NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki Datta Ko wo Meido ni Shitara Volume 2 Chapter 11

Chapter 11

Maid Menyukai Hal-Hal Kecil


Hisaka Sayaka yang melakukan pekerjaan domestik di Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya telah mendapatkan persetujuan dari kepala keluarga Kiyomiya.

Status pekerjaannya tidak bermasalah, dan telah dipastikan bahwa semuanya masih berada dalam batas wajar.

Menyusul pengumuman resmi dari pihak orang dewasa—yaitu pihak sekolah—situasi pun mereda.

Penjelasannya memang agak kaku, tapi akhir-akhir ini tidak ada yang bisa memprediksi hal apa yang bakal memicu keributan, jadi tampaknya Akademi Sōshūkan ingin memadamkan apinya secepat mungkin.

Pada kenyataannya, baik aku maupun Sayaka sama sekali tidak punya alasan untuk merasa bersalah—ya kan?

Yah, aku memang menyukai Sayaka, dan fakta itu pun berakhir terbongkar di depannya serta di hadapan semua orang dari keluarga Maritsuji.

Tapi kan tidak ada hukum yang mengatakan, "Kamu tidak boleh menjadikan gadis yang kamu sukai sebagai maid-mu."

Saat aku bersama Sayaka di sekolah, terkadang kami dipandang dengan tatapan penasaran, tapi cuma sebatas itu.

Oleh karena itu, kali ini kami akan memulai kegiatan faksi kami secara sungguh-sungguh—atau setidaknya, begitulah rencananya.

"Sayaka, kenapa kamu pakai seragam maid di sekolah juga?!"

"Identitas asliku kan sudah terbongkar. Sekarang aku bisa melayani Keiji-kun tanpa perlu sungkan-sungkan lagi, bahkan di sekolah sekalipun," ucap Sayaka dengan acuh tak acuh sambil meletakkan secangkir teh di depanku.

Sayaka mengenakan pakaian yang sama dengan yang biasa ia kenakan di rumah besar—bukan, kali ini dia mengenakan seragam maid tipe rok panjang. Ruangan ini adalah ruang belajar Seishinkai.

Selama beberapa hari terakhir, kami selalu menyempatkan diri datang ke ruangan ini sepulang sekolah.

"Tentu saja, aku menahan diri untuk tidak memakai rok mini yang biasa kugunakan di rumah besar ke sini. Rok mini itu memang jauh lebih leluasa untuk bergerak, tapi kalau aku memperlihatkan pakaian dalamku ke orang selain Keiji-kun, aku bakal dimarahi, kan?"

"Jangan menyisipkan dua kebohongan sekaligus dalam kalimat itu."

Aku sangat ragu kalau dia merasa tidak masalah memperlihatkan celana dalamnya padaku, dan andai Sayaka memperlihatkannya ke cowok lain pun, aku tidak akan memarahinya. Aku cuma akan membunuh cowok yang melihat celana dalam Sayaka itu.

"Lagi pula, di sekolah aku memakai kacamata dan gaya rambut kuncir dua."

"Dengar ya, kamu itu tetap cantik seutuhnya bahkan dengan penampilan begitu, tahu."

"..."

Wajah Sayaka memerah tipis. Apa aku mengatakannya terlalu blak-blakan?

Tapi serius, Sayaka tampaknya sengaja memakai kacamata dan tatanan kuncir dua biasa agar tidak mencolok, namun kecantikannya bukan sesuatu yang bisa disembunyikan oleh hal-hal semacam itu.

"Kalau dipikir-pikir, apa penglihatanmu memang buruk, Sayaka?"

"Pertanyaan yang sangat terlambat, deh. Berhubung Keiji-kun sering banget memperhatikanku di sekolah, kamu pasti suka cewek berkacamata, makanya aku melepas kacamata saat di rumah besar demi menekan hasrat seksual Master walau hanya sedikit."

"Padahal kamu sendiri selalu memprovokasiku setiap hari!"

"Godaan? Caramu mengatakannya membuatku terdengar seperti wanita gampangan saja."

"Aku nggak pernah bilang godaan. Pokoknya, kembali ke soal kacamata."

"Aku punya rupa dan otak, tapi cuma penglihatanku saja yang buruk."

Rasa percaya dirinya memang tinggi, tapi itu memang kenyataan, jadi...

"Ini cuma rabun jauh ringan, jadi tidak mengganggu kehidupan sehari-hariku meski tanpa kacamata. Aku tidak pernah melewatkan sebutir debu pun di rumah besar, kan?"

"Benar juga sih..."

"Ini juga karena salah satu dari sedikit ajaran ibuku. 'Sembilan puluh persen dari diri seseorang ditentukan oleh penampilannya,' begitu katanya."

"Tinggi banget persentasenya."

"Karena itulah aku memakai kacamata, salah satunya demi menjaga citra murid beasiswa yang teladan dan berprestasi. Meskipun sejak kuota beasiswa dihapuskan, hal itu sudah tidak begitu berarti lagi."

"Begitu ya..."

Pada kenyataannya, aku juga suka Sayaka yang berkacamata, jadi dia tetap memakainya di sekolah sama sekali bukan masalah bagiku.

"Lebih penting lagi, kita akan memutuskan kebijakan kegiatan faksi, kan?"

"Ah, benar juga."

Sebuah laptop diletakkan di depanku. Laptop itu disediakan oleh pihak sekolah dan merupakan barang penting untuk kegiatan faksi.

Seishinkai kami juga perlu menjalankan kegiatan secara proaktif dan menunjukkan eksistensi kami di dalam sekolah.

"Sekarang kesempatan kita. Lagipula faksi Fujikawa sedang bertindak diam-diam."

"Benar juga..."

Fujikawa selama ini mengincar Sayaka dan terus melancarkan gangguan kepada kami, tapi tampaknya insiden terungkapnya status maid kemarin justru menjadi bumerang dan merugikan pihak mereka.

Membuntuti murid perempuan, mengambil foto diam-diam, serta sikap membangkang mereka terhadap keluarga Maritsuji rupanya menjadi masalah serius.

"Meski begitu, rencana ini mustahil terwujud kecuali kita menambah jumlah anggota terlebih dahulu. Faksi Fujikawa mungkin sedang goyah, tapi aku tidak berminat membajak orang dari sana."

"Kurasa kita harus mengajak murid-murid yang netral—"

Tok, tok, tok. Terdengar suara ketukan, lalu pintu pun terbuka.

"Anu, permisi..."

"Hm?"

Sosok yang melangkah masuk adalah seorang murid perempuan berambut kuncir dua warna kastanye dengan rok yang agak panjang—

"Oh, Sugawara... Shizu-senpai, kan?"

"I-Iya, ini Shizu."

Orang yang berbicara dengan begitu malu-malu ini adalah senior yang bertubuh terlampau mungil, yang tempo hari kutemui di Ruang Persiapan Departemen Bahasa Jepang.

Saat kupersilakan, Shizu-senpai melangkah ke dalam ruangan dengan raut wajah yang tampak cukup waswas.

"Ada apa, Senpai? Apa Anda tersesat?"

"Shizu bukan anak hilang. Bukan begitu... Apa memungkinkan bagi Shizu untuk ikut bergabung ke Seishinkai juga?"

"Ya, tentu saja boleh."

"Cepat sekali jawabnya..."

Senpai sendiri juga tiba-tiba mengangkat masalah besar tanpa basa-basi sama sekali, kan.

"Kami memang kelompok kecil beranggotakan para elit, tapi aku juga tidak membenci keunggulan jumlah. Jadi kami akan sangat bersyukur jika ada tambahan satu anggota lagi."

"B-Benaran?"

"Jadi, apa tujuan Senpai?"

"Shizu langsung dicurigai! Kiyomiya-kun, bukannya kamu kelewat paranoid?"

"Faktanya, posisiku ini sangat sensitif. Kalau kita berada di era yang berbeda, aku pasti sudah diracun sejak dulu."

"Eeeh... A-Apa masyarakat bangsawan benar-benar tempat yang semenakutkan itu?"

"Shizu-senpai, selamat datang di faksi Kiyomiya."

"Apa barusan Shizu melangkah ke garis depan masyarakat bangsawan?!"

Shizu-senpai kelihatannya pendiam, tapi ekspresi emosinya sangat kaya.

Ini terasa menyegarkan, mengingat aku biasanya dikelilingi oleh gadis-gadis yang ekspresinya jarang berubah, seperti Sayaka yang dingin, Maritsuji yang tenang, atau Maki yang ceplas-ceplos.

"Anu... Boleh Shizu pikirkan ulang sebentar?"

"Tentu saja. Anda boleh pulang dan mempertimbangkannya."

Tanpa kusadari, Sayaka sudah mengambil posisi berdiri di depan pintu. Seperti yang diharapkan dari maid-ku, kuda-kudanya menunjukkan tekad untuk tidak membiarkan anggota baru itu kabur bagaimanapun caranya.

"Kiyomiya-kun? Perkataan dan perbuatan maid ini nggak nyambung sama sekali..."

"Ketidakkonsistenan antara perkataan dan perbuatan itu hal yang lumrah bagi manusia... tunggu, benar juga. Aku boleh bicara santai kan, Senpai?"

"Shizu senang kamu ingat... Nggak, walaupun ini tempat yang menakutkan, tolong izinkan Shizu bergabung ke faksimu, Kiyomiya-kun."

"..."

Kurasa aku harus mulai memikirkan hal ini secara serius.

Sugawara Shizu—murid kelas dua SMA Akademi Sōshūkan. Garis keturunannya memang terhormat, tapi sudah lama meredup, dan keluarganya sama sekali tidak punya kekuasaan.

Dia sendiri tampak sepenuhnya tidak berbahaya—tapi kalau dipikir-pikir lagi, dari luar aku pun terlihat sama sekali tidak berbahaya.

"Hmm."

Sayaka tiba-tiba melangkah menjauh dari pintu dan berdiri tepat di hadapan Shizu-senpai. Karena Sayaka tergolong tinggi untuk ukuran perempuan, berdiri di dekat Shizu-senpai yang mungil membuat perbedaan tinggi badan mereka tampak sangat mencolok.

"Kamu imut."

"Wah, eh, anu, Maid-san?"

"Hei, dia ini seniormu, lho. Jangan mengelus-elus kepalanya sembarangan."

Sayaka yang tetap mempertahankan ekspresi dinginnya justru terus mengelus seluruh kepala Shizu-senpai.

"Keiji-kun, tolong izinkan Sugawara-senpai bergabung dengan faksi kita. Aku akan bertanggung jawab dan merawatnya karena aku paham betul bahwa aku sedang mengemban satu nyawa berharga."

"Shizu ini bukan hewan peliharaan, tahu?!"

"Tapi dia agak terlalu mungil, sehingga sulit menjadikannya sebagai kandidat wanita simpanan Keiji-kun..."

"Shizu datang ke sini bukan untuk mengajukan diri jadi wanita simpanan!"

"Bagaimanapun juga, tunangan Master kita itu menakutkan. Kurasa kondisi mentalnya tidak akan bisa bertahan tanpa setidaknya seorang wanita simpanan yang bisa menenangkan hatinya."

"Bisa-bisanya kamu melayangkan peluru nyasar ke Maritsuji yang bahkan nggak ada di sini."

Hari ini Maritsuji sedang berada di klub upacara minum teh, dan Maki sempat bilang kalau dia juga akan bermanuver di balik bayang-bayang.

"Kalau wanita simpanan—bukan, sosok penenang hati, bukannya ada Hisaka-san?"

"Mustahil bagiku untuk menenangkan hati Keiji-kun. Paling banter, yang bisa kulakukan hanyalah menghabisinya."

"Jangan berusaha membunuh tuanmu sendiri lewat permainan kata."

Kedua tindakan itu kan jelas-jelas bertolak belakang.

"Tapi, ini mengejutkan."

"Apanya?"

"Ternyata kamu punya hal yang disukai selain buku ya, Sayaka. Kamu suka cewek mungil?"

"Caramu mengatakannya terlalu blak-blakan. Bukannya aku secara khusus menyukai gadis mungil, dan Maritsuji-san juga bertubuh kecil kan, jadi intinya aku menyukai hal-hal yang memiliki keimutan yang menggemaskan."

"Soal fakta kalau kamu barusan dengan santainya bilang Maritsuji tidak punya keimutan yang menggemaskan..."

"Ah, ini sudah masuk ranah membicarakan orang di belakang, dan itu tidak baik sekalipun korbannya adalah Maritsuji-san. Nanti akan kulaporkan padanya kalau aku membicarakan hal semacam ini bersama Keiji-kun."

"Jangan seenaknya menyeretku ke dalam masalah ini, dong!"

Ujung-ujungnya aku pasti bakal disuruh mendengarkan omelan dialek Kyoto Maritsuji lagi!

"Haa... Belakangan ini memang santer terdengar rumor, tapi kalian berdua benar-benar pasangan tuan dan maid yang sangat akrab ya, Kiyomiya-kun, Hisaka-san."

"...Bahkan murid kelas dua pun tahu soal itu?"

"Shizu nggak bakal mengganggu kalian kok! Jadi tolong, izinkan aku bergabung dengan kelompok kalian!"

Selesai berkata demikian, Shizu-senpai membungkuk cepat. Meskipun tampak mungil, dia tetaplah seorang ojou-sama dari keluarga terpandang; seperti dugaan, bungkukan itu sangat memukau dan selaras sempurna dengan etika tata krama.

"Jadi, menurutmu Shizu-senpai itu mata-mata dari pihak mana?"

"Kepribadianmu jelek banget ya, tahu nggak."

Kusuruh Shizu-senpai mengisi formulir pendaftaran untuk bergabung dengan Seishinkai, lalu kami membubarkan diri untuk hari ini.

Mengingat hanya ada tiga anggota yang hadir dan kami juga belum punya rencana kegiatan khusus.

Saat ini, aku sedang berjalan pulang bersama Sayaka yang sudah berganti kembali mengenakan seragam sekolahnya.

Karena tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan fakta bahwa kami tinggal di satu rumah yang sama, kami bisa pulang bersama dari sekolah.

"Aku juga sempat memikirkannya, tapi ada terlalu banyak alasan bagiku untuk diincar sehingga sulit untuk mengerucutkannya."

"Jadi kamu juga mencurigainya ya, Sayaka."

Maksudku, wajar saja bagi siapa pun, tak peduli sebaik apa pun hatinya, untuk menaruh curiga pada seseorang yang tiba-tiba ingin bergabung dengan faksi kami.

"Saat ini, tidak ada alasan kuat untuk bergabung dengan faksi kita. Paling tidak, faksi kita bukan tipe tempat yang akan dituju oleh orang netral yang sekadar mencari tempat bernaung."

"Itu benar. Kepribadian pendiam Sugawara-senpai tampaknya bukan sekadar akting, dan sulit membayangkan dia mau bergabung ke faksi yang mencolok karena diisi orang-orang terkenal seperti dirimu dan Maritsuji-san, Keiji-kun."

"Begitu ya, ada alasan itu juga, toh."

Perlu dicatat, baik Sayaka maupun Maki sebenarnya juga tergolong orang terkenal. Tampaknya kami bisa memikirkan banyak sekali alasan untuk mencurigai Shizu-senpai.

"Yang paling mencurigakan tentu saja faksi Fujikawa, tapi... mereka kemungkinan besar tidak bisa melakukan pergerakan mencolok untuk saat ini."

"Mereka menyusupkan mata-mata untuk memastikan pergerakan kita... bukan, jangan-jangan tujuannya untuk menyelidiki kelemahan kita?"

Sayaka melipat kedua tangannya di dada dan tenggelam dalam lamunan sembari terus melangkah. Haruskah kuserahkan urusan ini pada otak brilian maid-ku saja?

"Ah, mereka memasang perangkap madu untuk Keiji-kun demi merusak pertunanganmu dengan Maritsuji-san. Sebagai bonusnya, kalau Keiji-kun berani menyentuh bocah loli seperti itu, eksistensi sosialmu juga akan musnah seketika."

"Selamat tinggal, Master."

"Jangan mencampakkanku semudah itu, dong!"

Sudah kuduga, urusan ini tidak bisa kuserahkan pada otak Sayaka!

"Oalah, Sugawara Shizu-senpai, ya. Padahal aku sempat penasaran siapa yang baru saja bergabung."

"Uwah!"

"Oh, Maki-san."

Tiba-tiba saja, Maki muncul dari belakangku dan Sayaka.

"K-Kamu bukannya lagi ada urusan?"

"Urusanku sudah kelar dan pas mau pulang, aku melihat pasangan mencurigakan jalan berdua. Aku coba buntuti kalian, tapi sepertinya pembicaraannya nggak mengarah ke hal-hal mesra sama sekali."

"Mau ngapain coba kamu pakai membuntuti segala? Yah, kalau kamu sudah dengar, urusannya jadi cepat."

"Maki, ada murid kelas dua bernama Sugawara Shizu-senpai yang mengajukan formulir untuk bergabung dengan faksi kita. Menurutmu bagaimana?"

"Kalian nggak memeriksa apakah dia membawa senjata tajam sebelum masuk ke ruang belajar?"

"Aku nggak mencurigainya sampai sejauh itu, kali."

Kurasa Shizu-senpai tidak akan berbuat sampai sejauh menyembunyikan belati demi mengincar nyawaku.

"Tapi kamu nggak tahu apa-apa soal Sugawara-senpai, kan, Keiji?"

"Cuma sebatas waktu kami bertemu di ruang persiapan Departemen Bahasa Jepang tempo hari."

Meski deretan murid di Sōshūkan nyaris tidak pernah berubah sejak bangku SD, tetap saja ada orang-orang yang tidak kamu kenal jika berbeda tingkatan kelas.

Terlebih lagi jika orang tersebut bukan berasal dari keluarga yang punya pengaruh kuat saat ini dan sosoknya sendiri teramat pendiam.

"Sepertinya kamu kenal Sugawara-senpai ya, Maki-san?"

"Ya iyalah, panggilan akrab kami saja 'Shizushizu' dan 'Makki'."

"Bohong."

Mana mungkin hubungan kalian sedekat itu sampai saling memanggil dengan nama panggilan seakrab itu. Andai sedekat itu, Shizu-senpai setidaknya pasti akan menyebut nama Maki.

"Biar begini aku kan informan, jadi aku juga tahu soal Shizu-chan-senpai. Berhubung keluarga Sugawara memang sudah runtuh, jadi sebenarnya tidak ada hal istimewa yang bisa diselidiki dari keluarganya."

"Kalau keluarganya berada di tingkatan yang tidak punya pengaruh di luar, berarti tidak masalah. Dia sendiri juga tidak tampak memiliki niat tersembunyi."

Sepengamatanku, setidaknya dia tidak terlihat seperti tipe orang yang bersedia aktif memainkan peran sebagai mata-mata.

"Kamu ini naif sekali... Keiji-kun, hatimu itu terlalu lembut padahal sikapmu sinis begitu."

"Aku nggak sinis!"

"Agak maksa ya kalau bilang nggak sinis setelah selama ini berpura-pura jadi lentera siang bolong yang tak berguna. Tapi serius deh, kurasa memandang orang lain dengan prasangka itu dosis yang pas buatmu."

"Aku juga setuju. Menurutku lebih baik mengawali dengan rasa curiga jika merasa ada hal yang mencurigakan walau hanya sedikit."

"Menurutku kamu maupun Sayaka juga mencurigakan kok, Maki, tapi aku tetap berinteraksi normal dengan kalian sebagai teman dan maid."

"Aku memang mencurigakan, tapi aku nggak bakal mencelakaimu."

"Pergerakanku memang suka mencurigakan, tapi aku nggak bakal menjebakmu, Keiji."

"Kamu suka menjebak orang, Maki? Itu kelewat seram, tahu."

Itu bukan hal yang wajar dilakukan oleh anak cewek SMA.

"Kalau begitu, Keiji, aku bakal pergi menyelidiki Shizu-chan-senpai! Oh iya, minta dana kegiatan dong!"

"Boleh, berapa banyak yang harus kuberikan?"

"...Oh iya ya, Keiji kan tuan muda yang kaya raya melintir."

"Aku paham maksudmu. Kadang-kadang aku sendiri juga hampir melupakannya."

"...Jadi kamu cuma bercanda."

Aku malah menganggap perkataanmu barusan dengan serius.

"Tapi ya sudah, aku bakal memeriksa latar belakang Shizu-chan-senpai untukmu. Lagipula—"

"Kenapa?"

"Aku setuju kalau dia bukan orang jahat. Kenapa tidak kita sambut saja dia, lalu kita jadikan agen ganda sekalian?"

"L-Licik banget pikiranmu..."

Jangan-jangan kamu ini sebenarnya mata-mata, bukannya informan, ya, Maki?

"Acara besar sebentar lagi tiba, jadi kita harus membereskan benih-benih masalah sejak awal, kan?"

"Hm? Acara besar apa?"

"Kamu lupa, Keiji? Yah, kurasa baik Keiji maupun kita memang nggak pernah ada urusan dengan hal itu sampai sekarang."

"Apa yang sedang kamu bicarakan, Maki-san?"

Sayaka tampak bingung, sepertinya dia juga sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.

"Kita kan sudah membentuk faksi, jadi mulai kali ini kita bakal berpartisipasi—dalam 'Festival Hōki'."



Chapter 10 | ToC | Chapter 12

Post a Comment

Post a Comment

close