rekannya, membuat Magan membeku sejenak seolah sedang menyaksikan suatu keajaiban. Dia pun menatap ke arah Gil dan kawan-kawan dengan saksama.

"Siapa pun yang menginjakkan kakinya di kota ini, pasti akan langsung menyadarinya tanpa terkecuali. Mulai dari teknologi, kekuatan sihir, hingga tingkat kemakmuran, negara ini jauh mengungguli negara kami di segala aspek. Apakah kalian sama sekali tidak berniat mengendalikan kami dengan paksaan?"

Magan melontarkan pertanyaan itu dengan suara yang gemetar.

"Mengendalikan? Kalaupun Anda memintanya, kami pasti akan menolaknya mentah-mentah."

Gil menggelengkan kepalanya.

"Mengapa demikian!?"

"Setiap negara memiliki kebudayaan dan pemikirannya masing-masing. Hanya rakyat dari negara tersebutlah yang paling ahli dalam memanfaatkan kearifan lokal untuk memajukan sektor politik, ekonomi, hingga militer. Satu-satunya pihak yang mampu mengembangkan Negara Kabut dengan baik bukanlah kami, melainkan Anda dan para warga Negara Kabut sendiri."

"Mengembangkan Negara Kabut dengan kedua tangan kami sendiri... Lalu, negara seperti apa yang sedang berusaha kalian dirikan?"

"Sebuah negara di mana perwakilan kita bersama-sama menyusun visi di ranah politik, ekonomi, dan militer, untuk kemudian kita wujudkan secara selaras di Cat Nya, Negara Kegelapan, serta Negara Kabut. Kami ingin mendirikan sebuah negara di mana kita semua bisa menikmati kemakmuran bersama-sama."

"...Dan kalian bersedia menjadikan kami sebagai bagian dari negara impian tersebut?"

"Ya, kami ingin bergandengan tangan dengan Anda semua sebagai mitra."

Sambil mengepalkan tangan kanannya, Gil melontarkan jawaban itu dengan penuh tekad.

Mendengar ucapan Gil, Magan hanya terpaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun tak lama kemudian, air mata pun mulai mengalir deras membasahi pipinya.

"Tadinya kupikir, setelah bajingan busuk yang sama sekali tak pernah memedulikan nasib rakyat itu dikalahkan, kami juga akan diperlakukan tak ubahnya seperti budak. Namun, sungguh tak pernah terbayangkan di benakku bahwa semuanya akan berakhir seperti ini..."

Magan menutupi wajah dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Di sebelahnya, para pejabat Negara Kabut pun menenangkan Magan sambil mengelus punggungnya. Sepasang mata mereka juga tampak berkaca-kaca.

Mereka pasti telah berjuang mempertaruhkan nyawa demi melindungi rakyat dari kekejaman tiran bernama Procyon.

Dan saat mendengar impian mereka kini bisa menjadi kenyataan, benang ketegangan yang selama ini mengikat diri mereka pun akhirnya terputus.

"Nail, apakah perwakilan Negara Kegelapan juga setuju dengan penerapan sistem parlementer ini?"

"Tentu saja! Kami akan berpartisipasi dengan senang hati!"

Begitu Nail melompat bangun sambil menepuk dada dengan kepalan tangan kanannya, para pejabat tinggi lainnya pun serempak melakukan hal serupa.

"Terkait nama negara kita ini, sosok yang saat ini bertindak sebagai wali kita, Tuan Kai Heineman, telah memberikan sebuah usulan."

Di tengah pandangan semua orang yang tertuju padaku, aku membalas mereka dengan anggukan pelan kepada Gil.

"Nama negara kita ini adalah... 'Feista'!"

Mendengar seruan Gil, para petinggi Negara Kabut langsung berdiri dan bersorak bagaikan sekawanan binatang buas.

Sambil meneteskan air mata bahagia, mereka terus menggaungkan nama Feista tanpa henti.

Sorakan serta tepuk tangan yang gemuruh bak badai pun tak luput bergema dari pihak Negara Kegelapan beserta Kiji dan rekan-rekannya.

"Kai..."




Sambil memegang lenganku, Rose yang berada di sampingku meneteskan air mata.

"Gil telah menunjukkan keputusannya. Berikutnya adalah giliranmu, kan?"

Aku memberinya dorongan semangat dengan nada suara tegas.

"Aku mengerti."

Sambil mengusap air matanya, Rose menatap pusaran kegembiraan yang memenuhi ruang rapat dengan raut wajah serius.

Tiga faksi—Cat Nya, Negara Kegelapan, dan Negara Kabut—kini telah bergabung dengan Feista.

Negara Majelis Feista dengan tiga negara anggota: Cat Nya, Negara Kegelapan, dan Negara Kabut.

Ini adalah momen lahirnya negara federasi pertama di dunia Lemuria, meski bentuknya terbilang tidak biasa.

◇◆◇

—Ruang Rapat Utama Kerajaan Amelia.

"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, tungguuu! Apakah itu benar!?"

Raja Kerajaan Amelia—Edward Loto Amelia—berteriak sekuat tenaga meluapkan keraguannya.

Tentu saja. Ini tidak masuk akal. Bagaimanapun, hal seperti ini benar-benar tidak mungkin terjadi.

Dalam keadaan normal, dia pasti sudah memaki agar tidak bicara sembarangan. Faktanya, para pejabat tinggi pun tampak sangat kebingungan. Mereka saling pandang tanpa tahu harus merespons bagaimana.

Alasan mengapa Edward tidak langsung membantahnya dan malah mengajukan pertanyaan konyol seperti itu adalah karena orang yang membawa informasi ini merupakan Perdana Menteri Kerajaan Amelia yang dingin—Johannes Roosevelt sendiri.

"Ya, semuanya benar."

"Gil mengalahkan Procyon dari Empat Raja Iblis dan Dolce dari Tiga Jenderal Iblis Negara Kegelapan? Lalu Gil bersumpah setia serta mengabdi kepada Rose? Mana mungkin omong kosong semacam itu bisa dipercaya!"

Procyon memang dikatakan sebagai yang terlemah di antara Empat Raja Iblis. Namun bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang Raja Iblis.

Kekejaman serta kemampuannya menyatu dengan kabut membuatnya menjadi monster yang tak akan bisa dilawan selain oleh Tim Pahlawan.

Selain itu, Dolce dari Tiga Jenderal Iblis Negara Kegelapan juga merupakan iblis tingkat strategis yang pernah meratakan satu divisi pasukan reguler Kerajaan Amelia seorang diri. Dia secara harfiah adalah perwujudan dari malapetaka.

Raja Iblis Kabut Procyon dan Dolce dari Tiga Jenderal Iblis bekerja sama adalah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seharusnya ini menjadi situasi di mana seluruh umat manusia bertarung bersama.

Namun, Gil mengalahkan mereka? Jika dia sanggup melakukan hal semacam itu, sejak awal tidak ada gunanya membentuk kelompok tempur sehebat Tim Pahlawan.

Terlebih lagi, sangat tidak masuk akal jika Gil yang sangat membenci Rose tiba-tiba bersumpah setia kepadanya.

"Izinkan saya mengoreksi, sumpah setia itu pada dasarnya hanya ditujukan kepada satu orang, Kai Heineman."

"Lagi-lagi pria itu!"

Tampaknya setiap kali Kai Heineman terlibat, hal tidak masuk akal apa pun bisa menjadi kenyataan. Sebagian besar kemungkinan Kai Heineman-lah yang mengalahkan Raja Iblis Procyon dan Dolce, lalu memberikan pencapaian itu kepada Gil.

Namun, Gil sudah terlanjur terperosok ke dalam dunia bangsawan dalam arti yang buruk.

Sangat tidak mungkin bagi Gil untuk bersumpah setia kepada Kai Heineman yang hanya berasal dari keluarga bangsawan kehormatan. Apakah Kai telah menanamkan doktrin yang sangat kuat kepadanya?

"Saat ini, apa yang Anda pikirkan, Yang Mulia, sepenuhnya keliru."

Seluruh tubuh Edward tersentak, seolah-olah isi kepalanya baru saja diintip oleh Perdana Menteri Johannes.

"Keliru? Bukankah Kai Heineman yang merencanakan semua ini?"

Arnold dari Royal Guard, Johannes ini, para petinggi Babel, hingga hampir semua orang di puncak dunia ini mengakui kekuatan Kai Heineman.

Jika itu Kai Heineman, dia memang sanggup melakukan hal gila seperti itu. Pertanyaannya, mengapa Kai Heineman harus membela Gil?

"Dia memang yang merencanakannya. Namun, Pangeran berhasil menyelesaikan cobaan tingkat tertinggi yang diberikan olehnya bersama dua pengikutnya dan bantuan dari berbagai pihak setempat. Itulah satu-satunya kebenaran tanpa kebohongan."

"Cobaan berat!? Lagipula, mana mungkin Gil bisa mengalahkan Procyon dan Dolce! Sesuatu yang mustahil dicapai itu tidak bisa disebut cobaan!"

"Yang Mulia telah membuat kesalahpahaman yang besar."

"Kesalahpahaman!?"

"Dalam cobaan berat kali ini, mengalahkan dua Raja Iblis seperti Procyon dan Dolce pada dasarnya bukanlah poin utamanya."

"Jangan bercanda! Mereka itu salah satu dari Empat Raja Iblis dan salah satu Tiga Jenderal Iblis yang menghancurkan pasukan reguler kita!"

"Lawan disesuaikan berdasarkan tingkat pertumbuhan Pangeran. Procyon dan Dolce hanya kebetulan menjadi lawan yang paling pas. Jika pertumbuhan Pangeran jauh lebih pesat, lawan yang jauh lebih kuat pasti sudah disiapkan untuknya."

"Procyon dan Dolce hanya sekadar batu lompatan untuk penderitaan Gil? ...Dia benar-benar sudah gila!"

Di dunia mana ada orang yang memanfaatkan Empat Raja Iblis sebagai alat untuk mendidik pangeran! Sekarang Edward mengerti dengan jelas.

Kai Heineman bukan sekadar masalah kuat atau lemah. Jalan pikirannya sendiri sudah melampaui batas manusia.

"Hasilnya, Pangeran tumbuh menjadi raja sejati, sementara Somni dan Tetre menganggapnya sebagai tuan yang patut dilayani seumur hidup! Dan dengan bantuan mereka berdua, Pangeran berhasil mengalahkan Raja Iblis Dolce!"

Johannes merentangkan kedua tangannya dan berteriak, mirip seorang penyair yang menyanyikan lagu pujian atas pahlawan. Johannes yang jarang memuji orang lain, kini menganggap Gil sebagai raja sejati.

Bahkan Edward sendiri baru diakui sebagai raja oleh Johannes belum lama ini. Sewaktu muda, Edward sangat cemas karena merasa tidak memiliki kapasitas sebagai raja.

Meskipun begitu, kali ini Johannes menyebut Gilbert sebagai raja sejati. Edward benar-benar tidak bisa mempercayai ucapan Johannes ini.

Lagipula, ungkapan Johannes barusan terasa agak aneh. Tidak, daripada itu—

"Aku tidak mengerti. Gil seorang raja sejati? Lagipula, Somni dan Tetre adalah orang-orang yang hampir dibunuh oleh Gil! Mana mungkin dia mengalahkan Procyon cuma dengan bantuan dua orang amatir! Lawannya bukan individu, melainkan Pasukan Raja Iblis!"

Hukuman setara hukuman mati diberikan kepada Gil karena dia melakukan percobaan pembunuhan terhadap bawahannya.

Kemarahan dan keputusasaan mereka sangat luar biasa. Sungguh tidak masuk akal jika mereka berdua mau menjadi bawahan Gil.

Terlebih lagi, mereka berdua masih terlalu amatir hingga belum pantas disebut ksatria. Bantuan dari mereka berdua tidak akan cukup untuk mengalahkan Procyon.

Yang terpenting, Gil dan kawan-kawan tidak memiliki pasukan untuk bertarung secara langsung melawan Pasukan Raja Iblis.

Satu-satunya orang yang sanggup meratakan seluruh pasukan sendirian hanyalah Pahlawan yang memiliki pemikiran terlampau ekstrem itu.

"Pangeran memiliki pasukannya sendiri."

"Apa kamu mau bilang ada bangsawan yang membantunya!? Bangsawan tingkat tinggi sudah meninggalkannya, sedangkan bangsawan tingkat rendah membencinya. Siapa yang mau meminjamkan kekuatan pada orang seperti dia!"

"Para monster dari North Ground. Sepertinya, para monster menganggap Pangeran sebagai raja tempat mereka mempercayakan takdirnya. Dan mereka menuntut pendirian negara Feista sebagai negara mereka."

"A-A-Apaaa!"

Kali ini keriuhan benar-benar pecah di seluruh ruang rapat. Tentu saja.

Siapa yang sanggup membayangkan berdirinya negara bagi para monster yang merupakan musuh umat manusia!

"L-Lalu apa yang terjadi pada kaum iblis Kabut yang kalah!?"

Salah seorang pejabat tinggi berteriak dengan suara serak,

"Perdana Menteri yang merupakan tangan kanan Procyon telah berdiskusi dengan pihak monster, dan Negara Kabut akan diintegrasikan ke dalam Feista. Ditambah lagi dengan tewasnya Dolce yang mengendalikan Negara Kegelapan, Negara Kegelapan juga akan bergabung dengan Feista."

Johannes menjawab dengan nada suara yang terdengar bersemangat.

"Tunggu sebentar! Negara Kegelapan juga bergabung dengan Feista!? Lalu bagaimana dengan Raja Iblis Kegelapan Ashmedia!?"

Jika Negara Kegelapan juga bergabung dengan Feista, secara praktis separuh dari wilayah Empat Raja Iblis akan berada di bawah naungan Feista.

"Raja Iblis Kegelapan Ashmedia mengundurkan diri untuk bertanggung jawab atas amukan Dolce, lalu menyerahkan takhta kepada Nail, satu-satunya penyintas Tiga Jenderal Iblis. Dan Nail telah menandatangani kesepakatan bergabungnya Negara Kegelapan ke Feista sebagai perwakilan."

Ini benar-benar kabar yang datang bagaikan petir di siang bolong. Jika hal seperti itu diizinkan—

"J-Jika itu benar, berarti akan lahir negara raksasa yang mencakup separuh kaum iblis!? Jika negara seperti itu diakui, seberapa besar kekuatan tempur yang mereka miliki!"

"Bukan cuma itu! Jika terwujud, potensi skala ekonominya saja akan menjadi luar biasa!"

"Jangan konyol! Kaum iblis masih mending, tapi mana mungkin monster bisa diajak berdagang!"

"Harap tenang."

Suara datar Johannes serta-merta menghentikan keributan itu.

"Tunduk pada faksi Rose berarti mereka diintegrasikan ke negara kita, begitu?"

"Yang Mulia, apakah Anda berpikir hal itu mungkin?"

"Tentu saja mustahil! Itu satu-satunya hal yang tidak akan pernah saya izinkan!"

Jika hal seperti itu sampai terjadi, keseimbangan dunia ini dipastikan akan kekacauan total.

Terlebih lagi, tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Pahlawan yang penuh ambisi itu beserta adiknya, Cnut.

Khususnya Pahlawan, dia pasti tidak akan pernah mengakui keberadaan negara monster. Dia dipastikan akan menuntut agar para monster diperlakukan sebagai budak.

Kai Heineman tidak akan membiarkan hal itu, dan Ashmedia pun walau sudah mengundurkan diri pasti akan melawan secara habis-habisan.

Sembilan dari sepuluh hal ini akan berujung pada perang. Perang yang jauh lebih besar daripada sebelumnya—

"Kalau begitu, kita tidak punya pilihan selain menguasainya sebagai negara suzerain. Yah, rajanya tetaplah Pangeran Gilbert. Meskipun aku sangat ragu Pangeran yang sekarang akan mengizinkan campur tangan negara kita."

"Apakah Gil yang sekarang benar-benar berusaha menjadi raja bagi para monster dan kaum iblis?"

"Silakan Yang Mulia pastikan sendiri hal itu."

Cara bicara Johannes mengandung makna tersirat. Itu adalah hal yang tidak ada artinya jika tidak dipastikan sendiri oleh Edward.

"Lalu bagaimana dengan Pemilihan Raja? Apakah Gil yang status hak suksesi takhtanya ditangguhkan akan didiskualifikasi?"

"Pangeran Gilbert kali ini telah kehilangan haknya untuk bertarung dalam Pemilihan Raja."

"Yah, wajar saja. Dia mau jadi raja para monster dan kaum iblis. Dia sendiri pasti tak berminat lagi, jadi anggap saja dia mengundurkan diri secara sukarela."

Johannes memasang senyum licik dan berkata,

"Entahlah, bagaimana ya. Yang Mulia, bagaimana kalau Anda merenungkan kembali esensi dari permainan ini?"

Memberikan jawaban yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan, Johannes membungkuk hormat kepada Edward lalu melangkah keluar.

"Cepat kumpulkan informasi tentang Feista!"

Edward berteriak, dan para pejabat sipil pun mulai bergerak cepat.

◇◆◇

—Kawasan perumahan mewah di utara Babel.

"Ha? Negara monster dan kaum iblis, Feista? Kalau aku tidak salah dengar, apa kamu baru saja mengatakan itu?"

Hijiri, pria tampan dengan rambut merah bergaya undercut, memicingkan mata dan mengonfirmasi berita absurd ini kepada ksanatria berzirah putih.

"Benar. Sepertinya negara monster beserta dua negara kaum iblis, Kegelapan dan Kabut, telah bersatu mendirikan Negara Majelis Feista."

"Ha? Ha? Hah? Tunggu sebentar, apa maksudnya itu!? Bagaimana dengan para Raja Iblis Kabut dan Kegelapan!?"

Gadis cantik berambut hitam yang jarang panik, Pahlawan Mashiro, berteriak kaget. Itu sangat wajar. Jika berita ini benar, berarti Negara Kegelapan yang saat ini masih berperang dengan Kerajaan Amelia secara praktis telah lenyap.

"Raja Iblis Kabut Procyon tewas dalam perang melawan monster. Setelah perang berakhir, Raja Iblis Kegelapan Ashmedia mengundurkan diri dan menyerahkan takhta kepada Nail, salah satu dari Tiga Jenderal Iblis... Dengan kata lain..."

Melihat ksatria berzirah putih ragu-ragu,

"Maksudmu... wilayah dua Raja Iblis, Negara Kegelapan dan Negara Kabut, sama-sama lenyap dari dunia ini?"

Mendengar perkataan Pahlawan Mashiro, suasana ruangan langsung berubah menjadi riuh.

"Akan halnya Ashmedia yang mundur sendiri itu wajar, tapi Raja Iblis Kabut Procyon kalah oleh sekadar monster?"

Melihat ekspresi Hijiri yang sangat berbeda dari sikap bercandanya yang biasa, ksatria berzirah putih itu menelan ludah dengan susah payah.

"Hal itu dipastikan benar."

Ksatria itu mengangguk tegas mengonfirmasi.

"Bagaimana informasi tentang monster yang mengalahkan Raja Iblis Procyon?"

"Itu... informasinya agak simpang siur..."

Melihat ksatria berzirah putih terbata-bata,

"Apa maksudnya simpang siur! Yang jelas, dong!"

Penyihir Agung Satoru yang kesal menepuk sandaran tangan kursinya lalu mencondongkan tubuh sambil berteriak.

"Ada desas-desus bahwa Putri Rose yang mendukung para monster, atau Pangeran Gilbert memimpin para monster dan prajurit pemula untuk mengalahkan Procyon, atau si tak berguna itu mengendalikan semuanya dari balik layar... Semuanya omong kosong yang tidak layak dipercaya."

Ksatria itu menyampaikan desas-desus tanpa kepastian tersebut dengan ragu.

"Gil tidak mungkin memimpin monster mengalahkan salah satu dari Empat Raja Iblis. Ini jelas informasi hoaks. Tapi kenapa nama Putri Rose dan Kai Heineman muncul di saat seperti ini?"

Hijiri bersandar di kursinya, menyilangkan kedua tangan di belakang leher sambil bergumam menatap langit-langit. Wajah bercandanya lenyap, berganti dengan ekspresi serius yang tidak biasa.

"Kenapa dipikirkan sedalam itu? Gil tidak mungkin bisa memimpin monster, dan kenyataan bahwa si tak berguna itu dibilang dalangnya saja sudah membuktikan ini cuma hoaks!"

Satoru berteriak seolah mengejek, dan orang-orang di ruangan itu pun ikut membenarkan bahwa informasi tersebut palsu. Di tengah keriuhan itu,

"Bagaimana menurutmu, Mashiro?"

Hijiri meminta pendapat Pahlawan Mashiro.

"Aku pun yakin Gil tidak akan pernah bisa mengalahkan Raja Iblis Procyon, dan Rose yang kemampuannya cuma sedikit di atas murid sekolah juga tidak mungkin sanggup. Tentu saja si tak berguna yang lebih lemah dari Geralt juga tak mungkin membunuh Procyon. Jadi seperti kata Satoru, ini cuma hoaks."

"Yah, memang begitu..."

Hijiri mengangguk walau raut wajahnya tetap terlihat rumit.

"Yang membingungkanku, kenapa hoaks ini sengaja disampaikan kepada kita? Hijiri, apa kamu tidak merasa aneh?"

"Tepat sekali. Aku juga dari tadi memikirkan hal itu. Dari mana sumber asli informasi itu?"

Nada suara Hijiri yang penuh penekanan membuat ksatria berzirah putih menelan ludah.

"D-Dari Perdana Menteri Johannes."

Ksatria itu menjawab dengan gugup.

"Haa!?"

Kali ini ruangan itu benar-benar ricuh bagaikan sarang lebah yang diganggu.

"Apa maksudnya? Gil tak mungkin mengalahkan Procyon, dan prajurit pemula tidak akan berguna melawan Raja Iblis. Lalu kenapa monster itu sengaja menyebarkan kebohongan sebesar ini?"

Melihat Mashiro yang sedang berpikir keras,

"Pasti karena Raja ingin mengembalikan putranya ke Pemilihan Raja karena terlalu sayang anak!"

Satoru menyuarakan prasangkanya dengan keras.

"Tidak, Raja bukan tipe seperti itu. Apalagi Perdana Menteri tidak mungkin mengizinkan perasaan pribadi."

Mashiro menegaskan hal itu.

"Lalu apa maksudnya!? Jangan bilang kalian percaya omong kosong kalau Gil mengalahkan Raja Iblis!?"

"Tentu saja tidak percaya. Tapi Perdana Menteri bergerak. Pasti ada artinya."

"Lalu apa artinya!?"

"Aku belum tahu. Tapi yang pasti ini akan sangat memengaruhi arah Pemilihan Raja ke depannya."

Mendengar ramalan Mashiro,

"Lalu? Mashiro, apa kamu berniat mengakui apa yang dinamakan negara monster itu?"

"Jangan tanyakan hal yang sudah jelas begitu."

Sekilas pancaran emosi gila terpancar dari wajah Mashiro. Melihat hal itu, Hijiri memejamkan matanya.

"Sudah kuduga."

Hijiri bergumam dengan nada kesepian.

"Hijiri, segera hubungi Gereja Pusat. Aku yang akan bernegosiasi langsung."

"Paham. Bagaimana dengan Gil? Sebagai seorang rasis, rasanya tak disangka, tapi ada kemungkinan Gil memihak monster."

"Jika Gil memihak monster..."

Mashiro menggantungkan kalimatnya. Satoru yang memahami maksud tersirat itu secara jelas,

"Dasar bodoh! Gil tak mungkin membela monster! Aku akan menanyakan niatnya langsung! Jadi tunggu sampai saat itu!"

Satoru berteriak dengan wajah pucat lalu berlari keluar.

"Satoru pasti tidak tahu di mana Gil berada sekarang. Dia benar-benar panik."

Hijiri memandangi pintu yang dilewati Satoru dengan senyuman hangat.

"Apakah Satoru sedekat itu dengan Gil?"

Mendengar pertanyaan Mashiro, Hijiri menggidikkan bahunya.

"Kamu tidak menyadarinya, ya. Makanya kamu... ah, tidak usah dibahas. Kalau begitu, aku pergi dulu."

Hijiri mengangkat tangan kanannya dengan ekspresi pasrah, lalu melangkah keluar tanpa berbalik sedikit pun.

"Siapa pun yang memihak monster dan kaum iblis, akan kupastikan dibantai habis."

Mashiro bergumam pelan lalu menghabiskan teh merah di atas meja.

"Perdana Menteri meminta saya menyerahkan surat ini kepada Nona Mashiro."

Ksatria berzirah putih secara hormat menyerahkan gulungan kertas perkamen kepada Mashiro.

"Hm?"

Mashiro menerimanya, membuka segel, lalu membaca isi gulungan tersebut.

"Eh!?"

Suara keheranan terlepas dari mulut Mashiro, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada dirinya yang selalu tenang.

◇◆◇

Di tengah padang tandus yang amat luas, seorang pria tampan berambut putih klimis bernama Ark terbaring telentang.

Tubuh Ark secara harfiah hancur lebam, anggota badannya tertekuk, dan bagian tubuhnya robek di mana-mana.

"Sudah puas?"

Bertarung sehabis-habisan dan tetap bertahan sekuat ini... mungkin orang seperti ini baru kitemui lagi sejak Asura.

"Seperti dugaan, kamu benar-benar kuat..."

"Bukan. Kamu saja yang terlalu lemah."

"Sialan, sebelum menjadi bawahanmu, aku tidak pernah dikatai begitu. Belakangan ini pandanganku berubah 180 derajat."

"Bukankah bagus kamu jadi bisa melihat dunia luar?"

"Benar sekali. Jauh lebih baik daripada kebosanan."

Ark bergumam penuh penghayatan.

Ark sempat dipaksa menyatu dengan Ciro Bear oleh makhluk bodoh bernama Typhon hingga berubah menjadi monster berkepala sembilan, namun kemampuan Ash mengembalikannya ke wujud semula.

Pada saat yang sama, kutukan Typhon berhasil dihilangkan dan dia menjadi sosok yang bebas.

Setelah memberitahu Ark tentang kematian ayahnya, Typhon, serta kehancuran pasukan jahat itu, aku berniat membebaskannya agar dia bisa hidup bebas.

Namun dia memohon untuk bertarung denganku, jadi aku menghajarnya habis-habisan. Sejak saat itu, dia berkali-kali menantangku bertarung, dan aku selalu melayaninya.

"Lalu, apakah kamu akur dengan para Ciro Bear?"

"Ya, rasanya lumayan nyaman."

Keinginan awal Ark adalah melayaniku secara langsung. Tentu saja dengan tujuan mencari celah untuk mendaratkan satu pukulan padaku.

Namun, karena mendapat penolakan keras dari kawan-kawan ceria dari Buku Penaklukan Monster, dia akhirnya dimasukkan ke dalam Pasukan Ciro Bear sebagai pilihan kedua dengan syarat bertarung denganku seminggu sekali.

Pasukan Ciro Bear pada dasarnya adalah pengawal pribadi Ash. Ark sendiri merasa berutang budi pada Ash karena telah dibebaskan dari Typhon.

Para Ciro Bear pun menerima Ark yang menghormati Ash dengan tangan terbuka. Sebagai pihak ketiga, aku melihat hubungan mereka terjalin dengan cukup baik.

"Baguslah kalau begitu. Kalau begitu, aku pergi dulu."

Saat aku membalikkan badan hendak bertranspor kembali ke rumah di Liberty Town,

"Hei!"

Ark memanggilku.

"Hm? Ada apa?"

Aku menoleh lewat pundakku.

"Apakah kamu tidak merasa kesepian?"

Dia menanyakan hal yang begitu mendadak.

"Kesepian? Aku?"

"Ya, benar. Apakah kamu tidak merasa hampa dalam kesendirian?"

"Kesendirian, ya... Entahlah..."

Aku memiliki Faf. Ada juga kawan-kawan ceria dari Buku Penaklukan Monster, dan aku menjalani hari-hari yang sibuk namun menyenangkan.

Mana mungkin aku merasa kesepian. Seharusnya begitu, namun aku tidak bisa membantah pertanyaan Ark ini secara tegas.

"..."

Ark menatapku dalam diam sejenak,

"Aku akan menjadi lebih kuat. Lalu, aku pasti akan bertarung secara setara denganmu!"

Dia mengikrarkannya sambil memperlihatkan gigi taringnya.

"Ya, kuharap begitu."

Setelah membalas ucapannya, aku pun bertranspor kembali ke rumah.

◇◆◇

—Alam Dewa, Istana Ares, Ruang Rapat.

"Apakah komunikasi dari Ramiel benar-benar terputus?"

Ares kembali bertanya kepada bawahan tuanya, Silket.

"Benar. Sudah cukup lama sejak komunikasi terputus. Kita harus berasumsi Ramiel telah ditangkap oleh musuh."

Silket menjawab dengan pahit sembari berlutut.

Memang benar, Ramiel yang biasanya sangat disiplin sama sekali tidak mengirimkan kabar. Dilihat dari sudut pandang mana pun, sudah dipastikan bahwa misi kali ini telah gagal total.

Meskipun begitu—

"Apakah kita tidak bisa menghubungi Ramiel dari pihak kita?"

Ares bertanya pada Silket dengan nada memohon, tak sanggup menerima kenyataan kejam ini.

Jika Ramiel bisa kembali dengan selamat, situasi ini masih bisa diperbaiki.

"Kami sudah mencobanya, tapi..."

Silket menghentikan kata-katanya. Wajahnya yang biasa dingin kini dipenuhi ekspresi penderitaan. Melihat sikapnya itu, kesimpulan sudah sangat jelas. Oleh karena itu—

"Aku... telah gagal, ya?"

Kalimat kekalahan itu akhirnya terucap.

"Sangat disayangkan, tapi itu sudah pasti. Dari Ramiel yang tertangkap, informasi kita pasti sudah dibocorkan secara terperinci kepada para pengacau itu. Situasi ini sudah di luar kendali kita."

Perkataan Silket memang benar. Masalah ini melibatkan campur tangan Pasukan Surgawi, dan musuh sangatlah kuat.

Terlebih lagi, faktor paling penting berupa informasi telah jatuh ke tangan musuh melalui Ramiel. Jika kita berdiam diri, situasi terburuk bisa saja terjadi.

"Apakah menurutmu Ramiel tidak akan selamat?"

"Para pengacau itu adalah kejahatan yang sanggup memusnahkan Enam Dewa Tartaros. Terlebih lagi, sosok yang menangkapnya diperkirakan adalah salah satu dari Enam Jenderal Baru Pasukan Jahat. Dibunuh dengan tenang saja sudah merupakan keberuntungan baginya, tapi harapan itu sangat tipis. Kemungkinan besar dia sedang mengalami situasi yang sangat mengerikan."

Silket menyampaikan kenyataan pahit itu.

"Begitu... ya."

Ini benar-benar kecerobohan Ares. Kesombongannyalah yang memicu situasi ini.

Meskipun terus meyakinkan diri bahwa ini demi Lemuria, jauh di dalam hatinya, Ares hanya ingin membuktikan kepada kakek dan ayahnya bahwa sebagai Dewa Pengelola Lemuria, dia sanggup menyelesaikan masalah ini.

Akibat perasaan egois dan menjijikkan itu, dia memerintahkan bawahan berharganya untuk menyelidiki Lemuria, hingga akhirnya berujung pada bencana sekunder.

Musuh yang mereka hadapi adalah monster sangat berbahaya yang bahkan mempermainkan Tartaros, salah satu dari Enam Dewa Langit.

Sejak awal, sosok seperti Ares seharusnya tidak ikut campur.

Namun, hukuman atas kebodohan Ares tidak ditanggung oleh dirinya sendiri, melainkan dibayar dengan nyawa bawahannya. Hal itu sudah sewajarnya, dan sejak awal sudah sangat jelas.

(Aku benar-benar merasa jijik dengan betapa liciknya diriku...)

Setinggi apa pun dia membela diri, situasi saat ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.

Sudah menjadi kebenaran yang nyata bahwa kasus ini adalah masalah yang tak boleh disentuh oleh dewa mentah seperti Ares.

Kalau begitu, haruskah dia melapor kepada Pasukan Langit?

(Mana mungkin aku bisa melakukan hal seperti itu!)

Seorang malaikat telah hilang. Jika dia memberi tahu Pasukan Langit sekarang, sang kakek pasti akan melancarkan All-out Attack Blitz, tanpa peduli pada Ramiel yang sedang ditawan.

Jika itu terjadi, seluruh kekuatan Pasukan Langit akan memusnahkan Lemuria beserta Ramiel.

Jika memburuk, wilayah itu bahkan bisa berubah menjadi dunia mati yang tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup mana pun selama ribuan tahun ke depan.

Hal seperti itu sama sekali tidak bisa diterima oleh Ares.

(Kalau tahu akan begini, seharusnya sejak awal aku sudah memantapkan hatiku...)

Memandangi dunia indah yang dikelolanya hancur dari tempat yang aman. Dia telah bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah melakukan atau membiarkan hal itu terjadi.

Namun, itu hanyalah kesombongan yang besar. Untuk melindungi hal yang berharga, dibutuhkan kekuatan dan keyakinan.

Ares telah lama mengabaikan usaha untuk mendapatkan semua itu. Setidaknya untuk saat ini, Ares tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memandu penyelesaian masalah ini.

(Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang...)

Meski bergumam pelan seperti itu, pilihan yang tersisa bagi Ares sudah sangat terbatas. Dengan kata lain, tetap diam di Istana Ares dan melupakan semuanya, atau mempertaruhkan segalanya dalam judi hidup dan mati.

Pilihan pertama akan mengorbankan Ramiel dan Lemuria yang dicintai Ares. Namun, kejahatan akan musnah dan Ares bisa kembali ke kehidupannya yang tenang seperti biasa.

Dia pasti akan diberikan dunia kelolaan baru dari Dunia Atas.

Sebaliknya, pilihan kedua pada dasarnya adalah sebuah perjudian. Jika dia mengaktifkan formula sihirnya, akan tercipta kemungkinan untuk menyelamatkan Ramiel dan sedikit memperpanjang napas Lemuria, dunia yang dikelolanya.

Sebagai gantinya, yang akan hilang adalah seluruh sisa masa depan kehidupan Ares. Kesempatan bagi Ares untuk tersenyum sekali lagi akan sirna untuk selamanya.

(Kuh! Hal semacam itu sudah jelas pilihannya!)

Dadu telah dilemparkan. Tidak lain oleh tangan Ares sendiri.

Jika dia membiarkan bawahan dan dunia kelolaannya mati di sini, Ares pasti akan menyesal seumur hidup. Hidup yang hanya diisi oleh ratapan. Lebih baik mati daripada harus menjalani hidup seperti itu.

(Akan kulakukan! Aku benar-benar akan melakukannya!)

Ini adalah pertarungan untuk melindungi kebanggaan terakhirnya sebagai Dewa Utama Lemuria. Musuhnya adalah monster yang mempermainkan Lord Tartaros.

Tidak ada alasan bagi sosok mentah seperti Ares untuk bisa menang. Meski begitu, jika mengaktifkan formula sihir ini, dia bisa menghindari dirinya menjadi pengecut sejati.

"Silket, tolong siapkan hal yang waktu itu."

"Tuan Ares, apakah itu—"

"Silket, aku sudah memutuskannya."

Silket menggigit bibir bawahnya dengan raut menyesal, namun...

"Baiklah, saya mengerti."

Setelah membungkuk hormat, dia bergegas keluar dari ruangan.

Saat ini, di lantai kamar pribadi Ares, sebuah lingkaran sihir tiga dimensi telah terkonstruksi.

Lingkaran sihir ini adalah kartu AS Ares untuk melindungi Ramiel, yang disematkan padanya dengan dalih sebuah perlindungan.

Jika formula sihir ini diaktifkan, jiwa Ramiel dan jiwa Ares akan bertukar. Jika itu terjadi, jiwa Ramiel akan kembali ke tubuh ini dan dia akan terselamatkan.

Pada saat yang sama, Silket yang mengetahui situasinya akan memintai keterangan dari Ramiel yang berada di dalam tubuh Ares, lalu melaporkannya ke Pasukan Langit.

Dengan begitu, selama Dewa Pengelola Ares berada di sana, Pasukan Langit tidak akan bisa sembarangan melancarkan All-out Attack Blitz ke Lemuria. Ini benar-benar langkah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui bagi Ares saat ini.

"Apakah Anda tidak ingin memikirkannya kembali?"

Silket kembali mendesaknya untuk mengubah pikiran dengan nada yang penuh dengan celaan untuk kesekian kalinya.

Rencana ini telah dirancang sebelumnya sebagai antisipasi jika rencana utama gagal. Tentu saja, sejak awal Silket menentang keras rencana ini. Ares baru bisa meyakinkannya beberapa hari yang lalu.

"Tidak bisa. Karena inilah langkah terbaik yang bisa kulakukan saat ini."

Silket memejamkan matanya dengan ekspresi tersiksa.

"Saya mengerti."

Dia mengangguk dalam-dalam dengan raut wajah serius, lalu mulai merapalkan mantra yang panjang.

Pada saat yang sama, Ares juga mengonstruksi formula Soul Change.

Pengaktifan formula ini pada dasarnya bisa dilakukan oleh Ares seorang diri, tetapi untuk mendekatkan tingkat keberhasilannya hingga seratus persen, dibutuhkan penguatan sihir dari orang lain.

Mantra Silket telah selesai dirapalkan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Ares, dan Ares mengangguk mantap.

"Access."

Ares mengucapkan kata kunci terakhir. Lingkaran sihir tiga dimensi berwarna biru menyelimuti Ares.

Huruf-huruf rune yang membentuk lingkaran sihir itu berputar sembari mengubah bentuknya perlahan-lahan.

Pada saat itu, huruf-huruf rune terkelupas dari lingkaran sihir yang menyelimuti Ares dan terbang menuju ke arah Silket.

"Ngu?! I-Ini?!"

Silket memekik terkejut, bersamaan dengan huruf-huruf rune yang dengan cepat berlipat ganda, berubah menjadi merah pekat sewarna darah, dan menutupi seluruh tubuhnya.

"Guh! Apakah ini juga serangan dari musuh?!"

Rune berwarna merah darah itu mengikat Ares dengan sangat erat, lalu menembus dan menggerogoti kulitnya.

"Giyaaaaー!!"

Rasa sakit luar biasa yang tak tertahankan, seolah saraf-sarafnya disayat secara langsung, menjalar ke seluruh tubuhnya hingga membuatnya menjerit histeris.

Dalam sekejap, kesadaran Ares terputus begitu saja.

◇◆◇

Beberapa hari setelah penandatanganan pendirian negara Feista oleh tiga negara—Negara Monster, Negara Kegelapan, dan Negara Kabut—aku sedang menunggu di salah satu ruangan kediaman Rose yang terletak di area pemukiman murid umum Babel, untuk menerima laporan pelaksanaan rencana dari Asta.

Asta dan Deimos membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Apakah rencana berjalan sesuai prosedur?"

Aku bertanya mengenai perkembangan rencana kali ini.

"Karena sudah ada formula sihir yang teranyam pada persembahan malang bernama Ramiel itu, tidak ada alasan untuk gagal, nyo."

Asta menjawab seolah-olah itu adalah hal yang wajar.

"Tidak, tidak, Guru! Apa yang Anda katakan! Memanggil Ares ke tanah ini saja sudah luar biasa, tetapi memaksa tubuh dan jiwanya untuk diubah secara paksa adalah sebuah karya keajaiban! Keberhasilan ini hanya mungkin terjadi karena itu adalah Anda, Guru!"

Deimos membantah hal tersebut dengan semangat yang menggebu-gebu.

Mengenai bimbingan sihir untuk Somni dan Tetre, saat aku berpikir untuk memberikan hadiah kepada Deimos, dia memohon dengan sangat kuat untuk menjadi murid sihir Asta.

Tampaknya, setelah melihat pertarungan Asta sekali saja, dia merasa terkesima oleh aktivasi sihir Asta yang sangat mengalir lancar.

Ketika aku meminta Asta untuk menerima Deimos sebagai murid, awalnya dia enggan, tetapi akhirnya dia menerimanya juga. Ternyata dia cukup pengasuh yang baik, dan memberikan petunjuk sihir dengan sangat teliti.

"Jangan memuji hal sepele seperti ini dengan suara keras di depan Master, nanti membuatku malu saja, nyo. Bagi Master, perbuatan tingkat ini tidak ada bedanya dengan permainan anak kecil, nyo."

Mungkin itu adalah perasaannya yang sebenarnya. Asta menegur pujian dari Deimos dengan raut wajah yang tampak sangat tidak menyenangkan.

"M-Mohon maafkan saya!"

Deimos dengan tergesa-gesa menundukkan kepala kepada Asta dan diriku.

"Tidak, aku pun tidak akan sanggup memanggil makhluk dari dunia lain dan mengubahnya. Pengamatan Deimos sangat tepat, terima saja pujian itu dengan jujur."

Hasil dari menyuruh Satori membaca pikiran Nona Ramiel menunjukkan bahwa atasan wanita itu adalah makhluk dari dunia lain yang sangat tidak tahu diri dan mengaku sebagai dewa.

Apalagi, seperti halnya Dewa Perang Suci, dia tampaknya bernama Ares. Karena dia terobsesi dengan delusi untuk mengelola dunia Lemuria ini sebagai dewa, mungkinkah dia adalah makhluk dunia lain yang bisa mengakses dunia ini?

Akses ke dunia ini dari dunia lain benar-benar merupakan campur tangan terhadap dunia lain. Hal yang secara alami sangat layak disebut sebagai keajaiban.

Perkembangan sihir di dunia Ramiel dan yang lainnya pasti berada pada tingkat yang cukup tinggi.

Jika demikian, keberadaan tingkat tinggi yang mampu menjalankan dominasi atas dunia ini memang setara dengan dewa bagi penghuni dunia ini.

Boleh dikatakan, ini seperti mengajarkan api kepada peradaban yang belum matang, dan nama Dewa Perang Suci mungkin tidak terlalu melenceng dari sasaran.

"Dengan betapa tidak masuk akalnya Master, jika Master mau, Master pasti bisa melakukannya dengan cara yang bahkan tidak terbayangkan olehku, nyo."

Asta cenderung menganggapku sebagai makhluk ajaib yang bisa melakukan apa saja, padahal aku hanyalah seorang pemenang pedang.

Ada hal yang bisa kulakukan dan ada yang tidak. Tindakan semacam ini jelas termasuk dalam fenomena yang tidak bisa kulakukan.

Sekalipun aku membantahnya, seperti biasa dia tidak akan pernah mengubah pendapatnya. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini.

"Tapi tetap saja, aku benar-benar tidak menyangka dia akan mengorbankan dirinya sendiri..."

Wanita bernama Ares itu tampaknya adalah rekan dari si bodoh Tartaros yang mengincar nyawa Lumine.

Bagaimanapun, Ares adalah kawan dari orang-orang yang mencoba menyakiti Laila dan Lumine. Aku tidak akan memberikan ampunan sedikit pun kepada siapa pun yang memusuhiku.

Karena itulah, awalnya aku berpikir untuk memusnahkan mereka sampai ke akar-akarnya.

Namun, jika ingatan Ramiel benar, wanita bernama Ares ini sangat menentang keterlibatan faksi Tartaros dengan Lemuria. Dari kepribadiannya pun, dia bukanlah orang yang akan membiarkan pembunuhan Lumine.

Terlebih lagi, wanita ini tampaknya sangat menyayangi bawahannya, hingga menerapkan formula sihir pertukaran jiwa dengan Ramiel yang mengorbankan dirinya sendiri.

"Karena dia adalah cucu dari Deus itu, gertakan Berze seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan betapa mengerikannya Master, nyo. Jika dia memiliki tekad untuk mengorbankan diri, seharusnya sejak awal dia tidak perlu memicu pertengkaran dengan Master yang merupakan perwujudan kejahatan, nyo."

Seperti biasa, dia berbicara sesuka hatinya. Perwujudan kejahatan itu sungguh terlalu berlebihan.

"Memang dia sangat bodoh hingga tidak ada obatnya, dan sangat tidak layak menjadi seorang jenderal. Tapi, aku tidak benci orang bodoh seperti itu."

"Apakah Anda benar-benar berniat menyuruh si Ares itu menghadiri akademi di kota para kera, nyo?"

"Begitulah. Meskipun masih mentah, dia sudah menggangguku secara terang-terangan. Aku akan melayaninya bermain sampai akhir."

"Ares adalah cucu dari Deus, sosok terkuat di Pasukan Langit. Kejadian kali ini akan membuat kita pecah kongsi secara definitif dengan Pasukan Langit, apakah Master tidak keberatan dengan hal itu, nyo?"

Asta menegaskan hal itu dengan raut wajah yang serius. Astaga, Pasukan Jahat dan Pasukan Langit, ya. Sungguh mengagumkan jika delusi bisa berkembang sejauh itu.

"Sama sekali tidak masalah. Wanita bernama Ares itu sepertinya adalah sosok pemikir di Gereja Pusat. Jika ingin mengendalikan suatu organisasi, kita harus memulainya dari kepalanya terlebih dahulu."

"Lagipula, Pasukan Langit itu mengendap-endap di sekitarku dan membahayakan Laila serta Lumine. Mereka seharusnya bersyukur karena aku tidak langsung memusnahkan mereka. Jika mereka menantangku secara terang-terangan karena masalah Ares ini, aku hanya perlu menghancurkan Pasukan Langit itu hingga menjadi debu."

Menurut informasi dari Muzina, si informan yang tinggal di ibu kota Kerajaan Amelia, di Gereja Pusat terdapat orang-orang merepotkan yang telah berhenti menjadi manusia yang disebut Uskup Agung, dan objek iman mereka tampaknya adalah Ares.

Jika demikian, memanfaatkan Ares ini untuk menekan Gereja Pusat adalah penanganan yang paling minim gesekan.

Yah, itu hanyalah alasan formalitas, dan alasan sebenarnya adalah aku hanya merasa sedikit tertarik pada wanita bodoh bernama Ares ini.

"Menganggap Pasukan Langit seperti hadiah bonus dari organisasi kera... Anda benar-benar sudah tidak waras, nyo."

Asta menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, benar-benar merasa heran dari dasar hatinya.

Aku berdeham keras, lalu beralih ke Chloe.

"Jadi, Nona Chloe, apakah pendaftaran Ares dan pelayannya ke Akademi Ouboro bisa disetujui?"

Aku bertanya secara singkat saat menghadap Chloe, sang Kepala Akademi Pusat Babel.

"Karena saya telah mengaturnya sesuai petunjuk Anda, Tuan Kai, Anda tidak perlu khawatir. Lalu..."

Chloe mengangguk mantap menjawab pertanyaanku, tetapi dia menahan kalimatnya.

"Ada apa? Apakah ada yang ingin kau katakan?"

"Apakah Ares itu... benar-benar Ares sang Dewa Perang Suci?"

Hmm. Bagaimana aku harus menjawabnya, ya?

Sekalipun aku menjelaskan tentang Ares, dia mungkin tidak akan memahaminya secara akurat. Jadi—

"Jangan khawatir. Saat ini dia tidak memiliki kekuatan yang berarti. Benar begitu, Asta?"

Aku memutuskan untuk menyamarkannya secara asal.

"Dengan formula sihirku, aku telah mengubah keberadaannya hingga setingkat dengan murid biasa di sini, nyo."

Mendengar jawaban Asta yang acuh tak acuh seperti biasanya, Chloe yang menilai tidak ada kebohongan dalam perkataan kami menghela napas lega yang panjang, lalu dengan raut wajah lelah berkata:

"Tuan Kai, Anda benar-benar sosok yang sangat mengerikan."

Dia mengucapkan penilaian yang sangat buruk itu dari lubuk hatinya.

"Tentu saja, nyo. Tidak ada God of Terror lain yang semengerikan Master, nyo. Karena itu, jangan pernah melakukan tindakan bodoh seperti membuat Master marah, nyo."

Mendengar nasihat lancang dari Asta, wajah Chloe seketika pucat pasi.

"T-Tentu saja! Tidak ada orang bodoh di antara rekan-rekan saya yang akan menentang Anda!"

Dia mendeklarasikannya dengan raut wajah panik. Asta ini, malah bicara yang tidak-tidak!

Tapi, teguran Asta juga tidak sepenuhnya salah, sih.

Siapa pun yang pernah membuatku merasa sangat tidak menyenangkan, aku berniat memberi mereka hadiah berupa kehancuran yang luar biasa, tidak peduli siapa mereka.

"Kalau begitu baguslah. Sepertinya rencana berjalan lancar, terima kasih. Ke depannya mohon bantuannya dengan cara seperti ini lagi."

Aku mengucapkan kata-kata terima kasih kepada semua orang, lalu memajukan tubuhku.

"Kalau begitu, mari kita bahas rincian konkretnya."

Aku pun memulai pembicaraan.

◇◆◇

Di tengah sensasi unik seperti mengapung dari dasar air yang dalam, suara burung yang bising mulai terdengar. Ditambah dengan udara dingin yang merusuk kulit...

"Hatchi!"

Ares bersin sekali, lalu terbangun dan melihat ke sekeliling. Tempat itu tampak seperti sebuah kamar kayu yang sudah tua.

"Di mana ini?"

Ini adalah tempat yang baru pertama kali dia lihat.

(Mengapa dingin sekali...?)

Sambil mengusap kedua tangannya ke tubuh menghadapi rasa dingin yang baru pertama kali dirasakannya seumur hidup, dia bertanya pada diri sendiri.

Sebagai dewa tingkat tinggi yang memiliki keilahian, tubuh Ares memiliki ketahanan yang kuat terhadap kelainan status seperti panas dan dingin tertentu, dan pada dasarnya tidak dirancang untuk merasakan dingin.

Namun, rasa dingin tak tertahankan yang menyerang seluruh tubuhnya saat ini adalah?

Saat dia berdiri dengan tubuh yang terasa berat...

"Tuan Ares, apakah Anda sudah terbangun?!"

Seorang pria berambut hitam dengan gaya all-back dan kumis tipis berteriak sambil melompat masuk ke dalam ruangan.

"He? Eetto..."

Siapakah dia? Mengingat dia mengetahui nama Ares, Ares berpikir pria ini pastilah kenalannya.

"Anda... Tuan Ares, bukan?"

Pria tampan berpenampilan gagah dengan rambut hitam all-back itu bertanya dengan ragu-ragu.

"Benar, tapi siapa kamu?"

"Saya Silket!"

"Ha?"

Ares refleks mengeluarkan suara canggung. Tentu saja, karena pria itu sama sekali tidak terlihat seperti Silket.

Penampilannya jauh lebih muda, gaya rambutnya berbeda, dan dia tidak memiliki kumis seperti itu. Yang terpenting, pria di depannya tampak tidak berbeda dari manusia suku manusia di dunia Lemuria yang dikelola Ares.

Namun di sisi lain, gerak-gerik cara bicaranya dan sikapnya terhadap Ares benar-benar mirip dengan Silket—

"Apakah kamu... benar-benar Silket?"

Ares sedang mengonfirmasi kenyataan yang sangat sulit dipercaya.

"Ya, sepertinya kita terlibat dalam masalah yang cukup rumit."

Silket mulai menceritakan kisah yang sangat sulit dipercaya.

Kisah Silket secara normal seharusnya menjadi hal yang patut ditertawakan dan diabaikan.

Tempat ini adalah Kota Akademi Netral Babel yang diperintah oleh manusia di Lemuria.

Ares dan Silket kini masing-masing menjadi Ariel dan Sikke, sepasang kakak beradik manusia yang merupakan murid yang bersekolah di Akademi Ouboro.

Memang benar, dari tubuh ini sama sekali tidak terasa adanya kekuatan dewa. Tidak bisa dikatakan mustahil bahwa Ares dan Silket telah dimasukkan ke dalam wadah manusia.

"Setidaknya penampilanku tidak banyak berubah, itu adalah satu-satunya hiburan..."

Sambil memandangi dirinya di cermin rias, Ares bergumam sendirian.

Pada cermin yang tersandar itu, berdiri seorang gadis berambut emas bergelombang dengan kulit putih bersih. Ini adalah Ares.

Penampilan, jenis kelamin, hingga hiasan rambutnya adalah Ares itu sendiri. Satu-satunya perbedaan adalah rambut perak keputihannya telah berubah menjadi warna emas.

"Silket, bagaimana dengan wujudmu itu?"

"Warna rambutnya berbeda, tapi ini adalah wujud saya saat masih muda."

"Kalau begitu, apakah wujud ini terjadi karena formula sihir yang lepas kendali sehingga jiwa kita masuk ke dalam tubuh manusia?"

Hal ini memang jarang terjadi. Namun, karena ini adalah formula sihir yang sangat rumit, efek samping seperti ini mungkin saja terjadi.

"Meskipun agak aneh bahwa wujud kita sangat mirip dengan wujud asli kita, mengingat keberadaan bernama Ariel dan Sikke memang benar-benar ada di Babel ini, kita harus berpikir demikian."

"Bagaimana dengan komunikasi ke Dunia Atas?"

Silket menggelengkan kepalanya lebar-lebar ke kiri dan ke kanan.

"Saya sudah mencoba menghubungi Istana Ares, tetapi tidak bisa. Kita harus menganggap bahwa komunikasi dengan Dunia Atas tidak memungkinkan."

"Apakah ini dampak dari menjadi manusia?"

"Ya, sebagian besar kekuatan saya telah lenyap. Ini bukan sekadar jiwa yang dikurung dalam wadah manusia..."

Melihat Silket yang ragu-ragu berbicara, rasa dingin perlahan menjalar di tulang belakang Ares.

"Maksudmu keberadaan kita, termasuk jiwa kita, telah menjadi manusia?"

Ini adalah hal yang terus dirasakannya sejak terbangun. Ketidakbebasan tubuh yang terasa seperti memikul beban berat ini, ditambah dengan kekuatan dewa yang sama sekali tidak terasa dari dirinya.

Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya.

Jika hanya dikurung dalam tubuh manusia, jiwanya akan tetap menjadi dewa, dan setidaknya dia seharusnya bisa menghubungi Istana Ares. Selain itu, dia setidaknya bisa menggunakan sedikit kekuatan dewa yang berasal dari jiwa.

Satu-satunya jawaban untuk menjelaskan fenomena ini adalah bahwa jiwanya telah menyatu dengan jiwa tubuh ini dan menjadi manusia sejati.

Namun, jika demikian, ada hal yang tidak dapat dijelaskan.

"Jika begitu, mengapa orang-orang di sekitar Babel ini menerima kita tanpa merasa aneh?"

Penyatuan jiwa sedikit banyak pasti memengaruhi penampilan luar. Bukti nyatanya adalah penampilan luar Ares dan Silket yang menjadi sangat mirip dengan wujud asli mereka.

Artinya, akibat penyatuan jiwa, tubuh mereka berubah menjadi penampilan asli Ares dan Silket. Namun, orang-orang di sekitar tampaknya berinteraksi secara alami dengan Silket sebagai seorang pemuda bernama Sikke.

Itu berarti lingkungan sekitar telah beradaptasi dengan perubahan penampilan akibat penyatuan jiwa.

"Itulah masalahnya! Itulah yang tidak saya pahami! Namun, jika harus menjelaskan fenomena ini tanpa kontradiksi, tidak ada cara lain selain berpikir bahwa peristiwa penyatuan tubuh dan jiwa ini sedikit banyak telah memengaruhi fenomena dunia itu sendiri."

"Memengaruhi fenomena dunia itu sendiri?! Mustahil! Maksudmu keajaiban luar biasa seperti pengubahan fenomena dunia terjadi secara kebetulan?!"

Pengubahan fenomena adalah salah satu keajaiban yang bahkan dianggap mustahil bagi dewa.

Bahwa hal itu terjadi secara kebetulan akibat lepas kendalinya sihir Ares adalah lelucon yang sangat buruk.

"Hanya itu satu-satunya cara untuk menjelaskan fenomena tidak masuk akal ini."

Silket mengangguk mantap membenarkan dengan raut wajah serius.

(Aku harus tenang!)

Tidak ada gunanya panik di sini. Ini adalah penilaian dari Silket yang cerdik. Dia harus menganggap bahwa hal ini memiliki tingkat kredibilitas tertentu.

"Silket, menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Saat ini kita adalah manusia sempurna, baik secara fisik maupun jiwa. Seharusnya kita segera menghubungi Dunia Atas, tetapi hal itu mungkin tidak akan terwujud."

Bahkan tanpa itu pun, akibat perintah Lord Deus untuk tidak terlibat sama sekali dengan Lemuria, formula sihir jamming berskala besar sedang aktif.

Tanpa kode akses yang terukir pada jiwa Ares dan yang lainnya, komunikasi boleh dikatakan mustahil. Silket telah mencoba kode akses tersebut dan mengonfirmasi bahwa itu tidak lagi bisa digunakan.

"Aku juga berpikir begitu. Sebenarnya aku ingin segera mencari Ramiel, tapi..."

"Saat ini kita hanyalah manusia biasa. Jika tubuh ini mati, kemungkinan besar kita juga akan musnah. Saya tidak menyarankan hal itu. Untuk saat ini, sebaiknya kita mengumpulkan informasi tentang Ramiel sambil menjalani kehidupan kita saat ini."

"Begitu... ya..."

Mengapa semua yang dilakukannya selalu berakhir buruk?

Ketika mengirim bawahan untuk melindungi Lemuria, komunikasi terputus. Ketika mencoba menyelamatkan bawahan itu, sihirnya lepas kendali hingga kehilangan kekuatan dewa dan menjadi manusia biasa.

Ini benar-benar kesialan yang bertubi-tubi.

"Bagaimanapun juga, berdiam diri di sini tidak akan menyelesaikan apa pun. Mari kita makan. Dengan tubuh manusia ini, kita tidak akan bisa bergerak jika tidak mengonsumsi makanan."

"Apakah kita harus makan... Tubuh yang sangat tidak praktis, ya..."

Jika itu adalah tubuh dewa, mereka bisa bergerak tanpa perlu makan.

Meskipun dalam hati terus mengeluhkan takdir yang menyodorkan masalah-masalah rumit satu demi satu, Ares tetap menegakkan tubuhnya yang terasa berat.

◇◆◇

―Dunia Atas Elysion, Gedung Majelis Dewa Langit.

"Ares menghilang bersama pengawal pribadinya...?"

Dewa Agung terkuat, Deus, yang duduk di salah satu dari enam kursi di pusat ruangan, mengerang sambil memegang kepala dengan tangan kanannya.

Melihat wajah sang Dewa Agung yang tampak sangat lelah dan kehilangan rasa percaya diri serta kewibawaannya yang biasa, semua orang saling memandang dengan bingung.

"Waktunya terlalu pas. Sembilan puluh sembilan persen ini pasti ada hubungannya dengan dunia lain, Lemuria."

Indra, seorang pria tampan berkimono yang mengenakan kacamata hitam berbingkai bulat, menempelkan ujung kipas di tangan kanannya ke antara kedua alisnya sambil mengutarakannya dengan raut wajah rumit.

"Aku sudah berkali-kali menasihati cucu bodoh itu. Aku bahkan memberinya pengawasan yang cukup. Yang terpenting, aku telah memasang penghalang berlapis-lapis di tempat itu agar tidak ada apa pun yang bisa mengaksesnya. Tidak mungkin ada yang bisa membawa Ares pergi. Tapi..."

"Ares mendadak lenyap dari Istana Ares..."

Mendengar gumaman berat dari Shiva, Dewa Agung berkulit ungu dengan empat lengan...

"Benar. Mereka menembus pertahanan kita dengan sangat mudah dan menculik Ares. Bahkan Aku pun tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu. Dengan kata lain—"

Deus menyahut lalu menahan kalimatnya.

"Apakah itu berarti kita telah melakukan kesalahpahaman yang besar...?"

"Tepat sekali. Itu adalah kesalahpahaman."

Sebuah suara yang membenarkan perkataan Indra terdengar dari balik pintu, lalu pintu besar Gedung Majelis Dewa Langit terbuka dengan keras.

Kemudian, Odin, Dewa Agung bertubuh kecil yang mengenakan helm hitam dan zirah hitam, menampakkan diri.

"Maafkan aku, Odin, karena memanggilmu secara mendadak."

Deus menundukkan kepalanya sedikit.

"Tidak, aku juga kebetulan ada hal yang ingin dibicarakan. Jadi, merupakan hal yang bagus bagiku bahwa semua orang selain Thor berkumpul di sini."

Setelah duduk di salah satu dari enam kursi, dia mengalihkan pandangannya berturut-turut ke arah Deus, Indra, dan Shiva yang hadir, lalu mulai berbicara perlahan.

Nada suaranya yang agak kaku dan sikapnya yang tidak menerima bantahan. Melihat penampilannya yang sangat berbeda dari Odin biasanya, mereka pasti merasakan sesuatu yang tidak biasa.

Shiva yang biasanya suka bergurau pun melipat kedua tangannya dan mendengarkan dalam diam.

"Pot bunga berisi kepala Veig yang terpenggal, yang dikirim untuk mengintai Lemuria, telah diantarkan ke Rumah Joy-mu yang seperti landak itu..."

"Dilihat dari cara mainnya yang menjijikkan dan kekuatannya, itu sangat mirip dengan monster lalat yang dikatakan Deus. Tidak salah lagi. Mana ada dewa tidak waras lainnya selain dia. Itu adalah Beelzebub."

Shiva menegaskan hal itu dengan raut wajah galak.

"Tuan Deus, bagaimana dengan penyelidikan dungeon itu?"

"Kami sudah angkat tangan. Sejak awal, untuk menghubungi pengelola dungeon itu, dibutuhkan kode akses dari pihak Langit dan Jahat. Faktanya, aku sudah mengirim komunikasi berkali-kali atas namaku, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali."

Deus memejamkan matanya rapat-rapat dan menggelengkan kepala. Di wajahnya terpatri rasa keputusasaan yang sangat pekat.

"Kasus Lord Tartaros dan penculikan Nona Ares saat ini, sangat dicurigai adanya keterlibatan dari dungeon tersebut. Bagaimana jika kita mengirim utusan dari sini untuk mengonfirmasi niat dari pengelola?"

Perwira muda yang mendengarkan percakapan Deus dan yang lainnya mengajukan usulan yang secara normal akan terpikirkan oleh siapa pun.

"Jika hal itu bisa dilakukan, kita tidak akan kesulitan seperti ini."

Shiva langsung membantahnya dengan wajah cemberut.

"Mengapa demikian?"

Melihat perwira yang bertanya dengan dahi berkerut...

"Tampaknya kalian anak-anak muda belum diberi tahu, ya. Dungeon itu berada di ruang khusus yang disebut Zekkai, yang merupakan celah antar dunia."

"Berdasarkan perjanjian, gerbang hanya akan terbuka ketika memenuhi kondisi khusus dan ketika pengelola dungeon mengizinkannya. Dengan kata lain—"

Odin menjawab secara logis.

"Itu artinya kita tidak akan pernah bisa melakukan kontak langsung secara pribadi."

Shiva menyimpulkan dengan wajah masam.

"Deus, apakah kita benar-benar tidak bisa meminta bantuan dari Pasukan Jahat?"

"Tidak mungkin. Kali ini yang menjadi sasaran mereka adalah kita, Pasukan Langit. Jika Pasukan Jahat mengetahuinya, paling bagus mereka hanya akan menonton, dan paling buruk mereka akan memanfaatkannya untuk memusnahkan kita."

"Pria mesum yang mabuk diri sendiri seperti Beelzebub itu sebenarnya tidak berbahaya selama kita tidak mencampurinya! Tapi si bajingan Tartaros itu malah mengusik sarangnya, benar-benar merepotkan!"

Shiva berteriak dengan urat-urat besar menegang di dahinya.

"Mari kita sisihkan dulu apakah musuh adalah bencana terburuk itu. Bagaimanapun juga, musuh memiliki kemampuan untuk menyusup melalui penghalang Odin dengan mudah, dan memiliki kekuatan untuk memusnahkan pasukan elit Odin."

"Tempat ini pun sulit dikatakan aman, bukan?"

Indra bergumam sendiri sambil menopang dagunya dengan tangan.

"Benar sekali. Tangan kita sendiri sebagai Pasukan Langit telah melemparkan dadu. Tidak ada jalan lain bagi kita untuk bertahan hidup selain memusnahkan mereka."

Ketika Odin mendeklarasikannya dengan suara mantap seolah telah memantapkan hatinya...

"Tidak selalu begitu, lho~"

Seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian hitam atas-bawah dan jaket berpenutup kepala berwarna hitam, yang muncul entah sejak kapan, membantah perkataan tersebut.

"Hermes. Apa maksudmu dengan tidak selalu begitu?"

Atas pertanyaan Deus yang tidak menerima bantahan, Hermes menghilangkan senyum mengerikannya.

"Ini adalah pesan dari Panglima Tertinggi kita."

Dia mengucapkan kalimat itu secara singkat.

Seluruh hadirin berdiri tegap dan membetulkan posisi tubuh mereka dengan memukul lantai menggunakan senjata masing-masing.

Setelah berdeham, Hermes mengangkat tangan kanannya.

"Serahkan pembantaian monster bencana yang ada di Lemuria kali ini kepada Dewa Laut Poseidon. Cara pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada Hermes."

Dia menyampaikan perintah dewa. Di dalam ruangan yang gaduh bagaikan sangkar burung, Deus memukulkan tombaknya ke lantai, dan seketika ruangan menjadi hening kembali.

"Maksudmu kami tidak boleh melakukan apa pun?"

"Tepaaat sekali~ Panglima Tertinggi bilang agar urusan ini ditangani oleh aku dan Poseidon-chin terlebih dahulu."

"Apakah itu berarti Pasukan Langit kami tidak mampu menanganinya?"

Atas pertanyaan Deus dengan nada suara rendah...

"Non non, kalian Enam Dewa Langit adalah kekuatan tempur tertinggi Pasukan Langit, jika hanya bicara kekuatan murni, tidak ada apa pun di dunia ini yang tidak bisa kalian hancurkan."

"Tapi~ sepertinya kali ini ada keadaan di mana kami akan kesulitan jika kalian menghancurkannya, lho~"

Hermes menjawab sambil memutar-mutar rantai jam saku di tangan kirinya.

"Keadaan di mana kalian akan kesulitan jika dihancurkan? Apa itu?"

"Entahlah, aku sendiri belum diberi tahu soal itu~"

"Belum diberi tahu, katamu?! Apakah kau paham?! Musuh kita mungkin adalah Beelzebub itu, lho?!"

Shiva memiringkan kepalanya dengan raut wajah murka untuk menekan Hermes.

"Meskipun Anda berkata begitu, memang itulah kenyataannya~"

Hermes mengelak dengan santai sambil memasang senyum mengerikan.

"Baiklah. Aku akan menyerahkannya kepada kalian. Tapi ada satu syarat."

"Apa itu?"

"Jika kalian gagal, Pasukan Langit akan melancarkan All-out Attack Blitz ke Lemuria."

"Tuan Deus berkata demikian, Panglima Tertinggi, bagaimana keputusan Anda?"

Sambil mendongak ke atas, Hermes mengutarakan pertanyaan tersebut.

『Aku menyetujuinya』

Suara pria yang tanpa emosi bergema di dalam kepala Deus dan semua orang yang ada di sana.

"Katanya begitu~ Kalau begitu, begitu saja ya~"

Dengan kalimat itu sebagai penutup, sosok Hermes lenyap tanpa bekas bersama hawa keberadaannya bagaikan asap.

"Deus..."

Indra memanggilnya dengan kerutan mendalam di antara kedua alisnya.

"Ini adalah perintah Panglima Tertinggi. Mau bagaimana lagi."

Deus menjawab dengan raut wajah pahit.

"Tapi, jika Poseidon itu muncul di Lemuria, Nona Ares akan..."

"Cucu bodoh itu menanggung akibat dari perbuatannya sendiri. Aku sendiri sudah menyerah menghadapinya. Selain itu, jika abang bodohku itu bergerak, Lemuria dipastikan akan berubah menjadi neraka."

"Ah, ini bukan lelucon, sejumlah besar anak-anak penduduk asli yang tidak bersalah akan mati..."

"Justru karena itulah, kita harus mengurung kerusakannya hanya di Lemuria!"

"...Deus, Anda..."

Odin hendak mengatakan sesuatu kepada Deus yang wajahnya berkerut penuh penyesalan, tetapi dia mengurungkan niatnya dan bungkam.

"Apakah Anda berpikir bahwa Poseidon mampu membereskan monster lalat tersebut beserta keberadaan di balik layarnya?"

"Kalian juga pasti sangat memahami kekuatan Poseidon, bukan? Bahkan jika Aku bertarung berhadapan dengannya, kekalahan sudah pasti di tanganku."

"Hermes akan membantu Poseidon itu. Secara normal, meskipun lawannya adalah Beelzebub, kemenangan tidak akan tergoyahkan. Tapi..."

Terhadap Deus yang menahan kalimatnya...

"Apakah ada yang Anda khawatirkan?"

Odin bertanya.

"Ini hanya firasatku dan tidak memiliki bukti apa pun. Tapi, aku merasa musuh kali ini jauh lebih mengerikan. Sampai-sampai jika kita semua tidak turun tangan bersama, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa."

"Firasatmu selalu tepat dalam hal-hal yang buruk, ya. Aku mengerti. Kami semua akan bersiap agar bisa maju bertempur kapan saja. Apakah begitu cukup?"

"Ya, tolong bantuannya."

Terhadap pertanyaan Shiva, Deus mengangguk.

"Kalian yang lain juga tidak keberatan, kan?"

"Tentu saja."

"Aku juga tidak keberatan."

Odin dan Indra masing-masing menyetujuinya.

"Sampaikan juga pada Thor mengenai hal All-out Attack Blitz ini! Dan Odin, bisakah aku meminta bantuanmu untuk menyelidiki Hermes? Pria itu pasti menyembunyikan sesuatu."

"Aku mengerti, Deus."

Odin mengangguk menerima permintaan Deus.

"Semuanya, maaf karena selalu memaksakan kehendak. Jika situasi menuntut kita untuk bergerak, kemungkinan besar kita harus mempertaruhkan nyawa."

"Setelah persiapan perang selesai, beristirahatlah dengan baik untuk mengumpulkan energi."

Atas ucapan permintaan maaf dan perhatian dari Deus, seluruh hadirin berdiri dalam diam dan menundukkan kepala mereka.

◇◆◇

Di sana, di dalam kuil yang berada di dasar laut yang dalam. Kuil itu terbuat dari batu putih bersih, dan di tengah aula paling dalam, bertakhta sebuah kursi berkulit hiasan indah, tempat seorang pria tampan berambut biru duduk dengan santai.

"Poseidon-chin, aku sudah menyampaikan perintah Panglima Tertinggi kepada Pasukan Langit, lho~"

Seorang wanita cantik berjaket hitam dengan tudung terpasang dalam-dalam, Hermes, mendadak muncul dan memberi laporan dengan suara ceria.

"Bagus. Lalu, bagaimana dengan persiapan kemunculanku di dunia fana?"

Poseidon mengucapkan kalimat pujian dengan nada terkesan meremehkan, lalu bertanya pada Hermes dengan suara datar.

"Tentu saja, sebentar lagi kamu bakal terlahir kembali dalam wujud daging di Lemuria, lho~"

Hermes menjawab begitu, lalu melempar sebuah batu berwarna merah darah ke arah Poseidon.

"Apa ini?"

Menangkapnya dengan tangan kanan, Poseidon mengamati batu itu lekat-lekat sembari melontarkan pertanyaan.

"Batu Kebenaran, Katalis Pamungkas, Batu Langit... batu ajaib ciptaan sihir yang punya berbagai macam nama, 'Batu Filsuf'. Cukup dengan memegangnya, batu itu akan memunculkanmu dan memberikan wujud daging di Lemuria secara otomatis, lho~"

"Bagaimana dengan Singularitas yang dikejar Tartarus?"

"Kami sudah mengonfirmasi ada dua orang di kota penduduk asli bernama Babel, lho~"

"Dua ekor Singularitas, ya..."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Poseidon terangkat membentuk seringai. Wajahnya tampak begitu jahat, sama sekali tidak mencerminkan sosok dewa agung yang berada di pihak kebaikan.

"Aku senang kalau kamu menyukainya~"

"Apa yang dikatakan Beliau padaku?"

"Katanya, 'Urusan pembersihan di sini biar kami yang tangani, jadi lakukan sesukamu di Lemuria. Tapi sebagai gantinya, pastikan kamu menyelesaikan tugasmu dengan sempurna', begitu~"

"Beelzebub dan sampah yang ada di belakangnya, ya. Tidak usah khawatir, bakal kubereskan semuanya sekalian."

Poseidon bangkit berdiri lalu mengayunkan tombaknya sekali. Hanya dengan gerakan sederhana itu, kuil raksasa bergeser miring hingga memicu gemuruh dahsyat.

Di saat yang sama, tubuh Hermes juga terpotong rapi, terbelah menjadi beberapa bagian sembari menyemburkan cipratan darah.

(Aduh, takutnya, takutnya, takut banget deh~ Tapi karena urusanku sudah selesai, aku pamit dulu ya~)

Tubuh Hermes yang seharusnya sudah terpotong-potong itu tahu-tahu telah lenyap tanpa bekas.

"Hmph! Dasar rubah betina!"

Setelah mendesiskan umpatan itu, Poseidon menghentakkan pangkal tombaknya ke lantai batu. Dua sosok dewa pria dan wanita yang muncul dari lantai langsung menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Poseidon.

"Mulai detik ini, aku akan turun ke Lemuria dalam wujud daging. Kalian berdua ikutlah denganku, lalu seret dua ekor Singularitas itu ke hadapanku!"

"Sesuai kehendak-Mu, Wahai Dewa Agung!"

Saat kedua dewa itu berseru, batu merah di tangan kanan Poseidon memancarkan cahaya menyilaukan.

Seketika, sejumlah besar lingkaran sihir bermunculan di lantai dan mengepung Poseidon.

"Kita mulai. Akan kubenahi semua kesalahan di dunia bawah."

Bersamaan dengan ucapan itu, jiwa Poseidon lenyap dari Dunia Atas bersama jiwa kedua bawahannya.

◇◆◇

Di dalam sebuah ruangan yang sangat besar di Katedral Coric, markas besar Gereja Pusat Emblade yang merupakan sekte terbesar di Lemuria, beberapa klerus Gereja Pusat tampak duduk di meja persegi panjang. Mereka adalah para petinggi Gereja Pusat yang dipanggil atas nama Kardinal Pandora.

"Kardinal Pandora, sebenarnya ada urusan apa sampai Anda mengumpulkan kami semua di sini?"

Prometheus, rival politik Pandora, mempertanyakan maksud pemanggilan tersebut sembari mendorong bingkai kacamata—sebuah barang ciptaan orang dari dunia lain—dengan jari tengahnya.

"Uskup Agung Saud telah dibunuh."

Mendengar kenyataan yang diucapkan Pandora, suasana ruangan seketika riuh rendah. Kematian Saud sebenarnya sudah menjadi rahasia umum.

Sebab itu, mereka bukannya terkejut oleh fakta kematian Saud itu sendiri, melainkan oleh penyebab di balik kematiannya.

"Bukan diangkat ke surga, melainkan dibunuh, kah? Ditambah lagi dengan pemanggilan anggota sebanyak ini..."

Prometheus menyapu pandangannya ke arah para anggota yang berkumpul, lalu menghela napas panjang.

Kemudian dengan wajah tegang seolah baru saja melangkah ke wilayah musuh, ia bertanya.

"Siapa musuh dewa kali ini?"

Prometheus menuntut jawaban dengan nada tegas.

"Kemungkinan besar, Dewa Kejahatan."

Kali ini, suasana ruangan benar-benar gempar bagaikan ribuan serangga dalam sangkar.

"Dewa Kejahatan, ya. Bukannya aku tidak percaya pada perkataan Lady Pandora, tapi tetap saja membayangkan musuh kita Dewa Kejahatan terasa mustahil..."

Regen, salah satu dari Empat Uskup Agung—seorang pemuda berkepala botak berambut biru dengan lingkaran hitam besar di sekitar matanya serta dipenuhi banyak tindik di wajah—mengelus kepalanya sembari meremehkan.

"Semua ucapan Lady Pandora adalah kebenaran. Saud tewas secara tragis di tangan Dewa Kejahatan, dan berikutnya sembilan dari sepuluh kemungkinan yang diincar adalah kita."

Mendengar penegasan Schnee, Uskup Agung wanita lainnya, Himmel, yang sedang memutar-mutar pisau di tangan kanannya melontarkan pertanyaan.

"Tewas secara tragis itu mati seperti apa?"

Dengan nada suara yang sama sekali tanpa ketegangan, ia menanyakan hal yang memicu rasa penasaran semua orang.

Pemandangan mengerikan yang melekat kuat di dalam benak.

Mengingat wujud Saud yang tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi penuh kepedihan, rasa mual mendadak menyerang Pandora hingga ia terpaksa menutup mulutnya.

Schnee tampaknya merasakan hal yang sama. Wajahnya meringis menahan sakit sembari mengalihkan pandangan ke arah Pandora.

Ia seolah bertanya apakah pemandangan itu boleh diperlihatkan di sini.

Memang, tidak ada cara lain untuk berbagi rasa krisis ini selain memperlihatkannya.

"Schnee, perlihatkan hal itu kepada semuanya."

"..."

Dengan anggukan tanpa kata, Schnee mulai menyiapkan item sihir perekam gambar.

"..."

Setelah selesai menyaksikan rekaman video tersebut, tak ada satu pun yang bersuara. Tidak, mereka memang tidak mampu bersuara.

Yang merayap di dalam ruangan adalah sebuah emosi pekat yang tak tertahankan—ketakutan.

"Ghh!"

Tampaknya sudah tidak sanggup menahannya lagi, Prometheus jatuh merangkak di lantai lalu muntah.

Dengan wajah yang kotor oleh air mata dan ingus, ia terus memuntahkan isi perutnya sampai kosong.

Rekaman video itu sebenarnya masih memiliki kelanjutan.

Setelah momen itu, saat pendeta bawahan Schnee mencoba mengembalikan jasad Saud ke tanah, makhluk mirip serangga mendadak muncul dari dalam mulut Saud dan mencabik-cabik pendeta tersebut.

Seolah menikmati pemandangan Schnee yang berdiri terpaku hilang arah, para pendeta lainnya dilahap habis tanpa sisa oleh monster serangga itu.

Ketika tidak ada lagi orang yang tersisa selain Schnee, monster serangga itu berjalan perlahan mendekatinya, lalu meledak dan mati tepat di depan matanya.

"Dewa Kejahatan... Saud sialan... Berani-beraninya dia membuat monster seperti itu marah!"

Dengan wajah pucat pasi, Regen memaksakan suaranya keluar.

"Tidak mungkin... Kita mustahil bisa menang lawan monster seperti itu! Kita tidak bisa mengalahkannya! Kita cuma bakal disiksa sesuka hatinya!"

Dengan mata memerah dan wajah yang dicakar histeris hingga berdarah, Himmel menjerit.

"Benar. Jika hanya kita saja, tak mungkin kita bisa melawannya. Kalau kita cuma berdiam diri menonton, seluruh umat manusia akan bernasib sama seperti Saud."

Schnee menegaskan pendapatnya dengan nada suara yang meninggi.

"Kardinal Pandora, Anda punya cara untuk membalikkan keadaan, bukan?"

Sambil menyeka mulutnya, Prometheus menoleh ke arah Pandora dan bertanya.

"Ya, kemungkinan besar ini satu-satunya cara bagi kita umat manusia untuk meraih kemenangan!"

"Jangan berbelit-belit, tolong beri tahu kami. Apa yang harus kita lakukan!?"

Menanggapi pertanyaan tegas dari Prometheus, Pandora melontarkan taktik terakhirnya yang lahir dari rasa keputusasaan.

"Kita akan memanggil sang Dewa Terkuat turun ke dunia!"

Ritual Pemanggilan Dewa (Kamioroshi)—sebuah ilmu sihir terlarang tingkat tinggi yang dikategorikan sebagai tabu di Gereja Pusat.

Tanpa adanya ancaman kepunahan umat manusia dan keberadaan reruntuhan yang baru saja digali bulan lalu, Pandora bahkan tak akan terpikir untuk menjalankannya.

Pada prasasti di reruntuhan tersebut, tertulis dalam bahasa kuno mengenai tempat ritual pemanggilan dewa.

Ritual pemanggilan dewa adalah penistaan terhadap dewa itu sendiri. Oleh karena itu, awalnya Pandora berniat menyegel reruntuhan yang tidak sopan tersebut.

Namun tepat saat ia hendak mengeluarkan perintah penyegelan, insiden Saud terjadi.

Pandora langsung memanfaatkan reruntuhan ini. Sebab, musuh mereka adalah Dewa Kejahatan yang sangat licik dan kuat.

Musuh itu terlalu perkasa. Entah itu ras iblis, naga, ataupun pahlawan, tak ada yang bisa menang melawan dewa.

Yang bisa mengalahkan dewa hanyalah dewa itu sendiri. Sebab hal itu adalah kebenaran mutlak di dunia ini.

Pandora berpikir akan ada anggota petinggi Gereja Pusat yang menentang ritual pemanggilan dewa ini. Ia bahkan sudah bersiap bertarung melawan siapa pun yang menentangnya.

Namun, dugaannya meleset dan semua orang menyetujui ritual pemanggilan dewa tersebut.

Ironisnya, setelah diperlihatkan rekaman video itu, tak ada satu pun orang bodoh dengan analisis situasi yang buruk yang berpikir bahwa mereka bisa menang.

"Masih belum, ya!? Selagi kita begini, monster itu bisa saja menyerang, tahu!"

Regen mengentakkan telapak kakinya ke lantai sembari memprotes dengan suara keras.

"Tenanglah, Regen. Sebentar lagi juga selesai."

Schnee berucap dengan nada kaku.

Namun ucapan itu seolah-olah ditujukan untuk menenangkan dirinya sendiri, terpancar jelas dari raut wajahnya yang dipenuhi kecemasan mendalam.

Saat ini Pandora dan yang lainnya berada di reruntuhan sebelah utara Emblade.

Sampai beberapa waktu lalu, kawasan ini diliputi kabut racun dan menjadi tanah kematian di mana makhluk hidup tak dapat melangkah masuk.

Namun entah mengapa, beberapa bulan lalu kabut racun itu mendadak lenyap dan reruntuhan ini pun muncul.

"Persiapan ritual telah selesai!"

Mendengar laporan dari pendeta, semua orang menghela napas lega. Namun, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Prasasti di reruntuhan ini hanya menyebutkan bahwa ritual ini akan memanifestasikan Dewa Kebenaran Terkuat di dunia.

Tidak tertulis di mana pun bahwa yang akan muncul adalah Dewa Ares yang mereka sembah.

Jika yang muncul adalah dewa jahat yang kekuatannya melebihi Dewa Ares, itu berarti Pandora dan yang lainnya telah menarik pemicu kehancuran dunia dengan tangan mereka sendiri.

Meski begitu, tidak ada jalan kembali bagi Pandora dan yang lainnya.

Merekapun terpaksa harus melakukannya.

"Icarus, apa kamu benar-benar yakin?"

Pandora memastikan niat itu kepada adik kandungnya, Icarus. Ritual pemanggilan dewa membutuhkan wujud fisik untuk menampung jiwa dewa.

Wujud fisik tersebut haruslah sesuatu yang suci, dan yang terpilih sebagai wadahnya adalah adik kandungnya sendiri, Icarus.

Di Gereja Pusat, wadah dengan tubuh suci selain adiknya ada amat banyak hingga tak terhitung.

Faktanya, Icarus terpilih menjadi kandidat karena dirinya sendirilah yang sangat menginginkannya.

"Kakak, aku sudah siap."

Icarus menjawab dengan nada tegas, sementara kobaran api tekad membara di kedalaman matanya.

Icarus sedikit banyak menyimpan keraguan terhadap tatanan Gereja Pusat saat ini.

Ia sering memberikan bantuan ke panti asuhan, mengadakan dapur umum untuk rakyat miskin, serta mendesak para pejabat Gereja Pusat untuk menegakkan kasih dewa yang setara.

Pastilah alasan Icarus mendaftarkan diri menjadi wadah tubuh dewa adalah agar dengan memanggil dewa turun ke dunia, ketimpangan sosial seperti ini bisa terselesaikan. Ia menggantungkan harapannya pada secercah kemungkinan itu.

"Begitu, ya..."

Tentu saja, Icarus adalah adik kandung yang sangat dicintai Pandora. Menjadikannya sebagai persembahan dalam perjudian yang sangat berbahaya seperti ini jelas bukan main-main.

Pandora sempat menentang keras, tetapi keinginan Icarus sangat bulat.

Ditambah lagi, tidak ada kandidat lain yang lebih sesuai daripada Icarus, sehingga keputusan itu disetujui secara acklamasi.

"Mulaikan."

Atas perintah Pandora, para pendeta yang mengepung tempat ritual dalam bentuk lingkaran saling mengepalkan tangan dan memanjatkan doa.

Lantai di area ritual mulai memancarkan cahaya, dan lingkaran sihir membumbung naik.

Kemudian dari lantai, muncul beberapa pipa berwarna biru yang menempel pada tubuh Icarus.

"Ghh!"

Sambil merintih kesakitan, pipa-pipa biru terus menempel pada Icarus satu demi satu, hingga akhirnya seluruh tubuhnya terselimuti oleh pipa-pipa biru tersebut.

"Icarus!"

Tepat saat Pandora spontan berteriak, cahaya biru memenuhi area ritual.

Ketika cahaya itu meredup, di pusat area ritual berdiri seorang pria tampan berambut biru yang mengenakan pakaian asing.

Pria tampan berambut biru itu diam tak bersuara sejenak, sambil menepuk-nepuk tubuhnya sendiri.

"Kuhaha! Kuhahaha! Tak disangka aku benar-benar bisa mendapatkan wujud daging!"

"Apakah Anda adalah Dewa kami?"

Prometheus bertanya dengan ragu-ragu.

"Lancang sekali! Tundukkan kepalamu!"

Pria tampan berambut biru itu menderu murka. Seketika, kepala Prometheus terlepas dan jatuh berdebam ke tanah.

Di tengah semburan darah dari lehernya yang kehilangan kepala bagaikan air mancur, tubuhnya tumbang telungkup seperti boneka yang putus talinya.

Sembari mengabaikan Pandora dan yang lainnya yang menatap pemandangan itu dengan terpana—

"Gugii!?"

"Higuah!"

Dua orang pendeta mulai mengerang kesakitan sambil memegang tenggorokan mereka dengan kedua tangan, lalu berubah wujud menjadi sepasang pria dan wanita bergaun biru.

"Bersujudlah."

Salah satu dari pria dan wanita itu memerintahkan Pandora dan yang lainnya dengan suara sedingin es.

"―!?"

Tubuh mereka bergerak dengan sendirinya. Kedua lutut terantuk ke tanah dan dahi mereka menempel di lantai.

"Aku adalah Penguasa Tertinggi Samudra, Poseidon. Demi meluruskan dunia ini menjadi dunia yang benar, aku telah turun ke tanah ini. Patuhi perintahku. Maka, aku akan membimbing kalian berjalan di jalan yang benar."

Dewa yang menyebut dirinya Poseidon itu memberi perintah secara sepihak kepada Pandora dan yang lainnya.

Itulah saat di mana seorang Dewa Agung yang merepotkan dan terobsesi secara tidak wajar pada kebenaran, menampakkan diri di dunia ini.

◇◆◇

―Di sebuah kamar penginapan di Cartel.

Satu hal yang baru pertama kali didengar di kedai minuman Cartel, tempat suci para petualang. Bagi Lopt, salah satu dari Enam Jenderal Besar, hal itu sama sekali tak layak untuk dipercayai.

Yaitu rumor mengenai Dolce, iblis kegelapan yang dimodifikasi oleh Lopt, telah dikalahkan oleh monster-monster di Northgrand.

Serta Negeri Kegelapan yang secara de facto runtuh setelah ditinggal pensiun oleh Raja Iblis Asmedia.

Dua negara yang kehilangan tumpuan—Negeri Kegelapan dan Negeri Kabut—kini telah dileburkan ke dalam negara yang didirikan oleh para monster.

Tentu saja, awalnya ia mengira itu cuma hoaks yang jahat.

Namun, informasi yang menepis anggapan itu terus berdatangan bertubi-tubi, hingga akhirnya Lopt mencoba menghubungi Markas Besar Pasukan Jahat melalui sihir telepati.

Akan tetapi, menggunakan sarana komunikasi apa pun, ia tidak dapat terhubung dengan Asura dan yang lainnya. Setelah itu, ia mencoba melangkahkan kaki langsung ke lokasi kejadian.

Namun Northgrand dilindungi oleh penghalang tak kasatmata yang berlapis-lapis.

Jangankan lewat jalur darat, bahkan jika menerobos dari udara maupun bawah tanah, ia akan kembali ke tempat semula.

Tampaknya ruang itu sendiri telah dibengkokkan dan dihubungkan secara paksa.

Lopt telah mengambil tindakan pencegahan yang cukup dengan menggunakan item sihir terhadap teknik manipulasi ruang biasa maupun teknik penetrasi Skill, namun semuanya tidak mempan sama sekali.

Tidak ada Dewa Agung di dalam Pasukan Jahat saat ini yang memiliki kekuatan untuk membentangkan penghalang setingkat itu di luar nalar.

Justru karena itulah, ia terpaksa memahaminya. Bahwa rumor tersebut adalah fakta.

Mungkin, Pasukan Jahat telah kalah dari Pasukan Langit. Kekalahan dari jajaran anggota sekuat itu menandakan bahwa kekuatan Pasukan Langit jauh dari kata biasa, bahkan melampaui Lopt dan kawan-kawan.

Manifestasi dari Odin seorang diri tak mungkin bisa membuat keadaan menjadi seperti ini.

Entah keenam Dewa Langit lainnya semuanya telah termanifestasi, atau Dewa Agung monster itu, Poseidon, yang telah menampakkan diri di tanah ini...

"Tidak, belum tentu begitu. Jika para penguasa generasi lama itu terlibat..."

Jika monster-monster generasi lama itu terlibat, kekalahan Pasukan Jahat kali ini bisa diterima dengan akal sehat...

"Konyol sekali!"

Monster-monster itu telah dikurung di ruang dimensi lain akibat perang neraka masa lalu, sehingga tak mungkin bisa keluar ke dunia nyata. Itu hal yang mustahil.

Bagaimanapun juga, mengingat kekalahan tiga orang dari Enam Jenderal Besar—Anra, Asura, dan Typhon—sangat berpeluang besar terjadi, sulit bagi Lopt seorang diri untuk membalikkan keadaan saat ini.

Segera saja ia mencoba menghubungi Markas Besar Pasukan Jahat, tetapi...

"Terkena Jamming yang sangat kuat hingga tidak bisa terhubung... ya?"

Ia sama sekali tidak bisa menghubungi Markas Besar Pasukan Jahat yang berada di dunia lain. Lagipula―

"Ini artinya aku benar-benar terkunci di dunia ini."

Kembali ke Markas Besar Pasukan Jahat pun mustahil karena ia tidak bisa memunculkan Gate. Tampaknya ia benar-benar ditinggalkan di dunia ini.

Tak disangka ia harus kehilangan tiga orang Jenderal Besar. Jika dipikir secara normal, melemahnya organisasi bernama Pasukan Jahat sudah di depan mata.

Jika dibiarkan begini, mereka pasti akan hancur.

"Ada dua cara untuk keluar dari situasi ini."

Hanya ada dua solusi untuk menghadapi krisis ini.

Yang pertama adalah dungeon itu. Tidak diragukan lagi bahwa Gate menuju dungeon gila itu berada di suatu tempat di dunia ini.

Jika bisa merekrut makhluk-makhluk yang tergolong dalam kejahatan dari dungeon tersebut, peta kekuatan akan berbalik.

Namun, keberadaan Gate itu masih belum diketahui. Tak ada gunanya jika ia membuang waktu mencari Gate sampai berakhir game over.

Jika begitu, ia terpaksa mengambil cara kedua.

Yaitu menyerap Singularitas yang konon berada di dunia ini untuk memperkuat dirinya sendiri. Singularitas adalah balance breaker di dunia ini.

Sebuah irregular yang berpotensi mengubah peta kekuatan antara Langit dan Kejahatan. Jika dapat menyerap kemampuan itu, Lopt akan mendapatkan kekuatan yang tak tertandingi dibanding sebelumnya.

"Ada Singularitas di Babel, kota manusia."

Informasi mengenai Singularitas diperoleh dari prajurit Pasukan Jahat yang disebar Lopt ke berbagai wilayah untuk spionase. Tampaknya Pasukan Langit telah mengonfirmasi keberadaan Singularitas di kota manusia bernama Babel.

Sayangnya, begitu melaporkan informasi itu, prajurit tersebut langsung hilang kontak. Kemungkinan besar ia telah ditangkap atau dilenyapkan oleh musuh.

"Apakah ini ulah Pasukan Langit? Apa dia dibasmi karena tahu keberadaan Singularitas?"

Tidak, jika Pasukan Langit telah mengidentifikasi Singularitas, saat ini Babel pasti sudah dihancurkan oleh pasukan elit Pasukan Langit. Setidaknya Lopt bisa menganggap lenyapnya mata-mata itu tidak ada hubungannya dengan Singularitas.

"Ternyata memang cuma ini pilihannya, ya."

Ia harus bergerak tanpa disadari musuh. Ia membutuhkan tempat bersembunyi.

Dan ia sudah menemukan petunjuknya.

"Jadi? Kalian ini bawahan dewa bernama Charybdis itu?"

"Guh... gi..."

Di hadapan Lopt, seorang pria bertopeng dengan pakaian serhitam sedang mengerang kesakitan saat tangan, kaki, dan batangnya digerogoti oleh ular-ular ciptaannya.

Orang yang dimakan oleh teknik ini tidak akan pernah mati dan akan terus merasakan penderitaan abadi.

"Hei, bagaimana? Kalau kamu menjawab, aku bakal bikin kamu tenang."

"Ya... ampun..."

Melihat pria bertopeng hitam yang bersusah payah mengangguk itu, Lopt kembali bertanya.

"Dewa Charybdis itu sedang bekerja sama dengan Knute, adik Raja Kerajaan Amelia saat ini, dan beroperasi dengan Babel sebagai markasnya. Apa benar begitu?"

"Be-benar... tolong... bunuh aku..."

Pria itu memeras seluruh tenaganya untuk mengangguk dan memohon.

"Ah, aku sudah mendapatkan informasi yang berguna. Ini hadiah untukmu."

Lopt memetik jarinya dengan bunyi ptek. Ular-ular itu langsung menelan, mencabik-cabik, dan mengunyah seluruh tubuh pria bertopeng hitam tersebut.

Kemudian ular-ular itu saling memakan satu sama lain hingga lenyap dari dunia tanpa menyisakan setetes darah pun.

"Dewa Kejahatan Charybdis dan kelompoknya, ya. Kalau aku menggunakan mereka sebagai kedok untuk bergerak, musuh tidak akan menyadari pergerakanku. Kalaupun ketahuan, aku bisa memotong ekor seperti mereka dan melarikan diri."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Lopt terangkat. Dan―

"Akan kulakukan!"

Tentu saja, menyerap Singularitas adalah tabu terbesar yang berlaku baik bagi pihak Langit maupun Kejahatan.

Jika diketahui secara terbuka, Loki sekalipun bakal dihancurkan oleh seluruh kekuatan gabungan Kejahatan dan Langit.

Namun, itu cuma masalah kalau ketahuan. Jika ia menyerap Singularitas tanpa diketahui siapa pun, tak akan ada masalah.

Justru karena itulah, ia harus bergerak agar tujuannya tak diketahui oleh siapa pun. Termasuk oleh manusia bernama Knute yang berencana dimanfaatkan sebagai inang, maupun Dewa Kejahatan Charybdis.

Ia harus menuntaskan tujuannya secara diam-diam di bawah permukaan.

"Bagus! Aku jadi makin bersemangat!"

Dengan mata berbinar-binar seperti binatang buas, Lopt berteriak.

"Bukan gayaku sih, tapi aku berjanji! Typhon, Asura, Anra... Dendam kalian bertiga pasti akan kubalaskan!"

Sambil mengepalkan kedua tangannya, ia meneriakkan kata-kata sumpah tersebut.



Illustrasi | ToC | Chapter 1

Post a Comment

Post a Comment

close