NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 8 Chapter 1

Chapter 1

Arc Rumah Berhantu


―Kawasan perumahan mewah Babel.

"Jadi, Loki, bagaimana persiapannya?"

Tanya Knut yang tampak sedang dalam suasana hati yang sangat baik.

"Hihi, persiapan untuk mengganggu sang Pahlawan sudah beres sepenuhnya."

Loki, pria tampan berpakaian badut itu melompat-lompat di lantai sambil memberikan laporan yang diinginkan Knut.

"Itu karnaval yang kau rancang. Pasti akan menjadi tragedi yang sangat mendebarkan!"

"Di antara semua bawahanku, Loki adalah yang paling luar biasa dalam memikirkan lelucon buruk semacam itu. Tentu saja hasilnya akan begitu."

Pujian dari Charybdis yang jarang memuji itu membuat semua orang terbelalak.

"Aku sangat bersyukur dan terharu sampai hampir menangis karena Anda menghargai usahaku!"

Loki berputar-putar dengan ujung kakinya, bertingkah konyol dengan sengaja.

Sikapnya itu mengundang permusuhan yang kuat dari para bawahan Charybdis lain yang hadir di sana.

Meskipun menerima tatapan yang bahkan mengandung niat membunuh, senyum Loki sama sekali tidak goyah.

"Pelaksanaan rencananya kuserahkan pada Messie. Kalian tidak keberatan, kan?"

Charybdis menatap pria berwajah tirus dan kurus pucat yang berdiri di dekatnya, memastikan hal itu pada mereka berdua.

"Aku tidak keberatan. Lakukan saja."

Knut memberikan persetujuan dengan nada seperti bernyanyi.

"Aku juga tidak punya keberataaan."

Loki meletakkan tangan kanan di dada dan membungkuk hormat.

"Messie ini pasti akan memenuhi harapan dewaku!"

Setelah membungkuk hormat dalam-dalam, Messie berjalan menuju pintu besar untuk keluar dari ruangan.

"Kalau begitu, aku juga―"

"Jangan ikut campur!"

Messie mengancam sambil memamerkan giginya.

"Iya, iyaaa, sepertinya aku dibenci, ya."

Melihat Loki yang pura-pura menangis, urat biru tebal menonjol di pelipis Messie, tapi ia hanya menggelengkan kepala lalu pergi.

"Nah, Pahlawan, apa yang akan dimulai sekarang adalah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di Babel. Bagaimana kau akan menghadapinya?"

Knut berdiri dari kursinya lalu berteriak, seolah-olah ia adalah seorang penyair yang sedang menyanyikan kepahlawanan seseorang.

◇◆◇

Tempat itu terletak di ujung barat daya Distrik Enam, sebuah area terlarang yang dikelola oleh Babel.

Lahan luas yang seukuran satu akademi itu tidak pernah dirawat selama bertahun-tahun.

Tanaman liar tumbuh subur di mana-mana.

Di tengah rimbunnya tanaman tersebut, sebuah rumah besar berlantai tiga berdiri dengan tenang.

Dinding luar bangunan itu terkelupas di berbagai tempat, dan rumput liar tumbuh lebat dari dinding serta atapnya.

Di halaman rumah yang sangat pantas disebut sebagai rumah hantu itulah, seorang pria kurus kering berjubah biru tua, Messie, menyusup masuk.

"Harus mengikuti rencana si Loki itu, sungguh sebuah penghinaan yang tiada tara!"

Loki—dewa jahat yang mengklaim dirinya sebagai otak dari sang dewa utama, Charybdis.

Belakangan ini, Charybdis sangat mempercayai kecerdasan pria itu dan menyerahkan arah pergerakan kepadanya. Fakta itu saja sudah cukup membuat Messie sangat murka.

"Dasar sampah besar kepala yang hanya bisa memikirkan kelicikan!"

Dengan ekspresi penuh amarah yang membuat wajahnya bengkok secara tidak wajar, Messie menatap rumah itu dengan kedua mata yang memerah.

Lalu....

"Sombong sekali! Jangan harap kutukan rendahan seperti ini bisa menipu Messie ini!"

Meski berusaha disembunyikan, tempat ini adalah sebuah Curse Field.

Tampaknya penguasa Curse Field ini berpikir bahwa Messie, yang merupakan dewa kutukan, tidak akan bisa menyadari kutukan murahan dan rendahan seperti ini.

"Berani-beraninya kau meremehkanku!"

Ia menjentikkan jari kirinya yang kurus pucat.

Dalam sekejap, bersamaan dengan suara sesuatu yang hancur berkeping-keping, langit berubah menjadi merah darah dan rumah itu mendadak bengkok terdistorsi.

"Kroco sepertimu tidak akan kubiarkan lolos begitu saja!"

Sambil meneriakkan amarahnya, Messie masuk melalui pintu depan.

Setelah berjalan beberapa langkah, seorang wanita berlumuran darah merangkak turun dari atas tangga yang hancur berantakan.

Bersamaan dengan itu, dari langit-langit, lantai, dan dinding, muncul banyak wanita penuh luka yang merayap mendekat dengan empat kaki layaknya laba-laba.

"Kukuku...."

Tidak disangka, mereka akan membuat pilihan bodoh seperti ini... benar-benar sebuah mahakarya. Sangat lucu!

Apa mereka pikir kekuatan kutukan selemah ini bisa membunuh Messie, yang bergelar dewa kutukan?

"Keberanianmu patut kupuji!"

Messie kembali menjentikkan jarinya.

Wanita-wanita berdarah yang sedang mendekat itu langsung meledak menjadi potongan daging yang berserakan ke segala arah, hanya menyisakan satu orang.

"!!?"

Messie mencengkeram leher wanita terakhir yang panik dan berusaha melarikan diri itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Dan kemudian....

"Apa sebenarnya ada gunanya memperkuat kroco lemah seperti ini?"

Sambil mengerutkan kening dan menggerutu, Messie membenamkan permata merah pemberian Loki ke dalam dada wanita berdarah itu.

"Gugigegegeget―-!"

Seluruh tubuh wanita berlumuran darah itu bergetar hebat.

Bersamaan dengan itu, pembuluh darah yang tebal menonjol di tubuhnya. Pembuluh darah tersebut menjalar ke seluruh bagian rumah, mengakar dan terus meluas.

Rumah yang kini ditumbuhi pembuluh darah raksasa itu berdenyut layaknya makhluk hidup, dan bentuknya mulai menggeliat berubah.

"Mmmm..."

Perubahan ini skalanya sama sekali berbeda.

Awalnya wanita ini hanya setingkat spesies naga yang sedikit kuat, tapi kini ia telah jauh melampaui Demon Lord. Kekuatannya pasti setara dengan dewa kelas bawah.

Meski sedikit kesal, Messie harus mengakui bahwa makhluk ini mampu menyelenggarakan karnaval yang diinginkan Charybdis di Babel.

"Baiklah! Messie ini akan menyaksikannya sampai akhir!"

"Demi dewaku, Tuan Charybdis, aku akan mengubah Babel ini menjadi neraka!"

Messie merentangkan kedua tangannya lalu berteriak lantang.

◇◆◇

― Area Terlarang Tingkat Pertama Distrik Enam.

Delapan orang siswa tampak sedang menengadah menatap rumah besar tersebut.

"Inikah Empat Teror Babel yang terkenal itu? Kualitas Babel benar-benar sudah menurun. Hei, Maim, kau juga berpikir begitu, kan?"

Seorang pemuda berambut pirang cepak, berwajah bulat dengan pipi tembem, bertanya pada remaja berambut merah di sebelahnya dengan nada mengejek.

"Tentu saja, Senior Okame benar sekali! Tempat seperti ini ada banyak di negara asal kita!"

"Yah, penurunan kualitas negara kita juga tak bisa dipungkiri, sih. Kalau di masa lalu, tidak mungkin sampah tak berguna sepertinya bisa menjadi Royal Guard."

Pemuda berwajah bulat, Okame, berteriak sambil meludah kesal.

"Ya, aku setuju dengan hal itu! Pangeran menyedihkan yang membiarkan orang tak berguna berbuat sesukanya, juga raja yang mengakui Royal Guard tak kompeten itu, benar-benar memalukan!"

Pernyataan Maim tersebut langsung disetujui oleh orang-orang yang hadir di sana satu per satu.

"Hei, Kuzuki, kau juga berpikir begitu, kan?"

Okame meminta persetujuan dari satu-satunya anak laki-laki berpotongan mangkuk yang sejak tadi diam tertunduk. Kusuki tersentak dan tubuhnya langsung menegang.

"I-Iya!"

Kusuki berseru dengan suara lantang.

"Kalau begitu, aku akan memberimu kehormatan untuk berjalan duluan! Berusahalah untuk berguna!"

Okame menepuk punggung Kusuki dengan telapak tangan kanannya, memberikan perintah sepihak yang tak bisa ditolak.

"Ba... ik."

Kusuki mengangguk dengan wajah seolah dunia akan segera kiamat.

"Oi, Kuzuki, aku tidak mendengarnya! Mana jawabanmu!"

Urat tebal menonjol di dahi Maim saat ia berteriak penuh amarah.

"I-Iya!"

Kusuki buru-buru menjawab.

"Sampah yang cuma bisa masuk ke sekolah bobrok sepertimu bisa bekerja untuk kami! Anggap itu sebagai sebuah kehormatan."

Maim memutar wajahnya menjadi ekspresi jelek sambil mendorong punggung Kusuki dengan kasar ke arah pintu. Kusuki yang jatuh ke tanah kembali berdiri lalu menepuk tanah yang menempel di bajunya.

"Aku mengerti."

Ia mengangguk pelan dengan wajah yang penuh keputusasaan.

Kemudian, ia berjalan menuju pintu besar itu dan membukanya dengan kedua tangan. Pintu besar itu terbuka dengan suara derit keras.

Kusuki melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Begitu Kusuki membuka pintu besar dan melangkah masuk, Okame serta siswa lainnya juga ikut berbondong-bondong masuk.

Mereka berjalan dengan hati-hati menyusuri lorong kayu yang berderit-derit di setiap langkahnya.

Bagian bawah lantainya berlubang di berbagai tempat, dan jaring laba-laba juga terbentang di mana-mana. Bangunan ini memang sudah tua dan rusak parah.

Namun, anehnya tidak ada setitik pun debu di lorong itu. Bahkan, ada bunga merah darah yang dirawat dan diletakkan dalam vas di atas meja dekat jendela.

Itu adalah bukti bahwa rumah ini ada yang mengurus. Namun...

(P-perasaan apa ini....)

Tempat ini adalah lokasi penuh misteri yang pasti pernah didengar oleh setiap siswa Babel setidaknya satu kali. Tempat ini juga dijuluki Empat Teror Babel, dan dirumorkan kerap memunculkan fenomena gaib yang ganas.

Tentu saja Kusuki awalnya tidak percaya pada rumor tak berdasar semacam itu. Namun, sejak menginjakkan kaki di rumah ini, perasaan tidak nyaman yang aneh seperti ada ribuan serangga kecil merayap di tubuhnya mulai bermunculan.

(Ini tidak normal! Tempat ini benar-benar tidak normal!)

Setiap kali mengambil langkah, ia merasakan ketidaknyamanan seolah sedang tenggelam ke dasar laut yang dalam. Sejak kecil, insting Kusuki untuk hal-hal semacam ini memang sangat tajam.

Mungkin ini adalah efek dari Gift miliknya yang tidak diketahui fungsinya, Medium. Pasalnya, sejak kecil ia sudah bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang biasa.

Namun, ada beberapa orang yang bersikap santai dan sama sekali tidak memedulikan kekhawatiran Kusuki tersebut.

"Apanya yang Empat Teror! Ini kan cuma rumah tua biasa!"

Okame tertawa mengejek, lalu mendorong Kusuki dan mengambil posisi paling depan.

"Benar. Ada bunga di dalam vas itu, jadi kemungkinan besar tempat ini cuma jadi markas para preman Babel," ucap Maim sambil meludah.

"Ya, meskipun tidak ada orang di sini, tapi tidak ada satupun sampah yang berserakan. Ini bukti kalau ada pengelola yang membersihkannya. Empat Teror Babel apanya, konyol sekali. Rumor kuno itu pasti cuma dimanfaatkan oleh gerombolan mafia."

Okame meludah ke lantai dengan bosan, lalu menendang meja yang di atasnya terdapat sebuah guci. Ia menginjak pecahan guci itu dan masuk ke ruang makan di lantai satu.

Di dalam ruang makan tersebut, terdapat beberapa meja bundar berlapis taplak meja putih bersih.

Ruangan itu diterangi dengan sangat terang oleh lampu-lampu di dinding. Selain itu, berbagai macam hidangan berwarna-warni tersaji di setiap meja.

"A-apa-apaan ini..."

Melihat pemandangan yang sangat ganjil ini, Okame tak bisa menyembunyikan kegugupannya dan suaranya mulai gemetar.

Bukan hanya Okame. Semua orang terbelalak, menatap kosong pada pemandangan yang sama sekali tak masuk akal ini.

(Ugh!? Ini benar-benar gawat!)

Sejak masuk ke ruang makan, perasaan tidak nyamannya menjadi begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa berdiri. Yang ada di pikiran Kusuki sekarang hanyalah keinginan kuat untuk kabur dari sini secepatnya.

"Ayo cepat pergi dari sini!"

Desak Kusuki pada Okame.

"Kusuki, jangan sok mengatur karena kau ketakutan!"

Maim langsung membentaknya.

"Tidak, Kuzuki benar! Aku punya firasat yang sangat buruk! Kita harus segera keluar dari rumah ini!"

Okame berteriak cepat dan mencoba berlari menuju pintu keluar ruang makan.

Namun, pintu itu mendadak tertutup dengan keras, dan suara kotak musik yang rusak menggema di seluruh ruangan.

"A-apa ini!?"

Tubuh Maim dan yang lainnya yang sedang panik, tiba-tiba mulai bergerak sendiri.

"Tubuhku bergerak sendiri!?"

"B-berhentii!"

Perlawanan mereka yang berteriak-teriak itu sia-sia, dan satu per satu mulai duduk di kursi di meja makan.

"Ini adalah sihir kutukan! Hei, kalian, siapkan Magic Barrier! Kalau tidak, kalian akan mati dikutuk!"

Okame, yang saat ini juga berjalan perlahan menuju meja, memberikan instruksi sambil mengucurkan keringat dingin. Ia memukulkan tongkat sihir di tangan kirinya ke lantai.

Dalam sekejap, lingkaran sihir besar muncul di bawah kaki Okame dan siswa bernama Bitami yang berada tepat di sebelahnya, diiringi suara sesuatu yang hancur. Langkah Okame dan Bitami langsung berhenti. Mereka berlutut dengan satu kaki sambil terengah-engah.

Sayangnya, yang berhasil lolos dari kutukan itu hanyalah Okame dan Bitami, serta Kusuki yang dari awal memang tidak terpengaruh sama sekali. Sementara yang lainnya, tak bisa memberikan perlawanan sedikit pun.

Mereka menggenggam garpu dan pisau di tangan. Lalu, begitu melihat benda yang tersaji di atas piring di meja....

"Hiiii!"

Jeritan serempak keluar dari mulut Maim dan yang lainnya. Tentu saja mereka menjerit.

Sebab, benda yang tadinya terlihat seperti hidangan di piring itu, ternyata adalah gumpalan daging merah dengan wajah monster tak terhitung jumlahnya.

"Silakan dinikmati."

Sebuah suara serak yang tidak jelas apakah laki-laki atau perempuan terdengar dari atas kepala mereka. Tepat setelah itu, Maim dan yang lainnya secara bersamaan menusukkan garpu ke benda mengerikan di piring itu.

Tiba-tiba, gumpalan daging itu membungkus kedua tangan Maim dan merambat naik dari lengan hingga ke bahunya.

"Sudah kubilang ini bukan lelucon! Flame Snake!"

Dua ekor ular api melesat dari ujung tongkat Okame dan secara beruntun mengenai meja tempat Maim dan yang lainnya duduk. Api itu membakar meja hingga habis bersama kedua lengan Maim.

"Gyaaa!"

Mendengar Maim yang menjerit kesakitan sampai berguling-guling, Okame bergegas menghampirinya.

"Oi, Kuzuki! Kau bisa bergerak, kan!?"

Okame berteriak pada Kusuki.

"..."

Melihat Kusuki yang masih mematung, Okame kembali membentaknya.

"Oi, jangan diam saja! Apa kau mau mati!?"

"I-iya!"

Kaki Kusuki yang tadinya membeku seperti batu mulai bergerak, dan ia pun berlari menghampiri Okame seperti peluru yang ditembakkan.

Okame mengarahkan tongkatnya dan terus melepaskan Flame Snake ke arah meja. Tepat ketika ular api itu hampir mengenai daging di piring, gumpalan daging tersebut membesar dan berubah menjadi dinding daging.

Api itu berhasil ditahan dan memudar. Terlebih lagi, sekumpulan pria berlumuran darah yang mengenakan pakaian koki dan pelayan muncul dari dapur sambil memegang pisau daging.

Okame berdecak kesal saat melihat mereka.

"Panggul Maim! Kita kabur!"

Okame dengan mudah memapah Bitami yang pingsan ketakutan menggunakan lengan kirinya. Ia menyuruh Kusuki bergerak sambil terus melepaskan Flame Snake ke arah para monster dengan tongkat di tangan kanannya.

"T-tapi yang lainnya..."

"Sudah terlambat! Mereka tidak bisa diselamatkan lagi!"

Setelah berteriak, Okame menembakkan belasan Flame Snake ke arah pintu besar ruang makan. Pintu itu hancur berkeping-keping.

Kusuki memanggul Maim yang sudah pingsan karena kesakitan, dan mereka pun berlari keluar dari ruang makan.

◇◆◇

Elish Excel sedang berpartisipasi sebagai siswa magang kejuruan dalam tugas di Departemen Keamanan, yang merupakan mata pelajaran wajib di tahun terakhir Akademi Menara Babel.

Para lulusan Menara Babel di masa depan diharapkan bisa mengambil kepemimpinan di berbagai bidang. Oleh karena itu, siswa tingkat akhir diwajibkan untuk magang dan menjalankan beberapa tugas di dalam Babel.

Saat ini, sudah larut malam. Berbagai laporan masuk ke Departemen Keamanan bahwa ada beberapa siswa asal Kerajaan Amelia yang belum kembali ke asrama, dan belasan petugas keamanan kini sedang dalam perjalanan menuju lokasi kejadian, yaitu sebuah rumah tua yang sudah lapuk.

Tempat itu sudah terkenal sebagai spot uji nyali yang disebut Empat Teror Babel, menjadikannya cukup populer di kalangan siswa Babel.

Memang benar lokasi ini dilarang untuk dimasuki. Namun, larangan itu dibuat bukan karena adanya fenomena gaib, melainkan semata-mata karena bangunannya sudah tua dan rawan runtuh.

Intinya, misi kali ini hanyalah sebatas mendisiplinkan para siswa yang melakukan uji nyali, dan seharusnya sama sekali tidak ada bahaya.

Meskipun begitu, Kapten Pasukan Keamanan, Instruktur Rakter, awalnya dengan tegas menolak Elish untuk ikut karena statusnya yang masih siswa magang.

Namun, beberapa petugas keamanan termasuk petugas wanita bernama Yoru membantu membujuknya, sehingga pada akhirnya Elish diizinkan untuk ikut.

Alasan terbesar mengapa Elish diizinkan ikut adalah adanya kebijakan pendidikan baru di Babel mulai tahun ini.

Ada arahan yang menyatakan bahwa siswa magang harus diperlakukan setara dengan staf reguler.

Mimpi masa depan Elish adalah menjadi Hunter kelas atas seperti ayahnya. Menyelamatkan orang yang tersesat adalah salah satu pekerjaan utama seorang Hunter, jadi ia sangat ingin mengumpulkan pengalaman.

Oleh karena itu, ia mengikuti misi ini dengan penuh semangat. Namun, siapa sangka, pada akhirnya ia justru menginjakkan kaki di medan pertempuran yang memiliki kemungkinan kalah besar, untuk kedua kalinya dalam hidupnya.

"Mundur! Utamakan keselamatan nyawa kalian sendiri!"

Instruktur Rakter memperingatkan anggota pasukannya sambil menembakkan sihir ke arah monster yang mendekat dari belakang.

Rumah yang disebut Empat Teror ini adalah sarang monster. Wanita berambut panjang penuh darah yang merayap dengan empat kaki di lantai dan dinding dengan kecepatan tinggi terus berdatangan.

Belum lagi boneka yang memegang gunting raksasa, koki yang membawa pisau daging, dan monster dengan kepala yang sangat besar. Mereka semua tanpa henti menyerang Elish dan kawan-kawan.

― Instruktur ahli pedang yang baru masuk ruangan langsung diikat dengan tali, kepalanya dimakan oleh monster oni raksasa, lalu berubah menjadi zombi.

― Instruktur yang dipaksa memakan gumpalan daging di atas piring di ruang makan dan berubah menjadi hantu.

― Instruktur yang dikutuk mati oleh wanita berdarah dan menyerang mereka sebagai monster tanpa kesadaran.

Mereka terus melarikan diri untuk menjauh dari monster-monster itu. Perlahan-lahan, para instruktur veteran yang telah melalui ratusan pertempuran itu tewas atau terpisah.

Pada akhirnya, hanya tersisa tiga orang, yaitu Elish, Instruktur Rakter, dan Instruktur Yoru. Mereka pun berhasil mencapai lantai teratas, lantai tiga.

"Gegegegeg!"

Suara yang memicu rasa jijik menggema dan menggetarkan gendang telinga. Saat menoleh, mereka melihat wanita berambut panjang penuh darah merangkak menaiki tangga dengan empat kakinya.

"Mereka datang! Kita pergi ke ujung lorong lantai tiga, lalu hancurkan bangunannya dan keluar dari sana!"

Mereka berlari sekuat tenaga demi kabur dari makhluk-makhluk itu. Namun, lorong itu entah mengapa menjadi semakin panjang, tak peduli seberapa jauh mereka berlari, mereka tak kunjung mencapai ujungnya.

Puluhan wanita berdarah masih terus mengejar dari belakang.

(Aku tidak kuat lagi!)

Seluruh tubuh Elish sudah menjerit kesakitan, dan ia hanya berlari dengan mengandalkan tekadnya saja.

"Guh!?"

Tiba-tiba rasa sakit yang tajam menjalar di kakinya, dan ia pun terjatuh bergulingan. Seekor monster berbentuk cacing tanah dengan wajah manusia telah menggigit pergelangan kaki Elish.

"Elish!"

Instruktur Rakter memenggal leher monster yang menggigit Elish itu. Kemudian, Instruktur Rakter dan Instruktur Yoru menyiapkan senjata mereka dan bersiap menghadapi para monster untuk melindungi Elish.

"Tinggalkan saja aku dan larilah!"

Lagi pula, dengan luka ini, ia tidak akan bisa berlari dengan benar. Jika terus begini, mereka semua akan mati hanya demi menyelamatkan Elish.

"Bodoh, mana mungkin kami bisa lari meninggalkan siswa kami."

"Benar sekali, biarkan para senior ini pamer sedikit di depanmu."

Tepat ketika kedua instruktur itu bersiap merapalkan sihir mereka....

"Kakak-kakak, ke sini!"

Lantai tempat Elish dan kawan-kawan berpijak tiba-tiba berubah menjadi hitam. Pada detik berikutnya, mereka semua tenggelam ke dalam rawa hitam tersebut.

◇◆◇

Awalnya, Kusuki dan kawan-kawan mencoba keluar dari lantai satu.

Namun, jendela-jendela tidak bisa dibuka karena suatu kekuatan misterius, dan Flame Snake yang dilepaskan Okame bahkan tidak memberikan efek apa pun.

Saat mencoba keluar dari pintu depan, mereka melihat boneka-boneka memegang gunting raksasa memenuhi lantai, sehingga niat itu pun diurungkan.

Seperti sedang digiring, mereka naik ke lantai atas yang tidak ada monsternya.

Ketika tiba di lantai tiga, sebuah lingkaran hitam muncul di lantai dan menyedot mereka ke dalamnya.

Mereka tiba di sebuah ruangan kayu kecil. Ruangan itu memang tua dan rusak, tapi ada tempat tidur kecil serta kursi di sudutnya, menandakan bekas-bekas kehidupan.

"Di mana... ini?"

Okame menatap sekeliling dengan waspada sambil memegang erat tongkatnya.

"Senior Okame, Maim terlihat sangat kesakitan!"

Sejak tadi, wajah Maim memerah dan keringatnya bercucuran deras seperti air terjun.

Okame menghampiri Maim dan mendecakkan lidah saat melihat seluruh tubuh pemuda itu telah berubah warna menjadi ungu.

"Ini adalah Curse Poison! Maim sempat menyentuh masakan menjijikkan tadi, dan itulah penyebabnya!"

Sambil menggerutu, ia mengeluarkan botol berisi cairan merah dari balik bajunya.

"Astaga, padahal ini adalah salah satu kartu as utamaku."

Okame bergumam kesal sambil meminumkannya pada Maim. Dalam sekejap, kedua tangannya yang seharusnya sudah hangus menjadi arang kembali pulih.

Tubuhnya yang berubah ungu pun kembali normal, dan ia mulai bernapas lega dalam tidurnya.

"Sialan―- aku lelah sekali!"

Okame merebahkan dirinya hingga membentuk huruf besar di lantai.

Awalnya Kusuki mengira Okame adalah orang yang jauh lebih egois.

Ia tidak pernah menyangka orang itu bersedia menggunakan ramuan pemulihan yang sangat mahal, bahkan untuk ukuran orang awam sepertinya.

"Ada apa?"

Okame tampaknya menyadari tatapan Kusuki, lalu bertanya dengan nada tidak senang mengenai maksud tatapan tersebut.

"Tidak, hanya saja... kau sedikit berbeda dari bayanganku selama ini...."

Entah mengapa, Kusuki malah mengucapkan kalimat yang biasanya tidak akan pernah ia katakan.

"..."

Kusuki mengira Okame akan marah, tapi pemuda berwajah bulat itu malah menatapnya dalam-dalam.

"Kenapa kau masuk ke Akademi Ouboro?"

Kenapa, tentu saja alasannya sudah jelas. Itu adalah satu-satunya akademi yang bisa ia masuki, dan ia pikir hal semacam itu tidak perlu ditanyakan lagi.

"Karena kemampuanku hanya cukup untuk masuk ke Akademi Ouboro di Babel...."

Keluarga Kusuki adalah keluarga bangsawan berpangkat Baron yang miskin dari daerah. Bangsawan daerah biasanya menilai keunggulan seseorang berdasarkan bakat sihir dan Gift yang dimilikinya.

Dalam hal ini, Gift milik Kusuki adalah Medium yang tidak berguna sama sekali.

Mungkin ini semua gara-gara Gift sampah itu. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang berbakat, Kusuki tidak bisa menggunakan sihir dengan baik, sehingga ia selalu diperlakukan sebagai anak gagal.

Ia membenci lingkungan seperti itu dan bertekad untuk keluar dari rumah keluarganya suatu hari nanti. Saat berusia empat belas tahun, ia mengikuti ujian masuk Babel dan diterima di Akademi Ouboro.

Meski sudah masuk Akademi Ouboro, nilainya tetap buruk hingga ia harus tinggal kelas selama setahun. Setiap hari, ia juga harus menerima hinaan dan ejekan dari teman-teman sekolahnya.

"Pembohong! Di tengah kepungan kutukan yang begitu pekat tadi, hanya kau seorang yang selamat! Itu adalah bukti bahwa kapasitas Mana milikmu sangat luar biasa!"

"Tapi, seingatku kapasitas Mana miliku itu yang paling rendah...."

Kristal pengukur Mana pada saat ujian masuk berubah menjadi hitam, dan hal itu terjadi berulang kali. Mengingat ia hampir tidak bisa menggunakan sihir, mereka menyimpulkan bahwa kapasitas Mana miliknya terlalu sedikit untuk bisa diukur.

"Kapasitas Mana milikmu paling rendah, ya...."

Sepertinya Okame menganggap Kusuki sedang berbohong. Setelah meludahkan kata-kata itu, ia kembali menutup mulutnya.

Waktu berlalu cukup lama setelah kejadian itu. Akhirnya tak tahan lagi, Kusuki memberanikan diri untuk bertanya.

"Umm, monster-monster itu...."

Kusuki bertanya dengan ragu-ragu pada Okame yang sedang sangat kesal.

"Aku tidak tahu! Tapi, ada satu hal yang bisa kukatakan, tingkat bahaya dari bencana ini minimal ada di Kelas Kota. Skenario terburuknya, ini mungkin setara dengan ancaman Kelas Wilayah."

"Jangankan untuk mengalahkan mereka, sekadar melarikan diri dari rumah ini saja mustahil kalau hanya kita berdua."

Jawaban yang dilontarkan adalah fakta yang benar-benar memutus harapan dalam situasi ini.

"Kalau begitu, kita sudah..."

Rasa depresi dan keputusasaan menyebar dari dasar perut hingga ke kepalanya. Tentu saja begitu, karena bencana Kelas Wilayah berarti 'krisis yang berpotensi menghancurkan banyak kota sekaligus'.

Ini adalah situasi yang mengharuskan seluruh penyihir Babel dan Serikat Hunter turun tangan. Kusuki dan yang lainnya terjebak tepat di tengah-tengah tempat berbahaya semacam itu.

Artinya, hal yang menanti mereka berdua di sana adalah kematian yang tak terhindarkan.

"Kalian masih punya kesempatan."

Suara jernih itu membuat Okame tersentak bangun. Kusuki juga secara refleks menoleh ke belakang, ke arah sumber suara tersebut.

Di sana, berdiri seorang wanita yang mengenakan jubah putih bersih dengan tudung ditarik dalam-dalam. Kulit wanita itu pucat pasi tanpa nyawa, dan wajahnya ditempeli beberapa benda menyerupai jimat kutukan, yang menandakan bahwa ia jelas bukan manusia biasa.

"Kau... bukan manusia, kan?"

Okame menodongkan ujung tongkatnya pada wanita itu dan melontarkan pertanyaan.

"Benar, aku adalah makhluk mati yang dibunuh oleh kutukan di rumah ini di masa lalu, dan jiwaku telah ditawan."

"Makhluk mati? Jangan bercanda! Kapasitas Mana yang kau miliki ini bukan milik makhluk mati biasa! Kau paling tidak berada di kelas High Lich!"

Tepat ketika situasi berubah menjadi sangat tegang dan sewaktu-waktu bisa meledak....

"Kak Lucile. Aku membawa mereka!"

Dua anak perempuan kembar yang mengenakan gaun putih muncul dari balik punggung wanita berjubah putih tersebut. Tepat setelah itu, lantai berubah menjadi hitam, dan tiga orang pria serta wanita muncul dari dalam kegelapan itu.

"Instruktur Rakter! Instruktur Yoru! Senior Elish!"

Okame berseru gembira.

"Okame... ya. Di mana kita?"

Pria berwajah garang dengan rambut hitam model dua sisi pendek yang dipanggil Instruktur Rakter itu menatap Okame. Ia lalu mengamati sekelilingnya dengan waspada sambil memegang senjatanya.

"Saya tidak tahu! Saat sadar, saya sudah terkunci di sini! Kemungkinan besar wanita itu adalah penyebab utamanya!"

Ketika Okame mengarahkan ujung tongkatnya pada Lucile dan teman-temannya, bola api langsung muncul. Bola api tersebut membesar dengan cepat sambil berputar.

"Hentikan! Ada anak-anak juga di belakangnya!"

Seorang wanita berambut panjang biru berkilau dengan potongan asimetris langsung melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya. Ia berdiri menjadi perisai bagi Lucile dan anak-anak itu, meski harus menyeret kakinya yang terluka.

"Minggirlah, Senior Elish! Dia dan anak-anak di belakangnya itu semuanya Undead!"

"Memangnya kenapa? Cepat turunkan tongkatmu!"

Setelah berteriak, Elish juga menodongkan tongkat kecil di tangan kirinya ke arah Okame. Untuk beberapa saat, keduanya saling menatap dengan tajam.

"Ya, ya, hentikan, hentikan! Hentikaan! Ini perintah dariku!"

Instruktur Yoru menepuk tangannya dan melangkah di antara keduanya untuk memisahkan mereka. Kemudian, Instruktur Rakter menoleh pada Lucile.

"Tampaknya Anda telah menolong kami. Terima kasih."

Instruktur Rakter menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"T-tidak, bukan masalah besar."

Melihat Lucile yang menjawab dengan mata terbelalak kaget, Instruktur Rakter kembali memohon dengan nada sopan.

"Bisakah Anda menjelaskan situasi kita saat ini?"

Instruktur Rakter memohon penjelasan untuk situasi gila ini.

"Ya, aku memang berniat begitu."

Lucile mengangguk pelan sambil mengulas senyum lembut di bibirnya.

"Berdasarkan ceritamu, rumah ini benar-benar gawat..."

Setelah selesai mendengarkan cerita Lucile, Instruktur Rakter menyeka keringat di dahinya dan mengutarakan kesannya.

Victor Franz—penyihir paling kejam dalam sejarah Babel, sekaligus genius sihir kutukan terbaik sepanjang sejarah. Seharusnya, pria itu diabadikan sebagai pahlawan di Kuil Kehormatan Babel berkat berbagai pencapaian besarnya.

Namun, demi mengejar ilmu sihir kutukan terkuat, Victor mengorbankan penduduk kota Babel, murid-murid, bahkan rekan sesama penyihirnya sendiri dalam eksperimennya.

Para petinggi Babel baru mengetahui hal tersebut setelah banyaknya korban jiwa yang berjatuhan.

Tentu saja, Babel tidak bisa memaafkan kekejian semacam itu demi menjaga reputasi mereka.

Dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki Babel saat itu, tim eksekusi dibentuk untuk melenyapkan Victor.

Ketua Divisi Sihir pada saat itu—seorang wanita—ditunjuk sebagai komandan utama pasukan penakluk.

Di bawah komandonya, Victor akhirnya berhasil dihabisi, meski banyak korban yang harus dikorbankan.

Namun, Kutukan Tertinggi yang tengah diteliti oleh pria itu justru bangkit setelah menggunakan kematian Victor sebagai pemicu dan menyerap nutrisi dari lautan mayat di tempat itu.

Kutukan Tertinggi yang baru lahir tersebut telah mengutuk mati banyak anggota pasukan Babel yang ada di sana, termasuk sang komandan.

Mereka semua ditelan oleh rumah ini dan menjadi budak Kutukan Tertinggi.

Sejak saat itu, Babel telah berulang kali mencoba merobohkan rumah ini.

Namun, setiap kali dicoba, Kutukan Tertinggi menunjukkan taringnya dan mengutuk mati siapa saja yang berniat melukai rumah ini.

Kutukan Tertinggi yang telah menguasai rumah ini kemudian menobatkan dirinya sebagai 'Raja Kutukan'.

Ia memperbudak para makhluk mati dan mengutuk siapa pun yang berani menyusup masuk.

Di tengah situasi tanpa harapan tersebut, segelintir makhluk mati perlahan-lahan berhasil mengembalikan kesadaran mereka dan lepas dari kendali Raja Kutukan.

Merekalah Lucile dan gadis kembar itu, Din dan Bet. Kabarnya, ada beberapa entitas lain yang mengalami nasib serupa di rumah ini.

"Ini cerita yang sama dengan Empat Teror Babel yang terkenal sejak kami masih sekolah, kan? Tapi waktu itu ada banyak sekali siswa yang uji nyali di sini, dan situasi kacau seperti ini tidak pernah terjadi, lho?"

Ketika Instruktur Yoru bergumam mempertanyakan hal itu....

"Itu mungkin berkaitan dengan syarat khusus yang dimiliki oleh Raja Kutukan," balas Lucile dengan tenang dan terstruktur.

"Syarat khusus?"

Okame yang sejak tadi diam mendengarkan, mengernyitkan alisnya dan bertanya.

"Iya, yaitu jika ada yang mencoba merobohkan rumah ini, atau ada sekelompok orang bersenjata masuk dengan jumlah tertentu, mereka akan terseret ke dalam dimensi lain yang diciptakan oleh Raja Kutukan."

"Okame dan kawan-kawannya masuk ke rumah ini bertiga belas... eh, delapan orang, kan?"

Instruktur Yoru langsung menyela dan bertanya pada Lucile.

"Iya. Benar."

"Kalau begitu, ini aneh. Dulu, rombongan yang uji nyali ke sini ada belasan orang. Tapi tidak terjadi apa-apa pada mereka. Kenapa kelompok Okame yang berjumlah delapan orang ini justru diseret masuk? Ini tidak masuk akal, kan."

"Sebelumnya, kecuali jumlah orangnya mencapai puluhan, mereka tidak akan terseret masuk ke rumah ini. Tapi beberapa hari lalu, kutukan rumah ini mendadak menjadi jauh lebih kuat."

"Akibatnya, kalian semua yang seharusnya tidak bermasalah pun akhirnya terseret masuk ke mari."

"Kau tahu apa penyebab yang membuat kutukannya menguat dengan pesat?" tanya Instruktur Rakter.

"Saya sungguh minta maaf."

Lucile menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah penuh sesal.

"Tak apa. Yang lebih penting sekarang adalah apa yang harus kita lakukan selanjutnya."

"Memalukan memang, tapi kita saat ini terisolasi dan harus meminta bantuan dari luar. Nona Lucile, apakah ruangan ini saat ini adalah zona aman?"

"Iya. Seiring dengan peningkatan kekuatan dari Kutukan Tertinggi beberapa hari yang lalu, kekuatan kami yang terhubung dengannya juga meningkat drastis. Berkat itu, kami bisa menciptakan ruangan yang tak bisa dimasuki oleh mereka."

Mendengar perkataan Lucile, ekspresi tegang di wajah semua orang menjadi sedikit lebih rileks.

"Langkah selanjutnya adalah meminta tim penyelamat. Kita sudah pastikan kalau komunikasi dengan luar menggunakan sihir atau Skill telepati tidak bisa digunakan."

"Masalahnya adalah bagaimana cara keluar dari rumah ini untuk mencari bantuan. Ruang di luar sana sudah terdistorsi, tak peduli seberapa jauh berlari di lorong lantai tiga, kami tidak pernah sampai di jendela. Bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari sini?"

"Pintu depan di lantai satulah satu-satunya jalan keluar," jawab Lucile.

"Normalnya itu tidak mungkin. Kita semua saja sampai kewalahan sekadar untuk lari dari makhluk-makhluk itu," bantah Instruktur Yoru.

Di tengah keputusasaan yang kembali menyelimuti mereka akibat penolakan itu....

"Jika kutukan itu menganggap bahwa para penyusup seperti kalian sudah menghilang, rumah ini akan kembali sunyi seperti semula. Kalau itu terjadi, dia juga akan kembali tertidur dan tidak bisa bertindak apa-apa."

"Sebagai bagian dari rumah ini, kami bisa mengantarkan kalian sampai ke pintu depan dengan aman."

Mendengar usulan Lucile itu....

"Kalau begitu, aku mungkin bisa melakukannya!"

Elish berseru dengan lantang. Ia mengeluarkan selembar kertas dari balik bajunya, menuliskan sesuatu dengan cepat di atasnya, lalu meletakkan kertas itu di lantai.

Setelah itu, Elish memejamkan mata rapat-rapat sambil menangkupkan kedua tangan.

Kertas itu pun perlahan menggelembung dan berubah menjadi seekor burung putih, lalu terbang dan hinggap di bahu Elish.




"Itu... apa itu?"

Rutile membelalakkan mata karena terkejut.

Sambil menatap burung berwarna putih yang hinggap di bahunya dan sedang merapikan bulunya, Elish menjawab, "Seperti ini, aku bisa meniupkan kehidupan sementara ke dalam sehelai kertas.

Kalau aku menggunakan kemampuan ini untuk terbang sampai ke Babel di luar sana, anak ini akan kembali menjadi kertas."

"Meniupkan kehidupan? Hal tidak masuk akal seperti itu..."

"Burung ini bisa berubah menjadi kertas maupun burung atas kehendakku satu-satunya. Selain itu, aku juga bisa membagikan sudut pandangku denganku melalui kertas ini."

Mendengar penjelasan dari Elish tersebut, "T-Tunggu sebentar! Elish, bukankah Berkah Gift milikmu itu adalah kemampuan deteksi krisis bernama Premonition!?"

Instruktur Yoru panik dan menyela perkataan Elish sambil meninggikan suaranya.

"Ya, dulu memang benar begitu. Hanya saja, aku baru saja terbangun dengan kekuatan aneh ini setelah terseret ke dalam sebuah insiden belakangan ini. Baru belakangan inilah aku bisa mengendalikannya sejauh ini."

"Elish, kamu sama sekali tidak dalam bahaya kan dengan kemampuan itu?"

Instruktur Ractor memastikan kepada Elish dengan nada yang tegas.

"Ya, ini kan sekadar kertas yang bergerak berdasarkan nyawaku, jadi seandainya dihancurkan pun, tidak ada bahaya sama sekali bagiku."

"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk ragu. Serahkan tugas ini pada Elish."

"T-Tapi, bukankah kamu baru beberapa hari ini bisa mengendalikan kemampuan itu! Kalau sampai terjadi sesuatu meski itu satu dari sejuta—!"

"Yoru, Elish juga bagian dari menara. Perhatian yang berlebihan itu sama saja dengan menghina!"

"A-Aku tahu, kok!"

Yoru membuang muka dengan wajah cemberut.

"Yoru-san, aku benar-benar baik-baik saja. Tapi, terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

Elish menunduk dalam-dalam.

◇◆◇

Berkah Gift milik Elish adalah kemampuan di mana setiap kali krisis mendekat yang disebut Premonition, ia akan diserang oleh sakit kepala hebat dan pusing yang membuatnya tidak bisa berdiri.

Kemampuan itu aktif tanpa konteks dan tanpa memilih waktu serta tempat, hingga membuatnya pingsan. Jika aktif di tengah pertarungan melawan monster, itu berarti kematian seketika.

Ayahnya, Ralph Excel, mengkhawatirkan hal itu dan sangat menentang keras Elish menjadi seorang Hunter.

Tapi, Hunter adalah impian Elish sejak kecil. Meskipun ia tidak begitu ingat pemicunya, hanya api kerinduan pada Hunter yang tidak pernah padam dan terus membara di dalam diri Elish.

Namun, sejak hampir mati dalam sebuah insiden, kemampuan deteksi krisis ini menghilang dan berganti dengan kesadaran akan kekuatan misterius ini.

Yaitu kemampuan untuk meniupkan kehidupan ke dalam kertas. Elish sangat gembira dengan kemampuan yang sangat praktis ini.

Karena dengan ini, ia pasti bisa memenuhi syarat yang diberikan oleh ayahnya.

(Aku akan melakukannya!)

Ia yakin jika ia bisa melewati kesulitan ini, ayahnya akan mengakui dirinya menjadi Hunter. Justru karena itulah, bagaimanapun caranya, ia harus membuat misi ini sukses.

Beberapa jam kemudian, setelah memastikan rumah besar itu menjadi tenang, ia memutuskan untuk mulai bertindak.

Ia memasukkan kekuatan sihir ke dalam sehelai kertas yang berisi detail rinci mengenai situasi krisis yang terjadi di rumah besar ini, lalu membayangkan wujud seekor burung.

(Sampaikan kepada Kepala Akademi Chloe di Babel!)

Ia berdoa begitu. Kertas itu lantas memancarkan cahaya keemasan, dan sesaat kemudian, satu sudut pandang tambahan yang menjadikan kertas tersebut sebagai titik pandangnya bertambah di dalam kepalanya.

Butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri dengan kondisi memiliki dua sudut pandang secara bersamaan ini.

 Awalnya ada rasa tidak enak badan seperti orang mabuk perjalanan, dan itu tidak bertahan lama, tetapi jika terus dicoba tanpa menyerah, ia menjadi jauh lebih terbiasa.

Sekarang, ia bahkan bisa memproses sudut pandang secara bersamaan hingga sekitar tiga sudut pandang sekaligus selama kurang lebih tiga jam.

"Tolong lakukan ini."

Begitu diserahkan kepada Rutile,

"Serahkan padaku."

Begitu ia menerima kertas tersebut dengan senyuman, sosoknya langsung menghilang dari hadapan Elish dan yang lainnya.

Pada saat yang sama, sudut pandang berpindah ke lorong rumah besar. Rutile berjalan menyusuri lorong yang sudah reyot.

Tempat itu, seperti yang dikatakan oleh Rutile dan yang lainnya, tidak lebih dari sebuah rumah besar yang telah berubah menjadi reruntuhan tanpa ada keanehan sama sekali.

Seperti yang ia katakan, kutukan pamungkas itu saat ini sedang berada dalam kondisi tertidur.

Rutile akhirnya tiba di depan pintu besar di pintu masuk utama lantai satu.

"Pintu ini hanya bisa dibuka sesaat saja. Lebih dari itu, mereka akan menyadari kita."

(Dimengerti!)

Wanita itu mengangguk kecil, lalu perlahan membuka pintu tersebut.

Ia membayangkan kertas itu berubah wujud menjadi burung. Begitu keluar dari pintu, burung itu mengepakkan sayapnya menuju ke langit atas.

◇◆◇

Victor Franz tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, sementara wajahnya yang melepuh tersembunyi di balik tudung jubah hitamnya, menunjukkan ekspresi yang buruk.

Victor adalah mantan ahli sihir terhebat di Babel yang berubah menjadi Undead seiring dengan lahirnya Raja Kutukan.

"Khihi! Ihihihi! Khihihi! Menyenangkan, menyenangkan! Tanpa sadar bahwa diri mereka sendiri bertindak sebagai umpan yang memancing mangsa, mereka pasti sedang bersenang-senang dan menari gembira sekarang ya! Tapi— taaaapiiii— say sekali yaaa! Disengaja loh, se-n-ga-ja!"

Kutukan yang dibesarkan oleh Victor telah mencapai tahap akhir berkat evolusi yang terjadi beberapa hari yang lalu.

"Sebentar lagi... sebentar lagi, kutukanku akan sempurna!"

Yang tersisa hanyalah menghilangkan batasan spasial yang dibatasi di dalam rumah besar ini, maka kutukan pamungkas yang diinginkan oleh Victor akan selesai.

Benar, Hanya kurang sedikit lagi.

Jika evolusi terakhir ini memperoleh jiwa yang mengandung banyak kekuatan sihir, maka kutukan tersebut akan terbebas dari batasan di tanah ini dan dilepaskan ke seluruh dunia.

Orang-orang bodoh itu telah meminta pertolongan ke luar. Para penyihir elit Babel yang bersenjata akan segera menyerbu rumah besar ini.

Ia akan menjadikan para elit itu sebagai kurban untuk membakar kayu bakar terakhir yang disebut evolusi pada kutukan tersebut.

"Aku sebagai pencipta kutukan ini pun akan selangkah lebih dekat ke jurang magis."

Tujuan akhir Victor adalah mencapai jurang magis, yang merupakan impian para penyihir dan titik akhir pencapaian tertinggi. Kutukan ini dan Victor memiliki ikatan jiwa yang kuat.

Jika kutukan ini mencapai puncak yang sesungguhnya, wajar saja jika Victor yang terhubung dengannya juga turut berevolusi.

Evolusi ini bukanlah sesuatu yang setengah-setengah, melainkan sama persis dengan mencapai makhluk transenden, yaitu Transcendeter.

Mencapai dewa dengan wujud manusia, itulah tiket platinum menuju kebenaran ilmu sihir dan satu-satunya jalan yang menuju ke jurang yang dalam.

"Mengingat mereka telah membuat permintaan penyelamatan ke Babel sesuai rencana, maka mereka sudah tidak berguna lagi. Sisanya, tinggal melenyapkan wilayah terkutuk itu dan membiarkan Raja Kutukan—anakku—menyerap 'spesial' itu."

Bocah berambut mangkuk itu, hanya dia satu-satunya yang bisa bergerak dengan tenang bahkan di dalam wilayah kutukan Raja Kutukan, anakku.

Sejauh ini, satu-satunya pihak yang bisa menepis kutukan dari Raja Kutukan yang telah berevolusi hanyalah mereka yang memiliki kekuatan sihir dalam jumlah tertentu.

Jika itu dilakukan melalui sihir atau item untuk menghilangkan kutukan seperti yang dilakukan oleh bocah berpipi tembem itu, maka ia bisa memahaminya.

Namun, dari bocah itu, sama sekali tidak ada jejak peluncuran sihir yang terdeteksi. Itu tidak lain dan tidak bukan berarti ia meniadakan kutukan dari Raja Kutukan hanya dengan kekuatan sihir murni.

"Seandainya anakku, sang Raja Kutukan, menyerap hal itu..."

Tentu saja ia tidak berpikir bahwa hanya dengan satu orang penyimpang tunggal saja, anakku sang Raja Kutukan akan mencapai kesempurnaan.

Meskipun tidak begitu, setidaknya sudah pasti akan sangat mendekati kesempurnaan. Itu akan menjadi penentu tercapainya tujuan Victor.

"Persiapannya sudah luar biasa, tinggal dorongan terakhir saja."

Wilayah invasi yang dibuat oleh Rutile memiliki karakteristik yang sangat kuat dari luar, tetapi rapuh dari dalam. Selain itu, di dalam sana terdapat mangsa yang empuk.

Menolong mereka sama persis dengan situasi bebek yang membawa daun bawang di punggungnya.

Sisanya, ia hanya perlu membisikkan kata-kata di telinga bebek bodoh itu, maka hasil yang diinginkan Victor akan tercapai.

"Sebentar lagi, aku juga akan mencapai dewa. Mmm, membara! Membara rasanya!"

Victor membayangkan dirinya yang akan segera menjadi dewa, lalu melontarkan kata-kata penuh hasrat dari mulutnya dengan ekspresi ekstase.

◇◆◇

"Hmm, sepertinya kita tidak bisa menemukan tempat tinggal, ya."

Masalah yang kini berdiri di hadapan kami adalah tempat tinggal.

Pendaftaran masuk ke Akademi Ouboro telah diputuskan secara resmi kali ini, dan kita membutuhkan basis di Babel, tetapi rumah besar yang selama ini ditinggali oleh Roze tidak bisa digunakan lagi karena suatu keadaan.

Menemukan tempat tinggal baru di Babel telah menjadi prioritas yang mendesak.

Alasan mengapa kami yang menyukainya diusir dari rumah besar tempat tinggal Roze adalah karena sistem yang merepotkan di Kota Akademi Babel.

Hal itu sangat berkaitan erat dengan distrik-distrik di Babel.

Distrik di Babel ini terbagi menjadi enam wilayah.

Distrik Pertama — Pusat kota Babel. Tepat di tengah-tengah Babel, terdapat Menara Babel yang menjulang tinggi menembus awan, dipenuhi oleh kantor pusat Guild Hunter yaitu Central Center, serta gedung kedutaan besar dari berbagai negara.

Distrik Kedua — Bagian tengah utara Babel. Tempat yang menjadi zona tempat tinggal para keluarga kerajaan dari berbagai negara serta orang-orang paling penting.

Di Distrik Kedua juga terdapat fasilitas komersial tersendiri, dan untuk memasuki toko-toko di sini, diperlukan kualifikasi atau syarat tertentu.

Distrik Ketiga — Bagian barat laut Babel. Terutama merupakan zona tempat tinggal para guru menara serta mereka yang terdaftar di Menara Babel yang merupakan para super-elit.

Demi alasan kerahasiaan, seluruh fasilitas di sini dilarang keras dimasuki oleh orang-orang selain yang terdaftar di Menara Babel.

Distrik Keempat — Bagian timur laut Babel. Berjejer toko-toko mewah dan terdapat akademi kelas atas. Terdapat juga zona tempat tinggal para kalangan atas seperti para bangsawan dan lulusan Menara Babel.

Toko-toko di sini pada prinsipnya tidak memiliki batasan masuk, namun karena sejak awal menargetkan lapisan berpenghasilan tinggi dengan harga yang mahal, harganya sangat tidak terjangkau bagi pelajar biasa.

Distrik Kelima — Wilayah yang membentang dari timur ke barat di bagian tengah Babel, tidak termasuk Distrik Pertama.

Ini adalah distrik sekolah yang paling luas dan berpenduduk paling padat di Babel.

Distrik yang memiliki banyak fasilitas komersial dan akademi dengan prestasi kelas menengah.

Distrik Keenam — Bagian selatan Babel. Distrik tempat berdirinya akademi-akademi kelas bawah. Keamanannya juga dinilai sebagai yang paling buruk di Babel.

Dari Distrik Pertama hingga Keenam ini, wilayah yang ditetapkan sebagai zona tempat tinggal adalah dari Distrik Kedua hingga Keenam.

Berdasarkan dalih bahwa jarak tempuh sekolah para pelajar tidak boleh terlalu jauh, pada prinsipnya mereka disarankan untuk tinggal di distrik tempat akademi mereka berada.

Mengingat Roze dulunya bersekolah di akademi kelas atas, seharusnya ia tinggal di Distrik Keempat, namun tampaknya ia mendapatkan izin khusus untuk tinggal di rumah besar di Distrik Kelima tersebut karena alasan jaraknya yang dekat dari akademi.

Meskipun begitu, izin semacam itu hanya diberikan jika turun peringkat secara mandiri seperti dari Distrik Keempat ke Kelima, sebaliknya jenis tempat tinggal yang menaikkan peringkat seperti menginginkan dari Distrik Kelima ke Keempat adalah hal yang tidak mungkin.

Pada akhirnya, kami dipaksa untuk mencari pangkalan di Distrik Keenam tempat Akademi Ouboro berada.

Awalnya, beberapa kandidat rumah tempat tinggal Roze sempat dibawa, namun semuanya pada akhirnya ditolak.

Kemungkinan besar ini adalah akibat tekanan dari faksi Wakil Kepala Akademi Babel yang baru.

Berdasarkan informasi dari Gil, Wakil Kepala Akademi Rasputin Graheart adalah seorang penyihir yang berasal dari Kerajaan Amelia dan merupakan bangsawan tingkat tinggi tulen yang memegang gelar Adipati.

Faksi Wakil Kepala Akademi tampaknya sedang memperluas pengaruh mereka saat ini dengan menjadikan Rasputin sebagai boneka mereka.

Para bangsawan tinggi Kerajaan Amelia pada dasarnya adalah faksi anti-Roze. Mereka bahkan membenci Roze yang secara terang-terangan menyangkal sistem aristokrasi saat ini.

Lebih jauh lagi, kaum bangsawan mendasarkan diri pada ajaran Dewa Perang Suci Ares dan menganut paham supremasi Gift.

Mereka pastinya tidak akan pernah mau mengakui pengawal kerajaan sepertiku yang merupakan pemegang Gift paling tidak berguna di dunia ini. Alasan untuk dikerjai pun sama sekali tidak kurang.

Pada akhirnya, bahkan seminggu sebelum masuk Akademi Ouboro, tempat tinggal sama sekali belum juga ditentukan.

Aku memiliki Faf, Mari, dan yang lainnya. Kita tidak mungkin tidur di jalanan. Ketika aku hendak mulai menangani tindakan pencegahan secara serius, aku menerima panggilan dari Guild Hunter.

Aku mengunjungi fasilitas berlantai tiga yang terletak di sebelah Central Center dari Guild Hunter yang telah ditentukan.

"Kai, tolonglah! Berikan aku pinjaman kekuatanmu!"

Pahlawan besar para Hunter, Ralph Excel, memohon kepadaku dengan wajah penuh ketegangan sambil menempelkan dahinya ke atas meja.

"Para siswa asal Kerajaan Amelia melakukan uji keberanian lalu tersesat, dan anggota bagian keamanan Menara Babel yang dikirimkan untuk penyelamatan mereka malah mengalami bencana susunan kedua. Di antara petugas bagian keamanan itu, putrimu Elish Excel yang merupakan tahun akhir juga ikut berpartisipasi untuk pelatihan praktis?"

"Ya, ada permintaan penyelamatan dari Elish yang terjebak di dalam rumah besar itu! Bagaimanapun juga, pasukan keamanan Babel telah musnah! Ini tanpa ragu adalah situasi darurat!"

Ralph memegangi kepalanya dan menjawab dengan nada suara yang menyerupai erangan.

Rupanya situasinya adalah seperti ini.

Di ujung barat daya Distrik Keenam, terdapat sebuah rumah besar yang dikelola oleh Babel.

Rumah besar itu dulunya dimiliki oleh seorang penyihir terkenal di menara.

Penyihir tersebut diam-diam melakukan eksperimen sihir kutukan di rumah besar ini setiap malam, yang menyebabkan banyak korban jatuh dari kalangan siswa Babel dan warga biasa.

Pihak pimpinan Babel saat itu yang menyadari perbuatan sang penyihir memutuskan untuk menyingkirkan si penyihir.

Mereka mengirimkan pasukan penakluk ke rumah besar itu untuk menghabisi si penyihir. Hasilnya, ditemukan ratusan mayat mengenaskan dari siswa Babel dan warga kota di dalam rumah besar tersebut.

Kegagalan untuk menghentikan kebiadaban penyihir tersebut terhadap para siswa Babel dan warga kota adalah noda terbesar sejak berdirinya Babel.

Pihak pimpinan Babel saat itu berusaha untuk langsung mengubur fakta tersebut ke dalam kegelapan.

Namun, para penyihir yang berniat membakar rumah besar tersebut tewas akibat sambaran petir yang tidak wajar.

Lebih jauh lagi, insiden-insiden seperti petugas Babel yang mencoba membongkar rumah besar tersebut menemui kematian mencurigakan terus terjadi secara beruntun.

Babel telah berkali-kali mencoba melakukan pembongkaran rumah besar tersebut, namun setiap kali pula kematian mencurigakan terjadi.

Terlebih lagi, bukan hanya orang yang mencoba membongkar itu saja, melainkan seluruh keluarga hingga teman-teman mereka pun turut tewas.

Sejak saat itu, rumah besar yang berada di Distrik Keenam tersebut ditetapkan sebagai zona bahaya tingkat pertama dan dilarang dimasuki oleh siapapun.

Hanya saja, meskipun rumah besar ini terus dikelola oleh Babel, karena waktu yang berlalu sudah terlalu lama, kesadaran mengenai bahaya rumah besar ini semakin memudar.

Terlebih lagi, karena tidak ada bahaya apapun kecuali jika rumah besar itu dibongkar, tempat ini akhirnya diperlakukan sekadar sebagai legenda saja.

Terlebih lagi, yang paling parah adalah bahkan departemen keamanan Babel yang mengelola bahaya rumah besar itu pun tidak memahami bahayanya secara akurat.

Para instruktur tampaknya pergi melakukan investigasi ke rumah besar itu bersama para siswa praktik Babel tanpa rasa krisis yang berarti. Akibatnya, mereka jatuh ke dalam situasi terburuk berupa bencana susunan kedua hingga saat ini.

"Dengan menanggung malu, aku pun ingin meminta tolong kepadamu."

Kepala Akademi Pengawas Babel yang baru, Chloe Valentine, yang duduk di sebelah sofa Ralph, turut memintaku juga.

Dari tampilannya, keduanya tampak sangat cemas. Tempat ini adalah Babel, dan para penyihir yang berafiliasi di dalam pasukan keamanannya.

Mereka sudah pasti sangat luar biasa. Terlebih lagi, Babel ini adalah tempat di mana markas besar Guild Hunter berada.

Untuk sebagian besar krisis, Babel dan Guild Hunter saja sudah lebih dari cukup untuk menanganinya.

Lalu apa alasan kedua orang itu sampai datang bersamaan untuk menyerahkan masalah ini kepadaku?

Tentu saja, bisa jadi karena putri kandung mereka sendiri, Elish Excel, juga ikut terseret. Tapi, bagaimanapun juga Ralph adalah penanggung jawab tertinggi di Guild Hunter.

Dia tidak mungkin meminta tolong padaku hanya karena merasa khawatir saja. Begitu juga dengan Chloe.

Meminta tolong padaku sama saja dengan mempermalukan diri sendiri di dalam Babel.

Sama seperti sebelumnya, mereka pasti menilai bahwa ini adalah krisis yang tidak bisa diselesaikan kecuali oleh diriku.

Menarik sekali. Misi tingkat bahaya S di mana Hunter biasa tidak bisa mengatasinya?

Belakangan ini musuh-musuh yang ada kurang menantang, jadi aku sudah merasa cukup frustrasi.

Kalau musuhnya yang itu, sepertinya akan menjadi pertarungan yang cukup menyenangkan.

"Kai, bagaimanapun juga ini berbahaya! Ini adalah masalah pada tingkat yang harus ditangani oleh seluruh organisasi Babel dan Guild Hunter secara keseluruhan!"

Menanggapi argumen Roze yang sangat masuk akal itu,

"Nona Roze, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku komentari, tapi coba lihat wajah Master."

Asta yang berdiri di sisiku melempar komentar usil. Menanggapi perkataan Asta itu, Roze mengalihkan pandangannya kepadaku yang duduk di sebelahnya, lalu sempat menatapku lekat-lekat untuk beberapa saat dengan wajah yang menegang hebat sebelum akhirnya,

"Ya, aku jadi sangat-sangat mengerti kalau tekadmu sama sekali tidak akan terguncang oleh cara apapun."

Ia menghela napas panjang, menutup kedua matanya, menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, lalu mengeluarkan ucapan yang tidak jelas artinya.

"Sepertinya kita sudah mendapat persetujuan secara de facto, jadi mari kita terima saja."

Menanggapi persetujuanku atas permintaan tersebut,

"Aku berutang budi padamu!"

"Tuan Kai, terima kasih banyak!"

Baik Ralph maupun Chloe sama-sama memasang ekspresi lega dan menyampaikan rasa terima kasih mereka.

"Meskipun begitu, dalam menerima ini aku punya syarat, apakah tidak apa-apa?"

"Selama itu hal yang bisa kami lakukan, apa pun akan kami lakukan! Chloe, kalian pihak Babel juga setuju dengan itu, kan!?"

Dia pasti sangat putus asa. Sambil menatap Chloe dengan mata memerah, ia menegaskan dengan nada suara yang tidak membantah.

"T-Tentu saja! Silakan perintahkan apa saja!"

"Kalau begitu, begitu masalah ini terselesaikan, aku ingin kalian menyerahkan lahan dan rumah besar yang menjadi masalah kali ini kepada kami."

Aku menyebutkan syarat yang bisa menyelesaikan masalah yang sedang kami hadapi saat ini sekaligus dalam sekali jalan.

◇◆◇

Kira-kira sekitar empat jam sejak Elish memanggil bantuan ke jajaran petinggi Babel menggunakan kemampuannya, Kushi dan yang lainnya menunggu datangnya bala bantuan di dalam penghalang yang dibuat oleh Rutile.

『Nona Rutile, sepasang pria dan wanita muda yang tampaknya merupakan pasangan kekasih telah masuk melangkah ke dalam rumah besar ini. Apa yang harus kita lakukan?』

Sesosok hantu pemuda berpenampilan ksatria yang tampaknya merupakan anak buah Rutile melaporkan hal tersebut.

『Pasangan kekasih... itu bukan bala bantuan dari Babel ya.』

Dalam bergumam yang sedikit mengandung kekecewaan,

"Begitu ya. Aku juga sudah memeriksa tulisan yang dibuat oleh Elish, tapi kalau membaca tulisan itu, mereka seharusnya... tidak salah lagi pasti akan mengirimkan para elit Babel."

Mengingat perkataan Instruktur Ractor yang entah mengapa terdengar kurang meyakinkan, sedikit keroncongan melanda perasaan semua orang.

"Maksudmu ada kemungkinan mereka tidak mengirimkan bala bantuan karena perebutan faksi yang tidak penting, begitu? Tapi, kita tidak berfaksi dan ada Elish. Kalau mereka sampai ceroboh menghalangi bala bantuan, itu bisa berujung pada urusan dengan seluruh kekuatan penuh para Hunter. Aku tidak berpikir mereka akan melakukan kebodohan seperti itu. Bukannya begitu?"

Instruktur Yoru meminta persetujuan kepada Instruktur Ractor dengan suara ceria yang sama sekali tidak cocok dengan situasi tegang ini.

Elish rupanya adalah orang yang secara tidak langsung mampu menggerakkan organisasi bernama Hunter.

Kalau begitupun, mereka akan segera mengirimkan bala bantuan dengan cepat.

Yah, meskipun itu sangat memprihatinkan karena hanya mengandalkan bantuan orang lain.

"Begitulah. Pada akhirnya, kita hanya bisa percaya dan menunggu bala bantuan. Kita sebaiknya tidak terlalu memikirkan hal-hal yang buruk saja."

"Ya, sifat terlalu khawatir itu adalah keburukan Raku-chan, loh. Tenang saja. Nona Chloe pasti akan segera mengirimkan banyak sekali pasukan elit Babel."

Mendengar kalimat penuh percaya diri dari Instruktur Yoru, alis tajam para siswa sedikit mengendur.

"..."

Elish yang namanya sempat menjadi topik pembicaraan tidak ikut bergabung ke dalam obrolan, melainkan melemparkan pandangannya jauh ke depan dan tampak berpikir tanpa melihat apapun.

『Kalau begitu, kita anggap pria dan wanita yang telah masuk ke dalam rumah besar kali ini diminta untuk pulang saja, ya?』

"Ah, tolong lakukan itu. Sepertinya kita tidak tahu apa yang akan terjadi di rumah besar ini sekarang. Aku tidak ingin menambah korban lagi."

『Tomyam, Bibin, bisakah kalian meminta tolong untuk mengurusnya?』

『Tentu saja.』

『Saya mengerti.』

Bibin, seorang wanita berwajah pucat berbusana pelayan, dan Tomyam, seorang pria hantu berpenampilan ksatria, membungkuk kecil,

『Din juga ingin ikut melakukannya!』

Begitu Dean, salah satu anak perempuan kembar hantu, mengangkat tangan kanannya dengan penuh semangat ke arah Rutile,

『De-Dean, ayo hentikan!』

Bet, sang anak perempuan kembar, berpegangan pada Dean dengan wajah penuh kecemasan dan mencoba menghentikannya.

『Dean bisa melakukannya dengan baik kok! Aku akan tunjukkan kalau aku berguna!』

Dean mengepalkan kedua tangannya untuk menyatakan tekadnya.

『T-Tapi ya, kalau tertangkap oleh mereka—』

『Mereka kan sedang tidur sekarang jadi tidak apa-apa!』

『Kalau mereka bangun, Dean mungkin akan mati, tahu!』

『Hi-hi-hi! Bet, Dean dan yang lainnya kan sudah mati!』

Sambil menggoyangkan telunjuk kirinya, Dean mengucapkan kalimat tersebut dengan wajah penuh keyakinan. Bet memasang wajah yang hampir menangis dan meminta tolong kepada Rutile dan Senior Elish.

"Dean-chan, mari kita menunggu bersama kami!"

Elish berbicara kepada Dean dengan nada seolah membujuknya dengan lembut.

Sekalipun tidak memenuhi syarat di mana kutukan rumah besar ini menjadi aktif, kemungkinannya tetap bukanlah nol.

Kutukan di rumah besar ini sangat luar biasa ganasnya.

Jika tertangkap, bahkan anak kecil pun akan mengalami hal yang mengerikan. Elish mengkhawatirkan hal itu.

『Dean juga ingin membantu Tomyam dan yang lainnya!』

Sambil menatap Dean yang bersikeras tidak mau mendengarkan, Rutile terdiam sejenak dengan wajah penuh pertimbangan, lalu mendekat dan membungkukkan badannya. Dan kemudian—.

『Dean, ini adalah tugas yang sangat penting sekaligus berbahaya. Kamu paham akan hal itu, kan?』

『U-Um.』

Mendengar Dean mengangguk ragu-ragu,

『Tugas ini, aku serahkan kepadamu.』

"Rutile! Kamu—"

Elish hendak mengeluarkan suara protes, namun Instruktur Yoru meletakkan tangannya di pundak kanan Elish dan menggelengkan kepalanya lebar-lebar ke kiri dan ke kanan. Itu sepertinya bermaksud mengatakan, biarkan Rutile yang mengurusnya.

『Namun, ada persyaratannya.』

『Persyaratan... ya?』

『Ya, begitu tugas ini selesai, Dean, kamu sudah memberikan kontribusi yang lebih dari cukup kepada kami. Kamu tidak perlu melakukan hal apa pun lagi setelah ini. Oleh karena itu, berjanji lah untuk berdiam diri di sini bersama Bet mulai sekarang. Bisakah kamu berjanji tentang hal itu?』

『U-Um, aku mengerti! Aku berjanji!』

Rutile dengan lembut mengelus kepala Dean yang mengangguk dengan wajah serius, lalu

『Dean, aku menaruh harapan padamu.』

Begitu Rutile mengarahkan tatapan penuh makna, Tomyam dan Bibin mengangguk kecil tanpa suara. Kemudian mereka menggandeng tangan Dean dan menghilang.

『Rutile! Dean pergi!』

Rutile memeluk Bet yang sedang menangis sesenggukan sambil memegang ujung lengan bajunya sendiri, lalu

『Mengingat mereka sudah menginjakkan kaki ke dalam rumah besar ini sejak awal, jika kutukan itu bangkit karena masuknya dua orang itu, seharusnya ia sudah menunjukkan taringnya sekarang. Tidak bangkitnya kutukan adalah bukti bahwa kutukan rumah besar ini tidak akan bangkit hanya karena masuknya dua orang tersebut. Tomyam dan Bibin juga ikut mendampingi. Kalau sekadar mengusir sepasang kekasih, sama sekali tidak perlu dikhawatirkan.』

Ia menegaskan hal itu dengan senyuman dan nada bicara yang ceria serta penuh rasa percaya diri.

『Benarkah?』

『Ya, benar. Oleh karena itu, Bet juga mari kita menjadi anak baik bersama kami, ya?』

『Un!』

Begitu merasa akhirnya bisa tenang, Bet memunculkan senyuman.

Maksud dari Rutile itu pun dapat dipahami oleh Kushi.

Kemungkinan besar, dengan cara pemimpin Rutile sendiri yang memberikan misi kepada Dean yang cenderung bertindak di luar kendali, hal itu memiliki makna untuk memuaskan perasaan Dean dan mencegah tindakan yang tidak dapat diprediksi setelahnya.

Itu adalah keputusan yang memang hanya bisa diambil jika seseorang benar-benar memahami anak bernama Dean tersebut.

"Hei, Kushi! Aku punya satu hal yang ingin aku mintakan darimu, bolehkah?"

Okame berbicara kepada Kushi dengan wajah penuh keseriusan.

"A-Ada apa ya?"

Pada waktu seperti ini. Bagi Kushi, ini bukanlah hal yang bagus. Sambil terbata-bata hebat, ia menanyakan isi permohonan dari Okame.

"Tenaga hidup Mana dalam jumlah banyak diperlukan untuk kartu truf miliki ku. Bisakah kamu memberikan sekitar seperlima dari tenaga hidup Mana-mu? Kalau hanya sebesar itu, ia akan pulih dalam waktu setengah hari, dan itu tidak akan membahayakanmu."

"Tenaga hidup Mana milikku... ya?"

Mana secara harfiah adalah tenaga hidup. Ia pernah belajar di sekolah bahwa jika semuanya habis, bahkan kematian pun bisa terjadi.

Meskipun begitu, ia tahu betul bahwa Okame bukanlah orang yang akan merebut sesuatu dari Kushi tanpa alasan. Sudah pasti ada tujuan yang bersifat membalikkan keadaan.

"Ya, benar. Kontrakku dengan Ular Api memerlukan tenaga hidup Mana dalam jumlah tertentu dari sisiku."

"Kontrak dengan Ular Api, apakah itu Soul Servant Contract?"

Menanggapi pertanyaan dari Instruktur Ractor,

"Ya. Kalau Ular Api miliknya, ia sama sekali tidak akan kalah dari kutukan semacam itu."

Okame mengangguk besar dan mengiyakannya.

"Undead lemah terhadap api. Kalau Ular Api milik Okame-chan, itu mungkin memang akan memberikan efek, ya."

Instruktur Yoru meletakkan tangannya di dagu dan memberikan penilaian positif terhadap usulan Okame,

"Namun, kenapa harus dia? Pemberian tenaga hidup Mana itu, apa tidak bisa dilakukan oleh aku atau Yoru?"

Instruktur Ractor melontarkan pertanyaan sambil menatap Kushi,

"Orang seperti Kushi itu hanya berguna di saat seperti ini saja! Seperti kata Senior Okame, suruh saja Kushi yang menyediakan tenaga hidup Mana-nya!"

Tepat seperti dugaan, Maim melontarkan kalimat yang tidak mengkhianati ekspektasi. Selama ini ia terus-menerus disembur dengan makian semacam ini. Ucapan Maim ini sama sekali tidak terasa aneh sedikit pun.

Malahan, pada saat seperti ini, akan jauh lebih aneh jika Vitami yang biasanya paling awal membuat keributan justru bersikap tenang.

Sejak menyadari keadaannya, Vitami sama sekali tidak berbicara dengan siapapun, melainkan menggigiti kuku ibu jarinya di sudut ruangan sambil bergumam-gumam sendiri, memberikan kesan yang sangat tidak menyenangkan.

"Orang yang tidak berguna, diamlah!"

Okame melontarkan bentakan kemarahan yang jauh lebih tajam dari biasanya. Kepada Maim yang tampak kebingungan, Okame kembali menghadap ke arah Instruktur Ractor,

"Ular Api milikku itu rakus. Satu-satunya orang di antara kelompok ini yang membuat Ular Api merasa puas dengan pemberian tenaga hidup Mana sebesar seperlima adalah Kushi. Seandainya tenaga hidup Mana yang hilang dari dalam tubuh melebihi jumlah itu, ia pasti akan jatuh tidak bisa bergerak. Kalau sampai Instruktur Ractor dan yang lainnya juga ikut lumpuh, itu akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup kita."

Instruktur Ractor menatap wajah Okame dengan wajah yang sulit dibaca,

"Tapi perkataanmu itu terdengar seolah tenaga hidup Mana miliknya berada di atas kita?"

Ia menanyakan dugaan tidak masuk akal secara langsung seperti itu.

"Ya. Kekuatan sihir anak ini berada di luar batas normal. Wajar jika kekuatan sihirnya tinggi, maka tenaga hidup Mana-nya juga tinggi. Di antara anggota kelompok saat ini, mustahil bisa membuat kontrak dengan makhluk mitos milikku selain anak ini."

"Apakah itu benar?"

"Ya, kalau mau, aku bahkan bisa melakukan sumpah."

Ia tahu Maim yang ada di sebelah meneguk ludahnya.

Sumpah — sebuah ritual sihir di mana seseorang bersumpah atas hal tertentu dan akan menerima penalti jika melanggar sumpah tersebut.

Sumpah adalah ritual yang sangat berbahaya yang bahkan bisa merenggut nyawa jika salah melakukannya, dan seorang penyihir tidak akan pernah mengikat sumpah kecuali mereka memiliki keyakinan mutlak.

Dengan kata lain, Okame benar-benar percaya bahwa kekuatan sihir Kushi sangat tinggi.

"Ah, tidak perlu sampai sejauh itu. Matamu sekarang tidak keruh lagi, kok. Kamu tidak sedang berbohong. Selanjutnya tinggal tergantung pada Kushi."

Instruktur Ractor mengalihkan pandangannya kepada Kushi. Tatapan dari seluruh ruangan terpusat pada Kushi, membuatnya menelan ludah dengan susah payah.

"Baiklah. Kalau hanya seperlima..."

Di sekolah ia diajarkan bahwa kehilangan tenaga hidup Mana sekitar seperlima adalah hal yang biasa terjadi saat kekuatan sihir terkuras habis, dan itu hanya akan membuat seseorang sedikit merasa pusing. Kalau begitu, seharusnya tidak ada masalah.

"Bagus! Dengan ini, meskipun sedikit, kita sudah mendapatkan perhitungan untuk melarikan diri dari sini!"

Mendengar Okame yang mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan berteriak,

"Kamu, kesanmu jadi sedikit berubah, ya."

Elish menyampaikan kesan yang sejak tadi dirasakan kuat oleh Kushi.

Benar, Selama ini Kushi mengira Okame adalah tipikal figur bangsawan dari Kerajaan Amelia.

Yaitu penganut paham darah, supremasi Gift, dan supremasi nilai rapor akademi di Babel.

Mustahil Okame yang bersikap stereotip seperti itu mau mengakui Kushi yang berada di peringkat terbawah akademi.

Namun, Okame justru menilai bahwa dalam hal kekuatan sihir, Kushi berada di atas Instruktur Ractor.

Seseorang yang bisa menjadi instruktur di Babel adalah sosok berkemampuan tinggi yang hanya segelintir saja dari para lulusan menara.

Terlebih lagi, Instruktur Ractor adalah penyihir super-elit yang bertugas di pasukan keamanan.

Adanya siswa yang kekuatan sihirnya berada di atas dirinya, hal itu persis seperti Lancelot, si jenius penyihir yang terkenal di Babel saat ini.

"H-Hei, Vitami! Apa yang sedang kamu lakukan?"

Begitu ia berbalik karena mendengar suara penuh kecemasan dari Maim, ternyata Vitami sedang menancapkan belati berbilah merah ke daun pintu ruangan.

『T-T-Tidak mungkin!?』

Begitu Rutile memperlihatkan taringnya dan berteriak dengan suara keras,

"Kyah! Kuhihihi! Dengan ini, aku akan selamat! Begitukan!?"

Vitami tertawa dengan mata memerah, lalu berseru keras sambil menoleh ke arah yang salah dan melontarkan pertanyaan.

『Ahーah, benar sekali! Kerja bagus!』

Seiring dengan suara serak, seorang pria ber jubah hitam muncul secara tiba-tiba. Pria itu mengenakan tudung jubah yang ditarik rendah, dan wajah di balik tudung itu tampak melepuh.

『Victor Franz! Bagaimana kamu bisa sampai ke sini!?』

Rutile melontarkan suara yang merupakan campuran antara kebencian dan keterkejutan.

『Tentu saja, dia telah menghancurkan kotak pasir ini untukku.』

Sambil mengarahkan tangan kirinya ke arah Vitami, ia memuji pencapaian tersebut dengan nada suara yang bersemangat.

"Vitami, sialan kau, jangan-jangan kamu mengkhianati kami?"

Okame membelalakkan matanya lebar-lebar seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya, lalu menyuarakan keraguan tersebut dengan suara bergetar.

"Tentu saja! Mana mungkin aku mati di tempat seperti ini! Aku adalah calon kepala keluarga dari Wangsa Adipati Olyza! Bangsawan besar! Nilai nyawaku sama sekali berbeda dengan kalian, tahu!"

Ia menjelaskan keabsahan dirinya dengan ketegangan yang luar biasa.

『Hal yang bodoh...』

Rutile menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi penuh penyesalan, lalu memeras suaranya.

"Bodoh amat! Kau paham tidak! Kau sedang menjerat lehermu sendiri, tahu!"

Mendengar perkataan Okame,

"Itu hanya alasan orang kalah, Senior Okame! Perjanjiannya adalah hanya aku sendiri yang akan selamat di tempat ini! Iya kan, Anda juga berpikir begitu, kan!?"

Vitami memastikan hal itu kepada pria berjubah hitam bernama Victor dengan ekspresi menang.

『Ya ya, aku akan memberimu hadiah. Anak manusia yang bodoh dan tolol.』

Victor menjentikkan jarinya dengan bunyi 'pletik'.

"Ugh!?"

Saat itu juga, kabut merah menyerupai aliran deras menyembur keluar dalam jumlah banyak dari bilah merah belati yang dipegang oleh Vitami di tangan kanannya, lalu menyelimuti tubuh Vitami.

"A-Apa ini!? Gugi! Sakit! Tidak mau! Ggyaaaaaah!"

Suara keterkejutan itu berubah menjadi jeritan kesakitan. Dan bersamaan dengan suara detik-detik terakhir kehidupan, terdengar suara daging dan tulang yang hancur.

"Vitami-kun!"

Kepada Elish yang hendak berlari mendekat,

"Sudah terlambat. Ambil posisi bertempur!"

Instruktur Ractor mencabut pedangnya dan memberikan instruksi kepada semua orang. Seolah tersentak, yang lain turut mencabut senjata mereka masing-masing. Rutile mendekati Kushi,

"Kushi, tolong jaga Bet."

Rutile menggenggam tangan kecil Bet lalu meletakkannya di genggaman Kushi.

Kemudian Instruktur Ractor dan yang lainnya membentuk formasi melingkar untuk melindungi kami. Ironisnya, bagi semua orang, Bet yang masih kecil tentu saja dianggap sebagai kartu truf, dan Kushi yang juga dianggap demikian mau tidak mau menjadi pihak yang harus dilindungi di tempat ini.

Intinya, akan lebih mudah melindungi jika target perlindungan dikumpulkan dalam satu kelompok.

Meskipun begitu, Maim ternyata juga berada di dalam formasi lingkaran itu secara diam-diam.

『Gooooooohhhh—!』

Gumpalan merah yang tadinya adalah Vitami berubah menjadi raksasa berwajah besar dan meraung.

Seolah merespons suara itu, dari dinding-dinding ruangan muncul monster-monster bertubuh kecil dengan wajah berukuran besar seperti Vitami yang merayap keluar.

『Ya ya, mantan anak manusia yang bodoh, selain bocah di sebelah sana, mangsa sampai habis tanpa tersisa seekor pun. Aku akan menikmati minuman keras yang lezat sambil menjadikan perlawanan sia-sia dari para orang lemah yang dimakan oleh rekan lama mereka sendiri sebagai hidangan pembuka.』

Sambil menunjuk ke arah kami dan mengubah wajahnya menjadi seringai buruk, Victor menghilangkan sosoknya.

Baik Okame maupun monster ini, mengapa mereka begitu terobsesi pada Kushi yang bahkan di Babel pun telah dicap sebagai anak yang tidak berguna?

"Jadi dia sudah menyadarinya! Sialan! Sudah bukan waktunya lagi untuk menyembunyikan kekuatan!"

Okame merapal segel dengan kedua tangannya dan merapal semacam mantra sihir, hingga pilar api menyembur naik dari tanah dan bergerak berputar-putar di sekitar area.

Dalam sekejap, ia membentuk seekor ular api berukuran raksasa.

Ular api itu menegakkan kepalanya dan memicingkan mata ke arah monster berwajah besar di sekitarnya, lalu menatap tajam ke arah Okame,

『Okame, keparat kau, jangan-jangan kamu memanggilku ini hanya untuk membasmi sampah-sampah Undead semacam ini, bukan?』

Ia mengintimidasi Okame dengan suara geraman rendah. Ia pernah mendengar rumor tentang makhluk mitos kontrak milik Okame.

Kalau tidak salah, itu adalah Pangeran Makhluk Mitos yang memiliki gelar kebangsawanan.

"Bualannya nanti saja setelah kita berhasil melewati situasi ini dengan selamat! Rumah besar ini benar-benar gawat, tahu."

『... Baiklah. Aku akan meminjamkan kekuatan. Tapi, aku minta imbalan yang setimpal, ya?』

Ia mengalihkan pandangannya dari Okame, memandangi sekeliling secara melingkar lalu mengumumkan secara sepihak dengan nada yang tidak membantah.

『Aku akan mengambil seperlima tenaga hidup Mana dari anak berponi rata di sana. Itu seharusnya sudah lebih dari cukup untuk kerja sama kali ini.』

『Tenaga hidup Mana dari bocah sekecil ini? Terlebih lagi hanya seperlima? Hei, Okame keparat, apakah kamu sedang meremehkanku!?』

Sambil memuntahkan pilar api karena marah, ia menatap Okame dan mengeluarkan suara yang dipenuhi amarah,

"Aku tidak meremehkannya. Anak itu spesial. Kalau itu saja tidak cukup, aku akan menambalnya dengan tenaga hidup Mana miliku sendiri."

『Baiklah. Perkataanmu itu, aku benar-benar mendengarkannya!』

Sang Pangeran Ular Api mengucapkan deklarasi persetujuan sambil mengubah wajah ular tersebut menjadi ekspresi yang buruk.

Saat itu juga, lingkaran sihir muncul di dahi Okame, dan pada saat yang sama dahi Kushi terasa panas dan tenaga terkuras dari seluruh tubuhnya.

『Apa... ini?』

Bersamaan dengan suara kekaguman dari Sang Pangeran Ular Api, kulit di seluruh tubuhnya mendidih dan membengkak bergelombang.

Seketika itu pula, ia berubah bentuk hingga tidak lagi menyisakan rupa seekor ular, lalu berubah menjadi bentuk bulat.

"H-Hei, Pangeran Ular Api?"

Mengabaikan Okame yang mengeluarkan suara penuh kecemasan, Pangeran Ular Api yang kini telah berubah menjadi bola api raksasa mulai memperlihatkan satu wujud.

Anggota tubuhnya memanjang dan sayapnya tumbuh. Itu benar-benar seekor naga api. Naga api itu menderu ke langit,

『Luar biasa! Luar biasa sekali! Ini adalah tubuh dari ras naga! Akhirnya aku mencapai ras naga!』

Ia bergetar karena kegirangan.

"T-Tidak mungkin! Hanya dengan pelaksanaan Soul Servant Contract, kenapa bisa terjadi evolusi konyol semacam ini!?"

Okame meninggikan suara yang mengandung emosi kecemasan dan keterkejutan yang kuat, serta

"Apakah itu Raja Naga? Raja Naga Api? Kekuatan yang bahkan bisa mengubah spesies. Anak ini, jangan-jangan—"

Lucille menatap Kusuki dengan penuh semangat. Ia baru saja akan menyuarakan sebuah kesimpulan.

"Sebuah kontrak, bukan?"

Beberapa pilar api melesat di udara layaknya makhluk hidup. Api itu membakar habis Bitami dan monster berwajah besar yang muncul dari dinding hingga tak bersisa tulangnya.

"Syukurlah, Enjakou! Bakar habis juga rumah ini! Kau yang sekarang pasti bisa melakukannya, kan!?"

"Itu mungkin saja."

"Kalau begitu—"

"Namun, aku menolak!"

"Hah? Kau itu kan siluman kontrakku!? Laksanakan kontraknya!"

Enjakou tidak menanggapi tuntutan Okame dan hanya mendengus. Ia lalu mengarahkan bola matanya yang merah menyala ke arah Kusuki.

"Hii!?"

Hanya dengan bertatapan mata dengan Enjakou, rasa gemetar langsung menusuk tubuh.

"Hei, Bocah, buatlah kontrak denganku!"

"A-aku?"

Sejujurnya, tak pernah terbayangkan dalam mimpi sekalipun akan dilempari kata-kata seperti itu.

Karena itu, Kusuki menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk untuk memastikan ucapan Enjakou.

"Jangan bercanda, kau kan sudah membuat kontrak denganku! Jangan bicara sembarangan!"

Okame yang wajahnya pucat pasi melontarkan kata-kata kecaman.

"Diam kau!"

Api melesat dan membakar tubuh bagian bawah Okame.

"Gugaaah!"

Tanpa memedulikan Okame yang menjerit dan meronta, sosok Enjakou menghilang. Ia tiba-tiba muncul di depan mata sebagai kobaran api, lalu mengangkat kepalanya dan melotot tajam.

"Hi!?"

Jeritan menyedihkan lolos dari mulut Kusuki.

"Kamu itu spesial! Bersamamu, mencapai puncak spesies naga bukanlah sekadar mimpi!"

Melihat Kusuki yang seperti itu, siluman tersebut mungkin sedang tertawa. Enjakou berseru dengan suara penuh kenikmatan, tepat pada saat itu—.

"Hmm, hmm, hmm, sesuai dugaan. Benda itu memang berbeda."

Bersamaan dengan suara yang terdengar anehnya ceria itu, pusaran hitam muncul di lantai tempat Kusuki dan yang lainnya berdiri.

"Eh?"

Suara konyol meluncur keluar dari mulut Kusuki sendiri.

"Hiii!"

Maimu secara spontan melompat mundur.

"Kakak!"

Beto berseru dengan nada penuh kepanikan, lalu memeluk Kusuki. Kusuki dan Beto tertelan ke dalam pusaran hitam, dan kesadaran mereka jatuh ke dalam kegelapan yang dalam.

◇◆◇

Aku dan Rose dengan semangat masuk ke dalam rumah mewah itu. Namun, suasananya entah kenapa berbeda dari yang kami duga.

Bagian dalam bangunan ini rusak di mana-mana. Namun, rasanya tidak wajar karena hampir tidak ada debu yang menumpuk.

"Ini sih pasti ada orang yang tinggal, kan?"

"Iya. Sepertinya begitu."

Rose yang tadi berwajah pucat pasi bak hantu kini telah kembali seperti biasa. Ia berubah setelah menyadari bahwa rumah ini masih memiliki sedikit sisa kehidupan.

Setelah menyusuri lorong sejenak, terdengar suara isak tangis anak perempuan dari kamar sebelah.

"Hii!"

Dengan jeritan kecil, Rose langsung berpegangan erat pada pinggangku.

"Hmm. Ada seseorang ya."

Ada pergerakan sihir, tidak salah lagi ada sesuatu di sana. Menggunakan Divine Eye rasanya agak berlebihan.

Aku segera memutar kenop pintu dan masuk ke dalam kamar.

"K-kenapa kamu bisa setenang itu!?"

Rose merengek sambil terus memeluk pinggangku.

"Malahan, aku tidak paham kenapa kamu bisa ketakutan sampai sebegitunya."

"T-tapi, itu kan bisa saja hantu!"

Dia menatapku dengan wajah menyedihkan yang tidak pantas untuk seorang putri. Kata-kata omong kosong pun meluncur dari mulutnya.

"Hantu katamu... kamu ini kan sudah sering melihat Deimos dan para bawahanku, kan?"

Banyak bawahanku yang penampilannya bisa membuat anak kecil menjerit dan menangis.

Lagipula, sembilan puluh persen kelompok Girimekara bentuknya seperti itu.

Aku tidak mengerti kenapa baru sekarang dia takut pada makhluk sekelas roh.

"Aku kan sudah terbiasa melihat Tuan Girimekara dan yang lainnya. Tuan Deimos juga merupakan Undead yang tercipta karena seni terlarang, kan!? Teori Babel terbaru membuktikan bahwa Undead dan Hantu adalah hal yang berbeda!"

"Lalu apa bedanya secara spesifik?"

"Undead pada dasarnya bisa dilihat, tapi hantu katanya hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki kualifikasi khusus..."

Melihatnya tergagap, tampaknya Rose juga tidak terlalu memahaminya.

Meski begitu, Undead dan roh itu berbeda ya. Cerita yang cukup menarik. Kalau hanya bisa dilihat oleh orang berkualifikasi, mungkin sifat sihirnya sama sekali berbeda. Jika begitu—.

"Menarik sekali!"

Sudah menjadi fakta pasti bahwa Undead adalah ras yang sangat lemah di antara para monster. Namun, jika Undead dan roh adalah dua hal berbeda, mungkin ada makhluk yang cukup kuat di dalam ras roh tersebut.

"Sama sekali tidak menarik!"

Aku hanya bisa menghela napas panjang menanggapi Rose yang berteriak sambil memelukku dengan tubuh gemetar.

"Lagipula, bertanya langsung pada makhluknya adalah cara terbaik."

Setelah berkata demikian, aku melangkah mendekati tempayan besar tempat suara isak tangis itu berasal.

"A-apa kamu benar-benar berniat membukanya!?"

Rose melompat menjauh dariku dengan panik. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.

"Tentu saja. Tidak ada alasan untuk tidak membukanya."

Eksistensi yang tak terlihat oleh mereka yang tidak berkualifikasi. Sihir ini sama sekali tidak memiliki niat untuk menyembunyikan dirinya. Hmm, tak biasanya aku merasa seantusias ini.

Aku menahan perasaan menggebu ini sekuat tenaga, lalu membuka tutup tempayan tersebut.

"Waaaaa!"

Anak perempuan yang meringkuk di dalam tiba-tiba berdiri dan berseru kencang. Rongga matanya cekung, matanya hilang, dan sesuatu yang menyerupai darah mengalir dari sana.

Lebih dari itu, gaun putihnya dipenuhi oleh rembesan cairan merah seperti darah di mana-mana.

"Ternyata, kelihatan kok..."

Aku sedikit kecewa dan menurunkan bahuku.

"H-h-hantuuuu!"

Rose berteriak dengan sangat histeris.

"Waa! Waa! Waaaaa! Kenapa kamu tidak kaget, sih!"

Gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya. Ia berusaha menakut-nakutiku dengan suara yang justru terdengar manis.

"Hmm. Penuh semangat, itu bagus."

Seperti yang selalu kulakukan pada Faf, aku meletakkan telapak tangan kananku di kepalanya dan tersenyum lebar. Tindakan sederhana untuk menenangkan anak kecil itu justru membuat,

"Higu!?"

Tubuhnya mendadak kaku, lalu ia menangis tersedu-sedu.

"U-uhm. Kenapa malah menangis?"

Reaksi ini rasanya sedikit berlebihan. Ini sama saja seperti dia mengatakan bahwa senyumku itu menakutkan, kan.

Asta dan Zack memang sering bilang kalau senyumku kadang menyeramkan sampai terbawa mimpi. Apakah mereka tidak sedang bercanda dan mengatakannya dengan serius? Tidak, tidak, Raja Iblis mana yang bisa membuat anak kecil menangis hanya dengan senyuman. Itu mustahil. Benar, pasti mustahil.

Bagaimanapun, sekarang aku harus mencari cara untuk menenangkan gadis kecil ini.

"Din! K-kurang ajar, dasar Monster!"

Sesosok makhluk berbaju zirah lengkap yang tadinya menjadi pajangan di sudut ruangan tiba-tiba memeluk gadis kecil itu. Ia berdiri menghalangi di depanku seolah melindungi gadis itu, lalu mengangkat pedang besarnya.

"Baru kali ini saya merasakan aura semengerikan ini! Orang ini benar-benar berbahaya!"

Seorang pelayan tanpa kepala yang berlumuran darah juga melompat keluar dari dalam kotak. Ia mengarahkan tongkat sihirnya padaku sambil menjerit melengking.

"Kyuu..."

Rose melipat tangannya dan mengeluarkan suara aneh sebelum akhirnya pingsan dan ambruk ke lantai. Girimekara sang monster gajah raksasa muncul dan menopang tubuhnya dengan kedua lengan.

"..."

Gadis kecil yang tadinya menangis kini langsung terdiam, menatap sosok Girimekara.

"..."

Hantu berbaju zirah yang sedang menggendong gadis itu juga mematung, menatap Girimekara dengan wajah terpana.

"..."

Sang pelayan tanpa kepala mungkin juga sedang menatap Girimekara dengan raut wajah sekaku batu.

Ketiganya bertatapan dengan Girimekara dalam keheningan sejenak. Seluruh tubuh mereka mulai gemetar, lalu,

"Gyaaaaa! M-m-m-monsteeer!"

Ketiganya saling berpelukan erat. Mereka menjerit sekencang-kencangnya dengan penuh ketakutan.

Mereka jatuh ke dalam kepanikan setelah melihat Girimekara, lalu berubah kembali ke wujud manusia biasa dan jatuh pingsan. Setelah merawat ketiga makhluk(?) itu, aku baru saja selesai mendengarkan penjelasan mereka.

"Jadi, kalian diperintah oleh arwah bernama Lucille untuk mengusir kami yang dikira telah menyusup ke tempat ini, ya."

Tuan mereka, seorang wanita bernama Lucille, dulunya adalah Kepala Penyihir yang memimpin operasi pembasmian penguasa rumah ini yang mengamuk. Namun, pada akhirnya ia dibunuh oleh kutukan rumah ini dan berubah menjadi sosok Undead.

Dia masih mempertahankan egonya yang dulu. Demi menghindari perhatian kutukan rumah ini, sepertinya ia telah menyembunyikan para murid dan kelompok Elish yang tersesat kali ini.

Bagaimanapun, aku sudah memastikan bahwa kelompok Elish masih selamat. Sisanya tinggal membasmi sosok yang disebut sebagai Raja Kutukan di rumah ini.

"Entah kenapa, kamu terlihat sangat senang, Kai."

Rose yang sudah sadar menatapku dengan mata setengah terbuka. Ia lalu melontarkan komentar sepele semacam itu.

"Yah, kita sudah memastikan keselamatan Nona Elish dan yang lainnya, kan. Sisanya tinggal memusnahkan si Raja Kutukan itu. Skenario yang sangat sederhana dan mudah dimengerti."

Sosok Raja Kutukan itu adalah monster yang bahkan diwaspadai oleh Ralph Excel, pahlawan dari Guild Hunter. Melawannya, mungkin aku bisa benar-benar bertarung habis-habisan.

"Tapi Kai, dari yang kudengar, rumah ini jauh lebih berbahaya dari dugaan awal. Bukankah sebaiknya kita kerahkan seluruh kekuatan Babel dan Hunter untuk membasminya?"

Saran Rose sangatlah masuk akal. Namun—.

"Tidak, itu tidak boleh."

Khusus untuk kali ini, aku akan menolaknya mentah-mentah. Lebih tepatnya, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini! Bagaimanapun juga, akhirnya muncul sosok yang berpotensi melawanku dengan serius.

Jika rumah ini sebegitu kejamnya, maka kali ini aku harus mempertaruhkan nyawaku. Aku pasti bisa bertarung dengan sekuat tenaga hingga kulitku terasa terbakar, persis seperti saat pertama kali menaklukkan Easy Dungeon.

Tentu saja, aku bukanlah orang yang gila pertarungan. Namun akhir-akhir ini, aku tidak pernah mengalami hal yang pantas disebut sebagai pertarungan sungguhan.

Habisnya, musuh yang datang padaku hanyalah gerombolan monster kroco pengkhayal yang bicara soal kejahatan atau takdir langit, Undead payah bernama Raja Busuk, atau monster mirip naga bernama Azi Dahaka.

Meski pada dasarnya aku adalah seorang pasifis yang tujuan akhirnya adalah Slow Life, sesekali aku ingin bertarung dengan kekuatan penuh.

"Begitu ya..."

Rose menundukkan bahunya dan menghela napas panjang.

"Hmm, aku kira kamu bakal menentang lebih keras?"

"Tentu saja. Sekalinya kamu sudah bicara, kamu pasti tidak akan mau mendengarkan orang lain."

"Tolong jangan menyamakanku dengan pria tua yang keras kepala."

"Tepat sekali, kan. Menurutku, rasanya itu pas sekali jika mengesampingkan usia."

Yah, umurku sebenarnya sudah seratus ribu tahun sih. Berarti, dari segi usia pun sebenarnya masuk akal, ya... Tidak, bukan itu masalahnya. Obrolan ini entah kenapa sangat menyudutkanku. Karena itu—.

"Intinya, musuhnya adalah Raja Kutukan yang bersarang di rumah ini dan bawahannya, serta Victor si pencipta Raja Kutukan itu, benar?"

Aku dengan paksa mengalihkan pembicaraan.

"I-iya. Benar sekali."

Ujar Bibin sang pelayan yang mengangguk dengan wajah tegang.

"Kumohon. Kalahkan Victor dan kutukan di rumah ini, lalu bebaskan para penduduk tak berdosa!"

Tomyam, yang wujudnya berubah dari armor penuh menjadi kesatria berbaju zirah putih, memohon padaku sambil bersujud menyentuh lantai.

Orang ini adalah Kesatria Sihir yang dulu dikenal paling kuat di Babel. Harga dirinya pasti tinggi, dan ia tak seharusnya sudi melakukan tindakan memalukan ini. Itu berarti ia sudah sangat putus asa.

"Aku mengerti. Bagaimanapun, itu adalah kehendak dari Guild Hunter. Aku akan bertanggung jawab penuh dan membasmi mereka."

Saat aku menjawab seperti itu, sebuah tangan kecil menggenggam lengan bajuku.

"Kakak... tolong selamatkan ayah dan ibu, ya..."

Air mata besar menetes dari kedua matanya saat ia mendongak menatapku.

Begitu, ya. Anak ini dan orang tuanya ditangkap oleh sampah bernama Victor, dijadikan eksperimen sihir, lalu dibunuh.

Terlebih lagi, jiwa mereka tertahan oleh kekuatan Raja Kutukan, sehingga mereka bahkan tidak bisa mati dengan tenang.

Anak kecil ini berhasil diselamatkan oleh wanita bernama Lucille. Namun, orang tuanya saat ini masih merasakan neraka di dunia sebagai mainan Raja Kutukan.

"Jangan khawatir. Aku akan bertanggung jawab untuk membereskan si sampah Victor dan si Raja Kutukan itu."

Sambil tersenyum selembut mungkin, aku mengelus perlahan kepala Din.

Mereka telah membunuh anak sekecil ini. Tidak puas dengan itu, mereka bahkan mempermainkan jiwanya setelah mati.

Mereka telah menyentuh pantanganku. Aku tidak akan pernah berhenti lagi.

"Tuan Kai! Tolong serahkan masalah ini padaku! Aku tidak akan membuat Anda kecewa untuk kedua kalinya!"

Asura si iblis berwajah tiga tiba-tiba muncul. Ia memukulkan tangan kanannya ke dada dan mengajukan permohonan tersebut.

"Hmm, padamu ya..."

Karena Asura minta dilatih, aku terus memberinya latihan khusus.

Lagipula, baru-baru ini dia juga sering bermain dengan Beelzebub. Walau hanya sedikit, kekuatannya pasti sudah bertambah dibanding sebelumnya.

Meskipun begitu, dia masih terlalu amatir. Kekuatan musuh belum diketahui.

Apakah benar-benar aman menyerahkan ini padanya?

"Beelze, kau di sana?"

"Selalu di sisi Anda."

Sesosok lalat bipedal bermahkota, Beelzebub, muncul dari balik bayanganku.

"Apa pendapatmu soal usulan ini?"

"Tidak masalah kok."

Beelze yang belakangan ini bermain dengannya saja berkata begitu. Harusnya takkan ada masalah.

"Baiklah. Aku serahkan padamu. Aku akan bergerak membasmi si sampah Victor dan Raja Kutukan di rumah ini. Asura, timmu, Zenki, dan Goki harus melindungi orang-orang di sini sekaligus memastikan tak ada satu serangga pun yang lolos keluar!"

Ada beberapa aliran sihir yang terasa dari rumah ini. Kemungkinan besar, musuhnya tidak hanya Victor dan sang Raja Kutukan.

Memikirkan pergerakan kelompok lain satu per satu sungguh merepotkan, jadi paling tepat menghabisi mereka semua dalam satu serangan.

"Tentu saja!"

Menanggapi kata-kataku, Asura berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya.

"Sesuai perintah Anda."

"Dimengerti."

Zenki dan Goki juga muncul dan berlutut di hadapanku, mengutarakan kesiapan mereka.

"Girimekara, kamu juga setuju, kan?"

"Wahai Ayahanda kami yang agung! Tentu saja!"

Girimekara ikut berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Nah, ayo kita mulai."

Siapa pun itu, sampah yang tega membunuh anak kecil sama sekali tak pantas hidup. Aku akan menghajarnya habis-habisan.

Demi keyakinanku, aku akan memberikan keputusasaan paling mengerikan yang bisa dibayangkan sebelum akhirnya memusnahkan mereka.

Dengan tekad membara di dada, aku mencabut Murasame dari punggungku, memanggulnya, lalu mulai melangkah maju.

◇◆◇

"Sialan..."

Lucille menggumamkan kata yang benar-benar mewakili situasi saat ini dari kedalaman tenggorokannya.

Itu adalah Naga Api, dan kelasnya sudah pasti setara Duke Naga. Ras naga tingkat atas yang merupakan ras terkuat.

Keberadaan naga api ini saja sudah menjadi ancaman tingkat bencana.

Namun, bukan perubahan ular api menjadi naga itu yang menurut Lucille sebagai hal terburuk.

Melihat situasinya, Kusuki telah diculik oleh Victor. Hampir bisa dipastikan, Kusuki akan menjadi mangsa bagi sang Raja Kutukan di rumah ini.

Kekuatan Kusuki-lah yang mengubah ular api itu menjadi seekor naga. Kontrak yang terjalin antara Okame dan Enjakou adalah Soul Familiar Contract.

Soul Familiar Contract murni merupakan teknik untuk memperbudak target dengan mempersembahkan bayaran pengorbanan.

Sihir itu sama sekali tidak punya efek untuk memicu evolusi pihak lain.

Singkatnya, jiwa pemuda yang dijadikan bayaran kontrak itu terlampau istimewa, sehingga Enjakou bermutasi karena menyerap sebagian darinya. Itulah kemungkinan yang paling masuk akal.

Bahkan ular api yang hanya seekor siluman biasa bisa berevolusi menjadi Naga Api yang menebar ancaman bencana bagi umat manusia hanya dengan menyerap secuil Mana kehidupan milik pemuda tersebut. Apa jadinya jika monster di rumah ini ikut menyerap jiwa Kusuki?

Sudah pasti, Raja Kutukan itu akan mencapai wujud evolusi akhir, terlepas ke seluruh dunia, dan mengakhiri peradaban ini.

Meskipun begitu, hal yang bisa dilakukan Lucille di situasi ini sangatlah terbatas. Urusan nanti bisa dipikirkan setelah ia selamat dari krisis saat ini.

"Ractor, Yoru, Elish! Kita semua tidak mungkin bisa menang melawan makhluk itu sekarang! Cepat bawa Okame dan yang lainnya yang terluka untuk berlindung!"

Lucille memberikan arahan sembari merapal sihir. Taman kecil yang diciptakan Lucille, salah satu dari sedikit tempat aman di dalam rumah ini, telah dihancurkan oleh Bitami.

Sebentar lagi, kutukan rumah ini akan bangkit. Belum lagi, ia akan menyerap Kusuki dan berevolusi lebih jauh.

Bahkan jika mereka berhasil kabur dari situasi ini, bisa dipastikan mereka akan kembali diserang di luar sana. Namun, jika mereka tetap diam di sini, semuanya hanya akan hangus menjadi abu di hadapan Naga Api yang sedang mengamuk ini.

"Sialan! Di mana kalian menyembunyikan bocah itu!"

Bersamaan dengan raungan kemarahan Enjakou, ekor apinya melesat secepat kilat ke arah Lucille.

"Kuh!?"

Ia secara spontan menciptakan perisai sihir es di depannya untuk menahan serangan itu. Namun, begitu tersentuh ekor naga, dinding es itu seketika berubah menjadi uap air bersuhu tinggi, sementara ekor api sang naga terus melaju dan menghantam perut Lucille.

Lucille terlempar lurus dengan kecepatan yang sangat luar biasa, hingga punggungnya menghantam dinding.

"Guh!"

Lucille memuntahkan darah dan berusaha bangkit, namun kedua kakinya bergetar hebat. Ia hanya bisa merintih kesakitan karena gagal berdiri.

Lucille merupakan iblis gentayangan yang terbunuh oleh kutukan yang terpicu karena kematian Victor, di mana hanya jiwanya saja yang terikat di rumah ini. Meski berbentuk iblis gentayangan, ia tetap menerima kerusakan, dan rasa sakitnya sama sekali tidak berbeda dengan saat ia masih manusia.

Akibat hantaman ekor itu, menggerakkan ujung jari saja sudah mendatangkan rasa sakit yang teramat sangat bagi Lucille. Sudah jelas bahwa memaksakan diri untuk bergerak sekarang bukanlah ide bagus.

Namun, jika terus berbaring, wujud fisiknya akan dihancurkan oleh Naga Api ini, dan kelompok Lucille akan musnah.

Lucille dan kawan-kawannya pada dasarnya sudah mati. Skenario terburuknya pun, raga mereka yang hancur akan kembali utuh seiring berjalannya waktu. Namun, Elish dan kelompoknya masih hidup.

Ia tak boleh membiarkan anak muda yang masa depannya masih panjang itu menjadi korban. Ini adalah tekad terakhir Lucille sebagai seseorang yang telah mati. Oleh karena itu—.

Di tengah rasa sakit yang terasa bak merobek-robek seluruh tubuhnya, ia menggertakkan gigi dan entah bagaimana memaksa dirinya untuk berdiri.

"Cepat lari! Biar aku yang menahan makhluk ini di sini!"

Ia berseru seraya memelototi Naga Api yang masih mengamuk itu. Lusinan burung es tercipta dan langsung diterbangkan dalam kecepatan tinggi menuju ke arah sang Naga Api.

"Memangnya aku akan membiarkanmu!"

Tiba-tiba, bola-bola api dalam jumlah tak terhitung bermunculan di udara, lalu meluncur layaknya rudal pelacak menuju Ractor dan yang lainnya.

"Jangan meremehkanku!"

Yoru mengarahkan ujung pedang di tangan kirinya dan melantunkan mantra singkat. Sesaat kemudian, aliran air deras muncul di udara, lalu menerjang bagaikan tsunami menuju bola-bola api itu.

"Penghalangnya sudah diaktifkan!"

Bersamaan dengan seruan Elish, beberapa ekor anak kura-kura terbang mengitari Ractor dan kelompoknya. Mereka berhasil menahan seluruh sisa bola api yang kekuatannya sudah melemah akibat hempasan air Yoru.

"Aku tanya sekali lagi! Di mana kalian menyembunyikan bocah itu!?"

Sang Naga Api memelototi Lucille dengan mata memerah. Pertanyaan yang tak pernah diketahui jawabannya itu meluncur bersama semburan pilar api.

"Kami tak tahu, dan kalaupun tahu, kami tak sudi memberitahukannya padamu!"

Elish membalas bentakan itu seraya mengarahkan tatapan tajam yang seolah siap membunuh pada Enjakou.

"Elish, apa kau bisa berlari sambil tetap mempertahankan penghalang itu?"

"I-iya! Sebisaku—tidak, akan kulakukan!"

Elish langsung membalas pertanyaan Yoru.

"Kalau begitu, ini akan cepat. Aku dan Ractor akan menahannya, sementara Lucille dan kelompokmu segera kabur dari sini. Itu langkah yang paling tepat!"

"Tetapi, kalau begitu—"

"Ah sudahlah! Jujur saja kau cuma jadi beban! Habis kena serangan ekor tadi, kau sudah tak bisa bertarung, kan! Kau takkan bisa menahannya dalam kondisi seperti itu! Terlebih lagi, Lucille, kau yang paling tahu soal rumah ini! Kau lebih cocok untuk itu daripada kami! Benar begitu, Ractor!"

"Ya, tepat sekali."

Ractor menyiapkan pedangnya, meski badannya kini basah kuyup karena aliran air dari sihir Yoru tadi.

Meskipun terasa menyakitkan, saran mereka berdua memang benar. Kekuatan Lucille saat ini sedang dibatasi oleh Raja Kutukan, dan ia hanya bisa menggunakan sebagian kecil sihir dari masa kejayaannya dulu.

Ia takkan mampu melawan Naga Api itu dengan kondisi seperti ini. Saran Yoru memang satu-satunya jalan keluar agar mereka tidak musnah.

"Nah, kita mulai. Ractor, fokuskan dirimu!"

"Ya!"

Arus air deras yang ukurannya beberapa kali lipat lebih besar dari sebelumnya tercipta, lalu berpadu dengan badai angin milik Ractor. Serangan tersebut berubah menjadi tornado air dan meluncur kencang ke arah Enjakou.

"Ayo pergi!"

Menggunakan serangan itu sebagai sinyal, Lucille mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggendong Okame.

"Sudahlah, tinggalkan saja aku di sini!"

Menanggapi ucapan Okame yang sedang putus asa itu,

"Sudahlah, diam saja!"

Lucille membentaknya dan mulai berlari.

Namun—.

"Jangan meremehkanku, makhluk rendahan!"

Enjakou mengamuk, memicu hembusan gelombang api melingkar yang menyapu bersih seluruh isi ruangan.

Bagaikan menghalangi rute pelarian Lucille, pilar api tak terhitung jumlahnya berjatuhan dari atas. Mereka kemudian mengubah wujud menjadi naga berukuran kecil yang memelototi kelompok itu.

Lucille hanya menggerakkan bola matanya untuk mengecek situasi. Terlihat sosok Ractor dan Yoru yang tumbang di lantai. Melihat kulit mereka melepuh merah terbakar, kondisi mereka yang sekarat itu sangat jelas terlihat bahkan dari jarak yang jauh sekalipun.

"Sudah kubilang takkan kubiarkan kalian kabur! Ini peringatan terakhir, serahkan bocah itu!"

Enjakou dalam wujud aslinya yang berupa api seketika berpindah tepat di depan mata Lucille. Ia memandang rendah sembari menyuarakan pertanyaan dengan nada yang mengancam.

"Entahlah ya."

Enjakou menyipitkan matanya dan memandangi Lucille untuk sesaat.

"Dasar keras kepala. Kalau begitu, akan kubuat kau sendiri yang ingin buka mulut. Kalau tak salah, makhluk rendahan bernama manusia ini sangatlah konyol hingga tak bisa menahan diri saat orang lain tersiksa alih-alih dirinya sendiri, kan."

Wajah naga itu berubah kotor dan memuakkan. Ia perlahan berjalan mendekati Ractor dan Yoru yang masih tak sadarkan diri, lalu menggunakan cakar kanannya untuk memotong kaki kanan Ractor. Api pun berkobar dari ujung luka sayatannya.

"Gugaa!"

Ractor terbangun dari pingsan akibat rasa sakit, namun api telah melilit kaki kirinya.

"Bagaimana dengan ini!"

Api itu membakar habis kaki kirinya. Jeritan terdengar makin mengeras.

"I-Instruktur Ractor!"

Elish berteriak histeris penuh kepanikan.

"H-hentikan!"

"Katakan dulu! Kalau tak segera menjawab, seluruh kaki dan tangan orang ini akan lenyap!"

Lengan kiri Ractor mendadak terbakar dan ia kembali menjerit. Apa yang siluman ini lakukan tak lebih dari pelampiasan amarah karena gagal menangkap Kusuki. Singkatnya, ini hanya amarah yang membabi-buta.

Seseorang akan mati lagi hanya gara-gara alasan konyol itu. Bagi Lucille, itu merupakan hal yang sama sekali tak bisa diampuni.

"Kami benar-benar tidak tahu! Tolong hentikan!"

Lucille merasa putus asa. Ia pun memohon kepada Enjakou sekuat tenaga.

Di masa lalu, saat operasi menaklukkan Victor, para bawahannya terbunuh oleh kutukan. Kelompok Beto serta Din pun tersiksa di neraka milik Raja Kutukan selama bertahun-tahun lamanya hanya karena Lucille lengah di saat-saat terakhir.

Ia benar-benar tak sudi kembali diam tanpa bisa melakukan apa-apa dan menyerah dengan menyalahkan takdir.

"Tak tahu ya. Kalau begitu, aku akan mengambil nyawa orang-orang ini!"

Mulut Enjakou terbuka lebar menargetkan Ractor, dan semburan api mulai berderak menyala.

"Aku juga tidak tahu ke mana Kusuki pergi! Karena itu—!"

Enjakou menatap tajam pada Lucille. Senyumnya yang memuakkan dan bengkok itu langsung memicu kepanikan luar biasa seakan mengoyak hati Lucille.

"Hentikaan—!!"

Ia menjerit hingga tenggorokannya nyaris putus. Tepat setelahnya, pilar api tak terhitung jumlahnya menyembur tanpa ampun dari mulut besar Enjakou, diikuti dengan muntahan napas api yang menyala panas.

(Sialaaan!)

Saat pandangannya memerah, seseorang tiba-tiba berdiri di hadapan Ractor. Ketika ia menyadari bahwa sosok itu adalah seorang anak manusia berambut abu-abu, nyala api luar biasa yang baru saja menyembur dari mulut Enjakou terlihat melilit pedang panjang anak itu yang tak wajar.

"Akan kukembalikan."

Saat pemuda itu mengayunkan pedang panjangnya secara menyamping, api tersebut kembali terhisap masuk ke dalam mulut seolah waktunya diputar balik, dan seketika memicu ledakan dahsyat.

"Gugaaaa—!"

Bau hangus terbakar dan jeritan Enjakou bergema.

"Hei, hei, jangan bilang kau menerima kerusakan dari apimu sendiri meskipun punya elemen api? Benar-benar musuh yang sama sekali tak bisa menandingiku ya."

Antara karena kemarahan atau rasa terkejut, ucapan pemuda berambut abu-abu yang penuh nada tidak percaya itu mungkin tidak sepenuhnya didengar oleh Enjakou.

"B-bocah, apa yang kau lakukan pada diriku yang telah berevolusi menjadi Naga Api ini!?"

Enjakou melontarkan pertanyaan yang bergejolak di dalam benaknya.

"Aku cuma membalikkan serangan apimu. Yah, aku juga mencampurkan sedikit sihirku untuk mendongkrak kekuatannya. Lagipula, tak ada alasan kau bisa terluka dengan serangan macam itu kalau kau punya kekebalan mutlak atau kebal terhadap api, kan."

Bagaikan sebuah fakta, pemuda berambut abu-abu itu dengan santai mengucapkan kata-kata yang menentang logika biasa.

"Jangan bercanda! Kekebalan mutlak dan kebal dari api itu hanyalah omong kosong dari mitologi, kan!?"

Pemuda itu mengernyitkan wajah seolah sangat jengkel mendengar bentakan Enjakou.

"Bodoh sekali. Menangani korban luka jauh lebih prioritas daripada meladeni kadal tak berguna ini, ya."

Ia memunculkan benda menyerupai buku di tangan kirinya dan membalik halamannya. Pada saat yang sama, beberapa ekor slime bermunculan di sekitarnya dan berputar-putar dengan riang.

"Kalian, sembuhkan mereka."

Seolah merespons dengan kata dimengerti, slime-slime itu melompat-lompat tinggi berkali-kali sebelum menutupi Ractor dan Yoru yang sedang sekarat.

Mereka seketika disembuhkan bak waktu yang sedang diputar balik, dan kini terbaring dengan tubuh utuh tanpa bekas luka sedikit pun.

Selanjutnya, slime itu meluncur dalam kecepatan kilat menuju Okame dan Lucille. Bahkan sebelum mereka sempat berkedip, rasa sakit yang mereka derita seketika hilang seolah tak pernah terjadi, dan Okame yang berada di pangkuan Lucille juga telah pulih sepenuhnya.

"M-mustahil! A-apa-apaan slime dengan kemampuan tak masuk akal itu!?"

Enjakou membuka matanya lebar-lebar dan berseru keras. Namun, pemuda berambut abu-abu itu tidak memedulikan Enjakou yang panik, dan justru membelai lembut slime-slime yang sedang berlompatan riang di sekelilingnya.

"Terima kasih atas kerja keras kalian. Tempat ini akan segera menjadi medan pertempuran, jadi kembalilah dan beristirahatlah."

Ia memberikan arahan bernada penuh penghargaan. Seketika, para slime itu lenyap seperti asap.

(Lucille, sepertinya kita tepat waktu. Semuanya sudah aman.)

Elish berbisik di telinga Lucille dengan nada yang anehnya terdengar yakin.

(Elish, sebenarnya siapa laki-laki—)

Saat Lucille secara spontan berusaha bertanya balik soal pemuda itu pada Elish,

"Siapa kau sebenarnya!?"

Suara amarah dari Enjakou yang mulai mengambil jarak dari pemuda itu menyela pertanyaannya.

"Aku tak punya nama untuk diberikan pada kadal kelas teri yang tak berharga."

"Kau menyebutku kadal kelas teri! Tak bisa dimaafkan! Bunuh dia!"

Enjakou memberikan perintah kepada naga api kecil yang sedang mengepung kelompok Lucille dari segala sisi.

"..."

Akan tetapi, tak ada satupun naga api kecil itu yang bergerak barang sedikit pun.

"Apa yang kalian lakukan!? Sudah kubilang bunuh dia!"

Enjakou membentak kasar dan mencoba mengulangi perintahnya.

"Berteriak pun percuma. Semuanya sudah kubunuh."

Saat pemuda berambut abu-abu mengibaskan pedang panjangnya sekali, naga-naga api kecil itu langsung hancur berkeping-keping.

"K-kau, b-bagaimana caranya!?"

Pemuda itu melempar tatapan jengkel menanggapi seruan kaget dari Enjakou, lalu sosoknya menghilang. Sesaat kemudian, pemuda berambut abu-abu itu sudah berdiri persis di depan mata Enjakou.

"—!?"

Enjakou yang berusaha kabur dengan panik mendadak tertahan saat pemuda itu mencengkeram sisik api di lambungnya menggunakan tangan kiri.

"K-kenapa kau tak terbakar saat menyentuhku!? Kenapa kau baik-baik saja!?"

"Jawabannya kan sudah kubilang tadi. Atau lebih tepatnya, kau hanya merusak suasana, jadi tak usah buka mulut lagi."

Ucap pemuda itu dengan nada dingin yang membekukan. Ia memasukkan pedang panjang di tangan kanannya ke dalam sarung di punggung, lalu menatap tajam Enjakou dengan pandangan layaknya burung elang.

"A-aku tak bisa bergerak! Bagaimana mungkin serangga sekecil ini bisa menekan diriku yang telah menjadi spesies naga? Mustahil! Tak mungkin hal semacam ini terjadi!"

Pemuda berambut abu-abu itu menyeringai lebar memandangi Enjakou yang sedang mati-matian menghindari kenyataan.

"Hi!?"

Hanya dengan melihat wajahnya sekilas, jeritan kecil lolos dari mulut Enjakou. Detik itu juga, kepalan kanan pemuda itu menghantamnya keras. Tubuh raksasanya melengkung hingga membentuk postur melengkung yang tak wajar.

"Gugaah! Sebenarnya apa yang—!?"

Enjakou merintih kesakitan.

—Buaagh!

Bersamaan dengan suara hantaman keras, tinju kanan pemuda berambut abu-abu itu kembali menusuk dalam ke tubuh Enjakou.

Saat Enjakou mengangkat wajahnya dan memuntahkan isinya, ia bertatapan dengan pemuda itu. Tatapan sedingin es itu menembus Enjakou, hingga rona kehidupan berangsur-angsur hilang dari wajah sang naga.

"M-monsteeer!"

Lalu, Enjakou meneriakkan kata-kata yang paling pantas untuk menggambarkan sosok pemuda berambut abu-abu itu.

"Tindakan bodohmu tadi sudah kulihat semuanya. Sepertinya kamu punya hobi menyiksa mereka yang lemah, ya?"

Pemuda itu menarik siku kanannya sambil memberikan sebuah pertanyaan.

"T-tidak, ini ada alasannya—!"

Sekali lagi, tinju kanan pemuda itu menghujam di tengah tubuh Enjakou hingga tubuh raksasanya terangkat ke udara. Sang naga pun memuntahkan darah dalam jumlah yang besar.

"Tidak perlu mengelak. Di sini, akan kuajari sesuatu padamu si pandir. Dunia ini dibangun atas dasar karma. Pada akhirnya, dosa yang kau perbuat akan kembali pada dirimu sendiri. Seperti ini."

Tinju kanannya kembali bersarang pada Enjakou.

"Gugeeeh!"

Kepada Enjakou yang sedang memasang raut penuh penderitaan,

"Kalau kamu bertanya apa yang ingin kukatakan. Aku ingin bilang kalau aku paling benci sampah yang tak bisa diselamatkan sepertimu."

Remaja berambut abu-abu itu meludahkannya, lalu kembali melayangkan pukulan tangan kanannya.

Sambil menggetarkan tubuhnya ketakutan.

"A-ampun! Tolong ampuni aku!"

Remaja berambut abu-abu itu menatap dingin ke arah Enjakou yang memohon ampun mati-matian.

"Apa aku terlihat seperti orang yang sebaik itu di matamu?"

Ia bertanya dengan sangat terus terang seraya tersenyum lebar.

"Tidaak..."

"Jangan egois begitu. Kamu sendiri yang telah menghancurkan jembatan untuk kembali."

"Tidaaaak!!"

Enjakou meronta sekuat tenaga dan berteriak histeris. Remaja berambut abu-abu itu mulai menghujani Enjakou dengan pukulan kanannya, wajahnya tampak seperti iblis entah dari mana.

Terus-menerus dipukuli oleh remaja berambut abu-abu itu, tubuh Enjakou hancur berantakan menyerupai bola daging. Pada akhirnya, ia pun jatuh pingsan.

"Setelah melakukan semua hal itu, kamu sudah pingsan hanya dengan segini saja... Girimekhala!"

Remaja itu melemparkan Enjakou ke lantai dengan raut wajah yang benar-benar muak. Ia kemudian berseru memanggil dengan lantang.

"Saya berada di sisi Anda!"

Tiba-tiba, seekor monster berhidung panjang muncul. Ia berlutut dengan satu kaki di hadapan remaja berambut abu-abu itu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sesaat kemudian, aura berwarna gelap meluap dari monster tersebut. Aura itu menyebar ke seluruh penjuru rumah dan menciptakan banyak retakan berbentuk jaring laba-laba yang berderak.

Bukan! Bukan! Ini benar-benar berbeda!

Makhluk ini bukanlah spesies naga, Phantom Beast, maupun monster! Makhluk itu pasti adalah sesuatu yang Ruchiru dan yang lainnya sebut sebagai dewa. Kalau begitu, siapa sebenarnya remaja berambut abu-abu yang berhasil membuat makhluk itu tunduk...

"Makhluk ini telah menginjak-injak kepercayaan orang yang mengikat kontrak dengannya. Bahkan, ia menjadikan nyawa seorang prajurit yang tak bisa bergerak sebagai mainan demi memuaskan hasratnya."

"Dia sudah tak bisa diselamatkan lagi. Tanpa kompromi, perlihatkan kepadanya neraka paling mengerikan yang bisa kau bayangkan!"

"Sesuai kehendak Anda!"

Bersamaan dengan ucapan monster berhidung panjang yang bernama Girimekhala itu, kabut hitam mengepul dari lantai. Kabut itu menyelimuti Enjakou hingga sosoknya menghilang tanpa sisa.

Sulit dipercaya. Padahal, Enjakou yang telah berevolusi menjadi spesies naga seharusnya merupakan sebuah bencana yang bahkan bisa menghancurkan Babel.

Namun, makhluk itu malah disingkirkan dengan begitu mudahnya. Ruchiru benar-benar tidak bisa menerima hal ini sebagai sebuah kenyataan.

"Kai Heineman, jadi kamu yang datang untuk menyelamatkan kami? Apa kamu dimintai tolong lagi oleh ayahku?"

Elish mendekati sosok berambut abu-abu itu, lalu bertolak pinggang dan mencecar remaja bernama Kai Heineman tersebut. Di lubuk mata Elish yang menatap Kai Heineman, terpancar rasa percaya dan kelegaan yang kuat.

(Elish dan orang itu saling kenal? Seorang Transcenden dan manusia seperti Elish?)

Tanpa memedulikan Ruchiru yang sedang kebingungan, untuk pertama kalinya Kai Heineman menunjukkan ekspresi yang sedikit bimbang. Saat Ruchiru masih terkejut melihat reaksi manusiawi dari seorang Transcenden itu...

"Secara garis besar, ucapanmu itu benar. Lagipula, ini adalah permintaan gabungan dari Kepala Akademi Babel, Nona Chloe, dan Tuan Ralph dari Hunter Guild."

Kai Heineman memberikan jawaban yang sama sekali di luar dugaan. Tentu saja. Rasanya sangat mustahil membayangkan seorang Transcenden mau menerima permintaan dari manusia biasa.

"Lalu?"

"Ya, mulai sekarang aku dan bawahanku akan mulai menaklukkan rumah ini."

Mendengar deklarasi dari Kai Heineman tersebut.

"Bawahanmu?"

Elish langsung bertanya balik mengulang ucapannya.

"Ya, benar begitu, 'kan?"

"Tentu saja!"

"Sesuai perintah Anda!"

Tiga monster bertanduk menampakkan wujud mereka.

(Haha... Apa-apaan itu...?)

Ruchiru tidak memegang jabatan sebagai Kepala Penyihir di Babel di masa lalu hanya sebagai pajangan. Kekuatan luar biasa yang terus-menerus dipancarkan oleh para monster itu sama sekali tidak kalah dari monster berhidung panjang tadi.

Terlebih lagi, Kai Heineman adalah tuan mereka. Dengan kata lain, dia bukanlah seorang Transcenden biasa, melainkan―.

"Kakak, Beth tidak ada di sini!"

Din memeluk Kai Heineman lalu menengadah. Ia berseru pilu dengan wajah yang seolah hampir menangis.

"Beth? Apakah itu kerabatmu?"

"Dia adalah kakak perempuan kembar Din!"

"Dia telah diculik oleh Victor bersama dengan Kusuki,"

Elish langsung menjawab pertanyaan tersebut.

"Tuan Kai, kumohon, tolong selamatkan Beth!"

"Dia adalah rekan kami yang berharga, tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya. Tidak, siapapun selain Anda pasti tidak akan sanggup. Kumohon tolonglah dia!"

Bibin dan Tom Yum menundukkan kepala mereka dalam-dalam kepada Kai Heineman.

"Aku juga memohon kepada Anda."

Ruchiru ikut menundukkan kepalanya sambil menempelkan kedua tangannya ke lantai.

"Tidak perlu khawatir. Kami akan bertanggung jawab untuk membawa kakakmu kembali."

Kai Heineman berjongkok. Ia menyejajarkan pandangannya dengan Din dan mengelus kepalanya. Setelah itu, ia berdiri dan menatap ke sekeliling.

"Selanjutnya, bawahanku yang akan melindungi kalian. Mundurlah dan tunggu di sana―"

Tepat setelah ia memberikan instruksi tersebut, rumah itu beriak dengan warna hitam. Benda mirip pembuluh darah berwarna merah pekat bermunculan dan mulai berdenyut.

Suasananya seolah-olah seluruh rumah ini berada di dalam isi perut makhluk raksasa.

"Sudah dimulai, ya."

Kai Heineman mencabut pedang panjang dari sarung di punggungnya, lalu mulai melangkah.

"Ah..."

Itu adalah tekanan luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Kemudian, melihat sosok Kai yang dipenuhi oleh kegembiraan gila itu, Ruchiru tanpa sadar menahan napas.

Ia secara naluriah dan dengan sangat jujur memahaminya. Ia mengerti sosok seperti apa yang telah dibuat serius oleh Raja Kutukan yang selama ini mengikat Ruchiru dan teman-temannya.

"Nah, ayo kita mulai. Mulai dari sini adalah giliranku. Hei kau yang menyebut diri Raja Kutukan. Majulah dengan segenap jiwa dan ragamu."

"Jika aku bisa menemukan sedikit saja makna dalam pertarunganku denganmu, aku akan memusnahkanmu dengan cepat. Tapi, jika itu tidak terjadi..."

Setelah menggumamkan kata-kata itu sendirian, Kai melangkah keluar ruangan. Seluruh tubuhnya diselimuti aura pertarungan hitam dan merah yang sangat bergejolak dan luar biasa jahat.

Ketiga pilar bawahan miliknya juga ikut menghilang tanpa jejak.

"Elish, dia itu... sebenarnya siapa?"

Lactor yang baru sadar mendekat bersama Yoru, lalu melontarkan pertanyaan kepada Elish. Dari raut wajah Lactor dan yang lainnya, terlihat jelas bahwa sekadar berdiri saja terasa menyiksa bagi mereka.

"Dia adalah Hunter terkuat kebanggaan Guild. Fakta bahwa Guild mengirimnya kali ini membuktikan bahwa mereka serius."

"Sebentar lagi, dia pasti akan membasmi rumah ini beserta Raja Kutukan di dalamnya."

Mendengar pernyataan tegas Elish yang seolah sudah melihat masa depan itu, Yoru menanggapinya.

"Aku juga mengerti seberapa kuat dirinya karena baru saja melihatnya. Tapi, kutukan di rumah ini adalah yang terburuk. Apalagi makhluk itu telah menyerap Kusuki dan mendapatkan kekuatan tambahan."

"Bagaimanapun juga, aku tidak yakin mereka bisa menang sendirian. Ini benar-benar situasi yang harus dihadapi dengan kekuatan penuh dari Babel dan Hunter! Kita harus segera meminta Elish untuk mengirimkan permohonan bala bantuan lagi!"

Yoru menegaskan hal itu dengan suara bergetar sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

"Semuanya akan baik-baik saja. Sesuai instruksi orang itu, mari kita evakuasi dan menunggu bala bantuan."

"T-tapi, lawannya adalah monster itu! Kalau mereka kalah, kita semua akan tamat!"

Menanggapi perkataan Ruchiru yang penuh percaya diri, Yoru berseru dengan suara melengking.

"Tidak, aku berani bersumpah. Kutukan di rumah ini yang telah mengikat kita selama ini, akan musnah pada malam ini juga."

Ruchiru memastikannya dengan tegas, seolah menggigit kata-katanya sendiri.

"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"

Lactor bertanya dengan tenang sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Itu adalah logika yang sama dengan seekor katak yang takkan bisa menang menantang lautan luas. Sejak awal, dimensinya sudah terlalu jauh berbeda."

Ruchiru menyampaikan kebenaran yang sangat ia yakini saat ini.

Benar. Orang itu sembilan puluh persen pasti adalah seorang Transcenden. Lagipula, ia bukan sekadar Transcenden biasa, melainkan eksistensi absolut yang seolah berada di puncak sistem mitologi.

Kutukan rumah ini pada akhirnya hanyalah entitas di dunia fana. Mana mungkin makhluk yang berevolusi hanya karena melahap jiwa manusia bisa menandingi eksistensi yang mendominasi hukum dunia.

"T-tapi―"

"Yoru, serahkan saja padanya dan mari kita mengungsi. Kalaupun Babel dan Hunter Guild hanya mengirimkan dia seorang diri sebagai pihak penakluk kali ini, kita tak punya pilihan lain selain mengawasinya."

"...Baiklah."

Meskipun mungkin belum sepenuhnya setuju, Yoru akhirnya mengangguk dan mengalah.

"Kalau begitu, mari kita pergi. Ada wilayah kekuasaanku yang lain di sudut lantai satu. Kalau di sana, kutukan macam apa pun takkan bisa masuk."

Tentu saja, itu hanyalah cerita sampai beberapa saat yang lalu. Dengan wujud kutukan rumah ini yang telah berubah sekarang, ada bahaya bahwa wilayah milik Ruchiru bisa dinetralkan dengan mudah.

Namun, Kai Heineman sudah mengatakan akan menyuruh bawahannya untuk melindungi Ruchiru dan yang lainnya. Dengan bawahan yang punya kekuatan absurd seperti itu, pertarungan ini bahkan sudah tidak seimbang.

Hanya ada satu hal yang harus dilakukan oleh Ruchiru dan teman-temannya. Yaitu menyaksikan akhir dari semua ini.

Benar! Menyaksikan kehancuran total dari kejahatan yang telah membelenggu Ruchiru dan kawanannya selama ini!

◇◆◇

―Lantai dasar ketiga rumah itu.

Di dalam ruangan yang dinding, lantai, dan langit-langitnya terbuat dari batu, terdapat banyak meja batu yang tak terhitung jumlahnya. Di atas meja dan lantai di sekitarnya, tergeletak gergaji, pasak, parang, dan banyak perkakas lain yang bahkan membayangkan kegunaannya saja sangat mengerikan.

Potongan daging dan genangan darah berserakan di atas lantai batu. Tempat ini dulunya adalah laboratorium milik Victor, sekaligus tempat lahirnya sang Raja Kutukan.

Saat penaklukan rumah yang dilakukan Ruchiru dan kawanannya dulu, laboratorium bawah tanah di dunia nyata telah dihancurkan sepenuhnya. Ruangan ini hanyalah manifestasinya. Raja Kutukan menciptakan ruang yang persis sama dengan kamar ini di dalam Curse Realm yang diciptakannya.

Sebuah kursi batu terletak di tengah ruangan, dan di sanalah seorang pria raksasa berkepala plontos duduk. Rongga kedua matanya mencekung, dengan darah yang merembes keluar dari rongga kosong tersebut.

Mulutnya menyeringai melengkung hingga ke telinga. Sebuah pasak tertancap dalam di tengah tubuhnya, dan rantai berkarat yang menjulur dari pasak itu seakan terserap ke dalam lantai batu. Pria bertubuh raksasa ini adalah kutukan pamungkas yang diciptakan oleh Victor, sosok yang menyebut dirinya sebagai sang Raja Kutukan.

"Anakku, akhirnya aku menemukannya. Ini adalah tumbal yang akan membebaskanmu dari rumah ini."

Victor melemparkan remaja berambut mangkuk yang masih pingsan itu ke hadapan sang Raja Kutukan.

―Benda itu yang akan membebaskanku dari tempat ini? Aku sangat meragukannya.

Menanggapi jawaban sang Raja Kutukan yang terdengar seperti sebuah kepasrahan itu.

"Kita coba saja dulu. Coba kau serap dia."

Victor memberikan instruksi dengan nada gembira.

―Semoga saja ini tidak membuat perutku sakit.

Raja Kutukan mengucapkan kalimat itu, lalu berdiri dan mendekati Kusuki, remaja berambut mangkuk tersebut.

Ia mencengkeram pergelangan kaki kanan Kusuki dan membuka mulutnya lebar-lebar. Mulut Raja Kutukan melebar secara tak wajar dan langsung menelan Kusuki.

Sambil bersendawa keras, Raja Kutukan mengusap perutnya dengan tangan kanan.

―Rasanya biasa saja...?

Tepat saat ia hendak mengucapkan kalimat penuh kekecewaan, bagian perutnya tiba-tiba menonjol.

―Guoh?

Benjolan itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Setelah menyatu, wujudnya seketika berubah menjadi bola merah pekat.

Bola itu kemudian meliuk-liuk dan melengkung searah jarum jam, yang berangsur-angsur membentuk wujud manusia.

Pada akhirnya, makhluk itu berubah menjadi seorang pria raksasa yang mengenakan pakaian serba putih.

Raja Kutukan menurunkan pandangannya ke arah lubang besar yang terbuka di tengah tubuhnya. Ia menatapnya dengan pandangan kosong selama beberapa saat.

―Pasaknya menghilang?

Suaranya bergetar. Sesaat kemudian, ia mulai tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang melengking menyakitkan telinga.

―Akhirnya! Akhirnya aku terbebas! Dengan begini, aku tak lagi terikat oleh aturan rumah ini!

"Begitukah! Berhasil, ya! Dengan begini aku juga―"

Raja Kutukan melesat dengan kecepatan luar biasa dan mengulurkan telapak tangan kanannya ke arah Victor, yang sedang gemetar kegirangan karena merasa evolusinya telah berhasil.

"Hige? Bubobababababaa!!"

Saat Raja Kutukan meremas wajah Victor dengan tangan kanannya, seluruh tubuh Victor tertekuk dengan sudut yang tak wajar.

Tubuhnya hancur berantakan, dan pada akhirnya berubah menjadi segumpal daging bulat.

Ketika Raja Kutukan merentangkan gumpalan daging itu, wujudnya berubah menjadi monster berjubah hitam dengan wajah luar biasa besar dan mulut yang sobek hingga ke telinga.

"..."

Kepada sosok yang dulunya adalah Victor dan kini hanya bisa terdiam bodoh itu.

―Berikan teror dan keputusasaan pada semua makhluk yang ada di rumah ini!

Sudutkan mereka perlahan satu per satu, dan renggut habis harga diri serta harapan mereka!

Dengan wajah yang menyeringai buruk rupa penuh kesenangan, ia memberikan perintah yang sarat akan kebencian.

Sosok yang dulunya adalah Victor itu menggesekkan dahinya dengan keras ke lantai. Ia lalu meliuk-liuk dengan gerakan aneh dan keluar dari ruangan.

―Kutuklah! Kutuk! Mengutuklah!

―Berikan segala jenis rasa sakit dan ketakutan pada manusia, ternak, tumbuhan, monster, serta segalanya. Itulah keinginanku! Sumber kekuatanku!

―Mengutuk, dikutuk, ubahlah dunia ini menjadi dunia yang penuh dengan kutukan!

Saat Raja Kutukan berteriak seolah sedang bernyanyi, rumah itu berubah warna menjadi merah pekat. Pembuluh-pembuluh berwarna merah pekat muncul di lantai, dinding, dan langit-langit.

―Anak-anakku sekalian!

Tiga monster muncul di hadapan Raja Kutukan.

Yang pertama adalah boneka beruang dengan mulut yang robek. Di mulut robek yang besar itu tumbuh taring-taring tajam, dan di dalamnya terdapat sesuatu yang menyerupai wajah manusia yang sedang tertawa cekikikan.

Yang kedua adalah pria paruh baya dengan banyak wajah yang menonjol di sekujur tubuhnya. Pada wajah aslinya yang besar, terdapat sepasang mata dan mulut hitam berlubang yang sangat mencolok.

Yang ketiga adalah monster dengan wajah yang terpelintir secara tak wajar dalam posisi merangkak.

Ketiga monster itu serempak membuat pose yang menjijikkan.

―Kutuk dan bunuhlah seisi dunia.

Atas perintah Raja Kutukan, ketiga monster itu pun mulai bergerak sambil menggeram.

◇◆◇

Setelah Kai Heineman mencabut pedang panjangnya yang menyeramkan dari sarung di punggungnya dan keluar dari ruangan, Ruchiru sang wanita penyihir jimat memandu mereka ke sebuah gudang di sudut lantai satu. Di sinilah mereka saat ini bersembunyi dan beristirahat.

(Tak kusangka semuanya akan menjadi seperti ini...)

Sambil bersandar di dinding sudut gudang, Okame Natou merenungkan kembali kejadian-kejadian yang telah berlalu.

Awalnya, alasan Okame mengunjungi rumah ini adalah karena ia mendengar cerita tentang tempat ini dari Lancelot, teman sekelasnya di Menara.

Lancelot Grahart, Kepala Penyihir di Menara yang juga dijuluki sebagai jenius yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun. Selama ini Okame selalu memperhatikan Lancelot.

Awalnya, ia rasa mereka saling memandang sebagai rival yang memotivasi satu sama lain.

Namun, kekuatan dan kemampuan Lancelot yang layaknya monster itu terus dipertontonkan kepadanya hingga ia merasa muak, yang pada akhirnya mengubah pandangannya menjadi permusuhan.

Terlebih lagi, semenjak sahabatnya meninggalkan Menara karena alasan yang tak masuk akal, rasa rendah diri dalam diri Okame pun tumbuh semakin kuat hingga tak bisa dibendung.

Saat itulah Lancelot pernah bercerita kepadanya. Ia mengatakan bahwa di masa lalu, sekadar untuk uji nyali, ia pernah mencoba memasuki Rumah Empat Teror Babel yang menjadi area terlarang.

Namun, Skill pendeteksi bahaya miliknya aktif, dan karena ketakutan ia pun lari kembali.

Tentu saja, awalnya Okame mengira Lancelot sedang mengatakan lelucon yang tak biasa baginya.

Akan tetapi, saat melihat raut wajah Lancelot yang serius ketika berikrar akan membebaskan rumah itu dengan tangannya sendiri suatu hari nanti, Okame sadar bahwa setidaknya Lancelot menganggap rumah itu sebagai ancaman yang belum bisa ia atasi saat ini.

Rumor tentang Rumah Empat Teror adalah kisah yang cukup terkenal di kalangan para murid Babel. Tentu saja, Okame yang merupakan seorang realis tidak mungkin memercayai rumor usang semacam itu.

Lagipula, jika tempat itu memang berbahaya, Babel pasti sudah menaklukkannya sejak lama.

Sebaliknya, melihat Lancelot yang memercayai delusi semacam itu membuat Okame untuk pertama kalinya melihat Lancelot sebagai murid sebayanya.

Okame kemudian mengajak adik-adik kelasnya dari sekolah ksatria di tanah airnya untuk merencanakan eksplorasi ke rumah yang ditetapkan sebagai Empat Teror tersebut.

Mungkin saja, Okame hanya ingin membuktikan bahwa rumah yang sangat diwaspadai Lancelot ini tidak lebih dari gubuk reyot biasa.

Ia rasa, ia hanya ingin membuktikan bahwa Lancelot bukanlah anak ajaib yang dipilih dewa, melainkan hanya murid biasa sama seperti dirinya.

Namun, harapan manis Okame yang menyerupai asumsi sepihak itu dihancurkan tak bersisa oleh insiden mengerikan layaknya mimpi buruk yang terjadi di rumah ini.

Ya. Pada akhirnya tebakan Lancelot benar. Kutukan di rumah ini bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh orang selevel Okame.

Flame Snake, jurus andalan Okame yang seharusnya memiliki kekuatan mutlak melawan mayat hidup, tidak mampu memberikan serangan mematikan dan hanya berujung pada pelarian mereka.

Lebih buruknya lagi, Phantom Beast kontrak yang menjadi kartu as Okame, Enjakou, justru berevolusi menjadi spesies naga setelah menyerap Mana kehidupan milik Kusuki.

Makhluk itu kemudian memilih Kusuki sebagai kontraktor barunya dan langsung membuang Okame begitu saja.

Sebenarnya ia tidak berpikir bahwa pilihan Enjakou terhadap Kusuki dalam situasi ini adalah hal yang aneh.

Lagipula, hanya dengan menyerap Mana kehidupannya saja, ia mampu membuat seekor Phantom Beast ular berevolusi menjadi spesies naga.

Dengan keberadaan sosok seperti itu, jangankan Enjakou, roh atau Phantom Beast manapun pasti akan mengubah pandangan mereka dan mencoba membuat kontrak dengan Kusuki.

Intinya adalah ini. Dirinya yang selama ini mengira bahwa ia spesial ternyata hanyalah seorang murid biasa yang tak ada istimewanya.

Sedangkan Kusuki yang selama ini ia rendahkan sebagai murid terbelakang justru adalah monster yang melampaui bahkan sosok seperti Lancelot.

Sangat konyol hingga rasanya ingin tertawa.

Dirinya yang percaya telah diberkati oleh dewa ini, karena kesalahan fatal dalam mengambil keputusan, justru berkali-kali membebani Instruktur Lactor.

Pada akhirnya, kartu as mereka yaitu Kusuki berhasil ditangkap oleh Raja Kutukan.

Hanya dengan menyerap sedikit Mana kehidupan saja sudah cukup untuk membuat Phantom Beast berevolusi menjadi spesies terkuat yaitu spesies naga.

Andai Raja Kutukan menyerap Kusuki, makhluk itu bisa menjadi bencana yang dapat memusnahkan Babel, atau bahkan umat manusia.

Lalu, orang yang akan menyelamatkan mereka dari krisis yang belum pernah terjadi ini pastilah Kai Heineman, remaja berambut abu-abu yang kelihatannya sangat lemah itu.

Kai telah melenyapkan naga api kecil yang mengepungnya, dan bahkan memukuli Enjakou habis-habisan dengan tangan kosong.

Enjakou yang telah berubah menjadi naga adalah inkarnasi dari api bersuhu luar biasa tinggi. Serangan fisik pada dasarnya tidak akan mempan, dan jika ditebas dengan pedang, pedang itu pasti akan meleleh.

Fakta bahwa ia memukulinya dengan tenang menggunakan tangan kosong, membuktikan bahwa ia mungkin memiliki kekebalan absolut atau imunitas terhadap api.

Kemampuan semacam itu jelas merupakan kekuatan tingkat mitologi. Lebih dari itu, dia juga memanggil slime misterius yang bisa menyembuhkan Okame dan yang lainnya dalam sekejap.

Melihat bawahan-bawahannya yang tak masuk akal itu, hampir menjadi fakta mutlak bahwa dia memiliki kekuatan setara Transcenden.

Dan yang terpenting, Okame tahu namanya.

(Benar! Kai Heineman, dia adalah―)

Tepat ketika Okame hampir sampai pada sebuah kesimpulan.

"Okame, kurasa aku harus mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih banyak."

Ruchiru memperbaiki posturnya dan menundukkan kepalanya kepada Okame. Itu adalah hal yang paling tidak diinginkan Okame saat ini.

"Hentikan! Pada akhirnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa! Aku hanya memperburuk situasi!"

Perasaan jijik yang kuat membuncah, dan Okame meludahkannya dengan nada keras.

"Kamu telah mempertaruhkan nyawamu demi kami. Itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah."

"Aku mempertaruhkan nyawaku untuk diriku sendiri! Bukan untuk kalian para hantu! Lagipula, dalam pertarungan, hasil adalah segalanya! Beban tak berguna. Itulah diriku!"

"Kamu adalah murid Babel. Kamu bisa saja tetap berdiam diri di sini tanpa ikut bertarung. Tapi kamu tidak melakukannya."

"Hasil dari kamu memanggil ular itu, kita bisa mengulur waktu hingga kedatangan orang tersebut. Kalau kamu bilang hasil adalah segalanya, maka ini adalah kondisi yang disebut 'semua baik-baik saja pada akhirnya'."

"Aku juga setuju dengan Tuan Ruchiru. Dalam pertarungan, hasil adalah segalanya. Oleh karena itu, jika Kai Heineman berhasil menyelesaikan masalah ini dengan aman, ini juga merupakan pencapaianmu yang telah menciptakan situasi tersebut."

Okame membalas ucapan penyemangat yang tak biasa dilontarkan oleh Instruktur Lactor yang realis tersebut.

"Tidak perlu repot-repot memedulikan perasaanku. Aku sudah sangat menyadari betapa menyedihkannya diriku ini."

Okame menggelengkan kepalanya menepis ucapan itu.

"Jangan berkata begitu. Kalau kamu bicara seperti itu, kami jadi tidak punya muka. Ya 'kan, Yoru?"

"Iya, benar sekali... Padahal kami adalah anggota keamanan Babel, tapi kami tidak bisa melindungi murid yang paling penting."

"Bahkan, kami menyerahkan urusan membereskannya kepada dia yang merupakan orang luar, dan bersembunyi di sini sambil menunggu semuanya selesai. Kalau ada yang harus disalahkan, jelas itu adalah kami."

Yoru menjawab dengan lemas sambil menundukkan pundaknya.

"Lagipula, Okame, kamu masih seorang murid. Kamu sudah berjuang keras dengan membawa mereka sejauh ini."

"Sejak awal, kalau aku tidak membawa Mime dan yang lainnya ke tempat ini, kami takkan mengalami kejadian seperti ini."

Berjuang keras? Hanya demi memuaskan hasrat kepuasan diri Okame yang egois, ia telah menyeret adik-adik kelasnya ke dalam bahaya dan membiarkan mereka mati. Ini adalah dosa karma yang harus Okame tebus seumur hidupnya mulai sekarang.

"Benar! Kami jadi datang ke tempat berbahaya seperti ini karena hasutanmu! Semuanya adalah salahmu!"

Sesuai dugaan, Mime yang mendengarkan dari dekat, melontarkan kecaman yang sangat masuk akal dengan suara histeris.

"Aku benar-benar minta maaf pada kalian. Kalau semua ini sudah selesai, aku pasti akan bertanggung jawab."

Jika ini semua sudah selesai, ia berniat untuk mengambil tanggung jawab penuh dan meninggalkan Babel. Ia tidak berpikir bahwa itu saja akan cukup untuk menebus dosanya. Ia akan menebusnya seumur hidup.

"Tentu saja! Bukan cuma kamu, kalian juga! Pegawai rendahan tak berguna beraninya mengekspos elit seperti kami pada bahaya!"

Mime berseru meluapkan amarahnya. Seharusnya Okame menghentikannya, tapi saat ini Okame tidak punya hak untuk melakukannya.

"Kalian ini―"

Menggantikan Okame, senior Elish dengan ekspresi marah mencoba angkat bicara.

"Hentikan. Kalian seharusnya bisa menolak untuk ikut mengeksplorasi rumah ini kalau kalian mau. Terlepas dari itu, kedatangan kalian ke tempat ini adalah atas kehendak kalian sendiri. Kalian juga sama berdosanya dengan dia."

"Terutama kamu yang tak bisa melakukan apa pun dan hanya diam gemetar. Kamu tidak punya hak untuk menyalahkan orang lain."

Seorang wanita berjubah putih dan mengenakan tudung tertutup rapat yang datang menolong bersama Kai Heineman, menyela untuk melerai mereka.

"Apa katamu!? Lepaskan tudung itu! Aku ini adalah Mime Myers, penerus keluarga Marquis Myers dari Kerajaan Amelia!"

Saat Mime membentak dengan urat nadi di pelipis yang menonjol, wanita itu melepas tudung putihnya.

Wajah yang terungkap itu adalah seseorang yang sangat dikenal Okame, dan memang sesuai dengan dugaannya.

"Y-Yang Mulia Putri Rosemary!"

Mime berseru dengan panik dan langsung memperbaiki postur tubuhnya. Jika hanya sekadar menggunjing dari belakang, itu masih diizinkan di Kerajaan Amelia saat ini.

Namun, penghinaan terang-terangan di hadapan anggota kerajaan jelas berbeda ceritanya. Ada kemungkinan ia akan menerima hukuman yang tak sedikit. Mime pasti mempertimbangkan hal itu. Sambil menaruh kekaguman yang tak pada tempatnya kepada Mime karena masih memprioritaskan perlindungan diri bahkan dalam kondisi krisis ini.

"Yang Mulia Rosemary, lama tak berjumpa."

Okame berpaling menghadap wanita berambut merah muda bernama Rosemary itu, memperbaiki postur tubuhnya, lalu membungkuk hormat dalam-dalam.

"Ya, sejak pesta yang diadakan oleh Tuan Natou yang telah pensiun itu."

Putri Rose tersenyum ramah. Tentu saja, pada kenyataannya wajahnya sama sekali tidak tersenyum sedikit pun. Wajar saja.

Ayah Okame bergabung dengan Aliansi Perjanjian Darah, dan memaksa kakeknya yang sudah lama bersahabat dengan Putri Rose untuk pensiun. Sejak saat itu, Putri Rose dan ayahnya bermusuhan layaknya anjing dan kucing.

"Izinkan aku bertanya satu hal."

"Ada apa? Kalau itu hal yang bisa kujawab, maka tak masalah."

"Orang berambut abu-abu yang menyelamatkan kita tadi adalah Tuan Kai Heineman, sang Royal Guard milik Anda, bukan?"

Okame menguatkan tekadnya dan melontarkan pertanyaan itu. Sebenarnya ini hanyalah pertanyaan untuk mengonfirmasi.

"Tepat sekali."

Rose menjawab seketika sambil menyunggingkan senyum puas layaknya seorang gadis remaja untuk pertama kalinya.

"B-bohong! Jangan berbohong! Tidak mungkin orang paling tak berguna di kerajaan itu adalah monster sekonyol itu!"

Bertolak belakang dengan Mime yang menyangkal hal itu habis-habisan.

(Begitu ya... Jadi memang benar...)

Dengan satu kalimat dari Yang Mulia Rosemary itu, Okame akhirnya bisa memahaminya.

Sejak awal, ini bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. Kemampuan bela diri adalah syarat mutlak bagi seorang Royal Guard.

Putri Rosemary terkenal sebagai pewaris takhta paling cakap di antara tiga kandidat yang ada. Tak mungkin ia menjadikan orang yang tak berguna dan tak kompeten sebagai Royal Guard miliknya.

Memang, dengan kekuatan yang melampaui batas manusia itu, ia sangat pantas menjadi Royal Guard keluarga kerajaan. Bahkan wajar saja jika Pahlawan Besar di dunia Hunter, Ralph Excel, mempercayainya sebagai Hunter terkuat.

"Hah, istilah katak dalam tempurung memang tepat. Pada akhirnya ucapannyalah yang benar."

Okame memiliki seorang sahabat baik yang berprofesi sebagai pendekar pedang. Mereka memiliki hubungan erat, bahkan bersumpah untuk bergabung dengan Ordo Ksatria Penyihir Raja Suci dan memikul masa depan Kerajaan Amelia berdua.

Namun, sahabat pendekar pedangnya itu mengundurkan diri dari Babel usai ikut serta dalam Turnamen Bela Diri Suci di kota petarung Luzahal untuk mengisi waktu luang. Saat Okame mengkritiknya, sahabatnya itu berbicara dengan menggebu-gebu, 'Aku ingin menjadi sekuat Kai Heineman.'

Saat itu, ia sama sekali tak mengerti. Kai Heineman adalah orang yang diakui dunia dan dicap sebagai orang paling tidak kompeten di muka bumi. Ingin menjadi sekuat Kai Heineman?

Itu sangat konyol. Karena itulah sejak saat itu ia berpisah dengan sahabatnya dalam kondisi bertengkar. Namun sekarang ia mengerti sepenuhnya. Kata-kata sahabatnya sangatlah beralasan.

Tepat ketika Okame menutup wajah dengan tangan kanannya dan tertawa hambar akibat rasa penyesalan serta emosi tak dikenal yang meluap-luap, suara gemuruh tanah yang mendekati gudang ini menggetarkan gendang telinganya.

"Mereka telah datang. Sebentar lagi, wilayah kekuasaanku ini juga akan hancur."

Ruchiru menyampaikan laporan mengerikan itu kepada Okame dan yang lainnya dengan tenang.

"Mereka datang... Kita sudah tamat!"

Sementara Mime memegangi kepalanya, berjongkok, dan mulai gemetar, para hantu dan Instruktur Lactor juga memperlihatkan ekspresi getir.

"Tidak apa-apa. Bawahan Kai juga bilang tidak ada masalah, 'kan."

Putri Rose mengucapkan kalimat yang terasa kurang memiliki nuansa ketegangan tersebut.

"Yah, kalau dia yang bilang, kurasa memang akan baik-baik saja."

Elish membalasnya dengan anggukan mantap.

"Mereka datang."

Ketika Elish berbalik menghadap pintu besar dengan ekspresi serius, suara hantaman bergema. Mereka menyadari suara keras langkah kaki yang memijak lantai semakin mendekati gudang tersebut.

Sesaat kemudian, pintu gudang itu penyok besar ke arah dalam.

"Hiiiyyyyyy!"

Sementara Mime menjerit histeris hingga memekakkan telinga, beberapa benturan keras menghantam pintu dari luar.

Akhirnya, sebuah tangan kanan yang berbulu lebat menembus pintu itu. Setelahnya, pintu itu dirobek paksa oleh kedua tangan besarnya.

Kepala besarnya botak, dengan banyak pembuluh darah yang menonjol. Mulutnya sobek hingga ke telinga, dan matanya bulat melotot menyeramkan serta dipenuhi urat merah.

Melihat wujudnya yang teramat mengerikan itu, Mime mendadak menjerit ngeri dengan wajah berkerut ketakutan. Okame tidak berniat untuk mencela Mime. Toh, sejak tadi kaki Okame sendiri bergetar dan ia hanya bisa berdiri dengan susah payah.

Monster itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu menyeringai lebar.

"Ini adalah keinginan anakku, sang Raja Kutukan. Jadilah kalian sebagai tumbal demi kejayaannya!"

Dengan wajah yang dipenuhi hasrat, ia menatap Okame dan yang lainnya, lalu menjilati bibirnya sendiri. Rasa takut yang membuat bulu kuduk berdiri itu membuat gigi-gigi Okame gemeletuk bergetar.

Begitu pula dengan Instruktur Lactor, Instruktur Yoru, maupun para hantu. Mereka bahkan tak bisa menggerakkan seujung jari pun, dan hanya tertegun menatap ngeri ke arah monster tersebut.

Pengecualiannya hanyalah Ruchiru, Putri Rose, dan Senior Elish.

"Kamu Victor, 'kan?"

Jangankan ketakutan, Ruchiru justru bertanya seolah terlihat menikmati momen itu.

"Ruchiruuuu, bergembiralah! Anakku telah mencapai tingkat Dewa Kutukan, dan kalian telah dipilih menjadi korban persembahan pertamanya! Anakku berkata padaku!"

"Luangkan waktu perlahan untuk merebut habis harga diri dan harapan kalian! Satu per satu, sedikit demi sedikit, aku akan memutilasi kalian dan membiarkan kalian di ambang kematian! Rasakanlah teror dan penderitaan saat tubuh kalian perlahan-lahan menghilang!"

Tanpa menjawab pertanyaan Ruchiru, sang monster membengkokkan wajahnya dalam keadaan ekstase dan memuntahkan kata-kata hasratnya.

Sambil menatap monster berkepala besar itu dengan pandangan seperti sedang melihat kotoran yang menjijikkan, Ruchiru angkat bicara.

"Itu sangat jelas, ya. Biasanya aku tidak suka melihat kehancuran orang lain, tapi Victor, khusus untukmu rasanya berbeda."

"Ya, ya! Aku mengerti! Aku mengerti betapa gila penyesalanmu itu! Tentu saja kau ingin mengeluh seolah tidak terima! Tapi sungguh disayangkan!"

"Kalian semua takkan tersisa―"

Kepada Victor yang sedang mabuk dalam kemenangan dengan nada pongah itu.

"Aku sudah muak mendengar omong kosong delusional yang bahkan takkan bisa kau capai! Riwayatmu sudah tamat! Nikmatilah melihat neraka di dunia ini sepuasnya!"

Ruchiru membentaknya dengan suara keras.

"Kau ini―"

Pada saat Victor menyipitkan sebelah matanya dan hendak mempertanyakan Ruchiru yang tak terlihat gentar sedikit pun.

"Gadis kecil, perkataanmu sungguh bagus!"

Hanya dalam sekejap mata, sesosok iblis pria kekar berjenggot yang memanggul gada logam hitam pekat telah berhadapan dengan Victor, seakan datang untuk melindungi Okame dan yang lainnya.

◇◆◇

"Siapa kau?"

Victor bertanya sambil memicingkan mata ke arah iblis kekar yang memanggul gada logam tersebut, lalu mengangkat tangan kanannya yang besar dan berbulu lebat.

Tiba-tiba, monster-monster hitam berkepala besar merangkak keluar dari lantai merah pekat dan mengepung iblis berotot itu.

Saat ini, berkat kekuatan sang Raja Kutukan yang ia panggil anak, Victor telah mendapatkan kekuatan dewa.

Terlebih lagi, klon Victor jumlahnya ada sebanyak ini. Mustahil ia bisa dikalahkan oleh sebatas monster berjenis iblis.

Ini adalah perbedaan kekuatan tempur yang sangat telak. Sudah sewajarnya monster iblis ini meratap, menangis, dan memohon nyawanya saat menyadari situasi tanpa harapan yang dialaminya ini.

Akan tetapi, iblis kekar itu sama sekali tak terlihat gentar sedikit pun menghadapi kawanan monster tersebut.

"Aku? Sejatinya, tak perlulah aku menyebutkan namaku di hadapan serangga sepertimu. Namun, malam ini Yang Mulia Agung sendiri telah memberikan perintah langsung kepada kami, dan suasana hatiku sedang sangat baik! Jadi secara khusus aku akan menjawabnya!"

Iblis itu berdiri tegak sambil berseru dengan angkuh dan lantang.

Serangga? Berani-beraninya seekor monster picisan menyebut Victor yang telah mendaki tangga keilahian ini sebagai serangga? Menyadari tubuhnya sedikit gemetar karena penghinaan luar biasa itu, Victor membalasnya.

"KAU MENYEBUTKU SEBAGAI SERANGGAAAA!?"

Victor melontarkan raungan amarah yang seakan merobek tenggorokannya. Tanpa memedulikan Victor yang amarahnya meledak-ledak, monster iblis berotot itu mengayunkan gada logamnya dengan santai. Ia mengarahkan ujungnya kepada Victor.

"Namaku adalah Zenki! Pengikut pertama dari Raja Iblis Asura, dan eksekutor dari kehendak Yang Mulia Agung, sosok yang menjadi tolak ukur standar absolut bagi kami semuaaahhh!"

Ia memperkenalkan diri dengan suara menggelegar hingga memekakkan telinga.

Detik berikutnya, embusan angin berubah menjadi tornado yang menghancurkan klon-klon Victor yang mengelilingi Zenki. Tornado itu menghempaskan mereka ke segala arah seraya mendekati Victor.

"Guoh!?"

Victor mati-matian mencoba mundur ke belakang dengan panik.

Namun, tornado itu menghempaskan tubuh Victor layaknya daun kering yang gugur. Ia menabrak tembok dengan keras, mengerang, dan bangkit sambil melihat sekeliling.

"..."

Isi perut berceceran di lantai, dan ia mengenali jelas mayat-mayat klonnya yang telah berubah menjadi gumpalan daging yang tak lagi berbentuk.

Saat ia berdiri termangu memandangi pemandangan di luar nalar yang tersaji di depan matanya itu, tiba-tiba Zenki masuk ke dalam pandangannya.

Taring yang tak biasa panjangnya mengintip dari mulutnya, dipadukan dengan dua tanduk panjang. Tubuhnya kekar berotot semerah darah, dengan kilatan mata yang memerah pekat.

Hanya dengan ditatap oleh kilatan mata itu saja, jiwa bertarung Victor yang sebelumnya berapi-api kini langsung layu dan menyusut tipis bagai sehelai benang.

Apa yang dilakukan Zenki barusan sama sekali bukan serangan. Itu hanyalah raungan perkenalan nama.

Hanya dengan itu, gerombolan klon Victor langsung hancur menjadi serpihan daging, dan Victor sendiri mengalami luka yang parah.

Kini, Victor pun memahaminya. Makhluk itu sama sekali bukan monster berjenis iblis.

Makhluk itu bahkan berbeda dari sang Raja Kutukan yang ia panggil anak.

Makhluk itu jauh lebih mengerikan, sesuatu yang sama sekali tak boleh disentuh.

"Tinggal kau seorang diri, 'kan?"

Zenki mengarahkan ujung gadanya kepada Victor sambil mendeklarasikan hal tersebut.

(Mana mungkin aku bisa menang melawan makhluk seperti itu!)

Tidak! Kekuatan mereka terlalu berbeda jauh! Ini bukan lagi soal bisa menang atau kalah! Sejak awal, dimensinya sudah berbeda! Bertarung dengannya ibarat seekor semut yang mencoba menantang naga sendirian.

"Aku diancam―"

Victor mati-matian mencari cara untuk melarikan diri dari monster di hadapannya, dan mencoba melontarkan berbagai alasan.

"Berani sekali kau melontarkan omong kosong seperti memohon nyawamu! Bagaimanapun juga, kau telah memancing amarah dari Yang Mulia Agung kami!!"

"Yang Mulia... Agung?"

"Benar! Sosok satu-satunya yang kami percayai! Yang Mulia Agung telah memberiku titah dewa untuk melindungi orang-orang ini! Ya, beliau telah memberiku titah dewa!!"

"Titah dewa?"

Benar dugaannya. Victor yakin bahwa dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

"Tepat! Bagi kami, titah dari Yang Mulia Agung adalah perintah yang mutlak untuk dipatuhi! Dari semua hal yang bisa kau lakukan, kau malah berani mendeklarasikan diri akan melukai orang-orang yang diperintahkan untuk dilindungi oleh Yang Mulia Agung!"

"Terlebih lagi, kau mengoceh soal menginjak-injak harga diri dan akan memutilasi mereka perlahan-lahan!!"

Pembuluh darah besar menonjol di seluruh wajah Zenki, matanya mendelik tajam. Melihat raut wajahnya yang persis seperti iblis jahat itu, Victor secara naluriah menyadari betapa berbahayanya perkataan dan perbuatannya barusan. Karena itulah—

"Itu tadi cuma bercanda—"

Dia mencoba memberikan penjelasan. Namun—

"Pada dasarnya, aku sangat membenci sampah sepertimu yang hanya bisa menyiksa orang lemah! Ditambah lagi, kamu berani meludahi kepercayaan Junjunganku kepadaku!"

"Itu adalah penghinaan terbesar bagiku dan dosa besar yang tidak termaafkan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

"Sekalipun ini adalah perintah dari Junjungan yang sangat kupercayai!!"

Monster ini telah kehilangan akal sehatnya karena amarah. Kini, permintaan maaf maupun belas kasihan apa pun tidak akan ada artinya lagi.

"H-Hentikan...."

Di tengah pandangannya yang mengabur oleh air mata akibat ketakutan luar biasa,

"Aku akan memberimu penderitaan dan keputusasaan puluhan ribu kali lipat dari yang hendak kamu lakukan! Akan kubuat kamu menyadari sampai ke sumsum tulangmu, apa itu kejahatan yang sesungguhnya!"

Tanpa memberikan jawaban lagi, Zenki perlahan mendekat dengan gada besi di salah satu tangannya ke arah Victor yang terus melangkah mundur.

"J-J-Jangan mendekaattttt!"

Aura pertarungan berwarna merah pekat memancar dari sekujur tubuh Zenki dan membentuk pusaran. Hal itu menciptakan retakan raksasa di dinding ruangan.

"Hukum mati! Hukum mati! Hukum mati! Hukum mati! Hukum mati! Hukum mati!"

Sosoknya benar-benar menyerupai dewa iblis Rakshasa yang muncul dalam dongeng. Zenki yang secara harfiah telah berubah menjadi iblis jahat terus menggumamkan kata-kata itu seperti mantra, mendekati Victor, lalu mengangkat gada besinya tinggi-tinggi.

"Aaaaarrrghhhhh!"

Itu pastinya merupakan saat-saat damai terakhir bagi Victor.

◇◆◇

—Ruang penyimpanan di lantai bawah tanah mansion.

Beto yang ditangkap oleh Victor bersama Kusuki didorong masuk ke ruang penyimpanan kecil yang gelap gulita di lantai bawah tanah pertama. Ia diikat dengan rantai yang dirajut menggunakan sihir, rantai yang bahkan mampu menahan roh halus sekalipun.

Kusuki kemudian dibawa pergi oleh Victor, sehingga Beto kini ditinggalkan sendirian.

Meskipun dirinya sudah mati, dirantai sendirian di dalam ruangan batu yang remang-remang dan dingin itu memunculkan ketakutan terpendam yang tak tertahankan di dalam diri Beto.

"Beto anak yang kuat...."

Ia mencoba menguatkan dirinya berkali-kali. Namun, ia malah terjebak dalam ilusi di mana lututnya yang seharusnya sudah tidak ada dan tembus pandang karena kehilangan tubuh fisik, terus bergetar hebat.

"Beto itu...."

Ia menggertakkan giginya dan menahan ketakutan akan kegelapan. Ia harus bertahan, karena Beto memiliki saudari kembar yang harus ia lindungi!

Din adalah anak yang mudah terbawa suasana dan tidak bisa diam. Dia bisa saja melakukan hal-hal ceroboh seperti melompat ke dalam bahaya sendirian, karena itulah ayah dan ibu meminta Beto untuk melindungi Din!

Tadi pun ia terdesak oleh Din, tetapi karena Lucile sudah mengizinkannya, seharusnya tidak ada bahaya besar bagi Din. Sebaliknya, jika Din yang tinggal, mungkin Din-lah yang akan tertangkap sekarang, bukan Beto.

Hal itu sama sekali tidak boleh terjadi dan tak bisa ia maafkan. Karena itu, situasi ini justru merupakan hal yang baik.

Benar, Beto adalah kakak perempuan Din. Ia harus menjadi kuat dan melindungi adiknya itu.

Jika Beto menangis ketakutan di sini, ayah dan ibunya pasti akan sedih. Terlebih lagi, ia akan kehilangan segalanya lagi seperti hari itu.

Beto sama sekali tidak boleh menangis. Padahal ia seharusnya sudah berjanji di dalam hati, namun kecemasan luar biasa seolah sedang berjinjit di ujung tebing itu membuat air matanya menetes.

—Deg!

Tiba-tiba, seluruh ruang penyimpanan itu terdistorsi dengan hebat. Dinding-dindingnya menggeliat seolah sedang menjerit kesakitan, lalu berubah menjadi merah pekat dan memunculkan banyak pembuluh darah yang menonjol.

"Hikk!?"

Dalam sekejap, ruang penyimpanan itu berubah menjadi pemandangan menjijikkan layaknya jeroan makhluk hidup, membuat Beto segera menelan jeritan yang hampir keluar dari mulutnya. Jika ia berteriak karena takut di sini, ia pasti akan memanggil makhluk yang tinggal di mansion ini.

Ya, sama seperti saat Beto kehilangan segalanya waktu itu.

Saat Beto masih berwujud manusia, keluarga Beto sedang berpiknik di hutan pinggiran kota Babel. Mungkin saat itu nasib mereka memang sedang buruk.

Saat itu mereka secara kebetulan mendekati mansion ini dan diculik oleh Victor yang sedang melakukan eksperimen biologis. Ayahnya mempertaruhkan nyawa memanfaatkan kelengahan mereka, demi membiarkan ibu dan anak-anaknya melarikan diri.

(Aku tidak akan menangis lagi, apa pun yang terjadi!)

Padahal ibunya sudah berpesan untuk tidak bersuara saat melarikan diri, tetapi Beto malah menangis keras karena ketakutan meski ia sedang dipeluk erat oleh sang ibu. Akibatnya, tempat persembunyian mereka diketahui.

Ia tertangkap bersama ibunya, dan menjadi korban eksperimen kutukan Victor yang keji. Pada saat itulah ia bersumpah, ia tidak akan pernah menangis lagi apa pun yang terjadi.

(Beto itu—)

Ketika ia mengerahkan sedikit sisa keberaniannya untuk bertahan sejenak, dinding berwarna merah itu menggelembung, dan sesuatu berbentuk humanoid merangkak keluar. Sesuatu itu adalah monster yang merangkak dengan wajah terpelintir secara tidak wajar.

"Kukekekekekeee! Tercium bau ketakutan yang maniiss!!"

Monster berwajah terpelintir itu meneriakkan suara yang memicu rasa jijik secara naluriah. Beto menutup mulutnya sendiri, mati-matian menahan jeritan yang hampir meledak dari mulutnya.

Monster itu merangkak berkeliling ruangan untuk mengamati sekitarnya. Kedua mata monster yang terpelintir itu dijahit menggunakan sesuatu yang menyerupai benang, sementara hidungnya yang berukuran sangat besar terus mengendus-endus.

Pastinya, monster ini buta dan sedang mencari posisi Beto menggunakan hidungnya. Lagipula, ia tadi sempat menyebutkan soal bau ketakutan.

Beto pernah mendengar dari Lucile bahwa Raja Kutukan memakan rasa takut sebagai nutrisinya. Mungkin, ia sedang mengidentifikasi rasa takut Beto yang merupakan mangsanya.

(Beto anak yang kuat! Beto anak yang kuat! Beto anak yang kuat!)

Berkali-kali ia mengulangi kata-kata terakhir ibunya di dalam hati. Ayah, ibu, dan Din kehilangan nyawa mereka saat itu karena Beto lemah, jadi Beto harus menjadi kuat.

"Di mana rasa takut yang lezat ini beradaaa?"

Sambil mengeluarkan suara yang diseret panjang, monster itu merangkak di lantai batu di sekitar kursi kecil tempat Beto didudukkan.

(Beto itu—anak yang kuat!)

Beto benar-benar putus asa. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengulangi kata-kata terakhir ibunya layaknya sebuah mantra.

"Beto...."

Terdengar suara yang samar-samar. Itu adalah suara yang sangat ia rindukan, sekaligus milik orang yang paling ingin Beto temui saat ini.

Apakah dia salah dengar? Tidak, ia tidak mungkin melupakan suara ini karena ini adalah suara ibu yang sangat ia sayangi!

"I... bu?"

Beto membuka kelopak matanya yang tertutup rapat. Di sana, terdapat wajah ibunya yang memucat dan kram karena ketakutan, namun kepala ibunya itu tumbuh dari dalam mulut sang monster berwajah terpelintir.

"Betoooo, cepat larriiii!"

Saat ibunya meneteskan air mata darah dan berteriak nyaring, monster itu malah bersenandung.

"Ibumu bilang begini, bagaimana nih? Bagaimanaaa?"

Monster berwajah terpelintir itu bertanya kepada Beto.

"Ibu!!"

Monster berwajah terpelintir itu tersenyum lebar ke arah Beto yang memanggil nama ibunya dengan putus asa.

"Okeeeyy. Selamat tinggaaaall!"

Ia berteriak dengan nada suara yang riang. Tiba-tiba, monster mirip reptil yang terpelintir keluar dari tenggorokan makhluk itu, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menelan wajah sang ibu.

Suara kunyahan dan jeritan kematian ibunya bergema di seluruh ruangan.

"Ibu! Ibu! Ibu!"

Beto memanggilnya dengan putus asa berkali-kali demi memastikan keselamatan ibunya, namun monster itu hanya tertawa.

"Sayang sekaliii, dia sudah maatiiii."

Monster berwajah terpelintir itu menatap Beto dengan senyuman buruk rupa. Ia lalu menjilat bibirnya, bersendawa, dan tertawa terbahak-bahak.

—Tuk.

Pada saat itu, terdengar suara sesuatu yang terputus di dalam diri Beto.

"Aku tidak akan memaafkanmu...."

Ketakutan yang sampai-sampai membuatnya merasa lemas itu kini tergantikan oleh emosi lain yang begitu kuat dan tak tertahankan.

"Beto tidak akan memaafkanmu."

Konyol sekali! Kenapa ia harus merasa takut pada iblis menjijikkan seperti ini?

Orang ini adalah sampah sejati yang telah merebut ayah dan ibu dari Beto dan saudarinya, serta mengurung mereka di mansion gelap ini! Makhluk seperti ini sama sekali tidak pantas ditakuti!

"Beto—sama sekali tidak akan memaafkanmu!"

Beto yang sangat marah meludahi wajah makhluk itu dan memelototinya tajam. Ini adalah perlawanan terbaik yang bisa Beto lakukan saat ini, tapi tidak apa-apa.

Sekalipun ia harus mati, ia sama sekali tidak sudi memberikan reaksi yang makhluk ini inginkan.

("Fu-fu-fuu! Beto, Din dan yang lainnya sudah mati, lho!" benar begitu, kan?)

Teringat akan perkataan Din di masa lalu, Beto bahkan mulai merasa geli sendiri.

Untuk sesaat, monster itu terdiam dengan mulut ternganga, seolah terkejut. Namun, tiba-tiba amarahnya meledak.

"K-Kurang ajar! Beraninya bibit sepertimu meludahi Tuan Nejire ini! Akan kubuat kamu dan orang tuamu merasakan penderitaan abadi!!"

Monster itu melontarkan kalimat klise khas penjahat rendahan dari dalam cerita yang pernah dibacakan oleh Lucile. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya yang memiliki cakar tajam ke arah Beto.

"Benar-benar makhluk sampah...."

Kenapa ia harus ketakutan sampai sekarang pada makhluk yang bisa meledak marah hanya karena provokasi anak kecil seperti Beto? Beto sudah lama mati.

Ia telah kehilangan tubuh fisiknya, serta ayah dan ibu yang sangat disayanginya. Jadi, kenapa ia masih harus takut pada monster rendahan semacam ini? Daripada itu—

"Sampah sepertimu pasti akan dikalahkan oleh seseorang suatu hari nanti. Saat itu tiba, kamulah yang akan menangis!"

Beto melontarkan kalimat yang sepenuhnya mengandalkan orang lain. Entah apakah orang itu adalah seorang pemberani, atau seorang pahlawan.

Namun, Lucile dan Kak Eris sudah meminta bantuan, dan mereka pasti akan segera datang ke sini. Dan orang itu pasti akan menghabisi makhluk-makhluk ini sebagai akhir kisah mereka!

"Bocah siaalaaaannn!"

Tangan kanan makhluk itu diayunkan ke bawah. Saat Beto menatap ayunan tangan yang entah kenapa bergerak melambat ke arahnya itu, tangan tersebut mendadak berhenti tepat di depan mata dan hidung Beto.

Di sana, tampak seorang pemuda langsing bertanduk di kepalanya. Dengan ekspresi yang benar-benar mirip iblis jahat, pemuda itu sedang mencengkeram erat pergelangan tangan kanan Nejire.

◇◆◇

Sejak dulu, Goki sangat membenci hal-hal yang tidak benar. Dalam hal ini, kakak laki-lakinya di masa lalu, Asura, adalah yang terburuk.

Dia menyiksa dan membunuh orang-orang lemah yang tidak berdaya hanya sekadar untuk mengusir rasa bosan. Dia terus melakukan permainan yang sama sekali tidak ada gunanya tersebut.

Tentu saja, ia tidak pernah menyangka kalau kakaknya sekaligus tuannya itu bisa mengusir kebosanan dengan cara semacam itu. Kakaknya itu pada dasarnya adalah dewa pertempuran, dia bukanlah iblis seperti itu.

Pengabdiannya setelah sang kakak berubah terasa layaknya sebuah siksaan setiap harinya bagi Goki. Lagipula, ia hanya bisa diam mengawasi sang tuan yang menjadi kebanggaannya itu perlahan ternoda oleh hal-hal yang paling ia benci.

Namun, berkat pertemuannya dengan seseorang, kakaknya dengan mudah mendapatkan kembali jati dirinya yang dulu.

Beliau, Tuan Kai, telah menghajar kakaknya habis-habisan dan mematahkan kesombongannya yang menjulang tinggi.

Dalam pelatihan yang terasa layaknya neraka bersama Tuan Kai, kakaknya tampak seperti ikan yang kembali ke air. Kemampuannya meningkat pesat hingga Goki pun bisa menyadarinya dengan jelas.

Kakaknya yang sekarang sama sekali tidak memiliki niat untuk menyiksa orang lemah. Sebaliknya, dia tampaknya sangat menyesali perbuatannya di masa lalu.

Bahkan belakangan ini, dia aktif berpartisipasi dalam mendirikan negara monster dan iblis bernama Feista.

Tentu saja, bagi para monster dan iblis, kakaknya adalah pemimpin dari pihak yang pernah memperlakukan mereka lebih rendah dari ternak.

Awalnya ada banyak penolakan dan mereka bahkan enggan berbicara dengannya. Namun, berkat sikap tulus kakaknya, kecanggungan itu akhirnya sedikit demi sedikit mulai mencair.

Dia tidak lagi bersikap arogan, tidak memamerkan kekuatannya sembarangan, dan mau minum bersama mereka yang lemah.

Sosoknya itu benar-benar mengembalikan bayangan kakaknya sebelum bergabung dengan organisasi jahat bernama Pasukan Iblis.

Hal itu membuat Goki sangat bahagia hingga rasanya ia ingin melompat girang. Terlebih lagi, orang yang telah membawa kakaknya kembali menjadi Raja Iblis yang ia hormati adalah Tuan Kai.

Kai Heineman—beliau itu sungguh berbeda.

Pertama, kekuatan mutlaknya yang tak tertandingi oleh siapa pun di dunia ini.

Sejujurnya, semakin ia berlatih dan menjadi kuat, Goki justru semakin menyadari betapa jauhnya jarak kekuatan mereka dengan beliau.

Bahkan Panglima Tertinggi Pasukan Iblis pun mungkin hanyalah serangga merayap di hadapan Tuan Kai. Bagaikan naga yang menginjak semut, mereka akan hancur begitu saja dan segalanya pun berakhir.

Hal itu juga berlaku untuk Pasukan Langit. Goki sama sekali tidak bisa membayangkan ada eksistensi di dunia ini yang mampu melakukan pertarungan serius nan seimbang melawan beliau.

Ditambah lagi dengan karismanya yang luar biasa.

Mereka yang mengikuti Tuan Kai adalah dewa-dewa dan monster mitologis dari kelompok [Gods Ordeal] yang dulunya disegel karena dianggap sebagai penghancur keseimbangan dunia.

Kelas eksekutif mereka bahkan memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda dari Enam Jenderal Besar dan Enam Dewa Surgawi, yang merupakan armada tempur tertinggi dari Pasukan Iblis maupun Pasukan Langit.

Terlebih lagi, ada juga bencana paling menakutkan, Beelzebub, bersama mereka.

Sebagian besar dari mereka sangat yakin bahwa merekalah pusat dunia, sehingga mustahil bagi mereka untuk mematuhi orang lain, apalagi membentuk kelompok.

Namun di hadapan Tuan Kai, mereka malah membentuk organisasi kecil berupa faksi dan berusaha keras agar disukai olehnya.

Mungkin hanya Tuan Kai di dunia ini yang mampu memikat jiwa orang-orang dengan ego setinggi itu.

Namun, hal-hal tersebut belum bisa disebut sebagai esensi utama dalam memahami seorang Kai. Hal yang paling aneh adalah Tuan Kai memiliki obsesi yang kuat terhadap ras manusia.

Tentu saja, di antara para dewa pun banyak yang menyukai manusia, jadi hal itu sendiri bukanlah sesuatu yang aneh.

Akan tetapi, rasa suka para dewa itu hanyalah sebatas filantropi yang memanjakan makhluk rendahan tanpa kecerdasan maupun status.

Karena itu, mereka tidak terlalu serius ataupun terobsesi pada manusia.

Ibaratnya, manusia itu bagaikan vas bunga yang disayangi, sehingga jika vas itu hilang mereka mungkin hanya akan merasa sedikit kesal saja.

Sebaliknya, perlakuan Tuan Kai terhadap manusia benar-benar berbeda jauh. Beliau memikirkan masa depan setiap manusia yang hidup di dunia ini dengan sangat serius.

Beliau bahkan menaruh perhatian yang berlebihan pada organisasi manusia yang seharusnya tidak berarti apa-apa baginya. Hal itu seolah-olah menunjukkan bahwa Tuan Kai benar-benar menganggap dirinya sebagai manusia.

Tentu saja hal konyol semacam itu tidak mungkin terjadi. Namun, hal itu berhasil membuat Goki memiliki minat yang kuat terhadap manusia.

Pada misi kali ini yang ia ikuti secara kebetulan, ia berpartisipasi dengan penuh semangat karena diinstruksikan oleh Tuan Kai untuk melindungi para Undead mantan manusia. Sambil membantai musuh rendahan yang bermunculan dari dinding, ia mencari orang-orang yang ditangkap oleh pemilik mansion ini.

Saat itulah ia menemukan seorang gadis roh halus sedang diserang oleh Undead berwajah terpelintir. Ia segera berniat menolongnya, tetapi ia menyadari adanya tekad kuat di kedalaman mata gadis itu.

Merasakan dejavu aneh pada tekad tersebut, Goki memutuskan untuk mengamati situasinya lebih lama. Gadis itu menggertakkan giginya, tidak menyerah pada provokasi berulang sang monster, dan berhasil menaklukkan ketakutannya.

Lalu, monster itu memanggil seseorang yang tampak seperti ibu sang gadis dari dalam mulutnya dan membiarkannya dimangsa monster lain. Setelah tindakan bodoh itu, sang gadis pun berubah.

Meski tidak begitu jelas bagian mananya, itu adalah perubahan besar yang nyata. Gadis itu lalu meludahi wajah sang monster dan dengan sikap tegas berteriak,

"Sampah sepertimu pasti akan dikalahkan oleh seseorang suatu hari nanti. Saat itu tiba, kamulah yang akan menangis!"

Kata-kata itu hanyalah omong kosong dari mantan manusia yang lemah. Seharusnya begitu, tetapi Goki justru merasakan penyesalan dan rasa malu luar biasa saat mendengarnya.

Bahkan gadis rapuh yang seolah bisa hancur hanya karena disentuh ini pun mampu mengalahkan rasa takut dan melawan orang yang jauh lebih kuat darinya. Tetapi, bagaimana dengan Goki?

Ia malah menyerah begitu saja karena merasa percuma, lalu terus menutup mata terhadap kesalahan kakaknya. Padahal peluang keberhasilannya untuk membujuk sang kakak jauh lebih besar daripada gadis ini.

Ia benar-benar tidak bisa menyalahkan kakaknya seorang. Goki juga sama bersalahnya karena ia hanya diam menonton segalanya terjadi.

(Gadis ini adalah diriku di masa lalu....)

Bagi orang yang benar-benar kuat, Goki hanyalah iblis rendahan yang sok jagoan. Ia sangat memahami hal itu sampai ke sumsum tulangnya setelah pertemuannya dengan Tuan Kai.

Ia tidak menyadari kelemahannya sendiri dan memiliki anggapan konyol bahwa orang lemah pun memiliki tanggung jawab, tapi akhirnya malah mengurung diri di dalam tempurung tanpa berbuat apa pun.

(Ternyata aku telah menjadi orang yang paling berengsek!)

Saat ia memikirkan hal itu, sesuatu meledak di dalam diri Goki. Tubuhnya bergerak secara alami.

Ia langsung mencengkeram erat pergelangan tangan kanan monster yang tengah diayunkan ke arah sang gadis tersebut.

"Haaah!?"

"Jangan buka mulut baumu itu."

Sambil tetap memegang pergelangan tangan kanannya, Goki menendang ulu hati sampah yang menyebut dirinya Nejire itu.

"Gugeeekk!"

Tubuh Nejire hampir terpental bak sebuah bola, tetapi Goki menarik pergelangan tangan kanannya dan membawanya kembali. Akibat tarikan kasar itu, lengan kanan Nejire terpelintir hingga hancur berantakan.

"Toh sudah terpelintir. Aku bantu sekalian."

"Gugiii.... K-Kamu ini siapa?"

"Yah, kepribadianmu yang sudah terpelintir sepenuhnya itu tidak akan bisa kupelintir lebih jauh lagi, sih."

Tanpa menjawab pertanyaan Nejire sama sekali, Goki semakin memelintir pergelangan tangan kanannya dan mematahkannya.

"Gugeeek?"

Goki lalu memukul wajah samping Nejire yang sedang mengeluarkan suara konyol.

Dengan kecepatan luar biasa, Nejire menabrak dinding merah itu hingga tembus, terbang sembari menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya menjadi debu.

Saat Nejire akhirnya berhenti terpental, lebih dari setengah bagian lantai satu ruang bawah tanah mansion itu telah hancur total.

"Gugagagee...."

Seluruh tubuh Nejire terpelintir ke arah yang tidak masuk akal dan hanya tersambung oleh selembar kulit tipis.

Ia merintih kesakitan saat tubuhnya amblas ke dalam tanah cokelat kemerahan di lantai bawah tanah tersebut.

Mulutnya berbusa, dan matanya berputar-putar tak karuan ke segala arah. Dilihat dari sisi mana pun, itu adalah luka parah yang hampir merenggut nyawanya.

Goki menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang gadis roh halus.

"Nak, seperti yang kamu katakan tadi. Orang ini benar-benar makhluk sampah."

Goki menegaskannya dengan nada suara tegas. Lagipula, meski tadi dia berkoar penuh kesombongan, Nejire kini sudah sekarat hanya karena satu pukulan Goki yang kekuatannya telah ditekan hingga ambang minimal.

"Nah, enaknya kuapakan orang ini, ya?"

Goki menjilat bibirnya karena ia bisa mengetahuinya secara insting. Makhluk ini adalah tipe yang paling dibenci oleh Tuan Kai.

Jika ia membunuhnya dengan mudah, ia bisa saja mencoreng kehormatan Tuan Kai.

"Guhiii!"

Nejire menyadari masa depannya yang suram dan menjerit melengking, sementara Goki berjalan mendekat sambil membunyikan tulang-tulang jarinya.

Namun tiba-tiba sekawanan besar lalat muncul di udara, dan dalam sekejap mata sosok Nejire menghilang.

"Bunbun! Jangan sembarangan mengambil mangsa orang lain!"

Saat Goki membentaknya, seorang anak laki-laki dengan antena yang dibalut kostum eksentrik mendadak muncul di sana.

"Tunjukkan neraka duniawi pada sampah ini sembari menyelamatkan jiwa manusia di dalamnya. Itulah perintah ayahku. Memangnya makhluk bersel tunggal sepertimu bisa melakukan hal serumit itu?"

Anak laki-laki itu mengangkat bahunya seolah sedang mengejek, dan kata-katanya benar-benar menusuk kelemahan Goki. Kepribadian Goki memanglah seperti itu.

Goki tidak pandai menahan diri dan sangat buta terhadap metode bertele-tele seperti penyiksaan. Terlebih lagi, Goki memiliki kebencian mendalam pada sampah di hadapannya ini.

Sembilan dari sepuluh kemungkinan, Goki pasti akan membunuhnya di tengah-tengah penyiksaan.

Jika jiwa ibu dari sang gadis roh halus masih ada di dalam diri Nejire, ada bahaya bahwa jiwa sang ibu juga akan ikut musnah.

Sebaliknya, Bunbun yang merupakan salah satu dari Tiga Kengerian Beelzebub sekaligus pakar penyiksaan, pasti bisa memberikan kehancuran paling tepat untuk si sampah. Pada saat itu, Bunbun pasti akan bisa memisahkan jiwa sang ibu dengan mudah.

"Sialan! Pergi sana!"

"Paling-paling kamu cuma bisa menjadi pengasuh gadis di sebelahmu itu, ya. Yah, pekerjaan itu memang cocok untukmu yang lebih naif dari kotoran."

Setelah meninggalkan kalimat sarkas itu, sosok Bunbun kembali menghilang layaknya asap.

Goki terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu memotong rantai yang mengikat gadis roh halus itu.

"Ayo pergi. Keluargamu sedang menunggu."

Ucapnya dengan nada ketus sebelum mulai membalikkan badan dan berjalan. Gadis roh halus itu meraih lengan baju Goki lalu berbicara,

"T-Terima kasih."

Gadis itu kemudian mengucapkan rasa terima kasihnya.

◇◆◇

Pria paruh baya dengan wajah-wajah aneh yang muncul di sekujur tubuhnya, membuka pintu utama mansion dan berjalan keluar.

"Akhirnya, aku bebbaass!"

Pria paruh baya itu mulai menari dengan gerakan tak beraturan. Seolah merespons hal itu, monster-monster berkepala empat merangkak keluar dari dalam tanah satu per satu.

Monster-monster itu menari dengan kompak tanpa meleset sedikit pun di sekeliling sang pria paruh baya tersebut. Akhirnya, ia sungguh bisa melarikan diri dari mansion ini.

Monster paruh baya, Hizumi, adalah salah satu dari tiga kutukan kuno nan pekat yang tercipta saat Raja Kutukan terlahir. Raja Kutukan terikat pada mansion ini dan tidak bisa melangkah sejengkal pun keluar dari sana.

Karena itulah Hizumi yang memiliki ikatan jiwa sangat kuat dengan Raja Kutukan juga terus terkurung di dalam mansion ini sampai sekarang. Bisa dibilang, batasan ini adalah satu-satunya belenggu sang Raja Kutukan.

Namun belenggu itu kini telah hancur sepenuhnya, karena sang Raja Kutukan telah memperoleh kekuatan supranatural.

"Sekarang, aku telah meraadeekaaaa! Ayo ayoo, menarilah dengan gilaaaa!"

Hizumi mengaum kegirangan ke arah langit dan terus menari. Para monster berkepala empat di bawah kendalinya juga ikut menari dengan gerakan sinkron yang teramat menyeramkan.

"Nah, enaknya kuapakan tempat ini, yaa!"

Ia telah menerima titah dari sang Raja Kutukan untuk mengutuk mati segala hal di dunia ini.

"Sebagai permulaan, sepertinya aku akan mengutuk semua makhluk hidup di kota ini! Kemudian aku akan membedah mereka hidup-hidup, menguliti mereka, dan mempersembahkannya kepada Raja kita!"

Wajah Hizumi berkerut penuh kepuasan saat ia berjalan sambil melompat-lompat kecil kegirangan. Tepat di belakangnya, para monster berkepala empat membentuk barisan dan ikut melangkah maju sambil melompat-lompat kecil.

Di tengah pemandangan yang sama menyeramkannya dengan mimpi buruk itu, seorang pria berdiri menghadang jalan mereka. Pria itu adalah sesosok iblis bermuka tiga.

Sambil memanggul pedang raksasa berujung cabang dua di pundaknya,

"Aku tidak akan membiarkan kalian lewat sini. Jadilah pakan untuk mimpiku!"

Ia berteriak memamerkan gigi taringnya. Sepasang mata dari sang iblis bermuka tiga itu terbuka lebar, menyorotkan cahaya ganjil yang menyilaukan.

"Sepertinya, kamu ini bukaan maanuusiiaa, ya."

Tempat ini seharusnya merupakan pemukiman manusia. Pasti dia adalah monster yang dipanggil oleh Summoner dari pihak Babel.

Jika memang begitu, berarti rencana yang disusun Victor telah membuahkan hasil, dan pasukan elit Babel pasti berbondong-bondong datang ke mari.

Namun, anjing suruhan manusia mana mungkin bisa menang melawan Hizumi yang telah bangkit berserta para bawahannya.

Makhluk itu hanyalah mangsa yang sangat empuk.

"Boleh saja. Kalian, tolong temani dia bermaain sebentarrrr."

Mendengar perintah Hizumi, para monster berkepala empat serempak mengepung iblis tersebut.

Para monster itu mulai berputar cepat sambil menari mengelilingi sang iblis bermuka tiga.

Melihat pergerakan mereka, wajah iblis bermuka tiga itu seketika berkerut menunjukkan ketidaknyamanan.

"Sialan! Aku kebagian tempat ampas, ya! Hei kalian, kalau mau menyerang, biasanya kalian harusnya menempatkan armada utama di jalur menuju pusat kota, kan!"

"Kenapa kalian malah mengarahkan pasukan elit pada orang-orang lemah yang bersembunyi di dalam mansion! Gara-gara itu, aku malah keduluan oleh Zenki dan Goki!"

Bersamaan dengan auman penuh amarah tersebut, sebuah tebasan raksasa menyapu bersih segalanya. Jeroan makhluk menjijikkan bertebaran di udara.

Dalam sekejap mata, para bawahan Hizumi yang menari melingkar dengan kecepatan tinggi itu berubah menjadi potongan mayat.

"Hah?"

Hizumi mengeluarkan suara kebingungan saat melihat mayat-mayat bawahannya yang telah hancur menjadi daging cincang berserakan di atas tanah. Tentu saja ia sangat bingung.

Raja Kutukan yang diagungkannya baru saja mencapai tingkat keilahian sebagai Dewa. Dewa adalah eksistensi yang berada di luar hukum logika dunia.

Makhluk dari dunia fana yang terikat oleh hukum alam, tidak mungkin bisa menentang eksistensi yang telah menapaki jalan para Dewa.

"K-Kenapa bawahan utusan dewa sepertiku bisa dikalahkan dengan semuudaahh ini!?"

Hizumi mengeraskan suaranya yang dipenuhi oleh tanda tanya.

"Utusan dewa? Cih! Dengan kelemahan seperti itu, kamu berani mengaku sebagai utusan dewa? Maaf saja ya, utusan dewa pun tidak akan selemah dirimu."

"T-Tuanku kali ini telah mendapatkan keilahian dan menaiki tangga Dewa! Tuanku telah memperoleh kekuatan yang cukup untuk mengutuk mati dunia ini berpuluh-puluh kali!"

"Dan aku adalah salah satu dari tiga kutukan yang dilahirkan oleh Tuanku! Kasta kita sangatlah berbeda, kamu ini cuma monster rendahan!"

Mendengar nada dan kalimat yang luar biasa tidak sopan itu, sang iblis bermuka tiga mengorek telinganya santai menggunakan jari kelingking kiri.

"Hah! Mendapat keilahian dan menaiki tangga dewa? Omong kosong! Pertarungan sejati tidak akan bisa terpengaruh oleh barang rongsokan tidak penting semacam itu!"

Iblis itu mendengus dan menegaskannya dengan nada suara keras yang terkesan meremehkan.

"Kamu menyebut keilahian sebagai barang rongsokan!? Benda yang terus didambakan oleh ayah kami itu, kamu sebut sebagai rongsokan!!"

Jalan menuju Dewa bisa dibilang sebagai satu-satunya impian terbesar sang raja. Impian itu tidak mungkin bisa dicapai dengan jalan yang mudah.

Namun kali ini, sang raja akhirnya berhasil mencapai keabadian tersebut.

Pada saat yang sama, Hizumi yang bertindak sebagai utusan dewa dari ayah Raja Kutukan juga mendapatkan kekuatan supranatural yang jauh melampaui siapa pun.

Tetapi iblis yang berstatus sebatas monster rendahan ini malah menyebutnya sebagai rongsokan. Kesombongan semacam itu mana mungkin bisa ia maafkan!

"Ya, rongsokan. Aku sudah muak melihat begitu banyak orang kuat yang sama sekali tidak memiliki keilahian."

"Omong kosong! Lalu apa yang kamu sebut sebagai kekuatan!?"

"Entahlah, aku sendiri juga ingin tahu akan hal itu."

Sudahlah. Buat apa dia terus meladeni perdebatan dengan orang gila ini? Prioritas utamanya adalah mundur dan melaporkan kejadian memalukan ini kepada sang Raja.

Saat Hizumi mencoba melangkah mundur ke belakang, sosok iblis bermuka tiga itu mendadak menghilang.

"Oi, mau ke mana kamu?"

Detik berikutnya, sebuah suara terdengar dari arah belakangnya. Dengan perasaan bergidik takut, Hizumi menoleh ke belakang dan melihat iblis bermuka tiga itu sudah berdiri tepat di depan hidungnya.

"Uhiii!"

Tanpa sadar, Hizumi jatuh terduduk di atas tanah.

"Bereaksi saja tidak bisa, ya.... Kamu ini benar-benar sampah kelas teri. Aku juga tidak punya cukup waktu luang untuk mengurus makhluk sepertimu."

Iblis bermuka tiga itu bergumam dengan malas, lalu mengangkat pedang raksasanya.

Tiba-tiba, energi Mana berwarna merah pekat pembawa malapetaka terkumpul pada pedang raksasa tersebut.

Panas mengerikan dari Mana itu sontak membakar habis seluruh kulit Hizumi.

Panasnya merambat hingga ke tanah, melelehkannya menjadi magma yang mendidih lalu membakar kedua kaki Hizumi dalam sekejap.

"Gugyaaaaaa!"

Takut! Sakit! Takut! Sakit! Mengerikan! Jika pedang raksasa itu benar-benar diayunkan ke bawah, tubuh Hizumi pasti akan langsung hancur.

Bahkan seluruh jiwanya pasti akan terhapus tak tersisa dari dunia ini!

"Aku tidak mauuuuu!"

Padahal ia baru saja menjadi utusan dewa yang selalu ia idam-idamkan sejak lama. Ia sama sekali tidak mau musnah di tempat seperti ini!

Sambil berteriak histeris, merangkak, dan menahan rasa sakit seluruh tubuhnya yang dilahap api, Hizumi membelakangi sang iblis bermuka tiga itu lalu berusaha kabur dengan sekuat tenaganya.

"Matilah!"

Bersamaan dengan kata-kata itu, pedang raksasa milik sang iblis bermuka tiga pun diayunkan.

Tiba-tiba saja kabut hitam menyelimuti sekujur tubuh Hizumi, dan membawanya melayang ke udara dengan kecepatan tinggi.

Di sebelah Hizumi, terdapat monster berhidung panjang yang sedang berdiri tegak menantang dengan kedua tangan di pinggang. Ia menyeringai percaya diri.

Iblis bermuka tiga itu menatap monster berhidung panjang tersebut dengan keenam matanya yang merah dan melotot buas.

"Girimekhala! Makhluk ini adalah mangsaku, tahu!?"

Iblis itu berteriak penuh amarah dengan raut wajah yang siap meledak kapan saja.

"Aku tahu! Orang yang menitahkanmu mengurus mansion ini adalah Dewa kita yang agung, Asura! Campur tangan seenaknya di sini sama saja dengan meludahi wajah Dewa kita!"

"Itu adalah perbuatan yang tidak bisa dimaafkan! Tetapi! Tetapi!! Makhluk itu telah mengkhianati harga diri kejahatan kita!!"

"Ia dengan berani menghina dan menginjak-injak keyakinan kita tanpa malu!! Karena itulah, dia adalah musuh Dewa bagi seluruh pasukan jahat kita!! Kitalah yang akan mengambil nyawanya!"

Mendengar teriakan amarah sang monster berhidung panjang, Girimekhala, monster-monster berwujud ganjil mulai bermunculan satu per satu.

Kebencian gila-gilaan dari ratusan monster itu kini terarah pada Hizumi yang hampir kehilangan nyawanya.

Hanya dengan terkena pancaran aura amarah mereka, kulit Hizumi yang seharusnya indah itu kini melepuh terbakar, dan meleleh layaknya cairan kental. Sekarang ia bisa dengan mudah menyadarinya secara naluriah.

Setiap makhluk yang saat ini mengepungnya, masing-masing adalah Dewa Agung sejati yang tidak ada bandingannya dengan sang Raja Kutukan penciptanya sendiri!

Dan dari sekian banyak eksistensi di dunia, Hizumi benar-benar telah membuat marah kelompok yang paling mengerikan!

"Menghina keyakinan, ya...."

Mungkin ia menyadari sesuatu dari penjelasan panjang Girimekhala. Emosi amarah menggebu yang sebelumnya menyelimuti Asura, sang iblis bermuka tiga, kini benar-benar surut tak berbekas.

"Ya, kita tidak boleh membiarkan sampah yang telah mengkhianati keyakinan kita itu mati dengan tenang begitu saja."

Asura menggaruk-garuk rambutnya dengan kasar menanggapi anggukan setuju dari Girimekhala.

"Mengerti. Kuserahkan padamu."

Asura lalu membuang muka, menunjukkan tanda persetujuannya pada aksi mereka.

"Terima kasih atas pengertianmu, kawan."

Girimekhala menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk hormat, lalu diikuti oleh monster-monster aneh lainnya.

"Bukan masalah. Buatlah orang idiot itu menyesalinya sepuas kalian."

Mendengar kata-kata yang secara mutlak merupakan persetujuan akhir dari Asura,

"T-Toloong aakkkuuuuu!"

Hizumi menjerit meminta belas kasihan dengan suaranya yang pecah setelah memprediksi nasib paling tragis yang akan dihadapinya. Meskipun ia sangat sadar bahwa jeritan itu adalah perbuatan yang sangat percuma....

"Asura, aku tidak tahu apakah ini sepadan, tetapi kami ingin memberikan informasi mengenai dewa babi lainnya yang telah merancang rentetan kekonyolan di mansion ini padamu."

"Dewa babi lainnya yang merancang kekonyolan di mansion ini?"

"Ya, sepertinya orang itu memiliki ikatan takdir tersendiri denganmu. Tentu saja, berkat Dunia Kutukan milikku, informasi di tempat ini sama sekali tidak akan bocor ke luar."

"Jadi, kamu bebas mengamuk sesukamu pada si babi itu."

"Ikatan takdir, ya. Yah, aku sudah bisa menebaknya dari awal...."

Gigi taring Asura yang sangat tajam terekspos keluar, dan wajahnya berubah ganas layaknya binatang buas. Detik berikutnya, pandangan Hizumi menjadi gelap gulita.

◇◆◇

"Aku tidak pernah mendengar hal seperti inii!"

Messy, pria yang kurus kering selayaknya orang berpenyakit, berlari di tengah kabut yang menyelimuti area sekitarnya sambil terus merengek menangis.

Pada awalnya, segala sesuatunya berjalan persis seperti apa yang telah Messy rencanakan.

Kutukan mansion ini akan mengutuk mati sebagian besar murid Babel yang datang berkunjung dan para anggota pasukan keamanan yang datang untuk menolong.

Di tengah prosesnya, mereka memang disembunyikan oleh wanita dengan jimat di wajahnya.

Tetapi hal itu juga merupakan bagian rencana Victor, sang Undead yang menyebut dirinya sebagai ayah dari kutukan mansion.

Salah satu anggota tim penyelamat berhasil meminta bala bantuan Babel menggunakan kemampuan spesialnya.

Victor berencana untuk menyerap penyihir tingkat tinggi yang diperkirakan akan dimobilisasi sebagai bala bantuan itu. Ia ingin menjadikan penyihir itu nutrisi bagi evolusi sang Raja Kutukan mansion tersebut.

Permata itu adalah alat sihir yang dapat memicu evolusi sesuai dengan besaran Mana yang dimakan dan diserap oleh pemiliknya.

Mana milik penyihir tingkat tinggi akan ditambahkan pada Mana asli milik sang Raja Kutukan.

Dengan begitu, Raja Kutukan itu pasti akan berhasil berevolusi menjadi kelas Raja Iblis sejati. Seharusnya, ia bisa menyelesaikan tujuan misi ini dengan sangat lancar.

Namun, rencananya hancur berantakan karena ulah manusia berpotongan rambut mangkuk tersebut.

Hanya dengan menyerap sebagian Mana manusia itu, seekor kadal api rendahan berevolusi menjadi Naga Api.

Naga Api itu jelas-jelas bukanlah spesies naga biasa. Menilai dari kemampuannya bergerak dan menyatu dengan api, naga itu adalah spesies langka, spesies fantasi Ratzel.

Spesies fantasi Ratzel—makhluk legendaris yang tubuhnya tersusun dari elemen dasar seperti Api, Tanah, Angin, Air, Kegelapan, dan Cahaya, serta kebal terhadap seluruh serangan fisik.

Spesies ini dikatakan sebagai spesies yang posisinya paling dekat dengan Dewa, dan sangat berbeda dari ras lainnya.

Hanya dengan menyerap sebagian Mana-nya, kadal api murahan itu bisa berevolusi menjadi spesies fantasi Ratzel yang legendaris. Manusia berambut mangkuk itu sudah pasti adalah wadah yang sangat spesial.

Bahkan Messy yang merupakan seorang Dewa pun tidak bisa membayangkan akan sekuat apa jadinya jika ia menyerap Mana bocah itu.

Jika Messy berhasil menyerapnya, ia mungkin bisa setara dengan Dewa Tertinggi Charybdis yang selalu ia puja.

Hanya saja, ia tentu merasa khawatir. Ada risiko timbulnya efek buruk jika ia ceroboh menyerap zat pemicu mutasi mendadak semacam itu secara langsung.

Demi menghindari risiko tersebut, ia berniat membiarkan Raja Kutukan menyerapnya terlebih dahulu, barulah setelah itu Messy akan memangsa sang Raja Kutukan.

Tindakan ini bisa dianggap sebagai bentuk pemberontakan kepada Tuan Charybdis. Jika rencana ini sampai terendus, ia akan menerima eksekusi hukuman yang sangat berat.

Oleh karena itu, agar tidak ada seorang pun yang mengetahui aksinya, Messy menciptakan Dunia Kutukan miliknya untuk menutupi mansion dan mengamati prosesnya.

Namun, seluruh rencana Messy hancur berkeping-keping tanpa sisa sejak kedatangan sang monster berambut abu-abu itu.

Messy tahu siapa monster itu, karena sebelumnya Tuan Charybdis telah menitahkannya untuk mengawasi si abu-abu tersebut. Bocah itu adalah Kai Heineman.

Dari hasil investigasi, Tuan Charybdis menyimpulkan bahwa ia hanyalah anak manusia biasa karena ia tak memiliki serpihan kekuatan yang setara dengan serangga sekalipun.

Tetapi, Kai Heineman bisa menghajar spesies fantasi Ratzel yang telah berevolusi menggunakan tangan kosongnya hingga makhluk itu kehilangan semangat bertarung.

Messy mungkin masih bisa mengerti jika anak itu diam-diam menggunakan kemampuan spesial.

Namun, sangat jelas dari ucapannya bahwa ia sama sekali tidak menggunakan kemampuan khusus apa pun. Kemampuan pasif itu adalah kekebalan terhadap tipe api atau Absolute Resistance.

Kekebalan absolut merupakan kemampuan amat langka yang bahkan jarang dimiliki oleh jajaran para Dewa tertinggi.

Kenyataan bahwa seorang manusia biasa memiliki kemampuan mustahil tersebut adalah hal yang sama sekali tak bisa diterima oleh logika Messy.

Di tengah kebingungan logikanya, Messy refleks menjerit ketakutan melihat makhluk-makhluk tak masuk akal yang dipanggil oleh Kai Heineman.

Makhluk-makhluk itu adalah tiga ekor iblis, tapi rasanya salah menyebut mereka sebagai iblis.

Mereka adalah Dewa. Apalagi, mereka adalah Dewa Agung yang levelnya jauh melampaui Dewa Charybdis.

Tiga Dewa Agung itu berlutut takluk dan menunduk hormat kepada manusia rendahan seperti Kai Heineman. Melihat semua kenyataan tersebut, kepanikan di otak Messy menembus puncaknya.

Berkat perubahan wujud Kai Heineman yang terjadi sesaat setelahnya, ia langsung tersadar bahwa ia telah melakukan kesalahan penilaian yang teramat fatal.

Energi Mana perpaduan hitam dan merah yang terlihat mengerikan serta mampu mengubah nalar dunia milik Kai Heineman.

Sorot matanya yang tajam seolah menatap kematian, dan seringaian yang terasa seolah merobek memanjang hingga ke daun telinga.

Penampilannya benar-benar merupakan perwujudan agung dari sosok penjahat absolut. Benar, Kai Heineman adalah Dewa Agung Kejahatan, dan ia adalah eksistensi yang berada di puncak terkuat dunia ini!

Begitu menyadari dengan mata kepalanya sendiri siapa monster Kai Heineman itu sebenarnya, Messy segera bersiap untuk melarikan diri.

Messy langsung berlari kencang, membuang harga dirinya jauh-jauh, bahkan rela menelantarkan titah dari Dewa Utama Charybdis sekalipun.

Ia memang bisa keluar dari batas mansion itu dengan mudah.

Dengan kekuatan fisik kaki yang ia miliki, seharusnya ia bisa segera kabur mencapai area pusat kota Babel.

Namun sedari tadi, ia terus berlari tanpa ujung di dalam hutan yang diselimuti kabut putih tebal. Dilihat dari sudut pandang mana pun, ini sangat tidak normal.

Kemungkinan terburuk, ia telah dikurung di dalam jebakan domain makhluk-makhluk gila itu.

(Sejak kapan aku dikurung di dalam ruangan ini!?)

Ketika ia menggumamkan pertanyaan yang entah sudah keberapa kalinya itu, kabut di sekitarnya mendadak buyar dan menampakkan cahaya rembulan di ujung jalan.

"Aku berhasiil keluuaarr!"

Seolah menemukan secercah cahaya terang di tengah gulitanya malam, Messy segera berlari secepat kilat keluar dari hutan.

"...."

Namun, tempat di ujung jalan itu adalah sebuah padang rumput yang senyap.

Bulan raksasa yang melayang di langit malam menerangi wajah Messy dengan cahaya yang menyilaukan.

"Mustahiill...."

Setelah secara jelas memproses situasinya saat ini, Messy mengeluarkan suara yang memancarkan keputusasaan luar biasa.

Benar. Sembilan dari sepuluh kemungkinan, mimpi buruknya ini belum berakhir.

Padang rumput datar yang begitu luas semacam ini tidak pernah ada di sekitar kota Babel, dan bulan berukuran raksasa itu tak mungkin muncul di langit dunia Lemuria.

Terlebih lagi, iblis Agung bermuka tiga kini sedang berdiri di depan mata Messy sambil memanggul pedang raksasa bercabang dua.

"Kamu ini boneka suruhan milik Lopt, kan?"

Iblis Agung bermuka tiga itu bertanya memecah keheningan dengan sikap kecewa.

"Lopt?"

Lopt, tentu saja ia sama sekali tidak pernah memiliki kenalan dengan orang bernama aneh itu.

"Kamu tidak pernah mendengar nama aslinya? Kalau begitu, apakah dia pernah menggunakan nama samaran seperti Loki?"

"—Hah!?"

Begitu mendengar nama yang keluar dari mulut sang iblis Agung bermuka tiga, gelombang kejut yang amat luar biasa seolah menghantam kepala Messy tanpa ampun.

"Hah! Dilihat dari reaksimu barusan, tebakanku tepat sasaran, ya! Pria suram itu pastinya tidak akan memberitahukan nama aslinya pada serangga sepertimu."

"Seperti biasanya, dia adalah pria yang selalu ekstra berhati-hati sampai-sampai membuatku merasa muak."

Sambil mengangguk beberapa kali seolah telah paham, dewa iblis bermuka tiga itu melontarkan kata-katanya.

"Kamu temannya Loki, kan?"

Dia bertanya dengan takut-takut. Karena jika benar begitu, Messy mungkin tidak akan dihancurkan. Namun, harapan Messy yang seolah memohon itu—.

"Dulu memang begitu! Tapi sekarang tidak lagi! Tuan kami, Tuan Kai, merasa sangat muak dengan Pasukan Jahat itu sendiri! Karena itu, Lopt yang masih menjadi bagian dari Pasukan Jahat adalah musuhku yang jelas!"

Harapan itu dengan mudahnya dibantah oleh sang dewa iblis bermuka tiga. Tidak, lebih dari itu, apa yang baru saja dikatakan oleh dewa iblis bermuka tiga ini?

"Tadi... kamu bilang Pasukan Jahat, kan?"

Mana mungkin hal konyol seperti itu terjadi! Pasukan Jahat adalah salah satu dari dua kekuatan besar yang menguasai hukum dunia ini.

Itu adalah organisasi jahat tempat dewa utama, Tuan Charybdis, pernah bernaung.

"Jadi, kamu juga belum diberitahu soal itu? Fakta bahwa kamu baik-baik saja setelah menyebut Pasukan Jahat membuktikan bahwa pikiranmu tidak dimanipulasi."

"Sungguh aneh, itu sama sekali tidak seperti dirinya yang sangat berhati-hati. Kalau dia yang biasanya, dia pasti sudah menjadikan kalian semua boneka, jadi jangan-jangan ini karena urusan Pasukan Surga?"

Dewa iblis bermuka tiga itu pun terdiam dalam pikirannya.

"Ugh..."

Messy juga bukan orang bodoh. Dari serangkaian perkataan dewa iblis bermuka tiga itu, dia menyadari situasi tanpa harapan yang sedang dihadapinya.

"Ghk!"

Tubuhnya bergerak secara alami. Didorong oleh rasa takut yang seolah masih mencekik lehernya, dia membalikkan badan dari dewa iblis bermuka tiga itu dan berusaha melarikan diri.

"Yah, sudahlah. Lagipula aku sama sekali tidak peduli dengan niat Lopt saat ini."

Bersamaan dengan perkataan itu, pandangan Messy retak secara vertikal.

"Kehi?"

Tubuhnya terbelah menjadi dua tepat dari ujung kepalanya.

"Kerusakan pada tubuh dan jiwa melebihi batas perkiraan telah dikonfirmasi. Spell Alpha akan diaktifkan."

Bersamaan dengan suara datar yang bergema di dalam kepalanya, kesadaran Messy pun memudar.

◇◆◇

Dari luka sayatan pria kurus kering yang terbelah rapi dari ubun-ubunnya itu, muncul sejumlah tabung yang saling memperbaiki satu sama lain. Selain itu, daging di permukaan seluruh tubuhnya mendadak berbusa dan membengkak dengan cepat.

Dinding daging itu membentuk bola dan berusaha menelan Asura.

"Cih! Sudah kuduga, dia meledakkan diri! Benar-benar bajingan yang membosankan seperti biasa!"

Sambil melontarkan makian itu, dia mengayunkan pedang besar bercabang duanya secara horizontal.

Dalam sekejap, cahaya menyilaukan memancar dan menyelimuti seluruh area di sekitarnya.

Ketika pandangannya kembali normal, padang rumput di hadapan Asura telah hancur membentuk kawah besar.

"Agii..."

Di tengah kawah itu, pria kurus kering bernama Messy terbaring dalam kondisi sekarat, mengeluarkan suara aneh yang tidak bisa disebut kata-kata.

"Ini pasti jebakan rahasia milik Lopt untuk melawan Enam Dewa Langit. Sayangnya, ilmu kutukan sepele seperti ini sama sekali tidak mempan padaku yang sekarang."

Asura melontarkan kata-kata itu lalu melangkah maju untuk memberikan serangan penghabisan. Tiba-tiba, sesuatu berwarna hitam muncul di depan Messy.

Begitu menyadari bahwa sosok itu adalah monster lalat bipedal,

"Sekarang giliranmu, Beelzebub? Apa kau juga mau bilang kalau orang ini melanggar aturan?"

Asura mengarahkan ujung pedang besarnya ke arah dewa lalat agung Beelzebub, dan melemparkan pertanyaan dengan nada kesal.

"Ini adalah pupuk untuk membuat mainan yang akan dimainkan oleh Tuan yang sangat Babu cintai, chu."

Mendengar jawaban Beelzebub yang terdengar sangat bersemangat tidak seperti biasanya,

"Mainan untuk dimainkan Tuan Kai? Kroco yang kelihatannya bakal mati hanya dengan satu tebasanku ini?"

Asura menyipitkan matanya dengan curiga.

"Ini hanyalah salah satu suku cadangnya, shu. Babu yang akan membuatnya, chu. Babu akan menjadikannya mainan terbaik yang bisa dinikmati oleh Tuan kita, chu."

Untuk ukuran Beelzebub, dia berbicara dengan sangat cepat sambil mengisap dotnya hingga berbunyi berdecak, sebuah pemandangan yang sangat langka.

"Mainan terbaik, ya... Apa kau juga berniat memanfaatkan apa yang disebut kutukan di mansion ini?"

"Seberapapun kau memodifikasi seekor belatung, apa menurutmu itu bisa mengalahkan Babu, chu?"

"Tentu saja itu mustahil."

Si Beelzebub ini, dia pasti sudah menentukan siapa yang akan dia manfaatkan. Toh inti dari mainan itu pastilah makhluk yang kekuatannya bisa membuat mata terbelalak.

Bagi Beelzebub, melihat Tuan Kai bersenang-senang dari lubuk hatinya adalah kebahagiaan tertinggi. Dan sekarang, Beelzebub itu bilang akan membuat sesuatu yang bisa bertarung sengit dengan Tuan Kai.

Kekuatannya pasti akan berada di luar nalar. Terlebih lagi, sangat jarang melihat Beelzebub berbicara sebanyak ini, sehingga ini pastilah rencana yang sangat besar baginya.

"Aku punya satu syarat."

"Apa itu, chu?"

Mendengar Beelzebub bertanya balik dengan nada yang sedikit kesal,

"Sebelum dia bertarung melawan Tuan Kai, biarkan aku bertarung melawan mainan itu dulu."

Asura menuntut dengan nada tegas.

"Kau mungkin akan mati, chu. Apa kau tetap mau melakukannya, chu?"

Jadi dia berniat menciptakan monster di level yang mengharuskan Asura yang sekarang untuk mempertaruhkan nyawanya? Beelzebub memang sinting seperti biasanya.

"Ya, aku tidak peduli."

Satu-satunya yang pantas bermain dengan Tuan Kai hanyalah Asura. Dia tidak berniat menyerahkan peran itu kepada siapa pun di dunia ini.

Beelzebub menatap Asura dalam diam untuk beberapa saat.

"...Baiklah, chu."

Setelah menjawab dengan datar, dia dan pria kurus kering itu menghilang ke dalam kegelapan hitam.

Siapa pun itu tidak ada hubungannya, sebab Asura telah bersumpah pada Tuan Kai.

Dia bersumpah akan mendaratkan satu pukulan telak pada Tuan Kai! Satu-satunya yang akan memuaskan dahaga Tuan Kai, sang penguasa mutlak, adalah dirinya, Asura!

"Aku... akulah yang akan memastikan harapanmu terwujud, Tuan Kai!"

Dengan tekad yang kuat, Asura mengangkat pedang besarnya ke langit dan mengaum keras.

◇◆◇

—Lantai Basement Dua.

Kawanan boneka yang memegang berbagai senjata seperti kapak dan pisau memenuhi lantai, dinding, dan langit-langit. Mereka benar-benar sebuah pasukan besar.

Bagaikan ombak raksasa, mereka menyerbu ke arah pemuda berambut abu-abu yang baru saja menuruni tangga dari lantai atas.

Dengan jumlah yang begitu luar biasa ini, secara logika, pemuda berambut abu-abu itulah yang akan berakhir menjadi daging cincang.

Namun, saat beberapa garis cahaya berkelebat melesat di sekitar pemuda itu, tak satu pun boneka yang tersisa. Semuanya hancur menjadi debu dan berserakan menumpuk di atas lantai.

Barisan monster wanita berambut panjang yang merangkak menyerbu pemuda berambut abu-abu itu secara bergerombol.

Namun, hanya dengan satu ayunan pedang yang santai, mereka hancur menjadi serpihan darah dan daging yang membasahi lantai layaknya hujan merah.

Seekor iblis bertubuh raksasa yang tampak seperti Kepala Koki melihat kejadian itu. Dia menjerit tertahan dan berbalik untuk kabur, tetapi leher dan tubuhnya tetap saja tertebas hingga menggelinding menyedihkan di lantai.

"..."

Kematian itu menjadi pemicu utamanya. Kepala Koki yang merupakan petarung tangguh telah dibunuh dengan begitu mudahnya.

Zombi koki dan hantu lainnya yang menatap kosong pada pemandangan mustahil itu langsung menjerit ketakutan.

Mereka lari kocar-kacir membubarkan diri bagaikan anak laba-laba yang sarangnya dihancurkan.

Pemuda berambut abu-abu itu berdecak pelan lalu mengayunkan pedang panjangnya dengan ringan. Hanya dengan gerakan sesederhana itu, kepala dan anggota tubuh para monster terputus lalu jatuh berdebum ke tanah.

Ya, ini adalah pembantaian sepihak oleh yang terkuat. Tidak, bukan, ini hanyalah rutinitas membuang sampah, atau lebih tepatnya operasi pembasmian hama.

Sebuah tindakan sepihak yang begitu kejam dan sama sekali tidak masuk akal.

Hantu-hantu di tempat ini telah diperkuat secara signifikan, hingga satu ekor saja memiliki kekuatan untuk membantai habis tim elit Babel.

Berkat energi kutukan yang meluap di dalam tubuh mereka, para hantu itu sama sekali tidak meragukan kekuatan mereka sendiri.

Memang benar bahwa hantu-hantu di sini adalah kerabat dari Raja Kutukan yang telah memperoleh sifat keilahian dan berevolusi menjadi dewa tingkat atas, atau dengan kata lain, utusan dewa. Dalam situasi normal, penilaian mereka itu sudah sangat tepat.

Akan tetapi, yang sedang menyerang mereka saat ini adalah makhluk tidak masuk akal terkuat di dunia ini. Eksistensinya telah melampaui level yang bisa ditangani oleh dewa tingkat atas sekalipun.

Setelah menyadari fakta itu dari lubuk jiwa terdalam, keputusan pertama mereka untuk melarikan diri adalah tindakan yang sangat masuk akal.

Sayangnya, ada juga makhluk bodoh di antara kutukan di mansion ini yang bahkan tidak mampu membuat keputusan sejelas itu.

"Para pengecut yang mencoba lari dari musuh, kembalilah ke tanah!!"

Gada besi raksasa diayunkan ke arah para hantu yang kabur, mengubah belasan dari mereka menjadi gumpalan daging yang terlempar ke udara.

"Ini adalah pertempuran pertama sejak Raja kita turun ke dunia ini. Sekalipun kalian hancur, jiwa kalian akan terus hidup sebagai darah dan daging dari Raja kita!"

Mendengar jaminan dari raksasa penuh jahitan yang berucap dengan bangga namun sama sekali tidak memberikan dorongan semangat itu,

"..."

Semua monster hanya bisa menggemeretakkan gigi tanpa berani bergerak sedikit pun.

Tentu saja, pada dasarnya kerabat Raja Kutukan akan pulih dalam beberapa menit meskipun telah ditebas, sehingga kematian instan adalah hal yang mustahil bagi mereka.

Namun, tepat setelah ditebas oleh pemuda berambut abu-abu itu, mereka benar-benar berubah menjadi mayat yang bungkam.

Seoptimis apa pun mereka memandangnya, mereka tidak yakin bisa terus hidup sebagai darah dan daging Raja Kutukan.

"Aku memerintahkan kalian untuk menyerang!"

Dia kembali memukuli hantu-hantu di sekitarnya sampai mati dengan gada besinya sambil melontarkan teriakan marah.

"!!"

Dari depan, sesosok monster misterius terus mendekat, sementara dari belakang, raksasa penuh jahitan yang bertindak sebagai komandan memaksa mereka bertarung.

Terjebak dalam situasi maju kena mundur pun kena, para hantu itu menerjang ke arah pemuda berambut abu-abu dengan wajah yang berlinang air mata dan ingus ketakutan.

"Guga?"

"Kehe!"

Sambil mengeluarkan suara konyol, tubuh para hantu yang menyerang pemuda berambut abu-abu itu terurai menjadi balok-balok kecil sebelum berjatuhan ke tanah.

Detik berikutnya, balok-balok itu hancur hingga ke tingkat molekuler.

Melihat pemandangan mengerikan di mana tak ada satu pun mayat yang tersisa,

"Monster..."

Hantu tinggi berpakaian pelayan menggumamkan kata itu dengan wajah pucat pasi karena ketakutan. Sesaat kemudian, gumaman itu menyebar ke hantu-hantu lainnya.

"Ugh..."

Seorang hantu mengerang pelan. Tepat setelah itu, rasa takut yang sedari tadi tarik-menarik antara maju melawan harimau atau mundur melawan serigala, akhirnya condong sepenuhnya ke satu sisi.

"Uwaaaah!!"

Mereka secara serempak menjerit histeris, berbalik membelakangi pemuda berambut abu-abu itu, dan mulai berlari tunggang langgang.

"H-Hei, kalian tidak boleh lari!"

Raksasa penuh jahitan itu dengan panik memberikan perintah kepada hantu-hantu lain, tetapi tidak ada yang mendengarkannya dan semuanya kabur berebutan.

"Aku tak akan membiarkan kalian lolos."

Suara dingin tanpa belas kasihan milik pemuda berambut abu-abu itu bergema.

Segera setelah itu, kepala semua hantu yang sedang berlarian terlepas dari tubuh mereka, lalu terbanting ke lantai batu yang keras dengan ekspresi ketakutan yang kaku.

Sesaat kemudian, tubuh dan kepala mereka hancur menjadi partikel-partikel debu.

"Hah?"

Mungkin dia masih belum bisa mencerna situasinya. Raksasa penuh jahitan itu mengeluarkan suara konyol sambil menatap tragedi di depan matanya.

"Kaulah pemimpin mereka, kan?"

"..."

Kepada raksasa penuh jahitan yang masih terbengong tanpa membenarkan atau menyangkal hal tersebut,

"Aku tidak tertarik dengan para kroco. Antarkan aku ke tempat yang namanya Raja Kutukan itu."

Pemuda berambut abu-abu itu menodongkan ujung pedang panjangnya tepat ke depan hidung raksasa itu dan memberikan perintah dengan nada keras.

"...J-Jangan bunuh aku..."

Mendengar raksasa penuh jahitan itu memohon ampun dengan suara yang nyaris menghilang, pemuda berambut abu-abu itu mengerutkan kening dengan perasaan sangat muak.

"Aku tidak punya banyak waktu luang. Karena itu... cepat antarkan aku!"

Dia menuntut dengan teriakan keras yang memekakkan telinga.

"Hiiik!"

Melihat raksasa penuh jahitan itu langsung berlari terbirit-birit,

"Lagi-lagi makhluk rendahan, ya... Tapi, jika itu adalah Raja Kutukan di mansion ini..."

Pemuda berambut abu-abu itu memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu berlari mengejarnya.

◇◆◇

Raja Kutukan, Curse King, paling menyukai rasa takut makhluk lain di atas segalanya.

Karena itu, dia selalu menarik mangsanya ke dalam Alam Kutukan miliknya, menyiksa mereka secara perlahan, dan memeras habis rasa takut mereka sampai tetes terakhir.

Baru setelah itu, dia akan membunuh mereka dengan kutukan dan mengikat jiwa mereka.

Tentu saja, ada segelintir orang yang berhasil lolos dari ikatan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang dipengaruhi oleh mantan manusia serangga bernama Ruchiel.

Kemungkinan besar, itu karena kemampuan khusus bernama Gift yang dimiliki oleh ras manusia sialan itu.

Orang itu memiliki kekuatan untuk membebaskan manusia serangga dari belenggu Curse King dan menyembunyikan mereka di wilayah khususnya sendiri di dalam mansion ini.

Gara-gara kekuatan sialan inilah, Ruchiel bisa memerintahkan hantu-hantu bawahannya untuk menakut-nakuti dan mengusir serangga yang menyusup ke mansion ini.

Tujuannya agar mereka tidak memenuhi syarat untuk ditarik ke dalam Alam Kutukan milik Curse King, dan karena itulah jalan evolusi Curse King tertutup hingga saat ini.

Arah angin berubah sejak kedatangan sosok mulia itu. Dewa yang menyebut dirinya Messy tersebut memberikan kekuatan kepada Curse King untuk mencapai tahap dewa.

Setelah mendapatkan kekuatan itu, situasinya langsung berbalik seratus delapan puluh derajat.

Sekarang, Curse King bahkan bisa menarik serangga pengganggu yang belum memenuhi syarat ke dalam Alam Kutukan miliknya.

Masalah ini tidak diberitahukan secara detail kepada Victor, sang pencipta Curse King, demi memanfaatkannya dengan baik.

Meski disebut pencipta, bagi Curse King, Victor hanyalah sebuah alat praktis untuk membebaskan dirinya dari mansion terkutuk ini.

Pada akhirnya, Victor menyelesaikan perannya sebagai alat dan membawakan manusia mutan itu ke hadapan Curse King.

Begitu manusia itu ditarik masuk, tingkatan Curse King melonjak drastis dan dia pun terbebas dari mansion ini dengan mudah.

Karena Curse King telah lepas dari belenggu sialan mansion ini, sisanya hanyalah pekerjaan rutinitas belaka.

Curse King tidak perlu repot-repot menyebarkan kutukan secara langsung lagi.

Dia menyerahkan tugas menaklukkan Babel kepada salah satu utusannya yang bernama Hizumi.

Sementara itu, Curse King memutuskan untuk bermain Permainan Kutukan menggunakan wanita ras Elf, salah satu mangsa tidak tahu diri yang baru saja menerobos masuk ke mansion ini.

Permainan Kutukan adalah salah satu jurus rahasia Alam Kutukan untuk menyudutkan mangsa secara perlahan lalu menyerap kepanikan mereka sebagai nutrisi.

Rasa takut yang dialami mangsa di dalam Alam Kutukan ini akan terserap langsung ke dalam diri Curse King.

Mangsa yang takluk dalam Permainan Kutukan ini akan dipajang wajahnya di dinding ruangan ini.

Pada saat yang sama, kemampuan fisik, Mana, Skill, hingga Gift mereka akan sepenuhnya menjadi kekuatan Curse King.

Menurut informasi dari Victor, Elf yang dikirim oleh Babel kali ini memiliki Gift yang sangat berguna.

Tujuan utama Curse King adalah menjadi Dewa Kutukan terkuat yang melampaui Tuan Messy yang telah membuatnya berevolusi.

Karena itulah, wanita Elf ini wajib dijadikan sebagai kekuatannya sendiri.

Pertama-tama, dia membiarkan Elf itu kabur, menyudutkannya secara perlahan, lalu menggiringnya agar melarikan diri ke lantai atas. Tentu saja, mansion ini sekarang bisa diubah-ubah sesuka hati Curse King.

Karena itu, saat Elf itu membuka pintu di lantai atas dan bergegas masuk, pintu tersebut malah terhubung langsung dengan ruangan tempat Curse King dilahirkan ini.

"Eh?"

Suara konyol itu meluncur keluar dari mulut sang Elf yang tadinya memasang wajah lega.

Dengan ekspresi bersyukur karena selamat, Elf itu menoleh ke sekeliling untuk mengecek keadaan.

Namun, saat dia melihat kepala-kepala manusia hidup yang tertanam di dinding tertawa cekikikan sambil meneteskan air mata darah, wajahnya seketika memucat dalam keputusasaan.

"Hiiiii!"

Dia memekikkan jeritan yang memekakkan telinga.

Emosi ketakutan yang kental mengalir masuk ke dalam diri Curse King.

"Lezat! Ini rasa takut kualitas terbaik!"

Benar tebakannya, menyalakan cahaya harapan di hati mereka lebih dulu, lalu mengubah cahaya itu menjadi teror dan keputusasaan. Ini adalah cara paling efisien untuk memanen rasa takut dari manusia-manusia ternak itu.

Curse King melesat mendekati sang Elf yang masih menjerit histeris, lalu memotong lengan kirinya dengan golok.

"Gaaaaah!"

Curse King perlahan mendekati sang Elf yang menjerit dengan wajah berkerut kesakitan, lalu kembali mengangkat goloknya.

Dia bisa merasakan rasa takut yang lebih berkualitas mengalir masuk ke dalam dirinya. Sebagai dorongan terakhir, jika dia memutilasi wanita Elf ini secara perlahan, Permainan Kutukan ini akan selesai.

Namun, tepat ketika dia hendak mengayunkan goloknya ke bawah, pintu besar Rahim Kutukan di Lantai Basement Tiga ini terbuka dan sesosok raksasa penuh jahitan benar-benar menggelinding masuk.

Raksasa ini adalah Hagirya, utusan tingkat tinggi yang bertugas menjaga mati-matian Lantai Basement Dua. Dia sangat setia kepada Curse King dan mustahil baginya untuk memberontak.

Namun, Hagirya dengan tidak sopan menunjuk ke arah Curse King seraya berseru,

"Raja kita ada di sini!"

Benar, dia melontarkan kata-kata pengkhianatan. Sesaat kemudian—.

"Terima kasih sudah mengantarku. Sebagai hadiahnya, kuberikan kematian padamu."

Bersamaan dengan kata-kata yang membuat bulu kuduk berdiri itu, seluruh tubuh Hagirya terbelah menjadi dua secara vertikal.

Di tengah cipratan darah merah pekat yang berterbangan, entah sejak kapan seorang pemuda berambut abu-abu telah berdiri di samping Hagirya.

"Apa maksudnya ini?"

Hagirya adalah utusan tingkat atas Curse King, jadi mustahil dia cukup lemah untuk kalah dari seorang manusia rendahan. Terlebih lagi, tidak ada aura ancaman yang terpancar dari pemuda itu sama sekali.

Bahkan para pelajar manusia yang menyusup ke mansion ini terasa jauh lebih tangguh darinya. Namun, pemuda yang seharusnya lemah itu mampu membunuh Hagirya tanpa memberikan kesempatan melawan.

Selain itu, Curse King bahkan sama sekali tidak bisa menyadari pergerakannya barusan. Bagaimana dia harus memahami situasi tak masuk akal ini?

Saat Curse King berkedip sekali dalam kebingungannya,

"Ghk?!"

Manusia berambut abu-abu itu tiba-tiba sudah berdiri tepat di depan matanya.

"Minggir. Kau menghalangi jalan."

Ketika menatap mata pemuda berambut abu-abu yang mengucapkan perintah itu, Curse King merasa seolah-olah sedang berada di dalam mulut monster bercaling tajam yang luar biasa besar. Secara refleks, dia melompat mundur hingga ke sudut ruangan.

Dari ujung jari hingga ke sekujur tubuhnya, sebuah getaran dahsyat yang baru pertama kali dirasakannya seumur hidup langsung merambat cepat.

Sama sekali tidak mempedulikan Curse King, pemuda berambut abu-abu itu mendekati wanita Elf yang sedang tercengang. Dia mengeluarkan cairan berwarna merah dari sakunya,

"Minumlah ini."

Dia menyerahkan botol itu dengan nada lembut dan memberikan instruksi.

"B-Baik..."

Saat wanita Elf itu meminumnya dengan setengah ragu, luka di sekujur tubuhnya langsung sembuh seketika. Curse King pernah mendengar hal ini dari Victor sebelumnya.

Itu pasti barang yang dibuat manusia bernama ramuan pemulihan. Curse King sama sekali tidak menyangka kinerjanya akan sehebat itu.

Namun, bagi para kutukan seperti Curse King, pemulihan fisik bukanlah sebuah keajaiban melainkan fenomena biasa. Hal semacam ini sama sekali tidak pantas untuk dikagumi.

"..."

Sambil merendahkan pusat gravitasinya dan memasang kuda-kuda dengan perasaan krisis yang masih bergejolak kuat, Curse King terus mengamati manusia berambut abu-abu itu.

"Raja, apa yang terjadi, kuma?"

Mendengar suara tanya Yugami yang keheranan, barulah Curse King tersadar kembali. Di saat yang sama, rasa malu yang luar biasa hebat menyergapnya.

Benar juga. Dia ini hanyalah bocah manusia biasa.

Apa pantas Curse King yang telah memperoleh keilahian dan menjadi dewa ini merasa takut pada serangga sampah sepertinya? Hal itu sama sekali tidak boleh dibiarkan terjadi.

"Segala hal yang dilakukan penghuni mansion ini benar-benar membuatku kesal."

Pemuda berambut abu-abu itu memindahkan pandangannya ke arah koleksi kepala-kepala yang tumbuh dari dinding, lalu meludahinya dengan raut wajah sangat tidak nyaman.

"Hmph! Kalau kau kesal memangnya kenapa, kuma!"

Mendengar teriakan Yugami yang mendengus angkuh, ketenangan Curse King yang biasanya pun kembali memulih.

Kekuatan yang terasa dari manusia ini bahkan lebih rendah dari serangga. Dengan kata lain, dia hanyalah manusia yang lemah.

Alasan Curse King tidak bisa menyadari pergerakannya pasti karena Gift penghalang persepsi.

Terkadang, memang ada manusia yang terlahir dengan kemampuan luar biasa yang tidak sesuai dengan derajat mereka.

Tentu saja, fakta bahwa Hagirya telah terbunuh tidak bisa diabaikan. Sudah pasti ada seseorang di antara mereka yang memiliki senjata untuk membunuh kerabat Curse King.

Kemungkinan besar, kemampuan pemuda itulah yang membuat rekan-rekannya tidak bisa disadari oleh pihak Curse King.

"Yugami! Musuhnya bukan hanya dia seorang! Jangan lengah!"

Mendengar ucapan Curse King, pemuda berambut abu-abu itu menghela napas panjang lalu berucap,

"Awalnya aku berpikir ingin melakukan pertempuran yang menggetarkan jiwa dengan apa yang disebut Raja Kutukan itu, tapi aku berubah pikiran. Tak peduli kalian menangis atau menjerit, aku akan memperlihatkan neraka dunia ini pada kalian tanpa menyisakan satu pun."

Sambil mengarahkan ujung pedang panjangnya ke Curse King, dia memuntahkan kata-kata sombong dan penuh arogansi dengan penuh penekanan.

Kemampuan penghalang persepsi milik bocah ini sangat merepotkan. Curse King harus melenyapkannya menggunakan kutukan terkuat miliknya.

"Curse Punishment!"

Dengan membentuk segel menggunakan kedua tangannya, Curse King mengaktifkan kartu as miliknya, Curse Punishment.

Kutukan dalam jumlah tak terhitung bermanifestasi di bawah kaki pemuda berambut abu-abu itu, mengambang di sekitarnya seolah memiliki nyawa sendiri.

Kemudian, benang-benang merah pekat berbentuk jaring muncul dari kutukan tersebut, dan sepenuhnya membungkus tubuh pemuda itu tanpa celah.

"Hmph! Kekanakan!"

Begitu seseorang tertangkap dalam Curse Punishment ini, daya tahannya akan menjadi tidak berarti.

Target akan dipaksa merasakan hukuman dibakar, disalib, dipenggal, digergaji, dan berbagai penderitaan keji lainnya.

Sekarang, pemenangnya sudah bisa dipastikan.

"Inilah akibat karena menyombongkan diri meskipun kau hanya makhluk lemah."

Nah, Curse King tidak peduli lagi dengan serangga sampah yang telah jatuh ke dalam kutukan itu. Saatnya memulai kembali Permainan Kutukan.

Namun, ketika dia hendak melangkah maju mendekati sang Elf,

"Membosankan."

Begitu suara pemuda yang kesal itu terdengar dari dalam kepompong, kepompong merah yang membungkusnya langsung hancur berkeping-keping.

"A... pa?"

Menyadari kenyataan yang sama sekali tidak masuk akal itu, Curse King bergumam penuh keterkejutan seolah kepalanya baru saja dihantam keras.

Tentu saja. Meskipun Curse Punishment hanya berlaku pada makhluk hidup, sekali kutukan itu diaktifkan, secara teori mustahil ada yang bisa menahannya.

"Muak, aku benar-benar muak. Apa kalian melakukan hal sebesar ini hanya dengan kecerdasan setingkat Goblin?"

Tanpa berusaha menyembunyikan kekesalannya, manusia berambut abu-abu itu melemparkan pertanyaan kepada Curse King dan rekan-rekannya yang masih berdiri membeku.

"Mustahil! Ini adalah kutukanku yang telah berubah menjadi Dewa!"

Memang benar, terkadang di antara umat manusia terlahir orang-orang yang memiliki resistensi terhadap kutukan. Bagi manusia yang memilikinya, bahkan kutukan terkuat yang mampu membunuh seekor naga sekalipun tidak akan memberikan efek berarti.

Akan tetapi, itu hanya berlaku untuk energi kutukan milik Curse King yang dulu.

Di dunia fana ini, tidak ada satu pun hal yang tidak bisa dibunuh dengan kutukan oleh Curse King yang sekarang telah mencapai tahap dewa.

Tidak, hal semacam itu sama sekali tidak boleh ada! Kalau begitu, bagaimana dia harus menjelaskan tentang eksistensi aneh di depan matanya ini?!

"Tenanglah!"

Curse King berusaha keras mendinginkan kepalanya yang kacau balau, dan mengembalikan pikirannya yang berantakan ke kondisi semula.

Fakta nyatanya adalah, kutukan Curse King tidak mempan terhadapnya.

Kalau begitu, selama makhluk tidak menyenangkan ini dibunuh untuk memotong kekhawatiran di masa depan, semuanya akan selesai.

Lagipula, bocah itu hanyalah manusia biasa yang kebal terhadap kutukan. Tanpa menggunakan kutukan pun, dia cukup dihancurkan secara fisik saja.

Serangan rekan-rekannya juga hanya menjadi ancaman berkat kemampuan penghalang persepsinya.

Jika pemuda berambut abu-abu itu dibunuh, efeknya akan terlepas dan rekan-rekannya pasti akan terlihat dengan sendirinya.

"Bunuh sampah masyarakat yang tidak menyenangkan itu!"

Sambil mengamati sekeliling dengan waspada agar tidak terjadi hal di luar dugaan, dia memerintahkan Yugami untuk memusnahkan bocah berambut abu-abu tersebut.

"Sesuai perintahmu, kuma!"

Saat tubuh Yugami membesar hingga sekitar tiga meter, leher panjang seorang pria bermata jahit menjulur keluar dari mulutnya, lalu merapalkan kutukan.

Seketika itu juga, puluhan boneka beruang raksasa bertaring dan bercakar tajam bermunculan dari lantai batu, kemudian mengepung pemuda berambut abu-abu tersebut.

"Aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja! Aku akan membiarkanmu menikmati penderitaan dan teror seolah ingin mati sepuas-puasnya!"

Bahkan dengan mengandalkan gangguan persepsi, sampah manusia ini tidak akan mungkin bisa menang melawan Yugami.

"Kebetulan sekali. Aku juga baru saja memikirkan hal yang sama."

Sambil menepuk bahunya dengan bagian punggung pedang panjang, dia mengarahkan ujung pedang ke arah kawanan Curse King dan melontarkan omong kosong tersebut. Menanggapi ucapan yang sangat tidak sopan dari manusia berambut abu-abu itu,

"Dasar manusia rendahan sialan!"

Yugami menjadi murka, dan seketika kawanan boneka beruang itu menyerbu manusia berambut abu-abu secara serempak.

Yugami adalah utusan kutukan tertua yang diciptakan oleh Curse King, eksistensi yang sudah mencapai tahap keilahian.

Kekuatannya berada di level yang sepenuhnya berbeda dari utusan lain, dan ras manusia mutlak tidak akan bisa melawannya.

Sekalipun itu adalah pahlawan legendaris terkuat dari ras manusia, satu ekor saja kerabat Yugami sudah cukup untuk mengubahnya menjadi daging cincang dalam sekejap.

Karena itulah, Curse King tidak meragukan sedikit pun masa depan di mana manusia berambut abu-abu itu berakhir menjadi mayat yang mengenaskan.

Namun, prediksi yang semanis gula itu... dipatahkan dengan begitu mudahnya.

Tepat ketika boneka-boneka utusan Yugami hendak menyentuh pemuda berambut abu-abu itu, mereka mendadak hancur berkeping-keping dan jatuh berhamburan ke atas lantai batu yang dingin.

"Eh?"

Saat Yugami mengeluarkan suara keheranan, sosok manusia berambut abu-abu itu tiba-tiba menghilang tanpa bekas.

"K-Ke mana dia pergi, kuma—"

Ketika Yugami sibuk mencari-cari dengan nada cemas, tubuh raksasanya mendadak terangkat. Di belakangnya, berdiri si pemuda berambut abu-abu yang mengangkat Yugami dengan satu tangan kiri tanpa kesulitan sama sekali.

"S-S-Sejak kapan—?!"

Yugami mengepakkan kedua tangan dan kakinya berusaha kabur, sambil berteriak menanyakan hal yang wajar dalam kepanikannya.

"Kalian bertindak terlalu jauh."

Suara dingin yang mampu membekukan jiwa terdengar dari manusia berambut abu-abu itu. Dalam sekejap, tubuh raksasa Yugami dilempar ke atas hingga menabrak langit-langit ruangan batu, sebelum akhirnya jatuh perlahan.

Tempat jatuhnya tepat berada di atas kepala manusia berambut abu-abu itu.

"Giyaaaaaah!!!"

Sambil memekikkan jeritan yang dipenuhi rasa takut mendalam—sebuah reaksi yang mustahil untuk ukuran replika Curse King—ubun-ubun Yugami yang sedang melayang turun tertusuk telak oleh pedang panjang si pemuda. Dan kemudian—.

"Gugekekekekeek!"

Sambil mengeluarkan suara jeritan aneh, tubuh Yugami perlahan dirobek membentuk pola salib. Manusia berambut abu-abu itu menarik pedang panjangnya dari tubuh Yugami yang terbelah, lalu menendangnya dengan acuh tak acuh.

Hanya dengan begitu saja, seluruh tubuh Yugami meledak bagaikan buah merah matang, menumpahkan darah dan daging seperti hujan lebat berwarna merah.

"..."

Pikiran Curse King tidak bisa memproses semua kejadian ini. Pria berambut abu-abu itu tetap saja tidak memancarkan Mana maupun energi kutukan yang berarti, sehingga dia pastilah manusia biasa.

Meski begitu, utusan Yugami dicincang halus dalam sekejap mata, dan bahkan Yugami yang notabene adalah belahan jiwa Curse King dihancurkan bagaikan serangga.

Pria berambut abu-abu yang seharusnya lemah itu, kini terlihat seperti monster misterius yang mengerikan di mata Curse King.

"Nah, sekarang..."

Pemuda berambut abu-abu itu menepis darah di pedang panjangnya, lalu menatap tajam layaknya burung pemangsa.

Dengan putus asa, Curse King berusaha menepis tekanan luar biasa yang membuatnya merasa seolah-olah jiwanya sedang diremas,

"Dasar bajingan! Aku tak akan pernah memaafkan tindakan tidak sopanmu pada diriku yang telah menjadi dewa ini!"

Curse King mengamuk dan membentuk segel dengan kedua tangannya. Dia mengerahkan seluruh sisa energi kutukannya untuk menciptakan kutukan mematikan, lalu memerintahkan mereka untuk membunuh pemuda itu.

Ratusan, bahkan mungkin hingga ribuan kerabat Curse King yang terbentuk dari kumpulan kutukan kental, menerjang serentak untuk mengubah manusia berambut abu-abu itu menjadi daging cincang.

"Dead Line."

Kata-kata maut tanpa ampun dari pemuda berambut abu-abu itu menggema, dan seketika ribuan garis cahaya membelah para kerabat yang menerjang.

Tepat sebelum serangan itu mengenainya, persis di depan mata, para kerabat tersebut hancur menjadi serpihan daging dan bertebaran ke mana-mana.

"Kenapa... kenapa! Kenaaapaa!"

Curse King mulai putus asa. Walaupun dia menciptakan Raksasa Kutukan untuk menghantamkan godamnya, lengan, kaki, leher, sekaligus godam raksasa itu seketika terpisah dari tubuhnya sebelum akhirnya hancur menjadi debu.

"Aku tak mengakuinya! Aku tak akan pernah mengakuinya! Kali ini, aku sudah menjadi dewa!"

Dia memanifestasikan seluruh sisa kutukannya dan menembakkannya ke arah bocah itu.

Kutukan yang berubah menjadi ombak besar nan keruh itu berusaha menelan si pemuda berambut abu-abu, tetapi pemuda itu hanya menepisnya dengan tangan kiri, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.

Seketika, kutukan yang sanggup membunuh seekor naga hanya dengan satu sentuhan itu sirna tanpa sisa sedikit pun.

"Dewa? Jangan bilang kau melakukan hal serendah ini hanya demi sesuatu yang bahkan tidak pernah ada?"

Tepat setelah suara yang sarat akan amarah kental milik pemuda itu terdengar, sosoknya menghilang dari pandangan dan tiba-tiba saja dia telah mencengkeram bagian belakang kepala Curse King.

Sepersekian detik kemudian, wajah Curse King dibenturkan dengan keras ke lantai batu.

"T-Tunggu!"

Bersamaan dengan benturan luar biasa di wajahnya, rasa sakit tak tertahankan seolah ditusuk besi panas tembus ke seluruh tubuhnya, membuatnya menjerit memohon agar dihentikan.

Namun, tanpa mempedulikan teriakan Curse King, manusia berambut abu-abu itu kembali membenturkan wajahnya ke lantai berulang kali.

"Kumohon, tunggu!"

Curse King meronta sekuat tenaga untuk meloloskan diri, tetapi cengkeraman itu tidak goyah sedikit pun.

Tanpa bisa berbuat apa-apa, Curse King hanya bisa pasrah wajahnya terus dibenturkan ke lantai.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Di tengah ketakutan dan penderitaan luar biasa itu, Curse King memohon berulang kali agar pemuda itu berhenti.

Namun, pemuda berambut abu-abu itu tidak mengindahkannya dan terus menghantam wajah Curse King ke tanah dalam diam.

Mengerikan—kekuatan di luar nalar milik pemuda berambut abu-abu ini!

Mengerikan—aura sangat kental dan kejam yang dipancarkannya hingga membuat seluruh kulit Curse King perlahan meleleh!

Mengerikan—lebih dari segalanya, jiwa tanpa sedikit pun belas kasih dan ampun itu! Segala hal tentang monster berambut abu-abu ini terasa sangat menakutkan sampai-sampai Curse King hampir menjadi gila.

Akhirnya, pemuda berambut abu-abu itu membuang Curse King layaknya sampah, lalu membungkuk dan menatapnya ke bawah.

"Hiiik!"

Curse King dengan jelas menyadari kebencian kuat di balik tatapan mata pemuda itu kepadanya.

Dia menjerit dan berusaha merangkak kabur dari monster di depannya, tetapi pemuda itu langsung menginjak punggungnya.

Kutukan terbaik Curse King maupun utusan terkuat kebanggaannya sama sekali tidak mempan terhadap monster ini.

Apalagi, pertarungan ini terjadi di dalam Alam Kutukan miliknya yang seharusnya melemahkan siapapun yang menyusup ke mari.

Bagaimanapun caranya, Curse King mutlak tidak bisa memenangkan pertarungan melawan monster ini. Dan kenyataan itu....

"A-Ampuni aku! Aku sama sekali tidak tahu kalau Anda adalah dewa yang agung!"

Itu secara tidak langsung membuktikan bahwa pemuda berambut abu-abu ini adalah entitas keilahian yang setara dengan Curse King. Ya, tidak salah lagi, monster ini adalah dewa dengan kasta tertinggi di antara para dewa.

Dia adalah penguasa mutlak yang bahkan mustahil untuk ditemui oleh dewa baru sekelas Curse King.

Sialnya, kali ini Curse King justru mencari gara-gara dengan monster sungguhan ini.

"Oh? Jadi kamu akan menentukan perlakuanmu pada lawan berdasarkan identitasnya?"

Injakan di punggungnya semakin diperkuat hingga meremukkan tulang belakang dan mengocok organ dalamnya menjadi bubur, membuat tanah di bawahnya amblas.

"Gugek!"

Fakta itu sudah sangat jelas baginya. Sekalipun dia memohon ampun pada monster ini sekarang, hasilnya mutlak akan sia-sia.

Sebaliknya, setiap kali Curse King berbicara, siksaan yang dia terima terasa semakin kejam.

Karena jika dia terus berdiam diri dia pasti akan disiksa hingga lenyap tak tersisa, dia harus mengambil langkah terakhir.

"J-Jika kau membunuhku, jiwa-jiwa di ruangan ini tidak akan pernah bisa kembali lagi!"

Dia memutuskan untuk bertaruh besar-besaran untuk menyelamatkan nyawanya.

Tekanan kaki yang menginjak punggung Curse King seketika menghilang. Lalu—.

"Begitu, ya. Jiwa-jiwa yang terperangkap di kamar ini ternyata masih utuh. Kalau begitu, mungkin aku masih belum terlambat."

Entah dari mana, pemuda berambut abu-abu itu mengeluarkan sebuah buku.

Tiba-tiba saja, beberapa ekor slime bermunculan dan melompat kegirangan di sekeliling pemuda itu.

"Bisa kalian sembuhkan orang-orang di dinding itu?"

Dia mengucapkan omong kosong menggelikan yang membuat orang ingin tertawa.

Slime-slime itu melompat beberapa kali, lalu membelah diri dan menempel di dinding. Setelah itu, mereka menelan ribuan kepala yang tumbuh menonjol dari dinding tersebut.

"Gugaaah!"

Tiba-tiba, rasa sakit luar biasa seolah sarafnya disayat langsung oleh benda tajam merambat ke sekujur tubuh Curse King.

Rasa sakit ekstrem itu terus terjadi berulang kali secara beruntun.

Di tengah rasa sakit yang begitu hebat hingga membuat pandangannya kabur, dia mendongakkan wajahnya.

"M-Mustahiiiil!"

Sebuah realita yang benar-benar tidak masuk akal sedang terjadi tepat di depan matanya.

Manusia-manusia yang jiwanya telah sepenuhnya tercemar kutukan Permainan Kutukan, kini satu per satu terbaring di lantai dalam wujud fisik orang hidup.

Padahal, tepat saat mereka tertangkap ke dalam Permainan Kutukan, tubuh fisik mereka sudah dipastikan mati.

Menghidupkan kembali tubuh yang telah hancur menjadi wujud yang sempurna merupakan keajaiban yang mustahil dilakukan bahkan oleh dewa dengan kasta tertinggi sekalipun.

Terlebih lagi, dari mana asalnya rasa sakit mengerikan seolah sarafnya direnggut paksa ini?

"Gugiii!"

Jangan-jangan rasa sakit ini muncul setiap kali kepala-kepala itu kembali berwujud menjadi manusia utuh? Dengan kata lain, ini artinya—.

"Permainan Kutukanku sedang dimakan?!"

Mustahil! Hal semacam itu sangat tidak mungkin!

Di saat Curse King setengah mati menyangkal kenyataan, orang terakhir yang terjebak dalam Permainan Kutukan berhasil dipulihkan menjadi manusia hidup.

Slime-slime tersebut kembali ke ukuran semula, lalu mulai berputar melingkari pemuda berambut abu-abu itu dengan gembira.

"Ternyata, jiwa yang sudah terlalu lama mati memang tidak bisa diselamatkan, ya ...."

Dewa berambut abu-abu itu menatap jiwa-jiwa biru pucat yang melayang di sekitarnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan frustrasi sejenak sebelum bergumam.

"Kerja bagus. Kalian sangat membantu. Nanti aku akan memberi kalian hadiah. Sekarang, mundurlah sebentar."

Dia memberikan kata-kata pujian kepada para slime. Makhluk-makhluk itu melompat-lompat kegirangan, lalu menghilang sepenuhnya dari pandangan.

"Wahai Junjungan kami yang agung! Mohon izinkan kami untuk menyampaikan pendapat!"

Tiba-tiba, sekumpulan makhluk tak lazim muncul dan memenuhi ruangan raksasa ini. Mereka serentak menundukkan kepala kepada dewa berambut abu-abu itu. Hanya dengan melihat pemandangan mengerikan itu ....

—Gihiiiiiiiittt!!

Jeritan melengking keluar dari mulut Curse King.

—A-Apa-apaan wujud mengerikan mereka itu!? Mereka semua adalah dewa! Terlebih lagi, mereka adalah dewa-dewa besar yang bisa menghancurkan dunia sekecil ini hanya dengan satu niat.

—Dan bukan hanya satu sosok. Ratusan sosok itu semuanya adalah dewa. Namun, eksistensi mengerikan itu berlutut di hadapan dewa berambut abu-abu tersebut. Itu berarti—.

—....

Mengabaikan Curse King yang terdiam karena ketakutan dan keputusasaan, sang dewa berambut abu-abu menoleh. Dia bertanya dengan nada acuh tak acuh kepada monster berhidung panjang yang dipanggil Girimekhala itu.

"Girimekhala, ya? Ada apa?"

"Serahkan penanganan makhluk bodoh itu kepada kami!"

Girimekhala berteriak dengan suara beratnya, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dewa-dewa besar lainnya serentak mengikuti gerakannya.

Dewa berambut abu-abu itu terdiam memikirkan hal tersebut sejenak.

"Baiklah. Aku serahkan padamu. Interogasi dia, dan bekerjasamalah dengan Healing Slime untuk membebaskan jiwa-jiwa yang terperangkap di mansion ini. Aku serahkan sisanya pada kalian. Namun—"

"Kami akan memberikan keputusasaan tanpa sedikit pun keselamatan pada sampah ini. Kami sangat memahaminya. Setelah kami puas, kami telah berjanji untuk menyerahkannya kepada Beelzebub."

Untuk pertama kalinya, dewa berambut abu-abu itu membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Begitu, ya. Kalau begitu, itu sudah cukup untuk membuatnya menyesal pernah hidup. Lakukanlah sesuka kalian."

Sudut bibirnya tertarik lebar hingga ke telinga saat dia memberikan instruksi tersebut kepada Girimekhala dan yang lainnya.

"Sesuai kehendak Anda!"

Setelah serentak menundukkan kepala, kelompok Girimekhala berdiri dan menatap ke arah musuh.

—Guhiiiiiiiiitt!

Menyadari masa depannya yang suram dengan jelas, jeritan menyedihkan bocor dari mulut Curse King.

Dia berusaha mati-matian menciptakan bayangan kutukan dan mencoba bersembunyi di dalamnya untuk melarikan diri.

"Jangan harap bisa lari."

Suara berat yang membuat bulu kuduk berdiri bergema di udara.

Kabut hitam pekat tiba-tiba muncul dari bawah kaki Curse King.

Kesadarannya langsung terputus saat kabut itu menelannya.

◇◆◇

Segera setelah Zenki melumpuhkan Victor, Asta dan Zack menampakkan diri. Asta kemudian memproyeksikan pertempuran di dalam mansion ke hadapan Rose dan yang lainnya.

"Benar-benar tidak masuk akal ...."

Itu adalah komentar yang dilontarkan Asta saat menonton pertempuran di samping Rose. Tanggapan itu ditujukan pada pemandangan luar biasa yang dilakukan oleh Healing Slime milik Kai, yang membangkitkan kembali orang-orang yang diserap oleh mansion.

"Mustahil .... Mengembalikan orang mati yang bahkan sudah kehilangan fisiknya ke keadaan semula, hal seperti itu ...."

Melihat Rutile yang kehabisan kata-kata, Asta pun menyahut dengan ekspresi galak.

"Pemulihan sempurna dari jiwa itu tergolong sebagai sihir terlarang, bahkan di kalangan para dewa!"

"Benar sekali. Sejauh yang aku tahu, satu-satunya yang benar-benar bisa melakukannya hanyalah Kakek Hades, sang Penguasa Kematian. Tapi kali ini, saudara kita melakukannya atas perintah Tuan kita. Hebatnya lagi, mereka melakukannya dengan sangat mudah!"

Zenki bergumam dengan ekspresi ekstasi sambil menangkupkan kedua tangannya. Penampilannya yang berotot dan sangar membuatnya terlihat seperti siswi Babel yang sedang jatuh cinta, menciptakan nuansa canggung yang luar biasa.

"Apa Healing Slime bisa menimbulkan fenomena seperti itu?"

"Seharusnya hal itu mustahil dilakukan beberapa saat yang lalu. Mungkin Healing Slime mendapatkan kekuatan baru setelah Buku Panduan menyerap Typhon melalui mata-mata. Tapi, sebanyak apa pun kemampuan yang didapat, tidak mungkin bisa langsung digunakan semudah ini!"

"Ngomong-ngomong, Kak Norn dan Healing Slime tadi sempat bermain-main, loh. Mungkin itu penyebabnya?"

Saat Zack menggumamkan hal itu dengan santai, Asta langsung bereaksi.

"B-Bermain-main? Tidak, tidak, tidak, keajaiban ini sama sekali tidak sesederhana itu!"

"Biarpun kamu bilang begitu, rasanya apa pun yang dilakukan kenalan Guru sudah tidak mengejutkan lagi sekarang."

Zack melontarkan komentar blak-blakan itu sambil menenggak minuman keras dari botolnya.

"Zack, kamu bisa bicara omong kosong seperti itu karena kamu tidak tahu seberapa besar keajaiban yang baru saja terjadi!"

Zack membalas santai pada Asta yang berteriak kegirangan.

"Tapi, Guru juga sudah menciptakan dunia yang lumayan besar, kan? Apapun yang terjadi sekarang tidak akan membuatku kaget lagi."

Mendengar jawaban acuh tak acuh tersebut, Rutile bertanya balik dengan wajah terpana.

"Menciptakan ... dunia?"

Asta melotot tajam ke arah Zack. Pria itu langsung memalingkan wajah dan mulai bersiul seolah tak tahu menahu.

"Hebat .... Pria itu benar-benar luar biasa!"

Tatapan mereka sontak beralih ke Okame yang tiba-tiba berteriak keras. Wajah pemuda itu memerah dan dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Menyadari tatapan semua orang, Okame berjalan ke depan Rose dan berlutut dengan satu kaki.

"Yang Mulia Rosemarie, tolong jadikan saya, Okame Natou, sebagai bawahan Anda!"

Itu adalah sebuah permohonan yang sama sekali tak terduga.

"Eh!? Ah, anu ...."

Saat Rose sedang kebingungan menghadapi permohonan mendadak itu, Mime Myers mengecam Okame dengan wajah pucat pasi.

"Senior Okame, apa kamu berniat mengkhianati Ayah dan yang lainnya!?"

"Ya, aku akan memutuskan hubungan dengan keluarga Natou. Lagipula, sejak dulu aku lebih cocok dengan Kakek ketimbang ayahku yang serakah, jadi aku sama sekali tidak menyesal."

"Terlebih lagi, sepertinya tujuan akhirku sama dengan pria itu. Dan aku paling tidak suka didahului," lanjut Okame.

"Memangnya kamu pikir hal seperti itu bisa dimaafkan!?"

Menghadapi Mime yang mengamuk, Okame menjawab dengan tenang.

"Tentu saja. Dengan kemunculan pria itu, Kerajaan Amelia—tidak, dunia ini akan banyak berubah. Bukannya aku mau menceramahimu, tapi sebaiknya kamu juga memikirkan posisimu baik-baik sebelum mengambil keputusan."

Okame menepisnya secara sepihak, lalu mulai berbicara dengan Zack tanpa menunggu jawaban Rose. Zack tampaknya tidak keberatan, dia tertawa terbahak-bahak sambil menanggapi perkataan Okame.

Okame dikabarkan sebagai salah satu siswa dengan kemampuan kelas atas.

Masalahnya ada pada keluarga Natou, tapi dia sudah menyatakan akan memutuskan hubungan dengan kepala keluarga saat ini.

Rose tidak punya alasan untuk menolak, dan justru harusnya senang bisa mendapatkan talenta luar biasa.

"Jangan bercanda! Apa kalian paham!? Si tidak berguna itu menyembunyikan slime langka tersebut. Tidak mungkin kita membiarkan seorang bangsawan kehormatan memonopoli slime itu!"

"Makhluk-makhluk itu seharusnya dimiliki oleh Aliansi Darah kita yang mengalirkan darah biru!" lanjut Mime murka.

Mendengar ucapan yang sangat bodoh itu, Zenki kini memasang wajah marah. Zack juga menatap Mime dengan ekspresi tidak senang.

Di sisi lain, Elish dan Instruktur Ractor menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. Tentu saja, itu karena mereka merasa sangat muak.

Bahkan Rose pun tidak merasa marah lagi, melainkan merasa kasihan pada Mime yang berani melontarkan kata-kata seperti itu.

"A-Apa! Kalau kalian berani macam-macam padaku—"

"Sudah cukup. Sebaiknya kamu diam sebentar."

Asta menjentikkan jarinya usai menegur Mime. Detik berikutnya, Mime ambruk ke lantai bak boneka yang talinya putus.

"Mime!?"

Elish bergegas menghampirinya dengan panik.

"Aku hanya membuatnya tertidur. Jangan khawatir, toh ingatan para manusia monyet ini akan segera dihapus."

Usai menjelaskan, Asta memberikan isyarat mata kepada Rose. Memang benar, tanpa kehadiran Kai, Rose adalah satu-satunya orang yang bisa mengambil alih kendali di sini.

"Sepertinya penaklukan mansion ini sudah selesai dengan aman, mari kita bantu proses penyelamatannya."

Semua orang mengangguk dalam diam menyetujui usulan Rose. Mereka pun keluar dari ruangan yang kini telah berubah kembali menjadi kamar biasa.

Hanya Elish yang berjalan menghampiri Rose.

"Yang Mulia Rosemarie, mohon beri tahu saya tentang Kai Heineman nanti."

Gadis itu membisikkan kata-kata tersebut dengan nada tegas yang tak terbantahkan, lalu bergegas keluar ruangan.

"Tuan Putri, ayo kita pergi juga!"

Mendengar desakan Zack, Rose merespons.

"Ya, ayo."

Rose mengangguk dan mulai melangkah untuk membantu penyelamatan.

◇◆◇

Awalnya aku dengan penuh semangat memulai pemusnahan monster di mansion ini, mengharapkan pertarungan sengit melawan sosok yang disebut Curse King.

Namun, melihat betapa bejatnya perbuatan mereka, niatku untuk bertarung serius langsung lenyap tanpa sisa.

Terlebih lagi, saat aku melihat wajah-wajah penuh kesedihan yang tertanam rapat di dinding, kemarahanku langsung memuncak hingga batasnya.

Setelah menyembuhkan luka parah wanita Elf dengan High Potion, aku menghabisi monster-monster boneka beruang dengan amarah yang meluap.

Bawahan monster berkepala plontos mulai menyerang satu per satu, tapi mereka semua sangat tidak sepadan hingga aku membunuhnya dalam sekejap.

Saat aku membanting wajah monster botak itu ke lantai, dia malah mengoceh soal dewa dan mulai memohon ampun.

Kesabaranku sudah mencapai batas melihat kelakuannya, dan tepat saat itu terungkap bahwa jiwa-jiwa di dinding masih terperangkap di mansion.

Aku mencoba memerintahkan Healing Slime untuk memulihkan tubuh mereka, dan ternyata berhasil.

Saat aku mulai sedikit tenang, Girimekhala meminta izin untuk menangani monster botak itu, dan aku menyetujuinya.

Tatapan Girimekhala dan yang lainnya tampak sangat tajam, si idiot ini pasti telah melanggar salah satu larangan mereka.

Yah, setelah menjadi sasaran kemarahan Girimekhala, dia akan menjadi mainan Beelzebub.

Sekarang aku sedang berada di Guild Hunter.

Aku tengah melaporkan kejadian ini kepada Ralph, sang pahlawan dunia Hunter, dan Chloe, Kepala Akademi Umum Babel.

"Kamu sangat membantu, Kai. Aku benar-benar berutang budi padamu."

Setelah laporanku selesai, Ralph berdiri dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Tuan Kai, saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas penyelamatan pasukan keamanan dan para siswa Babel."

Chloe pun mengikuti jejaknya.

"Tidak, aku tidak berhasil menyelamatkan semuanya. Aku hanya bisa menolong mereka yang telah ditangkap selama kurang dari setahun."

Jiwa-jiwa yang ditawan oleh orang yang mengaku sebagai Curse King hanya bisa diselamatkan jika mereka belum mati lebih dari setahun.

Mereka yang hanya tersisa jiwanya akan terbebas dan menghilang entah ke mana.

Tentu saja ada pengecualian; berkat kemampuan hantu bernama Rutile, mereka yang mempertahankan egonya berhasil mendapatkan kembali tubuh fisiknya melalui Healing Slime.

"Mereka adalah korban yang dibunuh oleh kutukan jahat itu. Menghidupkan mereka kembali saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Ini benar-benar karya Tuhan!"

Chloe menangkupkan kedua tangannya dalam posisi berdoa. Pipi merah dan ekspresi euforianya mengingatkanku pada bawahanku sendiri, dan itu membuatku merinding.

"Omong-omong, Nona Chloe, kami akan mengambil mansion dan tanah yang telah dibebaskan itu sebagai hadiah. Apa kamu benar-benar tidak keberatan?"

Aku memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Tentu saja. Lagipula, tidak ada yang mau tinggal di tanah tempat banyak orang tewas. Jika masih ada sisa-sisa kutukan di sana, bencana yang sama bisa saja terulang. Kami sangat bersyukur jika Tuan Kai bersedia mengambil alih pengelolaan tanah tersebut."

Aku sudah memerintahkan faksi Girimekhala dan Beelze untuk melenyapkan kutukan tanah itu tanpa sisa.

Memang benar banyak orang telah mati secara brutal di sana, jadi wajar jika tidak ada yang ingin tinggal di tempat yang bernuansa suram. Rose bahkan menentangnya, namun aku memaksakan keinginanku.

"Kalau begitu, baguslah. Sekarang aku pamit undur diri."

Setelah bangkit dari kursi, aku berjalan menuju pintu ruangan.

Begitu aku kembali ke ruang tamu di mansion markas lamaku di Babel, semua kelompokku sudah berkumpul.

"Kerja bagus semuanya."

Begitu aku mengucapkan hal itu, bawahan-bawahanku serentak memperbaiki postur tubuh dan membungkuk padaku.

"Sekarang, coba jelaskan alur kejadiannya padaku."

"Dimengerti."

Asta pun memulai penjelasannya sesuai permintaanku. Setelah dia selesai menjelaskan, aku bergumam.

"Jadi itu yang disebut Curse King, ya. Benar-benar tidak pantas menyandang nama itu."

Aku menyampaikan kesan yang muncul secara alami di benakku. Ternyata monster botak itu menyebut dirinya sebagai Curse King. Sungguh lelucon yang menggelikan.

"Kalau Master yang merasakannya, pasti terasa seperti itu."

Mendengar ungkapan Asta yang selalu terasa mengganjal, Zack menimpali.

"Sejauh yang kudengar, kutukan mansion itu tergolong sangat berbahaya. Kalau bukan kita yang turun tangan, masalah ini pasti bakal jadi bencana besar, kan?"

"Hah! Mereka itu hanyalah kroco terlemah, bahkan tidak sebanding dengan Goblin bodoh di hutan. Kekalahan pasukan keamanan pastilah ulah dalang di balik layar yang ditangkap Asura."

Bagaimanapun, Asura berhasil mengalahkan pencuri yang telah menumbangkan pasukan keamanan.

Saat aku sedang memikirkan hadiah untuknya, Asta memberitahuku bahwa Asura sendiri ingin menangani sosok dalang itu.

Tentu saja aku sama sekali tidak peduli siapa dalangnya, jadi aku menambahkannya sebagai hadiah bagi Asura.

"Tuan Kai, terima kasih banyak telah menghidupkan kami kembali kali ini."

Rutile menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyampaikan rasa terima kasih padaku.

"Itu mustahil terjadi jika jiwa kalian tidak tersisa dalam bentuk utuh. Kalian semua hidup kembali karena kamu terus berjuang dan tidak menyerah hingga akhir."

Healing Slime juga tidak maha kuasa. Seseorang yang kehilangan jiwanya tidak dapat dibangkitkan.

Jiwa sepertinya hanya bisa mengingat informasi tubuh selama maksimal satu tahun; lebih dari itu, tubuh tidak akan bisa diciptakan.

Tingkat kelangsungan hidup meningkat drastis berkat Rutile, yang menggunakan Gift miliknya, Underworld, untuk menstabilkan jiwanya dan jiwa orang-orang pilihannya ke dimensi lain. Berkat Skill ini, jiwa-jiwa tersebut tetap utuh dan sukses berlindung dari ancaman Curse King.

Orang tua dari gadis kembar Beth dan Din tidak sempat menerima perlindungan Rutile, sehingga tubuh fisik mereka tidak bisa diciptakan kembali.

Namun, setelah anak kedua Beelze memisahkan jiwa mereka dari bajingan bernama Nejire, jiwa itu disegel ke dalam boneka canggih yang diciptakan oleh rekan dari Buku Panduan Penaklukan.

Berkat teknologi ini, sejumlah besar jiwa akhirnya mendapat kesempatan untuk hidup kembali.

".... Bolehkah saya melontarkan pernyataan yang sedikit kurang sopan?"

Rutile menatapku tajam selama beberapa saat, lalu dengan ekspresi penuh tekad dia meminta izin kepadaku.

"Hm? Aku tidak keberatan. Lagipula, aku tidak akan marah hanya karena sebuah ucapan."

Dari laporan tadi, aku sangat memahami karakter Rutile. Dia bukan tipe orang yang akan memicu amarahku. Mungkin itu sebabnya bawahan-bawahanku tidak menyalahkan perkataan Rutile sedikit pun.

"Aku tadinya berpikir Anda adalah seorang Transcenden yang tak terkalahkan. Secara mendasar aku masih meyakini hal itu. Namun, hanya hatimulah yang sama dengan kami. Anda adalah seseorang yang kadang marah, tertawa, dan menangis melihat kebahagiaan, kesedihan, dan dosa kami sebagai rakyat biasa. Oleh karena itu—"

Setelah mengatakan itu, Rutile melirik ke arah bawahanku dan kehilangan kata-kata.

"Hmm, sepertinya kamu salah paham, jadi biar aku perjelas. Aku adalah manusia. Tidak ada bedanya sedikit pun dengan kalian, jadi kamu tidak perlu menyimpan delusi konyol semacam itu."

Justru, setelah sekian lama akhirnya ada yang menganggapku manusia seutuhnya, dan ini membuat pandanganku tentang Rutile naik drastis.

"Itu jelas merupakan kesalahpahaman besar. Aku belum pernah melihat Dewa Aneh yang setara dengan Master."

Mendengar Asta melontarkan ejekan konyol, Zack menyahut.

"Benar, kan. Apa yang dilakukannya selalu melampaui prediksi kita semua."

Zack mengangguk kuat berkali-kali, memaparkan fakta yang sangat tidak menguntungkan bagiku. Terlebih lagi, perkataan Zack selalu sulit untuk disangkal, dan itu menjengkelkan.

"Lalu, Rutile, apa rencana kalian selanjutnya? Kepala Akademi Umum Chloe menitipkan pesan bahwa dia akan menyiapkan posisi staf pengajar di Babel untuk kalian."

"Jika memungkinkan, kami memohon agar diizinkan bergabung di bawah perlindungan Tuan Kai!"

"Menjadikan kalian sebagai bawahanku, ya. Kalau kalian berharap diperlakukan sama seperti mereka, itu mustahil. Sayangnya, kecuali dalam pengecualian khusus, manusia tidak bisa didaftarkan di dalam Buku Panduanku."

Meskipun pada kenyataannya, ada cukup banyak pengecualian seperti Gil, Ferris, Zack, Oboro, Lucas, Tetreu, dan Somni.

"Rutile dan beberapa rekannya telah menjadi hantu untuk waktu yang cukup lama. Meski tidak bisa menjadi bawahan langsung, mereka bisa didaftarkan sebagai bawahan pihak lain, sama seperti Lucas."

Asta mengoreksi kesalahanku.

"Kalau begitu, tolong jadikan kami sebagai bawahan Tuan Asura!"

Dia memohon dengan tangan bertaut. Omong-omong, aku menerima laporan bahwa Asura dan kelompoknya telah bekerja keras merawat roh-roh di mansion itu.

Rupanya Rutile menaruh kepercayaan besar pada Asura, dan sepertinya ada perasaan lain yang terlibat.

"Asta, apa Rutile dan teman-temannya bisa menjadi bawahan Asura?"

"Itu bisa dilakukan tanpa masalah sama sekali."

"Bagaimana dengan pendapat Asura?"

Memaksa orang yang tidak mau untuk menjadi bawahan jelas tidak akan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak.

"Aku juga sudah menerima permintaan yang sama dari Asura."

"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk menolak. Sampaikan hal itu pada Asura."

Berdasarkan pengalaman, selama ada persetujuan dari Buku Panduan Penaklukan dan diriku, proses penerimaan bawahan seharusnya sudah selesai.

"T-Terima kasih banyak!"

Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, Rutile pergi. Aku pun beralih ke hal lain.

"Anak laki-laki bernama Kusuki yang sempat menyatu dengan serangga bernama megah Curse King itu sudah berhasil dipisahkan dengan selamat, kan?"

Aku mengonfirmasi hal yang mengganjal pikiranku. Awalnya aku tidak pernah berpikir makhluk itu adalah Curse King, jadi aku menghajarnya habis-habisan.

Ketika aku diberi tahu bahwa Kusuki tertelan di dalamnya, rasa dingin langsung merayap di tulang punggungku.

"Mereka... berhasil dipisahkan."

Mendengar ucapan Asta yang terkesan disembunyikan itu, aku merasa cemas.

"Jangan-jangan, dia mendapat semacam gejala sisa karena diserap?"

Saat ditemukan, pemuda itu telah menyatu sangat kuat dengan Curse King.

Diperkirakan bahwa memisahkan mereka secara paksa akan berdampak buruk pada jiwa dan tubuh Kusuki. Itulah alasannya aku menugaskan Asta untuk menangani pemisahannya.

"Mengejutkannya, tidak ada efek samping sama sekali. Malahan, kejadian itu bukan berarti Curse King menelan dia, melainkan ...."

Melihat Asta yang ragu-ragu, aku mendesaknya.

"Melainkan apa? Jangan berbelit-belit dan katakan dengan jelas."

"Aku tidak bermaksud berbelit-belit. Hanya saja, saat aku melihat formula sihirnya, malah terlihat seperti anak manusia itu yang telah menelan serangga Curse King."

"Hah? Kusuki menelan Curse King? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu."

Jika pemuda itu yang menyerapnya, tidak masuk akal kenapa ego Curse King yang justru menjadi dominan.

Baik dari hasil interogasi maupun gambaran monster yang disampaikan Rutile, makhluk itu pastilah Curse King.

"Itulah sebabnya aku sendiri tidak terlalu memahami formula sihir tersebut. Namun, satu hal yang bisa aku katakan, anak manusia bernama Kusuki itu sama sekali tidak normal."

Tidak normal, ya. Memang benar, dia sepertinya telah membuat kadal api berjuluk Adipati Ular Api itu berevolusi.

Sosok yang bisa memaksakan evolusi pada pihak yang menyerapnya adalah kekuatan yang sangat didambakan oleh para pecundang.

"Kalau begitu, fakta bahwa dia terdaftar di Akademi Oboro mungkin malah menjadi keuntungan bagi kita."

Akan sangat merepotkan jika keributan seperti ini terus terjadi berulang kali. Setidaknya dia harus belajar melindungi dirinya sendiri.

"Lumine dan Kusuki. Kemungkinan besar mereka berdua adalah sebuah singularitas. Dan kini mereka masuk ke akademi khusus manusia yang sama dengan Master. Bagiku, itu jelas bukan kebetulan belaka."

Dari tatapannya, sepertinya Asta juga menganggapku sebagai penyebab kemunculan ketidakteraturan semacam singularitas ini.

"Dengar ya, selalu menyeretku ke dalam masalah seperti ini adalah kebiasaan burukmu."

Asta terlalu sering memperlakukanku dengan sangat istimewa. Aku ini hanyalah seorang pendekar pedang, dan pastinya tidak akan pernah menyebabkan reaksi aneh semacam itu.

"Singularitas adalah perusak keseimbangan dunia. Dan sudah ada tiga yang berkumpul di bawah Master. Otakku tidak sebodoh itu untuk menganggap semua ini tidak memiliki hubungan sebab-akibat."

Asta tampaknya tidak berniat mengalah, lalu dia mengatupkan mulutnya merajuk. Melanjutkan perdebatan tentang topik ini rasanya sia-sia saja, jadi lebih baik beralih ke hal lain.

"Lalu, bagaimana nasib pemuda-pemuda lainnya dan anggota pasukan keamanan?"

"Untung saja badut konyol yang menamai dirinya Curse King itu telah menangkap semua jiwa mereka. Mereka yang mati sudah kami bangkitkan sepenuhnya. Ingatan mereka soal insiden ini sudah dihapus sebelum diserahkan kepada pihak Babel, kecuali beberapa orang."

Para sandera tampaknya telah dipermainkan secara brutal oleh kutukan mansion tersebut.

Membiarkan mereka begitu saja bisa memicu gangguan psikologis, jadi aku memerintahkan Satori untuk menghapus seluruh kenangan mereka tentang mansion itu sampai bersih.

"Lalu, siapa sajakah beberapa pengecualian itu?"

Kasus mansion itu jelas memperlihatkan kurangnya pengawasan Babel, dan bisa dimanfaatkan musuh politik Chloe.

Karena itu, aku memutuskan untuk menghapus ingatan tentang mansion itu guna memberi Chloe sebuah hutang budi.

"Mereka adalah beberapa anggota pasukan keamanan dan dua orang siswa."

Dari pasukan keamanan, mereka pastilah Ractor dan Yoru, yang butuh ingatan utuh untuk menyerahkan laporan rinci kejadian. Aku sudah memprediksi hal ini. Yang mengejutkan adalah pengecualian siswanya.

"Dua orang siswa? Salah satunya pasti Nona Elish. Kalau begitu, siapa satunya lagi?"

Elish Excel pasti menolak mentah-mentah jika ingatannya dihapus, dan Ralph sangat lemah di hadapan putrinya.

Namun, aku tidak melihat alasan logis untuk mempertahankan ingatan siswa Babel lainnya.

"Itu karena tekad kuat dari orang tersebut. Saat ini dia sedang memohon untuk bertemu langsung dengan Master."

Tekad yang kuat, ya. Menyimpan kenangan traumatis seperti neraka ini tidak ada gunanya sama sekali.

Demi kebaikan mereka sendiri, aku lebih suka menghapus ingatan siswa lain secara halus.

Meskipun begitu, kali ini Asta tidak memodifikasi ingatan siswa tersebut tanpa meminta konfirmasiku. Normalnya Asta patuh pada perintahku, jadi dia pasti punya alasan kuat.

"Baiklah. Aku akan menemuinya sebentar."

Aku bisa memikirkan mau diapakan ingatan siswa itu setelah berbincang dengannya nanti.

"Kalau begitu, aku akan membawanya kemari."

Asta membungkuk sebelum keluar dari ruangan.

Tak lama, Asta membawa seorang pemuda berambut pirang cepak dan berwajah bulat.

Walau kusebut pemuda, umurnya tidak jauh berbeda dari Rose, dan di mataku dia masih terlihat seperti anak-anak.

"Tuan Kai Heineman, nama saya Okame Natou. Saya sangat berterima kasih karena Anda telah menyelamatkan teman-teman saya."

Pemuda itu memperbaiki postur tubuhnya dengan tegang, lalu menunduk hormat.

"Aku hanya menolong kalian karena permintaan dari Babel dan Guild Hunter, jadi kamu tidak perlu berterima kasih. Kudengar kamu tidak ingin kehilangan ingatanmu di mansion itu?"

"Benar. Ada beberapa alasan, tetapi intinya saya tidak ingin kembali menjadi sosok diri saya yang bodoh dan tak tahu apa-apa seperti kemarin."

"Sosok dirimu yang bodoh dan tak tahu apa-apa, ya. Boleh aku bertanya lebih spesifik?"

"Selama ini, saya percaya bahwa bakat berasal dari garis keturunan, dan saya jauh lebih unggul dari orang lain! Tidak, saya hanya ingin memercayai hal itu! Sebenarnya saya diam-diam sudah menyadarinya!"

"Orang yang benar-benar berbakat pastilah orang yang terlahir dengan keistimewaan itu, seperti Lancelot atau Kusuki. Saya hanyalah orang biasa yang belum matang dan tidak bisa mengendalikan Binatang Fantasi Kontrak saya sendiri."

Okame menekankan setiap perkataannya seraya mengepalkan kedua tangannya.

Jujur saja, dia sama sekali tidak terlihat seperti murid teladan sombong yang diceritakan Chloe padaku.

Mungkinkah seseorang berubah sedrastis ini dalam waktu singkat?

"Hmm, apa kamu bersikap pesimis karena tidak memiliki bakat?"

"Tidak, saya bersyukur bahwa saya ini orang biasa. Dengan begini, saya masih bisa membidik puncak yang lebih tinggi!"

"Membidik puncak, ya ...."

Aku sendiri merasa beruntung terlahir tanpa bakat.

Kesombongan dan perasaan superior memang dapat merangsang perasaan bahagia sementara, tetapi perasaan itu akan menghentikan perkembangan kita.

Meski begitu, menyadari kebenaran ini sama dengan mengakui fakta bahwa diri sendiri tidak berbakat.

Bagi orang seperti Okame yang menerima penilaian baik dari lingkungan, sulit rasanya mencapai level pemahaman ini.

"Benar, berkat kejadian ini saya akhirnya bisa terlepas dari belenggu yang menahan saya!"

"Belenggu ...."

Omong-omong, Somni dan Gil juga pernah mengatakan hal yang sama.

Mungkin orang-orang yang terlalu larut dalam gaya hidup bangsawan dapat menerima kelemahan mereka dengan lebih positif saat mereka menyadarinya.

"Melalui insiden ini, saya bisa kembali ke tujuan awal saya. Saya tak ingin lagi menjadi diri saya yang bodoh seperti kemarin, oleh karena itu saya tak ingin ingatan tentang mansion itu dihapus."

Memang, jika kejadian di mansion itu sukses menghancurkan nilai-nilai sang pemuda secara total, maka menghapus ingatannya bisa saja membuatnya kembali menjadi pria sombong.

"Baiklah. Tetapi, kamu harus bersumpah tak akan membocorkan rahasia kejadian ini kepada siapapun."

"Pasti! Lalu, maukah Anda mengizinkan saya bergabung di bawah perlindungan Yang Mulia Rose!"

"Ingin berada di bawah perlindungan Rose, ya ...."

Situasi ini terlalu menguntungkan bagi Rose, dan sebisa mungkin aku ingin menolaknya.

"Kai! Aku juga memohon padamu!"

Rose menatapku dengan kedua tangan bertaut dan ekspresi memohon. Aneh rasanya jika aku menolak orang yang telah diakui oleh Rose.

Lagipula, menempatkan satu orang sebagai kesatria yang punya ikatan kuat dengan Rose agaknya takkan merusak keseimbangan.

"Baiklah. Aku akan menjadikan Okame sebagai kesatriamu, Rose. Apa kalian berdua setuju dengan ini?"

"Terima kasih, Kai!"

Rose berteriak kegirangan atas keputusanku.

"B-Baik, tentu saja! Terima kasih atas pertimbangan Anda!"

Okame menyorakkan kebahagiaan sambil berdiri tiba-tiba, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Dia pasti akan sangat iri melihat ini!"

Pemuda itu berteriak kegirangan dengan nada pelan dan cepat, lalu mengepalkan tangannya puas sambil mulai melompat kecil.

"Untuk saat ini, meskipun kamu menjadi kesatria Rose, kamu butuh tingkat kekuatan tertentu. Zack, latih dia selama sekitar tiga bulan! Kegiatan kesatrianya akan dimulai setelah itu."

"Ayo, biar kukenalkan pada rekan-rekan Guru!"

"D-Dengan senang hati!"

Setelah itu, Zack membawa Okame yang masih belum kehilangan antusiasmenya. Dengan begini, kami berhasil mengamankan pangkalan di Babel.

◇◆◇

Mansion tempat tinggal Curse King hampir sepenuhnya hancur akibat kekacauan yang dibuat oleh kami, jadi kami meratakan tanah dan membangun ulang semuanya dari nol.

Tak ada gunanya mempertahankan bangunan seburuk itu, dan menghancurkan bangunan yang penuh rumor kelam akan membantu membersihkan citra tanah ini.

Tanah dari mansion yang kami peroleh ini sangatlah luas.

Aku menyampaikan kepada Daedalus, anggota Buku Panduan Penaklukan yang paling ahli dalam arsitektur, untuk membangun bangunan yang difokuskan pada fungsionalitas tanpa kemewahan berlebihan.

Dan hasilnya adalah bangunan raksasa berbentuk kerang yang dibangunnya dengan penuh semangat ini.

Bagian dalam bangunan ini dihias sedemikian rupa layaknya meraup seluruh harta dunia.

Terlebih lagi, setiap kamar pribadi sangat luas, dan halamannya bahkan menawarkan pemandangan indah layaknya tepian pantai, padahal tidak ada laut di sekitar Babel.

Rose langsung memegangi kepalanya dan mengeluh sejak tadi melihatnya, namun Faf justru melompat kegirangan.

"Kamu telah bekerja dengan sangat baik, Daida. Terima kasih."

Aku mengucapkan terima kasih pada gadis berambut biru berpotongan bob yang mengenakan baju terusan khaki dan membusungkan dadanya dengan bangga.

Dia adalah sang iblis arsitektur, Daedalus.

"Ini adalah mahakarya Da-chan!"

Karya ini pastinya dia kerjakan dengan sepenuh hati, karena ini kali pertama aku melihatnya begitu percaya diri membanggakan pencapaiannya.

Kesembilan dari sepuluh tebakanku mengatakan ada banyak fitur misterius di balik pemandangan gila ini.

Jika bangunan sesempurna ini bocor ke dunia luar, sudah pasti akan memicu keributan besar.

Terlebih lagi, aku ragu tinggal di tempat semewah ini akan memberikan pengaruh baik bagi Rose yang masih pelajar, jadi aku harus memintanya melakukan beberapa perubahan.

Di sisi lain, tempat ini adalah Babel, di mana banyak musuh politik Rose berada.

Dengan memisahkan setiap ruangan ke dimensi yang berbeda, kami setidaknya bisa mengulur waktu jika diserang musuh kuat, jadi kurasa sistem seperti ini perlu dipertahankan.

"Tingkat kesempurnaan yang luar biasa! Hebat sekali Daida!"

"Puji aku lebih banyak lagi!"

Dia langsung memelukku dan menggesek-gesekkan wajahnya di perutku.

Sungguh sulit untuk memintanya melakukan perbaikan jika dia sesenang ini, jadi aku harus mencari ide yang takkan melukai harga dirinya.

"Ada sesuatu yang ingin kuminta karena aku memercayai kemampuanmu."

"Ada apa?"

"Ini tentang kamar pribadi Rose dan yang lainnya, apa kamu bisa memodifikasinya sesuai petunjukku?"

"Tentu saja bisa! Kelebihan terbesar dari bangunan ini adalah strukturnya yang dapat dimodifikasi sesuka hati!"

Strukturnya bisa diubah secara bebas, ya. Jika Daedalus sendiri yang mengatakannya, itu pastilah bukan kiasan.

"Apakah itu berarti eksteriornya juga bisa diubah?"

"Betul sekali! Kamu tinggal memberikan perintah, dan bangunan ini akan berubah dengan sendirinya!"

"...."

Aku benar-benar kehabisan kata-kata.

Bangunan layaknya organisme hidup semacam ini jelas bisa menyediakan langkah keamanan tingkat tinggi, bahkan mungkin menjadi benteng yang mustahil ditembus layaknya landak berduri.

"Daida, tolong ubah seperti yang aku katakan."

"Dimengerti!"

Jika bangunan ini bisa mengatur dirinya sendiri secara mandiri, menyingkirkan penyusup dengan efisien bukanlah hal yang sulit.

Lebih hebatnya lagi, bentuk bangunan, desain interior, serta elemen lainnya dapat diubah secara bebas. Bisa dibilang ini benar-benar mansion yang ideal bagi kami.

"Kalau begitu—"

Aku mulai membicarakan tentang sebuah rumah mewah yang paling cocok untuk kami saat ini.

◇◆◇

Di salah satu ruangan pada sebuah bangunan mewah yang berada di kawasan elite Babel, Dewa Utama Charybdis sedang menerima laporan dari bawahannya. Hanya ada satu ekspresi di wajah mereka semua, yaitu kebingungan.

"Hah? Kutukan rumah yang diperkuat oleh Permata Loki itu telah dihancurkan? Terlebih lagi, si Messy itu juga hilang tanpa jejak, dan tidak ada satu pun yang melihatnya?"

Pria jangkung bermata satu, Scylla, menyipitkan matanya. Ia bertanya kepada dewa bawahan Charybdis yang bertugas memberikan laporan.

"M-Mohon maaf sebesar-besarnya! Kami tiba-tiba diselimuti kabut hitam, dan saat kami sadar ...."

Mendengar suara dewa bawahan itu yang semakin mengecil,

"Semuanya sudah berakhir, dan kalian bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?"

Loki yang sedari tadi mendengarkan dari dekat ikut bertanya.

"Hei, Loki. Saat ini Tuan Scylla sedang berbicara—"

Salah satu dewa bawahan Charybdis yang berkepala ular dan mengawasi percakapan itu dari dekat, tak kuasa menahan amarahnya. Ia membentak sambil mencoba mencengkeram bahu kanan Loki, tetapi,

"Hiiik?!"

Begitu melihat profil samping wajah Loki, ia menjerit tertahan dan langsung melangkah mundur.

Kedua matanya membesar dan tajam, sementara dari celah sudut bibirnya yang tertarik hingga ke telinga menyemburkan sesuatu yang menyerupai api. Rambutnya berdiri tegak seolah murka yang menggelegak menyentuh langit, membuat wujud Loki saat ini tak ubahnya iblis yang ganas.

Di antara pilar dewa Charybdis, Loki masihlah dewa pendatang baru. Oleh karena itu, peringkatnya rendah dan pada dasarnya ia hanyalah eksistensi yang tidak signifikan.

Namun, para dewa bawahan tingkat tinggi yang ada di tempat ini justru takut kepada Loki. Bahkan, hal itu juga berlaku bagi sang Dewa Utama, Charybdis.

"L-Loki, keparat kau ...."

Charybdis mempertanyakan maksud Loki dengan suara bergetar ketakutan. Seakan baru menyadari kondisinya sendiri, Loki membalas,

"Gawat juga, ya. Rencanaku dihancurkan oleh para bajingan dari Surga itu, jadi sifat asliku tanpa sadar keluar."

Ia menjentikkan jarinya dengan bunyi 'Trak'. Seketika itu juga, Charybdis dan semua dewa bawahan yang hadir di sana berubah menjadi boneka bisu, seolah jiwa mereka telah terenggut.

"Lagi pula, pihak yang bisa merusak mainanku sangatlah terbatas. Mengingat rasanya mustahil jika itu ulah Penguasa Lama, sangat wajar jika kita menganggap ini sebagai perbuatan para bajingan Surga."

"Benar juga, ya. Jika kita menyelidiki orang-orang yang terlibat dengan rumah itu kali ini, kita bisa mengidentifikasi anjing peliharaan Surga itu. Jika dipikir-pikir lagi, hasilnya tidak terlalu buruk."

Loki mengangguk berkali-kali seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri, lalu berseru,

"Hel!"

"Hamba berada di sisi Anda!"

Suara itu bergema. Tiba-tiba, seorang wanita bertopeng yang mengenakan pelindung dada hitam dan celana pendek, berbalut jaket di bagian luar, muncul di hadapan Loki lalu berlutut dengan satu kaki.

"Selidiki siapa keparat yang sudah mengacaukan permainanku kali ini. Ah, pasti ada Pasukan Surga di baliknya, jadi pastikan kamu bergerak secara rahasia."

"Tuan Lopt! Daripada menggunakan wanita licik seperti dia, lebih baik gunakan tenaga saya saja!"

Seorang pria buas dengan rambut hijau menyerupai surai mendadak muncul. Ia memukulkan kepalan tangan kanannya ke dada.

"Cih! Dasar makhluk bersel satu!"

Hel mengumpat kasar kepadanya.

"Kau bilang apa barusan, Wanita Licik?"

Pria berambut hijau itu membunyikan buku-buku jarinya untuk mengintimidasi Hel.

"Jormungandr, selama misi ini berlangsung, aku adalah Loki. Bukankah aku sudah sering mengatakannya?"

"Kewaspadaan sehari-hari itu sangat penting. Lakukan dengan saksama. Kamu mengerti?"

Loki memberikan peringatan seolah sedang menasihati pria berambut hijau bernama Jormungandr itu.

"B-Baiklah, aku mengerti."

Jormungandr mengangguk patuh.

"Bwahaha! Makanya, kau dimarahi, kan, Jormungandr!"

Hel berseru dengan nada mengejek.

"Bangsat kau ...."

Jormungandr memelototi Hel dengan tatapan penuh kebencian.

"Tenanglah, Jormungandr. Menghadapi musuh kita kali ini, sedikit saja kesombongan bisa berakibat fatal pada nyawa."

"... Apa kita benar-benar telah kalah?"

"Ya, salah satu dari Pasukan Surga telah mengalahkan tiga pilar dari Enam Jenderal Besar. Seluruh Pasukan Iblis yang berinkarnasi di tanah ini telah lenyap dari dunia."

Jormungandr mengernyitkan dahi mendengar ucapan Loki. Apa yang terpancar di kedalaman matanya bukanlah ketakutan terhadap sosok yang kuat, melainkan kobaran api amarah yang menyala-nyala.

Amarah itu seolah siap membakar habis seluruh keberadaan dirinya tanpa sisa.

"Aku mengerti! Kaulah bosnya! Aku akan mengikuti semua perintahmu!"

Setelah berteriak seperti itu, Jormungandr menghilang dari pandangan.

"Tuan Loki, apa yang harus kita lakukan pada para makhluk yang tidak tahu diri ini?"

Hel menatap Charybdis dan kelompoknya dengan tidak nyaman sambil bertanya kepada Loki.

"Manipulasi ingatan mereka dengan rapi, dan kita akan melanjutkan penyusupan ini."

"Tetapi, jika begitu, Tuan Loki harus berada di bawah kendali makhluk-makhluk rendahan ini—"

"Justru itulah bagian terbaiknya. Para bajingan Surga itu pasti tidak akan pernah menyangka bahwa aku, salah satu dari Enam Jenderal Besar, melayani bawahan rendahan seperti mereka. Ini adalah penyamaran yang paling sempurna."

"Di saat yang sama, jika kita mempertimbangkan risiko mereka tertangkap oleh Surga, cuci otak yang berpotensi dilacak balik melalui formula sihir juga harus dihindari."

Loki menjawab dengan penuh penekanan.

"Saya sama sekali tidak bisa menerimanya, tetapi saya mengerti maksud Anda."

Setelah melontarkan kalimat yang saling bertentangan itu, Hel pun ikut menghilang.

Loki kembali menjentikkan jarinya.

"Kabut hitam, ya ... Ini sudah pasti ulah sihir musuh atau semacamnya .... Tampaknya musuh kali ini sedikit merepotkan."

"Kalian semua, kumpulkan informasi tentang siapa yang bergerak membebaskan kutukan rumah itu kali ini. Pastikan kalian bertindak dengan sangat hati-hati."

Charybdis mulai menurunkan perintah kepada para dewa bawahannya, seolah percakapan dengan Lopt tadi tidak pernah terjadi.

"Sesuai perintah Anda!"

Secara serempak, para dewa bawahan menundukkan kepala mereka.

"Astaga, apa yang harus kulaporkan pada Knut nanti, ya ...."

Charybdis mengeluh sambil menghela napas panjang. Di tengah keluhannya itu,

(Akan kulakukan! Kejahatan tidak akan pernah kalah! Benar, kejahatan tidak boleh kalah!)

Gumaman pelan Loki tenggelam oleh suara angin kencang yang mengamuk di luar rumah.

◇◆◇

Pak Johnson dan Paman Olga datang berkunjung sebagai utusan dari Guild Hunter. Mereka menyampaikan permintaan dari Guild Hunter agar aku segera datang ke Central Center sekarang juga.

"Aku dipanggil ke Central Center?"

Aku hanya bisa merasakan firasat buruk yang sangat merepotkan. Central Center adalah tempat berkumpulnya para petinggi dan eksekutif dari berbagai negara.

Alasan mereka repot-repot memanggilku yang hanya seorang Hunter biasa ke tempat seperti itu pastilah sangat terbatas.

"Benar. Berdasarkan namanya, sepertinya ini adalah acara jamuan makan malam."

Jamuan makan malam, ya. Menilik dari wajah Paman Olga yang terlihat lelah, sosok yang akan hadir dan topik obrolan dalam perjamuan itu pasti sangat merepotkan.

"Apakah ini tentang Faesta dan Gil?"

"B-Benar. Ada juga hal tentang itu."

"Juga? Berarti ada urusan lain yang melibatkan diriku?"

"Yah, begitulah ...."

Sesuatu yang membuat Paman Olga sampai terbata-bata, ya. Dipikir bagaimanapun, ini jelas bukan hal yang baik.

Meski begitu, kedua orang ini sudah merawatku sejak dulu hingga sekarang. Jika aku menolaknya di sini, itu sama saja dengan mencoreng wajah mereka berdua.

Lagipula, Paman Olga tidak mungkin menerima permintaan yang akan merugikanku.

"Baiklah, aku mengerti."

"Kai, aku berutang budi padamu!"

"Mengingat jajaran petinggi yang hadir, aku benar-benar bingung harus berbuat apa kalau kau sampai menolaknya!"

Sampai-sampai Pak Johnson dan Paman Olga harus sangat berhati-hati kepada mereka, ya. Aku sangat merasakan firasat buruk, tetapi, ya sudahlah.

Paman Olga sudah seperti orang tuaku sendiri. Aku sudah sepantasnya berbakti padanya.

"Tuan, Anda mau pergi ke mana?"

Faf terbangun dari sofa sambil mengucek matanya, lalu ia bertanya kepadaku.

"Aku mau keluar sebentar sekarang."

Aku mendekati Faf, mengusap kepalanya dengan lembut, dan membalas pertanyaannya seperti itu.

"Faf juga ikut!"

Ia mengepalkan tangan kanannya ke atas dan mendesakku.

"Paman Olga, tidak apa-apa, kan?"

"Ya, tidak masalah jika Nona Faf ikut. Setidaknya, Raja kita akan memakluminya. Johnson, kau juga tidak keberatan, kan?"

Dengan ekspresi kaku, Paman Olga mengangguk tegas dan meminta persetujuan dari Pak Johnson.

"T-Tentu saja! Aku sudah sering mendengar tentang rekan-rekan Kai."

Pak Johnson juga memberikan izin.

"Kalau begitu, mari kita pergi sekarang."

Kami mulai melangkah menuju Central Center.

Apa yang ada di depan mata kami sekarang adalah sebuah bangunan raksasa berbentuk silinder. Inilah pusat dari Guild Hunter dunia, Central Center.

Kami memasuki sebuah ruangan di lantai paling atas Central Center. Tempat itu adalah sebuah ruang konferensi besar yang berbentuk menyerupai aula.

Ruangan itu memiliki struktur kursi yang melingkar dari titik pusatnya. Di bagian tengahnya, hampir sepuluh orang telah duduk berkumpul.

Beberapa orang di antaranya adalah wajah-wajah yang sudah kukenal.

Raja Kerajaan Amelia, Edward Loto Amelia, beserta Perdana Menterinya, Johannes Roosevelt, memimpin barisan tersebut.

Dari pihak Babel, hadir Mantan Kepala Akademi Inea Renren Lorelei dan Kepala Akademi saat ini, Chloe Valentine. Sementara dari pihak Guild Hunter yang bertindak sebagai tuan rumah, ada sang pahlawan Hunter, Ralph Excel.

Sebagian besar tamu lainnya baru pertama kali kulihat, tetapi tanpa terkecuali, mereka semua menatapku dengan ekspresi kaku bak batu.

"Tuan Kai, terima kasih banyak karena Anda telah berkenan hadir."

Perdana Menteri Johannes Roosevelt bangkit dari kursinya, lalu membungkuk hormat dalam-dalam kepadaku.

Seakan terpicu oleh gerakannya, para peserta lain pun ikut berdiri dengan sigap, membenarkan postur mereka, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.

Aku mungkin bisa mengabaikan orang-orang yang baru pertama kali kutemui ini, tetapi sikap Ralph yang berlebihan ini benar-benar tidak wajar karena aku sudah mengenalnya. Firasat buruk sangat menyengat penciumanku.

"Tidak, aku yang seharusnya berterima kasih atas sambutan kalian."

Setelah menyampaikan rasa terima kasih formal sekadarnya, aku duduk di kursi yang telah disediakan, dan yang lainnya pun ikut duduk kembali.

"Kalau begitu, karena ada beberapa pihak yang baru pertama kali bertemu dengan Tuan Kai, kami akan segera memulai sesi perkenalan diri."

"Pertama-tama, Ratu Negara Lorelei saat ini, Yang Mulia Avery Renren Lorelei."

Seorang wanita elf cantik berambut pirang yang mengenakan jubah serba putih bangkit berdiri, lalu membungkuk hormat.

"Tuan Kai, nama saya Avery. Senang bertemu dengan Anda!"

Ia menyapaku dengan nada suara yang terdengar gugup.

"Apakah kamu ibunya Mille-feuille?"

"Mille-feuille adalah putri saya!"

Avery menjawab dengan suara yang melengking. Sudah kuduga.

Ini pasti karena ikatan darah di antara mereka. Ia sangat mirip dengan putri Mille-feuille.

"Begitu, ya. Baiklah, salam kenal."

"B-Baik!"

Ia membungkuk lagi dengan suara yang lantang.

"Mari kita lanjutkan ke yang berikutnya. Kaisar Kekaisaran Gritnil, Yang Mulia Amnes Zi Gritnil."

Seorang pria tua kekar berambut putih bangkit dari tempat duduknya, lalu memberikan bungkukan kecil.

"Aku Amnes. Senang bertemu denganmu."

Jadi, pria ini adalah Amnes. Mungkin karena aku pernah sangat mengintimidasinya di masa lalu, wajah Amnes terlihat pucat pasi dan butiran keringat besar bercucuran deras dari keningnya.

"Tampaknya kita punya sedikit ikatan masa lalu, ya."

"B-Benar."

Amnes menundukkan pandangannya, sementara seorang pria berpakaian hitam menatap ke arahku dengan penuh minat.

"Orang yang di belakang itu, siapa kau?"

Pria berpakaian hitam yang berdiri di belakang Amnes .... Samar-samar, aku bisa merasakan kekuatannya. Sepuluh dari sembilan kemungkinan, dia jelas bukan manusia.

"Aku Four, pengawal Amnes."

Hanya pria ini yang terlihat santai di ruangan ini.

Terlebih lagi, melihat bagaimana dia memanggil seorang Kaisar tanpa sebutan kehormatan, sudah bisa dipastikan dia adalah makhluk non-manusia yang terikat dengan Soul Contract.

"Izinkan saya melanjutkan perkenalannya. Yang terakhir adalah Wakil Raja dari Negara Besar Timur Butou, pemegang kekuasaan tertinggi saat ini, Yang Mulia Musashi."

Pria jangkung berambut hitam panjang dengan janggut yang tak tercukur rapi bangkit berdiri.

"Aku Musashi Miyato. Mohon bantuannya."

Ia menempelkan kepalan tangan kanannya pada telapak tangan kirinya, lalu menundukkan kepala sedikit.

"Ya, salam kenal."

Dibandingkan dengan yang lain, hanya ekspresinya saja yang terlihat kaku. Sepertinya ia masih bisa menjaga ketenangannya.

Ketakutan mereka kepadaku ini, dipikir bagaimanapun juga, sungguh tidak normal. Si Johannes pasti telah membualkan sesuatu yang tidak-tidak kepada mereka.

Aku mencoba menatap Johannes dengan pandangan mencela sekuat tenaga, tetapi sepertinya hal itu tidak mempan sama sekali baginya. Tanpa melunturkan senyumnya sedikit pun, ia melanjutkan,

"Raja Dverb saat ini, Yang Mulia Kaios, menyatakan tidak dapat hadir pada kesempatan kali ini."

Ia memberikan penjelasan yang tidak terlalu mengejutkan.

Raja Dverb saat ini, Kaios, ya. Kalau tidak salah, dia adalah adik raja yang cerdas dan merupakan sosok yang memicu penderitaan Dodd dan kawan-kawannya.

Aku juga pernah bertarung melawan mereka.

Sejak awal, aku sama sekali tidak berharap dia akan menunjukkan batang hidungnya di hadapanku.

Sebaliknya, aku justru murni terkejut melihat Amnes masih berani menampakkan diri setelah kuancam sedemikian rupa kala itu.

"Jadi, alasan kalian memanggilku adalah untuk membahas negara monster dan ras iblis, Faesta, kan?"

"Tepat sekali. Tampaknya, ada beberapa hal yang ingin ditanyakan oleh para hadirin sekalian. Bolehkah kami meminta penjelasan dari Anda?"

Benar juga. Mengingat mereka semua berkumpul di sini, itu berarti mereka sudah mendengar tentang Faesta.

Namun, alasan mereka tetap datang ke sini adalah karena ingin mendengar kebenarannya langsung dari mulutku. Kalau begitu, sebaiknya aku menjawabnya.

"Negara Kabut, Negara Kegelapan, dan Negara Monster Cat Meow baru saja bersatu untuk mendirikan sebuah negara baru yang bernama Faesta."

Gumaman kecil terdengar menyambut deklarasiku. Meskipun mereka sudah mengetahuinya sebagai sebuah informasi, mendengarnya kembali sebagai fakta yang sudah pasti memberikan bobot yang berbeda.

Kurasa mereka semua masih setengah ragu sampai mereka mendengarnya langsung dari mulutku.

"Siapa yang akan menjadi rajanya? Tidak mungkin seekor monster yang menjadi rajanya, kan?"

Amnes menyuarakan pertanyaan yang sangat wajar.

"Bicara lebih tepatnya, Faesta tidak memiliki raja. Namun, jika kau mencari seseorang yang bertindak sebagai wakil raja, Gilbert Loto Amelia saat ini sedang memegang tanggung jawab itu."

Suara keributan yang tak sebanding dengan sebelumnya pecah di antara mereka. Bagi mereka yang tidak mengetahui situasi di baliknya, kecemasan yang kuat terlihat jelas di wajah mereka tanpa terkecuali.

"Apakah para monster dan ras iblis itu setuju untuk menyerahkan urusan pemerintahan kepada Pangeran Gilbert?"

Merespons pertanyaan Avery,

"Para petinggi umumnya setuju. Tentu saja ada banyak masalah dalam detail-detail kecil, tetapi menurutku mereka mengelolanya dengan lebih baik dari dugaan."

Aku menjawab sebatas hal yang bisa kujelaskan.

"Kalau begitu, apakah Faesta akan menjadi negara bawahan dari Kerajaan Amelia?"

Chloe maju sebagai perwakilan untuk menanyakan kecemasan hebat yang sedang bergejolak di ruangan ini.

"Tentu saja tidak. Faesta sepenuhnya terpisah dari Kerajaan Amelia, dan tidak akan tunduk di bawah kendali mereka sama sekali."

"L-Lalu, bagaimana dengan hubungan antara Pangeran Gilbert dan Kerajaan Amelia?"

"Terkait masalah ini, Gil lebih memilih untuk menjadi dirinya sendiri sebagai individu Gilbert Loto Amelia, alih-alih sebagai Pangeran Kerajaan Amelia."

"Oleh karena itu, Gil bukan lagi seorang pangeran, dan ia tidak akan berada di bawah kendali Kerajaan Amelia dalam bentuk apa pun."

"Lalu, bagaimana jika ... seandainya Kerajaan Amelia memaksakan hal itu ...."

"Faesta akan menunjukan taringnya pada Kerajaan Amelia."

Ketegangan perlahan memudar dari ruangan itu mendengarkan pernyataanku yang terdengar seperti sebuah penegasan.

Yah, Edward, Raja Kerajaan Amelia sekaligus ayah Gil, memang memasang wajah cemberut seolah baru saja mengunyah serangga pahit.

Namun, sebaliknya, Arnold dari Pasukan Pengawal Kerajaan yang berdiri di belakangnya justru terlihat sangat bangga. Benar-benar sangat kontras. Terlepas dari itu ....

"Johannes, ini tumben sekali. Kau kelihatan sangat gembira, ya?"

"Saya tidak tahu apa yang Anda maksud."

Pembohong. Pria yang miskin ekspresi ini tiba-tiba berbicara dengan tempo cepat yang sangat jarang terjadi. Sudah pasti suasana hatinya sedang sangat bersemangat.

Tentu saja, Johannes tidak sedang merasa senang karena Kerajaan Amelia gagal mendominasi Faesta.

Ia hanya merasa sangat bahagia hingga ingin melompat kegirangan karena Gil berhasil meraih kesuksesan sebagai raja de facto di Faesta.

Jangan-jangan, sejak awal memang itulah yang menjadi tujuan pria ini. Ah, kurasa kali ini aku terlalu banyak berpikir.

"Ada hal lain yang ingin kalian tanyakan kepadaku?"

"Apa sebenarnya tujuan yang ingin Anda capai?"

Pertanyaan Musashi ini seketika membuat seisi ruang konferensi menjadi sunyi senyap.

"Tidak ada yang khusus."

"Maksud Anda, serangkaian tindakan Anda sama sekali tidak memiliki tujuan yang besar?"

Tampaknya jawabanku tadi sungguh di luar dugaannya. Dengan mata terbelalak lebar, Musashi kembali melontarkan pertanyaan.

"Tentu saja. Aku akan hidup sesukaku. Begitulah dari dulu, sekarang, dan seterusnya."

Aku menegaskannya, seolah meresapi hal yang sudah sangat jelas tersebut.

"... Begitu, ya. Ternyata Anda adalah orang yang seperti itu ...."

Musashi mengangguk berkali-kali.

"Kami dari Negara Butou mendukung pendirian negara Faesta."

Ia membuat sebuah deklarasi yang sama sekali tidak kuduga.

"Kami, Negara Lorelei, juga sependapat."

"Kami dari pihak Babel juga setuju."

"Guild Hunter pun demikian."

Avery, Chloe, dan Ralph secara bergiliran menyatakan dukungan mereka seperti Musashi.

"Kekaisaran Gritnil kami juga akan mendukung pendirian Faesta, tetapi dengan syarat."

"Apa syaratnya?"

Menjawab pertanyaan Johannes,

"Penandatanganan pakta non-agresi timbal balik dengan Kekaisaran kami."

Amnes memberikan sebuah jawaban yang mengejutkan bagiku.

"Tentu saja, Faesta juga pasti sangat menginginkan hal itu."

Awalnya kupikir Kaisar ini sudah terlalu dibutakan oleh keserakahan hingga tidak mampu membuat keputusan yang rasional.

Akan tetapi, tampaknya ia masih memiliki harga diri minimum sebagai seorang penguasa.

"Tentu saja, jika kalian semua menginginkannya, perjanjian pakta non-agresi itu juga bisa ditandatangani dengan negara kalian."

Aku menyapu pandanganku ke seluruh peserta rapat, dan memancing reaksi mereka.

"K-Kami sangat mengharapkannya!"

"Negara Butou juga."

Perwakilan Lorelei, Avery, dan perwakilan Butou, Musashi, mengangguk setuju secara berturut-turut.

"Yang Mulia, negara kita juga tidak masalah, bukan?"

"Ya, tidak ada alasan untuk menolaknya."

"Kalau begitu, saya akan mencatat niat ini sebagai nota kesepahaman di sini, dan perjanjian konkretnya akan kita tandatangani pada Upacara Pendirian Faesta mendatang. Bagaimana, apakah semuanya setuju?"

Semua yang hadir mengangguk tegas menyetujui usulan Johannes, dan konferensi pun berakhir dengan lancar.

Saat ini aku sedang menggendong Faf yang sudah tertidur, dalam perjalanan pulang ke rumah.

Matahari yang sebelumnya mengapung tinggi di langit kini mulai terbenam dan memancarkan cahaya jingga.

Seolah disambut oleh cahaya senja tersebut, para siswa dan warga Babel tampak bergegas menyusuri jalan pulang.

Itu adalah pemandangan kasual yang biasa terjadi setiap harinya.

"Hmm?"

Ada ketidakmurnian yang jelas bercampur di sana. Bukannya mereka memancarkan kekuatan sihir yang pekat atau menebarkan niat membunuh.

Justru sebaliknya.

Faf biasanya bereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal abnormal yang tak biasa, seperti permusuhan dari orang lain.

Namun, Faf hanya tertidur tanpa terbangun sama sekali. Kehadiran mereka begitu alami sampai-sampai Faf tidak menyadarinya. Seolah-olah, mereka hanyalah eksistensi kosong yang hampa bagai udara.

Pasangan aneh itu terdiri dari dua orang. Salah satunya memiliki rambut hitam yang tumbuh sangat panjang hingga terlihat mengganggu, dan meskipun wajahnya tidak terlihat jelas, dari posturnya yang sedang, ia sepertinya masih seorang pemuda.

Sedangkan yang satu lagi adalah pria raksasa tampan berambut pirang dengan janggut tipis. Ia mengenakan jubah hitam bersulam benang emas dengan tudung yang menutupi kepalanya.

Ho. Kedua orang ini lumayan menarik.

Jika aku memasang pembatas kekuatan dengan benar, mungkin mereka bisa bermain dengan sungguh-sungguh melawanku.

Apakah mereka Hunter Rank A atau semacamnya? Tidak, aku ini sangat tidak peka terhadap tingkat kekuatan manusia.

Mengingat aku bisa merasakan kekuatan mereka, kemungkinan besar mereka adalah monster atau sejenisnya.

"Aku menantikan aksi kalian."

Kalimat itu tanpa sadar meluncur dari mulutku saat kami berpapasan.

"—?!"

Mereka refleks berbalik untuk mencariku, tetapi sosok dan hawa keberadaanku sudah sepenuhnya melebur ke dalam keramaian.



Prolog | ToC | Chapter 2

Post a Comment

Post a Comment

close