NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki Datta Ko wo Meido ni Shitara Volume 1 Chapter 9

Chapter 9

Godaan Sang Pewaris


"Ta-Tanganku sakit..."

Aku tiba di sekolah, melewati gerbang, dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju gedung sekolah.

Sepertinya insiden menggendong ala putri tadi malam memberikan dampak yang lebih parah pada tanganku daripada yang kuduga.

Hmm, aku harus mulai berolahraga lagi. Jika kamu tidak melatih kekuatan fisik secara rutin, tubuh akan cepat menurun.

"Selamat pagi, Kiyomiya-san."

"Ah, selamat mor—eh?"

Seseorang memanggilku dari belakang, dan aku berhenti, bersiap memberikan jawaban santai.

Satu-satunya siswi yang menyapaku hanyalah Sayaka atau Maki.

Sayaka seharusnya datang ke sekolah setelah aku, dan tidak mungkin Maki menyapaku menggunakan bahasa formal.

Kalau begitu—

"Oh, ah. Maritsuji-san."

"Ya, aku Maritsuji Anri."

Rambut hitam panjang yang berkilau.

Kulit putih bersih, wajah anggun yang terukir jelas, serta tubuh mungil dan ramping. Tingginya bahkan diragukan apakah mencapai 150 sentimeter.

Penampilannya bisa disangka sebagai anak SMP, tapi anehnya, dia sama sekali tidak terlihat keanak-anakan.

Dia mengenakan seragamnya dengan sangat rapi, roknya mencapai lutut—sesuatu yang jarang bahkan di Sōshūkan, memancarkan keanggunan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Rasanya sudah lama sekali. Padahal kita bersekolah di tempat yang sama."

"Begitukah? Yah, kita kan di kelas yang berbeda."

Aku berada di kelas 1-B, dan gadis ini, Maritsuji Anri-san berada di kelas A.

Maritsuji-san juga sudah bersekolah di Sōshūkan sejak SD, jadi kami sudah saling kenal sejak lama.

Terlebih lagi, jika membicarakan keluarga Maritsuji, status sosial mereka menyaingi keluarga Kiyomiya, mereka adalah salah satu yang paling terpandang di antara yang terpandang.

Banyak keluarga bangsawan yang pindah dari Kyoto ke Tokyo setelah Restorasi Meiji, tapi cabang utama keluarga Maritsuji masih berada di Kyoto.

Kepala keluarga saat ini, kakek Maritsuji Anri-san, berada di Kyoto, sementara ayahnya, sang pewaris, tinggal di Tokyo.

Keluarga Maritsuji masih memiliki apa yang dulu menjadi "wilayah feodal" mereka, membuat mereka, dalam istilah modern, sebagai pemilik tanah utama.

Namun, sejak Periode Heian, keluarga Maritsuji sangat mencintai keindahan alam dan dikenal sebagai "Klan Penyair". Mereka tidak punya ketertarikan untuk menumpuk kekayaan, dan dalam hal kekuatan finansial, mereka bahkan tidak bisa menandingi keluarga Kiyomiya.

Meskipun begitu, berkat status sosial dan tradisi keluarga mereka yang anggun, mereka tetap mempertahankan status sebagai keluarga terpandang yang sejajar dengan keluarga Kiyomiya.

"Yah, kamu ibarat nona muda yang keluar dari majalah. Sampai-sampai aku merasa tidak layak untuk disebut sebagai temanmu."

"Ha? Tidak layak?"

Aku keceplosan mengatakannya, dan Maritsuji-san memiringkan kepalanya kebingungan.

"Ah, bukan apa-apa. Kalau begitu—"

"Tolong tunggu. Kiyomiya-san, apakah kamu punya waktu sebentar?"

"..."

Masih ada waktu sebelum bel pelajaran dimulai, dan bahkan jika tidak ada, aku tidak bisa menolak permintaan dari seorang nona muda keluarga Maritsuji.

Sekalipun keluarga kami memiliki status sosial yang setara, tetap ada perbedaan kedudukan antara aku, yang tidak bisa menjadi pewaris keluarga Kiyomiya, dan dirinya.

Saat aku mengangguk, Maritsuji-san mulai memimpin jalan.

Sepertinya kami tidak menuju ke gedung sekolah, melainkan ke tempat lain.

"Eh, apakah ada bangunan seperti ini di sini?"

"Ini bangunan baru. Dibangun sekitar dua tahun lalu."

Kami memutar ke bagian belakang gedung sekolah utama dan, setelah berjalan sebentar, sampai di sebuah bangunan kecil berbahan kayu.

"Rumah teh... ya?"

"Aku anggota klub upacara minum teh. Tolong jangan khawatirkan masalah etiket."

Senyuman yang lembut sekali, Maritsuji-san.

Meskipun lahir dan besar di Tokyo, dia sangat dipengaruhi oleh budaya Kyoto... Kalau aku melakukan kesalahan kecil, apakah dia akan berkata, "Duh, duh, Kiyomiya-han sudah menjadi orang timur yang barbar"?

Tentu saja, tidak ada hal semacam itu yang terjadi. Kami masuk ke dalam rumah teh dan duduk saling berhadapan.

Layaknya seorang nona muda dari keluarga terpandang, Maritsuji-san terlihat sempurna bahkan saat duduk bersila seiza.

Maritsuji-san adalah—

"Maritsuji."

"Ya."

"Kamu seharusnya tidak berbicara kepadaku di depan orang lain."

"Aku menentukan sendiri dengan siapa aku berbicara," tegas Maritsuji dengan senyuman di wajahnya.

Dia mungkin terlihat lembut, tapi dia mengatakan apa ingin dia katakan.

Begitulah sosok nona muda Maritsuji Anri.

"Bahkan di tempat umum, kamu tidak perlu menambahkan '-san' di belakang namaku. Tentu saja, yang paling membuatku bahagia adalah jika kamu memanggilku dengan nama depanku."

"Bahkan orang tuamu menambahkan '-san' di belakang namaku."

Benar sekali, aku pernah bertemu dengan orang tua Maritsuji saat masih kecil.

Aku hanya mengekor ayahku dalam sebuah acara bepergian, dan keluarga Maritsuji sudah menunggu di sana.

"Orang tuaku bersikap tidak sopan kepadamu saat itu."

"Mereka sama sekali tidak bersikap tidak sopan."

Hanya saja, orang tua Maritsuji tidak pernah memanggilku dengan nama, dan mereka bahkan tidak menatap mataku.

Hal semacam itu tidak hanya terbatas pada keluarga Maritsuji, situasinya hampir sama setiap kali aku bertemu dengan orang-orang dari keluarga terpandang lainnya.

"Kiyomiya-san benar-benar berjiwa besar. Kalau begitu, aku akan langsung ke topik utama hari ini."

"S-Silakan?"

"Sepertinya kamu belakangan ini akrab dengan Hisaka-san."

"Eh...!"

Untuk sesaat, rasanya suhu di dalam rumah teh itu turun sekitar sepuluh derajat.

"Selama lebih dari sembilan tahun sejak SD, kamu begitu dingin kepadaku sampai aku tidak ingat kamu pernah memulai percakapan, tapi kenapa kamu lebih memilih Hisaka-san?"

"I-Ini bukan soal memilih atau semacamnya. Kami tidak dekat-dekat amat."

"Sedih rasanya mendengar kalian tidak dekat."

"Lalu kamu mau aku berbuat apa?"

"Tidak, aku hanya mengonfirmasi faktanya. Aku akan mengambil tindakan setelah ini."

"Tindakan!?"

Hanya karena aku berhubungan baik dengan Sayaka, aku tidak merasa telah melakukan sesuatu yang memicu tindakan apa pun dari Maritsuji.

"Memang benar, Hisaka-san itu cantik, dan di atas segalanya, dia unggul dalam akademik maupun olahraga. Dia tampaknya memiliki sedikit kesulitan dalam interaksi sosial dan memiliki beberapa masalah emosional, tapi terlepas dari itu, dia sempurna."

"...Dan latar belakang keluarganya dan segala macam."

"Aku tidak memedulikan hal semacam itu. Ya, asuhan itu lebih penting daripada keturunan."

"Ucapan itu keluar dari orang dengan keturunan paling terpandang di antara semuanya, Maritsuji...?"

Mungkin karena dia lahir di keluarga terbaik dan dididik dengan baik, Maritsuji tampak tidak peduli pada silsilah darah.

"Namun, aku juga sadar kalau silsilah keluarga itu penting."

"Hm?"

Maritsuji, yang masih dalam posisi seiza, meletakkan tangannya di atas tatami dan bergeser maju dengan lututnya.

Dia mendekatiku, begitu dekat hingga lutut kami saling bersentuhan.

"Kiyomiya-san..."

"A-Ada apa?"

"Jika kamu mengambilku sebagai Istrimu, posisi sebagai pewaris keluarga Kiyomiya tidak akan tergoyahkan."

"Istri!?"

"Kamu tidak perlu terkejut. Siswa yang sudah bertunangan bukanlah hal yang langka di Sōshūkan."

"Memang benar, tapi."

Jika menghitung kesepakatan lisan, mungkin sekitar setengah dari siswa di sini sudah bertunangan, bukan?

"Hingga saat ini, satu-satunya keluarga di generasi kita yang merupakan pasangan yang cocok untuk keluarga Maritsuji adalah keluarga Kiyomiya."

"Kalau aku adalah pewaris keluarga Kiyomiya, sih."

Ada satu keluarga lagi yang cocok dengan keluarga Maritsuji, tapi mereka tidak memiliki anak laki-laki.

Jika aku adalah pewaris resmi keluarga Kiyomiya, pertunangan dengan gadis cantik ini, Maritsuji Anri, pasti sudah diatur.

"Pertunangan antara anak haram keluarga Kiyomiya dan seorang nona muda keluarga Maritsuji sama sekali tidak realistis."

"Tolong beritahu aku jika kamu ingin bertunangan. Aku akan mengirimkan satu set lengkap dokumennya."

"Ini bukan kontrak asuransi..."

"Pernikahan pada dasarnya adalah sebuah kontrak."

"Kamu sangat realistis."

"Pernikahan yang diatur jauh lebih sulit daripada pernikahan atas dasar cinta. Kamu harus mempertimbangkan keseimbangan status sosial, serta keuntungan dan kerugian bagi kedua keluarga. Jauh lebih sulit daripada sekadar jatuh cinta lalu menikah. Hal itu cenderung dibicarakan secara negatif di era modern, tapi ada banyak orang yang menemukan kebahagiaan dalam pernikahan yang diatur, dan aku akan sangat menghargai jika kamu tidak mengabaikan keberadaan mereka."

"Pidatonya panjang banget! K-Kamu sepertinya punya perasaan yang kuat soal pernikahan yang diatur."

"Sejujurnya, aku tidak tertarik pada pernikahan atas dasar cinta. Aku menginginkan seseorang dari keluarga terhormat yang telah dididik dengan tata krama yang benar. Dan aku yakin aku memiliki mata untuk membedakan orang seperti itu."

Maritsuji, dengan lutut yang masih menyentuh lututku, mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi.

Mata besarnya yang indah, yang sama sekali tidak terlihat seperti bisa melewatkan sesuatu, sedang menatap lurus ke wajahku.

"Kiyomiya-san, kamu adalah satu-satunya putra dari kepala keluarga Kiyomiya. Tidak masalah meskipun kamu seorang anak haram. Aku menganggapmu sebagai pewaris keluarga Kiyomiya dan pasangan yang cocok untukku."

"Jangan membuat kesimpulan gegabah tentang keluarga orang lain."

Cara berpikir Maritsuji ini cukup unik. Yah, bisa dibilang dia hanya mengikuti aturan masyarakat aristokrat lama.

"Aku juga yakin tidak ada masalah dengan posisimu di keluarga Kiyomiya. Satu-satunya hal yang kukhawatirkan adalah Hisaka-san."

"Kembali lagi ke topik itu."

Seperti yang dia katakan tadi bahwa itu adalah topik utama, Maritsuji tampaknya tidak bisa mengeluarkan hal itu dari pikirannya.

"Aku akan mengizinkanmu memiliki wanita simpanan."

"Ada kata-kata kuno muncul lagi."

"Tentu saja, kamu tidak akan mengizinkan aku berselingkuh, Kiyomiya-san. Aku tahu."

"Maritsuji tahu hal yang bahkan tidak kuketahui!?"

"Libido pria adalah hal yang egois. Yang bisa kuizinkan adalah berselingkuh dan... dan berbagi ranjang bertiga."

"Tidak ada yang lebih jauh dari itu!"

Kamu sepenuhnya memaklumi semuanya!

"Namun, aku adalah istri sah. Aku adalah nomor satu."

"Asal tahu saja, di negara kita, sistem selir sudah dihapuskan pada era Meiji dan monogami yang ditetapkan..."

"Itu hanya lelucon. Itu baru berjalan seratus atau seratus lima puluh tahun. Keluargaku sudah ada sejak ribuan tahun."

"..."

Nah, ini dia, pernyataan yang mengukuhkan prasangka terhadap orang-orang Kyoto.

Seperti, "Aku tidak peduli apa yang diputuskan oleh kalian orang barbar dari wilayah Kanto..."

Maritsuji lahir dan besar di Tokyo, tapi mungkin karena dia dikelilingi oleh banyak orang dari Kyoto, dia terkadang menggunakan dialek mereka.

Itu yang menyeramkan...

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Maritsuji tersenyum cerah.

"Aku hanya bercanda. Aku juga siswi SMA yang hidup di era modern, tahu. Benar, mari anggap saja aku tidak akan mengizinkan adanya wanita simpanan."

"Mumpung lagi bahas ini, bisakah kita juga berhenti duduk terlalu dekat?"

"Ini kan rumah teh, jadi wajar kalau kita duduk dekat—t-terlalu dekat! Kurang ajar sekali!"




Tiba-tiba, Maritsuji mundur ke belakang dengan dorongan yang begitu kuat hingga dia hampir menabrak dinding.

Lututnya terangkat, membuat ujung rok setinggi lututnya berantakan dan memperlihatkan paha putihnya.

"Hyaaaaaa!"

"Ada apa dengan jeritan itu?"

Saat aku menyanggahnya, Maritsuji terburu-buru menahan roknya dan kembali ke posisi duduk seiza.

"A-Aku tidak bermaksud untuk duduk sedekat ini. Bagaimanapun juga, aku adalah seorang gadis sebelum menikah."

"Sebelum menikah, dan jelas-jelas sangat terlindungi..."

Aku tidak bisa melihat pakaian dalamnya, tetapi Maritsuji tampak sangat panik.

Rumah teh sudah sejak lama digunakan untuk pembicaraan rahasia, namun tingkat kedekatan seperti ini tampaknya tidak terduga bahkan bagi Maritsuji sekalipun.

"K-Kita seharusnya sudah mendengar bel pertama sebentar lagi. Aku enggan untuk pergi, tapi kita harus berangkat."

"Ya... oof!"

"Ah!"

Saat aku mencoba berdiri, kakiku terasa kesemutan dan aku terhuyung.

Tepat saat aku hendak terjatuh dengan tidak anggun, Maritsuji dengan cepat menangkapku.

Sensasi yang lembut merambat ke tubuhku.

Maritsuji bertubuh mungil dan dadanya tergolong kecil, tetapi, ketika kami bersentuhan seperti ini, dia terasa lembut.

"Tadi itu berbahaya. Anak-anak zaman sekarang tidak terbiasa duduk secara seiza, jadi kaki mereka cepat kesemutan."

"...Baik kediaman utama maupun kediaman lama kami berdua bergaya Barat. Rumah keluarga Maritsuji adalah rumah tradisional Jepang, kan?"

"Ya, rasanya panas di musim panas dan dingin di musim dingin, jadi cukup sulit. Rumah itu hanya menang besar saja."

Maritsuji tersenyum sambil memegangiku.

"Um, terima kasih sudah membantuku. Kamu bisa melepaskannya sekarang, Maritsuji."

"Melepaskan... s-sekarang kamu bahkan merangkulku! Aku tidak punya pilihan selain mengambilmu sebagai suamiku, Kiyomiya-san!"

Wajah Maritsuji merona merah padam dan dia menarik diri menjauh dariku.

"Tingkat kesucianmu benar-benar melampaui batas. Bukankah putri-putri bangsawan zaman dulu justru agak bebas? Seperti, tradisi menyelinap di malam hari itu hal yang lumrah."

"T-Tolong jangan membicarakan hal-hal dari seribu tahun yang lalu!"

"Keluarga Maritsuji sudah ada sejak seribu tahun yang lalu, kan?"

Baru saja beberapa saat yang lalu, dia mengatakan sesuatu seperti, "Kami masih melakukan hal-hal dengan pola pikir seribu tahun."

"Bahkan bagimu, Kiyomiya-san, menyelinap di malam hari itu... y-yah, kita harus mulai dengan pertemuan rahasia terlebih dahulu. Cinta antara pria dan wanita adalah tentang mengulang kencan rahasia, bukan?"

"Cara pacaran yang sungguh elegan..."

Yah, banyak pasangan yang memang berpacaran secara sembunyi-sembunyi, jadi bisa dibilang itu tidak salah bahkan di era modern sekalipun.

"Ngomong-ngomong, Kiyomiya-san. Izinkan aku untuk mendekat sedikit lagi."

Maritsuji mendekatiku lagi—atau setidaknya begitu pikirku, namun dia mendekatkan bibirnya ke telingaku.

Bibirnya yang tipis hampir menyentuh telingaku, dan hembusan napasnya yang halus terasa menggelitik.

"Aku akan mengizinkanmu berhubungan baik dengan Hisaka-san."

"Wewenang apa yang kamu miliki?"

"Meskipun begitu, Hisaka-san, aku tidak bisa bilang perilakunya di dalam sekolah itu cekatan. Meski sangat mencolok, sikap dinginnya terhadap mereka yang berasal dari keluarga terpandang tidak dapat diterima. Kamu sebaiknya tidak meremehkan mereka."

"...Kenapa kamu tidak mengatakan hal itu secara langsung pada Sayaka, bukan padaku?"

"Astaga, kamu memanggilnya dengan nama depannya. Aku tidak bisa membiarkan hal itu berlalu begitu saja... tetapi kamu harus mengingat nasihatku yang tadi."

"Terima kasih, akan kuingat."

Mungkin bagian terakhir tadi adalah topik utama Maritsuji yang sebenarnya.

Bukan hanya aku yang punya banyak musuh, tapi Sayaka juga?

Mungkin memang lebih baik bagiku dan Sayaka untuk menghindari berinteraksi di sekolah.



Chapter 8 | ToC | Chapter 10

Post a Comment

Post a Comment

close