NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 10

Chapter 189

Para Pengejar dan Menara Kilat


"Thunder Shot!"

"GUWAAAAAAHHH!!"

Semburan peluru kilat yang dilepaskan itu mengempaskan gerombolan pengejar sekaligus.

"Fuu, berakhir juga," ucapku.

Begitu pertarungan usai, Yukinojo yang sedari tadi menunggu di belakang mendekat dengan riang.

"Luar biasa, Mina! Ketajaman sihirmu kali ini pun sungguh mengagumkan!"

Anak ini, padahal dia pihak yang harus dilindungi, tapi selalu saja ingin maju bertarung setiap kali ada kesempatan. Pantas saja Haruomi-san dibuat repot olehnya.

Yah, para samurai seperti Yukinojo ini berbeda dari bangsawan yang aku kenal; mereka lebih condong ke arah ksatria atau militer, dan itulah sebabnya sang penguasa wilayah sendiri yang berinisiatif turun ke medan perang.

Apakah ini juga yang dinamakan perbedaan budaya?

"Eh, kamu terluka, kan? Kamu tidak apa-apa!?"

Begitu aku perhatikan, ternyata lengan Yukinojo terluka.

"Umu, ini bukan masalah besar, hanya tergores anak panah saja."

"Mohon maafkan aku. Aku gagal menahan pengejar hingga Tuan Muda harus menderita luka," ucap Haruomi-san sambil menundukkan kepala kepada Yukinojo dengan perasaan bersalah yang amat dalam.

Kalau dilihat-lihat, di belakangnya ada beberapa pengejar yang telah tumbang. Sepertinya tadi ada pasukan terpisah.

"Padahal aku pengawal Tuan Muda, tapi aku membiarkan tubuh Anda terluka..."

"Sudah, tidak apa-apa. Kamu dan Mina sudah bekerja keras meski hanya berdua. Kalian telah berjasa besar."

"Baik, terima kasih banyak!"

"...Yukinojo memang berkata begitu, tapi jumlah musuh yang semakin banyak ini tetaplah masalah," gumamku.

Beberapa hari sejak melewati pos pemeriksaan, kami tengah menuju kota Hatoba untuk bergabung kembali dengan Rex, namun selama perjalanan itu kami sudah diserang sebanyak lima kali.

"Diserang sesering ini artinya posisi kita yang menuju kota Hatoba sudah ketahuan sepenuhnya."

"Benar. Aku sempat mengira kita bisa mengelabui mata pengejar dengan mengungsi ke kediaman Paman."

Namun kenyataannya justru seperti ini. Apalagi tempat ini berada di dalam hutan yang bahkan tidak bisa disebut jalan setapak, jauh dari jalan utama agar tidak mencolok.

Aku tidak menyangka para pengejar bisa menemukan kami hanya dengan mengandalkan posisi matahari untuk menuju kota Hatoba...

"Entah ada pengkhianat di antara bawahan paman Yukinojo, atau bawahan dari Kepala Pelayan itu memang sangat kompeten..."

"Mana mungkin!? Tidak mungkin ada orang seperti itu di antara bawahan Paman..."

"Tidak, jika memikirkan siapa dalangnya, kemungkinan itu cukup tinggi. Meski begitu, mustahil bagi mata-mata dari wilayah lain untuk menyusup sebagai orang kepercayaan Tuan Omitsu, jadi yang bisa mereka lakukan paling-paling hanya memberi tahu pihak luar bahwa Tuan Muda telah melarikan diri ke sana. Dan para pengejar yang mengetahui hal itu mungkin menduga Tuan Muda akan bergerak untuk melaksanakan ritual penobatan kepala keluarga dengan bantuan Tuan Omitsu, sehingga mereka mengumpulkan kawan-kawan dari sekitar."

Kalau begini, sepertinya bergabung dengan Rex memang keputusan yang tepat. Sejujurnya, menghadapi musuh dalam jumlah yang lebih banyak dari ini seorang diri agak berat bagiku.

"Kalau begitu, sebaiknya kita bergegas. Mari kita menuju kota Hatoba agar bisa segera bertemu dengan Rex."

"Rex... Kamu pernah mengatakannya sebelumnya, tapi sebenarnya apa hubunganmu dengan orang itu?" tanya Yukinojo dengan wajah yang tiba-tiba memucat saat kami mulai berjalan.

"Hm? Rex itu semacam guru sihirku. Pokoknya, dia itu kuatnya tidak masuk akal."

"Be-Begitukah? Hanya sebatas itu?"

"Iya, memangnya kenapa? Ngomong-ngomong, kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali."

Aku memiringkan kepala melihat wajah Yukinojo yang entah kenapa terus mendesakku.

"Ti-Tidak, tidak masalah."

Apa dia merasa tidak enak badan karena serangan yang bertubi-tubi tadi?

"..."

Bagaimanapun, tepat saat kami hendak melanjutkan perjalanan lagi...

"...ugh."

Tiba-tiba Yukinojo jatuh tersungkur.

"Eh?"

"Tuan Muda!?"

Kami bergegas menghampiri Yukinojo dengan panik.

"Uugh..."

Wajah Yukinojo memutih pasi, ia mengerang sambil mengucurkan keringat dingin dari dahinya.

"Ini... jangan-jangan racun!?"

"Racun!?"

Jangan-jangan gara-gara luka panah tadi!?

"Gejala ini, kemungkinan besar adalah racun Ular Yomitsu."

"Ular Yomitsu?"

"Umu, ular yang sangat berbisa. Siapa pun yang digigit ular ini, racunnya akan segera bereaksi dan dalam sekejap tubuhnya tidak akan bisa digerakkan. Setelah itu, ia akan diserang demam tinggi disertai kejang-kejang hebat, dan akhirnya mati karena kesulitan bernapas..."

"Tunggu, bukankah itu gawat sekali!?"

"Mengobati racun Ular Yomitsu adalah balapan melawan waktu. Kita harus segera mengobatinya! Cepat bawa Tuan Muda ke tempat yang aman!"

"Aku mengerti!"

Saat kami mencari tempat aman untuk mengobati Yukinojo, beruntung kami menemukan gubuk pemburu di dekat sana.

Di dalamnya tidak ada apa-apa, benar-benar hanya tempat untuk berteduh dari hujan dan angin, tapi bagi kami yang tengah dikejar, memiliki atap dan dinding saja sudah sangat patut disyukuri.

Setelah menggelar selimut di lantai, Haruomi-san membaringkan Yukinojo.

"...Gawat, gejalanya sangat buruk. Jika begini terus, setiap detik sangatlah berharga!"

Meskipun ia berkata begitu, di sini tidak ada toko obat maupun tabib.

Aku memang punya sedikit pengetahuan tentang tanaman obat yang diajarkan Kakek, tapi ini pertama kalinya aku mendengar tentang Ular Yomitsu, jadi aku sama sekali tidak tahu tanaman obat mana yang manjur.

Kemungkinan besar ular itu spesies endemik negeri ini... Seandainya saja ada Rex, dengan tumpukan pengetahuannya yang tidak masuk akal itu, dia pasti bisa membuatkan obat untuk racun Ular Yomitsu atau racun apa pun... Eh, ah!

"Jika sudah begini tidak ada pilihan lain. Meski berbahaya..."

"Benar! Ayo coba gunakan ini!"

Aku mengeluarkan sesuatu dari saku bajuku yang baru saja kudapatkan beberapa waktu lalu.

"A-Apa itu?"

Haruomi-san, yang tadinya hendak mengeluarkan sesuatu, menatap obat yang kupegang dengan wajah heran.

"Ini Lower Universal Antidote buatan kenalanku."

Ya, yang kukeluarkan adalah Lower Universal Antidote buatan Rex. Aku mendapatkannya dari Tatsukichi-san saat menolong Echigoya-san kemarin.

Tatsukichi-san bilang aku boleh mengambil apa pun yang kusukai sebagai imbalan karena telah menolongnya, dan meski aku sempat bingung, karena sekarang aku bertindak sendirian, obat-obatanlah yang paling kuinginkan.

Aku tidak menyangka pemakaian pertamanya justru untuk klienku sendiri...

"Lower Universal Antidote?"

Namun Haruomi-san, yang tidak tahu betapa tidak masuk akalnya obat buatan Rex, menatap obat itu dengan pandangan ragu.

"Iya, obat ini pernah menyembuhkan racun laba-laba yang sangat berbisa, dan sepertinya bisa menangani berbagai jenis racun. Mungkin ini juga efektif untuk racun Ular Yomitsu."

Haruomi-san tampak merenungkan kata-kataku. Apakah benar-benar tidak apa-apa meminumkan ini kepada Yukinojo?

"...Fumu, baiklah. Aku tidak yakin ini akan mempan terhadap racun ular Yomitsu yang mematikan, tapi jika bisa mengulur waktu sampai kita tiba di kota, itu sudah syukur."

Syukurlah, izin diberikan. Sejujurnya aku sempat berpikir dia akan menolak dengan kasar dan bilang tidak mau menggunakan obat yang aku siapkan, tapi sepertinya rasa khawatirnya terhadap Yukinojo mengalahkan rasa tidak percayanya kepadaku.

"Kalau begitu, akan kuminumkan ya. Ayo Yukinojo, ini obat."

Aku memapah Yukinojo yang kehilangan kesadaran, memaksanya meminum obat itu, lalu membaringkannya kembali. Saat kami mengawasinya, obat itu segera menunjukkan khasiatnya dan napas Yukinojo mulai stabil. Raut wajahnya yang tadi tampak menderita mulai tenang, dan warna kulitnya pun mulai kembali kemerahan.

"Ngh... haa."

"Bagus, sepertinya mempan. Napasnya mulai tenang."

"Mana mungkin!?"

Di sampingku, Haruomi-san menampakkan wajah yang seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Merasakan pandanganku, ia buru-buru memberi penjelasan.

"Ah, tidak. Aku hanya tidak menyangka obat ini memberikan efek yang begitu dramatis. Apalagi terhadap racun Ular Yomitsu itu!?"

Ah, ya. Tentu saja, ini kan obat buatan Rex.

"Ahaha, kami pun merasakan hal yang sama saat pertama kali mengetahui hal ini."

"U-Umu. Namun teknologi medis negerimu sungguh luar biasa..."

"Yah, sebenarnya ini bukan teknologi medis negaraku secara umum, tapi kenalanku itu saja yang memang hebat."

"Begitu ya, semacam 'obat rahasia yang diwariskan secara turun-temurun' ya."

"Mungkin..."

Hanya saja, jumlah obat rahasianya itu terlalu banyak dan dia menggunakannya dengan santai, jadi rasa syukurku terkadang memudar atau lebih tepatnya perasaanku jadi tumpul...

"Tapi ini benar-benar membantu. Racun Ular Yomitsu itu sangat kuat. Bahkan penawar racun khusus pun memiliki risiko efek samping."

"Heh, ternyata racun yang berbahaya sekali ya."

"Umu, jika menggunakan tanaman obat kelas tinggi dalam jumlah banyak memang sedikit efek sampingnya, tapi pembuatannya memakan waktu lama dan tidak tahan lama. Karena itu bagi pengelana atau rakyat jelata seperti kami, obat yang mudah didapat biasanya memiliki efek samping."

Begitu rupanya, pantas saja tadi dia begitu panik. Meskipun obatnya sempat diberikan, jika ada efek samping, situasinya tetap akan memburuk.

"...Tuan Mina."

Tiba-tiba, Haruomi-san berlutut di depanku.

"Eh? Ada apa?"

"Terima kasih telah menyelamatkan Tuan Muda."

Setelah berkata demikian, Haruomi-san menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Eh!? J-Jangan dipikirkan. Aku hanya kebetulan membawa penawar racun saja."

Benar, aku hanya menggunakan obat itu, bukan berarti aku melakukan sesuatu yang luar biasa hebat.

"Sungguh, aku sangat berterima kasih. Aku hampir saja kehilangan orang yang seharusnya kulindungi untuk kedua kalinya."

Haruomi-san bergumam dengan suara gemetar. Kemungkinan besar orang kedua yang ia maksud adalah ayah Yukinojo.

"...Aku juga sudah meminumkan Potion, jadi sebentar lagi dia pasti bisa bergerak."

"Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf karena telah merepotkan."

"Sudah kubilang tidak apa-apa. Ini kan juga bagian dari pekerjaanku."

Aku memaksa Haruomi-san yang masih menunduk untuk berdiri, lalu sekali lagi menyuruhnya untuk tidak perlu sungkan.

"...Apakah kamu tidak ingin bertanya?" tanya Haruomi-san bergumam, namun aku berpura-pura tidak mengerti maksud pertanyaannya.

"Bertanya apa?"

"Alasan mengapa Tuan Muda diincar dengan begitu gigih. Kamu juga pasti sudah sedikit menyadarinya, kan? Jika dia hanya anak dari penguasa wilayah biasa, tidak mungkin dia diincar sehebat ini."

Yah, memang benar serangan-serangan ini tidaklah wajar. Karena jalan yang kami tempuh bukanlah jalan utama, melainkan jalan setapak di tengah hutan.

Bertemu dengan pengejar di tempat seperti ini artinya musuh telah menempatkan pengejar dalam jumlah besar di daerah sekitar.

Padahal jika melakukan hal mencolok seperti ini, pihak musuh pasti akan merugi besar. Karena mempekerjakan orang itu butuh biaya.

Belum lagi pergerakan mereka akan diketahui dan dicurigai oleh bangsawan lain.

Jika mereka bisa melakukan itu, artinya musuh memiliki kekayaan dan kekuasaan yang sepadan.

"...Tuan Muda adalah putra dari orang yang sangat terhormat. Seseorang yang terlibat langsung dalam pemerintahan negara."

Sudah kuduga.

Jika tujuannya hanya bangsawan kelas bawah, mereka tidak akan mendapatkan keuntungan yang sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.

Pasti ada jaminan imbalan besar di baliknya.

"Namun memiliki kekuasaan sebesar itu juga berarti banyak orang yang ingin merebut kekuasaan tersebut."

Aku mengerti. Bangsawan di negara kami pun begitu.

"Dan hal itu juga berarti jumlah orang yang menaruh dendam akan bertambah."

"Apakah ayah Yukinojo adalah bangsawan yang dibenci?"

Namun Haruomi-san menggelengkan kepalanya.

"Jenderal... Ayah Tuan Muda memang bukan yang terbaik, tapi beliau bukan orang yang menjalankan pemerintahan hingga dibenci. Namun, dendam bukanlah sesuatu yang hanya dirasakan terhadap mereka yang menjalankan pemerintahan dengan buruk."

Haruomi-san berbicara dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Bicaramu terdengar seperti ada sesuatu yang mengganjal."

"Penguasa yang menjalankan pemerintahan dengan baik pun bisa saja dibenci. Misalnya, jika ia menghukum penguasa yang bertindak sewenang-wenang karena marah, pihak lawan akan menaruh dendam. Menghukum orang yang melakukan kesalahan pun akan menimbulkan kebencian. Dendam manusia itu terkadang sangat tidak masuk akal."

"...Itu memang sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh pelakunya sendiri."

"Namun ada juga orang-orang yang menderita ketidakadilan yang sama. Misalnya, anak dari orang yang berbuat jahat. Jika si anak memiliki sifat busuk yang sama dengan orang tuanya, kita bisa menganggapnya sudah sepantasnya, tapi anak kecil tidak tahu mana yang baik dan buruk. Anak seperti itu bisa saja terbakar amarah yang tidak masuk akal setelah mendengar kata-kata dendam dari orang-orang di sekitarnya. Selain itu, prajurit yang menindak penjahat namun menderita luka parah hingga dipecat bisa saja menaruh dendam kepada atasan yang memberinya perintah."

"Tapi jika kamu terus memikirkan hal itu, bukankah kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa?"

"Benar. Memang benar seperti itu. Namun di antara mereka yang mengincar Tuan Muda, ada orang-orang yang menyerang karena alasan yang tidak bisa dihindari bagaimanapun kita berhati-hati. Tuan Mina, jangan lengah hanya karena lawan terlihat seperti orang baik."

"...Aku mengerti."

Apakah ini juga sesuatu yang pernah dialami Haruomi-san?

Sepertinya dia ingin berpesan agar aku tidak menunjukkan celah karena rasa kasihan, bagaimanapun situasi lawan.

Sepertinya pembicaraan berakhir di situ, Haruomi-san mendekati Yukinojo dan memeriksa kondisi wajahnya.

"Umu, kondisi Tuan Muda sudah membaik. Jika begini, besok pagi dia pasti sudah bisa bergerak. Kota Hatoba tinggal sedikit lagi. Tuan Mina, sebaiknya kamu beristirahat sekarang. Agar Tuan Muda bisa beristirahat di tempat yang aman, aku ingin kita tiba di kota besok. Sebagai balasan atas obatnya, biarkan aku yang berjaga."

"Baiklah, kalau begitu aku terima tawarannya... eh!?"

Tepat saat aku hendak beristirahat karena sihirku sudah terkuras dalam pertempuran siang tadi, aku merasakan kemunculan kekuatan sihir yang dahsyat.

"Ada apa, Tuan Mina...?"

"Mana Wall!!"

Tanpa sempat menjawab pertanyaan, aku segera memasang dinding pertahanan sihir di sekeliling kami. Detik berikutnya, gubuk pemburu itu hancur berantakan diiringi suara ledakan dahsyat.

"Apa!?"

"Kgh...!"

Sudah kuduga! Seseorang menyerang dengan sihir tingkat tinggi! Sambil merasakan sihirku terkuras habis-habisan, aku berusaha keras mempertahankan dinding pertahanan.

Saat aliran sihir yang mencoba menghancurkan penghalau itu akhirnya menghilang, area sekeliling kami telah berubah menjadi tanah tandus.

"A-Apa yang terjadi!?"

Haruomi-san berseru kaget melihat kehancuran di sekelilingnya sambil menutupi tubuh Yukinojo untuk melindunginya.

"Hmph, ternyata masih hidup ya. Sampah-sampah yang sangat ulet."

Suara itu muncul dari dalam hutan.

"Cih, pengejar yang melakukan hal mencolok sekali ya... eh!?"

Cahaya bulan dan api dari pepohonan hutan yang hancur terbakar menyinari sosok yang menyerang kami.

Kulit cokelat, rambut perak, dan sayap hitam yang tumbuh di punggungnya adalah sosok musuh yang sangat aku kenal.

"Demon!?"

Ya, yang menyerang kami adalah Demon yang sudah berkali-kali bertarung melawan kami.

"Aku datang ke sini setelah mendengar ada pengawal yang merepotkan, tapi ternyata hanya seorang gadis kecil ya. Manusia memang benar-benar tidak berguna jika tidak bisa menang melawan lawan setingkat ini."

Tidak kusangka, ternyata ada Demon yang terlibat dalam masalah ini...

"...Haruomi-san, bawa Yukinojo lari."

"Tuan Mina!?"

"Mustahil bagiku menghadapi orang itu sambil melindungi kalian berdua. Carilah bantuan dari Rex yang ada di kota Hatoba."

Sejujurnya aku sendiri juga khawatir. Biasanya ada Jairo dan yang lain di barisan depan, sehingga aku bisa menyerang dari belakang dengan tenang, tapi sekarang aku sendirian.

Menghadapi Demon sebagai penyihir yang harus menjadi barisan depan sekaligus belakang adalah hal yang sangat tidak masuk akal.

Tapi jika tidak kulakukan sekarang, Yukinojo dan yang lainnya akan terbunuh. Maka setidaknya aku harus menjadi umpan sampai mereka berdua melarikan diri ke tempat aman.

"Tapi jika begitu, kamu!?"

"Kalau hanya aku sendiri, aku pasti bisa mengatasinya..."

"Hahaha! Berani sekali kalian mengobrol di depan musuh!"

Demon itu mengompresi sihir dan menyerang tanpa merapalkan mantra (No Chant).

"Kgh! Flame Lancer!"

"Hoh, kamu bisa membatalkan seranganku barusan ya. Kamu lumayan juga."

Benar-benar ya, kekuatan sebesar ini dihasilkan tanpa merapalkan mantra, sungguh menyebalkan. Padahal aku sudah menghabiskan cukup banyak sihir hanya untuk membatalkan serangan barusan. Tanpa Norb, pertahananku benar-benar terkuras.

"Cepat lari!"

"Kgh! Aku serahkan padamu!"

Mungkin karena melihat kondisiku yang sudah terdesak, Haruomi-san memutuskan bahwa keberadaan mereka di sini hanya akan menjadi beban.

Haruomi-san segera menggendong Yukinojo dan mulai berlari dengan sekuat tenaga. Dengan ini, yang tersisa hanyalah mengulur waktu sampai mereka berdua berhasil melarikan diri.

"Nah, sekarang akulah lawanmu!"

"Berani sekali bertarung sendirian melawanku, sombong sekali!"

Namun Demon itu mengabaikanku dan melepaskan serangan ke arah Yukinojo.

"Apa!? Wind Chaser!"

Aku buru-buru membatalkan serangan Demon dengan sihir angin yang memiliki keunggulan dalam kecepatan.

"Hahaha! Serangan barusan pun bisa kamu tahan! Ternyata bukan hanya omong besar ya!"

"Hei kamu! Jangan tiba-tiba mengincar Yukinojo dan yang lainnya dong!"

"Hmph, aku tidak peduli dengan urusan manusia. Justru menunjukkan kelemahan itulah yang salah."

Demon itu mengumpulkan sihir lebih banyak lagi untuk menyerang Yukinojo.

Apalagi kali ini ia mengeluarkan sihir dalam jumlah besar agar aku tidak bisa membatalkannya.

"Kalau begitu maumu! Stone Wall!"

Aku menciptakan dinding batu tebal di antara Demon dan Yukinojo untuk melindungi mereka dari serangan.

Meskipun dinding itu terkikis hebat akibat serangan bertubi-tubi, ini jauh lebih baik daripada harus menangkis serangan satu per satu yang menguras sihir dan konsentrasi.

"Dengan begini kamu tidak bisa mengincar mereka, kan?"

"Hoh, ternyata kamu bisa berpikir sedikit juga ya... Apa kamu pikir aku akan berkata begitu, bodoh!"

Sambil menertawakanku, Demon itu mengepakkan sayap di punggungnya dan terbang ke langit.

"Hahahaha! Apa kamu tidak menyadari sayap di punggungku, gadis kecil!"

Lalu Demon itu mengepakkan sayapnya untuk menyerang Haruomi-san yang sedang menggendong Yukinojo. Ia berniat menyerang dari jarak sangat dekat agar aku tidak bisa membatalkan sihirnya.

Tapi...

"Tentu saja aku sudah menyadarinya, dasar bodoh."

Terhadap Demon yang terbang ke langit sesuai rencanaku, aku merapalkan sihir tepat di saat ia hendak melesat di atasku.

"Rock Tower!"

Dinding batu yang mirip dengan sebelumnya tercipta mengelilingiku.

Namun kali ini dindingnya jauh lebih tinggi, menjulang melampaui Demon yang terbang di langit.

Dan tepat saat Demon itu hendak melesat melewatiku, ia menabrak dinding yang menjulang dari belakangku dengan keras.

"Bugh!? D-Dinding di langit!?"

Terhadap Demon yang kebingungan karena dinding yang muncul tiba-tiba, aku melepaskan sihir pemungkas tanpa jeda.

"Rasakan ini! Flame Inferno!!"

"Apa!?"

Untuk menghindari api neraka yang dilepaskan tepat dari bawahnya, Demon itu buru-buru hendak mundur, namun ia justru menabrak dinding yang menjulang di belakangnya.

Ia mencoba melirik ke arah langit di sisi kiri dan kanan, namun jalan itu pun sudah tertutup dinding batu.

Terkepung dinding dari empat penjuru, Demon itu seolah-olah menjadi tahanan yang terkurung di dalam menara.

Dan tepat saat ia menyadari bahwa ia mungkin bisa selamat jika melarikan diri ke atas, semuanya sudah terlambat. Pilar api neraka yang melesat dari bawah menelan sang Demon.

"GUAAAAAAARRRRRRRGGGHH!!"

Teriakan menyakitkan sang Demon terdengar dari balik api neraka.

"Hmph, kamu lengah ya. Di langit pun kamu harus berhati-hati dengan rintangan."

Hehehe, sungguh memuaskan saat rencana ini berjalan dengan begitu mulus.

Dinding batu yang kubuat untuk melindungi Yukinojo dari Demon hanyalah umpan agar sang Demon terbang ke langit.

Seperti dugaanku, Demon itu terbang dengan penuh percaya diri karena menyangka aku tidak menyadari kemampuannya untuk terbang.

Dan tepat di saat sang Demon yang sudah yakin akan kemenangannya hendak melesat melewatiku, aku mengaktifkan Rock Tower yang merupakan sihir pertahanan tingkat tinggi untuk menciptakan dinding yang mengurungnya.

Menara batu ini adalah dinding untuk mencegah sang Demon menuju ke arah Yukinojo, sekaligus bidak catur untuk memastikan sihir dengan daya hancur terbesarku mengenai lawan yang biasanya bisa menghindar dengan bebas di langit.




"Aku melakukannya agar tidak membakar hutan dan memastikan serangannya kena, tapi merapal sihir tingkat tinggi tiga kali berturut-turut benar-benar menguras tenaga..."

Anak-anak di desa Rex menggunakan sihir semacam ini dengan santai, sebenarnya seberapa melimpah kapasitas sihir mereka...?

Orang biasa sepertiku tidak akan sanggup melakukan rentetan serangan seperti ini...

"Nah, sekarang waktunya menyusul mereka. Kalau tidak cepat, aku akan kehilangan jejak Yukinojo dan—"

Tepat saat aku mencoba memulihkan diri untuk mengejar Yukinojo dan yang lainnya, sebuah guncangan hebat menghantamku dari atas, mengempaskanku dengan sangat kuat.

"Kyaaaaaaaa!?"

Akibat serangan tak terduga itu, tubuhku berguling-guling di tanah layaknya kerikil.

"Kh—!?"

Aku baru berhenti setelah menabrak pepohonan di sekitar, tapi hantaman ganda itu membuatku sesak napas.

"Ku, kukuku... Tak kusangka gadis manusia sepertimu bisa mengendalikan sihir sehebat itu. Kalau bukan karena jimat Lost Item ini, aku pasti sudah tamat."

Sambil memaksakan tubuhku yang lunglai untuk menengadah, aku melihat sosok Demon yang seharusnya sudah musnah tadi masih berdiri di sana.

"Mana mungkin... kamu selamat..."

Terlebih lagi, tak kusangka dia menyembunyikan Magic Item tingkat tinggi yang sangat berharga...

Seolah ingin memamerkan fakta tersebut, si Demon yang tadi terkena sihir api neraka itu tampak tidak menderita luka yang berarti.

"Dosamu karena telah melukaiku sangatlah berat, Gadis Kecil! Akan kubuat kau mengalami penderitaan yang begitu mengerikan sampai-sampai kau berharap lebih baik mati saja!"

Mungkin karena merasa terhina dipermainkan oleh gadis muda sepertiku, si Demon meneriakkan hal itu dengan amarah yang meluap-luap.

"Fu, fufufu..."

"Apa yang lucu, Gadis Kecil?"

Si Demon merasa heran melihatku malah tertawa meski sedang terdesak.

"Habisnya... kata-katamu itu sama persis dengan Demon yang kami kalahkan sebelumnya."

"Apa!?"

Ya, di hari itu, saat kami pertama kali bertemu dengan Demon. Kata-kata yang diucapkan oleh Demon yang dikerjai habis-habisan oleh Jairo.

Karena itulah, aku memberikan balasan yang sama kepada Demon ini.

"Kalau kamu cuma bisa mengancam payah seperti itu... justru kamulah yang akan berakhir putus asa karena diserang oleh lawan yang membuatmu merasa lebih baik mati saja."

Yah, sebenarnya itu cuma gertakan, karena mana mungkin dia bisa muncul di tengah hutan seperti ini.

"Cih, jangan bicara omong kos—GUWAAAAAAAAAAH!?"

Saat aku sedang berusaha memulihkan diri sambil mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba saja sosok si Demon terpental jauh.

"Eh?"

"Aku datang ke sini karena mengira ada pertempuran sihir yang cukup hebat, tapi tak kusangka ternyata ada Demon di tempat seperti ini."

Mendengar suara itu di tengah situasi yang nyaris mustahil ini, aku hampir saja menangis. Di tengah gelapnya malam pun, tidak mungkin aku salah mengenali suara itu.

"...Bohong."

"Dan ternyata yang diserang adalah rekanku sendiri."

Suara itu mengandung amarah, sebuah hal yang sangat jarang terdengar darinya.

"K-Kau... siapa kau...!?"

Si Demon bertanya kepada sang pengganggu yang tiba-tiba muncul itu.

"Namaku Rex. Hanya seorang petualang biasa."

"Rex!"

Bala bantuan terkuat... akhirnya datang!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close