Chapter 1
Arc Rumah
Berhantu
―Kawasan perumahan mewah Babel.
"Jadi, Loki, bagaimana persiapannya?"
Tanya Knut yang tampak sedang dalam suasana hati yang
sangat baik.
"Hihi, persiapan untuk mengganggu sang Pahlawan
sudah beres sepenuhnya."
Loki, pria tampan berpakaian badut itu melompat-lompat di
lantai sambil memberikan laporan yang diinginkan Knut.
"Itu karnaval yang kau rancang. Pasti akan menjadi tragedi yang sangat mendebarkan!"
"Di antara semua bawahanku, Loki adalah yang
paling luar biasa dalam memikirkan lelucon buruk semacam itu. Tentu saja
hasilnya akan begitu."
Pujian dari Charybdis yang jarang memuji itu membuat
semua orang terbelalak.
"Aku sangat bersyukur dan terharu sampai hampir
menangis karena Anda menghargai usahaku!"
Loki berputar-putar dengan ujung kakinya, bertingkah
konyol dengan sengaja.
Sikapnya itu mengundang permusuhan yang kuat dari
para bawahan Charybdis lain yang hadir di sana.
Meskipun menerima tatapan yang bahkan mengandung niat
membunuh, senyum Loki sama sekali tidak goyah.
"Pelaksanaan rencananya kuserahkan pada Messie.
Kalian tidak keberatan, kan?"
Charybdis menatap pria berwajah tirus dan kurus pucat
yang berdiri di dekatnya, memastikan hal itu pada mereka berdua.
"Aku tidak keberatan. Lakukan saja."
Knut memberikan persetujuan dengan nada seperti
bernyanyi.
"Aku juga tidak punya keberataaan."
Loki meletakkan tangan kanan di dada dan membungkuk
hormat.
"Messie ini pasti akan memenuhi harapan
dewaku!"
Setelah membungkuk hormat dalam-dalam, Messie berjalan
menuju pintu besar untuk keluar dari ruangan.
"Kalau begitu, aku juga―"
"Jangan ikut campur!"
Messie mengancam sambil memamerkan giginya.
"Iya, iyaaa, sepertinya aku dibenci, ya."
Melihat Loki yang pura-pura menangis, urat biru tebal
menonjol di pelipis Messie, tapi ia hanya menggelengkan kepala lalu pergi.
"Nah, Pahlawan, apa yang akan dimulai sekarang
adalah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di Babel. Bagaimana kau akan
menghadapinya?"
Knut berdiri dari kursinya lalu berteriak, seolah-olah ia
adalah seorang penyair yang sedang menyanyikan kepahlawanan seseorang.
◇◆◇
Tempat itu terletak di ujung barat daya Distrik Enam,
sebuah area terlarang yang dikelola oleh Babel.
Lahan luas yang seukuran satu akademi itu tidak pernah
dirawat selama bertahun-tahun.
Tanaman liar tumbuh subur di mana-mana.
Di tengah rimbunnya tanaman tersebut, sebuah rumah besar
berlantai tiga berdiri dengan tenang.
Dinding luar bangunan itu terkelupas di berbagai tempat,
dan rumput liar tumbuh lebat dari dinding serta atapnya.
Di halaman rumah yang sangat pantas disebut sebagai rumah
hantu itulah, seorang pria kurus kering berjubah biru tua, Messie, menyusup
masuk.
"Harus mengikuti rencana si Loki itu, sungguh sebuah
penghinaan yang tiada tara!"
Loki—dewa jahat yang mengklaim dirinya sebagai otak dari
sang dewa utama, Charybdis.
Belakangan ini, Charybdis sangat mempercayai kecerdasan
pria itu dan menyerahkan arah pergerakan kepadanya. Fakta itu saja sudah cukup
membuat Messie sangat murka.
"Dasar sampah besar kepala yang hanya bisa
memikirkan kelicikan!"
Dengan ekspresi penuh amarah yang membuat wajahnya
bengkok secara tidak wajar, Messie menatap rumah itu dengan kedua mata yang
memerah.
Lalu....
"Sombong sekali! Jangan harap kutukan rendahan
seperti ini bisa menipu Messie ini!"
Meski berusaha disembunyikan, tempat ini adalah sebuah Curse
Field.
Tampaknya penguasa Curse Field ini berpikir bahwa
Messie, yang merupakan dewa kutukan, tidak akan bisa menyadari kutukan murahan
dan rendahan seperti ini.
"Berani-beraninya kau meremehkanku!"
Ia menjentikkan jari kirinya yang kurus pucat.
Dalam sekejap, bersamaan dengan suara sesuatu yang hancur
berkeping-keping, langit berubah menjadi merah darah dan rumah itu mendadak
bengkok terdistorsi.
"Kroco sepertimu tidak akan kubiarkan lolos begitu
saja!"
Sambil meneriakkan amarahnya, Messie masuk melalui pintu
depan.
Setelah berjalan beberapa langkah, seorang wanita
berlumuran darah merangkak turun dari atas tangga yang hancur berantakan.
Bersamaan dengan itu, dari langit-langit, lantai, dan
dinding, muncul banyak wanita penuh luka yang merayap mendekat dengan empat
kaki layaknya laba-laba.
"Kukuku...."
Tidak disangka, mereka akan membuat pilihan bodoh seperti
ini... benar-benar sebuah mahakarya. Sangat lucu!
Apa mereka pikir kekuatan kutukan selemah ini bisa
membunuh Messie, yang bergelar dewa kutukan?
"Keberanianmu patut kupuji!"
Messie kembali menjentikkan jarinya.
Wanita-wanita berdarah yang sedang mendekat itu langsung
meledak menjadi potongan daging yang berserakan ke segala arah, hanya
menyisakan satu orang.
"!!?"
Messie mencengkeram leher wanita terakhir yang panik dan
berusaha melarikan diri itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
Dan kemudian....
"Apa sebenarnya ada gunanya memperkuat kroco lemah
seperti ini?"
Sambil mengerutkan kening dan menggerutu, Messie
membenamkan permata merah pemberian Loki ke dalam dada wanita berdarah itu.
"Gugigegegeget―-!"
Seluruh tubuh wanita berlumuran darah itu bergetar hebat.
Bersamaan dengan itu, pembuluh darah yang tebal menonjol
di tubuhnya. Pembuluh darah tersebut menjalar ke seluruh bagian rumah, mengakar
dan terus meluas.
Rumah yang kini ditumbuhi pembuluh darah raksasa itu
berdenyut layaknya makhluk hidup, dan bentuknya mulai menggeliat berubah.
"Mmmm..."
Perubahan ini skalanya sama sekali berbeda.
Awalnya wanita ini hanya setingkat spesies naga yang
sedikit kuat, tapi kini ia telah jauh melampaui Demon Lord. Kekuatannya
pasti setara dengan dewa kelas bawah.
Meski sedikit kesal, Messie harus mengakui bahwa makhluk
ini mampu menyelenggarakan karnaval yang diinginkan Charybdis di Babel.
"Baiklah! Messie ini akan menyaksikannya sampai
akhir!"
"Demi dewaku, Tuan Charybdis, aku akan mengubah
Babel ini menjadi neraka!"
Messie merentangkan kedua tangannya lalu berteriak
lantang.
◇◆◇
― Area Terlarang Tingkat Pertama Distrik Enam.
Delapan orang siswa tampak sedang menengadah menatap
rumah besar tersebut.
"Inikah Empat Teror Babel yang terkenal itu? Kualitas Babel benar-benar sudah menurun. Hei, Maim, kau juga berpikir
begitu, kan?"
Seorang pemuda berambut pirang cepak, berwajah bulat
dengan pipi tembem, bertanya pada remaja berambut merah di sebelahnya dengan
nada mengejek.
"Tentu saja, Senior Okame benar sekali! Tempat
seperti ini ada banyak di negara asal kita!"
"Yah, penurunan kualitas negara kita juga tak
bisa dipungkiri, sih. Kalau di masa lalu, tidak mungkin sampah tak berguna
sepertinya bisa menjadi Royal Guard."
Pemuda berwajah bulat, Okame, berteriak sambil
meludah kesal.
"Ya, aku setuju dengan hal itu! Pangeran
menyedihkan yang membiarkan orang tak berguna berbuat sesukanya, juga raja yang
mengakui Royal Guard tak kompeten itu, benar-benar memalukan!"
Pernyataan Maim tersebut langsung disetujui oleh
orang-orang yang hadir di sana satu per satu.
"Hei, Kuzuki, kau juga berpikir begitu,
kan?"
Okame meminta persetujuan dari satu-satunya anak
laki-laki berpotongan mangkuk yang sejak tadi diam tertunduk. Kusuki tersentak
dan tubuhnya langsung menegang.
"I-Iya!"
Kusuki berseru dengan suara lantang.
"Kalau begitu, aku akan memberimu kehormatan untuk
berjalan duluan! Berusahalah untuk berguna!"
Okame menepuk punggung Kusuki dengan telapak tangan
kanannya, memberikan perintah sepihak yang tak bisa ditolak.
"Ba... ik."
Kusuki mengangguk dengan wajah seolah dunia akan segera
kiamat.
"Oi, Kuzuki, aku tidak mendengarnya! Mana
jawabanmu!"
Urat tebal menonjol di dahi Maim saat ia berteriak
penuh amarah.
"I-Iya!"
Kusuki buru-buru menjawab.
"Sampah yang cuma bisa masuk ke sekolah bobrok
sepertimu bisa bekerja untuk kami! Anggap itu sebagai sebuah kehormatan."
Maim memutar wajahnya menjadi ekspresi jelek sambil
mendorong punggung Kusuki dengan kasar ke arah pintu. Kusuki yang jatuh ke
tanah kembali berdiri lalu menepuk tanah yang menempel di bajunya.
"Aku mengerti."
Ia mengangguk pelan dengan wajah yang penuh
keputusasaan.
Kemudian, ia berjalan menuju pintu besar itu dan
membukanya dengan kedua tangan. Pintu besar itu terbuka dengan suara
derit keras.
Kusuki melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Begitu Kusuki
membuka pintu besar dan melangkah masuk, Okame serta siswa lainnya juga ikut
berbondong-bondong masuk.
Mereka berjalan dengan hati-hati menyusuri lorong kayu
yang berderit-derit di setiap langkahnya.
Bagian bawah lantainya berlubang di berbagai tempat, dan
jaring laba-laba juga terbentang di mana-mana. Bangunan ini memang sudah tua
dan rusak parah.
Namun, anehnya tidak ada setitik pun debu di lorong itu.
Bahkan, ada bunga merah darah yang dirawat dan diletakkan dalam vas di atas
meja dekat jendela.
Itu adalah bukti bahwa rumah ini ada yang mengurus.
Namun...
(P-perasaan apa ini....)
Tempat ini adalah lokasi penuh misteri yang pasti pernah
didengar oleh setiap siswa Babel setidaknya satu kali. Tempat ini juga dijuluki
Empat Teror Babel, dan dirumorkan kerap memunculkan fenomena gaib yang ganas.
Tentu saja Kusuki awalnya tidak percaya pada rumor tak
berdasar semacam itu. Namun, sejak menginjakkan kaki di rumah ini, perasaan
tidak nyaman yang aneh seperti ada ribuan serangga kecil merayap di tubuhnya
mulai bermunculan.
(Ini tidak normal! Tempat ini benar-benar tidak
normal!)
Setiap kali mengambil langkah, ia merasakan
ketidaknyamanan seolah sedang tenggelam ke dasar laut yang dalam. Sejak kecil,
insting Kusuki untuk hal-hal semacam ini memang sangat tajam.
Mungkin ini adalah efek dari Gift miliknya
yang tidak diketahui fungsinya, Medium. Pasalnya, sejak kecil ia sudah
bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang biasa.
Namun, ada beberapa orang yang bersikap santai dan
sama sekali tidak memedulikan kekhawatiran Kusuki tersebut.
"Apanya yang Empat Teror! Ini kan
cuma rumah tua biasa!"
Okame tertawa mengejek, lalu mendorong Kusuki dan
mengambil posisi paling depan.
"Benar. Ada bunga di dalam vas itu, jadi
kemungkinan besar tempat ini cuma jadi markas para preman Babel," ucap
Maim sambil meludah.
"Ya, meskipun tidak ada orang di sini, tapi
tidak ada satupun sampah yang berserakan. Ini bukti kalau ada pengelola yang
membersihkannya. Empat Teror Babel apanya, konyol sekali. Rumor kuno itu pasti
cuma dimanfaatkan oleh gerombolan mafia."
Okame meludah ke lantai dengan bosan, lalu menendang
meja yang di atasnya terdapat sebuah guci. Ia menginjak pecahan guci itu dan
masuk ke ruang makan di lantai satu.
Di dalam ruang makan tersebut, terdapat beberapa meja
bundar berlapis taplak meja putih bersih.
Ruangan itu diterangi dengan sangat terang oleh
lampu-lampu di dinding. Selain itu, berbagai macam hidangan berwarna-warni
tersaji di setiap meja.
"A-apa-apaan ini..."
Melihat pemandangan yang sangat ganjil ini, Okame tak
bisa menyembunyikan kegugupannya dan suaranya mulai gemetar.
Bukan hanya Okame. Semua orang terbelalak, menatap
kosong pada pemandangan yang sama sekali tak masuk akal ini.
(Ugh!? Ini benar-benar gawat!)
Sejak masuk ke ruang makan, perasaan tidak nyamannya
menjadi begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa berdiri. Yang ada di
pikiran Kusuki sekarang hanyalah keinginan kuat untuk kabur dari sini
secepatnya.
"Ayo cepat pergi dari sini!"
Desak Kusuki pada Okame.
"Kusuki, jangan sok mengatur karena kau
ketakutan!"
Maim langsung membentaknya.
"Tidak, Kuzuki benar! Aku punya firasat yang
sangat buruk! Kita harus segera keluar dari rumah ini!"
Okame berteriak cepat dan mencoba berlari menuju pintu
keluar ruang makan.
Namun, pintu itu mendadak tertutup dengan keras, dan
suara kotak musik yang rusak menggema di seluruh ruangan.
"A-apa ini!?"
Tubuh Maim dan yang lainnya yang sedang panik, tiba-tiba
mulai bergerak sendiri.
"Tubuhku bergerak sendiri!?"
"B-berhentii!"
Perlawanan mereka yang berteriak-teriak itu sia-sia, dan
satu per satu mulai duduk di kursi di meja makan.
"Ini adalah sihir kutukan! Hei, kalian, siapkan Magic
Barrier! Kalau tidak, kalian akan mati dikutuk!"
Okame, yang saat ini juga berjalan perlahan menuju meja,
memberikan instruksi sambil mengucurkan keringat dingin. Ia memukulkan tongkat
sihir di tangan kirinya ke lantai.
Dalam sekejap, lingkaran sihir besar muncul di bawah kaki
Okame dan siswa bernama Bitami yang berada tepat di sebelahnya, diiringi suara
sesuatu yang hancur. Langkah Okame dan Bitami langsung berhenti. Mereka
berlutut dengan satu kaki sambil terengah-engah.
Sayangnya, yang berhasil lolos dari kutukan itu
hanyalah Okame dan Bitami, serta Kusuki yang dari awal memang tidak terpengaruh
sama sekali. Sementara yang lainnya, tak bisa memberikan perlawanan sedikit
pun.
Mereka menggenggam garpu dan pisau di tangan. Lalu,
begitu melihat benda yang tersaji di atas piring di meja....
"Hiiii!"
Jeritan serempak keluar dari mulut Maim dan yang lainnya.
Tentu saja mereka menjerit.
Sebab, benda yang tadinya terlihat seperti hidangan di
piring itu, ternyata adalah gumpalan daging merah dengan wajah monster tak
terhitung jumlahnya.
"Silakan dinikmati."
Sebuah suara serak yang tidak jelas apakah laki-laki atau
perempuan terdengar dari atas kepala mereka. Tepat setelah itu, Maim dan yang
lainnya secara bersamaan menusukkan garpu ke benda mengerikan di piring itu.
Tiba-tiba, gumpalan daging itu membungkus kedua tangan
Maim dan merambat naik dari lengan hingga ke bahunya.
"Sudah kubilang ini bukan lelucon! Flame
Snake!"
Dua ekor ular api melesat dari ujung tongkat Okame
dan secara beruntun mengenai meja tempat Maim dan yang lainnya duduk. Api itu
membakar meja hingga habis bersama kedua lengan Maim.
"Gyaaa!"
Mendengar Maim yang menjerit kesakitan sampai
berguling-guling, Okame bergegas menghampirinya.
"Oi, Kuzuki! Kau bisa bergerak, kan!?"
Okame berteriak pada Kusuki.
"..."
Melihat Kusuki yang masih mematung, Okame kembali
membentaknya.
"Oi, jangan diam saja! Apa kau mau mati!?"
"I-iya!"
Kaki Kusuki yang tadinya membeku seperti batu mulai
bergerak, dan ia pun berlari menghampiri Okame seperti peluru yang ditembakkan.
Okame mengarahkan tongkatnya dan terus melepaskan Flame
Snake ke arah meja. Tepat ketika ular api itu hampir mengenai daging di
piring, gumpalan daging tersebut membesar dan berubah menjadi dinding daging.
Api itu berhasil ditahan dan memudar. Terlebih lagi,
sekumpulan pria berlumuran darah yang mengenakan pakaian koki dan pelayan
muncul dari dapur sambil memegang pisau daging.
Okame berdecak kesal saat melihat mereka.
"Panggul Maim! Kita kabur!"
Okame dengan mudah memapah Bitami yang pingsan
ketakutan menggunakan lengan kirinya. Ia menyuruh Kusuki bergerak sambil terus
melepaskan Flame Snake ke arah para monster dengan tongkat di tangan
kanannya.
"T-tapi yang lainnya..."
"Sudah terlambat! Mereka
tidak bisa diselamatkan lagi!"
Setelah berteriak, Okame menembakkan belasan Flame
Snake ke arah pintu besar ruang makan. Pintu itu hancur berkeping-keping.
Kusuki memanggul Maim yang sudah pingsan karena
kesakitan, dan mereka pun berlari keluar dari ruang makan.
◇◆◇
Elish Excel sedang berpartisipasi sebagai siswa
magang kejuruan dalam tugas di Departemen Keamanan, yang merupakan mata
pelajaran wajib di tahun terakhir Akademi Menara Babel.
Para lulusan Menara Babel di masa depan diharapkan
bisa mengambil kepemimpinan di berbagai bidang. Oleh karena itu, siswa tingkat
akhir diwajibkan untuk magang dan menjalankan beberapa tugas di dalam Babel.
Saat ini, sudah larut malam. Berbagai laporan masuk ke
Departemen Keamanan bahwa ada beberapa siswa asal Kerajaan Amelia yang belum
kembali ke asrama, dan belasan petugas keamanan kini sedang dalam perjalanan
menuju lokasi kejadian, yaitu sebuah rumah tua yang sudah lapuk.
Tempat itu sudah terkenal sebagai spot uji nyali yang
disebut Empat Teror Babel, menjadikannya cukup populer di kalangan siswa Babel.
Memang benar lokasi ini dilarang untuk dimasuki. Namun,
larangan itu dibuat bukan karena adanya fenomena gaib, melainkan semata-mata
karena bangunannya sudah tua dan rawan runtuh.
Intinya, misi kali ini hanyalah sebatas mendisiplinkan
para siswa yang melakukan uji nyali, dan seharusnya sama sekali tidak ada
bahaya.
Meskipun begitu, Kapten Pasukan Keamanan, Instruktur
Rakter, awalnya dengan tegas menolak Elish untuk ikut karena statusnya yang
masih siswa magang.
Namun, beberapa petugas keamanan termasuk petugas wanita
bernama Yoru membantu membujuknya, sehingga pada akhirnya Elish diizinkan untuk
ikut.
Alasan terbesar mengapa Elish diizinkan ikut adalah
adanya kebijakan pendidikan baru di Babel mulai tahun ini.
Ada arahan yang menyatakan bahwa siswa magang harus
diperlakukan setara dengan staf reguler.
Mimpi masa depan Elish adalah menjadi Hunter kelas
atas seperti ayahnya. Menyelamatkan orang yang tersesat adalah salah satu
pekerjaan utama seorang Hunter, jadi ia sangat ingin mengumpulkan
pengalaman.
Oleh karena itu, ia mengikuti misi ini dengan penuh
semangat. Namun, siapa sangka, pada akhirnya ia justru menginjakkan kaki di
medan pertempuran yang memiliki kemungkinan kalah besar, untuk kedua kalinya
dalam hidupnya.
"Mundur! Utamakan keselamatan nyawa kalian
sendiri!"
Instruktur Rakter memperingatkan anggota pasukannya
sambil menembakkan sihir ke arah monster yang mendekat dari belakang.
Rumah yang disebut Empat Teror ini adalah sarang
monster. Wanita berambut panjang penuh darah yang merayap dengan empat kaki di
lantai dan dinding dengan kecepatan tinggi terus berdatangan.
Belum lagi boneka yang memegang gunting raksasa, koki
yang membawa pisau daging, dan monster dengan kepala yang sangat besar. Mereka
semua tanpa henti menyerang Elish dan kawan-kawan.
― Instruktur ahli pedang yang baru masuk ruangan
langsung diikat dengan tali, kepalanya dimakan oleh monster oni raksasa, lalu
berubah menjadi zombi.
― Instruktur yang dipaksa memakan gumpalan daging di
atas piring di ruang makan dan berubah menjadi hantu.
― Instruktur yang dikutuk mati oleh wanita berdarah
dan menyerang mereka sebagai monster tanpa kesadaran.
Mereka terus melarikan diri untuk menjauh dari
monster-monster itu. Perlahan-lahan, para instruktur veteran yang telah melalui
ratusan pertempuran itu tewas atau terpisah.
Pada akhirnya, hanya tersisa tiga orang, yaitu Elish,
Instruktur Rakter, dan Instruktur Yoru. Mereka pun berhasil mencapai lantai
teratas, lantai tiga.
"Gegegegeg!"
Suara yang memicu rasa jijik menggema dan
menggetarkan gendang telinga. Saat menoleh, mereka melihat wanita berambut
panjang penuh darah merangkak menaiki tangga dengan empat kakinya.
"Mereka datang! Kita pergi ke ujung lorong
lantai tiga, lalu hancurkan bangunannya dan keluar dari sana!"
Mereka berlari sekuat tenaga demi kabur dari
makhluk-makhluk itu. Namun, lorong itu entah mengapa menjadi semakin panjang,
tak peduli seberapa jauh mereka berlari, mereka tak kunjung mencapai ujungnya.
Puluhan wanita berdarah masih terus mengejar dari
belakang.
(Aku tidak kuat lagi!)
Seluruh tubuh Elish sudah menjerit kesakitan, dan ia
hanya berlari dengan mengandalkan tekadnya saja.
"Guh!?"
Tiba-tiba rasa sakit yang tajam menjalar di kakinya,
dan ia pun terjatuh bergulingan. Seekor monster berbentuk cacing tanah dengan
wajah manusia telah menggigit pergelangan kaki Elish.
"Elish!"
Instruktur Rakter memenggal leher monster yang
menggigit Elish itu. Kemudian, Instruktur Rakter dan Instruktur Yoru menyiapkan
senjata mereka dan bersiap menghadapi para monster untuk melindungi Elish.
"Tinggalkan saja aku dan larilah!"
Lagi pula, dengan luka ini, ia tidak akan bisa
berlari dengan benar. Jika terus begini, mereka semua akan mati hanya demi
menyelamatkan Elish.
"Bodoh, mana mungkin kami bisa lari meninggalkan
siswa kami."
"Benar sekali, biarkan para senior ini pamer sedikit
di depanmu."
Tepat ketika kedua instruktur itu bersiap merapalkan
sihir mereka....
"Kakak-kakak, ke sini!"
Lantai tempat Elish dan kawan-kawan berpijak tiba-tiba
berubah menjadi hitam. Pada detik berikutnya, mereka semua tenggelam ke dalam
rawa hitam tersebut.
◇◆◇
Awalnya, Kusuki dan kawan-kawan mencoba keluar dari
lantai satu.
Namun, jendela-jendela tidak bisa dibuka karena suatu
kekuatan misterius, dan Flame Snake yang dilepaskan Okame bahkan tidak
memberikan efek apa pun.
Saat mencoba keluar dari pintu depan, mereka melihat
boneka-boneka memegang gunting raksasa memenuhi lantai, sehingga niat itu pun
diurungkan.
Seperti sedang digiring, mereka naik ke lantai atas
yang tidak ada monsternya.
Ketika tiba di lantai tiga, sebuah lingkaran hitam
muncul di lantai dan menyedot mereka ke dalamnya.
Mereka tiba di sebuah ruangan kayu kecil. Ruangan itu
memang tua dan rusak, tapi ada tempat tidur kecil serta kursi di sudutnya,
menandakan bekas-bekas kehidupan.
"Di mana... ini?"
Okame menatap sekeliling dengan waspada sambil
memegang erat tongkatnya.
"Senior Okame, Maim terlihat sangat kesakitan!"
Sejak tadi, wajah Maim memerah dan keringatnya bercucuran
deras seperti air terjun.
Okame menghampiri Maim dan mendecakkan lidah saat melihat
seluruh tubuh pemuda itu telah berubah warna menjadi ungu.
"Ini adalah Curse Poison! Maim sempat
menyentuh masakan menjijikkan tadi, dan itulah penyebabnya!"
Sambil menggerutu, ia mengeluarkan botol berisi cairan
merah dari balik bajunya.
"Astaga, padahal ini adalah salah satu kartu as
utamaku."
Okame bergumam kesal sambil meminumkannya pada Maim.
Dalam sekejap, kedua tangannya yang seharusnya sudah hangus menjadi arang
kembali pulih.
Tubuhnya yang berubah ungu pun kembali normal, dan ia
mulai bernapas lega dalam tidurnya.
"Sialan―- aku lelah sekali!"
Okame merebahkan dirinya hingga membentuk huruf besar
di lantai.
Awalnya Kusuki mengira Okame adalah orang yang jauh
lebih egois.
Ia tidak pernah menyangka orang itu bersedia
menggunakan ramuan pemulihan yang sangat mahal, bahkan untuk ukuran orang awam
sepertinya.
"Ada apa?"
Okame tampaknya menyadari tatapan Kusuki, lalu
bertanya dengan nada tidak senang mengenai maksud tatapan tersebut.
"Tidak, hanya saja... kau sedikit berbeda dari
bayanganku selama ini...."
Entah mengapa, Kusuki malah mengucapkan kalimat yang
biasanya tidak akan pernah ia katakan.
"..."
Kusuki mengira Okame akan marah, tapi pemuda berwajah
bulat itu malah menatapnya dalam-dalam.
"Kenapa kau masuk ke Akademi Ouboro?"
Kenapa, tentu saja alasannya sudah jelas. Itu adalah
satu-satunya akademi yang bisa ia masuki, dan ia pikir hal semacam itu tidak
perlu ditanyakan lagi.
"Karena kemampuanku hanya cukup untuk masuk ke
Akademi Ouboro di Babel...."
Keluarga Kusuki adalah keluarga bangsawan berpangkat
Baron yang miskin dari daerah. Bangsawan daerah biasanya menilai keunggulan
seseorang berdasarkan bakat sihir dan Gift yang dimilikinya.
Dalam hal ini, Gift milik Kusuki adalah Medium
yang tidak berguna sama sekali.
Mungkin ini semua gara-gara Gift sampah itu.
Berbeda dengan kakak-kakaknya yang berbakat, Kusuki tidak bisa menggunakan
sihir dengan baik, sehingga ia selalu diperlakukan sebagai anak gagal.
Ia membenci lingkungan seperti itu dan bertekad untuk
keluar dari rumah keluarganya suatu hari nanti. Saat berusia empat belas tahun,
ia mengikuti ujian masuk Babel dan diterima di Akademi Ouboro.
Meski sudah masuk Akademi Ouboro, nilainya tetap
buruk hingga ia harus tinggal kelas selama setahun. Setiap
hari, ia juga harus menerima hinaan dan ejekan dari teman-teman sekolahnya.
"Pembohong! Di tengah kepungan kutukan yang begitu
pekat tadi, hanya kau seorang yang selamat! Itu adalah bukti bahwa kapasitas
Mana milikmu sangat luar biasa!"
"Tapi, seingatku kapasitas Mana miliku itu yang
paling rendah...."
Kristal pengukur Mana pada saat ujian masuk berubah
menjadi hitam, dan hal itu terjadi berulang kali. Mengingat ia hampir tidak
bisa menggunakan sihir, mereka menyimpulkan bahwa kapasitas Mana miliknya
terlalu sedikit untuk bisa diukur.
"Kapasitas Mana milikmu paling rendah, ya...."
Sepertinya Okame menganggap Kusuki sedang berbohong.
Setelah meludahkan kata-kata itu, ia kembali menutup mulutnya.
Waktu berlalu cukup lama setelah kejadian itu. Akhirnya
tak tahan lagi, Kusuki memberanikan diri untuk bertanya.
"Umm, monster-monster itu...."
Kusuki bertanya dengan ragu-ragu pada Okame yang sedang
sangat kesal.
"Aku tidak tahu! Tapi, ada satu hal yang bisa
kukatakan, tingkat bahaya dari bencana ini minimal ada di Kelas Kota. Skenario
terburuknya, ini mungkin setara dengan ancaman Kelas Wilayah."
"Jangankan untuk mengalahkan mereka, sekadar
melarikan diri dari rumah ini saja mustahil kalau hanya kita berdua."
Jawaban yang dilontarkan adalah fakta yang benar-benar
memutus harapan dalam situasi ini.
"Kalau begitu, kita sudah..."
Rasa depresi dan keputusasaan menyebar dari dasar perut
hingga ke kepalanya. Tentu saja begitu, karena bencana Kelas Wilayah berarti
'krisis yang berpotensi menghancurkan banyak kota sekaligus'.
Ini adalah situasi yang mengharuskan seluruh penyihir
Babel dan Serikat Hunter turun tangan. Kusuki dan yang lainnya terjebak
tepat di tengah-tengah tempat berbahaya semacam itu.
Artinya, hal yang menanti mereka berdua di sana adalah
kematian yang tak terhindarkan.
"Kalian masih punya kesempatan."
Suara jernih itu membuat Okame tersentak bangun. Kusuki
juga secara refleks menoleh ke belakang, ke arah sumber suara tersebut.
Di sana, berdiri seorang wanita yang mengenakan jubah
putih bersih dengan tudung ditarik dalam-dalam. Kulit wanita itu pucat pasi
tanpa nyawa, dan wajahnya ditempeli beberapa benda menyerupai jimat kutukan,
yang menandakan bahwa ia jelas bukan manusia biasa.
"Kau... bukan manusia, kan?"
Okame menodongkan ujung tongkatnya pada wanita itu dan
melontarkan pertanyaan.
"Benar, aku adalah makhluk mati yang dibunuh oleh
kutukan di rumah ini di masa lalu, dan jiwaku telah ditawan."
"Makhluk mati? Jangan bercanda! Kapasitas Mana yang
kau miliki ini bukan milik makhluk mati biasa! Kau paling tidak berada di kelas
High Lich!"
Tepat ketika situasi berubah menjadi sangat tegang dan
sewaktu-waktu bisa meledak....
"Kak Lucile. Aku membawa mereka!"
Dua anak perempuan kembar yang mengenakan gaun putih
muncul dari balik punggung wanita berjubah putih tersebut. Tepat setelah itu,
lantai berubah menjadi hitam, dan tiga orang pria serta wanita muncul dari
dalam kegelapan itu.
"Instruktur Rakter! Instruktur Yoru! Senior
Elish!"
Okame berseru gembira.
"Okame... ya. Di mana kita?"
Pria berwajah garang dengan rambut hitam model dua
sisi pendek yang dipanggil Instruktur Rakter itu menatap Okame. Ia lalu
mengamati sekelilingnya dengan waspada sambil memegang senjatanya.
"Saya tidak tahu! Saat sadar,
saya sudah terkunci di sini! Kemungkinan besar wanita itu adalah penyebab
utamanya!"
Ketika Okame mengarahkan ujung tongkatnya pada Lucile dan
teman-temannya, bola api langsung muncul. Bola
api tersebut membesar dengan cepat sambil berputar.
"Hentikan! Ada anak-anak juga di
belakangnya!"
Seorang wanita berambut panjang biru berkilau dengan
potongan asimetris langsung melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya. Ia
berdiri menjadi perisai bagi Lucile dan anak-anak itu, meski harus menyeret
kakinya yang terluka.
"Minggirlah, Senior Elish! Dia dan anak-anak di
belakangnya itu semuanya Undead!"
"Memangnya kenapa? Cepat turunkan tongkatmu!"
Setelah berteriak, Elish juga menodongkan tongkat kecil
di tangan kirinya ke arah Okame. Untuk beberapa saat, keduanya saling menatap
dengan tajam.
"Ya, ya, hentikan, hentikan! Hentikaan! Ini perintah
dariku!"
Instruktur Yoru menepuk tangannya dan melangkah di antara
keduanya untuk memisahkan mereka. Kemudian, Instruktur Rakter menoleh
pada Lucile.
"Tampaknya Anda telah menolong kami. Terima
kasih."
Instruktur Rakter menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"T-tidak, bukan masalah besar."
Melihat Lucile yang menjawab dengan mata terbelalak
kaget, Instruktur Rakter kembali memohon dengan nada sopan.
"Bisakah Anda menjelaskan situasi kita saat
ini?"
Instruktur Rakter memohon penjelasan untuk situasi
gila ini.
"Ya, aku memang berniat begitu."
Lucile mengangguk pelan sambil mengulas senyum lembut
di bibirnya.
"Berdasarkan ceritamu, rumah ini benar-benar
gawat..."
Setelah selesai mendengarkan cerita Lucile,
Instruktur Rakter menyeka keringat di dahinya dan mengutarakan kesannya.
Victor Franz—penyihir paling kejam dalam sejarah
Babel, sekaligus genius sihir kutukan terbaik sepanjang sejarah. Seharusnya,
pria itu diabadikan sebagai pahlawan di Kuil Kehormatan Babel berkat berbagai
pencapaian besarnya.
Namun, demi mengejar ilmu sihir kutukan terkuat,
Victor mengorbankan penduduk kota Babel, murid-murid, bahkan rekan sesama
penyihirnya sendiri dalam eksperimennya.
Para petinggi Babel baru mengetahui hal tersebut
setelah banyaknya korban jiwa yang berjatuhan.
Tentu saja, Babel tidak bisa memaafkan kekejian
semacam itu demi menjaga reputasi mereka.
Dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki
Babel saat itu, tim eksekusi dibentuk untuk melenyapkan Victor.
Ketua Divisi Sihir pada saat itu—seorang wanita—ditunjuk
sebagai komandan utama pasukan penakluk.
Di bawah komandonya, Victor akhirnya berhasil dihabisi,
meski banyak korban yang harus dikorbankan.
Namun, Kutukan Tertinggi yang tengah diteliti oleh pria
itu justru bangkit setelah menggunakan kematian Victor sebagai pemicu dan
menyerap nutrisi dari lautan mayat di tempat itu.
Kutukan Tertinggi yang baru lahir tersebut telah mengutuk
mati banyak anggota pasukan Babel yang ada di sana, termasuk sang komandan.
Mereka semua ditelan oleh rumah ini dan menjadi budak
Kutukan Tertinggi.
Sejak saat itu, Babel telah berulang kali mencoba
merobohkan rumah ini.
Namun, setiap kali dicoba, Kutukan Tertinggi menunjukkan
taringnya dan mengutuk mati siapa saja yang berniat melukai rumah ini.
Kutukan Tertinggi yang telah menguasai rumah ini kemudian
menobatkan dirinya sebagai 'Raja Kutukan'.
Ia memperbudak para makhluk mati dan mengutuk siapa pun
yang berani menyusup masuk.
Di tengah situasi tanpa harapan tersebut, segelintir
makhluk mati perlahan-lahan berhasil mengembalikan kesadaran mereka dan lepas
dari kendali Raja Kutukan.
Merekalah Lucile dan gadis kembar itu, Din dan Bet.
Kabarnya, ada beberapa entitas lain yang mengalami nasib serupa di rumah ini.
"Ini cerita yang sama dengan Empat Teror Babel
yang terkenal sejak kami masih sekolah, kan? Tapi waktu itu ada banyak sekali
siswa yang uji nyali di sini, dan situasi kacau seperti ini tidak pernah
terjadi, lho?"
Ketika Instruktur Yoru bergumam mempertanyakan hal
itu....
"Itu mungkin berkaitan dengan syarat khusus yang
dimiliki oleh Raja Kutukan," balas Lucile dengan tenang dan terstruktur.
"Syarat khusus?"
Okame yang sejak tadi diam mendengarkan,
mengernyitkan alisnya dan bertanya.
"Iya, yaitu jika ada yang mencoba merobohkan
rumah ini, atau ada sekelompok orang bersenjata masuk dengan jumlah tertentu,
mereka akan terseret ke dalam dimensi lain yang diciptakan oleh Raja
Kutukan."
"Okame dan kawan-kawannya masuk ke rumah ini
bertiga belas... eh, delapan orang, kan?"
Instruktur Yoru langsung menyela dan bertanya pada
Lucile.
"Iya. Benar."
"Kalau begitu, ini aneh. Dulu,
rombongan yang uji nyali ke sini ada belasan orang. Tapi tidak terjadi apa-apa
pada mereka. Kenapa kelompok Okame yang berjumlah delapan orang ini justru
diseret masuk? Ini tidak masuk akal, kan."
"Sebelumnya, kecuali jumlah orangnya mencapai
puluhan, mereka tidak akan terseret masuk ke rumah ini. Tapi beberapa hari
lalu, kutukan rumah ini mendadak menjadi jauh lebih kuat."
"Akibatnya, kalian semua yang seharusnya tidak
bermasalah pun akhirnya terseret masuk ke mari."
"Kau tahu apa penyebab yang membuat kutukannya
menguat dengan pesat?" tanya Instruktur Rakter.
"Saya sungguh minta maaf."
Lucile menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah
penuh sesal.
"Tak apa. Yang lebih penting sekarang adalah apa
yang harus kita lakukan selanjutnya."
"Memalukan memang, tapi kita saat ini terisolasi dan
harus meminta bantuan dari luar. Nona Lucile, apakah ruangan ini saat ini
adalah zona aman?"
"Iya. Seiring dengan peningkatan kekuatan dari
Kutukan Tertinggi beberapa hari yang lalu, kekuatan kami yang terhubung
dengannya juga meningkat drastis. Berkat itu, kami bisa menciptakan ruangan
yang tak bisa dimasuki oleh mereka."
Mendengar perkataan Lucile, ekspresi tegang di wajah
semua orang menjadi sedikit lebih rileks.
"Langkah selanjutnya adalah meminta tim penyelamat.
Kita sudah pastikan kalau komunikasi dengan luar menggunakan sihir atau Skill
telepati tidak bisa digunakan."
"Masalahnya adalah bagaimana cara keluar dari rumah
ini untuk mencari bantuan. Ruang di luar sana sudah terdistorsi, tak peduli
seberapa jauh berlari di lorong lantai tiga, kami tidak pernah sampai di
jendela. Bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari sini?"
"Pintu depan di lantai satulah satu-satunya jalan
keluar," jawab Lucile.
"Normalnya itu tidak mungkin. Kita semua saja sampai
kewalahan sekadar untuk lari dari makhluk-makhluk itu," bantah Instruktur
Yoru.
Di tengah keputusasaan yang kembali menyelimuti mereka
akibat penolakan itu....
"Jika kutukan itu menganggap bahwa para penyusup
seperti kalian sudah menghilang, rumah ini akan kembali sunyi seperti semula.
Kalau itu terjadi, dia juga akan kembali tertidur dan tidak bisa bertindak
apa-apa."
"Sebagai bagian dari rumah ini, kami bisa
mengantarkan kalian sampai ke pintu depan dengan aman."
Mendengar usulan Lucile itu....
"Kalau begitu, aku mungkin bisa melakukannya!"
Elish berseru dengan lantang. Ia mengeluarkan selembar
kertas dari balik bajunya, menuliskan sesuatu dengan cepat di atasnya, lalu
meletakkan kertas itu di lantai.
Setelah itu, Elish memejamkan mata rapat-rapat sambil
menangkupkan kedua tangan.
Kertas itu pun perlahan menggelembung dan berubah menjadi seekor burung putih, lalu terbang dan hinggap di bahu Elish.
"Itu... apa
itu?"
Rutile membelalakkan mata karena terkejut.
Sambil menatap burung berwarna putih yang hinggap di
bahunya dan sedang merapikan bulunya, Elish menjawab, "Seperti ini, aku
bisa meniupkan kehidupan sementara ke dalam sehelai kertas.
Kalau aku menggunakan kemampuan ini untuk terbang sampai
ke Babel di luar sana, anak ini akan kembali menjadi kertas."
"Meniupkan kehidupan? Hal tidak masuk akal
seperti itu..."
"Burung ini bisa berubah menjadi kertas maupun
burung atas kehendakku satu-satunya. Selain itu, aku juga bisa membagikan sudut
pandangku denganku melalui kertas ini."
Mendengar penjelasan dari Elish tersebut,
"T-Tunggu sebentar! Elish, bukankah Berkah Gift milikmu itu adalah
kemampuan deteksi krisis bernama Premonition!?"
Instruktur Yoru panik dan menyela perkataan Elish
sambil meninggikan suaranya.
"Ya, dulu memang benar begitu. Hanya saja, aku
baru saja terbangun dengan kekuatan aneh ini setelah terseret ke dalam sebuah
insiden belakangan ini. Baru belakangan inilah aku bisa mengendalikannya sejauh
ini."
"Elish, kamu sama sekali tidak dalam bahaya kan
dengan kemampuan itu?"
Instruktur Ractor memastikan kepada Elish dengan nada
yang tegas.
"Ya, ini kan sekadar kertas yang bergerak
berdasarkan nyawaku, jadi seandainya dihancurkan pun, tidak ada bahaya sama
sekali bagiku."
"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk ragu. Serahkan
tugas ini pada Elish."
"T-Tapi, bukankah kamu baru beberapa hari ini bisa
mengendalikan kemampuan itu! Kalau sampai terjadi sesuatu meski itu satu dari
sejuta—!"
"Yoru, Elish juga bagian dari menara. Perhatian yang
berlebihan itu sama saja dengan menghina!"
"A-Aku tahu, kok!"
Yoru membuang muka dengan wajah cemberut.
"Yoru-san, aku benar-benar baik-baik saja. Tapi,
terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Elish menunduk dalam-dalam.
◇◆◇
Berkah Gift milik Elish adalah kemampuan di mana
setiap kali krisis mendekat yang disebut Premonition, ia akan diserang
oleh sakit kepala hebat dan pusing yang membuatnya tidak bisa berdiri.
Kemampuan itu aktif tanpa konteks dan tanpa memilih waktu
serta tempat, hingga membuatnya pingsan. Jika aktif di tengah pertarungan
melawan monster, itu berarti kematian seketika.
Ayahnya, Ralph Excel, mengkhawatirkan hal itu dan sangat
menentang keras Elish menjadi seorang Hunter.
Tapi, Hunter adalah impian Elish sejak kecil. Meskipun ia
tidak begitu ingat pemicunya, hanya api kerinduan pada Hunter yang tidak pernah
padam dan terus membara di dalam diri Elish.
Namun, sejak hampir mati dalam sebuah insiden, kemampuan
deteksi krisis ini menghilang dan berganti dengan kesadaran akan kekuatan
misterius ini.
Yaitu kemampuan untuk meniupkan kehidupan ke dalam
kertas. Elish sangat gembira dengan kemampuan yang sangat
praktis ini.
Karena dengan ini, ia pasti bisa memenuhi syarat yang
diberikan oleh ayahnya.
(Aku akan melakukannya!)
Ia yakin jika ia bisa melewati kesulitan ini, ayahnya
akan mengakui dirinya menjadi Hunter. Justru karena itulah, bagaimanapun
caranya, ia harus membuat misi ini sukses.
Beberapa jam kemudian, setelah memastikan rumah besar itu
menjadi tenang, ia memutuskan untuk mulai bertindak.
Ia memasukkan kekuatan sihir ke dalam sehelai kertas yang
berisi detail rinci mengenai situasi krisis yang terjadi di rumah besar ini,
lalu membayangkan wujud seekor burung.
(Sampaikan kepada Kepala Akademi Chloe di Babel!)
Ia berdoa begitu. Kertas itu lantas memancarkan cahaya
keemasan, dan sesaat kemudian, satu sudut pandang tambahan yang menjadikan
kertas tersebut sebagai titik pandangnya bertambah di dalam kepalanya.
Butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri dengan
kondisi memiliki dua sudut pandang secara bersamaan ini.
Awalnya ada rasa
tidak enak badan seperti orang mabuk perjalanan, dan itu tidak bertahan lama,
tetapi jika terus dicoba tanpa menyerah, ia menjadi jauh lebih terbiasa.
Sekarang, ia bahkan bisa memproses sudut pandang secara
bersamaan hingga sekitar tiga sudut pandang sekaligus selama kurang lebih tiga
jam.
"Tolong lakukan ini."
Begitu diserahkan kepada Rutile,
"Serahkan padaku."
Begitu ia menerima kertas tersebut dengan senyuman,
sosoknya langsung menghilang dari hadapan Elish dan yang lainnya.
Pada saat yang sama, sudut pandang berpindah ke
lorong rumah besar. Rutile berjalan menyusuri lorong yang sudah reyot.
Tempat itu, seperti yang dikatakan oleh Rutile dan
yang lainnya, tidak lebih dari sebuah rumah besar yang telah berubah menjadi
reruntuhan tanpa ada keanehan sama sekali.
Seperti yang ia katakan, kutukan pamungkas itu saat ini
sedang berada dalam kondisi tertidur.
Rutile akhirnya tiba di depan pintu besar di pintu masuk
utama lantai satu.
"Pintu ini hanya bisa dibuka sesaat saja. Lebih dari
itu, mereka akan menyadari kita."
(Dimengerti!)
Wanita itu mengangguk kecil, lalu perlahan membuka pintu
tersebut.
Ia membayangkan kertas itu berubah wujud menjadi burung.
Begitu keluar dari pintu, burung itu mengepakkan sayapnya menuju ke langit
atas.
◇◆◇
Victor Franz tertawa terbahak-bahak sambil memegang
perutnya, sementara wajahnya yang melepuh tersembunyi di balik tudung jubah
hitamnya, menunjukkan ekspresi yang buruk.
Victor adalah mantan ahli sihir terhebat di Babel yang
berubah menjadi Undead seiring dengan lahirnya Raja Kutukan.
"Khihi! Ihihihi! Khihihi! Menyenangkan,
menyenangkan! Tanpa sadar bahwa diri mereka sendiri bertindak sebagai umpan
yang memancing mangsa, mereka pasti sedang bersenang-senang dan menari gembira
sekarang ya! Tapi— taaaapiiii— say sekali yaaa! Disengaja loh,
se-n-ga-ja!"
Kutukan yang dibesarkan oleh Victor telah mencapai tahap
akhir berkat evolusi yang terjadi beberapa hari yang lalu.
"Sebentar lagi... sebentar lagi, kutukanku akan
sempurna!"
Yang tersisa hanyalah menghilangkan batasan spasial
yang dibatasi di dalam rumah besar ini, maka kutukan pamungkas yang diinginkan
oleh Victor akan selesai.
Benar, Hanya kurang sedikit lagi.
Jika evolusi terakhir ini memperoleh jiwa yang
mengandung banyak kekuatan sihir, maka kutukan tersebut akan terbebas dari
batasan di tanah ini dan dilepaskan ke seluruh dunia.
Orang-orang bodoh itu telah meminta pertolongan ke
luar. Para penyihir elit Babel yang bersenjata akan segera menyerbu rumah besar
ini.
Ia akan menjadikan para elit itu sebagai kurban untuk
membakar kayu bakar terakhir yang disebut evolusi pada kutukan tersebut.
"Aku sebagai pencipta kutukan ini pun akan
selangkah lebih dekat ke jurang magis."
Tujuan akhir Victor adalah mencapai jurang magis,
yang merupakan impian para penyihir dan titik akhir pencapaian tertinggi.
Kutukan ini dan Victor memiliki ikatan jiwa yang kuat.
Jika kutukan ini mencapai puncak yang sesungguhnya,
wajar saja jika Victor yang terhubung dengannya juga turut berevolusi.
Evolusi ini bukanlah sesuatu yang setengah-setengah,
melainkan sama persis dengan mencapai makhluk transenden, yaitu Transcendeter.
Mencapai dewa dengan wujud manusia, itulah tiket
platinum menuju kebenaran ilmu sihir dan satu-satunya jalan yang menuju ke
jurang yang dalam.
"Mengingat mereka telah membuat permintaan
penyelamatan ke Babel sesuai rencana, maka mereka sudah tidak berguna lagi.
Sisanya, tinggal melenyapkan wilayah terkutuk itu dan membiarkan Raja
Kutukan—anakku—menyerap 'spesial' itu."
Bocah berambut mangkuk itu, hanya dia satu-satunya
yang bisa bergerak dengan tenang bahkan di dalam wilayah kutukan Raja Kutukan,
anakku.
Sejauh ini, satu-satunya pihak yang bisa menepis
kutukan dari Raja Kutukan yang telah berevolusi hanyalah mereka yang memiliki
kekuatan sihir dalam jumlah tertentu.
Jika itu dilakukan melalui sihir atau item untuk
menghilangkan kutukan seperti yang dilakukan oleh bocah berpipi tembem itu,
maka ia bisa memahaminya.
Namun, dari bocah itu, sama sekali tidak ada jejak
peluncuran sihir yang terdeteksi. Itu tidak lain dan tidak bukan berarti
ia meniadakan kutukan dari Raja Kutukan hanya dengan kekuatan sihir murni.
"Seandainya anakku, sang Raja Kutukan, menyerap hal
itu..."
Tentu saja ia tidak berpikir bahwa hanya dengan satu
orang penyimpang tunggal saja, anakku sang Raja Kutukan akan mencapai
kesempurnaan.
Meskipun tidak begitu, setidaknya sudah pasti akan sangat
mendekati kesempurnaan. Itu akan menjadi penentu tercapainya tujuan Victor.
"Persiapannya sudah luar biasa, tinggal dorongan
terakhir saja."
Wilayah invasi yang dibuat oleh Rutile memiliki
karakteristik yang sangat kuat dari luar, tetapi rapuh dari dalam. Selain itu,
di dalam sana terdapat mangsa yang empuk.
Menolong mereka sama persis dengan situasi bebek yang
membawa daun bawang di punggungnya.
Sisanya, ia hanya perlu membisikkan kata-kata di
telinga bebek bodoh itu, maka hasil yang diinginkan Victor akan tercapai.
"Sebentar lagi, aku juga akan mencapai dewa.
Mmm, membara! Membara rasanya!"
Victor membayangkan dirinya yang akan segera menjadi
dewa, lalu melontarkan kata-kata penuh hasrat dari mulutnya dengan ekspresi
ekstase.
◇◆◇
"Hmm, sepertinya kita tidak bisa menemukan tempat
tinggal, ya."
Masalah yang kini berdiri di hadapan kami adalah tempat
tinggal.
Pendaftaran masuk ke Akademi Ouboro telah diputuskan
secara resmi kali ini, dan kita membutuhkan basis di Babel, tetapi rumah besar
yang selama ini ditinggali oleh Roze tidak bisa digunakan lagi karena suatu
keadaan.
Menemukan tempat tinggal baru di Babel telah menjadi
prioritas yang mendesak.
Alasan mengapa kami yang menyukainya diusir dari
rumah besar tempat tinggal Roze adalah karena sistem yang merepotkan di Kota
Akademi Babel.
Hal itu sangat berkaitan erat dengan distrik-distrik
di Babel.
Distrik di Babel ini terbagi menjadi enam wilayah.
Distrik Pertama — Pusat kota Babel. Tepat di
tengah-tengah Babel, terdapat Menara Babel yang menjulang tinggi menembus awan,
dipenuhi oleh kantor pusat Guild Hunter yaitu Central Center, serta
gedung kedutaan besar dari berbagai negara.
Distrik Kedua — Bagian tengah utara Babel. Tempat
yang menjadi zona tempat tinggal para keluarga kerajaan dari berbagai negara
serta orang-orang paling penting.
Di Distrik Kedua juga terdapat fasilitas komersial
tersendiri, dan untuk memasuki toko-toko di sini, diperlukan kualifikasi atau
syarat tertentu.
Distrik Ketiga — Bagian barat laut Babel. Terutama
merupakan zona tempat tinggal para guru menara serta mereka yang terdaftar di
Menara Babel yang merupakan para super-elit.
Demi alasan kerahasiaan, seluruh fasilitas di sini
dilarang keras dimasuki oleh orang-orang selain yang terdaftar di Menara Babel.
Distrik Keempat — Bagian timur laut Babel. Berjejer
toko-toko mewah dan terdapat akademi kelas atas. Terdapat juga zona tempat
tinggal para kalangan atas seperti para bangsawan dan lulusan Menara Babel.
Toko-toko di sini pada prinsipnya tidak memiliki
batasan masuk, namun karena sejak awal menargetkan lapisan berpenghasilan
tinggi dengan harga yang mahal, harganya sangat tidak terjangkau bagi pelajar
biasa.
Distrik Kelima — Wilayah yang membentang dari timur
ke barat di bagian tengah Babel, tidak termasuk Distrik Pertama.
Ini adalah distrik sekolah yang paling luas dan
berpenduduk paling padat di Babel.
Distrik yang memiliki banyak fasilitas komersial dan
akademi dengan prestasi kelas menengah.
Distrik Keenam — Bagian selatan Babel. Distrik tempat
berdirinya akademi-akademi kelas bawah. Keamanannya juga dinilai sebagai yang
paling buruk di Babel.
Dari Distrik Pertama hingga Keenam ini, wilayah yang
ditetapkan sebagai zona tempat tinggal adalah dari Distrik Kedua hingga Keenam.
Berdasarkan dalih bahwa jarak tempuh sekolah para
pelajar tidak boleh terlalu jauh, pada prinsipnya mereka disarankan untuk
tinggal di distrik tempat akademi mereka berada.
Mengingat Roze dulunya bersekolah di akademi kelas
atas, seharusnya ia tinggal di Distrik Keempat, namun tampaknya ia mendapatkan
izin khusus untuk tinggal di rumah besar di Distrik Kelima tersebut karena
alasan jaraknya yang dekat dari akademi.
Meskipun begitu, izin semacam itu hanya diberikan
jika turun peringkat secara mandiri seperti dari Distrik Keempat ke Kelima,
sebaliknya jenis tempat tinggal yang menaikkan peringkat seperti menginginkan
dari Distrik Kelima ke Keempat adalah hal yang tidak mungkin.
Pada akhirnya, kami dipaksa untuk mencari pangkalan
di Distrik Keenam tempat Akademi Ouboro berada.
Awalnya, beberapa kandidat rumah tempat tinggal Roze
sempat dibawa, namun semuanya pada akhirnya ditolak.
Kemungkinan besar ini adalah akibat tekanan dari
faksi Wakil Kepala Akademi Babel yang baru.
Berdasarkan informasi dari Gil, Wakil Kepala Akademi
Rasputin Graheart adalah seorang penyihir yang berasal dari Kerajaan Amelia dan
merupakan bangsawan tingkat tinggi tulen yang memegang gelar Adipati.
Faksi Wakil Kepala Akademi tampaknya sedang
memperluas pengaruh mereka saat ini dengan menjadikan Rasputin sebagai boneka
mereka.
Para bangsawan tinggi Kerajaan Amelia pada dasarnya
adalah faksi anti-Roze. Mereka bahkan membenci Roze yang secara terang-terangan
menyangkal sistem aristokrasi saat ini.
Lebih jauh lagi, kaum bangsawan mendasarkan diri pada
ajaran Dewa Perang Suci Ares dan menganut paham supremasi Gift.
Mereka pastinya tidak akan pernah mau mengakui pengawal
kerajaan sepertiku yang merupakan pemegang Gift paling tidak berguna di
dunia ini. Alasan untuk dikerjai pun sama sekali tidak kurang.
Pada akhirnya, bahkan seminggu sebelum masuk Akademi
Ouboro, tempat tinggal sama sekali belum juga ditentukan.
Aku memiliki Faf, Mari, dan yang lainnya. Kita tidak
mungkin tidur di jalanan. Ketika aku hendak mulai menangani tindakan pencegahan
secara serius, aku menerima panggilan dari Guild Hunter.
Aku mengunjungi fasilitas berlantai tiga yang terletak di
sebelah Central Center dari Guild Hunter yang telah ditentukan.
"Kai, tolonglah! Berikan aku pinjaman
kekuatanmu!"
Pahlawan besar para Hunter, Ralph Excel, memohon kepadaku
dengan wajah penuh ketegangan sambil menempelkan dahinya ke atas meja.
"Para siswa asal Kerajaan Amelia melakukan uji
keberanian lalu tersesat, dan anggota bagian keamanan Menara Babel yang
dikirimkan untuk penyelamatan mereka malah mengalami bencana susunan kedua. Di
antara petugas bagian keamanan itu, putrimu Elish Excel yang merupakan tahun
akhir juga ikut berpartisipasi untuk pelatihan praktis?"
"Ya, ada permintaan penyelamatan dari Elish yang
terjebak di dalam rumah besar itu! Bagaimanapun juga, pasukan keamanan Babel
telah musnah! Ini tanpa ragu adalah situasi darurat!"
Ralph memegangi kepalanya dan menjawab dengan nada suara
yang menyerupai erangan.
Rupanya situasinya adalah seperti ini.
Di ujung barat daya Distrik Keenam, terdapat sebuah rumah
besar yang dikelola oleh Babel.
Rumah besar itu dulunya dimiliki oleh seorang penyihir
terkenal di menara.
Penyihir tersebut diam-diam melakukan eksperimen sihir
kutukan di rumah besar ini setiap malam, yang menyebabkan banyak korban jatuh
dari kalangan siswa Babel dan warga biasa.
Pihak pimpinan Babel saat itu yang menyadari perbuatan
sang penyihir memutuskan untuk menyingkirkan si penyihir.
Mereka mengirimkan pasukan penakluk ke rumah besar itu
untuk menghabisi si penyihir. Hasilnya, ditemukan ratusan mayat mengenaskan
dari siswa Babel dan warga kota di dalam rumah besar tersebut.
Kegagalan untuk menghentikan kebiadaban penyihir tersebut
terhadap para siswa Babel dan warga kota adalah noda terbesar sejak berdirinya
Babel.
Pihak pimpinan Babel saat itu berusaha untuk langsung
mengubur fakta tersebut ke dalam kegelapan.
Namun, para penyihir yang berniat membakar rumah besar
tersebut tewas akibat sambaran petir yang tidak wajar.
Lebih jauh lagi, insiden-insiden seperti petugas Babel
yang mencoba membongkar rumah besar tersebut menemui kematian mencurigakan
terus terjadi secara beruntun.
Babel telah berkali-kali mencoba melakukan pembongkaran
rumah besar tersebut, namun setiap kali pula kematian mencurigakan terjadi.
Terlebih lagi, bukan hanya orang yang mencoba membongkar
itu saja, melainkan seluruh keluarga hingga teman-teman mereka pun turut tewas.
Sejak saat itu, rumah besar yang berada di Distrik Keenam
tersebut ditetapkan sebagai zona bahaya tingkat pertama dan dilarang dimasuki
oleh siapapun.
Hanya saja, meskipun rumah besar ini terus dikelola oleh
Babel, karena waktu yang berlalu sudah terlalu lama, kesadaran mengenai bahaya
rumah besar ini semakin memudar.
Terlebih lagi, karena tidak ada bahaya apapun kecuali
jika rumah besar itu dibongkar, tempat ini akhirnya diperlakukan sekadar
sebagai legenda saja.
Terlebih lagi, yang paling parah adalah bahkan departemen
keamanan Babel yang mengelola bahaya rumah besar itu pun tidak memahami
bahayanya secara akurat.
Para instruktur tampaknya pergi melakukan investigasi ke
rumah besar itu bersama para siswa praktik Babel tanpa rasa krisis yang
berarti. Akibatnya, mereka jatuh ke dalam situasi terburuk berupa bencana
susunan kedua hingga saat ini.
"Dengan menanggung malu, aku pun ingin meminta
tolong kepadamu."
Kepala Akademi Pengawas Babel yang baru, Chloe Valentine,
yang duduk di sebelah sofa Ralph, turut memintaku juga.
Dari tampilannya, keduanya tampak sangat cemas. Tempat
ini adalah Babel, dan para penyihir yang berafiliasi di dalam pasukan
keamanannya.
Mereka sudah pasti sangat luar biasa. Terlebih lagi, Babel ini adalah tempat di mana markas besar Guild
Hunter berada.
Untuk sebagian besar krisis, Babel dan Guild Hunter
saja sudah lebih dari cukup untuk menanganinya.
Lalu apa alasan kedua orang itu sampai datang bersamaan
untuk menyerahkan masalah ini kepadaku?
Tentu saja, bisa jadi karena putri kandung mereka
sendiri, Elish Excel, juga ikut terseret. Tapi, bagaimanapun juga Ralph adalah
penanggung jawab tertinggi di Guild Hunter.
Dia tidak mungkin meminta tolong padaku hanya karena
merasa khawatir saja. Begitu juga dengan Chloe.
Meminta tolong padaku sama saja dengan mempermalukan diri
sendiri di dalam Babel.
Sama seperti sebelumnya, mereka pasti menilai bahwa ini
adalah krisis yang tidak bisa diselesaikan kecuali oleh diriku.
Menarik sekali. Misi tingkat bahaya S di mana Hunter
biasa tidak bisa mengatasinya?
Belakangan ini musuh-musuh yang ada kurang menantang,
jadi aku sudah merasa cukup frustrasi.
Kalau musuhnya yang itu, sepertinya akan menjadi
pertarungan yang cukup menyenangkan.
"Kai, bagaimanapun juga ini berbahaya! Ini adalah
masalah pada tingkat yang harus ditangani oleh seluruh organisasi Babel dan
Guild Hunter secara keseluruhan!"
Menanggapi argumen Roze yang sangat masuk akal itu,
"Nona Roze, sebenarnya ada banyak hal yang ingin
aku komentari, tapi coba lihat wajah Master."
Asta yang berdiri di sisiku melempar komentar usil.
Menanggapi perkataan Asta itu, Roze mengalihkan pandangannya kepadaku yang
duduk di sebelahnya, lalu sempat menatapku lekat-lekat untuk beberapa saat
dengan wajah yang menegang hebat sebelum akhirnya,
"Ya, aku jadi sangat-sangat mengerti kalau tekadmu
sama sekali tidak akan terguncang oleh cara apapun."
Ia menghela napas panjang, menutup kedua matanya,
menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, lalu mengeluarkan ucapan yang tidak
jelas artinya.
"Sepertinya kita sudah mendapat persetujuan secara
de facto, jadi mari kita terima saja."
Menanggapi persetujuanku atas permintaan tersebut,
"Aku berutang budi padamu!"
"Tuan Kai, terima kasih banyak!"
Baik Ralph maupun Chloe sama-sama memasang ekspresi lega
dan menyampaikan rasa terima kasih mereka.
"Meskipun begitu, dalam menerima ini aku punya
syarat, apakah tidak apa-apa?"
"Selama itu hal yang bisa kami lakukan, apa pun akan
kami lakukan! Chloe, kalian pihak Babel juga setuju dengan itu, kan!?"
Dia pasti sangat putus asa. Sambil menatap Chloe dengan
mata memerah, ia menegaskan dengan nada suara yang tidak membantah.
"T-Tentu saja! Silakan perintahkan apa saja!"
"Kalau begitu, begitu masalah ini terselesaikan, aku
ingin kalian menyerahkan lahan dan rumah besar yang menjadi masalah kali ini
kepada kami."
Aku menyebutkan syarat yang bisa menyelesaikan masalah
yang sedang kami hadapi saat ini sekaligus dalam sekali jalan.
◇◆◇
Kira-kira sekitar empat jam sejak Elish memanggil bantuan
ke jajaran petinggi Babel menggunakan kemampuannya, Kushi dan yang lainnya
menunggu datangnya bala bantuan di dalam penghalang yang dibuat oleh Rutile.
『Nona Rutile, sepasang pria dan wanita
muda yang tampaknya merupakan pasangan kekasih telah masuk melangkah ke dalam
rumah besar ini. Apa yang harus kita lakukan?』
Sesosok hantu pemuda berpenampilan ksatria yang tampaknya
merupakan anak buah Rutile melaporkan hal tersebut.
『Pasangan kekasih... itu bukan bala
bantuan dari Babel ya.』
Dalam bergumam yang sedikit mengandung kekecewaan,
"Begitu ya. Aku juga sudah memeriksa tulisan
yang dibuat oleh Elish, tapi kalau membaca tulisan itu, mereka seharusnya...
tidak salah lagi pasti akan mengirimkan para elit Babel."
Mengingat perkataan Instruktur Ractor yang entah
mengapa terdengar kurang meyakinkan, sedikit keroncongan melanda perasaan semua
orang.
"Maksudmu ada kemungkinan mereka tidak
mengirimkan bala bantuan karena perebutan faksi yang tidak penting, begitu?
Tapi, kita tidak berfaksi dan ada Elish. Kalau mereka sampai ceroboh
menghalangi bala bantuan, itu bisa berujung pada urusan dengan seluruh kekuatan
penuh para Hunter. Aku tidak berpikir mereka akan melakukan kebodohan seperti
itu. Bukannya begitu?"
Instruktur Yoru meminta persetujuan kepada Instruktur
Ractor dengan suara ceria yang sama sekali tidak cocok dengan situasi tegang
ini.
Elish rupanya adalah orang yang secara tidak langsung
mampu menggerakkan organisasi bernama Hunter.
Kalau begitupun, mereka akan segera mengirimkan bala
bantuan dengan cepat.
Yah, meskipun itu sangat memprihatinkan karena hanya
mengandalkan bantuan orang lain.
"Begitulah. Pada akhirnya, kita hanya bisa percaya
dan menunggu bala bantuan. Kita sebaiknya tidak terlalu memikirkan hal-hal yang
buruk saja."
"Ya, sifat terlalu khawatir itu adalah keburukan
Raku-chan, loh. Tenang saja. Nona Chloe pasti akan segera mengirimkan banyak
sekali pasukan elit Babel."
Mendengar kalimat penuh percaya diri dari Instruktur
Yoru, alis tajam para siswa sedikit mengendur.
"..."
Elish yang namanya sempat menjadi topik pembicaraan tidak
ikut bergabung ke dalam obrolan, melainkan melemparkan pandangannya jauh ke
depan dan tampak berpikir tanpa melihat apapun.
『Kalau begitu, kita anggap pria dan
wanita yang telah masuk ke dalam rumah besar kali ini diminta untuk pulang
saja, ya?』
"Ah, tolong lakukan itu. Sepertinya kita tidak tahu
apa yang akan terjadi di rumah besar ini sekarang. Aku tidak ingin menambah
korban lagi."
『Tomyam, Bibin, bisakah kalian meminta
tolong untuk mengurusnya?』
『Tentu saja.』
『Saya mengerti.』
Bibin, seorang wanita berwajah pucat berbusana pelayan,
dan Tomyam, seorang pria hantu berpenampilan ksatria, membungkuk kecil,
『Din juga ingin ikut melakukannya!』
Begitu Dean, salah satu anak perempuan kembar hantu,
mengangkat tangan kanannya dengan penuh semangat ke arah Rutile,
『De-Dean, ayo hentikan!』
Bet, sang anak perempuan kembar, berpegangan pada Dean
dengan wajah penuh kecemasan dan mencoba menghentikannya.
『Dean bisa melakukannya dengan baik kok!
Aku akan tunjukkan kalau aku berguna!』
Dean mengepalkan kedua tangannya untuk menyatakan
tekadnya.
『T-Tapi ya, kalau tertangkap oleh
mereka—』
『Mereka
kan sedang tidur sekarang jadi tidak apa-apa!』
『Kalau mereka bangun, Dean mungkin akan
mati, tahu!』
『Hi-hi-hi!
Bet, Dean dan yang lainnya kan sudah mati!』
Sambil menggoyangkan telunjuk kirinya, Dean
mengucapkan kalimat tersebut dengan wajah penuh keyakinan. Bet memasang wajah
yang hampir menangis dan meminta tolong kepada Rutile dan Senior Elish.
"Dean-chan, mari kita menunggu bersama kami!"
Elish berbicara kepada Dean dengan nada seolah
membujuknya dengan lembut.
Sekalipun tidak memenuhi syarat di mana kutukan rumah
besar ini menjadi aktif, kemungkinannya tetap bukanlah nol.
Kutukan di rumah besar ini sangat luar biasa ganasnya.
Jika tertangkap, bahkan anak kecil pun akan mengalami hal
yang mengerikan. Elish mengkhawatirkan hal itu.
『Dean juga ingin membantu Tomyam dan
yang lainnya!』
Sambil menatap Dean yang bersikeras tidak mau
mendengarkan, Rutile terdiam sejenak dengan wajah penuh pertimbangan, lalu
mendekat dan membungkukkan badannya. Dan kemudian—.
『Dean, ini adalah tugas yang sangat
penting sekaligus berbahaya. Kamu paham akan hal itu, kan?』
『U-Um.』
Mendengar Dean mengangguk ragu-ragu,
『Tugas ini, aku serahkan kepadamu.』
"Rutile! Kamu—"
Elish hendak mengeluarkan suara protes, namun Instruktur
Yoru meletakkan tangannya di pundak kanan Elish dan menggelengkan kepalanya
lebar-lebar ke kiri dan ke kanan. Itu sepertinya bermaksud mengatakan, biarkan
Rutile yang mengurusnya.
『Namun, ada persyaratannya.』
『Persyaratan... ya?』
『Ya, begitu tugas ini selesai, Dean,
kamu sudah memberikan kontribusi yang lebih dari cukup kepada kami. Kamu tidak
perlu melakukan hal apa pun lagi setelah ini. Oleh karena itu, berjanji lah
untuk berdiam diri di sini bersama Bet mulai sekarang. Bisakah kamu berjanji
tentang hal itu?』
『U-Um, aku mengerti! Aku berjanji!』
Rutile dengan lembut mengelus kepala Dean yang mengangguk
dengan wajah serius, lalu
『Dean, aku menaruh harapan padamu.』
Begitu Rutile mengarahkan tatapan penuh makna, Tomyam dan
Bibin mengangguk kecil tanpa suara. Kemudian mereka menggandeng tangan
Dean dan menghilang.
『Rutile!
Dean pergi!』
Rutile memeluk Bet yang sedang menangis sesenggukan
sambil memegang ujung lengan bajunya sendiri, lalu
『Mengingat
mereka sudah menginjakkan kaki ke dalam rumah besar ini sejak awal, jika
kutukan itu bangkit karena masuknya dua orang itu, seharusnya ia sudah
menunjukkan taringnya sekarang. Tidak bangkitnya kutukan adalah bukti bahwa
kutukan rumah besar ini tidak akan bangkit hanya karena masuknya dua orang
tersebut. Tomyam dan Bibin juga ikut mendampingi. Kalau sekadar mengusir
sepasang kekasih, sama sekali tidak perlu dikhawatirkan.』
Ia menegaskan hal itu dengan senyuman dan nada bicara
yang ceria serta penuh rasa percaya diri.
『Benarkah?』
『Ya, benar. Oleh karena itu, Bet juga
mari kita menjadi anak baik bersama kami, ya?』
『Un!』
Begitu merasa akhirnya bisa tenang, Bet memunculkan
senyuman.
Maksud dari Rutile itu pun dapat dipahami oleh Kushi.
Kemungkinan besar, dengan cara pemimpin Rutile sendiri
yang memberikan misi kepada Dean yang cenderung bertindak di luar kendali, hal
itu memiliki makna untuk memuaskan perasaan Dean dan mencegah tindakan yang
tidak dapat diprediksi setelahnya.
Itu adalah keputusan yang memang hanya bisa diambil jika
seseorang benar-benar memahami anak bernama Dean tersebut.
"Hei, Kushi! Aku punya satu hal yang ingin aku
mintakan darimu, bolehkah?"
Okame berbicara kepada Kushi dengan wajah penuh
keseriusan.
"A-Ada apa ya?"
Pada waktu seperti ini. Bagi Kushi, ini bukanlah hal yang
bagus. Sambil terbata-bata hebat, ia menanyakan isi permohonan dari Okame.
"Tenaga hidup Mana dalam jumlah banyak
diperlukan untuk kartu truf miliki ku. Bisakah kamu memberikan sekitar
seperlima dari tenaga hidup Mana-mu? Kalau hanya sebesar itu, ia akan
pulih dalam waktu setengah hari, dan itu tidak akan membahayakanmu."
"Tenaga hidup Mana milikku... ya?"
Mana secara harfiah adalah tenaga hidup. Ia
pernah belajar di sekolah bahwa jika semuanya habis, bahkan kematian pun bisa
terjadi.
Meskipun begitu, ia tahu betul bahwa Okame bukanlah orang
yang akan merebut sesuatu dari Kushi tanpa alasan. Sudah pasti ada tujuan yang
bersifat membalikkan keadaan.
"Ya, benar. Kontrakku dengan Ular Api memerlukan
tenaga hidup Mana dalam jumlah tertentu dari sisiku."
"Kontrak dengan Ular Api, apakah itu Soul Servant
Contract?"
Menanggapi pertanyaan dari Instruktur Ractor,
"Ya. Kalau Ular Api miliknya, ia sama sekali tidak
akan kalah dari kutukan semacam itu."
Okame mengangguk besar dan mengiyakannya.
"Undead lemah terhadap api. Kalau Ular Api milik
Okame-chan, itu mungkin memang akan memberikan efek, ya."
Instruktur Yoru meletakkan tangannya di dagu dan
memberikan penilaian positif terhadap usulan Okame,
"Namun, kenapa harus dia? Pemberian tenaga hidup Mana
itu, apa tidak bisa dilakukan oleh aku atau Yoru?"
Instruktur Ractor melontarkan pertanyaan sambil
menatap Kushi,
"Orang seperti Kushi itu hanya berguna di saat
seperti ini saja! Seperti kata Senior Okame, suruh saja Kushi yang menyediakan
tenaga hidup Mana-nya!"
Tepat seperti dugaan, Maim melontarkan kalimat yang
tidak mengkhianati ekspektasi. Selama ini ia terus-menerus disembur
dengan makian semacam ini. Ucapan Maim ini sama sekali tidak terasa aneh
sedikit pun.
Malahan, pada saat seperti ini, akan jauh lebih aneh jika
Vitami yang biasanya paling awal membuat keributan justru bersikap tenang.
Sejak menyadari keadaannya, Vitami sama sekali tidak
berbicara dengan siapapun, melainkan menggigiti kuku ibu jarinya di sudut
ruangan sambil bergumam-gumam sendiri, memberikan kesan yang sangat tidak
menyenangkan.
"Orang yang tidak berguna, diamlah!"
Okame melontarkan bentakan kemarahan yang jauh lebih
tajam dari biasanya. Kepada Maim yang tampak kebingungan, Okame kembali
menghadap ke arah Instruktur Ractor,
"Ular Api milikku itu rakus. Satu-satunya orang di
antara kelompok ini yang membuat Ular Api merasa puas dengan pemberian tenaga
hidup Mana sebesar seperlima adalah Kushi. Seandainya tenaga hidup Mana
yang hilang dari dalam tubuh melebihi jumlah itu, ia pasti akan jatuh tidak
bisa bergerak. Kalau sampai Instruktur Ractor dan yang lainnya juga ikut
lumpuh, itu akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup kita."
Instruktur Ractor menatap wajah Okame dengan wajah yang
sulit dibaca,
"Tapi perkataanmu itu terdengar seolah tenaga hidup Mana
miliknya berada di atas kita?"
Ia menanyakan dugaan tidak masuk akal secara langsung
seperti itu.
"Ya. Kekuatan sihir anak ini berada di luar
batas normal. Wajar jika kekuatan sihirnya tinggi, maka tenaga hidup Mana-nya
juga tinggi. Di antara anggota kelompok saat ini, mustahil bisa
membuat kontrak dengan makhluk mitos milikku selain anak ini."
"Apakah itu benar?"
"Ya, kalau mau, aku bahkan bisa melakukan
sumpah."
Ia tahu Maim yang ada di sebelah meneguk ludahnya.
Sumpah — sebuah ritual sihir di mana seseorang bersumpah
atas hal tertentu dan akan menerima penalti jika melanggar sumpah tersebut.
Sumpah adalah ritual yang sangat berbahaya yang bahkan
bisa merenggut nyawa jika salah melakukannya, dan seorang penyihir tidak akan
pernah mengikat sumpah kecuali mereka memiliki keyakinan mutlak.
Dengan kata lain, Okame benar-benar percaya bahwa
kekuatan sihir Kushi sangat tinggi.
"Ah, tidak perlu sampai sejauh itu. Matamu sekarang
tidak keruh lagi, kok. Kamu tidak sedang berbohong. Selanjutnya tinggal
tergantung pada Kushi."
Instruktur Ractor mengalihkan pandangannya kepada Kushi.
Tatapan dari seluruh ruangan terpusat pada Kushi, membuatnya menelan ludah
dengan susah payah.
"Baiklah. Kalau hanya seperlima..."
Di sekolah ia diajarkan bahwa kehilangan tenaga hidup Mana
sekitar seperlima adalah hal yang biasa terjadi saat kekuatan sihir terkuras
habis, dan itu hanya akan membuat seseorang sedikit merasa pusing. Kalau
begitu, seharusnya tidak ada masalah.
"Bagus! Dengan ini, meskipun sedikit, kita sudah
mendapatkan perhitungan untuk melarikan diri dari sini!"
Mendengar Okame yang mengepalkan kedua tangannya
erat-erat dan berteriak,
"Kamu, kesanmu jadi sedikit berubah, ya."
Elish menyampaikan kesan yang sejak tadi dirasakan kuat
oleh Kushi.
Benar, Selama ini Kushi mengira Okame adalah tipikal
figur bangsawan dari Kerajaan Amelia.
Yaitu penganut paham darah, supremasi Gift, dan
supremasi nilai rapor akademi di Babel.
Mustahil Okame yang bersikap stereotip seperti itu mau
mengakui Kushi yang berada di peringkat terbawah akademi.
Namun, Okame justru menilai bahwa dalam hal kekuatan
sihir, Kushi berada di atas Instruktur Ractor.
Seseorang yang bisa menjadi instruktur di Babel adalah
sosok berkemampuan tinggi yang hanya segelintir saja dari para lulusan menara.
Terlebih lagi, Instruktur Ractor adalah penyihir
super-elit yang bertugas di pasukan keamanan.
Adanya siswa yang kekuatan sihirnya berada di atas
dirinya, hal itu persis seperti Lancelot, si jenius penyihir yang terkenal di
Babel saat ini.
"H-Hei, Vitami! Apa yang sedang kamu lakukan?"
Begitu ia berbalik karena mendengar suara penuh kecemasan
dari Maim, ternyata Vitami sedang menancapkan belati berbilah merah ke daun
pintu ruangan.
『T-T-Tidak
mungkin!?』
Begitu Rutile memperlihatkan taringnya dan berteriak
dengan suara keras,
"Kyah! Kuhihihi! Dengan ini, aku akan selamat!
Begitukan!?"
Vitami tertawa dengan mata memerah, lalu berseru keras
sambil menoleh ke arah yang salah dan melontarkan pertanyaan.
『Ahーah,
benar sekali! Kerja bagus!』
Seiring dengan suara serak, seorang pria ber jubah hitam
muncul secara tiba-tiba. Pria itu mengenakan tudung jubah yang ditarik rendah,
dan wajah di balik tudung itu tampak melepuh.
『Victor Franz! Bagaimana kamu bisa
sampai ke sini!?』
Rutile melontarkan suara yang merupakan campuran antara
kebencian dan keterkejutan.
『Tentu saja, dia telah menghancurkan
kotak pasir ini untukku.』
Sambil mengarahkan tangan kirinya ke arah Vitami, ia
memuji pencapaian tersebut dengan nada suara yang bersemangat.
"Vitami, sialan kau, jangan-jangan kamu mengkhianati
kami?"
Okame membelalakkan matanya lebar-lebar seolah melihat
sesuatu yang tidak bisa dipercaya, lalu menyuarakan keraguan tersebut dengan
suara bergetar.
"Tentu saja! Mana mungkin aku mati di tempat seperti
ini! Aku adalah calon kepala keluarga dari Wangsa Adipati Olyza! Bangsawan
besar! Nilai nyawaku sama sekali berbeda dengan kalian, tahu!"
Ia menjelaskan keabsahan dirinya dengan ketegangan yang
luar biasa.
『Hal yang bodoh...』
Rutile menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi penuh
penyesalan, lalu memeras suaranya.
"Bodoh amat! Kau paham tidak! Kau sedang menjerat
lehermu sendiri, tahu!"
Mendengar perkataan Okame,
"Itu hanya alasan orang kalah, Senior Okame!
Perjanjiannya adalah hanya aku sendiri yang akan selamat di tempat ini! Iya
kan, Anda juga berpikir begitu, kan!?"
Vitami memastikan hal itu kepada pria berjubah hitam
bernama Victor dengan ekspresi menang.
『Ya ya, aku akan memberimu hadiah. Anak
manusia yang bodoh dan tolol.』
Victor menjentikkan jarinya dengan bunyi 'pletik'.
"Ugh!?"
Saat itu juga, kabut merah menyerupai aliran deras
menyembur keluar dalam jumlah banyak dari bilah merah belati yang dipegang oleh
Vitami di tangan kanannya, lalu menyelimuti tubuh Vitami.
"A-Apa ini!? Gugi! Sakit! Tidak mau!
Ggyaaaaaah!"
Suara keterkejutan itu berubah menjadi jeritan kesakitan.
Dan bersamaan dengan suara detik-detik terakhir
kehidupan, terdengar suara daging dan tulang yang hancur.
"Vitami-kun!"
Kepada Elish yang hendak berlari mendekat,
"Sudah terlambat. Ambil posisi bertempur!"
Instruktur Ractor mencabut pedangnya dan memberikan
instruksi kepada semua orang. Seolah tersentak, yang lain turut mencabut
senjata mereka masing-masing. Rutile mendekati Kushi,
"Kushi, tolong jaga Bet."
Rutile menggenggam tangan kecil Bet lalu
meletakkannya di genggaman Kushi.
Kemudian Instruktur Ractor dan yang lainnya membentuk
formasi melingkar untuk melindungi kami. Ironisnya, bagi semua orang, Bet yang
masih kecil tentu saja dianggap sebagai kartu truf, dan Kushi yang juga
dianggap demikian mau tidak mau menjadi pihak yang harus dilindungi di tempat
ini.
Intinya, akan lebih mudah melindungi jika target
perlindungan dikumpulkan dalam satu kelompok.
Meskipun begitu, Maim ternyata juga berada di dalam
formasi lingkaran itu secara diam-diam.
『Gooooooohhhh—!』
Gumpalan merah yang tadinya adalah Vitami berubah
menjadi raksasa berwajah besar dan meraung.
Seolah merespons suara itu, dari dinding-dinding
ruangan muncul monster-monster bertubuh kecil dengan wajah berukuran besar
seperti Vitami yang merayap keluar.
『Ya ya,
mantan anak manusia yang bodoh, selain bocah di sebelah sana, mangsa sampai
habis tanpa tersisa seekor pun. Aku akan menikmati minuman keras yang lezat
sambil menjadikan perlawanan sia-sia dari para orang lemah yang dimakan oleh
rekan lama mereka sendiri sebagai hidangan pembuka.』
Sambil menunjuk ke arah kami dan mengubah wajahnya
menjadi seringai buruk, Victor menghilangkan sosoknya.
Baik Okame maupun monster ini, mengapa mereka begitu
terobsesi pada Kushi yang bahkan di Babel pun telah dicap sebagai anak yang
tidak berguna?
"Jadi dia sudah menyadarinya! Sialan! Sudah bukan
waktunya lagi untuk menyembunyikan kekuatan!"
Okame merapal segel dengan kedua tangannya dan merapal
semacam mantra sihir, hingga pilar api menyembur naik dari tanah dan bergerak
berputar-putar di sekitar area.
Dalam sekejap, ia membentuk seekor ular api berukuran
raksasa.
Ular api itu menegakkan kepalanya dan memicingkan mata ke
arah monster berwajah besar di sekitarnya, lalu menatap tajam ke arah Okame,
『Okame, keparat kau, jangan-jangan kamu
memanggilku ini hanya untuk membasmi sampah-sampah Undead semacam ini, bukan?』
Ia mengintimidasi Okame dengan suara geraman rendah.
Ia pernah mendengar rumor tentang makhluk mitos kontrak milik Okame.
Kalau tidak salah, itu adalah Pangeran Makhluk Mitos
yang memiliki gelar kebangsawanan.
"Bualannya nanti saja setelah kita berhasil melewati
situasi ini dengan selamat! Rumah besar ini benar-benar gawat,
tahu."
『... Baiklah. Aku akan meminjamkan
kekuatan. Tapi, aku minta imbalan yang setimpal, ya?』
Ia mengalihkan pandangannya dari Okame, memandangi
sekeliling secara melingkar lalu mengumumkan secara sepihak dengan nada yang
tidak membantah.
『Aku akan mengambil seperlima tenaga
hidup Mana dari anak berponi rata di sana. Itu seharusnya sudah lebih
dari cukup untuk kerja sama kali ini.』
『Tenaga hidup Mana dari bocah
sekecil ini? Terlebih lagi hanya seperlima? Hei, Okame keparat, apakah kamu
sedang meremehkanku!?』
Sambil memuntahkan pilar api karena marah, ia menatap
Okame dan mengeluarkan suara yang dipenuhi amarah,
"Aku tidak meremehkannya. Anak itu spesial.
Kalau itu saja tidak cukup, aku akan menambalnya dengan tenaga hidup Mana
miliku sendiri."
『Baiklah.
Perkataanmu itu, aku benar-benar mendengarkannya!』
Sang Pangeran Ular Api mengucapkan deklarasi
persetujuan sambil mengubah wajah ular tersebut menjadi ekspresi yang buruk.
Saat itu juga, lingkaran sihir muncul di dahi Okame,
dan pada saat yang sama dahi Kushi terasa panas dan tenaga terkuras dari
seluruh tubuhnya.
『Apa...
ini?』
Bersamaan dengan suara kekaguman dari Sang Pangeran
Ular Api, kulit di seluruh tubuhnya mendidih dan membengkak bergelombang.
Seketika itu pula, ia berubah bentuk hingga tidak
lagi menyisakan rupa seekor ular, lalu berubah menjadi bentuk bulat.
"H-Hei, Pangeran Ular Api?"
Mengabaikan Okame yang mengeluarkan suara penuh
kecemasan, Pangeran Ular Api yang kini telah berubah menjadi bola api raksasa
mulai memperlihatkan satu wujud.
Anggota tubuhnya memanjang dan sayapnya tumbuh. Itu benar-benar seekor naga api. Naga api itu menderu ke langit,
『Luar
biasa! Luar biasa sekali! Ini adalah tubuh dari ras naga! Akhirnya
aku mencapai ras naga!』
Ia bergetar karena kegirangan.
"T-Tidak mungkin! Hanya dengan pelaksanaan Soul
Servant Contract, kenapa bisa terjadi evolusi konyol semacam ini!?"
Okame meninggikan suara yang mengandung emosi
kecemasan dan keterkejutan yang kuat, serta
"Apakah itu Raja Naga? Raja Naga Api? Kekuatan yang bahkan bisa mengubah spesies. Anak ini,
jangan-jangan—"
Lucille menatap Kusuki dengan penuh semangat. Ia baru
saja akan menyuarakan sebuah kesimpulan.
"Sebuah kontrak, bukan?"
Beberapa pilar api melesat di udara layaknya makhluk
hidup. Api itu membakar habis Bitami dan monster berwajah besar yang muncul
dari dinding hingga tak bersisa tulangnya.
"Syukurlah, Enjakou! Bakar
habis juga rumah ini! Kau yang sekarang pasti bisa melakukannya, kan!?"
"Itu mungkin saja."
"Kalau begitu—"
"Namun, aku menolak!"
"Hah? Kau itu kan siluman kontrakku!? Laksanakan
kontraknya!"
Enjakou tidak menanggapi tuntutan Okame dan hanya
mendengus. Ia lalu mengarahkan bola matanya yang merah menyala ke arah Kusuki.
"Hii!?"
Hanya dengan bertatapan mata dengan Enjakou, rasa gemetar
langsung menusuk tubuh.
"Hei, Bocah, buatlah kontrak denganku!"
"A-aku?"
Sejujurnya, tak pernah terbayangkan dalam mimpi sekalipun
akan dilempari kata-kata seperti itu.
Karena itu, Kusuki menunjuk dirinya sendiri dengan
telunjuk untuk memastikan ucapan Enjakou.
"Jangan bercanda, kau kan sudah membuat kontrak
denganku! Jangan bicara sembarangan!"
Okame yang wajahnya pucat pasi melontarkan kata-kata
kecaman.
"Diam kau!"
Api melesat dan membakar tubuh bagian bawah Okame.
"Gugaaah!"
Tanpa memedulikan Okame yang menjerit dan meronta, sosok
Enjakou menghilang. Ia tiba-tiba muncul di depan mata sebagai kobaran api, lalu
mengangkat kepalanya dan melotot tajam.
"Hi!?"
Jeritan menyedihkan lolos dari mulut Kusuki.
"Kamu itu spesial! Bersamamu, mencapai puncak
spesies naga bukanlah sekadar mimpi!"
Melihat Kusuki yang seperti itu, siluman tersebut mungkin
sedang tertawa. Enjakou berseru dengan suara penuh kenikmatan, tepat pada saat
itu—.
"Hmm, hmm, hmm, sesuai dugaan. Benda itu memang
berbeda."
Bersamaan dengan suara yang terdengar anehnya ceria itu,
pusaran hitam muncul di lantai tempat Kusuki dan yang lainnya berdiri.
"Eh?"
Suara konyol meluncur keluar dari mulut Kusuki sendiri.
"Hiii!"
Maimu secara spontan melompat mundur.
"Kakak!"
Beto berseru dengan nada penuh kepanikan, lalu memeluk
Kusuki. Kusuki dan Beto tertelan ke dalam pusaran hitam, dan kesadaran mereka
jatuh ke dalam kegelapan yang dalam.
◇◆◇
Aku dan Rose dengan semangat masuk ke dalam rumah mewah
itu. Namun, suasananya entah kenapa berbeda dari yang kami duga.
Bagian dalam bangunan ini rusak di mana-mana. Namun,
rasanya tidak wajar karena hampir tidak ada debu yang menumpuk.
"Ini sih pasti ada orang yang tinggal,
kan?"
"Iya. Sepertinya begitu."
Rose yang tadi berwajah pucat pasi bak hantu kini
telah kembali seperti biasa. Ia berubah setelah menyadari bahwa rumah ini masih
memiliki sedikit sisa kehidupan.
Setelah menyusuri lorong sejenak, terdengar suara
isak tangis anak perempuan dari kamar sebelah.
"Hii!"
Dengan jeritan kecil, Rose langsung berpegangan erat
pada pinggangku.
"Hmm. Ada seseorang ya."
Ada pergerakan sihir, tidak salah lagi ada sesuatu di
sana. Menggunakan Divine Eye rasanya agak berlebihan.
Aku segera memutar kenop pintu dan masuk ke dalam
kamar.
"K-kenapa kamu bisa setenang itu!?"
Rose merengek sambil terus memeluk pinggangku.
"Malahan, aku tidak paham kenapa kamu bisa ketakutan
sampai sebegitunya."
"T-tapi, itu kan bisa saja hantu!"
Dia menatapku dengan wajah menyedihkan yang tidak pantas
untuk seorang putri. Kata-kata omong kosong pun meluncur dari mulutnya.
"Hantu katamu... kamu ini kan sudah sering melihat
Deimos dan para bawahanku, kan?"
Banyak bawahanku yang penampilannya bisa membuat anak
kecil menjerit dan menangis.
Lagipula, sembilan puluh persen kelompok Girimekara
bentuknya seperti itu.
Aku tidak mengerti kenapa baru sekarang dia takut pada
makhluk sekelas roh.
"Aku kan sudah terbiasa melihat Tuan Girimekara dan
yang lainnya. Tuan Deimos juga merupakan Undead yang tercipta
karena seni terlarang, kan!? Teori Babel terbaru membuktikan bahwa Undead dan
Hantu adalah hal yang berbeda!"
"Lalu apa bedanya secara spesifik?"
"Undead pada dasarnya bisa dilihat, tapi hantu
katanya hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki kualifikasi
khusus..."
Melihatnya tergagap, tampaknya Rose juga tidak
terlalu memahaminya.
Meski begitu, Undead dan roh itu berbeda ya. Cerita
yang cukup menarik. Kalau hanya bisa dilihat oleh orang berkualifikasi, mungkin
sifat sihirnya sama sekali berbeda. Jika begitu—.
"Menarik sekali!"
Sudah menjadi fakta pasti bahwa Undead adalah ras
yang sangat lemah di antara para monster. Namun, jika Undead dan roh adalah dua
hal berbeda, mungkin ada makhluk yang cukup kuat di dalam ras roh tersebut.
"Sama sekali tidak menarik!"
Aku hanya bisa menghela napas panjang menanggapi Rose
yang berteriak sambil memelukku dengan tubuh gemetar.
"Lagipula, bertanya langsung pada makhluknya
adalah cara terbaik."
Setelah berkata demikian, aku melangkah mendekati
tempayan besar tempat suara isak tangis itu berasal.
"A-apa kamu benar-benar berniat
membukanya!?"
Rose melompat menjauh dariku dengan panik. Ia memeluk
tubuhnya sendiri dan menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.
"Tentu saja. Tidak ada alasan untuk tidak
membukanya."
Eksistensi yang tak terlihat oleh mereka yang tidak
berkualifikasi. Sihir ini sama sekali tidak memiliki niat untuk
menyembunyikan dirinya. Hmm, tak biasanya aku merasa seantusias ini.
Aku menahan perasaan menggebu ini sekuat tenaga, lalu
membuka tutup tempayan tersebut.
"Waaaaa!"
Anak perempuan yang meringkuk di dalam tiba-tiba berdiri
dan berseru kencang. Rongga matanya cekung, matanya hilang, dan sesuatu yang
menyerupai darah mengalir dari sana.
Lebih dari itu, gaun putihnya dipenuhi oleh rembesan
cairan merah seperti darah di mana-mana.
"Ternyata, kelihatan kok..."
Aku sedikit kecewa dan menurunkan bahuku.
"H-h-hantuuuu!"
Rose berteriak dengan sangat histeris.
"Waa! Waa! Waaaaa! Kenapa kamu tidak kaget,
sih!"
Gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya. Ia
berusaha menakut-nakutiku dengan suara yang justru terdengar manis.
"Hmm. Penuh semangat, itu bagus."
Seperti yang selalu kulakukan pada Faf, aku
meletakkan telapak tangan kananku di kepalanya dan tersenyum lebar. Tindakan
sederhana untuk menenangkan anak kecil itu justru membuat,
"Higu!?"
Tubuhnya mendadak kaku, lalu ia menangis
tersedu-sedu.
"U-uhm. Kenapa malah menangis?"
Reaksi ini rasanya sedikit berlebihan. Ini sama saja
seperti dia mengatakan bahwa senyumku itu menakutkan, kan.
Asta dan Zack memang sering bilang kalau senyumku kadang
menyeramkan sampai terbawa mimpi. Apakah mereka tidak sedang bercanda dan
mengatakannya dengan serius? Tidak, tidak, Raja Iblis mana yang bisa membuat
anak kecil menangis hanya dengan senyuman. Itu mustahil. Benar, pasti mustahil.
Bagaimanapun, sekarang aku harus mencari cara untuk
menenangkan gadis kecil ini.
"Din! K-kurang ajar, dasar Monster!"
Sesosok makhluk berbaju zirah lengkap yang tadinya
menjadi pajangan di sudut ruangan tiba-tiba memeluk gadis kecil itu. Ia berdiri
menghalangi di depanku seolah melindungi gadis itu, lalu mengangkat pedang
besarnya.
"Baru kali ini saya merasakan aura semengerikan ini!
Orang ini benar-benar berbahaya!"
Seorang pelayan tanpa kepala yang berlumuran darah
juga melompat keluar dari dalam kotak. Ia mengarahkan tongkat sihirnya padaku
sambil menjerit melengking.
"Kyuu..."
Rose melipat tangannya dan mengeluarkan suara aneh
sebelum akhirnya pingsan dan ambruk ke lantai. Girimekara sang monster gajah
raksasa muncul dan menopang tubuhnya dengan kedua lengan.
"..."
Gadis kecil yang tadinya menangis kini langsung
terdiam, menatap sosok Girimekara.
"..."
Hantu berbaju zirah yang sedang menggendong gadis itu
juga mematung, menatap Girimekara dengan wajah terpana.
"..."
Sang pelayan tanpa kepala mungkin juga sedang menatap
Girimekara dengan raut wajah sekaku batu.
Ketiganya bertatapan dengan Girimekara dalam
keheningan sejenak. Seluruh tubuh mereka mulai gemetar, lalu,
"Gyaaaaa! M-m-m-monsteeer!"
Ketiganya saling berpelukan erat. Mereka menjerit
sekencang-kencangnya dengan penuh ketakutan.
Mereka jatuh ke dalam kepanikan setelah melihat
Girimekara, lalu berubah kembali ke wujud manusia biasa dan jatuh pingsan.
Setelah merawat ketiga makhluk(?) itu, aku baru saja selesai mendengarkan
penjelasan mereka.
"Jadi, kalian diperintah oleh arwah bernama
Lucille untuk mengusir kami yang dikira telah menyusup ke tempat ini, ya."
Tuan mereka, seorang wanita bernama Lucille, dulunya
adalah Kepala Penyihir yang memimpin operasi pembasmian penguasa rumah ini yang
mengamuk. Namun, pada akhirnya ia dibunuh oleh kutukan rumah ini dan berubah
menjadi sosok Undead.
Dia masih mempertahankan egonya yang dulu. Demi
menghindari perhatian kutukan rumah ini, sepertinya ia telah menyembunyikan
para murid dan kelompok Elish yang tersesat kali ini.
Bagaimanapun, aku sudah memastikan bahwa kelompok Elish
masih selamat. Sisanya tinggal membasmi sosok yang disebut sebagai Raja Kutukan
di rumah ini.
"Entah kenapa, kamu terlihat sangat senang,
Kai."
Rose yang sudah sadar menatapku dengan mata setengah
terbuka. Ia lalu melontarkan komentar sepele semacam itu.
"Yah, kita sudah memastikan keselamatan Nona Elish
dan yang lainnya, kan. Sisanya tinggal memusnahkan si Raja Kutukan itu.
Skenario yang sangat sederhana dan mudah dimengerti."
Sosok Raja Kutukan itu adalah monster yang bahkan
diwaspadai oleh Ralph Excel, pahlawan dari Guild Hunter. Melawannya, mungkin
aku bisa benar-benar bertarung habis-habisan.
"Tapi Kai, dari yang kudengar, rumah ini jauh lebih
berbahaya dari dugaan awal. Bukankah sebaiknya kita kerahkan seluruh kekuatan
Babel dan Hunter untuk membasminya?"
Saran Rose sangatlah masuk akal. Namun—.
"Tidak, itu tidak boleh."
Khusus untuk kali ini, aku akan menolaknya mentah-mentah.
Lebih tepatnya, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini! Bagaimanapun
juga, akhirnya muncul sosok yang berpotensi melawanku dengan serius.
Jika rumah ini sebegitu kejamnya, maka kali ini aku harus
mempertaruhkan nyawaku. Aku pasti bisa bertarung dengan sekuat tenaga hingga
kulitku terasa terbakar, persis seperti saat pertama kali menaklukkan Easy
Dungeon.
Tentu saja, aku bukanlah orang yang gila pertarungan.
Namun akhir-akhir ini, aku tidak pernah mengalami hal yang pantas disebut
sebagai pertarungan sungguhan.
Habisnya, musuh yang datang padaku hanyalah gerombolan
monster kroco pengkhayal yang bicara soal kejahatan atau takdir langit, Undead
payah bernama Raja Busuk, atau monster mirip naga bernama Azi Dahaka.
Meski pada dasarnya aku adalah seorang pasifis yang
tujuan akhirnya adalah Slow Life, sesekali aku ingin bertarung dengan kekuatan
penuh.
"Begitu ya..."
Rose menundukkan bahunya dan menghela napas panjang.
"Hmm, aku kira kamu bakal menentang lebih
keras?"
"Tentu saja. Sekalinya kamu sudah bicara, kamu pasti
tidak akan mau mendengarkan orang lain."
"Tolong jangan menyamakanku dengan pria tua yang
keras kepala."
"Tepat sekali, kan. Menurutku, rasanya itu pas
sekali jika mengesampingkan usia."
Yah, umurku sebenarnya sudah seratus ribu tahun sih. Berarti, dari segi usia pun sebenarnya masuk akal, ya... Tidak, bukan
itu masalahnya. Obrolan ini entah kenapa sangat menyudutkanku. Karena itu—.
"Intinya, musuhnya adalah Raja Kutukan yang
bersarang di rumah ini dan bawahannya, serta Victor si pencipta Raja Kutukan
itu, benar?"
Aku dengan paksa mengalihkan pembicaraan.
"I-iya. Benar sekali."
Ujar Bibin sang pelayan yang mengangguk dengan wajah
tegang.
"Kumohon. Kalahkan Victor dan kutukan di rumah ini,
lalu bebaskan para penduduk tak berdosa!"
Tomyam, yang wujudnya berubah dari armor penuh menjadi
kesatria berbaju zirah putih, memohon padaku sambil bersujud menyentuh lantai.
Orang ini adalah Kesatria Sihir yang dulu dikenal paling
kuat di Babel. Harga dirinya pasti tinggi, dan ia tak seharusnya sudi melakukan
tindakan memalukan ini. Itu berarti ia sudah sangat putus asa.
"Aku mengerti. Bagaimanapun, itu adalah kehendak
dari Guild Hunter. Aku akan bertanggung jawab penuh dan membasmi mereka."
Saat aku menjawab seperti itu, sebuah tangan kecil
menggenggam lengan bajuku.
"Kakak... tolong selamatkan ayah dan ibu,
ya..."
Air mata besar menetes dari kedua matanya saat ia
mendongak menatapku.
Begitu, ya. Anak ini dan orang tuanya ditangkap oleh
sampah bernama Victor, dijadikan eksperimen sihir, lalu dibunuh.
Terlebih lagi, jiwa mereka tertahan oleh kekuatan Raja
Kutukan, sehingga mereka bahkan tidak bisa mati dengan tenang.
Anak kecil ini berhasil diselamatkan oleh wanita bernama
Lucille. Namun, orang tuanya saat ini masih merasakan neraka di dunia sebagai
mainan Raja Kutukan.
"Jangan khawatir. Aku akan bertanggung jawab untuk
membereskan si sampah Victor dan si Raja Kutukan itu."
Sambil tersenyum selembut mungkin, aku mengelus perlahan
kepala Din.
Mereka telah membunuh anak sekecil ini. Tidak puas dengan
itu, mereka bahkan mempermainkan jiwanya setelah mati.
Mereka telah menyentuh pantanganku. Aku tidak akan pernah
berhenti lagi.
"Tuan Kai! Tolong serahkan masalah ini padaku! Aku
tidak akan membuat Anda kecewa untuk kedua kalinya!"
Asura si iblis berwajah tiga tiba-tiba muncul. Ia
memukulkan tangan kanannya ke dada dan mengajukan permohonan tersebut.
"Hmm, padamu ya..."
Karena Asura minta dilatih, aku terus memberinya latihan
khusus.
Lagipula, baru-baru ini dia juga sering bermain dengan
Beelzebub. Walau hanya sedikit, kekuatannya pasti sudah bertambah dibanding
sebelumnya.
Meskipun begitu, dia masih terlalu amatir. Kekuatan musuh
belum diketahui.
Apakah benar-benar aman menyerahkan ini padanya?
"Beelze, kau di sana?"
"Selalu di sisi Anda."
Sesosok lalat bipedal bermahkota, Beelzebub, muncul dari
balik bayanganku.
"Apa pendapatmu soal usulan ini?"
"Tidak masalah kok."
Beelze yang belakangan ini bermain dengannya saja berkata
begitu. Harusnya takkan ada masalah.
"Baiklah. Aku serahkan padamu. Aku akan bergerak
membasmi si sampah Victor dan Raja Kutukan di rumah ini. Asura, timmu, Zenki,
dan Goki harus melindungi orang-orang di sini sekaligus memastikan tak ada satu
serangga pun yang lolos keluar!"
Ada beberapa aliran sihir yang terasa dari rumah ini.
Kemungkinan besar, musuhnya tidak hanya Victor dan sang Raja Kutukan.
Memikirkan pergerakan kelompok lain satu per satu sungguh
merepotkan, jadi paling tepat menghabisi mereka semua dalam satu serangan.
"Tentu saja!"
Menanggapi kata-kataku, Asura berlutut dengan satu kaki
dan menundukkan kepalanya.
"Sesuai perintah Anda."
"Dimengerti."
Zenki dan Goki juga muncul dan berlutut di hadapanku,
mengutarakan kesiapan mereka.
"Girimekara, kamu juga setuju, kan?"
"Wahai Ayahanda kami yang agung! Tentu saja!"
Girimekara ikut berlutut dan menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
"Nah, ayo kita mulai."
Siapa pun itu, sampah yang tega membunuh anak kecil sama
sekali tak pantas hidup. Aku akan menghajarnya habis-habisan.
Demi keyakinanku, aku akan memberikan keputusasaan paling
mengerikan yang bisa dibayangkan sebelum akhirnya memusnahkan mereka.
Dengan tekad membara di dada, aku mencabut Murasame dari
punggungku, memanggulnya, lalu mulai melangkah maju.
◇◆◇
"Sialan..."
Lucille menggumamkan kata yang benar-benar mewakili
situasi saat ini dari kedalaman tenggorokannya.
Itu adalah Naga Api, dan kelasnya sudah pasti setara Duke
Naga. Ras naga tingkat atas yang merupakan ras terkuat.
Keberadaan naga api ini saja sudah menjadi ancaman
tingkat bencana.
Namun, bukan perubahan ular api menjadi naga itu yang
menurut Lucille sebagai hal terburuk.
Melihat situasinya, Kusuki telah diculik oleh Victor.
Hampir bisa dipastikan, Kusuki akan menjadi mangsa bagi sang Raja Kutukan di
rumah ini.
Kekuatan Kusuki-lah yang mengubah ular api itu menjadi
seekor naga. Kontrak yang terjalin antara Okame dan Enjakou adalah Soul
Familiar Contract.
Soul Familiar Contract murni
merupakan teknik untuk memperbudak target dengan mempersembahkan bayaran
pengorbanan.
Sihir itu sama sekali tidak punya efek untuk memicu
evolusi pihak lain.
Singkatnya, jiwa pemuda yang dijadikan bayaran kontrak
itu terlampau istimewa, sehingga Enjakou bermutasi karena menyerap sebagian
darinya. Itulah kemungkinan yang paling masuk akal.
Bahkan ular api yang hanya seekor siluman biasa bisa
berevolusi menjadi Naga Api yang menebar ancaman bencana bagi umat manusia
hanya dengan menyerap secuil Mana kehidupan milik pemuda tersebut. Apa
jadinya jika monster di rumah ini ikut menyerap jiwa Kusuki?
Sudah pasti, Raja Kutukan itu akan mencapai wujud evolusi
akhir, terlepas ke seluruh dunia, dan mengakhiri peradaban ini.
Meskipun begitu, hal yang bisa dilakukan Lucille di
situasi ini sangatlah terbatas. Urusan nanti bisa dipikirkan setelah ia selamat
dari krisis saat ini.
"Ractor, Yoru, Elish! Kita semua tidak mungkin bisa
menang melawan makhluk itu sekarang! Cepat bawa Okame dan yang lainnya yang
terluka untuk berlindung!"
Lucille memberikan arahan sembari merapal sihir. Taman
kecil yang diciptakan Lucille, salah satu dari sedikit tempat aman di dalam
rumah ini, telah dihancurkan oleh Bitami.
Sebentar lagi, kutukan rumah ini akan bangkit. Belum
lagi, ia akan menyerap Kusuki dan berevolusi lebih jauh.
Bahkan jika mereka berhasil kabur dari situasi ini, bisa
dipastikan mereka akan kembali diserang di luar sana. Namun, jika mereka tetap
diam di sini, semuanya hanya akan hangus menjadi abu di hadapan Naga Api yang
sedang mengamuk ini.
"Sialan! Di mana kalian menyembunyikan bocah
itu!"
Bersamaan dengan raungan kemarahan Enjakou, ekor apinya
melesat secepat kilat ke arah Lucille.
"Kuh!?"
Ia secara spontan menciptakan perisai sihir es di
depannya untuk menahan serangan itu. Namun, begitu tersentuh ekor naga, dinding
es itu seketika berubah menjadi uap air bersuhu tinggi, sementara ekor api sang
naga terus melaju dan menghantam perut Lucille.
Lucille terlempar lurus dengan kecepatan yang sangat luar
biasa, hingga punggungnya menghantam dinding.
"Guh!"
Lucille memuntahkan darah dan berusaha bangkit, namun
kedua kakinya bergetar hebat. Ia hanya bisa merintih kesakitan karena gagal
berdiri.
Lucille merupakan iblis gentayangan yang terbunuh oleh
kutukan yang terpicu karena kematian Victor, di mana hanya jiwanya saja yang
terikat di rumah ini. Meski berbentuk iblis gentayangan, ia tetap menerima
kerusakan, dan rasa sakitnya sama sekali tidak berbeda dengan saat ia masih
manusia.
Akibat hantaman ekor itu, menggerakkan ujung jari saja
sudah mendatangkan rasa sakit yang teramat sangat bagi Lucille. Sudah jelas
bahwa memaksakan diri untuk bergerak sekarang bukanlah ide bagus.
Namun, jika terus berbaring, wujud fisiknya akan
dihancurkan oleh Naga Api ini, dan kelompok Lucille akan musnah.
Lucille dan kawan-kawannya pada dasarnya sudah mati.
Skenario terburuknya pun, raga mereka yang hancur akan kembali utuh seiring
berjalannya waktu. Namun, Elish dan kelompoknya masih hidup.
Ia tak boleh membiarkan anak muda yang masa depannya
masih panjang itu menjadi korban. Ini adalah tekad terakhir Lucille sebagai
seseorang yang telah mati. Oleh karena itu—.
Di tengah rasa sakit yang terasa bak merobek-robek
seluruh tubuhnya, ia menggertakkan gigi dan entah bagaimana memaksa dirinya
untuk berdiri.
"Cepat lari! Biar aku yang menahan makhluk ini
di sini!"
Ia berseru seraya memelototi Naga Api yang masih
mengamuk itu. Lusinan burung es tercipta dan langsung diterbangkan dalam
kecepatan tinggi menuju ke arah sang Naga Api.
"Memangnya aku akan membiarkanmu!"
Tiba-tiba, bola-bola api dalam jumlah tak terhitung
bermunculan di udara, lalu meluncur layaknya rudal pelacak menuju Ractor dan
yang lainnya.
"Jangan meremehkanku!"
Yoru mengarahkan ujung pedang di tangan kirinya dan
melantunkan mantra singkat. Sesaat kemudian, aliran air deras muncul di udara,
lalu menerjang bagaikan tsunami menuju bola-bola api itu.
"Penghalangnya sudah diaktifkan!"
Bersamaan dengan seruan Elish, beberapa ekor anak
kura-kura terbang mengitari Ractor dan kelompoknya. Mereka berhasil menahan
seluruh sisa bola api yang kekuatannya sudah melemah akibat hempasan air Yoru.
"Aku tanya sekali lagi! Di mana kalian
menyembunyikan bocah itu!?"
Sang Naga Api memelototi Lucille dengan mata memerah.
Pertanyaan yang tak pernah diketahui jawabannya itu meluncur bersama semburan
pilar api.
"Kami tak tahu, dan kalaupun tahu, kami tak sudi
memberitahukannya padamu!"
Elish membalas bentakan itu seraya mengarahkan tatapan
tajam yang seolah siap membunuh pada Enjakou.
"Elish, apa kau bisa berlari sambil tetap
mempertahankan penghalang itu?"
"I-iya! Sebisaku—tidak, akan kulakukan!"
Elish langsung membalas pertanyaan Yoru.
"Kalau begitu, ini akan cepat. Aku dan Ractor
akan menahannya, sementara Lucille dan kelompokmu segera kabur dari sini. Itu
langkah yang paling tepat!"
"Tetapi, kalau begitu—"
"Ah sudahlah! Jujur saja kau cuma jadi beban! Habis kena serangan ekor tadi, kau sudah tak bisa bertarung, kan! Kau
takkan bisa menahannya dalam kondisi seperti itu! Terlebih lagi, Lucille, kau
yang paling tahu soal rumah ini! Kau lebih cocok untuk itu daripada kami! Benar
begitu, Ractor!"
"Ya, tepat sekali."
Ractor menyiapkan pedangnya, meski badannya kini
basah kuyup karena aliran air dari sihir Yoru tadi.
Meskipun terasa menyakitkan, saran mereka berdua memang
benar. Kekuatan Lucille saat ini sedang dibatasi oleh Raja Kutukan, dan ia
hanya bisa menggunakan sebagian kecil sihir dari masa kejayaannya dulu.
Ia takkan mampu melawan Naga Api itu dengan kondisi
seperti ini. Saran Yoru memang satu-satunya jalan keluar agar mereka tidak
musnah.
"Nah, kita mulai. Ractor, fokuskan dirimu!"
"Ya!"
Arus air deras yang ukurannya beberapa kali lipat lebih
besar dari sebelumnya tercipta, lalu berpadu dengan badai angin milik Ractor.
Serangan tersebut berubah menjadi tornado air dan meluncur kencang ke arah
Enjakou.
"Ayo pergi!"
Menggunakan serangan itu sebagai sinyal, Lucille
mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggendong Okame.
"Sudahlah, tinggalkan saja aku di sini!"
Menanggapi ucapan Okame yang sedang putus asa itu,
"Sudahlah, diam saja!"
Lucille membentaknya dan mulai berlari.
Namun—.
"Jangan meremehkanku, makhluk rendahan!"
Enjakou mengamuk, memicu hembusan gelombang api melingkar
yang menyapu bersih seluruh isi ruangan.
Bagaikan menghalangi rute pelarian Lucille, pilar api tak
terhitung jumlahnya berjatuhan dari atas. Mereka kemudian mengubah wujud
menjadi naga berukuran kecil yang memelototi kelompok itu.
Lucille hanya menggerakkan bola matanya untuk mengecek
situasi. Terlihat sosok Ractor dan Yoru yang tumbang di lantai. Melihat kulit
mereka melepuh merah terbakar, kondisi mereka yang sekarat itu sangat jelas
terlihat bahkan dari jarak yang jauh sekalipun.
"Sudah kubilang takkan kubiarkan kalian kabur! Ini
peringatan terakhir, serahkan bocah itu!"
Enjakou dalam wujud aslinya yang berupa api seketika
berpindah tepat di depan mata Lucille. Ia
memandang rendah sembari menyuarakan pertanyaan dengan nada yang mengancam.
"Entahlah ya."
Enjakou menyipitkan matanya dan memandangi Lucille untuk
sesaat.
"Dasar keras kepala. Kalau begitu, akan kubuat kau
sendiri yang ingin buka mulut. Kalau tak salah, makhluk rendahan bernama
manusia ini sangatlah konyol hingga tak bisa menahan diri saat orang lain
tersiksa alih-alih dirinya sendiri, kan."
Wajah naga itu berubah kotor dan memuakkan. Ia perlahan
berjalan mendekati Ractor dan Yoru yang masih tak sadarkan diri, lalu
menggunakan cakar kanannya untuk memotong kaki kanan Ractor. Api pun berkobar
dari ujung luka sayatannya.
"Gugaa!"
Ractor terbangun dari pingsan akibat rasa sakit, namun
api telah melilit kaki kirinya.
"Bagaimana dengan ini!"
Api itu membakar habis kaki kirinya. Jeritan terdengar makin mengeras.
"I-Instruktur Ractor!"
Elish berteriak histeris penuh kepanikan.
"H-hentikan!"
"Katakan dulu! Kalau tak segera menjawab, seluruh
kaki dan tangan orang ini akan lenyap!"
Lengan kiri Ractor mendadak terbakar dan ia kembali
menjerit. Apa yang siluman ini lakukan tak lebih dari pelampiasan
amarah karena gagal menangkap Kusuki. Singkatnya, ini hanya amarah yang
membabi-buta.
Seseorang akan mati lagi hanya gara-gara alasan konyol
itu. Bagi Lucille, itu merupakan hal yang sama sekali tak bisa diampuni.
"Kami benar-benar tidak tahu! Tolong
hentikan!"
Lucille merasa putus asa. Ia pun memohon kepada Enjakou
sekuat tenaga.
Di masa lalu, saat operasi menaklukkan Victor, para
bawahannya terbunuh oleh kutukan. Kelompok Beto serta Din pun tersiksa di
neraka milik Raja Kutukan selama bertahun-tahun lamanya hanya karena Lucille
lengah di saat-saat terakhir.
Ia benar-benar tak sudi kembali diam tanpa bisa melakukan
apa-apa dan menyerah dengan menyalahkan takdir.
"Tak tahu ya. Kalau begitu, aku akan mengambil
nyawa orang-orang ini!"
Mulut Enjakou terbuka lebar menargetkan Ractor, dan
semburan api mulai berderak menyala.
"Aku juga tidak tahu ke mana Kusuki pergi! Karena
itu—!"
Enjakou menatap tajam pada Lucille. Senyumnya yang
memuakkan dan bengkok itu langsung memicu kepanikan luar biasa seakan mengoyak
hati Lucille.
"Hentikaan—!!"
Ia menjerit hingga tenggorokannya nyaris putus. Tepat
setelahnya, pilar api tak terhitung jumlahnya menyembur tanpa ampun dari mulut
besar Enjakou, diikuti dengan muntahan napas api yang menyala panas.
(Sialaaan!)
Saat pandangannya memerah, seseorang tiba-tiba berdiri di
hadapan Ractor. Ketika ia menyadari bahwa sosok itu adalah seorang anak manusia
berambut abu-abu, nyala api luar biasa yang baru saja menyembur dari mulut
Enjakou terlihat melilit pedang panjang anak itu yang tak wajar.
"Akan kukembalikan."
Saat pemuda itu mengayunkan pedang panjangnya secara
menyamping, api tersebut kembali terhisap masuk ke dalam mulut seolah waktunya
diputar balik, dan seketika memicu ledakan dahsyat.
"Gugaaaa—!"
Bau hangus terbakar dan jeritan Enjakou bergema.
"Hei, hei, jangan bilang kau menerima kerusakan dari
apimu sendiri meskipun punya elemen api? Benar-benar musuh yang sama sekali tak
bisa menandingiku ya."
Antara karena kemarahan atau rasa terkejut, ucapan pemuda
berambut abu-abu yang penuh nada tidak percaya itu mungkin tidak sepenuhnya
didengar oleh Enjakou.
"B-bocah, apa yang kau lakukan pada diriku yang
telah berevolusi menjadi Naga Api ini!?"
Enjakou melontarkan pertanyaan yang bergejolak di dalam
benaknya.
"Aku cuma membalikkan serangan apimu. Yah, aku juga
mencampurkan sedikit sihirku untuk mendongkrak kekuatannya. Lagipula, tak ada
alasan kau bisa terluka dengan serangan macam itu kalau kau punya kekebalan
mutlak atau kebal terhadap api, kan."
Bagaikan sebuah fakta, pemuda berambut abu-abu itu dengan
santai mengucapkan kata-kata yang menentang logika biasa.
"Jangan bercanda! Kekebalan mutlak dan kebal dari
api itu hanyalah omong kosong dari mitologi, kan!?"
Pemuda itu mengernyitkan wajah seolah sangat jengkel
mendengar bentakan Enjakou.
"Bodoh sekali. Menangani korban luka jauh lebih
prioritas daripada meladeni kadal tak berguna ini, ya."
Ia memunculkan benda menyerupai buku di tangan kirinya
dan membalik halamannya. Pada saat yang sama, beberapa ekor slime bermunculan
di sekitarnya dan berputar-putar dengan riang.
"Kalian, sembuhkan mereka."
Seolah merespons dengan kata dimengerti, slime-slime itu
melompat-lompat tinggi berkali-kali sebelum menutupi Ractor dan Yoru yang
sedang sekarat.
Mereka seketika disembuhkan bak waktu yang sedang diputar
balik, dan kini terbaring dengan tubuh utuh tanpa bekas luka sedikit pun.
Selanjutnya, slime itu meluncur dalam kecepatan kilat
menuju Okame dan Lucille. Bahkan sebelum mereka sempat berkedip, rasa sakit
yang mereka derita seketika hilang seolah tak pernah terjadi, dan Okame yang
berada di pangkuan Lucille juga telah pulih sepenuhnya.
"M-mustahil! A-apa-apaan slime dengan kemampuan tak
masuk akal itu!?"
Enjakou membuka matanya lebar-lebar dan berseru keras.
Namun, pemuda berambut abu-abu itu tidak memedulikan Enjakou yang panik, dan
justru membelai lembut slime-slime yang sedang berlompatan riang di
sekelilingnya.
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Tempat ini
akan segera menjadi medan pertempuran, jadi kembalilah dan
beristirahatlah."
Ia memberikan arahan bernada penuh penghargaan. Seketika,
para slime itu lenyap seperti asap.
(Lucille, sepertinya kita tepat waktu. Semuanya sudah
aman.)
Elish berbisik di telinga Lucille dengan nada yang
anehnya terdengar yakin.
(Elish, sebenarnya siapa laki-laki—)
Saat Lucille secara spontan berusaha bertanya balik soal
pemuda itu pada Elish,
"Siapa kau sebenarnya!?"
Suara amarah dari Enjakou yang mulai mengambil jarak dari
pemuda itu menyela pertanyaannya.
"Aku tak punya nama untuk diberikan pada kadal kelas
teri yang tak berharga."
"Kau menyebutku kadal kelas teri! Tak bisa dimaafkan! Bunuh dia!"
Enjakou memberikan perintah kepada naga api kecil
yang sedang mengepung kelompok Lucille dari segala sisi.
"..."
Akan tetapi, tak ada satupun naga api kecil itu yang
bergerak barang sedikit pun.
"Apa yang kalian lakukan!? Sudah kubilang bunuh
dia!"
Enjakou membentak kasar dan mencoba mengulangi
perintahnya.
"Berteriak pun percuma. Semuanya sudah
kubunuh."
Saat pemuda berambut abu-abu mengibaskan pedang
panjangnya sekali, naga-naga api kecil itu langsung hancur berkeping-keping.
"K-kau, b-bagaimana caranya!?"
Pemuda itu melempar tatapan jengkel menanggapi seruan
kaget dari Enjakou, lalu sosoknya menghilang. Sesaat kemudian, pemuda berambut
abu-abu itu sudah berdiri persis di depan mata Enjakou.
"—!?"
Enjakou yang berusaha kabur dengan panik mendadak
tertahan saat pemuda itu mencengkeram sisik api di lambungnya menggunakan
tangan kiri.
"K-kenapa kau tak terbakar saat menyentuhku!? Kenapa
kau baik-baik saja!?"
"Jawabannya kan sudah kubilang tadi. Atau lebih
tepatnya, kau hanya merusak suasana, jadi tak usah buka mulut lagi."
Ucap pemuda itu dengan nada dingin yang membekukan.
Ia memasukkan pedang panjang di tangan kanannya ke dalam sarung di punggung,
lalu menatap tajam Enjakou dengan pandangan layaknya burung elang.
"A-aku tak bisa bergerak! Bagaimana mungkin
serangga sekecil ini bisa menekan diriku yang telah menjadi spesies naga?
Mustahil! Tak mungkin hal semacam ini terjadi!"
Pemuda berambut abu-abu itu menyeringai lebar
memandangi Enjakou yang sedang mati-matian menghindari kenyataan.
"Hi!?"
Hanya dengan melihat wajahnya sekilas, jeritan kecil
lolos dari mulut Enjakou. Detik itu juga, kepalan kanan pemuda itu
menghantamnya keras. Tubuh raksasanya melengkung hingga membentuk postur
melengkung yang tak wajar.
"Gugaah! Sebenarnya apa yang—!?"
Enjakou merintih kesakitan.
—Buaagh!
Bersamaan dengan suara hantaman keras, tinju kanan pemuda
berambut abu-abu itu kembali menusuk dalam ke tubuh Enjakou.
Saat Enjakou mengangkat wajahnya dan memuntahkan isinya,
ia bertatapan dengan pemuda itu. Tatapan sedingin es itu menembus Enjakou,
hingga rona kehidupan berangsur-angsur hilang dari wajah sang naga.
"M-monsteeer!"
Lalu, Enjakou meneriakkan kata-kata yang paling pantas
untuk menggambarkan sosok pemuda berambut abu-abu itu.
"Tindakan bodohmu tadi sudah kulihat semuanya.
Sepertinya kamu punya hobi menyiksa mereka yang lemah, ya?"
Pemuda itu menarik siku kanannya sambil memberikan sebuah
pertanyaan.
"T-tidak, ini ada alasannya—!"
Sekali lagi, tinju kanan pemuda itu menghujam di tengah
tubuh Enjakou hingga tubuh raksasanya terangkat ke udara. Sang naga pun
memuntahkan darah dalam jumlah yang besar.
"Tidak perlu mengelak. Di sini, akan kuajari sesuatu
padamu si pandir. Dunia ini dibangun atas dasar karma. Pada akhirnya, dosa yang
kau perbuat akan kembali pada dirimu sendiri. Seperti ini."
Tinju kanannya kembali bersarang pada Enjakou.
"Gugeeeh!"
Kepada Enjakou yang sedang memasang raut penuh
penderitaan,
"Kalau kamu bertanya apa yang ingin kukatakan. Aku
ingin bilang kalau aku paling benci sampah yang tak bisa diselamatkan
sepertimu."
Remaja berambut abu-abu itu meludahkannya, lalu kembali
melayangkan pukulan tangan kanannya.
Sambil menggetarkan tubuhnya ketakutan.
"A-ampun! Tolong ampuni aku!"
Remaja berambut abu-abu itu menatap dingin ke arah
Enjakou yang memohon ampun mati-matian.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sebaik itu di
matamu?"
Ia bertanya dengan sangat terus terang seraya tersenyum
lebar.
"Tidaak..."
"Jangan egois begitu. Kamu sendiri yang telah
menghancurkan jembatan untuk kembali."
"Tidaaaak!!"
Enjakou meronta sekuat tenaga dan berteriak histeris.
Remaja berambut abu-abu itu mulai menghujani Enjakou dengan pukulan kanannya,
wajahnya tampak seperti iblis entah dari mana.
Terus-menerus dipukuli oleh remaja berambut abu-abu itu,
tubuh Enjakou hancur berantakan menyerupai bola daging. Pada akhirnya, ia pun
jatuh pingsan.
"Setelah melakukan semua hal itu, kamu sudah pingsan
hanya dengan segini saja... Girimekhala!"
Remaja itu melemparkan Enjakou ke lantai dengan raut
wajah yang benar-benar muak. Ia kemudian berseru memanggil
dengan lantang.
"Saya berada di sisi Anda!"
Tiba-tiba, seekor monster berhidung panjang muncul.
Ia berlutut dengan satu kaki di hadapan remaja berambut abu-abu itu dan
menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sesaat kemudian, aura berwarna gelap meluap dari
monster tersebut. Aura itu menyebar ke seluruh penjuru rumah dan menciptakan
banyak retakan berbentuk jaring laba-laba yang berderak.
Bukan! Bukan! Ini benar-benar berbeda!
Makhluk ini bukanlah spesies naga, Phantom Beast,
maupun monster! Makhluk itu pasti adalah sesuatu yang Ruchiru dan yang lainnya
sebut sebagai dewa. Kalau begitu, siapa sebenarnya remaja berambut abu-abu yang
berhasil membuat makhluk itu tunduk...
"Makhluk ini telah menginjak-injak kepercayaan
orang yang mengikat kontrak dengannya. Bahkan, ia menjadikan nyawa seorang
prajurit yang tak bisa bergerak sebagai mainan demi memuaskan hasratnya."
"Dia sudah tak bisa diselamatkan lagi. Tanpa
kompromi, perlihatkan kepadanya neraka paling mengerikan yang bisa kau
bayangkan!"
"Sesuai kehendak Anda!"
Bersamaan dengan ucapan monster berhidung panjang yang
bernama Girimekhala itu, kabut hitam mengepul dari lantai. Kabut itu
menyelimuti Enjakou hingga sosoknya menghilang tanpa sisa.
Sulit dipercaya. Padahal, Enjakou yang telah berevolusi
menjadi spesies naga seharusnya merupakan sebuah bencana yang bahkan bisa
menghancurkan Babel.
Namun, makhluk itu malah disingkirkan dengan begitu
mudahnya. Ruchiru benar-benar tidak bisa menerima hal ini sebagai sebuah
kenyataan.
"Kai Heineman, jadi kamu yang datang untuk
menyelamatkan kami? Apa kamu dimintai tolong lagi oleh ayahku?"
Elish mendekati sosok berambut abu-abu itu, lalu bertolak
pinggang dan mencecar remaja bernama Kai Heineman tersebut. Di lubuk mata Elish
yang menatap Kai Heineman, terpancar rasa percaya dan kelegaan yang kuat.
(Elish dan orang itu saling kenal? Seorang Transcenden
dan manusia seperti Elish?)
Tanpa memedulikan Ruchiru yang sedang kebingungan,
untuk pertama kalinya Kai Heineman menunjukkan ekspresi yang sedikit bimbang.
Saat Ruchiru masih terkejut melihat reaksi manusiawi dari seorang Transcenden
itu...
"Secara garis besar, ucapanmu itu benar.
Lagipula, ini adalah permintaan gabungan dari Kepala Akademi Babel, Nona Chloe,
dan Tuan Ralph dari Hunter Guild."
Kai Heineman memberikan jawaban yang sama sekali di luar
dugaan. Tentu saja. Rasanya sangat mustahil membayangkan seorang Transcenden
mau menerima permintaan dari manusia biasa.
"Lalu?"
"Ya, mulai sekarang aku dan bawahanku akan mulai
menaklukkan rumah ini."
Mendengar deklarasi dari Kai Heineman tersebut.
"Bawahanmu?"
Elish langsung bertanya balik mengulang ucapannya.
"Ya, benar begitu, 'kan?"
"Tentu saja!"
"Sesuai perintah Anda!"
Tiga monster bertanduk menampakkan wujud mereka.
(Haha... Apa-apaan itu...?)
Ruchiru tidak memegang jabatan sebagai Kepala Penyihir
di Babel di masa lalu hanya sebagai pajangan. Kekuatan luar biasa yang
terus-menerus dipancarkan oleh para monster itu sama sekali tidak kalah dari
monster berhidung panjang tadi.
Terlebih lagi, Kai Heineman adalah tuan mereka. Dengan
kata lain, dia bukanlah seorang Transcenden biasa, melainkan―.
"Kakak, Beth tidak ada di sini!"
Din memeluk Kai Heineman lalu menengadah. Ia berseru pilu
dengan wajah yang seolah hampir menangis.
"Beth? Apakah itu kerabatmu?"
"Dia adalah kakak perempuan kembar Din!"
"Dia telah diculik oleh Victor bersama dengan
Kusuki,"
Elish langsung menjawab pertanyaan tersebut.
"Tuan Kai, kumohon, tolong selamatkan Beth!"
"Dia adalah rekan kami yang berharga, tapi sayangnya
kami tidak bisa melakukannya. Tidak, siapapun selain Anda pasti tidak akan
sanggup. Kumohon tolonglah dia!"
Bibin dan Tom Yum menundukkan kepala mereka dalam-dalam
kepada Kai Heineman.
"Aku juga memohon kepada Anda."
Ruchiru ikut menundukkan kepalanya sambil menempelkan
kedua tangannya ke lantai.
"Tidak perlu khawatir. Kami akan bertanggung jawab
untuk membawa kakakmu kembali."
Kai Heineman berjongkok. Ia menyejajarkan pandangannya
dengan Din dan mengelus kepalanya. Setelah itu, ia berdiri dan menatap ke
sekeliling.
"Selanjutnya, bawahanku yang akan melindungi kalian.
Mundurlah dan tunggu di sana―"
Tepat setelah ia memberikan instruksi tersebut, rumah itu
beriak dengan warna hitam. Benda mirip pembuluh darah berwarna merah pekat
bermunculan dan mulai berdenyut.
Suasananya seolah-olah seluruh rumah ini berada di dalam
isi perut makhluk raksasa.
"Sudah dimulai, ya."
Kai Heineman mencabut pedang panjang dari sarung di
punggungnya, lalu mulai melangkah.
"Ah..."
Itu adalah tekanan luar biasa yang belum pernah ia
rasakan seumur hidupnya. Kemudian, melihat sosok Kai yang dipenuhi oleh
kegembiraan gila itu, Ruchiru tanpa sadar menahan napas.
Ia secara naluriah dan dengan sangat jujur memahaminya.
Ia mengerti sosok seperti apa yang telah dibuat serius oleh Raja Kutukan yang
selama ini mengikat Ruchiru dan teman-temannya.
"Nah, ayo kita mulai. Mulai dari sini adalah
giliranku. Hei kau yang menyebut diri Raja Kutukan. Majulah dengan segenap jiwa
dan ragamu."
"Jika aku bisa menemukan sedikit saja makna dalam
pertarunganku denganmu, aku akan memusnahkanmu dengan cepat. Tapi, jika itu
tidak terjadi..."
Setelah menggumamkan kata-kata itu sendirian, Kai
melangkah keluar ruangan. Seluruh tubuhnya diselimuti aura pertarungan hitam
dan merah yang sangat bergejolak dan luar biasa jahat.
Ketiga pilar bawahan miliknya juga ikut menghilang tanpa
jejak.
"Elish, dia itu... sebenarnya siapa?"
Lactor yang baru sadar mendekat bersama Yoru, lalu
melontarkan pertanyaan kepada Elish. Dari raut wajah Lactor dan yang lainnya,
terlihat jelas bahwa sekadar berdiri saja terasa menyiksa bagi mereka.
"Dia adalah Hunter terkuat kebanggaan Guild. Fakta
bahwa Guild mengirimnya kali ini membuktikan bahwa mereka serius."
"Sebentar lagi, dia pasti akan membasmi rumah ini
beserta Raja Kutukan di dalamnya."
Mendengar pernyataan tegas Elish yang seolah sudah
melihat masa depan itu, Yoru menanggapinya.
"Aku juga mengerti seberapa kuat dirinya karena baru
saja melihatnya. Tapi, kutukan di rumah ini adalah yang terburuk. Apalagi
makhluk itu telah menyerap Kusuki dan mendapatkan kekuatan tambahan."
"Bagaimanapun juga, aku tidak yakin mereka bisa
menang sendirian. Ini benar-benar situasi yang harus dihadapi dengan
kekuatan penuh dari Babel dan Hunter! Kita harus segera meminta Elish untuk
mengirimkan permohonan bala bantuan lagi!"
Yoru menegaskan hal itu dengan suara bergetar sambil
mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Semuanya akan baik-baik saja. Sesuai instruksi
orang itu, mari kita evakuasi dan menunggu bala bantuan."
"T-tapi, lawannya adalah monster itu! Kalau
mereka kalah, kita semua akan tamat!"
Menanggapi perkataan Ruchiru yang penuh percaya diri,
Yoru berseru dengan suara melengking.
"Tidak, aku berani bersumpah. Kutukan di rumah ini
yang telah mengikat kita selama ini, akan musnah pada malam ini juga."
Ruchiru memastikannya dengan tegas, seolah menggigit
kata-katanya sendiri.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
Lactor bertanya dengan tenang sambil menyilangkan
kedua tangannya.
"Itu adalah logika yang sama dengan seekor katak
yang takkan bisa menang menantang lautan luas. Sejak awal, dimensinya sudah
terlalu jauh berbeda."
Ruchiru menyampaikan kebenaran yang sangat ia yakini
saat ini.
Benar. Orang itu sembilan puluh persen pasti adalah
seorang Transcenden. Lagipula, ia bukan sekadar Transcenden
biasa, melainkan eksistensi absolut yang seolah berada di puncak sistem
mitologi.
Kutukan rumah ini pada akhirnya hanyalah entitas di dunia
fana. Mana mungkin makhluk yang berevolusi hanya karena melahap jiwa manusia
bisa menandingi eksistensi yang mendominasi hukum dunia.
"T-tapi―"
"Yoru, serahkan saja padanya dan mari kita
mengungsi. Kalaupun Babel dan Hunter Guild hanya mengirimkan dia seorang diri
sebagai pihak penakluk kali ini, kita tak punya pilihan lain selain
mengawasinya."
"...Baiklah."
Meskipun mungkin belum sepenuhnya setuju, Yoru akhirnya
mengangguk dan mengalah.
"Kalau begitu, mari kita pergi. Ada wilayah
kekuasaanku yang lain di sudut lantai satu. Kalau di sana, kutukan macam apa
pun takkan bisa masuk."
Tentu saja, itu hanyalah cerita sampai beberapa saat yang
lalu. Dengan wujud kutukan rumah ini yang telah berubah sekarang, ada bahaya
bahwa wilayah milik Ruchiru bisa dinetralkan dengan mudah.
Namun, Kai Heineman sudah mengatakan akan menyuruh
bawahannya untuk melindungi Ruchiru dan yang lainnya. Dengan bawahan yang punya
kekuatan absurd seperti itu, pertarungan ini bahkan sudah tidak seimbang.
Hanya ada satu hal yang harus dilakukan oleh Ruchiru dan
teman-temannya. Yaitu menyaksikan akhir dari semua ini.
Benar! Menyaksikan kehancuran total dari kejahatan yang
telah membelenggu Ruchiru dan kawanannya selama ini!
◇◆◇
―Lantai dasar ketiga rumah itu.
Di dalam ruangan yang dinding, lantai, dan
langit-langitnya terbuat dari batu, terdapat banyak meja batu yang tak
terhitung jumlahnya. Di atas meja dan lantai di sekitarnya, tergeletak gergaji,
pasak, parang, dan banyak perkakas lain yang bahkan membayangkan kegunaannya
saja sangat mengerikan.
Potongan daging dan genangan darah berserakan di atas
lantai batu. Tempat ini dulunya adalah laboratorium milik Victor, sekaligus
tempat lahirnya sang Raja Kutukan.
Saat penaklukan rumah yang dilakukan Ruchiru dan
kawanannya dulu, laboratorium bawah tanah di dunia nyata telah dihancurkan
sepenuhnya. Ruangan ini hanyalah manifestasinya. Raja Kutukan menciptakan ruang
yang persis sama dengan kamar ini di dalam Curse Realm yang
diciptakannya.
Sebuah kursi batu terletak di tengah ruangan, dan di
sanalah seorang pria raksasa berkepala plontos duduk. Rongga kedua matanya
mencekung, dengan darah yang merembes keluar dari rongga kosong tersebut.
Mulutnya menyeringai melengkung hingga ke telinga.
Sebuah pasak tertancap dalam di tengah tubuhnya, dan rantai berkarat yang
menjulur dari pasak itu seakan terserap ke dalam lantai batu. Pria bertubuh
raksasa ini adalah kutukan pamungkas yang diciptakan oleh Victor, sosok yang
menyebut dirinya sebagai sang Raja Kutukan.
"Anakku, akhirnya aku menemukannya. Ini adalah
tumbal yang akan membebaskanmu dari rumah ini."
Victor melemparkan remaja berambut mangkuk yang masih
pingsan itu ke hadapan sang Raja Kutukan.
―Benda itu yang akan membebaskanku dari tempat ini?
Aku sangat meragukannya.
Menanggapi jawaban sang Raja Kutukan yang terdengar
seperti sebuah kepasrahan itu.
"Kita coba saja dulu. Coba kau serap dia."
Victor memberikan instruksi dengan nada gembira.
―Semoga saja ini tidak membuat perutku sakit.
Raja Kutukan mengucapkan kalimat itu, lalu berdiri dan
mendekati Kusuki, remaja berambut mangkuk tersebut.
Ia mencengkeram pergelangan kaki kanan Kusuki dan membuka
mulutnya lebar-lebar. Mulut Raja Kutukan melebar secara tak wajar dan langsung
menelan Kusuki.
Sambil bersendawa keras, Raja Kutukan mengusap perutnya
dengan tangan kanan.
―Rasanya biasa saja...?
Tepat saat ia hendak mengucapkan kalimat penuh
kekecewaan, bagian perutnya tiba-tiba menonjol.
―Guoh?
Benjolan itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Setelah
menyatu, wujudnya seketika berubah menjadi bola merah pekat.
Bola itu kemudian meliuk-liuk dan melengkung searah jarum
jam, yang berangsur-angsur membentuk wujud manusia.
Pada akhirnya, makhluk itu berubah menjadi seorang pria
raksasa yang mengenakan pakaian serba putih.
Raja Kutukan menurunkan pandangannya ke arah lubang besar
yang terbuka di tengah tubuhnya. Ia menatapnya dengan pandangan kosong selama
beberapa saat.
―Pasaknya menghilang?
Suaranya bergetar. Sesaat kemudian, ia mulai tertawa
terbahak-bahak dengan suaranya yang melengking menyakitkan telinga.
―Akhirnya! Akhirnya aku terbebas! Dengan begini, aku tak
lagi terikat oleh aturan rumah ini!
"Begitukah! Berhasil, ya! Dengan begini aku
juga―"
Raja Kutukan melesat dengan kecepatan luar biasa dan
mengulurkan telapak tangan kanannya ke arah Victor, yang sedang gemetar
kegirangan karena merasa evolusinya telah berhasil.
"Hige? Bubobababababaa!!"
Saat Raja Kutukan meremas wajah Victor dengan tangan
kanannya, seluruh tubuh Victor tertekuk dengan sudut yang tak wajar.
Tubuhnya hancur berantakan, dan pada akhirnya berubah
menjadi segumpal daging bulat.
Ketika Raja Kutukan merentangkan gumpalan daging itu,
wujudnya berubah menjadi monster berjubah hitam dengan wajah luar biasa besar
dan mulut yang sobek hingga ke telinga.
"..."
Kepada sosok yang dulunya adalah Victor dan kini hanya
bisa terdiam bodoh itu.
―Berikan teror dan keputusasaan pada semua makhluk yang
ada di rumah ini!
Sudutkan mereka perlahan satu per satu, dan renggut habis
harga diri serta harapan mereka!
Dengan wajah yang menyeringai buruk rupa penuh
kesenangan, ia memberikan perintah yang sarat akan kebencian.
Sosok yang dulunya adalah Victor itu menggesekkan dahinya
dengan keras ke lantai. Ia lalu meliuk-liuk dengan gerakan aneh dan keluar dari
ruangan.
―Kutuklah! Kutuk! Mengutuklah!
―Berikan segala jenis rasa sakit dan ketakutan pada
manusia, ternak, tumbuhan, monster, serta segalanya. Itulah keinginanku! Sumber
kekuatanku!
―Mengutuk, dikutuk, ubahlah dunia ini menjadi dunia yang
penuh dengan kutukan!
Saat Raja Kutukan berteriak seolah sedang bernyanyi,
rumah itu berubah warna menjadi merah pekat. Pembuluh-pembuluh
berwarna merah pekat muncul di lantai, dinding, dan langit-langit.
―Anak-anakku sekalian!
Tiga monster muncul di hadapan Raja Kutukan.
Yang pertama adalah boneka beruang dengan mulut yang
robek. Di mulut robek yang besar itu tumbuh taring-taring tajam, dan di
dalamnya terdapat sesuatu yang menyerupai wajah manusia yang sedang tertawa
cekikikan.
Yang kedua adalah pria paruh baya dengan banyak wajah
yang menonjol di sekujur tubuhnya. Pada wajah aslinya yang besar, terdapat
sepasang mata dan mulut hitam berlubang yang sangat mencolok.
Yang ketiga adalah monster dengan wajah yang terpelintir
secara tak wajar dalam posisi merangkak.
Ketiga monster itu serempak membuat pose yang
menjijikkan.
―Kutuk dan bunuhlah seisi dunia.
Atas perintah Raja Kutukan, ketiga monster itu pun mulai
bergerak sambil menggeram.
◇◆◇
Setelah Kai Heineman mencabut pedang panjangnya yang
menyeramkan dari sarung di punggungnya dan keluar dari ruangan, Ruchiru sang
wanita penyihir jimat memandu mereka ke sebuah gudang di sudut lantai satu. Di
sinilah mereka saat ini bersembunyi dan beristirahat.
(Tak kusangka semuanya akan menjadi seperti ini...)
Sambil bersandar di dinding sudut gudang, Okame Natou
merenungkan kembali kejadian-kejadian yang telah berlalu.
Awalnya, alasan Okame mengunjungi rumah ini adalah karena
ia mendengar cerita tentang tempat ini dari Lancelot, teman sekelasnya di
Menara.
Lancelot Grahart, Kepala Penyihir di Menara yang juga
dijuluki sebagai jenius yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun. Selama
ini Okame selalu memperhatikan Lancelot.
Awalnya, ia rasa mereka saling memandang sebagai rival
yang memotivasi satu sama lain.
Namun, kekuatan dan kemampuan Lancelot yang layaknya
monster itu terus dipertontonkan kepadanya hingga ia merasa muak, yang pada
akhirnya mengubah pandangannya menjadi permusuhan.
Terlebih lagi, semenjak sahabatnya meninggalkan Menara
karena alasan yang tak masuk akal, rasa rendah diri dalam diri Okame pun tumbuh
semakin kuat hingga tak bisa dibendung.
Saat itulah Lancelot pernah bercerita kepadanya. Ia
mengatakan bahwa di masa lalu, sekadar untuk uji nyali, ia pernah mencoba
memasuki Rumah Empat Teror Babel yang menjadi area terlarang.
Namun, Skill pendeteksi bahaya miliknya aktif, dan
karena ketakutan ia pun lari kembali.
Tentu saja, awalnya Okame mengira Lancelot sedang
mengatakan lelucon yang tak biasa baginya.
Akan tetapi, saat melihat raut wajah Lancelot yang serius
ketika berikrar akan membebaskan rumah itu dengan tangannya sendiri suatu hari
nanti, Okame sadar bahwa setidaknya Lancelot menganggap rumah itu sebagai
ancaman yang belum bisa ia atasi saat ini.
Rumor tentang Rumah Empat Teror adalah kisah yang cukup
terkenal di kalangan para murid Babel. Tentu saja, Okame yang merupakan seorang
realis tidak mungkin memercayai rumor usang semacam itu.
Lagipula, jika tempat itu memang berbahaya, Babel pasti
sudah menaklukkannya sejak lama.
Sebaliknya, melihat Lancelot yang memercayai delusi
semacam itu membuat Okame untuk pertama kalinya melihat Lancelot sebagai murid
sebayanya.
Okame kemudian mengajak adik-adik kelasnya dari sekolah
ksatria di tanah airnya untuk merencanakan eksplorasi ke rumah yang ditetapkan
sebagai Empat Teror tersebut.
Mungkin saja, Okame hanya ingin membuktikan bahwa rumah
yang sangat diwaspadai Lancelot ini tidak lebih dari gubuk reyot biasa.
Ia rasa, ia hanya ingin membuktikan bahwa Lancelot
bukanlah anak ajaib yang dipilih dewa, melainkan hanya murid biasa sama seperti
dirinya.
Namun, harapan manis Okame yang menyerupai asumsi sepihak
itu dihancurkan tak bersisa oleh insiden mengerikan layaknya mimpi buruk yang
terjadi di rumah ini.
Ya. Pada akhirnya tebakan Lancelot benar. Kutukan di
rumah ini bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh orang selevel Okame.
Flame Snake, jurus andalan Okame yang seharusnya
memiliki kekuatan mutlak melawan mayat hidup, tidak mampu memberikan serangan
mematikan dan hanya berujung pada pelarian mereka.
Lebih buruknya lagi, Phantom Beast kontrak yang
menjadi kartu as Okame, Enjakou, justru berevolusi menjadi spesies naga setelah
menyerap Mana kehidupan milik Kusuki.
Makhluk itu kemudian memilih Kusuki sebagai kontraktor
barunya dan langsung membuang Okame begitu saja.
Sebenarnya ia tidak berpikir bahwa pilihan Enjakou
terhadap Kusuki dalam situasi ini adalah hal yang aneh.
Lagipula, hanya dengan menyerap Mana kehidupannya
saja, ia mampu membuat seekor Phantom Beast ular berevolusi menjadi
spesies naga.
Dengan keberadaan sosok seperti itu, jangankan Enjakou,
roh atau Phantom Beast manapun pasti akan mengubah pandangan mereka dan
mencoba membuat kontrak dengan Kusuki.
Intinya adalah ini. Dirinya yang selama ini mengira bahwa
ia spesial ternyata hanyalah seorang murid biasa yang tak ada istimewanya.
Sedangkan Kusuki yang selama ini ia rendahkan sebagai
murid terbelakang justru adalah monster yang melampaui bahkan sosok seperti
Lancelot.
Sangat konyol hingga rasanya ingin tertawa.
Dirinya yang percaya telah diberkati oleh dewa ini,
karena kesalahan fatal dalam mengambil keputusan, justru berkali-kali membebani
Instruktur Lactor.
Pada akhirnya, kartu as mereka yaitu Kusuki berhasil
ditangkap oleh Raja Kutukan.
Hanya dengan menyerap sedikit Mana kehidupan saja
sudah cukup untuk membuat Phantom Beast berevolusi menjadi spesies
terkuat yaitu spesies naga.
Andai Raja Kutukan menyerap Kusuki, makhluk itu bisa
menjadi bencana yang dapat memusnahkan Babel, atau bahkan umat manusia.
Lalu, orang yang akan menyelamatkan mereka dari krisis
yang belum pernah terjadi ini pastilah Kai Heineman, remaja berambut abu-abu
yang kelihatannya sangat lemah itu.
Kai telah melenyapkan naga api kecil yang mengepungnya,
dan bahkan memukuli Enjakou habis-habisan dengan tangan kosong.
Enjakou yang telah berubah menjadi naga adalah inkarnasi
dari api bersuhu luar biasa tinggi. Serangan fisik pada dasarnya tidak akan
mempan, dan jika ditebas dengan pedang, pedang itu pasti akan meleleh.
Fakta bahwa ia memukulinya dengan tenang menggunakan
tangan kosong, membuktikan bahwa ia mungkin memiliki kekebalan absolut atau
imunitas terhadap api.
Kemampuan semacam itu jelas merupakan kekuatan tingkat
mitologi. Lebih dari itu, dia juga memanggil slime misterius yang bisa
menyembuhkan Okame dan yang lainnya dalam sekejap.
Melihat bawahan-bawahannya yang tak masuk akal itu,
hampir menjadi fakta mutlak bahwa dia memiliki kekuatan setara Transcenden.
Dan yang terpenting, Okame tahu namanya.
(Benar! Kai Heineman, dia adalah―)
Tepat ketika Okame hampir sampai pada sebuah kesimpulan.
"Okame, kurasa aku harus mengucapkan terima kasih
padamu. Terima kasih banyak."
Ruchiru memperbaiki posturnya dan menundukkan kepalanya
kepada Okame. Itu adalah hal yang paling tidak diinginkan Okame saat ini.
"Hentikan! Pada akhirnya, aku tidak bisa melakukan
apa-apa! Aku hanya memperburuk situasi!"
Perasaan jijik yang kuat membuncah, dan Okame
meludahkannya dengan nada keras.
"Kamu telah mempertaruhkan nyawamu demi kami. Itu
adalah fakta yang tidak bisa dibantah."
"Aku mempertaruhkan nyawaku untuk diriku sendiri!
Bukan untuk kalian para hantu! Lagipula, dalam pertarungan, hasil adalah
segalanya! Beban tak berguna. Itulah diriku!"
"Kamu adalah murid Babel. Kamu bisa saja tetap
berdiam diri di sini tanpa ikut bertarung. Tapi kamu tidak melakukannya."
"Hasil dari kamu memanggil ular itu, kita bisa
mengulur waktu hingga kedatangan orang tersebut. Kalau kamu bilang hasil adalah
segalanya, maka ini adalah kondisi yang disebut 'semua baik-baik saja pada
akhirnya'."
"Aku juga setuju dengan Tuan Ruchiru. Dalam
pertarungan, hasil adalah segalanya. Oleh karena itu, jika Kai Heineman
berhasil menyelesaikan masalah ini dengan aman, ini juga merupakan pencapaianmu
yang telah menciptakan situasi tersebut."
Okame membalas ucapan penyemangat yang tak biasa
dilontarkan oleh Instruktur Lactor yang realis tersebut.
"Tidak perlu repot-repot memedulikan perasaanku. Aku
sudah sangat menyadari betapa menyedihkannya diriku ini."
Okame menggelengkan kepalanya menepis ucapan itu.
"Jangan berkata begitu. Kalau kamu
bicara seperti itu, kami jadi tidak punya muka. Ya 'kan,
Yoru?"
"Iya, benar sekali... Padahal kami adalah anggota
keamanan Babel, tapi kami tidak bisa melindungi murid yang paling
penting."
"Bahkan, kami menyerahkan urusan membereskannya
kepada dia yang merupakan orang luar, dan bersembunyi di sini sambil menunggu
semuanya selesai. Kalau ada yang harus disalahkan, jelas itu adalah kami."
Yoru menjawab dengan lemas sambil menundukkan
pundaknya.
"Lagipula, Okame, kamu masih seorang murid. Kamu
sudah berjuang keras dengan membawa mereka sejauh ini."
"Sejak awal, kalau aku tidak membawa Mime dan yang
lainnya ke tempat ini, kami takkan mengalami kejadian seperti ini."
Berjuang keras? Hanya demi memuaskan hasrat kepuasan diri
Okame yang egois, ia telah menyeret adik-adik kelasnya ke dalam bahaya dan
membiarkan mereka mati. Ini adalah dosa karma yang harus Okame tebus seumur
hidupnya mulai sekarang.
"Benar! Kami jadi datang ke tempat berbahaya seperti
ini karena hasutanmu! Semuanya adalah salahmu!"
Sesuai dugaan, Mime yang mendengarkan dari dekat,
melontarkan kecaman yang sangat masuk akal dengan suara histeris.
"Aku benar-benar minta maaf pada kalian. Kalau semua
ini sudah selesai, aku pasti akan bertanggung jawab."
Jika ini semua sudah selesai, ia berniat untuk mengambil
tanggung jawab penuh dan meninggalkan Babel. Ia tidak berpikir bahwa itu saja
akan cukup untuk menebus dosanya. Ia akan menebusnya seumur hidup.
"Tentu saja! Bukan cuma kamu, kalian juga! Pegawai rendahan tak berguna beraninya mengekspos elit seperti kami
pada bahaya!"
Mime berseru meluapkan amarahnya. Seharusnya Okame
menghentikannya, tapi saat ini Okame tidak punya hak untuk melakukannya.
"Kalian ini―"
Menggantikan Okame, senior Elish dengan ekspresi
marah mencoba angkat bicara.
"Hentikan. Kalian seharusnya bisa menolak untuk ikut
mengeksplorasi rumah ini kalau kalian mau. Terlepas dari itu, kedatangan kalian
ke tempat ini adalah atas kehendak kalian sendiri. Kalian juga sama berdosanya
dengan dia."
"Terutama kamu yang tak bisa melakukan apa pun dan
hanya diam gemetar. Kamu tidak punya hak untuk menyalahkan orang lain."
Seorang wanita berjubah putih dan mengenakan tudung
tertutup rapat yang datang menolong bersama Kai Heineman, menyela untuk melerai
mereka.
"Apa katamu!? Lepaskan tudung itu! Aku ini adalah
Mime Myers, penerus keluarga Marquis Myers dari Kerajaan Amelia!"
Saat Mime membentak dengan urat nadi di pelipis yang
menonjol, wanita itu melepas tudung putihnya.
Wajah yang terungkap itu adalah seseorang yang sangat
dikenal Okame, dan memang sesuai dengan dugaannya.
"Y-Yang Mulia Putri Rosemary!"
Mime berseru dengan panik dan langsung memperbaiki
postur tubuhnya. Jika hanya sekadar menggunjing dari belakang, itu masih
diizinkan di Kerajaan Amelia saat ini.
Namun, penghinaan terang-terangan di hadapan anggota
kerajaan jelas berbeda ceritanya. Ada kemungkinan ia akan menerima hukuman yang
tak sedikit. Mime pasti mempertimbangkan hal itu. Sambil menaruh kekaguman yang
tak pada tempatnya kepada Mime karena masih memprioritaskan perlindungan diri
bahkan dalam kondisi krisis ini.
"Yang Mulia Rosemary, lama tak berjumpa."
Okame berpaling menghadap wanita berambut merah muda
bernama Rosemary itu, memperbaiki postur tubuhnya, lalu membungkuk hormat
dalam-dalam.
"Ya, sejak pesta yang diadakan oleh Tuan Natou yang
telah pensiun itu."
Putri Rose tersenyum ramah. Tentu saja, pada kenyataannya
wajahnya sama sekali tidak tersenyum sedikit pun. Wajar saja.
Ayah Okame bergabung dengan Aliansi Perjanjian Darah, dan
memaksa kakeknya yang sudah lama bersahabat dengan Putri Rose untuk pensiun.
Sejak saat itu, Putri Rose dan ayahnya bermusuhan layaknya anjing dan kucing.
"Izinkan aku bertanya satu hal."
"Ada apa? Kalau itu hal yang bisa kujawab, maka tak
masalah."
"Orang berambut abu-abu yang menyelamatkan kita tadi
adalah Tuan Kai Heineman, sang Royal Guard milik Anda, bukan?"
Okame menguatkan tekadnya dan melontarkan pertanyaan itu.
Sebenarnya ini hanyalah pertanyaan untuk mengonfirmasi.
"Tepat sekali."
Rose menjawab seketika sambil menyunggingkan senyum puas
layaknya seorang gadis remaja untuk pertama kalinya.
"B-bohong! Jangan berbohong! Tidak mungkin orang
paling tak berguna di kerajaan itu adalah monster sekonyol itu!"
Bertolak belakang dengan Mime yang menyangkal hal itu
habis-habisan.
(Begitu ya... Jadi memang benar...)
Dengan satu kalimat dari Yang Mulia Rosemary itu, Okame
akhirnya bisa memahaminya.
Sejak awal, ini bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan.
Kemampuan bela diri adalah syarat mutlak bagi seorang Royal Guard.
Putri Rosemary terkenal sebagai pewaris takhta paling
cakap di antara tiga kandidat yang ada. Tak
mungkin ia menjadikan orang yang tak berguna dan tak kompeten sebagai Royal
Guard miliknya.
Memang, dengan kekuatan yang melampaui batas manusia
itu, ia sangat pantas menjadi Royal Guard keluarga kerajaan. Bahkan wajar saja
jika Pahlawan Besar di dunia Hunter, Ralph Excel, mempercayainya sebagai Hunter
terkuat.
"Hah, istilah katak dalam tempurung memang
tepat. Pada akhirnya ucapannyalah yang benar."
Okame memiliki seorang sahabat baik yang berprofesi
sebagai pendekar pedang. Mereka memiliki hubungan erat, bahkan bersumpah untuk
bergabung dengan Ordo Ksatria Penyihir Raja Suci dan memikul masa depan
Kerajaan Amelia berdua.
Namun, sahabat pendekar pedangnya itu mengundurkan
diri dari Babel usai ikut serta dalam Turnamen Bela Diri Suci di kota petarung
Luzahal untuk mengisi waktu luang. Saat Okame mengkritiknya, sahabatnya itu
berbicara dengan menggebu-gebu, 'Aku ingin menjadi sekuat Kai Heineman.'
Saat itu, ia sama sekali tak mengerti. Kai Heineman
adalah orang yang diakui dunia dan dicap sebagai orang paling tidak kompeten di
muka bumi. Ingin menjadi sekuat Kai Heineman?
Itu sangat konyol. Karena itulah sejak saat itu ia
berpisah dengan sahabatnya dalam kondisi bertengkar. Namun sekarang ia mengerti
sepenuhnya. Kata-kata sahabatnya sangatlah beralasan.
Tepat ketika Okame menutup wajah dengan tangan kanannya
dan tertawa hambar akibat rasa penyesalan serta emosi tak dikenal yang
meluap-luap, suara gemuruh tanah yang mendekati gudang ini menggetarkan gendang
telinganya.
"Mereka telah datang. Sebentar lagi, wilayah
kekuasaanku ini juga akan hancur."
Ruchiru menyampaikan laporan mengerikan itu kepada Okame
dan yang lainnya dengan tenang.
"Mereka datang... Kita sudah tamat!"
Sementara Mime memegangi kepalanya, berjongkok, dan
mulai gemetar, para hantu dan Instruktur Lactor juga memperlihatkan ekspresi
getir.
"Tidak apa-apa. Bawahan Kai juga bilang tidak ada
masalah, 'kan."
Putri Rose mengucapkan kalimat yang terasa kurang
memiliki nuansa ketegangan tersebut.
"Yah, kalau dia yang bilang, kurasa memang akan
baik-baik saja."
Elish membalasnya dengan anggukan mantap.
"Mereka datang."
Ketika Elish berbalik menghadap pintu besar dengan
ekspresi serius, suara hantaman bergema. Mereka menyadari suara keras langkah
kaki yang memijak lantai semakin mendekati gudang tersebut.
Sesaat kemudian, pintu gudang itu penyok besar ke arah
dalam.
"Hiiiyyyyyy!"
Sementara Mime menjerit histeris hingga memekakkan
telinga, beberapa benturan keras menghantam pintu dari luar.
Akhirnya, sebuah tangan kanan yang berbulu lebat menembus
pintu itu. Setelahnya, pintu itu dirobek paksa oleh kedua tangan besarnya.
Kepala besarnya botak, dengan banyak pembuluh darah yang
menonjol. Mulutnya sobek hingga ke telinga, dan matanya bulat melotot
menyeramkan serta dipenuhi urat merah.
Melihat wujudnya yang teramat mengerikan itu, Mime
mendadak menjerit ngeri dengan wajah berkerut ketakutan. Okame tidak berniat
untuk mencela Mime. Toh, sejak tadi kaki Okame sendiri bergetar dan ia hanya
bisa berdiri dengan susah payah.
Monster itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling
ruangan, lalu menyeringai lebar.
"Ini adalah keinginan anakku, sang Raja Kutukan.
Jadilah kalian sebagai tumbal demi kejayaannya!"
Dengan wajah yang dipenuhi hasrat, ia menatap Okame dan
yang lainnya, lalu menjilati bibirnya sendiri. Rasa takut yang membuat bulu
kuduk berdiri itu membuat gigi-gigi Okame gemeletuk bergetar.
Begitu pula dengan Instruktur Lactor, Instruktur
Yoru, maupun para hantu. Mereka bahkan tak bisa menggerakkan seujung jari pun,
dan hanya tertegun menatap ngeri ke arah monster tersebut.
Pengecualiannya hanyalah Ruchiru, Putri Rose, dan
Senior Elish.
"Kamu Victor, 'kan?"
Jangankan ketakutan, Ruchiru justru bertanya seolah
terlihat menikmati momen itu.
"Ruchiruuuu, bergembiralah! Anakku telah mencapai
tingkat Dewa Kutukan, dan kalian telah dipilih menjadi korban persembahan
pertamanya! Anakku berkata padaku!"
"Luangkan waktu perlahan untuk merebut habis
harga diri dan harapan kalian! Satu per satu, sedikit demi sedikit,
aku akan memutilasi kalian dan membiarkan kalian di ambang kematian! Rasakanlah
teror dan penderitaan saat tubuh kalian perlahan-lahan menghilang!"
Tanpa menjawab pertanyaan Ruchiru, sang monster
membengkokkan wajahnya dalam keadaan ekstase dan memuntahkan kata-kata
hasratnya.
Sambil menatap monster berkepala besar itu dengan
pandangan seperti sedang melihat kotoran yang menjijikkan, Ruchiru angkat
bicara.
"Itu sangat jelas, ya. Biasanya aku tidak suka
melihat kehancuran orang lain, tapi Victor, khusus untukmu rasanya
berbeda."
"Ya, ya! Aku mengerti! Aku mengerti betapa gila
penyesalanmu itu! Tentu saja kau ingin mengeluh seolah tidak terima! Tapi
sungguh disayangkan!"
"Kalian semua takkan tersisa―"
Kepada Victor yang sedang mabuk dalam kemenangan dengan
nada pongah itu.
"Aku sudah muak mendengar omong kosong delusional
yang bahkan takkan bisa kau capai! Riwayatmu sudah tamat! Nikmatilah melihat
neraka di dunia ini sepuasnya!"
Ruchiru membentaknya dengan suara keras.
"Kau ini―"
Pada saat Victor menyipitkan sebelah matanya dan hendak
mempertanyakan Ruchiru yang tak terlihat gentar sedikit pun.
"Gadis kecil, perkataanmu sungguh bagus!"
Hanya dalam sekejap mata, sesosok iblis pria kekar
berjenggot yang memanggul gada logam hitam pekat telah berhadapan dengan
Victor, seakan datang untuk melindungi Okame dan yang lainnya.
◇◆◇
"Siapa kau?"
Victor bertanya sambil memicingkan mata ke arah iblis
kekar yang memanggul gada logam tersebut, lalu mengangkat tangan kanannya yang
besar dan berbulu lebat.
Tiba-tiba, monster-monster hitam berkepala besar
merangkak keluar dari lantai merah pekat dan mengepung iblis berotot itu.
Saat ini, berkat kekuatan sang Raja Kutukan yang ia
panggil anak, Victor telah mendapatkan kekuatan dewa.
Terlebih lagi, klon Victor jumlahnya ada sebanyak
ini. Mustahil ia bisa dikalahkan oleh sebatas monster berjenis
iblis.
Ini adalah perbedaan kekuatan tempur yang sangat telak.
Sudah sewajarnya monster iblis ini meratap, menangis, dan memohon nyawanya saat
menyadari situasi tanpa harapan yang dialaminya ini.
Akan tetapi, iblis kekar itu sama sekali tak terlihat
gentar sedikit pun menghadapi kawanan monster tersebut.
"Aku? Sejatinya, tak perlulah aku menyebutkan namaku
di hadapan serangga sepertimu. Namun, malam ini Yang Mulia Agung sendiri telah
memberikan perintah langsung kepada kami, dan suasana hatiku sedang sangat
baik! Jadi secara khusus aku akan menjawabnya!"
Iblis itu berdiri tegak sambil berseru dengan angkuh dan
lantang.
Serangga? Berani-beraninya seekor monster picisan
menyebut Victor yang telah mendaki tangga keilahian ini sebagai serangga?
Menyadari tubuhnya sedikit gemetar karena penghinaan luar biasa itu, Victor
membalasnya.
"KAU MENYEBUTKU SEBAGAI SERANGGAAAA!?"
Victor melontarkan raungan amarah yang seakan merobek
tenggorokannya. Tanpa memedulikan Victor yang amarahnya meledak-ledak, monster
iblis berotot itu mengayunkan gada logamnya dengan santai. Ia mengarahkan
ujungnya kepada Victor.
"Namaku adalah Zenki! Pengikut pertama dari Raja
Iblis Asura, dan eksekutor dari kehendak Yang Mulia Agung, sosok yang menjadi
tolak ukur standar absolut bagi kami semuaaahhh!"
Ia memperkenalkan diri dengan suara menggelegar
hingga memekakkan telinga.
Detik berikutnya, embusan angin berubah menjadi
tornado yang menghancurkan klon-klon Victor yang mengelilingi Zenki. Tornado
itu menghempaskan mereka ke segala arah seraya mendekati Victor.
"Guoh!?"
Victor mati-matian mencoba mundur ke belakang dengan
panik.
Namun, tornado itu menghempaskan tubuh Victor
layaknya daun kering yang gugur. Ia menabrak tembok dengan keras, mengerang,
dan bangkit sambil melihat sekeliling.
"..."
Isi perut berceceran di lantai, dan ia mengenali
jelas mayat-mayat klonnya yang telah berubah menjadi gumpalan daging yang tak
lagi berbentuk.
Saat ia berdiri termangu memandangi pemandangan di
luar nalar yang tersaji di depan matanya itu, tiba-tiba Zenki masuk ke dalam
pandangannya.
Taring yang tak biasa panjangnya mengintip dari
mulutnya, dipadukan dengan dua tanduk panjang. Tubuhnya kekar berotot semerah
darah, dengan kilatan mata yang memerah pekat.
Hanya dengan ditatap oleh kilatan mata itu saja, jiwa
bertarung Victor yang sebelumnya berapi-api kini langsung layu dan menyusut
tipis bagai sehelai benang.
Apa yang dilakukan Zenki barusan sama sekali bukan
serangan. Itu hanyalah raungan perkenalan nama.
Hanya dengan itu, gerombolan klon Victor langsung hancur
menjadi serpihan daging, dan Victor sendiri mengalami luka yang parah.
Kini, Victor pun memahaminya. Makhluk itu sama sekali
bukan monster berjenis iblis.
Makhluk itu bahkan berbeda dari sang Raja Kutukan yang ia
panggil anak.
Makhluk itu jauh lebih mengerikan, sesuatu yang sama
sekali tak boleh disentuh.
"Tinggal kau seorang diri, 'kan?"
Zenki mengarahkan ujung gadanya kepada Victor sambil
mendeklarasikan hal tersebut.
(Mana mungkin aku bisa menang melawan makhluk seperti
itu!)
Tidak! Kekuatan mereka terlalu berbeda jauh! Ini
bukan lagi soal bisa menang atau kalah! Sejak awal, dimensinya sudah berbeda!
Bertarung dengannya ibarat seekor semut yang mencoba menantang naga sendirian.
"Aku diancam―"
Victor mati-matian mencari cara untuk melarikan diri
dari monster di hadapannya, dan mencoba melontarkan berbagai alasan.
"Berani sekali kau melontarkan omong kosong seperti
memohon nyawamu! Bagaimanapun juga, kau telah memancing amarah dari Yang Mulia
Agung kami!!"
"Yang Mulia... Agung?"
"Benar! Sosok satu-satunya yang kami percayai!
Yang Mulia Agung telah memberiku titah dewa untuk melindungi orang-orang ini!
Ya, beliau telah memberiku titah dewa!!"
"Titah dewa?"
Benar dugaannya. Victor yakin bahwa dia telah
melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Tepat! Bagi kami, titah dari Yang Mulia Agung
adalah perintah yang mutlak untuk dipatuhi! Dari semua hal yang bisa kau
lakukan, kau malah berani mendeklarasikan diri akan melukai orang-orang yang
diperintahkan untuk dilindungi oleh Yang Mulia Agung!"
"Terlebih lagi, kau mengoceh soal menginjak-injak
harga diri dan akan memutilasi mereka perlahan-lahan!!"
Pembuluh darah besar menonjol di seluruh wajah Zenki,
matanya mendelik tajam. Melihat raut wajahnya yang persis seperti iblis jahat
itu, Victor secara naluriah menyadari betapa berbahayanya perkataan dan
perbuatannya barusan. Karena itulah—
"Itu tadi cuma bercanda—"
Dia mencoba memberikan penjelasan. Namun—
"Pada dasarnya, aku sangat membenci sampah sepertimu
yang hanya bisa menyiksa orang lemah! Ditambah lagi, kamu berani meludahi
kepercayaan Junjunganku kepadaku!"
"Itu adalah penghinaan terbesar bagiku dan dosa
besar yang tidak termaafkan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
"Sekalipun ini adalah perintah dari Junjungan yang
sangat kupercayai!!"
Monster ini telah kehilangan akal sehatnya karena amarah.
Kini, permintaan maaf maupun belas kasihan apa pun tidak akan ada artinya lagi.
"H-Hentikan...."
Di tengah pandangannya yang mengabur oleh air mata akibat
ketakutan luar biasa,
"Aku akan memberimu penderitaan dan keputusasaan
puluhan ribu kali lipat dari yang hendak kamu lakukan! Akan kubuat kamu
menyadari sampai ke sumsum tulangmu, apa itu kejahatan yang sesungguhnya!"
Tanpa memberikan jawaban lagi, Zenki perlahan mendekat
dengan gada besi di salah satu tangannya ke arah Victor yang terus melangkah
mundur.
"J-J-Jangan mendekaattttt!"
Aura pertarungan berwarna merah pekat memancar dari
sekujur tubuh Zenki dan membentuk pusaran. Hal itu
menciptakan retakan raksasa di dinding ruangan.
"Hukum mati! Hukum mati! Hukum mati! Hukum mati!
Hukum mati! Hukum mati!"
Sosoknya benar-benar menyerupai dewa iblis Rakshasa
yang muncul dalam dongeng. Zenki yang secara harfiah telah berubah menjadi
iblis jahat terus menggumamkan kata-kata itu seperti mantra, mendekati Victor,
lalu mengangkat gada besinya tinggi-tinggi.
"Aaaaarrrghhhhh!"
Itu pastinya merupakan saat-saat damai terakhir bagi
Victor.
◇◆◇
—Ruang penyimpanan di lantai bawah tanah mansion.
Beto yang ditangkap oleh Victor bersama Kusuki didorong
masuk ke ruang penyimpanan kecil yang gelap gulita di lantai bawah tanah
pertama. Ia diikat dengan rantai yang dirajut menggunakan sihir, rantai yang
bahkan mampu menahan roh halus sekalipun.
Kusuki kemudian dibawa pergi oleh Victor, sehingga Beto
kini ditinggalkan sendirian.
Meskipun dirinya sudah mati, dirantai sendirian di dalam
ruangan batu yang remang-remang dan dingin itu memunculkan ketakutan terpendam
yang tak tertahankan di dalam diri Beto.
"Beto anak yang kuat...."
Ia mencoba menguatkan dirinya berkali-kali. Namun, ia
malah terjebak dalam ilusi di mana lututnya yang seharusnya sudah tidak ada dan
tembus pandang karena kehilangan tubuh fisik, terus bergetar hebat.
"Beto itu...."
Ia menggertakkan giginya dan menahan ketakutan akan
kegelapan. Ia harus bertahan, karena Beto memiliki saudari kembar yang harus ia
lindungi!
Din adalah anak yang mudah terbawa suasana dan tidak bisa
diam. Dia bisa saja melakukan hal-hal ceroboh seperti melompat ke dalam bahaya
sendirian, karena itulah ayah dan ibu meminta Beto untuk melindungi Din!
Tadi pun ia terdesak oleh Din, tetapi karena Lucile sudah
mengizinkannya, seharusnya tidak ada bahaya besar bagi Din. Sebaliknya, jika Din yang tinggal, mungkin Din-lah yang akan tertangkap
sekarang, bukan Beto.
Hal itu sama sekali tidak boleh terjadi dan tak bisa ia
maafkan. Karena itu, situasi ini justru merupakan hal yang baik.
Benar, Beto adalah kakak perempuan Din. Ia harus menjadi kuat dan melindungi adiknya itu.
Jika Beto menangis ketakutan di sini, ayah dan ibunya
pasti akan sedih. Terlebih lagi, ia akan kehilangan segalanya lagi seperti hari
itu.
Beto sama sekali tidak boleh menangis. Padahal ia
seharusnya sudah berjanji di dalam hati, namun kecemasan luar biasa seolah
sedang berjinjit di ujung tebing itu membuat air matanya menetes.
—Deg!
Tiba-tiba, seluruh ruang penyimpanan itu terdistorsi
dengan hebat. Dinding-dindingnya menggeliat seolah sedang menjerit kesakitan,
lalu berubah menjadi merah pekat dan memunculkan banyak pembuluh darah yang
menonjol.
"Hikk!?"
Dalam sekejap, ruang penyimpanan itu berubah menjadi
pemandangan menjijikkan layaknya jeroan makhluk hidup, membuat Beto segera
menelan jeritan yang hampir keluar dari mulutnya. Jika ia berteriak karena
takut di sini, ia pasti akan memanggil makhluk yang tinggal di mansion ini.
Ya, sama seperti saat Beto kehilangan segalanya waktu
itu.
Saat Beto masih berwujud manusia, keluarga Beto sedang
berpiknik di hutan pinggiran kota Babel. Mungkin saat itu nasib mereka memang
sedang buruk.
Saat itu mereka secara kebetulan mendekati mansion ini
dan diculik oleh Victor yang sedang melakukan eksperimen biologis. Ayahnya
mempertaruhkan nyawa memanfaatkan kelengahan mereka, demi membiarkan ibu dan
anak-anaknya melarikan diri.
(Aku tidak akan menangis lagi, apa pun yang terjadi!)
Padahal ibunya sudah berpesan untuk tidak bersuara saat
melarikan diri, tetapi Beto malah menangis keras karena ketakutan meski ia
sedang dipeluk erat oleh sang ibu. Akibatnya, tempat persembunyian mereka
diketahui.
Ia tertangkap bersama ibunya, dan menjadi korban
eksperimen kutukan Victor yang keji. Pada saat itulah ia bersumpah, ia tidak
akan pernah menangis lagi apa pun yang terjadi.
(Beto itu—)
Ketika ia mengerahkan sedikit sisa keberaniannya untuk
bertahan sejenak, dinding berwarna merah itu menggelembung, dan sesuatu
berbentuk humanoid merangkak keluar. Sesuatu itu adalah monster yang merangkak
dengan wajah terpelintir secara tidak wajar.
"Kukekekekekeee! Tercium bau ketakutan yang
maniiss!!"
Monster berwajah terpelintir itu meneriakkan suara yang
memicu rasa jijik secara naluriah. Beto menutup mulutnya sendiri, mati-matian
menahan jeritan yang hampir meledak dari mulutnya.
Monster itu merangkak berkeliling ruangan untuk mengamati
sekitarnya. Kedua mata monster yang terpelintir itu dijahit menggunakan sesuatu
yang menyerupai benang, sementara hidungnya yang berukuran sangat besar terus
mengendus-endus.
Pastinya, monster ini buta dan sedang mencari posisi Beto
menggunakan hidungnya. Lagipula, ia tadi sempat menyebutkan soal bau ketakutan.
Beto pernah mendengar dari Lucile bahwa Raja Kutukan
memakan rasa takut sebagai nutrisinya. Mungkin, ia sedang mengidentifikasi rasa
takut Beto yang merupakan mangsanya.
(Beto anak yang kuat! Beto
anak yang kuat! Beto anak yang kuat!)
Berkali-kali ia mengulangi kata-kata terakhir ibunya
di dalam hati. Ayah, ibu, dan Din kehilangan nyawa mereka saat itu karena Beto
lemah, jadi Beto harus menjadi kuat.
"Di mana rasa takut yang lezat ini beradaaa?"
Sambil mengeluarkan suara yang diseret panjang, monster
itu merangkak di lantai batu di sekitar kursi kecil tempat Beto didudukkan.
(Beto itu—anak yang kuat!)
Beto benar-benar putus asa. Ia memejamkan matanya
rapat-rapat, mengulangi kata-kata terakhir ibunya layaknya sebuah mantra.
"Beto...."
Terdengar suara yang samar-samar. Itu adalah suara
yang sangat ia rindukan, sekaligus milik orang yang paling ingin Beto temui
saat ini.
Apakah dia salah dengar? Tidak, ia tidak mungkin
melupakan suara ini karena ini adalah suara ibu yang sangat ia sayangi!
"I... bu?"
Beto membuka kelopak matanya yang tertutup rapat. Di
sana, terdapat wajah ibunya yang memucat dan kram karena ketakutan, namun
kepala ibunya itu tumbuh dari dalam mulut sang monster berwajah terpelintir.
"Betoooo, cepat larriiii!"
Saat ibunya meneteskan air mata darah dan berteriak
nyaring, monster itu malah bersenandung.
"Ibumu bilang begini, bagaimana nih?
Bagaimanaaa?"
Monster berwajah terpelintir itu bertanya kepada Beto.
"Ibu!!"
Monster berwajah terpelintir itu tersenyum lebar ke
arah Beto yang memanggil nama ibunya dengan putus asa.
"Okeeeyy. Selamat tinggaaaall!"
Ia berteriak dengan nada suara yang riang. Tiba-tiba,
monster mirip reptil yang terpelintir keluar dari tenggorokan makhluk itu,
membuka mulutnya lebar-lebar, dan menelan wajah sang ibu.
Suara kunyahan dan jeritan kematian ibunya bergema di
seluruh ruangan.
"Ibu! Ibu! Ibu!"
Beto memanggilnya dengan putus asa berkali-kali demi
memastikan keselamatan ibunya, namun monster itu hanya tertawa.
"Sayang sekaliii, dia sudah maatiiii."
Monster berwajah terpelintir itu menatap Beto dengan
senyuman buruk rupa. Ia lalu menjilat bibirnya, bersendawa, dan tertawa
terbahak-bahak.
—Tuk.
Pada saat itu, terdengar suara sesuatu yang terputus di
dalam diri Beto.
"Aku tidak akan memaafkanmu...."
Ketakutan yang sampai-sampai membuatnya merasa lemas itu
kini tergantikan oleh emosi lain yang begitu kuat dan tak tertahankan.
"Beto tidak akan memaafkanmu."
Konyol sekali! Kenapa ia harus merasa takut pada iblis
menjijikkan seperti ini?
Orang ini adalah sampah sejati yang telah merebut ayah
dan ibu dari Beto dan saudarinya, serta mengurung mereka di mansion gelap ini!
Makhluk seperti ini sama sekali tidak pantas ditakuti!
"Beto—sama sekali tidak akan memaafkanmu!"
Beto yang sangat marah meludahi wajah makhluk itu dan
memelototinya tajam. Ini adalah perlawanan terbaik yang bisa Beto lakukan saat
ini, tapi tidak apa-apa.
Sekalipun ia harus mati, ia sama sekali tidak sudi
memberikan reaksi yang makhluk ini inginkan.
("Fu-fu-fuu! Beto, Din dan yang lainnya sudah
mati, lho!" benar begitu, kan?)
Teringat akan perkataan Din di masa lalu, Beto bahkan
mulai merasa geli sendiri.
Untuk sesaat, monster itu terdiam dengan mulut ternganga,
seolah terkejut. Namun, tiba-tiba amarahnya meledak.
"K-Kurang ajar! Beraninya bibit sepertimu meludahi
Tuan Nejire ini! Akan kubuat kamu dan orang tuamu merasakan penderitaan
abadi!!"
Monster itu melontarkan kalimat klise khas penjahat
rendahan dari dalam cerita yang pernah dibacakan oleh Lucile. Ia kemudian
mengangkat tangan kanannya yang memiliki cakar tajam ke arah Beto.
"Benar-benar makhluk sampah...."
Kenapa ia harus ketakutan sampai sekarang pada makhluk
yang bisa meledak marah hanya karena provokasi anak kecil seperti Beto? Beto
sudah lama mati.
Ia telah kehilangan tubuh fisiknya, serta ayah dan ibu
yang sangat disayanginya. Jadi, kenapa ia masih harus takut pada monster
rendahan semacam ini? Daripada itu—
"Sampah sepertimu pasti akan dikalahkan oleh
seseorang suatu hari nanti. Saat itu tiba, kamulah yang akan menangis!"
Beto melontarkan kalimat yang sepenuhnya mengandalkan
orang lain. Entah apakah orang itu adalah seorang pemberani, atau seorang
pahlawan.
Namun, Lucile dan Kak Eris sudah meminta bantuan, dan
mereka pasti akan segera datang ke sini. Dan orang itu pasti akan menghabisi
makhluk-makhluk ini sebagai akhir kisah mereka!
"Bocah siaalaaaannn!"
Tangan kanan makhluk itu diayunkan ke bawah. Saat Beto
menatap ayunan tangan yang entah kenapa bergerak melambat ke arahnya itu,
tangan tersebut mendadak berhenti tepat di depan mata dan hidung Beto.
Di sana, tampak seorang pemuda langsing bertanduk di
kepalanya. Dengan ekspresi yang benar-benar mirip iblis jahat, pemuda itu
sedang mencengkeram erat pergelangan tangan kanan Nejire.
◇◆◇
Sejak dulu, Goki sangat membenci hal-hal yang tidak
benar. Dalam hal ini, kakak laki-lakinya di masa lalu, Asura, adalah yang
terburuk.
Dia menyiksa dan membunuh orang-orang lemah yang
tidak berdaya hanya sekadar untuk mengusir rasa bosan. Dia terus
melakukan permainan yang sama sekali tidak ada gunanya tersebut.
Tentu saja, ia tidak pernah menyangka kalau kakaknya
sekaligus tuannya itu bisa mengusir kebosanan dengan cara semacam itu. Kakaknya
itu pada dasarnya adalah dewa pertempuran, dia bukanlah iblis seperti itu.
Pengabdiannya setelah sang kakak berubah terasa layaknya
sebuah siksaan setiap harinya bagi Goki. Lagipula, ia hanya bisa diam mengawasi
sang tuan yang menjadi kebanggaannya itu perlahan ternoda oleh hal-hal yang
paling ia benci.
Namun, berkat pertemuannya dengan seseorang, kakaknya
dengan mudah mendapatkan kembali jati dirinya yang dulu.
Beliau, Tuan Kai, telah menghajar kakaknya habis-habisan
dan mematahkan kesombongannya yang menjulang tinggi.
Dalam pelatihan yang terasa layaknya neraka bersama Tuan
Kai, kakaknya tampak seperti ikan yang kembali ke air. Kemampuannya meningkat
pesat hingga Goki pun bisa menyadarinya dengan jelas.
Kakaknya yang sekarang sama sekali tidak memiliki niat
untuk menyiksa orang lemah. Sebaliknya, dia tampaknya sangat menyesali
perbuatannya di masa lalu.
Bahkan belakangan ini, dia aktif berpartisipasi dalam
mendirikan negara monster dan iblis bernama Feista.
Tentu saja, bagi para monster dan iblis, kakaknya adalah
pemimpin dari pihak yang pernah memperlakukan mereka lebih rendah dari ternak.
Awalnya ada banyak penolakan dan mereka bahkan enggan
berbicara dengannya. Namun, berkat sikap tulus kakaknya, kecanggungan itu
akhirnya sedikit demi sedikit mulai mencair.
Dia tidak lagi bersikap arogan, tidak memamerkan
kekuatannya sembarangan, dan mau minum bersama mereka yang lemah.
Sosoknya itu benar-benar mengembalikan bayangan kakaknya
sebelum bergabung dengan organisasi jahat bernama Pasukan Iblis.
Hal itu membuat Goki sangat bahagia hingga rasanya ia
ingin melompat girang. Terlebih lagi, orang yang telah membawa kakaknya kembali
menjadi Raja Iblis yang ia hormati adalah Tuan Kai.
Kai Heineman—beliau itu sungguh berbeda.
Pertama, kekuatan mutlaknya yang tak tertandingi oleh
siapa pun di dunia ini.
Sejujurnya, semakin ia berlatih dan menjadi kuat, Goki
justru semakin menyadari betapa jauhnya jarak kekuatan mereka dengan beliau.
Bahkan Panglima Tertinggi Pasukan Iblis pun mungkin
hanyalah serangga merayap di hadapan Tuan Kai. Bagaikan naga yang menginjak
semut, mereka akan hancur begitu saja dan segalanya pun berakhir.
Hal itu juga berlaku untuk Pasukan Langit. Goki sama
sekali tidak bisa membayangkan ada eksistensi di dunia ini yang mampu melakukan
pertarungan serius nan seimbang melawan beliau.
Ditambah lagi dengan karismanya yang luar biasa.
Mereka yang mengikuti Tuan Kai adalah dewa-dewa dan
monster mitologis dari kelompok [Gods Ordeal] yang dulunya disegel karena
dianggap sebagai penghancur keseimbangan dunia.
Kelas eksekutif mereka bahkan memiliki kekuatan yang
tidak jauh berbeda dari Enam Jenderal Besar dan Enam Dewa Surgawi, yang
merupakan armada tempur tertinggi dari Pasukan Iblis maupun Pasukan Langit.
Terlebih lagi, ada juga bencana paling menakutkan,
Beelzebub, bersama mereka.
Sebagian besar dari mereka sangat yakin bahwa
merekalah pusat dunia, sehingga mustahil bagi mereka untuk mematuhi orang lain,
apalagi membentuk kelompok.
Namun di hadapan Tuan Kai, mereka malah membentuk
organisasi kecil berupa faksi dan berusaha keras agar disukai olehnya.
Mungkin hanya Tuan Kai di dunia ini yang mampu
memikat jiwa orang-orang dengan ego setinggi itu.
Namun, hal-hal tersebut belum bisa disebut sebagai
esensi utama dalam memahami seorang Kai. Hal yang paling aneh adalah Tuan Kai
memiliki obsesi yang kuat terhadap ras manusia.
Tentu saja, di antara para dewa pun banyak yang
menyukai manusia, jadi hal itu sendiri bukanlah sesuatu yang aneh.
Akan tetapi, rasa suka para dewa itu hanyalah sebatas
filantropi yang memanjakan makhluk rendahan tanpa kecerdasan maupun status.
Karena itu, mereka tidak terlalu serius ataupun terobsesi
pada manusia.
Ibaratnya, manusia itu bagaikan vas bunga yang disayangi,
sehingga jika vas itu hilang mereka mungkin hanya akan merasa sedikit kesal
saja.
Sebaliknya, perlakuan Tuan Kai terhadap manusia
benar-benar berbeda jauh. Beliau memikirkan masa depan setiap manusia yang
hidup di dunia ini dengan sangat serius.
Beliau bahkan menaruh perhatian yang berlebihan pada
organisasi manusia yang seharusnya tidak berarti apa-apa baginya. Hal itu
seolah-olah menunjukkan bahwa Tuan Kai benar-benar menganggap dirinya sebagai
manusia.
Tentu saja hal konyol semacam itu tidak mungkin terjadi.
Namun, hal itu berhasil membuat Goki memiliki minat yang kuat terhadap manusia.
Pada misi kali ini yang ia ikuti secara kebetulan, ia
berpartisipasi dengan penuh semangat karena diinstruksikan oleh Tuan Kai untuk
melindungi para Undead mantan manusia. Sambil membantai musuh rendahan yang
bermunculan dari dinding, ia mencari orang-orang yang ditangkap oleh pemilik
mansion ini.
Saat itulah ia menemukan seorang gadis roh halus sedang
diserang oleh Undead berwajah terpelintir. Ia segera berniat menolongnya,
tetapi ia menyadari adanya tekad kuat di kedalaman mata gadis itu.
Merasakan dejavu aneh pada tekad tersebut, Goki
memutuskan untuk mengamati situasinya lebih lama. Gadis itu menggertakkan
giginya, tidak menyerah pada provokasi berulang sang monster, dan berhasil
menaklukkan ketakutannya.
Lalu, monster itu memanggil seseorang yang tampak seperti
ibu sang gadis dari dalam mulutnya dan membiarkannya dimangsa monster lain.
Setelah tindakan bodoh itu, sang gadis pun berubah.
Meski tidak begitu jelas bagian mananya, itu adalah
perubahan besar yang nyata. Gadis itu lalu meludahi wajah sang
monster dan dengan sikap tegas berteriak,
"Sampah sepertimu pasti akan dikalahkan oleh
seseorang suatu hari nanti. Saat itu tiba, kamulah yang akan menangis!"
Kata-kata itu hanyalah omong kosong dari mantan manusia
yang lemah. Seharusnya begitu, tetapi Goki justru merasakan penyesalan dan rasa
malu luar biasa saat mendengarnya.
Bahkan gadis rapuh yang seolah bisa hancur hanya karena
disentuh ini pun mampu mengalahkan rasa takut dan melawan orang yang jauh lebih
kuat darinya. Tetapi, bagaimana dengan Goki?
Ia malah menyerah begitu saja karena merasa percuma, lalu
terus menutup mata terhadap kesalahan kakaknya. Padahal peluang keberhasilannya
untuk membujuk sang kakak jauh lebih besar daripada gadis ini.
Ia benar-benar tidak bisa menyalahkan kakaknya seorang.
Goki juga sama bersalahnya karena ia hanya diam menonton segalanya terjadi.
(Gadis ini adalah diriku di masa lalu....)
Bagi orang yang benar-benar kuat, Goki hanyalah iblis
rendahan yang sok jagoan. Ia sangat memahami hal itu sampai ke sumsum tulangnya
setelah pertemuannya dengan Tuan Kai.
Ia tidak menyadari kelemahannya sendiri dan memiliki
anggapan konyol bahwa orang lemah pun memiliki tanggung jawab, tapi akhirnya
malah mengurung diri di dalam tempurung tanpa berbuat apa pun.
(Ternyata aku telah menjadi orang yang paling
berengsek!)
Saat ia memikirkan hal itu, sesuatu meledak di dalam diri
Goki. Tubuhnya bergerak secara alami.
Ia langsung mencengkeram erat pergelangan tangan kanan
monster yang tengah diayunkan ke arah sang gadis tersebut.
"Haaah!?"
"Jangan buka mulut baumu itu."
Sambil tetap memegang pergelangan tangan kanannya, Goki
menendang ulu hati sampah yang menyebut dirinya Nejire itu.
"Gugeeekk!"
Tubuh Nejire hampir terpental bak sebuah bola, tetapi
Goki menarik pergelangan tangan kanannya dan membawanya kembali. Akibat tarikan
kasar itu, lengan kanan Nejire terpelintir hingga hancur berantakan.
"Toh sudah terpelintir. Aku bantu sekalian."
"Gugiii.... K-Kamu ini siapa?"
"Yah, kepribadianmu yang sudah terpelintir
sepenuhnya itu tidak akan bisa kupelintir lebih jauh lagi, sih."
Tanpa menjawab pertanyaan Nejire sama sekali, Goki
semakin memelintir pergelangan tangan kanannya dan mematahkannya.
"Gugeeek?"
Goki lalu memukul wajah samping Nejire yang sedang
mengeluarkan suara konyol.
Dengan kecepatan luar biasa, Nejire menabrak dinding
merah itu hingga tembus, terbang sembari menghancurkan segala sesuatu di
sekitarnya menjadi debu.
Saat Nejire akhirnya berhenti terpental, lebih dari
setengah bagian lantai satu ruang bawah tanah mansion itu telah hancur total.
"Gugagagee...."
Seluruh tubuh Nejire terpelintir ke arah yang tidak masuk
akal dan hanya tersambung oleh selembar kulit tipis.
Ia merintih kesakitan saat tubuhnya amblas ke dalam tanah
cokelat kemerahan di lantai bawah tanah tersebut.
Mulutnya berbusa, dan matanya berputar-putar tak
karuan ke segala arah. Dilihat dari sisi mana pun, itu adalah luka parah yang
hampir merenggut nyawanya.
Goki menghela napas panjang, lalu mengalihkan
pandangannya ke arah sang gadis roh halus.
"Nak, seperti yang kamu katakan tadi. Orang ini
benar-benar makhluk sampah."
Goki menegaskannya dengan nada suara tegas. Lagipula,
meski tadi dia berkoar penuh kesombongan, Nejire kini sudah sekarat hanya
karena satu pukulan Goki yang kekuatannya telah ditekan hingga ambang minimal.
"Nah, enaknya kuapakan orang ini, ya?"
Goki menjilat bibirnya karena ia bisa mengetahuinya
secara insting. Makhluk ini adalah tipe yang paling dibenci oleh Tuan Kai.
Jika ia membunuhnya dengan mudah, ia bisa saja mencoreng
kehormatan Tuan Kai.
"Guhiii!"
Nejire menyadari masa depannya yang suram dan menjerit
melengking, sementara Goki berjalan mendekat sambil membunyikan tulang-tulang
jarinya.
Namun tiba-tiba sekawanan besar lalat muncul di udara,
dan dalam sekejap mata sosok Nejire menghilang.
"Bunbun! Jangan sembarangan mengambil mangsa
orang lain!"
Saat Goki membentaknya, seorang anak laki-laki dengan
antena yang dibalut kostum eksentrik mendadak muncul di sana.
"Tunjukkan neraka duniawi pada sampah ini sembari
menyelamatkan jiwa manusia di dalamnya. Itulah perintah ayahku. Memangnya
makhluk bersel tunggal sepertimu bisa melakukan hal serumit itu?"
Anak laki-laki itu mengangkat bahunya seolah sedang
mengejek, dan kata-katanya benar-benar menusuk kelemahan Goki. Kepribadian Goki
memanglah seperti itu.
Goki tidak pandai menahan diri dan sangat buta terhadap
metode bertele-tele seperti penyiksaan. Terlebih lagi, Goki memiliki kebencian
mendalam pada sampah di hadapannya ini.
Sembilan dari sepuluh kemungkinan, Goki pasti akan
membunuhnya di tengah-tengah penyiksaan.
Jika jiwa ibu dari sang gadis roh halus masih ada di
dalam diri Nejire, ada bahaya bahwa jiwa sang ibu juga akan ikut musnah.
Sebaliknya, Bunbun yang merupakan salah satu dari Tiga
Kengerian Beelzebub sekaligus pakar penyiksaan, pasti bisa memberikan
kehancuran paling tepat untuk si sampah. Pada saat itu, Bunbun pasti akan bisa
memisahkan jiwa sang ibu dengan mudah.
"Sialan! Pergi sana!"
"Paling-paling kamu cuma bisa menjadi pengasuh gadis
di sebelahmu itu, ya. Yah, pekerjaan itu memang cocok untukmu yang lebih naif
dari kotoran."
Setelah meninggalkan kalimat sarkas itu, sosok Bunbun
kembali menghilang layaknya asap.
Goki terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam beberapa
kali, lalu memotong rantai yang mengikat gadis roh halus itu.
"Ayo pergi. Keluargamu sedang menunggu."
Ucapnya dengan nada ketus sebelum mulai membalikkan badan
dan berjalan. Gadis roh halus itu meraih lengan baju Goki lalu berbicara,
"T-Terima kasih."
Gadis itu kemudian mengucapkan rasa terima kasihnya.
◇◆◇
Pria paruh baya dengan wajah-wajah aneh yang muncul di
sekujur tubuhnya, membuka pintu utama mansion dan berjalan keluar.
"Akhirnya, aku bebbaass!"
Pria paruh baya itu mulai menari dengan gerakan tak
beraturan. Seolah merespons hal itu, monster-monster berkepala empat merangkak
keluar dari dalam tanah satu per satu.
Monster-monster itu menari dengan kompak tanpa
meleset sedikit pun di sekeliling sang pria paruh baya tersebut. Akhirnya, ia
sungguh bisa melarikan diri dari mansion ini.
Monster paruh baya, Hizumi, adalah salah satu dari
tiga kutukan kuno nan pekat yang tercipta saat Raja Kutukan terlahir. Raja
Kutukan terikat pada mansion ini dan tidak bisa melangkah sejengkal pun keluar
dari sana.
Karena itulah Hizumi yang memiliki ikatan jiwa sangat
kuat dengan Raja Kutukan juga terus terkurung di dalam mansion ini sampai
sekarang. Bisa dibilang, batasan ini adalah satu-satunya belenggu sang Raja
Kutukan.
Namun belenggu itu kini telah hancur sepenuhnya, karena
sang Raja Kutukan telah memperoleh kekuatan supranatural.
"Sekarang, aku telah meraadeekaaaa! Ayo ayoo,
menarilah dengan gilaaaa!"
Hizumi mengaum kegirangan ke arah langit dan terus
menari. Para monster berkepala empat di bawah kendalinya juga ikut menari
dengan gerakan sinkron yang teramat menyeramkan.
"Nah, enaknya kuapakan tempat ini, yaa!"
Ia telah menerima titah dari sang Raja Kutukan untuk
mengutuk mati segala hal di dunia ini.
"Sebagai permulaan, sepertinya aku akan mengutuk
semua makhluk hidup di kota ini! Kemudian aku akan membedah mereka hidup-hidup,
menguliti mereka, dan mempersembahkannya kepada Raja kita!"
Wajah Hizumi berkerut penuh kepuasan saat ia berjalan
sambil melompat-lompat kecil kegirangan. Tepat di belakangnya, para monster
berkepala empat membentuk barisan dan ikut melangkah maju sambil
melompat-lompat kecil.
Di tengah pemandangan yang sama menyeramkannya dengan
mimpi buruk itu, seorang pria berdiri menghadang jalan mereka. Pria itu adalah
sesosok iblis bermuka tiga.
Sambil memanggul pedang raksasa berujung cabang dua di
pundaknya,
"Aku tidak akan membiarkan kalian lewat sini.
Jadilah pakan untuk mimpiku!"
Ia berteriak memamerkan gigi taringnya. Sepasang mata
dari sang iblis bermuka tiga itu terbuka lebar, menyorotkan cahaya ganjil yang
menyilaukan.
"Sepertinya, kamu ini bukaan maanuusiiaa, ya."
Tempat ini seharusnya merupakan pemukiman manusia. Pasti
dia adalah monster yang dipanggil oleh Summoner dari pihak Babel.
Jika memang begitu, berarti rencana yang disusun Victor
telah membuahkan hasil, dan pasukan elit Babel pasti berbondong-bondong datang
ke mari.
Namun, anjing suruhan manusia mana mungkin bisa menang
melawan Hizumi yang telah bangkit berserta para bawahannya.
Makhluk itu hanyalah mangsa yang sangat empuk.
"Boleh saja. Kalian, tolong temani dia bermaain
sebentarrrr."
Mendengar perintah Hizumi, para monster berkepala
empat serempak mengepung iblis tersebut.
Para monster itu mulai berputar cepat sambil menari
mengelilingi sang iblis bermuka tiga.
Melihat pergerakan mereka, wajah iblis bermuka tiga
itu seketika berkerut menunjukkan ketidaknyamanan.
"Sialan! Aku kebagian tempat ampas, ya! Hei kalian,
kalau mau menyerang, biasanya kalian harusnya menempatkan armada utama di jalur
menuju pusat kota, kan!"
"Kenapa kalian malah mengarahkan pasukan elit pada
orang-orang lemah yang bersembunyi di dalam mansion! Gara-gara itu, aku malah
keduluan oleh Zenki dan Goki!"
Bersamaan dengan auman penuh amarah tersebut, sebuah
tebasan raksasa menyapu bersih segalanya. Jeroan makhluk menjijikkan bertebaran
di udara.
Dalam sekejap mata, para bawahan Hizumi yang menari
melingkar dengan kecepatan tinggi itu berubah menjadi potongan mayat.
"Hah?"
Hizumi mengeluarkan suara kebingungan saat melihat
mayat-mayat bawahannya yang telah hancur menjadi daging cincang berserakan di
atas tanah. Tentu saja ia sangat bingung.
Raja Kutukan yang diagungkannya baru saja mencapai
tingkat keilahian sebagai Dewa. Dewa adalah eksistensi yang berada
di luar hukum logika dunia.
Makhluk dari dunia fana yang terikat oleh hukum alam,
tidak mungkin bisa menentang eksistensi yang telah menapaki jalan para Dewa.
"K-Kenapa bawahan utusan dewa sepertiku bisa
dikalahkan dengan semuudaahh ini!?"
Hizumi mengeraskan suaranya yang dipenuhi oleh tanda
tanya.
"Utusan dewa? Cih! Dengan
kelemahan seperti itu, kamu berani mengaku sebagai utusan dewa? Maaf saja ya,
utusan dewa pun tidak akan selemah dirimu."
"T-Tuanku kali ini telah mendapatkan keilahian dan
menaiki tangga Dewa! Tuanku telah memperoleh kekuatan yang cukup untuk mengutuk
mati dunia ini berpuluh-puluh kali!"
"Dan aku adalah salah satu dari tiga kutukan yang
dilahirkan oleh Tuanku! Kasta kita sangatlah berbeda, kamu ini cuma monster
rendahan!"
Mendengar nada dan kalimat yang luar biasa tidak sopan
itu, sang iblis bermuka tiga mengorek telinganya santai menggunakan jari
kelingking kiri.
"Hah! Mendapat keilahian dan menaiki tangga dewa?
Omong kosong! Pertarungan sejati tidak akan bisa terpengaruh oleh barang
rongsokan tidak penting semacam itu!"
Iblis itu mendengus dan menegaskannya dengan nada suara
keras yang terkesan meremehkan.
"Kamu menyebut keilahian sebagai barang rongsokan!?
Benda yang terus didambakan oleh ayah kami itu, kamu sebut sebagai
rongsokan!!"
Jalan menuju Dewa bisa dibilang sebagai satu-satunya
impian terbesar sang raja. Impian itu tidak mungkin bisa dicapai dengan jalan
yang mudah.
Namun kali ini, sang raja akhirnya berhasil mencapai
keabadian tersebut.
Pada saat yang sama, Hizumi yang bertindak sebagai utusan
dewa dari ayah Raja Kutukan juga mendapatkan kekuatan supranatural yang jauh
melampaui siapa pun.
Tetapi iblis yang berstatus sebatas monster rendahan ini
malah menyebutnya sebagai rongsokan. Kesombongan semacam itu mana mungkin bisa
ia maafkan!
"Ya, rongsokan. Aku sudah muak melihat begitu banyak
orang kuat yang sama sekali tidak memiliki keilahian."
"Omong kosong! Lalu apa yang kamu sebut sebagai
kekuatan!?"
"Entahlah, aku sendiri juga ingin tahu akan hal
itu."
Sudahlah. Buat apa dia terus meladeni perdebatan dengan
orang gila ini? Prioritas utamanya adalah mundur dan melaporkan kejadian
memalukan ini kepada sang Raja.
Saat Hizumi mencoba melangkah mundur ke belakang, sosok
iblis bermuka tiga itu mendadak menghilang.
"Oi, mau ke mana kamu?"
Detik berikutnya, sebuah suara terdengar dari arah
belakangnya. Dengan perasaan bergidik takut, Hizumi menoleh ke belakang dan
melihat iblis bermuka tiga itu sudah berdiri tepat di depan hidungnya.
"Uhiii!"
Tanpa sadar, Hizumi jatuh terduduk di atas tanah.
"Bereaksi saja tidak bisa, ya.... Kamu ini
benar-benar sampah kelas teri. Aku juga tidak punya cukup waktu luang untuk
mengurus makhluk sepertimu."
Iblis bermuka tiga itu bergumam dengan malas, lalu
mengangkat pedang raksasanya.
Tiba-tiba, energi Mana berwarna merah pekat
pembawa malapetaka terkumpul pada pedang raksasa tersebut.
Panas mengerikan dari Mana itu sontak membakar
habis seluruh kulit Hizumi.
Panasnya merambat hingga ke tanah, melelehkannya menjadi
magma yang mendidih lalu membakar kedua kaki Hizumi dalam sekejap.
"Gugyaaaaaa!"
Takut! Sakit! Takut! Sakit! Mengerikan! Jika pedang
raksasa itu benar-benar diayunkan ke bawah, tubuh Hizumi pasti akan langsung
hancur.
Bahkan seluruh jiwanya pasti akan terhapus tak tersisa
dari dunia ini!
"Aku tidak mauuuuu!"
Padahal ia baru saja menjadi utusan dewa yang selalu ia
idam-idamkan sejak lama. Ia sama sekali tidak mau musnah di tempat seperti ini!
Sambil berteriak histeris, merangkak, dan menahan rasa
sakit seluruh tubuhnya yang dilahap api, Hizumi membelakangi sang iblis bermuka
tiga itu lalu berusaha kabur dengan sekuat tenaganya.
"Matilah!"
Bersamaan dengan kata-kata itu, pedang raksasa milik sang
iblis bermuka tiga pun diayunkan.
Tiba-tiba saja kabut hitam menyelimuti sekujur tubuh
Hizumi, dan membawanya melayang ke udara dengan kecepatan tinggi.
Di sebelah Hizumi, terdapat monster berhidung panjang
yang sedang berdiri tegak menantang dengan kedua tangan di pinggang. Ia
menyeringai percaya diri.
Iblis bermuka tiga itu menatap monster berhidung panjang
tersebut dengan keenam matanya yang merah dan melotot buas.
"Girimekhala! Makhluk ini adalah mangsaku,
tahu!?"
Iblis itu berteriak penuh amarah dengan raut wajah yang
siap meledak kapan saja.
"Aku tahu! Orang yang menitahkanmu mengurus mansion
ini adalah Dewa kita yang agung, Asura! Campur tangan seenaknya di sini sama
saja dengan meludahi wajah Dewa kita!"
"Itu adalah perbuatan yang tidak bisa dimaafkan!
Tetapi! Tetapi!! Makhluk itu telah mengkhianati harga diri kejahatan
kita!!"
"Ia dengan berani menghina dan menginjak-injak
keyakinan kita tanpa malu!! Karena itulah, dia adalah musuh Dewa bagi seluruh
pasukan jahat kita!! Kitalah yang akan mengambil nyawanya!"
Mendengar teriakan amarah sang monster berhidung panjang,
Girimekhala, monster-monster berwujud ganjil mulai bermunculan satu per satu.
Kebencian gila-gilaan dari ratusan monster itu kini
terarah pada Hizumi yang hampir kehilangan nyawanya.
Hanya dengan terkena pancaran aura amarah mereka, kulit
Hizumi yang seharusnya indah itu kini melepuh terbakar, dan meleleh layaknya
cairan kental. Sekarang ia bisa dengan mudah menyadarinya secara naluriah.
Setiap makhluk yang saat ini mengepungnya, masing-masing
adalah Dewa Agung sejati yang tidak ada bandingannya dengan sang Raja Kutukan
penciptanya sendiri!
Dan dari sekian banyak eksistensi di dunia, Hizumi
benar-benar telah membuat marah kelompok yang paling mengerikan!
"Menghina keyakinan, ya...."
Mungkin ia menyadari sesuatu dari penjelasan panjang
Girimekhala. Emosi amarah menggebu yang sebelumnya menyelimuti Asura, sang
iblis bermuka tiga, kini benar-benar surut tak berbekas.
"Ya, kita tidak boleh membiarkan sampah yang telah
mengkhianati keyakinan kita itu mati dengan tenang begitu saja."
Asura menggaruk-garuk rambutnya dengan kasar menanggapi
anggukan setuju dari Girimekhala.
"Mengerti. Kuserahkan padamu."
Asura lalu membuang muka, menunjukkan tanda
persetujuannya pada aksi mereka.
"Terima kasih atas pengertianmu, kawan."
Girimekhala menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai
bentuk hormat, lalu diikuti oleh monster-monster aneh lainnya.
"Bukan masalah. Buatlah orang idiot itu menyesalinya
sepuas kalian."
Mendengar kata-kata yang secara mutlak merupakan
persetujuan akhir dari Asura,
"T-Toloong aakkkuuuuu!"
Hizumi menjerit meminta belas kasihan dengan suaranya
yang pecah setelah memprediksi nasib paling tragis yang akan dihadapinya.
Meskipun ia sangat sadar bahwa jeritan itu adalah perbuatan yang sangat
percuma....
"Asura, aku tidak tahu apakah ini sepadan, tetapi
kami ingin memberikan informasi mengenai dewa babi lainnya yang telah merancang
rentetan kekonyolan di mansion ini padamu."
"Dewa babi lainnya yang merancang kekonyolan di
mansion ini?"
"Ya, sepertinya orang itu memiliki ikatan takdir
tersendiri denganmu. Tentu saja, berkat Dunia Kutukan milikku, informasi di
tempat ini sama sekali tidak akan bocor ke luar."
"Jadi, kamu bebas mengamuk sesukamu pada si babi
itu."
"Ikatan takdir, ya. Yah, aku sudah bisa
menebaknya dari awal...."
Gigi taring Asura yang sangat tajam terekspos keluar,
dan wajahnya berubah ganas layaknya binatang buas. Detik berikutnya, pandangan
Hizumi menjadi gelap gulita.
◇◆◇
"Aku tidak pernah mendengar hal seperti
inii!"
Messy, pria yang kurus kering selayaknya orang
berpenyakit, berlari di tengah kabut yang menyelimuti area sekitarnya sambil
terus merengek menangis.
Pada awalnya, segala sesuatunya berjalan persis
seperti apa yang telah Messy rencanakan.
Kutukan mansion ini akan mengutuk mati sebagian besar
murid Babel yang datang berkunjung dan para anggota pasukan keamanan yang
datang untuk menolong.
Di tengah prosesnya, mereka memang disembunyikan oleh
wanita dengan jimat di wajahnya.
Tetapi hal itu juga merupakan bagian rencana Victor,
sang Undead yang menyebut dirinya sebagai ayah dari kutukan mansion.
Salah satu anggota tim penyelamat berhasil meminta
bala bantuan Babel menggunakan kemampuan spesialnya.
Victor berencana untuk menyerap penyihir tingkat
tinggi yang diperkirakan akan dimobilisasi sebagai bala bantuan itu. Ia
ingin menjadikan penyihir itu nutrisi bagi evolusi sang Raja Kutukan mansion
tersebut.
Permata itu adalah alat sihir yang dapat memicu evolusi
sesuai dengan besaran Mana yang dimakan dan diserap oleh pemiliknya.
Mana milik penyihir tingkat tinggi akan
ditambahkan pada Mana asli milik sang Raja Kutukan.
Dengan begitu, Raja Kutukan itu pasti akan berhasil
berevolusi menjadi kelas Raja Iblis sejati. Seharusnya, ia bisa menyelesaikan
tujuan misi ini dengan sangat lancar.
Namun, rencananya hancur berantakan karena ulah manusia
berpotongan rambut mangkuk tersebut.
Hanya dengan menyerap sebagian Mana manusia itu,
seekor kadal api rendahan berevolusi menjadi Naga Api.
Naga Api itu jelas-jelas bukanlah spesies naga biasa.
Menilai dari kemampuannya bergerak dan menyatu dengan api, naga itu adalah
spesies langka, spesies fantasi Ratzel.
Spesies fantasi Ratzel—makhluk legendaris yang tubuhnya
tersusun dari elemen dasar seperti Api, Tanah, Angin, Air, Kegelapan, dan
Cahaya, serta kebal terhadap seluruh serangan fisik.
Spesies ini dikatakan sebagai spesies yang posisinya
paling dekat dengan Dewa, dan sangat berbeda dari ras lainnya.
Hanya dengan menyerap sebagian Mana-nya, kadal
api murahan itu bisa berevolusi menjadi spesies fantasi Ratzel yang legendaris.
Manusia berambut mangkuk itu sudah pasti adalah wadah yang sangat spesial.
Bahkan Messy yang merupakan seorang Dewa pun tidak
bisa membayangkan akan sekuat apa jadinya jika ia menyerap Mana bocah
itu.
Jika Messy berhasil menyerapnya, ia mungkin bisa
setara dengan Dewa Tertinggi Charybdis yang selalu ia puja.
Hanya saja, ia tentu merasa khawatir. Ada risiko
timbulnya efek buruk jika ia ceroboh menyerap zat pemicu mutasi mendadak
semacam itu secara langsung.
Demi menghindari risiko tersebut, ia berniat membiarkan
Raja Kutukan menyerapnya terlebih dahulu, barulah setelah itu Messy akan
memangsa sang Raja Kutukan.
Tindakan ini bisa dianggap sebagai bentuk pemberontakan
kepada Tuan Charybdis. Jika rencana ini sampai terendus, ia akan menerima
eksekusi hukuman yang sangat berat.
Oleh karena itu, agar tidak ada seorang pun yang
mengetahui aksinya, Messy menciptakan Dunia Kutukan miliknya untuk menutupi
mansion dan mengamati prosesnya.
Namun, seluruh rencana Messy hancur berkeping-keping
tanpa sisa sejak kedatangan sang monster berambut abu-abu itu.
Messy tahu siapa monster itu, karena sebelumnya Tuan
Charybdis telah menitahkannya untuk mengawasi si abu-abu tersebut. Bocah itu
adalah Kai Heineman.
Dari hasil investigasi, Tuan Charybdis menyimpulkan bahwa
ia hanyalah anak manusia biasa karena ia tak memiliki serpihan kekuatan yang
setara dengan serangga sekalipun.
Tetapi, Kai Heineman bisa menghajar spesies fantasi
Ratzel yang telah berevolusi menggunakan tangan kosongnya hingga makhluk itu
kehilangan semangat bertarung.
Messy mungkin masih bisa mengerti jika anak itu diam-diam
menggunakan kemampuan spesial.
Namun, sangat jelas dari ucapannya bahwa ia sama sekali
tidak menggunakan kemampuan khusus apa pun. Kemampuan
pasif itu adalah kekebalan terhadap tipe api atau Absolute Resistance.
Kekebalan absolut merupakan kemampuan amat langka yang
bahkan jarang dimiliki oleh jajaran para Dewa tertinggi.
Kenyataan bahwa seorang manusia biasa memiliki
kemampuan mustahil tersebut adalah hal yang sama sekali tak bisa diterima oleh
logika Messy.
Di tengah kebingungan logikanya, Messy refleks
menjerit ketakutan melihat makhluk-makhluk tak masuk akal yang dipanggil oleh
Kai Heineman.
Makhluk-makhluk itu adalah tiga ekor iblis, tapi
rasanya salah menyebut mereka sebagai iblis.
Mereka adalah Dewa. Apalagi, mereka adalah Dewa Agung
yang levelnya jauh melampaui Dewa Charybdis.
Tiga Dewa Agung itu berlutut takluk dan menunduk
hormat kepada manusia rendahan seperti Kai Heineman. Melihat
semua kenyataan tersebut, kepanikan di otak Messy menembus puncaknya.
Berkat perubahan wujud Kai Heineman yang terjadi sesaat
setelahnya, ia langsung tersadar bahwa ia telah melakukan kesalahan penilaian
yang teramat fatal.
Energi Mana perpaduan hitam dan merah yang
terlihat mengerikan serta mampu mengubah nalar dunia milik Kai Heineman.
Sorot matanya yang tajam seolah menatap kematian, dan
seringaian yang terasa seolah merobek memanjang hingga ke daun telinga.
Penampilannya benar-benar merupakan perwujudan agung dari
sosok penjahat absolut. Benar, Kai Heineman adalah Dewa Agung Kejahatan, dan ia
adalah eksistensi yang berada di puncak terkuat dunia ini!
Begitu menyadari dengan mata kepalanya sendiri siapa
monster Kai Heineman itu sebenarnya, Messy segera bersiap untuk melarikan diri.
Messy langsung berlari kencang, membuang harga dirinya
jauh-jauh, bahkan rela menelantarkan titah dari Dewa Utama Charybdis sekalipun.
Ia memang bisa keluar dari batas mansion itu dengan
mudah.
Dengan kekuatan fisik kaki yang ia miliki, seharusnya ia
bisa segera kabur mencapai area pusat kota Babel.
Namun sedari tadi, ia terus berlari tanpa ujung di dalam
hutan yang diselimuti kabut putih tebal. Dilihat dari sudut pandang mana pun,
ini sangat tidak normal.
Kemungkinan terburuk, ia telah dikurung di dalam jebakan
domain makhluk-makhluk gila itu.
(Sejak kapan aku dikurung di dalam ruangan ini!?)
Ketika ia menggumamkan pertanyaan yang entah sudah
keberapa kalinya itu, kabut di sekitarnya mendadak buyar dan menampakkan cahaya
rembulan di ujung jalan.
"Aku berhasiil keluuaarr!"
Seolah menemukan secercah cahaya terang di tengah
gulitanya malam, Messy segera berlari secepat kilat keluar dari hutan.
"...."
Namun, tempat di ujung jalan itu adalah sebuah padang
rumput yang senyap.
Bulan raksasa yang melayang di langit malam menerangi
wajah Messy dengan cahaya yang menyilaukan.
"Mustahiill...."
Setelah secara jelas memproses situasinya saat ini,
Messy mengeluarkan suara yang memancarkan keputusasaan luar biasa.
Benar. Sembilan dari sepuluh kemungkinan, mimpi
buruknya ini belum berakhir.
Padang rumput datar yang begitu luas semacam ini
tidak pernah ada di sekitar kota Babel, dan bulan berukuran raksasa itu tak
mungkin muncul di langit dunia Lemuria.
Terlebih lagi, iblis Agung bermuka tiga kini sedang
berdiri di depan mata Messy sambil memanggul pedang raksasa bercabang dua.
"Kamu ini boneka suruhan milik Lopt, kan?"
Iblis Agung bermuka tiga itu bertanya memecah keheningan
dengan sikap kecewa.
"Lopt?"
Lopt, tentu saja ia sama sekali tidak pernah memiliki
kenalan dengan orang bernama aneh itu.
"Kamu tidak pernah mendengar nama aslinya? Kalau
begitu, apakah dia pernah menggunakan nama samaran seperti Loki?"
"—Hah!?"
Begitu mendengar nama yang keluar dari mulut sang iblis
Agung bermuka tiga, gelombang kejut yang amat luar biasa seolah menghantam
kepala Messy tanpa ampun.
"Hah! Dilihat dari reaksimu barusan, tebakanku tepat
sasaran, ya! Pria suram itu pastinya tidak akan memberitahukan nama aslinya
pada serangga sepertimu."
"Seperti biasanya, dia adalah pria yang selalu
ekstra berhati-hati sampai-sampai membuatku merasa muak."
Sambil mengangguk beberapa kali seolah telah paham, dewa
iblis bermuka tiga itu melontarkan kata-katanya.
"Kamu temannya Loki, kan?"
Dia bertanya dengan takut-takut. Karena jika benar
begitu, Messy mungkin tidak akan dihancurkan. Namun, harapan Messy yang seolah
memohon itu—.
"Dulu memang begitu! Tapi sekarang tidak lagi! Tuan
kami, Tuan Kai, merasa sangat muak dengan Pasukan Jahat itu sendiri! Karena
itu, Lopt yang masih menjadi bagian dari Pasukan Jahat adalah musuhku yang
jelas!"
Harapan itu dengan mudahnya dibantah oleh sang dewa iblis
bermuka tiga. Tidak, lebih dari itu, apa yang baru saja dikatakan oleh dewa
iblis bermuka tiga ini?
"Tadi... kamu bilang Pasukan Jahat, kan?"
Mana mungkin hal konyol seperti itu terjadi! Pasukan
Jahat adalah salah satu dari dua kekuatan besar yang menguasai hukum dunia ini.
Itu adalah organisasi jahat tempat dewa utama, Tuan
Charybdis, pernah bernaung.
"Jadi, kamu juga belum diberitahu soal itu? Fakta
bahwa kamu baik-baik saja setelah menyebut Pasukan Jahat membuktikan bahwa
pikiranmu tidak dimanipulasi."
"Sungguh aneh, itu sama sekali tidak seperti dirinya
yang sangat berhati-hati. Kalau dia yang biasanya, dia pasti sudah menjadikan
kalian semua boneka, jadi jangan-jangan ini karena urusan Pasukan Surga?"
Dewa iblis bermuka tiga itu pun terdiam dalam pikirannya.
"Ugh..."
Messy juga bukan orang bodoh. Dari serangkaian perkataan
dewa iblis bermuka tiga itu, dia menyadari situasi tanpa harapan yang sedang
dihadapinya.
"Ghk!"
Tubuhnya bergerak secara alami. Didorong oleh rasa takut
yang seolah masih mencekik lehernya, dia membalikkan badan dari dewa iblis
bermuka tiga itu dan berusaha melarikan diri.
"Yah, sudahlah. Lagipula aku sama sekali tidak
peduli dengan niat Lopt saat ini."
Bersamaan dengan perkataan itu, pandangan Messy retak
secara vertikal.
"Kehi?"
Tubuhnya terbelah menjadi dua tepat dari ujung
kepalanya.
"Kerusakan pada tubuh dan jiwa melebihi batas
perkiraan telah dikonfirmasi. Spell Alpha akan diaktifkan."
Bersamaan dengan suara datar yang bergema di dalam
kepalanya, kesadaran Messy pun memudar.
◇◆◇
Dari luka sayatan pria kurus kering yang terbelah rapi
dari ubun-ubunnya itu, muncul sejumlah tabung yang saling memperbaiki satu sama
lain. Selain itu, daging di permukaan seluruh tubuhnya mendadak berbusa dan
membengkak dengan cepat.
Dinding daging itu membentuk bola dan berusaha menelan
Asura.
"Cih! Sudah kuduga, dia meledakkan diri!
Benar-benar bajingan yang membosankan seperti biasa!"
Sambil melontarkan makian itu, dia mengayunkan pedang
besar bercabang duanya secara horizontal.
Dalam sekejap, cahaya menyilaukan memancar dan
menyelimuti seluruh area di sekitarnya.
Ketika pandangannya kembali normal, padang rumput di
hadapan Asura telah hancur membentuk kawah besar.
"Agii..."
Di tengah kawah itu, pria kurus kering bernama Messy
terbaring dalam kondisi sekarat, mengeluarkan suara aneh yang tidak bisa
disebut kata-kata.
"Ini pasti jebakan rahasia milik Lopt untuk melawan
Enam Dewa Langit. Sayangnya, ilmu kutukan sepele seperti ini sama sekali tidak
mempan padaku yang sekarang."
Asura melontarkan kata-kata itu lalu melangkah maju untuk
memberikan serangan penghabisan. Tiba-tiba, sesuatu berwarna hitam muncul di
depan Messy.
Begitu menyadari bahwa sosok itu adalah monster lalat
bipedal,
"Sekarang giliranmu, Beelzebub? Apa kau juga mau
bilang kalau orang ini melanggar aturan?"
Asura mengarahkan ujung pedang besarnya ke arah dewa
lalat agung Beelzebub, dan melemparkan pertanyaan dengan nada kesal.
"Ini adalah pupuk untuk membuat mainan yang akan
dimainkan oleh Tuan yang sangat Babu cintai, chu."
Mendengar jawaban Beelzebub yang terdengar sangat
bersemangat tidak seperti biasanya,
"Mainan untuk dimainkan Tuan Kai? Kroco yang
kelihatannya bakal mati hanya dengan satu tebasanku ini?"
Asura menyipitkan matanya dengan curiga.
"Ini hanyalah salah satu suku cadangnya, shu. Babu
yang akan membuatnya, chu. Babu akan menjadikannya mainan terbaik yang bisa
dinikmati oleh Tuan kita, chu."
Untuk ukuran Beelzebub, dia berbicara dengan sangat cepat
sambil mengisap dotnya hingga berbunyi berdecak, sebuah pemandangan yang sangat
langka.
"Mainan terbaik, ya... Apa kau juga berniat
memanfaatkan apa yang disebut kutukan di mansion ini?"
"Seberapapun kau memodifikasi seekor belatung,
apa menurutmu itu bisa mengalahkan Babu, chu?"
"Tentu saja itu mustahil."
Si Beelzebub ini, dia pasti sudah menentukan siapa yang
akan dia manfaatkan. Toh inti dari mainan itu pastilah makhluk yang kekuatannya
bisa membuat mata terbelalak.
Bagi Beelzebub, melihat Tuan Kai bersenang-senang dari
lubuk hatinya adalah kebahagiaan tertinggi. Dan sekarang, Beelzebub itu bilang
akan membuat sesuatu yang bisa bertarung sengit dengan Tuan Kai.
Kekuatannya pasti akan berada di luar nalar. Terlebih
lagi, sangat jarang melihat Beelzebub berbicara sebanyak ini, sehingga ini
pastilah rencana yang sangat besar baginya.
"Aku punya satu syarat."
"Apa itu, chu?"
Mendengar Beelzebub bertanya balik dengan nada yang
sedikit kesal,
"Sebelum dia bertarung melawan Tuan Kai, biarkan aku
bertarung melawan mainan itu dulu."
Asura menuntut dengan nada tegas.
"Kau mungkin akan mati, chu. Apa kau tetap mau
melakukannya, chu?"
Jadi dia berniat menciptakan monster di level yang
mengharuskan Asura yang sekarang untuk mempertaruhkan nyawanya? Beelzebub
memang sinting seperti biasanya.
"Ya, aku tidak peduli."
Satu-satunya yang pantas bermain dengan Tuan Kai hanyalah
Asura. Dia tidak berniat menyerahkan peran itu kepada siapa pun di dunia ini.
Beelzebub menatap Asura dalam diam untuk beberapa saat.
"...Baiklah, chu."
Setelah menjawab dengan datar, dia dan pria kurus kering
itu menghilang ke dalam kegelapan hitam.
Siapa pun itu tidak ada hubungannya, sebab Asura telah
bersumpah pada Tuan Kai.
Dia bersumpah akan mendaratkan satu pukulan telak pada
Tuan Kai! Satu-satunya yang akan memuaskan dahaga Tuan Kai, sang penguasa
mutlak, adalah dirinya, Asura!
"Aku... akulah yang akan memastikan harapanmu
terwujud, Tuan Kai!"
Dengan tekad yang kuat, Asura mengangkat pedang
besarnya ke langit dan mengaum keras.
◇◆◇
—Lantai Basement Dua.
Kawanan boneka yang memegang berbagai senjata seperti
kapak dan pisau memenuhi lantai, dinding, dan langit-langit. Mereka benar-benar
sebuah pasukan besar.
Bagaikan ombak raksasa, mereka menyerbu ke arah
pemuda berambut abu-abu yang baru saja menuruni tangga dari lantai atas.
Dengan jumlah yang begitu luar biasa ini, secara
logika, pemuda berambut abu-abu itulah yang akan berakhir menjadi daging
cincang.
Namun, saat beberapa garis cahaya berkelebat melesat
di sekitar pemuda itu, tak satu pun boneka yang tersisa. Semuanya hancur
menjadi debu dan berserakan menumpuk di atas lantai.
Barisan monster wanita berambut panjang yang
merangkak menyerbu pemuda berambut abu-abu itu secara bergerombol.
Namun, hanya dengan satu ayunan pedang yang santai,
mereka hancur menjadi serpihan darah dan daging yang membasahi lantai layaknya
hujan merah.
Seekor iblis bertubuh raksasa yang tampak seperti
Kepala Koki melihat kejadian itu. Dia menjerit tertahan dan berbalik untuk
kabur, tetapi leher dan tubuhnya tetap saja tertebas hingga menggelinding
menyedihkan di lantai.
"..."
Kematian itu menjadi pemicu utamanya. Kepala Koki yang
merupakan petarung tangguh telah dibunuh dengan begitu mudahnya.
Zombi koki dan hantu lainnya yang menatap kosong pada
pemandangan mustahil itu langsung menjerit ketakutan.
Mereka lari kocar-kacir membubarkan diri bagaikan anak
laba-laba yang sarangnya dihancurkan.
Pemuda berambut abu-abu itu berdecak pelan lalu
mengayunkan pedang panjangnya dengan ringan. Hanya dengan gerakan sesederhana
itu, kepala dan anggota tubuh para monster terputus lalu jatuh berdebum ke
tanah.
Ya, ini adalah pembantaian sepihak oleh yang terkuat.
Tidak, bukan, ini hanyalah rutinitas membuang sampah, atau lebih tepatnya
operasi pembasmian hama.
Sebuah tindakan sepihak yang begitu kejam dan sama sekali
tidak masuk akal.
Hantu-hantu di tempat ini telah diperkuat secara
signifikan, hingga satu ekor saja memiliki kekuatan untuk membantai habis tim
elit Babel.
Berkat energi kutukan yang meluap di dalam tubuh mereka,
para hantu itu sama sekali tidak meragukan kekuatan mereka sendiri.
Memang benar bahwa hantu-hantu di sini adalah kerabat
dari Raja Kutukan yang telah memperoleh sifat keilahian dan berevolusi menjadi
dewa tingkat atas, atau dengan kata lain, utusan dewa. Dalam situasi normal,
penilaian mereka itu sudah sangat tepat.
Akan tetapi, yang sedang menyerang mereka saat ini adalah
makhluk tidak masuk akal terkuat di dunia ini. Eksistensinya telah melampaui
level yang bisa ditangani oleh dewa tingkat atas sekalipun.
Setelah menyadari fakta itu dari lubuk jiwa terdalam,
keputusan pertama mereka untuk melarikan diri adalah tindakan yang sangat masuk
akal.
Sayangnya, ada juga makhluk bodoh di antara kutukan di
mansion ini yang bahkan tidak mampu membuat keputusan sejelas itu.
"Para pengecut yang mencoba lari dari musuh,
kembalilah ke tanah!!"
Gada besi raksasa diayunkan ke arah para hantu yang
kabur, mengubah belasan dari mereka menjadi gumpalan daging yang terlempar ke
udara.
"Ini adalah pertempuran pertama sejak Raja kita
turun ke dunia ini. Sekalipun kalian hancur, jiwa kalian akan terus hidup
sebagai darah dan daging dari Raja kita!"
Mendengar jaminan dari raksasa penuh jahitan yang berucap
dengan bangga namun sama sekali tidak memberikan dorongan semangat itu,
"..."
Semua monster hanya bisa menggemeretakkan gigi tanpa
berani bergerak sedikit pun.
Tentu saja, pada dasarnya kerabat Raja Kutukan akan
pulih dalam beberapa menit meskipun telah ditebas, sehingga kematian instan
adalah hal yang mustahil bagi mereka.
Namun, tepat setelah ditebas oleh pemuda berambut
abu-abu itu, mereka benar-benar berubah menjadi mayat yang bungkam.
Seoptimis apa pun mereka memandangnya, mereka tidak
yakin bisa terus hidup sebagai darah dan daging Raja Kutukan.
"Aku memerintahkan kalian untuk menyerang!"
Dia kembali memukuli hantu-hantu di sekitarnya sampai
mati dengan gada besinya sambil melontarkan teriakan marah.
"!!"
Dari depan, sesosok monster misterius terus mendekat,
sementara dari belakang, raksasa penuh jahitan yang bertindak sebagai komandan
memaksa mereka bertarung.
Terjebak dalam situasi maju kena mundur pun kena, para
hantu itu menerjang ke arah pemuda berambut abu-abu dengan wajah yang berlinang
air mata dan ingus ketakutan.
"Guga?"
"Kehe!"
Sambil mengeluarkan suara konyol, tubuh para hantu yang
menyerang pemuda berambut abu-abu itu terurai menjadi balok-balok kecil sebelum
berjatuhan ke tanah.
Detik berikutnya, balok-balok itu hancur hingga ke
tingkat molekuler.
Melihat pemandangan mengerikan di mana tak ada satu pun
mayat yang tersisa,
"Monster..."
Hantu tinggi berpakaian pelayan menggumamkan kata itu
dengan wajah pucat pasi karena ketakutan. Sesaat kemudian, gumaman itu menyebar
ke hantu-hantu lainnya.
"Ugh..."
Seorang hantu mengerang pelan. Tepat setelah itu, rasa
takut yang sedari tadi tarik-menarik antara maju melawan harimau atau mundur
melawan serigala, akhirnya condong sepenuhnya ke satu sisi.
"Uwaaaah!!"
Mereka secara serempak menjerit histeris, berbalik
membelakangi pemuda berambut abu-abu itu, dan mulai berlari tunggang langgang.
"H-Hei, kalian tidak boleh lari!"
Raksasa penuh jahitan itu dengan panik memberikan
perintah kepada hantu-hantu lain, tetapi tidak ada yang mendengarkannya dan
semuanya kabur berebutan.
"Aku tak akan membiarkan kalian lolos."
Suara dingin tanpa belas kasihan milik pemuda berambut
abu-abu itu bergema.
Segera setelah itu, kepala semua hantu yang sedang
berlarian terlepas dari tubuh mereka, lalu terbanting ke lantai batu yang keras
dengan ekspresi ketakutan yang kaku.
Sesaat kemudian, tubuh dan kepala mereka hancur menjadi
partikel-partikel debu.
"Hah?"
Mungkin dia masih belum bisa mencerna situasinya. Raksasa
penuh jahitan itu mengeluarkan suara konyol sambil menatap tragedi di depan
matanya.
"Kaulah pemimpin mereka, kan?"
"..."
Kepada raksasa penuh jahitan yang masih terbengong tanpa
membenarkan atau menyangkal hal tersebut,
"Aku tidak tertarik dengan para kroco. Antarkan
aku ke tempat yang namanya Raja Kutukan itu."
Pemuda berambut abu-abu itu menodongkan ujung pedang
panjangnya tepat ke depan hidung raksasa itu dan memberikan perintah dengan
nada keras.
"...J-Jangan bunuh aku..."
Mendengar raksasa penuh jahitan itu memohon ampun dengan
suara yang nyaris menghilang, pemuda berambut abu-abu itu mengerutkan kening
dengan perasaan sangat muak.
"Aku tidak punya banyak waktu luang. Karena itu...
cepat antarkan aku!"
Dia menuntut dengan teriakan keras yang memekakkan
telinga.
"Hiiik!"
Melihat raksasa penuh jahitan itu langsung berlari
terbirit-birit,
"Lagi-lagi makhluk rendahan, ya... Tapi,
jika itu adalah Raja Kutukan di mansion ini..."
Pemuda berambut abu-abu itu memejamkan mata, menarik
napas dalam-dalam, lalu berlari mengejarnya.
◇◆◇
Raja Kutukan, Curse King, paling menyukai rasa takut
makhluk lain di atas segalanya.
Karena itu, dia selalu menarik mangsanya ke dalam Alam
Kutukan miliknya, menyiksa mereka secara perlahan, dan memeras habis rasa takut
mereka sampai tetes terakhir.
Baru setelah itu, dia akan membunuh mereka dengan kutukan
dan mengikat jiwa mereka.
Tentu saja, ada segelintir orang yang berhasil lolos dari
ikatan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang dipengaruhi oleh mantan manusia
serangga bernama Ruchiel.
Kemungkinan besar, itu karena kemampuan khusus bernama Gift
yang dimiliki oleh ras manusia sialan itu.
Orang itu memiliki kekuatan untuk membebaskan manusia
serangga dari belenggu Curse King dan menyembunyikan mereka di wilayah
khususnya sendiri di dalam mansion ini.
Gara-gara kekuatan sialan inilah, Ruchiel bisa
memerintahkan hantu-hantu bawahannya untuk menakut-nakuti dan mengusir serangga
yang menyusup ke mansion ini.
Tujuannya agar mereka tidak memenuhi syarat untuk ditarik
ke dalam Alam Kutukan milik Curse King, dan karena itulah jalan evolusi Curse
King tertutup hingga saat ini.
Arah angin berubah sejak kedatangan sosok mulia itu. Dewa
yang menyebut dirinya Messy tersebut memberikan kekuatan kepada Curse King
untuk mencapai tahap dewa.
Setelah mendapatkan kekuatan itu, situasinya langsung
berbalik seratus delapan puluh derajat.
Sekarang, Curse King bahkan bisa menarik serangga
pengganggu yang belum memenuhi syarat ke dalam Alam Kutukan miliknya.
Masalah ini tidak diberitahukan secara detail kepada
Victor, sang pencipta Curse King, demi memanfaatkannya dengan baik.
Meski disebut pencipta, bagi Curse King, Victor hanyalah
sebuah alat praktis untuk membebaskan dirinya dari mansion terkutuk ini.
Pada akhirnya, Victor menyelesaikan perannya sebagai alat
dan membawakan manusia mutan itu ke hadapan Curse King.
Begitu manusia itu ditarik masuk, tingkatan Curse King
melonjak drastis dan dia pun terbebas dari mansion ini dengan mudah.
Karena Curse King telah lepas dari belenggu sialan
mansion ini, sisanya hanyalah pekerjaan rutinitas belaka.
Curse King tidak perlu repot-repot menyebarkan
kutukan secara langsung lagi.
Dia menyerahkan tugas menaklukkan Babel kepada salah
satu utusannya yang bernama Hizumi.
Sementara itu, Curse King memutuskan untuk bermain
Permainan Kutukan menggunakan wanita ras Elf, salah satu mangsa tidak tahu diri
yang baru saja menerobos masuk ke mansion ini.
Permainan Kutukan adalah salah satu jurus rahasia Alam
Kutukan untuk menyudutkan mangsa secara perlahan lalu menyerap kepanikan mereka
sebagai nutrisi.
Rasa takut yang dialami mangsa di dalam Alam Kutukan ini
akan terserap langsung ke dalam diri Curse King.
Mangsa yang takluk dalam Permainan Kutukan ini akan
dipajang wajahnya di dinding ruangan ini.
Pada saat yang sama, kemampuan fisik, Mana, Skill,
hingga Gift mereka akan sepenuhnya menjadi kekuatan Curse King.
Menurut informasi dari Victor, Elf yang dikirim oleh
Babel kali ini memiliki Gift yang sangat berguna.
Tujuan utama Curse King adalah menjadi Dewa Kutukan
terkuat yang melampaui Tuan Messy yang telah membuatnya berevolusi.
Karena itulah, wanita Elf ini wajib dijadikan sebagai
kekuatannya sendiri.
Pertama-tama, dia membiarkan Elf itu kabur,
menyudutkannya secara perlahan, lalu menggiringnya agar melarikan diri ke
lantai atas. Tentu saja, mansion ini sekarang bisa diubah-ubah sesuka hati
Curse King.
Karena itu, saat Elf itu membuka pintu di lantai atas dan
bergegas masuk, pintu tersebut malah terhubung langsung dengan ruangan tempat
Curse King dilahirkan ini.
"Eh?"
Suara konyol itu meluncur keluar dari mulut sang Elf yang
tadinya memasang wajah lega.
Dengan ekspresi bersyukur karena selamat, Elf itu menoleh
ke sekeliling untuk mengecek keadaan.
Namun, saat dia melihat kepala-kepala manusia hidup yang
tertanam di dinding tertawa cekikikan sambil meneteskan air mata darah,
wajahnya seketika memucat dalam keputusasaan.
"Hiiiii!"
Dia memekikkan jeritan yang memekakkan telinga.
Emosi ketakutan yang kental mengalir masuk ke dalam
diri Curse King.
"Lezat! Ini rasa takut kualitas terbaik!"
Benar tebakannya, menyalakan cahaya harapan di hati
mereka lebih dulu, lalu mengubah cahaya itu menjadi teror dan keputusasaan. Ini
adalah cara paling efisien untuk memanen rasa takut dari manusia-manusia ternak
itu.
Curse King melesat mendekati sang Elf yang masih
menjerit histeris, lalu memotong lengan kirinya dengan golok.
"Gaaaaah!"
Curse King perlahan mendekati sang Elf yang menjerit
dengan wajah berkerut kesakitan, lalu kembali mengangkat goloknya.
Dia bisa merasakan rasa takut yang lebih berkualitas
mengalir masuk ke dalam dirinya. Sebagai dorongan terakhir, jika dia memutilasi
wanita Elf ini secara perlahan, Permainan Kutukan ini akan selesai.
Namun, tepat ketika dia hendak mengayunkan goloknya
ke bawah, pintu besar Rahim Kutukan di Lantai Basement Tiga ini terbuka dan
sesosok raksasa penuh jahitan benar-benar menggelinding masuk.
Raksasa ini adalah Hagirya, utusan tingkat tinggi
yang bertugas menjaga mati-matian Lantai Basement Dua. Dia sangat setia kepada
Curse King dan mustahil baginya untuk memberontak.
Namun, Hagirya dengan tidak sopan menunjuk ke arah
Curse King seraya berseru,
"Raja kita ada di sini!"
Benar, dia melontarkan kata-kata pengkhianatan. Sesaat
kemudian—.
"Terima kasih sudah mengantarku. Sebagai hadiahnya,
kuberikan kematian padamu."
Bersamaan dengan kata-kata yang membuat bulu kuduk
berdiri itu, seluruh tubuh Hagirya terbelah menjadi dua secara vertikal.
Di tengah cipratan darah merah pekat yang berterbangan,
entah sejak kapan seorang pemuda berambut abu-abu telah berdiri di samping
Hagirya.
"Apa maksudnya ini?"
Hagirya adalah utusan tingkat atas Curse King, jadi
mustahil dia cukup lemah untuk kalah dari seorang manusia rendahan. Terlebih
lagi, tidak ada aura ancaman yang terpancar dari pemuda itu sama sekali.
Bahkan para pelajar manusia yang menyusup ke mansion ini
terasa jauh lebih tangguh darinya. Namun, pemuda yang seharusnya lemah itu
mampu membunuh Hagirya tanpa memberikan kesempatan melawan.
Selain itu, Curse King bahkan sama sekali tidak bisa
menyadari pergerakannya barusan. Bagaimana dia harus memahami situasi tak masuk
akal ini?
Saat Curse King berkedip sekali dalam kebingungannya,
"Ghk?!"
Manusia berambut abu-abu itu tiba-tiba sudah berdiri
tepat di depan matanya.
"Minggir. Kau menghalangi jalan."
Ketika menatap mata pemuda berambut abu-abu yang
mengucapkan perintah itu, Curse King merasa seolah-olah sedang berada di dalam
mulut monster bercaling tajam yang luar biasa besar. Secara refleks, dia
melompat mundur hingga ke sudut ruangan.
Dari ujung jari hingga ke sekujur tubuhnya, sebuah
getaran dahsyat yang baru pertama kali dirasakannya seumur hidup langsung
merambat cepat.
Sama sekali tidak mempedulikan Curse King, pemuda
berambut abu-abu itu mendekati wanita Elf yang sedang tercengang. Dia
mengeluarkan cairan berwarna merah dari sakunya,
"Minumlah ini."
Dia menyerahkan botol itu dengan nada lembut dan
memberikan instruksi.
"B-Baik..."
Saat wanita Elf itu meminumnya dengan setengah ragu, luka
di sekujur tubuhnya langsung sembuh seketika. Curse King pernah mendengar hal
ini dari Victor sebelumnya.
Itu pasti barang yang dibuat manusia bernama ramuan
pemulihan. Curse King sama sekali tidak menyangka kinerjanya akan sehebat itu.
Namun, bagi para kutukan seperti Curse King, pemulihan
fisik bukanlah sebuah keajaiban melainkan fenomena biasa. Hal semacam ini sama
sekali tidak pantas untuk dikagumi.
"..."
Sambil merendahkan pusat gravitasinya dan memasang
kuda-kuda dengan perasaan krisis yang masih bergejolak kuat, Curse King terus
mengamati manusia berambut abu-abu itu.
"Raja, apa yang terjadi, kuma?"
Mendengar suara tanya Yugami yang keheranan, barulah
Curse King tersadar kembali. Di saat yang sama, rasa malu yang luar biasa hebat
menyergapnya.
Benar juga. Dia ini hanyalah bocah manusia biasa.
Apa pantas Curse King yang telah memperoleh keilahian dan
menjadi dewa ini merasa takut pada serangga sampah sepertinya? Hal itu sama
sekali tidak boleh dibiarkan terjadi.
"Segala hal yang dilakukan penghuni mansion ini
benar-benar membuatku kesal."
Pemuda berambut abu-abu itu memindahkan pandangannya ke
arah koleksi kepala-kepala yang tumbuh dari dinding, lalu meludahinya dengan
raut wajah sangat tidak nyaman.
"Hmph! Kalau kau kesal memangnya kenapa, kuma!"
Mendengar teriakan Yugami yang mendengus angkuh,
ketenangan Curse King yang biasanya pun kembali memulih.
Kekuatan yang terasa dari manusia ini bahkan lebih rendah
dari serangga. Dengan kata lain, dia hanyalah manusia yang lemah.
Alasan Curse King tidak bisa menyadari pergerakannya
pasti karena Gift penghalang persepsi.
Terkadang, memang ada manusia yang terlahir dengan
kemampuan luar biasa yang tidak sesuai dengan derajat mereka.
Tentu saja, fakta bahwa Hagirya telah terbunuh tidak bisa
diabaikan. Sudah pasti ada seseorang di antara mereka yang memiliki senjata
untuk membunuh kerabat Curse King.
Kemungkinan besar, kemampuan pemuda itulah yang membuat
rekan-rekannya tidak bisa disadari oleh pihak Curse King.
"Yugami! Musuhnya bukan hanya dia seorang! Jangan
lengah!"
Mendengar ucapan Curse King, pemuda berambut abu-abu itu
menghela napas panjang lalu berucap,
"Awalnya aku berpikir ingin melakukan pertempuran
yang menggetarkan jiwa dengan apa yang disebut Raja Kutukan itu, tapi aku
berubah pikiran. Tak peduli kalian menangis atau menjerit, aku akan
memperlihatkan neraka dunia ini pada kalian tanpa menyisakan satu pun."
Sambil mengarahkan ujung pedang panjangnya ke Curse King,
dia memuntahkan kata-kata sombong dan penuh arogansi dengan penuh penekanan.
Kemampuan penghalang persepsi milik bocah ini sangat
merepotkan. Curse King harus melenyapkannya menggunakan kutukan terkuat
miliknya.
"Curse Punishment!"
Dengan membentuk segel menggunakan kedua tangannya, Curse
King mengaktifkan kartu as miliknya, Curse Punishment.
Kutukan dalam jumlah tak terhitung bermanifestasi di
bawah kaki pemuda berambut abu-abu itu, mengambang di sekitarnya seolah
memiliki nyawa sendiri.
Kemudian, benang-benang merah pekat berbentuk jaring
muncul dari kutukan tersebut, dan sepenuhnya membungkus tubuh pemuda itu tanpa
celah.
"Hmph! Kekanakan!"
Begitu seseorang tertangkap dalam Curse Punishment
ini, daya tahannya akan menjadi tidak berarti.
Target akan dipaksa merasakan hukuman dibakar, disalib,
dipenggal, digergaji, dan berbagai penderitaan keji lainnya.
Sekarang, pemenangnya sudah bisa dipastikan.
"Inilah akibat karena menyombongkan diri meskipun
kau hanya makhluk lemah."
Nah, Curse King tidak peduli lagi dengan serangga sampah
yang telah jatuh ke dalam kutukan itu. Saatnya memulai kembali Permainan
Kutukan.
Namun, ketika dia hendak melangkah maju mendekati sang
Elf,
"Membosankan."
Begitu suara pemuda yang kesal itu terdengar dari dalam
kepompong, kepompong merah yang membungkusnya langsung hancur berkeping-keping.
"A... pa?"
Menyadari kenyataan yang sama sekali tidak masuk akal
itu, Curse King bergumam penuh keterkejutan seolah kepalanya baru saja dihantam
keras.
Tentu saja. Meskipun Curse Punishment hanya
berlaku pada makhluk hidup, sekali kutukan itu diaktifkan, secara teori
mustahil ada yang bisa menahannya.
"Muak, aku benar-benar muak. Apa kalian
melakukan hal sebesar ini hanya dengan kecerdasan setingkat Goblin?"
Tanpa berusaha menyembunyikan kekesalannya, manusia
berambut abu-abu itu melemparkan pertanyaan kepada Curse King dan
rekan-rekannya yang masih berdiri membeku.
"Mustahil! Ini adalah kutukanku yang telah
berubah menjadi Dewa!"
Memang benar, terkadang di antara umat manusia
terlahir orang-orang yang memiliki resistensi terhadap kutukan. Bagi manusia
yang memilikinya, bahkan kutukan terkuat yang mampu membunuh seekor naga
sekalipun tidak akan memberikan efek berarti.
Akan tetapi, itu hanya berlaku untuk energi kutukan milik
Curse King yang dulu.
Di dunia fana ini, tidak ada satu pun hal yang tidak bisa
dibunuh dengan kutukan oleh Curse King yang sekarang telah mencapai tahap dewa.
Tidak, hal semacam itu sama sekali tidak boleh ada! Kalau
begitu, bagaimana dia harus menjelaskan tentang eksistensi aneh di depan
matanya ini?!
"Tenanglah!"
Curse King berusaha keras mendinginkan kepalanya yang
kacau balau, dan mengembalikan pikirannya yang berantakan ke kondisi semula.
Fakta nyatanya adalah, kutukan Curse King tidak mempan
terhadapnya.
Kalau begitu, selama makhluk tidak menyenangkan ini
dibunuh untuk memotong kekhawatiran di masa depan, semuanya akan selesai.
Lagipula, bocah itu hanyalah manusia biasa yang kebal
terhadap kutukan. Tanpa menggunakan kutukan pun, dia cukup dihancurkan secara
fisik saja.
Serangan rekan-rekannya juga hanya menjadi ancaman berkat
kemampuan penghalang persepsinya.
Jika pemuda berambut abu-abu itu dibunuh, efeknya akan
terlepas dan rekan-rekannya pasti akan terlihat dengan sendirinya.
"Bunuh sampah masyarakat yang tidak menyenangkan
itu!"
Sambil mengamati sekeliling dengan waspada agar tidak
terjadi hal di luar dugaan, dia memerintahkan Yugami untuk memusnahkan bocah
berambut abu-abu tersebut.
"Sesuai perintahmu, kuma!"
Saat tubuh Yugami membesar hingga sekitar tiga meter,
leher panjang seorang pria bermata jahit menjulur keluar dari mulutnya, lalu
merapalkan kutukan.
Seketika itu juga, puluhan boneka beruang raksasa
bertaring dan bercakar tajam bermunculan dari lantai batu, kemudian mengepung
pemuda berambut abu-abu tersebut.
"Aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja! Aku
akan membiarkanmu menikmati penderitaan dan teror seolah ingin mati
sepuas-puasnya!"
Bahkan dengan mengandalkan gangguan persepsi, sampah
manusia ini tidak akan mungkin bisa menang melawan Yugami.
"Kebetulan sekali. Aku juga baru saja memikirkan hal
yang sama."
Sambil menepuk bahunya dengan bagian punggung pedang
panjang, dia mengarahkan ujung pedang ke arah kawanan Curse King dan
melontarkan omong kosong tersebut. Menanggapi ucapan yang sangat tidak sopan
dari manusia berambut abu-abu itu,
"Dasar manusia rendahan sialan!"
Yugami menjadi murka, dan seketika kawanan boneka beruang
itu menyerbu manusia berambut abu-abu secara serempak.
Yugami adalah utusan kutukan tertua yang diciptakan oleh
Curse King, eksistensi yang sudah mencapai tahap keilahian.
Kekuatannya berada di level yang sepenuhnya berbeda dari
utusan lain, dan ras manusia mutlak tidak akan bisa melawannya.
Sekalipun itu adalah pahlawan legendaris terkuat dari ras
manusia, satu ekor saja kerabat Yugami sudah cukup untuk mengubahnya menjadi
daging cincang dalam sekejap.
Karena itulah, Curse King tidak meragukan sedikit pun
masa depan di mana manusia berambut abu-abu itu berakhir menjadi mayat yang
mengenaskan.
Namun, prediksi yang semanis gula itu... dipatahkan
dengan begitu mudahnya.
Tepat ketika boneka-boneka utusan Yugami hendak menyentuh
pemuda berambut abu-abu itu, mereka mendadak hancur berkeping-keping dan jatuh
berhamburan ke atas lantai batu yang dingin.
"Eh?"
Saat Yugami mengeluarkan suara keheranan, sosok manusia
berambut abu-abu itu tiba-tiba menghilang tanpa bekas.
"K-Ke mana dia pergi, kuma—"
Ketika Yugami sibuk mencari-cari dengan nada cemas, tubuh
raksasanya mendadak terangkat. Di belakangnya, berdiri si pemuda berambut
abu-abu yang mengangkat Yugami dengan satu tangan kiri tanpa kesulitan sama
sekali.
"S-S-Sejak kapan—?!"
Yugami mengepakkan kedua tangan dan kakinya berusaha
kabur, sambil berteriak menanyakan hal yang wajar dalam kepanikannya.
"Kalian bertindak terlalu jauh."
Suara dingin yang mampu membekukan jiwa terdengar dari
manusia berambut abu-abu itu. Dalam sekejap, tubuh raksasa Yugami dilempar ke
atas hingga menabrak langit-langit ruangan batu, sebelum akhirnya jatuh
perlahan.
Tempat jatuhnya tepat berada di atas kepala manusia
berambut abu-abu itu.
"Giyaaaaaah!!!"
Sambil memekikkan jeritan yang dipenuhi rasa takut
mendalam—sebuah reaksi yang mustahil untuk ukuran replika Curse King—ubun-ubun
Yugami yang sedang melayang turun tertusuk telak oleh pedang panjang si pemuda.
Dan kemudian—.
"Gugekekekekeek!"
Sambil mengeluarkan suara jeritan aneh, tubuh Yugami
perlahan dirobek membentuk pola salib. Manusia berambut abu-abu itu menarik
pedang panjangnya dari tubuh Yugami yang terbelah, lalu menendangnya dengan
acuh tak acuh.
Hanya dengan begitu saja, seluruh tubuh Yugami meledak
bagaikan buah merah matang, menumpahkan darah dan daging seperti hujan lebat
berwarna merah.
"..."
Pikiran Curse King tidak bisa memproses semua kejadian
ini. Pria berambut abu-abu itu tetap saja tidak memancarkan Mana maupun
energi kutukan yang berarti, sehingga dia pastilah manusia biasa.
Meski begitu, utusan Yugami dicincang halus dalam sekejap
mata, dan bahkan Yugami yang notabene adalah belahan jiwa Curse King
dihancurkan bagaikan serangga.
Pria berambut abu-abu yang seharusnya lemah itu, kini
terlihat seperti monster misterius yang mengerikan di mata Curse King.
"Nah, sekarang..."
Pemuda berambut abu-abu itu menepis darah di pedang
panjangnya, lalu menatap tajam layaknya burung pemangsa.
Dengan putus asa, Curse King berusaha menepis tekanan
luar biasa yang membuatnya merasa seolah-olah jiwanya sedang diremas,
"Dasar bajingan! Aku tak akan pernah memaafkan
tindakan tidak sopanmu pada diriku yang telah menjadi dewa ini!"
Curse King mengamuk dan membentuk segel dengan kedua
tangannya. Dia mengerahkan seluruh sisa energi kutukannya untuk
menciptakan kutukan mematikan, lalu memerintahkan mereka untuk membunuh pemuda
itu.
Ratusan, bahkan mungkin hingga ribuan kerabat Curse King
yang terbentuk dari kumpulan kutukan kental, menerjang serentak untuk mengubah
manusia berambut abu-abu itu menjadi daging cincang.
"Dead Line."
Kata-kata maut tanpa ampun dari pemuda berambut abu-abu
itu menggema, dan seketika ribuan garis cahaya membelah para kerabat yang
menerjang.
Tepat sebelum serangan itu mengenainya, persis di depan
mata, para kerabat tersebut hancur menjadi serpihan daging dan bertebaran ke
mana-mana.
"Kenapa... kenapa! Kenaaapaa!"
Curse King mulai putus asa. Walaupun dia menciptakan
Raksasa Kutukan untuk menghantamkan godamnya, lengan, kaki, leher, sekaligus
godam raksasa itu seketika terpisah dari tubuhnya sebelum akhirnya hancur
menjadi debu.
"Aku tak mengakuinya! Aku tak akan pernah
mengakuinya! Kali ini, aku sudah menjadi dewa!"
Dia memanifestasikan seluruh sisa kutukannya dan
menembakkannya ke arah bocah itu.
Kutukan yang berubah menjadi ombak besar nan keruh itu
berusaha menelan si pemuda berambut abu-abu, tetapi pemuda itu hanya menepisnya
dengan tangan kiri, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.
Seketika, kutukan yang sanggup membunuh seekor naga hanya
dengan satu sentuhan itu sirna tanpa sisa sedikit pun.
"Dewa? Jangan bilang kau melakukan hal serendah ini
hanya demi sesuatu yang bahkan tidak pernah ada?"
Tepat setelah suara yang sarat akan amarah kental milik
pemuda itu terdengar, sosoknya menghilang dari pandangan dan tiba-tiba saja dia
telah mencengkeram bagian belakang kepala Curse King.
Sepersekian detik kemudian, wajah Curse King dibenturkan
dengan keras ke lantai batu.
"T-Tunggu!"
Bersamaan dengan benturan luar biasa di wajahnya, rasa
sakit tak tertahankan seolah ditusuk besi panas tembus ke seluruh tubuhnya,
membuatnya menjerit memohon agar dihentikan.
Namun, tanpa mempedulikan teriakan Curse King, manusia
berambut abu-abu itu kembali membenturkan wajahnya ke lantai berulang kali.
"Kumohon, tunggu!"
Curse King meronta sekuat tenaga untuk meloloskan diri,
tetapi cengkeraman itu tidak goyah sedikit pun.
Tanpa bisa berbuat apa-apa, Curse King hanya bisa pasrah
wajahnya terus dibenturkan ke lantai.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Di tengah
ketakutan dan penderitaan luar biasa itu, Curse King memohon berulang kali agar
pemuda itu berhenti.
Namun, pemuda berambut abu-abu itu tidak mengindahkannya
dan terus menghantam wajah Curse King ke tanah dalam diam.
Mengerikan—kekuatan di luar nalar milik pemuda
berambut abu-abu ini!
Mengerikan—aura sangat kental dan kejam yang
dipancarkannya hingga membuat seluruh kulit Curse King perlahan meleleh!
Mengerikan—lebih dari segalanya, jiwa tanpa sedikit pun
belas kasih dan ampun itu! Segala hal tentang monster berambut abu-abu ini
terasa sangat menakutkan sampai-sampai Curse King hampir menjadi gila.
Akhirnya, pemuda berambut abu-abu itu membuang Curse King
layaknya sampah, lalu membungkuk dan menatapnya ke bawah.
"Hiiik!"
Curse King dengan jelas menyadari kebencian kuat di balik
tatapan mata pemuda itu kepadanya.
Dia menjerit dan berusaha merangkak kabur dari monster di
depannya, tetapi pemuda itu langsung menginjak punggungnya.
Kutukan terbaik Curse King maupun utusan terkuat
kebanggaannya sama sekali tidak mempan terhadap monster ini.
Apalagi, pertarungan ini terjadi di dalam Alam Kutukan
miliknya yang seharusnya melemahkan siapapun yang menyusup ke mari.
Bagaimanapun caranya, Curse King mutlak tidak bisa
memenangkan pertarungan melawan monster ini. Dan kenyataan itu....
"A-Ampuni aku! Aku sama sekali tidak tahu kalau Anda
adalah dewa yang agung!"
Itu secara tidak langsung membuktikan bahwa pemuda
berambut abu-abu ini adalah entitas keilahian yang setara dengan Curse King. Ya, tidak salah lagi, monster ini adalah dewa dengan kasta tertinggi di
antara para dewa.
Dia adalah penguasa mutlak yang bahkan mustahil untuk
ditemui oleh dewa baru sekelas Curse King.
Sialnya, kali ini Curse King justru mencari gara-gara
dengan monster sungguhan ini.
"Oh? Jadi kamu akan menentukan perlakuanmu pada
lawan berdasarkan identitasnya?"
Injakan di punggungnya semakin diperkuat hingga
meremukkan tulang belakang dan mengocok organ dalamnya menjadi bubur, membuat
tanah di bawahnya amblas.
"Gugek!"
Fakta itu sudah sangat jelas baginya. Sekalipun dia
memohon ampun pada monster ini sekarang, hasilnya mutlak akan sia-sia.
Sebaliknya, setiap kali Curse King berbicara, siksaan
yang dia terima terasa semakin kejam.
Karena jika dia terus berdiam diri dia pasti akan disiksa
hingga lenyap tak tersisa, dia harus mengambil langkah terakhir.
"J-Jika kau membunuhku, jiwa-jiwa di ruangan ini
tidak akan pernah bisa kembali lagi!"
Dia memutuskan untuk bertaruh besar-besaran untuk
menyelamatkan nyawanya.
Tekanan kaki yang menginjak punggung Curse King seketika
menghilang. Lalu—.
"Begitu, ya. Jiwa-jiwa yang terperangkap di kamar
ini ternyata masih utuh. Kalau begitu, mungkin aku masih belum terlambat."
Entah dari mana, pemuda berambut abu-abu itu mengeluarkan
sebuah buku.
Tiba-tiba saja, beberapa ekor slime bermunculan dan
melompat kegirangan di sekeliling pemuda itu.
"Bisa kalian sembuhkan orang-orang di dinding
itu?"
Dia mengucapkan omong kosong menggelikan yang membuat
orang ingin tertawa.
Slime-slime itu melompat beberapa kali, lalu membelah
diri dan menempel di dinding. Setelah itu, mereka menelan ribuan kepala yang
tumbuh menonjol dari dinding tersebut.
"Gugaaah!"
Tiba-tiba, rasa sakit luar biasa seolah sarafnya
disayat langsung oleh benda tajam merambat ke sekujur tubuh Curse King.
Rasa sakit ekstrem itu terus terjadi berulang kali
secara beruntun.
Di tengah rasa sakit yang begitu hebat hingga membuat
pandangannya kabur, dia mendongakkan wajahnya.
"M-Mustahiiiil!"
Sebuah realita yang benar-benar tidak masuk akal
sedang terjadi tepat di depan matanya.
Manusia-manusia yang jiwanya telah sepenuhnya
tercemar kutukan Permainan Kutukan, kini satu per satu terbaring di lantai
dalam wujud fisik orang hidup.
Padahal, tepat saat mereka tertangkap ke dalam Permainan
Kutukan, tubuh fisik mereka sudah dipastikan mati.
Menghidupkan kembali tubuh yang telah hancur menjadi
wujud yang sempurna merupakan keajaiban yang mustahil dilakukan bahkan oleh
dewa dengan kasta tertinggi sekalipun.
Terlebih lagi, dari mana asalnya rasa sakit mengerikan
seolah sarafnya direnggut paksa ini?
"Gugiii!"
Jangan-jangan rasa sakit ini muncul setiap kali
kepala-kepala itu kembali berwujud menjadi manusia utuh? Dengan kata lain, ini
artinya—.
"Permainan Kutukanku sedang dimakan?!"
Mustahil! Hal semacam itu sangat tidak mungkin!
Di saat Curse King setengah mati menyangkal kenyataan,
orang terakhir yang terjebak dalam Permainan Kutukan berhasil dipulihkan
menjadi manusia hidup.
Slime-slime tersebut kembali ke ukuran semula, lalu mulai
berputar melingkari pemuda berambut abu-abu itu dengan gembira.
"Ternyata, jiwa yang sudah terlalu lama mati memang
tidak bisa diselamatkan, ya ...."
Dewa berambut abu-abu itu menatap jiwa-jiwa biru pucat
yang melayang di sekitarnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan frustrasi
sejenak sebelum bergumam.
"Kerja bagus. Kalian sangat membantu. Nanti aku akan
memberi kalian hadiah. Sekarang, mundurlah sebentar."
Dia memberikan kata-kata pujian kepada para slime.
Makhluk-makhluk itu melompat-lompat kegirangan, lalu menghilang sepenuhnya dari
pandangan.
"Wahai Junjungan kami yang agung! Mohon izinkan kami
untuk menyampaikan pendapat!"
Tiba-tiba, sekumpulan makhluk tak lazim muncul dan
memenuhi ruangan raksasa ini. Mereka serentak menundukkan kepala kepada dewa
berambut abu-abu itu. Hanya dengan melihat pemandangan mengerikan itu ....
—Gihiiiiiiiittt!!
Jeritan melengking keluar dari mulut Curse King.
—A-Apa-apaan wujud mengerikan mereka itu!? Mereka semua
adalah dewa! Terlebih lagi, mereka adalah dewa-dewa besar yang bisa
menghancurkan dunia sekecil ini hanya dengan satu niat.
—Dan bukan hanya satu sosok. Ratusan sosok itu semuanya
adalah dewa. Namun, eksistensi mengerikan itu berlutut di hadapan dewa berambut
abu-abu tersebut. Itu berarti—.
—....
Mengabaikan Curse King yang terdiam karena ketakutan dan
keputusasaan, sang dewa berambut abu-abu menoleh. Dia bertanya dengan nada acuh
tak acuh kepada monster berhidung panjang yang dipanggil Girimekhala itu.
"Girimekhala, ya? Ada apa?"
"Serahkan penanganan makhluk bodoh itu kepada
kami!"
Girimekhala berteriak dengan suara beratnya, lalu
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dewa-dewa besar lainnya serentak mengikuti
gerakannya.
Dewa berambut abu-abu itu terdiam memikirkan hal tersebut
sejenak.
"Baiklah. Aku serahkan padamu. Interogasi dia, dan
bekerjasamalah dengan Healing Slime untuk membebaskan jiwa-jiwa yang
terperangkap di mansion ini. Aku serahkan sisanya pada kalian. Namun—"
"Kami akan memberikan keputusasaan tanpa sedikit pun
keselamatan pada sampah ini. Kami sangat memahaminya. Setelah kami puas, kami
telah berjanji untuk menyerahkannya kepada Beelzebub."
Untuk pertama kalinya, dewa berambut abu-abu itu
membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Begitu, ya. Kalau begitu, itu sudah cukup untuk
membuatnya menyesal pernah hidup. Lakukanlah sesuka kalian."
Sudut bibirnya tertarik lebar hingga ke telinga saat dia
memberikan instruksi tersebut kepada Girimekhala dan yang lainnya.
"Sesuai kehendak Anda!"
Setelah serentak menundukkan kepala, kelompok Girimekhala
berdiri dan menatap ke arah musuh.
—Guhiiiiiiiiitt!
Menyadari masa depannya yang suram dengan jelas, jeritan
menyedihkan bocor dari mulut Curse King.
Dia berusaha mati-matian menciptakan bayangan kutukan dan
mencoba bersembunyi di dalamnya untuk melarikan diri.
"Jangan harap bisa lari."
Suara berat yang membuat bulu kuduk berdiri bergema di
udara.
Kabut hitam pekat tiba-tiba muncul dari bawah kaki Curse
King.
Kesadarannya langsung terputus saat kabut itu menelannya.
◇◆◇
Segera setelah Zenki melumpuhkan Victor, Asta dan Zack
menampakkan diri. Asta kemudian memproyeksikan pertempuran di dalam mansion ke
hadapan Rose dan yang lainnya.
"Benar-benar tidak masuk akal ...."
Itu adalah komentar yang dilontarkan Asta saat menonton
pertempuran di samping Rose. Tanggapan itu ditujukan pada pemandangan luar
biasa yang dilakukan oleh Healing Slime milik Kai, yang membangkitkan kembali
orang-orang yang diserap oleh mansion.
"Mustahil .... Mengembalikan orang mati yang bahkan
sudah kehilangan fisiknya ke keadaan semula, hal seperti itu ...."
Melihat Rutile yang kehabisan kata-kata, Asta pun
menyahut dengan ekspresi galak.
"Pemulihan sempurna dari jiwa itu tergolong sebagai
sihir terlarang, bahkan di kalangan para dewa!"
"Benar sekali. Sejauh yang aku tahu, satu-satunya
yang benar-benar bisa melakukannya hanyalah Kakek Hades, sang Penguasa
Kematian. Tapi kali ini, saudara kita melakukannya atas perintah Tuan kita.
Hebatnya lagi, mereka melakukannya dengan sangat mudah!"
Zenki bergumam dengan ekspresi ekstasi sambil
menangkupkan kedua tangannya. Penampilannya yang berotot dan sangar membuatnya
terlihat seperti siswi Babel yang sedang jatuh cinta, menciptakan nuansa
canggung yang luar biasa.
"Apa Healing Slime bisa menimbulkan fenomena seperti
itu?"
"Seharusnya hal itu mustahil dilakukan beberapa saat
yang lalu. Mungkin Healing Slime mendapatkan kekuatan baru setelah Buku Panduan
menyerap Typhon melalui mata-mata. Tapi, sebanyak apa pun kemampuan yang
didapat, tidak mungkin bisa langsung digunakan semudah ini!"
"Ngomong-ngomong, Kak Norn dan Healing Slime tadi
sempat bermain-main, loh. Mungkin itu penyebabnya?"
Saat Zack menggumamkan hal itu dengan santai, Asta
langsung bereaksi.
"B-Bermain-main? Tidak, tidak, tidak, keajaiban ini
sama sekali tidak sesederhana itu!"
"Biarpun kamu bilang begitu, rasanya apa pun yang
dilakukan kenalan Guru sudah tidak mengejutkan lagi sekarang."
Zack melontarkan komentar blak-blakan itu sambil
menenggak minuman keras dari botolnya.
"Zack, kamu bisa bicara omong kosong seperti itu
karena kamu tidak tahu seberapa besar keajaiban yang baru saja terjadi!"
Zack membalas santai pada Asta yang berteriak kegirangan.
"Tapi, Guru juga sudah menciptakan dunia yang
lumayan besar, kan? Apapun yang terjadi sekarang tidak akan membuatku kaget
lagi."
Mendengar jawaban acuh tak acuh tersebut, Rutile bertanya
balik dengan wajah terpana.
"Menciptakan ... dunia?"
Asta melotot tajam ke arah Zack. Pria itu langsung
memalingkan wajah dan mulai bersiul seolah tak tahu menahu.
"Hebat .... Pria itu benar-benar luar
biasa!"
Tatapan mereka sontak beralih ke Okame yang tiba-tiba
berteriak keras. Wajah pemuda itu memerah dan dia mengepalkan kedua
tangannya erat-erat. Menyadari tatapan semua orang, Okame berjalan ke depan
Rose dan berlutut dengan satu kaki.
"Yang Mulia Rosemarie, tolong jadikan saya, Okame
Natou, sebagai bawahan Anda!"
Itu adalah sebuah permohonan yang sama sekali tak
terduga.
"Eh!? Ah, anu ...."
Saat Rose sedang kebingungan menghadapi permohonan
mendadak itu, Mime Myers mengecam Okame dengan wajah pucat pasi.
"Senior Okame, apa kamu berniat mengkhianati Ayah
dan yang lainnya!?"
"Ya, aku akan memutuskan hubungan dengan keluarga
Natou. Lagipula, sejak dulu aku lebih cocok dengan Kakek ketimbang ayahku yang
serakah, jadi aku sama sekali tidak menyesal."
"Terlebih lagi, sepertinya tujuan akhirku sama
dengan pria itu. Dan aku paling tidak suka didahului," lanjut
Okame.
"Memangnya kamu pikir hal seperti itu bisa
dimaafkan!?"
Menghadapi Mime yang mengamuk, Okame menjawab dengan
tenang.
"Tentu saja. Dengan kemunculan pria itu, Kerajaan
Amelia—tidak, dunia ini akan banyak berubah. Bukannya aku mau menceramahimu,
tapi sebaiknya kamu juga memikirkan posisimu baik-baik sebelum mengambil
keputusan."
Okame menepisnya secara sepihak, lalu mulai berbicara
dengan Zack tanpa menunggu jawaban Rose. Zack tampaknya tidak keberatan, dia
tertawa terbahak-bahak sambil menanggapi perkataan Okame.
Okame dikabarkan sebagai salah satu siswa dengan
kemampuan kelas atas.
Masalahnya ada pada keluarga Natou, tapi dia sudah
menyatakan akan memutuskan hubungan dengan kepala keluarga saat ini.
Rose tidak punya alasan untuk menolak, dan justru
harusnya senang bisa mendapatkan talenta luar biasa.
"Jangan bercanda! Apa
kalian paham!? Si tidak berguna itu menyembunyikan slime langka tersebut. Tidak
mungkin kita membiarkan seorang bangsawan kehormatan memonopoli slime
itu!"
"Makhluk-makhluk itu seharusnya dimiliki oleh
Aliansi Darah kita yang mengalirkan darah biru!" lanjut Mime murka.
Mendengar ucapan yang sangat bodoh itu, Zenki kini
memasang wajah marah. Zack juga menatap Mime dengan ekspresi tidak senang.
Di sisi lain, Elish dan Instruktur Ractor menghela napas
panjang dan menggelengkan kepala. Tentu saja, itu karena mereka merasa sangat
muak.
Bahkan Rose pun tidak merasa marah lagi, melainkan merasa
kasihan pada Mime yang berani melontarkan kata-kata seperti itu.
"A-Apa! Kalau kalian berani macam-macam
padaku—"
"Sudah cukup. Sebaiknya kamu diam sebentar."
Asta menjentikkan jarinya usai menegur Mime. Detik berikutnya, Mime ambruk ke lantai bak boneka yang talinya putus.
"Mime!?"
Elish bergegas menghampirinya dengan panik.
"Aku hanya membuatnya tertidur. Jangan khawatir,
toh ingatan para manusia monyet ini akan segera dihapus."
Usai menjelaskan, Asta memberikan isyarat mata kepada
Rose. Memang benar, tanpa kehadiran Kai, Rose adalah satu-satunya orang yang
bisa mengambil alih kendali di sini.
"Sepertinya penaklukan mansion ini sudah selesai
dengan aman, mari kita bantu proses penyelamatannya."
Semua orang mengangguk dalam diam menyetujui usulan
Rose. Mereka pun keluar dari ruangan yang kini telah berubah kembali menjadi
kamar biasa.
Hanya Elish yang berjalan menghampiri Rose.
"Yang Mulia Rosemarie, mohon beri tahu saya tentang
Kai Heineman nanti."
Gadis itu membisikkan kata-kata tersebut dengan nada
tegas yang tak terbantahkan, lalu bergegas keluar ruangan.
"Tuan Putri, ayo kita pergi juga!"
Mendengar desakan Zack, Rose merespons.
"Ya, ayo."
Rose mengangguk dan mulai melangkah untuk membantu
penyelamatan.
◇◆◇
Awalnya aku dengan penuh semangat memulai pemusnahan
monster di mansion ini, mengharapkan pertarungan sengit melawan sosok yang
disebut Curse King.
Namun, melihat betapa bejatnya perbuatan mereka,
niatku untuk bertarung serius langsung lenyap tanpa sisa.
Terlebih lagi, saat aku melihat wajah-wajah penuh
kesedihan yang tertanam rapat di dinding, kemarahanku langsung memuncak hingga
batasnya.
Setelah menyembuhkan luka parah wanita Elf dengan
High Potion, aku menghabisi monster-monster boneka beruang dengan amarah yang
meluap.
Bawahan monster berkepala plontos mulai menyerang
satu per satu, tapi mereka semua sangat tidak sepadan hingga aku membunuhnya
dalam sekejap.
Saat aku membanting wajah monster botak itu ke
lantai, dia malah mengoceh soal dewa dan mulai memohon ampun.
Kesabaranku sudah mencapai batas melihat kelakuannya,
dan tepat saat itu terungkap bahwa jiwa-jiwa di dinding masih terperangkap di
mansion.
Aku mencoba memerintahkan Healing Slime untuk
memulihkan tubuh mereka, dan ternyata berhasil.
Saat aku mulai sedikit tenang, Girimekhala meminta
izin untuk menangani monster botak itu, dan aku menyetujuinya.
Tatapan Girimekhala dan yang lainnya tampak sangat
tajam, si idiot ini pasti telah melanggar salah satu larangan mereka.
Yah, setelah menjadi sasaran kemarahan Girimekhala, dia
akan menjadi mainan Beelzebub.
Sekarang aku sedang berada di Guild Hunter.
Aku tengah melaporkan kejadian ini kepada Ralph, sang
pahlawan dunia Hunter, dan Chloe, Kepala Akademi Umum Babel.
"Kamu sangat membantu, Kai. Aku benar-benar
berutang budi padamu."
Setelah laporanku selesai, Ralph berdiri dan
menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Tuan Kai, saya juga ingin mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya atas penyelamatan pasukan keamanan dan para siswa
Babel."
Chloe pun mengikuti jejaknya.
"Tidak, aku tidak berhasil menyelamatkan
semuanya. Aku hanya bisa menolong mereka yang telah ditangkap selama kurang
dari setahun."
Jiwa-jiwa yang ditawan oleh orang yang mengaku
sebagai Curse King hanya bisa diselamatkan jika mereka belum mati lebih dari
setahun.
Mereka yang hanya tersisa jiwanya akan terbebas dan
menghilang entah ke mana.
Tentu saja ada pengecualian; berkat kemampuan hantu
bernama Rutile, mereka yang mempertahankan egonya berhasil mendapatkan kembali
tubuh fisiknya melalui Healing Slime.
"Mereka adalah korban yang dibunuh oleh kutukan
jahat itu. Menghidupkan mereka kembali saja sudah merupakan sebuah
keajaiban. Ini benar-benar karya Tuhan!"
Chloe menangkupkan kedua tangannya dalam posisi berdoa.
Pipi merah dan ekspresi euforianya mengingatkanku pada bawahanku sendiri, dan
itu membuatku merinding.
"Omong-omong, Nona Chloe, kami akan mengambil
mansion dan tanah yang telah dibebaskan itu sebagai hadiah. Apa kamu
benar-benar tidak keberatan?"
Aku memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Tentu saja. Lagipula, tidak ada yang mau tinggal di
tanah tempat banyak orang tewas. Jika masih ada sisa-sisa kutukan di sana,
bencana yang sama bisa saja terulang. Kami sangat bersyukur jika Tuan Kai
bersedia mengambil alih pengelolaan tanah tersebut."
Aku sudah memerintahkan faksi Girimekhala dan Beelze
untuk melenyapkan kutukan tanah itu tanpa sisa.
Memang benar banyak orang telah mati secara brutal di
sana, jadi wajar jika tidak ada yang ingin tinggal di tempat yang bernuansa
suram. Rose bahkan menentangnya, namun aku memaksakan keinginanku.
"Kalau begitu, baguslah. Sekarang
aku pamit undur diri."
Setelah bangkit dari kursi, aku berjalan menuju pintu
ruangan.
Begitu aku kembali ke ruang tamu di mansion markas lamaku
di Babel, semua kelompokku sudah berkumpul.
"Kerja bagus semuanya."
Begitu aku mengucapkan hal itu, bawahan-bawahanku
serentak memperbaiki postur tubuh dan membungkuk padaku.
"Sekarang, coba jelaskan alur kejadiannya
padaku."
"Dimengerti."
Asta pun memulai penjelasannya sesuai permintaanku.
Setelah dia selesai menjelaskan, aku bergumam.
"Jadi itu yang disebut Curse King, ya. Benar-benar tidak pantas menyandang nama itu."
Aku menyampaikan kesan yang muncul secara alami di
benakku. Ternyata monster botak itu menyebut dirinya sebagai Curse King.
Sungguh lelucon yang menggelikan.
"Kalau Master yang merasakannya, pasti terasa
seperti itu."
Mendengar ungkapan Asta yang selalu terasa mengganjal,
Zack menimpali.
"Sejauh yang kudengar, kutukan mansion itu tergolong
sangat berbahaya. Kalau bukan kita yang turun tangan, masalah ini pasti bakal
jadi bencana besar, kan?"
"Hah! Mereka itu hanyalah kroco terlemah, bahkan
tidak sebanding dengan Goblin bodoh di hutan. Kekalahan pasukan keamanan
pastilah ulah dalang di balik layar yang ditangkap Asura."
Bagaimanapun, Asura berhasil mengalahkan pencuri yang
telah menumbangkan pasukan keamanan.
Saat aku sedang memikirkan hadiah untuknya, Asta
memberitahuku bahwa Asura sendiri ingin menangani sosok dalang itu.
Tentu saja aku sama sekali tidak peduli siapa dalangnya,
jadi aku menambahkannya sebagai hadiah bagi Asura.
"Tuan Kai, terima kasih banyak telah menghidupkan
kami kembali kali ini."
Rutile menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk
menyampaikan rasa terima kasih padaku.
"Itu mustahil terjadi jika jiwa kalian tidak tersisa
dalam bentuk utuh. Kalian semua hidup kembali karena kamu terus berjuang dan
tidak menyerah hingga akhir."
Healing Slime juga tidak maha kuasa. Seseorang yang
kehilangan jiwanya tidak dapat dibangkitkan.
Jiwa sepertinya hanya bisa mengingat informasi tubuh
selama maksimal satu tahun; lebih dari itu, tubuh tidak akan bisa diciptakan.
Tingkat kelangsungan hidup meningkat drastis berkat
Rutile, yang menggunakan Gift miliknya, Underworld, untuk
menstabilkan jiwanya dan jiwa orang-orang pilihannya ke dimensi lain. Berkat Skill
ini, jiwa-jiwa tersebut tetap utuh dan sukses berlindung dari ancaman Curse
King.
Orang tua dari gadis kembar Beth dan Din tidak sempat
menerima perlindungan Rutile, sehingga tubuh fisik mereka tidak bisa diciptakan
kembali.
Namun, setelah anak kedua Beelze memisahkan jiwa
mereka dari bajingan bernama Nejire, jiwa itu disegel ke dalam boneka canggih
yang diciptakan oleh rekan dari Buku Panduan Penaklukan.
Berkat teknologi ini, sejumlah besar jiwa akhirnya
mendapat kesempatan untuk hidup kembali.
".... Bolehkah saya melontarkan pernyataan yang
sedikit kurang sopan?"
Rutile menatapku tajam selama beberapa saat, lalu dengan
ekspresi penuh tekad dia meminta izin kepadaku.
"Hm? Aku tidak keberatan. Lagipula, aku tidak akan
marah hanya karena sebuah ucapan."
Dari laporan tadi, aku sangat memahami karakter Rutile.
Dia bukan tipe orang yang akan memicu amarahku. Mungkin itu sebabnya
bawahan-bawahanku tidak menyalahkan perkataan Rutile sedikit pun.
"Aku tadinya berpikir Anda adalah seorang Transcenden
yang tak terkalahkan. Secara mendasar aku masih meyakini hal itu. Namun, hanya
hatimulah yang sama dengan kami. Anda adalah seseorang yang kadang marah,
tertawa, dan menangis melihat kebahagiaan, kesedihan, dan dosa kami sebagai
rakyat biasa. Oleh karena itu—"
Setelah mengatakan itu, Rutile melirik ke arah bawahanku
dan kehilangan kata-kata.
"Hmm, sepertinya kamu salah paham, jadi biar aku
perjelas. Aku adalah manusia. Tidak ada bedanya sedikit pun dengan kalian, jadi
kamu tidak perlu menyimpan delusi konyol semacam itu."
Justru, setelah sekian lama akhirnya ada yang
menganggapku manusia seutuhnya, dan ini membuat pandanganku tentang Rutile naik
drastis.
"Itu jelas merupakan kesalahpahaman besar. Aku belum pernah melihat Dewa Aneh yang setara dengan Master."
Mendengar Asta melontarkan ejekan konyol, Zack
menyahut.
"Benar, kan. Apa yang
dilakukannya selalu melampaui prediksi kita semua."
Zack mengangguk kuat berkali-kali, memaparkan fakta
yang sangat tidak menguntungkan bagiku. Terlebih lagi, perkataan Zack selalu
sulit untuk disangkal, dan itu menjengkelkan.
"Lalu, Rutile, apa rencana kalian selanjutnya?
Kepala Akademi Umum Chloe menitipkan pesan bahwa dia akan menyiapkan posisi
staf pengajar di Babel untuk kalian."
"Jika memungkinkan, kami memohon agar diizinkan
bergabung di bawah perlindungan Tuan Kai!"
"Menjadikan kalian sebagai bawahanku, ya. Kalau
kalian berharap diperlakukan sama seperti mereka, itu mustahil. Sayangnya,
kecuali dalam pengecualian khusus, manusia tidak bisa didaftarkan di dalam Buku
Panduanku."
Meskipun pada kenyataannya, ada cukup banyak pengecualian
seperti Gil, Ferris, Zack, Oboro, Lucas, Tetreu, dan Somni.
"Rutile dan beberapa rekannya telah menjadi hantu
untuk waktu yang cukup lama. Meski tidak bisa menjadi bawahan langsung, mereka
bisa didaftarkan sebagai bawahan pihak lain, sama seperti Lucas."
Asta mengoreksi kesalahanku.
"Kalau begitu, tolong jadikan kami sebagai bawahan
Tuan Asura!"
Dia memohon dengan tangan bertaut. Omong-omong, aku
menerima laporan bahwa Asura dan kelompoknya telah bekerja keras merawat
roh-roh di mansion itu.
Rupanya Rutile menaruh kepercayaan besar pada Asura, dan
sepertinya ada perasaan lain yang terlibat.
"Asta, apa Rutile dan teman-temannya bisa menjadi
bawahan Asura?"
"Itu bisa dilakukan tanpa masalah sama sekali."
"Bagaimana dengan pendapat Asura?"
Memaksa orang yang tidak mau untuk menjadi bawahan jelas
tidak akan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak.
"Aku juga sudah menerima permintaan yang sama dari
Asura."
"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk menolak.
Sampaikan hal itu pada Asura."
Berdasarkan pengalaman, selama ada persetujuan dari Buku
Panduan Penaklukan dan diriku, proses penerimaan bawahan seharusnya sudah
selesai.
"T-Terima kasih banyak!"
Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, Rutile
pergi. Aku pun beralih ke hal lain.
"Anak laki-laki bernama Kusuki yang sempat
menyatu dengan serangga bernama megah Curse King itu sudah berhasil dipisahkan
dengan selamat, kan?"
Aku mengonfirmasi hal yang mengganjal pikiranku.
Awalnya aku tidak pernah berpikir makhluk itu adalah Curse King, jadi aku
menghajarnya habis-habisan.
Ketika aku diberi tahu bahwa Kusuki tertelan di
dalamnya, rasa dingin langsung merayap di tulang punggungku.
"Mereka... berhasil dipisahkan."
Mendengar ucapan Asta yang terkesan disembunyikan
itu, aku merasa cemas.
"Jangan-jangan, dia mendapat semacam gejala sisa
karena diserap?"
Saat ditemukan, pemuda itu telah menyatu sangat kuat
dengan Curse King.
Diperkirakan bahwa memisahkan mereka secara paksa akan
berdampak buruk pada jiwa dan tubuh Kusuki. Itulah alasannya aku menugaskan
Asta untuk menangani pemisahannya.
"Mengejutkannya, tidak ada efek samping sama sekali.
Malahan, kejadian itu bukan berarti Curse King menelan dia, melainkan
...."
Melihat Asta yang ragu-ragu, aku mendesaknya.
"Melainkan apa? Jangan berbelit-belit dan katakan
dengan jelas."
"Aku tidak bermaksud berbelit-belit. Hanya saja,
saat aku melihat formula sihirnya, malah terlihat seperti anak manusia itu yang
telah menelan serangga Curse King."
"Hah? Kusuki menelan Curse King? Aku sama sekali
tidak mengerti maksudmu."
Jika pemuda itu yang menyerapnya, tidak masuk akal kenapa
ego Curse King yang justru menjadi dominan.
Baik dari hasil interogasi maupun gambaran monster yang
disampaikan Rutile, makhluk itu pastilah Curse King.
"Itulah sebabnya aku sendiri tidak terlalu memahami
formula sihir tersebut. Namun, satu hal yang bisa aku katakan, anak manusia
bernama Kusuki itu sama sekali tidak normal."
Tidak normal, ya. Memang benar, dia sepertinya telah
membuat kadal api berjuluk Adipati Ular Api itu berevolusi.
Sosok yang bisa memaksakan evolusi pada pihak yang
menyerapnya adalah kekuatan yang sangat didambakan oleh para pecundang.
"Kalau begitu, fakta bahwa dia terdaftar di Akademi
Oboro mungkin malah menjadi keuntungan bagi kita."
Akan sangat merepotkan jika keributan seperti ini terus
terjadi berulang kali. Setidaknya dia harus belajar
melindungi dirinya sendiri.
"Lumine dan Kusuki. Kemungkinan besar mereka
berdua adalah sebuah singularitas. Dan kini mereka masuk ke akademi khusus
manusia yang sama dengan Master. Bagiku, itu jelas bukan kebetulan
belaka."
Dari tatapannya, sepertinya Asta juga menganggapku
sebagai penyebab kemunculan ketidakteraturan semacam singularitas ini.
"Dengar ya, selalu menyeretku ke dalam masalah
seperti ini adalah kebiasaan burukmu."
Asta terlalu sering memperlakukanku dengan sangat
istimewa. Aku ini hanyalah seorang pendekar pedang, dan pastinya tidak akan
pernah menyebabkan reaksi aneh semacam itu.
"Singularitas adalah perusak keseimbangan dunia. Dan
sudah ada tiga yang berkumpul di bawah Master. Otakku tidak sebodoh itu untuk
menganggap semua ini tidak memiliki hubungan sebab-akibat."
Asta tampaknya tidak berniat mengalah, lalu dia
mengatupkan mulutnya merajuk. Melanjutkan perdebatan tentang topik ini rasanya
sia-sia saja, jadi lebih baik beralih ke hal lain.
"Lalu, bagaimana nasib pemuda-pemuda lainnya dan
anggota pasukan keamanan?"
"Untung saja badut konyol yang menamai dirinya Curse
King itu telah menangkap semua jiwa mereka. Mereka yang mati sudah kami
bangkitkan sepenuhnya. Ingatan mereka soal insiden ini sudah dihapus sebelum
diserahkan kepada pihak Babel, kecuali beberapa orang."
Para sandera tampaknya telah dipermainkan secara brutal
oleh kutukan mansion tersebut.
Membiarkan mereka begitu saja bisa memicu gangguan
psikologis, jadi aku memerintahkan Satori untuk menghapus seluruh kenangan
mereka tentang mansion itu sampai bersih.
"Lalu, siapa sajakah beberapa pengecualian
itu?"
Kasus mansion itu jelas memperlihatkan kurangnya
pengawasan Babel, dan bisa dimanfaatkan musuh politik Chloe.
Karena itu, aku memutuskan untuk menghapus ingatan
tentang mansion itu guna memberi Chloe sebuah hutang budi.
"Mereka adalah beberapa anggota pasukan keamanan dan
dua orang siswa."
Dari pasukan keamanan, mereka pastilah Ractor dan Yoru,
yang butuh ingatan utuh untuk menyerahkan laporan rinci kejadian. Aku sudah
memprediksi hal ini. Yang mengejutkan adalah pengecualian siswanya.
"Dua orang siswa? Salah satunya pasti Nona Elish.
Kalau begitu, siapa satunya lagi?"
Elish Excel pasti menolak mentah-mentah jika ingatannya
dihapus, dan Ralph sangat lemah di hadapan putrinya.
Namun, aku tidak melihat alasan logis untuk
mempertahankan ingatan siswa Babel lainnya.
"Itu karena tekad kuat dari orang tersebut. Saat
ini dia sedang memohon untuk bertemu langsung dengan Master."
Tekad yang kuat, ya. Menyimpan kenangan traumatis seperti
neraka ini tidak ada gunanya sama sekali.
Demi kebaikan mereka sendiri, aku lebih suka menghapus
ingatan siswa lain secara halus.
Meskipun begitu, kali ini Asta tidak memodifikasi ingatan
siswa tersebut tanpa meminta konfirmasiku. Normalnya Asta patuh pada
perintahku, jadi dia pasti punya alasan kuat.
"Baiklah. Aku akan menemuinya sebentar."
Aku bisa memikirkan mau diapakan ingatan siswa itu
setelah berbincang dengannya nanti.
"Kalau begitu, aku akan membawanya kemari."
Asta membungkuk sebelum keluar dari ruangan.
Tak lama, Asta membawa seorang pemuda berambut pirang
cepak dan berwajah bulat.
Walau kusebut pemuda, umurnya tidak jauh berbeda dari
Rose, dan di mataku dia masih terlihat seperti anak-anak.
"Tuan Kai Heineman, nama saya Okame Natou. Saya
sangat berterima kasih karena Anda telah menyelamatkan teman-teman saya."
Pemuda itu memperbaiki postur tubuhnya dengan tegang,
lalu menunduk hormat.
"Aku hanya menolong kalian karena permintaan dari
Babel dan Guild Hunter, jadi kamu tidak perlu berterima kasih. Kudengar kamu
tidak ingin kehilangan ingatanmu di mansion itu?"
"Benar. Ada beberapa alasan, tetapi intinya saya
tidak ingin kembali menjadi sosok diri saya yang bodoh dan tak tahu apa-apa
seperti kemarin."
"Sosok dirimu yang bodoh dan tak tahu apa-apa, ya. Boleh aku bertanya lebih spesifik?"
"Selama ini, saya percaya bahwa bakat berasal
dari garis keturunan, dan saya jauh lebih unggul dari orang lain! Tidak, saya
hanya ingin memercayai hal itu! Sebenarnya saya diam-diam sudah
menyadarinya!"
"Orang yang benar-benar berbakat pastilah orang
yang terlahir dengan keistimewaan itu, seperti Lancelot atau Kusuki. Saya
hanyalah orang biasa yang belum matang dan tidak bisa mengendalikan Binatang
Fantasi Kontrak saya sendiri."
Okame menekankan setiap perkataannya seraya mengepalkan
kedua tangannya.
Jujur saja, dia sama sekali tidak terlihat seperti murid
teladan sombong yang diceritakan Chloe padaku.
Mungkinkah seseorang berubah sedrastis ini dalam waktu
singkat?
"Hmm, apa kamu bersikap pesimis karena tidak
memiliki bakat?"
"Tidak, saya bersyukur bahwa saya ini orang biasa.
Dengan begini, saya masih bisa membidik puncak yang lebih tinggi!"
"Membidik puncak, ya ...."
Aku sendiri merasa beruntung terlahir tanpa bakat.
Kesombongan dan perasaan superior memang dapat merangsang
perasaan bahagia sementara, tetapi perasaan itu akan menghentikan perkembangan
kita.
Meski begitu, menyadari kebenaran ini sama dengan
mengakui fakta bahwa diri sendiri tidak berbakat.
Bagi orang seperti Okame yang menerima penilaian baik
dari lingkungan, sulit rasanya mencapai level pemahaman ini.
"Benar, berkat kejadian ini saya akhirnya bisa
terlepas dari belenggu yang menahan saya!"
"Belenggu ...."
Omong-omong, Somni dan Gil juga pernah mengatakan hal
yang sama.
Mungkin orang-orang yang terlalu larut dalam gaya
hidup bangsawan dapat menerima kelemahan mereka dengan lebih positif saat
mereka menyadarinya.
"Melalui insiden ini, saya bisa kembali ke tujuan
awal saya. Saya tak ingin lagi menjadi diri saya yang bodoh seperti kemarin,
oleh karena itu saya tak ingin ingatan tentang mansion itu dihapus."
Memang, jika kejadian di mansion itu sukses menghancurkan
nilai-nilai sang pemuda secara total, maka menghapus ingatannya bisa saja
membuatnya kembali menjadi pria sombong.
"Baiklah. Tetapi, kamu harus bersumpah tak akan
membocorkan rahasia kejadian ini kepada siapapun."
"Pasti! Lalu, maukah Anda mengizinkan saya bergabung
di bawah perlindungan Yang Mulia Rose!"
"Ingin berada di bawah perlindungan Rose, ya
...."
Situasi ini terlalu menguntungkan bagi Rose, dan sebisa
mungkin aku ingin menolaknya.
"Kai! Aku juga memohon padamu!"
Rose menatapku dengan kedua tangan bertaut dan
ekspresi memohon. Aneh rasanya jika aku menolak orang yang telah diakui oleh
Rose.
Lagipula, menempatkan satu orang sebagai kesatria
yang punya ikatan kuat dengan Rose agaknya takkan merusak keseimbangan.
"Baiklah. Aku akan menjadikan Okame sebagai
kesatriamu, Rose. Apa kalian berdua setuju dengan ini?"
"Terima kasih, Kai!"
Rose berteriak kegirangan atas keputusanku.
"B-Baik, tentu saja! Terima kasih atas pertimbangan
Anda!"
Okame menyorakkan kebahagiaan sambil berdiri tiba-tiba,
lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Dia pasti akan sangat iri melihat ini!"
Pemuda itu berteriak kegirangan dengan nada pelan dan
cepat, lalu mengepalkan tangannya puas sambil mulai melompat kecil.
"Untuk saat ini, meskipun kamu menjadi kesatria
Rose, kamu butuh tingkat kekuatan tertentu. Zack, latih dia selama sekitar tiga
bulan! Kegiatan kesatrianya akan dimulai setelah itu."
"Ayo, biar kukenalkan pada rekan-rekan Guru!"
"D-Dengan senang hati!"
Setelah itu, Zack membawa Okame yang masih belum
kehilangan antusiasmenya. Dengan begini, kami berhasil mengamankan pangkalan di
Babel.
◇◆◇
Mansion tempat tinggal Curse King hampir sepenuhnya
hancur akibat kekacauan yang dibuat oleh kami, jadi kami meratakan tanah dan
membangun ulang semuanya dari nol.
Tak ada gunanya mempertahankan bangunan seburuk itu, dan
menghancurkan bangunan yang penuh rumor kelam akan membantu membersihkan citra
tanah ini.
Tanah dari mansion yang kami peroleh ini sangatlah luas.
Aku menyampaikan kepada Daedalus, anggota Buku Panduan
Penaklukan yang paling ahli dalam arsitektur, untuk membangun bangunan yang
difokuskan pada fungsionalitas tanpa kemewahan berlebihan.
Dan hasilnya adalah bangunan raksasa berbentuk kerang
yang dibangunnya dengan penuh semangat ini.
Bagian dalam bangunan ini dihias sedemikian rupa layaknya
meraup seluruh harta dunia.
Terlebih lagi, setiap kamar pribadi sangat luas, dan
halamannya bahkan menawarkan pemandangan indah layaknya tepian pantai, padahal
tidak ada laut di sekitar Babel.
Rose langsung memegangi kepalanya dan mengeluh sejak tadi
melihatnya, namun Faf justru melompat kegirangan.
"Kamu telah bekerja dengan sangat baik, Daida.
Terima kasih."
Aku mengucapkan terima kasih pada gadis berambut biru
berpotongan bob yang mengenakan baju terusan khaki dan membusungkan dadanya
dengan bangga.
Dia adalah sang iblis arsitektur, Daedalus.
"Ini adalah mahakarya Da-chan!"
Karya ini pastinya dia kerjakan dengan sepenuh hati,
karena ini kali pertama aku melihatnya begitu percaya diri membanggakan
pencapaiannya.
Kesembilan dari sepuluh tebakanku mengatakan ada
banyak fitur misterius di balik pemandangan gila ini.
Jika bangunan sesempurna ini bocor ke dunia luar,
sudah pasti akan memicu keributan besar.
Terlebih lagi, aku ragu tinggal di tempat semewah ini
akan memberikan pengaruh baik bagi Rose yang masih pelajar, jadi aku harus
memintanya melakukan beberapa perubahan.
Di sisi lain, tempat ini adalah Babel, di mana banyak
musuh politik Rose berada.
Dengan memisahkan setiap ruangan ke dimensi yang
berbeda, kami setidaknya bisa mengulur waktu jika diserang musuh kuat, jadi
kurasa sistem seperti ini perlu dipertahankan.
"Tingkat kesempurnaan yang luar biasa! Hebat
sekali Daida!"
"Puji aku lebih banyak lagi!"
Dia langsung memelukku dan menggesek-gesekkan
wajahnya di perutku.
Sungguh sulit untuk memintanya melakukan perbaikan
jika dia sesenang ini, jadi aku harus mencari ide yang takkan melukai harga
dirinya.
"Ada sesuatu yang ingin kuminta karena aku
memercayai kemampuanmu."
"Ada apa?"
"Ini tentang kamar pribadi Rose dan yang lainnya,
apa kamu bisa memodifikasinya sesuai petunjukku?"
"Tentu saja bisa! Kelebihan terbesar dari bangunan
ini adalah strukturnya yang dapat dimodifikasi sesuka hati!"
Strukturnya bisa diubah secara bebas, ya. Jika Daedalus
sendiri yang mengatakannya, itu pastilah bukan kiasan.
"Apakah itu berarti eksteriornya juga bisa
diubah?"
"Betul sekali! Kamu tinggal memberikan perintah, dan
bangunan ini akan berubah dengan sendirinya!"
"...."
Aku benar-benar kehabisan kata-kata.
Bangunan layaknya organisme hidup semacam ini jelas bisa
menyediakan langkah keamanan tingkat tinggi, bahkan mungkin menjadi benteng
yang mustahil ditembus layaknya landak berduri.
"Daida, tolong ubah seperti yang aku
katakan."
"Dimengerti!"
Jika bangunan ini bisa mengatur dirinya sendiri
secara mandiri, menyingkirkan penyusup dengan efisien bukanlah hal yang sulit.
Lebih hebatnya lagi, bentuk bangunan, desain
interior, serta elemen lainnya dapat diubah secara bebas. Bisa dibilang ini
benar-benar mansion yang ideal bagi kami.
"Kalau begitu—"
Aku mulai membicarakan tentang sebuah rumah mewah
yang paling cocok untuk kami saat ini.
◇◆◇
Di salah satu ruangan pada sebuah bangunan mewah yang
berada di kawasan elite Babel, Dewa Utama Charybdis sedang menerima laporan
dari bawahannya. Hanya ada satu ekspresi di wajah mereka semua, yaitu
kebingungan.
"Hah? Kutukan rumah yang diperkuat oleh Permata Loki
itu telah dihancurkan? Terlebih lagi, si Messy itu juga hilang tanpa jejak, dan
tidak ada satu pun yang melihatnya?"
Pria jangkung bermata satu, Scylla, menyipitkan matanya. Ia bertanya kepada dewa bawahan Charybdis yang bertugas memberikan
laporan.
"M-Mohon maaf sebesar-besarnya! Kami tiba-tiba
diselimuti kabut hitam, dan saat kami sadar ...."
Mendengar suara dewa bawahan itu yang semakin
mengecil,
"Semuanya sudah berakhir, dan kalian bahkan tidak
tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Loki yang sedari tadi mendengarkan dari dekat ikut
bertanya.
"Hei, Loki. Saat ini Tuan Scylla sedang
berbicara—"
Salah satu dewa bawahan Charybdis yang berkepala ular dan
mengawasi percakapan itu dari dekat, tak kuasa menahan amarahnya. Ia membentak
sambil mencoba mencengkeram bahu kanan Loki, tetapi,
"Hiiik?!"
Begitu melihat profil samping wajah Loki, ia menjerit
tertahan dan langsung melangkah mundur.
Kedua matanya membesar dan tajam, sementara dari
celah sudut bibirnya yang tertarik hingga ke telinga menyemburkan sesuatu yang
menyerupai api. Rambutnya berdiri tegak seolah murka yang menggelegak menyentuh
langit, membuat wujud Loki saat ini tak ubahnya iblis yang ganas.
Di antara pilar dewa Charybdis, Loki masihlah dewa
pendatang baru. Oleh karena itu, peringkatnya rendah dan pada dasarnya ia
hanyalah eksistensi yang tidak signifikan.
Namun, para dewa bawahan tingkat tinggi yang ada di
tempat ini justru takut kepada Loki. Bahkan, hal itu juga berlaku bagi sang
Dewa Utama, Charybdis.
"L-Loki, keparat kau ...."
Charybdis mempertanyakan maksud Loki dengan suara
bergetar ketakutan. Seakan baru menyadari kondisinya sendiri, Loki membalas,
"Gawat juga, ya. Rencanaku dihancurkan oleh para
bajingan dari Surga itu, jadi sifat asliku tanpa sadar keluar."
Ia menjentikkan jarinya dengan bunyi 'Trak'.
Seketika itu juga, Charybdis dan semua dewa bawahan yang hadir di sana berubah
menjadi boneka bisu, seolah jiwa mereka telah terenggut.
"Lagi pula, pihak yang bisa merusak mainanku
sangatlah terbatas. Mengingat rasanya mustahil jika itu ulah Penguasa Lama,
sangat wajar jika kita menganggap ini sebagai perbuatan para bajingan
Surga."
"Benar juga, ya. Jika kita menyelidiki orang-orang
yang terlibat dengan rumah itu kali ini, kita bisa mengidentifikasi anjing
peliharaan Surga itu. Jika dipikir-pikir lagi, hasilnya tidak terlalu
buruk."
Loki mengangguk berkali-kali seolah sedang meyakinkan
dirinya sendiri, lalu berseru,
"Hel!"
"Hamba berada di sisi Anda!"
Suara itu bergema. Tiba-tiba, seorang wanita
bertopeng yang mengenakan pelindung dada hitam dan celana pendek, berbalut
jaket di bagian luar, muncul di hadapan Loki lalu berlutut dengan satu kaki.
"Selidiki siapa keparat yang sudah mengacaukan
permainanku kali ini. Ah, pasti ada Pasukan Surga di baliknya, jadi pastikan
kamu bergerak secara rahasia."
"Tuan Lopt! Daripada menggunakan wanita licik
seperti dia, lebih baik gunakan tenaga saya saja!"
Seorang pria buas dengan rambut hijau menyerupai surai
mendadak muncul. Ia memukulkan kepalan tangan kanannya ke dada.
"Cih! Dasar makhluk bersel satu!"
Hel mengumpat kasar kepadanya.
"Kau bilang apa barusan, Wanita Licik?"
Pria berambut hijau itu membunyikan buku-buku jarinya
untuk mengintimidasi Hel.
"Jormungandr, selama misi ini berlangsung, aku
adalah Loki. Bukankah aku sudah sering mengatakannya?"
"Kewaspadaan sehari-hari itu sangat penting. Lakukan
dengan saksama. Kamu mengerti?"
Loki memberikan peringatan seolah sedang menasihati pria
berambut hijau bernama Jormungandr itu.
"B-Baiklah, aku mengerti."
Jormungandr mengangguk patuh.
"Bwahaha! Makanya, kau dimarahi, kan,
Jormungandr!"
Hel berseru dengan nada mengejek.
"Bangsat kau ...."
Jormungandr memelototi Hel dengan tatapan penuh
kebencian.
"Tenanglah, Jormungandr. Menghadapi musuh kita
kali ini, sedikit saja kesombongan bisa berakibat fatal pada nyawa."
"... Apa kita benar-benar telah kalah?"
"Ya, salah satu dari Pasukan Surga telah
mengalahkan tiga pilar dari Enam Jenderal Besar. Seluruh Pasukan Iblis yang
berinkarnasi di tanah ini telah lenyap dari dunia."
Jormungandr mengernyitkan dahi mendengar ucapan Loki.
Apa yang terpancar di kedalaman matanya bukanlah ketakutan terhadap sosok yang
kuat, melainkan kobaran api amarah yang menyala-nyala.
Amarah itu seolah siap membakar habis seluruh
keberadaan dirinya tanpa sisa.
"Aku mengerti! Kaulah bosnya! Aku akan mengikuti
semua perintahmu!"
Setelah berteriak seperti itu, Jormungandr menghilang
dari pandangan.
"Tuan Loki, apa yang harus kita lakukan pada para
makhluk yang tidak tahu diri ini?"
Hel menatap Charybdis dan kelompoknya dengan tidak nyaman
sambil bertanya kepada Loki.
"Manipulasi ingatan mereka dengan rapi, dan kita
akan melanjutkan penyusupan ini."
"Tetapi, jika begitu, Tuan Loki harus berada di
bawah kendali makhluk-makhluk rendahan ini—"
"Justru itulah bagian terbaiknya. Para bajingan
Surga itu pasti tidak akan pernah menyangka bahwa aku, salah satu dari Enam
Jenderal Besar, melayani bawahan rendahan seperti mereka. Ini adalah penyamaran
yang paling sempurna."
"Di saat yang sama, jika kita mempertimbangkan
risiko mereka tertangkap oleh Surga, cuci otak yang berpotensi dilacak balik
melalui formula sihir juga harus dihindari."
Loki menjawab dengan penuh penekanan.
"Saya sama sekali tidak bisa menerimanya, tetapi
saya mengerti maksud Anda."
Setelah melontarkan kalimat yang saling bertentangan itu,
Hel pun ikut menghilang.
Loki kembali menjentikkan jarinya.
"Kabut hitam, ya ... Ini sudah pasti ulah sihir
musuh atau semacamnya .... Tampaknya musuh kali ini sedikit merepotkan."
"Kalian semua, kumpulkan informasi tentang siapa
yang bergerak membebaskan kutukan rumah itu kali ini. Pastikan kalian bertindak
dengan sangat hati-hati."
Charybdis mulai menurunkan perintah kepada para dewa
bawahannya, seolah percakapan dengan Lopt tadi tidak pernah terjadi.
"Sesuai perintah Anda!"
Secara serempak, para dewa bawahan menundukkan kepala
mereka.
"Astaga, apa yang harus kulaporkan pada Knut nanti,
ya ...."
Charybdis mengeluh sambil menghela napas panjang. Di
tengah keluhannya itu,
(Akan kulakukan! Kejahatan tidak akan pernah kalah!
Benar, kejahatan tidak boleh kalah!)
Gumaman pelan Loki tenggelam oleh suara angin kencang
yang mengamuk di luar rumah.
◇◆◇
Pak Johnson dan Paman Olga datang berkunjung sebagai
utusan dari Guild Hunter. Mereka menyampaikan permintaan dari Guild Hunter agar
aku segera datang ke Central Center sekarang juga.
"Aku dipanggil ke Central Center?"
Aku hanya bisa merasakan firasat buruk yang sangat
merepotkan. Central Center adalah tempat berkumpulnya para petinggi dan
eksekutif dari berbagai negara.
Alasan mereka repot-repot memanggilku yang hanya
seorang Hunter biasa ke tempat seperti itu pastilah sangat terbatas.
"Benar. Berdasarkan namanya, sepertinya ini adalah
acara jamuan makan malam."
Jamuan makan malam, ya. Menilik dari wajah Paman Olga
yang terlihat lelah, sosok yang akan hadir dan topik obrolan dalam perjamuan
itu pasti sangat merepotkan.
"Apakah ini tentang Faesta dan Gil?"
"B-Benar. Ada juga hal tentang itu."
"Juga? Berarti ada urusan lain yang melibatkan
diriku?"
"Yah, begitulah ...."
Sesuatu yang membuat Paman Olga sampai terbata-bata,
ya. Dipikir bagaimanapun, ini jelas bukan hal yang baik.
Meski begitu, kedua orang ini sudah merawatku sejak
dulu hingga sekarang. Jika aku menolaknya di sini, itu sama saja dengan
mencoreng wajah mereka berdua.
Lagipula, Paman Olga tidak mungkin menerima permintaan
yang akan merugikanku.
"Baiklah, aku mengerti."
"Kai, aku berutang budi padamu!"
"Mengingat jajaran petinggi yang hadir, aku
benar-benar bingung harus berbuat apa kalau kau sampai menolaknya!"
Sampai-sampai Pak Johnson dan Paman Olga harus sangat
berhati-hati kepada mereka, ya. Aku sangat merasakan firasat buruk, tetapi, ya
sudahlah.
Paman Olga sudah seperti orang tuaku sendiri. Aku sudah
sepantasnya berbakti padanya.
"Tuan, Anda mau pergi ke mana?"
Faf terbangun dari sofa sambil mengucek matanya, lalu ia
bertanya kepadaku.
"Aku mau keluar sebentar sekarang."
Aku mendekati Faf, mengusap kepalanya dengan lembut,
dan membalas pertanyaannya seperti itu.
"Faf juga ikut!"
Ia mengepalkan tangan kanannya ke atas dan
mendesakku.
"Paman Olga, tidak apa-apa, kan?"
"Ya, tidak masalah jika Nona Faf ikut. Setidaknya,
Raja kita akan memakluminya. Johnson, kau juga tidak keberatan, kan?"
Dengan ekspresi kaku, Paman Olga mengangguk tegas dan
meminta persetujuan dari Pak Johnson.
"T-Tentu saja! Aku sudah sering mendengar
tentang rekan-rekan Kai."
Pak Johnson juga memberikan izin.
"Kalau begitu, mari kita pergi sekarang."
Kami mulai melangkah menuju Central Center.
Apa yang ada di depan mata kami sekarang adalah sebuah
bangunan raksasa berbentuk silinder. Inilah pusat dari Guild Hunter dunia,
Central Center.
Kami memasuki sebuah ruangan di lantai paling atas
Central Center. Tempat itu adalah sebuah ruang konferensi besar yang berbentuk
menyerupai aula.
Ruangan itu memiliki struktur kursi yang melingkar
dari titik pusatnya. Di bagian tengahnya, hampir sepuluh orang telah duduk
berkumpul.
Beberapa orang di antaranya adalah wajah-wajah yang
sudah kukenal.
Raja Kerajaan Amelia, Edward Loto Amelia, beserta Perdana
Menterinya, Johannes Roosevelt, memimpin barisan tersebut.
Dari pihak Babel, hadir Mantan Kepala Akademi Inea Renren
Lorelei dan Kepala Akademi saat ini, Chloe Valentine. Sementara dari pihak
Guild Hunter yang bertindak sebagai tuan rumah, ada sang pahlawan Hunter, Ralph
Excel.
Sebagian besar tamu lainnya baru pertama kali kulihat,
tetapi tanpa terkecuali, mereka semua menatapku dengan ekspresi kaku bak batu.
"Tuan Kai, terima kasih banyak karena Anda telah
berkenan hadir."
Perdana Menteri Johannes Roosevelt bangkit dari kursinya,
lalu membungkuk hormat dalam-dalam kepadaku.
Seakan terpicu oleh gerakannya, para peserta lain pun
ikut berdiri dengan sigap, membenarkan postur mereka, lalu menundukkan kepala
dalam-dalam.
Aku mungkin bisa mengabaikan orang-orang yang baru
pertama kali kutemui ini, tetapi sikap Ralph yang berlebihan ini benar-benar
tidak wajar karena aku sudah mengenalnya. Firasat buruk sangat menyengat
penciumanku.
"Tidak, aku yang seharusnya berterima kasih atas
sambutan kalian."
Setelah menyampaikan rasa terima kasih formal sekadarnya,
aku duduk di kursi yang telah disediakan, dan yang lainnya pun ikut duduk
kembali.
"Kalau begitu, karena ada beberapa pihak yang baru
pertama kali bertemu dengan Tuan Kai, kami akan segera memulai sesi perkenalan
diri."
"Pertama-tama, Ratu Negara Lorelei saat ini, Yang
Mulia Avery Renren Lorelei."
Seorang wanita elf cantik berambut pirang yang mengenakan
jubah serba putih bangkit berdiri, lalu membungkuk hormat.
"Tuan Kai, nama saya Avery. Senang bertemu dengan Anda!"
Ia menyapaku dengan nada suara yang terdengar gugup.
"Apakah kamu ibunya Mille-feuille?"
"Mille-feuille adalah putri saya!"
Avery menjawab dengan suara yang melengking. Sudah
kuduga.
Ini pasti karena ikatan darah di antara mereka. Ia sangat
mirip dengan putri Mille-feuille.
"Begitu, ya. Baiklah, salam kenal."
"B-Baik!"
Ia membungkuk lagi dengan suara yang lantang.
"Mari kita lanjutkan ke yang berikutnya. Kaisar
Kekaisaran Gritnil, Yang Mulia Amnes Zi Gritnil."
Seorang pria tua kekar berambut putih bangkit dari tempat
duduknya, lalu memberikan bungkukan kecil.
"Aku Amnes. Senang bertemu denganmu."
Jadi, pria ini adalah Amnes. Mungkin karena aku pernah
sangat mengintimidasinya di masa lalu, wajah Amnes terlihat pucat pasi dan
butiran keringat besar bercucuran deras dari keningnya.
"Tampaknya kita punya sedikit ikatan masa lalu,
ya."
"B-Benar."
Amnes menundukkan pandangannya, sementara seorang pria
berpakaian hitam menatap ke arahku dengan penuh minat.
"Orang yang di belakang itu, siapa kau?"
Pria berpakaian hitam yang berdiri di belakang Amnes
.... Samar-samar, aku bisa merasakan kekuatannya. Sepuluh dari
sembilan kemungkinan, dia jelas bukan manusia.
"Aku Four, pengawal Amnes."
Hanya pria ini yang terlihat santai di ruangan ini.
Terlebih lagi, melihat bagaimana dia memanggil seorang
Kaisar tanpa sebutan kehormatan, sudah bisa dipastikan dia adalah makhluk
non-manusia yang terikat dengan Soul Contract.
"Izinkan saya melanjutkan perkenalannya. Yang
terakhir adalah Wakil Raja dari Negara Besar Timur Butou, pemegang kekuasaan
tertinggi saat ini, Yang Mulia Musashi."
Pria jangkung berambut hitam panjang dengan janggut yang
tak tercukur rapi bangkit berdiri.
"Aku Musashi Miyato. Mohon bantuannya."
Ia menempelkan kepalan tangan kanannya pada telapak
tangan kirinya, lalu menundukkan kepala sedikit.
"Ya, salam kenal."
Dibandingkan dengan yang lain, hanya ekspresinya saja
yang terlihat kaku. Sepertinya ia masih bisa menjaga ketenangannya.
Ketakutan mereka kepadaku ini, dipikir bagaimanapun juga,
sungguh tidak normal. Si Johannes pasti telah membualkan sesuatu yang
tidak-tidak kepada mereka.
Aku mencoba menatap Johannes dengan pandangan mencela
sekuat tenaga, tetapi sepertinya hal itu tidak mempan sama sekali baginya.
Tanpa melunturkan senyumnya sedikit pun, ia melanjutkan,
"Raja Dverb saat ini, Yang Mulia Kaios, menyatakan
tidak dapat hadir pada kesempatan kali ini."
Ia memberikan penjelasan yang tidak terlalu mengejutkan.
Raja Dverb saat ini, Kaios, ya. Kalau tidak salah, dia
adalah adik raja yang cerdas dan merupakan sosok yang memicu penderitaan Dodd
dan kawan-kawannya.
Aku juga pernah bertarung melawan mereka.
Sejak awal, aku sama sekali tidak berharap dia akan
menunjukkan batang hidungnya di hadapanku.
Sebaliknya, aku justru murni terkejut melihat Amnes
masih berani menampakkan diri setelah kuancam sedemikian rupa kala itu.
"Jadi, alasan kalian memanggilku adalah untuk
membahas negara monster dan ras iblis, Faesta, kan?"
"Tepat sekali. Tampaknya, ada beberapa hal yang
ingin ditanyakan oleh para hadirin sekalian. Bolehkah kami meminta penjelasan
dari Anda?"
Benar juga. Mengingat mereka semua berkumpul di sini, itu
berarti mereka sudah mendengar tentang Faesta.
Namun, alasan mereka tetap datang ke sini adalah karena
ingin mendengar kebenarannya langsung dari mulutku. Kalau begitu, sebaiknya aku
menjawabnya.
"Negara Kabut, Negara Kegelapan, dan Negara Monster
Cat Meow baru saja bersatu untuk mendirikan sebuah negara baru yang bernama
Faesta."
Gumaman kecil terdengar menyambut deklarasiku.
Meskipun mereka sudah mengetahuinya sebagai sebuah informasi, mendengarnya
kembali sebagai fakta yang sudah pasti memberikan bobot yang berbeda.
Kurasa mereka semua masih setengah ragu sampai mereka
mendengarnya langsung dari mulutku.
"Siapa yang akan menjadi rajanya? Tidak mungkin seekor monster yang menjadi rajanya, kan?"
Amnes menyuarakan pertanyaan yang sangat wajar.
"Bicara lebih tepatnya, Faesta tidak memiliki raja.
Namun, jika kau mencari seseorang yang bertindak sebagai wakil raja, Gilbert
Loto Amelia saat ini sedang memegang tanggung jawab itu."
Suara keributan yang tak sebanding dengan sebelumnya
pecah di antara mereka. Bagi mereka yang tidak mengetahui situasi di baliknya,
kecemasan yang kuat terlihat jelas di wajah mereka tanpa terkecuali.
"Apakah para monster dan ras iblis itu setuju untuk
menyerahkan urusan pemerintahan kepada Pangeran Gilbert?"
Merespons pertanyaan Avery,
"Para petinggi umumnya setuju. Tentu saja ada
banyak masalah dalam detail-detail kecil, tetapi menurutku mereka mengelolanya
dengan lebih baik dari dugaan."
Aku menjawab sebatas hal yang bisa kujelaskan.
"Kalau begitu, apakah Faesta akan menjadi negara
bawahan dari Kerajaan Amelia?"
Chloe maju sebagai perwakilan untuk menanyakan
kecemasan hebat yang sedang bergejolak di ruangan ini.
"Tentu saja tidak. Faesta sepenuhnya terpisah dari
Kerajaan Amelia, dan tidak akan tunduk di bawah kendali mereka sama
sekali."
"L-Lalu, bagaimana dengan hubungan antara Pangeran
Gilbert dan Kerajaan Amelia?"
"Terkait masalah ini, Gil lebih memilih untuk
menjadi dirinya sendiri sebagai individu Gilbert Loto Amelia, alih-alih sebagai
Pangeran Kerajaan Amelia."
"Oleh karena itu, Gil bukan lagi seorang pangeran,
dan ia tidak akan berada di bawah kendali Kerajaan Amelia dalam bentuk apa
pun."
"Lalu, bagaimana jika ... seandainya Kerajaan Amelia
memaksakan hal itu ...."
"Faesta akan menunjukan taringnya pada Kerajaan
Amelia."
Ketegangan perlahan memudar dari ruangan itu mendengarkan
pernyataanku yang terdengar seperti sebuah penegasan.
Yah, Edward, Raja Kerajaan Amelia sekaligus ayah Gil,
memang memasang wajah cemberut seolah baru saja mengunyah serangga pahit.
Namun, sebaliknya, Arnold dari Pasukan Pengawal Kerajaan
yang berdiri di belakangnya justru terlihat sangat bangga. Benar-benar sangat
kontras. Terlepas dari itu ....
"Johannes, ini tumben sekali. Kau kelihatan sangat
gembira, ya?"
"Saya tidak tahu apa yang Anda maksud."
Pembohong. Pria yang miskin ekspresi ini tiba-tiba
berbicara dengan tempo cepat yang sangat jarang terjadi. Sudah pasti suasana
hatinya sedang sangat bersemangat.
Tentu saja, Johannes tidak sedang merasa senang karena
Kerajaan Amelia gagal mendominasi Faesta.
Ia hanya merasa sangat bahagia hingga ingin melompat
kegirangan karena Gil berhasil meraih kesuksesan sebagai raja de facto
di Faesta.
Jangan-jangan, sejak awal memang itulah yang menjadi
tujuan pria ini. Ah, kurasa kali ini aku terlalu banyak berpikir.
"Ada hal lain yang ingin kalian tanyakan
kepadaku?"
"Apa sebenarnya tujuan yang ingin Anda capai?"
Pertanyaan Musashi ini seketika membuat seisi ruang
konferensi menjadi sunyi senyap.
"Tidak ada yang khusus."
"Maksud Anda, serangkaian tindakan Anda sama sekali
tidak memiliki tujuan yang besar?"
Tampaknya jawabanku tadi sungguh di luar dugaannya.
Dengan mata terbelalak lebar, Musashi kembali melontarkan pertanyaan.
"Tentu saja. Aku akan hidup sesukaku. Begitulah dari dulu, sekarang, dan seterusnya."
Aku menegaskannya, seolah meresapi hal yang sudah
sangat jelas tersebut.
"... Begitu, ya. Ternyata
Anda adalah orang yang seperti itu ...."
Musashi mengangguk berkali-kali.
"Kami dari Negara Butou mendukung pendirian
negara Faesta."
Ia membuat sebuah deklarasi yang sama sekali tidak
kuduga.
"Kami, Negara Lorelei, juga sependapat."
"Kami dari pihak Babel juga setuju."
"Guild Hunter pun demikian."
Avery, Chloe, dan Ralph secara bergiliran menyatakan
dukungan mereka seperti Musashi.
"Kekaisaran Gritnil kami juga akan mendukung
pendirian Faesta, tetapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
Menjawab pertanyaan Johannes,
"Penandatanganan pakta non-agresi timbal balik
dengan Kekaisaran kami."
Amnes memberikan sebuah jawaban yang mengejutkan
bagiku.
"Tentu saja, Faesta juga pasti sangat menginginkan
hal itu."
Awalnya kupikir Kaisar ini sudah terlalu dibutakan oleh
keserakahan hingga tidak mampu membuat keputusan yang rasional.
Akan tetapi, tampaknya ia masih memiliki harga diri
minimum sebagai seorang penguasa.
"Tentu saja, jika kalian semua menginginkannya,
perjanjian pakta non-agresi itu juga bisa ditandatangani dengan negara
kalian."
Aku menyapu pandanganku ke seluruh peserta rapat, dan
memancing reaksi mereka.
"K-Kami sangat mengharapkannya!"
"Negara Butou juga."
Perwakilan Lorelei, Avery, dan perwakilan Butou, Musashi,
mengangguk setuju secara berturut-turut.
"Yang Mulia, negara kita juga tidak masalah,
bukan?"
"Ya, tidak ada alasan untuk menolaknya."
"Kalau begitu, saya akan mencatat niat ini sebagai
nota kesepahaman di sini, dan perjanjian konkretnya akan kita tandatangani pada
Upacara Pendirian Faesta mendatang. Bagaimana, apakah semuanya setuju?"
Semua yang hadir mengangguk tegas menyetujui usulan
Johannes, dan konferensi pun berakhir dengan lancar.
Saat ini aku sedang menggendong Faf yang sudah tertidur,
dalam perjalanan pulang ke rumah.
Matahari yang sebelumnya mengapung tinggi di langit kini
mulai terbenam dan memancarkan cahaya jingga.
Seolah disambut oleh cahaya senja tersebut, para siswa
dan warga Babel tampak bergegas menyusuri jalan pulang.
Itu adalah pemandangan kasual yang biasa terjadi setiap
harinya.
"Hmm?"
Ada ketidakmurnian yang jelas bercampur di sana. Bukannya
mereka memancarkan kekuatan sihir yang pekat atau menebarkan niat membunuh.
Justru sebaliknya.
Faf biasanya bereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal
abnormal yang tak biasa, seperti permusuhan dari orang lain.
Namun, Faf hanya tertidur tanpa terbangun sama sekali.
Kehadiran mereka begitu alami sampai-sampai Faf tidak menyadarinya.
Seolah-olah, mereka hanyalah eksistensi kosong yang hampa bagai udara.
Pasangan aneh itu terdiri dari dua orang. Salah
satunya memiliki rambut hitam yang tumbuh sangat panjang hingga terlihat
mengganggu, dan meskipun wajahnya tidak terlihat jelas, dari posturnya yang
sedang, ia sepertinya masih seorang pemuda.
Sedangkan yang satu lagi adalah pria raksasa tampan
berambut pirang dengan janggut tipis. Ia mengenakan jubah hitam bersulam benang
emas dengan tudung yang menutupi kepalanya.
Ho. Kedua orang ini lumayan menarik.
Jika aku memasang pembatas kekuatan dengan benar, mungkin
mereka bisa bermain dengan sungguh-sungguh melawanku.
Apakah mereka Hunter Rank A atau semacamnya?
Tidak, aku ini sangat tidak peka terhadap tingkat kekuatan manusia.
Mengingat aku bisa merasakan kekuatan mereka,
kemungkinan besar mereka adalah monster atau sejenisnya.
"Aku menantikan aksi kalian."
Kalimat itu tanpa sadar meluncur dari mulutku saat kami
berpapasan.
"—?!"
Mereka refleks berbalik untuk mencariku, tetapi sosok dan
hawa keberadaanku sudah sepenuhnya melebur ke dalam keramaian.



Post a Comment