NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Dunia Baru Yuuouji Ouka


1

"Spiii~"

Chocolat-chan yang tinggal di rumah kediaman Amakusa sedang dalam kondisi prima pagi ini: Tidur Nyenyak Tingkat Dewa.

"......Rasanya aku bahkan sudah kehilangan tenaga buat komplain."

Wajah tidurnya benar-benar santai, tidak ada sedikit pun kesan tegang di sana. Sambil menghela napas pendek, aku mendekati tempat tidur.

"Aah...... Jangan, itu tidak boleh!"

Baru saja aku mengulurkan tangan hendak mengguncang bahunya, dia tiba-tiba mengeluarkan suara yang terdengar... ehem, menggoda. Rasanya polanya sama seperti kemarin-kemarin......

"He-Hentikan, Natsuhiko-san!"

Natsuhiko? Nama yang asing. Siapa itu? Kalau mendengar situasinya, sepertinya orang itu sedang menyerang Chocolat......

"Natsuhiko-san, menyerang Kanade-san yang sedang tidak sadarkan diri itu benar-benar kejam!"

TERNATA AKU, TOH!

"Tidak boleh, kalau Kanade-san jadi uke-nya, itu terlalu biasa jadi tidak menarik sama sekali!"

Alasanmu melarangnya aneh banget, tahu!

"Begitu ya...... Kalau kamu memang sudah punya tekad sekuat itu, aku tidak bisa menghentikanmu lagi."

WOI, BERHENTIIN DONG!

"Ah, sepertinya Kanade-san mau bangun. Ayo buat dia tidur lagi pakai saputangan yang sudah dibasahi obat tidur."

Kenapa kamu malah jadi sekutu si Natsuhiko ini, hah?!

"Natsuhiko-san hebat juga ya, langsung menyerang bagian situ. Oh, lubang Kanade-san—"

"CUKUP, WOI!"

Karena sudah tidak tahan lagi, aku memaksanya bangun dengan paksa.

"Fue?"

Dengan mata yang masih mengantuk, Chocolat celingukan melihat sekeliling.

"Lho, Natsuhiko-sannya mana?"

"Makanya, dia itu siapa?!"

◆◇◆

"Hamu hamu."

Chocolat melahap sarapan Mackerel Miso-ni dengan senyum lebar di wajahnya.

"Tapi syukurlah ya, Kanade-san. Misi untuk Furano-san kemarin berhasil selesai dengan selamat."

"A-Ah, iya, begitulah."

"Tapi, gimana caranya bikin dia ketawa? Bukannya dia orang yang nggak pernah senyum sama sekali?"

"Ya itu sih...... berkat selera humorku yang luar biasa, dong."

Meski aku sudah memberitahunya kalau misinya sukses, aku sengaja menutup-nutupi detailnya. Kalau aku bilang kulit pisang pemberian Chocolat yang jadi penentunya, dia pasti bakal besar kepala.

"Hee~, ternyata Furano-san suka lawakan garing bin gagal ya."

Kasar banget nih bocah, ngomongnya nggak disaring dulu.

"Ngomong-ngomong, Kanade-san."

Chocolat mengalihkan pembicaraan sambil menjulurkan sumpit ke arah acar timun.

"Soal '48 Jurus Gelitik' kemarin lusa, kita kan belum coba semuanya."

"Ugh......"

Sensasi dada yang menempel di punggung dan aroma manis yang kebangetan itu mendadak terbayang lagi di kepalaku. Belum lagi soal efek sampingnya, hal itu benar-benar terlalu berbahaya dalam berbagai arti.

"Nggak...... itu sudah dilarang, titik."

"Kenapa? Padahal rencananya malam ini aku mau mencoba sisanya sampai habis."

"Kalau kamu nekat melakukan itu, mulai besok laukmu cuma boleh pakai abon atau bumbu tabur saja!"

"I-Itu namanya pelecehan bumbu tabur yang kejam!"

Istilah apaan lagi itu......

Bzzzttt!

Di atas meja, ponselku bergetar.

Firasat buruk melintas di benakku. Benar saja, saat kubuka, layarnya menampilkan tulisan Misi Penghapusan Kutukan. Sepertinya ini adalah ronde kedua.

Lagian, sebenarnya siapa sih yang mengirimkan ini? Tuhan yang sebelumnya kan sedang cuti melahirkan (?), dan dari telepon kemarin sudah jelas kalau si Tuhan playboy itu tidak terlibat.

Yah, dipikirkan sekarang pun tidak ada gunanya. Pokoknya aku harus cek dulu isinya.


[Lihatlah celana dalam Yawakaze Konagi dalam kondisi sedang dia pakai. Batas waktu: 11 Mei (Sabtu)]


......Apa-apaan ini? Apa-apaan ini? SEBENARNYA APA-APAAN INI?!

Mau dikucek berkali-kali pun, tulisan di layar tidak berubah sedikit pun.

Yawakaze Konagi...... maksudnya Yawakaze Konagi yang itu, kan?

Kalau kamu menjalani kehidupan sekolah di Seikou, mau kamu tertarik atau tidak, nama itu pasti bakal otomatis masuk ke telingamu.

Yawakaze Konagi. Siswi kelas dua yang dengan gagahnya bertengger di peringkat ketiga Ranking Luar. Bukan cuma wajahnya yang imut, tapi sifatnya juga sangat lembut. Katanya dia juga punya unsur dojikko (gadis ceroboh), benar-benar sosok yang seolah-olah perwujudan dari imajinasi liar para pria.

Beda dengan anggota ranking lain yang punya kepribadian atau ciri khas yang mencolok, dia justru dinilai murni karena keimutannya sebagai seorang gadis. Kabarnya dia begitu populer sampai-sampai punya semacam fanclub sendiri.

Dan aku harus melihat celana dalam orang seperti itu...... Sekarang hari Kamis tanggal 9, berarti batasnya sampai lusa. Nggak, mustahil banget lah!

"Kanade-san, jangan-jangan ada misi baru?"

Aku mengangguk lalu memberitahu Chocolat isinya.

"Harus gimana coba kalau begini?"

Misi Yukihira memang sulit, tapi setidaknya tindakan membuat orang tertawa itu tidak ada unsur mesumnya. Tapi kalau ini, lain ceritanya. Kalau tidak sengaja melihat karena roknya tersingkap angin sih masih oke, tapi kalau aku sendiri yang memulai aksinya, itu sih namanya sudah tamat!

"Tenang saja. Aku akan belikan buku 'Sepuluh Cara Melihat Celana Dalam Gadis'."

"Nggak mungkin ada buku kayak gitu dijual, tahu!"

Lagian, buku cara bikin tertawa kemarin saja sama sekali nggak berguna.

"Kalau begitu, aku carikan buku 'Sepuluh Cara Melindungi Lubang Belakang dari Natsuhiko' saja."

"SEBENARNYA SIAPA SIH SI NATSUHIKO ITU?!"

"Gay profesional."

"PROFESIONAL?!"

"Iya, levelnya beda jauh sama Kanade-san yang masih gay amatir."

"Premismu sudah salah dari awal, woi!"

"Eh, apa Kanade-san itu ternyata yang profesional?"

"Bukan di situ letak salahnya! Aku ini normal, tahu!"

"Ooh, jadi Kanade-san itu gay tipe standar ya."

"Bukan! Aku ini beneran suka perempuan!"

"Oalah, jadi ternyata kamu biseksual ya?"

"BERISIK BANGET SIH, WOI!"


2

"Haa......"

Pagi-pagi sudah dipaksa meladeni obrolan gay yang kental bikin mood-ku anjlok drastis saat berangkat sekolah. Ditambah lagi, isi misinya malah 'begitu'.

"Mau dipikir bagaimanapun juga mustahil, kan? Nyuruh lihat celana dalam...... Oh."

Sambil menggerutu, aku sampai di loker sepatu dan menemukan sosok punggung yang kukenal. Yukihira.

Mengingat kejadian di atap kemarin, aku tidak bisa menebak reaksi seperti apa yang bakal dia berikan, jadi aku menyapanya dengan agak ragu.

"......Yo, selamat pagi, Yukihira."

Yukihira menoleh dan mata kami bertemu. Setelah hening sejenak,

"Selamat pagi, sampah dengan daya tempur lima."

Ternyata Yukihira yang biasa.

"Pagi-pagi sudah ngegas saja ya."

"Selamat pagi, Dodoria-san."

"Kenapa kamu malah bergaya jadi Frieza, sih......"

"Ngomong-ngomong, harga buronanku itu 530.000 Berry, lho."

"Itu mah sudah campur aduk sama manga lain, woi!"

Lagipula kalau segitu, harganya malah lebih rendah dari bandit gunung biasa, tahu.

"Melihat reaksimu, sepertinya kamu tidak paham ya seberapa besarnya uang 530.000 Berry itu."

Iya, soalnya latar dunianya sudah berantakan jadi aku tidak paham sama sekali.

"Dengan uang segitu, kamu bisa beli kapsul Hoi-Poi kosong sampai segunung."

"Barang kayak gitu buat apa dicuma-cuma, sih?"

"Kalau diisi air, desa Namu bakal terselamatkan."

"REFERENSINYA KELEWAT MANIAK, WOI!"

Benar-benar Yukihira yang seperti biasanya.

"Omong-omong Amakusa-kun, maaf ya soal kemarin aku memperlihatkan sisi yang memalukan."

Kejadian kemarin...... Maksudnya pasti soal dia yang tertawa terbahak-bahak gara-gara kulit pisang itu. Aku sengaja tidak menyinggungnya, tapi siapa sangka dia sendiri yang malah buka suara.

"Aku ini sejak dulu memang punya kecenderungan gampang tertawa. Biasanya sih tidak, tapi sekali saja kena titik selera humorku—terutama kalau soal lawakan klasik—aku bakal meledak."

Gaya bicaranya datar-datar saja, tidak terlihat ada tanda-tanda dia merasa malu.

"Yah, mungkin itu yang disebut gap moe ya."

Malah sekarang dia berani bilang begitu sendiri. Yah, soal moe atau tidaknya sih entahlah, tapi mengingat sifat biasanya, memang benar kalau celahnya (gap) itu luar biasa sih—

Eh? Celah?

Kata itu entah kenapa terasa mengganjal di hatiku. Apa ya? Rasanya ada yang mengganjal di lubuk hatiku yang terdalam.

Katanya Yukihira melakukan tindakan ekstrem dengan menghapus ingatanku karena aku syok berat setelah melihat adegan terlarang sesama cowok, tapi rasanya bukan itu. Sepertinya aku melihat sesuatu yang punya 'celah' luar biasa besar......

"Ah, rasanya aku ingat sesuatu. Yukihira, bukannya di atap tadi kamu sempat merangkak gitu ya?"

"!?"

Mata Yukihira membelalak lebar.

"Benar juga, terus kalau tidak salah kamu menggumamkan sesuatu yang aneh—Hah?"

◆◇◆

"......Lho, Yukihira?"

Sadar-sadar, wajah Yukihira sudah berada di posisi miring di atasku. Eh, situasi apa ini? Aku sedang terduduk dengan punggung menyandar ke dinding?

Kenapa?

Ingatanku tidak jelas. Tanpa sadar tanganku meraba kepala.

"Aduh!"

Ada benjolan di bagian belakang kepalaku. Apa yang terjadi sebenarnya? Sambil mengusap-usapnya aku berdiri, mencoba merapikan ingatanku.

Kalau tidak salah, aku berangkat sekolah dengan mood rendah gara-gara obrolan gay Chocolat, lalu menyapa Yukihira di loker sepatu...... terus setelah itu apa ya?

Seolah memutus pikiranku, Yukihira memanggilku.

"Selamat pagi, sampah dengan daya tempur lima."

"REFERENSINYA KELEWAT MANIAK, WOI!"

Setelah membalas lawakan tentang Namu tadi, percakapan kami mencapai titik jeda. Aku hendak bertanya apa yang terjadi padaku, tapi,

"Lebih dari ini berbahaya...... Amakusa-kun, kalau begitu aku duluan."

Dia mengucapkan kalimat yang tidak jelas maknanya, lalu berbalik dan menaiki tangga.

"O-Ooi."

Langkah Yukihira terhenti tepat di situ, lalu dia menoleh.

"Ah benar juga, aku akan senang kalau untuk sementara kamu tidak mendekatiku."

"Hah, kenapa?"

"Aku merasa ada 'sesuatu' yang tidak jelas memancar darimu dan rasanya aku bisa hamil."

"ITU MAH SUDAH BUKAN MANUSIA LAGI, WOI!"

Yukihira cuma mengatakan apa yang dia mau lalu menghilang di balik tangga.

Ada apa sih sebenarnya? Memang ucapan dan tindakan Yukihira itu aneh, tapi yang tadi itu benar-benar lebih aneh dari biasanya.

Kalau dilihat dari situasinya, sepertinya Yukihira menghapus ingatanku lagi...... Apa di tengah percakapan kami tadi, ada sesuatu yang tidak menguntungkan baginya?

"Hmm?"

Tiba-tiba, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku dan menoleh.

Ada seorang gadis di sana.

Dia berjalan lurus ke arahku, tapi sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Dia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri sampai tidak menyadari keberadaanku sama sekali.

Seharusnya aku tinggal minggir sedikit saja. Tapi, begitu melihat wajahnya dan menyadari siapa dia, pikiranku mendadak membeku sesaat.

Akibatnya, tubuhku pun ikut kaku. Gadis itu sendiri masih melamun. Tak terelakkan lagi, kami tabrakan.

Dug, wajahnya mendarat tepat di dadaku.

"Aduh...... Eh? Eh?"

Barulah di situ dia menyadari keberadaanku.

"Ah, ma-ma-ma-maafkan aku!"

Seketika wajahnya memerah padam, dan dia mundur dengan gerakan heboh yang berlebihan.

"Eh? Uwawawa!"

Padahal koridornya rata, tapi entah kenapa dia malah kehilangan keseimbangan.

"Ah, ba-ha-ya, o-o-o-opps!"

Dia limbung ke sana kemari seperti mainan keseimbangan yang cuma berdiri pakai satu kaki.

"Hyaaaa!"

Akhirnya, gedebuk, dia jatuh dengan suara yang cukup keras.

"Uuu...... Sakit."

Mana posisi jatuhnya nungging seperti ulat jengket lagi. Baru kali ini aku melihat manusia yang jatuh dengan gaya seperti di komik begini.

"Ternyata benar, kamu Yawakaze Konagi...... kan?"

Tanpa perlu dipastikan lagi, gadis itu adalah peringkat ketiga Ranking Luar siswi Akademi Seikou, Yawakaze Konagi.

Dengan kata lain, orang yang celana dalamnya harus kulihat.

"I-Iya, benar sih...... Apa ada sesuatu di wajahku?"

Gawat, aku terlalu menatapnya terang-terangan.

"Ah, nggak, bukan apa-apa. Kamu nggak luka?"

"Ah, iya, nggak apa-apa, makasih."

Yawakaze berdiri sambil menepuk-nepuk kotoran di roknya. Suara yang keluar dari mulutnya terdengar manis, tapi tidak dibuat-buat, benar-benar suara yang nyaman didengar.

"Maaf ya sudah menabrakmu. Habisnya aku lapar banget jadi tadi melamun sampai nggak lihat jalan...... haha."

Dia tertawa malu-malu.

Suasana lembut terpancar dari seluruh tubuhnya seperti angin sepoi-sepoi. Senyum tenangnya seolah bisa menyejukkan hati siapa pun yang melihatnya.

Yawakaze Konagi ya. Benar-benar nama yang mencerminkan orangnya (Angin Sepoi yang Lembut).

"Nggak, aku sih nggak apa-apa, tapi kamu beneran nggak apa-apa? Jatuhnya lumayan keras lho tadi."

"Ah, iya, nggak apa-apa kok. Aku sudah terbiasa jatu—Ah."

Di tengah kalimatnya, tiba-tiba saja, terdengar bunyi dari arah perut Yawakaze.

Kruuukk~

Bunyinya terdengar imut, tapi itu jelas-jelas bunyi perut keroncongan.




"A-Anu, itu, t-tunggu, b-bukan begitu! Barusan itu gara-gara aku bangun kesiangan, jadi belum sempat sarapan... Eh, ah, bukan! Maksudku itu tadi bukan bunyi perutku, kok!"

Padahal aku sudah niat pura-pura tidak dengar, tapi dia malah membongkar aibnya sendiri. Wajahnya memerah padam, sementara tangannya bergerak panik tak keruan.

Apa-apaan ini... Makhluk imut macam apa dia ini?

Jadi ini, ya? Oke, aku paham. Ternyata begini kekuatan sesungguhnya dari Ranking Luar. Setelah mengobrol normal pertama kalinya dengan Yawakaze, aku menyadari satu hal.

Yaitu: ternyata kalau ada anak perempuan cantik yang sifatnya normal, jadinya bakal seimut ini!

Kalau soal level wajah, Yuuouji, Yukihira, dan Yawakaze semuanya punya standar super tinggi yang sulit dibandingkan. Di titik ini, semuanya kembali ke selera masing-masing.

Tapi, "Aura Gadis" yang dia pancarkan berada di dimensi yang benar-benar berbeda.

Yukihira yang tiap buka mulut isinya parade makian dan lawakan mesum. Belum lagi Yuuouji yang tingkah lakunya terlalu bebas dan benar-benar seperti bocah.

Dibandingkan kedua orang yang sama sekali tidak bisa kuanggap sebagai lawan jenis itu, betapa femininnya sosok Yawakaze Konagi di depanku ini!

"Eh, apa sih yang aku pikirkan?"

Sekarang bukan waktunya membanding-bandingkan mereka. Dalam tiga hari termasuk hari ini, aku harus menyelesaikan misi tingkat kesulitan neraka: melihat celana dalam Yawakaze ini saat sedang dia pakai!

"Anu, kamu Amakusa Kanade-kun, kan?"

Tiba-tiba, Yawakaze yang sepertinya sudah pulih dari mode malunya mengeluarkan kalimat yang mengejutkan.

"Eh? A-Ah, iya, benar."

Yah, aku kan orang terkenal (dalam arti buruk), jadi kalau dia mengenalku sepihak sih bukan hal yang aneh. Tapi, cara bicara Yawakaze barusan seolah menyiratkan nuansa lain.

"Ah, benar ternyata. Ouka-chan sering lho menceritakan tentangmu."

"Ouka-chan? Oh, Yuuouji ya. Kamu kenal dia?"

"Iya, bukan cuma kenal, kami akrab banget. Tahun lalu kami sekelas, lho—"

Yawakaze tersenyum lebar dengan raut wajah yang tampak senang.

"Hmm?"

Tiba-tiba perasaan aneh menyerangku. Seharusnya ini pertama kalinya aku berinteraksi sedekat ini dengan Yawakaze, tapi senyum itu rasanya pernah kulihat di suatu tempat.

Apa ada orang di sekitarku yang mirip dia? Rasanya aku tidak mungkin lupa kalau pernah melihat gadis dengan senyuman semenarik ini... Sial, aku tidak bisa mengingatnya.

Yah, yang harus kupikirkan sekarang adalah misi, bukan pertanyaan sepele begitu.

Fakta bahwa Yuuouji dan Yawakaze berteman adalah poin plus besar dalam menjalankan misi ini. Keberadaan teman bersama sangat efektif untuk memperluas topik pembicaraan. Mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku Yuuouji benar-benar berguna.

Ditambah dengan keberuntungan bisa berinteraksi dengannya, ini adalah awal yang tidak buruk. Yah, aku tidak berharap bisa melihat celana dalamnya hanya dengan sedikit mengobrol sih, tapi aku merasa ada angin segar yang mendukungku.

Tapi, sayangnya...

"Apa... katamu?"

Dewa Kematian bernama Absolute Choice itu menghancurkan harapan yang baru saja muncul seolah sedang menertawakanku.

Setelah mengecek pilihan yang dikirimkan ke otakku, hanya ada satu kata yang terlintas di hatiku: Fucking God.

"Amakusa-kun, kamu kenapa?"

Yawakaze menatap wajahku. Tatapan matanya yang sedikit mendongak dan berkaca-kaca itu—yang kemungkinan besar dia lakukan tanpa sadar—benar-benar imut. Sumpah, imut banget.

Dan tepat di hadapan wajah imut itu, aku pun berteriak dengan lantang:

"Daripada bahas itu, boleh lihat celana dalammu nggak?!"


3

"Ugh... sial."

Bahkan saat jam istirahat siang tiba, rasa sakit di tubuhku belum juga hilang. Sambil telungkup di atas meja, aku mencoba mengingat kembali kronologi kejadian pagi tadi.

Tepat setelah aku melontarkan kalimat, "Daripada itu, boleh lihat celana dalammu?" kepada Yawakaze, tiba-tiba ada seorang murid berbadan bongsor menepuk pundakku.

Aku tidak kenal siapa dia, tapi melihat warna dasinya, sepertinya dia kakak kelas kelas tiga. Belum sempat aku bertanya "Siapa?", lenganku langsung ditarik dengan kekuatan yang luar biasa.

Tahu-tahu, aku sudah diseret ke tempat sempit yang gelap. Di sana, sekelompok murid laki-laki dengan aura mengancam sudah menunggu. Tanpa penjelasan apa pun, mereka langsung menghajarku habis-habisan—dan mereka SERIUS melakukannya.

Mungkin itu yang dinamakan Pasukan Pelindung Yawakaze yang sering dirumorkan itu.

Aku pernah dengar kabar kalau para penggemar Yawakaze membuat perjanjian khusus untuk saling mengawasi agar tidak ada yang curi start mendekatinya.

Kupikir, "Emangnya dia artis apa? Bodoh banget sih," tapi ternyata mereka benar-benar ada.

Padahal yang namanya Pasukan Pelindung itu cuma sekumpulan murid yang bergerak atas kemauan sendiri, mereka nggak punya wewenang resmi apa pun.

Seharusnya, orang yang bukan anggota seperti aku bebas-bebas saja bicara dengan Yawakaze... selama tidak melakukan pelecehan seksual tingkat ekstrem.


PILIH:

"Daripada itu, boleh lihat celana dalammu?"

Lepas celana dalammu di tempat, lalu ajukan tukar menaruh (ala tukar jersey pemain sepak bola).


Aku tidak punya nyali untuk memilih opsi kedua. Dasarnya, struktur Absolute Choice itu selalu menyediakan satu pilihan yang buruk, dan satu lagi yang jauh lebih buruk berkali-kali lipat.

Tapi aku benar-benar merasa bersalah pada Yawakaze. Apa yang dia pikirkan saat tiba-tiba diminta memperlihatkan celana dalamnya oleh orang yang baru pertama kali bicara dengannya?

"Amacchi, Amacchi~"

Tiba-tiba pundakku dicolek dari belakang, membuyarkan lamunanku.

"Yuooji, ya? Aku lagi mikir, nih. Jangan ganggu dulu," jawabku lesu.

Aku sedang tidak punya tenaga untuk meladeni Yuooji. Hal yang harus kulakukan sekarang adalah meminta maaf pada Yawakaze karena sudah minta lihat celana dalamnya, lalu setelah itu memintanya memperlihatkan celana dalamnya dengan cara yang benar... Ini malah jadi paradoks, sialan!

"Celana dalam kenapa emangnya?"

"H-hah?! K-kok kamu tahu?!"

Saking pasnya waktu dia bertanya, suaraku sampai melengking saking kagetnya.

"Habisnya, dari tadi pas pelajaran Amacchi gumam 'celana dalam, celana dalam' terus, sih."

...Gawat, isi pikiranku bocor lewat mulut!

"Wah, sampai disebut berkali-kali gitu, apa Amacchi lagi punya masalah soal celana dalam?"

Gawat, si pembuat masalah ini mulai tertarik.

"Bukan apa-apa... cuma masalah sepele."

"Mufufu, jangan malu-malu gitu, dong. Aku yang dijuluki Kamus Celana Dalam Berjalan ini bakal dengerin semua curhatanmu~"

Kupikir julukan itu jauh lebih memalukan daripada masalahku, tahu.

Lagipula, cewek ini dari tadi teriak-teriak "celana dalam" dengan suara keras, apa dia nggak punya urat malu ya? Ya, mungkin levelnya sama kayak anak SD yang girang kalau bilang "tahi" atau "burung", tapi masalahnya dia ini sudah kelas dua SMA... Yah, namanya juga Yuooji, sih.

"Atau jangan-jangan, Amacchi cuma pengen lihat celana dalam cewek?"

"Pfft! K-kok bisa tahu?!"

Aku tersedak karena serangan mendadak itu.

"Hahaha, Amacchi, kamu tadi udah ngomong semuanya, tahu! Aku cuma pura-pura cuma denger dikit doang buat ngerjain kamu."

Apa... katanya? Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia yang duduk di belakangku saat aku bergumam soal Yawakaze... Seberapa parah sih aku kalau lagi tidak sadar?!

Tapi, karena sudah telanjur ketahuan, mau bagaimana lagi. Setidaknya aku harus menyuruhnya tutup mulut.

"Yuooji, tolong. Jangan bilang soal ini ke orangnya langsung."

Maksudku, aku memang sudah minta lihat celana dalamnya secara langsung, tapi kalau dia tahu aku sampai menggumamkan hal itu di kelas, mau minta maaf kayak gimana pun hubungan kami nggak bakal bisa diperbaiki.

"Oke, oke~ Tapi sebagai gantinya, kasih tahu aku dong, kenapa Amacchi pengen banget lihat celana dalam orang itu?"

"Mana aku tahu! Sama Yawakaze aja aku baru pertama kali bicar—"

"...Hooh."

Bibir Yuooji menyeringai licin.

"Ho-ho-ho... Jadi Amacchi pengen lihat celana dalam si Yawakaze Konagi-tan yang masuk jajaran ranking itu, ya?"

Tunggu dulu? Kalau dia sudah tahu dari awal, reaksinya tadi agak ane—JANGAN-JANGAN?!

"Loh loh loh~ aneh banget ya~ Padahal aku belum bilang siapa orangnya, tapi kakak ini malah ngasih tahu sendiri. Lucu banget sih~"

Sial... aku dijebak mentah-mentah.

Licik sekali metodenya. Apalagi akting meniru detektif bocah berkacamata dari E-dogawa itu benar-benar bikin naik pitam.

"Nah, karena sudah ketahuan, details please!"

"Nggak mau. Aku nggak mau kasih tahu orang yang pakai trik interogasi jebakan kayak tadi."

"Mufufu, yakin nih ngomong gitu? Aku sama Konagi-tan itu sobat kental, lho. Gampang banget buat aku bisikin macem-macem soal Amacchi ke dia~"

Sial... fakta kalau Yuooji berteman dengan Yawakaze tiba-tiba menjadi ancaman yang sangat merepotkan.

"Ayo ayo, mending ngaku sekarang biar lega~"

Mengusir Yuooji yang sudah dipenuhi rasa penasaran itu susahnya minta ampun. Kalau sudah begini, daripada disembunyikan dan malah makin parah, lebih baik aku ceritakan garis besarnya saja supaya dia bisa tenang.

Tentu saja, aku tidak bisa bilang soal misi atau semacamnya, jadi aku harus sedikit mengaburkan beberapa bagian. Supaya tidak muncul kesalahpahaman kalau aku melakukannya demi nafsu pribadi, aku membuka mulut dengan ekspresi seserius mungkin.

"Yuooji. Sebenarnya, karena suatu alasan, aku harus melihat celana dalam Yawakaze sebelum hari Sabtu nanti."

"Wah, Amakusa-san bisa ngomong kalimat se-mesum itu dengan muka serius, gila sih, respect!"

Padahal kamu yang maksa aku ngomong!

"Tapi percayalah. Alasannya sama sekali bukan karena niat cabul."

Meski lawanku bicara adalah Yuooji, aku tetap tidak mau dianggap sebagai pria yang ingin melihat celana dalam tanpa alasan jelas.

"Hmm, jadi intinya kamu pengen lihat celana dalam Konagi-tan, tapi sumber keinginannya bukan karena nafsu mesum, gitu?"

Aku mengangguk. Melihat celana dalam hanyalah cara untuk lepas dari kutukan Absolute Choice, bukan tujuan.

"Hooh, jadi kamu pengen melihat celana dalam dengan hati yang suci, ya? Dalam... dalam banget, Amacchi. Itu sudah masuk ranah filsafat."

Hei, kalau alasan begituan dibawa ke filsafat, para filsuf zaman dulu pasti menangis di kuburannya.

"Eh, kalau nggak salah ada filsuf yang dijuluki bapak ilmu celana dalam, kan?"

"Minta maaf sana sama Aristoteles!"

"Tapi ya tapi ya, nggak cuma filsafat, banyak kok kata-kata mutiara atau peribahasa dari seluruh dunia yang sebenarnya ada hubungannya sama celana dalam."

Yuooji mulai melantur ke arah yang makin tidak jelas.

"Nggak ada satu pun yang kepikiran di otakku, tuh..."

"Semua jalan menuju celana dalam."

"Nggak ada! Ibu kota Italia itu bukan pakaian dalam!"

"Wahai pemuda, gantungkanlah celana dalammu setinggi... eh salah, pakailah celana dalammu."

"Yang salah bukan cuma bagian itunya, tahu!"

"Et tu, Celana Dalam?"

"Harusnya Brutus!"

"Aku adalah kucing. Celana dalam belum kupakai."

"Nggak perlu juga, kali!"

"Karena kau bilang aroma ini harum, maka tanggal enam Juli adalah Hari Peringatan Celana Dalam."

"Situasi macam apa itu?!"

"Celana dalam tidak menciptakan celana dalam di atas celana dalam."

"Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih?!"

"Saya bisa melihat diri saya secara objektif. Saya berbeda dengan Anda karena saya memakai celana dalam!"

"Ya iyalah!"

Sial... aku benar-benar masuk ke dalam ritme permainan Yuooji.

"Tapi ya tapi ya, kenapa harus Konagi-tan? Kamu suka dia?"

Justru aku yang ingin menanyakan hal itu pada diriku sendiri.

"Nggak, bukan perasaan cinta."

Yah, memang setelah mengobrol tadi, aku merasa dia sangat manis itu fakta, dan kalau ditanya suka atau tidak, aku pasti jawab suka. Tapi itu lebih ke arah rasa suka fans kepada idola di TV, bukan "suka" dalam arti yang dimaksud Yuooji.

"Jadi intinya Amacchi pengen lihat celana dalam cewek yang bahkan nggak kamu sukai?"

"Ya... kalau disimpulkan begitu, sih iya."

"Mau melucuti celana dalam cewek yang nggak disukai terus di-endus-endus?"

"Siapa juga yang bilang mau sampai segitunya?!"

"Setelah dilucuti dan di-endus, terus mau di-gyoi-gyoi, di-ogena-ogena, terus di-nyugyanga-nyugyanga?"

"NGOMONG PAKAI BAHASA MANUSIA DONG!"

Tepat saat aku berteriak keras, tiba-tiba ada suara dari belakang.

"Anu... Amakusa-kun, maaf ya mengganggu kesenangan kalian..."

Saat aku menoleh, Ketua Kelas (si kacamata cantik) sedang menatapku dengan pandangan ragu. Eh, aku nggak lagi bersenang-senang ya! Meladeni anak ini tuh capek banget, serius!

Tapi lupakan soal itu. Kenapa Ketua Kelas kita yang terkenal selalu tersenyum pada siapa pun ini malah menunjukkan ekspresi antara takut dan jijik?

Dia pasti dengar percakapanku dengan Yuooji tadi. Jangan bilang dia menganggap serius candaan barusan dan mengira aku bakal melakukan gyoi-gyoi atau apa pun itu... Sial, dia pasti menganggapnya serius.

"Ada tamu buat Amakusa-kun."

Aku mengikuti arah pandangan Ketua Kelas.

"Tamu? Siapa j—eh?"

Di koridor, berdiri seorang gadis. Dia adalah Yawakaze Konagi.

"Woi, itu kan Yawakaze?" "Gila, makin bening aja." "Kenapa dia nyari Amakusa...?"

Teman-sekelas yang menyadari keberadaannya mulai berbisik-bisik. Kegaduhan mulai menyebar.

"Ah, Konagi-tan si Celana Dalam datang."

"Berhenti manggil dia kayak gitu!"

"Ah, Konagi-tan yang celana dalamnya mau dilihat Amacchi datang."

"ITU MALAH MAKIN JANGAN!"

Aku berusaha sekuat tenaga menahan Yuooji yang mau ikut campur, lalu bergegas keluar ke koridor dan menutup pintu kelas di belakangku.

"Yawakaze, ada apa sampai datang ke sini?"

Kupikir dia mau komplain soal pelecehan verbal tadi, tapi auranya tidak terasa seperti itu. Dan melihat sifatnya, sepertinya tidak mungkin dia marah-marah.

Selagi aku ragu harus bicara apa, Yawakaze membuka suara duluan.

"Anu, ini... apa mungkin punya Amakusa-kun?"

Di tangannya, dia memegang sapu tangan motif kotak-kotak biru.

"Eh? Ah, benar, itu punyaku. Ternyata jatuh, ya? Aku sama sekali nggak sadar."

Mungkin jatuh dari saku saat aku diculik Pasukan Pelindung tadi. Tapi dia mau repot-repot mengantarkannya? Ke cowok yang tiba-tiba ngomong mesum saat pertama kali bertemu?

"Syukurlah kalau benar."

Bahkan, dia sama sekali tidak terlihat merasa jijik padaku. Kenapa dia bisa tersenyum semanis itu? Apa dia ini malaikat?

"Maaf ya merepotkan, terima kasih banyak."

"Ah, iya, nggak masalah kok, tapi..."

Urusannya seharusnya sudah selesai, tapi Yawakaze tidak kunjung pergi. Melihat wajahku yang keheranan, dia sedikit memerah, menunduk, dan berbicara dengan malu-malu.

"Anu... soal yang tadi pagi..."

Sudah jelas, maksudnya adalah soal permintaanku melihat celana dalam. Aku tadi kehilangan momen untuk minta maaf dan bingung harus bagaimana, tapi aku tidak menyangka Yawakaze yang akan membahasnya duluan.

"Maksudmu itu... aku minta maaf, ya."

"Ah, bukan kok! Aku nggak bermaksud minta kamu minta maaf. Cuma... itu pertama kalinya ada laki-laki yang bilang begitu padaku."

Ya, tentu saja begitu.

"Anu... maaf ya. Rasanya malu sih ngomong begini... tapi menurutku, pakaian dalam itu cuma boleh diperlihatkan kepada orang yang kita sukai saja."

"GUBAHHH!"

Aku merasa seolah baru saja muntah darah. Serius. Apa-apaan ini?! Ini curang, tahu! Siapa sih orang ini? Apa dia nggak punya rasa curiga sama sekali? Apa lingkungannya cuma berisi orang-orang suci? Selama belasan tahun hidup, apa dia nggak pernah melihat betapa kotornya dunia ini?

Aku jadi sedikit paham perasaan Pasukan Pelindung itu. Gadis ini bukan untuk dimiliki sendiri, tapi harus... apa ya, dijaga bersama-sama secara adil.

Dan di saat yang sama, rasa bersalah yang luar biasa menyerangku. Apa yang tadi kukatakan pada gadis ini? Lihat celana dalam? ...Aku mending mati saja.

"SAYA MINTA MAAF SEBESAR-BESARNYA!"

Aku baru tahu kalau dogeza (sujud meminta maaf) itu bukan sesuatu yang dilakukan karena keinginan, tapi terjadi secara otomatis.

"A-Amakusa-kun, nggak perlu sampai begitu..."

Yawakaze mencoba menenangkanku, tapi aku tidak bisa mengangkat dahiku dari lantai.

Aku bersumpah. Persetan dengan Absolute Choice, persetan dengan kutukan, persetan dengan misi! Masa bodoh! Tuhan? Bodo amat! Aku nggak bakal mau jadi budak pilihan itu lagi. Kalau mau protes, sini—


PILIH:

"Terus, kapan kamu mau kasih lihat celana dalammu?"

Menjadi celana dalam sekalian.


...Pilihan-san, kamu tahu nggak sih istilah "baca suasana"? Harusnya di saat seperti ini kamu jangan muncul, dong! Orang lagi mau tobat malah diganggu, apa sih maunya? Bodoh ya? Mau mati?

...Oke, diabaikan ya.

Lagian apa-apaan pilihan ini? Nomor satu isinya sampah seperti biasa, tapi nomor dua lebih nggak jelas dan mengerikan. Kalau itu artinya harfiah, aku bahkan nggak bakal jadi manusia lagi!

Kalau ini di video game, mungkin aku bakal pilih nomor dua buat seru-seruan, tapi di Absolute Choice, nggak ada yang namanya save atau reset.

Hasilnya, dengan metode eliminasi, aku cuma bisa pilih nomor satu.

Biasanya aku bakal pasrah sambil menangis, tapi hari ini aku berbeda. Mengotori telinga Yawakaze Konagi dengan kata-kata rendah seperti itu tidak bisa dimaafkan!

"Guh..."

Tapi tentu saja, resolusiku itu tidak dipedulikan oleh si sistem pilihan. Rasa sakit di kepala mulai menyerang sebagai peringatan.

Rasa sakit yang seperti meremas otak ini akan terus menguat tanpa batas sampai aku memilih salah satu.

Tapi, saat ini juga, akan kubunuh pilihan konyolmu itu!

"GUUUUGH!"

Aku mencoba melawan sekuat tenaga seperti pria yang sanggup memukul wajah wanita (?), tapi tidak ada efeknya sama sekali.

"Anu, Amakusa-kun, apa kamu sakit? Kamu nggak apa-apa?"

"Nggak, nggak apa-ageroegueeeh!"

Saking sakitnya, suara aneh keluar dari mulutku. Gawat, gawat, ini beneran gawat! Kali ini rasanya lebih parah dari biasanya! Kalau didiamkan, aku bisa mati beneran!

Yawakaze... maafkan aku!

"Guh... haah... haah... Terus... kapan... kamu mau... kasih lihat... celana dalammu?"

Karena menahan sakit luar biasa, suaraku malah terdengar sangat mesum, tapi begitu kalimat itu terucap, rasa sakitnya langsung hilang seperti bohong belaka.

"Eh? Eh? Ce-celana dalam?! I-iya, kan tadi aku bilang, hal itu cuma buat orang yang disukai—"

Wajah Yawakaze memerah padam dan dia tampak kebingungan. Manis sekali. Sumpah, manis banget.

Saking imutnya, aku sampai hampir lupa kalau aku baru saja melontarkan kalimat paling sampah di dunia, sampai tiba-tiba ada sebuah tangan mendarat di pundakku.

"Siapa—GEK!"

Saat aku menoleh, yang kulihat adalah wajah seseorang yang sangat kukenal.

"Ikut gua sebentar, yuk."


4

"Ugh... sialan."

Di tempat aku diseret tadi, yang menungguku hanyalah badai makian dan aliran kekerasan yang tiada henti.

"Berani-beraninya bajingan kayak kamu ngelakuin itu ke Yawakaze-san!"

"Si 'Reject 5' kayak kamu itu seratus tahun terlalu dini buat bicara sama Konagi-chan!"

"Hinaanmu terhadap Yawakaze-taso kami layak diganjar dengan sepuluh ribu kematian, nari!"

"Eh? Tapi pantat bocah ini bentuknya lumayan bagus juga ya?"

...Kalimat terakhir itu, aku sangat berharap kalau aku cuma salah dengar.

Tapi serius, apa-apaan pertahanan tembok besi itu?

Katanya mereka menjaga (?) Yawakaze secara bergantian setiap jam istirahat, tapi kalau dilihat-lihat itu sudah hampir seperti stalker.

Sambil memecut tubuhku yang sudah menjerit kesakitan, aku entah bagaimana caranya berhasil sampai kembali ke kelas.

"Oho, sepertinya kamu baru saja dihajar habis-habisan lagi ya."

Saat aku menuju bangku, Yuuouji sudah menunggu dengan seringai di wajahnya.

"Amacchi, mau aku bantu nggak?"

"Hah?"

"Soal celana dalam Konagi-tan, aku bakal bantuin~"

Apa-apaan yang diucapkan anak ini?

"Kenapa?"

"Soalnya menarik."

Jawaban instan.

"Menarik katamu? Kamu ini..."

"Hmm? Ada yang aneh? Lagian ngapain juga ngelakuin hal yang nggak seru?"

Melihat Yuuouji yang menjawab dengan wajah datar, aku sampai kehilangan kata-kata.

Melakukan sesuatu karena menarik. Tidak melakukan karena tidak seru. Itu benar-benar teori anak kecil.

Manusia itu, seiring dengan pertumbuhannya, akan memikul berbagai urusan dan batasan yang menghambat tindakannya.

Memang tidak bisa dibandingkan dengan orang dewasa yang sudah bekerja, tapi untuk level anak SMA, batasan itu seharusnya sudah cukup banyak.

Mana mungkin dia bisa bertahan hidup hanya dengan prinsip sesederhana itu... Tapi tunggu, kalau mengingat tingkah laku Yuuouji selama ini, sepertinya hal itu tidak sepenuhnya mustahil, dan itu mengerikan.

"Nggak, tetap saja aneh. Aku ini kan mau melihat celana dalam temanmu sendiri, tahu."

"Amacchi itu, kayaknya ada yang nggak natural ya."

"Hah?"

Balasan dari Yuuouji bukanlah jawaban langsung.

"Kamu kan selalu ngomong atau ngelakuin hal-hal aneh. Hal itu tuh, rasanya kayak bohong banget gitu lho~"

Seketika, tubuhku menegang.

"Tapi ya, kayaknya bukan karena akting atau kepribadian ganda juga. Aku nggak terlalu paham sih, tapi rasanya kayak sesuatu yang dipaksakan dan keinginanmu sendiri itu bercampur aduk jadi satu? Pokoknya, kamu... pasti lagi nyembunyiis sesuatu kan?"

Ucap Yuuouji sambil memamerkan tawa "nihihi"-nya.

Aku menelan ludah. Meski dia tidak menyadari keberadaan Absolute Choice secara spesifik, dia berhasil menebak intisarinya dengan tepat sasaran.

"Karena itulah, Amacchi itu menarik buat ditonton, makanya kamu jadi objek pengamatanku!"

Tiba-tiba, dia mendekatkan wajahnya dengan sangat cepat sampai-sampai dahi kami hampir bersentuhan.

"O-oi!"

Aku buru-buru menarik diri.

Mau semanja atau se-kekanak-kanakan apa pun sifatnya, Yuuouji tetaplah seorang gadis cantik level super-SMA.




Jika wajahnya mendekat sampai ke jarak sejauh itu, mustahil bagi seorang cowok normal sepertiku untuk bisa tetap tenang. Itu permintaan yang nggak masuk akal.

"Hmm?"

Sebaliknya, Yuuouji tampak sama sekali tidak merasakan apa-apa. Anak ini... serius dia sudah enam belas tahun?

Memang sih, tinggi badannya termasuk mungil, tapi dadanya besar nggak kira-kira, ditambah lekuk pinggang yang terlihat dari balik blus yang terlalu pendek itu... Secara fisik dia bahkan tumbuh terlalu pesat, tapi isinya sama sekali nggak sinkron.

"Kamu ya, sedikit lebih malu-malu kek... Ah, sudahlah, nggak jadi."

"Eh?"

Memberi tahu perasaan semacam itu lewat kata-kata sepertinya mustahil bagi dia. Levelnya sudah sampai di tahap aku curiga jangan-jangan dia masih mandi bareng bapaknya sampai sekarang.

"Fufu, Amacchi, mau kamu benci kayak gimana pun, kamu nggak bakal bisa lari dari pengamatanku~"

Yuuouji malah salah paham soal alasanku menarik diri. Meski jenis kelamin dan arahnya berbeda, tingkahnya ini entah kenapa mengingatkanku pada protagonis bebal di manga atau anime harem.

Padahal jelas-jelas dikelilingi aura cinta, tapi kebebalan karakter-karakter itu benar-benar di level yang bikin pengen bunuh orang.

Ah, topiknya jadi melantur... Itu cuma perasaan iri dengkiku saja, jadi lupakan. Intinya, aku baru sadar kalau di dunia nyata pun memang ada orang yang bisa sangat peka tapi bebal di bagian tertentu.

Apalagi setelah dia menunjukkan "penciuman" yang begitu tajam terhadap keberadaan Absolute Choice, kesenjangan sifatnya ini jadi makin terasa mencolok.

"Yah, selama sebulan ini aku jadi makin paham soal Amacchi, sih. Soal yang tadi—kalau tujuan utamamu bukan karena mesum—itu kayaknya emang bener."

Tiba-tiba Yuuouji mengembalikan topik ke pembicaraan yang sudah lewat jauh. Nada bicaranya terdengar sangat yakin.

"Yah, meski aku sendiri yang bilang, apa kamu beneran percaya sama omongan yang kedengaran bohong begitu?"

"Kenapa emangnya? Kalau sama orang yang sudah akrab, kita bisa tahu kok dia jujur atau nggak cuma dari mata atau ekspresinya."

Ucap Yuuouji dengan santai, seolah-olah itu hal yang lumrah. Repotnya, kalau dia yang bilang begitu, rasanya jadi nggak kedengaran kayak bohong.

"Yah, terlepas dari itu, Konagi-tan itu terlalu nggak punya imun sama cowok. Makanya aku merasa kalau dia nggak 'dipaksa' ngelihatin celana dalamnya sesekali sekarang, dia bakal kena sial yang lebih parah nantinya~"

Terlepas dari urusan celana dalam, aku setuju soal itu.

Di SMA Seimitsu, hampir nggak ada murid yang berperilaku buruk, apalagi ada Pasukan Pelindung sebagai tameng pamungkas. Jadi untuk sekarang sih aman-aman saja. Tapi kalau nanti Yawakaze kuliah di Jakarta—eh maksudku Tokyo—sendirian, dia pasti bakal langsung ditipu sama cowok-cowok playboy lalu di-inguri-monguri-kan.

Setidaknya kalau aku jadi cowok playboy, aku pasti bakal melakukan hal-inguri-monguri itu padanya. Ya, itu "kalau" aku jadi playboy sih.

Tapi ternyata Yuuouji bisa perhatian juga ya kalau soal urusan orang lain.

Yah, pas lagi kumpul bertiga bareng Yukihira pun, sepertinya dia paham sama lelucon kotor Yukihira yang sadis itu. Jadi bukannya dia nggak punya pengetahuan, cuma pengetahuannya itu nggak pernah dia hubungkan dengan dirinya sendiri.

"Wah, makin seru nih!"

Tanpa memedulikan pikiranku, Yuuouji bersorak kegirangan dengan ekspresi seperti anak kecil.

"Ah..."

Melihat sosoknya itu, tiba-tiba aku menyadari identitas dari rasa deja vu yang kurasakan terhadap Yawakaze tadi.

Ternyata orangnya ada di depanku sekarang, si Yuuouji ini.

Nggak mungkin sih Yuuouji dan Yawakaze itu dibilang mirip. Malah aku merasa mereka itu dua orang yang berada di kutub yang berlawanan. Tapi ini bukan soal ucapan, penampilan, atau level permukaan lainnya. Melainkan sesuatu yang... apa ya, bagian dasarnya itu mirip.

Baik Yuuouji maupun Yawakaze, aku merasa mereka mengeluarkan isi hati mereka secara langsung tanpa melewati filter yang nggak perlu.

Kalau harus diungkapkan dengan kata-kata, mungkin istilah "murni" adalah yang paling mendekati.

Hakikat manusia seperti itu biasanya muncul dalam sekejap lewat ekspresi atau gerakan. Itulah kenapa aku bisa mendapat kesan yang sama dari dua orang yang sebenarnya nggak ada mirip-miripnya ini.

Tapi ya, meski bagian dasarnya sama, vektor tujuannya benar-benar bertolak belakang. Kalau Yawakaze, kemurniannya mengarah ke jalan yang benar, kemurnian tipe protagonis.

"Fufufu, tunggu ya Konagi-tan. Aku bakal mengekspos celana dalammu~"

Melihat wajah jahat Yuuouji yang sedang menyusun rencana licik untuk memperlihatkan celana dalam sahabatnya sendiri kepada seorang cowok dengan riang gembira, satu frasa aneh terlintas di kepalaku: "Kemurnian yang Kotor".


5

"……Haa."

Begitu sampai di depan pintu depan rumah, aku menghentikan langkah sejenak. Rasanya beberapa hari terakhir ini aku cuma bisa menghela napas.

Tadi sepulang sekolah, aku sudah mencoba menemui Yawakaze untuk minta maaf, tapi Pasukan Pelindung sialan itu menghalangiku sampai-sampai aku tidak bisa mendekat sedikit pun. Sepertinya karena dua aksi pelecehan berturut-turut yang kulakukan, aku sudah resmi masuk daftar hitam mereka.

Yuuouji pulang dengan wajah riang sambil bilang kalau dia bakal menyiapkan rencana rahasia buat besok, tapi jujur saja, aku nggak bisa berharap banyak padanya. Sekarang, bisa dibilang hampir tidak ada titik terang sama sekali.

Yah, tapi titik terang macam apa juga yang bisa diharapkan buat urusan "melihat celana dalam", sih?

"Ah, selamat datang di rumah, Kanade-san!"

Saat aku membuka pintu dengan suasana hati yang rendah, Chocolat berlari menghampiriku dengan ceria—tetete.

"Lho, kok kayaknya lemas banget?"

"Iya, nih. Misi kali ini kayaknya bakal suram."

Mendengar itu, entah kenapa Chocolat malah menyeringai.

"Fuffu, aku punya kabar gembira buat Kanade-san kalau begitu. Aku habis nemuin barang bagus, lho!"

Dia menyerahkan sebuah buku. Jangan-jangan soal "melihat celana dalam cewek" yang dia bilang pagi tadi?

"10 Metode Mendapatkan Celana Dalam dari Gadis ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi ERO-ERO KING!~"

"Malah datang barang yang lebih parah!"

Lagian maksudnya "mendapatkan" itu apa, sih? Dan itu sub-judulnya tolong kondisikan seleranya.

Yah, paling isinya cuma sampah nggak berguna kayak yang sebelumnya...

"Aku sudah berjuang keras mencarinya demi Kanade-san, lho!"

Melihat aura "tolong puji aku" milik Chocolat dan rambut kuncirnya yang bergerak-gerak lincah seperti ekor, aku jadi nggak tega kalau harus langsung membuang buku itu.

"Yah... coba aku intip dikit deh."

"Siiip!"

Ditemani Chocolat yang matanya berbinar-binar, aku pindah ke ruang tengah, duduk di sofa, lalu membuka buku tersebut.

Seperti biasa, jumlah halamannya banyak nggak karuan, tapi karena ada halaman rangkuman poin-poin penting seperti buku sebelumnya, aku memutuskan untuk membaca bagian itu saja.

Mencuri Baru nomor satu sudah ekstrem banget, woi!

Penjelasan: Ini adalah langkah terakhir. Kalau gitu jangan ditaruh di nomor satu dong! Lagian jangan merekomendasikan tindakan kriminal juga!

Memohon sambil menangis tersedu-sedu Duh, ini gimana ya? Maksudnya aku harus sujud sambil nangis minta dikasih celana dalam... Membayangkan skenario absurd itu saja sudah bikin aku... nggak mungkinlah.

Penjelasan: Contoh konkret: 'Ugh... hiks... k-kasih dong, celana dalammu... kasih aku... eh? Nggak mau? ...Huuu... nggak mau nggak mau! Pokoknya aku mau celana dalam... uuu... kasih dong...' Orang di contoh ini apa nggak punya harga diri sama sekali?!

Tambahan: Air matamu yang hangat pasti akan menyentuh hatinya. Bahkan kalau dunia kiamat pun nggak bakal tersentuh, tahu!

Coba minta dengan alasan: 'Aku lupa pakai celana dalam nih, boleh pinjam punyamu nggak?' Memangnya ini baju olahraga apa, santai banget mintanya!

Penjelasan: Kuncinya adalah mengatakannya sesegar mungkin sambil memperlihatkan gigi putihmu yang berkilau. Itu malah nambah tingkat kejijikannya, bego!

Tambahan: Jika kebetulan celana dalam yang sedang dipakai si gadis berwarna putih, dia mungkin akan berpikir, 'Wah, kebetulan yang luar biasa. Kalau begini aku nggak punya pilihan selain meminjamkannya'. Isi kepala cewek macam apa yang mikir kayak gitu!

Gunakan Silogisme Silogisme? Ah, aku pernah baca soal itu. Kalau nggak salah kayak: "Semua manusia pasti mati", "Aku adalah manusia", "Maka, aku pasti mati". Menarik kesimpulan dari premis mayor dan minor.

Penjelasan: Contoh konkret: 'Semua laki-laki suka celana dalam perempuan', 'Aku laki-laki dan kamu perempuan', 'Maka, berikan celana dalammu padaku'. NGGAK ADA LOGIKA-LOGIKANYA SAMA SEKALI!

Gunakan Evolusi Tiga Tahap Perampasan Celana Dalam Evolusi tiga tahap? Aku belum pernah dengar yang itu.

Penjelasan: Singkap Rok → Turunkan Celana Dalam → Ambil Celana Dalam ITU MAH TAHAPAN KRIMINAL, WOI!

Tambahan: Entah kenapa frasa 'Monster Pengambil Celana Dalam' terlintas di otakku, jadi aku tulis saja. Simpan saja di dalam otakmu sendiri!

Beli di toko khusus Yah... memang itu cara paling cepat sih, tapi rasanya ada yang salah...

Penjelasan: Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi bisa membeli celana dalam bekas pakai. Bahasanya realistis banget ya...

Tambahan: Namun, ada orang yang mendapatkan kebahagiaan setelah memiliki celana dalam bekas... Sebenarnya, apa sih arti kebahagiaan itu? MANA SAYA TAHU!

Angkat tinjumu ke langit lalu teriak: 'BERIKAN AKU CELANA DALAM GADIS ITU!' Itu kan... yang dilakukan Oolong di zaman-zaman awal Dragon Ball...

Penjelasan: Kalau dilakukan saat tidak ada Shenron, kamu cuma bakal kelihatan kayak orang stres. Berarti aku cuma bakal kelihatan kayak orang stres dong!

Karena bukan celana dalam, jadi aku nggak malu! Kamu cuma pengen ngomong kalimat itu doang kan!

Penjelasan: Maaf, aku cuma pengen ngomong itu doang. Sudah kuduga!

Masuk ke ajaran Agama Celana Dalam Tingkat keabsurdannya sudah mencapai puncak. Apa-apaan sih itu...

Penjelasan: Dalam pertemuan rutin Agama Celana Dalam, jemaat hanya diperbolehkan memakai sehelai celana dalam saja. Kalau tempat kayak gitu beneran ada, itu sih namanya surga.

Tambahan: Namun, pendaftaran hanya terbatas untuk laki-laki saja. MAHO DONG!

Mencuri BALIK LAGI KE NOMOR SATU?!

Penjelasan: Soalnya... soalnya aku beneran nggak bisa mikir satu lagi. KALAU GITU JANGAN DITERBITIN!

Tambahan: Tenang saja, buat kamu yang sudah membaca sampai sejauh ini, pasti bakal bisa kepikiran cara buat mendapatkan celana dalam dari gadis. LAU AJA NGGAK KEPIKIRAN, APALAGI GUA!

SEMANGAT! BERISIK!

"Parah... ini sih parah banget."

Aku memang sudah siap mental, tapi ternyata isinya jauh lebih sampah dari dugaanku.

"Eh, separah itu ya? Padahal laporan pengalaman di Agama Celana Dalam ini seru banget, lho."

"Nggak... itu cuma karena cocok sama selera pribadimu yang sudah rusak saja."

"Ngomong-ngomong, sembilan puluh persen isi buku ini memang tentang Agama Celana Dalam."

"BERARTI INI FIX PENIPUAN JUDUL!"

Sudah jelas, ini pasti diterbitkan oleh UOG Publishing. Bukan berarti Yuuouji yang menulisnya langsung sih, tapi gara-gara melihat benda ini, harapanku pada Yuuouji jadi makin tipis.

"Nah, silakan, Kanade-san."

Entah kenapa Chocolat menyodorkan kepalanya ke arahku... Maksudnya minta dielus?

"Ehehe."

Yah, akhirnya kulakukan juga. Rambut kuncirnya berdiri tegak dan Chocolat menunjukkan senyum lebar di wajahnya.

Yah, dia membelikan buku ini karena memikirkanku, itu sudah pasti. Kalau cuma begini saja dia sudah puas, ya sudahlah. Lagipula, jujur saja aku merasa dia agak imut... sedikit sih.

Nggak, ini cuma rasa sayang sebagai peliharaan kok—

"Eh, kamu ngapain?"

Tiba-tiba Chocolat berkacak pinggang sambil membusungkan dadanya.

"Ayo, silakan puji aku sepuas hati!"

Kan tadi sudah dielus.

"Kenapa? Jangan sungkan-sungkan. Ayo, banjiri aku dengan pujian yang meluap-luap... Ah, jangan-jangan kamu sampai gemetar dan nggak bisa berkata-kata karena jasaku yang terlalu luar biasa? Fufun, kalau gitu hadiah yang lebih langsung juga boleh kok. Ah, ngomong-ngomong aku pengen makan daging sapi wagyu buat makan malam har—"

"Jangan ngelunjak ya."

Aku menyentil dahinya pelan.

"Auu! K-Kanade-san pelit..."

Rambut kuncirnya langsung lemas seketika. Serius deh, itu mekanismenya gimana sih?

"Ah, ngomong-ngomong Kanade-san, tadi kamu bilang misinya kayaknya bakal susah, apa kamu sudah sempat bicara sama Yawakaze-san?"

Sikap sok manisnya nggak tahan sampai sepuluh detik. Dia langsung bertanya lagi dengan senyuman seolah nggak terjadi apa-apa. Level pergantian suasana hatinya nggak masuk akal.

"Yah, kalau bicara sih sudah..."

Daripada dia balik lagi minta dipuji, lebih baik aku jelaskan kronologi kejadian hari ini pada Chocolat.

"Begitu ya~ Sampai mengincar pantat Kanade-san, ya? Ternyata anggota Pasukan Pelindung itu ada yang punya selera bagus juga."

Malah bagian yang paling nggak penting yang dia komentari. Yah, tapi aku juga kenapa sih harus cerita sampai bagian itu segala?

"Maksudku, Yawakaze itu terlalu murni, tahu. Jadi aku merasa berdosa banget kalau harus menyeret dia ke urusan sampah kayak minta lihat celana dalam."

"Humm, begitu ya. Kalau gitu pas banget. Buat membiasakan diri dengan rasa bersalah, kamu boleh kok latihan pakai aku."

"Hah? Kenapa?"

Aku sama sekali nggak paham bagian mana yang "pas banget".

"Kanade-san, menurutku nggak ada makhluk yang semurni aku di dunia ini. Ayo ayo, silakan mau bicara atau apa pun sepuasnya!"

Oalah, si anjing satu ini nggak sadar diri ya. Kayaknya kali ini aku harus bilang jujur.

"Chocolat, aku kasih tahu satu hal ya. Murni sama bego itu kelihatannya mirip, tapi aslinya beda jauh kayak langit dan bumi."

"Eh, jadi Yawakaze-san itu aslinya bego?"

"YA KAMU ITU YANG BEGO!"

"Eh? ...Eh?"

"KENAPA KAMU NGGAK NYAMBUNG-NYAMBUNG SIH!"

Melihat aku yang mulai membentak, Chocolat malah menepukkan tangannya.

"Ah, aku paham sekarang. Ternyata mata Kanade-san itu sudah busuk ya."

"YANG BUSUK ITU OTAKMU, WOI!"


6

Keesokan paginya, begitu Yuuouji melangkah masuk ke kelas, dia langsung berteriak:

"Ah, Amacchi si Shogun Agung Penakluk Celana Dalam Yawakaze, selamat pagi!"

"Julukannya kepanjangan, nggak enak didengar, dan suaramu keberisikan, tahu!"

Tentu saja aku cemas dengan tatapan teman-sekelas, tapi kalau sampai kata-kata itu bocor ke telinga Pasukan Pelindung, aku nggak tahu lagi apa yang bakal mereka lakukan padaku kali ini. Aku langsung menyeret Yuuouji ke tempat duduknya.

"Omong-omong, Amakusa-aniki, apa kamu sudah kepikiran cara buat melihat celana dalam yang sangat krusial itu?"

Aku menggelengkan kepala dalam diam. Lagipula, aku merasa masalah dalam misi kali ini bukan soal metodenya. Kalau aku berani menempuh jalan fisik seperti memaksa menyingkap roknya sih beda cerita, tapi hal itu mustahil kulakukan—baik secara etika maupun keberanian.

Lantas, apa yang harus kulakukan? Aku sudah memikirkannya semalaman sampai kurang tidur, tapi ujung-ujungnya tetap buntu.

"Konagi-tan itu kan gadis ceroboh tingkat dewa, mungkin saja dia bakal jatuh sendiri terus terjadi pan-chira (celana dalam mengintip) secara nggak sengaja~"

Yah, sejak pertama kali bertemu pun dia memang langsung jatuh, sih. Tapi, rok Yawakaze yang sangat patuh pada peraturan sekolah itu jauh lebih panjang dibandingkan siswi lainnya. Benar-benar bak bumi dan langit dengan rok Yuuouji yang dipendekkan sampai batas maksimal. Mengingat kemarin saja saat dia jatuh tersungkur posisi pantatnya sama sekali nggak menampakkan tanda-tanda "pemandangan", sepertinya berharap pada keberuntungan itu bakal sulit.

Apalagi dengan sisa waktu yang terbatas, aku tidak boleh hanya mengandalkan faktor kebetulan.

"Mungkin saja bakal ada adegan ala manga shoujo di mana dia lari terburu-buru karena takut telat, lalu tabrakan di tikungan. Terus, karena salah ambil, dia malah lari sambil menggigit celana dalam alih-alih roti panggang."

"Nggak mungkin, woi! Cewek mana yang saking paniknya sampai nggak bisa bedain roti panggang sama celana dalam?!"

"Oh, kalau kamu bilangnya begitu, memang kedengarannya nggak mirip sama sekali ya."

"Bukan itu masalahnya! Memangnya ada orang yang salah ambil cuma gara-gara bunyinya mirip?!" (T/N: Pan berarti roti dalam bahasa Jepang).

"Eh, tapi Antonio Inoki sama Little Inoki kan mirip banget."

"Itu mah emang orangnya sengaja dimirip-miripin!"

Anak ini lagi bercanda atau gimana sih... ya, pasti lagi bercanda, sih.

"Fuffu, tenang saja Amacchi. Yang tadi itu cuma pemanasan, senjata rahasianya ada di sini!"

Yuuouji mengeluarkan sebuah botol kecil mencurigakan dari sakunya.

"Oi... jangan-jangan itu 'Abazuren Z' lagi?"

"Ah, bukan kok. Yang itu sudah ketahuan dan disita. Katanya terlalu berbahaya."

Aku sedikit lega. Ternyata cuma dia saja yang aneh, sedangkan UOG sendiri sepertinya masih punya etika perusahaan yang waras. Yah, sebagai perusahaan raksasa, itu sudah sewajarnya sih, tapi mengingat adanya kasus UOG Publishing... menurutku divisi yang itu sebaiknya segera dibubarkan saja.

"Karena itulah, aku sudah meracik obat baru. Jreeng!"

Yuuouji mengangkat botol kecil itu tinggi-tinggi. Racikan baru? Obat? Apa obat bisa dibuat hanya dalam waktu semalam?

"Nih, silakan~"

Aku menerima botol itu dengan rasio harapan 10% dan kecemasan 90%. Melihat teksturnya yang agak kental, sepertinya ini bukan obat minum, melainkan obat oles. Saat melihat labelnya, tertulis tulisan tangan: "SKIRT MEKURERU" (Penyingkap Rok). Melihat penamaannya yang terlalu pasaran dan murahan, harapanku makin merosot drastis menuju nol.

"Jangan-jangan kamu mau bilang kalau obat ini dioleskan, orang itu bakal jadi pengen pamer celana dalam?"

"Yap, bener banget."

Yuuouji mengangguk santai. Tapi mana mungkin aku percaya hal seperti itu. Kalau efek perangsang seperti 'Abazuren Z' sih mungkin saja, tapi membangkitkan niat spesifik untuk "pamer celana dalam" itu sudah masuk ranah fantasi.

"Yah, tepatnya sih hasil akhirnya bakal jadi begitu. Obat ini punya efek membuat indra peraba di bagian yang diolesi jadi sangat sensitif untuk sementara. Misalnya kalau dioleskan di paha, gesekan kain rok saja bakal terasa sangat menyiksa sampai dia nggak tahan lagi."

Yah, kalau itu sih terdengar sedikit lebih masuk akal daripada "jadi pengen pamer".

"Tapi bukannya itu berbahaya?"

"Ah, santai saja, efeknya cepat hilang kok. Tadi pagi aku sudah mencobanya ke Ibuku."

"SEBENARNYA KAMU MENGANGGAP IBUMU ITU APA, SIH?!"

Waktu kejadian 'Abazuren Z' juga katanya berakhir tragis, kan?

"Ibuku itu kan seorang Masokis, jadi dia suka banget kalau dijadiin kelinci percobaan atau tikus lab~"

"Itu bukan sekadar 'sisi tak terduga' lagi namanya!"

Masokis? Si Yuuouji Kyouka itu? Bagiku yang cuma tahu citra intelektualnya di TV, hal itu bahkan tidak bisa kubayangkan sama sekali.

"Cuma mau tanya... gimana hasilnya?"

"Begitu dioles, dia langsung terengah-engah dan mulai melepas roknya."

"BUANG OBAT ITU SEKARANG JUGA!"

Meski aku berteriak kesal, otakku malah otomatis membayangkannya. Mengingat usia Yuuouji, paling muda pun ibunya pasti sudah berusia kepala tiga, tapi sosok Yuuouji Kyouka yang kulihat di media punya paras yang tampak seperti baru awal dua puluhan. Wanita secantik itu melepas roknya sendiri... Oke juga.

NGGAK NGGAK NGGAK! Apa-apaan yang aku pikirkan soal ibu teman sekelasku?! Apa aku ini mesum?

"Pokoknya barang se-ekstrem itu nggak mungkin bisa dipakai ke Yawakaze!"

"Tapi Ibuku bilang rasanya campur aduk antara sakit tapi enak, malah dia kelihatan senang lho."

"ITU CUMA IBUMU DOANG YANG BEGITU!"

Sumpah, kalau fans zaman dia jadi idola dulu dengar kabar ini, mereka pasti bakal gila massal. Lagian, daripada mengandalkan barang beginian, lebih baik aku langsung saja menyingkap roknya secara manual.

"Haa..."

Sudah kuduga, rencana Yuuouji tidak berguna sama sekali. Mengingat aku sendiri tidak bisa memberikan ide alternatif, sebenarnya aku nggak berhak protes sih, tapi aku benar-benar butuh secercah petunjuk untuk menyelesaikan misi ini.

"Oh."

Yuuouji mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Murid laki-laki dari kelas sebelah terlihat berbondong-bondong menuju tangga dengan seragam olahraga. Kasihan sekali, sepertinya mereka punya jadwal olahraga di jam pertama yang melelahkan.

"Hmm, kalau nggak salah kelas 2, kelas 9, dan kelas 15 tempat Konagi-tan itu jam olahraganya barengan ya."

Aku tahu daya ingat Yuuouji memang bagus, tapi kenapa dia sampai ingat hal nggak penting kayak gitu?

"Cewek kan butuh waktu lama buat ganti baju, jadi sekarang mereka pasti masih di ruang ganti... Artinya, Konagi-tan juga..."

Senyum licik muncul di wajah Yuuouji.

"Sip, aku serbu ruang gantinya sebentar ya!"

"Ah, oi!"

"Pararira-pararira~!"

Belum sempat aku mencegahnya, dia sudah bangkit berdiri dan berlari secepat angin keluar ke koridor.

"Aku kembali!"

Beberapa menit kemudian, Yuuouji kembali dengan kecepatan penuh. Sepatu sekolahnya berdecit—kyut—saat dia berhenti mendadak di depanku.

"Kapten Amakusa! Ternyata Konagi-tan pakai celana dalam yang lebih seksi dari dugaanku, lapor!"

Beberapa anak laki-laki di dekat kami langsung menoleh dengan tatapan kaget.

"Woi, suaramu keberisikan!"

"Warnanya putih bersih sesuai bayangan, lapor!"

"Diam dulu, woi!"

Kalau begini caranya, orang-orang bakal mengira AKU yang menyuruhnya pergi mengintip!

"Lagipula, apa gunanya kalau cuma KAMU yang melihatnya?"

Aku memanggilnya mendekat dan berbisik.

"Fufufu, Bos Amacchi. Jangan remehkan kekuatan sains UOG, dong."

"Hah, apa maksudmu?"

Yuuouji mengeluarkan sesuatu yang berbentuk seperti pena dari balik sakunya. Permukaannya yang berkilau metalik memberikan aura masa depan yang kental.

"Ini adalah item rahasia yang sedang dikembangkan secara sangat rahasia oleh kami. Proyektor berbentuk pena yang bisa memindai bayangan yang terekam di retina manusia, mengubahnya jadi data 3D, lalu memproyeksikannya ke udara."

Memproyeksikan bayangan yang terekam di retina? Memangnya ada teknologi se-fantastis ala komedi itu? Yah, mengingat teknologi UOG yang selalu berada di garis terdepan zaman, aku nggak bisa bilang 100% mustahil juga sih...

"Yah, tapi bohong sih~ Nggak ada teknologi kayak gitu."

"Ternyata nggak ada, ya!"

Aku baru saja membuang beberapa detik berharga dalam hidupku untuk memikirkan hal yang sia-sia.

"Sabar dulu, Amacchi. Tapi soal bayangan celana dalam Konagi-tan yang terekam di mataku itu beneran, lho."

Dia mengeluarkan buku catatan dan mulai menggoreskan pena (yang ternyata beneran cuma pena biasa) sambil bersenandung.

"Srat-sret-srot, nah, jadi!"

Begitu melihat gambar yang disodorkan padaku, aku langsung menahan napas.

"Ini..."

Gambarnya jauh melampaui ekspektasiku. Mulai dari pola jaring-jaring pada renda sampai logo mereknya digambarkan dengan sangat detail dan presisi, kualitasnya bahkan hampir setara dengan foto. Sebenarnya anak ini punya berapa banyak bakat yang sia-sia, sih?

"Yah, kalau kamu tahu seperti apa wujud target utamanya, Amacchi pasti bakal lebih semangat buat beraksi, kan?"

"Masa, sih?"

"Tentu saja! Kamu kan jadi nggak perlu tanya, 'Hei, sekarang kamu pakai celana dalam warna apa?' ke dia."

"DARI AWAL JUGA AKU NGGAK BAKAL TANYA BEGITU!"

Yah, sebenarnya aku sudah menanyakan hal yang jauh lebih parah kemarin, sih.

"Atau kamu bisa bilang, 'Aku sudah tahu kok apa yang kamu pakai di balik rokmu itu!'"

"Kenapa malah jadi kayak dialog manga battle?!"

"Hmm... aroma bangsawan yang menguar dari seluruh bagian, teknik jahitan yang detail sampai ke bagian terkecil dan memanjakan mata, ditambah cita rasa asli yang kental dari kainnya, serta tekstur unik dari sutra yang menjadi bahannya... Ini sih wajib dapat nilai sempurna."

"KENAPA KAMU SAMPAI MEMAKANNYA, WOI!"

Dia pasti mencoba meniru gaya manga memasak, tapi dipaksakan banget.

"SIAPA YANG MEMBUAT CELANA DALAM INI?!!"

"Bapak Tsundere itu nggak bakal ngomong kayak gitu biarpun mulutnya sobek!"

Ya sudahlah, dia sepertinya cuma mau bercanda saja.

"Tapi apa pun itu, semuanya nggak bakal mulai kalau kamu nggak pergi menemui Konagi-tan."

Sudah biasa kalau mengobrol dengan Yuuouji, topiknya tiba-tiba kembali ke jalur utama secara mendadak.

"Ya, itu benar sih, tapi masalahnya ada Pasukan Pelindung yang terus mengawasinya..."

Gara-gara kejadian kemarin, aku benar-benar sudah ditandai oleh mereka. Yah, mengingat apa yang sudah kulakukan, itu sih konsekuensi yang wajar.

"Humm, Pasukan Pelindung Yawakaze ya... Oke, paham. Serahkan urusan itu padaku~"

Yuuouji menepuk dadanya dengan percaya diri.

"Kalau begitu, aku mau persiapan sebentar. Tunggu sampai jam istirahat siang, ya."

Sambil berkata begitu, dia kembali memasang senyum jahat... Apa ini bakal baik-baik saja?

◆◇◆

Lalu, jam istirahat siang tiba.

"Nah, kalau begitu, let's go!"

Aku pergi meninggalkan kelas bersama Yuuouji yang sangat bersemangat. Begitu melewati kelas 8 yang menjadi titik tengah, sesuai dugaan, seorang murid laki-laki berdiri menghadang jalan kami.

"Berhenti. Laki-laki itu tidak boleh lewat dari sini."

Tubuhnya yang kekar dan wajahnya yang sangat sangar itu tidak akan bisa kulupakan meski aku mencoba melupakannya. Dia adalah murid kelas tiga anggota Pasukan Pelindung Yawakaze yang kemarin menangkap dan menyiksaku dua kali.

"Oho, halo halo, Kapten Pasukan Pelindung Yawakaze, Toudo-senpai."

Mendengar ucapan Yuuouji, alis murid kelas tiga bernama Toudo itu sedikit berkedut. Yah, dari auranya aku memang sudah menduga, tapi ternyata kakak kelas ini memang pemimpin Pasukan Pelindungnya.

"Yuuouji Ouka dari 'Reject 5' ya... kenapa sih orang seperti kamu bisa jadi teman Yawakaze-san."

Dia menatap Yuuouji dengan rasa benci. Yah, aku paham sih perasaannya. Kalau gadis yang kamu sukai—apalagi gadis murni seperti dia—berteman akrab dengan orang macam Yuuouji, pasti rasanya bakal cemas luar biasa.

Habisnya, dia kelihatan bakal "dicemari" dengan berbagai macam hal. Justru Yawakaze yang bisa tetap murni meski berteman dengan Yuuouji itu benar-benar sebuah keajaiban.

"Senpai, Senpai, kami mau pergi menemui Konagi-tan nih. Tolong izinkan kami lewat, dong~"

"Nggak boleh. Kalau kamu sih nggak apa-apa, tapi Amakusa Kanade di sebelahmu itu berniat melakukan tindakan tidak senonoh pada Yawakaze-san."

"Nggak kok, dia cuma pengen lihat celana dalamnya dikit saja."

...Yuuouji-san, kalau itu tidak dianggap senonoh, terus apa lagi yang dianggap senonoh?

Sesuai dugaan, Toudo-senpai menatapku dengan ekspresi yang sangat mengerikan.

"Tetap nggak boleh?"

"Tetap nggak boleh."

Mendengar nada bicara senpai yang keras, Yuuouji entah kenapa malah tersenyum senang.

"Kalau gitu, apa boleh buat."

Dia berjalan mendekati senpai, berjinjit, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.

"Bisik... bisik... bisik..."

"—!!"

Baru kali ini aku melihat secara langsung momen di mana wajah seseorang pucat pasi seketika.

"K-kamu, kok bisa tahu hal itu?!"

Sikap tenangnya tadi entah hilang ke mana. Toudo-senpai yang kini wajahnya seputih kertas berbicara dengan suara gemetar.

"Mufufu. Senpai, Senpai, gimana ya kalau aku bilang hal ini ke Konagi-tan?"

"T-tunggu dulu! Cuma hal itu... tolong jangan lakukan itu! Aku bakal turuti semua keinginanmu, jadi tolong jangan!"

"Hoho... semua keinginan?"

Melihat kepanikan Toudo-senpai yang sampai bikin aku merasa kasihan, dia langsung mengangguk tanpa ragu saat ditanya oleh "iblis" Yuuouji itu. Sebenarnya rahasia macam apa sih yang dia bisikkan tadi?

"Bahkan kalau kusuruh lari keliling lapangan sekolah sepuluh kali sambil telanjang dada?"

"Bakal kulakukan!"

Beneran mau dong.

"Kalau lari keliling lapangan sepuluh kali sambil telanjang bagian bawah?"

"Bakal kulakukan!"

Beneran mau juga, woi!

"Lari telanjang bulat terus masuk ke kamar mandi?"

"Bakal kulakukan!"

Itu mah cuma mandi biasa!

"Haha, bercanda kok. Aku nggak bakal minta hal yang sejahat itu. Asalkan Senpai nggak ikut campur soal apa pun yang aku dan Amacchi lakukan pada Konagi-tan, itu sudah oke buatku. Ah, tentu saja bukan cuma Senpai, tapi anggota Pasukan Pelindung lainnya juga ya!"

"T-tapi... membiarkan mesum ini..."

Padahal dia langsung setuju buat lari telanjang bulat, tapi untuk permintaan ini Toudo-senpai malah tampak keberatan. Apa aku memang dianggap seberbahaya itu...

"Hmm... menarik juga kayaknya kalau aku sebarin rahasia ini ke anggota Pasukan Pelindung lainnya~"

"!! O-oke, paham! Aku bakal perintahkan mereka semua buat nggak menyentuh kalian!"

Toudo-senpai mengulurkan satu tangannya dengan pose seolah sedang memohon.

"Makasih ya, Senpai. Tenang saja, tergantung situasi dan kondisi, aku ini orangnya tutup mulut kok~"

Yuuouji melambaikan tangannya sambil berjalan melewati Toudo-senpai... Kalimatnya tadi sama sekali nggak bikin tenang, tahu. Merasa agak tidak enak hati, aku sedikit membungkukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf sebelum mengikutinya dari belakang.

"Tadi kamu ngomong apa sih ke kakak kelas itu?"

"Ahaha, setiap orang kan pasti punya satu atau dua rahasia yang pengen dibawa sampai ke liang lahat, ya kan?"

Bukan itu masalahnya, masalahnya adalah KENAPA KAMU BISA TAHU RAHASIA ITU? Dan menurutku, senyum polos ala anak kecil itu nggak cocok dipakai sehabis memeras orang.

Selagi aku menyadari betapa gilanya sifat Yuuouji, kami akhirnya sampai di depan kelas 15, kelasnya Yawakaze.

"PERMISI, NUMPANG LEWAT!"

Yuuouji membuka pintu dengan semangat seperti orang yang mau menantang duel di perguruan bela diri. Semua pandangan langsung tertuju pada kami.

"Eh, itu kan anak kelas 1..." "Si Yuuouji dan Amakusa dari 'Reject 5', kan?" "Yuuouji-san tadi pagi juga sempat ke ruang ganti, ya." "Yuuouji emang cakep banget sih kalau dilihat-lihat."

Hampir seluruh kelas memperhatikan kami. Tapi Yuuouji sama sekali tidak peduli dan melangkah masuk ke dalam kelas dengan gagah berani.

Di saat seperti ini, aku iri dengan orang yang urat sarafnya tebal seperti dia. Sebagai warga sipil biasa yang sensitif, aku cuma bisa mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi.

"Konagi-tan, yahhoo!"

"Ah, Ouka-chan!"

Yawakaze yang menyadari kehadiran Yuuouji langsung berpamitan pada teman-temannya yang sedang makan bersama, lalu berlari menghampiri kami dengan gembira. Tapi di tengah jalan—

"Auu!"

Bitaan, dia jatuh tersungkur dengan spektakuler.

"Uuu, hari ini sudah tiga kali..."

Sambil menahan sedikit air mata di sudut matanya, dia bangkit berdiri perlahan.

Ini... boleh juga. Biasanya kalau ada gadis yang cerobohnya sejelas ini, orang bakal merasa dia cuma cari perhatian dan jadi ilfeel. Tapi dari Yawakaze, aku sama sekali tidak merasakan kalau dia sengaja melakukannya.

Hal itu juga terlihat jelas dari reaksi siswi-siswi di sekitarnya. Makhluk bernama siswi SMA biasanya punya rasa jijik yang luar biasa (katanya) terhadap sesama perempuan yang suka mencari perhatian laki-laki. Tapi pandangan yang mereka arahkan pada Yawakaze adalah pandangan penuh kasih sayang, seperti sedang mengawasi adik perempuan yang agak linglung. Sepertinya karena kepolosannya sudah di tingkat dewa, mereka merasa tidak ada gunanya untuk merasa tersaingi atau iri.

Dan di saat yang sama, sebuah pikiran lain terlintas di otakku. Meski dia jatuh dengan sangat heboh, kali ini pun rok Yawakaze hanya tersingkap sedikit saja.

Kalau begini caranya, biarpun aku berdiri tepat di belakangnya, aku bahkan nggak bakal bisa melihat bayangan celana dalamnya sama sekali. Sepertinya berharap misi selesai lewat pan-chira yang tidak disengaja memang mustahil.

"Wah, Konagi-tan tetap manis seperti biasa ya~"

"Uuu, nggak kok. Rasanya cuma sakit doang—ah."

Yawakaze sepertinya baru menyadari keberadaanku yang berdiri sedikit di belakang Yuuouji.

"A-Amakusa-kun... anu... itu..."

Dia sepertinya mau mengatakan sesuatu, tapi ujung-ujungnya dia cuma menunduk dengan wajah memerah. Yah, wajar saja sih, aku kan sudah dua kali minta lihat celana dalamnya. Malah keajaiban dia masih belum merasa jijik padaku sampai sekarang.

"Ah, itu... Yawakaze, maaf ya soal kemarin aku ngomong yang aneh-aneh."

Aku membungkukkan kepalaku dalam-dalam. Karena situasinya mirip seperti kemarin, aku sempat cemas, tapi untungnya kali ini tidak ada Absolute Choice yang tiba-tiba menginterupsi.

"A... nggak apa-apa kok, aku nggak marah. Tapi... kenapa ya kamu pengen lihat... itu... celana dalamku?"

"Eh? Itu... itu..."

Karena aku kehabisan kata-kata, Yuuouji yang mewakiliku bicara.

"Ah, maaf ya Konagi-tan. Biar aku bantu luruskan sedikit. Amacchi ini kalau lagi panik suka ngomong hal yang berkebalikan dengan apa yang dia pikirkan. Jadi sebenarnya, dia sama sekali nggak kepikiran buat melihat celana dalam Konagi-tan, tahu."

Apa-apaan itu... Tolong jangan kasih aku karakteristik aneh sesuka hatimu, dong.

"Berkebalikan... dari yang dipikirkan?"

Tuh kan, Yawakaze jadi mulai percaya.

"Amakusa-kun... jadi sebenarnya kamu pengen lihat celana dalam laki-laki?"

KOK JADI SALAH PAHAMNYA KE ARAH SANA?!

"Bukan, bukan ke arah sana maksudnya! Sebenarnya dia bukan pengen melihat, tapi pengen memperlihatkan miliknya padamu!"

"BUKAN KE SANA JUGA ARAHNYA, WOI!"

"Haha, atau mungkin kamu pengen lihat celana dalam yang terbalik?"

"SE-SPESIFIK APA SIH SELERA ITU! Lagian sejak awal nggak mungkinlah aku ngomong yang sebaliknya!"

"Berarti beneran pengen lihat celana dalam cewek, ya."

"Iya bener... eh, woi!"

Sial... apa anak ini beneran berniat membantuku?

"Fufu, kalian berdua akrab banget ya."

Yawakaze tertawa manis sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

Nggak, ini salah paham kedua setelah Ketua Kelas tadi. Kami sama sekali nggak akrab, lho. Malah kalau boleh, aku pengen memukul wajah anak ini. Pakai tenaga yang lumayan kuat. Di wajahnya.

"Omong-omong, Konagi-tan, besok kalau kamu luang, mau pergi main nggak?"

"Eh, ah, iya. Besok aku nggak ada kegiatan klub kok, jadi bisa."

"Tuh kan, selamat ya Amacchi."

Yuuouji mengacungkan jempolnya padaku. Sepertinya tujuannya mengajakku ke sini memang untuk membuat janji ini.

"Tapi... apa Yawakaze nggak apa-apa kalau perginya bareng aku juga?"

Sedih sih, tapi kalau aku ada di posisinya, aku pasti bakal menolak mentah-mentah.

"Ah, santai saja. Dia sudah bilang dari dulu kalau pengen coba main bareng cowok. Iya kan, Konagi-tan?"

Mendengar pertanyaan Yuuouji, Yawakaze mengangguk malu-malu.

"Iya, Papa bilang aku harus lebih sering bergaul sama laki-laki. Syaratnya harus bareng Ouka-chan, sih."

Yuuouji tadi juga bilang hal yang mirip, ternyata semua orang memang berpikir begitu ya. Sebagai orang tua, mereka pasti bakal cemas luar biasa kalau punya anak perempuan yang terlalu polos dan nggak waspada begini sama laki-laki.

"Sebenarnya sudah banyak sih anak laki-laki yang mengajakku, tapi entah kenapa, mereka tiba-tiba dibawa pergi oleh kakak kelas berbadan kekar yang menepuk pundak mereka..."

Pasukan Pelindung Yawakaze, mengerikan sekali. Untuk urusan yang satu ini, aku berterima kasih pada Yuuouji.

"Sip, sudah diputuskan ya. Kalau gitu lokasinya—"

Yuuouji menyusun rencana dengan cekatan. Lokasi tujuannya diputuskan di mal besar di depan stasiun yang berjarak tiga stasiun dari sekolah. Di sana fasilitasnya lengkap selain tempat belanja, jadi itu pilihan yang cukup masuk akal.

"Oke, sisanya tinggal persiapan... Eh? Konagi-tan, jepit rambutmu itu unik ya?"

Pandangan Yuuouji tertuju pada kepala Yawakaze.

"Ah ini? Iya, ini hadiah dari... orang yang biasanya itu."

"Oho, jadi barang 'itu' juga nempel lagi?"

"I-iya."

"Hoho, begitu ya."

Sepertinya Yuuouji tahu sesuatu, dia tampak mengangguk-angguk paham. Lagian Yawakaze ini sesering apa sih dapat hadiah? Sudah hampir kayak idol saja.

"Aku tetap nggak tahu sih ini dari siapa, tapi karena sudah diberikan, rasanya sayang kalau nggak dipakai..."

"Benar, benar. Hadiah itu nggak ada gunanya kalau cuma disimpan saja~"

"Yuuouji, apa kamu juga pernah dapat hadiah?"

Yah, kalau Yuuouji punya fans sih bukan hal aneh. Penampilannya saja sudah cukup buat masuk ranking kecantikan sekolah, dan dengan jumlah murid sebanyak ini, nggak aneh kalau ada orang dengan selera aneh yang suka dengan sifat Yuuouji juga.

"Aye aye, bahkan sekarang aku lagi pakai nih~"

Aku memperhatikan seluruh penampilannya. Meski Yuuouji sering melanggar aturan sekolah seperti memamerkan pusar atau memendekkan rok, dia sama sekali tidak memakai aksesoris apa pun. Apa mungkin gantungan kunci di HP-nya? Menyadari rasa penasaranku, Yuuouji menjawab dengan singkat:

"Celana dalam."

"...Hah?"

"Celana dalam, tahu. Celana dalam alias panty!"

Celana dalam? Hadiah buat perempuan itu celana dalam? Serius...? Kalau itu dari pacar atau suami sih masih mending, tapi mengirimkan celana dalam secara sepihak dan tanpa nama itu sih benar-benar nggak waras.

"Omong-omong ini jenis himo-pan (celana dalam bertali) lho Bos, himo-pan warna merah."

Jangan dikasih hadiah kayak gitu, dong. Dan jangan dipakai juga. Terus jangan diomongin juga!

Yah, sepertinya orang aneh memang bakal menarik fans yang aneh juga. Dibandingkan itu, jepit rambut pemberian untuk Yawakaze itu benar-benar terlihat sangat manis.

"C-celana dalam bertali..."

Dan dia langsung bereaksi dengan wajah memerah begini. Ini dia, ini dia gambaran siswi SMA yang normal.

"Himo-pan~♪ Hi-mo-pan~♪"

Siswi SMA yang nggak normal malah mulai bernyanyi. Kamu beneran anak SD ya?

"Berhenti nyanyi dulu, deh... Jadi kamu seneng dapat hadiah celana dalam bertali itu?"

"Iya dong, apa pun yang gratis pasti aku seneng! Memangnya Amacchi nggak seneng kalau dapat hadiah celana dalam?"

"Aku bisa tegaskan: NGGAK SENANG."

Kalau aku buka loker sepatu terus isinya celana dalam pria, itu sih sudah masuk ranah horor.

"Terus Amacchi bakal seneng kalau cewek pakai celana dalam kayak gimana?"

"O-Ouka-chan, jangan tanya hal nggak sopan kayak gitu, dong!"

Yawakaze bereaksi dengan sensitif.

Lagian alur pembicaraannya jadi mendadak banget. Saat aku menatapnya dengan pandangan bertanya apa maksudnya, Yuuouji malah memasang wajah "kucing" dan berkata dengan bangga:

"Mufufu, ini demi imunisasi, Amacchi. Ini adalah ujian buat memberikan imun pada Konagi-tan. Kalau Konagi-tan nggak bisa menanggapi hal kayak begini sambil tertawa, Papa-mu nggak bakal bisa tenang, lho~"

"B-begitu ya. Ternyata Ouka-chan memikirkan kebaikanku... Baik, aku bakal berusaha!"

Nggak, Yawakaze-san, kamu ditipu mentah-mentah. Sahabatmu ini lagi berencana membiarkan seorang cowok melihat celana dalammu... yah, cowok itu aku sih.

Tapi ya sudahlah, alur pembicaraannya sudah telanjur begini. Mana mungkin aku bilang selera asliku, jadi lebih baik jawab yang normal saja.

"Yang putih biasa—"

"BOHONG!!"

Tiba-tiba Yuuouji berteriak seperti karakter pahlawan wanita yang memegang golok di anime horor tertentu.

"Uwoh! A-apaan sih tiba-tiba banget!"

Aku refleks memundurkan tubuhku. Yuuouji langsung kembali ke wajah bercandanya.

"Mufufu, nggak boleh lho Amacchi. Demi imunisasi Konagi-tan, kamu harus jujur."

Anak ini... padahal aku baru ngomong dikit, dia sudah tahu kalau aku mau bohong? Padahal kemarin dia bilang bisa tahu kejujuran orang lewat mata dan ekspresinya, apa itu ternyata beneran?

"Iya, Amakusa-kun. Karena ini latihan, aku mau kamu jujur."

...Tuh kan, kamu beneran ditipu, Yawakaze-san.

Tapi kalau aku bohong lagi juga bakal ketahuan, dan kalau aku menolak pun sepertinya bakal makin repot. Meski seleraku mungkin sedikit unik, ya sudahlah, aku katakan saja.

"Ehem... kalau soal itu, sebagai seorang pria... pilihannya cuma satu: GARTER BELT!"

"Wuih, mesum banget! Ini sih fiks mesum!"

"Garter... belt?"

Reaksi Yuuouji yang sok kekanak-kanakan padahal dia sudah tahu, dan reaksi Yawakaze yang beneran nggak tahu. Karakteristik keduanya terlihat sangat kontras.

"Lagian pembicaraannya jadi melantur jauh—eh?"

Di situ aku menyadari suasana yang aneh di sekitar kami.

"Kamu dengar? Katanya garter belt lho." "Iya, ternyata Amakusa-kun beneran mesum ya." "Yuuouji-san juga, apa dia nggak malu nyanyi lagu kayak gitu?" "Apa semua anak 'Reject 5' kayak gitu ya?" "Lagian dari tadi mereka cuma ngomongin celana dalam terus, lho." "Mendingan kita jauhkan Konagi-chan dari mereka berdua, deh."

Di segala penjuru kelas terdengar bisikan demi bisikan.

K-kapan suasananya jadi begini? Memang sih cara masuk Yuuouji ke kelas tadi heboh banget, tapi aku nggak sangka kalau percakapan kami didengarkan sampai sedetail itu... Lagian apa suka garter belt itu otomatis jadi mesum?

Tapi, tatapan seperti melihat barang menjijikkan ini... aku sudah sering merasakannya di kelas 2-1, tapi aku nggak sangka bakal merasakannya juga di kelas di ujung koridor yang lain.

"Nggak, ini salah paha—"


PILIH:

"Apa yang kalian lihat, Nona-nona manis? Cepat kalian semua pakai garter belt lalu layani aku secara seksual!"

Demi membuktikan kesempurnaan kombinasi garter belt dan posisi 'M-shape legs', pakailah sendiri lalu peragakan di depan mereka.


...Tidak butuh waktu lama bagi para siswi kelas 15 untuk menaruh kebencian yang hampir setara dengan niat membunuh padaku setelah aku memilih opsi pertama.

◆◇◆

"Sip Amacchi, sampai ketemu besok ya~"

Setelah wali kelas selesai, Yuuouji langsung bergegas keluar kelas menuju kelas 15 karena katanya mau menyiapkan "persiapan" dan membawa Yawakaze ke rumahnya. Aku sempat ingin mengikutinya, tapi begitu teringat tindakanku di jam istirahat tadi, langkahku terhenti.

Hari ini... tidak, mulai sekarang sepertinya aku nggak bakal bisa menginjakkan kaki lagi di kelas 2-15.

Dengan perasaan suram, aku berjalan pulang sendirian.

"Haa..."

Sambil menghela napas, aku merenungkan kembali kondisiku sekarang.

Absolute Choice yang terus menyiksaku selama setahun terakhir. Isinya benar-benar bebas tanpa batas, tanpa konsistensi atau pola tertentu. Kalau boleh dibilang, satu-satunya kesamaannya adalah pilihannya selalu yang nggak beres buatku.

Pilihan di game dating sim biasanya punya rute manis di mana kita bisa makin akrab dengan gadis pilihan kita. Tapi pilihan yang muncul di otakku ini rasanya seperti sengaja menghancurkan semua jalan menuju asmara.

Dan aku sama sekali tidak paham kenapa untuk menghilangkannya, aku harus membuat gadis tertawa atau melihat celana dalam mereka.

"Hei... sebenarnya apa sih yang kamu ingin aku lakukan?"

Aku bergumam sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. Pertanyaan yang entah ditujukan kepada siapa itu tentu saja tidak akan pernah mendapatkan jawaban.


7

"Yawakaze... itu..."

Sabtu pagi yang cerah. Begitu sampai di depan stasiun yang menjadi tempat pertemuan, aku tertegun melihat sosok Yawakaze yang sudah tiba lebih dulu.

"Anu... Amakusa-kun, apa pakaianku... terlihat aneh?"

Aku buru-buru menggelengkan kepala. Sama sekali tidak aneh. Malahan, bagi Yawakaze yang biasanya selalu tampil feminin, celah penampilan (gap) ini benar-benar menarik.

Tapi, khusus untuk hari ini, ini adalah kesalahan besar. Kenapa... kenapa dia malah pakai hot pants?!

Memang sih, tingkat ekspos kulitnya jauh lebih banyak dibanding Yawakaze yang biasanya. Tapi kalau begini, gawat. Biarpun kulit putih bersihnya itu menyilaukan mata, atau pose kakinya yang sedikit merapat ke dalam itu imutnya keterlaluan, kalau kemungkinan melihat celana dalamnya tertutup rapat begini, semuanya tidak ada artinya!

"Yippie~!"

Saat aku sedang tenggelam dalam jurang keputusasaan, suara ceria Yuuouji bergema dari belakang. Begitu aku menoleh, dia memakai rok super mini yang bikin bingung harus menaruh pandangan di mana.

"Lho, Konagi-tan, kok kamu malah pakai baju kayak gitu?"

"H-habisnya..."

Yawakaze memerah saat melihat Yuuouji yang menghampirinya.

"Padahal aku sudah meminjamkan rok bahan transparan kemarin, harusnya kamu pakai itu dong."

"MANA ADA ORANG YANG MAU PAKAI BARANG KAYAK GITU!"

"Uuu, Ouka-chan, yang itu tetap saja tidak mungkin. Lagipula kalau melihat rok itu, aku jadi malah malu kalau pakai rok biasa... Tapi, karena aku sudah janji setidaknya bakal memperlihatkan kaki, jadi aku berusaha semampuku dan meminjam milik kakakku... apa nggak boleh?"

Uwah, reaksi macam apa ini? Terlalu tulus. Ditambah lagi tatapan memelasnya dari bawah, daya hancurnya benar-benar tinggi. Dan reaksi Yuuouji adalah...

"A-apa-apaan bakat pembunuh pria alami ini... Konagi-tan, anak yang mengerikan!"

Dia sedang melucu dengan mata yang diputar sampai putihnya kelihatan semua.

"Oi, gimana nih? Dari awal sudah skakmat," bisikku sambil mendekati Yuuouji.

Bukan cuma kemungkinan pan-chira yang lenyap, tapi langkah terakhir pun—yaitu menyingkap rok—sudah tersegel rapat.

"Tenang, tenang. Justru karena aku sudah mengantisipasi situasi seperti ini makanya aku pilih tempat ini. Aman, aman~"

Entah kenapa Yuuouji percaya diri sekali.

"Ayo, let's go!"

Baru saja dia menjauh dariku, dia sudah menggandeng Yawakaze dan berjalan dengan riang... Gawat, ini mungkin benar-benar sudah berakhir.

◆◇◆

"Jreeeng, di sini tempatnya!"

Yuuouji berhenti di depan sebuah toko. Bahkan aku yang tidak tertarik pada fashion pun pernah mendengar nama merek terkenal ini. Seingatku, slogannya adalah mereka menyediakan segalanya mulai dari pakaian formal kelas atas hingga pakaian kasual murah dalam satu toko.

Slogan itu bukan bohong. Di dalam toko yang sangat luas itu, tersedia berbagai macam jenis pakaian dalam jumlah yang masif. Namun, penataannya yang rapi memberikan kesan selera yang sangat bagus.

"Konagi-tan, sini bentar deh."

"Eh? Ada apa, Ouka-chan?"

"Maaf ya, Amacchi, kamu lihat-lihat di sekitar sini dulu saja ya~"

"Hah? Ah, oke."

Tanpa memberiku kesempatan menjawab, Yuuouji langsung menyeret Yawakaze pergi. Lalu, setelah aku berkeliling di dalam toko selama belasan menit seperti yang diperintahkan...

"Yaho~ Amacchi, maaf ya sudah menunggu!"

"Ooh..."

Melihat sosok Yawakaze yang bersembunyi di balik punggung Yuuouji, aku refleks mendesah kagum. Dia sekarang memakai rok super mini yang menyaingi milik Yuuouji.

"Uuu... Ouka-chan, ini benar-benar terlalu memalukan."

Yawakaze menunduk dengan wajah merah padam. Mengingat sifatnya dan panjang rok seragamnya yang biasanya, pakaian seperti ini mungkin sudah setara dengan setengah telanjang baginya.

"Gimana Amacchi, bagus kan?"

"Yah, orang yang bilang ini nggak bagus, menurutku bukan laki-laki."

Aku memberikan kesan jujurku.

"T-terima kasih..."

Meskipun malu, Yawakaze sepertinya tidak merasa keberatan dengan pujian itu.

"Sip, fiks beli!"

"Eh, tunggu dulu. Ouka-chan kan bilangnya cuma buat coba-coba saja? Baju ini memang bagus sih, tapi aku nggak bawa uang sebanyak itu."

Aku memang tidak paham soal harga pakaian, tapi bahannya terlihat berkilau dan mahal, desainnya juga sangat rumit. Setidaknya, ini pasti bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan mudah oleh anak SMA.

"Tenang saja, serahkan padaku~" ucap Yuuouji santai.

Eh, tapi seingatku, keluarga Yuuouji sangat ketat soal uang. Dia pernah bilang kalau uang jajannya cuma lima ribu yen sebulan.

Lagipula, melihat sifat Yuuouji, dia tidak akan pernah melakukan hal seperti memamerkan kekayaan dengan membelikan baju untuk temannya secara cuma-cuma.

"Sebenarnya merek ini, meski orang nggak banyak tahu, adalah perusahaan di bawah naungan UOG Grup lho."

Serius...? Ternyata Grup UOG ada di mana-mana ya.

"Nah, manajer toko di sini lagi butuh model pengguna untuk memakai baju ini dan berkeliling di mal sebagai bagian dari promosi produk baru... tapi ternyata nggak ada yang mau, jadi dia lagi kesulitan. Konagi-tan, demi membantu aku dan manajer toko, mau kan kerja sama untuk hari ini saja?"

Luar biasa, cara bicaranya pintar sekali. Itu pasti cuma karangan belaka, tapi kalau dibilang begitu, Yawakaze tidak akan bisa menolak.

"U-um... kalau memang begitu... aku... mau mencoba membantu."

Sesuai dugaan, Yawakaze mengangguk ragu-ragu.

"Oke, kesepakatan tercapai!"

Setelah deklarasi itu, Yuuouji mendekat ke arahku.

"Nihihi. Dengan ini, kalau kita bawa dia keliling ke banyak tempat, bakal sempurna kan?"

"Yuuouji... kerja bagus."

Benar-benar sebuah fine play yang tak terduga. Jatuh. Dia pasti bakal jatuh. Kemarin aku pikir tidak baik mengandalkan keberuntungan, tapi hari ini aku punya senjata pemungkas. Aku melirik ke arah kaki Yawakaze.

Ya, sepatu hak tinggi (high heels) itu. Yawakaze yang biasanya saja sudah sering jatuh, kalau memakai sepatu yang tidak stabil seperti itu, jatuh bukan lagi soal kebetulan, melainkan kepastian.

"Ini sih cuma masalah waktu."

"Benar sekali."

Aku dan Yuuouji saling bertukar senyum licik seperti penjahat yang sedang bersekongkol... Tapi.

◆◇◆

"Wah, tadi seru banget ya~"

Singkat cerita, dia tidak jatuh.

Yawakaze sama sekali tidak jatuh. Tidak peduli seberapa sering kami membawanya ke tengah kerumunan, atau ke tempat dengan pijakan yang buruk, seolah-olah dilindungi oleh sesuatu, dia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan terpeleset.

Sepertinya dia sendiri sadar akan hal itu, dan dia tampak senang karena hari di mana dia tidak jatuh sama sekali itu jarang terjadi dalam setahun... Keajaiban macam apa ini yang malah membuatku sial?!

Waktu berlalu begitu cepat tanpa ada solusi, dan sekarang sudah pukul enam sore. Di musim di mana matahari terbenam lebih cepat, wajar saja jika kami mulai bicara soal pulang.

Namun di tengah situasi itu, untungnya perut Yawakaze berbunyi—meski dia langsung membantahnya dengan wajah merah padam—sehingga kami memutuskan untuk makan di food court terlebih dahulu.

Kami mengamankan tempat duduk di area terbuka dan mulai duduk.

"Kalau begitu, aku belikan makanan apa saja ya."

"Ah, makasih ya."

Yuuouji, yang sepertinya tidak merasa lelah sedikit pun, langsung berlari seperti anak SD seperti biasanya. Di hari Sabtu jam segini, semua kedai makanan penuh sesak dengan antrean panjang keluarga. Sepertinya butuh waktu cukup lama sampai dia kembali.

Sekarang, apa yang harus kulakukan...? Kalau sudah dipersiapkan begini saja dia tetap tidak jatuh, berarti aku harus melakukan pendekatan lain.

Tapi kalau aku bisa memikirkannya secepat itu, sudah kulakukan dari tadi.

Rasa cemas mulai membuncah. Apa yang harus kulakukan... apa?

"Suuu..."

Kesadaranku mendadak kembali karena mendengar suara napas yang imut itu.

Padahal Yuuouji baru saja pergi semenit yang lalu, tapi Yawakaze sudah tertidur pulas di atas meja. Bahkan tasnya masih tersampir di bahunya. Yah, anak yang sepertinya kurang tenaga dan agak lamban seperti dia, kalau dibawa berkeliling ke berbagai tempat sejauh itu, wajar saja kalau kelelahan.

"Umm..."

Saat itu, Yawakaze menggeliat dan posisi tubuhnya berubah drastis.

"Oh?"

Seiring dengan gerakannya, roknya tersingkap dengan cara yang unik, memperlihatkan bagian pangkal pahanya.

I-ini... tinggal sedikit lagi, sedikit lagi bagian dalamnya bakal terlihat.

Pada saat itulah...


PILIH:

Singkapkan sekalian

Jangan disingkapkan


...Ternyata muncul sekarang.

Tapi, pilihan kali ini, jika dipikir-pikir, mungkin bisa menjadi pemicu yang bagus. Aku sendiri memang tidak tega melakukannya, tapi kalau ujung-ujungnya aku memang harus menyingkap roknya, ini adalah kesempatan emas.

Lakukan saja?

Sambil bimbang, tanganku mulai terulur ke arah rok Yawakaze.

Namun, sesaat sebelum tanganku menyentuh kainnya, aku mendadak berhenti.

Apa ini benar-benar tidak apa-apa?

Nggak, nggak, jangan jadi lembek sekarang. Kalau misi ini gagal, aku bakal terjebak dengan Absolute Choice selamanya, tahu. Kamu paham nggak sih, Kanade?


Tapi tetap saja kalau menyingkapnya sendiri itu... Tidak, bukan begitu.

Memaksa Yawakaze memakai rok mini dan sepatu hak tinggi untuk memancingnya jatuh itu sebenarnya sama saja. Bedanya cuma apakah itu cara tidak langsung atau langsung, tapi inti tindakannya tetap sama.

Singkatnya, aku cuma ingin menghilangkan rasa bersalahku sendiri dengan menciptakan situasi di mana "kebetulan celana dalamnya terlihat".

Seolah-olah menyuruhku untuk terus bimbang, sakit kepala yang biasanya menjadi tanda paksaan tidak kunjung datang. Berbagai pikiran melintas di benakku lalu menghilang begitu saja.




Aku sudah kehilangan rasa waktu, tetapi sepertinya aku sudah tenggelam dalam pikiran selama beberapa menit. Tepat saat rasa sakit tumpul mulai lahir di bagian belakang kepalaku, sebuah kesimpulan muncul.

"...... Nggak jadi deh."

Pada akhirnya, aku memilih opsi . Alasannya bukan didasari oleh logika yang jelas. Aku hanya bisa bilang bahwa aku merasa entah bagaimana aku tidak menyukainya.

Kalaupun aku harus menyingkap roknya, melakukannya saat Yawakaze sedang tidur terasa seperti tindakan pengecut. Kalau mau melakukannya, aku harus melakukannya saat Yawakaze sedang sadar, dan sebagai imbalannya, aku harus siap menerima kecaman darinya.

Jika harus menyebutkan satu alasan lagi yang tidak logis, mungkin itu adalah bentuk perlawanan terhadap pilihan-pilihan ini. Munculnya pilihan di waktu sekarang seolah-olah berkata, "Nih, aku sudah siapkan alasan pembenaran yang pas buatmu, lakukan saja," dan itu membuatku kesal.

Membayangkan sosok siapa pun yang mengirimkan pilihan ini sedang menyeringai melihatku bergerak sesuai keinginannya, membuatku ragu untuk memilih .

Aku perlahan menarik kembali tanganku yang tadi mematung di dekat roknya.

"Nn...... lho? Amakusa-kun? Eh? Jangan-jangan aku ketiduran?"

Seolah-olah sudah diatur waktunya, Yawakaze terbangun.

"Iya, meski cuma beberapa menit."

"M-maaf ya...... ah, berarti...... m-mungkin, kamu melihat wajah tidurku?"

Yah, kalau tidur di jarak sedekat ini, mana mungkin nggak kelihatan. Begitu aku mengangguk,

"Higuu."

Suara aneh keluar dari mulut Yawakaze.

"D-dilihat laki-laki saat sedang tidak sopan begitu......"

Seketika wajah Yawakaze memerah padam. Melihat hal itu di depan mata, kata PENYESALAN terpampang jelas di benakku.

Menyingkap rok anak ini? Nggak, mustahil. Baru dilihat wajah tidurnya saja dia sudah panik begini. Kalau aku terang-terangan menyingkap roknya, itu bisa jadi trauma baginya.

Padahal kalau aku mengintip sedikit saja saat dia tidur, semuanya akan beres. Mungkin aku baru saja melewatkan kesempatan emas demi kepuasan diri yang tidak berguna.

"JAMBRET!!"

Tiba-tiba, suara yang membelah udara bergema di seluruh food court, menarik kesadaranku kembali.

Refleks aku menoleh, dan melihat seorang pria berbadan kekar yang mengenakan kaos kusam dan jins sedang berlari kencang dengan mata merah menyala.

Sialnya, pria itu berlari lurus menuju meja tempat aku dan Yawakaze duduk.

"SERAHKAN!!"

Pandangannya tertuju pada tas yang tersampir di bahu Yawakaze. Mungkin dia menilai Yawakaze punya banyak uang karena penampilannya yang penuh barang bermerek. Meski di tangannya sudah ada dompet yang mungkin hasil jambretan sebelumnya, sepertinya si rakus itu masih ingin merampas lagi.

"Eh? Eh?"

Yawakaze membeku karena kejadian yang mendadak ini.

"Bahaya!!"

Tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiran. Aku menyelinap di antara Yawakaze yang masih duduk dan si jambret.

"Guh!"

Aku yang tertabrak langsung oleh serudukannya terpental dan punggungku menghantam lantai dengan keras.

"Amakusa-kun!!"

"Cih...... cepat serahkan!!"

Meski sempat berhenti sejenak karena intervensiku, si jambret segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah Yawakaze.

"Yawakaze, lepas tasmu, goho!"

Karena benturan saat jatuh tadi, sepertinya tenggorokanku terpukul. Suara tidak mau keluar dan aku tidak bisa langsung berdiri. Sial, ini gawat!

"Amacchiii! Nice penahannyaaa!!"

Saat itu, sebuah suara yang lantang seperti pidato pahlawan tokusatsu bergema.

"Uoryaaaaaa!!"

Yuuouji yang berlari secepat peluru melompat sekuat tenaga. Sebuah dropkick dengan seluruh berat badannya menghantam tepat di tengah perut si jambret yang baru saja berbalik.

"Gbuhaaa!"

Si jambret terseret di lantai dengan kecepatan yang luar biasa. Kemudian, dia langsung diringkus oleh petugas keamanan yang mengikuti di belakang Yuuouji.

Seperti biasa, kemampuan fisiknya benar-benar tidak masuk akal. Padahal Yuuouji termasuk mungil di antara siswi lainnya, tapi bagaimana bisa dia punya daya hancur sebesar itu?

"Iyaー, untung sempat. Konagi-tan, ada yang luka nggak?"

Bahkan dalam situasi ini, napas Yuuouji sama sekali tidak memburu dan dia tidak terlihat panik.

"A... iya. Soalnya aku dilindungi. A-apa kamu nggak apa-apa, Amakusa-kun?"

Yawakaze berlari menghampiriku dan berjongkok di sampingku dengan ekspresi campur aduk antara terima kasih dan khawatir.

"Mufufu, kamu berjasa juga ya, Amacchi."

"Nggak, aku cuma terpental doang, nggak seberapaー"

Tepat saat aku sedikit mengangkat kepalaku, gerakanku terhenti.

Isi di dalam rok Yuuouji terlihat jelas.

Yuuouji berdiri tepat di atas kepalaku dengan tidak waspada, sementara Yawakaze berjongkok di dekatku. Meski panjang rok mereka sama, bagi orang di posisiku, melihat isi rok Yuuouji adalah sebuah kepastian.

Celana dalam, terlihat sepenuhnya.

Warna yang terekam di mataku adalah putih bersih. Desainnya yang tenang, campuran antara 90% keanggunan dan 10% daya tarik sensual, terasa entah bagaimana tidak cocok dengan citra Yuuouji. Soalnya, aku pikir dia bakal pakai yang motif garis-garis atau motif binatang.

Tapi, terlepas dari itu.

Kenapa anak ini...... pakai Garter Belt?!

Di dalam rok Yuuouji, seolah-olah melindungi celana dalam putih bersih itu, terpasang sepasang Garter Belt hitam pekat.

Pantas saja dari tadi aku penasaran dengan garis vertikal hitam di pahanya, tapi karena bagian bawahnya bukan stoking melainkan desain seperti kaos kaki selutut (knee-socks), aku sama sekali tidak menyadarinya.

Paling-paling dia hanya mencoba memakainya secara spontan karena ucapanku kemarin. Tapi anak kecil seperti ini memakai Garter Belt yang dewasa...... Anak kecil dan Garter Belt...... Boleh juga.

(Hah!)

Nggak, apa yang kupikirkan! Aku sudah jadi mesum sepenuhnya! Dan sampai kapan aku mau terus melotot begini! Aku segera tersadar dan buru-buru memalingkan wajah.

Untungnya, si pemilik sendiri sedang fokus pada Yawakaze dan sepertinya tidak menyadari kalau roknya baru saja diintip.

Rasanya seperti sudah beberapa detik berlalu bagiku, tapi mungkin sebenarnya itu hanya terjadi sekejap mata.

Padahal tadi aku begitu bimbang soal boleh tidaknya menyingkap rok sedikit saja, tapi terhadap sesuatu yang terlihat "secara tidak sengaja" ini, rasa bersalahku sama sekali tidak muncul. Sebagai pencinta Garter Belt, aku hanya bisa bilang: terima kasih atas hidangannya.

Yah, meski kalau ini milik Yawakaze akan jauh lebih baik sihー

Ponsel di kantongku tiba-tiba bergetar.

"Hm?"

Ternyata ada email dari 'Tuhan'. Subjeknya: Mission Complete.

Hah? Aku menyimpan tanda tanya di kepalaku, lalu berdiri dan membukanya.

Selamat. Silakan tunggu misi berikutnya dengan antusias.

Isinya persis sama dengan saat misi Yukihira dulu. Apa-apaan ini? Apa maksudnya? Yang kulihat kan bukan celana dalam Yawakaze, tapi Yuuouji......

Sambil berdiri, aku mengecek kembali email misi yang dikirim dua hari lalu. Benar, targetnya tidak salah lagi adalah Yawakaze.

Ponselku bergetar lagi. Pengirimnya 'Tuhan', subjeknya 'Tambahan'. Aku segera membukanya.

Selamat malam, ini Tuhan. Kamu pasti sedang bingung dan tidak mengerti kenapa misinya bisa dianggap selesai sekarang.

Tebakannya tepat sasaran, memang pantas disebut Tuhan. Omong-omong, siapa sih orang ini? Yah, dia mungkin memang Tuhan, tapi sepertinya bukan Tuhan yang genit kemarin. Karena Tuhan sebelumnya sedang cuti melahirkan dan mengurung diri, berarti orang inilah yang mengirimkan misi?

Ada kabar gembira buatmu. Saya akan menjelaskan situasinya secara sederhana agar kamu paham...... karena saya adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Uwah...... menyebalkan.

Tapi sebenarnya gimana mekanismenya? Kata-kata terus muncul di layar tepat saat aku selesai membaca kalimat sebelumnya.

Sebenarnya, celana dalam yang dipakai Yuuouji Ouka hari ini adalah milik Yawakaze Konagi.

...... Hah?

Ketua Pasukan Pelindung Yawakaze Konagi, Toudo Sakura, telah melakukan sebuah dosa besar.

Apa? Ceritanya tiba-tiba melenceng jauh, tapi apa ini bakal nyambung? Dan Toudo-senpai, dengan wajah sangar begitu namanya ternyata se-imut Sakura......

Dosa itu adalah: Menikung. Sakura ternyata diam-diam memberikan hadiah kepada Yawakaze Konagi, mendahului anggota Pasukan Pelindung lainnya.

Memang kalau itu benar, sebagai ketua itu adalah pengkhianatan yang tak termaafkan. Tapi kenapa panggilannya jadi Sakura......

Yah, terlepas dari moral terhadap anggota lainnya, tindakan itu sendiri sebagai fans bukanlah hal yang aneh.

Ah, jangan-jangan orang yang memberi jepit rambut kemarin itu Toudo-senpai?

Namun, Sakura tidak puas hanya dengan mengirim barang. Setiap kali mengirim hadiah, dia selalu menyertakan puisi buatan sendiri.

Puisi...... itu agak gimana ya.

Lagian puisi...... di zaman sekarang bikin puisi itu, aduh, nggak banget deh.

Kok karakternya berubah jadi julid begini!

Puisi (wkwk).

Berisik banget sih! Memang kedengarannya memalukan, tapi kasihanilah dia!

Sakura yang rahasianya diketahui oleh Yuuouji Ouka akhirnya berakhir diperas olehnya.

Begitu ya, bisikan saat jam istirahat siang kemarin ternyata soal itu. Tindakan memalukan seperti membuat puisi sendiri memang hanya bisa dilakukan karena anonim. Kalau sampai Yawakaze sendiri atau anggota tim tahu, lari telanjang bulat di lapangan sekolah mungkin memang terasa lebih mendingan.

Dan Sakura sudah menyiapkan hadiah spesial tepat di hari itu. Yaitu celana dalam. Karena rasa cintanya yang berlebihan pada Yawakaze Konagi, dia tidak bisa menahan keinginan agar Yawakaze memakai celana dalam pilihannya. Ya, memang menjijikkan sih.

Hadiah celana dalam...... lho? Bukannya itu cerita soal fans fanatik Yuuouji?

Yang dijanjikan Sakura karena ancaman itu hanyalah tidak mengganggu kalian. Sakura yang berniat memberikan celana dalam sesuai rencana sambil membuntuti kalian melakukan kesalahan fatal. Dia malah memasukkan celana dalam itu ke dalam tas Yuuouji Ouka yang ada di sebelahnya.

Seriusan...... Sepertinya karena mereka berdua sering bersama kemarin sore, dia salah memasukkannya di suatu tempat.

Yuuouji Ouka menemukannya saat pulang. Biasanya kalau tiba-tiba ada celana dalam terbungkus di dalam tas, orang bakal merasa jijik lalu membiarkannya atau membuangnya. Tapi dia malah langsung memakainya keesokan harinyaーyaitu hari ini.

JANGAN DIPAKAI DONG!

Ada dua faktor utama yang membuat Yuuouji Ouka salah paham dan mengira hadiah itu untuknya. Pertama, ada contoh nyata di mana fans fanatiknya pernah mengirim celana dalam sebelumnya.

Begitu ya. Jadi pola pikir fans Yuuouji dan Toudo-senpai kebetulan sinkron.

Dan yang kedua adalah, hadiah untuk Yawakaze Konagi kali ini tidak disertai puisi. Ternyata Sakura pun merasa malu kalau harus menyertakan puisi pada hadiah celana dalam, jadi kali ini dia membuang puisi yang sudah dibuatnya ke tempat sampah di rumahnya.

Toudo-senpai...... jadi beneran sempat bikin ya.

Kami berhasil mendapatkan teks lengkapnya.

GIMANA CARANYA?!

Angin--- itu adalah kau, Angin seperti malaikat yang menyelimuti segala benda dengan lembut Sutra--- itu adalah pakaian dalam, Sutra yang mempesona, menyelimuti tempat rahasiamu yang tertiup angin dengan penuh kelembutan Ksatria--- itu adalah aku, Ksatria gagah berani yang menyelimuti angin dan sutra dengan cinta yang meluap

OUT OUT OUT! Aku langsung menekan tombol bawah berkali-kali untuk melewati teks yang terus muncul itu. Kalau lebih dari ini, harga diri Toudo-senpai benar-benar akan hancur.

Nah, setelah menikmati selera Sakura (wkwk) yang luar biasa, mari kita masuk ke intinya.

Orang ini jahat banget...... tapi aku pasti bakal spontan tertawa kalau ketemu Toudo-senpai nanti.

Celana dalam tersebut adalah hadiah yang Sakura tujukan untuk Yawakaze Konagi. Tidak peduli bagaimana prosesnya atau siapa yang memakainya, hak kepemilikannya tetap ada pada Yawakaze Konagi.

Jadi niat si pemberi yang diutamakan. Yah, aku sih nggak masalah, tapi apa hubungannya dengan penyelesaian misi?

Misi yang diberikan padamu adalah 'Saksikan celana dalam milik Yawakaze Konagi dalam keadaan sedang dipakai', bukan 'Saksikan celana dalam yang sedang dipakai Yawakaze Konagi'.

...... Jangan-jangan.

Ya, kamu sudah paham kan. Sekian penjelasan dari Tuhan. Dah-dah, Bye-Bye Sexual.

Emailnya berakhir dengan mendadak di sana.

Jadi, kata "milik" dalam kalimat "celana dalam milik Yawakaze Konagi" menunjukkan kepemilikan. Asalkan itu adalah celana dalam milik Yawakaze Konagi, tidak peduli siapa yang memakainya, misinya tetap dianggap berhasil.

Yah, karena berhasil tanpa diduga sih aku tidak protes, tapi ini sudah masuk ranah ilmu cocoklogi atau tebak-tebakan kata saja. Untung kali ini kesalahpahamannya berbuah manis. Di masa depan aku harus hati-hati, jangan sampai aku pikir sudah berhasil, ternyata malah gagal karena alasan-alasan konyol begini.

"Amakusa-kun, dari tadi kamu terus melihat ponsel, ada apa?"

Suara Yawakaze menarikku kembali dari dunia pikiran.

"Ah, maaf...... eh, uwoh!"

Saat itu, tanpa aba-aba, benar-benar mendadak, angin berembus kencang dari samping. Kekuatannya cukup besar untuk disebut angin kencang, dan di detik berikutnya, yang tertangkap di penglihatanku adalah:

"Ha... hawawaaa!"

Selamat siang, Nona Celana Dalam.

Ternyata benar. Dari balik rok yang tersingkap lebar itu, aku melihat celana dalam yang persis seperti yang digambar Yuuouji kemarin.

Satu-satunya yang berbeda hanyalah warnanya. Di laporan kemarin warnanya putih bersih, tapi yang terekam di mataku sekarang adalah warna ungu pekat yang meruntuhkan citra polos Yawakaze dari akarnya.

"Ki... kiki kiki......"




Sadar bahwa dirinya baru saja terlihat, guncangan batin yang luar biasa hebat langsung menyerang Yawakaze.

"Ki... kiki—"

Gawat, dia bakal teriak. Ini pasti teriak. Di tengah kerumunan orang sebanyak ini, itu bisa—

"KYAAAAAAAAAAAAAAA!!"

Suara itu justru meledak dari arah yang tak terduga.

"Yuuou... ji?"

"Ouka... chan?"

Pemilik suara melengking yang saking tingginya hampir terdengar seperti gelombang ultrasonik itu adalah Yuuouji Ouka.

Wajahnya memerah padam secara tidak wajar, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Apa-apaan... reaksi ini?

Ah, memang sih barusan celana dalam Yuuouji juga terlihat, tapi kan tadi sudah... Oh, waktu yang pertama tadi dia tidak sadar kalau sedang diintip, ya.

"—nggak nyangka."

Yuuouji menunduk sambil menggumamkan sesuatu, tapi suaranya terlalu pelan hingga sulit didengar.

"Ada apa Yuuouji? Kamu aneh banget, nggak apa-apa kan?"

Aku melangkah maju dan meletakkan tangan di bahunya.

"!!?"

Zuzat! Yuuouji mundur dengan gerakan menyentak. Warna wajahnya yang tadinya sudah merah, kini semakin pekat hingga seolah-olah melewati batas kemampuan manusia.

Jangan-jangan anak ini... sedang malu?

"—nggak pernah kepikiran bakal begini."

Setelah menggumamkan kata-kata yang lagi-lagi tak terdengar jelas, Yuuouji langsung membalikkan badannya membelakangiku.

"O-oi, Yuuouji?"

Panggilanku diabaikan total. Setelah mematung sejenak, dia tiba-tiba melesat pergi seolah-olah baru saja terpental.

"AKU NGGAK NYANGKA KALAU DIINTIP CELANA DALAMNYA... BAKAL SEMALU INIIIIIIIIII!!"

Sambil meneriakkan kalimat yang pantas disebut sebagai jeritan histeris itu, dia berlari kencang menembus kerumunan orang dan menghilang.

"..." "..."

Aku dan Yawakaze yang ditinggalkan hanya bisa saling pandang dalam keheningan.

Di wajah Yawakaze, tidak terlihat lagi rona malu karena celana dalamnya baru saja diintip. Yah, setelah disuguhi drama seheboh itu, siapa pun pasti bakal kehilangan niat untuk merasa malu secara normal.

Beberapa saat kemudian, Yawakaze akhirnya membuka suara.

"...Kita, harus gimana sekarang?"

"...Pulang saja yuk."

"...Iya juga ya."

Misi 'Saksikan celana dalam milik Yawakaze Konagi dalam keadaan sedang dipakai'—SELESAI.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close