NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 4

Chapter 183

Mina Menginjakkan Kaki di Tanah Negeri Timur


Mina

"Nah, sekarang apa yang harus kulakukan, ya?"

Setelah menyelamatkan bajak laut yang terjatuh ke laut, aku entah bagaimana berhasil melewati badai dan tiba di pesisir Negeri Timur.

Namun sepertinya aku hanyut cukup jauh, karena rupa kapal yang kami tumpangi tidak terlihat di mana pun.

"Untuk sementara, bagaimana kalau kita menuju kota pelabuhan saja, Kak? Lagipula sejak awal kami juga memang mengincar pelabuhan," usul bajak laut yang kuselamatkan itu sambil membungkuk-bungkuk dengan aneh.

"Benar juga. Kalau begitu, mari kita menuju kota pelabuhan terdekat."

Pertama-tama, aku menggunakan sihir terbang untuk membubung ke langit guna memastikan geografi sekitar.

Saat aku melihat sekeliling, yang paling mencolok adalah gunung raksasa itu. Lalu, aku melihat jalan raya yang melintasi area dekat pesisir.

"Di sana kelihatan ada jalan raya. Ayo ke sana."

Setelah turun kembali ke tanah, aku menginstruksikan arah tujuan kami kepada si bajak laut.

"Wah, sihir terbang itu benar-benar hebat, ya. Tapi kalau begitu, bukankah lebih baik kita terbang saja daripada repot-repot lewat jalan seperti ini?"

"Kamu kan tidak bisa terbang."

Kalau cuma aku sendiri sih bisa saja.

"Kalau begitu aku tinggal berpegangan pada Kak—ah, tidak, lupakan saja."

Aku membungkam si bajak laut yang hendak mengatakan hal bodoh itu dengan tatapanku, lalu kami menembus hutan menuju jalan raya.

"Dengar ya, untuk sementara kita anggap saja kita adalah pengelana yang terlempar dari kapal karena badai. Kamu adalah kru kapal itu, tapi sekarang kamu menjadi pengawalku."

"Kenapa harus pakai skenario yang merepotkan begitu?"

Orang ini, dia lupa siapa dirinya sendiri ya?

"Kamu itu bajak laut, kan?"

"Oh, benar juga."

Begitu diingatkan, dia baru sadar dan menggaruk kepalanya sambil meminta maaf.

"Nah, sebentar lagi sampai di jalan ra—apa?"

Tepat saat itu. Dari arah jalan raya terdengar suara ging, ging, seperti suara logam yang saling berbenturan.

"..."

Kami saling bertukar pandang, lalu perlahan-lahan mengintip situasi di jalan raya dari balik pepohonan. Di seberang jalan, terlihat seseorang tengah mengayunkan pedang dalam sebuah pertarungan.

"Sepertinya ada yang sedang bertarung."

Yang bertarung adalah sepasang laki-laki muda melawan sekelompok pria. Pasangan itu berada dalam posisi terdesak, dan pria yang lebih tua tampak melindungi remaja laki-laki yang lebih muda. Remaja itu sepertinya sedikit lebih muda dariku atau Jairo?

"Mari kita pantau situasinya dulu. Kalau kelihatannya berbahaya, kita sebaiknya tidak ikut campur."

"Setuju, Kak."

Mungkin terdengar kejam, tapi karena bajak laut ini tidak membawa senjata akibat terlempar ke laut di tengah badai, hanya aku satu-satunya yang bisa bertarung.

Melibatkan diri dalam masalah dalam situasi begini hanyalah perbuatan orang yang bosan hidup.

"Jangan bunuh bocah itu! Tapi selama dia masih hidup, aku tidak peduli meski dia kehilangan tangan atau kakinya!"

"Kh, jangan mendekati Tuan Muda, kau bajingan!"

Sepertinya kelompok yang jumlahnya banyak itu memang mengincar anak laki-laki itu.

Apakah mereka penculik yang mengincar uang tebusan, atau ingin menjadikannya sandera?

"Hmm, jelas-jelas ini masalah merepotkan."

Pasti ada orang-orang berbahaya di belakang mereka.

"Benar, Kak. Bagaimana kalau kita bersembunyi saja sampai mereka lewat?"

"Yah, benar juga sih..."

Meski berkata begitu, rasanya sedikit tidak enak di hati jika meninggalkan orang yang hampir diculik begitu saja.

Tapi memang benar aku juga tidak ingin terlibat. Dalam saat seperti ini, apa yang akan dilakukan Jairo?

Ya, tanpa perlu berpikir dia pasti akan langsung pergi menolong. Norb juga pasti akan pergi menolong.

Meguri... kalau tidak menghasilkan uang, dia pasti akan membiarkannya. Sedangkan aku... apa yang harus kulakukan...

"Tuan Muda! Di sini biar aku yang mengulur waktu! Anda segeralah lari!"

"Jangan bicara bodoh! Mana mungkin aku bisa lari dan meninggalkanmu!"

Selagi aku merenung dan merasa bimbang, pasangan itu malah mulai berdebat soal siapa yang harus lari.

"Jangan manja! Di pundak Anda terpikul nyawa rakyat Kekaisaran Amatsumine!"

"Kh!"

Karena ditegur oleh pria pengawalnya, anak laki-laki itu terdiam.

"Sekarang, pergilah!"

"...Maafkan aku!"

Setelah memantapkan hati, anak laki-laki itu mulai berlari ke arah persembunyian kami.

"Dia datang ke arah sini."

"Iya ya."

Kalau dia melewati depan kami begitu saja, para penyerang pasti akan mengejarnya, jadi kami bisa pergi ke arah berlawanan dengan aman. Dalam kasus itu, kedua orang ini akan kami telantarkan, tapi...

"Jangan biarkan dia lolos! Incar kakinya!"

Tiba-tiba, si penyerang melepaskan anak panah ke arah anak laki-laki itu.

"Gawat! Tuan Muda!"

"Kh!"

Anak laki-laki itu melompat ke samping untuk menghindari anak panah... tapi.

"Kyaa?!"

"Uwaaa?!"

Kebetulan yang sungguh luar biasa. Anak laki-laki yang menghindari anak panah itu justru terjun ke semak-semak tempat kami bersembunyi.

Tentu saja kami yang sedang bersembunyi sambil berjongkok tidak sempat menghindar, dan akhirnya tertindih olehnya.

"Duh, jangan tiba-tiba menabrak, dong!"

"Ma-maaf?!"

"I-itu bukan masalah utamanya sekarang, Kak!"

"Eh? Apa yan—?"

Saat aku melihat ke depan, si pengawal dan para penyerang tengah menatap kami dengan heran.

"...Ah."

Gawat, kami ketahuan! Situasi ini benar-benar buruk!

"Ha-habisi mereka bersama saksi matanya!"

Setelah memahami situasinya, para penyerang kembali menyiapkan anak panah ke arah kami.

"Gawat, nih."

Ah, aku benar-benar terseret ke dalam masalah. Ini buruk.

"G-gawat! Cepat lari, kalian!"

Anak laki-laki itu berteriak menyuruh kami lari sambil masih menindihku.

"Heh, dalam situasi begini kamu masih sempat mengkhawatirkan kami ya."

Meski nyawanya sendiri terancam, dia malah mengkhawatirkan orang lain. Benar-benar orang yang terlalu baik. Persis seperti orang-orang itu. Tapi... kalau memang harus terseret masalah, lebih baik bersama orang baik seperti ini.

"Anu, kenapa Kakak malah kelihatan senang begitu?"

"Berisik."

Mengabaikan komentar si bajak laut, aku menyiapkan tongkat sihirku.

"Baiklah. Lagipula aku sudah terlanjur terlibat. Anggap saja ini takdir."

"Tunggu, Kak, cepat la—"

Si bajak laut tampak panik dan gelisah, tapi mustahil bisa lari dalam situasi begini.

"Serang!"

Anak panah dilepaskan secara bersamaan ke arah kami. Namun dengan tenang aku berkata pada anak laki-laki itu.

"Akan kubantu sedikit."

Aku hanya perlu melepaskan mana yang sudah kususun sebelumnya.

"Flame Burst!"

Tirai api muncul di hadapan kami, menangkis anak-anak panah yang melesat, lalu langsung menerjang para penyerang yang memanah tadi.

""""Guwaaaaa!!!!""""

Para penyerang yang diselimuti api itu berteriak histeris dan berguling-guling.

"S-sihir macam apa yang begitu kuat ini?!"

Anak laki-laki yang masih menindihku itu membelalakkan mata dan berseru kaget. Fufu, rasanya lumayan enak. Aku merasa seperti menjadi Rex.

"Kh! Mu-mundur! Mundur!"

Para penyerang yang masih selamat segera melarikan diri dengan panik.

"Pe-pengejarnya lari..."

"Itu bagus sih, tapi bisa tidak kamu segera minggir?"

Aku mengeluh pada anak laki-laki yang masih terpana menatap pengejarnya yang lari agar dia segera menjauh dariku.

"Eh? Ah, maafkan aku!"

Setelah tersadar, anak laki-laki itu buru-buru berdiri dan mundur. Wajahnya memerah, apakah aku boleh sedikit merasa percaya diri?

"Fuu."

"Tuan Muda! Apa Anda selamat?!"

Bersamaan dengan aku berdiri, pria pengawal itu berlari mendekat.

"Ya, aku tidak apa-apa."

"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, gadis asing. Namaku Yukino... panggil saja Yukitaka. Dan orang ini adalah Haruomi."

"Terima kasih banyak karena telah menolong Tuan Muda."

Setelah anak laki-laki bernama Yukitaka itu berterima kasih, si pengawal yang dipanggil Haruomi membungkuk dalam-dalam.

Meski begitu, sepertinya mereka masih waspada. Hmm, anak laki-laki ini meralat namanya sendiri, sudah jelas itu nama samaran.

Tapi kalau aku mengungkitnya sekarang hanya akan menimbulkan masalah, lebih baik kubiarkan saja.

"Kak, jangan-jangan bocah ini pakai nama sam—gofuh!"

"Jangan bicara yang tidak perlu!"

Aku membungkam bajak laut yang hendak mencampuri masalah dengan serangan siku.

"Ada apa?"

"Bukan apa-apa. Sepertinya dia cuma kelelahan."

Aku membersihkan debu di bajuku, lalu kembali menyapa Yukitaka.

"Salam kenal, aku Mina."

"Nama saya Gobun."

Ah, ternyata nama bajak laut ini Gobun.

"Mina dan Gobun, ya. Sekali lagi aku berterima kasih. Seharusnya aku mengundang kalian ke kediaman untuk pesta sambutan, tapi sayangnya dalam kondisiku sekarang, hal itu tidak memungkinkan."

Yah, jelas-jelas kalian sedang dikejar sih.

"Jangan dipikirkan."

"Tidak bisa begitu. Sebagai kesatria Amatsumine, aku tidak boleh melupakan etika terhadap penyelamatku."

Hmm, melihat sikapnya, sepertinya dia anak dari seseorang yang berhubungan dengan ksatria di negara ini?

"Kalian juga punya alasan kenapa tidak bisa membalas budi, kan? Kalau begitu menurutku lebih baik kita anggap saja tidak pernah bertemu dan berpisah di sini, bagaimana?"

Ya, aku memang menolong mereka, tapi lebih baik tidak terlibat lebih jauh. Kalau tidak, aku akan berakhir seperti Rex atau Jairo.

"Mengenai hal itu, aku ingin meminta kalian menjadi pengawal kami."

"Pengawal?"

Apa-apaan orang ini? Bukannya kamu tidak punya uang?

"Tuan Muda, apa yang Anda katakan?!"

Seperti dugaanku, Haruomi-san berusaha menghentikan Yukitaka.

"Haruomi, kau juga sudah melihat kemampuan mereka, kan? Jika kita hanya berdua dan diserang pengejar lagi, kita tidak akan selamat. Bukankah lebih baik kita dikawal sampai ke wilayah paman?"

"Itu..."

Oi, oi, jangan sampai terbujuk di situ, dong.

"Tunggu sebentar, tolong jangan abaikan keinginanku. Kami harus pergi ke kota pelabuhan untuk bertemu kembali dengan rekan-rekan kami, jadi kami tidak punya waktu untuk mengawal kalian."

Saat aku menjelaskan situasiku dan menolak, Yukitaka entah kenapa malah menyeringai.

"Ho, itu kebetulan sekali. Tempat yang ingin kuminta kalian kawal juga adalah kota pelabuhan Omitsu."

"Eh? Benarkah?"

Aku sedikit terkejut dengan kebetulan bahwa tujuan kami ternyata sama.

"Ya, jika sampai di sana, aku bisa meminta bantuan pada pamanku yang menguasai kota tersebut. Dengan begitu aku bisa memberikan imbalan kepada kalian."

"Jadi intinya mengandalkan pamanmu, ya."

Nah, bagaimana sekarang. Ini jelas-jelas masalah yang merepotkan, dan aku ingin segera pergi menjauh, tapi kenyataan bahwa tujuan kami sama itu merepotkan.

Selain itu, jika penguasa kota tujuan kami adalah pamannya, kalau aku menolak sekarang, itu berarti aku menolak permintaan bangsawan.

Aku tidak ingin memancing ketidaksukaan bangsawan setempat, tapi kalau berhubungan dengan bangsawan, musuh mereka juga kemungkinan adalah bangsawan. Mana pun yang kupilih, keduanya merepotkan.

"Kak, Kak."

"Apa."

Saat aku sedang bimbang, Gobun berbisik padaku.

"Terima saja, Kak. Lagipula tujuannya sama, dan kita tidak tahu kapan akan bertemu dengan Tuan Rex dan yang lainnya. Mempertimbangkan kemungkinan kita harus tinggal lama di sini, akan lebih menguntungkan jika kita membuat bocah ini berutang budi."

Hmm, sekilas dia seperti tergiur imbalan—ya, sebenarnya dia memang tergiur—tapi apa yang dikatakannya tidak salah.

Aku memang terseret dalam masalah merepotkan, tapi ini negeri asing, dan jika ada bangsawan yang bisa dijadikan sekutu, itu pasti akan menjadi keuntungan bagi kami.

"...Baiklah. Jadi aku hanya perlu mengawal sampai ke kota pelabuhan itu, kan?"

"Ooh, jadi kau menerimanya!"

Sebenarnya aku tidak ingin menambah beban masalah di negeri asing, apalagi saat tidak ada yang lainnya.

Namun, memang benar bahwa kami butuh uang, dan memiliki sekutu orang lokal yang paham daerah sini akan lebih baik.

"Mohon bantuannya ya, Yukitaka."

Aku sengaja memanggil namanya tanpa gelar sambil mengulurkan tangan.

Dia sepertinya bangsawan, tapi dalam situasi ini, kalau aku berbicara terlalu formal, itu sama saja memberitahu para pengejar bahwa mangsa mereka ada di sini.

"?! Y-ya! Mohon bantuannya juga, Mina!"

Entah apa yang membuatnya senang, Yukitaka menjabat tanganku dengan tampak sangat gembira.

"Ayo! Kita berangkat ke kota pelabuhan Omitsu!"

"Iya, iya."

Begitulah, setelah tiba di Negeri Timur... Kekaisaran Amatsumine, alih-alih bertemu rekan-rekan yang terpisah, aku malah terlibat dengan bangsawan-bangsawan aneh.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close