Chapter 3
Orang Ini… Siapa?
1
"Selamat
pagi, Amakusa-kun si Tukang Selingkuh Enam Cabang."
Keesokan harinya,
begitu aku melangkah masuk ke kelas, Yukihira langsung melancarkan serangan
mendadak.
"Bisa nggak,
jangan mengeluarkan pernyataan yang mengundang kesalahpahaman begitu..."
Yah, deklarasiku
kemarin memang bisa diartikan begitu sih, mau bagaimana lagi...
"Kalau
begitu akan kuganti dengan istilah yang lebih intelektual, Kaze no Rokumata
Saburo-kun."
"Malah jadi
makin mesum, tahu!"
"Ahaha, tapi
menurutku tindakanmu kemarin itu cukup jantan dan keren lho," Yuuouji ikut
menyela percakapan kami.
"...Tapi
sebenarnya, kejadian kemarin itu maksudnya apa, ya?"
"Maksudnya
apa, apanya?"
"Ah—nggak,
bukan apa-apa kok, ahaha!"
Yuuouji tertawa
seolah sedang menyembunyikan sesuatu... Kemarin dia juga menunjukkan reaksi
yang aneh. Sebenarnya ada apa sih?
"Pokoknya,
begini. Kejadian kemarin itu anggap saja kecelakaan, jadi tolong jangan terlalu
dipikirkan... atau apa ya... Tapi, aku bakal repot kalau kalian nggak bilang
'suka' padaku..."
Aku sendiri
bingung dengan apa yang ingin kukatakan, bicaraku jadi gagap tidak karuan.
"Kecelakaan...
ya. Benar juga, untuk ukuran Amakusa-kun yang bahkan belum pernah gandengan
tangan sama cewek, deklarasi kemarin memang terdengar agak tidak alami."
"...Jangan
asal menyimpulkan begitu, dong."
Ya, kenyataannya
memang belum pernah sih.
"Benar juga
ya. Kalau diingat-ingat lagi dengan tenang, Amatchi nggak kelihatan kayak lagi
ngomong serius kemarin."
Aku refleks
membuang muka saat Yuuouji menatap lurus ke dalam mataku. Kebohongan tidak akan
mempan di hadapan Yuuouji yang punya kemampuan tajam dalam membaca hati orang.
"Yah, apa
pun niatmu, aku sih tidak akan pernah mengatakannya," ujar
Yukihira, memberikan vonis keputusasaan.
"Ahaha,
kalau aku sih sudah bilang kemarin~"
"...Sudah
bilang?" Yukihira mengalihkan pandangannya ke arah Yuuouji.
"Iya,
soalnya aku kan emang suka sama Amatchi!"
"...Begitu
ya."
Yuuouji, baru
hari ini aku merasa pola pikir kekanak-kanakanmu itu sangat berharga.
"
Amakusa-kun. Aku bisa saja mempertimbangkannya, tergantung syaratnya."
Hah? Baru saja
dia bilang "tidak akan pernah", kok tiba-tiba berubah pikiran?
"Syaratnya
apa?"
"Tergantung
pada Mr. Yukichi."
"Ujung-ujungnya duit?!"
"Atau Mr. Hideyo juga boleh."
"Duit lagi,
kan!"
"Selama ini
aku merahasiakannya... tapi sebenarnya, aku akan mati kalau tidak terus-menerus
memakan uang."
"Memangnya
kamu Kanegon?!"
Payah... Yukihira
aku urus nanti saja.
Karena Yuuouji dan Yuragi sudah beres, maka target yang
tersisa selain Yukihira adalah Furano, Reikadou, dan Ibu Ketua Kokubyakuin.
Di antara mereka,
yang paling mungkin mengatakannya adalah... dipikir bagaimana pun pasti Furano,
kan?
◆◇◆
Maka dari itu,
saat jam istirahat siang.
"Furano,
Furano!"
Aku pergi menuju
kelas 2-15 yang letaknya di ujung gedung sekolah dan memanggil Furano.
"Ah, ada
apa, Amakusa-kun?"
"Bisa ikut
aku sebentar?"
Gara-gara pilihan
kemarin, aku sempat mengatakan hal yang mengerikan pada gadis-gadis di kelas
15, jadi aku agak segan untuk masuk. Aku memberi kode agar dia keluar. Furano
yang polos itu pun berlari kecil menghampiriku. Tapi...
"Ah,
uwawaa!"
...Dia
tersandung.
"Ka-Kamu
nggak apa-apa?"
"Ah, iya,
terima kasih," jawab Furano sambil berdiri dan tersenyum kecut. Masih sama
seperti biasanya, tingkat kecerobohannya benar-benar luar biasa.
"Ada apa
hari ini, Amakusa-kun?"
"Ah, itu,
soal kejadian kemarin—"
"Ke-Kejadian
kemarin... maksudnya saat Amakusa-kun menembak semua orang itu, kan?"
Wajah Furano
memerah saat mengingatnya. Ugh... aku jadi ikutan malu, nih.
"I-Itu salah
paham. Bukan bermaksud menembak enam orang sekaligus atau semacamnya..."
Sambil membela
diri, aku mencoba mengubah arah pembicaraan.
"Begini,
aku tahu sendiri kalau aku ini sering bertingkah aneh, kan?"
"Ah,
iya."
Sedih
juga sih dia langsung mengangguk begitu... tapi sudahlah, sekarang bukan
saatnya memikirkan hal itu.
"Gara-gara
itu, cewek-cewek di kelas memandangku dengan sinis. Setiap hari rasanya berat sekali."
"Be-Begitu
ya... kasihan sekali."
Meski sempat
ragu, Furano terlihat benar-benar tulus bersimpati. Aku merasa agak bersalah
karena seperti sedang membohongi gadis suci ini, tapi...
"Makanya,
meskipun cuma pura-pura, aku merasa kalau gadis populer sepertimu bilang 'suka'
padaku, mungkin aku bisa sedikit lebih percaya diri."
"O-Oh,
begitu."
Yah, sebenarnya
dari semua gadis di sana, yang bisa dibilang populer cuma tiga orang dari
peringkat atas, tapi karena Furano sepertinya tidak menyadarinya, ya sudahlah.
"Apa Furano
membenciku?"
"Eh, sa-sama
sekali nggak kok!"
Furano
melambaikan tangannya dengan panik. Melihat reaksinya yang sama sekali tidak
terlihat seperti akting, aku merasa lega. Aku merasa kalau sampai dibenci oleh
gadis ini, tamatlah riwayatku sebagai manusia.
"Kalau
begitu, antara suka atau benci, kamu pilih mana?"
Ini murni
pertanyaan jebakan, tapi aku sudah tidak punya kemewahan untuk memikirkan
gengsi.
"Ah, iya,
tentu saja kalau maksudnya begitu aku su—"
"Tunggu
sebentar."
"He?"
Bersamaan dengan
suara yang sangat kukenal, kepalaku dicengkeram dengan kuat. Saat aku menoleh
perlahan dengan perasaan takut, di sana berdirilah wajah-wajah yang sangat
familiar.
Para anggota
Pasukan Pengawal Furano, dengan Kapten Todo Sakura sebagai pemimpinnya,
menatapku tajam dengan wajah yang berkedut menahan marah.
"Anu,
itu..."
"Ayo kita
bicara di sebelah sana sebentar."
"Tunggu! Ini
bukan sepertiiiuwaaaaaaaaaa!"
Aku pun diseret
tanpa bisa melawan sedikit pun.
◆◇◆
Dan kemudian,
dimulailah waktu eksekusi yang sudah mulai terasa biasa ini.
"Beraninya lo mau maksa Furano-san ngomong
begitu!"
"Gua udah
nggak suka lihat lo akrab sama Konagi-chan dari kemarin-kemarin!"
"Niat
menyentuh Konagi-taso kami itu adalah dosa besar!"
"Lama-lama
gue tusuk juga nih pantat lo!"
Woi, yang
terakhir itu kenapa jenis ancamannya beda sendiri?!
"Dengar ya,
Furano-san itu milik kami semua. Dia adalah keberadaan yang tidak boleh
dimiliki oleh individu mana pun!"
Kapten
Todo berteriak sambil merendahkanku yang terkapar di tanah.
Cih...
berani sekali dia bicara begitu. Padahal dia sendiri mengkhianati anggota lain
dengan memberi kado ke Furano diam-diam...
"Ingat ya,
jangan pernah dekati Furano-san lagi!"
Setelah memberiku
tatapan tajam, Kapten Todo pergi membawa pasukannya.
"Aduh,
sakit..."
"A-Amakusa-kun,
kamu nggak apa-apa?"
Saat aku
mencoba berdiri sambil bersandar ke dinding, sebuah suara terdengar dari
belakang.
"Furano..."
Furano
berlari menghampiriku dan berjongkok di sampingku.
"Apa
kamu tadi dihajar oleh orang-orang itu?"
"Yah,
begitulah..."
"Sebenarnya
mereka itu siapa sih? Setiap ada cowok yang mengajakku bicara, mereka pasti
selalu menyeretnya entah ke mana... Jahat sekali ya mereka sampai melakukan hal
begini!"
Tumben sekali
Furano memperlihatkan ekspresi marah. Tapi wajahnya yang menggembungkan pipi
itu sama sekali tidak terlihat seram, malah kelihatan imut sekali.
Kasihan sekali
para anggota Pasukan Pengawal itu. Padahal sudah berjuang sampai sebegitunya,
tapi keberadaan mereka bahkan tidak dikenali oleh Furano, malah membuat Furano
kesal. Benar-benar malang.
"Furano,
tolong jangan terlalu membenci mereka."
"Eh? Ta-Tapi
Amakusa-kun diperlakukan sejahat ini..."
"Yah, aku
juga ada salahnya, sih."
Maksudku, kalau
ada cowok yang dicap mesum terus menyuruh gadis yang mereka sukai untuk
"memperlihatkan celana dalam" atau memaksa bilang "aku suka
kamu", wajar saja kalau mereka marah besar.
"Hmm...
kalau Amakusa-kun bilang begitu sih iya, tapi..."
Furano menjeda
kalimatnya sejenak, lalu seperti sudah memantapkan hati, dia membuka mulutnya.
"A-Anu,
Amakusa-kun. Aku... suka kok sama Amakusa-kun."
"Hah?"
Karena terlalu
mendadak, aku sempat tidak paham apa yang baru saja dikatakannya.
Melihatku yang
melongo, wajah Furano menjadi merah padam dan dia melambaikan tangannya dengan
heboh.
"A-Anu,
bukan begitu! Maksudku bukan seperti hubungan cowok dan cewek, tapi sebagai
sesama manusia! Anu, soalnya tadi kamu bilang setiap hari itu berat, dan
sekarang kamu baru saja dipukuli sampai kasihan... Eh, bilang kasihan juga
rasanya kayak aku sombong banget ya... A-Aku sendiri nggak tahu lagi ngomong
apa, tapi aku pikir kalau hal kecil begini bisa bikin Amakusa-kun semangat
lagi, jadi..."
...Makhluk apa
ini? Kenapa dia manis sekali.
"A-Anu,
itu... dadah!"
Furano memegang
kedua pipinya dengan tangan lalu lari terbirit-birit.
"Beneran
deh, dia ini sudah selevel hewan langka yang harus dilindungi..."
Saat aku
sedang kagum dengan kesucian hatinya, ponsel di kantongku bergetar. Aku segera
mengambilnya dan memeriksa email dari "Dewa".
《 Konagi Furano CLEAR 》
Sip...
Baru beberapa hari sejak misi dimulai, aku sudah menyelesaikan separuhnya. Ini
langkah yang sangat bagus.
Baru saja
aku mau mulai berjalan dengan perasaan senang, tiba-tiba sebuah tenaga luar
biasa menekan pundakku.
...Dengan firasat
tertentu, aku menoleh perlahan.
"Yo, hari
ini kita sering ketemu ya, Amakusa-kun."
Di sana
berdirilah Kapten Todo dengan senyum yang sangat lebar.
"Kamu tahu
kan... apa yang akan terjadi padamu setelah ini?"
"...Iya, aku
tahu banget."
2
"Ugh...
sial."
Aku
berjalan menyusuri koridor sambil menyeret kakiku. Mereka beneran serius.
Eksekusi kali ini benar-benar brutal.
Meski
bukan dalam artian romantis, fakta bahwa Furano bilang "suka" padaku
tampaknya memberikan syok yang luar biasa bagi mereka. Sambil menghajarku,
bahkan ada anggota yang sampai berkaca-kaca.
Sakit
sekali... Sejujurnya aku
sudah tidak ingin melakukan apa-apa lagi hari ini. Tapi, saat tiba di depan
Kelas 10 tempat Reikadou berada, aku mendadak menghentikan langkah.
Tadi aku sempat
senang karena sudah menyelesaikan tiga orang, tapi kalau dipikir-pikir dengan
tenang, perbedaan tingkat kesulitan antara kelompok 'Yuuouji, Yuragi, Furano'
dengan 'Yukihira, Reikadou, Ibu Ketua' itu terlalu jauh. Secara jumlah memang
sudah setengah, tapi secara realitas, tingkat penyelesaiannya mungkin baru
sekitar dua puluh atau tiga puluh persen.
Mumpung masih ada
sisa-sisa momentum keberhasilan dari Furano, lebih baik aku tetap dalam posisi
menyerang.
Aku membuka pintu
Kelas 10 dan berjalan menghampiri Reikadou yang sedang duduk di kursi dekat
jendela.
"Oalah, aku
kira siapa, ternyata si sampah bernasib malang yang kemarin itu ya."
Begitu melihatku
mendekat, Reikadou langsung menyemburkan racun yang luar biasa pedas.
...Anak ini,
sepertinya dia sudah sangat terbiasa menghina orang. Bagiku yang tidak punya atribut Masokis
(M), sifatnya ini benar-benar tidak menyenangkan.
Tapi,
dadanya besar sekali sampai membuat sifat buruknya itu jadi tidak relevan...
Maksudku, serius deh, dia cuma menoleh saja bagian itu sudah mantul-mantul—tayun-tayun—begitu.
"Kalau tidak
salah namamu Kanade Amakusa, ya. Ada urusan apa menemuiku?"
Dia menatapku
sambil menyibakkan rambutnya. Gerak-geriknya itu entah kenapa mengingatkanku
pada karakter Ojou-sama (nona kaya) super norak yang biasa muncul di
drama-drama zaman dulu.
"Ah, itu,
sebenarnya soal kejadian kemarin..."
"Ditolak."
...Aku diputus
begitu saja tanpa ampun.
"Lagipula,
apa sih maumu dengan membuat deklarasi tidak senonoh seperti itu?"
Itu dia, aku
sendiri pun ingin tahu... Oke, sepertinya tidak ada jalan lain selain
menggunakan taktik 'memelas' seperti saat menghadapi Furano tadi.
"Begini,
sebenarnya aku ini sering bertingkah aneh, jadi cewek-cewek di kelas
memandangku dengan sinis—"
Namun, reaksi
Reikadou setelah mendengar ceritaku justru sangat dingin.
"Bodoh
banget sih. Kalau kamu berhenti bertingkah mesum, bukannya semuanya bakal beres
dengan sendirinya?"
...Iya
sih. Anda benar sekali.
"Yah,
mungkin karena kamu nggak bisa berhenti melakukannya, makanya kamu sampai
disebut 'Lima Penolakan', kan?"
"Kh..."
Cara bicaranya
benar-benar bikin naik pitam. Tapi, karena itu fakta, aku tidak bisa membantah.
Melihatku yang sedang menggertakkan gigi, Reikadou tampak memikirkan sesuatu
dan menunjukkan senyum sadis di wajahnya.
"Begini
saja, sujudlah (Dogeza)."
"Hah?"
"Kalau kamu
mau sujud dan memohon padaku di sini, sekarang juga, aku tidak keberatan untuk
mengatakannya."
Cewek ini... dia
sengaja memberiku syarat mustahil cuma buat menertawakan reaksiku.
...Kalau begitu.
"SAYA
MOHON!"
Tanpa ragu
sedikit pun, aku langsung menempelkan dahi ke lantai.
"Tu-tunggu...
Ka-kamu ini, apa nggak punya harga diri sama sekali?!"
"NGGAK PUNYA!"
"Apa-apaan..."
Yah, lebih tepatnya sih, aku tahu kalau kehormatan dan martabat manusia tidak akan hancur hanya gara-gara hal sepele seperti ini.
Dibandingkan dipaksa memilih antara "Berteriak sambil
telanjang dada" atau "Menirukan suara babi yang sedang disembelih di
atas meja guru", sujud Dogeza ini jujur saja cuma berasa seperti
kentut lewat doang.
Terima kasih, Absolute Choice! Berkatmu mental bajaku
terbentuk sampai sekuat ini! ...Duh, kok aku malah jadi sedih sendiri ya
ngomong begitu.
"Nah, aku
sudah menepati janjiku. Sekarang, katakan!"
Setelah
memulihkan perasaan, aku bangkit dan merangsek maju mendekati Reikadou.
"O-Ogah!"
Reikadou mundur
selangkah, terdesak oleh auraku.
"Ogah
gimana... kan kamu sendiri yang menyuruhku melakukannya!"
"Ya-Ya
habisnya... mana aku tahu kalau kamu bakal beneran melakukannya!"
"Nggak bisa
begitu dong, aku sudah melakukan bagianku, jadi kamu harus tepati janji."
"...... Aku tarik kembali! Perintah tadi aku batalkan!"
"Mana bisa
dibatalkan sekarang, WOI!"
"Hmph, janji
lisan dengan sampah rendahan sepertimu sama sekali tidak layak untuk
ditepati."
An-Anak ini...
dia malah jadi nyolot begitu.
"Oi, mereka
lagi ngapain sih?"
"Si Amakusa
'Lima Penolakan' itu, sepertinya dia malah kegirangan setelah disuruh sujud
sama Reikadou..."
"Serius?
Udah mesum, ternyata Masokis (M) juga, najis banget deh."
"Gue paham, Amakusa, gue paham banget. Emang bikin ketagihan kalau diinjak-injak sama
Nona Ayame."
Terdengar
berbagai komentar dari para penonton yang minta banget dihujat, tapi aku tidak
punya waktu untuk memedulikan mereka.
Namun, bagaimana
caranya? Bagaimana cara membuat manusia dengan kepribadian bengkok begini
bilang su—
PILIH:
① Ancam akan membongkar rahasia Reikadou
(ternyata dadanya pakai silikon)
② Ganti namamu menjadi Amakusa・A-KARENA-AKU-SAYANG-KAMU!・Kanade
"APA KATAMU?!"
Suara teriakanku yang tiba-tiba membuat Reikadou tersentak
kaget sampai tubuhnya terjengking ke belakang.
"A-Apa-apaan sih, tiba-tiba teriak begitu!"
"Nggak mungkin... jadi... ini... SILIKON?"
"–?!"
Wajah
Reikadou langsung pucat pasi.
"(Ka-Kamu,
tahu dari mana soal itu!)"
Reikadou
merangsek maju sampai jarak kami sangat dekat, lalu menginterogasiku dengan
suara berbisik. Melihat reaksinya, sepertinya itu memang benar.
"(Ka-Kalau
ditanya tahu dari mana, ya...)"
"(Sudah
cepat mengaku saja, dasar serangga!)"
Di saat seperti
ini, sifat buruk Reikadou justru menjadi keberuntungan bagiku. Kalau lawanku
adalah gadis biasa, aku pasti merasa bersalah dan ragu-ragu. Tapi terhadap
makhluk ini, rasa bersalahku berkurang drastis.
"(...Kalau
nggak mau dibongkar, tepati janji yang tadi.)"
"(O-Ogah...
menyatakan perasaan, meskipun cuma bohong, kepada serangga rendahan sepertimu
itu benar-benar mustahil bagi—)"
...Begitu
ya, kalau kamu tetap mau bersikap begitu, aku terpaksa mengambil tindakan
tegas.
"Dengar
semuanya, penghuni Kelas 2-10! Sebenarnya dada Reikadou itu sili—"
"GYAAAAAA!"
Sambil
mengeluarkan suara aneh, Reikadou membekap mulutku. Pandangan seluruh kelas langsung tertuju pada
kami.
"N-Nggak ada
apa-apa kok! I-Iya,
bener banget, dadaku ini sebenarnya bokong tahu!"
Reikadou
yang panik luar biasa malah melontarkan alasan yang tidak masuk akal.
"(Kamu ini
sebenarnya mau membuatku bicara apa, sih!)"
"(Kan
kamu sendiri yang barusan ngomong begitu!)"
"(Kh...
Jadi kalau aku mengucapkan kata itu, kamu benar-benar tidak akan membongkar
soal dadaku, kan?)"
"(Iya,
aku bersumpah tidak akan membocorkannya kepada siapa pun.)"
Setelah
mendengar sumpahku, Reikadou menggigit bibirnya dan menunduk cukup lama.
"(......................
Suka.)"
Begitu
dia menggumamkan kata itu dengan suara yang nyaris tak terdengar, ponsel di
sakuku bergetar. Aku segera memeriksa email dari 'Dewa'.
《 Ayame Reikadou CLEAR
》
Sip,
orang keempat beres. Saat aku mengepalkan tangan karena senang, Reikadou
menatapku dengan tatapan penuh dendam.
"Benar-benar
tidak bermutu... Sebenarnya kenapa sih kamu melakukan hal tidak berguna seperti
ini?"
"Yah, soal itu... agak susah dijelaskan. Ibaratnya, kalau kamu ditanya kenapa selalu galak
banget sama orang lain, kamu pasti juga nggak bisa menjelaskannya dengan
kata-kata, kan?"
Aku sendiri
merasa pengalihan topik ini agak dipaksakan, tapi entah kenapa Reikadou malah
tersipu malu dan mulai bertingkah gelisah.
"A-Aku
melakukannya karena teman masa kecil yang tinggal di sebelah rumah bilang dia
suka tipe cewek yang galak (tsun-tsun), jadi aku berusaha keras untuk
memenuhi... Eh, TUH KAN! Kenapa aku malah bicara begini, sih!"
"Kan kamu
sendiri yang tiba-tiba curhat, WOI!"
3
Sekarang, yang
tersisa tinggal Yukihira dan Ibu Ketua Kokubyakuin.
Di tengah
atmosfer sore yang membuat mengantuk, aku memutar otak menyusun strategi untuk
menghadapi dua lawan tangguh ini. Tapi...
"Spiii..."
"Kukaaa..."
Gara-gara Yuuouji
dan Chocolat yang tidur mati di belakang dan di sampingku, aku sama sekali
tidak bisa konsentrasi.
Berniat
mengalihkan kesadaranku ke tempat lain, aku melirik ke arah bangku Yukihira di
tengah kelas.
Sekilas, dia
tampak sedang rajin menyalin isi papan tulis, tapi ternyata bukan.
Sepertinya dia
sedang menulis sesuatu di kertas yang bukan buku catatannya, tapi dari posisi
ini aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Spiiiii..."
"Kukaaaaa..."
...Berisik
banget, sih.
Yah, terserah
Yukihira mau melakukan apa saat pelajaran. Masalahnya adalah bagaimana cara
membuat Yukihira bilang "suka". Soal disogok uang tadi jelas-jelas
cuma bercanda, tapi di sisi lain, dia bukan tipe orang yang bisa dihadapi
dengan metode serangan lurus... Aduh, buntu. Aku tidak bisa memikirkan apa pun.
"Spipipiiii—"
"Kukaaaaaa—"
"BERISIK
WOIIIIII!"
Tanpa sadar, aku
berteriak kencang. Orang
lagi pusing mikir, mereka malah asyik mendengkur keras banget.
"Amakusa,
berisik." Teguran dingin dari guru langsung meluncur ke arahku.
"...Maaf,
Pak. Tapi dua orang ini tidurnya berisik sekali."
"Mereka itu
kalau bangun malah makin bikin gaduh, jadi biarkan saja mereka tidur."
...Bapak sebagai
guru apa tidak masalah bilang begitu?
Yah, memang benar
sih, kalau mereka berdua bangun, mereka bakal asal angkat tangan dan memberi
jawaban ngawur yang bikin suasana kelas jadi kayak anak SD...
"Lagipula,
Chocolat-kun itu kan peliharaan pembantu kegiatan belajarmu, jadi kamu yang
harus mengurusnya baik-baik."
...Rasanya ada
sesuatu yang salah secara mendasar di sini.
Setelah itu, si
bocah dan si "anjing" tetap tidur lelap sampai jam pelajaran keenam
selesai, benar-benar mengganggu konsentrasiku. Akhirnya, tanpa menemukan ide
apa pun, wali kelas pun selesai dan Yukihira sudah keluar dari kelas.
Yah, hari ini aku
sudah berhasil membereskan dua orang, dan batas waktunya sampai 31 Mei—masih
ada dua minggu lagi. Tapi karena lawannya berat, aku ingin menyiapkan taktik
sedini mungkin.
"Hadeh...
gimana ya enaknya."
Saat aku tanpa
sengaja mendekati meja Yukihira, selembar kertas terselip jatuh dari dalamnya.
"Hm? Apaan
nih?"
Begitu kupungut,
ternyata itu adalah brosur pengumuman sebuah acara. Di tengahnya tergambar sebuah karakter yang
kelihatan lembut dan empuk.
"Ooh, itu
kan 'Shirobuta-kun'!"
Tiba-tiba, suara
Yuuouji terdengar dari belakang.
"Shirobuta-kun?"
"Lho,
Amatchi nggak tahu? Ini itu karakter yang lagi dipromosikan sama 'UOG Toys',
sekarang lagi populer banget di kalangan anak-anak!"
Mendengar
itu, aku memperhatikan brosurnya sekali lagi. Visualnya yang sangat
terdeformasi (chibi) memang terlihat sangat imut, jadi wajar saja kalau
disukai anak-anak. Tapi
kenapa dari sekian banyak pilihan, motifnya harus babi putih (Shirobuta)...?
Kalimat yang
tertulis di brosur itu adalah: "Ayo Bermain Bersama Shirobuta-kun,
Ayah, Ibu, dan Anak!" Dilihat dari mana pun, ini acara buat anak
kecil. Kenapa Yukihira punya yang begini?
"Eh, di
balik brosur itu ada tulisannya, lho."
Sesuai kata
Yuuouji, aku membalik kertasnya.
"Apa...
ini?"
Di sana tertera
sebuah ilustrasi yang JELEKNYA LUAR BIASA, dan di sampingnya tertulis: "Shirobuta-kun
imut bangeeeet, aku sukaaa!" dengan tulisan tangan yang juga mirip
anak SD.
Berkat tulisan
itulah aku baru sadar kalau ilustrasi hancur tadi sebenarnya adalah
Shirobuta-kun. Saking buruknya, gambar itu benar-benar di level kehancuran
total.
Tunggu
sebentar... Jangan-jangan, yang digambar Yukihira saat pelajaran tadi itu ini?
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundakku.
"Hm... eh, Yukihira?!"
Lho? Bukannya tadi dia sudah keluar kelas?
"Amakusa-kun... apa yang sedang kamu pegang itu...
sebenarnya?"
Meskipun bicaranya datar seperti biasa, entah kenapa tubuh
Yukihira gemetar hebat.
"? Enggak, ini jatuh dari mejamu jadi kupungut dan
gueeeergh!"
Tenggorokan! Dia tiba-tiba menusuk tenggorokanku dengan
serangan tangan pisau!
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Uuu... kenapa jadi begini sih—!"
Sambil mendekap brosur itu di dadanya, dia menggumamkan
sesuatu dengan suara kecil lalu lari secepat kilat. Suaranya tenggelam oleh
bunyi batukku, jadi tidak terdengar sama sekali.
"Uhuk,
a-apa-apaan itu tadi..."
"Kanade-san, ini adalah hyanfu!"
"Uwoh!"
Chocolat tiba-tiba muncul di depanku. Di mulutnya tersumpal
sebuah kue Monaka ukuran jumbo. Camilan tradisional kuno begini siapa
sih yang bawa ke sekolah?
"Kesempatan (Chance)?"
"I-iya kok. Furano itu sangat suka Shirobuta, makanya dia memang berniat pergi ke event
itu."
"Enggak,
tapi... itu kan Yukihira."
"Kanade-san
benar-benar tidak mengerti hati wanita. Mana ada sih, perempuan yang tidak suka
hal-hal imut atau homo!"
...Kalau
hal semacam itu yang disebut hati wanita, mending aku tidak usah tahu seumur
hidup.
"Oke,
anggaplah Yukihira pergi ke acara itu. Memangnya itu jadi kesempatan apa buatku?"
"Kanade-san
juga harus ikut acara ini. Kalau Furano-san melihat hal-hal imut, hatinya pasti
akan melunak, dan mungkin saja dia mau menuruti permintaanmu."
"Nggak
mungkin... mana ada segampang itu."
"Oke, oke!
Pertanyaan sebentar!"
Yuuouji tiba-tiba
mengangkat tangan dan menyela.
"Aku nggak
terlalu paham, tapi intinya Amatchi ingin semua orang yang ada di ruang OSIS
kemarin bilang 'suka' padamu, kan?"
"Yah...
begitulah."
"Fumu-fumu.
Bau-baunya mirip waktu masalah Konagi-tan kemarin, ya. Kamu bukan ingin mereka
benar-benar 'suka', tapi asal mereka bilang 'suka' saja sudah oke, kan?"
Entah ini insting
liar atau apa, tapi dia selalu tajam kalau menebak... Tapi, aku tidak boleh
sembarangan mengiyakan. Kalau aku ditanya lebih dalam lagi, kepalaku pasti
bakal kena blokir rasa sakit.
Namun, melihat
ekspresiku, Yuuouji tampak yakin kalau tebakannya benar.
"Begitu
ya... Hmm, hari ini perasaanku nggak ganjil lagi!"
Dia menunduk sambil menggumamkan sesuatu dengan suara kecil,
lalu tiba-tiba mendongak dengan ceria.
"Mufufu,
aku punya ide bagus!"
"Ide bagus?"
"Menurutku ide Chocolat-chi tadi sudah di jalur yang
benar. Tapi kalau cuma datang ke acara itu rasanya kurang mantap, jadi gimana
kalau kita masuk ke dalamnya?"
"Hah?"
"Iya, jadi maksudku, kalau Amatchi jadi orang di
dalam kostum Shirobuta-kun, Furano-chi pasti bakal mau bilang suka
padamu!"
Yuuouji
mengatakannya seolah-olah itu hal sepele.
"Enggak,
tapi... orang di dalam kostum itu kan biasanya dikerjakan oleh
profesional?"
"Hmm,
biasanya sih begitu. Tapi karena Shirobuta-kun punya latar belakang cerita
punya kepribadian ganda akibat trauma masa lalu, makanya setiap kali tampil,
orang di dalamnya sengaja diganti-ganti."
Karakter buat
anak kecil kenapa dikasih latar belakang seberat itu, sih?!
"Karena
mereka nggak mau citra karakternya jadi kaku, katanya mereka selalu pakai orang
part-time. Kebetulan buat acara kali ini, mereka berencana cari orang di
jalanan sehari sebelumnya. Jadi, aku bakal minta tolong ke penanggung jawab
acaranya supaya Amatchi yang bisa masuk."
"Enggak, aku
sih nggak..."
"Oke,
diputuskan!"
"Yuuouji...
kamu cuma mau menjadikanku bahan tontonan, ya?"
"Bener
banget!"
...Dia
menjawab dengan mata berbinar-binar sampai aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
◆◇◆
Dan akhirnya,
hari Minggu dua hari kemudian.
Begitu aku sampai
di alun-alun yang berjarak dua-tiga menit jalan kaki dari stasiun, di sana
sudah berdiri area acara darurat lengkap dengan panggung. Jumlah kursi yang
disediakan bahkan mencapai dua ratus lebih. Aku membayangkan acaranya bakal
lebih santai, tapi ternyata ini acara yang cukup serius.
Saat aku sedang
celingak-celinguk mencari arah, seorang pria berusia akhir tiga puluhan
menyapaku.
"Ah, kamu
Kanade Amakusa-kun, ya? Aku Endo, penanggung jawab operasional acara
ini. Aku sudah dengar ceritanya dari Ouka-chan. Mohon bantuannya ya hari
ini."
"Ah, mohon
bantuannya juga, Pak. Maaf sudah merepotkan dengan permintaan aneh
saya."
"Tidak apa-apa, Shirobuta-kun memang lebih bagus kalau
diisi oleh orang amatir."
Pria
bernama Endo itu ternyata orang yang sangat ramah.
Setelah
menyapa mbak pembawa acara dan para staf, aku mencoba memakai kostum
Shirobuta-kun di area belakang panggung.
Kostumnya
sendiri berbentuk bulat buncit, tapi saat kupakai, ternyata bagian dalamnya
cukup longgar. Mungkin memang dibuat supaya siapa pun yang masuk, bentuk
luarnya tetap konsisten.
Meski
begitu, kostum ini lumayan berat, dan jujur saja susah buat dipakai bergerak.
Untungnya, di bagian mata ada banyak lubang kecil yang membuat pandanganku
cukup luas.
Setelah
itu, aku melepas kostum sejenak untuk briefing jadwal dengan mbak pembawa
acara.
Katanya,
acara ini bukan seperti pertunjukan pahlawan super yang punya cerita atau
koreografi tarung, tapi aku cukup mengikuti arahan mbak pembawa acara untuk
berinteraksi dengan anak-anak. Baiklah, kalau cuma itu sepertinya aku bisa
melakukannya.
"Ngomong-ngomong,
apa Yuuouji belum datang?"
Mengingat
betapa bersemangatnya dia kemarin, aku bertanya pada Pak Endo karena belum
melihat batang hidungnya.
"Ah,
Ouka-chan ya. Sepertinya dia saking senangnya dengan acara hari ini, semalam
dia tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat. Pihak keluarganya baru saja
memberi kabar kalau dia tidak bisa datang karena sekarang dia lagi tidur
pulas."
...Sudah
kayak anak SD mau piknik saja. Omong-omong, Chocolat juga rencananya mau ikut,
tapi saat mau kubangunkan, dia lagi-lagi (nggak kapok-kapoknya) mimpi aku
diserang homo. Jadi
aku jepit hidungnya pakai jepitan jemuran dan kutinggal saja.
Kalau sampai
Yukihira tidak datang, aku beneran nggak tahu buat apa aku ke sini...
◆◇◆
Akhirnya, dengan
perasaan cemas, acara pun dimulai.
"Halo
semuanyaaa—!"
"""HALOOO—!"""
Suara anak-anak
terdengar sangat kencang, tidak kalah dari suara mbak pembawa acara yang
memakai mik. Karena aku terus berada di belakang panggung, aku tidak tahu
situasinya, tapi sepertinya semua kursi terisi penuh.
Setelah mbak
pembawa acara bicara selama beberapa menit, giliranku dipanggil.
"Kalau
begitu, inilah saat yang kita tunggu-tunggu, Shirobuta-kun datang!"
Sesuai aba-aba,
aku berjalan sempoyongan naik ke panggung.
"Shirobuta-kun!"
Mata anak-anak
berkilat kegirangan. Wah, wah, ternyata Shirobuta-kun sepopuler ini, ya?
Saking
populernya, setiap kali aku melakukan gerakan kecil mengikuti arahan mbak
pembawa acara, sorakan selalu pecah. Setelah melakukan itu beberapa kali...
"Nah,
sekarang waktunya sesi interaksi dengan Shirobuta-kun!"
Mbak pembawa
acara menuntunku turun dari panggung.
"Waaaaah!"
"Imutnya!"
"Empuk
banget!"
Anak-anak
langsung menyerbu dengan semangat luar biasa.
"Ayo,
Shirobuta-kun nggak bakal lari kok, jadi jangan berebutan ya!"
Kalimat
itu tentu saja tidak mempan bagi anak-anak yang sedang antusias. Aku yang
dikepung pun jadi kalang kabut melambai-lambaikan tangan dan mengusap kepala
mereka.
Setelah
kondisi mulai tenang dan aku mulai terbiasa, aku mulai mengedarkan pandangan ke
sekeliling untuk mencari target utamaku hari ini. Tentu saja, Yukihira.
Tapi, mau
seberapa suka pun dia sama karakternya, apa dia benar-benar akan datang ke
acara anak kecil begini? Sambil melayani anak-anak, aku terus memantau area
sekitar.
...Ada.
Di bagian
paling belakang area acara, bahkan agak menjauh lagi, terlihat seorang gadis
yang mengintip dari balik bayangan bangunan.
Rambut
pendek yang memancarkan kilau perak. Mata kemerahan. Dan wajah yang benar-benar
tanpa ekspresi. Mau dilihat
dari mana pun, itu Yukihira. Wah, dia beneran datang.
Begitu Yukihira
sadar kalau aku (Shirobuta-kun) sedang menatapnya, dia langsung membuang muka
seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah itu,
sambil terus melayani anak-anak, aku mengecek kondisi Yukihira beberapa kali. Meskipun ekspresinya datar, dia
terus menatapku dengan tajam, atau mengambil foto dengan kamera digitalnya.
Tapi setiap kali dia sadar kalau aku sedang melihatnya, dia langsung berhenti
dan membuang muka lagi.
Sudah jelas dia
sangat tertarik pada Shirobuta-kun, tapi sampai acara hampir selesai pun,
Yukihira tidak juga mendekat.
◆◇◆
"Semuanya,
sampai jumpa lagi ya—!"
"""SAMPAI
JUMPA—!"""
Waktu berlalu
begitu cepat, dan acara pun akhirnya selesai. Anak-anak pulang dengan wajah puas bersama
orang tua mereka.
Supaya
tidak ketahuan kalau aku memperhatikannya, aku memalingkan kepala kostum ke
arah lain tapi mataku mengintip Yukihira dari lubang mata kostum. Dia masih
berdiri di balik bayangan gedung tanpa bergerak selangkah pun, terus menatap ke
arah sini... Sebenarnya dia mau apa sih?
Aku tidak
bisa bergerak bebas selagi memakai ini, tapi saat aku bingung harus bagaimana,
Yukihira mulai bergerak.
Dengan
ragu-ragu dia melangkah, dan perlahan-lahan dia berjalan sampai tepat berada di
depanku.
"...Halo,
Shirobuta-kun."
Dia
menyapaku dengan nada datar sambil berhadapan langsung denganku.
Sebagai
Shirobuta-kun, aku mengangkat satu tangan dengan gagah untuk membalas salamnya.
Di saat
itu juga, cuping hidung Yukihira bergerak sedikit.
"Anu,
bolehkah aku minta kamu berputar sekali saja di sini?"
Sesuai
permintaannya, aku berputar sekali.
"...Terima
kasih."
Setelah kalimat
itu, tubuhnya mulai gemetar kecil... Ada apa?
"Anu...
bolehkah aku menyentuhmu sebentar?"
Meski
merasa aneh dengan gelagat Yukihira, aku mengangguk.
Yukihira
menyentuh dan meraba-raba badan Shirobuta-kun yang empuk itu dengan malu-malu.
"Duh...
nggak kuat lagi."
Nggak
kuat? Apanya yang nggak kuat?
Mengabaikan
rasa bingungku, Yukihira mulai mengecek situasi sekitar dengan terburu-buru.
"Orang
yang kukenal... sepertinya nggak ada."
Setelah
bergumam, dia mengecek sekali lagi untuk memastikan. Lalu dia menghadap ke
arahku dan bergumam lagi.
"Duh...
aku sudah tidak tahan lagi."
Detik
berikutnya...
"Hauuu..."
Hah?
"Shirobuta-kun...
akhirnya... akhirnya aku bisa sedekat ini padamu!"
Wajah
Yukihira yang tadinya tanpa ekspresi, dalam sekejap meleleh dan menjadi sangat
lembut.
Hah?...
Hah?
Aku hanya
bisa berdiri mematung karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Dan saat itu
juga, dia memelukku sekuat tenaga.
"I-Imut
bangeeeeeet!"
...........................SIAPA
INI?!
4
"Uuu, imut
banget sih kamu...!"
Makhluk yang
kelihatannya adalah Yukihira itu terus memelukku erat-erat, seolah tidak mau
melepaskanku. Setelah membiarkanku dalam posisi itu setidaknya selama satu
menit, akhirnya dia membebaskanku juga.
"B-Boleh ya
aku foto?"
Otakku yang sudah
tidak bisa berpikir jernih ini hanya bisa mengangguk setengah sadar.
"Asyik!"
Setelah
menangkupkan kedua tangan di depan dada sambil kegirangan yang berlebihan,
Yukihira (?) berlari menghampiri seorang staf yang sedang membereskan kursi di
kejauhan. Aku yang masih belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi hanya
bisa menatap pemandangan itu dengan linglung.
"Anu...
itu... maaf mengganggu waktunya sedang bekerja..."
Dia tampak
gelisah dan bicara terbata-bata. Itu adalah nada bicara yang mustahil keluar
dari Yukihira yang biasanya.
"Ada
apa?" tanya si staf.
Yukihira (?)
menunduk sedikit, lalu berbisik pelan.
"Aku
ingin... berfoto dengan Shirobuta-kun, tapi, anu, bisakah Anda... sedikit
membantu saya?"
"Ah, cuma
itu. Wajahmu tegang sekali, aku kira kamu mau minta tolong sesuatu yang
gawat."
Staf itu
pun setuju dengan senang hati.
"Te-Terima
kasih banyak!"
Setelah
menyerahkan kamera digitalnya, Yukihira (?) segera berlari kecil kembali ke
sampingku.
"B-Boleh
tidak ya aku foto sambil mengelus-elusmu?"
Setelah
bertanya dengan ragu-ragu, tanpa menunggu jawabanku, dia langsung memelukku
sesuka hati dan mulai mengelus bagian belakang kepalaku dengan penuh semangat.
"Oke,
cheese!"
Begitu
selesai memotret, staf tersebut menyerahkan kembali kamera digitalnya kepada
Yukihira (?) lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ehehe."
Yukihira
(?) mendekap kamera itu di dadanya dengan senyum lebar yang merekah... SERIUS,
KAMU SIAPA SIH?!
"Bisa
foto berdua dengan Shirobuta-kun... aku sempat bingung harus bagaimana, tapi
aku benar-benar senang sudah datang ke sini, uuu."
Setelah
ekspresinya melunak, tiba-tiba nadanya turun drastis, suaranya terdengar sangat
pelan seolah hampir menghilang.
"Soalnya
tidak ada orang yang kukenal di sini... kalau sampai jati diriku yang
sebenarnya ketahuan, aku tidak akan bisa sekolah lagi."
Apa
maksudnya jati diri yang sebenarnya? Jangan-jangan... ini sifat asli Yukihira?
Nggak,
nggak, nggak, mustahil banget. Maksudku, dia itu Yukihira, lho. Yukihira yang setiap kali buka mulut kalau
tidak menghina ya bicara mesum.
Masa
kepribadiannya yang berantakan itu cuma akting? Kalau begitu, aku bakal seratus
kali lebih percaya kalau dibilang dia ini adik kembarannya. Tanpa sadar, aku
menatap wajah Yukihira lekat-lekat.
"Aaah, tetap
saja kamu terlalu imut!"
Yukihira (?)
mencoba memelukku untuk ketiga kalinya. Karena saking semangatnya, aku refleks mundur
selangkah.
Yukihira
(?) tiba-tiba mematung, seolah tersentak kembali ke realita.
"Ah,
ma-maaf! Maaf aku terlalu bersemangat!"
Wajahnya memerah
padam, dan dia mendadak lesu.
"Anu...
itu... aku juga anak SMA, jadi aku tahu kalau di dalamnya ada orang, tapi,
anu... itu... aku sangat lemah terhadap hal-hal imut... biasanya aku tidak
seheboh ini, malah sebenarnya aku tidak pandai bicara dengan orang lain... tapi
Shirobuta-kun terlalu imut sampai aku tidak tahan, atau mungkin aku lepas
kendali..."
Melihat
tingkahnya yang sangat menggemaskan itu, aku secara refleks melambaikan tangan
dengan heboh, memberikan gestur "jangan dipikirkan".
"Ah, terima
kasih..."
Entah sadar atau
tidak, detik berikutnya dia sudah asyik mengelus-elus bulu kostumku. Seberapa
suka sih kamu sama Shirobuta-kun?!
Dan setelah puas
menikmati tekstur bulunya untuk beberapa saat, dia akhirnya angkat bicara.
"Anu...
sepertinya semua orang sedang beres-beres, aku tidak mau mengganggu jadi aku
pulang sekarang ya."
Dia mengatakannya
dengan nada enggan, lalu membalikkan badan dan mulai berjalan pergi. Namun,
setelah beberapa langkah, dia mendadak berhenti, berbalik, dan kembali lagi ke
arahku.
Begitu sudah di
dekatku, Yukihira (?) menatapku dari bawah dengan mata yang tampak sedikit
berkaca-kaca.
"Anu...
terakhir... sekali lagi saja... bolehkah aku memelukmu sekali lagi?"
...Kira-kira ada
berapa banyak laki-laki di dunia ini yang sanggup menolak permintaan itu?
Begitu aku
mengangguk pelan, Yukihira (?) langsung memelukku dengan kekuatan yang luar
biasa.
"Aku suka
banget sama kamu!"
Ah...
Tepat saat
kata-kata itu keluar dari mulut Yukihira (?), ponselku bergetar.
Mengingat
waktunya, tidak salah lagi ini pasti notifikasi Clear. Tapi, sekarang
bukan waktunya untuk mengecek hal itu.
"Dah-dah,
Shirobuta-kun!"
Sambil melihat
punggung Yukihira (?) yang berlari menjauh dengan senyuman, aku terjatuh dalam
kondisi syok berat.
Aku baru saja
melihat sesuatu yang luar biasa... Sesuatu yang benar-benar gila.
Aku sama sekali
tidak bisa mempercayai ingatanku sendiri selama lima menit terakhir ini.
Mustahil... bagaimanapun juga, itu tidak mungkin. Aku pasti baru saja melihat
mimpi di siang bolong.
"Oke, kerja
bagus."
Tiba-tiba sebuah
tangan menepuk bagian belakang kepalaku.
"Wah,
anak tadi anak SMA, kan? Di usia segitu bukan berarti tidak ada penggemar sih,
tapi yang sefanatik itu baru pertama kali ini aku lihat."
Tanpa
kusadari, Endo-san sudah berdiri di sampingku dengan senyum masam.
Berarti
bukan cuma aku yang lihat... Ternyata yang tadi itu bukan halusinasi, tapi benar-benar kenyataan...
Di sampingku yang
masih bengong, Endo-san bertepuk tangan sekali.
"Nah, tugas
terakhir. Selagi kami membereskan lokasi, bisakah kamu keliling kota sekali
putaran untuk mempromosikan Shirobuta-kun?"
Tanpa benar-benar
paham apa yang diminta, aku hanya mengangguk pelan.
◆◇◆
Sambil tetap
memakai kostum, aku berjalan sempoyongan menyusuri kota. Karena sudah dipakai
terlalu lama, suhu di dalam kostum ini sudah panasnya minta ampun, tapi bagiku
sekarang, hal itu tidak ada apa-apanya.
Otakku sepenuhnya
dikuasai oleh rahasia luar biasa milik Yukihira (yang mau tidak mau harus
kuakui kalau itu memang dia).
Tapi... kalaupun
aku mengalah seratus langkah dan mengakui kalau karakternya di sekolah itu cuma
akting, alasannya benar-benar tidak masuk akal. Buat apa dia harus berakting jadi orang aneh
seperti itu?
"Lho...
ini di mana?"
Lamunanku
terputus, dan aku baru sadar sudah masuk ke gang belakang yang sepi. Berjalan di tempat seperti ini tidak akan
jadi promosi sama sekali. Sedang apa sih aku ini? Aku kan dibayar, jadi harus
kerja yang benar.
Tepat saat aku
berbalik untuk kembali ke jalan utama,
"Owa!"
Aku menginjak
sesuatu dan terjatuh.
"Aduh..."
Meskipun jarak
pandang kostum ini lumayan luas, secara struktur, aku tetap tidak bisa melihat
apa yang ada di bawah kakiku. Dari rasanya, sepertinya aku menginjak kaleng
atau semacamnya.
"Haa..."
Sambil menghela
napas, aku mencoba bangkit, tapi kemudian aku menyadari satu hal yang fatal.
............Aku
tidak bisa bangun sendiri.
Bentuk
tubuh Shirobuta-kun yang terlalu bulat malah membawa petaka; saat dalam posisi
berbaring, kakiku melayang dan tidak bisa menyentuh tanah.
Gubrak-gabrik...
gubrak-gabrik... gubrak-gabrik...
Mau
seberapa keras pun aku menggerak-gerakkan tangan dan kaki, aku tetap tidak bisa
berkutik dari posisi telentang ini. Karena aku jatuh tepat searah dengan jalan,
aku bahkan tidak bisa berguling untuk berpindah tempat.
Tepat
saat aku berhenti sejenak untuk memikirkan cara, tiba-tiba terdengar suara
seseorang.
"Lho...
Shirobuta-kun?"
Hah? Suara ini
jangan-jangan...
"Benar
Shirobuta-kun, kan?"
...Tidak salah
lagi, ini Yukihira.
"Kenapa ada
di tempat seperti ini?"
Itu harusnya
pertanyaanku! Kenapa dari sekian banyak tempat, kamu malah datang ke sini di
saat seperti ini sih?!
Sebagai penggemar
berat Shirobuta-kun, mustahil Yukihira akan membiarkan situasi ini begitu saja.
Terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat.
"Anu...
permisi?"
Yukihira bertanya
dengan ragu-ragu... Mana mungkin aku bisa menjawab.
"Jangan-jangan...
tidak ada orang di dalamnya?"
Sesaat,
aku berpikir untuk tidak mengeluarkan suara dan memintanya membantuku bangun
tanpa membongkar identitasku, tapi aku segera mengurungkan niat itu.
Kostum
ini beratnya lumayan. Ditambah lagi dengan berat badanku, mustahil bagi
Yukihira sendirian untuk mengangkatku.
Artinya,
dia pasti akan menggulingkanku sampai tengkurap lalu membuka ritsleting di
punggung... itu bahaya banget! Satu-satunya cara adalah tetap diam seribu
bahasa sampai dia pergi.
"Tapi kenapa
ya, ada di sini?"
Hawa kehadirannya
terasa semakin dekat.
"Permisi~
Wah, meskipun tidak bergerak ternyata tetap imut banget!"
Yukihira mulai
mengelus-elus buluku dengan penuh perasaan. Iya, aku sudah tahu kalau kamu suka
Shirobuta-kun, jadi tolong cepat panggil orang lain saja...
"Kalau
dilihat-lihat, permukaannya lumayan kotor ya... Di sana itu tempat pembuangan
sampah, apa jangan-jangan, kamu sudah dibuang?"
Aku rasa tidak
ada orang yang membuang kostum ke tempat sampah biasa, tapi kalau dia salah
paham dan mengira tidak ada orang di dalam, alasan apa pun tidak masalah
bagiku.
"Benar juga,
di sini tidak ada orang yang lewat... sekali-kali, boleh juga ya melakukan sesi
renungan di tempat selain atap sekolah. Apalagi ada Shirobuta-kun di
sini."
Dengan nada suara
yang sedikit merendah, Yukihira sepertinya berjongkok dan menjadikanku sandaran
punggung.
Hei, hei, hei,
yang benar saja! Aku tidak tahu apa maksudnya sesi renungan itu, tapi kalau dia
terus di sini──
"Hei...
maukah kamu mendengarkanku?"
"Kh?!"
Pertanyaan yang
tiba-tiba itu membuatku hampir mengeluarkan suara... apa aku ketahuan?
"Jadi
begini..."
...Sepertinya,
dia cuma sedang bicara sendiri sambil menganggap Shirobuta-kun sebagai lawan
bicaranya. Aku menghela napas lega tanpa mengeluarkan suara.
Kalau tidak
salah, saat pertemuan kompetisi antarkelas dulu, dia pernah bilang kalau
hobinya bicara dengan boneka atau semacamnya.
Aku kira itu cuma
guyonan, tapi ternyata itu beneran...
"Aku itu,
sejak kecil punya kepribadian yang pemalu, kalau mencoba bicara dengan orang
pasti selalu terbata-bata, makanya sampai SMP aku hampir tidak punya teman...
Sejak tahun lalu karena urusan mutasi kerja ayahku, aku harus pindah ke kota
ini... Karena tidak ada satu pun orang yang mengenalku, aku berpikir untuk
lulus dari diriku yang payah dan berusaha keras."
Begitu rupanya, yang biasa disebut High School Debut.
"Tapi... ternyata gagal. Saat aku mencoba
menyembunyikan jati diriku dan bicara dengan aktif, entah kenapa, aku malah
jadi anak yang sangat aneh... Aku sudah mencoba memperbaikinya berkali-kali...
tapi selain dengan karakter itu, aku tidak bisa bicara dengan normal kepada
orang lain."
...Jadi benar, Yukihira yang ada di sekolah itu hanyalah
buatan.
"S-Sebenarnya aku ingin berhenti. Tapi begitu membuka
mulut, entah kenapa tidak bisa berhenti, aku malah mencela orang, atau anu...
bicara hal-hal mesum terus... Setiap
hari setelah pulang ke rumah, rasanya aku ingin mati karena malu..."
Ya iyalah, kalau aslinya bukan niat sendiri tapi malah
bilang soal dada atau kikkoubari, pasti rasanya mau mati juga... Aku pun pernah mengalami hal serupa, jadi
aku sangat paham rasanya. (T/N: kikkoubari — Teknik ikatan tali ala Jepang)
"Makanya,
seminggu sekali, aku melakukan sesi renungan sendirian di atap sekolah. Di sana
tempatnya sangat terbuka, jadi aku merasa kegelisahan kecilku bisa terbang
terbawa angin..."
Jadi itu
maksudnya sesi renungan... Eh? Cerita ini harusnya pertama kali kudengar, tapi
kenapa rasanya sama sekali tidak asing ya... kenapa ya.
"Tapi...
mau seberapa sering pun aku merenung, tetap saja tidak berguna. Apalagi setelah
naik ke kelas dua, rasanya makin tidak terkendali... Ada anak laki-laki bernama
Amakusa-kun, meskipun aku bicara aneh seperti apa pun, dia tidak meninggalkanku
dan tetap mengajakku bicara, jadi aku malah jadi makin lepas kendali..."
Fakta
yang mengejutkan. Ternyata aku juga punya andil tanggung jawab kenapa Yukihira
jadi seperti itu...
Di sana, nada
suara Yukihira semakin merosot sedih.
"...Lalu,
kemarin lusa, Amakusa-kun melihat selebaran hari ini, aku merasa sangat malu
sampai-sampai aku memukul lehernya lalu kabur begitu saja... Aaah, bagaimana
ini. Aku tidak tahu bagaimana harus minta maaf sekarang, dan besok, aku
terpaksa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa... Uuu, maafkan aku ya,
Amakusa-kun."
Ternyata, itu
cuma cara dia menutupi rasa malu...
"Ini semua
karena aku yang lemah. Karena
aku tidak punya keberanian untuk berinteraksi dengan orang dalam kondisi
seperti ini. Suatu saat
nanti... suatu saat nanti, aku harus menunjukkan jati diriku yang sebenarnya,
dan bicara dengan teman-temanku menggunakan kata-kataku sendiri. Aku... aku
tahu itu... Tapi, tapi, sekarang masih belum bisa. Aku tidak akan
sanggup kalau teman-teman sekelas tahu jati diriku yang seperti ini..."
Aku juga merasakan hal yang sama. Mengetahui fakta seperti
ini, besok aku harus bersikap bagaimana di depan Yukihira?
Meskipun dia tidak tahu kalau aku sudah tahu, sosok Yukihira
yang ini pasti akan terus terbayang di benakku, dan sikapku pasti akan jadi
tidak alami.
Tiba-tiba, terasa Yukihira bangkit berdiri.
"Uuu... aku benci diriku yang lemah ini!"
Sambil berteriak, Yukihira melompat ke arahku seolah-olah
menindihku.
Wajah Yukihira tertekan tepat di bagian mata Shirobuta-kun
yang sedang telentang, sehingga wajahnya langsung memenuhi pandanganku.
Ugh...
Tanpa sadar, aku
menahan napas.
Dengan rambut
yang berantakan dan mata yang sedikit berkaca-kaca, wajah itu...
A-Aku tidak
menyangka Yukihira bisa menunjukkan ekspresi yang begitu membangkitkan insting
untuk melindunginya... Sejujurnya ini curang banget──
PILIH:
① Minta tolong segera dikeluarkan dari
kostum
② Ingatan tentang "Sifat Asli"
Yukihira Furano akan terhapus dari otak.
※Sebagai tambahan, folder "Jalan Menuju Sang Filsuf" di komputer
juga akan terhapus
Apa-apaan ini...
Keduanya... keduanya sama-sama pilihan yang paling buruk!
Pertama, yang ①. Kalau aku keluar dalam situasi
ini... meski tidak tahu pasti apa yang akan terjadi, yang jelas aku dan
Yukihira pasti akan berakhir dalam situasi yang gawat.
Berikutnya, yang ②. Bagian awalnya sih, malah aku
yang ingin minta tolong supaya dihapus, tapi setelah itu ada kalimat yang
sangat jahat.
Koleksi... koleksi gambar vulgar yang sudah kukumpulkan
sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun akan hilang? ...Masa hal seperti itu bisa kurelakan begitu saja?
...Nggak, mana mungkin bisa kurelakan!
"Guh..."
Karena sakit kepala mendadak sebagai desakan untuk memilih,
tanpa sengaja aku mengerang.
Untungnya, sepertinya Yukihira tidak mendengarnya, tapi
kalau ada desakan yang lebih kuat lagi, aku tamat.
Kalau dia sampai sadar ada orang di dalam, itu sama saja
dengan otomatis memilih nomor ①. Jika aku ingin memilih nomor ②,
aku harus segera memutuskannya.
Bagaimana ini... bagaimana?
..........................Baiklah.
Setelah ragu sejenak, aku pun memberikan jawaban.
Faktor penentunya adalah aku menyadari bahwa aku sendiri
sebenarnya menikmati interaksiku dengan Yukihira.
Meskipun aku sering merasa kesal atau merasa tidak tahan,
tadi, saat aku berpikir hubungan itu mungkin akan hilang, aku merasakan
kesepian yang luar biasa.
Perasaan Yukihira
pun menjadi salah satu faktor penentu bagiku. Aku merasa, daripada mengetahui
rahasianya lewat kecelakaan yang tidak sengaja seperti ini, lebih baik tidak
ada yang tahu soal sisi Yukihira yang satu ini sampai dia sendiri benar-benar
siap menunjukkan jati dirinya atas kemauannya sendiri.
Jadi,
keputusannya adalah...
Selamat
tinggal... surga koleksi gambarku tersayang!
Begitu aku
memilih nomor ②, pilihan-pilihan itu seketika lenyap dari
dalam kepalaku.
"Fuu...
rasanya sedikit lega... Sesekali melakukan sesi renungan di luar atap sekolah
boleh juga."
Bersamaan dengan Yukihira yang bangkit berdiri, sebuah
sensasi seperti kabut yang menyelimuti otak mulai menyebar.
"Tapi
Shirobuta-kun ini bagaimana ya. Biarpun sudah dibuang, kalau ditaruh di sini
tidak enak juga. Aku tidak bisa membawanya sendirian, jadi aku harus cari
sese—"
Di tengah kalimat
Yukihira, kesadaranku mendadak terputus.
◆◇◆
"—Oi...
Hei!"
Kesadaranku
terbangun karena suara seseorang yang memanggilku dengan panik.
"Eh?"
"Syukurlah...
Kamu tidak apa-apa, Amakusa-kun?"
Siapa?...
Dan apa yang sedang kulakukan di tempat seperti ini?
Laki-laki
yang sedang menatapku itu menunjukkan senyum lega.
"Kamu
ingat aku, kan? Aku Endo."
Endo-san?... Ah, benar juga. Aku datang ke sini untuk kerja sambilan jadi maskot, kan. Terus, aku
menemukan sosok Yukihira di balik bayangan bangunan... lho, lalu apa yang
terjadi setelah itu?
"Sepertinya
kamu terkena dehidrasi. Maaf ya, ini pertama kalinya bagimu, harusnya aku lebih
mempertimbangkan waktu istirahat dan minummu."
Endo-san
mengatakan itu dengan wajah menyesal sambil mengulurkan tangan untuk membantuku
bangun. Dehidrasi? Tapi aku tidak merasa haus-haus amat, rasanya juga badanku
tidak selemas itu.
Mengingat
ingatanku yang hilang, aku merasa penyebabnya bukan dehidrasi, tapi...
"Tapi
benar-benar syukurlah... Kalau gadis tadi tidak memberitahu kami, mungkin
situasinya bisa jadi lebih gawat."
"Gadis?"
"Iya, anak yang jadi penggemar fanatik Shirobuta-kun
itu. Sepertinya dia tidak
sadar kalau ada kamu di dalam, dia mengira kostum ini dibuang begitu
saja."
Dilihat dari
situasinya, itu pasti si Yukihira, kan... Sial, aku sama sekali tidak bisa
ingat.
Setelah itu,
Endo-san menawariku tumpangan ke rumah sakit, tapi karena kondisiku benar-benar
tidak buruk dan malah aku yang merasa tidak enak sudah merepotkan, aku
menolaknya dengan sopan.
◆◇◆
"Hm?"
Dalam perjalanan
pulang, tiba-tiba ponselku bergetar. Pesan itu sendiri hanyalah sebuah newsletter
biasa, tapi di bawahnya ada satu pesan lain yang tidak kukenal.
"Apa
ini?"
Karena merasa
aneh, aku membuka pesan dari 'Tuhan' tersebut.
《Yukihira Furano Clear》
...Kenapa?
5
Penyebab Yukihira sudah berstatus Clear, mau
dipikirkan sampai kepala mau pecah pun aku tetap tidak mengerti. Mengingat aku
tidak punya ingatan saat event berlangsung, kurasa aku pasti berhasil
memancing kata "suka" dari mulut Yukihira saat itu. Tapi, gimana
caranya, coba?
Yah, mungkin ada hubungannya dengan pilihan-pilihan aneh
itu. Tapi kalau dipikirkan terus pun
tidak ada gunanya. Sebaiknya aku terima saja ini sebagai keberuntungan murni.
"Ah, selamat
datang kembali!"
Begitu aku
membuka pintu depan, Chocolat langsung berlari menghampiriku. Hebat juga ya
dia, tidak pernah bosan menyambutku dengan wajah sesenang itu setiap kali aku
pulang.
"Kanade-san,
wajahmu seperti baru saja mengalami hal yang menyenangkan. Ada apa nih?"
Dia mencondongkan
tubuhnya ke arahku sambil menggoyang-goyangkan rambut ekor kudanya.
"Anu,
aku juga tidak begitu paham, tapi..."
Aku pun
memberitahunya kalau tiba-tiba saja status Yukihira sudah Clear.
"Ooh,
itu bagus sekali! Berarti sisanya tinggal Ibu Ketua, ya? Fufufu, kalau begitu,
silakan gunakan ini sepuas hati."
Saat
itulah aku menyadari Chocolat sedang menyembunyikan sesuatu di balik
punggungnya. Pola seperti ini jangan-jangan...
"Jeng
jeng! Ini dia!"
"Sepuluh
Cara Membuat Gadis Mengucapkan 'Aku Suka Kamu' ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi
Raja PHP~"
...Sudah
kuduga.
"Chocolat,
seri buku ini belum pernah ada yang berguna sampai sekarang, lho... Lagipula,
ada berapa banyak sih seri buku ini? Padahal harusnya tidak ada orang yang mau
beli barang sampah begini..."
"Eh?
Tapi di toko buku ada label bertuliskan 'Mega Hits Nomor Satu di Seluruh
Amerika', lho."
"Mencurigakan
banget!"
Memangnya
film apa?! Bukan cuma isinya, cara promosinya pun sudah keterlaluan parah...
"Sudahlah,
biarpun tidak berguna, ayo kita coba baca saja dulu."
"Ini namanya benar-benar membuang waktu..."
Sambil
menggerutu, aku tetap menerimanya. Tetap saja, aku tidak habis pikir kenapa
buku ini selalu setebal ini. Seperti dua kali sebelumnya, aku langsung membuka
halaman ringkasannya.
《1. Sandera keluarga si gadis, lalu ancam dia
untuk bilang 'Aku suka kamu'.》
Gila, baru poin
pertama saja tensinya sudah langsung mencapai klimaks!
《Penjelasan: Sepertinya tanpa melakukan hal sejauh
itu, mustahil bagimu untuk berhasil.》
Ngapain kamu
malah ngajak berantem, hah?!
《2. Ajak dia bermain game 'Ucapkan kata suka
sepuluh kali', biarkan dia mengucapkannya, lalu kabur.》
Memangnya anak
SD?!
《Penjelasan: Setelah itu, yang tersisa hanyalah
kehampaan.》
Kembalikan
uangku! Biarpun aku tidak bayar, pokoknya kembalikan uangku!
《3. Coba tanya padanya, 'Mana yang lebih kamu suka,
aku atau kain pel kotor?'》
...Manusia itu
punya yang namanya harga diri, tahu.
《Penjelasan: Penulis sangat berharap kamu lebih
disukai daripada kain pel tersebut.》
Kamu
benar-benar meremehkanku, ya!
《4. Ada pepatah yang bilang, 'Benci-benci jadi
rindu'.》
Ada sih, tapi
terus kenapa?
《Penjelasan: Realitanya adalah 'Kalau aku bilang
benci ya benci, dasar kamu ○○○ bau!'. ※Ini berdasarkan pengalaman pribadi
penulis, jadi tidak mungkin salah.》
Kenapa satu poin
malah dipakai buat curhat soal pengalamanmu ditolak, hah?!
《5. Minta tolong pada Shenron.》
...Penulisnya
benar-benar sudah berbuat sesuka hati sekarang.
《Penjelasan: Dibandingkan mengalahkan bangsa
Saiyan, mengabulkan permintaan itu jauh lebih sulit, jadi kemungkinan besar
permintaanmu akan ditolak.》
Dari tadi kamu
benar-benar menghina pembacanya ya!
《6. Operasi plastik.》
Sangat tidak
membantu...
《Penjelasan: Yah, perempuan yang mendekatimu tepat
setelah wajahmu jadi ganteng itu biasanya bukan perempuan baik-baik sih.》
Terus kamu mau
aku gimana?!
《7. Reinkarnasi.》
Kasih cara yang
masuk akal, dong!
《Penjelasan: Di kehidupan ini, sebaiknya kamu
mencari kesenangan lain selain perempuan.》
Ini sudah bukan
level ngajak berantem lagi, ini namanya penghinaan!
《8. Minta Hatsune Miku-san menyebutkan kata 'Aku
cinta kamu' terus-menerus.》
...Itu tragis
banget, lho.
《Penjelasan: Setelah pengulangan melampaui sepuluh
ribu kali, kamu akan memasuki dimensi pencerahan.》
Jadi kamu sudah
pernah mencobanya, ya?!
《9. Huruf kanji 'Suka' (好) jika dipisah akan menjadi 'Perempuan' (女) dan 'Anak' (子).》
Terus hubungannya
apa?!
《Penjelasan: Ya, memangnya kenapa kalau begitu?
(Wkwk).》
Rasanya pengen
kupukul penulisnya!!!
《10. Coba tanya langsung saja, 'Apakah kamu
menyukaiku?'》
Nggak mungkinlah!
Kalau sekiranya bakal dapat jawaban bagus, aku tidak akan mengandalkan buku
sampah begini!
《Penjelasan: Kalau ditolak, sandera saja
keluarganya.》
BALIK LAGI KE
POIN PERTAMA, DONG!
《Ngomong-ngomong, menurutmu buku ini bakal laku
tidak?》
"MANA
MUNGKIN LAKU!"
Tanpa sadar, aku
membanting buku itu ke lantai. Biarpun dari awal aku tidak berharap apa-apa,
tapi kalau seburuk ini, tetap saja bikin emosi.
"Sudahlah,
Kanade-san. Makan ini saja biar suasana hatimu membaik."
Chocolat
mengeluarkan sebuah kotak kemasan dari laci dapur.
"Kamu, ini
kan..."
Melihat isinya,
aku sampai menahan napas. Itu adalah paket cokelat super mewah dari toko
terkenal yang belakangan ini sedang jadi pembicaraan hangat di televisi.
Chocolat
si pengangguran busuk ini memang punya banyak uang. Katanya sebagai "biaya
operasional", dia bisa mentransfer uang sebanyak apa pun, bahkan dia
sering membawa segepok uang tunai yang diselipkan begitu saja di belahan
dadanya. Dia sempat menawarkanku uang untuk biaya hidup, tapi karena kata-kata
seperti "pencucian uang" dan istilah mencurigakan lainnya keluar dari
mulutnya, aku jadi takut dan belum berani menerimanya sampai sekarang.
Tapi
cokelat ini adalah barang yang sangat langka yang masuk TV, dan satu-satunya
cara mendapatkannya hanyalah dengan mengantre panjang di pusat kota. Ini bukan
barang yang bisa dibeli hanya dengan modal punya uang.
"Untuk
mendapatkan ini, ada sebuah petualangan epik yang terjadi, lho."
Karena
wajahnya seolah memohon untuk didengarkan, mau tidak mau aku pun menyimaknya.
"Pertama, di
toko kue tradisional di pusat perbelanjaan, ada manju yang kelihatannya enak
sekali. Karena aku terus melihatinya, nenek pemilik toko memberikannya
padaku."
Sampai barang
dagangan pun dipalak... Kalau soal urusan diberi makanan, keberuntungan dia
benar-benar selevel dewa.
"Saat aku
baru mau memakannya dengan gembira, muncul seorang anak kecil yang kelihatannya
sangat lapar."
"Hoo,
terus?"
"Aku memakan
habis manju itu dalam satu suapan di depan anak itu."
"Kamu jahat
banget! Kasih manjunya ke anak itu, dong!"
"Eh? Sisa
isi satu kotaknya aku berikan semua padanya, kok."
"Jadi kamu
dikasih satu kotak?! Serakah banget sih!"
Toko kue itu
pasti toko Meirendou milik si nenek itu. Nanti aku harus membalas budi
padanya...
"Anak kecil
yang sepertinya sudah kenyang setelah makan manju itu memberikan sebuah batu
yang berkilauan dari dalam sakunya sebagai tanda terima kasih padaku."
...Apa-apaan ini,
kok alurnya jadi mirip cerita rakyat Warashibe Chouja?
"Katanya itu
dipungut oleh kucing peliharaannya, dan ternyata itu adalah sebuah
berlian."
"Lompatan
ceritanya kejauhan, oi!"
Berbanding
terbalik denganku yang berteriak, Chocolat tetap melanjutkan ceritanya dengan
santai.
"Aku niatnya
mau lapor ke pos polisi, tapi karena bingung jalannya dan cuma jalan
berputar-putar, tiba-tiba pundakku ditepuk oleh pria berjas hitam dan
berkacamata hitam."
Aduh, ceritanya
mulai berbau bahaya nih.
"Lalu aku
dibawa ke gang sepi, dan sebuah pistol ditodongkan ke kepalaku."
"Tiba-tiba
jadi genre aksi?!"
Nggak
mungkin, nggak mungkin. Bagaimanapun caranya, hal seperti itu tidak mungkin
terjadi di Jepang.
"Karena
suasananya terasa kurang bersahabat, aku menendang pistolnya, membanting
orangnya, lalu memberinya teknik Palo Special."
"Kamu
hebat banget, oi!"
Maksudku,
aku tahu dia punya kekuatan fisik yang luar biasa, tapi ternyata dia bisa
melakukan hal seperti itu juga... Lagipula, kenapa pilihannya harus teknik Palo
Special?
"Setelah
aku interogasi, orang itu mengaku bernama Ouma-kun dari keluarga Yuuouji."
"Itu kan
ayahnya Ouka!"
Waduh, itu kan
CEO dari perusahaan raksasa UOG... Membawa senjata api itu sudah melanggar
hukum, lho.
"Katanya dia
tidak sengaja menjatuhkan berlian yang dibelinya secara spontan, dan karena
mumpung sedang mencari, dia memakai setelan ala mata-mata supaya suasananya
terasa pas."
"Dia kena
penyakit Chunibyo, ya?!"
Setelah ditanya,
ternyata pistol itu hanyalah replika. Aku sudah dengar kalau dia orang aneh, tapi
ternyata memang seperti itu karakternya...
Biasanya,
orang pasti akan ragu jika mendengar CEO dari salah satu perusahaan terbesar di
Jepang melakukan hal bodoh seperti itu, tapi entah kenapa aku merasa sangat
maklum... Habisnya, anak perempuannya saja seperti itu.
Kalau
tidak salah, ibunya Ouka, Kyouka-san, adalah seorang masokis sejati, kan... Keluarga macam apa itu.
"Lalu,
sebagai permintaan maaf, dia memberikan cokelat ini padaku."
Begitu rupanya.
Berarti toko kue terkenal itu juga masih di bawah naungan grup UOG.
"Yah,
terlepas dari bagaimana prosesnya, karena sudah dikasih, mari kita nikmati
saja... hm?"
Aku baru saja
hendak mengulurkan tangan... tapi entah kenapa kotak itu sudah kosong.
"...Chocolat-san?"
Saat aku
mendongak, di sekitar mulut Chocolat sudah penuh dengan noda cokelat yang
menempel.
"Jangan-jangan...
selagi aku mendengarkan ceritamu, kamu sudah memakan semuanya?"
"Iya!"
"...Kenapa?"
"Rasanya
enak sekali!"
"Kita
benar-benar tidak nyambung, ya!"
◆◇◆
Setelah
melewati malam yang membuat suasana hati hancur itu...
"GYAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH!"
Sebuah
jeritan yang tidak terasa seperti suaraku sendiri meledak dari tenggorokan.
"Folder
'Jalan Menuju Sang Filsuf'-ku... Semuanya lenyap... Kenapa... KENAPA BISA BEGINIIIIIII!"
Tanpa tahu
alasannya, aku menangis sendirian sebagai seorang laki-laki.
6
Oke, sekarang
apa?
Waktu istirahat
di kelas 2-1. Saat
ini, aku sedang menggenggam selembar kertas di tanganku. Itu adalah daftar urutan pemain dari pihak
"Peringkat Atas" untuk Kompetisi Antarkelas. Barusan, anggota OSIS
kelas dua sengaja mengantarkannya ke sini.
Katanya, sebagai
keuntungan bagi pemenang tahun sebelumnya, pihak yang kalah berhak melihat
urutan pemain lawan terlebih dahulu.
Aku menurunkan
pandanganku sekali lagi ke daftar urutan pemain yang diberikan.
Pemain Utama (Peringkat Atas):
- Pionir:
Shishimori Soga
- Vanguard:
Yawaraze Konagi
- Center:
Reikadou Ayame
- Letnan:
Yoshiwara Toya
- General:
Kokubyoin Seira
Ketua OSIS menjadi General sih sudah sewajarnya, tapi
Kak Shishimori sebagai Pionir itu agak mengejutkan.
Nggak, sebenarnya nggak aneh-aneh amat, sih. Orang itu kan
punya aura "Komandan Pasukan Berani Mati", jadi dia pasti tipe yang
bakal bilang, "Biar aku yang maju duluan di awal!" sambil
menggebu-gebu.
Keberadaan Yoshiwara yang masih kelas satu tapi sudah
menjabat posisi Letnan juga terasa mencurigakan.
Yah, dipikirkan sendirian juga tidak ada gunanya. Aku
mendongak dan meminta pendapat yang lain.
"Jadi,
bagaimana dengan urutan kita?"
"Sini, sini!
Biar aku yang mengalahkan Kaisar Konagi!" seru Ouka.
"Dada yang
akan kuhancurkan sudah ditetapkan sejak dua belas ribu tahun yang lalu,"
gumam Yukihira.
Yuuouji
dan Yukihira langsung bereaksi seketika.
Yah, melihat
situasi saat pertemuan waktu itu, kurasa kecocokan lawan mereka sudah pas...
Tapi aku punya firasat buruk kalau kedua pertandingan itu bakal jadi kacau
balau.
Mereka berdua
mulai menuliskan nama masing-masing di kolom Vanguard dan Center
pada formulir urutan pemain.
Aku pun meminta
pendapat Yuragi yang sengaja datang dari kelas satu demi urusan ini.
"Yuragi,
kamu mau yang mana?"
"Hm, aku mau
jadi lawan Kakak Soga saja~"
Ah, benar juga,
kemarin dia sempat berinteraksi karena Kak Shishimori bilang punya banyak adik
perempuan ya.
"Tapi jangan
salah paham, ya. Kakak laki-laki kandungku yang paling asli cuma Kakak Kanade
seorang!"
"Maksudmu
'paling asli' itu apa sih?!"
Mengesampingkan
kecemasan yang melanda, setidaknya tiga pemain untuk babak awal sudah terkunci.
Sisanya tinggal
aku dan Kak Yumejima, tapi sampai tahap ini pun, belum ada tanda-tanda dia akan
menampakkan batang hidungnya. Karena tidak ada cara untuk menghubunginya, mau
tidak mau kami yang harus memutuskan.
Melihat dari
urutan tingkatan kelas, sewajarnya Kak Yumejima yang jadi General dan
aku yang jadi Letnan. Tapi alasan utamanya sih, aku memang tidak sudi
kalau harus melawan Ketua Kokubyoin.
"Kalau
begitu, aku jadi Letnan—hm?"
Tiba-tiba sebuah
tangan menepuk pundakku. Aku pun menoleh.
"UWAHH!"
Suara cempreng
konyol refleks keluar dari mulutku.
Yang berdiri di
depan mataku adalah... seorang laki-laki yang wajahnya dibalut perban gulung.
Di permukaan
perbannya tertulis kanji "Karasu" (Gagak), yang sepertinya ditulis
dengan kuas. Hebatnya, orang ini sama sekali tidak mengeluarkan hawa keberadaan
sedikit pun; sejak kapan dia masuk ke kelas?
Melihat reaksiku,
teman-teman sekelas yang baru menyadari keberadaannya pun mulai gaduh.
"Jangan-jangan... Kak Yumejima?"
Si manusia perban itu menyisakan sisa perban yang tidak
terpakai di wajahnya hingga melambai seperti syal. Dia bersedekap, lalu
mengangguk pelan.
"Wah, hebat! Aku sama sekali tidak sadar dia ada di
sini!" "Begitu ya, tipe pelawak seperti ini ternyata boleh
juga." "Ini dia... tipe Kakak yang baru!"
Ketiga
gadis di dekatku memberikan reaksi yang berbeda-beda.
"Anu...
kenapa wajah Kakak dibalut perban?"
Kak Yumejima
tidak menjawab langsung, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa?
Jangan-jangan orang ini tidak bisa bicara? Nggak, mana mungkin. Aku tidak
pernah dengar rumor seperti itu tentang Kak Yumejima. Lagi pula, soal wajahnya
yang dibalut perban saja baru kali ini aku dengar.
Ada satu
lagi yang aneh. Kenapa orang
ini pakai seragam Gakuran? Biarpun peraturan sekolah kita longgar, tapi
benar-benar mengabaikan jas sekolah dan malah pakai Gakuran itu
keterlaluan, kan?
Yah,
sebaiknya aku tidak berkomentar terlalu jauh. Aku sudah belajar dari pengalaman
pahit saat berhadapan dengan gadis-gadis di sekitarku bahwa mencoba memahami
pola pikir orang aneh itu percuma saja.
"Kami sedang
menentukan urutan pemain, apa Kak Yumejima mau jadi General?"
Mendengar
pertanyaanku, Kak Yumejima tetap diam membisu, lalu merogoh kantong dalam Gakuran-nya
dan mengeluarkan sesuatu. Apa itu?
Sepertinya itu
buku komik...
Kak Yumejima
membuka halaman tertentu lalu menyodorkannya ke depan wajahku.
"TAPI AKU
MENOLAK."
Aku bisa
membayangkan wajah penuh kemenangan di balik perbannya itu... Orang ini bodoh
ya.
Kemudian, dia
mengeluarkan pulpen kuas dari kantong dalam satunya lagi, lalu menuliskan nama
"Yumejima Karasu" di kolom Letnan dengan tulisan yang luar
biasa indah.
"Eh, jangan
main tulis sendi—lho?"
Dalam sekejap,
Kak Yumejima menghilang dari pandanganku.
"Lho, kok
sudah ada di luar pintu?!"
Entah sejak kapan
Kakak itu sudah ada di koridor. Begitu mengacungkan jempolnya, dia langsung lari kencang seketika.
"O-Orang itu
maunya apa sih..."
"Waaah,
gerakannya mirip ninja, keren banget!" "Pakaiannya mirip karakter
komik 'Tomoda*i', apa tidak apa-apa ya?" "Itu dia... tipe Kakak kain
perban!"
Di samping para
gadis yang sibuk dengan reaksi masing-masing, aku terpaksa menuliskan namaku,
Amakusa Kanade, di kolom General.
DAFTAR URUTAN PERTANDINGAN:
- Pionir:
Shishimori Soga VS Hakoniwa Yuragi
- Vanguard:
Yawaraze Konagi VS Yuuouji Ouka
- Center:
Reikadou Ayame VS Yukihira Furano
- Letnan: Yoshiwara Toya VS Yumejima Karasu
- General: Kokubyoin Seira VS Amakusa
Kanade
Gara-gara keadaan, aku malah jadi General. Padahal
aku tidak mau melawan Ketua Kokubyoin. Apalagi kalau skornya jadi dua-sama dan
suasananya sedang sangat panas, lalu tiba-tiba muncul pilihan gila, bisa gawat
urusannya.
Sejujurnya, aku tidak peduli tim ini menang atau kalah. Tujuan utamaku kali ini adalah bagaimana
cara menyelesaikan Kompetisi Antarkelas ini dengan tenang tanpa menarik
perhatian.
Skenario ideal
bagiku adalah pemenangnya sudah ditentukan sebelum giliranku tiba. Artinya,
dari empat pemain sebelumku, kami harus sudah menang tiga kali atau kalah tiga
kali.
Tapi yah, aku
tidak mungkin menyuruh mereka sengaja kalah, jadi aku hanya bisa berharap
mereka berjuang untuk menang.
"Semuanya,
dengarkan sebentar."
Aku harus
bilang sekarang, kalau tidak, orang-orang ini pasti akan bercanda dan
mengacaukan pertandingan.
"Kali
ini adalah pertarungan serius. Berjanjilah untuk tidak main-main dan fokus
untuk menang."
"Wah,
lancang sekali ya. Hidupku ini selalu merupakan pertarungan serius untuk
mengejar kemenangan," ucap Yukihira.
Kalau
Yukihira yang bilang, rasanya jadi sangat mencurigakan.
"Saking
haus kemenangannya aku ini, tadi pagi saat melihat dua anak SD sedang balap
lari saat berangkat sekolah, aku mengejar mereka dengan kecepatan penuh,
menyalip mereka, lalu bilang 'Kalian tahu tidak arti peribahasa payah vs
payah?' dengan wajah bangga."
"Kekanak-kanakan
banget!"
"Yah,
bohong sih."
Seketika,
wajahnya kembali datar tanpa ekspresi.
"Sebenarnya,
aku menyerah karena tidak sanggup mengejar mereka."
"PAYAH
BANGET!"
Tapi kamu tetap
mencoba melakukannya ya... Aku benar-benar tidak tahu seberapa serius orang ini.
"Tenang
saja, Amacchi! Aku berencana menghajar Kaisar Konagi sampai babak belur,
penyet, dan hancur lebur!"
...Kurasa
itu bukan kalimat yang pantas diucapkan kepada sahabat sendiri dengan mata
berbinar-binar seperti itu. Tapi yah, spesifikasi kemampuan all-around
milik Ouka memang bisa diandalkan dalam jenis lomba apa pun.
"Tenang
saja, Kakak. Demi Kakakku yang paling asli, aku akan mengalahkan Kakak Soga
dengan sekuat tenaga. Lalu, aku akan mempromosikan keberadaanku kepada berbagai
macam tipe 'Kakak' di bangku penonton!"
...Kalau
anak ini, aku sudah tidak tahu lagi harus bilang apa, terserah dialah.
"Eh, eh, di
sini ada kolom 'Nama Tim'."
Ouka menunjuk ke
sudut formulir urutan pemain. Ah, benar juga, tadi saat diberikan kertas ini,
aku disuruh memikirkan nama tim juga.
"Wah,
sepertinya seru."
"Memikirkan
hal seperti ini bersama seluruh kakak dan adik memang menyenangkan ya!"
Yukihira dan
Yuragi bereaksi positif, tapi aku sendiri agak malas.
"Lho,
Amacchi, kenapa wajahmu jadi aneh begitu?"
"Ya
habisnya, sudah kelihatan kalau kalian pasti bakal main-main dan ujung-ujungnya
jadi berantakan..."
Capek juga kalau
harus mengomentari setiap tingkah mereka... Kalian mungkin bilang "Ya
sudah tidak usah ditanggapi", tapi ini sudah seperti gerak refleks bagiku,
tidak bisa dihentikan.
"Memangnya bagian mana dari nama 'Yukihira Furano dan
Kawan-kawan Cabul' yang terdengar main-main?"
"ITU MAIN-MAIN BANGET! Pakai nama yang lebih segar
sedikit, dong!"
"Oke, oke! Kalau begitu yang berbau masa muda, gimana
kalau 'Pasukan Lari di Koridor Sambil Bawa Motor Curian'?"
"ITU URUSAN
POLISI, WOI! Pakai yang lebih damai sedikit!"
"Kalau
begitu, pakai nama 'Bersama Kakak' saja."
"Itu mah
judul acara TV balita! Pikirkan nama tim yang benar!"
"Bagaimana
kalau 'Yukihira Furano dan Para Bencong Necis'?"
"Kesan
karakternya terlalu kuat! Pakai nama yang ada unsur mimpinya sedikit!"
"Oke!
Kalau begitu, 'Pasukan Lari di Koridor Bareng Melos'?"
"ITU
MAH CERITA DONGENG! Cari topik yang lebih dekat dengan kehidupan
sehari-hari!"
"Kalau
begitu, 'Bersama Kakak... Selamanya'."
"Itu malah jadi kayak Yandere! Punya kamu mah
terlalu dekat!"
"Bagaimana dengan 'Yukihira Furano dan Kalian Semua
yang Entah Siapa'?"
"Itu mah orang asing semua! Sekarang malah kejauhan!
Kenapa tidak bisa pilih yang tengah-tengah saja sih!"
"Oke, kalau begitu... 'Pasukan Lari di Koridor Bagian
Tengah, Bukan Bagian Pinggir'."
"Memangnya kamu Ikkyu-san?! Maksudku 'tengah-tengah'
itu bukan soal posisi jalannya! Yang wajar saja, wajar!"
"Bagaimana kalau 'Bersama Kakak... Disiksa Hidup-Hidup
tapi Tidak Sampai Mati'?"
"ITU MAH
SUDAH KASUS PENYEKAPAN!"
"Kalau
begitu, 'Yukihira Furano dan—"
"SUDAH
CUKUP!" teriakku.
"Kalau
begitu, bagaimana dengan 'Yukihira Furano dan Burung-Burung Beo yang Tak
Seragam'?" tanya Yukihira.
"Padahal
suasananya sudah reda, kenapa malah disebut lagi! Seberapa ingin sih kamu
bercanda?!"
"Habisnya,
belakangan ini banyak berita suram di dunia, jadi setidaknya kita ingin
menghabiskan waktu dengan tertawa, kan?"
"Bukan itu
yang sedang kita bahas sekarang!"
"Kalau
begitu, apakah Amakusa-kun punya usul?"
"Yah, kalau
ditanya begitu, aku juga tidak punya ide khusus sih..."
Saat itu,
tiba-tiba pintu depan kelas terbuka dan Chocolat masuk.
"Kanafey-fan,
afu fafah fanfak fanfanan."
"Nggak paham
sama sekali kamu ngomong apa..."
Mulutnya penuh
dengan roti Choco Coronet, dan di kedua tangannya penuh dengan permen,
donat mini, marshmallow, dan camilan lainnya yang hampir tumpah. Rasanya ini
sudah mulai jadi pemandangan biasa...
"Ah, kalian
juga mau?"
Setelah berkata
begitu, dia menaruh tumpukan camilan itu di atas mejaku.
Yukihira, Ouka,
dan Yuragi masing-masing mengambil satu. Meskipun mereka kumpulan orang aneh,
mereka tetaplah perempuan yang ternyata suka makanan manis.
"Ah, pakai
nama ini saja tidak apa-apa kan?" ucap Ouka sambil mengulum permen lolipop
spiral raksasa yang entah kenapa sangat cocok dengannya.
"Nama
apa?"
"Sweets."
...Dia cuma
menyebutkan apa yang ada di depan matanya. Benar-benar pola pikir anak SD.
"Habisnya,
itu juga berhubungan dengan nama belakang si General, Amacchi (Amakusa), dan
nama berakhiran '-ts' kan sering dipakai buat nama tim." (T/N:
[Amakusa-kun biasa dipanggil Amacchi, 'Amai' dalam bahasa Jepang berarti manis,
berkaitan dengan 'Sweets'])
"Kak Ouka,
bagaimana kalau di depannya ditambah 'The' supaya lebih terasa seperti nama
tim?" usul Yuragi.
"Ooh, boleh juga!"
"The Sweets", ya... Yah, biarpun tidak
bagus-bagus amat, untuk hasil diskusi dari sekumpulan orang ini, kurasa ini
termasuk kategori yang lumayan oke. Setidaknya jauh lebih baik daripada usul
"kawan-kawan" atau "pasukan lari" atau "bersama kakak"
yang tadi.
Sepertinya lebih baik diputuskan sekarang sebelum muncul ide
gila lainnya.
"Oke, itu
saja."
Aku menuliskan "The
Sweets" di kolom nama tim. Tapi...
"Seperti
yang kubilang tadi, menurutku tertawa itu sangat penting," gumam Yukihira
dengan nada datar sambil menambahkan tulisan baru dengan seenaknya.
"The Sweets (Wkwk)"
"MAKSUDNYA JADI BEDA, WOI!"
Karena Yukihira
menulisnya pakai spidol permanen, tulisan itu sudah tidak bisa dihapus lagi.
Yah, kalau
dicoret hitam sih masih bisa... tapi melihat ekspresi Yukihira, aku
mengurungkan niatku. Itu adalah wajah yang berkata, "Kalau kamu hapus, aku
bakal ngelawak lagi pakai nama baru."
"...Sudahlah,
aku kumpulkan saja begini."
"Tunggu
sebentar, Amakusa-kun. Dalam hal ini, apakah buah-buahan termasuk dalam
kategori sweets?" tanya Yukihira tiba-tiba dengan pertanyaan tidak
jelas.
"Yah,
kurasa... boleh saja (terserah kamu deh)."
"Begitu ya.
Kalau begitu tambahkan di bawah nama tim: ~Tapi buat tomat, elo nggak boleh
ikutan~."
"NGGAK USAH
DITAMBAHIN!"
"Tomat ceri
itu masuk zona abu-abu, jadi nanti kita perlu mendiskusikannya secara
mendalam," ucap Yukihira serius.
"TERSERAH
KAMU SAJA DEH!"
7
Sebelum Kompetisi
Antarkelas dimulai, ada satu hal lagi yang tersisa dan harus segera
kuselesaikan.
Tentu saja,
apalagi kalau bukan mendapatkan pernyataan "Suka" dari target misi
terakhir, sang Ketua OSIS, Kokubyoin Seira.
Sambil
menggenggam formulir urutan pemain yang sudah jadi, aku melangkah sendirian
menuju kelas 3-3. Saat aku melongok mencari keberadaan Ketua Kokubyoin,
beberapa kakak kelas tampak menyadari kehadiranku.
"Oi, itu
Amakusa dari kelas dua, kan?" "Ooh, si 'Reject 5' itu,
ya." "Padahal wajahnya ganteng begitu, tapi ternyata dia
mesum..."
Ternyata gosip tentangku sudah menyebar sampai ke anak kelas
tiga. Yah, aku sudah menduganya sih, tapi tetap saja rasanya nyesek kalau
dengar langsung begini...
Di saat aku sedang tertunduk lesu, Ketua Kokubyoin berjalan
menghampiriku dengan rambut super panjangnya yang melambai indah.
"Ala~
Amakusa-san, ya. Ada angin apa ke sini?"
"Ketua,
formulir urutan pemainnya sudah jadi, jadi aku kemari untuk
mengantarkannya."
"Aduh, aduh,
terima kasih ya atas kerja kerasmu~"
Sambil
menempelkan tangan di pipi, Ketua Kokubyoin menunduk melihat daftar pemain
tersebut.
"Ala ala~
Bagus sekali. Berarti aku bertanding melawan Amakusa-san, ya."
Dia melemparkan
senyuman manis ke arahku, tapi bagiku itu tidak penting sekarang.
"...Ketua
Kokubyoin, maaf kalau mendadak, tapi ada yang ingin kutanyakan."
"Iya, apa
itu~?"
"Sebagai
sesama manusia, apakah Ketua menyukaiku?"
Ketua Kokubyoin
tidak tampak heran sama sekali, dia malah mengangguk pelan.
"Iya, aku
tidak membencimu, kok~"
"Berarti...
kalau dibalik, itu artinya Ketua menyukaiku?"
Kali ini dia
menggelengkan kepala.
"Bukan
begitu~ Menurutku, kata-kata itu hanya boleh digunakan untuk laki-laki yang
spesial saja. Yah, begitulah kira-kira."
Aku sama sekali
tidak bisa membaca emosi dari ekspresinya. Rasanya dia seperti bicara serius,
tapi di sisi lain seolah dia punya niat terselubung seperti, "Kamu
bakal kesulitan kalau aku jawab begini, kan?"
"Ketua...
jangan-jangan Anda tahu sesuatu?"
"Sesuatu apa
yang Anda maksud~?"
Ketua Kokubyoin
memiringkan kepalanya sambil menempelkan jari telunjuk di dagu.
"Nggak...
lupakan saja."
Percuma, aku
merasa tidak akan pernah menang kalau harus adu taktik dengannya. Sambil
menatap wajah bingungku, Ketua tersenyum dengan sangat riang.
"Amakusa-san,
kalau begitu, bagaimana kalau kita bertanding dengan sebuah persyaratan~?"
"Persyaratan?"
"Iya. Jika
pihak 'Reject 5' menang di Kompetisi Antarkelas, aku akan mengucapkan kata-kata
yang sangat Amakusa-san inginkan itu."
Cara dia
menekankan kalimat itu... fiks, Ketua pasti sudah tahu soal Kutukan Pilihan
Mutlak dan misi ini, kan?!
"Tapi
sebagai gantinya, jika Amakusa-san kalah──"
Ketua menjeda
kalimatnya sejenak, lalu tiba-tiba matanya terbuka lebar.
"──Anda
harus siap menerima satu atau dua kutukan yang baru."
"Kh?!"
Punggungku
langsung terasa membeku.
Kutukan...
Begitu kata itu keluar, sudah tidak perlu diragukan lagi. Ketua
Kokubyoin benar-benar memahami seluruh situasiku.
Refleks, sebuah pertanyaan keluar begitu saja dari mulutku.
"Ketua
Kokubyoin... Anda ini, sebenarnya manusia bukan sih?"
Ketua Kokubyoin menunjukkan senyum paling lebar yang pernah
kulihat selama ini.
"Kalau soal
itu, hanya Tuhan yang tahu~"



Post a Comment