NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki Datta Ko wo Meido ni Shitara Volume 1 Chapter 23

Chapter 23

Keramahan Maid


Keesokan harinya di ruang kelas—

Hisaka Sayaka datang ke sekolah seperti biasa dan duduk di kursinya seperti biasa pula.

Dengan raut wajah dinginnya yang biasa, dia mengabaikan orang-orang di sekitarnya seolah menegaskan bahwa itu "bukan urusanku."

Tampaknya dia berakting seolah-olah insiden menangis di ruang kelas tidak pernah terjadi.

"Hisaka benar-benar bermuka badak ya? Apa kamu tidak berpikir begitu juga?"

"...Kalau soal muka badak, kamu juga tidak berhak bicara begitu, Fujikawa."

Entah kenapa, Fujikawa sedang duduk di kursi di depanku sembari membalikkan badan menghadapku.

Sebuah kain kasa berukuran besar tertempel di pipi kirinya, tampak begitu menyakitkan.

Menyakitkan memang, tapi orang yang melukainya tidak lain adalah aku sendiri.

"Hei, apa kamu sudah lupa apa yang terjadi kemarin? Apa kamu dipukul begitu keras sampai memorimu hilang?"

"Aku cuma kena pukul di wajah sekali. Tentu saja aku ingat betul. Aku tidak akan pernah melupakan ingatan yang begitu menyenangkan sekaligus begitu memalukan itu. Kiyomiya, suatu hari nanti aku akan membunuhmu."

"Silakan saja datang dan bunuh aku kapan pun kamu mau."

Aku dan Fujikawa sama-sama memasang senyum palsu di permukaan.

Kami pasti terlihat cukup mengerikan di mata orang-orang di sekitar kami.

Lagipula, satu kelas sudah tahu kalau Fujikawa dulunya memperlakukanku seperti sampah dan aku hanya bersikap tersenyum sambil menahannya.

"Fujikawa."

"Waduh!"

Tiba-tiba saja, Sayaka sudah berdiri di sampingku.

Lalu, dia menatap tajam ke arah Fujikawa.

"Fujikawa, singkirkan badanmu. Itu kursiku."

"Ini bukan kursi Sayaka juga kali."

Itu adalah kursi milik seorang siswa bernama Shimazaki.

"Hmph, akrab banget ya. Seorang rakyat jelata dan seekor sampah setengah rakyat jelata."

Fujikawa berkata penuh kebencian lalu bangkit berdiri dari kursi itu.

"Tapi tetap saja, Hisaka, kelompokku bakal menyambutmu dengan tangan terbuka kok. Benar juga, kami memang tidak bisa menjadikanmu anggota resmi, tapi mungkin kami bisa mempekerjakanmu memakai seragam maid. Hahaha."

"Menjadi maid-mu itu benar-benar di luar pilihan."

Sayaka, tidak seperti biasanya, memberikan senyuman cerah kepada Fujikawa.

"Aku adalah maid-nya Kiyomiya-kun—maid-nya Keiji-kun."

"...Hah. Seorang Hisaka tidak mungkin bisa jadi maid keluarga Kiyomiya. Putra dari kepala keluarga ini mungkin cuma begini, tapi keluarga Kiyomiya adalah keluarga bergengsi yang setara dengan keluarga Toyohara dan Maritsuji."

"Aku tahu betul soal itu."

Saat Sayaka membalasnya dengan senyuman, Fujikawa terlihat terintimidasi lalu berjalan menjauh.

"H-Hei, itu kalimat yang lumayan berbahaya untuk diucapkan."

"Tidak mungkin dia bakal mengira itu benar."

Apa Sayaka merasa hal ini agak lucu?

"Tapi, jadi aku bahkan tidak pantas untuk menjadi maid keluarga Kiyomiya, ya?"

"Y-Yah... entahlah."

Memang benar kalau tidak jarang bagi keluarga bergengsi untuk memiliki maid, dan banyak keluarga yang sangat selektif mengenai status para Maid mereka.

"Keluarga pelayan" yang telah mengabdi kepada suatu keluarga selama turun-temurun memang masih ada, dan kalaupun tidak ada, mereka kebanyakan mempekerjakan kerabat dan jarang mempekerjakan orang asing.

Aku penasaran apakah sebaiknya aku membeberkan saja bahwa Sayaka adalah putri dari mantan Maid keluarga Kiyomiya.

"Kamu benar, itu tidak penting. Kita sudah resmi membuat musuh dengan si mesum itu—maksudku, Fujikawa. Apa yang bakal kamu lakukan?"

"Membuat musuh dengan Fujikawa sendiri bukanlah masalah besar."

Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang bakal membuatku dalam masalah besar kalau sampai ada yang mendengarnya di ruang kelas yang ramai ini?

"Masalahnya adalah aku sudah menunjukkan diri bahwa aku bukan lagi diriku yang dulu. Kalau aku terus begini, aku tidak akan bisa bertahan di Sōshūkan..."

Paku yang mencuat bakal dipukul jatuh.

Kalau kamu tidak ingin dipukul jatuh, kamu harus punya keberanian yang bakal membuat orang-orang yang mendatangi dengan palu menjadi gentar.

Pengaruh nama Kiyomiya memang tidak kecil, tapi fakta bahwa aku tidak diakui sebagai pewaris oleh keluarga Kiyomiya adalah fakta yang sudah rahasia umum, jadi aku tidak bisa mengandalkannya.

"Fujikawa sepertinya berpeluang besar bakal membalas. Bodoh banget dia, padahal dia sudah dihajar waktu mengeroyokku berlima."

"Menghajarnya saja tidak ada artinya."

Ucapku dengan tegas.

"Baik kita maupun Fujikawa dan kelompoknya tidak bisa membicarakan insiden kekerasan itu. Aku bakal dihukum kalau sekolah sampai tahu, dan itu juga cerita yang memalukan buat mereka. Kalau aku mau menjatuhkan Fujikawa, aku harus melakukannya secara terbuka, bukan dengan kekerasan sembunyi-sembunyi."

"Ada banyak kesempatan untuk bersaing dalam ujian dan acara di sekolah."

"Kita perlu menambah sekutu."

Ujian memang pertarungan individu, tapi acara sekolah—misalnya kalau ada kesempatan untuk unggul dari Fujikawa dan kelompoknya di festival olahraga atau festival budaya, aku tidak boleh melewatkannya.

Aku harus mempersiapkan diri agar selalu siap kapan pun kesempatan itu muncul.

"Aku sekutumu, Keiji-kun."

"Ya, keberadaan Hisaka Sayaka adalah hal yang besar."

Tidak perlu diragukan lagi soal itu.

Seorang siswa teladan yang berhasil mempertahankan posisi teratas di Sōshūkan ini selama satu tahun, sekaligus satu-satunya siswa penerima beasiswa.

Bahkan setelah kuota beasiswanya dicabut secara paksa, dia tetap bertahan di sekolah dengan membayar biaya sekolah yang tidak bisa dibilang murah.

Kalau Hisaka Sayaka ada di sisiku, dia bakal jadi pendorong rasa gentar bagi orang-orang yang berniat memukulku dengan palu.

"Tapi kita butuh lebih banyak orang. Maritsuji bukan musuh maupun sekutu."

"Bagi saya dia terlihat seperti musuh."

Jadi Sayaka dan Maritsuji Anri masih saling bersitegang ya.

Apa aku bakal terjebak di tengah-tengah dan terkena imbasnya?

"Kalau begitu, kelompok Kiyomiya yang sekarang cuma berisi aku, Sayaka, dan Maki."

"Aku ikut terseret dalam hal ini juga!?"

Maki, yang tadinya mengawasi kami secara sembunyi-sembunyi, melepaskan jeritan.

Lalu, dia melangkah lebar menuju mejaku.

"Maki, seberapa banyak yang kamu dengar?"

"Sesuatu tentang maid, sesuatu tentang kelompok Kiyomiya. Kalian berdua bicaranya terlalu bergumam. Kalian kan masih muda, bicaralah yang keras."

"Kenapa kamu malah bersikap sok hebat begitu padahal cuma menguping? Lagipula, Maki. Kamu punya waktu tidak setelah pulang sekolah hari ini?"

"Hmm, kencan... kah?"

"Mana mungkin kamu punya pacar, Maki."

"Kamu sudah berhenti jadi sampah dan malah jadi tidak peka!?"

Maki menggebrakkan tangannya ke mejaku.

"Bahkan kalau kamu punya acara kencan pun, batalkan saja. Maki, datanglah ke rumahku setelah pulang sekolah."

"Dulu kamu menolak keras, sekarang kamu malah mengundangku?"

"Tentu saja, aku ini seorang Kiyomiya. Aku akan menjamu tamuku dengan benar."

"Baiklah, boleh juga. Aku bakal menantikan jamuan darimu."

Maki mengangguk lalu berjalan menjauh dari mejaku.

"Sayaka."

"Ya."

Saat aku memanggilnya, Sayaka mendekatkan telinganya ke bibirku.

"Kamu dengar sendiri kan tadi. Kita kedatangan tamu hari ini."

"Dimengerti."

Seperti yang diharapkan dari seorang siswa teladan, dia sepertinya langsung paham apa yang ingin kukatakan.

Tugas seorang maid tidak akan mungkin berjalan kalau tidak bisa membaca pikiran tuannya.

"Selamat datang, Sogano Maki-sama."

"...Keiji, apa-apaan ini?"

Maki berdiri tercengang di pintu masuk Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya.

Dia tampak terkejut oleh Sayaka yang menyambutnya sebagai seorang maid. Yah, tentu saja dia bakal terkejut.

"Ah, Sayaka. Kamu tidak perlu terlalu sopan dengan temanku. Terutama dengan yang satu ini, kamu bisa panggil nama panggilannya saja."

"Um, tidak perlu terlalu formal kok, Maki."

"Sikapmu sudah seperti seorang tuan tanah saja, Hisaka-san!"

"Cuma bercanda, Maki-san. Izinkan saya memperkenalkan diri sekali lagi. Saya adalah Hisaka Sayaka, seorang maid yang melayani Keiji-kun di Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya."

Sayaka membungkuk hormat memberi hormat hormat khas maid, sambil memegang ujung rok di atas lututnya.

Mungkin karena dia sudah membungkuk berkali-kali, dia jadi makin mahir melakukannya.

"Ruang tamu saja sudah cukup untuk hari ini. Sayaka, tolong buatkan teh untuk kami."

"Sesuai perintah."

"...Kamu mendidiknya dengan baik ya."

Maki memasang raut wajah yang rumit saat memperhatikan Sayaka berjalan menuju dapur sendirian.

Ini mungkin ekspresi yang bakal dibuat orang-orang saat melihat teman sekelas mereka bekerja sebagai seorang maid.

"Jangan-jangan dia sudah ada di sini waktu aku datang sebelumnya? Aku mencium bau wanita, tahu."

"Mencium bau? Tajam banget penciumanmu?"

"Bau itu cuma kiasan. Cuma saja, untuk ukuran orang yang tinggal sendirian, rumah ini terlalu rapi, dan aku merasakan sentuhan wanita dari cara rumah ini dirapikan."

"..."

Maki bukan cuma jago berkomunikasi, tapi dia juga punya intuisi yang tajam.

Aku tadinya berpura-pura hidup sendirian dengan membuat ruang tamu berantakan, tapi mungkin kepura-puraan yang amatir itu malah membuatnya curiga.

Bagaimanapun juga, aku mungkin tidak bakal bisa menyembunyikan keberadaan maid Sayaka darinya.

Bersama Maki, kami pindah ke ruang tamu dan duduk di sofa di seberang meja.

"Aku sudah cukup kaget waktu kamu meninggalkan kediaman utama keluargamu dan pindah ke rumah besar kuno begini. Tapi tidak disangka kamu malah mempekerjakan gadis cantik sebagai maid. Kamu pikir kamu ini siapa, Keiji?"

"Kamu kan sudah menyelidiki kepindahanku. Masa kamu tidak tahu kalau aku mempekerjakan seorang maid?"

"Mana mungkin aku tahu soal itu kecuali kalau aku memasang kamera pengawas. Ah, Keiji-san, boleh aku pinjam kamar mandimu?"

"Apa-apaan dengan gaya bicara nona muda itu! Apa kamu berencana memasang kamera!?"

"Cih, ketahuan ya." Maki mulai bangkit dari sofa, lalu duduk kembali.

"Aku bertaruh hal-hal menarik terjadi di rumah besar ini setiap hari... tapi ini masalah harga diri seorang perantara informasi untuk tidak memasang kamera atau mikrofon."

"Kita punya sistem keamanan, tahu?"

Kalau kami menemukan kamera tersembunyi atau alat penyadap, aku bakal benar-benar menuntutmu meski kamu adalah teman sekelas.

"Tapi ini hal besar, kan? Punya teman sekelas sebagai maid. Apa tidak apa-apa membeberkan hal ini kepadaku? Bisa dibilang, akulah satu-satunya orang yang seharusnya tidak kamu beri tahu soal ini, kan?"

"Kamu adalah temanku sebelum menjadi seorang perantara informasi. Kita kan bukan baru kenal kemarin atau hari ini," tegasku dengan mantap.

Maki adalah gadis yang misterius, termasuk soal keluarganya, tapi aku tahu betul kepribadiannya.

Dia tidak akan pernah melakukan apa pun yang bakal merugikan teman-temannya.

"Keiji, kamu tahu..."

"Hm?"

"Maaf membuat kalian menunggu lama, Keiji-san, Maki-san."

Tepat saat Maki hendak mengatakan sesuatu, Sayaka memasuki ruang tamu.

"Ah, apa aku mengganggu?"

"Tidak, tidak, tidak apa-apa kok. Teh, teh, aku haus nih."

"..."

Tampaknya Maki menelan kembali sisa kata-katanya.

"Oh, Hisaka-san. Kenapa cangkirnya cuma ada dua dan kuenya cuma ada dua?"

"Saya adalah seorang maid. Saya akan menikmati bagian saya nanti."

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa kok. Aku mau minum teh sambil memandangi maid yang cantik."

"Tamunya sudah bicara begitu. Sayaka, tolong duduklah."

"Sejujurnya, gyaru yang satu ini..." gumam Sayaka pelan lalu duduk di sampingku.

Entah kenapa, mendapati seorang maid cantik di sampingku terasa menekan.

"Untuk saat ini, mari kita bicarakan kejadian beberapa hari terakhir. Sayaka, apa tidak apa-apa kalau aku menceritakan tentang dirimu juga?"

"Silakan. Aku bakal mempercayai siapa pun yang kamu percayai, Keiji-kun."

"Bukankah itu pertanyaan barusan?"

"Perasaanmu saja, Maki-san."

Sayaka telah sepenuhnya beralih ke nada bicaranya di ruang kelas. Gadis ini sering sekali mengubah nada bicaranya.

"Kalau dipikir-pikir, kamu sekarang memanggilku dengan nama depan ya, Hisaka-san?"

"Ah, maaf. Itu karena Keiji-kun selalu memanggilmu Maki, Maki, seolah-olah kamu itu ceweknya."

"Kamu membuatnya terdengar buruk cuma karena memanggil teman dengan akrab..."

Meskipun dia seorang maid, dia terkadang memberikan sindiran-sindiran kecil kepadaku.

"Ya, kamu boleh memanggilku Maki."

"Terima kasih, Maki-san. Kamu boleh memanggilku Sayaka-sama."

"Jadi, Sa-chan, apa kamu benar-benar melayani Keiji?"

"Aku benar-benar melayani Keiji-kun. Bukan sebagai cosplayer atau Maid maid cafe, tapi sebagai maid sungguhan."

Apakah ini semacam aksi saling menjajaki di antara para gadis?

"Maid sungguhan, ya... bahkan di keluarga kelas atas pun, maid 'profesional' itu langka belakangan ini. Sepertinya sudah tidak banyak lagi maid yang tinggal di rumah majikannya, kan?"

"Kamu paham betul soal situasi keluarga kelas atas ya, Maki. Dulu ada seorang profesional juga di samping ketua yayasan."

"Ah... Kino. Wanita itu, dia dulunya musuh keluarga Toyohara, tapi sekarang dia bekerja di bawah naungan mereka."

"Apa, kamu kenal Kino-san, Maki?"

"Tentu saja, aku ini perantara informasi jadi aku tahu betul seberapa menakutkannya keluarga Toyohara."

"Aku kaget kamu tahu banyak soal mereka. Jangan ikut campur ke sarang tawon yang berbahaya..."

Lagipula ada pepatah yang mengatakan rasa ingin tahu bisa membunuh kucing.

"Yah, makanya aku mau memberi tahu situasi kita padamu. Karena kamu tahu nilai dari sebuah informasi lebih baik dari siapa pun. Karena ini informasi penting, kamu tidak bakal sembarangan membeberkannya."

Ada risiko informasi ini bakal dijual, tapi Maki kemungkinan besar bakal menanganinya dengan hati-hati.

Lagipula, kalau aku bisa mendapatkan seorang perantara informasi di pihakku, hal itu sepadan dengan mengambil beberapa risiko.

"Kalau begitu, aku bakal memberi tahu situasi kita. Kurasa aku sudah membeberkan sebagian besarnya dengan memperlihatkan rumah besar ini padamu."

Mulai dari pencabutan beasiswa Sayaka, hingga aku yang secara resmi mempekerjakannya sebagai maid, perkelahianku dengan Fujikawa, dan keputusanku untuk terjun ke dalam perselisihan faksi di sekolah.

"Hmm, perselisihan faksi di Sōshūkan, ya? Jujur saja, itu sih neraka."

"Hah, begitu ya? Aku tidak benar-benar merasa ada yang bergerak di balik layar."

"Itu tidak terjadi di permukaan. Ada rumor kalau terjadi perbutan Sa-chan di bawah permukaan."

"Untukku?" Sayaka terlihat bingung.

"Yah, kamu kan siswa nomor satu di tingkat ini. Sebenarnya, bukan cuma satu dua orang yang menawarkan diri untuk membayar biaya sekolah Sa-chan ke pihak sekolah."

"Apa...!? Tunggu, apa cerita itu beneran!"

Itu sedikit—tidak, sangat mengejutkan.

Di Sōshūkan, mungkin ada banyak siswa yang bisa mengeluarkan uang satu juta yen tanpa mengandalkan orang tua mereka.

Tapi tetap saja, itu bukan jumlah yang sedikit bagi seorang siswa, dan mereka tidak akan menawarkan untuk membayarnya tanpa alasan yang kuat.

"Jadi ada cowok-cowok yang ingin mendapatkan Sayaka sampai segitunya..."

"Lagipula dia cantik. Kalau mereka bisa mendapatkan Sa-chan, mereka dengan senang hati bakal membayar biaya sekolahnya."

"Benar-benar sekumpulan orang sombong, mencoba membeli seseorang dengan uang."

"..."

Apa maid yang satu ini baru saja menyindirku secara kasual?

"Jadi, kalau Keiji dan Sa-chan membentuk kelompok, dampaknya pada sekolah mungkin bakal lebih besar dari yang kalian bayangkan. Sōshūkan, terguncang sampai ke akar-akarnya! Atau semacam itulah."

"Dan kalau perantara informasi Maki bergabung, dampaknya bakal makin besar..."

"Aku belum bilang mau bergabung lho, tahu?"

Tidak, kamu ikut bergabung. Aku tidak akan membiarkanmu lolos.

Setelah memberi tahu sejauh ini, aku tidak akan membiarkanmu bilang "tidak jadi."

"Demi melindungi keselamatan serta kehidupan sekolahku dan Sayaka, kita tidak bisa cuma bertahan saja. Kalau kita menekan kelompok lain, itu bakal membimbing kita menuju keselamatan."

"Kamu punya jalan pikiran yang berani banget ya, Keiji. Tapi aku tidak benci sih."

Maki mengerang sambil mengelus pipinya.

"Kedengarannya menarik juga... aku mulai merasakan batasan bergerak sendirian... hmm, dengan nama Kiyomiya dan kemampuan Hisaka Sayaka... begitu ya..."

"..."

Sepertinya Maki sedang membuat beberapa kalkulasi licik di dalam kepalanya.

Tapi kesimpulannya sudah jelas. Aku mengenal Maki dengan baik, kecuali soal latar belakangnya.

"Baiklah, Keiji, Sa-chan, aku ikut gabung."

"Seperti yang diharapkan dari Maki, kamu cepat mengambil keputusan."

"Tapi tentu saja, ada syaratnya."

Maki menyeringai lalu bangkit berdiri.

"Rumah besar ini luas banget, kan?"

"Hah? Apa lagi sekarang?"

"Berikan aku salah satu kamarnya. Aku mau pindah ke sini hari ini!"

"Apa!?"



Chapter 22 | ToC | Chapter 24

Post a Comment

Post a Comment

close