Penerjemah: Arif77
Proffreader: Arif77
Chapter 7
Rahasia Taman Bunga - Hanazono no Himitsu
“Ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan denganmu, Remi.”
“Apa?”
Aku berhenti mengerjakan PR dan mengangkat wajahku.
Setelah sempat mengalihkan pandangan, Ibu mulai bicara.
“Kita sepertinya harus pindah rumah.”
“Pindah?”
Karena ucapan yang begitu mendadak, aku sampai berkedip beberapa kali.
“Kenapa? Karena rumah kita mulai terasa sempit?”
“Bukan, bukan karena itu.”
“Kalau begitu, aku lebih suka tetap tinggal di sini. Ibu juga lebih nyaman kalau tetap dekat dengan keluarga Yoshiki, kan?”
Sejak kecil, keluarga kami selalu dekat dengan keluarga Yoshiki.
Karena sudah akrab, rasanya sayang kalau harus melepas hubungan itu.
Lagi pula, rumah ini cukup luas untuk keluarga berisi tiga orang, dan tidak ada yang membuatnya terasa tidak nyaman.
“Itu dia… kita nggak bisa begitu saja memilih untuk tetap di sini.”
“Kenapa memangnya?”
Ibu merapatkan bibirnya, lalu menunduk seperti sedang mencari kata-kata.
“Soalnya, kepindahan kantor Ayah sudah diputuskan.”
Dunia rasanya langsung menggelap.
Enam tahun berada di sekolah dasar, aku sudah beberapa kali melihat teman-temanku pindah sekolah.
Dan alasannya selalu sama: pindah tugas orang tua.
Alasan yang sangat sering didengar. Mungkin karena itu, firasat buruk langsung menjalar ke seluruh tubuhku.
“Eh… pindah tugasnya kan masih dekat, kan?”
Ibu terdiam sejenak sebelum menjawab.
“...Sekitar satu jam naik mobil, mungkin. Yang jelas, zona sekolahnya pasti berubah.”
Hawa seperti listrik menyambar seluruh tubuhku.
Kenapa? Bagaimana bisa?
Wajah yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah wajah sahabat masa kecilku.
Yoshiki Ryōta.
Satu-satunya laki-laki yang pernah kusukai sepanjang hidupku.
Aku sudah berniat memastikan perasaannya sebelum lulus nanti… tapi justru di saat terakhir, aku malah harus berpisah.
“Ini sudah pasti?”
Dengan suara bergetar aku bertanya. Ibu menjawab dengan raut menyesal.
“Sudah. Maaf ya, ini memang mendadak. Kita pindah… satu minggu lagi.”
Keputusan yang terlalu tiba-tiba membuat pandanganku berputar.
Dunia yang kukenal seakan runtuh begitu saja.
“Kalau gitu apa gunanya bilang mau ‘diskusi’? Ini mah sudah keputusan.”
“Maaf, Ibu benar-benar maaf. Padahal kamu belum lulus sekolah. Tinggal sebentar lagi menuju upacara kelulusan…”
“Walaupun sudah lulus pun tetap sama saja! Aku ingin terus tinggal di sini. SMP, SMA… semuanya.”
“...Maaf ya. Tolong mengerti.”
Aku mengerti.
Aku harus mengikuti mereka.
Aku belum SMP, belum punya kemampuan hidup mandiri. Aku tidak bisa hidup tanpa orang tuaku, baik secara fisik maupun secara perasaan—aku memang menyayangi mereka.
Karena itu, kesimpulannya sebenarnya sudah jelas: aku harus ikut.
“...Jadi, aku nggak bisa ketemu Ryōta lagi. Rasanya… nggak bisa kubayangkan.”
“Ibu juga sedih.”
“...Begitu ya.”
Yang sedih bukan cuma aku. Ibu juga pasti sedih.
Keluarga Yoshiki sudah seperti keluarga sendiri. Ibu yang biasanya susah cocok dengan para ibu lain, selalu terlihat gembira saat bersama Mama Ryōta yang ceria.
Ayah pun pasti berat.
Di tempat kerjanya sekarang, tiap hari Jumat pulang dalam keadaan wajah memerah setelah minum—katanya memang begitu kalau orang dewasa minum alkohol. Tapi beliau selalu ceria, dan tidak pernah mengeluh tentang pekerjaannya.
Justru minggu ini, Ayah terlihat sangat murung… mungkin karena ini.
“Kalau begitu, apa Ayah nggak bisa meminta pindah divisi atau pekerjaan lain?”
“...Nggak bisa. Dia orang dewasa, Remi.”
“Orang dewasa… iya, sih.”
Kalau dibalik, ucapan tadi sama saja seperti aku berkata “Ayah saja yang pindah sekolah.”
Setelah menyadari betapa egoisnya permintaanku, sisa-sisa keinginanku untuk melawan pun ikut padam.
“Kalau begitu… ya. Jadi aku nggak bisa ketemu Ryōta. Aku sama sekali nggak bisa membayangkan rasanya.”
“Ibu juga sedih.”
“...Iya.”
Aku bukan satu-satunya yang kesulitan. Ibu, Ayah, semuanya sama.
Wajah Ryōta terlintas kuat di kepalaku.
“…!”
—Aku tidak mau menyerah.
Sebenarnya aku sama sekali tidak mau pindah.
Akhir-akhir ini aku dan Ryōta memang jarang bicara. Sejak kelas 6, itu semakin terasa.
Mungkin karena itu, akhir-akhir ini aku jadi sering memperhatikannya diam-diam, bahkan saat kami tidak bicara.
Tidak, mungkin aku sebenarnya sudah sadar sejak lama. Hanya saja belum mengatakannya.
Jika aku bicara dengannya lagi… kalau aku bisa berdua saja dengannya… pasti aku bisa mengatakannya.
Perasaan yang kupendam bertahun-tahun, akhirnya sudah mendekati titik jawaban.
Tapi tepat sebelum itu, aku harus pergi.
Walaupun aku mengungkapkan jawabanku, semuanya akan kehilangan makna.
“Andai saja tempat kerja Ayah bisa menunggu sampai upacara kelulusan…”
“Sudah cukup. Aku nggak mau dengar.”
Aku memotong ucapan Ibu dan berlari keluar rumah.
Jika aku menyelesaikan pembicaraan ini, berarti kepindahan itu benar-benar terjadi. Aku belum siap menerima kenyataan itu.
Ibu memanggil dari belakang, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengabaikannya.
***
Begitu keluar rumah, aku sadar uang yang kubawa cuma recehan di saku.
Aku tidak bisa kembali ke rumah hanya untuk mengambil dompet. Yang penting menjauh dulu.
Begitu tiba di jalan perumahan, mataku langsung tertuju pada rumah keluarga Yoshiki.
Rumah yang sering kukunjungi.
Akhir-akhir ini aku jarang masuk ke kamar Ryōta, tapi banyak kenangan tersimpan di sana.
Seperti boneka yang kami menangkan di arcade.
Dan—batu biru kecil saat kami berjanji menikah ketika masih kecil.
…Walaupun Ryōta pasti sudah lupa.
Saat itu, ada suara dari pintu masuk rumah mereka.
Harapan kecil muncul, tapi langsung kubunuh sendiri.
—Aku tidak boleh mengandalkannya.
Kalau aku minta ditampung di rumah mereka, Ibu pasti akan menghubungi ke sana.
Mama Ryōta memang baik, tapi beliau tegas.
Aku pasti langsung dibawa pulang.
Dan kalau aku pergi ke sana, berita kepindahanku pasti sampai ke Ryōta lebih cepat.
…Aku tidak mau itu terjadi.
Aku harus mengatakannya langsung, dengan kata-kataku sendiri.
Aku berbalik dan berlari menuju jalan besar.
Setelah jauh dari area rumah, aku yakin mereka tidak akan mudah menemukanku.
Dengan sisa uang 120 yen, aku naik bus.
Aku hanya ingin pergi jauh, tidak peduli ke mana. Beberapa puluh menit berlalu.
Penumpang makin sedikit. Lalu bus sampai di halte terakhir.
Saat aku turun, setetes air dingin jatuh di pipiku.
Melihat ke atas, langit kelabu sedang menangis.
“Kapan mulai hujan…”
Karena terburu-buru, aku tidak membawa ponsel.
Saat bingung di pintu turun, seorang suara bertanya dari belakang.
“Kamu sendirian?”
Aku menoleh. Sopir bus menatapku dengan khawatir.
Aku tersenyum kecil.
“Iya. Mama nyuruh aku belanja.”
“Oh, begitu. Anak-anak sekarang pintar ya.”
Mungkin Ibu sudah melapor. Kalau aku terlihat mencurigakan, itu bisa merepotkan. Aku hanya ingin sendiri.
“Kamu nggak bawa payung? Mau aku antar ke kantor? Di sana ada payung ekstra.”
“Nggak apa-apa. Aku akan lari pulang.”
“Begitu ya. Hati-hati.”
Dengan tatapan hangat dari sopir itu, aku melangkah ke daerah asing.
Setelah bus pergi, suara hujan yang menghantam tanah terdengar lebih keras.
Aku sedikit menyesal menolak tawaran tadi.
Ternyata hujan yang terus-menerus menghujam badan cukup menguras tenaga.
Setelah beberapa lama berjalan, terlihat sungai besar selebar sepuluh meter dari atas jembatan.
Aku ragu sebentar, lalu turun ke pinggir sungai.
Permukaan air naik karena hujan. Ini pertama kalinya aku melihat banjir kecil dari dekat.
Karena berbahaya jika terlalu lama di bawah, aku naik ke tanggul setinggi satu meter. Di sana ada bangku yang menghadap ke sungai.
Aku menghapus air di bangku beberapa kali sebelum duduk.
Menatap aliran air keruh kecokelatan entah kenapa membuatku sedikit tenang.
Entah sudah berapa lama.
Saat tubuhku mulai menggigil, hujan tiba-tiba mereda.
Ketika aku mengangkat kepala, seseorang berdiri di sana—seorang gadis seusia denganku.
“Nanti kamu masuk angin, tahu?”
“Ah… terima kasih.”
Dia sedang memayungiku dari atas.
Di tengah hujan deras, suaranya terdengar begitu jernih, seperti air sungai yang mengalir lembut.
Dengan suara hujan di atas payung, gadis itu berkata pelan.
“...Kamu sendirian?”
Matanya tampak kesepian.
Tidak seperti tipe gadis yang pernah kulihat di sekolah.
“...Iya. Aku baru saja kabur dari rumah.”
Entah kenapa, aku bisa menjawab jujur. Mungkin karena dia orang asing.
Karena kupikir aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, aku merasa bisa mengatakan apa saja.
Dia sempat membuka mata sedikit lebar, tapi hanya menjawab, “Begitu.”
Dia duduk di sampingku dan memiringkan payungnya yang besar, cukup untuk menaungi kami berdua dari hujan dingin.
Dengan rasa syukur, aku bertanya padanya.
“Namamu siapa? Aku, Nikaidō Remi.”
“...Aku…”
Nama gadis itu Hanazono Yuuka.
***
Meskipun terlihat pendiam, entah kenapa obrolanku dengan Hanazono-san justru sangat nyambung. Mungkin karena kami seumuran, jadi terasa dekat.
“Begitu ya… pindahan, huh. Meskipun itu sudah diputuskan dan tidak bisa diubah, tetap saja menyebutnya sebagai ‘konsultasi’ itu menyebalkan, ya.”
“Benar kan? Setidaknya lakukan konsultasi yang sebenarnya. Kenapa orang tua memutuskan semuanya sendiri, ya?”
“Betul banget.”
Hanya dengan ada orang yang mau mendengarkan keluh kesahmu saja itu belum cukup.
Baru ketika seseorang ikut sependapat, barulah hati perlahan menjadi tenang. Dalam hal soal orang tua, justru Hanazono-san yang terlihat lebih emosional.
“Orang tua itu benar-benar semaunya. Kalau sudah dewasa nanti, apa semua orang akan jadi seperti itu ya?”
“Entahlah… Orang tuaku tidak selalu seenaknya sih. Tapi kalau sedang membuat keputusan besar, orang dewasa memang cenderung begitu.”
Mendengar jawabanku, Hanazono-san mengangguk.
“Makanya kendali penuh selalu ada di pihak mereka. Kita yang belum punya uang tidak bisa hidup mandiri. Soal pindahan ini pun, aku yakin apa pun yang Remi katakan, itu tidak akan mengubah apa pun.”
Memang, pindahan membutuhkan banyak uang.
Aku juga tidak yakin pendapatku bisa mengubah keputusan sebesar itu.
“...Membuat muak ya. Sebagus apa pun kata-kata yang mereka gunakan, pada akhirnya mereka menganggap anak itu seseorang yang harus mengikuti keputusan orang tua.”
Ucap Hanazono-san dengan nada penuh duri.
“Padahal kita juga punya keinginan sendiri.”
Sepertinya Hanazono-san juga punya banyak unek-unek tentang orang tuanya.
Dan perasaan yang ia pendam terasa jauh lebih berat dariku, membuatku justru lebih tenang.
“Tapi… mereka tetap sayang sama kita.”
Orang tuaku rukun.
Masalah kali ini memang pahit, tapi selain itu aku cuma punya kenangan baik. Ayahku memang pernah bercerai, tapi ia menikah lagi dan aku lahir di tahun ia memulai keluarga baru. Mereka selalu menceritakan itu dengan bahagia. Artinya, mereka memang menyayangiku.
Karena itulah aku sangat kecewa ketika mereka tidak melibatkan aku dalam pembicaraan soal pindahan ini.
“Orang tuamu juga pasti begitu, kan?”
Namun Hanazono-san menggeleng pelan.
“...Tidak. Bukan begitu.”
Suara itu terdengar sedih, seperti masih menyimpan sedikit harapan yang tak tercapai.
…Apa aku salah bicara?
Saat aku mulai khawatir, Hanazono-san sedikit menggeser payungnya dan menatap langit.
“Tapi… terima kasih.”
“...Tidak apa. Eh, mau pergi ke convenience store (minimarket) nggak?”
Ia yang tadinya memandang langit, menatapku seolah tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
“Hah? Minimarket?”
“Iya. Kita beli sesuatu bareng. Coklat, atau keripik kentang misalnya.”
“Terdengar seru sih… tapi aku nggak bawa uang.”
“Aku masih punya lima ratus yen. Bisa beli macam-macam.”
“...Beneran?”
Saat aku mengeluarkan uang receh dari saku, mata Hanazono-san langsung berbinar.
“Wow, uang banyak.”
“Itu sebagai balasan karena aku pinjam payungmu.”
Minimarketnya hanya beberapa menit jalan dengan berbagi payung.
Dengan lima ratus yen, kami hanya bisa membeli beberapa camilan, tapi cukup untuk mengganjal perut.
Untuk menghindari hujan, kami masuk ke bilik mesin foto untuk kartu identitas, lalu membuka sebungkus keripik kentang.
Saat kusodorkan bungkusnya, ia meraihnya dengan hati-hati.
“Rasanya seperti sedang melakukan sesuatu yang nakal, ya.”
“Kamu nggak suka?”
“Bukan. Aku justru merasa mungkin aku suka.”
“Syukurlah.”
Karena terbiasa bermain bersama Ryota, aku punya kebiasaan suka melakukan hal-hal kecil yang sedikit bandel. Aku khawatir Hanazono-san bakal ilfeel, tapi sepertinya dia justru mirip.
Setelah memakan beberapa keripik, ia mengembuskan napas bahagia.
“Enak. Aku jarang makan camilan… makasih.”
“Begitu ya. Orang tuamu ketat?”
“Bukan ketat… cuma jarang bisa makan saja. Enak banget ya, Remi. Kamu bisa makan bebas begitu.”
“Yah… soalnya memang selalu tersedia di rumah.”
Karena aku bilang begitu, tiba-tiba muncul firasat buruk.
Aku buru-buru mengecek saku. Tinggal seratus sepuluh yen.
“Hei, bisa pinjem sepuluh yen nggak? Aku salah hitung ongkos bus.”
Dari ekspresi Hanazono-san, aku langsung tahu itu mustahil.
Setelah menyadari kalau aku tidak bisa pulang sendiri, pikiranku langsung mengarah ke orang tua.
Sudah beberapa jam sejak aku kabur dari rumah dan kehujanan pula. Bisa saja mereka lebih khawatir daripada yang kubayangkan.
Begitu aku memikirkan hal itu, rasa camilan yang manis dan gurih hilang begitu saja.
Mungkin menangkap kegelisahanku, Hanazono-san berkata lembut.
“Kalau uangmu nggak cukup, lebih baik cepat ke kantor polisi, ya.”
“Iya… maaf. Aku yang mengajak, tapi malah ceroboh begini.”
“Nggak apa. Waktu keluar rumah tadi, kamu pasti panik.”
Ia melanjutkan.
“Dan hari ini… sangat menyenangkan. Sudah lama aku tidak seperti ini.”
Aku tidak tahu seorang gadis seumuranku sedang melakukan apa sendirian di hari hujan.
Tapi aku merasa tidak boleh menanyakannya.
***
Ketika kami pergi ke kantor polisi, semuanya berjalan lancar.
Sepertinya bagi polisi, kaburnya anak-anak adalah kasus yang cukup sering, jadi aku tidak dimarahi. Hanya diminta duduk dan menunggu.
Karena rumah Hanazono-san dekat, ia diizinkan tinggal untuk menemani sementara.
Sekitar satu jam kemudian—
“Remi!”
Suara tajam terdengar, membuat tubuhku mengejang.
Saat menoleh, kedua orang tuaku sudah berdiri di pintu masuk.
Ibuku mendekat dengan langkah cepat.
—Akan dimarahi.
Aku refleks menutup mata erat-erat.
Tapi beberapa detik kemudian, tubuhku terasa hangat.
Saat membuka mata, ibuku memelukku sambil menangis. Di belakangnya, ayah memegang pundakku dengan wajah menyesal.
“...Ibu, Ayah.”
Tubuhku yang dingin karena hujan perlahan hangat oleh pelukan mereka, meluruhkan kegelisahanku.
Saat membuka mulut, kata-kata itu keluar sendirinya.
“Aku… nggak mau pindah sekolah.”
“Maaf. Ini pertama kalinya Ayah dipindah tugaskan, jadi Ayah tidak memikirkan semuanya baik-baik.”
Ayah berkata sambil meneteskan keringat dan menunduk.
“SMP yang akan kamu masuki itu hanya menerima siswa dari dua wilayah. Kemungkinan kelompok-kelompok pertemanan akan cepat terbentuk. Ayah pikir lebih cepat pindah akan membuatmu lebih mudah beradaptasi. Ayah… terlalu cepat memutuskan.”
Ibu menambahkan.
“Ayahmu dulu sering pindah sekolah waktu kecil. Pengalaman itu yang jadi dasar keputusannya.”
“Begitu…”
Bukan berarti aku langsung setuju.
Tapi setidaknya aku tahu mereka tidak mengabaikanku.
“Kalian… memikirkan aku ya.”
Ayah langsung mengangguk.
“Tentu saja. Tapi Ayah tidak memahami perasaanmu. Belakangan Ayah sering pulang larut dan kita jarang bicara… itu pun hanya alasan ya.”
Aku tidak menganggap itu alasan.
Aku tahu Ayah bekerja sangat keras.
Hampir setiap hari pulang larut, bahkan akhir pekan pun banyak yang ia habiskan dengan bekerja. Aku melihat sendiri punggungnya yang selalu berusaha.
“Kalu Ayah dipindah tugaskan, nanti Ayah bisa libur lebih banyak. Kalau liburnya banyak, kita bisa sering kumpul seperti dulu. Itu juga alasan kenapa kami terburu-buru… seharusnya kami tetap berdiskusi dulu, ya.”
—Berdiskusi.
Aku teringat percakapanku dengan Hanazono-san.
Konsultasi dari orang dewasa sering kali hanya formalitas. Meskipun memikirkan anak, keputusan biasanya tidak berubah.
“...Meskipun didiskusikan, rasanya pendapatku tidak akan mengubah keputusan.”
Ibu menggeleng kuat-kuat.
“Tidak begitu.”
“Kenapa?”
Tanpa sadar aku balik bertanya.
Ayah yang menjawab.
“Karena bagi kami, kamu adalah yang paling penting, Remi. Baik bagi Ayah maupun Ibu.”
Aku tertegun.
Di sampingku, seseorang terdengar terisak kecil.
“Karena itulah… kali ini justru berlebihan. Kamu sudah SMP. Mulai sekarang, kita akan benar-benar berdiskusi.”
“...Aku sebenarnya sudah mendapat pekerjaan di kota baru. Itu bukan sesuatu yang bisa dibatalkan begitu saja, tapi… kami akan mengatur semuanya supaya bisa kembali ketika kamu masuk SMA.”
Ayah mengangguk.
“Kalau pun aku tidak bisa kembali, aku akan tinggal sendirian di sini demi kamu. Yang penting adalah perasaanmu.”
Harapan muncul di dadaku.
Pindahan itu hanya perpisahan sementara.
“...Baiklah. Aku mengerti. Aku akan berpamitan pada semuanya.”
“Kamu… memaafkan kami?”
“...Ini sudah diputuskan, kan.”
Aku memikirkan wajah Ryota.
Kalau dia tahu soal ini, apa dia akan berkata, “Kabur dari rumah itu cupu banget,” tanpa rasa peka?
Kalau dia benar-benar mengatakan itu, bagaimana aku akan menanggapinya?
Tapi karena memikirkan wajahnya, hatiku justru lebih tenang. Aku bisa menerima semuanya.
“...Kita bukan tidak akan bertemu lagi. Kita akan kembali. Itu saja sudah cukup.”
“Benar juga. Dan kalau kamu bilang sekali saja, Ayah bakal jemput kamu setiap minggu.”
“Ih, tiap minggu nggak usah.”
Aku tertawa. Ya, aku bisa tertawa lagi.
Rasanya kejadian ini justru akan menjadi sesuatu yang membantu kami di masa depan.
Setelah pembicaraan selesai, orang tuaku pergi mengambil mobil.
Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada Hanazono-san sekarang.
Saat aku hendak mengucapkan terima kasih, ia tiba-tiba berbisik.
“...Kenapa. Kenapa, kenapa…”
Mungkin hanya perasaanku.
Tadi ia terlihat tenang, tetapi tatapannya pada orang tuaku tampak dipenuhi emosi gelap.
“...Hanazono-san?”
Saat kupanggil namanya, ia menoleh.
Dari tatapannya, aku tidak bisa membaca apa pun.
Barusan tatapannya seperti penuh kebencian, tapi mungkin hanya khayalanku.
“Maaf, aku lagi melamun. Bagus ya, Nikaidou-san.”
“...Iya. Hanazono-san, terima kasih banyak untuk hari ini.”
“...Sama-sama. Aku pulang dulu.”
Ia mulai melangkah pergi.
Cuma orang tuanya belum datang, membuat seorang polisi wanita buru-buru menghentikannya.
“Tunggu sebentar. Kami belum bisa menghubungi orang tuamu. Ini hujan, sebaiknya tunggu dijemput, ya?”
“Orang tuaku nggak akan angkat telepon. Dia orang tua tunggal dan sibuk.”
Jawabannya begitu datar, membuat polisi itu mengernyit cemas.
“Aduh, repot juga ya. Kamu tahu alamatmu?”
“Tahu. Aku punya kunci, jadi aku bisa pulang sendiri.”
“Begitu ya. Kalau begitu, kami antar pakai mobil patroli, ya? Pengalaman spesial, lho!”
Polisi wanita itu bercanda, membuat Hanazono-san terdiam seperti kehilangan kata-kata.
Kelihatannya memang orang baik.
Saat memikirkan itu, aku mengulang kata-kata Hanazono-san di kepalaku.
Orang tua tunggal.
Kata yang ia ucapkan begitu ringan itu menggambarkan kehidupannya.
Satu hari bersama tidak cukup untuk memahami seseorang.
Tapi kata-kata yang ia lontarkan hari ini menumpuk menjadi sesal di dadaku.
***
Saat masuk SMP, aku mendapat kejutan yang menyenangkan.
Gadis yang pernah meminjamkan payung padaku waktu itu—Hanazono-san—ternyata sekelas denganku.
Setelah upacara masuk selesai, aku mengejar Hanazono-san yang hendak keluar dari gerbang sekolah. Lalu tanpa ragu aku memanggilnya.
Karena setelah kami akrab nanti, aku ingin meminta maaf tentang kejadian waktu itu.
“Hey, kamu Hanazono-san kan?”
Hanazono-san menoleh.
Dalam setengah tahun, dia telah berubah menjadi gadis dengan aura yang memesona.
Kulitnya seputih salju, dan bibirnya yang berwarna lembut mampu memikat sesama perempuan.
Namun, entah kenapa dari kecantikan itu terasa ada sesuatu yang dingin.
Tatapan matanya yang bening kehilangan kehangatan, dan senyum tipis di bibirnya mengandung penolakan yang sunyi.
“...Nikaidō Remi-san.”
“...Syukurlah. Aku senang kamu masih ingat namaku lengkap.”
“Tentu saja aku ingat. Mustahil bisa melupakannya.”
“Benar juga. Bertemu saat aku kabur dari rumah itu cukup berkesan. Takdir, mungkin?”
Sambil bercanda ringan, aku berjalan di sampingnya.
Hanazono-san tersenyum kecil.
Senyum samar itu begitu rapi seolah sengaja dibuat.
“Kalau aku tidak bertemu kamu waktu itu, aku mungkin tidak bisa menerima kepindahan sekolah. Terima kasih ya waktu itu.”
Hanazono-san tidak menjawab.
Aku bingung, tapi tetap melanjutkan bicara.
“Aku senang bisa bertemu lagi. Setelah pindah sekolah, aku sempat berpikir mungkin saja kita satu wilayah. Ternyata benar.”
“...Aku kecewa, tahu.”
“Hah?”
Kupikir aku salah dengar.
Suara yang barusan itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan. Berbeda jauh dari gadis yang kuingat.
Hanazono-san menghela napas, lalu dengan suara cerah namun dingin, ia berkata:
“Waktu itu… pemandangan itu benar-benar membuatku muak.”
“Pemandangan apa…?”
“Orangtuamu. Mereka cuma mementingkan diri sendiri, kan? Kenapa kamu bisa menerima itu begitu saja? Jijik banget.”
Kata-katanya datang seperti gelombang yang menghantam dada bertubi-tubi.
Tajam, menusuk. Aku memaksa mulutku menjawab meski tenggorokan terasa panas seperti darah yang mengalir balik dari luka.
“Tunggu… baru sekali ketemu waktu itu. Kamu tidak punya hak bicara sejauh itu.”
“Benar. Karena itu aku juga tidak berniat berteman denganmu.”
“Kamu berubah banget, tahu? Ada apa sebenarnya?”
Hanazono-san mengarahkan tatapannya padaku.
Jelas-jelas dia sedang kesal.
“Enak ya. Kamu hidup tanpa tahu apa-apa.”
“...Apa yang tidak aku ketahui? Coba jelaskan.”
“Mau tahu?”
Hanazono-san mencondongkan kepala, seolah mengamatiku.
Lalu dengan ekspresi getir, ia berkata:
“Kita punya ayah yang sama.”
Nafasku terhenti.
Aku tidak mengerti apa maksudnya.
Kenapa dia berbohong seperti itu?
“Hah? Maksudmu—”
“Aku pulang dulu.”
Hanazono-san berkata dingin, lalu berbalik.
“Tunggu!”
Kalau dipikir kembali, mungkin saat itu dia juga tidak sedang tenang.
Di luar gerbang sekolah, ada jalan kecil tempat mobil melintas.
Hanazono-san tidak menyadari mobil yang mendekat.
***
Hanazono-san dibawa ke rumah sakit, tapi untungnya hanya kakinya yang patah.
Aku menawarkan diri untuk membagikan catatan pelajaran, dan hampir setiap hari menjenguknya selama ia dirawat.
“Kamu datang lagi?”
“Aku ditugaskan guru.”
Aku menarik napas kecil dan menghindari tatapannya yang menyalahkan.
Sepertinya orang tua Hanazono-san tidak pernah menjenguknya.
“Kalau begitu, urusannya sudah selesai, kan? Pulang sana.”
“Minimal bilang terima kasih dong. Waktu pertama kita ketemu, kamu tidak seketus ini.”
Hanazono-san tertawa seolah semuanya sudah tidak penting lagi.
“Kita beda dunia, Nikaidō-san. Kamu percaya? Ibuku bahkan tidak menghubungiku sekali pun, padahal dia berkomunikasi dengan rumah sakit. Aku dibesarkan di keluarga seperti itu. Makanya aku tidak mau berkutat dengan orang yang juga hidup dalam kebohongan.”
“...Alasannya bukan itu, kan? Kamu tidak mau bicara denganku karena kamu curiga pada ayahku, ‘kan?”
Hanazono-san terbelalak.
Sepertinya dia tidak menyangka aku akan menyentuh topik itu duluan.
Hari itu, aku berniat mendapatkan jawaban.
Sambil mengganti bunga di vas, aku bercerita.
“Aku tanya ke ayah, apakah dia punya anak lain selain aku. Tapi dia tidak bohong, aku yakin. Aku tanyakan di depan ibu juga. Ayah itu gampang gugup, jadi kalau bohong pasti kelihatan.”
Hanazono-san berkedip beberapa kali.
Kemudian ia mendengus kecil, tertawa.
“Hahaha, kamu bodoh ya? Tanya langsung begitu, hampir saja keluargamu hancur. Kamu sadar?”
“...Itu satu-satunya cara. Kalau coba memancing, pasti ketahuan. Tanya ibu juga tidak mungkin—aku pasti langsung dimarahi.”
“Aku pikir keluarga menjijikkan seperti itu sebaiknya bubar saja… tapi kalau sampai hancur kamu kasihan, jadi kuberitahu.”
Hanazono-san menunduk melihat gips di kakinya, lalu berkata pelan:
“Ayahmu tidak tahu soal keberadaanku.”
“Huh?”
“Kemungkinan itu tidak terpikirkan? Atau terlalu kejam sampai kamu tidak bisa membayangkannya?”
Aku terdiam.
Memang tidak terpikir sejauh itu. Tanpa sadar aku selalu menganggap ayah hanya terikat dengan ibuku.
“Ibuku baru tahu hamil setelah putus dari ayahmu. Awalnya dia tidak cerita pada siapa pun. Di situ aku masih bisa maklum. Yang kupikirkan hanyalah... kenapa dia tetap melahirkanku.”
Kata-katanya dalam bentuk lampau. Artinya, sekarang dia sudah menemukan jawabannya.
Sebelum aku bertanya, dia melanjutkan:
“Kayaknya... dia pikir dengan melahirkan aku, dia bisa menarik perhatian ayahmu. Aku itu barang dagangan dalam negosiasi.”
—Tidak mungkin orang tua memperlakukan anak seperti barang.
Begitu pikiranku berteriak, tapi kenangan buruk tiba-tiba melintas.
Pada hari hujan itu, aku menyadari bahwa “nilai-nilai yang kupikir normal” bisa menyakiti orang lain.
“Setelah aku lahir, ibuku mencoba mendekati ayahmu lagi. Tapi saat itu ayahmu sudah menikah lagi, dan istrinya baru melahirkan. Jadi ibuku mundur. Negosiasinya gagal. Melahirkanku sia-sia. Dia bilang begitu langsung, jadi sudah pasti benar.”
Hanazono-san mengangkat bahunya.
Seolah semua itu bukan hal penting.
“Itu sebabnya aku tidak tahu untuk apa aku hidup. Kalau orang bilang ‘hidup untuk diri sendiri’, rasanya tidak masuk akal. Aku tidak minta dilahirkan, tidak punya impian, dan tiap kali ayah tiriku berganti, aku harus pindah sekolah. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sendiri.”
“Kalau sekarang…?”
“Sekarang aku punya ayah tiri baru. Kayaknya kaya, tapi cuma pakai uang buat pencitraan. Ibuku benar-benar tidak bisa memilih pria yang benar…”
Ia menatap langit-langit, seperti mengingat sesuatu.
“Aku ingat wajah ayah kandungku karena aku menatap fotonya sampai lecet. Makanya waktu ketemu di kantor polisi waktu itu, aku langsung tahu itu dia. Waktu itu aku masih mengira dia tahu keberadaanku, jadi sempat kaget.”
“...Boleh aku lihat fotonya? Kalau aku bisa memastikan, aku akan beritahu ayahku.”
“Jangan macam-macam. Aku tidak mau bertemu, bahkan tidak butuh pengakuan. Aku sudah punya ayah tiri kok. Dan aku cuma dengar dari ibu, jadi aku pun tidak yakin siapa ayah asliku sebenarnya. Lagipula kalau tahu pun… apa yang berubah?”
“Lalu… apa yang bisa aku lakukan?”
“Tidak perlu apa-apa.”
Hanazono-san tersenyum pahit.
“Aku cuma ingin tahu… aku ingin jadi manusia seperti apa.”
Cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar rumah sakit terlihat redup dan rapuh, larut dalam suasana sore yang tenang.
“Aku tidak bisa hidup ‘untuk seseorang’. Tidak seperti orang yang lahir dicintai keluarganya. Tapi kalau aku bisa menyukai diriku sendiri, aku bisa hidup untuk diriku sendiri. Dan untuk itu, aku harus mencari ‘diriku yang kuinginkan’.”
Hanazono-san tersenyum.
Aku terdiam menahan napas.
Walau seumuran, nilai-nilai kami sangat berbeda. Itu bukan soal kepribadian bawaan, tapi lingkungan yang membentuk kami. Aku mengerti, tapi tidak tahu apakah itu cukup untuk menerima semuanya.
“Aku tidak mau dipengaruhi siapa pun. Karena kalau dipengaruhi, hasilnya buruk. Lihat saja ibuku.”
Ia menunduk.
Tirai kamar berkibar tertiup angin.
“Di ujung perjalanan menolak semua pengaruh itulah, mungkin aku bisa menemukan diriku. Kalau kupikir begitu, hidup terasa sedikit lebih mudah.”
“…Tapi kalau begitu, bagaimana kamu bisa berhubungan baik dengan orang lain?”
“Bukan begitu. Kita butuh orang lain. Lewat orang lain, kita bisa melihat diri sendiri. Orang lain itu penting buat mengukur siapa diri kita.”
Kemudian bicaranya terhenti.
“Aku kebanyakan ngomong ya.”
Aku tidak bisa sepenuhnya memahami cara pandangnya.
Namun jika aku punya sedikit saja tanggung jawab atas kehidupannya, aku tidak bisa diam saja.
“...Kalau begitu, bagaimana kalau kamu mencoba melihat dirimu lewat diriku?”
Aku tahu dia membenciku.
Tapi aku tetap ingin menolong. Itu satu-satunya pilihan yang kupunya.
Namun Hanazono-san menggeleng cepat.
“Tidak mau. Aku tidak suka diriku yang muncul waktu bicara denganmu.”
“...Padahal kamu terlihat lebih percaya diri daripada saat di kelas?”
“Aku bukan percaya diri. Aku cuma tidak perlu membangun hubungan apa pun denganmu, jadi aku bisa bersikap seenaknya.”
Jawabannya begitu blak-blakan, tapi entah kenapa aku tidak marah.
Sebaliknya, aku lebih banyak merefleksi diri—karena aku dulu sama seperti itu.
Setiap kali anak laki-laki menyatakan cinta, aku menolaknya dengan perasaan remeh seperti itu.
“Kalau aku tahu kamu pernah bersandar pada orang lain, aku refleks jadi kesal.”
Setelah berkata itu, ia menambahkan dengan gumaman:
“Oh iya, kamu punya teman masa kecil kan? Aku tertarik sama dia. Bisa kenalkan?”
Kelopak mataku bergetar. Kesadaranku langsung kembali penuh.
“Kenalkan? Tidak bisa. Aku tidak punya kontaknya.”
“Kenapa? Kalian sebenarnya tidak dekat lagi ya?”
“...Jangan asal bicara. Tolong tarik kata-katamu barusan.”
“Kalau tidak tahu kontaknya, berarti kamu tidak berniat bertemu lagi. Artinya teman masa kecilmu itu juga pasti sudah muak sama kamu.”
“Tidak mungkin! Jangan ngomong sembarangan! Kami tidak tukar kontak itu memang sengaja! Itu keputusanku!”
“Hahaha, artinya kamu sendiri tidak yakin bisa menjaga komunikasi. Kamu cuma takut mencari tahu. Pengecut.”
Ada sesuatu yang meledak di kepalaku.
“Ya, kalau dari sisi itu… aku rasa kita bisa berteman baik, Nikaidō-san.”
“...Dasar—”
Biasanya aku tidak akan berkelahi. Kesal, ya. Tapi tidak sampai terlibat pertengkaran.
Tapi kali ini berbeda.
Karena dia menyentuh sesuatu yang selama ini kutakutkan dan kusembunyikan.
Aku yang lama—terungkap begitu saja.
Aku menampar pipi gadis yang sedang cedera. Perawat yang kebetulan lewat langsung mengusirku.
Sejak itu aku dilarang menjenguknya, dan karena rumor yang dia sebarkan, aku harus berpura-pura menjadi gadis baik selama sisa masa SMP demi nilai perilaku.
Lalu setelah lulus, aku pergi dari wilayah sekolah itu seperti melarikan diri.
Saat akhirnya aku bertemu Ryōta lagi, tak lama kemudian Hanazono-san mulai berpacaran dengannya. Jujur saja, aku hampir pingsan mendengarnya.
Tapi pada akhirnya, aku menerima kenyataan itu.
Jika dengan ini Hanazono bisa terselamatkan—tak pernah terpikir aku bisa memiliki perasaan sebaik itu, tapi mungkin sekarang aku sudah punya sedikit kelapangan hati untuk memikirkan orang lain.
Dulu, aku butuh seorang teman masa kecil.
Tapi sekarang, hanya dengan adanya seseorang yang berbicara langsung kepada hatiku, aku sudah bisa merasa bahagia.
***
Di bawah langit berbintang.
Dengan hanya menyembunyikan satu hal—bahwa aku menyukai Ryōta—aku selesai menceritakan semuanya.
Ia mendengarkan tanpa memotong, meski terlihat bingung.
Itu salah satu hal darinya yang kusukai.
Meskipun ia mudah terjebak dalam pola pikir egois, sesekali ia bisa memikirkan orang lain tanpa peduli pada dirinya sendiri—kontradiksi itu pun sangat kusukai.
Bagian dirinya yang mengubahku, dan juga ketidaksadarannya akan hal itu.
Entah kapan aku bisa menyampaikan perasaan ini.
Setidaknya untuk keadaan sekarang, aku merasa tidak perlu mengatakannya.
Jika Ryōta mendapatkan pacar pun, selama aku tetap berada di lingkungannya, aku bisa menerima itu.
Setelah mendengar cerita ini, mungkin saja Ryōta akan ingin balikan dengan Hanazono.
Aku tahu itu… dan tetap menceritakannya bukan karena aku menyerah padanya.
Hanya saja waktunya belum tiba.
Dalam keadaan di mana Ryōta baru saja berpisah dari Hanazono, aku tidak peduli ia akan menjalin hubungan dengan siapa. Selama ia bahagia, itu sudah cukup.
Ryōta akan mengalami banyak hal dan tumbuh menjadi dewasa.
Dan orang yang berperan membuatnya dewasa… mungkin tidak akan bisa berada di sisinya sampai akhir.
Pada dasarnya aku ini realis—realistis sampai kadang aku sendiri membencinya.
Bahkan aku pun tidak bisa membayangkan kapan hari di mana aku akan menyatakan perasaan tiba.
Tapi… itulah diriku.
Jadi aku tidak perlu terburu-buru.
Siapa pun yang nanti berkencan dengan Ryōta—
Aku yakin pada akhirnya, akulah yang akan bersamanya.
Aku yakin suatu hari dia akan kembali kepadaku.
Aku meyakinkan diriku sendiri seperti itu.
***
“Ini… adalah kenanganku bersama Hanazono.”
“...Jadi, tetap saja soal keluarganya ya.”
“Kamu sadar?”
Aku mengangkat bahu sambil menatap langit penuh bintang.
Karpet bintang itu berkilau dengan ironi yang menyakitkan.
“Tidak juga. Hanya itu satu-satunya hal yang bisa kubayangkan. Entah cerita tentang orang tuamu benar atau tidak.”
“Begitu. Lalu, menurutmu bagaimana?”
“Gimana ya… yah, aku merasa ternyata aku sama sekali nggak melakukan hal-hal seperti seorang pacar harusnya. Aku bahkan tidak tahu apa-apa.”
Bukan berarti aku tidak dipercaya.
Mungkin ia hanya menilai itu hal yang tidak layak untuk diceritakan. Itu jauh lebih menusuk, tapi akulah yang menolak melanjutkan hubungan itu.
Mungkin ada cara lain untuk mengatasinya, tapi aku tidak menyesal sampai harus terbakar penyesalan.
“...Tak kusangka. Kupikir kamu itu tipe yang langsung balik suka ke Hanazono.”
“Yaa… nggak lah. Kan kami sudah putus.”
Aku tidak pernah pacaran dengan siapa pun selain Hanazono, dan ini juga pertama kalinya aku putus dengan seseorang.
Mungkin karena itu, bagiku perpisahan terasa begitu berat. Setidaknya, tidak mungkin terlintas untuk langsung balikan.
Ketika kulirik, Remi membuka mata lebar-lebar.
“...Begitu.”
Mata Remi berkilat.
Mata besarnya seolah memantulkan bintang-bintang, dan aku tercengang oleh kilaunya.
Mungkin itu hanya perasaanku. Tapi jauh di dalam hati, aku berharap itu bukan sekadar ilusi.
***
Gunung pada malam hari begitu dalam dan senyap.
Cahaya lampu tenda sudah dipadamkan, dan hanya suara napas tidur yang memenuhi ruang.
Dalam keheningan itu, Seira perlahan keluar dari sleeping bag-nya.
Ia memastikan wajah tidur kedua orang tua yang berada di sebelahnya.
Lalu menatap ke arah sleeping bag lainnya, agak jauh di dalam tenda.
—Remi-nee, bangun.
Seira entah bagaimana langsung tahu.
“Remi-nee.”
Ia memanggil lembut melalui kain.
Segera, terdengar suara kecil seseorang bergerak.
“...Ada apa?”
Seira meletakkan jarinya di bibir.
“Hssst.”
Ia perlahan membuka resleting pintu tenda.
Udara malam menyentuh kulit dengan dingin.
Gunung pada malam hari terasa seperti dunia lain.
Setelah matahari benar-benar tenggelam, langit berubah biru kehitaman, penuh bintang yang berkedip, seakan memandang dari atas.
Cahaya bulan menyelinap di antara pepohonan, menjatuhkan bayangan perak di tanah.
Hutan yang siang tadi ramai, kini sunyi dan tenang. Ranting-ranting hanya bergoyang sedikit, menimbulkan suara samar, menandai tidur seluruh hutan.
Tanpa bicara, Seira melangkah keluar di atas rumput tanpa alas kaki.
Ia menggenggam ujung hoodie-nya, lalu menoleh.
Beberapa detik kemudian, Remi keluar dari tenda.
Jaket di atas gaunnya berkibar tertiup angin, dan rambutnya yang panjang bersinar lembut diterpa cahaya bulan.
“...Ada apa?”
“Aku mau bicara.”
Seira berkata lirih.
Keduanya duduk di atas batu di dekat sisa api unggun, yang masih menyimpan sedikit hangat.
Menghadap ke bekas perapian yang sudah padam, Seira langsung mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal hatinya.
“Remi-nee. Kamu… masih suka sama Onii?”
Pertanyaannya memang tiba-tiba.
Tapi Remi, yang melihat caranya ditatap dengan mata jujur tanpa dusta, tidak bisa mengalihkan pandangan atau mengelak.
“...Kenapa kamu tanya begitu?”
“Dulu kalian janji kan? Kamu bilang mau nikah sama Onii.”
Mata Remi membelalak kecil.
“...Begitu ya. Kamu ingat.”
“Mana mungkin aku lupa.”
Seira sedikit memonyongkan bibir.
“Aku selalu percaya. Meski Onii kayaknya sudah lupa, aku selalu yakin Remi-nee masih ingat.”
Mendengar itu, Remi menurunkan bahu, lalu menatap langit.
“Aku ingat. Setidaknya… aku tidak lupa.”
“Kalau begitu, kenapa? Kamu sudah nggak suka Onii lagi?”
Angin malam yang dingin lewat di antara mereka.
Remi menunduk sedikit, bulu matanya panjang membentuk bayangan halus.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi Remi-nee masih suka.”
Seira menegaskan tanpa ragu.
Remi tersenyum kecil.
Senyuman yang indah—sedikit sedih, sedikit hangat, bercampur pasrah.
“Aku ini sudah bukan anak kecil yang bisa kembali hanya karena janji lama. Kalaupun aku masih punya perasaan… aku tidak bisa menjadikan itu satu-satunya alasan untuk mengulurkan tangan. Tidak mau juga.”
“Itu maksudnya apa? Aku nggak ngerti.”
Seira memeluk lututnya.
Angin malam membelai pipinya.
“Menurutku… cuma Remi-nee yang bener-bener ngerti Onii.”
“Sayang sekali, sekarang beda. Sekarang sudah banyak yang mengerti dia.”
“Enggak ada.”
“Tidak. Ada. Kamu saja yang belum tahu.”
Remi menjawab ringan, tapi tegas.
Di pikirannya, dua anak perempuan muncul dengan jelas.
“Aku juga pernah berpikir begitu. Waktu SD, aku pernah percaya kalau aku nggak ada, Ryōta akan kacau.”
“Bukan begitu?”
“Tidak. Yang terjadi, Ryōta lah yang paling mengerti aku, dan dia yang selalu ada di sisiku.”
Remi tersenyum kecut.
“Kamu ingat? Aku waktu kecil benci banget pada anak laki-laki, kan? Kepribadianku galak. Sama kamu sih enggak.”
“Iya! Keren banget!”
Seira menjawab riang, seolah itulah alasan ia mengidolakan Remi.
Remi tersenyum kecil lagi, seperti bingung harus menanggapinya bagaimana.
“Aku cuma egois sebenarnya.”
“Hah?”
“Aku bersikap keras pada orang lain dan mudah bikin masalah. Dalam arti tertentu, aku terbiasa dihormati dan menganggap itu hal yang wajar. Ryōta selalu menutupinya.”
“Tapi itu, kan kamu cuma melindungi diri dari anak laki-laki yang suka usil?”
“Mungkin begitu. Aku juga tidak pasti. Tapi yang jelas, berada di dekatku dulu itu kadang berisiko. Tapi Ryōta tidak pernah memperlihatkan kalau itu mengganggunya.”
Remi berterima kasih pada teman masa kecilnya.
Secara sangat dalam, sampai pria itu sendiri tidak menyadarinya.
“Karena Ryōta jadi tempatku pulang, aku bisa merasa aman di mana pun. Di SMP baru aku sadar betapa berharganya itu. Aku yang paling mengerti hal itu.”
Lalu Remi melanjutkan.
“Aku ingin menjadi tempat pulang bagi Ryōta juga. Meski dia pacaran dengan orang lain. Selama orang itu memperlakukan dia dengan baik. Dan mungkin, kalau aku pacaran sama dia pun belum tentu semuanya berjalan mulus.”
“Aku nggak mau! Remi-nee harus bareng Onii!”
“...Kamu memang jujur ya. Aku suka itu darimu.”
Remi mengusap rambut Seira dengan lembut.
Jemarinya bergerak perlahan.
“...Hei, Seira.”
Seira mengedip.
“Kalau suatu saat aku ingin kembali jadi orang yang egois… menurutmu itu boleh?”
“Boleh! Menurutku cinta memang kayak gitu! Atau… bukan boleh lagi, kamu harus!”
“Begitu ya. Akan kupikirkan.”
Nada suara Remi hanya untuk menenangkan Seira.
Seira tahu itu. Karena itu ia tidak memaksa lebih jauh.
Seira tahu Remi memiliki perasaan khusus untuk kakaknya. Ia sudah lama mendukungnya diam-diam. Dan ia sadar, dirinya hanya pendukung. Tidak berhak ikut campur.
“Maaf ya, Remi-nee. Kayaknya aku yang lebih egois.”
“Tidak apa-apa. Aku juga masih begitu.”
Di dasar malam, hanya kata-kata itu yang tertinggal.
Keduanya diam, memandang langit berbintang.
Di kejauhan, suara sungai mengalun pelan, membawa aroma akhir musim panas.



Post a Comment