NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kiwamete Kenzen na Bishoujo Level Up Volume 2 Chapter 3

Chapter 3

Lumba-Lumba yang Tersesat


 

"Ujian semester akhirnya selesai! Ayo bersenang-senang sepuasnya selama liburan musim panas! Bersulang!"

 

""Bersulang!""

 

Kami membenturkan gelas mengikuti seruan Yura-chan. Gelas plastik itu mengeluarkan bunyi tok yang agak konyol, tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi semangat kami.

 

Setelah belajar untuk ujian yang melelahkan selama sekian lama, akhirnya ujian semester pun selesai.

 

Kini, yang menanti kami setelah berhasil melewatinya tanpa mendapat nilai merah hanyalah liburan musim panas yang menyenangkan!

 

Karena itulah, aku, Yura-chan, dan Suzuka-san datang ke tempat karaoke.

 

"Wah, tadi aku sempat khawatir bakal bagaimana jadinya, tetapi berkat Yura-chan, semuanya bisa teratasi."

 

"Benar, benar. Kamu benar-benar menyelamatkan kami. Terima kasih, ya!"

 

"Tidak kok. Itu hasil kerja keras kalian berdua. Aku hanya sedikit membantu."

 

"Kepribadian Yura juga baik banget, ya. Memangnya kamu punya kekurangan nggak, sih?"

 

"Eeeh? Aku punya banyak kekurangan, tahu? Sampai baru-baru ini saja aku belum bisa memasak."

 

Perkataan Yura-chan itu cukup mengejutkan.

 

"Eh? Benarkah? Padahal masakanmu enak sekali."

 

Akhir-akhir ini aku terus menyantap masakan buatan Yura-chan, tetapi rasanya sama sekali tidak seperti masakan seseorang yang belum terbiasa memasak. Cara dia memasak pun sangat cekatan.

 

"Iya. Aku sibuk dengan kegiatan Trispa, jadi hampir tidak pernah memasak."

 

"Serius? Variasi masakanmu banyak sekali. Aku kira dari awal kamu memang jago memasak."

 

Jangan-jangan dia bersusah payah belajar memasak demi diriku. Kalau memang begitu, dia benar-benar terlalu tulus.

 

"……Oh. Begitu. Hoo?"

 

"……"

 

Suzuka-san menatapku dengan pandangan menyipit penuh kecurigaan. Gawat, aku sudah salah bicara.

 

"Tatsuya, kamu pernah makan masakan buatan Yura, ya? Bahkan menunya bermacam-macam? Padahal dia baru saja pindah ke sekolah kita, lho?"

 

"Ah, tidak, itu……"

 

"Kalau dipikir-pikir, rambut kalian juga punya aroma yang mirip, ya? Apa karena memakai sampo yang sama?"

 

"A-ahaha. Yah, sampo memang banyak yang aromanya mirip, bukan?"

 

Saat aku mengalihkan pandangan ke sana kemari, Yura-chan ikut membantu menjelaskan.

 

"Kami benar-benar memakai sampo yang berbeda, kok! Aku selalu membawa sampoku sendiri!"

 

……Yura-chan. Itu namanya malah memperburuk keadaanmu sendiri.

 

Suzuka-san mencengkeram bahuku erat-erat, lalu membuka mulut dengan senyum yang sangat ramah.

 

"Tatsuyaaa. Ceritakan semuanya dengan terperinci, ya?"

 

"……Tentu saja."

 

Aku pun menceritakan semuanya kepada Suzuka-san tanpa menyembunyikan apa pun.

 

"Dasar. Kamu benar-benar tidak bisa lengah sedikit pun, ya. Yah, kalau memang ada alasannya, mau bagaimana lagi. Aku sendiri juga pernah menumpang tinggal di rumah Tatsuya untuk sementara waktu."

 

"Oh, begitu, ya?"

 

Baru saja satu masalah selesai, kini muncul masalah lainnya. Kali ini, Yura-chan menatapku dengan pandangan penuh kecurigaan. Tolong jangan begitu.

 

"Ehm, itu bukan karena ada maksud aneh, kok. Ini soal penyakit ibunya Suzuka-san…… Ah, Suzuka-san, tidak masalah kalau aku menceritakan ini?"

 

"Hmm. Kalau Yura, tidak masalah."

 

Kali ini, aku menceritakan keadaan Suzuka-san kepada Yura-chan.

 

Tentang penyakit langka bernama penyakit petrifikasi yang diderita ibunya. Tentang bagaimana dia pergi ke dungeon untuk mencari item yang bisa menyembuhkan penyakit itu. Dan tentang bagaimana dia berhasil mendapatkannya tepat waktu sehingga ibunya kembali sehat.

 

Di tengah cerita, Yura-chan tampak hampir menangis. Setelah selesai mendengarkan, dia menyeka sudut matanya lalu berkata,

 

"B-begitu, ya…… Jadi, itulah sebabnya kamu makan malam bersama ibumu…… Suzuka-chan, kamu benar-benar anak yang baik…… meskipun penampilanmu seperti gyaru."

 

"Berisik."

 

Suzuka-san memalingkan wajah, tetapi telinganya sedikit memerah.

 

"Yah, begitulah. Jadi, Suzuka-san dan Yura-chan tidak tinggal bersamaku karena punya maksud tersembunyi atau semacamnya."

 

Sambil mengatakan itu, aku mengisap ginger ale melalui sedotan dan menarik napas lega.

 

"……Apa?"

 

Saat mengangkat kepala, aku melihat keduanya menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Kemudian, mereka saling berpandangan.

 

"……Hei, Yura. Terus terang saja, kamu memang punya maksud tersembunyi, kan?"

 

"……Yah, begitulah. Suzuka-chan juga, kan?"

 

"Tentu saja."

 

……Tolong jangan lakukan ini. Bicarakan hal semacam itu saat aku tidak ada di sini.

 

Ketika aku sedang memikirkan apa yang harus kukatakan, ponselku menerima sebuah pesan.

 

Untuk mengubah suasana, aku sengaja membuka ponsel sambil membacakan isi pesan itu dengan suara keras.

 

"Oh, dari Aina. Ehm, apa katanya? ‘Tatsu-nii, kamu bisa berenang? Tolong selamatkan Ai-nyan yang tidak bisa berenang……’ Eh, apa dia sedang tenggelam sekarang?"

 

Aku memiringkan kepala karena tidak memahami maksud pesan itu. Suzuka-san mengangguk seolah-olah akhirnya mengerti.

 

"Ah. Mungkin itu soal praktik renang."

 

"Praktik renang?"

 

Yura-chan juga tampaknya tidak mengerti, lalu memiringkan kepala.

 

"Oh, iya. Jurusan umum memang tidak punya kegiatan seperti itu. Jurusan Eksplorasi Labirin mengadakan praktik renang setelah liburan musim panas berakhir. Ada juga ujian praktik berenang. Di dungeon, terkadang kita harus menyeberangi area berair, jadi semua orang diwajibkan bisa berenang. Kalau tidak salah, kita harus bisa berenang sejauh dua puluh lima meter."

 

"Oh, begitu. Kedengarannya sulit, ya."

 

"Begitu rupanya. Jadi, orang bernama Aina itu meminta bantuan Tatsuya-kun, ya? Lalu, siapa sebenarnya Aina itu?"

 

Yura-san, tolong jangan tersenyum hanya dengan mulut. Menakutkan, tahu.

 

"Ah, benar juga. Yura belum pernah bertemu Mana, ya. Yah, dia kurang lebih seperti Suzuka-san. Gadis yang kubantu menaikkan levelnya demi menyelamatkan adiknya. Dia bukan anak yang buruk, kok."

 

"Aduh, Tatsuya-kun memang terlalu baik hati. Jangan terus-terusan menolong gadis sembarangan, dong."

 

"Walaupun kamu bilang begitu…… Tapi, sebenarnya Aina ingin aku melakukan apa dengan meminta bantuan?"

 

"Eh, serius? Kamu benar-benar tidak peka, ya? Dia memang bilang minta tolong, tetapi itu pasti ajakan pergi ke kolam renang."

 

Suzuka-san berkata dengan wajah terkejut.

 

"Tidak juga. Belum tentu begitu, kan?"

 

Sebelum aku sempat membalas pesan itu, ponselku kembali menerima pesan dari Aina.

 

『Akhir pekan ini, Sabtu atau Minggu, kamu ada waktu? Aku ingin kamu menemaniku berlatih!』

 

"……"

 

"Nah, kan? Sudah kubilang, benar, kan? Dasar, benar-benar tidak bisa lengah sedikit pun."

 

Suzuka-san, yang sejak tadi mengintip layar ponselku dari samping, mulai menelepon seseorang menggunakan ponselnya sendiri.

 

Menurutku, mengintip ponsel orang lain itu tidak baik, lho.

 

"……Halo, Aina? Apa kabar? Iya, iya, bagus kalau kamu sehat. Ngomong-ngomong……"

 

Suzuka-san memasang senyum jahil, lalu berkata dengan ceria,

 

"Dilarang menyelinap diam-diam, ya? Kamu pilih Sabtu atau Minggu? Aku akan mengajarimu, entah gaya kupu-kupu atau gaya apa pun. Jadi, kita pergi ke kolam renang ramai-ramai, ya!"

 

Suzuka-san. Jangan-jangan, aku tidak termasuk dalam kata kita itu, kan?

 

◇

 

"Serius, nih…… Aku benar-benar akan masuk ke kolam renang mulai sekarang…… Aku……"

 

Langit biru. Awan putih. Dan di hadapanku berdiri sebuah bangunan besar dengan tulisan Aozora Splash Park. Ini adalah salah satu taman rekreasi kolam renang luar ruangan terbesar di Tokyo.

 

"Tidak mungkin, dong. Mustahil aku bisa menghindari kontak fisik dengan lawan jenis di tempat seperti ini. Tempat seperti ini memang sengaja dibuat untuk mempertemukan kulit dengan kulit, bukan? Ini sarangnya perempuan genit dan laki-laki mesum!"

 

"Tatsu-nii, kamu ngomong apa, sih? Aku sama sekali tidak mengerti."

 

Aina yang berdiri di sampingku memiringkan kepala.

 

"Lagipula, kenapa kamu memberi tahu Suzuka-nee kalau kita mau pergi ke kolam renang? Padahal Ai-nyan sudah susah payah mencari alasan supaya bisa pergi berdua saja dengan Tatsu-nii, nyan."

 

"Maaf, maaf. Kebetulan Suzuka-san ada di sebelahku. Eh, tunggu, tadi kamu bilang alasan?"

 

"Terus, idol diver yang superpopuler, Yurarin, juga ikut datang. Sebenarnya kalian punya hubungan apa, sih? Padahal Ai-nyan tadinya mau menyelinap diam-diam sendirian!"

 

"Yura-chan cuma teman masa kecilku. Eh, tunggu, tadi kamu bilang mau menyelinap diam-diam?"

 

"Yah, kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Ayo kita nikmati kolam renangnya sepuasnya! Pergi ramai-ramai juga menyenangkan, kok!"

 

Aina meregangkan tubuhnya lebar-lebar di bawah langit biru. Wajahnya terlihat sangat bersemangat. Sulit dipercaya bahwa dia datang untuk berlatih berenang, sesuatu yang sangat tidak disukainya.

 

Atau jangan-jangan, sebenarnya dia bisa berenang, ya?

 

Setelah menunggu beberapa saat, tiga sosok terlihat mendekat dari kejauhan. Mereka adalah Suzuka-san, Yura-chan, dan Honoka-san.

 

"Ah, Suzuka-nee dan yang lainnya sudah datang! Hei! Di sini, di sini!"

 

Mungkin menyadari Aina yang melambaikan tangan, ketiganya berjalan mendekat. Namun, ada sesuatu yang terasa aneh dari sikap mereka.

 

"T-tunggu sebentar, Naruse-san. Aku tidak diberi tahu bahwa Tatsuya-kun…… maksudku, Mura-kun, juga akan datang……"

 

"Eh, aku belum bilang, ya? Dia kenalanku, jadi sekalian saja kuajak!"

 

"Secara kedudukan, pergi ke kolam renang bersama murid lawan jenis sebagai seorang guru bisa menimbulkan masalah…… Haaah. Yah, percuma juga membahasnya sekarang. Kalau begitu, seharusnya aku memakai baju renang yang lebih modis saja…… Mura-kun, sudah lama tidak bertemu."

 

"Ah, Matsumoto-sensei. Sudah lama tidak bertemu."

 

Telingaku tanpa sengaja menangkap gumaman Honoka-san tadi, sehingga pandanganku tak bisa tidak tertuju pada tubuhnya yang montok.

 

"Salam kenal. Kamu Aina-chan, ya?"

 

"Namaku Okumura Aina! Waaah, Yurarin yang asli sedang berbicara dengan Ai-nyan……! Pokoknya, tolong berjabat tangan denganku!"

 

"Namaku Hamano Yura. Senang bertemu denganmu."

 

Empat gadis cantik berkumpul di satu tempat. Dan aku berada di tengah-tengah mereka. Tatapan orang-orang di sekitar terasa sangat menyakitkan.

 

"Baiklah! Kalau begitu, ayo segera bermain di kolam renang!"

 

Aina mengangkat kepalan tangannya sambil berseru.

 

Aina-san, jangan cepat-cepat melupakan tujuan awal kita datang ke sini, yaitu untuk berlatih berenang!

 

Tanpa semangat, aku menuju ruang ganti.

 

Tentu saja, orang-orang yang ada di sana semuanya laki-laki.

 

Ada seorang anak laki-laki yang tangannya digandeng oleh ayahnya yang tampak baik hati. Ada sekelompok siswa SMP yang datang bersama teman-teman laki-laki mereka dan sedang bersenang-senang dengan riuh. Ada juga seorang pemuda yang mungkin sedang berkencan dengan pacarnya, sibuk merapikan poni sambil menatap cermin.

 

Mereka semua melepas pakaian tanpa mempedulikan pandangan orang lain. Melihat pemandangan seperti itu, aku pun tanpa sadar bergumam,

 

"Apakah ini surga……"

 

"……!?"

 

Pria yang menurunkan celana dalamnya di sebelahku buru-buru menutupi selangkangannya dengan tangan.

 

Maaf sudah membuatmu salah paham.

 

"U-uhum! Berenang di kolam rekreasi pada cuaca sebagus ini benar-benar terasa seperti berada di surga, ya!"

 

Aku sengaja mengatakannya dengan suara keras, lalu mulai berganti pakaian.

 

Sejak berangkat dari rumah, aku sudah mengenakan pelindung lengan berwarna hitam dan tebal. Jadi, hampir mustahil bagi orang lain untuk mengetahui jumlah pengalaman yang kumiliki.

 

Aku juga mengenakan rash guard di atasnya. Dengan begitu, hanya wajah, leher, tangan, dan kakiku yang terlihat.

 

Namun, dengan pakaian seperti ini, orang-orang bisa saja bertanya, "Eh, kamu salah mengira ini tempat menyelam, ya?"

 

Karena itu, agar terlihat lebih cocok untuk kolam rekreasi, aku mengenakan celana renang bermotif bunga kembang sepatu dan menambahkan jaket pantai berlengan panjang.

 

Memang terlihat kurang pantas, tetapi setidaknya penampilanku sekarang sedikit lebih sesuai untuk kolam rekreasi.

 

Setelah memeriksa penampilanku di cermin dan membilas tubuh sebentar dengan pancuran, aku menuju kolam keluarga.

 

Aku mendapat tatapan aneh dari keluarga-keluarga dan pasangan yang ada di sana, tetapi aku berjalan sambil berpura-pura tidak menyadarinya.

 

"Mama, om itu aneh!"

 

"A-astaga! A-ada banyak macam orang di dunia ini! Jangan mengatakan hal seperti itu!"

 

Berisik sekali, bocah perempuan kecil. Kalau bisa, akan kubelai kepalamu dan kepala ibumu sekaligus.

 

Sambil memikirkan sesuatu yang jelas-jelas mustahil kulakukan, aku duduk di tepi kolam dan menciprat-cipratkan air dengan kaki sambil menunggu. Saat itulah seseorang menyapaku dari atas.

 

"Eeeh. Tatsu-nii, penampilanmu norak banget, deh……"

 

"Ya, mau bagaimana lagi. Ini demi mengurangi bagian kulit yang terekspos…… soalnya……"

 

Aku mendongak sampai tubuhku hampir telentang, lalu tanpa sadar kehilangan kata-kata.

 

Pandanganku dipenuhi sosok gadis-gadis cantik yang berdiri dengan matahari di belakang mereka.

 

Orang pertama yang masuk ke dalam pandanganku adalah Aina. Dia mengenakan baju renang hitam dan merah muda dengan hiasan renda. Penampilannya sangat imut dan benar-benar mencerminkan dirinya, tetapi di balik keimutan itu, banyak sekali bagian tubuhnya yang terekspos.

 

Berikutnya adalah Suzuka-san yang berdiri di sampingnya. Baju renang sporty berwarna biru dan putih yang dikenakannya semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang proporsional.

 

Yura-chan mengenakan bikini putih berenda. Penampilannya benar-benar sesuai dengan seorang idola. Rambutnya yang putih berkilau berpadu dengan kulitnya yang putih, membuatnya tampak seperti peri yang cantik. Aku melihat anting-anting berbentuk lumba-lumba biru yang berkilauan di telinganya, dan tanpa sadar merasa sedikit senang.

 

Namun, yang paling menarik perhatianku adalah……

 

"Bes……"

 

Aku hampir saja mengeluarkan suara, tetapi buru-buru menutup mulutku.

 

Honoka-san mengenakan baju renang model terusan yang elegan dengan warna biru tua yang tenang, lengkap dengan pareo yang dililitkan di pinggangnya. Padahal bagian tubuhnya yang terekspos tidak terlalu banyak, tetapi ukurannya benar-benar luar biasa. Dadanya. Benar-benar dadanya.

 

"Hmm!"

 

"Dasar……"

 

Sepertinya mereka menyadari tatapanku terpaku pada satu titik. Aku mendengar suara Aina dan Suzuka-san yang terdengar kesal. Lalu……

 

DUK!

 

"Uwaah!"

 

Kakiku didorong dengan tendangan dari mereka berdua, membuatku tercebur ke kolam.

 

"Apa-apaan kalian?!"

 

"Berisik! Kamu cuma melihat dada sensei terus! Padahal dada Aina juga nggak kecil! Dasar mesum, Tatsu-nii!"

 

"Lihat itu pakai sedikit perasaan, dong! Maksudku, lihat secara adil! Kalau mau melihat, ya lihat semuanya secara adil! Dasar bodoh, Tatsuya!"

 

"Mana adilnya, sih……? Mau bagaimana lagi kalau mataku terus tertarik ke sana. Gaya gravitasi itu sebanding dengan massa, tahu. Sudahlah, kalian berdua, sana latihan berenang dulu. Kalau sudah menjauh, gaya gravitasinya juga akan melemah."

 

Aku sendiri merasa alasan yang kuberikan sama sekali tidak masuk akal.

 

"Apa-apaan itu? Aku sama sekali nggak paham……"

 

Aina terus menggerutu, tetapi akhirnya masuk juga ke dalam air.

 

Sepertinya perkataannya bahwa dia tidak bisa berenang memang benar. Caranya memasuki air tampak seperti kucing yang ketakutan dan ragu-ragu.

 

"Baiklah, cepat belajar berenang supaya kita bisa bermain bersama!"

 

"Suzuka-chan, aku juga akan membantu!"

 

Aina dan kedua gadis lainnya yang sudah menjadi kelompok sahabat karib dalam sekejap mulai berlatih berenang sambil berceloteh riang.

 

Ketika aku duduk di tepi kolam dan memperhatikan mereka tanpa benar-benar memusatkan perhatian, Honoka-san duduk di sebelahku.

 

"Rasanya sudah agak lama, ya, kita tidak bertemu seperti ini."

 

Honoka-san berkata sambil menyelipkan rambut cokelatnya yang sedikit basah ke belakang telinga. Memang benar. Sejak festival olahraga, aku jarang mampir ke ruang UKS, jadi sudah agak lama sejak terakhir kali aku berbicara dengannya.

 

"Benar juga. Aku ini murid teladan, jadi tidak pernah bolos ke ruang UKS."

 

"Fufu, sesekali datang untuk bolos juga tidak apa-apa, kok. Kita kan pernah menjadi rekan kerja paruh waktu. Aku bisa pura-pura tidak melihatnya sesekali."

 

Honoka-san duduk di sebelah kananku. Aku bahkan bisa merasakan keberadaan dadanya yang besar tanpa perlu menoleh.

 

Bayangan belahan dada yang kulihat tadi terus terngiang di kepalaku, membuatku hampir saja meliriknya lagi. Namun, aku berhasil menahan diri dengan sekuat tenaga. Kalau sampai menatapnya secara langsung dari jarak sedekat ini, selangkanganku pasti akan membentuk tenda besar.

 

"Bagaimana pekerjaan paruh waktumu belakangan ini?"

 

"Yah, biasa saja. Hanya sedikit kesepian karena senior yang imut sudah tidak ada lagi."

 

"Aduh, kamu pintar sekali merayu, ya."

 

Setelah terdiam sejenak, Honoka-san berbicara dengan nada suara yang sedikit lebih rendah.

 

"Hei, Murata-san itu sebenarnya Tatsuya-kun, kan?"

 

Honoka-san mengatakannya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Aku tidak terlalu terkejut karena dia sudah mengetahuinya. Bagaimanapun, kami berdua cukup banyak berinteraksi saat festival olahraga.

 

"Ya, benar."

 

Honoka-san melanjutkan tanpa menunjukkan keterkejutan atas pengakuanku.

 

"Mau kutebak kenapa Tatsuya-kun sampai repot-repot berbohong? Kamu melakukannya demi menjaga perasaanku, kan?"

 

"……"

 

"Kalau aku tahu sejak awal bahwa orang itu adalah Tatsuya-kun, mungkin aku tidak akan menaikkan levelku. Meskipun dulu kita adalah rekan kerja paruh waktu, sekarang kita sudah menjadi guru dan murid. Apalagi aku ini guru UKS. Orang yang seharusnya mengajarkan hal-hal seperti itu tidak boleh sampai melakukan sesuatu terhadap muridnya."

 

"Ya, kurang lebih begitu."

 

"Benar-benar, Tatsuya-kun itu baik sekali, ya."

 

Aku diam-diam melirik wajah Honoka-san dari samping. Cahaya matahari yang terpantul dari permukaan kolam menyinari wajahnya dengan gemerlap. Ekspresinya tampak sedikit murung.

 

"Dulu, saat tahu aku bisa masuk SMA yang sama dengan Tatsuya-kun, aku merasa senang sekali. Meskipun hubungan kita nantinya adalah guru dan murid, aku merasa jarak di antara kita menjadi lebih dekat. Namun, aku segera menyadari bahwa itu hanyalah kesalahpahaman. Saat Tatsuya-kun memanggilku ‘Matsumoto-sensei’."

 

"Padahal cuma cara memanggilnya saja yang berubah."

 

"Tidak. Bukan cuma itu. Sekarang, kita benar-benar tidak boleh lagi pergi berdua ke izakaya. Kalau sampai aku mabuk berat lalu pergi ke kamarmu, aku bisa langsung dipecat secara tidak hormat. Sejauh itulah jarak di antara kita sekarang. Kita benar-benar tidak boleh melakukan sesuatu yang melampaui batas lagi."

 

"Itu……"

 

Saat aku kebingungan memikirkan apa yang harus kukatakan, Honoka-san mendekatkan wajahnya untuk menatapku.

 

"Tapi, kita sudah melampaui batas itu, kan?"

 

"……!"

 

Seolah-olah sengaja memamerkannya kepadaku, dia merapatkan kedua dadanya hingga belahan dadanya semakin terlihat. Tidak, mungkin memang dia sengaja memamerkannya.

 

"Kalau begitu, kupikir aku tidak perlu menahan diri lagi, ya. Menurutmu bagaimana?"

 

"Bagaimana apanya……"

 

Saat ini, sekitar delapan puluh persen pikiranku sudah dipenuhi oleh dadamu.




Honoka-san terkekeh pelan, lalu kembali menegakkan tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke arah Aina dan yang lainnya, yang sedang bersenang-senang sambil berceloteh riang.

 

"Semuanya imut, ya. Ada seseorang yang disukai Tatsuya-kun?"

 

Mendengar pertanyaan Honoka-san, kepalaku yang tadi hampir kepanasan mendadak kembali dingin dan jernih.

 

Padahal baru beberapa hari lalu aku hampir saja menyebabkan sebuah insiden. Kenapa aku malah terlena seperti ini?

 

"Tidak, tidak ada."

 

"! B-begitu, ya. Kalau begitu……"

 

"Aku tidak boleh jatuh cinta kepada siapa pun."

 

"Eh?"

 

Honoka-san mengeluarkan suara seolah-olah benar-benar terkejut.

 

"Um, maksudnya……"

 

"Ah! Honoka-chan-sensei main serobot, nih! Mau merayu Tatsu-nii pakai dada, ya?!"

 

Perkataan Honoka-san terpotong oleh teriakan Aina.

 

"A-aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Aku ini guru, tahu!?"

 

"Tidak adil, kalian berduaan mesra begitu! Aina capek! Istirahat sebentar, ah! Tatsu-nii, ayo beli minuman!"

 

Tanpa mendengarkan perkataan Honoka-san sedikit pun, Aina keluar dari kolam dan mengulurkan tangannya ke arahku.

 

Sebelum tangannya menyentuhku, aku berdiri dan berjalan menuju kios.

 

"Nih, Tatsu-nii. Traktiran dari Ai-nyan!"

 

"Eh, serius? Memangnya boleh?"

 

"Boleh, dong. Tatsu-nii sudah mau menemani Aina hari ini. Yah, meskipun yang mengajari Aina berenang itu Suzuka-nee dan Yura-nee."

 

Aku menerima jus yang disodorkan Aina. Bagian bawahnya berwarna biru, lalu bergradasi menjadi kuning di bagian atas. Seiris jeruk terselip di tepi gelas, membuatnya terlihat sangat menarik. Aku tidak bisa menebak rasanya apa.

 

Aina duduk di kursi untuk dua orang, lalu menyesap minumannya sendiri. Minuman berwarna merah dan putih itu mungkin rasa stroberi.

 

"Hmm, enak banget!"

 

"Kita tidak perlu kembali?"

 

"Tidak mau! Padahal sebenarnya aku berencana datang berdua saja dengan Tatsu-nii! Lagipula, Suzuka-nee galak banget! Aku ingin diajari dengan lebih lembut, dong~"

 

Aina mendongakkan kepala ke langit dan menghela napas secara berlebihan.

 

Aku duduk di sebelahnya, lalu menyesap minumanku sendiri. Sepertinya ini campuran lemon dan Blue Hawaii. Rasanya aneh, tetapi menyegarkan dan tidak buruk.

 

"Aku mau coba minuman Tatsu-nii juga, satu teguk, dong!"

 

Tangan Aina terulur ke arahku.

 

Aku menghindarinya secara berlebihan agar dia sama sekali tidak menyentuhku.

 

"Eeeh. Aina sudah mentraktir, masa tidak boleh mencoba sedikit saja? Pelit!"

 

"Ah, bukan begitu……"

 

Saat aku kebingungan memikirkan cara memberikan minumanku kepadanya, Aina mendekatkan wajahnya dengan cepat, lalu langsung menggigit sedotan minumanku.

 

"Hmm, yang ini juga enaaak!"

 

Aina memegangi pipinya dengan senyum lebar. Kemudian, senyumnya sedikit berubah menjadi seringai jahil.

 

"Nihihi, kita jadi ciuman tidak langsung, ya?"

 

"Memangnya kita masih anak SD? Aku tidak akan malu hanya karena hal seperti itu."




"Padahal tadi Tatsu-nii menghindari sentuhan tanganku, kan? Sejak kapan Tatsu-nii jadi cowok pemalu seperti itu?"

 

"Tidak, bukan begitu……"

 

Aku tergagap karena tidak tahu harus menjawab apa.

 

"Tatsu-nii, ada sesuatu yang terjadi?"

 

"Tidak, tidak ada apa-apa."

 

"Bohong, deh~ Tatsu-nii itu gampang banget ditebak, ya. Di wajahmu tertulis jelas, ‘Ada sesuatu yang terjadi~’."

 

"Memangnya semudah itu terbaca?"

 

"Iya. Kalau ada masalah, ceritakan saja. Kita sudah jauh-jauh datang ke kolam renang untuk bersenang-senang. Kalau Tatsu-nii terus memasang wajah murung seperti itu, jadi tidak seru, dong!"

 

Aina menggigit es krim vanila yang mengambang di atas minumannya, lalu menjilat es krim yang menempel di pipinya. Sepertinya dia sengaja bersikap ceria agar suasana tidak menjadi terlalu berat. Aku merasa tidak berguna karena sampai membuat seseorang yang lebih muda dariku harus mengkhawatirkanku.

 

"Bagaimana mengatakannya, ya…… Tubuhku ini bisa dibilang seperti obat yang sangat keras bagi perempuan, kan? Makanya, aku merasa harus lebih berhati-hati. Apalagi kita sedang berada di kolam renang."

 

"Hmm."

 

"Jangan cuma menjawab ‘hmm’, dong. Aku juga sedang memikirkan banyak hal, tahu."

 

Aku menghela napas melihat sikap Aina yang begitu acuh tak acuh.

 

"Meski kita sedang berada di kolam renang, bukan berarti kulit kita akan bersentuhan dengan lawan jenis begitu saja, kan? Paling-paling hanya orang yang mendekati kita karena punya niat tertentu. Lagipula, dengan pakaian aneh Tatsu-nii itu, perempuan malah akan menjauh."

 

"……Memangnya seaneh itu?"

 

"Aneh."

 

Memang benar, mungkin tidak banyak orang yang menutupi kulit mereka sedemikian rupa saat pergi ke kolam rekreasi.

 

"Lagi pula, kalau cuma bersentuhan, seharusnya tidak masalah, kan? Kalau hanya bersentuhan sebentar, rasanya paling seperti tersengat ubur-ubur."

 

"Tidak ada ubur-ubur di kolam renang."

 

"Menurutku, Tatsu-nii tidak perlu terlalu memikirkannya. Tatsu-nii terlalu banyak berpikir, deh."

 

Sepertinya dia sengaja berbicara seolah-olah masalah ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

 

"Tapi, meskipun aku sudah berhati-hati, aku tetap tidak sengaja menyentuhmu, kan, Aina? Waktu pertama kali kita bertemu di kereta."

 

Aku teringat kembali pertemuan pertamaku dengan Aina. Saat itu, aku berniat menolongnya, tetapi tanpa pikir panjang malah menyentuh lengannya. Akibatnya, Aina sampai pingsan.

 

Sungguh, jika dilihat dari sudut pandang orang lain, tindakanku tidak ada bedanya dengan pelecehan seksual di kereta.

 

Aku harus benar-benar berhati-hati agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi.

 

"Benar. Waktu itu Tatsu-nii menyentuh Aina di kereta. Dan Aina jadi bahagia, kan?"

 

"……Eh?"

 

"Setelah disentuh Tatsu-nii dan bertemu dengan Tatsu-nii, mata Ai-nyan jadi bisa melihat lagi, dan Aina juga diselamatkan. Semuanya malah berakhir dengan hal-hal baik!"

 

Aina menghabiskan minumannya dalam sekali teguk, lalu meregangkan tubuhnya lebar-lebar.

 

"Jadi, Tatsu-nii tidak perlu merasa bersalah! Ah, tapi aku tetap ingin Tatsu-nii berhati-hati agar tidak sembarangan menambah jumlah perempuan yang dekat dengan Tatsu-nii! Soalnya, Tatsu-nii itu milik Ai-nyan, tahu~!"

 

"……Aku bukan milikmu, tahu."

 

Aku membalasnya sekadar formalitas, lalu ikut menyesap minumanku. Sensasi dingin yang mengalir ke tenggorokan terasa menyenangkan.

 

Berkat Aina, beban pikiranku sedikit berkurang.

 

"Ngomong-ngomong, bagaimana latihanmu? Sudah sedikit bisa berenang?"

 

"Hmm. Mungkin sekitar sepuluh meter."

 

"Kalau sudah bisa sejauh itu, tinggal sedikit lagi sampai kamu menguasai tekniknya. Cepat belajar berenang, ya, supaya kita bisa bermain bersama."

 

"Uuuh, aku tidak mau, tapi akan berusaha!"

 

"Hei, Aina! Sampai kapan mau istirahat?!"

 

Tepat ketika Aina sedang menyemangati dirinya sendiri, Suzuka-san dan Yura-chan muncul. Sepertinya mereka datang untuk mencari kami karena kami tak kunjung kembali.

 

"Ayo, cepat kembali dan lanjutkan latihan! Katanya mau cepat bisa berenang supaya bisa bermain bersama, kan?"

 

"Suzuka-nee terlalu keras! Aku tidak mau! Aku mau diajari Yura-nee yang lebih lembut!"

 

"Kalau terus dimanjakan, kemampuanmu tidak akan berkembang! Ayo, cepat!"

 

"Nyaa! Yura-nee, tolong aku!"

 

"T-tunggu, Aina-chan! Jangan berlari di tepi kolam! Hei, jangan menarik tanganku!"

 

"Ah, hei! Jangan kabur! Woi! ……Dasar."

 

Aina meraih tangan Yura-chan, lalu melarikan diri sambil menariknya. Padahal mereka baru bertemu hari ini, tetapi Aina tampaknya sudah sangat akrab dengan Yura-chan.

 

Suzuka-san yang tertinggal menghela napas. Sepertinya dia kemudian menyadari minumanku. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengambil gelasku, menempelkan mulutnya ke sedotan, lalu menghabiskan isinya.

 

"Hmm, enak! Oke, Tatsuya! Ayo naik seluncuran ban! Seluncuran ban!"

 

Suzuka-san menunjuk puncak seluncuran air raksasa.

 

"……Hahaha. Bercanda, kan?"

 

Seluncuran itu memiliki lintasan berkelok-kelok dengan banyak tikungan. Ini adalah salah satu seluncuran air paling ekstrem di Jepang.

 

Siapa yang mau dengan sukarela menaiki wahana yang kelihatannya bisa mengancam nyawa seperti itu?

 

"Mana mungkin aku bercanda. Kita sudah jauh-jauh datang, masa tidak dinaiki? Ayo, cepat!"

 

"T-tunggu, Suzuka-san! Tanganku—!"

 

"Hei, kenapa baru sekarang malu-malu? Ayo! Hmm♡"

 

Aku sempat menghindari tangan Suzuka-san sekali, tetapi tidak mungkin aku bisa mengalahkannya ketika dia sudah serius. Dalam sekejap, tanganku berhasil diraihnya.

 

"Memegang tangan saja bukan masalah besar, tahu♡ Hmm♡ Ayo, berdiri♡"

 

Meskipun berkata seolah-olah itu bukan masalah besar, wajah Suzuka-san memerah dan kedua kakinya sedikit merapat ke dalam. Air menetes dari dada montoknya yang terhimpit baju renang sporty. Pemandangan itu benar-benar menggoda. Rasanya ada bagian tubuhku yang hampir berdiri.

 

Sambil berusaha mempertahankan ketenangan, aku menaiki tangga panjang. Tanpa terasa, kami sudah berada tepat di depan sebuah ban pelampung besar.

 

Bentuknya seperti piring besar dengan pegangan yang tampaknya cukup untuk empat orang. Sepertinya kami harus menaikinya lalu meluncur turun.

 

"Hop! Ayo, Tatsuya. Orang-orang di belakang sudah mengantri, jadi cepat."

 

"Meski disuruh cepat……"

 

Aku bukan orang yang benar-benar tidak tahan dengan wahana ekstrem, tetapi aku juga bukan penggemarnya. Setidaknya, beri aku waktu untuk mempersiapkan mental!

 

Mungkin Suzuka-san sudah tidak tahan melihatku terus ragu-ragu. Dia menarik tanganku.

 

"Uwaah!"

 

"Ahaha♡ Siap berangkat!♡"

 

"Kalau begitu, selamat menikmati perjalanannya!"

 

Petugas laki-laki itu mendorong ban pelampung kami seolah-olah menendangnya. Ban itu langsung meluncur maju dengan cepat. Jelas sekali kecepatannya lebih tinggi daripada kelompok sebelumnya.

 

"T-tunggu! Pegangannya! Aku belum memegang pegangannya! Aku belum sempat meraihnya!"

 

Aku buru-buru mencoba meraih pegangan, tetapi kakiku tergelincir sehingga aku kesulitan bergerak.

 

"Ah♡ H-hei♡ Jangan terlalu banyak bergerak♡ Biar aku yang menahanmu♡"

 

"J-jangan sampai melepaskanku, ya?!"

 

Suzuka-san memegang pegangan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melingkar di pinggangku. Mau tidak mau, aku hanya bisa berpegangan erat padanya dengan menyedihkan.

 

"……Tatsuyaaa♡♡♡♡♡♡♡ Kita sedang berada di posisi yang bagus, tahu♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Nikmati sedikit lagi, dong♡♡♡♡♡♡♡♡♡"

 

"P-posisi yang bagus?"

 

Kepalaku yang tadi panik karena takut terjatuh mendadak menjadi jernih. Aku sedang melingkarkan kedua tangan di pinggang Suzuka-san dan berpegangan erat padanya. Dengan kata lain, tubuhku sedang menempel rapat pada Suzuka-san yang mengenakan baju renang. Wajahku juga tertekan ke bagian dada baju renangnya yang sporty, tetapi cukup terbuka.

 

"Ah, maaf…… uwaaaaah! Aku jatuh! Aku jatuh!"

 

Aku spontan mencoba menjauh, tetapi tepat saat itu, kami sepertinya mengalami penurunan tajam. Sensasi melayang langsung menyerangku, membuatku kembali berpegangan erat pada tubuh Suzuka-san.

 

"Hmmmm♡♡♡ Tidak apa-apa, tidak apa-apa♡♡♡♡ Aku juga tidak keberatan kalau kamu berpegangan padaku seerat itu♡♡♡ Mumpung sudah begini, nikmati saja sepuasnya♡♡♡♡♡♡♡♡"

 

Entah kenapa, Suzuka-san terdengar senang. Dia bahkan mempererat pelukannya di pinggangku.

 

Maksudnya menikmati seluncuran air ini? Atau menikmati sensasi bola pantai milik Suzuka-san?

 

Di sepanjang lintasan, kami berputar-putar dan berulang kali mengalami penurunan tajam. Saat aku mati-matian berpegangan agar tidak terlempar, sebuah insiden lain terjadi.

 

—PLOP!

 

"……Ah♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"

 

"Eh?"

 

Salah satu sisi baju renang Suzuka-san tersingkap. Dada yang tampak lembut itu kini terekspos sepenuhnya di hadapan dunia.

 

"Suzuka-san, baju renangmu! H-harus segera diperbaiki!"

 

"Kedua tanganku sedang sibuk♡♡♡♡♡♡♡♡ Mana mungkin aku bisa memperbaikinya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡!"

 

"Tapi……!"

 

Kalau dibiarkan seperti ini, semua orang akan melihatnya. Aku harus mencegah hal itu.

 

"Suzuka-san…… maaf!"

 

Aku menempelkan wajahku untuk menutupinya. Kelembutan terasa di seluruh pipiku, disertai sensasi agak keras pada satu titik.

 

"T-Tatsuyaaa♡♡♡♡♡♡♡♡ Itu berbahaya banget♡♡♡♡♡♡♡♡♡"

 

"Aku cuma berusaha menutupinya! Tidak ada maksud lain!"

 

Sambil menutupi dada Suzuka-san, seluncuran air itu akhirnya memasuki bagian puncaknya.

 

Ban pelampung kami terus menambah kecepatan dan meluncur lurus menuju kolam besar di ujung lintasan.

 

"M-maaf, Tatsuyaaa♡♡♡♡♡♡♡ Sepertinya aku su-sudah tidak kuat lagi♡♡♡♡♡♡♡"

 

"Eh, tunggu!? Suzuka-san!?"

 

Tepat sebelum mencapai garis akhir, sepertinya tangan Suzuka-san sudah mencapai batasnya. Tidak mengherankan jika dia tidak sanggup bertahan setelah harus menahan seorang laki-laki sekaligus menahan rangsangan yang terus menyerangnya. Malah, aku heran bagaimana dia bisa bertahan sejauh ini hanya dengan satu tangan.

 

"Hmmmmmm♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Gawattt♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Aku, aku mau meledaaak♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"

 

"Gawat, gawat, gawat, gawat! Kita bakal terlempar!"

 

Begitu ban pelampung menyentuh air, tubuhku dan Suzuka-san terlepas darinya, lalu melayang di udara.

 

"A-aku mau meledaaak♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡!!"

 

"Uwaaaaaah! Sp-Suzuka-san!!"

 

Aku buru-buru menarik tubuh Suzuka-san yang terpisah dariku di udara, lalu memeluknya agar tubuhnya tertutupi. Setelah itu, kami langsung tercebur ke dalam air.

 

"Uhuk, uhuk! Uuuh, aku banyak menelan air……"

 

"Ahaha♡ Gila, seru banget! Bagaimana? Menyenangkan, kan?"

 

Suzuka-san tertawa sambil membetulkan baju renangnya.

 

"Tidak, rasa takutku jauh lebih besar daripada rasa senangnya."

 

"Lho, serius? Kalau begitu, bagaimana dengan kombinasi takut dan erotis?"

 

Apa-apaan pertanyaan itu? Jelas-jelas sensasi erotisnya jauh lebih unggul, sudah pasti! Tanpa sadar, pandanganku kembali tertuju pada tubuh Suzuka-san yang tadi kunikmati habis-habisan, lalu buru-buru kualihkan.

 

"Nihihi, kapan pun kamu mau, aku siap meluncur bareng kamu lagi, kok."

 

Suzuka-san tersenyum puas. Syukurlah kalau dia menikmatinya.

 

Saat kami kembali ke kolam tempat kami berkumpul tadi, Aina dan yang lainnya sedang bersenang-senang dengan riang.

 

"Nyaa! Akhirnya Aina berhasil berenang sejauh dua puluh lima meter!"

 

"Aina-chan hebat! Kalau kamu bisa mengingat sensasi tadi, kamu pasti bisa berenang saat ujian nanti!"

 

"Aina-san, kamu sudah berusaha dengan sangat baik."

 

Sepertinya Aina berhasil mencapai targetnya.

 

"Ah, Tatsu-nii, Suzuka-nee, kalian sudah kembali! Aina sekarang sudah bisa berenang!"

 

"Serius!? Hebat banget!"

 

"Benar sekali! Ai-nyan memang hebat!"

 

Aina membusungkan dadanya dengan bangga. Tingkahnya sangat menggemaskan.

 

"Baiklah! Kalau begitu, sekarang tinggal bersenang-senang! Ayo, semuanya ke kolam ombak!"

 

"Ayo!"

 

Aina dan Yura-chan menyambut seruan Suzuka-san.

 

"Um, aku ini tetap bertanggung jawab mengawasi kalian, jadi……"

 

"Honoka-chan-sensei terlalu serius! Sudahlah, ayo kita bermain!"

 

Aina menggenggam tangan Honoka-san. Ya, ya, melihat gadis-gadis imut akur satu sama lain memang pemandangan yang sangat menyenangkan.

 

"Kenapa kamu mengangguk-angguk dengan wajah terharu begitu? Tatsuya, cepat ikut!"

 

"……Baik."

 

Dengan tatapan kosong, aku mengarahkan pandangan ke kolam ombak.

 

Banyak laki-laki dan perempuan berdesakan sambil menikmati waktu mereka. Setidaknya, aku harus sangat berhati-hati agar tidak menyentuh perempuan lain secara tidak sengaja.

 

"……Tidak ada."

 

Setelah bermain bola dan kejar-kejaran di dalam air bersama kelima orang lainnya, kami duduk beristirahat di bangku. Saat itulah Yura-chan bergumam pelan. Wajahnya sedikit pucat, sementara tangannya menyentuh telinganya.

 

"……Jangan-jangan?"

 

"Anting lumba-lumbaku…… sepertinya terjatuh…… Padahal tadi masih terpasang……"

 

Anting itu adalah hadiah yang kubelikan untuknya ketika kami pergi ke akuarium bersama beberapa waktu lalu.

 

"Bagaimana ini…… Padahal itu hadiah dari Tatsuya-kun……"

 

Yura-chan menunduk dengan wajah sedih.

 

Aku ingin membantunya mencari, tetapi menemukan anting kecil berwarna biru di dalam kolam sebesar ini jelas bukan perkara mudah.

 

"Tidak apa-apa. Harganya juga tidak terlalu mahal, jadi lain kali kita bisa membeli yang sama lagi……"

 

"Aduh!"

 

Saat aku sedang berusaha menghibur Yura-chan, kepalaku dipukul cukup keras. Bahkan sampai dua kali.

 

"Mana mungkin ada benda lain yang benar-benar sama di dunia ini. Pikir sedikit, dong."

 

"Seharusnya kamu langsung berdiri dan ikut mencari tanpa banyak bicara. Dasar Tatsu-nii……"

 

Sepertinya aku dipukul oleh Suzuka-san dan Aina. Mereka berdua benar-benar kompak.

 

Aku menoleh ke arah Honoka-san, berharap dia akan membelaku.

 

"Tatsuya-kun…… ucapanmu tadi agak keterlaluan, sih……"

 

"Ah, baik. Maaf……"

 

Sepertinya jawabanku tadi benar-benar salah.

 

"Baiklah! Kalau begitu, ayo kita cari si lumba-lumba kecil yang tersesat!"

 

"Sepertinya kemampuan hasil latihan Aina akhirnya bisa digunakan!"

 

"Tidak apa-apa. Kalau kita mencari bersama-sama, pasti akan segera ketemu."

 

"Semuanya…… terima kasih!"

 

Suzuka-san, Aina, dan Honoka-san mulai berjalan menuju kolam ombak. Benar-benar seperti para dungeon diver. Keren sekali.

 

"Oke. Kalau begitu, aku juga ikut mencari. Akan kutunjukkan bahwa gelar putri duyung dari Soukoku bukan sekadar nama!"

 

"Tatsuya-kun…… terima kasih. Tapi, putri duyung itu perempuan, lho?"

 

Ah, sial. Kenapa aku selalu gagal terlihat keren, sih?

 

Sekitar tiga puluh menit telah berlalu sejak kami mulai mencari si lumba-lumba kecil yang tersesat. Namun, benda yang kami cari masih belum ditemukan.

 

"Hei, Tatsuya! Kita istirahat sebentar!"

 

"Oke!"

 

Dari caranya mengajak istirahat, sepertinya Suzuka-san sama sekali belum berniat menyerah. Dia benar-benar keren dan jantan.

 

Aku memutuskan untuk menyelam sekali lagi sebelum beristirahat, lalu menyusuri dasar kolam sambil melihat ke sekeliling. Tiba-tiba, sesuatu yang berkilauan terlihat sekilas di ujung pandanganku.

 

"……Yang tadi itu?"

 

Agar tidak kehilangan jejaknya, aku terus menyelam sambil mempertahankan benda berkilau itu dalam pandanganku. Kalau aku mengalihkan pandangan sekarang, benda itu pasti akan luput lagi.

 

Begitu mendekat, aku langsung yakin. Itu benar-benar anting lumba-lumba yang kami cari.

 

"Yess!"

 

Aku menjepitnya dengan ujung jari, lalu segera menggenggamnya erat-erat. Kalau sampai terjatuh lagi sekarang, aku pasti akan sangat menyesal.

 

Karena napasku mulai sesak, aku segera mendongak untuk naik ke permukaan. Namun—

 

"……!"

 

Beberapa ban pelampung melayang tepat di atas kepalaku, bergoyang mengikuti ombak. Karena mereka mengenakan pareo, kemungkinan besar mereka adalah perempuan.

 

Aku memang kesulitan bernapas, tetapi belum mencapai batas kemampuanku. Aku menyelam sedikit lebih jauh, lalu menjejakkan kaki kuat-kuat ke dasar kolam untuk melesat menuju permukaan.

 

—KRAK!

 

"Aduh!"

 

Kakiku kram. Tepatnya, otot pahaku.

 

Aku sudah sibuk mencari selama tiga puluh menit tanpa henti. Wajar saja kalau kakiku kelelahan.

 

"Bwah! Ugh!"

 

Saat mencoba menghirup udara, ombak menerjangku dan aku menelan air dalam jumlah besar.

 

Paru-paruku sangat membutuhkan udara, tetapi aku tidak bisa bernapas. Rasanya menyiksa. Rasa sakit di kakiku membuatku tidak bisa berenang dengan baik.

 

Kegelapan perlahan merembes dari sudut pandanganku, sementara suara-suara di sekitarku semakin menjauh.

 

"Guhuk! Uhuk!"

 

Aku berusaha keras untuk mengapung, tetapi ombak kembali menghalangiku pada saat yang paling buruk.

 

Rasa sakit dan sesak itu semakin parah, sampai-sampai sensasi pada tangan dan kakiku mulai menghilang.

 

—Mati? Di tempat seperti ini?

 

Padahal aku belum melakukan apa-apa.

 

Ah, kalau akhirnya harus berakhir seperti ini……

 

Seharusnya aku menghabiskan lebih banyak waktu bersama seseorang. Bersama orang yang kusukai.

 

Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya……

 

"……kun! ……Tatsuya-kun!"

 

Di luar kesadaranku yang semakin memudar, aku mendengar suara seseorang berteriak. Setidaknya, rasanya seperti itu.

 

……

 

…………

 

………………

 

Ada sensasi lembut di bibirku. Udara mengalir masuk, seolah-olah paru-paruku dipaksa terbuka.

 

Panas dan menyakitkan. Sedikit perih.

 

"……Gah! Bwah!"

 

Aku terbatuk-batuk sampai tenggorokanku terasa seperti akan robek. Tubuhku bergerak sendiri, berjuang mendapatkan oksigen.

 

Pandangan yang tadinya gelap perlahan kembali terang.

 

Silau. Cahaya matahari dan warna putih.

 

Rambut putih yang basah kuyup.

 

"Sy-syukurlah……"

 

Dia menggenggam tanganku sambil mengguncang bahunya karena gemetar.

 

"Haa…… haa…… Uhuk! ……Yura-chan?"

 

"Hiks…… syukurlah…… syukurlah, benar-benar syukurlah……"

 

Wajah cantiknya kini berantakan karena air mata. Darah merembes dari bahunya, sepertinya akibat kulitnya tergores, dan salah satu tali bahu baju renangnya terlepas.

 

Penampilannya sama sekali tidak seperti seorang idola yang selalu menjaga citra. Dia menangis tersedu-sedu tanpa sedikit pun memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.

 

Ah, meskipun begitu, Yura-chan tetap saja cantik, pikirku dengan bodohnya.

 

"……Uhuk. Yura-chan…… baju renangmu……"

 

"……Hiks…… b-baju renangku……?"

 

"Tali bahumu terlepas……"

 

Yura-chan sempat membelalakkan mata karena terkejut, tetapi sesaat kemudian, air mata kembali mengalir deras dari kedua matanya yang besar.

 

"Memangnya itu penting?! Tatsuya-kun, tadi kamu bahkan sudah berhenti bernapas, tahu!? Mana mungkin aku peduli soal baju renang sekarang! Huaaah!"

 

Yura-chan membenamkan wajahnya ke dadaku sambil menangis keras. Dia benar-benar menolongku tanpa memedulikan apa pun, bahkan penampilannya sendiri.

 

"……Ah."

 

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang keras di tangan kananku.

 

"Hei, Yura-chan."

 

Saat aku memanggilnya, Yura-chan perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

 

"Hiks…… ada apa……?"

 

"Aku menemukannya. Si lumba-lumba kecil yang tersesat."

 

Aku perlahan membuka tangan yang sejak tadi tetap kugenggam erat, bahkan ketika kehilangan kesadaran. Seekor lumba-lumba kecil berwarna biru terguling keluar begitu saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

 

"……! Tatsuya-kun, dasar bodoh! ……Terima kasih!"

 

Senyum kecil kembali menghiasi wajah Yura-chan yang masih berlinang air mata.

 

Sambil memandang Yura-chan……

 

Aku malah memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak penting: apakah pengalaman tetap mengalir melalui ciuman dalam keadaan genting seperti ini?



Chapter 2 | ToC | Chapter 4

Post a Comment

Post a Comment

close