NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Anokoro ii Kanjidatta Joshi-tachi to Onaji Kurasu ni Narimashita Volume 3 Chapter 6

 Penerjemah: Arif77

Proffreader: Arif77


Chapter 6

Di Bawah Langit Malam - Yozora no Shita de

Pada pagi hari menjelang akhir liburan musim panas, aku terbangun sedikit lebih siang dari biasanya.

Butuh beberapa menit untuk membuat tubuhku mau bangun, dan beberapa menit lagi untuk keluar dari kamar yang sejuk karena AC.

Saat akhirnya aku turun ke ruang keluarga di lantai satu, kedua orang tuaku sudah sibuk mondar-mandir.

Hari ini adalah acara besar keluarga Yoshiki—hari berkemah. Mungkin karena ini acara yang datang dua tahun sekali, ruang keluarga terasa sangat ramai.

Di depan kompor gas, Ibu sedang memasukkan bahan makanan ke dalam tas pendingin, sementara di karpet depan TV, Ayah sedang mengukur ulang ukuran ground sheet dengan meteran.

Ketika Ibu melihat keberadaanku, ia langsung berseru lantang.

“Ryouta, kamu juga cepat siapkan barang-barangmu! Kita harus sampai di sana saat siang!”

“Aku tahu, aku tahu.”

“‘Tahu’ sekali saja cukup!”

“Baik, baik!”

Tolong jangan berteriak-teriak seperti itu di pagi hari…

Sudah SMA dan masih harus pergi berkemah bersama keluarga, rasanya agak malas juga.

Berkemah jelas tidak senyaman menginap di hotel; ini kegiatan yang butuh banyak gerakan fisik.

Latihan klub handball juga sudah mulai serius, dan tubuhku yang melemah karena libur sedang berteriak kesakitan. Ini hari libur pertamaku setelah sekian lama, jadi kenapa aku harus bergerak sejak pagi?

“Aku ingin tidur seharian saja…”

Tapi, acara berkemah hari ini sudah ditentukan sejak sebelum aku masuk klub handball, jadi mau bagaimana lagi.

Sambil menenangkan diri, aku mulai mengemas barang-barang di kamar. Tiba-tiba—BRAK!—pintu dibanting terbuka.

“Onii, lihat! Lihat deh topi baruku! Lucu banget buat dipakai camping kan!? Nih, lihat dong!”

Seira memakai topi outdoor warna pink dan berputar-putar memperlihatkannya.

Padahal dia seharusnya sudah masuk masa pemberontakan, tapi masih begini kelakuannya.

Kalau aku sampai mengeluarkan komentar negatif sedikit saja, sepertinya aku akan kena tendangan terbang, jadi aku memasang senyum palsu dan berkata, “Oh, itu bagus tuh! Jarang-jarang kamu pilih yang oke!”

“Hah!? Apa maksudnya jarang-jarang!?”

“Untuk orang yang masuk kamar tanpa mengetuk, itu pujian yang pas.”

“Droooop-kick!”

“Gueeeh!? Apa-apaan kamu dasar adik kurang ajar!”

Sambil ribut tidak jelas, kami melanjutkan persiapan selama kurang lebih satu jam.

Setelah semua barang dimasukkan ke bagasi, akhirnya kami siap berangkat.

Mobil keluarga kami adalah sedan. Ayah di kursi pengemudi, Ibu di kursi penumpang depan, dan aku serta Seira duduk di belakang. Karena mesin sudah dinyalakan sebelumnya, keringat hanya sedikit muncul di dahiku—lumayan, permulaan yang baik.

Akan berangkat, tapi entah kenapa mobil tidak bergerak.

“Ayah ngapain?”

Aku bertanya pada punggung Ayah.

Sambil memperbaiki kaca spion, Ayah menjawab dengan nada agak riang.

“Hm? Oh, kamu belum tahu ya?”

“Ngomong-ngomong, kita memang belum bilang ke anak ini,” kata Ibu.

Seira menambahkan, “Iya, kita belum bilang ke Onii.”

“…Kalian ngomongin apa sih?”

Saat aku bertanya, bayangan seseorang muncul di tubuh Seira.

Wajah Seira pun langsung cerah.

Ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat seorang gadis yang sangat familiar sedang menatap ke dalam mobil.

Di atas dress navy, ia memakai hoodie tipis, memegang handbag di satu tangan, dan membawa ransel di punggung. Rambut hitam panjangnya berkibar. Nikaido Remi, dengan wajah cantiknya yang sedikit muram, sedang mengintip ke dalam mobil.

Tatapan kami bertemu, jadi aku menurunkan kaca jendela.

“Yo, Remi. Kamu juga mau pergi ke suatu tempat?”

Remi mengerutkan alis.

“…Ini jenis bullying baru? Tolong cepat bukain pintunya.”

“Hah? Kita mau pergi camping.”

“Aku juga. Aku diundang, kalau kau belum dengar.”

“…Aku benar-benar nggak tahu apa-apa??”

Akhirnya semua reaksi aneh mereka tadi masuk akal.

Aku cepat menoleh ke depan, dan Ibu di kursi penumpang tampak mengangguk dengan wajah sangat puas.

“Tuh kan, dulu kalian sering camping bareng waktu kecil, kan? Akhir-akhir ini Remi sering main ke rumah, jadi Ibu coba ajak, dan dia mau! Bagus kan!?”

“Bagus apanya!? Kenapa kalian seenaknya ngatur-ngatur!? Aku ini remaja, tahu!? Jangan asal atur hal kayak gitu! Dan kenapa cuma aku yang nggak dikasih tahu!?”


“...Jadi kamu memang tidak diberi tahu, ya. Memang begitulah keluarga Yoshiki.”

Remi berkata dengan nada setengah heran, setengah merasa lucu, lalu membuka pintu belakang mobil sendiri.

Seira, sambil mencondongkan tubuh melewati diriku, berseru, “Remi-nee, lihat! Ini topi baruku!” dengan penuh semangat, dan Remi pun sedikit melonggarkan ekspresinya.

“Lucu sekali. Cocok banget sama kamu. Seira sudah besar, ya.”

“Kan! Aku bilang juga apa!”

Apa sih atmosfer ini. Kenapa cuma aku yang tidak tahu, sementara semuanya merasa ini hal biasa?

“Kalau begitu, berangkat,” kata Ayah, sama sekali tidak peduli dengan kebingunganku. Dengan suara ceria, mobil mulai melaju perlahan. Ibu di kursi depan berkata, “Ayo, kita berangkat~,” dan Remi duduk di sampingku seolah itu hal paling natural di dunia.

Tergeser oleh Remi, aku dipaksa pindah ke kursi tengah yang sempit, tubuhku harus menyusut sendiri. Tidak pernah terpikir kalau Remi akan ikut dalam perjalanan camping keluarga Yoshiki.

—Atau lebih tepatnya, kenapa dia nggak nolak sih!? Kita kan udah SMA!

Sementara aku sibuk komplain dalam hati, mobil tetap melaju.

Kami segera keluar dari jalan komplek dan masuk ke jalan prefektur.

AC mobil berputar dan membuat semua keringat menghilang.

Tapi keringat mentalku sama sekali belum hilang.

Di sebelah kanan ada Remi. Di sebelah kiri ada Seira.

Duduk di tengah kursi belakang, aku benar-benar berada di posisi paling tidak nyaman.

“Ugh, sempit banget! Aku nggak akan pernah terbiasa sama sempit begini!”

“Iya iya, jangan ngeluh. Badan Onii aja yang kebesaran,” jawab Seira.

“Kalau badannya gede, masa disuruh duduk di tengah!? Gak masuk akal!”

“Kalau gitu kita tukeran aja! Aku mau duduk di sebelah Remi-nee! Kenapa malah Onii yang duduk di tengah!?”

“Dari tadi aku juga bilang begitu!!”

Pertengkaran hampir pecah lagi, dan karena mobil sedikit berguncang, kakiku tanpa sengaja menyenggol kaki Remi cukup keras.

“Aduh! Kamu bisa nggak sih diam!?”

“M-maaf. Tapi mau bagaimana lagi, aku duduk di tengah…”

“Tidak ada yang ‘mau bagaimana’! Lihat, coba lihat.”

Ketika aku menunduk, Remi duduk dengan kaki sangat rapat. Seolah ingin menunjukan bahwa dia juga berusaha keras.

Tapi aku juga tidak membuka kaki lebar-lebar. Kursi ini memang terlalu sempit, jadi kaki pasti akan bersentuhan tanpa sengaja.

Mobil sedan ini memang tidak cocok untuk lima orang dewasa.

Akhirnya aku menyerah dan berkata pelan pada Remi.

“Aku bakal berusaha tidur, jadi kalau kakiku nyenggol, jangan dipikirin ya.”

“Kalau begitu tidurlah menghadap atas.”

Kata-kata yang tenang tapi penuh ancaman itu membuatku langsung menatap atap mobil dengan patuh.

Leherku cepat sekali pegal, jadi ketika mobil berhenti di lampu merah, aku melongok ke luar jendela melewati Seira.

Ketika mobil berbelok, kaki kananku kembali menyentuh kaki Remi sedikit.

Remi refleks ingin menjauh, tapi di sebelahnya aku, di sebelah satunya pintu mobil.

Tidak ada ruang untuk kabur, rupanya.

Remi menghela napas kecil, seperti orang yang benar-benar sudah pasrah.

“Yah, tidak bisa dihindari,” gumamnya pelan sambil mengeluarkan ponsel.

Kurasa dia benar-benar menyerah, tidak lagi mempedulikan sentuhan kecil itu.

“Kamu kok bisa santai begitu?”

“Ada masalah?”

Remi menjawab enteng, seolah bukan hal besar.

Jadi cuma aku yang terlalu sadar.

“Remi-nee, nanti kita main air di sungai ya! Terus pecahin semangka juga!”

“Hm, iya, bagus juga.”

Seira jelas tidak sadar sedikit pun tentang kegelisahanku.

Diapit dua perempuan yang asyik mengobrol, aku sama sekali tidak bisa tidur.

***

Satu jam berlalu sejak keberangkatan.

Mobil sudah keluar dari jalan lokal dan kini melaju di jalan tol.

Ketika aku mulai terbiasa dengan kondisi kursi, Ibu mengeluh, “Aduh, kalau begini kita bisa kena macet.”

“Benar juga. Kalau begitu kita masuk jalur kanan untuk beberapa saat,” sahut Ayah.

Saat mobil berpindah jalur, tubuh kami terayun sedikit dan jarak antara aku dan Remi semakin menyempit lagi.

Saat aku berusaha menahan tubuh—lagi—suara kecil terdengar di telingaku.

“Ryouta, bisa nggak jangan banyak gerak?”

“Tadi aku nggak gerak. Itu gaya sentrifugal.”

“Kalau begitu tidak apa-apa. …Sudah tidak ada ruang lagi untuk bergeser, kan.”

Saat aku melirik ke samping, benar saja, kaki Remi sudah menempel ke pintu.

Aku berdeham kecil dan memalingkan wajah ke luar jendela.

AC terasa tidak sedingin tadi.

Ibu memutar playlist J-POP favoritnya, tapi aku sama sekali tidak bisa fokus.

Seira entah kapan sudah tertidur, jadi aku ikut memejamkan mata.

“Hmm… sungainya bagus juga, ya. Langit malamnya juga pasti indah.”

Mendengar gumaman Remi, aku membuka mata dan melirik ke arahnya.

Ia sedang mencari info tentang lokasi camping dan terlihat benar-benar menantikan tempat itu.

“Kamu suka outdoor? Sama sekali nggak kelihatan.”

Tanpa menatapku, Remi menjawab,

“Kenapa? Kamu nggak suka camping?”

“Bukan nggak suka… cuma kebayang capek aja.”

“Begitu. Kamu membosankan. Dewa Kesenangan tidak akan pernah melirik orang yang tidak punya niat bersenang-senang.”

“Dewa… kesenangan?”

Saat itu mobil memasuki jalur keluar tol dan mulai melambat.

“...Ya, kalau dipikir memang ada benarnya juga,” kataku.

“Tergantung orangnya,” jawabnya datar.

Lalu ia menyimpan ponselnya.

“Tapi aku menikmati ini, tahu? Pergi camping bersamamu.”

Tepat saat Remi berkata begitu, suara Ayah terdengar dari depan.

“Oke, kita mampir ke minimarket. Ayah mau ke toilet.”

Mobil pun berbelok menuju area parkir kecil.

Saat mobil berhenti, Seira terbangun dan langsung membuka pintu.

Ibu berkata, “Harusnya kita ke rest area saja,” tapi ikut turun sambil tersenyum.

Remi memakai topinya dan membuka pintu pelan.

Sesaat sebelum keluar, ia melirik ke arahku.

Kata-katanya terngiang di kepalaku.

—Tapi aku menikmati ini. Pergi camping bersamamu.

Remi bilang ia menantikan camping bersamaku, bukan sekadar bersama keluarga Yoshiki.

Apa kemungkinan yang dikatakan Hanazono… benar-benar ada?

Sentuhan kaki itu, entah kenapa, masih terasa cukup lama.

*** 

Kami tiba di lokasi perkemahan ketika waktu sudah sedikit lewat tengah hari.

Di tempat yang merupakan lerengan lembut di antara dua gunung yang dibuka untuk lokasi camping itu, berpuluh-puluh tenda berdiri rapi. Sinar matahari yang menembus sela-sela pepohonan jatuh membentuk bayangan belang-belang di tanah.

Gemercik sungai dibawa angin, menggelitik telinga. Udara terasa sejuk, namun tetap mengandung aroma tanah dan air.

“...Fuu.”

Begitu turun dari mobil, Remi mengembuskan napas tipis.

Setelah akhirnya terbebas dari neraka—tidak, surga penuh sesak—di kursi belakang, Remi menyentuh pelipisnya dan perlahan melonggarkan kerutan di antara alisnya.

Aku, yang menunggu Remi turun lebih dulu, merasa sedikit bersalah.

Di belakang terdengar suara gesekan. Seira yang sempat tidur lagi kini terbangun.

“Nnha... Kita udah sampai? Wuaah, hijaunya gila!”

Dengan penuh semangat, Seira membuka pintu di sisi berlawanan dan langsung berlari menuju tepi sungai.

Ayah berteriak, “Hei! Lihat-lihat pijakanmu!” tapi Seira sama sekali tidak menjawab, hanya topinya yang bergoyang tertiup angin.

Sementara itu, Ibu sudah sigap menurunkan barang-barang dari bagasi. Efisiensinya seperti pasukan militer yang sedang membangun markas di garis depan.

“Hei, Ryouta, jangan bengong! Ayo bantu pasang tenda! Frame-nya di sini!”

“Jadi dari awal Seira dianggap bukan tenaga kerja ya…”

Aku menggerutu sambil mengangkat satu set rangka tenda. Mungkin karena sudah kelelahan sejak pagi, otot lenganku langsung mulai bergetar.

Remi berjalan di sampingku, menggulung lengan bajunya, lalu mengulurkan tangan.

“Kita bawa bareng. Berat kalau kamu angkat sendiri, kan?”

“Nggak, segini mah masih kuat. Jangan remehkan anggota klub olahraga.”

“Terserah. Kalau sampai cedera, bukan salahku ya.”

“Maaf, tolong bantu!”

“Kalau begitu bilang dari tadi.”

Remi menghela napas, lalu memegang ujung rangka.

“Maaf ya. Padahal kamu kan tamu.”

“Kenapa kamu yang minta maaf? Justru aku yang numpang, jadi mending dipaksa kerja. Lebih enak begitu.”

“Begitu ya?”

“Begitu.”

Nada bicaranya seperti biasa, tapi entah kenapa terdengar lebih lembut.

Jarak yang sempat terasa saat aku bilang sudah putus dari Hanazono… hari ini benar-benar tidak terasa lagi.

Kalau udara pegunungan bisa membuat suasana jadi seperti ini, camping ternyata ada bagusnya juga.

***

Kami mulai memasang rangka tenda bersama.

Karena selalu harus berkomunikasi untuk memastikan langkah-langkahnya, pembicaraan tidak pernah terputus. Sebagai seseorang yang benci suasana hening meskipun dengan Remi sekalipun, aku merasa tertolong.

“Ryouta. Ini, pakai tiang yang ini kan?”

“Ya. Tapi jangan dorong pakai tenaga penuh. Bisa patah kalau sudutnya salah.”

“Baik.”

Dengan senyum kecil di bibirnya, Remi dengan lincah menyambungkan rangka.

Waktu kami masih kecil dan dia ikut camping bersama keluarga Yoshiki, semua urusan begini selalu dikerjakan orang dewasa.

Jadi sebenarnya dia tidak terbiasa. Tapi gerakannya sangat rapi.

Remi menyesuaikan sudut tiang seperti yang kujelaskan, dan memasangnya dengan mudah.

Kelihaian itu terasa begitu khas Remi, membuat ujung mataku menurun.

Tak lama, rangka pertama pun terpasang.

“Baik.”

Remi berhenti dan menatapku.

“Ya, berikutnya.”

Ia memberi isyarat halus untuk menyerahkan tiang lain.

Saat memberikannya, aku membuka mulut.

“Nih. Tapi Remi memang cekatan, ya. Padahal nggak punya pengalaman nyusun begini.”

“Benarkah? Mungkin cara mengajarmu bagus.”

“Padahal aku nggak ngajarin banyak.”

“Kalau begitu, mungkin bakatku.”

“Ih, sombong banget!”

“Kamu yang memaksaku menjawab begitu.”

Aku tertawa, lalu kembali bekerja.

Remi yang mulai terbiasa, menjalankan setiap langkah dengan cepat dan tanpa cela.

“Kamu tuh perfeksionis banget ya.”

“Tidak juga. Aku biasanya berhenti di 80% aja, selebihnya pasrah sama keberuntungan. Tapi kenapa?”

“Ah, nggak... cuma bilang aja.”

Remi yang aku kenal sebelumnya harus serba sempurna.

Tapi sama seperti saat naik kelas dulu dan sifatnya sedikit melunak, mungkin setelah masuk SMP ia berubah lagi.

Itu hal yang wajar.

Sementara aku… apakah juga berubah?

Hubungan percintaan selalu berantakan, tidak ada satupun yang berhasil.

“...Begitu.”

Remi tampak tidak sepenuhnya puas, tapi tidak bertanya lebih jauh dan melanjutkan pekerjaan.

Seiring rangka tenda mulai terbentuk, sudut matahari berubah.

Bayangan memanjang, dan angin sejuk merayap di permukaan tanah.

***

Belasan menit kemudian—

“...Oke, rangkanya hampir selesai.”

Bunyi klik terakhir terdengar, membuatku meluruskan punggung.

“Ayo pasang kainnya.”

Remi sudah mengambil lembaran kain tenda. Kecepatannya luar biasa.

Aku menerimanya, lalu bersama-sama kami membentangkan kain bagian atap dan menutup rangkanya.

Begitu terpasang, bayangan gelap tercipta.

“Wah… cuma begini aja, dalemnya jadi kelihatan sejuk.”

“Nanti malam lebih nyaman lagi.”

Sambil menjawab, aku membungkuk.

Aku mengambil palu, lalu mulai memancang pasak.

Setiap ayunan memaku pasak lebih dalam. Ketukan berulang itu membuatku berpikir—bahwa dalam banyak hal, pengulangan seperti ini yang penting.

Belajar, olahraga, bahkan mungkin cinta.

Kalau begitu, hubungan berikutnya pasti berakhir juga. Dari sisi ini aku bisa melihatnya dengan tenang—sebagian besar pasangan SMA toh putus.

Meskipun pengalaman akan terakumulasi menuju masa depan seperti pernikahan, yang dekat itu tidak pasti. Itu mungkin membuatku berhati-hati.

Ada seseorang yang sedang menunggu jawaban dariku.

Aku—

“Sedikit lagi.”

Sebuah suara lembut terdengar dekat sekali.

Entah sejak kapan, Remi ikut berjongkok di sampingku, memperhatikan sentuhan akhir.

Saat itu, belahan dadanya terlihat dari kerah bajunya. Tarikan gravitasi membuat lengkungannya berubah bentuk, dan pandanganku tersedot tanpa sadar.

Aku buru-buru mengalihkan tatapan, namun mata kami justru bertemu.

“Ma—maaf!”

“Eh? Kenapa...”

Remi berhenti bicara, lalu menyadari situasinya. Ia cepat-cepat menutup bagian itu dengan tangannya.

“Ah… jadi begitu. Dasar mesum.”

Pipi Remi memerah. Itu pasti bukan hanya malu, tapi juga kesal. Aku merapatkan kedua tangan dan meminta maaf.

“Beneran nggak sengaja! Mana mungkin sengaja!”

“...Aku nggak marah.”

“Hah?”

Ketika aku mendongak, Remi mengulanginya.

“Aku nggak marah. Hal selevel itu.”

“Soalnya kita dulu mandi bareng ya?”

“...Boleh kutonjok? Ya, aku tonjok.”

“Maaf!!”

Aku buru-buru minta maaf lagi. Remi mendengkus kecil.

Bayangan belahan itu masih tertanam di retina.

Bahkan baju renang sekolah pun tidak menampilkan kulit asli seperti tadi. Dampaknya terlalu besar.

“Pokoknya, pemasangan selesai. Hah… seandainya nggak ada kasus pelecehan kecil di akhir, ini kenangan yang sempurna.”

“Ini akan terus kamu bahas seumur hidup ya?”

“Membahasnya seumur hidup kayaknya lucu juga.”

“Ampun, jangan!”

Remi berdiri dan menengadah.

Aku menahan gejolak hati sambil melakukan pengecekan akhir.

“Lihat, nona Remi. Sudah miring empat puluh lima derajat.”

“Hebat sekali, kakek. Dengan ini kita bisa tidur nyenyak.”

Remi menurunkan pandangannya dan berkata,

“Dan ternyata… rasanya lebih memuaskan dari yang kupikir.”

Nadanya ceria, berbeda dari tadi.

Aku menangkap maksudnya ingin mengganti suasana, jadi aku ikut tersenyum.

“Kan kubilang, itu daya tarik camping.”

“Padahal di mobil tadi kamu ngeluh terus.”

“Aku ini ternyata tipe orang yang kalau sudah terjun langsung ke tempatnya, malah bisa menikmati ya.”

“Hee? Penemuan baru tuh. Kayaknya aku pantas dapat ucapan terima kasih deh.”

Pada saat itu terjadi.

Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang, dan kain tenda berkibar keras. Rambut Remi yang berada di sampingku ikut terangkat, ujungnya menyentuh pipiku.

Tanpa sadar aku menundukkan kepala.

“Uwahp.”

“Ada apa? Ada serangga?”

“Nggak, rambutmu.”

Saat aku melirik, Remi sedang menahan rambutnya yang tertiup angin.

Matanya mengarah lurus padaku—tapi dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Oh, aku ya. Maaf.”

“Enggak, nggak apa-apa.”

“Kan aku sudah bilang. Soalnya ekspresi kamu aneh.”

“Ekspresi macam apa!?”

Saat aku memprotes, Remi menjawab santai.

“Ekspresi orang yang kaget… atau deg-degan.”

Hening seketika.

Karena terlalu blak-blakan, aku memalsukan ketenangan dengan berdeham kecil.

“N—nggak deg-degan lah.”

“Masa? Ya sudah kalau begitu.”

Setelah itu, Remi tidak menambahkan apa pun.

Aku masuk ke dalam tenda, menggelar ground sheet dan mulai menyusun sleeping bag.

Saat aku sedang membetulkan resleting dalam posisi membungkuk, Remi ikut duduk di sampingku.

Lalu ia bersuara pelan.

“...Hei.”

“Hm?”

“Gimana, menurutmu… musim panas tahun ini?”

Pertanyaan tiba-tiba itu membuatku berhenti bekerja.

“Musim panas? Masih belum selesai juga, kan.”

“Memang sih. Tapi mungkin ini satu-satunya waktu kita bisa ngobrol berdua seperti ini.”

“Ah, nggak lah. Kita kan sekelas.”

“Kalau kamu nanti pacaran sama seseorang, kan beda cerita.”

Nada suaranya seperti sedang menguji reaksiku.

Aku menatap langit-langit tenda.

Kain tenda bergoyang dan berbunyi ‘kasa kasa’ terkena angin.

“Yah… banyak terjadi sih. Tapi… nggak buruk juga.”

Aku masuk klub handball, dan walaupun sedang liburan, jadi ada kegiatan.

Jujur saja kadang menyebalkan.

Tapi punya sesuatu untuk dikerjakan membuatku merasa lebih tenang. Punya tempat baru untuk berada. Itu… bukan hal buruk.

Setelah jeda singkat, Remi mengangguk kecil.

“Aku juga.”

Setelah itu, dia berbaring di sleeping bag.

Dengan tangan terlipat di belakang kepala, wajahnya sedikit mengarah padaku.

“Hei. Kita dulu pernah ke gunung ini, ya?”

“Ah—kayaknya. Dulu tiap tahun ke sini.”

“Benar. Kita sering main ‘mencari harta karun’, inget?”

“Serius? Udah lama banget, aku nggak ingat detailnya.”

Mendengar itu, Remi menggeleng kecewa.

“Sudah kuduga. Hidupmu susah pasti, dengan ingatan segitu.”

“Kenapa jadi hinaan!?”

“Mana aku tahu. Mungkin karena kamu ngelihatin dadaku.”

“Jangan bilang gitu depan orang tuaku, sumpah.”

Remi terkikik. “Kupikir-pikir dulu.” Jangan pikir-pikir—tolong langsung bilang jangan.

“Malam nanti pasti seru. Semoga bintangnya kelihatan ya.”

“...Kelihatan lah. Ini gunung, sunyi begini.”

“Benar. Kalau nanti kita masih bangun, ayo lihat bareng.”

Kalimat itu diucapkan ringan sekali, seperti saat kami masih kecil.

Pada dasarnya, aku masih sering tidak suka pada banyak sisi diriku sendiri. Karena itu, jumlah keinginanku untuk berubah pun banyak.

Tapi di sini… ada hal-hal yang tidak perlu berubah.

“Bahkan kalau kamu nggak bilang, aku bakal nyeret kamu keluar.”

“Fufu. Baik.”

Remi tersenyum, lalu hening memenuhi tenda.

Keheningan itu… terasa lebih nyaman dari biasanya.

***

Di dekat pintu tenda, terdengar suara rumput terinjak.

Aku yang setengah tertidur dalam kesejukan malam, tersadar.

Di sampingku, Remi juga bergumam pelan, “Uuun…” Tanda ia juga terbangun.

Sepertinya kami tertidur sebentar.

Setelah jeda singkat, seseorang di luar mulai bertepuk tangan kecil.

“Oh, tendanya berdiri dengan bagus!”

“Hah? Kok kayaknya beda dari biasanya?”

“Lembaran tendanya rapi ya. Remi-chan yang bantu ya?”

Dari luar tenda, terdengar suara tiga anggota keluarga Yoshiki bersahutan.

Kelihatannya mereka selesai dari kegiatan masing-masing dan baru kembali.

“Waaah, aku terharu! Bisa tidur di tenda yang dipasang Remi-nee itu—”

Aku menjulurkan kepala keluar dan menyemprot Seira.

“Aku juga yang pasang, woy! Dasar anggota nonaktif keluarga Yoshiki!”

“H—hah!? Kalau soal main di sungai, aku udah berhenti cepat, tahu! Abis itu aku ngumpulin kayu bakar dengan rajin!”

“Paling cuma disuruh Ibu sampai ketakutan trus patuh!”

“Mukiii!!”

Pembagian peran keluarga Yoshiki jelas tanpa diberi tahu.

Ayah cari kayu, Seira bantu sedikit, Ibu cek area air dan tempat masak. Kurang lebih begitu. Tapi pastinya porsi kerja Seira paling sedikit.

Aku menggerakkan tubuh yang masih berat karena baru bangun, dan keluar.

Seira tampak ingin membalas, tapi Ibu menepuk kepalanya plas dan dia langsung diam.

Ibu memang paling kuat. Setelah memukul anaknya, dia malah tersenyum santai.

“Pokoknya berkat kalian, malam ini bakal lancar. Keran airnya bisa dipakai, dan panggangan juga lengkap. Kayaknya gampang malam ini!”

“Aku yang pasangin selang ke keran!! Aku lho!!”

Seira lompat-lompat, tapi Ibu hanya menanggapi dengan “ribut”.

“Remi-chan, makasih ya. Tenda ini bantu banget.”

Tanpa kusadar, Remi sudah berdiri di sebelahku. Ia mengangkat bahu.

“Ah, Ryouta-kun yang kerja paling banyak. Aku cuma ikuti instruksinya.”

“Ooh, Ryouta-nii ya? Ya sih, bentuk tendanya rapi banget. Jadi nggak sabar tidur.”

Seira mengintip tenda lalu memasukkan kepalanya ke dalam.

Dasar adik manja.

Tapi… dipuji begini rasanya memang menyenangkan. Apalagi kali ini aku pasang dengan sungguh-sungguh.

Benar kata Remi—kalau seseorang berusaha menikmati sesuatu, dewa kesenangan bakal tersenyum padanya.

***

Api menyala pachi-pachi.

Para camper lain juga berkumpul, membentuk lingkaran kecil di sekitar api unggun.

Cahaya api yang berayun-ayun menerangi wajah-wajah orang di sekitarnya, membuat semuanya terlihat merah dan sedikit tak nyata.

Di dekatku, Ayah membuka kursi lipat dan meneguk bir kalengnya.

Ibu sibuk memilih minuman dari cooler box. Mulai dari sini, waktu malam biasanya jadi “jam pasangan”—bahkan aku sebagai anak pun sulit ikut bergabung. Setiap tahun begitu.

Kata Seira, “Ini satu-satunya waktu mereka bisa ngobrol tanpa Onii.” Kamu juga termasuk, woy.

Mataku berkeliling.

Seira sedang mengobrol dengan seorang ibu yang membawa anak. Meski baru pertama kali bertemu, jaraknya seolah seperti kenalan lama. Dia melambaikan tangan, tertawa, dan berkata, “Serius? Mending IH ketimbang kayu bakar, kan?” Apa sih itu.

Tapi begitulah kekuatan Seira.

Tak takut mendekat, bisa nyambung sebelum kata-kata keluar. Punya radar khusus membaca jarak sosial. Sesuatu yang aku… tidak punya.

Api terasa makin panas, jadi aku bergeser sedikit ke belakang.

Suara ranting terinjak di atas rumput terdengar lebih keras daripada yang kuduga.

Aku merasa ditatap, dan panik menoleh ke sekitar.

Tidak ada yang memperhatikan, tapi rasa malu kecil itu tetap saja terasa.

Orang sering bilang bahwa manusia sebenarnya tidak terlalu peduli pada orang lain. Belakangan ini, aku sering mendengar hal semacam itu. Tapi itu tidak membuat rasa malu hilang, bahkan tidak cukup untuk jadi penghibur.

Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba aku sadar.

Aku tak melihat sosok Remi.

Kursi tempat dia duduk sebelumnya sudah kosong. Sejak kapan dia pergi?

Di dekat Seira juga tidak kelihatan, dan dia juga tidak sedang mengobrol dengan orang asing.

“Apa yang kamu cari?”

Suara dari belakang membuat bahuku tersentak refleks.

Ketika aku berbalik, Remi berdiri di batas antara tempat yang masih tersentuh cahaya api dan bayangan.

Rambutnya diikat longgar, kedua tangannya menggenggam ujung hoodie secara santai.

Ia muncul seperti menyelimuti dirinya dengan bayangan, tepat di tempat cahaya api hampir tak lagi menjangkaunya.

Cara kemunculannya itu sedikit terasa fantastis.

“Remi, kamu ke mana aja?”

“Tadi anginnya agak kencang, jadi aku menjauh sebentar. Takut kena percikan api.”

“Percikan api? Padahal ini aman kok. Tangan aja didekatin begini juga gak apa-apa. Coba aja.”

“Ngimpi. Kamu bodoh, ya? Kalau aku kebakar gimana kamu tanggung jawabnya?”

“Aku akan mengurusmu!”

“Kalau sampai begitu, hubungan kita pasti kebalik. Aku yang bakal ngurus kamu.”

Bicara tanpa memandangku, ia melangkah mendekat dan berhenti tepat di samping.

Remi mengambil tegukan kecil dari soda yang ia pegang.

Percikan api sesekali melayang naik, memantulkan cahaya sekejap ke wajah kami.

Wajah Remi yang disinari cahaya jingga itu terlihat seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius.

“…Lagi mikir apa?”

“Eh? Gak bilang.”

“Coba bilanglah.”

Aku hanya bertanya karena sudah menduga dia akan menolak.

Tapi prediksiku meleset.

“Ada dua hal. Pertama, aku baru sadar kalau ngomongin hubungan laki-laki dan perempuan sama kamu itu agak canggung.”

“Kalau gitu jangan bahas dong.”

“Diam.”

“Ini gak adil!”

Remi mendengus kecil sebelum melanjutkan.

“Kedua, aku jadi kepikiran… gimana soal kamu dan Yuzuha-san. Ini sih yang sebenarnya aku penasaran.”

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul, tapi entah kenapa aku tidak merasa kaget.

Dalam hati, aku memang tahu suatu saat topik itu akan datang. Sekarang Remi juga teman Yuzuha.

Aku menghirup udara hangat, memaksa keluar napas pendek.

“Aku belum bisa kasih jawaban. Tapi dari sudut pandang orang, mungkin itu sama aja kayak udah nolak sekali. Soalnya aku bilang, aku belum bisa mikirin hal itu.”

Kayu di api unggun meletup pelan.

Remi tampak butuh waktu untuk mencerna kalimatku sebelum akhirnya menjawab.

“Kamu ngomongnya muter-muter. Dari cara bilang kayak gitu, Yuzuha-san pasti mikir kamu cuma mengulur waktu. Apalagi kalau melihat sifat dia.”

“…Ya, mungkin. Saat dia nembak aku, aku baru putus dari Hanazono. Waktu itu aku benar-benar gak bisa mikirin hubungan baru. Tapi meski begitu… aku gak bisa bilang ‘mustahil’ juga. Yuzuha itu… ya, dia terlalu menarik.”

Keputusanku justru membuat Yuzuha berhenti dan menungguku.

Remi menunduk sedikit.

Lalu ia kembali mengangkat wajah, kali ini menatap lurus padaku.

“Ryōta, kamu sendiri gak ingin punya pacar baru?”

“Untuk sekarang belum bisa mikir. Yuzuha aja belum selesai. Lagipula, alasan ‘pengin punya pacar jadi nyari pacar’ itu udah gak cocok buatku.”

Perkataan itu pasti bukan sesuatu yang bisa keluar dari mulutku waktu SMP.

Tapi pengalaman membuat pemikiran berubah.

“Punya pacar belum tentu bikin hidup otomatis bahagia. Kalau tujuan kita cuma ‘punya seseorang di samping’, itu juga bukan jaminan.”

“……Iya.”

“Kamu sendiri pernah bener-bener pengin punya pacar?”

“Entahlah. Aku sendiri nggak yakin.”

Wajah Remi tampak sedikit sedih.

Diterangi cahaya bulan, ekspresinya terasa seperti berada di jarak yang samar—dekat tapi jauh. Namun aku merasakan ada keteguhan yang samar-samar muncul.

Lagi-lagi api unggun meletup.

Suara itu terasa dekat, seolah tepat di dalam dadaku.

Api itu bergoyang lama, seakan menunggu kata-kata berikutnya.

“Mungkin aku pernah membayangkan masa depan seperti itu. Saat aku pikir ‘kayaknya enak ya punya hubungan seperti itu’. Tapi… kadang aku gak percaya sama perasaanku sendiri.”

Remi menatap api, membiarkan bulu matanya memanjang bayangannya.

“…Kalau aku bilang suka, aku bahkan gak tahu itu ‘suka’ yang gimana. Suka sebagai teman ngobrol? Teman main? Orang yang bikin nyaman? Atau rival? Mana yang berubah jadi cinta?”

Ia bicara pelan, seolah sedang mengaku pada api unggun.

“Kadang aku gak tahu apakah aku cuma menyesuaikan diri sama orang itu, atau benar-benar menginginkannya. Saat ingin bersama seseorang, itu karena aku kesepian? Atau karena aku menyukainya? Kalau aku sendiri gak punya jawaban… aku gak punya kompas buat ngecek mana yang benar. Sama seperti kamu.”

Mata Remi tampak melihat jauh ke tempat yang tidak terlihat.

Dalam hal cinta, aku selalu menganggap diriku mengerti. Membandingkan dengan orang lain, mungkin aku hanya kebetulan punya indikator yang jelas sejak awal.

Tapi kalau aku pindahkan perspektifnya ke hal lain… mungkin aku bisa mengerti.

“Indikator, ya. Waktu itu aku juga pengin punya penanda. Makanya sebelum nembak Hanazono, aku minta kamu temenin kencan.”

“Oh, itu. Waktu itu aku sok-sokan kasih penjelasan, tapi sebenarnya aku sendiri stuck sebelum sampai tahap itu. Kasihan banget, kan?”

“Enggak juga.”

“Enggak. Aku cuma sok kuat.”

…Bagian itu sama seperti aku.

Aku selalu mengira Remi punya kekuatan untuk menyelesaikan segalanya sendiri.

Tapi mungkin tidak ada manusia seperti itu. Meskipun terlihat mandiri, pasti ada tempat bersandar di balik layar—sesuatu yang hanya dijadikan tumpuan sementara sampai waktu berlalu.

Remi juga punya kelemahan itu.

“Terima kasih. Udah nemenin waktu itu.”

“Bukan apa-apa. Soalnya kamu. Makanya aku menikmatinya. Itu kencan pertamaku seumur hidup.”

Remi menunduk.

Seseorang menambah kayu ke api, membuat nyala semakin besar.

“…Kekasih itu kayak sesuatu yang bagus, ya. Kalau perasaan itu ikut terlibat, pasti lebih menyenangkan. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku juga seperti kamu—mencari seseorang. Bahkan dulu… aku sempat hampir mengalaminya.”

“Waktu SMP, kan?”

“Tepat. Waktu SMP aku pikir, ‘ikut arus dan coba pacaran juga boleh’. Kalau salah ya sudah, tinggal jadikan itu pelajaran. Kesalahan juga bisa jadi indikator.”

Suaranya tetap tenang.

Kemudian, seperti menyadari sesuatu dari ucapannya sendiri, Remi membuka mata sedikit lebih lebar.

“…Mungkin Hanazono-san juga begitu.”

“Maksudmu?”

Remi adalah satu-satunya yang tahu masa lalu Hanazono.

Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya.

Entah sebagai teman, mantan pacar, atau sesuatu yang tak bisa disebut keduanya.

Yang jelas, tenggorokanku bergetar tanpa sadar, memaksa suara keluar.

“…Ya. Selama ini aku menghindarinya. Tapi sekarang… mungkin memang ada gunanya kalau aku yang menceritakannya padamu.”

Angin malam membuat dedaunan di gunung bergemerisik.

Suara cabang-cabang kecil yang saling bergesekan terdengar seperti membawa sebagian kata-katanya pergi.

Remi menatap langit malam.

Lalu perlahan ia mulai berbicara.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close