Chapter 18
Keraguan Maid
"Sepertinya kamu tidak makan banyak
hari ini, Keiji-kun."
"Iya, cuma sedikit."
Menu utama malam ini adalah salmon
meunière.
Rasanya ringan namun dibumbui
dengan pas, kulitnya garing dan harum, serta sangat lezat. Makanan itu sangat
enak, tapi...
"Perutku agak tidak enak.
Tapi kurasa sebentar lagi juga sembuh."
"Begitukah. Seharusnya aku
membuat menu yang lebih ramah di perut," kata Sayaka dengan nada kecewa
sembari mulai membereskan piring-piring.
Aku hampir tidak sanggup
menghabiskan makanan yang disajikan, tapi aku tidak minta tambah nasi ataupun
sup.
"Aku mau balik ke kamar dan
berbaring sebentar. Aku baik-baik saja, jadi tolong urus bersih-bersihnya ya,
Sayaka."
"..."
"Hm? Ada apa, Sayaka?"
Sayaka menatapku dengan tatapan penuh
arti.
Atau lebih tepatnya, apakah dia sedang
mengamatiku dari atas sampai bawah?
"Ah, bukan apa-apa. Ya sudah, silakan
berbaring dan istirahat. Kalau kamu butuh obat lambung atau minum, panggil aku
kapan saja."
"Ya."
Rumah besar ini sangat luas, jadi
setiap kamar dilengkapi dengan interkom.
Aku bisa menghubungi kamar-kamar
tersebut dari kamarku lewat interkom, begitu juga dengan ruang tamu, ruang
makan, dan dapur.
Meski aku tidak pernah menggunakannya sama
sekali.
Walaupun dia seorang Maid, aku merasa
tidak enak kalau memanggilnya begitu saja secara lancang...
Entah karena aku ini setengah rakyat
jelata, tapi aku sama sekali tidak bisa bertindak layaknya seorang bangsawan.
"Tidak apa-apa kalau memang tidak
bisa," gumamku, lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.
Kemudian, aku merebahkan diri di
atas tempat tidur.
Baru saja aku merasa resmi
merekrut Sayaka sebagai seorang maid, sekarang aku malah direpotkan oleh
kedatangan seorang nona muda dari keluarga Maritsuji.
Maritsuji Anri itu... aku tidak
cukup hebat untuk tidak merasa gugup atau kelelahan karenanya.
Dan entah kenapa, dia dan Sayaka
malah saling bersitegang.
"Ugh... perutku..."
Tidak disangka aku malah terkena
sakit perut akibat stres di usia muda begini.
Mungkin menjalani hidup tanpa
beban sebagai seorang sampah jauh lebih baik...
"Mungkin aku harus minum obat...
tidak, aku mau minum teh hangat saja."
Aku perlahan bangkit dari tempat tidur dan
meninggalkan kamar.
Aku sebenarnya bisa menghubungi Sayaka
lewat interkom, tapi aku tetap merasa tidak enak kalau harus memanggil
seseorang hanya untuk secangkir teh.
Meskipun aku tumbuh di lingkungan rumah
tangga yang selalu dikelilingi Maid, aku heran dengan kepekaan kaum rakyat
jelataku ini.
"Ah, Sayaka mungkin sudah selesai
bersih-bersih sekarang."
Sekitar tiga puluh menit telah berlalu
saat aku melamun dan berbaring tadi.
Sayaka kemungkinan besar sudah selesai
membersihkan rumah dan kembali ke kamarnya.
Kalau begitu, aku akan membuat teh sendiri
saja.
"...Hm?"
Dalam perjalanan menuju dapur, langkahku
terhenti di tengah lorong.
Sepertinya aku mendengar sesuatu
dari arah ruang makan...
"Lagipula, karena aku seorang
maid, tuanku adalah yang utama. Keiji-kun adalah orang yang harus dihibur.
Bukan nona muda berhati hitam itu."
Kira-kira siapa yang dia maksud
sebagai nona muda berhati hitam itu? Maki?
"Aku penasaran soal hal
seperti ini. Keiji-kun mungkin bakal jijik melihatnya. Aku tidak begitu
mengerti apa yang dipikirkan para cowok... sebenarnya cowok itu apa, sih?"
Entah kenapa, terdengar seperti
dia sedang menjelek-jelekkan semua cowok, tapi sebenarnya apa yang sedang dia
lakukan?
Rasanya aneh kalau terus
menguping, jadi aku membuka pintu ruang makan untuk melihatnya.
"Sayaka, apa yang sedang
kamu—"
"S-Selamat datang,
Master-nyan."
"Sebenarnya apa yang sedang
kamu lakukan!?"
"Ah!?"
Di sisi lain pintu itu terdapat seorang
maid bertelinga kucing.
Ya, seorang maid bertelinga kucing.
"K-K-K-K-K-K-K-Keiji... kun!"
"Apa boleh aku panggil kamu
Sayaka...?"
Maid bertelinga kucing di hadapanku ini
begitu berbeda dari dirinya yang biasanya sampai-sampai aku tidak bisa menahan
diri untuk bertanya.
Rambut semi-panjang berwarna cokelat muda
miliknya dibiarkan tergerai, dan dia mengenakan bando telinga kucing.
Berbeda dari seragam maid-nya biasanya,
bagian dadanya terbuka lebar, dan roknya sangat pendek hingga paha mulusnya
hampir terlihat sepenuhnya.
Sebagai pelengkap, sebuah ekor palsu
tampak mencuat dari balik roknya.
Bagaimana cara ekor itu dipasang?
"...Hei, Sayaka. Boleh aku ambil
fotonya?"
"Kalau kamu mengambil fotoku, jiwaku
bakal melayang keluar dari tubuh... karena kaget."
"Memangnya separah
itu!?"
Justru akulah yang paling kaget di
sini!
Selain berdandan sebagai maid
kucing, tangannya ditekuk seperti gerakan kucing memanggil, satu kakinya
diangkat, dan dia memasang pose yang sangat dinamis.
Di satu sisi, dia adalah maid
kucing yang sempurna.
Tampaknya timing saat aku membuka
pintu dan Sayaka memasang pose itu terjadi bersamaan.
Timing ini juga rasanya pas
banget...
meskipun ini pasti jadi hal paling
mengenaskan bagi Sayaka.
"I-Ini! Aku tadinya cuma mau
menyembuhkanmu, Keiji-kun! Aku cuma iseng mencoba kostum cosplay yang kubeli di
pusat perbelanjaan!"
"Kamu benar-benar melakukannya hanya
karena iseng."
Dan dia sepertinya mengira aku
akan sembuh berkat kostum ini.
" Posisim8u juga sempurna banget.
Jangan-jangan ini bukan pertama kalinya kamu pakai baju itu?"
"A-Aku cuma pernah mencobanya sekali
sebelumnya. Aku tidak meriset posenya di internet atau semacamnya kok."
"Kamu merisetnya, ya..."
Yah, tentu saja posenya jadi terlihat
begitu imut tanpa bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aku benar-benar ingin mengambil
foto.
"H-Hei, sampai kapan kamu mau melotot
terus! Aku tidak akan memaafkanmu, Master!"
"Memangnya dosanya sebesar itu
sampai-sampai Master pun tidak dimaafkan!?"
Justru akulah yang bingung sebenarnya
sedang dipertontonkan apa di sini.
"Lagipula, berapa lama lagi kamu mau
bertahan dengan pose seperti itu..."
"Hah? Ah, kyaa... aah!"
"Ah!"
Sayaka, yang sepertinya baru tersadar
kalau dia masih memperagakan pose kucing, buru-buru mencoba berdiri tegak dan
malah terjatuh.
Itu akibatnya kalau bergerak
mendadak...
"H-Hei, Sayaka."
"Nnngh... pantatku sakit... hei, kamu
melihat ke mana sih!?"
Sayaka terjatuh dengan posisi terduduk,
dan bagian dalam roknya terlihat sangat jelas.
Paha mulusnya yang berisi dan tampak
empuk, serta celana dalam warna merah muda yang di luar dugaan sangat imut,
terpampang tanpa aling-aling.
"M-Moo!"
Dengan gerakan cepat, Sayaka langsung
duduk bersimpuh dan menahan roknya.
Ugh, padahal aku bahkan belum melihatnya
sedetik pun.
Celana dalam sang maid bertelinga kucing
yang super imut itu langsung tersembunyi dalam sekejap.
"...Keiji-kun, aku belum memberikan
pelayanan yang seperti itu ya. Sebanyak apa pun gaji yang kuterima, aku tidak
bakal mau melakukannya, mengerti?"
"A-Aku tahu kok."
Sayaka menatapku tajam dengan kedua
pipinya yang agak merona, dan aku pun terburu-buru mengangguk.
Aku sendiri sudah menyangsikan keputusanku
mempekerjakan teman sekelas perempuan sebagai maid.
Kalau sampai aku menuntut
"pelayanan" di luar batas tugas seorang maid, tamatlah riwayatku
sebagai manusia.
Hm? Apa Sayaka baru saja bilang
"belum"?
Aku tidak bisa mengabaikan kata itu begitu
saja... apa boleh aku menganggapnya punya arti yang lebih dalam?
"Duh... pantatku sakit."
"Perutku juga masih sakit,
tahu."
"Hatiku juga ikut sakit."
"B-Begitu ya."
Kurasa seluruh rentetan kejadian dari awal
sampai akhir ini adalah kegagalan Sayaka sendiri, alias hancur karena ulahnya
sendiri.
Sayaka berdiri sambil memegangi
bagian belakang seragam maid rok mininya.
"J-Jadi, kamu datang untuk apa,
Keiji-kun?"
"Oh, ah. Aku tadi berpikir untuk
minum teh hangat."
"B-Baiklah. Pergilah ke ruang tamu.
Nanti kubawakan ke sana."
"Oke, terima kasih."
Aku ingin minta teh yang hangat-hangat
kuku dan agak encer, tapi Sayaka pasti sudah paham.
Saat aku hendak meninggalkan ruang makan,
aku menyadari wajah Sayaka masih memerah, dan dia tetap memegangi roknya.
"Kamu boleh ganti baju dulu
kok."
"...Biar saja, aku akan membawakanmu
teh sebagai maid bertelinga kucing spesial."
"Ooh, itu baru yang
terbaik!"
"Kamu benar-benar
sampah..."
"...Ya, aku memang
sampah."
Aku hanya bisa mengangguk setuju.
"Duh, dasar mesum."
"Mesum!?"
Seorang maid yang mencoba
memberikan pelayanan dengan kostum telinga kucing, dan seorang master yang
tiba-tiba disuguhi pemandangan itu hingga tak sengaja mengintip celana
dalamnya.
Aku ingin orang ketiga menghakimi
siapa di antara kami yang sebenarnya mesum.
Bagaimanapun juga, mempekerjakan
seorang gadis sebagai Maid berarti insiden-insiden seperti ini memang bakal
terjadi.
Aku akan berusaha menjaga
kesopanan sebagai seorang master, lagipula, cuma ada kami berdua di kediaman
tua ini.
Chapter 17 | ToC | Chapter 19




Post a Comment