High School Days 4/4
"Baiklah, untuk hari ini kita sudahi sampai di sini
ya."
Guru pembimbing, Hanegiri Omito-sensei, memulai perkataan
itu, dan kegiatan klub hari ini berakhir.
Aku merapikan board game yang terhampar di meja
panjang sambil memanggil guruku.
"Terima
kasih banyak untuk hari ini, Sensei. Padahal klub bisbol juga pasti sibuk..."
"Hm?
Ah, tidak masalah. Aku ini hanya penasihat pajangan kok. Tidak ada gunanya
kalau orang awam ikut campur dalam latihan, 'kan? Main board game dengan
kalian jauh lebih bermanfaat."
Hanegiri-sensei
berkata begitu, memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil tersenyum ramah.
...Dia memang benar-benar keren.
Bagiku,
dia adalah penolong dan orang yang kukagumi. Yah, meskipun awalnya dia juga saingan cinta, tapi
itu tidak penting. Orang yang secara pribadi menarik itu, pasti selalu ada.
Kemudian,
Takeshi, anggota klub yang lain, mulai membantu membereskan sambil berkata.
"Sebagai
anggota klub lemah yang hanya bermain bertiga, hamba selalu merasa tidak enak
karena memonopoli ruangan seperti ini."
"Haha,
seperti yang pernah kubilang, tidak usah khawatir. Tempat ini dianggap gudang
inventaris yang ku kelola, kok. Ibaratnya, ini seperti ruangan pribadiku."
"Hm,
punya ruangan pribadi di sekolah, itu sungguh elegan. Hamba agak iri."
"Begitu?
Kalau mau, lain kali aku pinjamkan semalam secara diam-diam?"
Menanggapi usulan
nakal dari guru pembimbing itu, Takeshi mengangkat bahu dan membalas.
"Hamba
menolak. Rutinitas hamba di malam hari adalah berpartisipasi penuh dalam live
stream idola dari PC di kamar hamba. Fufufu."
Sambil tertawa
begitu, Takeshi yang tidak seperti biasanya mulai mengenakan jasnya. Takeshi
yang pada dasarnya sangat gampang berkeringat—ralat, "metabolismenya
bagus"—cenderung berpakaian tipis sebisa mungkin di sekolah, tapi
sepertinya menjelang pulang di awal musim gugur, hal itu tidak bisa ia lakukan.
...Tidak, aku
ingat pernah melihat Takeshi dengan kaus pendek saat turun salju, jadi mungkin
itu hanya sekadar iseng.
Melihat Takeshi
yang cuek itu, Hanegiri-sensei melanjutkan dengan nada kecewa.
"Begitu, ya?
Menginap di sekolah kita itu lumayan seru lho, padahal keamanannya
longgar."
Gaya bicaranya
yang jelas mengisyaratkan adanya 'catatan kriminal' membuatku tersenyum kecut.
Meskipun dia biasanya bersikap dewasa, ada sisi kekanak-kanakan di dalam
dirinya. Yah, mungkin karena itu juga dia mau bermain board game bersama
kami.
Kami segera
menyelesaikan kegiatan beres-beres, lalu bertiga keluar dari ruangan. Kami
berpisah dengan Hanegiri-sensei, yang berkata bahwa meskipun dia hanya
pajangan, dia tetap harus menyapa klub bisbol, dan aku pun berjalan pulang
berdua dengan Takeshi.
Saat kami
berjalan menyusuri koridor yang diwarnai oleh senja menuju pintu masuk gedung
utama, Takeshi tiba-tiba berkata pelan.
"Sungguh
menyenangkan mengelilingi meja board game bersama kawan-kawan
akrab."
"Ya, benar.
Tentu saja, perkumpulan terbuka atau kafe board game yang mempertemukan
orang asing juga ada sisi baiknya, tapi..."
Sampai di situ,
aku menoleh ke arah Takeshi, seolah khawatir.
"Kalau dari
sudut pandang Takeshi, kamu pasti sudah kapok dengan 'hal seperti itu',
ya?"
"Benar.
Meskipun begitu, hamba juga bertemu dengan pertemuan yang baik, kok."
Aku ikut
tersenyum pada Takeshi yang membalas dengan senyum. Soalnya, pertemuan aku dan
Takeshi memang terjadi di perkumpulan board game sukarela—yang disebut
'perkumpulan terbuka'.
Dan itu adalah
perkumpulan yang cukup keras. Tanpa perlu menjelaskan detailnya, Takeshi, yang
baru pertama kali serius bermain board game di perkumpulan itu dan sudah
benar-benar kelelahan, aku ajak bicara karena kami berasal dari sekolah yang
sama... itulah awal perkenalan kami.
Sejak saat itu,
kami sering berbicara di sekolah dan menjadi sangat akrab melalui board game.
Ketika kami menceritakannya kepada Hanegiri-sensei, beliau berkata, "Kalau
begitu, bagaimana kalau kita bermain board game bertiga sepulang
sekolah?"
Karena itu
menyenangkan, pertemuan itu berlanjut sampai tiga, empat kali, dan Sensei
mengusulkan "Bagaimana kalau sekalian kita ajukan sebagai klub saja?"
hingga akhirnya beliau mendirikan klub. Kira-kira pada saat itulah Hankui mulai
mengincar kami, dan yah, ada banyak hal yang terjadi.
Takeshi
bergumam sambil melihat keluar, seolah merindukan hari-hari itu.
"Hamba
bisa terus menyukai board game sampai sekarang, itu berkat
Tokiwa-shi."
"Terima
kasih kembali. Tapi kalau
begitu, kita juga harus berterima kasih pada Hanegiri-sensei."
"...Mm. Itu
benar..."
Tiba-tiba,
Takeshi memberikan respons yang tidak seperti biasanya, seolah ada sesuatu yang
tersembunyi.
Saat aku
memiringkan kepala, Takeshi melanjutkan dengan sedikit canggung.
"Ah, tidak,
bagaimana ya menjelaskannya. Meskipun hamba harus mengatakan ini kepada
Tokiwa-shi. Sulit bagi hamba untuk mengatakannya..."
Setelah memberi
pendahuluan itu, Takeshi berkata.
"Sama
seperti Hankui-shi, sebenarnya hamba juga, agak merasa tidak nyaman dengan
Hanegiri-shi."
"Eh,
benarkah? Aku baru dengar."
"M-mohon
maaf."
"Hei, kamu
tidak perlu minta maaf sama sekali. Tapi, kenapa ya? Padahal beliau guru yang
baik."
"Hmm,
yang ini hamba tidak tahu. Pandangan hamba terhadap orang juga sangat
meragukan, sih."
"Haha,
itu memang benar."
Aku
menjawab sambil tertawa, tetapi dalam hati aku cukup penasaran. Kalau hanya
perbedaan selera kecil, itu tidak masalah, tetapi cukup memberatkan jika
seorang teman tidak menyukai orang yang menjadi penolongku.
Namun,
melihatku seperti itu, Takeshi menyeringai dengan senyum jahil.
"Apakah
Tokiwa-shi sekarang sedikit mengerti perasaan hamba yang tidak suka dengan
permusuhan antara Tokiwa-shi dan Hankui-shi?"
"Ugh,
kalau kamu bilang begitu...! Tidak, tapi itu jelas berbeda dari masalah
Hanegiri-sensei, 'kan. Bukankah agak tidak masuk akal untuk memintaku menerima
Hankui yang secara terang-terangan menyerang seperti itu?"
"Itu benar.
Namun, meskipun terlihat seperti itu, dia juga punya sisi manis, lho?"
"Lho,
Takeshi, jangan-jangan kamu dan Hankui memang punya hubungan..."
"Hoh, jadi
Tokiwa-shi melihat hamba yang sekarang 'punya pacar', begitu!"
"M-maaf.
Yah, tapi bukannya kalian memang pernah pacaran sebentar?"
"Itu
tergantung interpretasinya. Tokiwa-shi, apakah kamu bisa dengan bangga
mengatakan bahwa kamu 'berpengalaman' dalam board game yang hanya kamu
ikuti satu giliran sebagai uji coba sambil mengajarinya?"
"Tentu saja
tidak. Eh, separah itu?"
"Benar.
Suatu hari Hankui-shi bertanya, 'Apakah kamu membenciku?' Spontan hamba
menyangkalnya, lalu dia mendesak, 'Berarti kamu suka aku dong. Aku juga suka.
Asik, berarti kita resmi pacaran, 'kan.' Benar-benar secepat kilat."
"Eeh..."
Aku terkejut. ...Astaga, Hankui.
"Setelah
itu, hamba melakukan segala cara. Akhirnya, hamba berhasil membatalkannya tepat
sebelum masa tenggang cooling off berakhir, itulah akhirnya."
"Lho, kenapa
ya, aku pikir sedang mendengarkan cerita cinta, tapi akhirnya malah jadi cerita
penipuan?"
Ditambah
lagi, dia sekarang dengan bangga menyebut dirinya 'mantan pacar'. Sungguh,
astaga, Hankui. ...Tapi, yah, sejujurnya, sampai sejauh ini, aku jadi agak
kagum.
Kami mengobrol sebentar lagi dan keluar dari sekolah, lalu
berpisah di depan stasiun.
Saat aku berjalan menuju peron kereta ke arah rumah, aku
melihat wajah kenalan yang tak terduga. Dia duduk di bangku peron dengan
punggung tegak.
Jujur, aku sempat berpikir untuk mengabaikannya, tetapi
percakapan dengan Takeshi tadi melintas di pikiranku, dan mau tak mau—aku
berhenti di depan atlet lari kebanggaan sekolah kami dan memanggilnya.
"...Sedang apa, Hankui."
"Menunggu seseorang."
"Rumah Takeshi bukan di arah sini."
"Itu benar.
Tapi rumahku di arah sini."
"...Biasanya
kamu mengejar Takeshi atau pulang sambil lari dari sekolah, 'kan."
"Itu
benar. Biasanya."
Katanya,
Hankui mendongak menatapku. Hmm, aku pikir "tatapan mendongak wanita"
seharusnya lebih imut kalau dilihat dari penulisannya saja. Aku tidak menyangka
ada kasus di mana itu bisa terasa begitu "menimbulkan firasat buruk."
Ekspresi tulisan itu sulit.
Dia
melanjutkan obrolan tanpa kupinta.
"Sungguh
menyebalkan, kalau menghabiskan waktu untuk hal seperti ini, warna kulitku yang
sudah susah payah dijemur akan memudar. Padahal aku gampang putih."
"Aku
tidak tahu. Lagi pula, tidak masalah 'kan kalau warna kulitmu agak
memudar."
"Tidak
boleh."
"?
Apakah ini masalah gaya busana?"
"Bisa
dibilang begitu, karena..."
Sampai di
situ, Hankui menyeringai dan menatapku dengan tatapan provokatif.
"Kulit
yang sehat dan kecokelatan itu sangat efektif untuk memancing rasa minder
kalian, 'kan?"
"............"
"Kalau
perlu, rambut pirang, pakaian santai, dan kulit kecokelatan ini sebenarnya sama
sekali bukan seleraku. Tapi tidak masalah. Khusus untuk Takeshi dan kamu."
Entah kenapa, aku
malah terkesan kalau kejahatan itu diungkapkan secara terus terang dan disertai
dengan usaha. Sebenarnya dia ini orang macam apa. Semangatnya untuk mengganggu
kami benar-benar di luar nalar.
Hankui
melanjutkan dengan tenang.
"Sebaliknya,
Takeshi mudah menghitam, ya. Jadi dia akan segera..."
"Hankui."
Aku menyela
perkataannya yang sama sekali tidak penting.
"Tolong
langsung ke intinya saja. Kamu ada urusan denganku, 'kan?"
"Ya.
Memangnya kamu pikir aku datang menemui Tokiwa tanpa ada urusan? Sungguh
terlalu percaya diri. Jangan-jangan kamu menganggap serius apa yang kuucapkan
di 'acara yang lalu'?"
Hankui
tertawa terbahak-bahak seolah mengejek. I-orang ini sungguh...!
Saat aku
gemetar karena marah, Hankui entah mengapa mengeluarkan smartphone dari
sakunya dan mulai mengoperasikannya.
"Lho,
kamu tidak mau langsung ke intinya?"
"Sudah kok.
Nih."
"?"
Saat dia
menggumamkan itu. Smartphone-ku bergetar. Sepertinya dia mengirim
sesuatu lewat LINE. Aku dengan enggan mengeluarkan smartphone-ku sambil
bergumam.
"Kalau ujung-ujungnya lewat smartphone, kenapa
repot-repot datang langsung..."
Sambil berbicara, aku melihat layar smartphone—dan
tanpa sadar mataku terbelalak.
Di sana,
sebuah—foto ditampilkan. Sebuah foto yang sangat tidak senonoh.
Seketika,
Hankui berkata dengan senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya, tampak
sangat puas.
"Kenapa
aku datang menemuimu? Karena aku ingin melihat wajah bodohmu secara langsung,
Tokiwa."
"...Kau..."
Aku
menatap Hankui, suaraku bergetar karena emosi yang bercampur antara marah dan
putus asa. Namun, dia sama
sekali tidak gentar dan melanjutkan, "Tolong jangan salah paham."
"Ini bukan
kejahatan, melainkan belas kasih dan ketulusan. Peringatan awal dari teman
untuk temannya."
"Peringatan
awal?"
"Ya. Dua jam
lagi, aku akan membagikan 'ini' kepada pihak sekolah."
"Sial!"
Saat aku
terkejut, Hankui bangkit dari bangku peron dan berjalan menuju kereta yang
meluncur masuk ke peron, lalu menoleh ke belakang dengan ekspresi datar.
"Tidak naik? Tokiwa."
"............"
"............ Begitu. Sampai jumpa."
Katanya, Hankui
naik ke kereta. Aku pun, tanpa sadar melihat kereta yang seharusnya kutumpangi
berlalu. Aku lalu terhuyung-huyung duduk di bangku peron tempat Hankui duduk
tadi.
Kemudian, sambil
memutar otak untuk memikirkan solusi terbaik, aku sekali lagi menatap foto yang
dia kirimkan padaku.
Foto yang menangkap momen guru pembimbingku, Hanegiri Omito, keluar dari hotel cinta bersama seorang siswi SMA.



Post a Comment