Chapter 11
Maid Menyukai Hal-Hal Kecil
Hisaka Sayaka yang melakukan pekerjaan
domestik di Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya telah mendapatkan persetujuan dari
kepala keluarga Kiyomiya.
Status pekerjaannya tidak bermasalah, dan
telah dipastikan bahwa semuanya masih berada dalam batas wajar.
Menyusul pengumuman resmi dari pihak orang
dewasa—yaitu pihak sekolah—situasi pun mereda.
Penjelasannya memang agak kaku, tapi
akhir-akhir ini tidak ada yang bisa memprediksi hal apa yang bakal memicu
keributan, jadi tampaknya Akademi Sōshūkan ingin memadamkan apinya secepat
mungkin.
Pada kenyataannya, baik aku maupun Sayaka
sama sekali tidak punya alasan untuk merasa bersalah—ya kan?
Yah, aku memang menyukai Sayaka, dan fakta
itu pun berakhir terbongkar di depannya serta di hadapan semua orang dari
keluarga Maritsuji.
Tapi kan tidak ada hukum yang mengatakan,
"Kamu tidak boleh menjadikan gadis yang kamu sukai sebagai maid-mu."
Saat aku bersama Sayaka di sekolah,
terkadang kami dipandang dengan tatapan penasaran, tapi cuma sebatas itu.
Oleh karena itu, kali ini kami akan
memulai kegiatan faksi kami secara sungguh-sungguh—atau setidaknya, begitulah
rencananya.
"Sayaka, kenapa kamu pakai seragam
maid di sekolah juga?!"
"Identitas asliku kan sudah
terbongkar. Sekarang aku bisa melayani Keiji-kun tanpa perlu sungkan-sungkan
lagi, bahkan di sekolah sekalipun," ucap Sayaka dengan acuh tak acuh
sambil meletakkan secangkir teh di depanku.
Sayaka mengenakan pakaian yang
sama dengan yang biasa ia kenakan di rumah besar—bukan, kali ini dia mengenakan
seragam maid tipe rok panjang. Ruangan ini adalah ruang belajar Seishinkai.
Selama beberapa hari terakhir,
kami selalu menyempatkan diri datang ke ruangan ini sepulang sekolah.
"Tentu saja, aku menahan diri
untuk tidak memakai rok mini yang biasa kugunakan di rumah besar ke sini. Rok
mini itu memang jauh lebih leluasa untuk bergerak, tapi kalau aku
memperlihatkan pakaian dalamku ke orang selain Keiji-kun, aku bakal dimarahi,
kan?"
"Jangan menyisipkan dua
kebohongan sekaligus dalam kalimat itu."
Aku sangat ragu kalau dia merasa
tidak masalah memperlihatkan celana dalamnya padaku, dan andai Sayaka
memperlihatkannya ke cowok lain pun, aku tidak akan memarahinya. Aku cuma akan
membunuh cowok yang melihat celana dalam Sayaka itu.
"Lagi pula, di sekolah aku
memakai kacamata dan gaya rambut kuncir dua."
"Dengar ya, kamu itu tetap
cantik seutuhnya bahkan dengan penampilan begitu, tahu."
"..."
Wajah Sayaka memerah tipis. Apa
aku mengatakannya terlalu blak-blakan?
Tapi serius, Sayaka tampaknya
sengaja memakai kacamata dan tatanan kuncir dua biasa agar tidak mencolok,
namun kecantikannya bukan sesuatu yang bisa disembunyikan oleh hal-hal semacam
itu.
"Kalau dipikir-pikir, apa
penglihatanmu memang buruk, Sayaka?"
"Pertanyaan yang sangat
terlambat, deh. Berhubung Keiji-kun sering banget memperhatikanku di sekolah,
kamu pasti suka cewek berkacamata, makanya aku melepas kacamata saat di rumah
besar demi menekan hasrat seksual Master walau hanya sedikit."
"Padahal kamu sendiri selalu
memprovokasiku setiap hari!"
"Godaan? Caramu mengatakannya
membuatku terdengar seperti wanita gampangan saja."
"Aku nggak pernah bilang
godaan. Pokoknya, kembali ke
soal kacamata."
"Aku punya rupa dan otak, tapi cuma
penglihatanku saja yang buruk."
Rasa percaya dirinya memang tinggi, tapi
itu memang kenyataan, jadi...
"Ini cuma rabun jauh ringan, jadi
tidak mengganggu kehidupan sehari-hariku meski tanpa kacamata. Aku tidak pernah melewatkan
sebutir debu pun di rumah besar, kan?"
"Benar juga sih..."
"Ini juga karena salah satu dari
sedikit ajaran ibuku. 'Sembilan
puluh persen dari diri seseorang ditentukan oleh penampilannya,' begitu
katanya."
"Tinggi banget
persentasenya."
"Karena itulah aku memakai
kacamata, salah satunya demi menjaga citra murid beasiswa yang teladan dan
berprestasi. Meskipun sejak kuota beasiswa dihapuskan, hal itu sudah tidak
begitu berarti lagi."
"Begitu ya..."
Pada kenyataannya, aku juga suka
Sayaka yang berkacamata, jadi dia tetap memakainya di sekolah sama sekali bukan
masalah bagiku.
"Lebih penting lagi, kita akan
memutuskan kebijakan kegiatan faksi, kan?"
"Ah, benar juga."
Sebuah laptop diletakkan di depanku.
Laptop itu disediakan oleh pihak sekolah dan merupakan barang penting untuk
kegiatan faksi.
Seishinkai kami juga perlu menjalankan
kegiatan secara proaktif dan menunjukkan eksistensi kami di dalam sekolah.
"Sekarang kesempatan kita. Lagipula
faksi Fujikawa sedang bertindak diam-diam."
"Benar juga..."
Fujikawa selama ini mengincar Sayaka dan
terus melancarkan gangguan kepada kami, tapi tampaknya insiden terungkapnya
status maid kemarin justru menjadi bumerang dan merugikan pihak mereka.
Membuntuti murid perempuan, mengambil foto
diam-diam, serta sikap membangkang mereka terhadap keluarga Maritsuji rupanya
menjadi masalah serius.
"Meski begitu, rencana ini mustahil
terwujud kecuali kita menambah jumlah anggota terlebih dahulu. Faksi Fujikawa
mungkin sedang goyah, tapi aku tidak berminat membajak orang dari sana."
"Kurasa kita harus mengajak
murid-murid yang netral—"
Tok, tok, tok. Terdengar suara ketukan, lalu
pintu pun terbuka.
"Anu, permisi..."
"Hm?"
Sosok yang melangkah masuk adalah
seorang murid perempuan berambut kuncir dua warna kastanye dengan rok yang agak
panjang—
"Oh, Sugawara... Shizu-senpai,
kan?"
"I-Iya, ini Shizu."
Orang yang berbicara dengan begitu
malu-malu ini adalah senior yang bertubuh terlampau mungil, yang tempo hari
kutemui di Ruang Persiapan Departemen Bahasa Jepang.
Saat kupersilakan, Shizu-senpai
melangkah ke dalam ruangan dengan raut wajah yang tampak cukup waswas.
"Ada apa, Senpai? Apa Anda
tersesat?"
"Shizu bukan anak hilang.
Bukan begitu... Apa memungkinkan bagi Shizu untuk ikut bergabung ke Seishinkai
juga?"
"Ya, tentu saja boleh."
"Cepat sekali jawabnya..."
Senpai sendiri juga tiba-tiba mengangkat
masalah besar tanpa basa-basi sama sekali, kan.
"Kami memang kelompok kecil
beranggotakan para elit, tapi aku juga tidak membenci keunggulan jumlah. Jadi
kami akan sangat bersyukur jika ada tambahan satu anggota lagi."
"B-Benaran?"
"Jadi, apa tujuan Senpai?"
"Shizu langsung dicurigai!
Kiyomiya-kun, bukannya kamu kelewat paranoid?"
"Faktanya, posisiku ini sangat
sensitif. Kalau kita berada di era yang berbeda, aku pasti sudah diracun sejak
dulu."
"Eeeh... A-Apa masyarakat bangsawan
benar-benar tempat yang semenakutkan itu?"
"Shizu-senpai, selamat datang di
faksi Kiyomiya."
"Apa barusan Shizu melangkah ke garis
depan masyarakat bangsawan?!"
Shizu-senpai kelihatannya pendiam, tapi
ekspresi emosinya sangat kaya.
Ini terasa menyegarkan, mengingat aku
biasanya dikelilingi oleh gadis-gadis yang ekspresinya jarang berubah, seperti
Sayaka yang dingin, Maritsuji yang tenang, atau Maki yang ceplas-ceplos.
"Anu... Boleh Shizu pikirkan ulang
sebentar?"
"Tentu saja. Anda boleh pulang dan
mempertimbangkannya."
Tanpa kusadari, Sayaka sudah mengambil
posisi berdiri di depan pintu. Seperti yang diharapkan dari maid-ku,
kuda-kudanya menunjukkan tekad untuk tidak membiarkan anggota baru itu kabur
bagaimanapun caranya.
"Kiyomiya-kun? Perkataan dan
perbuatan maid ini nggak nyambung sama sekali..."
"Ketidakkonsistenan antara perkataan
dan perbuatan itu hal yang lumrah bagi manusia... tunggu, benar juga. Aku boleh
bicara santai kan, Senpai?"
"Shizu senang kamu ingat... Nggak,
walaupun ini tempat yang menakutkan, tolong izinkan Shizu bergabung ke faksimu,
Kiyomiya-kun."
"..."
Kurasa aku harus mulai memikirkan hal ini
secara serius.
Sugawara Shizu—murid kelas dua SMA Akademi
Sōshūkan. Garis keturunannya memang terhormat, tapi sudah lama meredup, dan
keluarganya sama sekali tidak punya kekuasaan.
Dia sendiri tampak sepenuhnya tidak
berbahaya—tapi kalau dipikir-pikir lagi, dari luar aku pun terlihat sama sekali
tidak berbahaya.
"Hmm."
Sayaka tiba-tiba melangkah menjauh dari
pintu dan berdiri tepat di hadapan Shizu-senpai. Karena Sayaka tergolong tinggi
untuk ukuran perempuan, berdiri di dekat Shizu-senpai yang mungil membuat
perbedaan tinggi badan mereka tampak sangat mencolok.
"Kamu imut."
"Wah, eh, anu, Maid-san?"
"Hei, dia ini seniormu, lho. Jangan
mengelus-elus kepalanya sembarangan."
Sayaka yang tetap mempertahankan ekspresi
dinginnya justru terus mengelus seluruh kepala Shizu-senpai.
"Keiji-kun, tolong izinkan
Sugawara-senpai bergabung dengan faksi kita. Aku akan bertanggung jawab dan
merawatnya karena aku paham betul bahwa aku sedang mengemban satu nyawa
berharga."
"Shizu ini bukan hewan peliharaan,
tahu?!"
"Tapi dia agak terlalu mungil,
sehingga sulit menjadikannya sebagai kandidat wanita simpanan
Keiji-kun..."
"Shizu datang ke sini bukan untuk
mengajukan diri jadi wanita simpanan!"
"Bagaimanapun juga, tunangan Master
kita itu menakutkan. Kurasa kondisi mentalnya tidak akan bisa bertahan tanpa
setidaknya seorang wanita simpanan yang bisa menenangkan hatinya."
"Bisa-bisanya kamu melayangkan peluru
nyasar ke Maritsuji yang bahkan nggak ada di sini."
Hari ini Maritsuji sedang berada di klub
upacara minum teh, dan Maki sempat bilang kalau dia juga akan bermanuver di
balik bayang-bayang.
"Kalau wanita simpanan—bukan, sosok
penenang hati, bukannya ada Hisaka-san?"
"Mustahil bagiku untuk menenangkan
hati Keiji-kun. Paling
banter, yang bisa kulakukan hanyalah menghabisinya."
"Jangan berusaha membunuh tuanmu
sendiri lewat permainan kata."
Kedua tindakan itu kan jelas-jelas
bertolak belakang.
"Tapi, ini mengejutkan."
"Apanya?"
"Ternyata kamu punya hal yang disukai
selain buku ya, Sayaka. Kamu suka cewek mungil?"
"Caramu mengatakannya terlalu
blak-blakan. Bukannya aku secara khusus menyukai gadis mungil, dan
Maritsuji-san juga bertubuh kecil kan, jadi intinya aku menyukai hal-hal yang
memiliki keimutan yang menggemaskan."
"Soal fakta kalau kamu barusan dengan
santainya bilang Maritsuji tidak punya keimutan yang menggemaskan..."
"Ah, ini sudah masuk ranah
membicarakan orang di belakang, dan itu tidak baik sekalipun korbannya adalah
Maritsuji-san. Nanti akan kulaporkan padanya kalau aku membicarakan hal semacam
ini bersama Keiji-kun."
"Jangan seenaknya menyeretku ke dalam
masalah ini, dong!"
Ujung-ujungnya aku pasti bakal disuruh
mendengarkan omelan dialek Kyoto Maritsuji lagi!
"Haa... Belakangan ini memang santer
terdengar rumor, tapi kalian berdua benar-benar pasangan tuan dan maid yang
sangat akrab ya, Kiyomiya-kun, Hisaka-san."
"...Bahkan murid kelas dua pun tahu
soal itu?"
"Shizu nggak bakal mengganggu
kalian kok! Jadi tolong, izinkan aku bergabung dengan kelompok kalian!"
Selesai berkata demikian, Shizu-senpai
membungkuk cepat. Meskipun tampak mungil, dia tetaplah seorang ojou-sama
dari keluarga terpandang; seperti dugaan, bungkukan itu sangat memukau dan
selaras sempurna dengan etika tata krama.
"Jadi, menurutmu Shizu-senpai itu
mata-mata dari pihak mana?"
"Kepribadianmu jelek banget ya, tahu
nggak."
Kusuruh Shizu-senpai mengisi formulir
pendaftaran untuk bergabung dengan Seishinkai, lalu kami membubarkan diri untuk
hari ini.
Mengingat hanya ada tiga anggota yang
hadir dan kami juga belum punya rencana kegiatan khusus.
Saat ini, aku sedang berjalan pulang
bersama Sayaka yang sudah berganti kembali mengenakan seragam sekolahnya.
Karena tidak ada lagi alasan untuk
menyembunyikan fakta bahwa kami tinggal di satu rumah yang sama, kami bisa
pulang bersama dari sekolah.
"Aku juga sempat memikirkannya, tapi
ada terlalu banyak alasan bagiku untuk diincar sehingga sulit untuk
mengerucutkannya."
"Jadi kamu juga mencurigainya ya,
Sayaka."
Maksudku, wajar saja bagi siapa pun, tak
peduli sebaik apa pun hatinya, untuk menaruh curiga pada seseorang yang
tiba-tiba ingin bergabung dengan faksi kami.
"Saat ini, tidak ada alasan kuat
untuk bergabung dengan faksi kita. Paling tidak, faksi kita bukan tipe tempat
yang akan dituju oleh orang netral yang sekadar mencari tempat bernaung."
"Itu benar. Kepribadian pendiam
Sugawara-senpai tampaknya bukan sekadar akting, dan sulit membayangkan dia mau
bergabung ke faksi yang mencolok karena diisi orang-orang terkenal seperti
dirimu dan Maritsuji-san, Keiji-kun."
"Begitu ya, ada alasan itu juga,
toh."
Perlu dicatat, baik Sayaka maupun Maki
sebenarnya juga tergolong orang terkenal. Tampaknya kami bisa memikirkan banyak
sekali alasan untuk mencurigai Shizu-senpai.
"Yang paling mencurigakan tentu saja
faksi Fujikawa, tapi... mereka kemungkinan besar tidak bisa melakukan
pergerakan mencolok untuk saat ini."
"Mereka menyusupkan mata-mata untuk
memastikan pergerakan kita... bukan, jangan-jangan tujuannya untuk menyelidiki
kelemahan kita?"
Sayaka melipat kedua tangannya di dada dan
tenggelam dalam lamunan sembari terus melangkah. Haruskah kuserahkan urusan ini
pada otak brilian maid-ku saja?
"Ah, mereka memasang perangkap madu
untuk Keiji-kun demi merusak pertunanganmu dengan Maritsuji-san. Sebagai
bonusnya, kalau Keiji-kun berani menyentuh bocah loli seperti itu, eksistensi
sosialmu juga akan musnah seketika."
"Selamat tinggal, Master."
"Jangan mencampakkanku semudah itu,
dong!"
Sudah kuduga, urusan ini tidak bisa
kuserahkan pada otak Sayaka!
"Oalah, Sugawara Shizu-senpai, ya.
Padahal aku sempat penasaran siapa yang baru saja bergabung."
"Uwah!"
"Oh, Maki-san."
Tiba-tiba saja, Maki muncul dari
belakangku dan Sayaka.
"K-Kamu bukannya lagi ada
urusan?"
"Urusanku sudah kelar dan pas mau
pulang, aku melihat pasangan mencurigakan jalan berdua. Aku coba buntuti
kalian, tapi sepertinya pembicaraannya nggak mengarah ke hal-hal mesra sama
sekali."
"Mau ngapain coba kamu pakai
membuntuti segala? Yah, kalau kamu sudah dengar, urusannya jadi cepat."
"Maki, ada murid kelas dua bernama
Sugawara Shizu-senpai yang mengajukan formulir untuk bergabung dengan faksi
kita. Menurutmu bagaimana?"
"Kalian nggak memeriksa apakah dia
membawa senjata tajam sebelum masuk ke ruang belajar?"
"Aku nggak mencurigainya sampai
sejauh itu, kali."
Kurasa Shizu-senpai tidak akan berbuat
sampai sejauh menyembunyikan belati demi mengincar nyawaku.
"Tapi kamu nggak tahu apa-apa soal
Sugawara-senpai, kan, Keiji?"
"Cuma sebatas waktu kami bertemu di
ruang persiapan Departemen Bahasa Jepang tempo hari."
Meski deretan murid di Sōshūkan nyaris
tidak pernah berubah sejak bangku SD, tetap saja ada orang-orang yang tidak
kamu kenal jika berbeda tingkatan kelas.
Terlebih lagi jika orang tersebut bukan
berasal dari keluarga yang punya pengaruh kuat saat ini dan sosoknya sendiri
teramat pendiam.
"Sepertinya kamu kenal
Sugawara-senpai ya, Maki-san?"
"Ya iyalah, panggilan akrab kami saja
'Shizushizu' dan 'Makki'."
"Bohong."
Mana mungkin hubungan kalian sedekat itu
sampai saling memanggil dengan nama panggilan seakrab itu. Andai sedekat itu,
Shizu-senpai setidaknya pasti akan menyebut nama Maki.
"Biar begini aku kan informan, jadi
aku juga tahu soal Shizu-chan-senpai. Berhubung keluarga Sugawara memang sudah
runtuh, jadi sebenarnya tidak ada hal istimewa yang bisa diselidiki dari
keluarganya."
"Kalau keluarganya berada di
tingkatan yang tidak punya pengaruh di luar, berarti tidak masalah. Dia sendiri
juga tidak tampak memiliki niat tersembunyi."
Sepengamatanku, setidaknya dia tidak
terlihat seperti tipe orang yang bersedia aktif memainkan peran sebagai
mata-mata.
"Kamu ini naif sekali...
Keiji-kun, hatimu itu terlalu lembut padahal sikapmu sinis begitu."
"Aku nggak sinis!"
"Agak maksa ya kalau bilang
nggak sinis setelah selama ini berpura-pura jadi lentera siang bolong yang tak
berguna. Tapi serius deh, kurasa memandang orang lain dengan prasangka itu
dosis yang pas buatmu."
"Aku juga setuju. Menurutku
lebih baik mengawali dengan rasa curiga jika merasa ada hal yang mencurigakan
walau hanya sedikit."
"Menurutku kamu maupun Sayaka
juga mencurigakan kok, Maki, tapi aku tetap berinteraksi normal dengan kalian
sebagai teman dan maid."
"Aku memang mencurigakan, tapi
aku nggak bakal mencelakaimu."
"Pergerakanku memang suka
mencurigakan, tapi aku nggak bakal menjebakmu, Keiji."
"Kamu suka menjebak orang,
Maki? Itu kelewat seram, tahu."
Itu bukan hal yang wajar dilakukan
oleh anak cewek SMA.
"Kalau begitu, Keiji, aku
bakal pergi menyelidiki Shizu-chan-senpai! Oh iya, minta dana kegiatan
dong!"
"Boleh, berapa banyak yang
harus kuberikan?"
"...Oh iya ya, Keiji kan tuan
muda yang kaya raya melintir."
"Aku paham maksudmu.
Kadang-kadang aku sendiri juga hampir melupakannya."
"...Jadi kamu cuma
bercanda."
Aku malah menganggap perkataanmu
barusan dengan serius.
"Tapi ya sudah, aku bakal
memeriksa latar belakang Shizu-chan-senpai untukmu. Lagipula—"
"Kenapa?"
"Aku setuju kalau dia bukan orang
jahat. Kenapa tidak kita sambut saja dia, lalu kita jadikan agen ganda
sekalian?"
"L-Licik banget pikiranmu..."
Jangan-jangan kamu ini sebenarnya
mata-mata, bukannya informan, ya, Maki?
"Acara besar sebentar lagi tiba, jadi
kita harus membereskan benih-benih masalah sejak awal, kan?"
"Hm? Acara besar apa?"
"Kamu lupa, Keiji? Yah, kurasa baik
Keiji maupun kita memang nggak pernah ada urusan dengan hal itu sampai
sekarang."
"Apa yang sedang kamu bicarakan,
Maki-san?"
Sayaka tampak bingung, sepertinya dia juga
sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.
"Kita kan sudah membentuk faksi, jadi
mulai kali ini kita bakal berpartisipasi—dalam 'Festival Hōki'."
Chapter 10 | ToC | Chapter 12



Post a Comment