NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Asobi no Kankei Volume 2 Interlude 2

High School Days 4/4


"Baiklah, untuk hari ini kita sudahi sampai di sini ya."

Guru pembimbing, Hanegiri Omito-sensei, memulai perkataan itu, dan kegiatan klub hari ini berakhir.

Aku merapikan board game yang terhampar di meja panjang sambil memanggil guruku.

"Terima kasih banyak untuk hari ini, Sensei. Padahal klub bisbol juga pasti sibuk..."

"Hm? Ah, tidak masalah. Aku ini hanya penasihat pajangan kok. Tidak ada gunanya kalau orang awam ikut campur dalam latihan, 'kan? Main board game dengan kalian jauh lebih bermanfaat."

Hanegiri-sensei berkata begitu, memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil tersenyum ramah. ...Dia memang benar-benar keren.

Bagiku, dia adalah penolong dan orang yang kukagumi. Yah, meskipun awalnya dia juga saingan cinta, tapi itu tidak penting. Orang yang secara pribadi menarik itu, pasti selalu ada.

Kemudian, Takeshi, anggota klub yang lain, mulai membantu membereskan sambil berkata.

"Sebagai anggota klub lemah yang hanya bermain bertiga, hamba selalu merasa tidak enak karena memonopoli ruangan seperti ini."

"Haha, seperti yang pernah kubilang, tidak usah khawatir. Tempat ini dianggap gudang inventaris yang ku kelola, kok. Ibaratnya, ini seperti ruangan pribadiku."

"Hm, punya ruangan pribadi di sekolah, itu sungguh elegan. Hamba agak iri."

"Begitu? Kalau mau, lain kali aku pinjamkan semalam secara diam-diam?"

Menanggapi usulan nakal dari guru pembimbing itu, Takeshi mengangkat bahu dan membalas.

"Hamba menolak. Rutinitas hamba di malam hari adalah berpartisipasi penuh dalam live stream idola dari PC di kamar hamba. Fufufu."

Sambil tertawa begitu, Takeshi yang tidak seperti biasanya mulai mengenakan jasnya. Takeshi yang pada dasarnya sangat gampang berkeringat—ralat, "metabolismenya bagus"—cenderung berpakaian tipis sebisa mungkin di sekolah, tapi sepertinya menjelang pulang di awal musim gugur, hal itu tidak bisa ia lakukan.

...Tidak, aku ingat pernah melihat Takeshi dengan kaus pendek saat turun salju, jadi mungkin itu hanya sekadar iseng.

Melihat Takeshi yang cuek itu, Hanegiri-sensei melanjutkan dengan nada kecewa.

"Begitu, ya? Menginap di sekolah kita itu lumayan seru lho, padahal keamanannya longgar."

Gaya bicaranya yang jelas mengisyaratkan adanya 'catatan kriminal' membuatku tersenyum kecut. Meskipun dia biasanya bersikap dewasa, ada sisi kekanak-kanakan di dalam dirinya. Yah, mungkin karena itu juga dia mau bermain board game bersama kami.

Kami segera menyelesaikan kegiatan beres-beres, lalu bertiga keluar dari ruangan. Kami berpisah dengan Hanegiri-sensei, yang berkata bahwa meskipun dia hanya pajangan, dia tetap harus menyapa klub bisbol, dan aku pun berjalan pulang berdua dengan Takeshi.

Saat kami berjalan menyusuri koridor yang diwarnai oleh senja menuju pintu masuk gedung utama, Takeshi tiba-tiba berkata pelan.

"Sungguh menyenangkan mengelilingi meja board game bersama kawan-kawan akrab."

"Ya, benar. Tentu saja, perkumpulan terbuka atau kafe board game yang mempertemukan orang asing juga ada sisi baiknya, tapi..."

Sampai di situ, aku menoleh ke arah Takeshi, seolah khawatir.

"Kalau dari sudut pandang Takeshi, kamu pasti sudah kapok dengan 'hal seperti itu', ya?"

"Benar. Meskipun begitu, hamba juga bertemu dengan pertemuan yang baik, kok."

Aku ikut tersenyum pada Takeshi yang membalas dengan senyum. Soalnya, pertemuan aku dan Takeshi memang terjadi di perkumpulan board game sukarela—yang disebut 'perkumpulan terbuka'.

Dan itu adalah perkumpulan yang cukup keras. Tanpa perlu menjelaskan detailnya, Takeshi, yang baru pertama kali serius bermain board game di perkumpulan itu dan sudah benar-benar kelelahan, aku ajak bicara karena kami berasal dari sekolah yang sama... itulah awal perkenalan kami.

Sejak saat itu, kami sering berbicara di sekolah dan menjadi sangat akrab melalui board game. Ketika kami menceritakannya kepada Hanegiri-sensei, beliau berkata, "Kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain board game bertiga sepulang sekolah?"

Karena itu menyenangkan, pertemuan itu berlanjut sampai tiga, empat kali, dan Sensei mengusulkan "Bagaimana kalau sekalian kita ajukan sebagai klub saja?" hingga akhirnya beliau mendirikan klub. Kira-kira pada saat itulah Hankui mulai mengincar kami, dan yah, ada banyak hal yang terjadi.

Takeshi bergumam sambil melihat keluar, seolah merindukan hari-hari itu.

"Hamba bisa terus menyukai board game sampai sekarang, itu berkat Tokiwa-shi."

"Terima kasih kembali. Tapi kalau begitu, kita juga harus berterima kasih pada Hanegiri-sensei."

"...Mm. Itu benar..."

Tiba-tiba, Takeshi memberikan respons yang tidak seperti biasanya, seolah ada sesuatu yang tersembunyi.

Saat aku memiringkan kepala, Takeshi melanjutkan dengan sedikit canggung.

"Ah, tidak, bagaimana ya menjelaskannya. Meskipun hamba harus mengatakan ini kepada Tokiwa-shi. Sulit bagi hamba untuk mengatakannya..."

Setelah memberi pendahuluan itu, Takeshi berkata.

"Sama seperti Hankui-shi, sebenarnya hamba juga, agak merasa tidak nyaman dengan Hanegiri-shi."

"Eh, benarkah? Aku baru dengar."

"M-mohon maaf."

"Hei, kamu tidak perlu minta maaf sama sekali. Tapi, kenapa ya? Padahal beliau guru yang baik."

"Hmm, yang ini hamba tidak tahu. Pandangan hamba terhadap orang juga sangat meragukan, sih."

"Haha, itu memang benar."

Aku menjawab sambil tertawa, tetapi dalam hati aku cukup penasaran. Kalau hanya perbedaan selera kecil, itu tidak masalah, tetapi cukup memberatkan jika seorang teman tidak menyukai orang yang menjadi penolongku.

Namun, melihatku seperti itu, Takeshi menyeringai dengan senyum jahil.

"Apakah Tokiwa-shi sekarang sedikit mengerti perasaan hamba yang tidak suka dengan permusuhan antara Tokiwa-shi dan Hankui-shi?"

"Ugh, kalau kamu bilang begitu...! Tidak, tapi itu jelas berbeda dari masalah Hanegiri-sensei, 'kan. Bukankah agak tidak masuk akal untuk memintaku menerima Hankui yang secara terang-terangan menyerang seperti itu?"

"Itu benar. Namun, meskipun terlihat seperti itu, dia juga punya sisi manis, lho?"

"Lho, Takeshi, jangan-jangan kamu dan Hankui memang punya hubungan..."

"Hoh, jadi Tokiwa-shi melihat hamba yang sekarang 'punya pacar', begitu!"

"M-maaf. Yah, tapi bukannya kalian memang pernah pacaran sebentar?"

"Itu tergantung interpretasinya. Tokiwa-shi, apakah kamu bisa dengan bangga mengatakan bahwa kamu 'berpengalaman' dalam board game yang hanya kamu ikuti satu giliran sebagai uji coba sambil mengajarinya?"

"Tentu saja tidak. Eh, separah itu?"

"Benar. Suatu hari Hankui-shi bertanya, 'Apakah kamu membenciku?' Spontan hamba menyangkalnya, lalu dia mendesak, 'Berarti kamu suka aku dong. Aku juga suka. Asik, berarti kita resmi pacaran, 'kan.' Benar-benar secepat kilat."

"Eeh..."

Aku terkejut. ...Astaga, Hankui.

"Setelah itu, hamba melakukan segala cara. Akhirnya, hamba berhasil membatalkannya tepat sebelum masa tenggang cooling off berakhir, itulah akhirnya."

"Lho, kenapa ya, aku pikir sedang mendengarkan cerita cinta, tapi akhirnya malah jadi cerita penipuan?"

Ditambah lagi, dia sekarang dengan bangga menyebut dirinya 'mantan pacar'. Sungguh, astaga, Hankui. ...Tapi, yah, sejujurnya, sampai sejauh ini, aku jadi agak kagum.

Kami mengobrol sebentar lagi dan keluar dari sekolah, lalu berpisah di depan stasiun.

Saat aku berjalan menuju peron kereta ke arah rumah, aku melihat wajah kenalan yang tak terduga. Dia duduk di bangku peron dengan punggung tegak.

Jujur, aku sempat berpikir untuk mengabaikannya, tetapi percakapan dengan Takeshi tadi melintas di pikiranku, dan mau tak mau—aku berhenti di depan atlet lari kebanggaan sekolah kami dan memanggilnya.

"...Sedang apa, Hankui."

"Menunggu seseorang."

"Rumah Takeshi bukan di arah sini."

"Itu benar. Tapi rumahku di arah sini."

"...Biasanya kamu mengejar Takeshi atau pulang sambil lari dari sekolah, 'kan."

"Itu benar. Biasanya."

Katanya, Hankui mendongak menatapku. Hmm, aku pikir "tatapan mendongak wanita" seharusnya lebih imut kalau dilihat dari penulisannya saja. Aku tidak menyangka ada kasus di mana itu bisa terasa begitu "menimbulkan firasat buruk." Ekspresi tulisan itu sulit.

Dia melanjutkan obrolan tanpa kupinta.

"Sungguh menyebalkan, kalau menghabiskan waktu untuk hal seperti ini, warna kulitku yang sudah susah payah dijemur akan memudar. Padahal aku gampang putih."

"Aku tidak tahu. Lagi pula, tidak masalah 'kan kalau warna kulitmu agak memudar."

"Tidak boleh."

"? Apakah ini masalah gaya busana?"

"Bisa dibilang begitu, karena..."

Sampai di situ, Hankui menyeringai dan menatapku dengan tatapan provokatif.

"Kulit yang sehat dan kecokelatan itu sangat efektif untuk memancing rasa minder kalian, 'kan?"

"............"

"Kalau perlu, rambut pirang, pakaian santai, dan kulit kecokelatan ini sebenarnya sama sekali bukan seleraku. Tapi tidak masalah. Khusus untuk Takeshi dan kamu."

Entah kenapa, aku malah terkesan kalau kejahatan itu diungkapkan secara terus terang dan disertai dengan usaha. Sebenarnya dia ini orang macam apa. Semangatnya untuk mengganggu kami benar-benar di luar nalar.

Hankui melanjutkan dengan tenang.

"Sebaliknya, Takeshi mudah menghitam, ya. Jadi dia akan segera..."

"Hankui."

Aku menyela perkataannya yang sama sekali tidak penting.

"Tolong langsung ke intinya saja. Kamu ada urusan denganku, 'kan?"

"Ya. Memangnya kamu pikir aku datang menemui Tokiwa tanpa ada urusan? Sungguh terlalu percaya diri. Jangan-jangan kamu menganggap serius apa yang kuucapkan di 'acara yang lalu'?"

Hankui tertawa terbahak-bahak seolah mengejek. I-orang ini sungguh...!

Saat aku gemetar karena marah, Hankui entah mengapa mengeluarkan smartphone dari sakunya dan mulai mengoperasikannya.

"Lho, kamu tidak mau langsung ke intinya?"

"Sudah kok. Nih."

"?"

Saat dia menggumamkan itu. Smartphone-ku bergetar. Sepertinya dia mengirim sesuatu lewat LINE. Aku dengan enggan mengeluarkan smartphone-ku sambil bergumam.

"Kalau ujung-ujungnya lewat smartphone, kenapa repot-repot datang langsung..."

Sambil berbicara, aku melihat layar smartphone—dan tanpa sadar mataku terbelalak.

Di sana, sebuah—foto ditampilkan. Sebuah foto yang sangat tidak senonoh.

Seketika, Hankui berkata dengan senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya, tampak sangat puas.

"Kenapa aku datang menemuimu? Karena aku ingin melihat wajah bodohmu secara langsung, Tokiwa."

"...Kau..."

Aku menatap Hankui, suaraku bergetar karena emosi yang bercampur antara marah dan putus asa. Namun, dia sama sekali tidak gentar dan melanjutkan, "Tolong jangan salah paham."

"Ini bukan kejahatan, melainkan belas kasih dan ketulusan. Peringatan awal dari teman untuk temannya."

"Peringatan awal?"

"Ya. Dua jam lagi, aku akan membagikan 'ini' kepada pihak sekolah."

"Sial!"

Saat aku terkejut, Hankui bangkit dari bangku peron dan berjalan menuju kereta yang meluncur masuk ke peron, lalu menoleh ke belakang dengan ekspresi datar.

"Tidak naik? Tokiwa."

"............"

"............ Begitu. Sampai jumpa."

Katanya, Hankui naik ke kereta. Aku pun, tanpa sadar melihat kereta yang seharusnya kutumpangi berlalu. Aku lalu terhuyung-huyung duduk di bangku peron tempat Hankui duduk tadi.

Kemudian, sambil memutar otak untuk memikirkan solusi terbaik, aku sekali lagi menatap foto yang dia kirimkan padaku.

Foto yang menangkap momen guru pembimbingku, Hanegiri Omito, keluar dari hotel cinta bersama seorang siswi SMA.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close