Chapter 189
Para Pengejar dan Menara Kilat
"Thunder
Shot!"
"GUWAAAAAAHHH!!"
Semburan
peluru kilat yang dilepaskan itu mengempaskan gerombolan pengejar sekaligus.
"Fuu,
berakhir juga," ucapku.
Begitu
pertarungan usai, Yukinojo yang sedari tadi menunggu di belakang mendekat
dengan riang.
"Luar biasa,
Mina! Ketajaman sihirmu kali ini pun sungguh mengagumkan!"
Anak ini, padahal
dia pihak yang harus dilindungi, tapi selalu saja ingin maju bertarung setiap
kali ada kesempatan. Pantas saja Haruomi-san dibuat repot olehnya.
Yah, para samurai
seperti Yukinojo ini berbeda dari bangsawan yang aku kenal; mereka lebih
condong ke arah ksatria atau militer, dan itulah sebabnya sang penguasa wilayah
sendiri yang berinisiatif turun ke medan perang.
Apakah ini juga
yang dinamakan perbedaan budaya?
"Eh, kamu
terluka, kan? Kamu tidak apa-apa!?"
Begitu aku
perhatikan, ternyata lengan Yukinojo terluka.
"Umu, ini
bukan masalah besar, hanya tergores anak panah saja."
"Mohon
maafkan aku. Aku gagal menahan pengejar hingga Tuan Muda harus menderita
luka," ucap Haruomi-san sambil menundukkan kepala kepada Yukinojo dengan
perasaan bersalah yang amat dalam.
Kalau
dilihat-lihat, di belakangnya ada beberapa pengejar yang telah tumbang.
Sepertinya tadi ada pasukan terpisah.
"Padahal aku
pengawal Tuan Muda, tapi aku membiarkan tubuh Anda terluka..."
"Sudah,
tidak apa-apa. Kamu dan Mina sudah bekerja keras meski hanya berdua. Kalian
telah berjasa besar."
"Baik,
terima kasih banyak!"
"...Yukinojo
memang berkata begitu, tapi jumlah musuh yang semakin banyak ini tetaplah
masalah," gumamku.
Beberapa hari
sejak melewati pos pemeriksaan, kami tengah menuju kota Hatoba untuk bergabung
kembali dengan Rex, namun selama perjalanan itu kami sudah diserang sebanyak
lima kali.
"Diserang
sesering ini artinya posisi kita yang menuju kota Hatoba sudah ketahuan
sepenuhnya."
"Benar. Aku
sempat mengira kita bisa mengelabui mata pengejar dengan mengungsi ke kediaman
Paman."
Namun
kenyataannya justru seperti ini. Apalagi tempat ini berada di dalam hutan yang
bahkan tidak bisa disebut jalan setapak, jauh dari jalan utama agar tidak
mencolok.
Aku tidak
menyangka para pengejar bisa menemukan kami hanya dengan mengandalkan posisi
matahari untuk menuju kota Hatoba...
"Entah ada
pengkhianat di antara bawahan paman Yukinojo, atau bawahan dari Kepala Pelayan
itu memang sangat kompeten..."
"Mana
mungkin!? Tidak mungkin ada orang seperti itu di antara bawahan Paman..."
"Tidak, jika
memikirkan siapa dalangnya, kemungkinan itu cukup tinggi. Meski begitu,
mustahil bagi mata-mata dari wilayah lain untuk menyusup sebagai orang
kepercayaan Tuan Omitsu, jadi yang bisa mereka lakukan paling-paling hanya
memberi tahu pihak luar bahwa Tuan Muda telah melarikan diri ke sana. Dan para
pengejar yang mengetahui hal itu mungkin menduga Tuan Muda akan bergerak untuk
melaksanakan ritual penobatan kepala keluarga dengan bantuan Tuan Omitsu,
sehingga mereka mengumpulkan kawan-kawan dari sekitar."
Kalau begini,
sepertinya bergabung dengan Rex memang keputusan yang tepat. Sejujurnya,
menghadapi musuh dalam jumlah yang lebih banyak dari ini seorang diri agak
berat bagiku.
"Kalau
begitu, sebaiknya kita bergegas. Mari kita menuju kota Hatoba agar bisa segera
bertemu dengan Rex."
"Rex... Kamu
pernah mengatakannya sebelumnya, tapi sebenarnya apa hubunganmu dengan orang
itu?" tanya Yukinojo dengan wajah yang tiba-tiba memucat saat kami mulai
berjalan.
"Hm? Rex itu
semacam guru sihirku. Pokoknya, dia itu kuatnya tidak masuk akal."
"Be-Begitukah?
Hanya sebatas itu?"
"Iya,
memangnya kenapa? Ngomong-ngomong, kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat
sekali."
Aku memiringkan
kepala melihat wajah Yukinojo yang entah kenapa terus mendesakku.
"Ti-Tidak,
tidak masalah."
Apa dia
merasa tidak enak badan karena serangan yang bertubi-tubi tadi?
"..."
Bagaimanapun,
tepat saat kami hendak melanjutkan perjalanan lagi...
"...ugh."
Tiba-tiba
Yukinojo jatuh tersungkur.
"Eh?"
"Tuan
Muda!?"
Kami bergegas
menghampiri Yukinojo dengan panik.
"Uugh..."
Wajah Yukinojo
memutih pasi, ia mengerang sambil mengucurkan keringat dingin dari dahinya.
"Ini...
jangan-jangan racun!?"
"Racun!?"
Jangan-jangan
gara-gara luka panah tadi!?
"Gejala ini,
kemungkinan besar adalah racun Ular Yomitsu."
"Ular
Yomitsu?"
"Umu, ular
yang sangat berbisa. Siapa pun yang digigit ular ini, racunnya akan segera
bereaksi dan dalam sekejap tubuhnya tidak akan bisa digerakkan. Setelah itu, ia
akan diserang demam tinggi disertai kejang-kejang hebat, dan akhirnya mati
karena kesulitan bernapas..."
"Tunggu,
bukankah itu gawat sekali!?"
"Mengobati
racun Ular Yomitsu adalah balapan melawan waktu. Kita harus segera
mengobatinya! Cepat bawa Tuan Muda ke tempat yang aman!"
"Aku
mengerti!"
◆
Saat kami mencari
tempat aman untuk mengobati Yukinojo, beruntung kami menemukan gubuk pemburu di
dekat sana.
Di dalamnya tidak
ada apa-apa, benar-benar hanya tempat untuk berteduh dari hujan dan angin, tapi
bagi kami yang tengah dikejar, memiliki atap dan dinding saja sudah sangat
patut disyukuri.
Setelah menggelar
selimut di lantai, Haruomi-san membaringkan Yukinojo.
"...Gawat,
gejalanya sangat buruk. Jika begini terus, setiap detik sangatlah
berharga!"
Meskipun ia
berkata begitu, di sini tidak ada toko obat maupun tabib.
Aku memang punya
sedikit pengetahuan tentang tanaman obat yang diajarkan Kakek, tapi ini pertama
kalinya aku mendengar tentang Ular Yomitsu, jadi aku sama sekali tidak tahu
tanaman obat mana yang manjur.
Kemungkinan
besar ular itu spesies endemik negeri ini... Seandainya saja ada Rex, dengan
tumpukan pengetahuannya yang tidak masuk akal itu, dia pasti bisa membuatkan
obat untuk racun Ular Yomitsu atau racun apa pun... Eh, ah!
"Jika sudah
begini tidak ada pilihan lain. Meski berbahaya..."
"Benar! Ayo
coba gunakan ini!"
Aku mengeluarkan
sesuatu dari saku bajuku yang baru saja kudapatkan beberapa waktu lalu.
"A-Apa
itu?"
Haruomi-san, yang
tadinya hendak mengeluarkan sesuatu, menatap obat yang kupegang dengan wajah
heran.
"Ini Lower
Universal Antidote buatan kenalanku."
Ya, yang
kukeluarkan adalah Lower Universal Antidote buatan Rex. Aku mendapatkannya dari
Tatsukichi-san saat menolong Echigoya-san kemarin.
Tatsukichi-san
bilang aku boleh mengambil apa pun yang kusukai sebagai imbalan karena telah
menolongnya, dan meski aku sempat bingung, karena sekarang aku bertindak
sendirian, obat-obatanlah yang paling kuinginkan.
Aku tidak
menyangka pemakaian pertamanya justru untuk klienku sendiri...
"Lower
Universal Antidote?"
Namun
Haruomi-san, yang tidak tahu betapa tidak masuk akalnya obat buatan Rex,
menatap obat itu dengan pandangan ragu.
"Iya, obat
ini pernah menyembuhkan racun laba-laba yang sangat berbisa, dan sepertinya
bisa menangani berbagai jenis racun. Mungkin ini juga efektif untuk racun Ular
Yomitsu."
Haruomi-san
tampak merenungkan kata-kataku. Apakah benar-benar tidak apa-apa meminumkan ini
kepada Yukinojo?
"...Fumu,
baiklah. Aku tidak yakin ini akan mempan terhadap racun ular Yomitsu yang
mematikan, tapi jika bisa mengulur waktu sampai kita tiba di kota, itu sudah
syukur."
Syukurlah, izin
diberikan. Sejujurnya aku sempat berpikir dia akan menolak dengan kasar dan
bilang tidak mau menggunakan obat yang aku siapkan, tapi sepertinya rasa
khawatirnya terhadap Yukinojo mengalahkan rasa tidak percayanya kepadaku.
"Kalau
begitu, akan kuminumkan ya. Ayo Yukinojo, ini obat."
Aku memapah
Yukinojo yang kehilangan kesadaran, memaksanya meminum obat itu, lalu
membaringkannya kembali. Saat kami mengawasinya, obat itu segera menunjukkan
khasiatnya dan napas Yukinojo mulai stabil. Raut wajahnya yang tadi tampak
menderita mulai tenang, dan warna kulitnya pun mulai kembali kemerahan.
"Ngh... haa."
"Bagus, sepertinya mempan. Napasnya mulai tenang."
"Mana
mungkin!?"
Di sampingku,
Haruomi-san menampakkan wajah yang seolah tidak percaya dengan apa yang ia
lihat. Merasakan pandanganku, ia buru-buru memberi penjelasan.
"Ah, tidak.
Aku hanya tidak menyangka obat ini memberikan efek yang begitu dramatis.
Apalagi terhadap racun Ular Yomitsu itu!?"
Ah, ya. Tentu
saja, ini kan obat buatan Rex.
"Ahaha, kami
pun merasakan hal yang sama saat pertama kali mengetahui hal ini."
"U-Umu.
Namun teknologi medis negerimu sungguh luar biasa..."
"Yah,
sebenarnya ini bukan teknologi medis negaraku secara umum, tapi kenalanku itu
saja yang memang hebat."
"Begitu ya,
semacam 'obat rahasia yang diwariskan secara turun-temurun' ya."
"Mungkin..."
Hanya saja,
jumlah obat rahasianya itu terlalu banyak dan dia menggunakannya dengan santai,
jadi rasa syukurku terkadang memudar atau lebih tepatnya perasaanku jadi
tumpul...
"Tapi ini
benar-benar membantu. Racun Ular Yomitsu itu sangat kuat. Bahkan penawar racun
khusus pun memiliki risiko efek samping."
"Heh,
ternyata racun yang berbahaya sekali ya."
"Umu, jika
menggunakan tanaman obat kelas tinggi dalam jumlah banyak memang sedikit efek
sampingnya, tapi pembuatannya memakan waktu lama dan tidak tahan lama. Karena
itu bagi pengelana atau rakyat jelata seperti kami, obat yang mudah didapat
biasanya memiliki efek samping."
Begitu rupanya,
pantas saja tadi dia begitu panik. Meskipun obatnya sempat diberikan, jika ada
efek samping, situasinya tetap akan memburuk.
"...Tuan
Mina."
Tiba-tiba,
Haruomi-san berlutut di depanku.
"Eh? Ada
apa?"
"Terima
kasih telah menyelamatkan Tuan Muda."
Setelah berkata
demikian, Haruomi-san menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Eh!?
J-Jangan dipikirkan. Aku hanya kebetulan membawa penawar racun saja."
Benar, aku hanya
menggunakan obat itu, bukan berarti aku melakukan sesuatu yang luar biasa
hebat.
"Sungguh,
aku sangat berterima kasih. Aku hampir saja kehilangan orang yang seharusnya
kulindungi untuk kedua kalinya."
Haruomi-san
bergumam dengan suara gemetar. Kemungkinan besar orang kedua yang ia maksud
adalah ayah Yukinojo.
"...Aku juga
sudah meminumkan Potion, jadi sebentar lagi dia pasti bisa bergerak."
"Sekali
lagi, aku benar-benar minta maaf karena telah merepotkan."
"Sudah
kubilang tidak apa-apa. Ini kan juga bagian dari pekerjaanku."
Aku memaksa
Haruomi-san yang masih menunduk untuk berdiri, lalu sekali lagi menyuruhnya
untuk tidak perlu sungkan.
"...Apakah
kamu tidak ingin bertanya?" tanya Haruomi-san bergumam, namun aku
berpura-pura tidak mengerti maksud pertanyaannya.
"Bertanya
apa?"
"Alasan
mengapa Tuan Muda diincar dengan begitu gigih. Kamu juga pasti sudah sedikit
menyadarinya, kan? Jika dia hanya anak dari penguasa wilayah biasa, tidak
mungkin dia diincar sehebat ini."
Yah,
memang benar serangan-serangan ini tidaklah wajar. Karena jalan yang kami tempuh bukanlah jalan
utama, melainkan jalan setapak di tengah hutan.
Bertemu dengan
pengejar di tempat seperti ini artinya musuh telah menempatkan pengejar dalam
jumlah besar di daerah sekitar.
Padahal jika
melakukan hal mencolok seperti ini, pihak musuh pasti akan merugi besar. Karena
mempekerjakan orang itu butuh biaya.
Belum lagi
pergerakan mereka akan diketahui dan dicurigai oleh bangsawan lain.
Jika mereka bisa
melakukan itu, artinya musuh memiliki kekayaan dan kekuasaan yang sepadan.
"...Tuan
Muda adalah putra dari orang yang sangat terhormat. Seseorang yang terlibat
langsung dalam pemerintahan negara."
Sudah kuduga.
Jika tujuannya
hanya bangsawan kelas bawah, mereka tidak akan mendapatkan keuntungan yang
sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.
Pasti ada jaminan
imbalan besar di baliknya.
"Namun
memiliki kekuasaan sebesar itu juga berarti banyak orang yang ingin merebut
kekuasaan tersebut."
Aku
mengerti. Bangsawan di negara kami pun begitu.
"Dan
hal itu juga berarti jumlah orang yang menaruh dendam akan bertambah."
"Apakah
ayah Yukinojo adalah bangsawan yang dibenci?"
Namun
Haruomi-san menggelengkan kepalanya.
"Jenderal...
Ayah Tuan Muda memang bukan yang terbaik, tapi beliau bukan orang yang
menjalankan pemerintahan hingga dibenci. Namun, dendam bukanlah sesuatu yang
hanya dirasakan terhadap mereka yang menjalankan pemerintahan dengan
buruk."
Haruomi-san
berbicara dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Bicaramu
terdengar seperti ada sesuatu yang mengganjal."
"Penguasa
yang menjalankan pemerintahan dengan baik pun bisa saja dibenci. Misalnya, jika
ia menghukum penguasa yang bertindak sewenang-wenang karena marah, pihak lawan
akan menaruh dendam. Menghukum orang yang melakukan kesalahan pun akan
menimbulkan kebencian. Dendam manusia itu terkadang sangat tidak masuk
akal."
"...Itu
memang sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh pelakunya sendiri."
"Namun
ada juga orang-orang yang menderita ketidakadilan yang sama. Misalnya, anak
dari orang yang berbuat jahat. Jika si anak memiliki sifat busuk yang sama
dengan orang tuanya, kita bisa menganggapnya sudah sepantasnya, tapi anak kecil
tidak tahu mana yang baik dan buruk. Anak seperti itu bisa saja terbakar amarah
yang tidak masuk akal setelah mendengar kata-kata dendam dari orang-orang di
sekitarnya. Selain itu, prajurit yang menindak penjahat namun menderita luka
parah hingga dipecat bisa saja menaruh dendam kepada atasan yang memberinya
perintah."
"Tapi jika
kamu terus memikirkan hal itu, bukankah kamu tidak akan bisa melakukan
apa-apa?"
"Benar.
Memang benar seperti itu. Namun di antara mereka yang mengincar Tuan Muda, ada
orang-orang yang menyerang karena alasan yang tidak bisa dihindari bagaimanapun
kita berhati-hati. Tuan Mina, jangan lengah hanya karena lawan terlihat seperti
orang baik."
"...Aku
mengerti."
Apakah
ini juga sesuatu yang pernah dialami Haruomi-san?
Sepertinya
dia ingin berpesan agar aku tidak menunjukkan celah karena rasa kasihan,
bagaimanapun situasi lawan.
Sepertinya
pembicaraan berakhir di situ, Haruomi-san mendekati Yukinojo dan memeriksa
kondisi wajahnya.
"Umu,
kondisi Tuan Muda sudah membaik. Jika begini, besok pagi dia pasti sudah bisa
bergerak. Kota Hatoba tinggal sedikit lagi. Tuan Mina, sebaiknya kamu
beristirahat sekarang. Agar Tuan Muda bisa beristirahat di tempat yang aman,
aku ingin kita tiba di kota besok. Sebagai balasan atas obatnya, biarkan aku
yang berjaga."
"Baiklah,
kalau begitu aku terima tawarannya... eh!?"
Tepat saat aku
hendak beristirahat karena sihirku sudah terkuras dalam pertempuran siang tadi,
aku merasakan kemunculan kekuatan sihir yang dahsyat.
"Ada apa,
Tuan Mina...?"
"Mana
Wall!!"
Tanpa sempat
menjawab pertanyaan, aku segera memasang dinding pertahanan sihir di sekeliling
kami. Detik berikutnya, gubuk pemburu itu hancur berantakan diiringi suara
ledakan dahsyat.
"Apa!?"
"Kgh...!"
Sudah
kuduga! Seseorang menyerang dengan sihir tingkat tinggi! Sambil merasakan sihirku terkuras habis-habisan,
aku berusaha keras mempertahankan dinding pertahanan.
Saat aliran sihir
yang mencoba menghancurkan penghalau itu akhirnya menghilang, area sekeliling
kami telah berubah menjadi tanah tandus.
"A-Apa yang
terjadi!?"
Haruomi-san
berseru kaget melihat kehancuran di sekelilingnya sambil menutupi tubuh
Yukinojo untuk melindunginya.
"Hmph,
ternyata masih hidup ya. Sampah-sampah yang sangat ulet."
Suara itu muncul
dari dalam hutan.
"Cih,
pengejar yang melakukan hal mencolok sekali ya... eh!?"
Cahaya bulan dan
api dari pepohonan hutan yang hancur terbakar menyinari sosok yang menyerang
kami.
Kulit cokelat,
rambut perak, dan sayap hitam yang tumbuh di punggungnya adalah sosok musuh
yang sangat aku kenal.
"Demon!?"
Ya, yang
menyerang kami adalah Demon yang sudah berkali-kali bertarung melawan kami.
"Aku datang
ke sini setelah mendengar ada pengawal yang merepotkan, tapi ternyata hanya
seorang gadis kecil ya. Manusia
memang benar-benar tidak berguna jika tidak bisa menang melawan lawan setingkat
ini."
Tidak
kusangka, ternyata ada Demon yang terlibat dalam masalah ini...
"...Haruomi-san,
bawa Yukinojo lari."
"Tuan
Mina!?"
"Mustahil
bagiku menghadapi orang itu sambil melindungi kalian berdua. Carilah bantuan
dari Rex yang ada di kota Hatoba."
Sejujurnya aku
sendiri juga khawatir. Biasanya ada Jairo dan yang lain di barisan depan,
sehingga aku bisa menyerang dari belakang dengan tenang, tapi sekarang aku
sendirian.
Menghadapi Demon
sebagai penyihir yang harus menjadi barisan depan sekaligus belakang adalah hal
yang sangat tidak masuk akal.
Tapi jika tidak
kulakukan sekarang, Yukinojo dan yang lainnya akan terbunuh. Maka setidaknya
aku harus menjadi umpan sampai mereka berdua melarikan diri ke tempat aman.
"Tapi jika
begitu, kamu!?"
"Kalau hanya
aku sendiri, aku pasti bisa mengatasinya..."
"Hahaha!
Berani sekali kalian mengobrol di depan musuh!"
Demon itu
mengompresi sihir dan menyerang tanpa merapalkan mantra (No Chant).
"Kgh! Flame Lancer!"
"Hoh, kamu bisa membatalkan seranganku barusan ya. Kamu
lumayan juga."
Benar-benar ya, kekuatan sebesar ini dihasilkan tanpa
merapalkan mantra, sungguh menyebalkan. Padahal aku sudah menghabiskan cukup
banyak sihir hanya untuk membatalkan serangan barusan. Tanpa Norb, pertahananku
benar-benar terkuras.
"Cepat lari!"
"Kgh! Aku serahkan padamu!"
Mungkin karena melihat kondisiku yang sudah terdesak,
Haruomi-san memutuskan bahwa keberadaan mereka di sini hanya akan menjadi
beban.
Haruomi-san
segera menggendong Yukinojo dan mulai berlari dengan sekuat tenaga. Dengan ini,
yang tersisa hanyalah mengulur waktu sampai mereka berdua berhasil melarikan
diri.
"Nah,
sekarang akulah lawanmu!"
"Berani
sekali bertarung sendirian melawanku, sombong sekali!"
Namun Demon itu
mengabaikanku dan melepaskan serangan ke arah Yukinojo.
"Apa!? Wind
Chaser!"
Aku buru-buru
membatalkan serangan Demon dengan sihir angin yang memiliki keunggulan dalam
kecepatan.
"Hahaha!
Serangan barusan pun bisa kamu tahan! Ternyata bukan hanya omong besar ya!"
"Hei
kamu! Jangan tiba-tiba mengincar Yukinojo dan yang lainnya dong!"
"Hmph,
aku tidak peduli dengan urusan manusia. Justru menunjukkan kelemahan itulah
yang salah."
Demon itu
mengumpulkan sihir lebih banyak lagi untuk menyerang Yukinojo.
Apalagi
kali ini ia mengeluarkan sihir dalam jumlah besar agar aku tidak bisa
membatalkannya.
"Kalau begitu maumu! Stone Wall!"
Aku menciptakan dinding batu tebal di antara Demon dan
Yukinojo untuk melindungi mereka dari serangan.
Meskipun dinding itu terkikis hebat akibat serangan
bertubi-tubi, ini jauh lebih baik daripada harus menangkis serangan satu per
satu yang menguras sihir dan konsentrasi.
"Dengan
begini kamu tidak bisa mengincar mereka, kan?"
"Hoh,
ternyata kamu bisa berpikir sedikit juga ya... Apa kamu pikir aku akan berkata
begitu, bodoh!"
Sambil
menertawakanku, Demon itu mengepakkan sayap di punggungnya dan terbang ke
langit.
"Hahahaha!
Apa kamu tidak menyadari sayap di punggungku, gadis kecil!"
Lalu Demon itu
mengepakkan sayapnya untuk menyerang Haruomi-san yang sedang menggendong
Yukinojo. Ia berniat menyerang dari jarak sangat dekat agar aku tidak bisa
membatalkan sihirnya.
Tapi...
"Tentu saja
aku sudah menyadarinya, dasar bodoh."
Terhadap Demon
yang terbang ke langit sesuai rencanaku, aku merapalkan sihir tepat di saat ia
hendak melesat di atasku.
"Rock
Tower!"
Dinding batu yang
mirip dengan sebelumnya tercipta mengelilingiku.
Namun kali ini
dindingnya jauh lebih tinggi, menjulang melampaui Demon yang terbang di langit.
Dan tepat saat
Demon itu hendak melesat melewatiku, ia menabrak dinding yang menjulang dari
belakangku dengan keras.
"Bugh!?
D-Dinding di langit!?"
Terhadap
Demon yang kebingungan karena dinding yang muncul tiba-tiba, aku melepaskan
sihir pemungkas tanpa jeda.
"Rasakan ini! Flame Inferno!!"
"Apa!?"
Untuk menghindari api neraka yang dilepaskan tepat dari
bawahnya, Demon itu buru-buru hendak mundur, namun ia justru menabrak dinding
yang menjulang di belakangnya.
Ia mencoba melirik ke arah langit di sisi kiri dan kanan,
namun jalan itu pun sudah tertutup dinding batu.
Terkepung dinding dari empat penjuru, Demon itu seolah-olah
menjadi tahanan yang terkurung di dalam menara.
Dan tepat saat ia menyadari bahwa ia mungkin bisa selamat
jika melarikan diri ke atas, semuanya sudah terlambat. Pilar api neraka yang melesat dari bawah
menelan sang Demon.
"GUAAAAAAARRRRRRRGGGHH!!"
Teriakan
menyakitkan sang Demon terdengar dari balik api neraka.
"Hmph,
kamu lengah ya. Di langit pun kamu harus berhati-hati dengan rintangan."
Hehehe, sungguh
memuaskan saat rencana ini berjalan dengan begitu mulus.
Dinding batu yang
kubuat untuk melindungi Yukinojo dari Demon hanyalah umpan agar sang Demon
terbang ke langit.
Seperti dugaanku,
Demon itu terbang dengan penuh percaya diri karena menyangka aku tidak
menyadari kemampuannya untuk terbang.
Dan tepat di saat
sang Demon yang sudah yakin akan kemenangannya hendak melesat melewatiku, aku
mengaktifkan Rock Tower yang merupakan sihir pertahanan tingkat tinggi untuk
menciptakan dinding yang mengurungnya.
Menara batu ini adalah dinding untuk mencegah sang Demon menuju ke arah Yukinojo, sekaligus bidak catur untuk memastikan sihir dengan daya hancur terbesarku mengenai lawan yang biasanya bisa menghindar dengan bebas di langit.
"Aku
melakukannya agar tidak membakar hutan dan memastikan serangannya kena, tapi
merapal sihir tingkat tinggi tiga kali berturut-turut benar-benar menguras
tenaga..."
Anak-anak di desa
Rex menggunakan sihir semacam ini dengan santai, sebenarnya seberapa melimpah
kapasitas sihir mereka...?
Orang biasa
sepertiku tidak akan sanggup melakukan rentetan serangan seperti ini...
"Nah,
sekarang waktunya menyusul mereka. Kalau tidak cepat, aku akan kehilangan jejak
Yukinojo dan—"
Tepat saat aku
mencoba memulihkan diri untuk mengejar Yukinojo dan yang lainnya, sebuah
guncangan hebat menghantamku dari atas, mengempaskanku dengan sangat kuat.
"Kyaaaaaaaa!?"
Akibat serangan
tak terduga itu, tubuhku berguling-guling di tanah layaknya kerikil.
"Kh—!?"
Aku baru berhenti
setelah menabrak pepohonan di sekitar, tapi hantaman ganda itu membuatku sesak
napas.
"Ku,
kukuku... Tak kusangka gadis manusia sepertimu bisa mengendalikan sihir sehebat
itu. Kalau bukan karena jimat Lost Item ini, aku pasti sudah tamat."
Sambil memaksakan
tubuhku yang lunglai untuk menengadah, aku melihat sosok Demon yang seharusnya
sudah musnah tadi masih berdiri di sana.
"Mana
mungkin... kamu selamat..."
Terlebih lagi,
tak kusangka dia menyembunyikan Magic Item tingkat tinggi yang sangat
berharga...
Seolah ingin
memamerkan fakta tersebut, si Demon yang tadi terkena sihir api neraka itu
tampak tidak menderita luka yang berarti.
"Dosamu
karena telah melukaiku sangatlah berat, Gadis Kecil! Akan kubuat kau mengalami
penderitaan yang begitu mengerikan sampai-sampai kau berharap lebih baik mati
saja!"
Mungkin karena
merasa terhina dipermainkan oleh gadis muda sepertiku, si Demon meneriakkan hal
itu dengan amarah yang meluap-luap.
"Fu,
fufufu..."
"Apa yang
lucu, Gadis Kecil?"
Si Demon merasa
heran melihatku malah tertawa meski sedang terdesak.
"Habisnya...
kata-katamu itu sama persis dengan Demon yang kami kalahkan sebelumnya."
"Apa!?"
Ya, di hari itu,
saat kami pertama kali bertemu dengan Demon. Kata-kata yang diucapkan oleh
Demon yang dikerjai habis-habisan oleh Jairo.
Karena itulah,
aku memberikan balasan yang sama kepada Demon ini.
"Kalau kamu
cuma bisa mengancam payah seperti itu... justru kamulah yang akan berakhir
putus asa karena diserang oleh lawan yang membuatmu merasa lebih baik mati
saja."
Yah, sebenarnya
itu cuma gertakan, karena mana mungkin dia bisa muncul di tengah hutan seperti
ini.
"Cih, jangan
bicara omong kos—GUWAAAAAAAAAAH!?"
Saat aku sedang
berusaha memulihkan diri sambil mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba saja sosok
si Demon terpental jauh.
"Eh?"
"Aku datang
ke sini karena mengira ada pertempuran sihir yang cukup hebat, tapi tak
kusangka ternyata ada Demon di tempat seperti ini."
Mendengar suara
itu di tengah situasi yang nyaris mustahil ini, aku hampir saja menangis. Di
tengah gelapnya malam pun, tidak mungkin aku salah mengenali suara itu.
"...Bohong."
"Dan
ternyata yang diserang adalah rekanku sendiri."
Suara itu
mengandung amarah, sebuah hal yang sangat jarang terdengar darinya.
"K-Kau...
siapa kau...!?"
Si Demon
bertanya kepada sang pengganggu yang tiba-tiba muncul itu.
"Namaku
Rex. Hanya seorang petualang biasa."
"Rex!"
Bala bantuan terkuat... akhirnya datang!



Post a Comment