Chapter 3
Dunia Baru Yuuouji Ouka
1
"Spiii~"
Chocolat-chan
yang tinggal di rumah kediaman Amakusa sedang dalam kondisi prima pagi ini: Tidur
Nyenyak Tingkat Dewa.
"......Rasanya
aku bahkan sudah kehilangan tenaga buat komplain."
Wajah tidurnya
benar-benar santai, tidak ada sedikit pun kesan tegang di sana. Sambil menghela
napas pendek, aku mendekati tempat tidur.
"Aah......
Jangan, itu tidak boleh!"
Baru saja aku
mengulurkan tangan hendak mengguncang bahunya, dia tiba-tiba mengeluarkan suara
yang terdengar... ehem, menggoda. Rasanya polanya sama seperti
kemarin-kemarin......
"He-Hentikan,
Natsuhiko-san!"
Natsuhiko? Nama
yang asing. Siapa itu? Kalau mendengar situasinya, sepertinya orang itu sedang
menyerang Chocolat......
"Natsuhiko-san,
menyerang Kanade-san yang sedang tidak sadarkan diri itu benar-benar
kejam!"
TERNATA
AKU, TOH!
"Tidak
boleh, kalau Kanade-san jadi uke-nya, itu terlalu biasa jadi tidak
menarik sama sekali!"
Alasanmu
melarangnya aneh banget, tahu!
"Begitu
ya...... Kalau kamu memang sudah punya tekad sekuat itu, aku tidak bisa
menghentikanmu lagi."
WOI, BERHENTIIN DONG!
"Ah, sepertinya Kanade-san mau bangun. Ayo buat dia
tidur lagi pakai saputangan yang sudah dibasahi obat tidur."
Kenapa kamu malah
jadi sekutu si Natsuhiko ini, hah?!
"Natsuhiko-san
hebat juga ya, langsung menyerang bagian situ. Oh, lubang
Kanade-san—"
"CUKUP, WOI!"
Karena sudah tidak tahan lagi, aku memaksanya bangun dengan
paksa.
"Fue?"
Dengan mata yang masih mengantuk, Chocolat celingukan
melihat sekeliling.
"Lho,
Natsuhiko-sannya mana?"
"Makanya,
dia itu siapa?!"
◆◇◆
"Hamu
hamu."
Chocolat melahap
sarapan Mackerel Miso-ni dengan senyum lebar di wajahnya.
"Tapi
syukurlah ya, Kanade-san. Misi untuk Furano-san kemarin berhasil selesai dengan
selamat."
"A-Ah, iya,
begitulah."
"Tapi,
gimana caranya bikin dia ketawa? Bukannya dia orang yang nggak pernah senyum
sama sekali?"
"Ya itu sih...... berkat selera humorku yang luar
biasa, dong."
Meski aku sudah memberitahunya kalau misinya sukses, aku
sengaja menutup-nutupi detailnya. Kalau aku bilang kulit pisang pemberian
Chocolat yang jadi penentunya, dia pasti bakal besar kepala.
"Hee~, ternyata Furano-san suka lawakan garing bin
gagal ya."
Kasar banget nih bocah, ngomongnya nggak disaring dulu.
"Ngomong-ngomong, Kanade-san."
Chocolat mengalihkan pembicaraan sambil menjulurkan sumpit
ke arah acar timun.
"Soal '48
Jurus Gelitik' kemarin lusa, kita kan belum coba semuanya."
"Ugh......"
Sensasi dada yang
menempel di punggung dan aroma manis yang kebangetan itu mendadak terbayang
lagi di kepalaku. Belum lagi soal efek sampingnya, hal itu benar-benar terlalu
berbahaya dalam berbagai arti.
"Nggak...... itu sudah dilarang, titik."
"Kenapa? Padahal rencananya malam ini aku mau mencoba
sisanya sampai habis."
"Kalau kamu nekat melakukan itu, mulai besok laukmu
cuma boleh pakai abon atau bumbu tabur saja!"
"I-Itu namanya pelecehan bumbu tabur yang kejam!"
Istilah apaan lagi itu......
Bzzzttt!
Di atas
meja, ponselku bergetar.
Firasat
buruk melintas di benakku. Benar
saja, saat kubuka, layarnya menampilkan tulisan Misi Penghapusan Kutukan.
Sepertinya ini adalah ronde kedua.
Lagian,
sebenarnya siapa sih yang mengirimkan ini? Tuhan yang sebelumnya kan sedang
cuti melahirkan (?), dan dari telepon kemarin sudah jelas kalau si Tuhan playboy
itu tidak terlibat.
Yah, dipikirkan
sekarang pun tidak ada gunanya. Pokoknya aku harus cek dulu isinya.
[Lihatlah celana dalam Yawakaze Konagi dalam kondisi
sedang dia pakai. Batas waktu: 11 Mei (Sabtu)]
......Apa-apaan
ini? Apa-apaan ini? SEBENARNYA APA-APAAN INI?!
Mau dikucek
berkali-kali pun, tulisan di layar tidak berubah sedikit pun.
Yawakaze Konagi...... maksudnya Yawakaze Konagi yang itu,
kan?
Kalau kamu
menjalani kehidupan sekolah di Seikou, mau kamu tertarik atau tidak, nama itu
pasti bakal otomatis masuk ke telingamu.
Yawakaze Konagi.
Siswi kelas dua yang dengan gagahnya bertengger di peringkat ketiga Ranking
Luar. Bukan cuma wajahnya yang imut, tapi sifatnya juga sangat lembut. Katanya
dia juga punya unsur dojikko (gadis ceroboh), benar-benar sosok yang
seolah-olah perwujudan dari imajinasi liar para pria.
Beda dengan
anggota ranking lain yang punya kepribadian atau ciri khas yang
mencolok, dia justru dinilai murni karena keimutannya sebagai seorang gadis.
Kabarnya dia begitu populer sampai-sampai punya semacam fanclub sendiri.
Dan aku harus melihat celana dalam orang seperti itu......
Sekarang hari Kamis tanggal 9, berarti batasnya sampai lusa. Nggak, mustahil
banget lah!
"Kanade-san, jangan-jangan ada misi baru?"
Aku mengangguk lalu memberitahu Chocolat isinya.
"Harus gimana coba kalau begini?"
Misi Yukihira memang sulit, tapi setidaknya tindakan membuat
orang tertawa itu tidak ada unsur mesumnya. Tapi kalau ini, lain ceritanya.
Kalau tidak sengaja melihat karena roknya tersingkap angin sih masih oke, tapi
kalau aku sendiri yang memulai aksinya, itu sih namanya sudah tamat!
"Tenang saja. Aku akan belikan buku 'Sepuluh Cara
Melihat Celana Dalam Gadis'."
"Nggak mungkin ada buku kayak gitu dijual, tahu!"
Lagian, buku cara
bikin tertawa kemarin saja sama sekali nggak berguna.
"Kalau
begitu, aku carikan buku 'Sepuluh Cara Melindungi Lubang Belakang dari
Natsuhiko' saja."
"SEBENARNYA
SIAPA SIH SI NATSUHIKO ITU?!"
"Gay profesional."
"PROFESIONAL?!"
"Iya, levelnya beda jauh sama Kanade-san yang masih gay
amatir."
"Premismu sudah salah dari awal, woi!"
"Eh, apa Kanade-san itu ternyata yang
profesional?"
"Bukan di situ letak salahnya! Aku ini normal,
tahu!"
"Ooh, jadi Kanade-san itu gay tipe standar ya."
"Bukan! Aku ini beneran suka perempuan!"
"Oalah, jadi ternyata kamu biseksual ya?"
"BERISIK
BANGET SIH, WOI!"
2
"Haa......"
Pagi-pagi
sudah dipaksa meladeni obrolan gay yang kental bikin mood-ku anjlok
drastis saat berangkat sekolah. Ditambah lagi, isi misinya malah 'begitu'.
"Mau
dipikir bagaimanapun juga mustahil, kan? Nyuruh lihat celana dalam......
Oh."
Sambil menggerutu, aku sampai di loker sepatu dan menemukan
sosok punggung yang kukenal. Yukihira.
Mengingat kejadian di atap kemarin, aku tidak bisa menebak
reaksi seperti apa yang bakal dia berikan, jadi aku menyapanya dengan agak
ragu.
"......Yo,
selamat pagi, Yukihira."
Yukihira menoleh
dan mata kami bertemu. Setelah
hening sejenak,
"Selamat
pagi, sampah dengan daya tempur lima."
Ternyata
Yukihira yang biasa.
"Pagi-pagi
sudah ngegas saja ya."
"Selamat
pagi, Dodoria-san."
"Kenapa
kamu malah bergaya jadi Frieza, sih......"
"Ngomong-ngomong, harga buronanku itu 530.000 Berry,
lho."
"Itu mah
sudah campur aduk sama manga lain, woi!"
Lagipula kalau
segitu, harganya malah lebih rendah dari bandit gunung biasa, tahu.
"Melihat
reaksimu, sepertinya kamu tidak paham ya seberapa besarnya uang 530.000 Berry
itu."
Iya, soalnya
latar dunianya sudah berantakan jadi aku tidak paham sama sekali.
"Dengan uang
segitu, kamu bisa beli kapsul Hoi-Poi kosong sampai segunung."
"Barang
kayak gitu buat apa dicuma-cuma, sih?"
"Kalau diisi
air, desa Namu bakal terselamatkan."
"REFERENSINYA
KELEWAT MANIAK, WOI!"
Benar-benar
Yukihira yang seperti biasanya.
"Omong-omong
Amakusa-kun, maaf ya soal kemarin aku memperlihatkan sisi yang memalukan."
Kejadian kemarin...... Maksudnya pasti soal dia yang tertawa
terbahak-bahak gara-gara kulit pisang itu. Aku sengaja tidak menyinggungnya,
tapi siapa sangka dia sendiri yang malah buka suara.
"Aku ini sejak dulu memang punya kecenderungan gampang
tertawa. Biasanya sih tidak, tapi sekali saja kena titik selera
humorku—terutama kalau soal lawakan klasik—aku bakal meledak."
Gaya
bicaranya datar-datar saja, tidak terlihat ada tanda-tanda dia merasa malu.
"Yah,
mungkin itu yang disebut gap moe ya."
Malah
sekarang dia berani bilang begitu sendiri. Yah, soal moe atau tidaknya
sih entahlah, tapi mengingat sifat biasanya, memang benar kalau celahnya (gap)
itu luar biasa sih—
Eh? Celah?
Kata itu entah
kenapa terasa mengganjal di hatiku. Apa ya? Rasanya ada yang mengganjal di
lubuk hatiku yang terdalam.
Katanya Yukihira
melakukan tindakan ekstrem dengan menghapus ingatanku karena aku syok berat
setelah melihat adegan terlarang sesama cowok, tapi rasanya bukan itu.
Sepertinya aku melihat sesuatu yang punya 'celah' luar biasa besar......
"Ah, rasanya
aku ingat sesuatu. Yukihira, bukannya di atap tadi kamu sempat merangkak gitu
ya?"
"!?"
Mata Yukihira
membelalak lebar.
"Benar juga,
terus kalau tidak salah kamu menggumamkan sesuatu yang aneh—Hah?"
◆◇◆
"......Lho,
Yukihira?"
Sadar-sadar,
wajah Yukihira sudah berada di posisi miring di atasku. Eh, situasi apa ini? Aku sedang
terduduk dengan punggung menyandar ke dinding?
Kenapa?
Ingatanku tidak
jelas. Tanpa sadar tanganku meraba kepala.
"Aduh!"
Ada benjolan di
bagian belakang kepalaku. Apa yang terjadi sebenarnya? Sambil mengusap-usapnya
aku berdiri, mencoba merapikan ingatanku.
Kalau tidak
salah, aku berangkat sekolah dengan mood rendah gara-gara obrolan gay
Chocolat, lalu menyapa Yukihira di loker sepatu...... terus setelah itu apa ya?
Seolah memutus
pikiranku, Yukihira memanggilku.
"Selamat
pagi, sampah dengan daya tempur lima."
"REFERENSINYA
KELEWAT MANIAK, WOI!"
Setelah membalas
lawakan tentang Namu tadi, percakapan kami mencapai titik jeda. Aku hendak
bertanya apa yang terjadi padaku, tapi,
"Lebih dari
ini berbahaya...... Amakusa-kun, kalau begitu aku duluan."
Dia mengucapkan
kalimat yang tidak jelas maknanya, lalu berbalik dan menaiki tangga.
"O-Ooi."
Langkah Yukihira
terhenti tepat di situ, lalu dia menoleh.
"Ah benar
juga, aku akan senang kalau untuk sementara kamu tidak mendekatiku."
"Hah,
kenapa?"
"Aku merasa
ada 'sesuatu' yang tidak jelas memancar darimu dan rasanya aku bisa
hamil."
"ITU MAH
SUDAH BUKAN MANUSIA LAGI, WOI!"
Yukihira cuma
mengatakan apa yang dia mau lalu menghilang di balik tangga.
Ada apa sih
sebenarnya? Memang ucapan dan tindakan Yukihira itu aneh, tapi yang tadi itu
benar-benar lebih aneh dari biasanya.
Kalau dilihat
dari situasinya, sepertinya Yukihira menghapus ingatanku lagi...... Apa di
tengah percakapan kami tadi, ada sesuatu yang tidak menguntungkan baginya?
"Hmm?"
Tiba-tiba, aku
merasakan kehadiran seseorang di belakangku dan menoleh.
Ada seorang gadis
di sana.
Dia berjalan
lurus ke arahku, tapi sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Dia benar-benar
tenggelam dalam dunianya sendiri sampai tidak menyadari keberadaanku sama
sekali.
Seharusnya aku
tinggal minggir sedikit saja. Tapi, begitu melihat wajahnya dan menyadari siapa
dia, pikiranku mendadak membeku sesaat.
Akibatnya,
tubuhku pun ikut kaku. Gadis itu sendiri masih melamun. Tak terelakkan lagi,
kami tabrakan.
Dug, wajahnya mendarat tepat di dadaku.
"Aduh...... Eh? Eh?"
Barulah di situ
dia menyadari keberadaanku.
"Ah,
ma-ma-ma-maafkan aku!"
Seketika wajahnya
memerah padam, dan dia mundur dengan gerakan heboh yang berlebihan.
"Eh?
Uwawawa!"
Padahal
koridornya rata, tapi entah kenapa dia malah kehilangan keseimbangan.
"Ah,
ba-ha-ya, o-o-o-opps!"
Dia limbung ke
sana kemari seperti mainan keseimbangan yang cuma berdiri pakai satu kaki.
"Hyaaaa!"
Akhirnya, gedebuk,
dia jatuh dengan suara yang cukup keras.
"Uuu......
Sakit."
Mana posisi
jatuhnya nungging seperti ulat jengket lagi. Baru kali ini aku melihat manusia
yang jatuh dengan gaya seperti di komik begini.
"Ternyata benar, kamu Yawakaze Konagi...... kan?"
Tanpa perlu dipastikan lagi, gadis itu adalah peringkat
ketiga Ranking Luar siswi Akademi Seikou, Yawakaze Konagi.
Dengan kata lain,
orang yang celana dalamnya harus kulihat.
"I-Iya, benar sih...... Apa ada sesuatu di
wajahku?"
Gawat, aku terlalu menatapnya terang-terangan.
"Ah, nggak, bukan apa-apa. Kamu nggak luka?"
"Ah, iya,
nggak apa-apa, makasih."
Yawakaze
berdiri sambil menepuk-nepuk kotoran di roknya. Suara yang keluar dari mulutnya
terdengar manis, tapi tidak dibuat-buat, benar-benar suara yang nyaman
didengar.
"Maaf
ya sudah menabrakmu. Habisnya aku lapar banget jadi tadi melamun sampai nggak
lihat jalan...... haha."
Dia tertawa
malu-malu.
Suasana lembut
terpancar dari seluruh tubuhnya seperti angin sepoi-sepoi. Senyum tenangnya
seolah bisa menyejukkan hati siapa pun yang melihatnya.
Yawakaze Konagi
ya. Benar-benar nama yang mencerminkan orangnya (Angin Sepoi yang Lembut).
"Nggak, aku
sih nggak apa-apa, tapi kamu beneran nggak apa-apa? Jatuhnya lumayan keras lho
tadi."
"Ah, iya,
nggak apa-apa kok. Aku sudah terbiasa jatu—Ah."
Di tengah
kalimatnya, tiba-tiba saja, terdengar bunyi dari arah perut Yawakaze.
Kruuukk~
Bunyinya terdengar imut, tapi itu jelas-jelas bunyi perut keroncongan.
"A-Anu,
itu, t-tunggu, b-bukan begitu! Barusan itu gara-gara aku bangun kesiangan, jadi
belum sempat sarapan... Eh,
ah, bukan! Maksudku itu tadi bukan bunyi perutku, kok!"
Padahal aku sudah
niat pura-pura tidak dengar, tapi dia malah membongkar aibnya sendiri. Wajahnya
memerah padam, sementara tangannya bergerak panik tak keruan.
Apa-apaan ini...
Makhluk imut macam apa dia ini?
Jadi ini, ya?
Oke, aku paham. Ternyata begini kekuatan sesungguhnya dari Ranking Luar.
Setelah mengobrol normal pertama kalinya dengan Yawakaze, aku menyadari satu
hal.
Yaitu: ternyata
kalau ada anak perempuan cantik yang sifatnya normal, jadinya bakal seimut ini!
Kalau soal level
wajah, Yuuouji, Yukihira, dan Yawakaze semuanya punya standar super tinggi yang
sulit dibandingkan. Di titik ini, semuanya kembali ke selera masing-masing.
Tapi, "Aura
Gadis" yang dia pancarkan berada di dimensi yang benar-benar berbeda.
Yukihira yang
tiap buka mulut isinya parade makian dan lawakan mesum. Belum lagi Yuuouji yang
tingkah lakunya terlalu bebas dan benar-benar seperti bocah.
Dibandingkan
kedua orang yang sama sekali tidak bisa kuanggap sebagai lawan jenis itu,
betapa femininnya sosok Yawakaze Konagi di depanku ini!
"Eh, apa sih
yang aku pikirkan?"
Sekarang
bukan waktunya membanding-bandingkan mereka. Dalam tiga hari termasuk hari ini,
aku harus menyelesaikan misi tingkat kesulitan neraka: melihat celana
dalam Yawakaze ini saat sedang dia pakai!
"Anu, kamu
Amakusa Kanade-kun, kan?"
Tiba-tiba,
Yawakaze yang sepertinya sudah pulih dari mode malunya mengeluarkan kalimat
yang mengejutkan.
"Eh? A-Ah, iya, benar."
Yah, aku
kan orang terkenal (dalam arti buruk), jadi kalau dia mengenalku sepihak sih
bukan hal yang aneh. Tapi, cara bicara Yawakaze barusan seolah menyiratkan
nuansa lain.
"Ah,
benar ternyata. Ouka-chan sering lho menceritakan tentangmu."
"Ouka-chan? Oh, Yuuouji ya. Kamu kenal dia?"
"Iya, bukan cuma kenal, kami akrab banget. Tahun lalu kami sekelas, lho—"
Yawakaze
tersenyum lebar dengan raut wajah yang tampak senang.
"Hmm?"
Tiba-tiba
perasaan aneh menyerangku. Seharusnya ini pertama kalinya aku berinteraksi
sedekat ini dengan Yawakaze, tapi senyum itu rasanya pernah kulihat di suatu
tempat.
Apa ada orang di
sekitarku yang mirip dia? Rasanya aku tidak mungkin lupa kalau pernah melihat
gadis dengan senyuman semenarik ini... Sial, aku tidak bisa mengingatnya.
Yah, yang harus
kupikirkan sekarang adalah misi, bukan pertanyaan sepele begitu.
Fakta bahwa
Yuuouji dan Yawakaze berteman adalah poin plus besar dalam menjalankan misi ini.
Keberadaan teman bersama sangat efektif untuk memperluas topik pembicaraan.
Mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku Yuuouji benar-benar berguna.
Ditambah dengan
keberuntungan bisa berinteraksi dengannya, ini adalah awal yang tidak buruk.
Yah, aku tidak berharap bisa melihat celana dalamnya hanya dengan sedikit
mengobrol sih, tapi aku merasa ada angin segar yang mendukungku.
Tapi,
sayangnya...
"Apa...
katamu?"
Dewa Kematian
bernama Absolute Choice itu menghancurkan harapan yang baru saja muncul
seolah sedang menertawakanku.
Setelah mengecek
pilihan yang dikirimkan ke otakku, hanya ada satu kata yang terlintas di
hatiku: Fucking God.
"Amakusa-kun,
kamu kenapa?"
Yawakaze menatap
wajahku. Tatapan matanya yang sedikit mendongak dan berkaca-kaca itu—yang
kemungkinan besar dia lakukan tanpa sadar—benar-benar imut. Sumpah, imut banget.
Dan tepat
di hadapan wajah imut itu, aku pun berteriak dengan lantang:
"Daripada
bahas itu, boleh lihat celana dalammu nggak?!"
3
"Ugh...
sial."
Bahkan
saat jam istirahat siang tiba, rasa sakit di tubuhku belum juga hilang. Sambil
telungkup di atas meja, aku mencoba mengingat kembali kronologi kejadian pagi
tadi.
Tepat
setelah aku melontarkan kalimat, "Daripada itu, boleh lihat celana
dalammu?" kepada Yawakaze, tiba-tiba ada seorang murid berbadan bongsor
menepuk pundakku.
Aku tidak
kenal siapa dia, tapi melihat warna dasinya, sepertinya dia kakak kelas kelas
tiga. Belum sempat aku bertanya "Siapa?", lenganku langsung ditarik
dengan kekuatan yang luar biasa.
Tahu-tahu,
aku sudah diseret ke tempat sempit yang gelap. Di sana, sekelompok murid
laki-laki dengan aura mengancam sudah menunggu. Tanpa penjelasan apa pun, mereka langsung
menghajarku habis-habisan—dan mereka SERIUS melakukannya.
Mungkin
itu yang dinamakan Pasukan Pelindung Yawakaze yang sering dirumorkan itu.
Aku
pernah dengar kabar kalau para penggemar Yawakaze membuat perjanjian khusus untuk
saling mengawasi agar tidak ada yang curi start mendekatinya.
Kupikir,
"Emangnya dia artis apa? Bodoh banget sih," tapi ternyata mereka
benar-benar ada.
Padahal
yang namanya Pasukan Pelindung itu cuma sekumpulan murid yang bergerak atas
kemauan sendiri, mereka nggak punya wewenang resmi apa pun.
Seharusnya,
orang yang bukan anggota seperti aku bebas-bebas saja bicara dengan Yawakaze...
selama tidak melakukan pelecehan seksual tingkat ekstrem.
PILIH:
① "Daripada itu, boleh lihat celana dalammu?"
② Lepas celana dalammu di tempat, lalu ajukan tukar
menaruh (ala tukar jersey pemain sepak bola).
Aku tidak punya nyali untuk memilih opsi kedua. Dasarnya,
struktur Absolute Choice itu selalu menyediakan satu pilihan yang buruk,
dan satu lagi yang jauh lebih buruk berkali-kali lipat.
Tapi aku benar-benar merasa bersalah pada Yawakaze. Apa yang dia
pikirkan saat tiba-tiba diminta memperlihatkan celana dalamnya oleh orang yang
baru pertama kali bicara dengannya?
"Amacchi, Amacchi~"
Tiba-tiba pundakku dicolek dari belakang, membuyarkan
lamunanku.
"Yuooji, ya? Aku lagi mikir, nih. Jangan ganggu
dulu," jawabku lesu.
Aku sedang tidak punya tenaga untuk meladeni Yuooji. Hal
yang harus kulakukan sekarang adalah meminta maaf pada Yawakaze karena sudah minta
lihat celana dalamnya, lalu setelah itu memintanya memperlihatkan celana
dalamnya dengan cara yang benar... Ini malah jadi paradoks, sialan!
"Celana
dalam kenapa emangnya?"
"H-hah?!
K-kok kamu tahu?!"
Saking pasnya
waktu dia bertanya, suaraku sampai melengking saking kagetnya.
"Habisnya,
dari tadi pas pelajaran Amacchi gumam 'celana dalam, celana dalam' terus,
sih."
...Gawat, isi
pikiranku bocor lewat mulut!
"Wah, sampai
disebut berkali-kali gitu, apa Amacchi lagi punya masalah soal celana
dalam?"
Gawat, si pembuat
masalah ini mulai tertarik.
"Bukan
apa-apa... cuma masalah sepele."
"Mufufu,
jangan malu-malu gitu, dong. Aku yang dijuluki Kamus Celana Dalam Berjalan ini
bakal dengerin semua curhatanmu~"
Kupikir
julukan itu jauh lebih memalukan daripada masalahku, tahu.
Lagipula, cewek
ini dari tadi teriak-teriak "celana dalam" dengan suara keras, apa
dia nggak punya urat malu ya? Ya, mungkin levelnya sama kayak anak SD yang
girang kalau bilang "tahi" atau "burung", tapi masalahnya
dia ini sudah kelas dua SMA... Yah, namanya juga Yuooji, sih.
"Atau
jangan-jangan, Amacchi cuma pengen lihat celana dalam cewek?"
"Pfft! K-kok
bisa tahu?!"
Aku
tersedak karena serangan mendadak itu.
"Hahaha,
Amacchi, kamu tadi udah ngomong semuanya, tahu! Aku cuma pura-pura cuma denger
dikit doang buat ngerjain kamu."
Apa...
katanya? Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia yang duduk di belakangku
saat aku bergumam soal Yawakaze... Seberapa parah sih aku kalau lagi tidak sadar?!
Tapi,
karena sudah telanjur ketahuan, mau bagaimana lagi. Setidaknya aku harus
menyuruhnya tutup mulut.
"Yuooji,
tolong. Jangan bilang soal ini ke orangnya langsung."
Maksudku,
aku memang sudah minta lihat celana dalamnya secara langsung, tapi kalau dia
tahu aku sampai menggumamkan hal itu di kelas, mau minta maaf kayak gimana pun
hubungan kami nggak bakal bisa diperbaiki.
"Oke,
oke~ Tapi sebagai gantinya, kasih tahu aku dong, kenapa Amacchi pengen banget
lihat celana dalam orang itu?"
"Mana aku
tahu! Sama Yawakaze aja aku baru pertama kali bicar—"
"...Hooh."
Bibir Yuooji menyeringai licin.
"Ho-ho-ho... Jadi Amacchi pengen lihat celana dalam si
Yawakaze Konagi-tan yang masuk jajaran ranking itu, ya?"
Tunggu dulu? Kalau dia sudah tahu dari awal, reaksinya tadi
agak ane—JANGAN-JANGAN?!
"Loh loh loh~ aneh banget ya~ Padahal aku belum bilang
siapa orangnya, tapi kakak ini malah ngasih tahu sendiri. Lucu banget sih~"
Sial...
aku dijebak mentah-mentah.
Licik
sekali metodenya. Apalagi akting meniru detektif bocah berkacamata dari
E-dogawa itu benar-benar bikin naik pitam.
"Nah, karena sudah ketahuan, details please!"
"Nggak mau. Aku nggak mau kasih tahu orang yang pakai
trik interogasi jebakan kayak tadi."
"Mufufu, yakin nih ngomong gitu? Aku sama Konagi-tan itu sobat kental, lho. Gampang
banget buat aku bisikin macem-macem soal Amacchi ke dia~"
Sial... fakta
kalau Yuooji berteman dengan Yawakaze tiba-tiba menjadi ancaman yang sangat
merepotkan.
"Ayo
ayo, mending ngaku sekarang biar lega~"
Mengusir Yuooji
yang sudah dipenuhi rasa penasaran itu susahnya minta ampun. Kalau sudah
begini, daripada disembunyikan dan malah makin parah, lebih baik aku ceritakan
garis besarnya saja supaya dia bisa tenang.
Tentu saja, aku
tidak bisa bilang soal misi atau semacamnya, jadi aku harus sedikit mengaburkan
beberapa bagian. Supaya tidak muncul kesalahpahaman kalau aku melakukannya demi
nafsu pribadi, aku membuka mulut dengan ekspresi seserius mungkin.
"Yuooji.
Sebenarnya, karena suatu alasan, aku harus melihat celana dalam Yawakaze sebelum
hari Sabtu nanti."
"Wah,
Amakusa-san bisa ngomong kalimat se-mesum itu dengan muka serius, gila sih, respect!"
Padahal kamu
yang maksa aku ngomong!
"Tapi
percayalah. Alasannya sama sekali bukan karena niat cabul."
Meski lawanku
bicara adalah Yuooji, aku tetap tidak mau dianggap sebagai pria yang ingin
melihat celana dalam tanpa alasan jelas.
"Hmm, jadi
intinya kamu pengen lihat celana dalam Konagi-tan, tapi sumber keinginannya
bukan karena nafsu mesum, gitu?"
Aku mengangguk.
Melihat celana dalam hanyalah cara untuk lepas dari kutukan Absolute
Choice, bukan tujuan.
"Hooh, jadi
kamu pengen melihat celana dalam dengan hati yang suci, ya? Dalam... dalam
banget, Amacchi. Itu sudah masuk ranah filsafat."
Hei, kalau
alasan begituan dibawa ke filsafat, para filsuf zaman dulu pasti menangis di
kuburannya.
"Eh, kalau
nggak salah ada filsuf yang dijuluki bapak ilmu celana dalam, kan?"
"Minta maaf
sana sama Aristoteles!"
"Tapi ya
tapi ya, nggak cuma filsafat, banyak kok kata-kata mutiara atau peribahasa dari
seluruh dunia yang sebenarnya ada hubungannya sama celana dalam."
Yuooji mulai
melantur ke arah yang makin tidak jelas.
"Nggak ada
satu pun yang kepikiran di otakku, tuh..."
"Semua jalan
menuju celana dalam."
"Nggak ada!
Ibu kota Italia itu bukan pakaian dalam!"
"Wahai
pemuda, gantungkanlah celana dalammu setinggi... eh salah, pakailah celana
dalammu."
"Yang salah
bukan cuma bagian itunya, tahu!"
"Et tu,
Celana Dalam?"
"Harusnya
Brutus!"
"Aku adalah
kucing. Celana dalam belum kupakai."
"Nggak perlu
juga, kali!"
"Karena kau
bilang aroma ini harum, maka tanggal enam Juli adalah Hari Peringatan Celana
Dalam."
"Situasi
macam apa itu?!"
"Celana
dalam tidak menciptakan celana dalam di atas celana dalam."
"Sebenarnya
kamu mau ngomong apa sih?!"
"Saya bisa
melihat diri saya secara objektif. Saya berbeda dengan Anda karena saya memakai
celana dalam!"
"Ya
iyalah!"
Sial... aku
benar-benar masuk ke dalam ritme permainan Yuooji.
"Tapi ya
tapi ya, kenapa harus Konagi-tan? Kamu suka dia?"
Justru aku yang
ingin menanyakan hal itu pada diriku sendiri.
"Nggak,
bukan perasaan cinta."
Yah, memang
setelah mengobrol tadi, aku merasa dia sangat manis itu fakta, dan kalau
ditanya suka atau tidak, aku pasti jawab suka. Tapi itu lebih ke arah rasa suka
fans kepada idola di TV, bukan "suka" dalam arti yang dimaksud
Yuooji.
"Jadi
intinya Amacchi pengen lihat celana dalam cewek yang bahkan nggak kamu
sukai?"
"Ya... kalau
disimpulkan begitu, sih iya."
"Mau
melucuti celana dalam cewek yang nggak disukai terus di-endus-endus?"
"Siapa juga
yang bilang mau sampai segitunya?!"
"Setelah
dilucuti dan di-endus, terus mau di-gyoi-gyoi, di-ogena-ogena,
terus di-nyugyanga-nyugyanga?"
"NGOMONG
PAKAI BAHASA MANUSIA DONG!"
Tepat saat aku
berteriak keras, tiba-tiba ada suara dari belakang.
"Anu...
Amakusa-kun, maaf ya mengganggu kesenangan kalian..."
Saat aku menoleh,
Ketua Kelas (si kacamata cantik) sedang menatapku dengan pandangan ragu. Eh, aku nggak lagi
bersenang-senang ya! Meladeni anak ini tuh capek banget, serius!
Tapi
lupakan soal itu. Kenapa Ketua Kelas kita yang terkenal selalu tersenyum pada
siapa pun ini malah menunjukkan ekspresi antara takut dan jijik?
Dia pasti
dengar percakapanku dengan Yuooji tadi. Jangan bilang dia menganggap serius
candaan barusan dan mengira aku bakal melakukan gyoi-gyoi atau apa pun
itu... Sial, dia pasti
menganggapnya serius.
"Ada tamu
buat Amakusa-kun."
Aku mengikuti
arah pandangan Ketua Kelas.
"Tamu? Siapa
j—eh?"
Di koridor,
berdiri seorang gadis. Dia adalah Yawakaze Konagi.
"Woi, itu
kan Yawakaze?" "Gila, makin bening aja." "Kenapa dia nyari
Amakusa...?"
Teman-sekelas
yang menyadari keberadaannya mulai berbisik-bisik. Kegaduhan mulai menyebar.
"Ah,
Konagi-tan si Celana Dalam datang."
"Berhenti
manggil dia kayak gitu!"
"Ah,
Konagi-tan yang celana dalamnya mau dilihat Amacchi datang."
"ITU
MALAH MAKIN JANGAN!"
Aku
berusaha sekuat tenaga menahan Yuooji yang mau ikut campur, lalu bergegas
keluar ke koridor dan menutup pintu kelas di belakangku.
"Yawakaze, ada
apa sampai datang ke sini?"
Kupikir dia mau
komplain soal pelecehan verbal tadi, tapi auranya tidak terasa seperti itu. Dan
melihat sifatnya, sepertinya tidak mungkin dia marah-marah.
Selagi aku ragu
harus bicara apa, Yawakaze membuka suara duluan.
"Anu, ini...
apa mungkin punya Amakusa-kun?"
Di tangannya, dia
memegang sapu tangan motif kotak-kotak biru.
"Eh? Ah,
benar, itu punyaku. Ternyata jatuh, ya? Aku sama sekali nggak sadar."
Mungkin jatuh
dari saku saat aku diculik Pasukan Pelindung tadi. Tapi dia mau repot-repot
mengantarkannya? Ke cowok yang tiba-tiba ngomong mesum saat pertama kali
bertemu?
"Syukurlah
kalau benar."
Bahkan, dia sama
sekali tidak terlihat merasa jijik padaku. Kenapa dia bisa tersenyum semanis
itu? Apa dia ini malaikat?
"Maaf ya
merepotkan, terima kasih banyak."
"Ah, iya,
nggak masalah kok, tapi..."
Urusannya
seharusnya sudah selesai, tapi Yawakaze tidak kunjung pergi. Melihat wajahku yang
keheranan, dia sedikit memerah, menunduk, dan berbicara dengan malu-malu.
"Anu...
soal yang tadi pagi..."
Sudah
jelas, maksudnya adalah soal permintaanku melihat celana dalam. Aku tadi
kehilangan momen untuk minta maaf dan bingung harus bagaimana, tapi aku tidak
menyangka Yawakaze yang akan membahasnya duluan.
"Maksudmu
itu... aku minta maaf, ya."
"Ah, bukan
kok! Aku nggak bermaksud minta kamu minta maaf. Cuma... itu pertama kalinya ada
laki-laki yang bilang begitu padaku."
Ya, tentu saja
begitu.
"Anu... maaf
ya. Rasanya malu sih ngomong begini... tapi menurutku, pakaian dalam itu cuma
boleh diperlihatkan kepada orang yang kita sukai saja."
"GUBAHHH!"
Aku merasa seolah
baru saja muntah darah. Serius. Apa-apaan ini?! Ini curang, tahu! Siapa sih
orang ini? Apa dia nggak punya rasa curiga sama sekali? Apa lingkungannya cuma
berisi orang-orang suci? Selama belasan tahun hidup, apa dia nggak pernah
melihat betapa kotornya dunia ini?
Aku jadi sedikit
paham perasaan Pasukan Pelindung itu. Gadis ini bukan untuk dimiliki sendiri,
tapi harus... apa ya, dijaga bersama-sama secara adil.
Dan di saat yang
sama, rasa bersalah yang luar biasa menyerangku. Apa yang tadi kukatakan pada
gadis ini? Lihat celana dalam? ...Aku mending mati saja.
"SAYA MINTA
MAAF SEBESAR-BESARNYA!"
Aku baru tahu
kalau dogeza (sujud meminta maaf) itu bukan sesuatu yang dilakukan
karena keinginan, tapi terjadi secara otomatis.
"A-Amakusa-kun,
nggak perlu sampai begitu..."
Yawakaze mencoba
menenangkanku, tapi aku tidak bisa mengangkat dahiku dari lantai.
Aku
bersumpah. Persetan dengan Absolute Choice, persetan dengan kutukan,
persetan dengan misi! Masa bodoh! Tuhan? Bodo amat! Aku nggak bakal mau jadi
budak pilihan itu lagi. Kalau mau protes, sini—
PILIH:
① "Terus, kapan kamu mau kasih lihat
celana dalammu?"
② Menjadi celana dalam sekalian.
...Pilihan-san,
kamu tahu nggak sih istilah "baca suasana"? Harusnya di saat seperti
ini kamu jangan muncul, dong! Orang lagi mau tobat malah diganggu, apa sih
maunya? Bodoh ya? Mau mati?
...Oke, diabaikan
ya.
Lagian apa-apaan
pilihan ini? Nomor
satu isinya sampah seperti biasa, tapi nomor dua lebih nggak jelas dan
mengerikan. Kalau itu artinya harfiah, aku bahkan nggak bakal jadi manusia
lagi!
Kalau ini
di video game, mungkin aku bakal pilih nomor dua buat seru-seruan, tapi di Absolute
Choice, nggak ada yang namanya save atau reset.
Hasilnya,
dengan metode eliminasi, aku cuma bisa pilih nomor satu.
Biasanya
aku bakal pasrah sambil menangis, tapi hari ini aku berbeda. Mengotori telinga
Yawakaze Konagi dengan kata-kata rendah seperti itu tidak bisa dimaafkan!
"Guh..."
Tapi tentu saja,
resolusiku itu tidak dipedulikan oleh si sistem pilihan. Rasa sakit di kepala
mulai menyerang sebagai peringatan.
Rasa sakit yang
seperti meremas otak ini akan terus menguat tanpa batas sampai aku memilih
salah satu.
Tapi, saat ini
juga, akan kubunuh pilihan konyolmu itu!
"GUUUUGH!"
Aku mencoba
melawan sekuat tenaga seperti pria yang sanggup memukul wajah wanita (?), tapi
tidak ada efeknya sama sekali.
"Anu,
Amakusa-kun, apa kamu sakit? Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak,
nggak apa-ageroegueeeh!"
Saking sakitnya,
suara aneh keluar dari mulutku. Gawat, gawat, ini beneran gawat! Kali ini
rasanya lebih parah dari biasanya! Kalau didiamkan, aku bisa mati beneran!
Yawakaze... maafkan
aku!
"Guh...
haah... haah... Terus... kapan... kamu mau... kasih lihat... celana
dalammu?"
Karena menahan
sakit luar biasa, suaraku malah terdengar sangat mesum, tapi begitu kalimat itu
terucap, rasa sakitnya langsung hilang seperti bohong belaka.
"Eh? Eh? Ce-celana dalam?! I-iya, kan tadi aku bilang, hal itu cuma buat
orang yang disukai—"
Wajah Yawakaze memerah padam dan dia tampak kebingungan. Manis
sekali. Sumpah, manis banget.
Saking imutnya, aku sampai hampir lupa kalau aku baru saja
melontarkan kalimat paling sampah di dunia, sampai tiba-tiba ada sebuah tangan
mendarat di pundakku.
"Siapa—GEK!"
Saat aku menoleh, yang kulihat adalah wajah seseorang yang
sangat kukenal.
"Ikut gua sebentar, yuk."
4
"Ugh... sialan."
Di tempat aku diseret tadi, yang menungguku hanyalah badai
makian dan aliran kekerasan yang tiada henti.
"Berani-beraninya bajingan kayak kamu ngelakuin itu ke
Yawakaze-san!"
"Si 'Reject 5' kayak kamu itu seratus tahun terlalu
dini buat bicara sama Konagi-chan!"
"Hinaanmu terhadap Yawakaze-taso kami layak diganjar dengan
sepuluh ribu kematian, nari!"
"Eh? Tapi pantat bocah ini bentuknya lumayan bagus juga
ya?"
...Kalimat terakhir itu, aku sangat berharap kalau aku cuma
salah dengar.
Tapi serius,
apa-apaan pertahanan tembok besi itu?
Katanya mereka menjaga (?) Yawakaze secara bergantian setiap jam
istirahat, tapi kalau dilihat-lihat itu sudah hampir seperti stalker.
Sambil memecut tubuhku yang sudah menjerit kesakitan, aku
entah bagaimana caranya berhasil sampai kembali ke kelas.
"Oho,
sepertinya kamu baru saja dihajar habis-habisan lagi ya."
Saat aku menuju
bangku, Yuuouji sudah menunggu dengan seringai di wajahnya.
"Amacchi,
mau aku bantu nggak?"
"Hah?"
"Soal celana
dalam Konagi-tan, aku bakal bantuin~"
Apa-apaan yang
diucapkan anak ini?
"Kenapa?"
"Soalnya
menarik."
Jawaban instan.
"Menarik
katamu? Kamu ini..."
"Hmm? Ada
yang aneh? Lagian ngapain juga ngelakuin hal yang nggak seru?"
Melihat Yuuouji
yang menjawab dengan wajah datar, aku sampai kehilangan kata-kata.
Melakukan sesuatu
karena menarik. Tidak melakukan karena tidak seru. Itu benar-benar teori anak
kecil.
Manusia itu,
seiring dengan pertumbuhannya, akan memikul berbagai urusan dan batasan yang
menghambat tindakannya.
Memang tidak bisa
dibandingkan dengan orang dewasa yang sudah bekerja, tapi untuk level anak SMA,
batasan itu seharusnya sudah cukup banyak.
Mana mungkin dia bisa bertahan hidup hanya dengan prinsip
sesederhana itu... Tapi tunggu, kalau mengingat tingkah laku Yuuouji selama
ini, sepertinya hal itu tidak sepenuhnya mustahil, dan itu mengerikan.
"Nggak, tetap saja aneh. Aku ini kan mau melihat celana
dalam temanmu sendiri, tahu."
"Amacchi itu, kayaknya ada yang nggak natural ya."
"Hah?"
Balasan dari Yuuouji bukanlah jawaban langsung.
"Kamu kan selalu ngomong atau ngelakuin hal-hal aneh.
Hal itu tuh, rasanya kayak bohong banget gitu lho~"
Seketika, tubuhku menegang.
"Tapi ya, kayaknya bukan karena akting atau kepribadian
ganda juga. Aku nggak terlalu paham sih, tapi rasanya kayak sesuatu yang
dipaksakan dan keinginanmu sendiri itu bercampur aduk jadi satu? Pokoknya,
kamu... pasti lagi nyembunyiis sesuatu kan?"
Ucap Yuuouji sambil memamerkan tawa "nihihi"-nya.
Aku menelan ludah. Meski dia tidak menyadari keberadaan Absolute
Choice secara spesifik, dia berhasil menebak intisarinya dengan tepat
sasaran.
"Karena
itulah, Amacchi itu menarik buat ditonton, makanya kamu jadi objek
pengamatanku!"
Tiba-tiba, dia
mendekatkan wajahnya dengan sangat cepat sampai-sampai dahi kami hampir
bersentuhan.
"O-oi!"
Aku buru-buru
menarik diri.
Mau semanja atau se-kekanak-kanakan apa pun sifatnya, Yuuouji tetaplah seorang gadis cantik level super-SMA.
Jika wajahnya
mendekat sampai ke jarak sejauh itu, mustahil bagi seorang cowok normal
sepertiku untuk bisa tetap tenang. Itu permintaan yang nggak masuk akal.
"Hmm?"
Sebaliknya,
Yuuouji tampak sama sekali tidak merasakan apa-apa. Anak ini... serius dia
sudah enam belas tahun?
Memang sih,
tinggi badannya termasuk mungil, tapi dadanya besar nggak kira-kira, ditambah
lekuk pinggang yang terlihat dari balik blus yang terlalu pendek itu... Secara
fisik dia bahkan tumbuh terlalu pesat, tapi isinya sama sekali nggak sinkron.
"Kamu ya,
sedikit lebih malu-malu kek... Ah, sudahlah, nggak jadi."
"Eh?"
Memberi tahu
perasaan semacam itu lewat kata-kata sepertinya mustahil bagi dia. Levelnya
sudah sampai di tahap aku curiga jangan-jangan dia masih mandi bareng bapaknya
sampai sekarang.
"Fufu,
Amacchi, mau kamu benci kayak gimana pun, kamu nggak bakal bisa lari dari
pengamatanku~"
Yuuouji malah
salah paham soal alasanku menarik diri. Meski jenis kelamin dan arahnya
berbeda, tingkahnya ini entah kenapa mengingatkanku pada protagonis bebal di
manga atau anime harem.
Padahal
jelas-jelas dikelilingi aura cinta, tapi kebebalan karakter-karakter itu
benar-benar di level yang bikin pengen bunuh orang.
Ah, topiknya jadi melantur... Itu cuma perasaan iri dengkiku
saja, jadi lupakan. Intinya, aku baru sadar kalau di dunia nyata pun memang ada
orang yang bisa sangat peka tapi bebal di bagian tertentu.
Apalagi setelah dia menunjukkan "penciuman" yang
begitu tajam terhadap keberadaan Absolute Choice, kesenjangan sifatnya
ini jadi makin terasa mencolok.
"Yah, selama
sebulan ini aku jadi makin paham soal Amacchi, sih. Soal yang tadi—kalau tujuan
utamamu bukan karena mesum—itu kayaknya emang bener."
Tiba-tiba Yuuouji
mengembalikan topik ke pembicaraan yang sudah lewat jauh. Nada bicaranya
terdengar sangat yakin.
"Yah, meski
aku sendiri yang bilang, apa kamu beneran percaya sama omongan yang kedengaran
bohong begitu?"
"Kenapa
emangnya? Kalau sama orang yang sudah akrab, kita bisa tahu kok dia jujur atau
nggak cuma dari mata atau ekspresinya."
Ucap Yuuouji
dengan santai, seolah-olah itu hal yang lumrah. Repotnya, kalau dia yang bilang
begitu, rasanya jadi nggak kedengaran kayak bohong.
"Yah,
terlepas dari itu, Konagi-tan itu terlalu nggak punya imun sama cowok. Makanya
aku merasa kalau dia nggak 'dipaksa' ngelihatin celana dalamnya sesekali
sekarang, dia bakal kena sial yang lebih parah nantinya~"
Terlepas dari urusan celana dalam, aku setuju soal itu.
Di SMA Seimitsu, hampir nggak ada murid yang berperilaku
buruk, apalagi ada Pasukan Pelindung sebagai tameng pamungkas. Jadi untuk
sekarang sih aman-aman saja. Tapi kalau nanti Yawakaze kuliah di Jakarta—eh
maksudku Tokyo—sendirian, dia pasti bakal langsung ditipu sama cowok-cowok playboy
lalu di-inguri-monguri-kan.
Setidaknya kalau aku jadi cowok playboy, aku pasti
bakal melakukan hal-inguri-monguri itu padanya. Ya, itu
"kalau" aku jadi playboy sih.
Tapi ternyata Yuuouji bisa perhatian juga ya kalau soal
urusan orang lain.
Yah, pas lagi kumpul bertiga bareng Yukihira pun, sepertinya
dia paham sama lelucon kotor Yukihira yang sadis itu. Jadi bukannya dia nggak
punya pengetahuan, cuma pengetahuannya itu nggak pernah dia hubungkan dengan
dirinya sendiri.
"Wah, makin seru nih!"
Tanpa memedulikan pikiranku, Yuuouji bersorak kegirangan
dengan ekspresi seperti anak kecil.
"Ah..."
Melihat sosoknya itu, tiba-tiba aku menyadari identitas dari
rasa deja vu yang kurasakan terhadap Yawakaze tadi.
Ternyata
orangnya ada di depanku sekarang, si Yuuouji ini.
Nggak
mungkin sih Yuuouji dan Yawakaze itu dibilang mirip. Malah aku merasa mereka itu
dua orang yang berada di kutub yang berlawanan. Tapi ini bukan soal ucapan, penampilan, atau level
permukaan lainnya. Melainkan sesuatu yang... apa ya, bagian dasarnya itu mirip.
Baik Yuuouji
maupun Yawakaze, aku merasa mereka mengeluarkan isi hati mereka secara langsung
tanpa melewati filter yang nggak perlu.
Kalau harus
diungkapkan dengan kata-kata, mungkin istilah "murni" adalah yang
paling mendekati.
Hakikat manusia
seperti itu biasanya muncul dalam sekejap lewat ekspresi atau gerakan. Itulah
kenapa aku bisa mendapat kesan yang sama dari dua orang yang sebenarnya nggak
ada mirip-miripnya ini.
Tapi ya, meski
bagian dasarnya sama, vektor tujuannya benar-benar bertolak belakang. Kalau
Yawakaze, kemurniannya mengarah ke jalan yang benar, kemurnian tipe protagonis.
"Fufufu,
tunggu ya Konagi-tan. Aku
bakal mengekspos celana dalammu~"
Melihat
wajah jahat Yuuouji yang sedang menyusun rencana licik untuk memperlihatkan
celana dalam sahabatnya sendiri kepada seorang cowok dengan riang gembira, satu
frasa aneh terlintas di kepalaku: "Kemurnian yang Kotor".
5
"……Haa."
Begitu
sampai di depan pintu depan rumah, aku menghentikan langkah sejenak. Rasanya beberapa hari terakhir ini aku
cuma bisa menghela napas.
Tadi sepulang
sekolah, aku sudah mencoba menemui Yawakaze untuk minta maaf, tapi Pasukan
Pelindung sialan itu menghalangiku sampai-sampai aku tidak bisa mendekat
sedikit pun. Sepertinya karena dua aksi pelecehan berturut-turut yang
kulakukan, aku sudah resmi masuk daftar hitam mereka.
Yuuouji pulang
dengan wajah riang sambil bilang kalau dia bakal menyiapkan rencana rahasia
buat besok, tapi jujur saja, aku nggak bisa berharap banyak padanya. Sekarang, bisa dibilang hampir
tidak ada titik terang sama sekali.
Yah, tapi
titik terang macam apa juga yang bisa diharapkan buat urusan "melihat
celana dalam", sih?
"Ah,
selamat datang di rumah, Kanade-san!"
Saat aku
membuka pintu dengan suasana hati yang rendah, Chocolat berlari menghampiriku
dengan ceria—tetete.
"Lho,
kok kayaknya lemas banget?"
"Iya,
nih. Misi kali ini kayaknya
bakal suram."
Mendengar itu,
entah kenapa Chocolat malah menyeringai.
"Fuffu, aku
punya kabar gembira buat Kanade-san kalau begitu. Aku habis nemuin barang
bagus, lho!"
Dia menyerahkan
sebuah buku. Jangan-jangan soal "melihat celana dalam cewek" yang dia
bilang pagi tadi?
"10
Metode Mendapatkan Celana Dalam dari Gadis ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi
ERO-ERO KING!~"
"Malah
datang barang yang lebih parah!"
Lagian maksudnya
"mendapatkan" itu apa, sih? Dan itu sub-judulnya tolong kondisikan
seleranya.
Yah, paling
isinya cuma sampah nggak berguna kayak yang sebelumnya...
"Aku sudah
berjuang keras mencarinya demi Kanade-san, lho!"
Melihat aura
"tolong puji aku" milik Chocolat dan rambut kuncirnya yang
bergerak-gerak lincah seperti ekor, aku jadi nggak tega kalau harus langsung
membuang buku itu.
"Yah... coba
aku intip dikit deh."
"Siiip!"
Ditemani Chocolat
yang matanya berbinar-binar, aku pindah ke ruang tengah, duduk di sofa, lalu
membuka buku tersebut.
Seperti biasa,
jumlah halamannya banyak nggak karuan, tapi karena ada halaman rangkuman
poin-poin penting seperti buku sebelumnya, aku memutuskan untuk membaca bagian
itu saja.
《① Mencuri》 Baru nomor satu sudah ekstrem banget, woi!
《Penjelasan: Ini adalah langkah terakhir.》 Kalau gitu jangan ditaruh di nomor satu
dong! Lagian jangan merekomendasikan tindakan kriminal juga!
《② Memohon sambil menangis tersedu-sedu》 Duh, ini gimana ya? Maksudnya aku harus
sujud sambil nangis minta dikasih celana dalam... Membayangkan skenario absurd
itu saja sudah bikin aku... nggak mungkinlah.
《Penjelasan: Contoh konkret: 'Ugh... hiks...
k-kasih dong, celana dalammu... kasih aku... eh? Nggak mau? ...Huuu...
nggak mau nggak mau! Pokoknya aku mau celana dalam... uuu... kasih dong...'》
Orang di contoh ini apa nggak punya harga diri sama sekali?!
《Tambahan: Air matamu yang hangat pasti akan
menyentuh hatinya.》 Bahkan kalau dunia kiamat pun nggak bakal
tersentuh, tahu!
《③ Coba minta dengan alasan: 'Aku lupa pakai celana dalam nih, boleh pinjam
punyamu nggak?'》 Memangnya ini baju olahraga apa, santai banget
mintanya!
《Penjelasan: Kuncinya adalah mengatakannya sesegar
mungkin sambil memperlihatkan gigi putihmu yang berkilau.》 Itu malah nambah tingkat kejijikannya,
bego!
《Tambahan: Jika kebetulan celana dalam yang sedang
dipakai si gadis berwarna putih, dia mungkin akan berpikir, 'Wah, kebetulan
yang luar biasa. Kalau begini aku nggak punya pilihan selain meminjamkannya'.》 Isi kepala cewek macam apa yang mikir
kayak gitu!
《④ Gunakan Silogisme》 Silogisme? Ah, aku pernah baca soal itu. Kalau
nggak salah kayak: "Semua manusia pasti mati", "Aku adalah
manusia", "Maka, aku pasti mati". Menarik kesimpulan dari premis
mayor dan minor.
《Penjelasan: Contoh konkret: 'Semua laki-laki suka
celana dalam perempuan', 'Aku laki-laki dan kamu perempuan', 'Maka, berikan
celana dalammu padaku'.》 NGGAK ADA LOGIKA-LOGIKANYA SAMA SEKALI!
《⑤ Gunakan Evolusi Tiga Tahap Perampasan Celana Dalam》 Evolusi tiga tahap? Aku belum pernah
dengar yang itu.
《Penjelasan: Singkap Rok → Turunkan Celana Dalam →
Ambil Celana Dalam》 ITU MAH TAHAPAN KRIMINAL, WOI!
《Tambahan: Entah kenapa frasa 'Monster Pengambil
Celana Dalam' terlintas di otakku, jadi aku tulis saja.》 Simpan saja di dalam otakmu sendiri!
《⑥ Beli di toko khusus》 Yah... memang itu cara paling cepat sih, tapi
rasanya ada yang salah...
《Penjelasan: Uang memang tidak bisa membeli
kebahagiaan, tapi bisa membeli celana dalam bekas pakai.》 Bahasanya realistis banget ya...
《Tambahan: Namun, ada orang yang mendapatkan
kebahagiaan setelah memiliki celana dalam bekas... Sebenarnya, apa sih
arti kebahagiaan itu?》 MANA SAYA TAHU!
《⑦ Angkat
tinjumu ke langit lalu teriak: 'BERIKAN AKU CELANA DALAM GADIS ITU!'》
Itu kan... yang dilakukan Oolong di zaman-zaman awal Dragon Ball...
《Penjelasan: Kalau dilakukan
saat tidak ada Shenron, kamu cuma bakal kelihatan kayak orang stres.》
Berarti aku cuma bakal kelihatan kayak orang stres dong!
《⑧ Karena bukan
celana dalam, jadi aku nggak malu!》 Kamu cuma pengen ngomong kalimat itu doang
kan!
《Penjelasan: Maaf, aku cuma pengen ngomong itu
doang.》 Sudah kuduga!
《⑨ Masuk ke ajaran Agama Celana Dalam》 Tingkat keabsurdannya sudah
mencapai puncak. Apa-apaan sih itu...
《Penjelasan: Dalam pertemuan rutin Agama Celana
Dalam, jemaat hanya diperbolehkan memakai sehelai celana dalam saja.》 Kalau tempat kayak gitu beneran ada, itu sih namanya surga.
《Tambahan: Namun, pendaftaran hanya terbatas untuk
laki-laki saja.》 MAHO DONG!
《⑩ Mencuri》 BALIK LAGI KE NOMOR SATU?!
《Penjelasan: Soalnya... soalnya aku beneran nggak
bisa mikir satu lagi.》 KALAU GITU JANGAN DITERBITIN!
《Tambahan: Tenang saja, buat kamu yang sudah
membaca sampai sejauh ini, pasti bakal bisa kepikiran cara buat mendapatkan
celana dalam dari gadis.》 LAU AJA NGGAK KEPIKIRAN, APALAGI GUA!
《SEMANGAT!》 BERISIK!
"Parah...
ini sih parah banget."
Aku memang sudah
siap mental, tapi ternyata isinya jauh lebih sampah dari dugaanku.
"Eh, separah
itu ya? Padahal laporan pengalaman di Agama Celana Dalam ini seru banget,
lho."
"Nggak...
itu cuma karena cocok sama selera pribadimu yang sudah rusak saja."
"Ngomong-ngomong,
sembilan puluh persen isi buku ini memang tentang Agama Celana Dalam."
"BERARTI INI
FIX PENIPUAN JUDUL!"
Sudah jelas, ini pasti diterbitkan oleh UOG Publishing.
Bukan berarti Yuuouji yang menulisnya langsung sih, tapi gara-gara melihat
benda ini, harapanku pada Yuuouji jadi makin tipis.
"Nah,
silakan, Kanade-san."
Entah kenapa
Chocolat menyodorkan kepalanya ke arahku... Maksudnya minta dielus?
"Ehehe."
Yah, akhirnya
kulakukan juga. Rambut kuncirnya berdiri tegak dan Chocolat menunjukkan senyum
lebar di wajahnya.
Yah, dia
membelikan buku ini karena memikirkanku, itu sudah pasti. Kalau cuma begini
saja dia sudah puas, ya sudahlah. Lagipula, jujur saja aku merasa dia agak
imut... sedikit sih.
Nggak, ini cuma
rasa sayang sebagai peliharaan kok—
"Eh, kamu
ngapain?"
Tiba-tiba
Chocolat berkacak pinggang sambil membusungkan dadanya.
"Ayo,
silakan puji aku sepuas hati!"
Kan tadi sudah
dielus.
"Kenapa?
Jangan sungkan-sungkan. Ayo, banjiri aku dengan pujian yang meluap-luap... Ah,
jangan-jangan kamu sampai gemetar dan nggak bisa berkata-kata karena jasaku
yang terlalu luar biasa? Fufun, kalau gitu hadiah yang lebih langsung juga
boleh kok. Ah, ngomong-ngomong aku pengen makan daging sapi wagyu buat
makan malam har—"
"Jangan
ngelunjak ya."
Aku menyentil
dahinya pelan.
"Auu!
K-Kanade-san pelit..."
Rambut kuncirnya
langsung lemas seketika. Serius deh, itu mekanismenya gimana sih?
"Ah,
ngomong-ngomong Kanade-san, tadi kamu bilang misinya kayaknya bakal susah, apa
kamu sudah sempat bicara sama Yawakaze-san?"
Sikap sok
manisnya nggak tahan sampai sepuluh detik. Dia langsung bertanya lagi dengan
senyuman seolah nggak terjadi apa-apa. Level pergantian suasana hatinya nggak
masuk akal.
"Yah,
kalau bicara sih sudah..."
Daripada
dia balik lagi minta dipuji, lebih baik aku jelaskan kronologi kejadian hari
ini pada Chocolat.
"Begitu
ya~ Sampai mengincar pantat Kanade-san, ya? Ternyata anggota Pasukan Pelindung
itu ada yang punya selera bagus juga."
Malah
bagian yang paling nggak penting yang dia komentari. Yah, tapi aku juga kenapa sih harus cerita sampai
bagian itu segala?
"Maksudku,
Yawakaze itu terlalu murni, tahu. Jadi aku merasa berdosa banget kalau harus
menyeret dia ke urusan sampah kayak minta lihat celana dalam."
"Humm,
begitu ya. Kalau gitu pas banget. Buat membiasakan diri dengan rasa bersalah,
kamu boleh kok latihan pakai aku."
"Hah?
Kenapa?"
Aku sama sekali
nggak paham bagian mana yang "pas banget".
"Kanade-san,
menurutku nggak ada makhluk yang semurni aku di dunia ini. Ayo ayo, silakan mau
bicara atau apa pun sepuasnya!"
Oalah, si anjing
satu ini nggak sadar diri ya. Kayaknya kali ini aku harus bilang jujur.
"Chocolat,
aku kasih tahu satu hal ya. Murni sama bego itu kelihatannya mirip, tapi
aslinya beda jauh kayak langit dan bumi."
"Eh, jadi
Yawakaze-san itu aslinya bego?"
"YA KAMU ITU
YANG BEGO!"
"Eh? ...Eh?"
"KENAPA KAMU NGGAK NYAMBUNG-NYAMBUNG SIH!"
Melihat aku yang mulai membentak, Chocolat malah menepukkan
tangannya.
"Ah, aku
paham sekarang. Ternyata mata Kanade-san itu sudah busuk ya."
"YANG BUSUK
ITU OTAKMU, WOI!"
6
Keesokan paginya,
begitu Yuuouji melangkah masuk ke kelas, dia langsung berteriak:
"Ah, Amacchi
si Shogun Agung Penakluk Celana Dalam Yawakaze, selamat pagi!"
"Julukannya
kepanjangan, nggak enak didengar, dan suaramu keberisikan, tahu!"
Tentu saja aku
cemas dengan tatapan teman-sekelas, tapi kalau sampai kata-kata itu bocor ke
telinga Pasukan Pelindung, aku nggak tahu lagi apa yang bakal mereka lakukan
padaku kali ini. Aku langsung menyeret Yuuouji ke tempat duduknya.
"Omong-omong,
Amakusa-aniki, apa kamu sudah kepikiran cara buat melihat celana dalam yang
sangat krusial itu?"
Aku
menggelengkan kepala dalam diam. Lagipula, aku merasa masalah dalam misi kali ini bukan soal metodenya.
Kalau aku berani menempuh jalan fisik seperti memaksa menyingkap roknya sih
beda cerita, tapi hal itu mustahil kulakukan—baik secara etika maupun
keberanian.
Lantas, apa yang
harus kulakukan? Aku sudah memikirkannya semalaman sampai kurang tidur, tapi
ujung-ujungnya tetap buntu.
"Konagi-tan
itu kan gadis ceroboh tingkat dewa, mungkin saja dia bakal jatuh sendiri terus
terjadi pan-chira (celana dalam mengintip) secara nggak sengaja~"
Yah, sejak
pertama kali bertemu pun dia memang langsung jatuh, sih. Tapi, rok Yawakaze yang
sangat patuh pada peraturan sekolah itu jauh lebih panjang dibandingkan siswi
lainnya. Benar-benar
bak bumi dan langit dengan rok Yuuouji yang dipendekkan sampai batas maksimal.
Mengingat kemarin saja saat dia jatuh tersungkur posisi pantatnya sama sekali
nggak menampakkan tanda-tanda "pemandangan", sepertinya berharap pada
keberuntungan itu bakal sulit.
Apalagi
dengan sisa waktu yang terbatas, aku tidak boleh hanya mengandalkan faktor
kebetulan.
"Mungkin
saja bakal ada adegan ala manga shoujo di mana dia lari terburu-buru
karena takut telat, lalu tabrakan di tikungan. Terus, karena salah ambil, dia
malah lari sambil menggigit celana dalam alih-alih roti panggang."
"Nggak
mungkin, woi! Cewek mana yang saking paniknya sampai nggak bisa bedain roti
panggang sama celana dalam?!"
"Oh,
kalau kamu bilangnya begitu, memang kedengarannya nggak mirip sama sekali
ya."
"Bukan
itu masalahnya! Memangnya ada orang yang salah ambil cuma gara-gara bunyinya
mirip?!" (T/N: Pan berarti roti dalam bahasa Jepang).
"Eh,
tapi Antonio Inoki sama Little Inoki kan mirip banget."
"Itu
mah emang orangnya sengaja dimirip-miripin!"
Anak ini
lagi bercanda atau gimana sih... ya, pasti lagi bercanda, sih.
"Fuffu,
tenang saja Amacchi. Yang tadi itu cuma pemanasan, senjata rahasianya ada di
sini!"
Yuuouji
mengeluarkan sebuah botol kecil mencurigakan dari sakunya.
"Oi...
jangan-jangan itu 'Abazuren Z' lagi?"
"Ah, bukan
kok. Yang itu sudah ketahuan dan disita. Katanya terlalu berbahaya."
Aku sedikit lega.
Ternyata cuma dia saja yang aneh, sedangkan UOG sendiri sepertinya masih punya
etika perusahaan yang waras. Yah, sebagai perusahaan raksasa, itu sudah
sewajarnya sih, tapi mengingat adanya kasus UOG Publishing... menurutku divisi
yang itu sebaiknya segera dibubarkan saja.
"Karena
itulah, aku sudah meracik obat baru. Jreeng!"
Yuuouji
mengangkat botol kecil itu tinggi-tinggi. Racikan baru? Obat? Apa obat bisa
dibuat hanya dalam waktu semalam?
"Nih,
silakan~"
Aku menerima
botol itu dengan rasio harapan 10% dan kecemasan 90%. Melihat teksturnya yang
agak kental, sepertinya ini bukan obat minum, melainkan obat oles. Saat melihat
labelnya, tertulis tulisan tangan: "SKIRT MEKURERU"
(Penyingkap Rok). Melihat penamaannya yang terlalu pasaran dan murahan,
harapanku makin merosot drastis menuju nol.
"Jangan-jangan
kamu mau bilang kalau obat ini dioleskan, orang itu bakal jadi pengen pamer
celana dalam?"
"Yap,
bener banget."
Yuuouji
mengangguk santai. Tapi mana
mungkin aku percaya hal seperti itu. Kalau efek perangsang seperti 'Abazuren Z'
sih mungkin saja, tapi membangkitkan niat spesifik untuk "pamer celana
dalam" itu sudah masuk ranah fantasi.
"Yah,
tepatnya sih hasil akhirnya bakal jadi begitu. Obat ini punya efek membuat
indra peraba di bagian yang diolesi jadi sangat sensitif untuk sementara.
Misalnya kalau dioleskan di paha, gesekan kain rok saja bakal terasa sangat
menyiksa sampai dia nggak tahan lagi."
Yah, kalau itu
sih terdengar sedikit lebih masuk akal daripada "jadi pengen pamer".
"Tapi
bukannya itu berbahaya?"
"Ah, santai
saja, efeknya cepat hilang kok. Tadi pagi aku sudah mencobanya ke Ibuku."
"SEBENARNYA
KAMU MENGANGGAP IBUMU ITU APA, SIH?!"
Waktu kejadian
'Abazuren Z' juga katanya berakhir tragis, kan?
"Ibuku itu
kan seorang Masokis, jadi dia suka banget kalau dijadiin kelinci percobaan atau
tikus lab~"
"Itu bukan
sekadar 'sisi tak terduga' lagi namanya!"
Masokis? Si
Yuuouji Kyouka itu? Bagiku yang cuma tahu citra intelektualnya di TV, hal itu
bahkan tidak bisa kubayangkan sama sekali.
"Cuma mau
tanya... gimana hasilnya?"
"Begitu
dioles, dia langsung terengah-engah dan mulai melepas roknya."
"BUANG
OBAT ITU SEKARANG JUGA!"
Meski aku
berteriak kesal, otakku malah otomatis membayangkannya. Mengingat usia Yuuouji,
paling muda pun ibunya pasti sudah berusia kepala tiga, tapi sosok Yuuouji
Kyouka yang kulihat di media punya paras yang tampak seperti baru awal dua
puluhan. Wanita secantik itu melepas roknya sendiri... Oke juga.
NGGAK NGGAK
NGGAK! Apa-apaan yang aku pikirkan soal ibu teman sekelasku?! Apa aku ini
mesum?
"Pokoknya
barang se-ekstrem itu nggak mungkin bisa dipakai ke Yawakaze!"
"Tapi Ibuku
bilang rasanya campur aduk antara sakit tapi enak, malah dia kelihatan senang
lho."
"ITU CUMA
IBUMU DOANG YANG BEGITU!"
Sumpah, kalau
fans zaman dia jadi idola dulu dengar kabar ini, mereka pasti bakal gila
massal. Lagian, daripada mengandalkan barang beginian, lebih baik aku langsung
saja menyingkap roknya secara manual.
"Haa..."
Sudah kuduga,
rencana Yuuouji tidak berguna sama sekali. Mengingat aku sendiri tidak bisa
memberikan ide alternatif, sebenarnya aku nggak berhak protes sih, tapi aku
benar-benar butuh secercah petunjuk untuk menyelesaikan misi ini.
"Oh."
Yuuouji
mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Murid laki-laki dari kelas sebelah
terlihat berbondong-bondong menuju tangga dengan seragam olahraga. Kasihan
sekali, sepertinya mereka punya jadwal olahraga di jam pertama yang melelahkan.
"Hmm, kalau
nggak salah kelas 2, kelas 9, dan kelas 15 tempat Konagi-tan itu jam
olahraganya barengan ya."
Aku tahu daya
ingat Yuuouji memang bagus, tapi kenapa dia sampai ingat hal nggak penting
kayak gitu?
"Cewek kan
butuh waktu lama buat ganti baju, jadi sekarang mereka pasti masih di ruang
ganti... Artinya, Konagi-tan juga..."
Senyum licik
muncul di wajah Yuuouji.
"Sip,
aku serbu ruang gantinya sebentar ya!"
"Ah,
oi!"
"Pararira-pararira~!"
Belum
sempat aku mencegahnya, dia sudah bangkit berdiri dan berlari secepat angin
keluar ke koridor.
"Aku
kembali!"
Beberapa menit
kemudian, Yuuouji kembali dengan kecepatan penuh. Sepatu sekolahnya berdecit—kyut—saat
dia berhenti mendadak di depanku.
"Kapten
Amakusa! Ternyata Konagi-tan pakai celana dalam yang lebih seksi dari dugaanku,
lapor!"
Beberapa anak
laki-laki di dekat kami langsung menoleh dengan tatapan kaget.
"Woi,
suaramu keberisikan!"
"Warnanya
putih bersih sesuai bayangan, lapor!"
"Diam dulu,
woi!"
Kalau begini
caranya, orang-orang bakal mengira AKU yang menyuruhnya pergi mengintip!
"Lagipula,
apa gunanya kalau cuma KAMU yang melihatnya?"
Aku
memanggilnya mendekat dan berbisik.
"Fufufu,
Bos Amacchi. Jangan remehkan kekuatan sains UOG, dong."
"Hah,
apa maksudmu?"
Yuuouji
mengeluarkan sesuatu yang berbentuk seperti pena dari balik sakunya.
Permukaannya yang berkilau metalik memberikan aura masa depan yang kental.
"Ini
adalah item rahasia yang sedang dikembangkan secara sangat rahasia oleh kami.
Proyektor berbentuk pena yang bisa memindai bayangan yang terekam di retina
manusia, mengubahnya jadi data 3D, lalu memproyeksikannya ke udara."
Memproyeksikan
bayangan yang terekam di retina? Memangnya ada teknologi se-fantastis ala
komedi itu? Yah, mengingat teknologi UOG yang selalu berada di garis terdepan
zaman, aku nggak bisa bilang 100% mustahil juga sih...
"Yah,
tapi bohong sih~ Nggak ada teknologi kayak gitu."
"Ternyata
nggak ada, ya!"
Aku baru
saja membuang beberapa detik berharga dalam hidupku untuk memikirkan hal yang
sia-sia.
"Sabar
dulu, Amacchi. Tapi soal bayangan celana dalam Konagi-tan yang terekam di
mataku itu beneran, lho."
Dia
mengeluarkan buku catatan dan mulai menggoreskan pena (yang ternyata beneran
cuma pena biasa) sambil bersenandung.
"Srat-sret-srot,
nah, jadi!"
Begitu
melihat gambar yang disodorkan padaku, aku langsung menahan napas.
"Ini..."
Gambarnya
jauh melampaui ekspektasiku. Mulai dari pola jaring-jaring pada renda sampai
logo mereknya digambarkan dengan sangat detail dan presisi, kualitasnya bahkan
hampir setara dengan foto. Sebenarnya anak ini punya berapa banyak bakat yang
sia-sia, sih?
"Yah,
kalau kamu tahu seperti apa wujud target utamanya, Amacchi pasti bakal lebih
semangat buat beraksi, kan?"
"Masa,
sih?"
"Tentu
saja! Kamu kan jadi nggak perlu tanya, 'Hei, sekarang kamu pakai celana dalam
warna apa?' ke dia."
"DARI
AWAL JUGA AKU NGGAK BAKAL TANYA BEGITU!"
Yah,
sebenarnya aku sudah menanyakan hal yang jauh lebih parah kemarin, sih.
"Atau
kamu bisa bilang, 'Aku sudah tahu kok apa yang kamu pakai di balik rokmu
itu!'"
"Kenapa
malah jadi kayak dialog manga battle?!"
"Hmm...
aroma bangsawan yang menguar dari seluruh bagian, teknik jahitan yang detail
sampai ke bagian terkecil dan memanjakan mata, ditambah cita rasa asli yang
kental dari kainnya, serta tekstur unik dari sutra yang menjadi bahannya... Ini sih wajib dapat nilai sempurna."
"KENAPA KAMU
SAMPAI MEMAKANNYA, WOI!"
Dia pasti mencoba
meniru gaya manga memasak, tapi dipaksakan banget.
"SIAPA YANG MEMBUAT CELANA DALAM INI?!!"
"Bapak Tsundere itu nggak bakal ngomong kayak
gitu biarpun mulutnya sobek!"
Ya sudahlah, dia
sepertinya cuma mau bercanda saja.
"Tapi apa
pun itu, semuanya nggak bakal mulai kalau kamu nggak pergi menemui
Konagi-tan."
Sudah biasa kalau
mengobrol dengan Yuuouji, topiknya tiba-tiba kembali ke jalur utama secara
mendadak.
"Ya, itu
benar sih, tapi masalahnya ada Pasukan Pelindung yang terus
mengawasinya..."
Gara-gara
kejadian kemarin, aku benar-benar sudah ditandai oleh mereka. Yah, mengingat
apa yang sudah kulakukan, itu sih konsekuensi yang wajar.
"Humm, Pasukan Pelindung Yawakaze ya... Oke, paham.
Serahkan urusan itu padaku~"
Yuuouji menepuk dadanya dengan percaya diri.
"Kalau
begitu, aku mau persiapan sebentar. Tunggu sampai jam istirahat siang,
ya."
Sambil berkata begitu, dia kembali memasang senyum jahat...
Apa ini bakal baik-baik saja?
◆◇◆
Lalu, jam
istirahat siang tiba.
"Nah, kalau begitu, let's go!"
Aku pergi meninggalkan kelas bersama Yuuouji yang sangat
bersemangat. Begitu melewati kelas 8 yang menjadi titik tengah, sesuai dugaan,
seorang murid laki-laki berdiri menghadang jalan kami.
"Berhenti.
Laki-laki itu tidak boleh lewat dari sini."
Tubuhnya yang
kekar dan wajahnya yang sangat sangar itu tidak akan bisa kulupakan meski aku
mencoba melupakannya. Dia adalah murid kelas tiga anggota Pasukan Pelindung
Yawakaze yang kemarin menangkap dan menyiksaku dua kali.
"Oho, halo
halo, Kapten Pasukan Pelindung Yawakaze, Toudo-senpai."
Mendengar ucapan Yuuouji, alis murid kelas tiga bernama
Toudo itu sedikit berkedut. Yah, dari auranya aku memang sudah menduga, tapi
ternyata kakak kelas ini memang pemimpin Pasukan Pelindungnya.
"Yuuouji
Ouka dari 'Reject 5' ya... kenapa sih orang seperti kamu bisa jadi teman
Yawakaze-san."
Dia menatap
Yuuouji dengan rasa benci. Yah, aku paham sih perasaannya. Kalau gadis yang
kamu sukai—apalagi gadis murni seperti dia—berteman akrab dengan orang macam
Yuuouji, pasti rasanya bakal cemas luar biasa.
Habisnya, dia
kelihatan bakal "dicemari" dengan berbagai macam hal. Justru Yawakaze
yang bisa tetap murni meski berteman dengan Yuuouji itu benar-benar sebuah
keajaiban.
"Senpai,
Senpai, kami mau pergi menemui Konagi-tan nih. Tolong izinkan kami lewat,
dong~"
"Nggak
boleh. Kalau kamu sih nggak apa-apa, tapi Amakusa Kanade di sebelahmu itu
berniat melakukan tindakan tidak senonoh pada Yawakaze-san."
"Nggak kok,
dia cuma pengen lihat celana dalamnya dikit saja."
...Yuuouji-san,
kalau itu tidak dianggap senonoh, terus apa lagi yang dianggap senonoh?
Sesuai dugaan,
Toudo-senpai menatapku dengan ekspresi yang sangat mengerikan.
"Tetap nggak
boleh?"
"Tetap nggak
boleh."
Mendengar nada
bicara senpai yang keras, Yuuouji entah kenapa malah tersenyum senang.
"Kalau gitu,
apa boleh buat."
Dia berjalan
mendekati senpai, berjinjit, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Bisik...
bisik... bisik..."
"—!!"
Baru kali ini aku
melihat secara langsung momen di mana wajah seseorang pucat pasi seketika.
"K-kamu, kok
bisa tahu hal itu?!"
Sikap
tenangnya tadi entah hilang ke mana. Toudo-senpai yang kini wajahnya seputih
kertas berbicara dengan suara gemetar.
"Mufufu.
Senpai, Senpai, gimana ya kalau aku bilang hal ini ke Konagi-tan?"
"T-tunggu
dulu! Cuma hal itu... tolong jangan lakukan itu! Aku bakal turuti semua
keinginanmu, jadi tolong jangan!"
"Hoho...
semua keinginan?"
Melihat kepanikan
Toudo-senpai yang sampai bikin aku merasa kasihan, dia langsung mengangguk
tanpa ragu saat ditanya oleh "iblis" Yuuouji itu. Sebenarnya rahasia
macam apa sih yang dia bisikkan tadi?
"Bahkan
kalau kusuruh lari keliling lapangan sekolah sepuluh kali sambil telanjang
dada?"
"Bakal
kulakukan!"
Beneran
mau dong.
"Kalau
lari keliling lapangan sepuluh kali sambil telanjang bagian bawah?"
"Bakal
kulakukan!"
Beneran
mau juga, woi!
"Lari
telanjang bulat terus masuk ke kamar mandi?"
"Bakal
kulakukan!"
Itu mah cuma
mandi biasa!
"Haha,
bercanda kok. Aku nggak bakal minta hal yang sejahat itu. Asalkan Senpai nggak
ikut campur soal apa pun yang aku dan Amacchi lakukan pada Konagi-tan, itu
sudah oke buatku. Ah, tentu saja bukan cuma Senpai, tapi anggota Pasukan
Pelindung lainnya juga ya!"
"T-tapi...
membiarkan mesum ini..."
Padahal dia
langsung setuju buat lari telanjang bulat, tapi untuk permintaan ini
Toudo-senpai malah tampak keberatan. Apa aku memang dianggap seberbahaya itu...
"Hmm...
menarik juga kayaknya kalau aku sebarin rahasia ini ke anggota Pasukan
Pelindung lainnya~"
"!! O-oke,
paham! Aku bakal perintahkan mereka semua buat nggak menyentuh kalian!"
Toudo-senpai
mengulurkan satu tangannya dengan pose seolah sedang memohon.
"Makasih ya,
Senpai. Tenang saja, tergantung situasi dan kondisi, aku ini orangnya tutup
mulut kok~"
Yuuouji
melambaikan tangannya sambil berjalan melewati Toudo-senpai... Kalimatnya tadi
sama sekali nggak bikin tenang, tahu. Merasa agak tidak enak hati, aku sedikit
membungkukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf sebelum mengikutinya dari
belakang.
"Tadi kamu
ngomong apa sih ke kakak kelas itu?"
"Ahaha,
setiap orang kan pasti punya satu atau dua rahasia yang pengen dibawa sampai ke
liang lahat, ya kan?"
Bukan itu
masalahnya, masalahnya adalah KENAPA KAMU BISA TAHU RAHASIA ITU? Dan menurutku,
senyum polos ala anak kecil itu nggak cocok dipakai sehabis memeras orang.
Selagi aku
menyadari betapa gilanya sifat Yuuouji, kami akhirnya sampai di depan kelas 15,
kelasnya Yawakaze.
"PERMISI,
NUMPANG LEWAT!"
Yuuouji membuka
pintu dengan semangat seperti orang yang mau menantang duel di perguruan bela
diri. Semua pandangan langsung tertuju pada kami.
"Eh, itu kan
anak kelas 1..." "Si
Yuuouji dan Amakusa dari 'Reject 5', kan?" "Yuuouji-san tadi pagi
juga sempat ke ruang ganti, ya." "Yuuouji emang cakep banget sih
kalau dilihat-lihat."
Hampir
seluruh kelas memperhatikan kami. Tapi Yuuouji sama sekali tidak peduli dan
melangkah masuk ke dalam kelas dengan gagah berani.
Di saat
seperti ini, aku iri dengan orang yang urat sarafnya tebal seperti dia. Sebagai
warga sipil biasa yang sensitif, aku cuma bisa mengikutinya dengan
sembunyi-sembunyi.
"Konagi-tan,
yahhoo!"
"Ah,
Ouka-chan!"
Yawakaze yang
menyadari kehadiran Yuuouji langsung berpamitan pada teman-temannya yang sedang
makan bersama, lalu berlari menghampiri kami dengan gembira. Tapi di tengah
jalan—
"Auu!"
Bitaan, dia jatuh tersungkur dengan spektakuler.
"Uuu, hari
ini sudah tiga kali..."
Sambil menahan
sedikit air mata di sudut matanya, dia bangkit berdiri perlahan.
Ini... boleh
juga. Biasanya kalau ada gadis yang cerobohnya sejelas ini, orang bakal merasa
dia cuma cari perhatian dan jadi ilfeel. Tapi dari Yawakaze, aku sama sekali
tidak merasakan kalau dia sengaja melakukannya.
Hal itu juga
terlihat jelas dari reaksi siswi-siswi di sekitarnya. Makhluk bernama siswi SMA
biasanya punya rasa jijik yang luar biasa (katanya) terhadap sesama perempuan
yang suka mencari perhatian laki-laki. Tapi pandangan yang mereka arahkan pada
Yawakaze adalah pandangan penuh kasih sayang, seperti sedang mengawasi adik
perempuan yang agak linglung. Sepertinya karena kepolosannya sudah di tingkat
dewa, mereka merasa tidak ada gunanya untuk merasa tersaingi atau iri.
Dan di saat yang
sama, sebuah pikiran lain terlintas di otakku. Meski dia jatuh dengan sangat
heboh, kali ini pun rok Yawakaze hanya tersingkap sedikit saja.
Kalau begini
caranya, biarpun aku berdiri tepat di belakangnya, aku bahkan nggak bakal bisa
melihat bayangan celana dalamnya sama sekali. Sepertinya berharap misi selesai
lewat pan-chira yang tidak disengaja memang mustahil.
"Wah,
Konagi-tan tetap manis seperti biasa ya~"
"Uuu, nggak
kok. Rasanya cuma sakit doang—ah."
Yawakaze sepertinya
baru menyadari keberadaanku yang berdiri sedikit di belakang Yuuouji.
"A-Amakusa-kun...
anu... itu..."
Dia sepertinya
mau mengatakan sesuatu, tapi ujung-ujungnya dia cuma menunduk dengan wajah
memerah. Yah, wajar saja sih, aku kan sudah dua kali minta lihat celana
dalamnya. Malah keajaiban dia masih belum merasa jijik padaku sampai sekarang.
"Ah, itu... Yawakaze, maaf ya soal kemarin aku ngomong yang
aneh-aneh."
Aku membungkukkan kepalaku dalam-dalam. Karena situasinya
mirip seperti kemarin, aku sempat cemas, tapi untungnya kali ini tidak ada Absolute
Choice yang tiba-tiba menginterupsi.
"A... nggak apa-apa kok, aku nggak marah. Tapi... kenapa ya kamu pengen lihat...
itu... celana dalamku?"
"Eh? Itu...
itu..."
Karena aku
kehabisan kata-kata, Yuuouji yang mewakiliku bicara.
"Ah, maaf ya
Konagi-tan. Biar aku bantu luruskan sedikit. Amacchi ini kalau lagi panik suka
ngomong hal yang berkebalikan dengan apa yang dia pikirkan. Jadi sebenarnya,
dia sama sekali nggak kepikiran buat melihat celana dalam Konagi-tan, tahu."
Apa-apaan itu... Tolong jangan kasih aku karakteristik aneh
sesuka hatimu, dong.
"Berkebalikan... dari yang dipikirkan?"
Tuh kan, Yawakaze jadi mulai percaya.
"Amakusa-kun... jadi sebenarnya kamu pengen lihat
celana dalam laki-laki?"
KOK JADI SALAH
PAHAMNYA KE ARAH SANA?!
"Bukan,
bukan ke arah sana maksudnya! Sebenarnya dia bukan pengen melihat, tapi pengen
memperlihatkan miliknya padamu!"
"BUKAN KE
SANA JUGA ARAHNYA, WOI!"
"Haha, atau
mungkin kamu pengen lihat celana dalam yang terbalik?"
"SE-SPESIFIK
APA SIH SELERA ITU! Lagian sejak awal nggak mungkinlah aku ngomong yang
sebaliknya!"
"Berarti
beneran pengen lihat celana dalam cewek, ya."
"Iya
bener... eh, woi!"
Sial...
apa anak ini beneran berniat membantuku?
"Fufu,
kalian berdua akrab banget ya."
Yawakaze
tertawa manis sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
Nggak, ini salah
paham kedua setelah Ketua Kelas tadi. Kami sama sekali nggak akrab, lho. Malah
kalau boleh, aku pengen memukul wajah anak ini. Pakai tenaga yang lumayan kuat.
Di wajahnya.
"Omong-omong,
Konagi-tan, besok kalau kamu luang, mau pergi main nggak?"
"Eh, ah,
iya. Besok aku nggak ada kegiatan klub kok, jadi bisa."
"Tuh kan,
selamat ya Amacchi."
Yuuouji
mengacungkan jempolnya padaku. Sepertinya tujuannya mengajakku ke sini memang
untuk membuat janji ini.
"Tapi... apa
Yawakaze nggak apa-apa kalau perginya bareng aku juga?"
Sedih sih, tapi
kalau aku ada di posisinya, aku pasti bakal menolak mentah-mentah.
"Ah, santai
saja. Dia sudah bilang dari dulu kalau pengen coba main bareng cowok. Iya kan,
Konagi-tan?"
Mendengar
pertanyaan Yuuouji, Yawakaze mengangguk malu-malu.
"Iya, Papa
bilang aku harus lebih sering bergaul sama laki-laki. Syaratnya harus bareng
Ouka-chan, sih."
Yuuouji tadi juga
bilang hal yang mirip, ternyata semua orang memang berpikir begitu ya. Sebagai
orang tua, mereka pasti bakal cemas luar biasa kalau punya anak perempuan yang
terlalu polos dan nggak waspada begini sama laki-laki.
"Sebenarnya
sudah banyak sih anak laki-laki yang mengajakku, tapi entah kenapa, mereka
tiba-tiba dibawa pergi oleh kakak kelas berbadan kekar yang menepuk pundak
mereka..."
Pasukan Pelindung
Yawakaze, mengerikan sekali. Untuk urusan yang satu ini, aku berterima kasih pada
Yuuouji.
"Sip, sudah
diputuskan ya. Kalau gitu lokasinya—"
Yuuouji menyusun
rencana dengan cekatan. Lokasi tujuannya diputuskan di mal besar di depan
stasiun yang berjarak tiga stasiun dari sekolah. Di sana fasilitasnya lengkap
selain tempat belanja, jadi itu pilihan yang cukup masuk akal.
"Oke, sisanya tinggal persiapan... Eh? Konagi-tan, jepit rambutmu itu unik ya?"
Pandangan Yuuouji
tertuju pada kepala Yawakaze.
"Ah ini?
Iya, ini hadiah dari... orang yang biasanya itu."
"Oho,
jadi barang 'itu' juga nempel lagi?"
"I-iya."
"Hoho,
begitu ya."
Sepertinya
Yuuouji tahu sesuatu, dia tampak mengangguk-angguk paham. Lagian Yawakaze ini
sesering apa sih dapat hadiah? Sudah hampir kayak idol saja.
"Aku
tetap nggak tahu sih ini dari siapa, tapi karena sudah diberikan, rasanya
sayang kalau nggak dipakai..."
"Benar, benar. Hadiah itu nggak ada gunanya kalau cuma
disimpan saja~"
"Yuuouji,
apa kamu juga pernah dapat hadiah?"
Yah, kalau
Yuuouji punya fans sih bukan hal aneh. Penampilannya saja sudah cukup buat
masuk ranking kecantikan sekolah, dan dengan jumlah murid sebanyak ini, nggak
aneh kalau ada orang dengan selera aneh yang suka dengan sifat Yuuouji juga.
"Aye aye,
bahkan sekarang aku lagi pakai nih~"
Aku memperhatikan
seluruh penampilannya. Meski Yuuouji sering melanggar aturan sekolah seperti
memamerkan pusar atau memendekkan rok, dia sama sekali tidak memakai aksesoris
apa pun. Apa mungkin gantungan kunci di HP-nya? Menyadari rasa penasaranku,
Yuuouji menjawab dengan singkat:
"Celana dalam."
"...Hah?"
"Celana dalam, tahu. Celana dalam alias panty!"
Celana dalam? Hadiah buat perempuan itu celana dalam?
Serius...? Kalau itu dari pacar atau suami sih masih mending, tapi mengirimkan
celana dalam secara sepihak dan tanpa nama itu sih benar-benar nggak waras.
"Omong-omong ini jenis himo-pan (celana dalam
bertali) lho Bos, himo-pan warna merah."
Jangan dikasih hadiah kayak gitu, dong. Dan jangan dipakai juga. Terus jangan diomongin
juga!
Yah,
sepertinya orang aneh memang bakal menarik fans yang aneh juga. Dibandingkan
itu, jepit rambut pemberian untuk Yawakaze itu benar-benar terlihat sangat manis.
"C-celana
dalam bertali..."
Dan dia
langsung bereaksi dengan wajah memerah begini. Ini dia, ini dia gambaran siswi
SMA yang normal.
"Himo-pan~♪
Hi-mo-pan~♪"
Siswi SMA yang
nggak normal malah mulai bernyanyi. Kamu beneran anak SD ya?
"Berhenti nyanyi dulu, deh... Jadi kamu seneng dapat
hadiah celana dalam bertali itu?"
"Iya dong, apa pun yang gratis pasti aku seneng!
Memangnya Amacchi nggak seneng kalau dapat hadiah celana dalam?"
"Aku
bisa tegaskan: NGGAK SENANG."
Kalau aku
buka loker sepatu terus isinya celana dalam pria, itu sih sudah masuk ranah
horor.
"Terus
Amacchi bakal seneng kalau cewek pakai celana dalam kayak gimana?"
"O-Ouka-chan,
jangan tanya hal nggak sopan kayak gitu, dong!"
Yawakaze
bereaksi dengan sensitif.
Lagian
alur pembicaraannya jadi mendadak banget. Saat aku menatapnya dengan pandangan
bertanya apa maksudnya, Yuuouji malah memasang wajah "kucing" dan
berkata dengan bangga:
"Mufufu,
ini demi imunisasi, Amacchi. Ini adalah ujian buat memberikan imun pada
Konagi-tan. Kalau Konagi-tan nggak bisa menanggapi hal kayak begini sambil
tertawa, Papa-mu nggak bakal bisa tenang, lho~"
"B-begitu
ya. Ternyata Ouka-chan memikirkan kebaikanku... Baik, aku bakal berusaha!"
Nggak, Yawakaze-san,
kamu ditipu mentah-mentah. Sahabatmu ini lagi berencana membiarkan seorang
cowok melihat celana dalammu... yah, cowok itu aku sih.
Tapi ya sudahlah,
alur pembicaraannya sudah telanjur begini. Mana mungkin aku bilang selera
asliku, jadi lebih baik jawab yang normal saja.
"Yang putih
biasa—"
"BOHONG!!"
Tiba-tiba Yuuouji
berteriak seperti karakter pahlawan wanita yang memegang golok di anime horor
tertentu.
"Uwoh! A-apaan sih tiba-tiba banget!"
Aku refleks memundurkan tubuhku. Yuuouji langsung kembali ke
wajah bercandanya.
"Mufufu, nggak boleh lho Amacchi. Demi imunisasi Konagi-tan, kamu harus jujur."
Anak ini...
padahal aku baru ngomong dikit, dia sudah tahu kalau aku mau bohong? Padahal
kemarin dia bilang bisa tahu kejujuran orang lewat mata dan ekspresinya, apa
itu ternyata beneran?
"Iya,
Amakusa-kun. Karena ini latihan, aku mau kamu jujur."
...Tuh
kan, kamu beneran ditipu, Yawakaze-san.
Tapi
kalau aku bohong lagi juga bakal ketahuan, dan kalau aku menolak pun sepertinya
bakal makin repot. Meski
seleraku mungkin sedikit unik, ya sudahlah, aku katakan saja.
"Ehem...
kalau soal itu, sebagai seorang pria... pilihannya cuma satu: GARTER BELT!"
"Wuih, mesum
banget! Ini sih fiks mesum!"
"Garter...
belt?"
Reaksi Yuuouji
yang sok kekanak-kanakan padahal dia sudah tahu, dan reaksi Yawakaze yang beneran
nggak tahu. Karakteristik keduanya terlihat sangat kontras.
"Lagian
pembicaraannya jadi melantur jauh—eh?"
Di situ aku
menyadari suasana yang aneh di sekitar kami.
"Kamu
dengar? Katanya garter belt lho." "Iya, ternyata Amakusa-kun beneran mesum
ya." "Yuuouji-san juga, apa dia nggak malu nyanyi lagu kayak
gitu?" "Apa semua anak 'Reject 5' kayak gitu ya?" "Lagian
dari tadi mereka cuma ngomongin celana dalam terus, lho." "Mendingan
kita jauhkan Konagi-chan dari mereka berdua, deh."
Di segala penjuru
kelas terdengar bisikan demi bisikan.
K-kapan
suasananya jadi begini? Memang sih cara masuk Yuuouji ke kelas tadi heboh
banget, tapi aku nggak sangka kalau percakapan kami didengarkan sampai sedetail
itu... Lagian apa suka garter belt itu otomatis jadi mesum?
Tapi, tatapan
seperti melihat barang menjijikkan ini... aku sudah sering merasakannya di
kelas 2-1, tapi aku nggak sangka bakal merasakannya juga di kelas di ujung
koridor yang lain.
"Nggak, ini salah paha—"
PILIH:
① "Apa yang kalian lihat, Nona-nona
manis? Cepat kalian semua pakai garter belt lalu layani aku secara
seksual!"
② Demi membuktikan kesempurnaan kombinasi
garter belt dan posisi 'M-shape legs', pakailah sendiri lalu peragakan di depan
mereka.
...Tidak butuh waktu lama bagi para siswi kelas 15 untuk
menaruh kebencian yang hampir setara dengan niat membunuh padaku setelah aku
memilih opsi pertama.
◆◇◆
"Sip Amacchi, sampai ketemu besok ya~"
Setelah wali kelas selesai, Yuuouji langsung bergegas keluar
kelas menuju kelas 15 karena katanya mau menyiapkan "persiapan" dan
membawa Yawakaze ke rumahnya. Aku sempat
ingin mengikutinya, tapi begitu teringat tindakanku di jam istirahat tadi,
langkahku terhenti.
Hari ini...
tidak, mulai sekarang sepertinya aku nggak bakal bisa menginjakkan kaki lagi di
kelas 2-15.
Dengan perasaan
suram, aku berjalan pulang sendirian.
"Haa..."
Sambil menghela
napas, aku merenungkan kembali kondisiku sekarang.
Absolute
Choice yang terus
menyiksaku selama setahun terakhir. Isinya benar-benar bebas tanpa batas, tanpa
konsistensi atau pola tertentu. Kalau boleh dibilang, satu-satunya kesamaannya
adalah pilihannya selalu yang nggak beres buatku.
Pilihan di game dating
sim biasanya punya rute manis di mana kita bisa makin akrab dengan gadis
pilihan kita. Tapi pilihan yang muncul di otakku ini rasanya seperti sengaja
menghancurkan semua jalan menuju asmara.
Dan aku sama
sekali tidak paham kenapa untuk menghilangkannya, aku harus membuat gadis
tertawa atau melihat celana dalam mereka.
"Hei...
sebenarnya apa sih yang kamu ingin aku lakukan?"
Aku
bergumam sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. Pertanyaan yang
entah ditujukan kepada siapa itu tentu saja tidak akan pernah mendapatkan
jawaban.
7
"Yawakaze...
itu..."
Sabtu
pagi yang cerah. Begitu sampai di depan stasiun yang menjadi tempat pertemuan,
aku tertegun melihat sosok Yawakaze yang sudah tiba lebih dulu.
"Anu...
Amakusa-kun, apa pakaianku... terlihat aneh?"
Aku
buru-buru menggelengkan kepala. Sama sekali tidak aneh. Malahan, bagi Yawakaze yang
biasanya selalu tampil feminin, celah penampilan (gap) ini benar-benar
menarik.
Tapi, khusus
untuk hari ini, ini adalah kesalahan besar. Kenapa... kenapa dia malah pakai hot
pants?!
Memang sih,
tingkat ekspos kulitnya jauh lebih banyak dibanding Yawakaze yang biasanya. Tapi
kalau begini, gawat. Biarpun kulit putih bersihnya itu menyilaukan mata, atau
pose kakinya yang sedikit merapat ke dalam itu imutnya keterlaluan, kalau
kemungkinan melihat celana dalamnya tertutup rapat begini, semuanya tidak ada
artinya!
"Yippie~!"
Saat aku sedang
tenggelam dalam jurang keputusasaan, suara ceria Yuuouji bergema dari belakang.
Begitu aku menoleh, dia memakai rok super mini yang bikin bingung harus menaruh
pandangan di mana.
"Lho,
Konagi-tan, kok kamu malah pakai baju kayak gitu?"
"H-habisnya..."
Yawakaze memerah saat
melihat Yuuouji yang menghampirinya.
"Padahal aku
sudah meminjamkan rok bahan transparan kemarin, harusnya kamu pakai itu
dong."
"MANA
ADA ORANG YANG MAU PAKAI BARANG KAYAK GITU!"
"Uuu,
Ouka-chan, yang itu tetap saja tidak mungkin. Lagipula kalau melihat rok itu, aku jadi malah
malu kalau pakai rok biasa... Tapi, karena aku sudah janji setidaknya bakal
memperlihatkan kaki, jadi aku berusaha semampuku dan meminjam milik kakakku...
apa nggak boleh?"
Uwah, reaksi
macam apa ini? Terlalu tulus. Ditambah lagi tatapan memelasnya dari bawah, daya
hancurnya benar-benar tinggi. Dan reaksi Yuuouji adalah...
"A-apa-apaan
bakat pembunuh pria alami ini... Konagi-tan, anak yang mengerikan!"
Dia
sedang melucu dengan mata yang diputar sampai putihnya kelihatan semua.
"Oi,
gimana nih? Dari awal sudah skakmat," bisikku sambil mendekati Yuuouji.
Bukan
cuma kemungkinan pan-chira yang lenyap, tapi langkah terakhir pun—yaitu
menyingkap rok—sudah tersegel rapat.
"Tenang,
tenang. Justru karena aku sudah mengantisipasi situasi seperti ini makanya aku
pilih tempat ini. Aman, aman~"
Entah kenapa
Yuuouji percaya diri sekali.
"Ayo, let's go!"
Baru saja dia menjauh dariku, dia sudah menggandeng Yawakaze dan
berjalan dengan riang... Gawat, ini mungkin benar-benar sudah berakhir.
◆◇◆
"Jreeeng, di sini tempatnya!"
Yuuouji berhenti di depan sebuah toko. Bahkan aku yang tidak tertarik pada fashion
pun pernah mendengar nama merek terkenal ini. Seingatku, slogannya adalah
mereka menyediakan segalanya mulai dari pakaian formal kelas atas hingga
pakaian kasual murah dalam satu toko.
Slogan
itu bukan bohong. Di dalam toko yang sangat luas itu, tersedia berbagai macam
jenis pakaian dalam jumlah yang masif. Namun, penataannya yang rapi memberikan
kesan selera yang sangat bagus.
"Konagi-tan,
sini bentar deh."
"Eh?
Ada apa, Ouka-chan?"
"Maaf ya,
Amacchi, kamu lihat-lihat di sekitar sini dulu saja ya~"
"Hah? Ah,
oke."
Tanpa memberiku
kesempatan menjawab, Yuuouji langsung menyeret Yawakaze pergi. Lalu, setelah aku
berkeliling di dalam toko selama belasan menit seperti yang diperintahkan...
"Yaho~
Amacchi, maaf ya sudah menunggu!"
"Ooh..."
Melihat sosok
Yawakaze yang bersembunyi di balik punggung Yuuouji, aku refleks mendesah kagum.
Dia sekarang memakai rok super mini yang menyaingi milik Yuuouji.
"Uuu...
Ouka-chan, ini benar-benar terlalu memalukan."
Yawakaze menunduk dengan wajah merah padam. Mengingat sifatnya
dan panjang rok seragamnya yang biasanya, pakaian seperti ini mungkin sudah
setara dengan setengah telanjang baginya.
"Gimana Amacchi, bagus kan?"
"Yah, orang yang bilang ini nggak bagus, menurutku
bukan laki-laki."
Aku memberikan
kesan jujurku.
"T-terima
kasih..."
Meskipun malu,
Yawakaze sepertinya tidak merasa keberatan dengan pujian itu.
"Sip, fiks
beli!"
"Eh, tunggu
dulu. Ouka-chan kan bilangnya cuma buat coba-coba saja? Baju ini memang
bagus sih, tapi aku nggak bawa uang sebanyak itu."
Aku memang tidak paham soal harga pakaian, tapi bahannya
terlihat berkilau dan mahal, desainnya juga sangat rumit. Setidaknya, ini pasti
bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan mudah oleh anak SMA.
"Tenang
saja, serahkan padaku~" ucap Yuuouji santai.
Eh, tapi
seingatku, keluarga Yuuouji sangat ketat soal uang. Dia pernah bilang kalau
uang jajannya cuma lima ribu yen sebulan.
Lagipula, melihat
sifat Yuuouji, dia tidak akan pernah melakukan hal seperti memamerkan kekayaan
dengan membelikan baju untuk temannya secara cuma-cuma.
"Sebenarnya
merek ini, meski orang nggak banyak tahu, adalah perusahaan di bawah naungan
UOG Grup lho."
Serius...?
Ternyata Grup UOG ada di mana-mana ya.
"Nah,
manajer toko di sini lagi butuh model pengguna untuk memakai baju ini dan
berkeliling di mal sebagai bagian dari promosi produk baru... tapi ternyata
nggak ada yang mau, jadi dia lagi kesulitan. Konagi-tan, demi membantu aku dan
manajer toko, mau kan kerja sama untuk hari ini saja?"
Luar biasa, cara
bicaranya pintar sekali. Itu pasti cuma karangan belaka, tapi kalau dibilang
begitu, Yawakaze tidak akan bisa menolak.
"U-um...
kalau memang begitu... aku... mau mencoba membantu."
Sesuai dugaan,
Yawakaze mengangguk ragu-ragu.
"Oke,
kesepakatan tercapai!"
Setelah deklarasi
itu, Yuuouji mendekat ke arahku.
"Nihihi.
Dengan ini, kalau kita bawa dia keliling ke banyak tempat, bakal sempurna
kan?"
"Yuuouji... kerja bagus."
Benar-benar sebuah fine play yang tak terduga. Jatuh. Dia pasti bakal jatuh. Kemarin aku
pikir tidak baik mengandalkan keberuntungan, tapi hari ini aku punya senjata
pemungkas. Aku melirik ke arah kaki Yawakaze.
Ya, sepatu hak
tinggi (high heels) itu. Yawakaze yang biasanya saja sudah sering jatuh,
kalau memakai sepatu yang tidak stabil seperti itu, jatuh bukan lagi soal
kebetulan, melainkan kepastian.
"Ini sih
cuma masalah waktu."
"Benar
sekali."
Aku dan Yuuouji
saling bertukar senyum licik seperti penjahat yang sedang bersekongkol... Tapi.
◆◇◆
"Wah, tadi
seru banget ya~"
Singkat cerita,
dia tidak jatuh.
Yawakaze sama sekali
tidak jatuh. Tidak peduli seberapa sering kami membawanya ke tengah kerumunan,
atau ke tempat dengan pijakan yang buruk, seolah-olah dilindungi oleh sesuatu,
dia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan terpeleset.
Sepertinya dia
sendiri sadar akan hal itu, dan dia tampak senang karena hari di mana dia tidak
jatuh sama sekali itu jarang terjadi dalam setahun... Keajaiban macam apa ini
yang malah membuatku sial?!
Waktu berlalu
begitu cepat tanpa ada solusi, dan sekarang sudah pukul enam sore. Di musim di
mana matahari terbenam lebih cepat, wajar saja jika kami mulai bicara soal
pulang.
Namun di tengah
situasi itu, untungnya perut Yawakaze berbunyi—meski dia langsung membantahnya
dengan wajah merah padam—sehingga kami memutuskan untuk makan di food court
terlebih dahulu.
Kami
mengamankan tempat duduk di area terbuka dan mulai duduk.
"Kalau
begitu, aku belikan makanan apa saja ya."
"Ah, makasih
ya."
Yuuouji, yang
sepertinya tidak merasa lelah sedikit pun, langsung berlari seperti anak SD
seperti biasanya. Di hari Sabtu jam segini, semua kedai makanan penuh sesak
dengan antrean panjang keluarga. Sepertinya butuh waktu cukup lama sampai dia
kembali.
Sekarang, apa
yang harus kulakukan...? Kalau sudah dipersiapkan begini saja dia tetap tidak
jatuh, berarti aku harus melakukan pendekatan lain.
Tapi kalau aku
bisa memikirkannya secepat itu, sudah kulakukan dari tadi.
Rasa cemas mulai
membuncah. Apa yang harus kulakukan... apa?
"Suuu..."
Kesadaranku
mendadak kembali karena mendengar suara napas yang imut itu.
Padahal Yuuouji
baru saja pergi semenit yang lalu, tapi Yawakaze sudah tertidur pulas di atas meja.
Bahkan tasnya masih tersampir di bahunya. Yah, anak yang sepertinya kurang
tenaga dan agak lamban seperti dia, kalau dibawa berkeliling ke berbagai tempat
sejauh itu, wajar saja kalau kelelahan.
"Umm..."
Saat itu, Yawakaze
menggeliat dan posisi tubuhnya berubah drastis.
"Oh?"
Seiring dengan
gerakannya, roknya tersingkap dengan cara yang unik, memperlihatkan bagian
pangkal pahanya.
I-ini...
tinggal sedikit lagi, sedikit lagi bagian dalamnya bakal terlihat.
Pada saat itulah...
PILIH:
① Singkapkan sekalian
② Jangan disingkapkan
...Ternyata muncul sekarang.
Tapi, pilihan kali ini, jika dipikir-pikir, mungkin bisa
menjadi pemicu yang bagus. Aku sendiri memang tidak tega melakukannya, tapi
kalau ujung-ujungnya aku memang harus menyingkap roknya, ini adalah kesempatan
emas.
Lakukan saja?
Sambil bimbang, tanganku mulai terulur ke arah rok Yawakaze.
Namun, sesaat sebelum tanganku menyentuh kainnya, aku
mendadak berhenti.
Apa ini benar-benar tidak apa-apa?
Nggak, nggak, jangan jadi lembek sekarang. Kalau misi ini
gagal, aku bakal terjebak dengan Absolute Choice selamanya, tahu. Kamu
paham nggak sih, Kanade?
Tapi tetap saja
kalau menyingkapnya sendiri itu... Tidak, bukan begitu.
Memaksa Yawakaze
memakai rok mini dan sepatu hak tinggi untuk memancingnya jatuh itu sebenarnya
sama saja. Bedanya cuma apakah itu cara tidak langsung atau langsung, tapi inti
tindakannya tetap sama.
Singkatnya, aku
cuma ingin menghilangkan rasa bersalahku sendiri dengan menciptakan situasi di
mana "kebetulan celana dalamnya terlihat".
Seolah-olah menyuruhku untuk terus bimbang, sakit kepala yang biasanya menjadi tanda paksaan tidak kunjung datang. Berbagai pikiran melintas di benakku lalu menghilang begitu saja.
Aku sudah
kehilangan rasa waktu, tetapi sepertinya aku sudah tenggelam dalam pikiran
selama beberapa menit. Tepat saat rasa sakit tumpul mulai lahir di bagian
belakang kepalaku, sebuah kesimpulan muncul.
"...... Nggak jadi deh."
Pada akhirnya,
aku memilih opsi ②. Alasannya bukan didasari oleh logika
yang jelas. Aku hanya bisa bilang bahwa aku merasa entah bagaimana aku tidak
menyukainya.
Kalaupun aku
harus menyingkap roknya, melakukannya saat Yawakaze sedang tidur terasa seperti
tindakan pengecut. Kalau mau melakukannya, aku harus melakukannya saat Yawakaze
sedang sadar, dan sebagai imbalannya, aku harus siap menerima kecaman darinya.
Jika harus
menyebutkan satu alasan lagi yang tidak logis, mungkin itu adalah bentuk
perlawanan terhadap pilihan-pilihan ini. Munculnya pilihan di waktu sekarang
seolah-olah berkata, "Nih, aku sudah siapkan alasan pembenaran yang pas
buatmu, lakukan saja," dan itu membuatku kesal.
Membayangkan
sosok siapa pun yang mengirimkan pilihan ini sedang menyeringai melihatku
bergerak sesuai keinginannya, membuatku ragu untuk memilih ①.
Aku perlahan
menarik kembali tanganku yang tadi mematung di dekat roknya.
"Nn......
lho? Amakusa-kun? Eh? Jangan-jangan aku ketiduran?"
Seolah-olah sudah
diatur waktunya, Yawakaze terbangun.
"Iya, meski
cuma beberapa menit."
"M-maaf ya...... ah, berarti...... m-mungkin, kamu
melihat wajah tidurku?"
Yah, kalau tidur
di jarak sedekat ini, mana mungkin nggak kelihatan. Begitu aku mengangguk,
"Higuu."
Suara aneh keluar
dari mulut Yawakaze.
"D-dilihat
laki-laki saat sedang tidak sopan begitu......"
Seketika wajah
Yawakaze memerah padam. Melihat hal itu di depan mata, kata PENYESALAN
terpampang jelas di benakku.
Menyingkap rok
anak ini? Nggak, mustahil. Baru dilihat wajah tidurnya saja dia sudah panik
begini. Kalau aku terang-terangan menyingkap roknya, itu bisa jadi trauma
baginya.
Padahal kalau aku
mengintip sedikit saja saat dia tidur, semuanya akan beres. Mungkin aku baru
saja melewatkan kesempatan emas demi kepuasan diri yang tidak berguna.
"JAMBRET!!"
Tiba-tiba, suara
yang membelah udara bergema di seluruh food court, menarik kesadaranku
kembali.
Refleks aku
menoleh, dan melihat seorang pria berbadan kekar yang mengenakan kaos kusam dan
jins sedang berlari kencang dengan mata merah menyala.
Sialnya, pria itu
berlari lurus menuju meja tempat aku dan Yawakaze duduk.
"SERAHKAN!!"
Pandangannya
tertuju pada tas yang tersampir di bahu Yawakaze. Mungkin dia menilai Yawakaze punya
banyak uang karena penampilannya yang penuh barang bermerek. Meski di tangannya
sudah ada dompet yang mungkin hasil jambretan sebelumnya, sepertinya si rakus
itu masih ingin merampas lagi.
"Eh?
Eh?"
Yawakaze membeku
karena kejadian yang mendadak ini.
"Bahaya!!"
Tubuhku bergerak
lebih cepat dari pikiran. Aku menyelinap di antara Yawakaze yang masih duduk dan si jambret.
"Guh!"
Aku yang
tertabrak langsung oleh serudukannya terpental dan punggungku menghantam lantai
dengan keras.
"Amakusa-kun!!"
"Cih......
cepat serahkan!!"
Meski sempat
berhenti sejenak karena intervensiku, si jambret segera mengalihkan
pandangannya kembali ke arah Yawakaze.
"Yawakaze, lepas
tasmu, goho!"
Karena benturan
saat jatuh tadi, sepertinya tenggorokanku terpukul. Suara tidak mau keluar dan aku tidak bisa
langsung berdiri. Sial, ini gawat!
"Amacchiii!
Nice penahannyaaa!!"
Saat itu,
sebuah suara yang lantang seperti pidato pahlawan tokusatsu bergema.
"Uoryaaaaaa!!"
Yuuouji
yang berlari secepat peluru melompat sekuat tenaga. Sebuah dropkick
dengan seluruh berat badannya menghantam tepat di tengah perut si jambret yang
baru saja berbalik.
"Gbuhaaa!"
Si
jambret terseret di lantai dengan kecepatan yang luar biasa. Kemudian, dia
langsung diringkus oleh petugas keamanan yang mengikuti di belakang Yuuouji.
Seperti
biasa, kemampuan fisiknya benar-benar tidak masuk akal. Padahal Yuuouji
termasuk mungil di antara siswi lainnya, tapi bagaimana bisa dia punya daya
hancur sebesar itu?
"Iyaー, untung sempat. Konagi-tan, ada yang luka
nggak?"
Bahkan dalam
situasi ini, napas Yuuouji sama sekali tidak memburu dan dia tidak terlihat
panik.
"A... iya.
Soalnya aku dilindungi. A-apa kamu nggak apa-apa, Amakusa-kun?"
Yawakaze berlari
menghampiriku dan berjongkok di sampingku dengan ekspresi campur aduk antara
terima kasih dan khawatir.
"Mufufu,
kamu berjasa juga ya, Amacchi."
"Nggak,
aku cuma terpental doang, nggak seberapaー"
Tepat saat aku
sedikit mengangkat kepalaku, gerakanku terhenti.
Isi di dalam rok
Yuuouji terlihat jelas.
Yuuouji berdiri
tepat di atas kepalaku dengan tidak waspada, sementara Yawakaze berjongkok di
dekatku. Meski panjang rok mereka sama, bagi orang di posisiku, melihat isi rok
Yuuouji adalah sebuah kepastian.
Celana dalam,
terlihat sepenuhnya.
Warna yang
terekam di mataku adalah putih bersih. Desainnya yang tenang, campuran antara
90% keanggunan dan 10% daya tarik sensual, terasa entah bagaimana tidak cocok
dengan citra Yuuouji. Soalnya, aku pikir dia bakal pakai yang motif garis-garis
atau motif binatang.
Tapi, terlepas
dari itu.
Kenapa anak
ini...... pakai Garter Belt?!
Di dalam rok
Yuuouji, seolah-olah melindungi celana dalam putih bersih itu, terpasang
sepasang Garter Belt hitam pekat.
Pantas saja dari
tadi aku penasaran dengan garis vertikal hitam di pahanya, tapi karena bagian
bawahnya bukan stoking melainkan desain seperti kaos kaki selutut (knee-socks),
aku sama sekali tidak menyadarinya.
Paling-paling dia
hanya mencoba memakainya secara spontan karena ucapanku kemarin. Tapi anak kecil seperti ini
memakai Garter Belt yang dewasa...... Anak kecil dan Garter
Belt...... Boleh juga.
(Hah!)
Nggak, apa yang
kupikirkan! Aku sudah jadi mesum sepenuhnya! Dan sampai kapan aku mau terus
melotot begini! Aku segera tersadar dan buru-buru memalingkan wajah.
Untungnya, si
pemilik sendiri sedang fokus pada Yawakaze dan sepertinya tidak menyadari kalau
roknya baru saja diintip.
Rasanya seperti
sudah beberapa detik berlalu bagiku, tapi mungkin sebenarnya itu hanya terjadi
sekejap mata.
Padahal tadi aku
begitu bimbang soal boleh tidaknya menyingkap rok sedikit saja, tapi terhadap
sesuatu yang terlihat "secara tidak sengaja" ini, rasa bersalahku
sama sekali tidak muncul. Sebagai pencinta Garter Belt, aku hanya bisa
bilang: terima kasih atas hidangannya.
Yah, meski kalau
ini milik Yawakaze akan jauh lebih baik sihー
Ponsel di
kantongku tiba-tiba bergetar.
"Hm?"
Ternyata ada
email dari 'Tuhan'. Subjeknya: Mission Complete.
Hah? Aku
menyimpan tanda tanya di kepalaku, lalu berdiri dan membukanya.
《Selamat. Silakan tunggu misi berikutnya dengan antusias.》
Isinya persis
sama dengan saat misi Yukihira dulu. Apa-apaan ini? Apa maksudnya? Yang kulihat
kan bukan celana dalam Yawakaze, tapi Yuuouji......
Sambil berdiri,
aku mengecek kembali email misi yang dikirim dua hari lalu. Benar, targetnya
tidak salah lagi adalah Yawakaze.
Ponselku bergetar
lagi. Pengirimnya 'Tuhan', subjeknya 'Tambahan'. Aku segera membukanya.
《Selamat malam, ini Tuhan. Kamu pasti sedang bingung dan tidak mengerti
kenapa misinya bisa dianggap selesai sekarang.》
Tebakannya tepat
sasaran, memang pantas disebut Tuhan. Omong-omong, siapa sih orang ini? Yah,
dia mungkin memang Tuhan, tapi sepertinya bukan Tuhan yang genit kemarin.
Karena Tuhan sebelumnya sedang cuti melahirkan dan mengurung diri, berarti
orang inilah yang mengirimkan misi?
《Ada kabar gembira buatmu. Saya akan menjelaskan situasinya secara
sederhana agar kamu paham...... karena saya adalah Tuhan Yang Maha
Mengetahui.》
Uwah...... menyebalkan.
Tapi sebenarnya
gimana mekanismenya? Kata-kata terus muncul di layar tepat saat aku selesai
membaca kalimat sebelumnya.
《Sebenarnya, celana dalam yang dipakai Yuuouji Ouka hari ini adalah milik
Yawakaze Konagi.》
...... Hah?
《Ketua Pasukan Pelindung Yawakaze
Konagi, Toudo Sakura, telah melakukan sebuah dosa besar.》
Apa? Ceritanya tiba-tiba melenceng jauh, tapi apa ini bakal
nyambung? Dan Toudo-senpai, dengan wajah sangar begitu namanya ternyata se-imut
Sakura......
《Dosa itu adalah: Menikung. Sakura ternyata diam-diam memberikan hadiah
kepada Yawakaze Konagi, mendahului anggota Pasukan Pelindung lainnya.》
Memang kalau itu
benar, sebagai ketua itu adalah pengkhianatan yang tak termaafkan. Tapi kenapa
panggilannya jadi Sakura......
《Yah, terlepas dari moral terhadap anggota lainnya, tindakan itu sendiri
sebagai fans bukanlah hal yang aneh.》
Ah, jangan-jangan
orang yang memberi jepit rambut kemarin itu Toudo-senpai?
《Namun, Sakura tidak puas hanya dengan mengirim
barang. Setiap kali mengirim
hadiah, dia selalu menyertakan puisi buatan sendiri.》
Puisi...... itu agak gimana ya.
《Lagian puisi...... di zaman
sekarang bikin puisi itu, aduh, nggak banget deh.》
Kok
karakternya berubah jadi julid begini!
《Puisi (wkwk).》
Berisik
banget sih! Memang
kedengarannya memalukan, tapi kasihanilah dia!
《Sakura yang rahasianya diketahui oleh Yuuouji Ouka akhirnya berakhir
diperas olehnya.》
Begitu ya,
bisikan saat jam istirahat siang kemarin ternyata soal itu. Tindakan memalukan
seperti membuat puisi sendiri memang hanya bisa dilakukan karena anonim. Kalau
sampai Yawakaze sendiri atau anggota tim tahu, lari telanjang bulat di lapangan
sekolah mungkin memang terasa lebih mendingan.
《Dan Sakura sudah menyiapkan hadiah spesial
tepat di hari itu. Yaitu celana dalam. Karena rasa cintanya yang berlebihan
pada Yawakaze Konagi, dia tidak bisa menahan keinginan agar Yawakaze memakai celana
dalam pilihannya. Ya, memang menjijikkan sih.》
Hadiah celana dalam...... lho? Bukannya itu cerita soal fans
fanatik Yuuouji?
《Yang dijanjikan Sakura karena
ancaman itu hanyalah tidak mengganggu kalian. Sakura yang berniat memberikan
celana dalam sesuai rencana sambil membuntuti kalian melakukan kesalahan fatal.
Dia malah memasukkan celana dalam itu ke dalam tas Yuuouji Ouka yang ada di
sebelahnya.》
Seriusan...... Sepertinya karena mereka berdua sering
bersama kemarin sore, dia salah memasukkannya di suatu tempat.
《Yuuouji Ouka menemukannya saat pulang. Biasanya kalau tiba-tiba ada celana
dalam terbungkus di dalam tas, orang bakal merasa jijik lalu membiarkannya atau
membuangnya. Tapi dia malah langsung memakainya keesokan harinyaーyaitu hari ini.》
JANGAN DIPAKAI
DONG!
《Ada dua faktor utama yang membuat Yuuouji Ouka salah paham dan mengira
hadiah itu untuknya. Pertama, ada contoh nyata di mana fans fanatiknya pernah
mengirim celana dalam sebelumnya.》
Begitu ya. Jadi
pola pikir fans Yuuouji dan Toudo-senpai kebetulan sinkron.
《Dan yang kedua adalah, hadiah untuk Yawakaze Konagi kali ini tidak disertai
puisi. Ternyata Sakura pun merasa malu kalau harus menyertakan puisi pada
hadiah celana dalam, jadi kali ini dia membuang puisi yang sudah dibuatnya ke
tempat sampah di rumahnya.》
Toudo-senpai...... jadi beneran sempat bikin ya.
《Kami berhasil mendapatkan teks lengkapnya.》
GIMANA
CARANYA?!
《Angin--- itu adalah kau, Angin seperti
malaikat yang menyelimuti segala benda dengan lembut Sutra--- itu adalah
pakaian dalam, Sutra yang mempesona, menyelimuti tempat rahasiamu yang tertiup
angin dengan penuh kelembutan Ksatria--- itu adalah aku, Ksatria gagah berani
yang menyelimuti angin dan sutra dengan cinta yang meluap》
OUT OUT
OUT! Aku langsung menekan tombol bawah berkali-kali untuk melewati teks yang
terus muncul itu. Kalau lebih dari ini, harga diri Toudo-senpai benar-benar
akan hancur.
《Nah, setelah menikmati selera Sakura (wkwk)
yang luar biasa, mari kita masuk ke intinya.》
Orang ini jahat banget...... tapi aku pasti bakal spontan
tertawa kalau ketemu Toudo-senpai nanti.
《Celana dalam tersebut adalah
hadiah yang Sakura tujukan untuk Yawakaze Konagi. Tidak peduli bagaimana prosesnya
atau siapa yang memakainya, hak kepemilikannya tetap ada pada Yawakaze Konagi.》
Jadi niat si pemberi yang diutamakan. Yah, aku sih nggak
masalah, tapi apa hubungannya dengan penyelesaian misi?
《Misi yang diberikan padamu
adalah 'Saksikan celana dalam milik Yawakaze Konagi dalam keadaan sedang dipakai',
bukan 'Saksikan celana dalam yang sedang dipakai Yawakaze Konagi'.》
...... Jangan-jangan.
《Ya, kamu sudah paham kan. Sekian penjelasan dari Tuhan. Dah-dah, Bye-Bye Sexual.》
Emailnya
berakhir dengan mendadak di sana.
Jadi, kata
"milik" dalam kalimat "celana dalam milik Yawakaze Konagi"
menunjukkan kepemilikan. Asalkan itu adalah celana dalam milik Yawakaze Konagi,
tidak peduli siapa yang memakainya, misinya tetap dianggap berhasil.
Yah, karena
berhasil tanpa diduga sih aku tidak protes, tapi ini sudah masuk ranah ilmu
cocoklogi atau tebak-tebakan kata saja. Untung kali ini kesalahpahamannya
berbuah manis. Di masa depan aku harus hati-hati, jangan sampai aku pikir sudah
berhasil, ternyata malah gagal karena alasan-alasan konyol begini.
"Amakusa-kun,
dari tadi kamu terus melihat ponsel, ada apa?"
Suara Yawakaze
menarikku kembali dari dunia pikiran.
"Ah, maaf...... eh, uwoh!"
Saat itu, tanpa aba-aba, benar-benar mendadak, angin
berembus kencang dari samping. Kekuatannya cukup besar untuk disebut angin
kencang, dan di detik berikutnya, yang tertangkap di penglihatanku adalah:
"Ha... hawawaaa!"
Selamat siang, Nona Celana Dalam.
Ternyata benar. Dari balik rok yang tersingkap lebar itu,
aku melihat celana dalam yang persis seperti yang digambar Yuuouji kemarin.
Satu-satunya yang berbeda hanyalah warnanya. Di laporan
kemarin warnanya putih bersih, tapi yang terekam di mataku sekarang adalah
warna ungu pekat yang meruntuhkan citra polos Yawakaze dari akarnya.
"Ki... kiki kiki......"
Sadar bahwa dirinya baru saja terlihat, guncangan batin yang
luar biasa hebat langsung menyerang Yawakaze.
"Ki...
kiki—"
Gawat,
dia bakal teriak. Ini pasti teriak. Di tengah kerumunan orang sebanyak ini, itu
bisa—
"KYAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Suara itu
justru meledak dari arah yang tak terduga.
"Yuuou...
ji?"
"Ouka...
chan?"
Pemilik
suara melengking yang saking tingginya hampir terdengar seperti gelombang
ultrasonik itu adalah Yuuouji Ouka.
Wajahnya
memerah padam secara tidak wajar, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Apa-apaan... reaksi ini?
Ah,
memang sih barusan celana dalam Yuuouji juga terlihat, tapi kan tadi sudah...
Oh, waktu yang pertama tadi dia tidak sadar kalau sedang diintip, ya.
"—nggak
nyangka."
Yuuouji
menunduk sambil menggumamkan sesuatu, tapi suaranya terlalu pelan hingga sulit
didengar.
"Ada
apa Yuuouji? Kamu aneh banget, nggak apa-apa kan?"
Aku
melangkah maju dan meletakkan tangan di bahunya.
"!!?"
Zuzat! Yuuouji mundur dengan gerakan
menyentak. Warna wajahnya yang tadinya sudah merah, kini semakin pekat hingga
seolah-olah melewati batas kemampuan manusia.
Jangan-jangan
anak ini... sedang malu?
"—nggak
pernah kepikiran bakal begini."
Setelah
menggumamkan kata-kata yang lagi-lagi tak terdengar jelas, Yuuouji langsung
membalikkan badannya membelakangiku.
"O-oi,
Yuuouji?"
Panggilanku
diabaikan total. Setelah mematung sejenak, dia tiba-tiba melesat pergi
seolah-olah baru saja terpental.
"AKU NGGAK
NYANGKA KALAU DIINTIP CELANA DALAMNYA... BAKAL SEMALU INIIIIIIIIII!!"
Sambil
meneriakkan kalimat yang pantas disebut sebagai jeritan histeris itu, dia
berlari kencang menembus kerumunan orang dan menghilang.
"..." "..."
Aku dan
Yawakaze yang ditinggalkan hanya bisa saling pandang dalam keheningan.
Di wajah
Yawakaze, tidak terlihat lagi rona malu karena celana dalamnya baru saja diintip.
Yah, setelah disuguhi drama seheboh itu, siapa pun pasti bakal kehilangan niat
untuk merasa malu secara normal.
Beberapa saat
kemudian, Yawakaze akhirnya membuka suara.
"...Kita,
harus gimana sekarang?"
"...Pulang
saja yuk."
"...Iya juga
ya."
Misi 'Saksikan
celana dalam milik Yawakaze Konagi dalam keadaan sedang dipakai'—SELESAI.



Post a Comment