Chapter 3
Lumba-Lumba yang Tersesat
"Ujian
semester akhirnya selesai! Ayo bersenang-senang sepuasnya selama liburan musim
panas! Bersulang!"
""Bersulang!""
Kami
membenturkan gelas mengikuti seruan Yura-chan. Gelas plastik itu mengeluarkan
bunyi tok yang agak konyol, tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi
semangat kami.
Setelah
belajar untuk ujian yang melelahkan selama sekian lama, akhirnya ujian semester
pun selesai.
Kini,
yang menanti kami setelah berhasil melewatinya tanpa mendapat nilai merah
hanyalah liburan musim panas yang menyenangkan!
Karena
itulah, aku, Yura-chan, dan Suzuka-san datang ke tempat karaoke.
"Wah,
tadi aku sempat khawatir bakal bagaimana jadinya, tetapi berkat Yura-chan,
semuanya bisa teratasi."
"Benar,
benar. Kamu benar-benar menyelamatkan kami. Terima kasih, ya!"
"Tidak
kok. Itu hasil kerja keras kalian berdua. Aku hanya sedikit membantu."
"Kepribadian
Yura juga baik banget, ya. Memangnya kamu punya kekurangan nggak, sih?"
"Eeeh?
Aku punya banyak kekurangan, tahu? Sampai baru-baru ini saja aku belum bisa
memasak."
Perkataan
Yura-chan itu cukup mengejutkan.
"Eh?
Benarkah? Padahal masakanmu enak sekali."
Akhir-akhir
ini aku terus menyantap masakan buatan Yura-chan, tetapi rasanya sama sekali
tidak seperti masakan seseorang yang belum terbiasa memasak. Cara dia memasak
pun sangat cekatan.
"Iya.
Aku sibuk dengan kegiatan Trispa, jadi hampir tidak pernah memasak."
"Serius?
Variasi masakanmu banyak sekali. Aku kira dari awal kamu memang jago
memasak."
Jangan-jangan
dia bersusah payah belajar memasak demi diriku. Kalau memang begitu, dia
benar-benar terlalu tulus.
"……Oh.
Begitu. Hoo?"
"……"
Suzuka-san
menatapku dengan pandangan menyipit penuh kecurigaan. Gawat, aku sudah salah
bicara.
"Tatsuya,
kamu pernah makan masakan buatan Yura, ya? Bahkan menunya bermacam-macam?
Padahal dia baru saja pindah ke sekolah kita, lho?"
"Ah,
tidak, itu……"
"Kalau
dipikir-pikir, rambut kalian juga punya aroma yang mirip, ya? Apa karena
memakai sampo yang sama?"
"A-ahaha.
Yah, sampo memang banyak yang aromanya mirip, bukan?"
Saat
aku mengalihkan pandangan ke sana kemari, Yura-chan ikut membantu menjelaskan.
"Kami
benar-benar memakai sampo yang berbeda, kok! Aku selalu membawa sampoku
sendiri!"
……Yura-chan.
Itu namanya malah memperburuk keadaanmu sendiri.
Suzuka-san
mencengkeram bahuku erat-erat, lalu membuka mulut dengan senyum yang sangat
ramah.
"Tatsuyaaa.
Ceritakan semuanya dengan terperinci, ya?"
"……Tentu
saja."
Aku
pun menceritakan semuanya kepada Suzuka-san tanpa menyembunyikan apa pun.
"Dasar.
Kamu benar-benar tidak bisa lengah sedikit pun, ya. Yah, kalau memang ada
alasannya, mau bagaimana lagi. Aku sendiri juga pernah menumpang tinggal di
rumah Tatsuya untuk sementara waktu."
"Oh,
begitu, ya?"
Baru
saja satu masalah selesai, kini muncul masalah lainnya. Kali ini, Yura-chan
menatapku dengan pandangan penuh kecurigaan. Tolong jangan begitu.
"Ehm,
itu bukan karena ada maksud aneh, kok. Ini soal penyakit ibunya Suzuka-san……
Ah, Suzuka-san, tidak masalah kalau aku menceritakan ini?"
"Hmm.
Kalau Yura, tidak masalah."
Kali
ini, aku menceritakan keadaan Suzuka-san kepada Yura-chan.
Tentang
penyakit langka bernama penyakit petrifikasi yang diderita ibunya. Tentang
bagaimana dia pergi ke dungeon untuk mencari item yang bisa menyembuhkan
penyakit itu. Dan tentang bagaimana dia berhasil mendapatkannya tepat waktu
sehingga ibunya kembali sehat.
Di
tengah cerita, Yura-chan tampak hampir menangis. Setelah selesai mendengarkan,
dia menyeka sudut matanya lalu berkata,
"B-begitu,
ya…… Jadi, itulah sebabnya kamu makan malam bersama ibumu…… Suzuka-chan, kamu
benar-benar anak yang baik…… meskipun penampilanmu seperti gyaru."
"Berisik."
Suzuka-san
memalingkan wajah, tetapi telinganya sedikit memerah.
"Yah,
begitulah. Jadi, Suzuka-san dan Yura-chan tidak tinggal bersamaku karena punya
maksud tersembunyi atau semacamnya."
Sambil
mengatakan itu, aku mengisap ginger ale melalui sedotan dan menarik napas lega.
"……Apa?"
Saat
mengangkat kepala, aku melihat keduanya menatapku dengan ekspresi yang sulit
dijelaskan. Kemudian, mereka saling berpandangan.
"……Hei,
Yura. Terus terang saja, kamu memang punya maksud tersembunyi, kan?"
"……Yah,
begitulah. Suzuka-chan juga, kan?"
"Tentu
saja."
……Tolong
jangan lakukan ini. Bicarakan hal semacam itu saat aku tidak ada di sini.
Ketika
aku sedang memikirkan apa yang harus kukatakan, ponselku menerima sebuah pesan.
Untuk
mengubah suasana, aku sengaja membuka ponsel sambil membacakan isi pesan itu
dengan suara keras.
"Oh,
dari Aina. Ehm, apa katanya? ‘Tatsu-nii, kamu bisa berenang? Tolong selamatkan
Ai-nyan yang tidak bisa berenang……’ Eh, apa dia sedang tenggelam
sekarang?"
Aku
memiringkan kepala karena tidak memahami maksud pesan itu. Suzuka-san
mengangguk seolah-olah akhirnya mengerti.
"Ah.
Mungkin itu soal praktik renang."
"Praktik
renang?"
Yura-chan
juga tampaknya tidak mengerti, lalu memiringkan kepala.
"Oh,
iya. Jurusan umum memang tidak punya kegiatan seperti itu. Jurusan Eksplorasi
Labirin mengadakan praktik renang setelah liburan musim panas berakhir. Ada
juga ujian praktik berenang. Di dungeon, terkadang kita harus menyeberangi area
berair, jadi semua orang diwajibkan bisa berenang. Kalau tidak salah, kita
harus bisa berenang sejauh dua puluh lima meter."
"Oh,
begitu. Kedengarannya sulit, ya."
"Begitu
rupanya. Jadi, orang bernama Aina itu meminta bantuan Tatsuya-kun, ya? Lalu,
siapa sebenarnya Aina itu?"
Yura-san,
tolong jangan tersenyum hanya dengan mulut. Menakutkan, tahu.
"Ah,
benar juga. Yura belum pernah bertemu Mana, ya. Yah, dia kurang lebih seperti
Suzuka-san. Gadis yang kubantu menaikkan levelnya demi menyelamatkan adiknya.
Dia bukan anak yang buruk, kok."
"Aduh,
Tatsuya-kun memang terlalu baik hati. Jangan terus-terusan menolong gadis
sembarangan, dong."
"Walaupun
kamu bilang begitu…… Tapi, sebenarnya Aina ingin aku melakukan apa dengan
meminta bantuan?"
"Eh,
serius? Kamu benar-benar tidak peka, ya? Dia memang bilang minta tolong, tetapi
itu pasti ajakan pergi ke kolam renang."
Suzuka-san
berkata dengan wajah terkejut.
"Tidak
juga. Belum tentu begitu, kan?"
Sebelum
aku sempat membalas pesan itu, ponselku kembali menerima pesan dari Aina.
"……"
"Nah,
kan? Sudah kubilang, benar, kan? Dasar, benar-benar tidak bisa lengah sedikit
pun."
Suzuka-san,
yang sejak tadi mengintip layar ponselku dari samping, mulai menelepon
seseorang menggunakan ponselnya sendiri.
Menurutku,
mengintip ponsel orang lain itu tidak baik, lho.
"……Halo,
Aina? Apa kabar? Iya, iya, bagus kalau kamu sehat. Ngomong-ngomong……"
Suzuka-san
memasang senyum jahil, lalu berkata dengan ceria,
"Dilarang
menyelinap diam-diam, ya? Kamu pilih Sabtu atau Minggu? Aku akan mengajarimu,
entah gaya kupu-kupu atau gaya apa pun. Jadi, kita pergi ke kolam renang
ramai-ramai, ya!"
Suzuka-san.
Jangan-jangan, aku tidak termasuk dalam kata kita itu, kan?
◇
"Serius,
nih…… Aku benar-benar akan masuk ke kolam renang mulai sekarang…… Aku……"
Langit
biru. Awan putih. Dan di hadapanku berdiri sebuah bangunan besar dengan tulisan
Aozora Splash Park. Ini adalah salah satu taman rekreasi kolam renang luar
ruangan terbesar di Tokyo.
"Tidak
mungkin, dong. Mustahil aku bisa menghindari kontak fisik dengan lawan jenis di
tempat seperti ini. Tempat seperti ini memang sengaja dibuat untuk
mempertemukan kulit dengan kulit, bukan? Ini sarangnya perempuan genit dan
laki-laki mesum!"
"Tatsu-nii,
kamu ngomong apa, sih? Aku sama sekali tidak mengerti."
Aina
yang berdiri di sampingku memiringkan kepala.
"Lagipula,
kenapa kamu memberi tahu Suzuka-nee kalau kita mau pergi ke kolam renang?
Padahal Ai-nyan sudah susah payah mencari alasan supaya bisa pergi berdua saja
dengan Tatsu-nii, nyan."
"Maaf,
maaf. Kebetulan Suzuka-san ada di sebelahku. Eh, tunggu, tadi kamu bilang
alasan?"
"Terus,
idol diver yang superpopuler, Yurarin, juga ikut datang. Sebenarnya kalian
punya hubungan apa, sih? Padahal Ai-nyan tadinya mau menyelinap diam-diam
sendirian!"
"Yura-chan
cuma teman masa kecilku. Eh, tunggu, tadi kamu bilang mau menyelinap
diam-diam?"
"Yah,
kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Ayo kita nikmati kolam renangnya
sepuasnya! Pergi ramai-ramai juga menyenangkan, kok!"
Aina
meregangkan tubuhnya lebar-lebar di bawah langit biru. Wajahnya terlihat sangat
bersemangat. Sulit dipercaya bahwa dia datang untuk berlatih berenang, sesuatu
yang sangat tidak disukainya.
Atau
jangan-jangan, sebenarnya dia bisa berenang, ya?
Setelah
menunggu beberapa saat, tiga sosok terlihat mendekat dari kejauhan. Mereka
adalah Suzuka-san, Yura-chan, dan Honoka-san.
"Ah,
Suzuka-nee dan yang lainnya sudah datang! Hei! Di sini, di sini!"
Mungkin
menyadari Aina yang melambaikan tangan, ketiganya berjalan mendekat. Namun, ada
sesuatu yang terasa aneh dari sikap mereka.
"T-tunggu
sebentar, Naruse-san. Aku tidak diberi tahu bahwa Tatsuya-kun…… maksudku,
Mura-kun, juga akan datang……"
"Eh,
aku belum bilang, ya? Dia kenalanku, jadi sekalian saja kuajak!"
"Secara
kedudukan, pergi ke kolam renang bersama murid lawan jenis sebagai seorang guru
bisa menimbulkan masalah…… Haaah. Yah, percuma juga membahasnya sekarang. Kalau
begitu, seharusnya aku memakai baju renang yang lebih modis saja…… Mura-kun,
sudah lama tidak bertemu."
"Ah,
Matsumoto-sensei. Sudah lama tidak bertemu."
Telingaku
tanpa sengaja menangkap gumaman Honoka-san tadi, sehingga pandanganku tak bisa
tidak tertuju pada tubuhnya yang montok.
"Salam
kenal. Kamu Aina-chan, ya?"
"Namaku
Okumura Aina! Waaah, Yurarin yang asli sedang berbicara dengan Ai-nyan……!
Pokoknya, tolong berjabat tangan denganku!"
"Namaku
Hamano Yura. Senang bertemu denganmu."
Empat
gadis cantik berkumpul di satu tempat. Dan aku berada di tengah-tengah mereka.
Tatapan orang-orang di sekitar terasa sangat menyakitkan.
"Baiklah!
Kalau begitu, ayo segera bermain di kolam renang!"
Aina
mengangkat kepalan tangannya sambil berseru.
Aina-san,
jangan cepat-cepat melupakan tujuan awal kita datang ke sini, yaitu untuk
berlatih berenang!
Tanpa
semangat, aku menuju ruang ganti.
Tentu
saja, orang-orang yang ada di sana semuanya laki-laki.
Ada
seorang anak laki-laki yang tangannya digandeng oleh ayahnya yang tampak baik
hati. Ada sekelompok siswa SMP yang datang bersama teman-teman laki-laki mereka
dan sedang bersenang-senang dengan riuh. Ada juga seorang pemuda yang mungkin
sedang berkencan dengan pacarnya, sibuk merapikan poni sambil menatap cermin.
Mereka
semua melepas pakaian tanpa mempedulikan pandangan orang lain. Melihat
pemandangan seperti itu, aku pun tanpa sadar bergumam,
"Apakah
ini surga……"
"……!?"
Pria
yang menurunkan celana dalamnya di sebelahku buru-buru menutupi selangkangannya
dengan tangan.
Maaf
sudah membuatmu salah paham.
"U-uhum!
Berenang di kolam rekreasi pada cuaca sebagus ini benar-benar terasa seperti
berada di surga, ya!"
Aku
sengaja mengatakannya dengan suara keras, lalu mulai berganti pakaian.
Sejak
berangkat dari rumah, aku sudah mengenakan pelindung lengan berwarna hitam dan
tebal. Jadi, hampir mustahil bagi orang lain untuk mengetahui jumlah pengalaman
yang kumiliki.
Aku
juga mengenakan rash guard di atasnya. Dengan begitu, hanya wajah, leher,
tangan, dan kakiku yang terlihat.
Namun,
dengan pakaian seperti ini, orang-orang bisa saja bertanya, "Eh, kamu
salah mengira ini tempat menyelam, ya?"
Karena
itu, agar terlihat lebih cocok untuk kolam rekreasi, aku mengenakan celana
renang bermotif bunga kembang sepatu dan menambahkan jaket pantai berlengan
panjang.
Memang
terlihat kurang pantas, tetapi setidaknya penampilanku sekarang sedikit lebih
sesuai untuk kolam rekreasi.
Setelah
memeriksa penampilanku di cermin dan membilas tubuh sebentar dengan pancuran,
aku menuju kolam keluarga.
Aku
mendapat tatapan aneh dari keluarga-keluarga dan pasangan yang ada di sana,
tetapi aku berjalan sambil berpura-pura tidak menyadarinya.
"Mama,
om itu aneh!"
"A-astaga!
A-ada banyak macam orang di dunia ini! Jangan mengatakan hal seperti itu!"
Berisik
sekali, bocah perempuan kecil. Kalau bisa, akan kubelai kepalamu dan kepala
ibumu sekaligus.
Sambil
memikirkan sesuatu yang jelas-jelas mustahil kulakukan, aku duduk di tepi kolam
dan menciprat-cipratkan air dengan kaki sambil menunggu. Saat itulah seseorang
menyapaku dari atas.
"Eeeh.
Tatsu-nii, penampilanmu norak banget, deh……"
"Ya,
mau bagaimana lagi. Ini demi mengurangi bagian kulit yang terekspos……
soalnya……"
Aku
mendongak sampai tubuhku hampir telentang, lalu tanpa sadar kehilangan
kata-kata.
Pandanganku
dipenuhi sosok gadis-gadis cantik yang berdiri dengan matahari di belakang
mereka.
Orang
pertama yang masuk ke dalam pandanganku adalah Aina. Dia mengenakan baju renang
hitam dan merah muda dengan hiasan renda. Penampilannya sangat imut dan
benar-benar mencerminkan dirinya, tetapi di balik keimutan itu, banyak sekali
bagian tubuhnya yang terekspos.
Berikutnya
adalah Suzuka-san yang berdiri di sampingnya. Baju renang sporty berwarna biru
dan putih yang dikenakannya semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang
proporsional.
Yura-chan
mengenakan bikini putih berenda. Penampilannya benar-benar sesuai dengan
seorang idola. Rambutnya yang putih berkilau berpadu dengan kulitnya yang
putih, membuatnya tampak seperti peri yang cantik. Aku melihat anting-anting
berbentuk lumba-lumba biru yang berkilauan di telinganya, dan tanpa sadar
merasa sedikit senang.
Namun,
yang paling menarik perhatianku adalah……
"Bes……"
Aku
hampir saja mengeluarkan suara, tetapi buru-buru menutup mulutku.
Honoka-san
mengenakan baju renang model terusan yang elegan dengan warna biru tua yang
tenang, lengkap dengan pareo yang dililitkan di pinggangnya. Padahal bagian
tubuhnya yang terekspos tidak terlalu banyak, tetapi ukurannya benar-benar luar
biasa. Dadanya. Benar-benar dadanya.
"Hmm!"
"Dasar……"
Sepertinya
mereka menyadari tatapanku terpaku pada satu titik. Aku mendengar suara Aina
dan Suzuka-san yang terdengar kesal. Lalu……
DUK!
"Uwaah!"
Kakiku
didorong dengan tendangan dari mereka berdua, membuatku tercebur ke kolam.
"Apa-apaan
kalian?!"
"Berisik!
Kamu cuma melihat dada sensei terus! Padahal dada Aina juga nggak kecil! Dasar
mesum, Tatsu-nii!"
"Lihat
itu pakai sedikit perasaan, dong! Maksudku, lihat secara adil! Kalau mau
melihat, ya lihat semuanya secara adil! Dasar bodoh, Tatsuya!"
"Mana
adilnya, sih……? Mau bagaimana lagi kalau mataku terus tertarik ke sana. Gaya
gravitasi itu sebanding dengan massa, tahu. Sudahlah, kalian berdua, sana
latihan berenang dulu. Kalau sudah menjauh, gaya gravitasinya juga akan
melemah."
Aku
sendiri merasa alasan yang kuberikan sama sekali tidak masuk akal.
"Apa-apaan
itu? Aku sama sekali nggak paham……"
Aina
terus menggerutu, tetapi akhirnya masuk juga ke dalam air.
Sepertinya
perkataannya bahwa dia tidak bisa berenang memang benar. Caranya memasuki air
tampak seperti kucing yang ketakutan dan ragu-ragu.
"Baiklah,
cepat belajar berenang supaya kita bisa bermain bersama!"
"Suzuka-chan,
aku juga akan membantu!"
Aina
dan kedua gadis lainnya yang sudah menjadi kelompok sahabat karib dalam sekejap
mulai berlatih berenang sambil berceloteh riang.
Ketika
aku duduk di tepi kolam dan memperhatikan mereka tanpa benar-benar memusatkan
perhatian, Honoka-san duduk di sebelahku.
"Rasanya
sudah agak lama, ya, kita tidak bertemu seperti ini."
Honoka-san
berkata sambil menyelipkan rambut cokelatnya yang sedikit basah ke belakang
telinga. Memang benar. Sejak festival olahraga, aku jarang mampir ke ruang UKS,
jadi sudah agak lama sejak terakhir kali aku berbicara dengannya.
"Benar
juga. Aku ini murid teladan, jadi tidak pernah bolos ke ruang UKS."
"Fufu,
sesekali datang untuk bolos juga tidak apa-apa, kok. Kita kan pernah menjadi
rekan kerja paruh waktu. Aku bisa pura-pura tidak melihatnya sesekali."
Honoka-san
duduk di sebelah kananku. Aku bahkan bisa merasakan keberadaan dadanya yang
besar tanpa perlu menoleh.
Bayangan
belahan dada yang kulihat tadi terus terngiang di kepalaku, membuatku hampir
saja meliriknya lagi. Namun, aku berhasil menahan diri dengan sekuat tenaga.
Kalau sampai menatapnya secara langsung dari jarak sedekat ini, selangkanganku
pasti akan membentuk tenda besar.
"Bagaimana
pekerjaan paruh waktumu belakangan ini?"
"Yah,
biasa saja. Hanya sedikit kesepian karena senior yang imut sudah tidak ada
lagi."
"Aduh,
kamu pintar sekali merayu, ya."
Setelah
terdiam sejenak, Honoka-san berbicara dengan nada suara yang sedikit lebih
rendah.
"Hei,
Murata-san itu sebenarnya Tatsuya-kun, kan?"
Honoka-san
mengatakannya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Aku tidak terlalu terkejut
karena dia sudah mengetahuinya. Bagaimanapun, kami berdua cukup banyak
berinteraksi saat festival olahraga.
"Ya,
benar."
Honoka-san
melanjutkan tanpa menunjukkan keterkejutan atas pengakuanku.
"Mau
kutebak kenapa Tatsuya-kun sampai repot-repot berbohong? Kamu melakukannya demi
menjaga perasaanku, kan?"
"……"
"Kalau
aku tahu sejak awal bahwa orang itu adalah Tatsuya-kun, mungkin aku tidak akan
menaikkan levelku. Meskipun dulu kita adalah rekan kerja paruh waktu, sekarang
kita sudah menjadi guru dan murid. Apalagi aku ini guru UKS. Orang yang
seharusnya mengajarkan hal-hal seperti itu tidak boleh sampai melakukan sesuatu
terhadap muridnya."
"Ya,
kurang lebih begitu."
"Benar-benar,
Tatsuya-kun itu baik sekali, ya."
Aku
diam-diam melirik wajah Honoka-san dari samping. Cahaya matahari yang terpantul
dari permukaan kolam menyinari wajahnya dengan gemerlap. Ekspresinya tampak
sedikit murung.
"Dulu,
saat tahu aku bisa masuk SMA yang sama dengan Tatsuya-kun, aku merasa senang
sekali. Meskipun hubungan kita nantinya adalah guru dan murid, aku merasa jarak
di antara kita menjadi lebih dekat. Namun, aku segera menyadari bahwa itu
hanyalah kesalahpahaman. Saat Tatsuya-kun memanggilku ‘Matsumoto-sensei’."
"Padahal
cuma cara memanggilnya saja yang berubah."
"Tidak.
Bukan cuma itu. Sekarang, kita benar-benar tidak boleh lagi pergi berdua ke
izakaya. Kalau sampai aku mabuk berat lalu pergi ke kamarmu, aku bisa langsung
dipecat secara tidak hormat. Sejauh itulah jarak di antara kita sekarang. Kita
benar-benar tidak boleh melakukan sesuatu yang melampaui batas lagi."
"Itu……"
Saat
aku kebingungan memikirkan apa yang harus kukatakan, Honoka-san mendekatkan
wajahnya untuk menatapku.
"Tapi,
kita sudah melampaui batas itu, kan?"
"……!"
Seolah-olah
sengaja memamerkannya kepadaku, dia merapatkan kedua dadanya hingga belahan
dadanya semakin terlihat. Tidak, mungkin memang dia sengaja memamerkannya.
"Kalau
begitu, kupikir aku tidak perlu menahan diri lagi, ya. Menurutmu
bagaimana?"
"Bagaimana
apanya……"
Saat
ini, sekitar delapan puluh persen pikiranku sudah dipenuhi oleh dadamu.
Honoka-san
terkekeh pelan, lalu kembali menegakkan tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke
arah Aina dan yang lainnya, yang sedang bersenang-senang sambil berceloteh
riang.
"Semuanya
imut, ya. Ada seseorang yang disukai Tatsuya-kun?"
Mendengar
pertanyaan Honoka-san, kepalaku yang tadi hampir kepanasan mendadak kembali
dingin dan jernih.
Padahal
baru beberapa hari lalu aku hampir saja menyebabkan sebuah insiden. Kenapa aku
malah terlena seperti ini?
"Tidak,
tidak ada."
"!
B-begitu, ya. Kalau begitu……"
"Aku
tidak boleh jatuh cinta kepada siapa pun."
"Eh?"
Honoka-san
mengeluarkan suara seolah-olah benar-benar terkejut.
"Um,
maksudnya……"
"Ah!
Honoka-chan-sensei main serobot, nih! Mau merayu Tatsu-nii pakai dada,
ya?!"
Perkataan
Honoka-san terpotong oleh teriakan Aina.
"A-aku
tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Aku ini guru, tahu!?"
"Tidak
adil, kalian berduaan mesra begitu! Aina capek! Istirahat sebentar, ah!
Tatsu-nii, ayo beli minuman!"
Tanpa
mendengarkan perkataan Honoka-san sedikit pun, Aina keluar dari kolam dan
mengulurkan tangannya ke arahku.
Sebelum
tangannya menyentuhku, aku berdiri dan berjalan menuju kios.
"Nih,
Tatsu-nii. Traktiran dari Ai-nyan!"
"Eh,
serius? Memangnya boleh?"
"Boleh,
dong. Tatsu-nii sudah mau menemani Aina hari ini. Yah, meskipun yang mengajari
Aina berenang itu Suzuka-nee dan Yura-nee."
Aku
menerima jus yang disodorkan Aina. Bagian bawahnya berwarna biru, lalu
bergradasi menjadi kuning di bagian atas. Seiris jeruk terselip di tepi gelas,
membuatnya terlihat sangat menarik. Aku tidak bisa menebak rasanya apa.
Aina
duduk di kursi untuk dua orang, lalu menyesap minumannya sendiri. Minuman
berwarna merah dan putih itu mungkin rasa stroberi.
"Hmm,
enak banget!"
"Kita
tidak perlu kembali?"
"Tidak
mau! Padahal sebenarnya aku berencana datang berdua saja dengan Tatsu-nii!
Lagipula, Suzuka-nee galak banget! Aku ingin diajari dengan lebih lembut,
dong~"
Aina
mendongakkan kepala ke langit dan menghela napas secara berlebihan.
Aku
duduk di sebelahnya, lalu menyesap minumanku sendiri. Sepertinya ini campuran
lemon dan Blue Hawaii. Rasanya aneh, tetapi menyegarkan dan tidak buruk.
"Aku
mau coba minuman Tatsu-nii juga, satu teguk, dong!"
Tangan
Aina terulur ke arahku.
Aku
menghindarinya secara berlebihan agar dia sama sekali tidak menyentuhku.
"Eeeh.
Aina sudah mentraktir, masa tidak boleh mencoba sedikit saja? Pelit!"
"Ah,
bukan begitu……"
Saat
aku kebingungan memikirkan cara memberikan minumanku kepadanya, Aina
mendekatkan wajahnya dengan cepat, lalu langsung menggigit sedotan minumanku.
"Hmm,
yang ini juga enaaak!"
Aina
memegangi pipinya dengan senyum lebar. Kemudian, senyumnya sedikit berubah
menjadi seringai jahil.
"Nihihi,
kita jadi ciuman tidak langsung, ya?"
"Memangnya
kita masih anak SD? Aku tidak akan malu hanya karena hal seperti itu."
"Padahal
tadi Tatsu-nii menghindari sentuhan tanganku, kan? Sejak kapan Tatsu-nii jadi
cowok pemalu seperti itu?"
"Tidak,
bukan begitu……"
Aku
tergagap karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Tatsu-nii,
ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak,
tidak ada apa-apa."
"Bohong,
deh~ Tatsu-nii itu gampang banget ditebak, ya. Di wajahmu tertulis jelas, ‘Ada
sesuatu yang terjadi~’."
"Memangnya
semudah itu terbaca?"
"Iya.
Kalau ada masalah, ceritakan saja. Kita sudah jauh-jauh datang ke kolam renang
untuk bersenang-senang. Kalau Tatsu-nii terus memasang wajah murung seperti
itu, jadi tidak seru, dong!"
Aina
menggigit es krim vanila yang mengambang di atas minumannya, lalu menjilat es
krim yang menempel di pipinya. Sepertinya dia sengaja bersikap ceria agar
suasana tidak menjadi terlalu berat. Aku merasa tidak berguna karena sampai
membuat seseorang yang lebih muda dariku harus mengkhawatirkanku.
"Bagaimana
mengatakannya, ya…… Tubuhku ini bisa dibilang seperti obat yang sangat keras
bagi perempuan, kan? Makanya, aku merasa harus lebih berhati-hati. Apalagi kita
sedang berada di kolam renang."
"Hmm."
"Jangan
cuma menjawab ‘hmm’, dong. Aku juga sedang memikirkan banyak hal, tahu."
Aku
menghela napas melihat sikap Aina yang begitu acuh tak acuh.
"Meski
kita sedang berada di kolam renang, bukan berarti kulit kita akan bersentuhan
dengan lawan jenis begitu saja, kan? Paling-paling hanya orang yang mendekati
kita karena punya niat tertentu. Lagipula, dengan pakaian aneh Tatsu-nii itu,
perempuan malah akan menjauh."
"……Memangnya
seaneh itu?"
"Aneh."
Memang
benar, mungkin tidak banyak orang yang menutupi kulit mereka sedemikian rupa
saat pergi ke kolam rekreasi.
"Lagi
pula, kalau cuma bersentuhan, seharusnya tidak masalah, kan? Kalau hanya
bersentuhan sebentar, rasanya paling seperti tersengat ubur-ubur."
"Tidak
ada ubur-ubur di kolam renang."
"Menurutku,
Tatsu-nii tidak perlu terlalu memikirkannya. Tatsu-nii terlalu banyak berpikir,
deh."
Sepertinya
dia sengaja berbicara seolah-olah masalah ini bukan sesuatu yang perlu
dikhawatirkan.
"Tapi,
meskipun aku sudah berhati-hati, aku tetap tidak sengaja menyentuhmu, kan,
Aina? Waktu pertama kali kita bertemu di kereta."
Aku
teringat kembali pertemuan pertamaku dengan Aina. Saat itu, aku berniat
menolongnya, tetapi tanpa pikir panjang malah menyentuh lengannya. Akibatnya,
Aina sampai pingsan.
Sungguh,
jika dilihat dari sudut pandang orang lain, tindakanku tidak ada bedanya dengan
pelecehan seksual di kereta.
Aku
harus benar-benar berhati-hati agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi.
"Benar.
Waktu itu Tatsu-nii menyentuh Aina di kereta. Dan Aina jadi bahagia, kan?"
"……Eh?"
"Setelah
disentuh Tatsu-nii dan bertemu dengan Tatsu-nii, mata Ai-nyan jadi bisa melihat
lagi, dan Aina juga diselamatkan. Semuanya malah berakhir dengan hal-hal
baik!"
Aina
menghabiskan minumannya dalam sekali teguk, lalu meregangkan tubuhnya
lebar-lebar.
"Jadi,
Tatsu-nii tidak perlu merasa bersalah! Ah, tapi aku tetap ingin Tatsu-nii
berhati-hati agar tidak sembarangan menambah jumlah perempuan yang dekat dengan
Tatsu-nii! Soalnya, Tatsu-nii itu milik Ai-nyan, tahu~!"
"……Aku
bukan milikmu, tahu."
Aku
membalasnya sekadar formalitas, lalu ikut menyesap minumanku. Sensasi dingin
yang mengalir ke tenggorokan terasa menyenangkan.
Berkat
Aina, beban pikiranku sedikit berkurang.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana latihanmu? Sudah sedikit bisa berenang?"
"Hmm.
Mungkin sekitar sepuluh meter."
"Kalau
sudah bisa sejauh itu, tinggal sedikit lagi sampai kamu menguasai tekniknya.
Cepat belajar berenang, ya, supaya kita bisa bermain bersama."
"Uuuh,
aku tidak mau, tapi akan berusaha!"
"Hei,
Aina! Sampai kapan mau istirahat?!"
Tepat
ketika Aina sedang menyemangati dirinya sendiri, Suzuka-san dan Yura-chan
muncul. Sepertinya mereka datang untuk mencari kami karena kami tak kunjung
kembali.
"Ayo,
cepat kembali dan lanjutkan latihan! Katanya mau cepat bisa berenang supaya
bisa bermain bersama, kan?"
"Suzuka-nee
terlalu keras! Aku tidak mau! Aku mau diajari Yura-nee yang lebih lembut!"
"Kalau
terus dimanjakan, kemampuanmu tidak akan berkembang! Ayo, cepat!"
"Nyaa!
Yura-nee, tolong aku!"
"T-tunggu,
Aina-chan! Jangan berlari di tepi kolam! Hei, jangan menarik tanganku!"
"Ah,
hei! Jangan kabur! Woi! ……Dasar."
Aina
meraih tangan Yura-chan, lalu melarikan diri sambil menariknya. Padahal mereka
baru bertemu hari ini, tetapi Aina tampaknya sudah sangat akrab dengan
Yura-chan.
Suzuka-san
yang tertinggal menghela napas. Sepertinya dia kemudian menyadari minumanku.
Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengambil gelasku, menempelkan mulutnya ke
sedotan, lalu menghabiskan isinya.
"Hmm,
enak! Oke, Tatsuya! Ayo naik seluncuran ban! Seluncuran ban!"
Suzuka-san
menunjuk puncak seluncuran air raksasa.
"……Hahaha.
Bercanda, kan?"
Seluncuran
itu memiliki lintasan berkelok-kelok dengan banyak tikungan. Ini adalah salah
satu seluncuran air paling ekstrem di Jepang.
Siapa
yang mau dengan sukarela menaiki wahana yang kelihatannya bisa mengancam nyawa
seperti itu?
"Mana
mungkin aku bercanda. Kita sudah jauh-jauh datang, masa tidak dinaiki? Ayo,
cepat!"
"T-tunggu,
Suzuka-san! Tanganku—!"
"Hei,
kenapa baru sekarang malu-malu? Ayo! Hmm♡"
Aku
sempat menghindari tangan Suzuka-san sekali, tetapi tidak mungkin aku bisa
mengalahkannya ketika dia sudah serius. Dalam sekejap, tanganku berhasil
diraihnya.
"Memegang
tangan saja bukan masalah besar, tahu♡ Hmm♡ Ayo, berdiri♡"
Meskipun
berkata seolah-olah itu bukan masalah besar, wajah Suzuka-san memerah dan kedua
kakinya sedikit merapat ke dalam. Air menetes dari dada montoknya yang
terhimpit baju renang sporty. Pemandangan itu benar-benar menggoda. Rasanya ada
bagian tubuhku yang hampir berdiri.
Sambil
berusaha mempertahankan ketenangan, aku menaiki tangga panjang. Tanpa terasa,
kami sudah berada tepat di depan sebuah ban pelampung besar.
Bentuknya
seperti piring besar dengan pegangan yang tampaknya cukup untuk empat orang.
Sepertinya kami harus menaikinya lalu meluncur turun.
"Hop!
Ayo, Tatsuya. Orang-orang di belakang sudah mengantri, jadi cepat."
"Meski
disuruh cepat……"
Aku
bukan orang yang benar-benar tidak tahan dengan wahana ekstrem, tetapi aku juga
bukan penggemarnya. Setidaknya, beri aku waktu untuk mempersiapkan mental!
Mungkin
Suzuka-san sudah tidak tahan melihatku terus ragu-ragu. Dia menarik tanganku.
"Uwaah!"
"Ahaha♡
Siap berangkat!♡"
"Kalau
begitu, selamat menikmati perjalanannya!"
Petugas
laki-laki itu mendorong ban pelampung kami seolah-olah menendangnya. Ban itu
langsung meluncur maju dengan cepat. Jelas sekali kecepatannya lebih tinggi
daripada kelompok sebelumnya.
"T-tunggu!
Pegangannya! Aku belum memegang pegangannya! Aku belum sempat meraihnya!"
Aku
buru-buru mencoba meraih pegangan, tetapi kakiku tergelincir sehingga aku
kesulitan bergerak.
"Ah♡
H-hei♡ Jangan terlalu banyak bergerak♡ Biar aku yang menahanmu♡"
"J-jangan
sampai melepaskanku, ya?!"
Suzuka-san
memegang pegangan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melingkar di
pinggangku. Mau tidak mau, aku hanya bisa berpegangan erat padanya dengan
menyedihkan.
"……Tatsuyaaa♡♡♡♡♡♡♡
Kita sedang berada di posisi yang bagus, tahu♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Nikmati sedikit lagi,
dong♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"P-posisi
yang bagus?"
Kepalaku
yang tadi panik karena takut terjatuh mendadak menjadi jernih. Aku sedang
melingkarkan kedua tangan di pinggang Suzuka-san dan berpegangan erat padanya.
Dengan kata lain, tubuhku sedang menempel rapat pada Suzuka-san yang mengenakan
baju renang. Wajahku juga tertekan ke bagian dada baju renangnya yang sporty,
tetapi cukup terbuka.
"Ah,
maaf…… uwaaaaah! Aku jatuh! Aku jatuh!"
Aku
spontan mencoba menjauh, tetapi tepat saat itu, kami sepertinya mengalami
penurunan tajam. Sensasi melayang langsung menyerangku, membuatku kembali
berpegangan erat pada tubuh Suzuka-san.
"Hmmmm♡♡♡
Tidak apa-apa, tidak apa-apa♡♡♡♡ Aku juga tidak keberatan kalau kamu
berpegangan padaku seerat itu♡♡♡ Mumpung sudah begini, nikmati saja
sepuasnya♡♡♡♡♡♡♡♡"
Entah
kenapa, Suzuka-san terdengar senang. Dia bahkan mempererat pelukannya di
pinggangku.
Maksudnya
menikmati seluncuran air ini? Atau menikmati sensasi bola pantai milik
Suzuka-san?
Di
sepanjang lintasan, kami berputar-putar dan berulang kali mengalami penurunan
tajam. Saat aku mati-matian berpegangan agar tidak terlempar, sebuah insiden
lain terjadi.
—PLOP!
"……Ah♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Eh?"
Salah
satu sisi baju renang Suzuka-san tersingkap. Dada yang tampak lembut itu kini
terekspos sepenuhnya di hadapan dunia.
"Suzuka-san,
baju renangmu! H-harus segera diperbaiki!"
"Kedua
tanganku sedang sibuk♡♡♡♡♡♡♡♡ Mana mungkin aku bisa
memperbaikinya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡!"
"Tapi……!"
Kalau
dibiarkan seperti ini, semua orang akan melihatnya. Aku harus mencegah hal itu.
"Suzuka-san……
maaf!"
Aku
menempelkan wajahku untuk menutupinya. Kelembutan terasa di seluruh pipiku,
disertai sensasi agak keras pada satu titik.
"T-Tatsuyaaa♡♡♡♡♡♡♡♡
Itu berbahaya banget♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Aku
cuma berusaha menutupinya! Tidak ada maksud lain!"
Sambil
menutupi dada Suzuka-san, seluncuran air itu akhirnya memasuki bagian
puncaknya.
Ban
pelampung kami terus menambah kecepatan dan meluncur lurus menuju kolam besar
di ujung lintasan.
"M-maaf,
Tatsuyaaa♡♡♡♡♡♡♡ Sepertinya aku su-sudah tidak kuat lagi♡♡♡♡♡♡♡"
"Eh,
tunggu!? Suzuka-san!?"
Tepat
sebelum mencapai garis akhir, sepertinya tangan Suzuka-san sudah mencapai
batasnya. Tidak mengherankan jika dia tidak sanggup bertahan setelah harus
menahan seorang laki-laki sekaligus menahan rangsangan yang terus menyerangnya.
Malah, aku heran bagaimana dia bisa bertahan sejauh ini hanya dengan satu
tangan.
"Hmmmmmm♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Gawattt♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Aku, aku mau meledaaak♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Gawat,
gawat, gawat, gawat! Kita bakal terlempar!"
Begitu
ban pelampung menyentuh air, tubuhku dan Suzuka-san terlepas darinya, lalu
melayang di udara.
"A-aku
mau meledaaak♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡!!"
"Uwaaaaaah!
Sp-Suzuka-san!!"
Aku
buru-buru menarik tubuh Suzuka-san yang terpisah dariku di udara, lalu
memeluknya agar tubuhnya tertutupi. Setelah itu, kami langsung tercebur ke
dalam air.
"Uhuk,
uhuk! Uuuh, aku banyak menelan air……"
"Ahaha♡
Gila, seru banget! Bagaimana? Menyenangkan, kan?"
Suzuka-san
tertawa sambil membetulkan baju renangnya.
"Tidak,
rasa takutku jauh lebih besar daripada rasa senangnya."
"Lho,
serius? Kalau begitu, bagaimana dengan kombinasi takut dan erotis?"
Apa-apaan
pertanyaan itu? Jelas-jelas sensasi erotisnya jauh lebih unggul, sudah pasti!
Tanpa sadar, pandanganku kembali tertuju pada tubuh Suzuka-san yang tadi
kunikmati habis-habisan, lalu buru-buru kualihkan.
"Nihihi,
kapan pun kamu mau, aku siap meluncur bareng kamu lagi, kok."
Suzuka-san
tersenyum puas. Syukurlah kalau dia menikmatinya.
Saat
kami kembali ke kolam tempat kami berkumpul tadi, Aina dan yang lainnya sedang
bersenang-senang dengan riang.
"Nyaa!
Akhirnya Aina berhasil berenang sejauh dua puluh lima meter!"
"Aina-chan
hebat! Kalau kamu bisa mengingat sensasi tadi, kamu pasti bisa berenang saat
ujian nanti!"
"Aina-san,
kamu sudah berusaha dengan sangat baik."
Sepertinya
Aina berhasil mencapai targetnya.
"Ah,
Tatsu-nii, Suzuka-nee, kalian sudah kembali! Aina sekarang sudah bisa
berenang!"
"Serius!?
Hebat banget!"
"Benar
sekali! Ai-nyan memang hebat!"
Aina
membusungkan dadanya dengan bangga. Tingkahnya sangat menggemaskan.
"Baiklah!
Kalau begitu, sekarang tinggal bersenang-senang! Ayo, semuanya ke kolam
ombak!"
"Ayo!"
Aina
dan Yura-chan menyambut seruan Suzuka-san.
"Um,
aku ini tetap bertanggung jawab mengawasi kalian, jadi……"
"Honoka-chan-sensei
terlalu serius! Sudahlah, ayo kita bermain!"
Aina
menggenggam tangan Honoka-san. Ya, ya, melihat gadis-gadis imut akur satu sama
lain memang pemandangan yang sangat menyenangkan.
"Kenapa
kamu mengangguk-angguk dengan wajah terharu begitu? Tatsuya, cepat ikut!"
"……Baik."
Dengan
tatapan kosong, aku mengarahkan pandangan ke kolam ombak.
Banyak
laki-laki dan perempuan berdesakan sambil menikmati waktu mereka. Setidaknya,
aku harus sangat berhati-hati agar tidak menyentuh perempuan lain secara tidak
sengaja.
"……Tidak
ada."
Setelah
bermain bola dan kejar-kejaran di dalam air bersama kelima orang lainnya, kami
duduk beristirahat di bangku. Saat itulah Yura-chan bergumam pelan. Wajahnya
sedikit pucat, sementara tangannya menyentuh telinganya.
"……Jangan-jangan?"
"Anting
lumba-lumbaku…… sepertinya terjatuh…… Padahal tadi masih terpasang……"
Anting
itu adalah hadiah yang kubelikan untuknya ketika kami pergi ke akuarium bersama
beberapa waktu lalu.
"Bagaimana
ini…… Padahal itu hadiah dari Tatsuya-kun……"
Yura-chan
menunduk dengan wajah sedih.
Aku
ingin membantunya mencari, tetapi menemukan anting kecil berwarna biru di dalam
kolam sebesar ini jelas bukan perkara mudah.
"Tidak
apa-apa. Harganya juga tidak terlalu mahal, jadi lain kali kita bisa membeli
yang sama lagi……"
"Aduh!"
Saat
aku sedang berusaha menghibur Yura-chan, kepalaku dipukul cukup keras. Bahkan
sampai dua kali.
"Mana
mungkin ada benda lain yang benar-benar sama di dunia ini. Pikir sedikit,
dong."
"Seharusnya
kamu langsung berdiri dan ikut mencari tanpa banyak bicara. Dasar
Tatsu-nii……"
Sepertinya
aku dipukul oleh Suzuka-san dan Aina. Mereka berdua benar-benar kompak.
Aku
menoleh ke arah Honoka-san, berharap dia akan membelaku.
"Tatsuya-kun……
ucapanmu tadi agak keterlaluan, sih……"
"Ah,
baik. Maaf……"
Sepertinya
jawabanku tadi benar-benar salah.
"Baiklah!
Kalau begitu, ayo kita cari si lumba-lumba kecil yang tersesat!"
"Sepertinya
kemampuan hasil latihan Aina akhirnya bisa digunakan!"
"Tidak
apa-apa. Kalau kita mencari bersama-sama, pasti akan segera ketemu."
"Semuanya……
terima kasih!"
Suzuka-san,
Aina, dan Honoka-san mulai berjalan menuju kolam ombak. Benar-benar seperti
para dungeon diver. Keren sekali.
"Oke.
Kalau begitu, aku juga ikut mencari. Akan kutunjukkan bahwa gelar putri duyung
dari Soukoku bukan sekadar nama!"
"Tatsuya-kun……
terima kasih. Tapi, putri duyung itu perempuan, lho?"
Ah,
sial. Kenapa aku selalu gagal terlihat keren, sih?
Sekitar
tiga puluh menit telah berlalu sejak kami mulai mencari si lumba-lumba kecil
yang tersesat. Namun, benda yang kami cari masih belum ditemukan.
"Hei,
Tatsuya! Kita istirahat sebentar!"
"Oke!"
Dari
caranya mengajak istirahat, sepertinya Suzuka-san sama sekali belum berniat
menyerah. Dia benar-benar keren dan jantan.
Aku
memutuskan untuk menyelam sekali lagi sebelum beristirahat, lalu menyusuri
dasar kolam sambil melihat ke sekeliling. Tiba-tiba, sesuatu yang berkilauan
terlihat sekilas di ujung pandanganku.
"……Yang
tadi itu?"
Agar
tidak kehilangan jejaknya, aku terus menyelam sambil mempertahankan benda
berkilau itu dalam pandanganku. Kalau aku mengalihkan pandangan sekarang, benda
itu pasti akan luput lagi.
Begitu
mendekat, aku langsung yakin. Itu benar-benar anting lumba-lumba yang kami
cari.
"Yess!"
Aku
menjepitnya dengan ujung jari, lalu segera menggenggamnya erat-erat. Kalau
sampai terjatuh lagi sekarang, aku pasti akan sangat menyesal.
Karena
napasku mulai sesak, aku segera mendongak untuk naik ke permukaan. Namun—
"……!"
Beberapa
ban pelampung melayang tepat di atas kepalaku, bergoyang mengikuti ombak.
Karena mereka mengenakan pareo, kemungkinan besar mereka adalah perempuan.
Aku
memang kesulitan bernapas, tetapi belum mencapai batas kemampuanku. Aku
menyelam sedikit lebih jauh, lalu menjejakkan kaki kuat-kuat ke dasar kolam
untuk melesat menuju permukaan.
—KRAK!
"Aduh!"
Kakiku
kram. Tepatnya, otot pahaku.
Aku
sudah sibuk mencari selama tiga puluh menit tanpa henti. Wajar saja kalau
kakiku kelelahan.
"Bwah!
Ugh!"
Saat
mencoba menghirup udara, ombak menerjangku dan aku menelan air dalam jumlah
besar.
Paru-paruku
sangat membutuhkan udara, tetapi aku tidak bisa bernapas. Rasanya menyiksa.
Rasa sakit di kakiku membuatku tidak bisa berenang dengan baik.
Kegelapan
perlahan merembes dari sudut pandanganku, sementara suara-suara di sekitarku
semakin menjauh.
"Guhuk!
Uhuk!"
Aku
berusaha keras untuk mengapung, tetapi ombak kembali menghalangiku pada saat
yang paling buruk.
Rasa
sakit dan sesak itu semakin parah, sampai-sampai sensasi pada tangan dan kakiku
mulai menghilang.
—Mati?
Di tempat seperti ini?
Padahal
aku belum melakukan apa-apa.
Ah,
kalau akhirnya harus berakhir seperti ini……
Seharusnya
aku menghabiskan lebih banyak waktu bersama seseorang. Bersama orang yang
kusukai.
Aku
ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya……
"……kun!
……Tatsuya-kun!"
Di
luar kesadaranku yang semakin memudar, aku mendengar suara seseorang berteriak.
Setidaknya, rasanya seperti itu.
……
…………
………………
Ada
sensasi lembut di bibirku. Udara mengalir masuk, seolah-olah paru-paruku
dipaksa terbuka.
Panas
dan menyakitkan. Sedikit perih.
"……Gah!
Bwah!"
Aku
terbatuk-batuk sampai tenggorokanku terasa seperti akan robek. Tubuhku bergerak
sendiri, berjuang mendapatkan oksigen.
Pandangan
yang tadinya gelap perlahan kembali terang.
Silau.
Cahaya matahari dan warna putih.
Rambut
putih yang basah kuyup.
"Sy-syukurlah……"
Dia
menggenggam tanganku sambil mengguncang bahunya karena gemetar.
"Haa……
haa…… Uhuk! ……Yura-chan?"
"Hiks……
syukurlah…… syukurlah, benar-benar syukurlah……"
Wajah
cantiknya kini berantakan karena air mata. Darah merembes dari bahunya,
sepertinya akibat kulitnya tergores, dan salah satu tali bahu baju renangnya
terlepas.
Penampilannya
sama sekali tidak seperti seorang idola yang selalu menjaga citra. Dia menangis
tersedu-sedu tanpa sedikit pun memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Ah,
meskipun begitu, Yura-chan tetap saja cantik, pikirku dengan bodohnya.
"……Uhuk.
Yura-chan…… baju renangmu……"
"……Hiks……
b-baju renangku……?"
"Tali
bahumu terlepas……"
Yura-chan
sempat membelalakkan mata karena terkejut, tetapi sesaat kemudian, air mata
kembali mengalir deras dari kedua matanya yang besar.
"Memangnya
itu penting?! Tatsuya-kun, tadi kamu bahkan sudah berhenti bernapas, tahu!?
Mana mungkin aku peduli soal baju renang sekarang! Huaaah!"
Yura-chan
membenamkan wajahnya ke dadaku sambil menangis keras. Dia benar-benar
menolongku tanpa memedulikan apa pun, bahkan penampilannya sendiri.
"……Ah."
Tiba-tiba,
aku merasakan sesuatu yang keras di tangan kananku.
"Hei,
Yura-chan."
Saat
aku memanggilnya, Yura-chan perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air
mata.
"Hiks……
ada apa……?"
"Aku
menemukannya. Si lumba-lumba kecil yang tersesat."
Aku
perlahan membuka tangan yang sejak tadi tetap kugenggam erat, bahkan ketika
kehilangan kesadaran. Seekor lumba-lumba kecil berwarna biru terguling keluar
begitu saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"……!
Tatsuya-kun, dasar bodoh! ……Terima kasih!"
Senyum
kecil kembali menghiasi wajah Yura-chan yang masih berlinang air mata.
Sambil
memandang Yura-chan……
Aku
malah memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak penting: apakah pengalaman
tetap mengalir melalui ciuman dalam keadaan genting seperti ini?





Post a Comment