NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki Datta Ko wo Meido ni Shitara Volume 2 Chapter 6

Chapter 06

Maid Tidak Terbiasa Dikhawatirkan


"Sayaka, kamu nggak apa-apa?"

Begitu jam pelajaran olahraga selesai, aku menunggu Sayaka kembali ke kelas. Aku menariknya ke lorong sepi yang berada di bagian belakang, lalu memeluknya erat-erat.

"Aku melihat pelajaran olahraga tadi. Apa mereka melakukan hal lain padamu?"

"Um, tunggu sebentar. A-Apa-apaan... ini?"

Wajah Sayaka memerah saat ia mendongak menatapku.

"Aku cuma khawatir banget sama kamu, Sayaka."

"T-Tolong, tunggu dulu! Kamu kan bukan tipe orang yang gampang cemas... Ah, k-kamu boleh memelukku, tapi sedikit lebih lembut, dong...!"

"Ah, maaf."

Kulonggarkan dekapan lenganku pada Sayaka.

"T-Tapi kenapa tiba-tiba begini..."

"Aku jadi cemas kalau nggak memelukmu."

"Ngomong apa sih... K-Keiji-kun, tubuhmu ternyata kekar juga, ya..."

"Hm? Ya, lagipula aku memang berolahraga sedikit."

Aku sempat melupakan hal itu dan memeluknya sekuat tenaga karena rasa cemas yang teramat sangat. Aku mendekap Sayaka dengan lembut selama beberapa saat, lalu melepaskannya dengan berat hati.

"Fuh..."

"Jangan mendesah lega begitu. A-Aku memang mengizinkannya barusan, tapi bukan berarti kamu bisa memelukku sesuka hati."

Sayaka yang wajahnya masih merona melayangkan tatapan tajam padaku.

"Sekarang ini di luar jam kerjaku, jadi pelukan tadi jatuhnya layanan cuma-cuma."

"Kalau begitu, nanti kubayar terpisah sebagai opsi berbayar."

"Kamu ini bicaranya sama sekali nggak imut, ya."

"Kamu sendiri yang mulai bicara nggak imut duluan."

Gawat, padahal niatku datang untuk menenangkan Sayaka, tapi ujung-ujungnya kami malah kembali ke dinamika obrolan biasa.

Nggak, kalau Sayaka berada dalam bahaya, aku harus melindunginya apa pun yang terjadi.

Secara teknis, aku sudah menyatakan perasaan padanya, kan?

Rasanya seperti aku menembaknya di tengah kekacauan seputar pembicaraan pertunangan dengan Maritsuji, tapi ketulusanku seharusnya sudah tersampaikan.

Entah fakta bahwa dia adalah anak kandung keluarga Kiyomiya ataupun masalah ini, Sayaka selalu bertingkah seolah tak terjadi apa-apa setiap kali ada peristiwa besar yang menimpanya.

Padahal di sini aku merasa khawatir setengah mati.

"Aku benar-benar baik-baik saja. Atau lebih tepatnya, keadaannya tidak banyak berubah dari sebelumnya. Lagipula sejak dulu aku praktis diabaikan oleh murid-murid perempuan lainnya."

"Diabaikan, katamu... Kalau menurutku, kamu itu lebih terkesan menyendiri dengan angkuh, Sayaka."

"Begitu menurutmu? Yah, bahkan sampai sekarang pun cuma Maki-san satu-satunya murid perempuan yang kuajak bicara."

"Jangan menghapus keberadaan Maritsuji begitu saja, dong."

Kedua orang ini benar-benar tidak pernah akur.

"Aku mau kembali ke kelas sekarang. Kamu berniat tobat dari fase sampahmu itu, kan? Membolos kelas itu tidak baik."

"Iya, aku tahu."

Aku berjalan mendahului Sayaka.

"Ah, permainan basketmu tadi luar biasa banget. Dribble sama tembakanmu sama-sama spektakuler."

"Aksi seperti itu mudah saja dilakukan. Pada akhirnya, mereka semua hanyalah gadis-gadis manja yang terbiasa hidup terlindung."

"Tak ada satu pun dari mereka yang rela mengorbankan fisik demi mengejar bola sepertiku, makanya aku jadi kelihatan menonjol."

"Aku tahu refleksmu bagus, Sayaka, tapi ternyata kamu juga memang jago olahraga bola, ya."

"Itu ajaran ibuku. 'Otak dan keterampilan rumah tangga memang penting, tapi yang paling utama adalah kekuatan fisik. Selama kamu punya kekuatan untuk melindungi diri sendiri, kamu bisa melewati hampir semua hal di dunia ini,' begitu katanya."

"Ibumu ini orang yang berbahaya atau bagaimana, sih...?"

Hisaka Tsukasa, ya.

Kalau dipikir-pikir, aku hanya pernah melihat wanita yang disebut sebagai ibu Sayaka itu lewat selembar foto.

Itu adalah foto dirinya yang mengenakan seragam maid, berdiri berdampingan bersama ayahku.

Kupikir dia sangat cantik, seperti yang diharapkan dari sosok ibunya Sayaka—tunggu, bukan begitu. Dia kan bukan ibu kandung Sayaka.

"Wanita itu ibu kandungku, kan..."

"Kamu lupa, ya? Tidak apa-apa, kamu boleh melupakannya terus. Ayahmu adalah Kiyomiya Takatsugu, hanya itu yang perlu kamu ingat."

"...Yah, secara hukum memang begitu."

Aku belum pernah melihat kartu keluargaku sendiri, tapi kemungkinan besar aku terdaftar resmi sebagai anak kandung Kiyomiya Takatsugu.

Andai tidak begitu, para kerabat keluarga Kiyomiya pasti sudah melenyapkan keberadaanku sejak lama.

Sebab, klan Kiyomiya dipenuhi oleh paman, bibi, dan para tetua yang menakutkan.

Dibandingkan mereka, Hisaka Tsukasa sama sekali tidak ada seram-seramnya—

"...Hm?"

"Ada apa? Menatap wajahku lekat-lekat begitu. Kalau kamu melihatnya terlalu lama, kujadikan opsi berbayar lho, tahu nggak?"

"Kamu ini benar-benar nggak ada manis-manisnya, ya? Bukan apa-apa, aku cuma berpikir kalau kamu dan Hisaka Tsukasa nggak mirip sama sekali—"

"Berpikir, katamu? Sudah sewajarnya kalau kami tidak mirip, kan."

Benar juga, mereka tidak punya hubungan darah, jadi wajar saja kalau wajah keduanya tidak mirip. Namun—

"Kamu dan maid di foto itu punya aura yang mirip. Terutama kesan dingin yang membuat orang lain susah mendekat."

"Aku pun tidak berniat menyebut diriku orang yang ramah atau mudah bergaul, tapi perkataanmu tadi tidak terdengar seperti pujian, tuh."

"Nggak, aku lagi memujimu kok. Bukannya aura menyendiri yang angkuh itu bagus? Rasanya aku ingin kamu tetap menjadi dirimu yang sekarang selamanya, Sayaka."

"Menjijikkan."

"Kamu mengatakannya langsung di depan mukaku?!"

Hinaannya benar-benar khas cewek SMA!

Padahal kamu memang cewek SMA, sih!

"Karena dibesarkan olehnya, wajar saja kalau kepribadian kami mirip. Mental ibuku juga kelewat kuat, jadi bagi putrinya ini, perundungan dari para gadis hanyalah seperti hembusan angin sepoi-sepoi."

"..."

Mengenal kepribadian Sayaka, kurasa dia tidak akan mau mengaku sejujurnya sekalipun keadaan terasa berat baginya.

Meski demikian, hal yang paling merepotkan adalah dia benar-benar tampak tidak terganggu sama sekali...

"Keiji-kun, aku menghargai kekhawatiranmu, tapi kamu tidak perlu memikirkannya. Aku cuma tidak dioper bola saat pelajaran olahraga, hanya itu. Masalah sepele begitu bahkan belum sampai taraf perundungan."

"Memang benar, tapi pemilihan waktunya mencurigakan."

Aku terganggu karena perlakuan kasar yang terang-terangan ini dimulai tepat setelah kami membentuk faksi.

Sikap Fujikawa juga terlihat mencurigakan...

"Posisi kamu di faksi kita memang paling rentan, Sayaka. Kamu jadi sasaran empuk."

"Dulu aku sempat hampir dikeluarkan dari sekolah, tapi Master-ku yang baik hati ini menyelamatkanku, jadi aku pasti akan baik-baik saja. Yang lebih penting lagi—"

"Hm?"

Sayaka menatap mataku lekat-lekat.

"Kamu sendiri selalu dirundung karena statusmu sebagai anak haram keluarga Kiyomiya, kan? Bukannya bermaksud lancang, tapi aku ingin kamu lebih mencemaskan dirimu sendiri ketimbang orang lain."

"Secara teknis aku ini tetap putra kepala keluarga Kiyomiya. Mungkin karena itulah perundungan mereka hanya sampai di batas tertentu, karena status anak Kiyomiya bertindak sebagai perisai. Tapi—"

"Aku tahu apa yang mau kamu katakan, Keiji-kun. Kamu mau bilang kalau aku tidak akan dirundung seandainya mengungkapkan statusku sebagai anak Kiyomiya? Kamu terlalu naif, Keiji-kun."

"Naif?"

Seperti yang diharapkan dari siswi peringkat atas, kepekaannya ini sangat membantu.

"Kamu pernah diseret ke ruang klub basket dan nyaris dipukuli sampai babak belur, kan? Perlakuan seperti itu tidak bisa disebut 'hanya sampai di batas tertentu', melainkan sudah layak dilaporkan ke polisi."

"..."

Maksud Sayaka, sekalipun dia mengungkapkan bahwa dirinya anak kandung keluarga Kiyomiya, dia tetaplah berstatus anak haram. Posisinya tidak akan jauh berbeda dari keadaannya sekarang.

"Bukan begitu, aku paham kok. Mari kita sudahi perdebatan soal siapa di antara kita yang merupakan anak keluarga Kiyomiya."

"Ayo kita sudahi."

"Pokoknya kamu harus tetap waspada terhadap orang lain untuk sementara waktu, Sayaka. Masih mending kalau cuma berhenti di urusan tidak dioper bola, tapi hal-hal semacam ini biasanya cenderung memburuk. Aku juga bakal mengawasimu di kelas, tapi—"

Ponsel pintarku bergetar, lalu kukeluarkan benda itu dari saku. Ada pesan LINE masuk dari Maki—sebuah foto baru saja dikirimkan.

"Ini kan..."

Itu adalah foto tepat di saat Sayaka melakukan tembakan melompat yang spektakuler tadi.

Dadanya yang montok tampak memantul hebat, dan keliman kaos olahraganya tersingkap hingga memperlihatkan perutnya yang putih mulus.

Karena mengenakan celana pendek, paha putihnya pun tampak begitu menyilaukan—tunggu, bukan itu intinya.

Saat dilihat dalam bentuk foto seperti ini, bagian bawah bajunya ternyata tersingkap jauh lebih tinggi dari dugaanku, dan dadanya memantul dengan sangat memukau.

"Dari Maki-san? Ya ampun, gadis di foto ini manis sekali."

"Sifat percaya dirimu itu makin hari makin luar biasa saja, ya. Kata Maki, foto ini sedang beredar luas di kalangan murid laki-laki dengan kecepatan tinggi."

"Sekali bocor, hal semacam ini pasti langsung menyebar dalam sekejap," ucap Sayaka tenang seraya menatap foto dirinya sendiri lekat-lekat.

"Ini jelas-jelas foto candid mesum... Padahal membawa ponsel ke pelajaran olahraga itu dilarang."

"Ada banyak murid yang tidak mematuhi aturan itu. Selalu ada beberapa orang yang membawanya setiap saat, dan guru-guru pun tutup mata selama tidak mengganggu jalannya pelajaran."

"Kurasa anak laki-laki juga sering melakukannya. Tapi tetap saja, foto ini diambil dengan sudut yang sangat pas."

"Ponsel pintar zaman sekarang memang menakutkan, ya."

"Mungkin mereka mengekstrak gambar diam dari rekaman video."

"Mereka benar-benar berhasil menemukan dan mengambil momen krusial yang tepat. Hah, inilah sebabnya kaum pria selalu..."

"Hm? Kamu nggak marah, Sayaka?"

Dia tetaplah sosok Hisaka-san yang dingin di sekolah seperti biasanya.

Dia bahkan tidak melayangkan tatapan jijik seperti sedang melihat sampah, yang sesekali biasa ia arahkan padaku.

"Lagipula mereka tidak mengambil foto pakaian dalam atau tubuh telanjangku. Tentu saja, satu-satunya orang yang kuperlihatkan pakaian dalam atau tubuh telanjangku hanyalah Master seorang, jadi hal itu seharusnya tidak cuma memuaskan hasrat seksualmu, melainkan juga hasrat monopolimu."

"Dua-duanya sama sekali belum terpuaskan! Berikan aku lebih—tunggu, bukan begitu maksudku."

"Kamu boleh menyelesaikan kalimatmu tadi, lho. Kamu bebas mengatakan apa pun padaku karena aku ini maid-mu; aku sungguh tidak keberatan."

"Ya mana bisa kulakukan."

Mengatakan "Puaskan hasratku lebih banyak lagi" bakal terdengar sangat parah sekalipun cuma bercanda.

"Mengingat mereka murid sekolah ini, sepertinya mereka tidak akan menyebarkan foto itu ke luar. Pelakunya pasti seorang murid, jadi bukankah mereka hanya akan menyimpannya di lingkungan sekolah saja?"

"Di sekolah biasa, pasti ada satu atau dua orang idiot yang bertindak bodoh, tapi bagaimanapun juga ini adalah Sōshūkan."

Kecuali Sayaka, setiap murid di sini memikul beban nama besar keluarga di pundak mereka.

Jika foto yang diambil diam-diam itu bocor ke media sosial hingga memicu kehebohan besar dan pelakunya teridentifikasi, nama keluarga mereka akan tercoreng.

"Kalau begitu, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Aku yakin anak laki-laki juga ingin melihat foto gadis cantik."

"Yang mengambil foto ini kemungkinan besar perempuan."

"Hah?"

"Waktu pelajaran tadi, lapangan putra dan putri kan dipisahkan oleh jaring, bukan? Foto ini tidak diambil menembus jaring. Dan aku sangat ragu ada anak laki-laki yang cukup bodoh untuk menerobos ke area putri demi mengambil foto diam-diam."

"Masuk akal juga. Kamu cukup jeli."

"Sayaka, apa kamu sendiri tidak merasa terguncang sedikit pun? Siapa pun pasti bakal menyadari hal seperti ini."

"..."

"Ada kemungkinan masalah ini bakal makin parah. Kalau pelakunya perempuan..."

Aku sebenarnya tidak ingin membayangkannya, tapi andai pelakunya perempuan, mereka bahkan bisa saja merekam Sayaka diam-diam saat sedang berganti pakaian di ruang ganti.

Mereka memang tidak mungkin menyebarkan foto semacam itu di lingkungan sekolah, tapi tetap saja...

"Kiyomiya-san! Hisaka-san!"

Tiba-tiba saja, Maritsuji datang melangkah dari ujung lorong seberang. Berbeda dengan langkah anggunnya yang melayang pelan seperti biasa, derap kakinya terdengar begitu terburu-buru dan kasar.

"Waduh, Maritsuji?!"

"Apa kalian sudah melihat ini?"

"Iya..."

Di layar ponsel yang diacungkan Maritsuji, terpampang foto tembakan Sayaka tadi.

"Ini foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi, kan... Aku bahkan bisa merasakan nuansa mesum di dalamnya. Kiyomiya-san, apa foto ini membuatmu terangsang?"

"Jangan jadikan aku tolak ukur buat menentukan sesuatu itu mesum atau tidak, dong."

"Ah, mohon maaf. Tampaknya aku sedang sedikit emosi."

"Kenapa Anda begitu emosi, Maritsuji-san? Anda kan membenciku?"

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanmu melalui cara-cara yang tidak adil."

Maritsuji tidak menjawab pertanyaan apakah dia membenci Sayaka atau tidak. Namun tampak jelas bahwa dari lubuk hati terdalam, ia benar-benar murka atas tindakan pemotretan diam-diam tersebut.

"Tidak apa-apa. Biar aku yang menangani masalah ini, jadi tolong tenanglah."

"Hiiy..."

Maritsuji merengkuh Sayaka—meskipun karena tubuh Maritsuji lebih mungil, pemandangan itu lebih terlihat seperti dia sedang menempel erat pada Sayaka.

"A-Ada apa dengan Anda, Maritsuji-san? Dari sekian banyak orang, justru Anda..."

"Ah, mohon maaf. Aku hanya terbawa dorongan sesaat."

"...Mengejutkan sekali Anda bisa bertindak spontan hanya karena diriku."

"Apa itu mengganggumu?"

"Tentu saja tidak. Terima kasih banyak."

"...T-Tidak perlu berterima kasih. Aku adalah putri keluarga Maritsuji yang terhormat; aku pantang memaafkan ketidakadilan."

"Bukankah posisiku ini musuh Anda?"

"Siapa dirimu itu tidak penting, Hisaka-san. Aku harus bertindak demi menjaga martabat keluarga Maritsuji."

Sosok tubuh mungil Maritsuji yang mengatakannya dengan raut bermartabat itu anehnya terlihat jauh lebih besar.

Sayaka kemungkinan juga melihatnya dengan cara yang persis sama.

"Kiyomiya-san, begitu kamu menemukan pelakunya, tolong bawa orang itu ke hadapanku."

"K-Kamu mau membunuhnya?"

"Aku sungguh ingin tahu secara mendetail apa sebenarnya pandanganmu terhadap diriku, Kiyomiya-san. Kami ini keluarga Maritsuji, bangsawan dari segala bangsawan; kami takkan pernah menggunakan cara-cara kasar seperti kekerasan."

Maritsuji melayangkan tatapan tajam ke arahku sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

"Benar, pelakunya kemungkinan seorang perempuan, jadi aku ingin menghindari tindakan kasar."

"Kalau begitu, kita akan menggelar pesta minum teh di ruang teh keluargaku dan menyuruhnya berpartisipasi."

"Pesta minum teh?"

"Benar, kita akan menyuruh si pelaku datang mengenakan kimono. Jika dia memang murid sekolah ini, dia pasti memiliki satu atau dua potong kimono."

"Menghadiri pesta minum teh dengan mengenakan kimono... sewajarnya itu berarti harus duduk bersimpuh dalam posisi seiza, kan?"

"Ini akan menjadi pesta minum teh santai antarteman saja, namun kami tetap akan memintanya mematuhi etika paling mendasar. Ngomong-ngomong, meskipun aku lemah dalam olahraga dan kurang stamina, aku sanggup duduk dalam posisi seiza selama lima hingga enam jam berturut-turut tanpa bergerak."

"...Ngomong-ngomong, apa ruang teh keluargamu dilengkapi pendingin ruangan, Maritsuji-san?"

"Di luar cuacanya sudah cukup panas, jadi ini pasti akan menjadi cobaan yang sangat berat."

"..."

Perlahan-lahan, seulas senyum mulai mengembang di wajah Maritsuji.

Duduk seiza selama lima sampai enam jam di ruang teh yang panas tanpa AC?

Siksaan semacam itu justru membuat kekerasan fisik terasa jauh lebih mendingan.

"Aku mulai merasa kasihan pada pelakunya."

Aku sangat setuju dengannya.



Chapter 5 | ToC | Chapter 7

Post a Comment

Post a Comment

close