NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Eroge no Hakushaku Reijo V2 Chapter 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 5

Aduh, aku naik pangkat terlalu jauh!


"Apa yang kalian lakukan! Dasar nggak kapok, muncul lagi di markas pasukan logistik..."


Suara Bowman terdengar dari luar peti mati.


"Berisik! Kami nggak akan ngapa-ngapain! Cuma mau lihat muka dia aja!"


"Betul. Dasar kaum lemah, diamlah! Kali ini kami sudah dapat izin dari atasan, jadi kalau kau keberatan, siap-siap kuhajar!"


Sungguh pemakaman yang ribut... atau ini upacara perpisahan?


Aku nggak yakin apakah upacara pemakaman di dunia eroge ini sama dengan kebiasaan Jepang atau tidak.


"Dia itu pacarmu?"


"……"


Hm? Yuri terdengar menanyai hubungan antara aku dan Nirvana. Tapi jawabannya terlalu pelan dan aku nggak bisa dengar.


Yah, Nirvana menangis kemarin karena aku—sebagai Noct—bertaruh nyawa untuk menolongnya. Itu soal perasaan spontan, bukan soal suka atau cinta. Lagi pula, yang akhirnya menolongnya adalah semua orang dari pasukan logistik.


"Yuri."


"Ya ya, jangan nyuruh-nyuruh."


Peti yang masih belum dipaku itu dibuka oleh mereka berdua, dan sepertinya mereka menatap wajahku.


"Hmph, menyedihkan! Padahal dia sempat menghabisi Gigantes, monster peringkat-S yang bahkan kami sama sekali nggak bisa lawan walau serangannya cuma mengenai kebetulan..."


Jangan bilang mereka kesini karena mengikuti jejak si monster itu? Jangan sampai tiba-tiba muncul gelombang besar pasukan iblis, aku nggak akan kuat mental.


Irina menaruh setangkai bunga kecil berwarna merah muda mirip bunga ume di saku dadaku.


Bunga thyme? Kalau aku ingat benar, arti bunganya "keberanian".


"Dan pada akhirnya kau malah ikut terkubur juga... Bodoh banget! Padahal kalau kau bisa mengalahkan kami, paling nggak aku bakal mempertimbangkan untuk pergi kencan sekali sama kamu..."


"Hah!? Irina, jadi tipe cowokmu itu kutu buku kayak gini!? Seleramu buruk!"


"Kau bilang apa!? Wajahnya seratus kali lebih bagus dari punyamu! Hidungnya mancung, bibirnya seksi. Terus garis rahangnya juga bagus. Jauh lebih keren daripada kamu!"


"APA!?"


Mereka berdua mulai bertengkar lagi, dan sulit sekali untuk tetap pura-pura mati. Kalau aku benar-benar mati, lalu mereka bertengkar di hadapan jenazahku, ratusan persen mereka sudah diusir dari ruangan!


Aku mendengar langkah Nirvana mendekat.


Sepertinya dia datang untuk menegur dua orang yang tak tahu sopan santun ini. Seperti yang diharapkan dari Nirvana.


"Tidak boleh. Itu sama sekali tidak boleh. Aku tidak akan mengizinkan kamu dan Noct pergi kencan, titik."


Eh? Kupikir dia akan memarahi mereka, tapi yang keluar malah ucapan penuh kecemburuan.


Nirvana tidak mungkin tahu aku ini Nord, bukan Noct. Penyamaranku sempurna!


"Gigantes itu—individu bernama Bals—adalah monster yang pernah menghancurkan sebuah benteng hanya dengan satu serangan, dan pasukan penaklukan yang mengalahkannya diberikan Medali Naga Pelindung serta kenaikan pangkat tiga tingkat. Tapi kau cuma mati dan naik dua tingkat aja? Bodoh banget..."


Irina mengetuk ringan peti tempat aku berada.


────Sayang sekali. Naik tiga tingkat artinya langsung jadi perwira, ‘kan?


────Naik pangkat dari bawah sampai jadi perwira itu gila banget!


Para prajurit logistik yang tadi menahan napas langsung ikut bergosip setelah mendengar kata-katanya.


Eh? Itu Gigantes... ternyata monster bernama!?


Saat aku menahan diri agar alisku tidak bergerak-gerak karena kaget, Yuri menambahkan:


"Irina, salah. Dia mengalahkan Bals sendirian. Monster yang nggak yakin bisa dikalahkan bahkan oleh satu batalion. Artinya dia seorang diri setara satu batalion penuh. Prajurit kelas batalion semacam itu pasti diincar negara mana pun. Karena itu, para petinggi sedang mempertimbangkan memberinya pangkat jenderal untuk menahannya."


"Apa!? Jenderal!?"


Karena kaget mendengar kata "jenderal" dari Yuri, aku langsung duduk tegak di dalam peti—tanpa sadar.


"Hii!?"


"Waah!?"


"N-Noct!!"


Irina, Yuri, dan Nirvana langsung pucat seperti melihat zombie bangkit dari kubur.


"Dia... dia berubah jadi roh gentayangan!? Cepat, ambilkan katalis Merah! Kita kremasi dia sekarang!"


"Siap!"


Bowman memerintahkan prajurit di dekatnya.


"Tunggu tunggu tunggu! Aku masih hidup..."


Nggak bisa kusembunyikan lagi. Dengan berat hati, aku jujur mengaku...


───Di dalam kereta menuju ibu kota.


Aku sama sekali nggak tertarik pada upacara pemberian medali. Tapi kupikir ini kesempatan bagus untuk mengembalikan Nirvana ke posisinya sebagai putri kekaisaran, jadi aku menerima dengan patuh.


Tapi, masalahnya siapa yang ikut naik bersama.


"Kenapa kalian ikut naik?"


Kalau Nirvana aku mengerti—dia rekanku. Tapi entah kenapa Kurchatov bersaudara juga duduk di sini. Posisi duduknya: Nirvana, aku, Irina, dan di seberang kami Yuri.


Yuri memalingkan wajah dariku dengan kesal. Nirvana langsung memusuhi Irina yang sedang menempelkan diri ke lenganku.


"Irina, kau... tadi berbicara buruk tentang Noct, kan?"


"Mana ingat~? Irina emangnya bilang begitu, ya?"


Sambil menempel di lenganku, Irina menjawab pura-pura polos. Urat di dahi Nirvana tampak menonjol.


"Lepaskan, Irina. Aku belum mengizinkan kalian pacaran. Dan Noct! Kenapa kau membiarkan adikku menempel padamu!? Mau kumasukkan kau ke peti lagi, hah!?"


Yuri berdiri dan mencoba menghampiri kami, tapi kereta terguncang karena roda masuk lubang, membuatnya jatuh terduduk.


Irina langsung menunjuk dan menertawakannya.


"Waaah, cowok cemburuan itu lucu banget!"


"Memalukan sekali."


Benar juga, Kurchatov bersaudara adalah pasukan tempur, tapi punya kemampuan tempur absurd.


"Kami diperintah untuk mengawasi sekaligus melindungimu... benar-benar tidak menyenangkan..."


"Waaah, nggak bisa bilang terima kasih ke penyelamat nyawanya sendiri~? Yuri memang anak kecil~"


"Ugh! Aku bukan kalah dari Noct!"


Yuri menatapku tajam, tapi dia tidak menyentuh senjata, artinya dia tidak berniat menyerang.


"Kalian jaga Nirvana saja. Aku tidak butuh pengawalan kalian."


"Hmph! Dari awal aku juga nggak berniat mengawalmu!"


"Akupun juga nggak mau! Selama aku bisa bersama Noct, itu sudah cukup!"


Melihat perubahan sikap Irina yang terlalu terang-terangan, aku hampir memasang wajah kosong.


"Hah!? Kenapa Irina bisa bersama Noct? Noct itu rekanku, jadi kau harusnya bersama Yuri."


"Noct~, Fana bilang begitu. Tegur dia."


Seperti dugaan, Irina memang tipe cewek berbahaya...


──── Istana Kekaisaran Oiran.


Seorang wanita duduk bersila di atas singgasana, entah merasa dirinya kaisar atau apa, sambil mengisap pipa panjang dan memandangku dari atas.


Itu adalah selir istana, Antonia.


Di atas lantai marmer terbentang karpet merah panjang, dan aku berdiri di atasnya. 


Aku ingin berlutut, tapi tubuhku menolak, jadi aku hanya bisa menunduk. Padahal di kehidupan sebelumnya aku selalu memilih mundur, merendah, dan mengalah agar aman... Kalau aku hidup sebagai Nord yang angkuh dari dulu, pasti tiap hari kena hujatan.


"Angkat wajahmu."


Suara seorang pria berperut buncit yang sepertinya seorang menteri terdengar bergetar, entah karena marah atau takut.


Mataku dan milik wanita itu saling bertemu.


Benar-benar berwajah seperti rubah betina yang berhasil memikat kaisar Oiran. Dia mengenakan gaun off-shoulder merah yang menonjolkan belahan dada, berusaha tampil muda, tapi justru menyedihkan. 


Aku ingat dia memang membuang banyak uang untuk kecantikan dan punya kebiasaan boros yang gila.


Dengan suara manja seperti dialek rumah bordil, Antonia bicara padaku.


"Jadi, kamu kah? Pria yang katanya mengalahkan monster mengerikan yang menghancurkan benteng kebanggaan Kekaisaran Oiran itu?"


"Ya, aku yang mengalahkannya."


Karena rahasia itu sudah terbongkar, kupikir tak perlu menjaga sikap lagi. Dan itu kesalahan besar. Aku baru saja berbicara santai pada wanita yang sementara ini memegang kekuasaan kekaisaran.


"Apa-apaan! Berani sekali bicaramu! Ini di hadapan Antonia-sama! Sikapmu sejak tadi, ditambah kelancanganmu, sudah keterlaluan!"


Menteri itu maju setengah langkah sambil menebas udara dengan tangan, tapi suara lain segera menghentikannya.


"Tunggu. Lebih penting dari itu, apakah kau menginginkan suatu hadiah?"


Teguran Antonia membuat menteri itu mengecil seperti anjing dipukul, sementara aku—sebaliknya—membiarkan bahasa Nord-ku keluar sepenuhnya.


"Hmph! Kenapa aku harus sungkan pada wanita biasa dari rakyat jelata yang bahkan bukan kaisar dan bukan darah bangsawan? Aku sudah melakukan hal yang kalian tidak mampu lakukan—aku bisa dibilang pahlawan penyelamat negara. Kalau kalian ingin menuntut sopan santun dariku, tundukkan aku dulu baru bicara."


Gawat. Sangat gawat. Benar-benar "sangat disayangkan"... (menangis).


"Apa katamu! Penjaga! Tangkap dia!"


Sepertinya menteri itu benar-benar mencapai batas marahnya.


Tapi bertentangan dengan keinginannya, Antonia justru berkata hal tak terduga.


"Berhenti."


"Tapi!"


"Apakah kau... membantahku? Penjaga, kirim anjing tak tahu terima kasih ini ke Penjara Serangga."


"Antonia-sama! Jangan itu saja!!"


Waduh... Menteri itu ditahan oleh para penjaga, satu mengunci tubuhnya, satu lagi memegang kakinya.


"Hii—hiii—! Tidak! Jangan Penjara Serangga! Ampun—!!"


Saat diseret keluar dari ruang singgasana, dia berpegangan pada kusen pintu, tapi penjaga memukul lengannya hingga terlepas, lalu tubuhnya menghilang di balik pintu. 


Memang tidak sampai mati, tapi orang yang masuk Penjara Serangga bakal diselimuti tumpukan kecoak raksasa dan jadi amat sangat patuh sesudahnya.


"Baiklah, anjing yang hanya bisa menggonggong sudah pergi. Kau bisa melakukan apa?"


Antonia melepas pipanya dan menghembuskan asap panjang sebelum menampilkan ekspresi malas bosan.


Aku berjalan ke depan, menuju peta besar wilayah kekaisaran yang tergantung di dinding ruang singgasana. Para pejabat yang berdiri di depannya langsung menyingkir cepat ketika aku mendekat.


Aku mengetuk peta. Tangan yang mengetuk itu berada tepat di wilayah Zetzlingen, daerah yang kini diserang hebat oleh para iblis.


"Aku? Hmm, paling tidak, aku bisa melenyapkan seluruh pasukan Raja Iblis yang menyerang Oiran. Ada keberatan?"


"Aduh! Kau suka membual rupanya... tapi sepertinya kemampuanmu asli. Baiklah, aku angkat kau menjadi seorang perwira tinggi. Habisi para iblis sepuasmu."


"Tunggu. Aku tidak butuh pangkat sampah seperti perwira tinggi. Yang lebih penting adalah... Nirvana, kemari!"


"Eh!?"


Bukan nama panggilannya, Fana, melainkan nama asli yang dirampas darinya—Nirvana.


Begitu aku memanggil namanya, seorang maid yang berdiri bersama para pejabat kecil langsung tersentak. Aku telah memberi Nirvana seragam maid dan menempatkannya dekat denganku.


Aku menggenggam tangannya dan menariknya ke sisiku.


Pipi Nirvana memerah. Saat memakai wujud Nord, bahkan gerakan norak sepertiku bisa terlihat keren—benar-benar mengerikan...


"Fufu... Hadiah? Yang kuinginkan hanya satu. Fana... tidak, Nirvana Lilia Karyun Von Oiran dipulihkan kembali sebagai putri. Tidak ada permintaan lainnya. Jika tidak, aku tidak akan mengerahkan kekuatanku untuk Oiran."


Ruang singgasana mendadak gaduh.


"Noct!? Kau... apa yang kau bicarakan!? Itu tidak mungkin diizinkan Antonia..."


Nirvana mengepalkan tangan dan menunduk. Aku benar-benar marah melihat perempuan rubah ini mencuri bahkan rasa percaya diri darinya.


"Kapan kau berubah menjadi rakyat jelata biasa? Tak ada bangsawan yang setulus dirimu mencintai rakyat. Kini saatnya kau bangkit kembali sebagai putri."


"U-um..."


Dia hanya mengangguk ragu. Maka aku mengalihkan tatapan ke pihak satunya.


"Kau sendiri bagaimana? Di saat para iblis menyerbu, ini bukan waktu untuk konflik internal. Kalau mau berpolitik, lakukan setelah menghancurkan musuh bersama. Jangan terbalik!"


Menakjubkan, Antonia benar-benar mendengarkan. Tinggal sedikit lagi Nirvana bisa dipulihkan sebagai putri.


Namun—pintu ruang singgasana terbuka keras. Seorang pria berpakaian seragam putih mirip angkatan laut bergegas masuk.


"Ibu! Di mana orang tak sopan itu!?"


Yang masuk dengan sikap berlebihan itu adalah Putra Mahkota Siegfried. Bermata tajam, berambut pirang, cukup tampan, dan dalam game dia adalah karakter yang menyukai Elise. 


Mantelnya berkibar saat dia mendekat, dan dengan gerakan besar memakai sarung tangan putih, ia memohon pada ibunya, Antonia.


Tatapan semua pejabat beralih pada kami. Siegfried juga cepat memahami situasinya, lalu menunjuk dadaku dengan telunjuk dan mulai membentak.


"Mengembalikan si tak berguna itu ke status putri? Kau salah paham? Nirvana itu pergi ke medan perang atas kemauan sendiri. Kami hanya menghormati keinginannya."


Aku mendengarkan sambil menyilangkan tangan.


"Hm, begitu ya. Lalu perlukah untuk mencabut status putrinya? Biarkan saja sebagai putri dan kirim dia ke medan perang. Sama seperti kau!"


"Kau... Berani menghina Putra Mahkota di istana Oiran? Tampaknya kau ingin mati di tempat."


"Kebetulan, aku sedang menilai apakah putra mahkota ini memang pantas menerima kesetiaanku. Kalau tidak setuju dengan tindakanku, hadapilah aku kapan saja. Semuanya akan kubantai balik. Tapi seperti yang kubilang—menghabisi para iblis dulu itu lebih penting. Atau kau tidak punya kapasitas ataupun strategi sebesar itu? Hanya itu dariku."


"Ghh... dasar mulutmu..."


Siegfried menggertakkan giginya, tapi Antonia mulai tertawa sambil menutup mulut dengan kipasnya.


"Ahahaha! Menarik! Kalau berhasil melenyapkan semuanya, barulah akan kukembalikan."


"Kembalikan sekarang. Atau bagaimana kalau aku memberi tahu kaisar kalau kaulah yang menyiksa Nirvana?"


Meski aku berkata begitu, Antonia tetap keras kepala. Memukuli Antonia atau Siegfried tidak akan menyelesaikan masalah—malah akan membuatnya jadi isu internasional.


Antonia membuka kipas hitamnya yang penuh ornamen emas lalu berbicara dengan nada puas.


"Meski kau membunuh monster besar itu, krisis kekaisaran belum hilang. Kalau kau bisa membunuh Raja Iblis yang menyerbu Oiran, barulah Nirvana akan kupulihkan sebagai putri."


"Ibu, itu usulan hebat! Semua pasti akan menerimanya. Yah, meski aku yang akan mengalahkannya duluan!"


Dasar brengsek semuanya!


Meski aku berpikir seperti itu, di sini adalah wilayah mereka. Karena aku sedang menahan kekuatan, mereka pasti sudah sangat meremehkanku. Tapi diremehkan justru menguntungkan. 


Jika aku menunjukkan hasil yang membuat dua orang itu tidak bisa membantah, maka aku bisa mengembalikan posisi Nirvana. Jika saat pemulihan posisi itu disertai dengan prestasi, para bawahannya pasti mau tak mau mengakui kemampuan Nirvana. Meskipun prestasi itu sebenarnya aku yang melakukannya.


"Ku-ku-ku… Hanya satu hal yang ingin kupastikan, tidak masalah kalau yang mengalahkan raja iblis itu bukan Nirvana, kan?"


"Ucapan yang cukup menghibur. Aku tidak peduli apakah kau hidup atau mati."


"Hahaha! Sekuat apapun kau membual, kalau tidak sesuai kemampuanmu, itu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."


"Ah, setelah kalian mati nanti aku tidak bisa meminta konfirmasi. Jadi tegaskan saja sekarang."


"…Baiklah. Jika kau berhasil mengalahkan raja iblis, aku akan mengembalikan Nirvana sebagai putri."


"Ibu! Apa benar Ibu percaya kata-kata orang seperti ini!?"


"Diam, Siegfried. Ini bukan hal buruk bagimu juga."


Antonia menenangkan Siegfried yang sudah terbawa emosi. Memang wajar, dia perempuan yang menguasai kekuasaan kerajaan menggantikan sang kaisar. Jauh lebih masuk akal dibanding pangeran sampah itu.


"Sebagai gantinya, semua prestasi penaklukan raja iblis akan diberikan pada Siegfried. Jika itu tidak masalah bagimu… kau menerima syarat itu?"


"Hmph, sudah kuduga. Baiklah. Prestasi mengalahkan satu atau dua raja iblis kuberikan saja."


Lebih baik memberikan prestasi itu daripada kesulitan bergerak karenanya.


——Kamar Nirvana


Rencanaku untuk mengembalikan posisi Nirvana sempat tertahan, tapi berkat prestasi mengalahkan Raja Slime, dia kini menjabat kembali sebagai perwira Fana Lunas, dan bisa menjalankan tugas militer bersamaku lagi.


"Terima kasih, Noct. Aku tidak tahu harus berterima kasih berapa kali… Tapi Noct, bagaimana kau bisa tahu kalau aku adalah putri? Padahal aku tidak pernah bilang pada siapa pun…"


Gik!? Nirvana menekan titik yang paling tidak ingin kusentuh.


"Ada banyak rumor bahwa kau itu putri. Jadi aku cuma memancing para rubah betina itu, dan kebetulan dugaanku benar. Lagipula aku belum mengembalikan statusmu sebagai putri. Kalau mau berterima kasih, lakukan nanti setelah itu."


"Begitu ya… Noct memang hebat. Aku kurang peka soal rumor-rumor begitu…"


Meski agak lambat, Nirvana sudah melakukan yang terbaik. Meski dia seorang putri bangsawan tinggi, dia bekerja keras di korps logistik tanpa mengeluh, dan sikapnya yang diam-diam terus bekerja sangat membuatku terkesan.


Saat aku bersantai di sofa sambil menyesap teh, aku jadi memikirkan bagaimana kondisi Meina dan Mari sekarang.


Ketika aku larut dalam pikiran, Nirvana duduk di sampingku, meletakkan cangkir teh, lalu menyentuh tanganku.


"Noct, ngomong-ngomong… cara bicaramu mirip dengan kekasihku. Kenapa ya?"


Bugh!? Aku hampir menyemburkan teh dan buru-buru menutup mulut dengan saputangan. Karena terlalu fokus untuk mengembalikan posisi Nirvana, aku lupa terus berbicara dengan bahasa Nord.


Dan sejak kapan aku jadi kekasihnya…!?


"Aku pernah diam-diam berkunjung ke Akkasen, lalu bertemu kembali dengan seorang anak laki-laki bernama Nord Vilance. Ya, itu pertemuan takdir. Saat itu aku merasa… ah, aku pasti akan menikah dengan Nord."


"Be-begitu ya. Baguslah. Memang agak cepat, tapi selamat ya."


Tidak! Bukankah Nirvana sudah dijodohkan dengan John!?

Bagaimana ini bisa terjadi!?


Belum pasti. Belum tentu semuanya berakhir begitu.


Nirvana itu orang yang punya penilaian yang benar. Ini pasti sekadar bias kenangan tentang Nord. Dia tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti membatalkan pertunangan dengan John—


…Tunggu, kalau begitu dia harus jatuh cinta pada Cain! Kalau tidak, aku yang celaka!!


"Noct… bolehkah aku bicara? Jangan ketawa ya?"


"Apa? Sekarang sudah terlambat untuk itu. Bukankah kita ini partner?"


"Benar. Aku… sebenarnya belum pernah pacaran dengan laki-laki. Ciumanku juga baru sekali saat bertemu Nord lagi. Itu ciuman pertamaku… di pipi sih…"


Haa… iya, ya…


Sempat terpikir Nirvana menyadari bahwa Noct itu aku yang menyamar, tapi karena dia sendiri bilang tidak peka, dia tidak menyadari bahwa Noct adalah Nord.


Aku mendengarkan ocehan khas anak perempuan yang sedang kasmaran, tapi Nirvana semakin mendekat.


"Karena itu, Noct… aku ingin meminta tolong. Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa. Tapi… mau dengarkan dulu?"


"Jangan berputar-putar. Kalau itu hal yang bisa kulakukan, akan kulakukan."


"Tadi aku bilang kan, aku belum punya pengalaman dengan laki-laki. Di usia segini, aku malu. Jadi… Noct, maukah kau latihan denganku? Karena cara bicaramu mirip dengan dia, pasti akan jadi latihan yang bagus…"


Aku paham perasaannya. Di duniaku sebelumnya aku juga penyihir perjaka.


"Aku paham, tapi lakukan saja itu dengan Nord. Kalau kau sudah pacaran dengannya, bukankah itu mengkhianatinya?"


"Aku tidak mau kalah. Di dekatnya ada seorang maid imut bernama Elise. Aku yakin dia mencintai Nord. Mata Elise saat memandang Nord mengatakan begitu."


Aku kehabisan kata.


"Aku tidak kenal Nord yang kau maksud. Tapi apakah kau benar-benar suka pada laki-laki yang suka main dengan banyak perempuan begitu?"


"Kalau bersamanya, hatiku sangat tenang. Kalau jauh darinya, dadaku terasa menusuk seperti ditusuk jarum besar. Bahkan saat melihat Nord berbicara dengan Elise, rasanya begitu… tapi aku adalah teman masa kecil dan kekasih Nord. Aku harus bertahan."


"Kalau begitu, bilang saja pada Nord untuk tidak menjalin hubungan dengan Elise. Kalau Nord tidak berubah meski kau bilang begitu, maka tinggalkan dia."


"Mana bisa aku menyerah begitu saja…"


Hati perempuan itu rumit…


"Tapi bukankah kau dijodohkan dengan raja muda Akkasen? Pada akhirnya kau akan berpisah dengan Nord."


"Aku tahu itu… tapi, Noct, kenapa kau tahu soal itu? Kenapa?"


Sial! Ternyata itu informasi rahasia!?


Nirvana mencengkeram pundakku dan menekan tubuhnya ke arahku. Aku terlempar ke sandaran sofa dan terjatuh ke bagian duduknya. Nirvana menaiki tubuhku dan menatapku dari atas.


Mata hijau zamrud itu menatapku dari sela-sela rambut hitamku. Mengingatkan pada lautan tropis, warnanya sama sekali tidak pudar meski dia kehilangan gelar putri dan menjalani kehidupan militer yang keras. Padahal di game, warna itu pernah dipudarkan oleh Nord…


"…Aku punya koneksi dengan divisi intel. Hal seperti itu sudah lama kupelajari."


"Ya, aku tahu kau bukan orang biasa… maka ajari aku. Bagaimana caranya disukai laki-laki…"


"Dengan tetap setia. Duduk di atas laki-laki yang bukan kekasihmu itu sudah keterlaluan. Kalau Nord melihatmu dalam keadaan seperti ini, dia pasti membuangmu. Kesetiaan. Itu saja yang penting."


"Kalau aku dibuang Nord… Noct mau menyambutku?"


"Kita dari kelas sosial berbeda! Kau putri, aku rakyat biasa!"


"Antonia lahir dari rakyat, tapi dia punya anak dengan ayahku."


Eh… Nirvana, apa yang kau lakukan!?


Dia membuka kancing bajuku, kemudian menarik bajuku ke atas.


"Jangan buka semaumu—"


"Sekarang Noct itu perwira tinggi, bukan perwira rendah. Orang yang memimpin satu pasukan. Sebagai perwira yang rendah, tugas membantumu melepas pakaian itu wajar."


Nirvana menunjuk seragam putih khusus perwira tinggi yang ada di meja.


"Haaah… karena Noct tidak mau melepasnya sendiri, aku jadi berkeringat."


Padahal aku… sama sekali tidak melawan…


Nirvana, yang baru berganti dari seragam maid ke seragam militer, mengangkat tangannya lalu melepas atasannya begitu saja.


Itu adalah tirai dada khas Kekaisaran Oiran! Dan juga, bagaimana dengan belahan dadanya!?


Dengan pose yang benar-benar cabul, Nirvana hanya mengenakan kemeja dalam tipis. Tentu saja, dari sudut pandang rendah, aku melihat payudaranya dari bawah.


Jika Elise adalah tipe super besar & panjang, Nirvana adalah tipe super besar dan montok berbentuk mangkuk…


Keduanya… sulit dibandingkan—keduanya juara.


Nirvana dan pinggulku pas menempel, dan kalau aku terus memandangi belahan bawah payudaranya yang bergoyang penuh godaan seperti itu, tidak heran kalau kapanpun meriam Neo Great Omega Armstrong-ku bisa meledak tanpa kendali.


"Nafasmu… terengah… Noct, apa kau tidak mau menghibur aku yang di masa depan mungkin akan ditolak Nord?"


Nirvana pipinya memerah, napasnya naik-turun. Apakah Nirvana memang punya sifat terlalu terbawa perasaan seperti ini?


Agar darah tidak terkumpul di selangkangan, aku alihkan seluruh fokus ke otak, dan mengingat-ingat kembali tingkah Nirvana di ingatan kehidupanku sebelumnya.


Saat itu—


Pintu kamar terbuka dengan keras, bang!.


"Nirvana-sama! Syukurlah Anda selamat—"


Yang berlari masuk dengan penuh semangat adalah dark elf berkulit coklat dan bertelinga panjang, Balbera. Tapi yang terlihat di dalam ruangan hanyalah kami berdua yang dari sudut mana pun tampak seperti hendak melakukan sesuatu yang tidak senonoh.


Warna kulit Balbera yang coklat seketika memucat seperti kehilangan darah.


"Balbera!? Hey, sadarlah sedikit!"


────【Sudut Pandang Nirvana】


Keesokan harinya, aku mengunjungi kemah Noct. Di tanganku ada pakaian yang ingin kulihatkan padanya…


"Noct?"


"Ya."


Tapi di depan kemah atasan kami, Bowman.


"Kalau dia, dia pergi mengobati para prajurit yang terluka. Sambil ngomel ‘Benar-benar lemah semua!’ seperti biasa."


Aku terkekeh kecil. Itu sangat Noct sekali.


Namun hari berikutnya, dan hari setelah itu pun, meski aku kembali ke kemah itu, Noct tetap tidak ada…


Padahal aku ingin menyembuhkannya.


Saat aku memikirkan itu, Balbera muncul di depan kemah. Mungkin dia mengikutiku.


"Anak gadis tidak boleh berbuat cabul seperti betina yang sedang birahi!"


Ceramah Balbera pun dimulai…


Di kemahnya, aku dipaksa duduk di atas ranjang sementara Balbera duduk di kursi seberang, mengomel panjang lebar.


Malam sudah larut, hanya burung hantu yang terdengar.


"Itu hanya… saling menghangatkan tubuh yang kedinginan…"


"Kalau begitu, mengapa Nirvana-sama melepas jaket Anda? Kalau kedinginan, memakai jaket adalah solusi yang paling tepat."


"Ugh…"


Aku tidak pernah menyangka bahwa dilihat seseorang di tengah-tengah hubungan antara laki-laki dan perempuan akan terasa memalukan seperti ini…


Tapi lawanku adalah Balbera, seseorang yang sudah dekat denganku. Aku tidak perlu menyembunyikan apa pun. Jadi aku berkata jujur.


"Aku ingin melepasnya! Aku ingin merasakan hangatnya tubuh seseorang!"


Nord berbeda dari Balbera. Aku ingin Nord suatu hari mengetahui seluruh diriku, tapi… sekarang masih sedikit memalukan. 


Balbera… dia lebih seperti ibuku. Atau—kalau kusebut ibu mungkin dia sedih—aku anggap saja sebagai kakak perempuan.


Aku sendiri tidak tahu pasti berapa umur Balbera. Dia tidak terlalu peduli umur, dan sejak meninggalkan klannya—yang merupakan kaum elf berusia panjang—dia berhenti menghitung usia.


"Balbera!?"


Wanita tinggi itu memelukku erat.


Hangat…Meski disakiti oleh manusia, Balbera tidak pernah berhenti mempercayai manusia lagi. Aku bahagia sekali bertemu dengannya.


Di Kekaisaran Oiran yang hampir tidak memberiku sekutu, hanya Nord dan Balbera yang ada di pihakku.


"Nirvana-sama… jadi Anda memang menyukai Noct—tidak, maksud saya Nord Vilance, putra Duke Vilance?"


"Eh!? Balbera juga menyadarinya?"


"Sepertinya putra Duke Vilance itu mengira kita tidak menyadarinya…"


Jadi penyamaran Nord mudah sekali terbaca bagi orang yang mengenalnya. Meski terlihat sempurna, Nord punya sisi ceroboh yang justru membuatnya manis.


Mungkin Balbera bisa merasakan perasaanku. Dia menunjukkan kekhawatiran padaku.


"Aku sangat memahami perasaan Nirvana-sama yang menaruh hati pada pria itu. Tetapi pria itu berbahaya. Jelas sekali dia mengincar tubuh Nirvana-sama dan berusaha memperdaya Anda agar patuh!"


"Aku tidak berpikir begitu. Dengan status setinggi Nord, dia tidak punya alasan untuk menyamar dan menyusup seperti itu…"


"Begitu ya… kalau Nirvana-sama berkata demikian, aku tidak bisa memaksa."


"Hei, Balbera… aku mau tanya. Menurutmu… apa aku harus memberi tahu Nord bahwa dia benar-benar tidak punya bakat menyamar?"


"Sebaiknya jangan. Dengan tingkat kepercayaan diri setinggi itu, dia mungkin ngambek dan pulang ke Akkasen."


"Kau juga berpikir begitu?"


"Ya…"


Aku memutuskan menutup mulut, sesuai saran Balbera.


────【Sudut Pandang Nord】 (Ruang Tamu)


Setelah Balbera kembali, aku dipindahkan dari kamar Nirvana ke ruang tamu khusus tamu kehormatan. Dengan Balbera di dekat Nirvana, bahkan Antonia mungkin tidak bisa menyentuhnya sembarangan.


Begitu masuk ke ruangan yang suasananya tenang seperti hotel bintang empat di kehidupanku dulu, aku tertidur. Aku kelelahan karena terus menahan diri agar tidak memakai bahasa Nord.


Saat aku terbangun—ada hal aneh yang kusadari.


Di atas ranjang, dua gadis duduk sambil menatapku dari atas. Mereka memakai pakaian yang kurang ajar tipisnya. Hanya babydoll transparan, tanpa apa pun yang harusnya menutupi tubuh.


Kami saling bertatapan. Wajah mereka terasa familiar. Rambut merah berkilau seperti ibunya, Antonia. 


Yang bermata tajam dan bertaring kecil dengan twin-tail dan pita hitam besar adalah Carla, putri keempat. Yang bermata sayu dengan rambut panjang adalah Rinne, putri kelima. Keduanya adalah putri kembar Antonia, adik tiri Nirvana.


Dua-duanya… sesuai usia, rata — atau sebut saja manis dengan caranya sendiri.


Mereka tampak jelas menungguku. Dan begitu aku masuk dengan santainya, mereka menahan tawa mengejek.


"Apa yang kalian lakukan? Ini kamarku. Keluar."


Aku berdiri di hadapan mereka dan berkata begitu.


"Eh? Padahal kami mau melayanimu yang masih perjaka, lho."


"Carla, apa ini yang disebut gaya sok-kuatnya seorang perjaka ya?"


"Iya. Dia pura-pura tidak tertarik padahal sebenarnya mau sekali."


"Hahaha, payah banget!"


"Benar-benar sampah. Rasanya pengen biar dia tetap perjaka selamanya."


Senyum mereka… ingin kutampar.


"Kalian…"


"Eh? Mau tahu apa, hah?"


"Gimana ya, kira-kira perjaka itu menular nggak?"


Menyebalkan…


"Sejak tadi kalian ribut sekali bilang perjaka, perjaka. Aku… ya sudahlah. Kalau kalian datang hanya untuk mempermainkanku, keluar. Hari ini aku mau istirahat."


"Hah? Kau bahkan nggak ngerti alasan kami datang ke sini? Ini nih repotnya kalau perjaka."


"Iya, iya. Padahal kami mau melayani si perjaka ini."


Kegelapannya sudah terlalu dalam.


Antonia bisa menguasai kekuasaan Oiran dan menempatkan Siegfried—yang sebenarnya anak selir—sebagai putra mahkota karena dia terus-menerus menjebak para bangsawan dengan Honey Trap.


Dan sekarang dia bahkan mencoba membuat anak-anak perempuan yang kelihatannya baru setingkat SMP melakukan hal yang sama. Itu sudah keterlaluan.


Walaupun mereka dua bocah tengil yang menyebalkan, kupikir mereka seharusnya punya hidup yang lebih baik. Karena itu aku memerintahkan mereka untuk pergi dengan kata-kata tegas.


"Jangan bercanda. Kalian pikir aku mau perempuan siapa saja? Apa kalian pikir aku mau tidur dengan perempuan yang dari awal sudah memandang rendah orang lain seperti kalian?"


"Uuhh, pura-pura tegar begitu."


"Kusukusu… sok suci amat, sih."


Mereka menutup mulut dengan tangan sambil memandangku dengan tatapan meremehkan. Kalau sejauh ini mereka masih nggak ngerti, aku harus bicara jujur.


"Pada akhirnya, kalian berdua akan dinikahkan lewat politik dengan laki-laki dari negara lain. Kalian nggak perlu repot-repot tidur dengan laki-laki yang bahkan bukan kalian sukai sejak sekarang."


Tidak mungkin mereka punya tekad yang sama seperti Nirvana. Dari sifat mereka yang masih sangat kekanak-kanakan, jelas Antonia hanya menjadikan mereka pion untuk merayuku.


"Dan juga, aku bukan perjaka. Dan anak-anak bau kencur seperti kalian bukan seleraku. Sebelum aku menyuruh kalian menjilat pantatku, cepat pergi."


Kata-kataku memang kasar, tapi karena aku memikirkan masa depan mereka, aku ingin setidaknya pengalaman pertama mereka terjadi dengan seseorang yang mereka suka. 


Itu sebabnya aku meletakkan tangan di kepala mereka dan mengusapnya pelan.


"Apa-apaan itu? Niatnya langsung hilang tahu!"


"Bohong kan? Kau menolak pelayanan kami?"


"Jangan bikin aku mengulang! Dasar bodoh!"


Saat kuusap, mereka menepis tanganku dan menatapku tajam.


Tapi aku tak bisa membiarkan mereka berjalan di lorong dengan hanya memakai baby-doll, jadi kutangkapkan mantel yang tadi mereka bawa. Mereka merebutnya kasar.


"Bodoh! Bodoh!"


"Dasar cupu! Lemah!"


"—nggak percaya! Ini penghinaan!"


Mereka membuang umpatan terakhir dan pergi dari kamar.


Aku mencoba tidur di ranjang Kekaisaran Oiran yang masih asing bagiku. Ketika lampu sudah kumatikan dan aku mulai mengantuk, terdengar suara 'kaclik', lalu pintu berderit terbuka.


Pembunuh? Kalau ya, mereka harusnya sudah bersembunyi sejak awal, bukan masuk lewat pintu.


Mungkin terdengar seperti terlalu percaya diri, tapi kemungkinan Nirvana juga tidak nol.


Daripada buru-buru menghabisi, lebih baik aku memastikan siapa yang datang. Dari aliran udara, aku bisa merasakan seseorang perlahan mendekat.


【Lampu】


Begitu kugunakan sihir hidup, cahaya terang seperti LED muncul di depanku.


Bersamaan dengan itu, sosok penyusup terlihat jelas: dia memeluk boneka beruang yang ukurannya setengah dari tubuhnya, dan tangan satunya menutup mata.


Dia mengenakan piyama longgar warna biru muda dan topi tidur runcing.


"Rinne ya… Ada apa datang ke sini?"


Lengan bajunya yang panjang sampai menutupi setengah tangan mengingatkanku pada Mari dulu.


"Aku nggak bisa tidur…"


"Hmph. Kau tidur di kasur. Aku tidur di sofa."


"Tunggu. Kau nggak dengar? Aku bilang aku nggak bisa tidur, makanya aku datang. Kalau kau lebih tua harusnya tahu apa yang harus dilakukan, kan?"


Dia menarik tanganku, mengajakku masuk ke dalam kasur.


Aku tahu ini Honey Trap, tapi karena Rinne terlihat seperti Mari, aku tak sanggup menolak dan akhirnya tidur sekasur dengannya.


"Kalau dari awal kau begini, semua beres. Noct itu memang nggak jujur."


"Aku mau tidur. Kau juga tidur."


"…yup."


Aku mulai mengantuk lagi. Rinne sepertinya tidak berniat melakukan apa pun.


Tepat saat aku hampir tertidur, pintu terbuka lagi.


Dia masuk dengan cara yang sama seperti saat Rinne datang—


"Ah, Carla rupanya. Sudah malam. Pulang ke kamarmu."


"Ha!? Apa-apaan!? Aku datang karena mau lihat—Rinne!? Kamu lagi ngapain!?"


Carla baru menyadari Rinne yang tidur di sebelahku.


Rinne mengusap mata sambil bergumam mengantuk.


"Kenapa kamu telanjang!?"


"Ah, Carla. Aku duluan, ya."


Tolong… jangan ngomong begitu, itu menimbulkan salah paham besar!


Entah kapan, Rinne sudah dalam keadaan telanjang bulat.


"Ngapain kamu ke sini?"


Sebuah situasi maut. Aku yakin aku bahkan tidak menyentuh Rinne satu jari pun, tapi melihat kami sekasur dan dia telanjang, tak mungkin aku bisa membela diri.


Jadi aku memilih membuat Carla terlihat seperti orang yang datang mengganggu kami.


"Tadi aku sempat menilai kau lebih baik, tapi ternyata kau tetap saja paling buruk. Membuat Rinne melakukan hal cabul begitu…"


"Kalian yang datang untuk menggodaku supaya melakukan hal cabul, kan? Jangan tiba-tiba pura-pura suci."


"Itu… memang begitu, tapi…"


Aku kaget dia bilang sempat menilaimu baik. Padahal aku cuma ingin menghindari masalah.


Saat aku membalas Carla, jawabannya mulai ragu.


"Carla, Noct itu baik. Jauh beda dari dia."


"…Onee-chan!?"


Carla membelalakkan mata mendengar Rinne memanggilku begitu.


Aku juga kaget, tapi memang benar bahwa Siegfried yang masih kekanak-kanakan dan penuh rasa superior sulit jadi kakak yang baik bagi dua bocah ini.


"Aku juga… mau ikut. Aku nggak mau dikucilkan…"


"Hah!? Kau… apa!?"


Carla masuk ke dalam tempat tidurku lalu mengintip dari balik selimut.


Untuk sementara, setelah memerintahkan Rinne untuk memakai pakaian tidur dulu, kami akhirnya tidur bertiga dalam satu tempat tidur.


Tapi… ini sebenarnya situasi apa?Aku sendiri pun tidak mengerti.


"Kupikir kau itu lelaki lemah yang nggak berguna, tapi tubuhmu… luar biasa…"


Dia memasukkan tangannya dari ujung bawah kaus pakaian tidurku dan menyentuh otot perut serta dadaku.


Sentuhan tangan anak kecil nakal itu membuatku geli.


"Hmm. Sok banget gayanya, tapi paling nggak aku akui tubuhmu bukan palsu."


Setelah Carla mengusap tubuhku sampai ke setiap sudut dan tampak puas, dia tersenyum meremehkan.


"Kau sendiri juga tetap sok besar kepala."


"Iya, soalnya aku ini putri kekaisaran."


"Benar juga."


Saat kutaruh tanganku di atas kepalanya, Carla memejamkan mata seperti kucing yang sedang dimanja pemiliknya.


Sepertinya dia mulai percaya padaku dan mulai bicara jujur.


"Siegfried itu awalnya memang baik sama anak perempuan, tapi…"


"Kalau bosan langsung dibuang."


Rinne melanjutkannya dengan nada yang pas.


Dalam game, digambarkan jelas bagaimana dia berubah menjadi sampah manusia yang meniduri para gadis bangsawan dan para pelayan karena frustasi tidak bisa mendapatkan Elise.


"Noct nggak melihat kami dengan tatapan mesum ya."


"Ini pertama kalinya aku diperlakukan sebaik ini oleh laki-laki."


Ugh!? Aku juga pertama kalinya disentuh dengan lembut oleh dua gadis kembar seimut ini…


Carla menempelkan tubuhnya ke dadaku. Dan saat kurasakan sentuhan dingin di perutku, aku hampir mengeluarkan suara.


Tangan yang tadi mengusap perut meluncur turun menuju bagian bawah.


Saat aku menahan godaan Carla, Rinne dari belakang menempelkan tubuhnya padaku.


"Bagian ini dari Noct Onii-chan jauh lebih kuat."


Tempat yang tadi disentuh jadi lebih sensitif, dan sekarang dia memegangnya.


Ditambah lagi lidahnya menyentuh punggungku, jadi kapan pun peluru putih dari "mesinku" bisa saja lepas dengan kuat.


"Hhmm, Onii ingin melakukan hal nakal ya? Sekarang aku ini sedang telanjang, lho. Tahu?"


"Onii-chan nggak apa-apa kok. Kau pasti sudah nggak tahan, kan?"


Keduanya menekan dadaku dengan tubuh mereka yang baru mulai berkembang seperti kuncup yang membulat.


"Jangan remehkan aku."


Baik secara mental maupun fisik… aku menahan diri sekuat tenaga. Aku tidak mungkin menyentuh anak seusia mereka. Namun masalah tetap muncul tanpa peduli kemauanku.


Rinne menepuk bahuku sambil gemetar.


"O… Onii-chan… gawat… dari antara kakiku keluar cairan aneh… nggak berhenti… gimana ini…?"


Apa!?


"Onii-chan, coba lihat deh."


Memang terasa sedikit lembap di sekitar punggungku…


Rinne membuka selimut lalu berlutut. Pakaian tidur yang baru dipakainya tadi sudah dibuang, dan dia benar-benar telanjang.


"Rinne tuh punya kebiasaan suka telanjang. Kalau tidur bareng aku pun sering tiba-tiba dia sudah telanjang."


Carla menjelaskan dengan sopan. Sementara itu, cairan kental mengalir dari selangkangan Rinne.


"Lihat, Onii-chan…"


Rinne menyibakkan tangannya dari area bawah seperti tirai opera yang naik di awal pertunjukan.


Banjir…


Melihat kulit Rinne yang halus licin, aku makin yakin kemampuan hutan menyimpan air sangat penting untuk mencegah banjir.


Tanggul sudah jebol, dan aliran keruh itu mengalir sampai membasahi kain seprai.


"Carla, kau yang bersihkan."


"Eh!? Aku!?"


"Dia adikmu, ‘kan?"


"Y-ya…"


Aku teringat pernah membersihkan Mari saat dulu.


Sebagai kakak-adik saja waktu itu sudah berbahaya. Tapi kali ini ada tangan ekstra untuk membantu.


"Aku mulai ya, Rinne."


Rinne hanya mengangguk pelan tanpa suara.


Carla menempelkan handuk putih ke bagian bawah Rinne. Dalam sekejap handuk itu basah.


Rinne mendongak sambil meneteskan air liur. Anak kecil nakal tapi dewasa sekali tingkahnya.


"O… Onii… aah… aku juga… keluar cairan aneh…"


"Apa!?"


Jangan-jangan karena kembar mereka punya empati fisik!? Aku memberikan handuk baru ke Rinne.


Rinne menerimanya dengan tangan bergetar.


"Kalian saling bersihkan sendiri saja."


"A-apaa!? Bukannya onii-chan akan yang membersihkanku ya!?"


"Kau bilang aku menjijikkan, ‘kan? Kalau begitu selesaikan sendiri. Atau apa? Mau pipismu dibersihkan olehku padahal umurmu sudah segini?"


"Baik! Akan kulakukan! Aku lakukan…!"


Carla menggertakkan gigi dengan wajah kesal, tapi tidak ada pilihan lain. Mereka pun saling membersihkan tubuh masing-masing dengan handuk.


Dan seketika aku menyesal.


Dua gadis kembar yang belum matang itu saling mengusap tubuh satu sama lain—pemandangan itu memberi pukulan telak ke bagian sensitifku.


Sambil sedikit membungkuk, aku memberikan handuk baru setiap kali mereka tukar, tapi gerakan mereka makin liar sampai akhirnya mereka tumbang berdua di atas tempat tidur.


Akhirnya aku merawat mereka seperti dulu merawat Mari dan menidurkan mereka.


Mari dari dulu sampai sekarang tetap lucu. Aku berharap dua orang ini juga belajar jadi sejujur Mari. Tapi waktu melihat wajah mereka tidur pulas, mereka terlihat seperti malaikat.


Setelah menyelimuti mereka, aku berbaring di sofa.


Saat hendak mematikan【Lampu】dengan menjentikkan jari…


"Sebenarnya… aku dan Rinne disuruh ibu untuk merayumu supaya takluk."


Carla ternyata masih bangun dan mulai bicara jujur. Rasanya seperti obrolan rahasia malam hari saat karyawisata.


"Jadi kau belum tidur. Ya, dari melihat kalian aku sudah tahu. Sudah, mending tidur ya."


"Noct punya kekasih?"


"Kenapa aku harus bilang padamu?"


"Ah, berarti nggak ada ya?"


Meina itu lebih seperti ibu bagiku, Elise adalah maid yang memaksakan diri untuk melayaniku… Mao itu seperti teman perjalanan.


Saat aku memikirkan semua itu, tiba-tiba suara Carla terdengar tepat di telingaku—padahal dia seharusnya sudah tidur di tempat tidur.


Ketika aku terkejut dan hendak bangun, rambut merah menyala seperti api melintas di depan mataku dan bibir Carla menyentuh bibirku.


Ciuman yang panas sampai seperti mau meleleh…


Anak kecil tsundere itu merepotkan sekali. Tadi terlihat membenciku, sekarang diam-diam menyerangku seperti ini benar-benar curang.


"Tadi kau bilang, ‘pengalaman pertama harus dengan orang yang disukai’, ‘kan?"


Carla memasang wajah puas seolah berhasil mencuri bibirku.


Benar-benar anak nakal yang licik!


Keesokan paginya, aku berjalan di lorong dengan tangan ditarik oleh si kembar.


"Kenapa Noct bisa jalan bareng Carla dan Rinne…?"


Tapi hal buruk terjadi: kami berpapasan langsung dengan Nirvana.


Wajahnya pucat dan terlihat terkejut.


Kalau memikirkan perasaan Nirvana… mungkin memang buruk kalau aku terlalu akrab dengan adik tirinya.


"Noct itu milik Carla sekarang."


"Bukan! Noct itu pacarnya Rinne."


"Eh? Kalian berdua ngomong apa? Noct itu punyaku…"


Carla menarik lenganku, sementara Rinne menempelkan tubuhnya ke lenganku. Melihat itu, Nirvana gemetar sambil membuka mulut.


"Ada apa? Nirvana sudah bertunangan, ‘kan?"


"Jangan-jangan dia selingkuh? Nirvana curang ya~"


Carla dan Rinne saling menatap lalu mengangguk sambil berkata "yaaa~". 


Mendengar perkataan si kembar, Nirvana hampir menangis. Aku rasa Carla dan Rinne tidak benar-benar menyukaiku yang sedang menjadi Noct. Lebih seperti kelanjutan dari permainan pura-pura saja. 


Dan lagi, meskipun aku sebagai Noct misalnya saja berkencan dengan si kembar, itu seharusnya tidak ada hubungannya dengan Nirvana yang tertarik pada Nord… tapi…


"Tidak… bukan begitu!"


"Nirvana!?"


Tiba-tiba dia berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu."


Apa Nirvana sedang mewaspadai si kembar? Kalau begitu itu salah. Dengan pikiran itu, aku meraih lengannya dan menahannya.


"Lepaskan…"


"Carla dan Rinne ada di pihakmu."


"Iya iya."


"Benar~."


Berbeda dengan Siegfried, si kembar tidak pernah mencoba menjebak Nirvana.


Teori ‘musuh dari musuh adalah sekutu’.


Karena si kembar membenci Siegfried, mereka berjanji padaku untuk bekerja sama dengan Nirvana.


"Ah… benarkah?… Kalau begitu, terima kasih…"


Kalau orang yang berada di pihak Nirvana di dalam istana bertambah walau sedikit saja, ketidakadilan yang menimpanya pasti sedikit berkurang…


Saat itu, aku berpikir begitu.



──── Benteng Kannenberg.


Kami kembali meninggalkan ibu kota dan ditempatkan lagi di Kannenberg. Siegfried sudah selesai merebut kembali Tobirus di perbatasan dan bergabung dengan kami.


──── Pangeran Siegfried-samaaa!


──── Lihat ke sini~! Aah, luar biasa!


Saat Siegfried menunjukkan senyum dengan gigi putihnya pada para prajurit wanita yang ikut dalam pasukan, suara teriakan penuh kekaguman pun meledak. Menerima itu, dia melambaikan tangan.


Tetapi Siegfried benar-benar mengganggu.


Dia membuka sesi jabat tangan seperti idol tepat di pusat pengumpulan logistik tempat barang-barang sedang dibawa masuk. Apa yang sebenarnya dia pikirkan…


Dia bilang itu untuk meningkatkan moral, tapi kalau begitu harusnya mengundang prajurit laki-laki juga.


Padahal ini adalah pertempuran besar kerajaan untuk menghancurkan seluruh pasukan iblis yang menyerbu Kekaisaran Oiran, dan dia tidak menunjukkan sedikit pun rasa tegang. 


Kami sedang super sibuk menyiapkan diri untuk pertempuran terakhir, dan ketika aku sudah kesal karena tidak bisa memanggil Golem di depan para prajurit, dia malah membuat kekacauan.


Sementara prajurit divisi logistik menahan malu, aku membawa peti berisi barang dan berjalan melewati depan Siegfried.


"Kau menghalangi tugas. Menyingkirlah."


"Apa? Iri karena tidak populer, dasar rendahan?"


"Kebetulan aku tidak pernah kekurangan wanita."


Belum lama ini Carla dan Rinne datang ke kamarku, jadi aku cukup kerepotan. Kalau adik-adiknya direbut aku, apakah Siegfried bakal meledak?


Sebelum aku sempat mengatakan itu, Siegfried lebih dulu meledak.


"Aku adalah putra mahkota Kekaisaran Oiran! Kau tahu apa akibatnya menentangku!?"


"Hmph. Anjing lemah justru yang paling keras menggonggong."


Dia menuding dadaku dengan telunjuknya dan berbicara kasar, tapi aku ingin dia punya keberanian itu ketika menghadapi musuh yang kuat.


Saat aku menghela napas, para prajurit wanita langsung memberi jalan.


"Siegfried! Orang rendahan seperti ini harus diberi pelajaran sampai benar-benar paham."


Oh! Nostalgia! Rambut rumput laut itu…


Siapa ya?


"Tidak perlu Hans yang bilang. Di dalam istana, aku mengampuninya demi Ibu, tapi di sini tidak ada belas kasih Ibu. Kau akan dikenang sebagai si bodoh yang menentangku, turun-temurun."


Aku tidak tahan dan tertawa.


"Kukuku, hahaha, luar biasa! Putra mahkota Oiran sendiri yang mengatakannya. Kekalahanmu akan diceritakan seratus, dua ratus, tidak, seribu tahun!"


"Takkan kumaafkan. Hans! Bawa kesini tongkat-mesinku, Eksachs!"


"Sudah kusiapkan."


"Kau cukup sigap ya."


"Kita kan sahabat!"


Siegfried dan Hans saling berjabat tangan seperti sedang adu panco sambil menampakkan senyum putih mereka. Apa ini… interaksi bau-bau BL begini.


Sambil menahan keinginan untuk menembakkan mode pseudo-bunuh diri tongkat mesin itu ke mereka berdua, aku menunggu duel dimulai.


Saat Siegfried melepas sarung tangan putihnya, Hans datang mendekatiku.


"Hm? Wajahmu… kayaknya pernah kulihat… tidak mungkin sih. Mana mungkin Nord bisa lebih dulu naik pangkat daripada aku."


Hans meletakkan tangan di dagu dan mencurigai sambil menggerakkan kepala ke segala arah, mencoba mengintip mataku dari balik poniku.


"Yah, aku saja bisa jadi perwira hanya dalam beberapa bulan. Aku beda kelas! Beda kelas!"


Dia tertawa tangan di pinggang. Sepertinya dia memang berusaha keras di militer Kekaisaran Oiran. Atau lebih besar kemungkinan naik pangkat karena menjilat Siegfried.


Aku hampir terpeleset menyebut bahwa aku naik sampai pangkat jenderal dalam kurang dari seminggu. Tapi kalau aku bilang itu, Hans bisa ngambek dan mulai memukulku dengan pukulan-pukulan kekanak-kanakan.


Untuk tipe seperti ini, memang harus pakai [Pemutus Penglihatan]!


Aku sedikit menyibak poniku. Lalu satu mata kami bertemu. Cahaya seperti flash pemeriksaan mata menembus mata Hans.


"Mataku! Mataku aaaaahhh──!!"


"Kenapa, Hans!? Kau sakit!?"


Hans menutup kedua mata dan berputar-putar tanpa arah.


Siegfried panik dan mencoba memegang pundaknya, tapi Hans terus bergerak sehingga tidak bisa ditangkap.


"Petugas medis! Mana petugas medis!!"


"Aku petugas medis."


"Apa!?"


Bahkan Siegfried yang seharusnya punya sihir tinggi sebagai keluarga kerajaan tidak bisa merasakan bahwa aku baru saja memakai sihir… Wajar Nirvana menginginkan darah Akkasen.


Lalu si bodoh Siegfried itu bilang hal aneh.


"Tidak mungkin petugas medis bisa jadi jenderal!"


Itu kan aturan kalian sendiri?


Komentar seperti admin forum anonim terbesar di dunia muncul di kepalaku.


Padahal dia putra mahkota…


"Aku diangkat jadi jenderal oleh ibumu, Antonia. Ada keberatan? Kalau kau protes, berarti kau menentang ibumu yang kau cintai. Tidak apa kah itu?"


"Gununu… dasar petugas medis sombong!"


Sementara Siegfried mengertakkan gigi, Hans terus berputar mengelilinginya.


"Mata! Mataku—!!"


"Berisik, Hans! Hanya matamu saja, jangan ribut!"


Biasanya orang seperti ini kalau dirinya yang kena, pasti lebih dramatis daripada Hans.


"Matakuuu!!"


Dia berteriak seperti anak domba yang kehilangan induknya. Efek sihirku memang akan hilang setelah beberapa waktu, tapi membiarkannya terlalu lama kasihan. 


Setelah aku menjauh dari Siegfried, aku membatalkan [Pemutus Penglihatan].


Seperti biasa pertahanan sihirnya tidak bekerja…


Saat aku memindahkan barang ke gerobak, aku sadar ada hal aneh.


Eh? Tadi Nirvana ada di sampingku, tapi sekarang hilang.


"Di mana kau!? Nirvanaaa!!"


Padahal kami sudah janji di medan perang harus saling memberi tahu saat menjauh…


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close