Chapter 5
Wilayah Tersembunyi
"Ah♡
Nya♡♡♡ Gawat♡♡♡♡♡ Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa♡♡♡♡♡♡♡♡ Ah, kuu♡♡♡♡♡♡♡♡♡
I-i...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Nyaahhhhhh♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Tapi, sama sekali tidak
berpengaruhhhh!"
Aina
melepas ikat kepala yang dikenakannya, lalu membantingnya ke lantai.
Nama
benda yang ditemukannya itu adalah Ikat Kepala Semangat Pantang Menyerah.
Katanya, benda itu memiliki efek samar berupa meningkatkan semangat pemakainya.
Namun, rasanya mustahil kalau benda itu bisa membuat seseorang tahan terhadap
hal seperti ini.
"Kalau
begitu, selanjutnya aku yang akan mencobanya, ya."
Kali
ini, Honoka-san berkata demikian sambil memasangkan belenggu pada kedua
lenganku.
"Benda
apa ini?"
"E-eh,
ini namanya Belenggu Penekan. Benda ini bisa mengurangi kekuatan serangan orang
yang memakainya hingga setengahnya. Jadi, begini... kalau sensasi nikmat yang
dirasakan Tatsuya terlalu kuat sampai menimbulkan kerusakan, aku berpikir
mungkin sensasi itu juga bisa dianggap sebagai serangan..."
"Honoka-san
benar-benar berpikir benda ini akan berpengaruh...?"
"..."
Honoka-san
terdiam selama beberapa saat, lalu menggembungkan pipinya.
"M-mungkin
saja berpengaruh, makanya aku mencobanya! Aku ingin mencobanya! Apa ada yang
tidak kamu sukai?!"
"Ah,
tidak, kok. Maaf."
Aku
tidak menyangka akan dimarahi seperti itu.
Dengan
ekspresi kesal, Honoka-san mengulurkan tangannya ke arahku. Namun, begitu
tangannya menyentuh pipiku, tubuhnya langsung menggeliat.
"Hmm♡
Hmmmmmm♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Bagaimana?"
"A-aku
masih♡♡♡ belum tahu♡♡♡♡♡♡ apakah benda ini♡♡♡♡♡♡ benar-benar
berpengaruh♡♡♡♡♡♡♡♡♡ atau tidak♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Ahuf♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Meskipun
jelas-jelas tidak berpengaruh, Honoka-san sama sekali tidak berniat berhenti.
Benar-benar membuktikan bahwa dirinya memang mesum dalam diam.
"Ah♡♡♡♡♡♡
mungkin, m-mungkin aku tidak sanggup♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Tidak bisa, mungkin aku tidak
bisa lagiii♡♡♡♡♡♡ Kyuuhhhhh♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Setelah
berteriak jauh lebih keras dan melengkungkan tubuhnya ke belakang, Honoka-san
malah jatuh ke arahku.
Wajahku
pun terbenam di antara dua buah dadanya yang besar.
"Ah♡♡♡♡♡♡
Hahi♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Hahii♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"H-Honoka-san!?
T-tolong minggir! Mmmph!"
Karena
kedua tanganku dipasangi benda yang disebut Belenggu Penekan, aku tidak bisa
bergerak dengan leluasa. Aku hanya bisa menggeliat sambil mengeluarkan suara
teredam.
"Ah♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tatsuya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Jangan♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Lebih dari ini♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Aina!
Aina, tolong aku!"
Aku
tidak tahan lagi dan meminta bantuan Aina. Namun, entah kenapa, dia hanya
menatapku dengan tatapan sinis.
"...Ternyata
Tatsu-nii memang suka yang besar, ya. ...Tatsu-nii mesum."
"Memang
aku tidak membenci yang besar, sih! Tapi, ngh! Pokoknya, singkirkan Honoka-san
dariku! Cepat!"
"Iya,
iya. Nah, begini."
Akhirnya,
Honoka-san berhasil disingkirkan dari atasku. Aku tidak pernah menyangka akan
hampir tenggelam di daratan.
"Haaah.
Keduanya juga tidak berhasil, ya."
"Yah,
aku memang sudah menduga bakal gagal, sih."
"Kalau
begitu, bukankah lebih baik tidak usah dicoba dari awal...?"
"Yah,
tidak ada ruginya mencoba. Lagi pula, level kita juga naik, jadi tidak ada
salahnya, kan?"
"Mungkin
memang begitu, tapi..."
Entah
kenapa, suasana ini terasa sangat kacau dan tidak sehat.
Lagipula,
bukankah belakangan ini kalian terlalu bebas melakukan apa saja dengan dalih
menguji efek benda-benda sihir?
"Memangnya
tidak ada benda lain yang bagus?"
"Hmm.
Sepertinya tidak ada yang bisa digunakan."
"Kalau
begitu, apa benda seperti jerami yang menyembul dari tasmu itu?"
Aku
menunjuk benda mirip jerami yang mencuat dari tas Aina.
"Oh,
ini benda yang tidak bisa digunakan... atau lebih tepatnya, benda yang tidak
ingin kugunakan. Kalau tidak salah, namanya Boneka Jerami Pengganti. Kalau kita
memasukkan rambut seseorang ke dalamnya, lalu meneteskan darah kita sendiri,
orang itu akan menerima kerusakan sebagai pengganti kita."
"Kalau
begitu, jelas tidak bisa digunakan."
Kalau
dipikir-pikir, benda itu seperti versi yang lebih rendah dari Bulu Halus
Phoenix.
Di
salah satu sudut kamarku, ada sejumlah artefak yang tidak berguna seperti itu,
termasuk benda-benda yang sudah kucoba tetapi ternyata tidak memberikan efek
apa pun. Semuanya diletakkan begitu saja tanpa beraturan.
"Sepertinya
kita harus diving lebih dalam lagi, ya."
"Sekarang
kalian menyelam sampai lantai berapa?"
"Kurang
dari lantai dua ratus. Level Yura-nee tidak setinggi kami, jadi kalau memilih
tempat yang tidak terlalu berbahaya, hanya sampai situ batasnya. Tatsu-nii,
berusahalah menaikkan level Yura-nee sedikit lagi, dong."
"Meskipun
kamu menyuruhku berusaha..."
Setiap
kali menyentuh Yura-chan, mau tidak mau aku teringat kejadian saat kami hampir
mengalami kecelakaan waktu itu.
"...Huft,
sekarang aku sudah tenang. Ngomong-ngomong, Tatsuya-kun, kamu sudah mencoba
Dragon Tear? Sepertinya ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan
bisa memperoleh lebih banyak poin pengalaman saat menyentuh laki-laki yang
memilikinya."
"...Bukankah
itu juga akan meningkatkan kenikmatan yang dirasakan?"
Bukankah
itu bisa berbahaya kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?
"Karena
kelihatannya berbahaya, sebaiknya aku tidak mencobanya."
"Ya,
mungkin itu pilihan yang tepat. Maaf, aku malah mengatakan hal aneh."
Bagi
diriku yang sudah mendapatkan terlalu banyak poin pengalaman, benda itu tidak
berguna untuk saat ini. Sepertinya aku tidak akan menggunakannya dalam waktu
dekat.
"Aku
pulang!"
"Aku
sudah membeli makanan!"
Suara
Yura-chan dan Suzuka-san terdengar dari pintu masuk.
Karena
rumahku dekat dengan dungeon, rasanya rumah ini sekarang benar-benar sudah
dijadikan markas atau tempat berkumpul mereka.
"Oh,
kalian sudah dengar? Katanya, Wilayah Tersembunyi muncul di lantai 234."
Suzuka-san
mengatakan hal itu sambil mengeluarkan bekal makanan.
"Wilayah
Tersembunyi? Apa itu?"
"Singkatnya,
semacam tempat di dungeon yang terkadang muncul dan mungkin menyimpan
benda-benda langka. Musuh yang kuat juga mungkin ada di sana, tetapi manfaat
yang bisa didapatkan jauh lebih besar."
Melihatku
memiringkan kepala karena istilah yang belum pernah kudengar, Honoka-san
menjelaskan kepadaku.
"Musuh
yang kuat, ya... Bukankah itu cukup berbahaya?"
"Kalau
tidak masuk ke sarang harimau, mana mungkin mendapatkan anak harimau. Lagipula,
dungeon itu sendiri memang sudah berbahaya. Jadi, kenapa harus
mempermasalahkannya sekarang?"
Suzuka-san
berkata sambil melahap hamburger steak-nya.
"Tapi,
level Yura-chan masih belum terlalu tinggi, kan?"
Seingatku,
Suzuka-san, Honoka-san, dan Aina sudah mencapai level pertengahan dua ratus
setelah latihan menaikkan level yang kami lakukan sebelumnya. Sementara itu,
meskipun Yura-chan terkadang bersentuhan denganku, dia belum pernah menjalani
latihan peningkatan level secara serius.
"Ehm,
sekarang sekitar level seratus tujuh puluh."
"Kalau
begitu, kita tunggu sampai level Yura-nee naik ke sekitar dua ratus sebelum
pergi menaklukkannya, ya. Aku juga tidak mau wilayah itu ditaklukkan lebih
dahulu oleh Diver lain... Tatsu-nii, cepat naikkan level Yura-nee!"
"Kyaa...
Nnh♡"
Aina
mendorong Yura-chan dengan kuat ke arahku. Yura-chan kehilangan keseimbangan
dan terjatuh ke arahku, tetapi aku segera menangkapnya. Sensasi lembut dan
hangat yang terasa di lenganku membuat jantungku berdebar kencang.
"Tapi..."
Saat
aku ragu-ragu, Honoka-san berbicara kepadaku dengan ekspresi serius.
"Tatsuya-kun,
ini demi keselamatan Yura-chan dan juga dirimu. Kalau situasinya mulai
berbahaya, kami pasti akan menghentikan kalian. Selain itu, kita juga punya
Bulu Halus Phoenix untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Jadi, mari kita
berusaha bersama, ya?"
"..."
Kalau
sudah dikatakan seperti itu, sulit bagiku untuk menolak.
Pada
akhirnya, selama aku bisa mempertahankan akal sehatku, seharusnya semuanya akan
baik-baik saja.
"Yura-chan,
apa kamu setuju dengan ini?"
Saat
kutanya, Yura-chan membuka mulutnya dengan senyum lembut seolah menerima segala
kekhawatiranku.
"Kalau
aku bilang sama sekali tidak takut, itu bohong... Tapi, aku selalu siap
menerima seluruh dirimu, Tatsuya-kun."
"...!"
Senyumnya
begitu lembut, seolah-olah dia adalah Bunda Maria, sampai membuat jantungku
berdebar semakin kencang. Gawat. Padahal baru saja aku berniat mempertahankan
akal sehat, sekarang aku sudah hampir kehilangan kendali.
Aku
sedikit menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran-pikiran yang tidak pantas.
Aku
sama sekali tidak berniat melakukan sesuatu yang tidak senonoh. Ini semua demi
menjaga keselamatanku dan Yura-chan.
"Baiklah.
Kalau begitu, malam ini kita naikkan level semampu kita."
Mendengar
perkataanku, Yura-chan tersenyum penuh belas kasih, lalu menggenggam tanganku
dengan kedua tangannya.
"Hmm♡...
Hei, Tatsuya-kun. Kamu tidak perlu memasang wajah seserius itu, kok. Kamu
laki-laki dan tenagamu juga lebih lemah dariku, jadi sekalipun rasanya sangat
nikmat, kalau keadaan mulai berbahaya, kamu masih bisa melepaskan diri
dariku... Nnh♡ Lagipula, aku juga akan berusaha mempertahankan akal sehatku
dengan baik♡ Kita berdua, berjuang bersama, ya?"
Benar
juga. Aku bukan satu-satunya yang harus berusaha. Aku hanya perlu berjuang
bersama Yura-chan. Memikirkan hal itu membuat perasaanku sedikit lebih tenang.
"Yura-chan..."
"Jadi,
malam ini buatlah aku mencapai klimaks berkali-kali, ya?"
"Hauuuuuuu♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hauuuuuuu♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"...Yura-chan?"
Sebelum
menaklukkan Wilayah Tersembunyi, kami mulai menaikkan level Yura-chan,
tetapi...
Senyum
penuh belas kasih yang ditunjukkannya beberapa saat lalu segera menghilang.
Yang ada di hadapanku sekarang hanyalah wajah seorang gadis yang sudah
benar-benar terangsang.
"Hei.
Kita baru berpegangan tangan, lho... Bukankah kamu jadi lebih sulit menahannya
daripada biasanya?"
"Ti-tidak
begitu, kok♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Nggak begitu♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Tidak,
jelas-jelas begitu."
Saat
pergi ke akuarium bersama, dia seharusnya tidak sesensitif ini. Kepekaannya
jelas meningkat dibandingkan biasanya. Kemungkinan besar penyebabnya adalah...
"Wah,
Yura-nee mesum banget!"
"Jangan-jangan
Yura tipe orang yang terangsang kalau dilihat orang lain?"
"Tu-tunggu,
kalian berdua! Nanti dia mendengar kalian, lho..."
Aku
mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar. Di sana, tampak tiga pasang mata
yang sedang mengintip ke arah kami.
"Hyaaaaa♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
A-aku sedang dilihat orang, nih♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
...Sepertinya
dugaan itu tepat sasaran.
Aku
meminta mereka mengawasi kami agar bisa menghentikan situasi ini kalau terjadi
sesuatu. Namun, apa mereka harus mengintip dengan cara seperti itu?
"Ba-bagaimana
ini, Tatsuya-kun♡♡♡♡♡♡♡ Aku... rasanya aneh sekali♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Tubuhku lebih panas
daripada biasanya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Kalau
kamu bertanya harus bagaimana..."
Untungnya,
aku tidak memiliki kecenderungan untuk terangsang saat dilihat orang lain.
Jadi, sepertinya tidak akan terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan.
"Kalau
hanya berpegangan tangan, levelnya juga mungkin tidak akan meningkat terlalu
banyak..."
"Ah,
ah, ah, datang lagiii♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-kun♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Haa...♡
Haa...♡"
Tubuh
Yura-chan bergetar hebat, lalu dia terengah-engah.
"Eh,
levelmu baru saja naik?"
"N-naik♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Naik...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ D-datang lagi nihhh♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Baru
saja selesai mengembuskan napas, tubuh Yura-chan kembali bergetar.
Melihat
keadaannya, ketiga orang yang sedang mengawasi kami mulai berbisik-bisik.
"Wah,
itu klimaks beruntun, ya."
"Eh,
yang terkadang terjadi saat mengalahkan monster yang sangat kuat itu?"
"Kurasa
belum pernah ada kasus seperti itu yang terjadi akibat perpindahan poin
pengalaman dari laki-laki..."
Sepertinya
kejadian semacam itu memang sangat jarang terjadi.
"Tu-tunggu
sebentar, Yura-chan! Kita lepaskan tangan dulu!"
Jumlah
poin pengalaman yang berpindah juga bisa berubah bergantung pada tingkat gairah
seseorang.
Sepertinya
Yura-chan sedang berada dalam kondisi sangat terangsang. Karena itu, meskipun
kami hanya bersentuhan tangan, cukup banyak poin pengalaman yang berpindah
kepadanya.
Aku
buru-buru menarik tanganku, tetapi Yura-chan mencengkeramnya erat-erat dan
tidak mau melepaskannya.
"Yura-chan!"
"Ti-tidaaak♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Aku tidak akan melepaskannya, pokoknya tidak mau♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Aku tidak apa-apa,
kok♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Aku tidak apa-apa♡♡♡♡♡♡"
Siapa
tadi yang bilang akan berusaha mempertahankan akal sehatnya?
Yura-chan
menjatuhkanku hingga aku telentang, seolah hendak menindihku, lalu mendekatkan
wajahnya yang cantik.
"Tu-tunggu
dulu!"
"M-maaf,
Tatsuya-kun♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Sebentar saja, cuma sebentar♡♡♡♡♡♡♡"
Bibir
cinta pertamaku semakin mendekat.
Jantungku
terasa berdegup kencang. Napasnya yang panas menyentuh bibirku. Bibirnya yang
tampak lembut itu dan bibirku akan...
"Baiklah,
berhenti!"
"Hyaaa♡!"
Tepat
saat bibir kami hampir bersentuhan, tubuh Yura-chan ditarik menjauh dengan
kuat.
"Hei,
Yura! Kamu benar-benar menyerang Tatsuya, tahu!"
"Uuuuu!
Padahal tinggal sedikit lagi! Sedikit lagi!"
"Jangan
cuma mengeluh! Mulut siapa yang tadi bilang akan berusaha mempertahankan akal
sehatnya?!"
"Sudah,
sudah. Kalian berdua tenang dulu, ya? Kami ada di sini untuk menghentikan
kalian kalau diperlukan, ingat?"
Yura-chan
dan Suzuka-san saling berteriak. Honoka-san berusaha menenangkan mereka berdua.
"Sepertinya
menaikkan level Yura-nee bakal sulit, ya."
"Menurutmu,
apa kita bakal kesulitan menaklukkan Wilayah Tersembunyi?"
Saat
kutanya, Aina memiringkan kepala seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu
menggeleng.
"Meskipun
level Yura-nee sedikit lebih rendah, kami bisa menutup kekurangannya."
"Jangan
memaksakan diri, ya? Kalau sampai sesuatu terjadi pada kalian semua gara-gara
aku..."
"Tenang,
tenang! Tidak akan terjadi apa-apa! Ini kan liburan musim panas yang sudah lama
dinanti. Tatsu-nii, santai saja sambil menunggu kami!"
"Meski
kamu menyuruhku santai..."
Dengan
adanya Honoka-san juga, kurasa mereka tidak akan bertindak gegabah.
Namun,
karena aku tidak bisa memasuki dungeon, sepertinya satu-satunya hal yang bisa
kulakukan hanyalah berdoa agar mereka semua pulang dengan selamat.
Keesokan
harinya, mereka pun memasuki dungeon.
◇
"Haa...
haa..."
Pepohonan
tinggi berjajar di sekelilingku, membuat jarak pandang menjadi buruk. Kristal
biru pucat yang tumbuh dari langit-langit jauh di atas, Kristal Cahaya Biru,
menerangi dungeon tanpa matahari itu dengan cahaya yang tenang.
Di
sekelilingku tergeletak tiga bangkai Minotaur Hitam. Seandainya aku bertarung
sendirian, mungkin sejak tadi aku sudah terbunuh.
Aku
terduduk di tanah dan mengusap darah yang terciprat ke pipiku sambil
terengah-engah.
"Yura,
kamu tidak apa-apa?"
Suzuka-chan
mengulurkan tangannya dengan wajah khawatir. Aku meraih tangan yang
disodorkannya, lalu berdiri.
Ketiga
orang selain aku bahkan belum terengah-engah. Sudah jelas akulah yang menjadi
beban bagi mereka.
"Haa...
haa... Aku tidak apa-apa. Terima kasih."
Saat
ini kami berada di lantai dua ratus tiga puluh empat. Seingatku, lantai
terdalam yang pernah dicapai di Dungeon Shinjuku adalah lantai tiga ratus dua
puluh. Jadi, tempat ini bukanlah wilayah yang belum pernah dijangkau manusia.
Meski
begitu, hampir tidak pernah ada Diver dungeon yang melewati lantai ini.
"Kamu
tidak memaksakan diri, kan?"
"Hmm,
aku tidak apa-apa!"
Aku
menepuk-nepuk pakaianku untuk membersihkan lumpur yang menempel. Kami sudah
bersusah payah mencapai lantai dua ratus tiga puluh empat. Aku benar-benar
ingin menyelidiki Wilayah Tersembunyi yang konon berada di lantai ini.
"Suaka
Suci."
Bersamaan
dengan suara lembut, cahaya berbentuk tetrahedron beraturan yang tembus pandang
menyelimuti tubuhku.
Honoka-san
telah menciptakan sebuah penghalang.
"Honoka-san,
terima kasih."
"Aku
tidak mungkin membiarkan murid kesayanganku terluka, kan?"
Mungkin
untuk menyemangatiku, Honoka-san mengedipkan sebelah mata dengan ekspresi
lembut dan sedikit jenaka.
"...Waspada!
Masih ada satu lagi! Dia menuju ke sini!"
Suara
terdengar dari atas kepala kami.
Itu
Aina-chan, yang sedang memanjat pohon dan mengawasi keadaan sekitar.
Sepertinya
monster-monster itu tidak akan membiarkan kami mencapai Wilayah Tersembunyi
semudah itu.
Sebagai
petarung garis depan, aku tidak bisa hanya beristirahat. Aku menarik napas
sekali dan hendak berlari, tetapi Suzuka-chan mencengkeram bahuku.
"Suzuka-chan?"
"Kalau
cuma satu, kami bertiga bisa mengatasinya. Yura, istirahatlah sebentar."
"Tapi..."
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa. Aina, Honoka-chan, kalian siap, kan?"
Keduanya
mengangguk mendengar pertanyaan Suzuka-chan.
"Maaf...
Terima kasih."
"Tidak
perlu minta maaf. Kita saling membantu, kok. Tadi juga berkat usaha Yura, kita
bisa mengalahkan tiga monster dengan lancar. Nah, kami akan segera
menghabisinya!"
Setelah
berkata demikian, Suzuka-chan dan yang lainnya berlari pergi.
Aku
merasa sangat frustasi karena diriku begitu lemah dan tidak berdaya.
"...Hebat
sekali."
Dari
tempat yang agak jauh, aku memperhatikan ketiganya bertarung.
Suzuka-chan,
petarung garis depan bertipe kecepatan, mengacaukan pergerakan musuh, sementara
Aina-chan melakukan pengalihan perhatian dan serangan jarak menengah.
Honoka-san
memberikan pemulihan dan dukungan sambil melancarkan serangan jarak jauh kepada
musuh. Sesekali, dia juga sengaja memperlihatkan dirinya untuk mengalihkan
perhatian lawan.
Kerja
sama mereka benar-benar sempurna.
"...Ah,
tidak boleh begini. Setidaknya aku harus tetap waspada."
Tanpa
sadar, aku terpukau menyaksikan kerja sama mereka yang begitu indah.
Ini
adalah dungeon. Tempat asing yang tidak diketahui kapan dan dari mana monster
akan menyerang. Kita tidak akan pernah bisa terlalu waspada.
"...Hm?"
Saat
mengalihkan pandangan ke sebelah kanan, aku melihat sebuah tempat yang
pepohonannya tampak terbuka.
Mungkinkah
itu Wilayah Tersembunyi?
"Kalau
pergi ke sana, mungkin ada benda yang bisa membantu Tatsuya-kun..."
Jika
aku bertindak ceroboh dan berlari sendirian hingga ditemukan monster, aku pasti
tidak akan sanggup menghadapinya.
Aku
menahan kuat-kuat keinginan untuk berlari ke sana, lalu menunggu dengan sabar
sampai Suzuka-chan dan yang lainnya mengalahkan musuh.
"Bagus
sekali, Yura! Ini pasti Wilayah Tersembunyi!"
Di
tengah hutan lebat, terdapat sebuah area terbuka yang dikelilingi pepohonan. Di
pusatnya, kabut tipis beriak seperti fatamorgana.
Di
antara tempat-tempat aneh dalam dungeon, inilah tempat yang jauh lebih aneh
sekaligus misterius. Itulah Wilayah Tersembunyi.
Dari
cerita yang kudengar, begitu memasuki kabut itu, kita akan menemukan ruang lain
di dalamnya. Aku sendiri belum pernah masuk, jadi aku tidak tahu detailnya.
Konon,
di sana terkadang bisa ditemukan benda-benda dan artefak langka yang bahkan
tidak mungkin diperoleh di lantai tersebut.
...Sebaliknya,
tempat itu juga terkadang dihuni monster kuat yang biasanya tidak muncul di
lantai tersebut.
"Bagaimana?
Kita masuk?"
Tanpa
sadar, aku menanyakan hal itu karena merasa sedikit cemas.
"Memangnya
ada alasan untuk tidak masuk?"
Tidak
ada keraguan sedikit pun di mata Suzuka-chan. Dia benar-benar kuat.
"Tenang
saja. Kami akan melindungi Yura-san dengan baik."
"Aina
juga bakal mengawasi keadaan dengan sangat ketat!"
Sepertinya
mereka menyadari kecemasanku. Honoka-san dan Aina-chan pun berusaha
menyemangatiku. Seolah ingin mengusir rasa cemas itu, aku menepuk kedua pipiku
dengan kedua tangan.
"Ya,
aku pasti bisa. Ayo!"
Agar
tidak terpisah, kami berempat berpegangan tangan erat sebelum melangkah masuk
ke Wilayah Tersembunyi.
Semakin
jauh kami melangkah, semakin tebal kabut yang menyelimuti sekitar. Bahkan sosok
Suzuka-chan dan Aina-chan, yang seharusnya sedang menggenggam tanganku, mulai
tampak samar. Aku menggenggam tangan mereka erat-erat agar tidak terlepas, dan
mereka pun membalas genggamanku.
Kami
mungkin sudah berjalan sekitar seratus meter.
"...Hah?"
Tiba-tiba,
pandanganku terbuka luas.
Hutan
yang tadi kami lewati entah ke mana menghilang. Sebagai gantinya, terbentanglah
kumpulan kristal berwarna putih kebiruan. Kristal Cahaya Biru menerangi ruang
luas yang menyerupai gua.
Di
dalam gua, sebuah sungai mengalir dengan tenang, memantulkan cahaya kristal
yang menerangi sekelilingnya.
"Waaah..."
Tanpa
sadar, aku mengeluarkan suara kagum. Pemandangan ini begitu indah hingga terasa
seperti surga tersembunyi di dalam dungeon.
"Jalannya
sepertinya berlanjut ke sana. Ayo kita maju."
Kami
melanjutkan perjalanan, berusaha agar tidak terlalu terpukau oleh langit-langit
yang tampak seperti langit malam bertabur bintang.
Bagian
bawah gua cukup gelap sehingga sulit dilihat. Di sana-sini, terdapat
benda-benda yang menyerupai pilar batu berserakan.
Kami
tidak tahu kapan atau dari mana musuh akan muncul. Pemandangan yang indah bukan
berarti tidak ada monster di sini.
Namun,
bertolak belakang dengan firasat buruk itu, perjalanan kami berlangsung lancar.
Bahkan, suasananya terasa begitu sunyi hingga menyeramkan. Tidak ada satu pun
makhluk hidup yang terlihat. Hanya gua misterius berwarna putih kebiruan dengan
bebatuan berbagai ukuran yang berserakan di dalamnya.
Entah
mengapa, rasanya tidak pantas untuk berbicara keras-keras. Kami pun terus
berjalan dalam keheningan hingga akhirnya tiba di jalan buntu.
"Sepertinya
jalannya berakhir sampai di sini."
Tempat
yang kami capai adalah sebuah ruang terbuka seukuran rumah kecil.
"Ehm,
informasi yang kita punya memang tidak terlalu banyak, tetapi katanya kalau ada
item di Wilayah Tersembunyi, biasanya item itu terkubur di dalam Kristal Cahaya
Biru."
Honoka-san
menjelaskan sambil mencoba mengingat informasi yang diketahuinya. Mendengar
itu, Suzuka-chan dan Aina-chan langsung berlari menghampiri kristal-kristal
tersebut. Mereka mendekatkan wajah ke permukaan kristal dan mengintip bagian
dalamnya yang tembus pandang.
"Aku
akan berjaga-jaga. Yura-san juga boleh ikut mencari."
"Terima
kasih."
Melihat
Honoka-san yang tetap tenang dan tidak terbawa suasana, aku merasa lebih aman.
Aku pun menyentuh Kristal Cahaya Biru yang berada di dekatku.
Ketika
kudekatkan mata ke kristal aneh yang memancarkan cahaya redup itu, bayangan
diriku terlihat samar pada permukaannya yang licin. Bagian dalam kristal itu
pun tampak tembus pandang.
Katanya,
Kristal Cahaya Biru ini akan hancur jika menerima benturan yang kuat. Namun,
jika dibawa keluar dari dungeon, kilaunya akan menghilang dan kristal itu
berubah menjadi batu biasa.
Aku
sedang memeriksa kristal-kristal itu satu per satu dengan perlahan ketika
tiba-tiba terdengar suara gembira.
"Kristal
Cahaya Biru ini ada item di dalamnya! Honoka-chan! Sini sebentar!"
Itu
suara Suzuka-chan.
"Nih,
lihat! Pasti benar, kan!"
Kami
semua mendekati Kristal Cahaya Biru besar yang ditunjuk Suzuka-chan, lalu
mengintip ke dalamnya.
Di
tengah kristal itu, memang ada sesuatu.
Sebuah
kalung perak yang indah. Di tengah rantai peraknya tergantung sebuah ornamen
berbentuk boneka kecil. Bentuknya menyerupai seorang rohaniwan yang
merentangkan kedua tangan sambil memanggul salib.
"Ini..."
Aku
menoleh ke arah Honoka-san. Ia mengangguk pelan.
"Kalung
Pelindung Sang Martir. Item ini akan menanggung sebagian kerusakan yang
diterima pemakainya."
"Kalau
begitu!"
"Berarti
mungkin kita bisa melakukan hal mesra dengan Tatsuya-nii! Eh, selanjutnya
giliran siapa, ya!?"
Setelah
menemukan item, kami sepakat untuk mencobanya secara bergiliran agar semuanya
mendapat kesempatan yang adil. Selanjutnya adalah...
"Nihihi.
Giliranku~."
Suzuka-chan
menyeringai semakin lebar.
"Su-Suzuka-chan!
Kumohon, tukar giliran denganku! Kumohon sekali seumur hidup!"
Tanpa
sadar, aku langsung memohon sambil berpegangan padanya.
Aku
tidak tahu siapa yang akan dipilih Tatsuya-kun ketika nanti ia sudah bisa
menjalani hubungan asmara seperti biasa. Aku juga tidak mungkin menghalangi
pilihannya.
Namun,
setidaknya untuk yang pertama kali, aku ingin menjadi orangnya.
"Ogah~.
Tenang saja. Kalau nanti berhasil, aku bakal meminjamkannya kepadamu juga,
Yura. Aku tidak akan memonopoli Tatsuya, kok."
"Uuuuu..."
Tatsuya-kun
memang agak mudah terbawa suasana. Aku takut ia akan membuka hatinya kepada
orang yang pertama kali berbagi keintiman dengannya...
Selain
itu, aku juga tidak merasa ia tipe orang yang sembarangan menjalin hubungan
dengan banyak perempuan.
Padahal
Tatsuya-kun itu... Tatsuya-kun milikku...
"Huaaa..."
"Eh,
Yura, jangan menangis, dong! Mau bagaimana lagi, kita kan sudah sepakat
bergiliran..."
"Soalnya,
soalnya..."
Aku
sadar bahwa aku sedang bersikap egois. Meski begitu, entah mengapa air mataku
tidak bisa berhenti mengalir.
Seolah
ingin menghiburku, Aina-chan menepuk bahuku.
"Sudah,
sudah, Yura-nee. Tenang saja. Toh, kemungkinan besar nanti gagal lagi. Benar,
kan, Sensei Honoka-chan?"
Mendengar
pertanyaan Aina-chan, Honoka-san membuka mulut dengan wajah penuh pertimbangan.
"Ya.
Tidak ada jaminan bahwa percobaan ini akan berhasil seratus persen. Kalung
Pelindung Sang Martir memang bisa menanggung kerusakan, tetapi aku ingat pernah
ada laporan bahwa kalung itu akan hancur jika kerusakan yang diterima melampaui
batas kemampuannya. Kalau kenikmatan yang dirasakan Tatsuya-kun benar-benar
menimbulkan kerusakan sebesar itu... Pastikan kalian juga mengenakan Bulu Halus
Phoenix saat mencobanya."
"Iya,
iya, aku tahu. Kalau berhasil, aku juga akan meminjamkannya kepada kalian
semua. Nah, sekarang kita bawa pulang saja... Wuh!"
Suzuka-chan
mengayunkan belati pendeknya ke arah Kristal Cahaya Biru. Terdengar suara
nyaring saat retakan muncul di permukaannya, lalu kristal itu pecah berantakan.
Kalung
Pelindung Sang Martir jatuh ke dekat kakiku dengan bunyi gemerincing.
Sesaat,
terlintas pikiran jahat untuk mengambilnya lalu kabur. Namun, aku segera
menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran itu.
Aku
memungut artefak yang sangat kuinginkan itu, lalu menyerahkannya kepada
Suzuka-chan.
"Makasih,
Yura. Kukira kamu bakal membawa kabur kalungnya."
"A-aku
tidak akan melakukan hal seperti itu!"
"Bercanda,
kok. Ayo, kita pulang, kita pulang~."
Aku
mengikuti Suzuka-chan yang mulai berjalan dengan langkah ringan.
"Wah,
ternyata kita bisa menemukannya dengan cukup mudah, ya."
"Di
Wilayah Tersembunyi ini ada banyak cerita baik maupun buruk. Jadi, rasanya
sedikit mengecewakan karena ternyata semudah ini."
"Iya,
ya. Kukira bakal ada lebih banyak artefak dan item langka."
"Yah,
tapi setidaknya tidak ada monster yang sangat kuat seperti yang diceritakan
orang-orang. Syukurlah untuk itu."
Percakapan
kedua gadis yang berjalan di belakangku terdengar begitu santai.
Padahal
mereka berdua jelas-jelas menyukai Tatsuya-kun. Kenapa mereka bisa begitu
santai menghadapi situasi seperti ini?
Dengan
pandangan yang masih kabur oleh air mata, aku mendongak menatap langit-langit
yang bersinar putih kebiruan seperti malam berhias cahaya bulan.
Saat
itulah terjadi.
"Serangan
musuh! Dari belakang!"
Karena
berhasil menemukan barang yang kami cari, kami terlalu gembira hingga lengah.
Itulah sebabnya kami tidak menyadarinya.
Tidak,
mungkin sebenarnya lawan kami jauh lebih lihai daripada kami. Itulah sebabnya
kami tidak menyadari kehadirannya.
Sosok
bayangan hijau mendekat sambil mengeluarkan suara gesekan yang mengerikan.
Makhluk
yang muncul adalah monster ular dengan panjang tubuh sekitar lima meter. Sisik
hijau kusamnya memantulkan cahaya Kristal Cahaya Biru, berkilau licin dengan
cara yang menyeramkan.
Namun,
itu bukan ular biasa. Di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai jengger,
bagian tubuh yang sebenarnya tidak dimiliki ular.
"Basilisk...
Level yang direkomendasikan untuk mengalahkannya adalah dua ratus sembilan
puluh..."
Suara
Honoka-san bergetar saat mengatakannya.
Rata-rata
level kami saat ini hanya berada di pertengahan level dua ratus, itu pun karena
levelku yang cukup rendah menurunkan rata-ratanya. Dengan empat orang, kami
mungkin belum bisa menyebut situasi ini benar-benar tanpa harapan. Namun, jika
lengah bahkan untuk sesaat, nyawa kami semua bisa terancam. Sebegitulah kuatnya
lawan ini.
"Jangan
menatap matanya secara langsung! Kalian bisa membatu! Selain itu, waspadai
racunnya yang mematikan! Kalau taringnya sampai menggores kalian sedikit saja,
segera datang kepadaku! Aku akan menetralkan racunnya!"
—Syalalalalalala!
Basilisk
meraung, menenggelamkan suara Honoka-san.
Pertempuran
pun dimulai sebelum kami sempat mempersiapkan diri.
"Yura!
Serang dari samping untuk mengalihkan perhatiannya! Bagian depan biar aku yang
tangani!"
Sebelum
aku sempat mengatakan apa pun, Suzuka-chan sudah berlari maju.
Baik
mata yang bisa membuat orang membatu maupun taring beracun itu berada di
kepalanya. Meski begitu, Suzuka-chan justru sengaja menempatkan dirinya dalam
bahaya.
Karena
aku tidak cukup kuat untuk melakukannya.
Aku
mengatupkan gigi erat-erat, lalu bergerak memutari sisi tubuh Basilisk.
Ketika
monster itu mengalihkan perhatiannya kepadaku dan hendak menoleh, Suzuka-san
tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia melemparkan pisaunya.
—Kiiing!
"Cih.
Keras banget. Hei, ular sialan! Lawanmu itu aku! Bersiaplah, bakal
kupotong-potong sampai jadi tiga bagian, lalu kujadikan belut panggang!"
—Syalalalalala!
Serangannya
memang tidak menimbulkan kerusakan, tetapi Basilisk tampaknya memahami
provokasi Suzuka-chan. Monster itu mengibaskan ekornya seperti cambuk,
mengarahkannya kepada Suzuka-chan.
"Uwah!"
Suzuka-chan
berhasil menghindar tipis. Namun, ekor itu menghantam tanah di dekat kakinya
hingga mengoyak permukaan tanah dan menimbulkan kepulan debu.
Jika
sampai terkena serangan ekor itu, akibatnya pasti akan sangat parah.
"Titik
lemahnya ada di pangkal jengger! Serangan kalian seharusnya bisa menembus
pertahanannya di sana!"
Honoka-san
berteriak.
"Tapi,
tidak ada celah!"
"Aina!
Bisa gunakan debuff!?"
"Belenggu
Penghenti Waktu! Tidak bisa! Dia menolaknya!"
"Cih!
Tentu saja tidak semudah itu...!"
Basilisk
jelas berada di kelas yang jauh lebih tinggi daripada kami. Tidak mungkin efek
debuff bisa dengan mudah menembus pertahanannya.
"Suzuka-chan!
Aku akan menciptakan celah, jadi tolong serang saat ada kesempatan!"
Aku
tidak berpikir seranganku akan berhasil menembus pertahanannya. Aku juga tidak
yakin bisa mencapai titik lemahnya lebih cepat daripada Suzuka-chan. Kalau
begitu, satu-satunya pilihan adalah mengalihkan perhatian monster itu.
"Yura!
Jangan gegabah!"
Tidak
apa-apa. Aku juga bisa membantu semuanya. Meskipun levelku rendah, kalau aku
berusaha sekuat tenaga, aku juga bisa—
Kesombongan
itu langsung hancur dalam sekejap.
—Duk!
"Khak...!"
Seluruh
udara di paru-paruku langsung terhempas keluar.
Ekor
Basilisk menghantam tubuhku dengan mudah. Aku bahkan tidak sempat berpikir
untuk menghindar.
"Yura!
Cepat lari!"
Suzuka-chan
berteriak. Ketika kuangkat kepala, kulihat Basilisk mengangkat lehernya seperti
ular yang hendak menyerang ke arahku. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan
taring-taring tajam yang meneteskan racun.
"Ah—"
Bahkan
sebelum aku sempat berpikir untuk bergerak atau melarikan diri, Basilisk sudah
menerjangku dengan taringnya.
Gawat.
Aku akan mati. Tidak mungkin. Ini bohong. Aku tidak mau. Jangan di tempat
seperti ini...
Kalau
tahu akan berakhir seperti ini, seharusnya aku membiarkan Tatsuya-kun memelukku
dan mati setelahnya.
"Yuraaa!"
—Gak!
Tanpa
sadar aku memejamkan mata, tetapi rasa sakit yang kubayangkan tak kunjung
datang.
"Kh,
Zuaaaaaah!"
Ketika
membuka mata, aku melihat sosok Suzuka-chan.
Ia
berdiri di depanku, menahan mulut Basilisk dengan tubuhnya sendiri.
...Sementara
bahunya tertusuk taring beracun monster itu.
"Su-Suzuka-cha..."
"Yura!
Aku menahannya, jadi serang sekarang!"
"...!"
"Cep...
pat... Khak!"
Mendengar
suara Suzuka-chan yang berteriak sambil memuntahkan darah, tubuhku bergerak
seolah tersentak.
Aku
menggenggam pedang pendek dengan kedua tangan, memutar tubuh, lalu
menusukkannya dengan segenap kekuatan yang kumiliki ke bagian atas kepala
Basilisk, di dekat jenggernya.
—Kraaakk!
"Kya!"
Aku
terpental akibat Basilisk yang menggeliat kesakitan dan mengamuk.
"Serangan...
penghabisan, nihyaaah!"
Aina-chan
yang bersembunyi sebelumnya menginjak pedang pendekku yang masih tertancap di
dekat jengger Basilisk, lalu menekannya lebih dalam.
Tanpa
sempat mengeluarkan jeritan terakhir, Basilisk mengalami kejang beberapa kali
sebelum tubuh raksasanya ambruk ke samping dengan suara menggelegar.
Kami
berhasil... entah bagaimana.
"Cahaya
Pemurnian... Suzuka-san! Suzuka-san, bertahanlah!"
"...Gawat.
Ding... in..."
Suzuka-chan
terbaring dengan wajah pucat pasi.
"Ti-tidak
mungkin... Suzuka-chan, kamu baik-baik saja, kan!?"
Aku
buru-buru bertanya kepada Honoka-san, yang sedang memeriksa keadaan Suzuka-chan
dengan wajah serius.
"...Dia
baik-baik saja. Nyawanya tidak terancam."
"Syukurlah..."
"Tapi
racun yang sangat kuat itu sudah mengalir melalui pembuluh darah besarnya dan
menyebabkan kerusakan serius pada tubuhnya. Dia perlu beristirahat untuk
sementara waktu."
"...Suzuka-chan."
Dengan
mata berkaca-kaca, aku menggenggam tangan Suzuka-chan. Tangannya terasa sangat
dingin, seolah tidak ada kehidupan yang tersisa di dalamnya.
"...Nihihi,
jangan pasang wajah seperti itu. Aku tidak akan mati, kok."
"...Tapi..."
"Lagipula,
kalau aku mati, mungkin Yura bisa melakukannya dengan Tatsuya lebih
dulu...?"
Aku
tahu itu hanya lelucon, tetapi darahku langsung mendidih.
"Ja-jangan
mengatakan hal bodoh seperti itu! Apa kamu pikir aku akan senang kalau
begitu!?!"
Suaraku
bergetar. Air mata terus mengalir tanpa bisa kuhentikan.
"Jangan
mengatakan hal seperti itu, bahkan sebagai lelucon... Aku tidak akan pernah
memaafkan kalau Suzuka-chan sampai mati... Hiks."
"...Maaf,
aku tidak seharusnya bercanda seperti itu."
"...Tidak,
aku juga minta maaf karena marah. Terima kasih sudah menyelamatkanku. Sungguh,
terima kasih banyak."
Honoka-san
memperhatikan percakapan kami dengan senyum lembut. Entah mengapa, rasanya
sedikit memalukan.
"Yura-nee,
maaf. Aku tadi menendang pedang Yura-nee sekuat tenaga."
Aina-chan
datang membawa pedang pendekku yang sudah dicabut dari kepala Basilisk.
Wajahnya tampak menyesal. Sepertinya ia bahkan sudah membersihkan kotorannya,
karena pedang itu terlihat cukup bersih.
"Tidak
apa-apa. Justru aku yang harus berterima kasih karena kamu memberikan serangan
terakhir. Kekuatanku memang sedikit kurang."
"Tapi
aku bisa memberikan serangan terakhir karena Yura-nee sudah menancapkan
pedangnya di sana, kok, nya!"
Tidak
ada yang sepenuhnya berjasa, dan tidak ada pula yang patut disalahkan. Kami
semua berusaha bersama, dan berkat itu, kami semua masih hidup.
Berkat
sihir Honoka-san juga, Suzuka-chan pulih hingga bisa berjalan kembali hanya
dalam beberapa menit.
"Maaf
sudah membuat kalian menunggu. Kalau begitu, ayo pulang dengan hati-hati dan
perlahan."
Suzuka-chan
menepuk-nepuk kotoran yang menempel di tubuhnya, lalu berbicara dengan suara
ceria.
Suasana
sedikit mencair. Kami memang belum boleh lengah, tetapi bos yang berada di
Wilayah Tersembunyi sudah berhasil dikalahkan. Setelah keluar dari sini,
seharusnya tidak akan terjadi kecelakaan yang mengancam nyawa.
Aku
lengah karena berpikir demikian.
Dan
saat itulah terjadi. Di balik bangkai Basilisk, permukaan air di tengah
kegelapan perlahan terangkat.
"...Eh?"
Punggung
licin yang menyerupai sapi muncul dari permukaan air. Kaki-kaki seperti keledai
menyusul, merangkak keluar menuju tempat kami berada.
Kemudian,
muncul leher yang luar biasa panjang. Leher itu menjuntai lemas hingga terlihat
seolah tulangnya telah patah. Di ujungnya, wajah makhluk tersebut muncul dari
permukaan air dan mendongak menatap kami.
Mata
kami bertemu dengan sepasang mata kuning keruh.
Makhluk
ini bukan sekadar Black Minotaur atau Basilisk. Lawan ini jelas berada di kelas
yang jauh lebih tinggi daripada kami. Kami tidak mungkin menang.
"Catoblepas..."
Aku
hanya mengetahui makhluk itu dari pengetahuan yang kupelajari. Monster dengan
level rekomendasi untuk dikalahkan di atas tiga ratus lima puluh.
Makhluk
itu sedikit mengangkat lehernya yang menjuntai lemas.
Mulutnya
terbuka. Dari dalam tenggorokannya terdengar suara seperti dua batu yang
digesekkan satu sama lain.
"Dia
datang! Semuanya, lari, nyan!"
Aina-chan
berteriak. Sesaat kemudian, kabut beracun berwarna abu-abu keputihan menyembur
keluar dari mulut mengerikan itu.
"Tabir
Dinding Kegelapan!"
Aina-chan
berdiri di depan kami seolah hendak melindungi semuanya, lalu merapal mantra.
Dinding kegelapan hitam muncul dan menahan kabut beracun itu.
Namun...
"Ugh...
tidak akan... tahan...!"
Kabut
beracun Catoblepas bahkan mampu mengubah sihir Aina-chan menjadi batu.
Kegelapan itu berubah menjadi batu hitam, lalu berjatuhan sedikit demi sedikit
ke tanah.
"Ah—"
Ketika
kabut beracun itu mereda, kaki Aina-chan sudah berubah menjadi batu.
"Tidak
mungkin..."
Wajahnya
tampak kosong, tetapi sekaligus dipenuhi keputusasaan. Warna abu-abu merambat
naik ke seluruh tubuh Aina-chan.
Pahanya.
Perutnya. Dadanya.
"Yura-nee..."
Tangan
kecil Aina-chan terulur ke arahku. Ia tidak terlihat seperti sedang meminta
pertolongan. Ekspresinya justru tampak sedih, seolah ia hanya ingin menyentuh
seseorang untuk terakhir kalinya.
"...Aina...
chan..."
Sebelum
tanganku yang terulur berhasil menyentuh Aina-chan, ujung jari gadis itu pun
kehilangan warnanya.
"...!"
Aku
hanya bisa berdiri terpaku, bahkan tak mampu mengeluarkan suara.
Wajah
Aina-chan berubah menjadi abu-abu, tetap dengan ekspresi kesepian. Mata
kelabunya yang bahkan tak lagi bisa terpejam seolah masih menatapku.
"Aina-cha...
Aina-chan..."
"...!
Yura-san! Kita harus lari!"
"Ta-tapi...
Aina-chan..."
"Cepat!
Dengan level kita sekarang, kita sama sekali tidak mungkin menang!"
"Tapi...
tapi..."
—Paaak!
Rasa
sakit yang tajam menjalar di pipiku.
Sesaat
kemudian, barulah aku menyadari bahwa Honoka-san telah menamparku.
"Kalau
kita tetap di sini, kita semua hanya akan mati! Cepat, kita harus lari!"
Honoka-san
berteriak sambil menangis. Ia sempat menoleh ke arah Aina-chan, lalu menggigit
bibir dengan ekspresi penuh kepedihan.
Bahkan
ketika kami sedang berbicara, Catoblepas tidak berhenti bergerak.
—Krrk,
krrrk...
Suara
mengerikan terdengar dari tubuh Catoblepas.
Makhluk
itu akan menyerang lagi.
"Yura!
Cepat!"
Tanganku
ditarik kuat-kuat. Padahal seharusnya belum pulih sepenuhnya, Suzuka-chan
menggenggam tanganku erat dan mulai berlari.
—Bshuuuu!
Kabut
beracun melesat lurus ke arah kami.
"Tidak...!"
Honoka-san,
yang berlari di belakang kami, terkena serangan itu.
"Tidak!
Jangan! Cahaya Pemurnian! Cahaya Pemurnian! Uuuuh... Cahaya Pemurnian!"
Cahaya
Pemurnian tidak memiliki efek terhadap efek membatu. Namun, Honoka-san tetap
merapal mantra itu dengan putus asa.
Seolah
mengejek perjuangannya, tubuhnya terus berubah menjadi abu-abu.
"............Kalian
berdua, larilah. Suaka Suci."
Dengan
ekspresi seolah sudah menyerah, tetapi tetap lembut, Honoka-san merapal sihir
kepada kami. Sihir pelindung. Memang tidak bisa mencegah efek membatu, tetapi
ia tetap menggunakannya demi melindungi kami.
Honoka-san
membeku dengan senyum lembut yang masih menghiasi wajahnya.
"Tidak
mungkin... Honoka-san juga..."
Napas
seolah berhenti. Otakku menolak untuk memahami kenyataan ini.
Kali
ini, Catoblepas mengarahkan wajahnya ke arah kami.
—Krrk,
krrrk.
Makhluk
itu juga akan menyerang kami. Hembusan kabut beracun tadi, napas keputusasaan
yang mengubah segala sesuatu menjadi batu...
Aku
harus melarikan diri. Namun, kakiku gemetar ketakutan hingga tidak bisa
bergerak.
"Yuraaaa!"
—Duk!
Sebuah
benturan keras menghantam punggungku dan mendorongku hingga terpental.
"Kya!...!"
Aku
terguling di lantai, lalu pipiku tergores ujung batu yang tajam. Itu adalah
pilar batu yang kami lewati dengan melangkahinya saat datang tadi.
Namun,
benda itu bukanlah pilar batu biasa. Itu manusia yang telah berubah menjadi
batu.
Bulu
kudukku merinding, membuat kulitku terasa merinding.
Sesaat
kemudian, kabut beracun melintas tepat di sampingku.
"Suzuka-chan!"
Aku
tersentak, segera berdiri, lalu menoleh ke arah Suzuka-chan. Ia berdiri dengan
posisi tubuh condong ke depan, seolah melindungiku.
Kakinya
telah berubah menjadi batu.
"...!"
Efek
membatu perlahan merambat naik ke tubuh Suzuka-chan.
"Suzuka-cha...
Suzuka-chan!"
"Jangan
mendekat!"
Suzuka-chan
membentakku saat aku hendak berlari menghampirinya.
"Seharusnya
ada Persik Logam Lunak di lantai dua ratus dua puluh dua! Cari benda itu!"
Ia
melemparkan kalung yang dipegangnya—Kalung Pelindung Sang Martir—ke arahku.
"...Eh?"
"Yah,
mau bagaimana lagi. Untuk yang pertama, aku mengalah saja kepadamu."
Meskipun
tubuhnya perlahan berubah menjadi batu dan itu pasti sangat menakutkan,
Suzuka-chan masih sempat menyeringai.
"Pergilah
bercinta dengan Tatsuya. Setelah itu, kamu pasti bisa menghabisi monster itu
dalam sekejap. Kuserahkan kepadamu, Yura."
"...!"
Suzuka-chan
membeku dengan senyum yang masih tersungging di wajahnya.
"...Ah..."
Air
mataku tumpah.
Namun,
aku tidak boleh berhenti.
Jika
aku berhenti di sini, pengorbanan Suzuka-chan dan yang lainnya yang telah
mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku akan sia-sia.
"...Ugh...!"
Aku
mengusap air mataku dengan kasar. Setelah menggenggam erat Kalung Pelindung
Sang Martir, aku mulai berlari.
—Krrk,
krrrk.
Suara
mengerikan terdengar dari belakang, tetapi aku bahkan tidak punya waktu untuk
menoleh.
Aku
hanya menatap lurus ke depan dan terus berlari.
Ketika
tersadar, aku sudah berada di dalam hutan. Aku berlari tanpa arah, terjatuh
berkali-kali, dan tubuhku dipenuhi luka sayatan.
Aku
menatap Kalung Pelindung Sang Martir di tanganku.
Dengan
benda ini, mungkin aku bisa menahan pengalaman yang akan kudapatkan dari
Tatsuya-kun. Jika aku berhasil bertahan, aku bisa menjadi lebih kuat, kembali
ke sana, dan mengalahkan monster itu.
Aku
mengusap air mata yang kembali mengalir.
Semua
orang memang telah berubah menjadi batu. Namun, mereka belum mati.
Sebelum
tubuh mereka yang membatu hancur, aku bisa menggunakan Persik Logam Lunak untuk
mengembalikan mereka seperti semula. Karena itu, aku harus segera menemui
Tatsuya-kun.
—Kling!
"...Hah?"
Terdengar
suara logam berdenting nyaring. Aku menoleh dan melihat para goblin bermunculan
satu demi satu.
Bukan,
melihat ukuran tubuh dan warna hitam mereka, itu adalah Hobgoblin, spesies
tingkat tinggi dari goblin.
Sambil
menyeringai, mereka menghujaniku dengan rentetan anak panah.
—Kling!
Kling-kling!
"Ah,
Suaka Suci..."
Itu
adalah penghalang pelindung yang dipasang Honoka-san untukku sebelum kami
berpisah. Penghalang itu menahan anak-anak panah tersebut.
—Kling-kling!
Krek!
"Ugh!
Tidak akan bertahan lama...!"
Aku
berlari menembus hutan. Para monster terus mengerumuniku, seolah mengejekku
yang levelnya terlalu rendah untuk bisa mencapai lantai dungeon sedalam ini
seorang diri.
—Buk!
Krakkk...
Suaka
Suci yang berkali-kali melindungiku akhirnya hancur setelah menerima serangan
Minotaur. Segera setelah itu, rentetan anak panah kembali menghujaniku.
"Ugh...
Aakh...!"
Anak
panah menancap di bahu dan punggungku. Aku menahan jeritan yang hampir keluar
dari mulutku, lalu terus berlari.
"...Kalung
Pelindung Sang Martir."
Aku
hendak mengenakan kalung yang kugenggam erat itu, tetapi mengurungkan niatku.
Jika
kugunakan sekarang, mungkin aku bisa mengurangi kerusakan yang kuterima. Namun,
jika kalung itu sampai terkuras atau rusak, aku tidak akan bisa membantu
menaikkan level dengan Tatsuya-kun.
Sambil
menahan rasa sakit, aku terus berlari.
Aku
hanya terus berlari tanpa henti.
Cepat,
cepat, cepat.
Aku
harus sampai kepada Tatsuya-kun secepat mungkin, bahkan jika hanya bisa
menghemat satu detik...
◇
"Rasanya
tidak tenang, ya..."
Sudah
seminggu sejak Yura-chan dan yang lainnya memasuki dungeon.
Mereka
semua berjuang demi diriku, tetapi aku hanya bisa menunggu di kamar.
Kalau
saja aku bisa membantu mereka naik level dengan cara yang lebih masuk akal,
penjelajahan dungeon mereka pasti akan lebih mudah. Namun, aku bahkan takut
melakukannya dengan benar.
"Benar-benar
merepotkan, ya, benda ini."
Aku
menatap tulisan yang muncul di lenganku.
Jumlah
yang sangat besar, bahkan melampaui angka biasa yang bisa kubayangkan.
Seandainya
angka itu jauh lebih kecil, misalnya hanya seratus juta, seperti apa
kehidupanku sekarang?
Mungkin
aku akan populer di kalangan para gadis. Mungkin aku bisa berpacaran dengan
Yura-chan dan menikmati kehidupan sekolah yang bahagia.
"Tapi
kalau begitu, mungkin aku tidak akan bisa menyelamatkan Suzuka-san, Aina, dan
Honoka-san."
Tanpa
tujuan tertentu, aku mengalihkan pandangan ke sudut kamar.
Sejak
liburan musim panas dimulai, Yura-chan dan yang lainnya telah membawa berbagai
artefak dan item yang efeknya bahkan tidak kupahami dengan baik.
Pada
akhirnya, semua benda yang tidak berguna itu tergeletak berantakan di sana,
seolah sudah tidak dibutuhkan lagi.
"Kalau
yang ini, pasti banyak orang yang menginginkannya. Misalnya, pekerja instalasi
listrik."
Aku
mengulurkan tangan ke arah syal kuning.
Kalau
tidak salah, namanya Jubah Pelindung Petir, item yang mengurangi separuh
kerusakan akibat serangan listrik.
Saat
mengambilnya tanpa berpikir panjang, sesuatu berbentuk boneka menggelinding
keluar.
Itu
adalah Boneka Jerami Pengganti.
Aku
teringat penjelasan Aina sebelumnya.
"Kalau
tidak salah, boneka ini bisa menanggung kerusakan yang seharusnya diterima
orang lain, kan?"
Caranya
adalah dengan memasukkan sehelai rambut seseorang ke dalam boneka itu, kemudian
meneteskan darah sendiri ke atasnya.
Dengan
begitu, kerusakan yang kuterima akan dialihkan kepada pemilik rambut tersebut
melalui boneka ini.
Benar-benar
seperti benda kutukan.
"...Begitu,
ya."
Kenapa
aku tidak menyadarinya sejak awal?
Kalau
memiliki benda ini, aku tidak perlu lagi khawatir akan mencelakai orang lain.
Meskipun
mereka mungkin akan menentangku habis-habisan.
—Tok!
Tok! Tok!
"Ta...
Tatsuya-kun! Tatsuya-kun... kamu ada di dalam!?"
Ketika
aku sedang memikirkan hal itu, terdengar suara ketukan keras di pintu rumah,
disertai suara seseorang yang terdengar sangat panik.
"Yura-chan?"
Hanya
suara Yura-chan yang terdengar.
Datang
sendirian ke kamarku pada tengah malam seperti ini. Bahkan, ia terdengar
terburu-buru dan napasnya terengah-engah.
Aku
hanya bisa membayangkan kemungkinan buruk.
Aku
membuka pintu, lalu terdiam membisu.
Pakaiannya
robek, tubuhnya berlumuran darah, dan wajahnya pucat pasi hingga tampak seperti
akan roboh kapan saja. Namun, Yura-chan seolah tidak peduli dengan kondisinya
sendiri dan langsung berbicara.
"Tatsuya-kun!
Semuanya! Kami menemukan Wilayah Tersembunyi, tetapi Suzuka-chan melindungiku!
Ada monster yang sangat kuat bernama Catoblepas! Aina-chan dan Honoka-san sudah
membeku menjadi batu! Hanya aku, hanya aku yang...!"
"Tu-tunggu!
Pokoknya, tenang dulu!"
Aku
bergegas menuju kulkas dengan langkah goyah, hampir terjatuh, lalu mengambil
Persik Perak yang sebelumnya ditinggalkan Suzuka-san.
Setelah
itu, aku menempelkannya ke mulut Yura-chan.
"Nggh...!"
Sepertinya
Yura-chan menyadari maksudku, karena ia langsung memakan buah itu tanpa
menolak. Baru setelah memakan separuhnya, luka-luka yang terlihat di tubuhnya
mulai menghilang.
"...Terima
kasih. Aku sudah sedikit tenang."
Yura-chan
menarik napas dalam-dalam sekali.
"Untuk
sekarang, masuklah dulu. Minum air. Setelah itu, ceritakan semuanya
kepadaku."
Ini
bukan saatnya mengkhawatirkan hal-hal seperti kotoran.
Aku
membiarkan Yura-chan yang berlumuran lumpur masuk ke kamar begitu saja, lalu
menyuruhnya duduk di tempat tidur. Aku mengambil sebotol air dari kulkas dan
menyerahkannya kepadanya.
Sepertinya
ia pulang dengan terburu-buru tanpa sempat minum sedikit pun. Yura-chan
langsung menghabiskan sebotol air berukuran 500 mililiter yang kuberikan. Aku
pun menyerahkan sebotol lagi.
"Hmm...
gluk... gluk... Haaah... Terima kasih, Tatsuya-kun."
"Ya.
Kalau begitu, boleh ceritakan sekali lagi dari awal?"
"Karena
kita sedang terburu-buru, aku akan menceritakannya secara singkat."
Setelah
mengatur napas, Yura-chan berbicara perlahan sambil berulang kali menarik napas
dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Namun,
cerita yang disampaikannya adalah sesuatu yang tidak ingin kupercaya.
Suzuka-san,
Aina, dan Honoka-san telah diubah menjadi batu di sarang monster mengerikan
itu.
"Jadi,
hanya aku yang kembali. Aku meninggalkan mereka semua di sana..."
"Tapi
kamu kembali untuk menyelamatkan mereka, kan?"
"...Iya.
Benar. Aku kembali untuk itu."
Yura-chan
berdiri. Tidak ada keputusasaan di wajahnya.
"Tatsuya-kun,
aku harus pergi sendirian ke lantai dua ratus dua puluh dua untuk menemukan
Persik Logam Lunak. Setelah itu, aku harus pergi ke lantai dua ratus tiga puluh
empat untuk mengalahkan Catoblepas."
Sambil
berbicara, ia mulai melepaskan pakaiannya yang sudah robek dan berlumuran
darah. Sepertinya semua lukanya telah sembuh berkat Persik Perak. Kulitnya yang
halus sama sekali tidak menunjukkan bekas luka.
"Maaf,
Tatsuya-kun. Tidak ada suasana romantis sama sekali, aku juga berkeringat
banyak, tubuhku kotor karena darah, dan karena terus berada di dungeon, aku
belum sempat mandi. Tubuhku juga kotor..."
Tubuhnya
terbuka tanpa sedikit pun rasa malu. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela
menyinari kulit putihnya hingga tampak berkilauan secara misterius.
"Aku
ingin kamu membuatku mencapai klimaks. Supaya aku menjadi lebih kuat. Supaya
aku bisa menyelamatkan mereka semua."
"Kamu
yakin bisa menahannya?"
"Karena
aku punya Kalung Pelindung Sang Martir. Bahkan kalau aku tidak sanggup
menahannya, jangan berhenti. Aku benar-benar ingin menyelamatkan mereka semua.
Kalau menyerah sekarang, aku pasti akan menyesalinya."
Yura-chan
menggenggam kalung yang melingkar di lehernya. Itu adalah artefak yang tadi ia
ceritakan, benda yang bisa menanggung kerusakan sebagai pengganti pemakainya.
"Kalau
begitu Yura-chan sampai meninggal bagaimana?"
"...Meski
begitu, aku tidak mau menyerah. Karena aku ingin menyelamatkan mereka, apa pun
harus kukorbankan. Maaf, ya, Tatsuya-kun. Aku terus membebankan peran yang
tidak menyenangkan kepadamu."
"Meski
harus mengorbankan apa pun, ya."
Tekad
Yura-chan pasti sungguh-sungguh. Tidak ada keraguan sedikit pun di matanya.
Kalau begitu, aku juga harus memantapkan tekadku.
"Yura-chan,
kamu terluka cukup parah di sini, ya."
Berkat
Persik Perak, luka-lukanya memang sudah sembuh, tetapi darah yang mengalir
belum dibersihkan. Aku mengusap darah di pipi Yura-chan dengan ibu jariku.
"Tunggu
sebentar, ya. Aku akan berusaha menyatukan tubuhku dengan orang yang pertama
kali kucintai, jadi aku perlu menenangkan perasaanku sedikit."
"...Aduh,
Tatsuya-kun. Ini bukan saatnya mengatakan hal seperti itu."
Diam-diam,
tanpa sepengetahuan Yura-chan, aku mengoleskan darah yang menempel di tanganku
pada boneka jerami, lalu memasukkan beberapa helai rambutku ke dalamnya.
Dengan
begini, semua kerusakan yang diterima Yura-chan bisa kutanggung sendiri.
Aku
menggenggam Dragon Tear yang pernah diberikan Honoka-san, lalu mengenakan Bulu
Halus Phoenix pemberian Aina. Persik Perak pemberian Suzuka-san juga kuletakkan
di dekat bantal.
"Kalau
keadaanmu mulai gawat, makanlah Persik Perak, ya."
"Iya,
terima kasih."
Aku
memandangi Yura-chan yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
Kalaupun
terjadi sesuatu sekarang, akulah yang akan mati. Aku tidak perlu kehilangan
orang yang kusayangi. Begitu memikirkan hal itu, rasa takutku perlahan
menghilang.
"Hm?
Ada apa?"
"Tidak.
Aku hanya berpikir kamu manis."
"Duh,
padahal ini keadaan darurat, lho."
Aku
menyentuh pipi Yura-chan dengan lembut.
"...Hmm♡"
Yura-chan
menggerakkan wajahnya, seolah ingin menempelkan pipinya yang lembut pada
tanganku. Tingkahnya seperti hewan kecil yang sama sekali tidak waspada.
"Aku
suka tangan Tatsuya-kun♡ Rasanya menenangkan♡ Aku ingin kamu menyentuhku lebih
banyak♡"
Tangan
putih Yura-chan melilit tubuhku seperti ular putih, lalu menarikku hingga
terjatuh di atas tempat tidur.
"Ah♡
Hei, Tatsuya-kun. Aku belum pernah melakukannya sebelumnya."
"Aku
juga."
"Walaupun
waktunya seperti ini... mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Jadi,
bagaimana kalau kita menikmatinya sepuas hati?♡"
"Benar
juga. Ini mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya."
Yura-chan
yang berada dalam pelukanku terasa hangat dan lembut.
Aroma
tubuh Yura-chan sendiri, bukan aroma sampo, terasa begitu menenangkan. Aroma
itu justru semakin membangkitkan gairahku.
Tubuhku
begitu bergairah hingga rasanya akan terbakar, tetapi entah mengapa, pikiranku
tetap tenang. Dan sepertinya Yura-chan juga merasakan hal yang sama.
Kami
berdua menyadari bahwa masing-masing sedang memikirkan satu sama lain. Mungkin
saat ini, satu-satunya hal yang memenuhi pikiran kami hanyalah bercinta.
"Ah,
aaaaah♡♡♡♡♡ Hebat sekali♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Kami
berdua begitu bergairah. Seolah bendungan yang jebol, sejumlah besar poin
pengalaman mengalir deras ke dalam diri Yura-chan.
Aku
ingin merasakan Yura-chan lebih dalam, jadi aku mengecup lehernya. Bagian itu
menjadi sangat sensitif, seolah kulitnya sudah tidak ada lagi. Sensasi
kenikmatan yang menggetarkan menjalar dari sana.
Yura-chan
pun merasakan hal yang sama. Tidak, mungkin perasaannya bahkan jauh lebih kuat.
"Gawat♡♡♡♡♡
Ah♡♡♡♡♡♡♡ Hebat♡♡♡♡♡♡♡♡"
Meskipun
tubuhnya gemetar berulang kali, Yura-chan tetap melingkarkan kedua lengannya
erat-erat di punggungku.
Tak
hanya lengannya, kedua kakinya pun ikut melilit tubuhku. Aku merasa seolah
sedang ditelan oleh seekor ular putih yang indah.
"Bagaimana?
Kamu masih baik-baik saja?"
"Iya♡♡♡♡♡♡
Iya♡♡♡♡♡♡♡ Rasanya berbeda dari biasanya♡♡♡♡♡♡♡♡ R-rasanya hanya nikmat♡♡♡♡♡
Hanya kenikmatan saja♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ yang begitu banyak♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Kalung
Pelindung Sang Martir benar-benar luar biasa."
Kerusakan
akibat kenikmatan yang melampaui batas itu mungkin ditanggung sepenuhnya oleh
sang martir yang disalibkan.
Rasanya
begitu tabu, dan justru karena itulah gairahku semakin menjadi-jadi.
"H-hei,
Tatsuya-kun♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Ada
apa?"
"Hehe♡♡♡♡♡
Kita bisa melakukannya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Kita bisa melakukannya sampai selesai,
kan?♡♡♡♡♡ Peluk aku erat-erat, ya?♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"...!"
Dengan
pipi merona dan mata berkaca-kaca, Yura-chan bersorak polos seperti anak kecil
yang baru saja menerima mainan. Dia terlihat begitu menggemaskan hingga bagian
diriku yang tadinya masih tenang perlahan menghilang.
Bolehkah
aku menciumnya?
Pertanyaan
seperti itu rasanya tidak diperlukan. Tidak, bahkan waktu untuk bertanya pun
terlalu berharga untuk disia-siakan.
Aku
langsung mencium Yura-chan dengan penuh gairah.
"Hmmph♡♡♡♡♡♡♡♡
Hmm, hmmmmm♡♡♡♡♡♡♡♡"
Yura-chan
mencengkeram tubuhku dengan kekuatan seolah ingin meremukkan tulangku. Aku pun
membalas memeluknya erat-erat.
Kami
terus berciuman, seakan tidak ingin menyisakan waktu sedikit pun untuk
bernapas. Kami saling menyentuh, seolah ingin menikmati seluruh diri satu sama
lain.
Waktu
yang manis pun mengalir, seperti adegan ranjang dalam sebuah drama.
...Namun.
—Krek!
Aku
mulai menyadari bahwa batasnya semakin dekat.
Dari
kalung yang dikenakan Yura-chan terdengar suara yang tidak menyenangkan.
Apakah
kerusakan akibat kenikmatan yang kuberikan terlalu besar? Dengan suara keras,
sebuah retakan muncul pada sosok sang martir.
Yura-chan
mungkin juga mendengar suara itu.
Aku
melepaskan bibirku darinya sejenak.
"Haaah♡♡♡♡♡♡
Hei, Tatsuya-kun♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Tolong, lebih banyak lagi♡♡♡♡♡ Lakukan lebih
banyak♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Dia
pasti menyadarinya, tetapi Yura-chan berpura-pura tidak tahu.
"Tentu
saja. Sekalipun kamu memintaku berhenti, sekarang aku sudah tidak bisa
berhenti."
Aku
mengulurkan tangan ke dadanya yang indah, lalu membelai lekukannya. Kulitnya
seolah melekat pada tanganku dan tidak mau terlepas.
"Aaaaaah♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
K-kenikmatannya terlalu hebat♡♡♡♡♡♡♡♡♡ A-aku tidak punya tenaga
lagi♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Sepertinya
kenikmatan yang begitu kuat membuatnya kesulitan menggerakkan tubuh.
Aku
menggunakan handuk untuk mengikat lengan Yura-chan yang mulai mengendur, agar
ia tidak bisa menggerakkannya.
"Ahaha♡♡♡
Tatsuya-kun ternyata suka hal seperti ini, ya?♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Iya.
Kamu tidak suka?"
"...Aku
tidak... membencinya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Kami
berciuman, berpelukan, dan saling menyentuh.
—Krek.
Kami
terus merapatkan tubuh, sampai rasanya seolah kulit kami melebur dan menyatu.
—Kriiit...
Aku
mulai berpikir, apakah inilah yang disebut kebahagiaan.
—Krak,
krak-kraak.
Aku
bahkan berpikir bahwa mungkin akan menjadi keberuntungan jika aku bisa mati di
tengah kebahagiaan seperti ini. Lalu, saat itu pun tiba.
—Krek,
krek, krek!
—Syaaraang!
"...!
...Eh?"
Tubuh
Yura-chan mendadak menegang sesaat, lalu terdengar suaranya yang kebingungan.
Ah,
boneka jerami pengganti itu sepertinya benar-benar menjalankan tugasnya dengan
baik.
Aku
merasakan sesuatu seperti pembuluh darah di otakku sedang tercabik-cabik. Dunia
dan suara-suara di sekitarku terasa semakin jauh. Di dalam tubuhku, sesuatu
seolah menjerit kesakitan saat terus melampaui batasnya.
Namun,
semua itu tidak penting.
"Apa...
Aaaaaaah♡♡♡♡♡♡♡♡♡ T-Tatsuya-kun♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Apa yang kamu lakukan?♡♡♡♡♡
Hyaaaaaah♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Aku
menggerakkan jari di bagian tubuh Yura-chan yang paling sensitif. Sensasi pada
ujung jariku mulai melemah.
"Tidak
boleh♡♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-kuuun♡♡♡♡♡♡♡♡ Berhentiii♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Meskipun
tidak menerima kerusakan, Yura-chan tampaknya sudah begitu lemas akibat
kenikmatan hingga tidak mampu bergerak dengan benar.
Plik.
Darah menetes ke pipi Yura-chan. Tanpa kusadari, darah juga mulai mengalir dari
hidungku.
"Mohon♡♡♡♡♡♡
Berhenti♡♡♡♡♡♡♡♡ Hei, Tatsuya-kuuun♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Sungguh,♡♡♡♡♡♡♡♡
Hmm♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Aku
membungkam Yura-chan dengan menutup bibirnya menggunakan bibirku sendiri.
Ini
adalah bibir orang yang pertama kali kucintai. Lebih banyak lagi, lebih
banyak... lebih banyak lagi.
Rasa
darah bercampur dalam ciuman kami. Sudut pandangku berkedip-kedip, seolah aku
akan kehilangan kesadaran kapan saja.
Aku
mengerahkan seluruh tekad untuk bertahan, menahan diriku agar tidak pingsan
meski sedikit saja lengah.
Tidak
masalah jika seluruh diriku hancur.
Semakin
lama aku bertahan, semakin kuat Yura-chan akan menjadi. Dengan begitu, dia bisa
menyelamatkan semua orang. Karena itulah, aku harus bertahan.
Aku
mengabaikan kepalaku yang berdenyut-denyut kesakitan dan terus mencari
Yura-chan.
"Kamu
harus mencapai klimaks berkali-kali, ya?"
Yura-chan
menangis dengan wajah berantakan, memperlihatkan campuran kenikmatan,
ketakutan, dan keputusasaan.
"Ti-tidak
mau♡♡♡♡♡♡♡♡ Ti-tidak mauuu♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Yura-chan
hebat sekali. Bahkan saat menangis pun, kamu tetap manis."
"Hiks...
Ah♡♡♡♡♡♡♡♡ Tatsuya-kuuun♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Berhentiiii♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
"Aku
tidak akan berhenti. Kamu ingin menyelamatkan mereka semua, apa pun yang harus
dikorbankan, bukan?"
"Ti-tidak
mau♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Aku tidak mauuu♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡ Aku tidak mau kehilangan
Tatsuya-kun...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Warna-warna
menghilang dari pandanganku. Suara-suara di sekitarku semakin menjauh.
Rasa
seperti besi juga merambat dari dalam tenggorokanku. Aku bisa merasakan sesuatu
di dalam tubuhku berderit dan mulai hancur. Aku memaksakan diri menelan
semuanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Aku
memaksa tubuhku yang mulai sulit digerakkan untuk bergerak, lalu menindih
Yura-chan.
Dalam
keadaan seperti ini—atau mungkin justru karena keadaan seperti inilah—tubuhku
tampaknya masih ingin menghasilkan keturunan.
Poin
pengalaman akan mengalir lebih banyak melalui kontak antar membran mukosa.
Karena itu, menggesekkan membran mukosa satu sama lain merupakan cara yang
paling efektif.
"Berhentiiiii♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tatsuya-kun akan meninggaaal♡♡♡♡♡♡♡"
Pandanganku
mulai dipenuhi gangguan hitam-putih. Aku hampir tidak bisa merasakan tubuhku
lagi. Hanya dengan kesadaranku yang nyaris terputus, aku berusaha berpegang
pada Yura-chan dan dunia nyata.
Sedikit
lagi. Bertahanlah sedikit lebih lama.
"Uhuk...
Tolong, se-selamatkan mereka semua, ya."
"Tatsuya-ku...
Tatsu...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡"
Tepat
saat aku berusaha menyatu dengan Yura-chan—
—Putus.
Sesuatu
benar-benar terbakar dan terputus sepenuhnya.
Aku
pun jatuh ke dalam kegelapan.
……
…………
………………
—Tetes,
tetes-tetes.
Kesadaranku
kembali berkat sensasi tetesan hangat yang menyentuh pipiku. Tercium aroma
seperti sesuatu yang terbakar, bercampur dengan wangi manis sari buah.
"Hiks...
hiks... Uuh..."
"Yura...
chan?"
"Bodoh...
Hiks... Tatsuya-kun bodoh..."
Yura-chan
menangis tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Sepertinya kepalaku
sedang berada di pangkuannya.
"...Aku
masih hidup?"
"Kamu
sempat mati sekali, tahu! Bodoh! Tatsuya-kun bodoh! Kenapa tidak bilang?! Kalau
mau melakukan hal sebodoh itu, setidaknya beri tahu aku dulu!"
"...Soalnya
kalau kuberi tahu, kamu pasti akan menghentikanku, kan?"
"Ya
jelas! Tatsuya-kun bodoh!!"
"Yah,
kalau dibandingkan dengan Yura-chan, memang aku yang lebih bodoh."
Sepertinya
Bulu Halus Phoenix benar-benar berguna.
Saat
kusentuh pipiku yang lengket, daging buah berwarna perak menempel di jariku.
"Kamu
memberiku Persik Perak?"
"A-aku
pikir kamu akan mati begitu saja... Hiks... Aku pikir... T-Tatsuya-kun akan...
menghilang..."
Sambil
menangis, Yura-chan menyeka bagian mulutnya yang masih berlumuran daging buah.
Seperti
saat di kolam renang dulu, sepertinya aku kembali diselamatkan oleh Yura-chan.
"Levelmu
naik?"
"Hiks...
Iya. Naik banyak sekali. Aku jadi jauh lebih kuat."
"Begitu,
ya. Kamu bisa menyelamatkan mereka?"
"Iya!
Aku pasti akan menyelamatkan mereka!"
Yura-chan
mengusap air matanya berkali-kali.
Bagaimanapun
juga, sepertinya kami berhasil menaikkan levelnya.
"Ngomong-ngomong,
pada akhirnya kita berhasil melakukannya sampai selesai? Kesadaranku hilang di
tengah jalan."
"Berisik!
Aku tidak akan pernah memberitahumu!"
Yura-chan
menjulurkan lidah sambil berkata demikian.
Sepertinya
dia masih belum berhenti marah. Dengan wajah kesal, dia mengenakan pakaiannya.
"Tatsuya-kun,
aku akan pergi sekarang. Aku akan menyelamatkan mereka semua."
"Iya.
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Sisanya kuserahkan kepadamu."
"Kamu
sudah melakukan lebih dari cukup untukku."
Yura-chan
tidak menuju pintu depan. Sebaliknya, dia membuka lebar jendela yang mengarah
ke luar.
—Wusss!
Sayap-sayap
cahaya tumbuh dari punggung Yura-chan.
Rambut
peraknya berkilauan diterangi cahaya bulan. Dari sudut mana pun aku
memandangnya, dia benar-benar tampak seperti malaikat.
"...Ups,
hampir saja. Bahaya, bahaya. ‘Panah Cahaya’."
Cahaya
yang melesat dari ujung jari Yura-chan seketika membakar habis boneka jerami
yang tergeletak di samping tempat tidur.
Aku
mengangkat bahu.
"Jangan
pernah berpikir untuk mengorbankan dirimu sendiri lagi, ya? Kalau Tatsuya-kun
sampai mati, aku juga akan ikut mati."
"Kalau
begitu, aku harus tetap hidup mati-matian."
"Tentu
saja! Kalau begitu, aku berangkat!"
Yura-chan
menginjak bingkai jendela, lalu melompat dengan kuat.
Dia
terbang pergi dengan kecepatan luar biasa. Tak lama kemudian, sosoknya berubah
menjadi titik cahaya kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.




Post a Comment