NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 7

Chapter 144

Tekad Sang Martir


Norb

Setelah dipanggil oleh kakek, aku datang ke gereja ibu kota dan kini tengah berjalan menyusuri lorong yang panjang.

"Norb-sama, High Priest menunggu Anda di sebelah sini."

Seorang pendeta tingkat menengah yang memanduku berhenti di depan sebuah pintu besar.

"Terima kasih banyak."

"Kata-kata Anda terlalu berlebihan untuk saya."

Orang yang jabatannya lebih tinggi dariku ini bersikap seolah-olah akulah yang memiliki kedudukan lebih tinggi.

"Silakan masuk. Saya tidak memiliki kualifikasi untuk melangkah lebih jauh dari titik ini."

Begitu pendeta itu menepi, aku membuka pintu tersebut. Saat masuk, aku mendapati sebuah ruangan yang sangat sederhana dan tidak berisi apa-apa. Tidak, hanya ada satu hal yang terasa tidak wajar di ruangan itu.

"Ini adalah... Pintu Ujian..."

Benar, di ujung ruangan kosong itu, terdapat pintu yang ukurannya jauh melampaui pintu masuk tadi. Namanya adalah Pintu Ujian. Konon, pintu ini hanya bisa dibuka oleh mereka yang memiliki kualifikasi untuk memasuki ruangan di baliknya.

"Tidak menyangka kalau aku akan menyentuh pintu ini sekarang..."

Seharusnya saat bagiku untuk datang ke sini masih jauh di masa depan... Namun, aku tidak boleh gentar. Dipanggil ke sini berarti sudah waktunya. Aku memantapkan tekad dan menyentuh pintu itu.

"Ugh!?"

Sesaat setelah menyentuh pintu, aku merasakan seluruh tenaga di tubuhku seolah tersedot keluar.

"Tapi... ini belum cukup untuk membuatku langsung tidak bisa bergerak...!"

Namun tidak hanya itu. Tiba-tiba angin bertiup, dan hawa dingin yang menusuk menyerangku. Tak berhenti di situ, rasa pening, jantung berdebar, mual, hingga mati rasa menyerang secara bertubi-tubi.

"Ini... racun!?"

Dari gejala-gejala ini, dan juga dari misi yang harus kujalankan ke depannya, aku menyadari apa yang terjadi. Angin tadi kemungkinan besar membawa racun yang dialirkan ke dalam ruangan melalui lubang ventilasi.

"Middle Antidote!"

Aku segera merapalkan sihir penawar racun yang diajarkan Rex-san kepada diriku.

"Antidote Body!"

Selanjutnya, aku mengaktifkan sihir ketahanan racun tipe berkelanjutan untuk mencegah pengaruh racun lebih lanjut. Setelah itu, aku mengerahkan tenaga pada tangan yang memegang Pintu Ujian.

"I-ini... benar-benar... berat... ya."

Menguras mana untuk sihir ketahanan racun sambil mana milikku sendiri disedot oleh pintu adalah beban yang luar biasa. Jika aku mengulur waktu, manaku pasti akan habis lebih dulu. Sebelum manaku benar-benar kosong, aku mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong pintu itu.

Perlahan tapi pasti, pintu itu mulai terbuka dengan suara yang berat. Semakin lebar pintu terbuka, kecepatan hilangnya manaku meningkat secara eksponensial. Benar-benar mekanisme yang licik!

"Sedikit... lagi!"

Begitu celah yang cukup untuk dilewati satu orang tercipta, aku segera meluncur masuk ke dalam ruangan.

"Hah... hah...!"

Aku berhasil masuk... Sedikit saja terlambat terbuka, aku pasti sudah tumbang.

"Selamat datang di Ruang Konsekrasi, pendeta muda."

"!?"

Suara itu membuatku langsung bangkit berdiri dengan sigap.

"Pendeta tingkat rendah Norb, menghadap."

Saat aku mendongak, di sana duduk seorang pendeta tua di sebuah meja besar.

"Apakah ada yang Anda perlukan dariku, High Priest-sama?"

Beliau adalah pimpinan tertinggi gereja di negara ini, Hyidinos-sama, dan juga...

"Kaku sekali. Kamu boleh memanggilku Kakek seperti dulu, tahu."

"Tidak, saya tidak mungkin mengucapkan kata-kata tidak sopan seperti itu kepada High Priest-sama."

Beliau juga merupakan kakek kandungku. Itulah alasan mengapa pendeta tingkat menengah tadi memperlakukanku seolah aku adalah orang penting.

"Yah, dasar anak kaku. Padahal di sini tidak akan ada yang mendengar percakapan kita."

Tetap saja, aturan adalah aturan.

"Tapi ya sudahlah. Bisa membuka pintu itu di usiamu yang sekarang adalah pencapaian yang luar biasa. Tidak kusangka kamu bisa tumbuh sehebat ini."

Jarang sekali High Priest-sama memujiku. Sejujurnya aku sampai merasa sedikit bingung harus bereaksi bagaimana.

"Itu semua berkat pertemuan-pertemuan baik yang kualami."

"Haha, jangan merendah. Seberapa baik pun pertemuan yang kamu dapatkan, jika kamu sendiri tidak rajin berlatih setiap hari, kamu tidak akan bisa mencapai kekuatan sehebat itu. Akuilah usahamu sendiri, Norb."

Meski High Priest-sama berkata begitu, faktanya aku bisa mendapatkan kekuatan ini semata-mata karena bimbingan dari Rex-san.

Dan alasan aku bisa menerima ajaran Rex-san adalah karena pemimpin kami, Jairo, rela membuang harga dirinya demi kemajuan kami bersama.

Benar-benar sebuah pertemuan yang luar biasa, Kek—maksudku, High Priest-sama.

"Nah, kamu pasti tahu alasan kenapa aku memanggilmu ke sini?"

Wajah High Priest-sama kembali serius saat bertanya padaku.

"Tentu saja, saya tahu."

Lagipula, itulah alasan kenapa aku pergi melakukan perjalanan latihan bersama Jairo dan yang lainnya.

"Umu. Seharusnya tugasmu ini masih puluhan tahun lagi, tapi aktivitas di rawa-rawa itu meningkat jauh di luar perkiraan kami..."

Seperti yang dikatakannya, seharusnya tugasku masih sangat lama.

Seharusnya tugas itu datang setelah aku berlatih secara normal, tumbuh secara normal, hingga suatu saat nanti memiliki kekuatan yang cukup untuk membuka Pintu Ujian dengan mudah.

"Heh, kalau dipikir-pikir, fakta bahwa kamu tumbuh lebih cepat dari perkiraan bisa dibilang keberuntungan di tengah musibah. Atau mungkin, pertumbuhanmu juga merupakan bagian dari kehendak Tuhan."

Memang benar, pertemuan dengan Rex-san terasa seperti sebuah mukjizat Tuhan.

"Norb, pendeta muda yang telah mendapatkan kualifikasi dengan membuka Pintu Ujian. Di bawah berkah para roh, aku berikan misi kepadamu!"

Mendengar kata-kata High Priest-sama, aku berlutut dan menunggu kelanjutannya dengan penuh tekad.

"Beberapa hari dari sekarang, Sang Putri akan berangkat untuk melakukan ritual guna menenangkan 'Tanah Korosi' yang mulai aktif. Kamu bertugas menjadi pengawalnya agar Sang Putri bisa mencapai lokasi ritual dengan selamat."

"Misi suci ini, saya terima dengan sepenuh hati."

Benar, inilah tugasku. Menjadi pengawal perjalanan sekali jalan untuk mengantarkan Tuan Putri Megurielna, yang lahir untuk menjadi tumbal, menuju tempat ritual.

Tugas dari seorang 'Martir' yang tidak akan pernah kembali!


Hyidinos

Setelah menerima perintah dariku, Norb meninggalkan Ruang Konsekrasi dengan sorot mata penuh tekad.

"...Haah. Tidak kusangka anak itu benar-benar bisa membuka pintu tersebut..."

Ini benar-benar di luar dugaan. Seoptimis apa pun aku menilainya, seharusnya Norb yang sekarang tidak mungkin bisa membuka pintu itu.

Jika dia gagal, aku berencana menjadikannya alasan bahwa ini masih terlalu dini baginya, lalu menggantinya dengan praktisi lain yang lebih berpengalaman...

"Cucuku ternyata terlalu berbakat!"

Ah, kenapa ini harus terjadi! Kenapa cucuku harus sehebat ini! Sebagai atasan aku bangga, tapi sebagai kakek aku sama sekali tidak senang!

"Sedih sekali rasanya harus mengirim cucu kesayangan ke tempat yang sudah pasti akan merenggut nyawanya!"

Anak itu terlalu jujur dan serius. Dia pasti berpikir bahwa ini adalah misi yang diberikan kepadanya dan tidak boleh melibatkan orang lain.

Mana ada hal seperti itu! Dia hanya sedang sial karena lahir sebagai cucu dari pimpinan tertinggi gereja di negara yang memiliki 'Tanah Korosi' di saat yang paling buruk!

"Sial, ini semua gara-gara tanah rawa terkutuk itu tiba-tiba menjadi aktif!"

Tanah Korosi yang menggerogoti negara ini adalah salah satu wilayah paling berbahaya di antara semua Area Berbahaya.

Seperti kebanyakan wilayah serupa lainnya, tanah itu secara harfiah 'mengorosi' tanah di sekitarnya.

Dan ia terus meluas tanpa batas. Memang banyak wilayah berbahaya yang memiliki sifat seperti itu, tapi karena racun di sana adalah sesuatu yang langsung merusak tubuh manusia, tingkat bahayanya tidak bisa dibandingkan dengan area lain.

Namun, bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasinya. Caranya adalah ritual penyegelan oleh anggota keluarga kerajaan.

Tugas Norb adalah mengawal anggota keluarga kerajaan tersebut sampai ke lokasi ritual.

Lebih tepatnya, melindunginya dari korosi tanah dan racun monster-monster yang menyerang menggunakan sihir penawar racun.

Namun karena tingkat bahaya tempat itu, pengguna sihir penawar racun yang mendampingi haruslah orang yang sangat ahli. Dan lebih dari itu, harus orang yang sangat bisa dipercaya.

Bagian terburuknya adalah, karena beratnya tugas tersebut, siapa pun yang mendampingi sudah pasti akan mati. Itulah sebabnya, mereka yang mendampingi tugas ini disebut sebagai 'Martir'.

"...Cih, 'Martir' apanya! Intinya itu cuma tumbal manusia, kan!"

Benar, itu hanyalah cara untuk menutupi kenyataan dengan kata-kata yang terdengar mulia.

"Tapi aku pun sama saja, menutupi kenyataan dengan kata-kata itu..."

Jika bisa, aku ingin menggantikannya. Namun posisiku tidaklah seringan itu untuk bisa melakukan hal tersebut...

"Oh Tuhan. Kumohon, sambutlah jiwa cucuku yang taat ini dengan penuh belas kasih..."

Betapa tidak berdayanya gelar High Priest ini. Hal yang bisa dilakukan kakek tua yang tidak berguna ini untuk cucu kesayangannya hanyalah berdoa.

"Kalau begitu, hari ini kita akan mengumpulkan bahan Golem yang dipesan oleh Idra-sama, ya."

"""Oooo—!"""

Petualang yang ikut hari ini adalah Liliera-san, Jairo, dan Mina. Norb-san sepertinya ada urusan di gereja sehingga tidak bisa kembali untuk sementara waktu.

"Jadi, di mana kita akan mencari bahannya?"

Atas desakan Liliera-san, aku membentangkan peta di atas meja.

"Iya, setelah mengumpulkan informasi di Guild Petualang, aku menemukan tempat yang pas untuk mencari bahan Golem. Di sana banyak terdapat monster yang bisa menjadi bahan Golem, jadi sangat cocok untuk mengumpulkan material."

"Heh, kebetulan sekali ada tempat sebagus itu. Jadi, di mana tempatnya?"

Mina mendesakku karena aku terlihat sengaja menggantung kalimatku.

"Baiklah, lokasinya di sini."

Begitu aku menunjuk satu titik di peta, semua orang langsung membelalakkan mata.

"Rex-san, tempat ini kan..."

Melihat nama tempat yang tertulis di peta, Liliera-san berbicara dengan suara parau.

"Iya, kita akan menuju Area Berbahaya di bagian barat negara ini..."

Aku memberi jeda sejenak sebelum mengumumkannya.

"Tanah Korosi!"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close