NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Aku Akan Membuatmu Menangis, Jadi Berikan Aku Kehidupan Sekolah yang Damai!


1

"Hum hum~ Pergi ke sekolah bareng Kanade-san~"

Awalnya Chocolat terus meratapi nasib yokan-nya yang dirampas (padahal aslinya bukan punya dia), tapi dasar otak burung yang luar biasa. Baru jalan sebentar saja dia sudah lupa, suasana hatinya berubah jadi sangat ceria, bahkan sampai bersenandung.

Dengan gaya seperti itu, Chocolat sampai di depan kelas, membuka pintu, dan melangkah masuk.

"A-Ah... Se-Selamat pagi, Chocolat-chan."

Ito yang sedang berada di dekat pintu menyapa Chocolat dengan nada yang agak sungkan.

"Ah, Ito-san! Ohayou gozaimasu!"

Chocolat membalas dengan penuh semangat sambil membungkuk dalam-dalam.

"Lho? Chocolat-chan... sudah... kembali normal?"

"Kembali normal maksudnya apa?"

Chocolat memasang ekspresi cengo sambil memiringkan kepala.

"Ito, kemarin kondisi tubuh Chocolat lagi agak buruk jadi ingatannya sedikit kacau. Seperti yang kamu lihat, dia sudah normal lagi, jadi perlakukan saja dia seperti biasa ya."

"O-Oh, begitu ya."

Meski masih tampak heran, Ito terlihat sedikit lega. Yah, mustahil dia bisa menerima penjelasan itu sepenuhnya, tapi sisanya biarkan saja dia mengira-ngira sendiri.

"Ah!"

Chocolat menyadari tatapan Yukihira yang sedang memperhatikannya dari arah jendela, lalu dia pun berlari kecil menuju ke sana. Aku pun menyusul di belakangnya.

"Furano-san, Ohayou gozaimasu!"

"Selamat pagi... sepertinya kamu sudah kembali normal ya."

"? Memangnya kemarin aku seaneh itu ya?"

Chocolat meletakkan jari telunjuk di bibirnya sambil memiringkan kepala.

"Iya, saking normalnya sampai terasa aneh."

"?"

Chocolat sama sekali tidak paham maksudnya, tapi itu adalah deskripsi yang sangat tepat.

"Amakusa-kun, sebenarnya apa yang terjadi dengan Chocolat-san kemarin?"

Itu adalah pertanyaan yang wajar, tapi aku sendiri tidak bisa menjelaskan hal yang aku sendiri tidak mengerti. Aku hanya bisa memberikan jawaban yang samar-samar.

"...Ah, dia sempat mengalami kondisi seperti hilang ingatan sementara, tapi karena mendapat sedikit kejutan, dia kembali normal."

Sebenarnya malah kebalikannya, dia 'kembali ke kondisi hilang ingatan setelah sempat ingat', tapi menjelaskan hal itu hanya akan membuat keadaan makin rumit, jadi aku potong saja bagian itu.

"Begitu ya, jadi terapi kejut malam hari dari Amakusa-kun membuahkan hasil, ya."

"ISI PIKIRANMU MESUM BANGET SIH!"

Itu adalah lelucon mesum yang paling rendah.

"Pantas saja. Namamu kan Amakusa Kanade, makanya 'Kanade'-nya membuahkan hasil (Kou wo sou-shita)*, ya."

"Ngapain pasang wajah bangga gitu! Plesetannya nggak lucu-lucu amat!"

"Yah, kalau dibandingkan dengan teknik 'anu'-mu Amakusa-kun, apa pun pasti akan terlihat tidak ada apa-apanya."

"NGGAK LUCU! Malah garing banget! Lagian aku kan nggak punya pengalaman, jadi nggak tahu itu hebat apa nggak! Terus kenapa juga aku saking emosinya malah curhat ginian?!"

"Rasanya... aku minta maaf ya."

"JANGAN PASANG REAKSI SERIUS GITU DONG!"

Yukihira menatapku dan Chocolat secara bergantian.

"Amakusa-kun, apa kamu benar-benar tidak melakukan apa-apa pada Chocolat-san?"

"Iya, nggak ngapa-ngapain."

Meskipun akunya yang hampir diapa-apain sih...

"Begitu..."

Yukihira mengangguk pelan, lalu berkata:

"Selamat Amakusa-kun, di dalam diriku peringkatmu naik dari 'Si Mesum Kelas Kakap' menjadi 'Si Payah Ulung atau Gay Ajaib'."

"Gue nggak ngerti tapi itu beneran naik peringkat?!"

"Gay itu apa?"

"Jangan malah penasaran di bagian situ!"

"Ngomong-ngomong, kalau aku pakai sebutan 'Wonder Gay' nanti malah dikira Wonder M○mo, makanya aku sengaja pilih 'Gay Ajaib' (Miracle Homo). Apa kamu menyadarinya?"

"Nggak bakal ada yang sadar dan nggak bakal ada yang salah kira juga!"

"Bisa-bisanya kamu percaya kata 'pasti' itu ada di dunia ini... kamu benar-benar bocah yang belum tahu kerasnya dunia ya."

"LO SEBENARNYA SIAPA SIH?!"

"Yah, gelar seperti itu hanya pantas disandang oleh Raijin-O○ yang tak terkalahkan."

"Referensi lo jadul banget! Sebenarnya umur lo berapa sih?!"

"Sepuluh ribu enam belas tahun."

"YANG MULIA DEMON KING!"**

Melihat interaksiku dengan Ito dan Yukihira, teman-teman sekelas yang menyadari Chocolat sudah kembali normal pun mulai berbisik-bisik.

"Ternyata Chocolat-chan memang lebih bagus begini, ya."

"Iya, yang kemarin juga oke sih, tapi perasaan pengen kasih camilan itu lebih cocok buat yang sekarang. Imut banget."

 "Iya ya, melihatnya saja bikin hati adem."

"U-Ugh, apa sifatnya nggak bisa berubah jadi lebih galak ya? Gue pengen banget dimaki-maki habis-habisan sama Chocolat-chan..."

...Selain si sesat di bagian terakhir itu, aku merasa senang karena semua orang menerima Chocolat yang asli. Rasanya seperti perasaan bangga induk burung terhadap anaknya.

"Hm?"

Tiba-tiba, di sudut mataku aku melihat bayangan hitam, dan saat aku menoleh ke arah sana...

"WADUH!"

Di luar jendela, Uouji sedang melayang.

"Apa... kok bisa...?"

Gimana caranya ini?! Dengan satu tangan terangkat ke atas, dia benar-benar berhenti di udara. Teman-teman yang lain juga mulai menyadarinya, dan suasana kelas langsung jadi gempar.

Di tengah kehebohan itu, Uouji yang bertatapan mata denganku nyengir lebar hingga memperlihatkan taringnya.

"Heishhh."

Lalu, seolah-olah itu adalah hal biasa, dia membuka jendela dengan tangannya yang lain dan melompat masuk ke kelas.

"Oyo? Kenapa muka kalian aneh semua gitu?"

"Ya karena lo melayang tadi lah...!"

"Eh? Bukannya Ama-chi emang sering melayang ya?"

"Itu maksudnya melayang karena nggak punya posisi di kelas! Ini masalah lo melayang secara fisik!"

...Asal lo tahu ya Uouji. Kata-kata pedas yang nggak sengaja itu justru yang paling menyakitkan.

"Melayang? Oh, maksudnya yang itu."

Uouji berkata begitu sambil menunjuk ke luar jendela.

"Apaan?"

Di tempat Uouji melayang tadi, ada sebuah cincin hitam yang menggantung.

"Di ujung sana itu ada benang pancing yang sangat tipis lho. Aku tadi bergantung di situ, makanya kelihatan seperti melayang."

Begitu ya. Kalau diperhatikan baik-baik, area di atas cincin itu memang tampak berkilauan karena terkena sinar matahari.

"Yah, triknya sih sudah paham... Tapi masalahnya, ngapain lo lakuin hal kayak gitu?"

Uouji memasang senyum nakal.

"Mufufu, tadi pagi-pagi sekali aku dipojokkan oleh penjahat jahat di atap, jadi aku memutuskan untuk nekat terjun bebas!"

Saat aku bingung harus mulai protes dari mana, sebuah pertanyaan lain terlintas di kepalaku.

"Ngomong-ngomong... lo nggak apa-apa?"

Kemarin karena masalah Chocolat aku tidak terlalu memperhatikan, tapi dia kan sempat bersikap aneh dan sangat malu-malu kucing.

Namun, Uouji yang sekarang tampak sudah kembali normal sepenuhnya.

"Nggak apa-apa gimana? Oh, maksudmu soal masalah celana dalam?"

Dia menjawab dengan santai tanpa beban sedikit pun.

"Woi, kemarin kan lo malu banget, jangan ngomong keras-keras gitu dong..."

"Mufufu, aku yang sekarang beda dengan aku yang kemarin lho... Lihat ini!"

Dengan senyum penuh percaya diri, dia tiba-tiba menyingsingkan roknya.

Di sana terlihat sebuah celana ketat (spats) berbentuk seperti celana olahraga (bloomers) dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari biasanya.




"Mufufu, kalau begini, aku sudah siap mental mau dipaksa pakai celana olahraga (bloomers) kapan pun!"

...Entah kenapa, tingkat kepercayaan diri anak ini terhadap celana ketat (spats) benar-benar absolut.

"Lihat, lihat! Biarpun aku begini, tetap aman lho!"

Belum sempat aku berkomentar, Uouji tiba-tiba melakukan handstand alias berdiri dengan tangan di tempat.

"Woi, itu nggak sopan, berhenti nggak!"

"Masa sih~?"

Sambil masih berdiri terbalik, dia malah melakukan split alias membuka kedua kakinya lebar-lebar. Posisinya sekarang mirip jurus Spinning Bird Kick-nya Chun-Li yang dipause di tengah jalan... Setiap kali melihatnya, aku selalu heran, kemampuan fisik anak ini sebenarnya level berapa sih?

"Hup!"

Tepat saat Uouji selesai beratraksi dan menepuk-nepuk tangannya, pintu kelas mendadak terbuka dengan suara dentuman keras.

"KOREEEEYAAAAAA (WOI)!"

Disusul dengan lengkingan suara aneh yang bergema di seluruh ruangan.

"A-Ada apa?"

Di ambang pintu, berdirilah Pak Kishibe, guru kesiswaan yang terkenal galak.

"Wah, monster penjahatnya mengejarku."

"Uouji... kamu... Berani-beraninya kamu... Beraninya kamu melakukan ini padaku!"

Pak Kishibe terengah-engah dengan wajah yang memerah padam, entah karena kelelahan atau karena amarah yang sudah di ubun-ubun.

Uouji memang sering cari gara-gara dengan Pak Kishibe lewat keisengan yang keterlaluan, tapi aku belum pernah melihat beliau semarah ini. Sebenarnya apa lagi yang sudah dia perbuat?

"Pa-Pak, ada apa sebenarnya?"

Pak Kishibe langsung menoleh dan memberiku tatapan tajam yang seolah-olah ingin menusuk.

"Amakusa! Temanmu ini sudah melakukan dosa yang pantas dibalas dengan hukuman mati!"

Teman, katanya... Memang sih, gara-gara kelakuan anehku akibat Absolute Choice, aku juga sering jadi incaran para guru, tapi jujur saja aku agak keberatan kalau dikelompokkan dalam satu geng yang sama dengan Uouji.

"Woi, lo sebenarnya ngapain sih?"

Aku mendekatkan wajah ke Uouji dan berbisik menanyakan situasinya.

"Begini lho, Pak Kishibe itu kan botak, ya?"

"...Yah, memang benar sih."

Meski sempat ragu karena pertanyaannya terlalu frontal, aku mengangguk. Fakta bahwa Pak Kishibe memakai wig dengan belahan rambut 7:3 yang sangat tidak alami itu sudah jadi rahasia umum. Semua orang tahu kalau di balik wig itu hampir tidak ada sehelai rambut pun yang tersisa.

"Nah, waktu itu aku cerita kalau di rumahku lagi dikembangkan obat penumbuh rambut super kuat. Eh, Bapak itu malah tertarik banget."

Yah, mengingat teknologi UOG (Uouji Group) adalah salah satu yang terbaik di dalam negeri di berbagai bidang, aku paham kenapa beliau sampai ingin bergantung pada teknologi itu.

"Si Bapak maksa nggak mau nunggu sampai tanggal rilis. Padahal sudah aku bilang kalau produk prototipe itu berbahaya, tapi dia bilang nggak bakal nuntut apa-apa kalau terjadi sesuatu. Ya sudah, diam-diam aku bawakan... tapi..."

Uouji tiba-tiba menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.

"Rambutnya memang tumbuh sih, tapi kok... jadinya malah mirip rumput laut..."

"Rumput laut?"

Aku memperhatikan bagian atas kepala Pak Kishibe dengan saksama.

Ah, beneran.

Dari celah wig 7:3 yang terpasang kencang itu, terlihat sesuatu yang tampak lembap, lemas, dan sedikit bergelombang menyembul keluar.

"Ahahaha! Pak, rumput lautnya... rumput lautnya offside tuh!"

Padahal harusnya dia tutup mulut, tapi Uouji malah menunjuk-nunjuk sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"Ahahahaha! Makanya sudah kubilang jangan dipakai! Ahahahaha!"

"UO-UO-UOUJIIIIIIII!"

Amarah Pak Kishibe meledak mencapai puncaknya. Memang sih, soal memakai prototipe itu salah beliau sendiri, tapi reaksi Uouji ini juga kelewat jahat.

"Ahaha, ayo kabur dari Monster Rumput Laut!"

"Tunggu, WOI!"

Uouji berlari keluar kelas dengan ekspresi yang sangat gembira.

Syukurlah mereka sudah kembali normal... tapi kalau melihat kelakuan mereka berdua, aku jadi ragu apakah 'normal' bagi Chocolat dan Uouji itu adalah hal yang baik atau tidak.


2

Jam Istirahat.

"Amakusa-kun, bisa bicara sebentar?"

Yang datang mengunjungi kelasku adalah seorang gadis anggota OSIS kelas dua. Dia juga yang waktu itu membawakan daftar urutan pemain untuk pertandingan persahabatan. Orangnya berkepribadian normal, jadi sangat mudah diajak bicara.

"......Ada apa hari ini?"

Tapi ya, kepribadiannya yang baik tidak ada hubungannya dengan niat terselubung OSIS (atau lebih tepatnya, si Ketua). Jangan-jangan ini undangan ke acara aneh lainnya? Secara alami, aku langsung mengambil langkah mundur untuk jaga jarak.

Seolah menyadari kewaspadaanku, gadis itu tersenyum kecut.

"Aduh, jangan begitu dong. Hari ini aku bawa kabar baik, kok."

"Kabar baik?"

"Iya, iya," sahutnya sambil mengeluarkan sebuah amplop dari kantongnya.

"Ini buatmu."

Dia menyodorkan amplop itu padaku.

"Apa ini?"

"Iya, di pertandingan kemarin, pihak 'Okotowari 5' kalian menang, 'kan? Nah, ini hadiah tambahannya."

Hadiah tambahan? Aku tidak dengar apa-apa soal itu sebelumnya, ternyata ada juga ya.

Sambil merasa curiga, aku membuka amplopnya.

"Ini…… tiket?"

Di bagian tengahnya tertulis nama besar, 'Aqua Galaxy'.

Kalau tidak salah, itu nama kolam renang super raksasa yang baru buka tahun lalu. Melihat keterangan yang tertulis di sana, sepertinya ini tiket terusan satu hari.

"Oh, aku juga dapat tidak?!"

Ouka melongokkan wajahnya dari balik bahuku.

"Tentu saja dapat. Buat Hakoniwa-san yang jadi pemain bantuan dan Chocolat-san yang ikut mewakili juga ada, jadi totalnya ada lima lembar."

"Ooh, aku juga boleh ikut?!"

Rambut ekor kuda Chocolat bergoyang-goyang kegirangan.

"Amacchi, di sini keren lho, luas banget! Alih-alih kolam renang, rasanya lebih mirip taman bermain atau theme park yang bisa dikelilingi pakai baju renang!"

Mata Ouka berbinar-binar senang. Kalau dipikir-pikir, tempat itu memang sempat viral saat pembukaan dan sering sekali masuk TV.

"Kalau begitu, selamat bersenang-senang semuanya, ya~"

Gadis OSIS itu pergi sambil melambaikan tangan ringan.

"Mufufu, darah mainku jadi mendidih nih!"

"Kelihatannya seru ya!"

Ouka dan Chocolat menunjukkan reaksi yang sangat antusias.

"Wah, ada apa ini? Kok kalian kelihatannya senang sekali?"

Melihat situasi itu, Yukihira muncul, jadi aku menjelaskan kronologinya.

"Kolam renang, ya……"

Tapi begitu mendengar lokasinya, ekspresi Yukihira sedikit mendung.

"Ada apa?"

"……Bukan apa-apa."

Reaksi Yukihira sangat kontras dengan Ouka dan Chocolat. Yah, dia memang bukan tipe karakter yang bakal ikut heboh sih, tapi tetap saja rasanya ada yang aneh.

"Ya ya! Pak Guru, apa pisang termasuk camilan?"

Di sampingnya, Ouka mengangkat tangan dengan sigap dan melontarkan pertanyaan layaknya anak SD.

"Kau ini, mau bawa pisang ke kolam renang buat apa…… Hm?"

Tepat saat aku merasa lelah menghadapinya, tiba-tiba ponselku bergetar. Begitu kuperiksa pengirimnya, itu adalah email misi dari 'Dewa' yang belakangan ini mulai sering menerorku.

Yah, aku sudah menduga ini akan datang, jadi aku tidak terlalu terkejut dengan kehadiran misinya. Masalahnya adalah isinya.

Sambil berdoa semoga kali ini tugasnya ringan, aku membukanya.

Pada hari Minggu, 9 Juni, di Aqua Galaxy, potretlah wajah menangis Ouka Yuuouji.


Ouka…… memangnya dia bisa menangis?


3

Istirahat siang keesokan harinya.

"O-Abang mau ○○○ di kolam renang sama aku?! Tentu saja aku mau!"

"……Lupakan saja. Anggap aku tidak pernah bicara apa-apa."

"Wawa, cuma bercanda kok! Kita ganti jadi ●●● saja!"

"Malah makin parah, woy!"

Gadis yang tiba-tiba tancap gas dengan kata-kata sensoran ini namanya Yuragi Hakoniwa. Teman masa kecil yang mengaku sebagai adikku.

Bukan cuma adikku sih, dia memproklamirkan diri sebagai adik seluruh umat manusia, dan memperlakukan siapa pun tanpa pandang bulu sebagai kakaknya. Gadis ini punya…… yah, kelainan sifat yang cukup parah.

Singkatnya, dia sejenis dengan Yukihira dan Ouka. Artinya, tidak perlu ditanggapi serius. Aku berikan saja tiketnya lalu segera—


PILIH!

"Haa…… Haa…… Yu-Yuragi, tolong jilat telapak kaki Abang."

Menjadi kakak-adik kandung dengan Yuragi.

"Abang saja sudah tidak cukup memuaskanku, bisa panggil aku dengan sebutan lain yang lebih beda?"


……Kali ini tiga pilihan, ya. Banyak sekali poin yang ingin kukomentari dari isinya, tapi mari kita bedah satu per satu.

Pertama, nomor 1. Karena instruksinya cuma dialog, tidak ada kekuatan paksaan untuk benar-benar melakukannya. Singkatnya, asal diucapkan ya selesai. Tapi kalau lawannya Yuragi, dia bisa saja benar-benar melakukannya, jadi aku terlalu takut untuk memilih ini.

Nomor 2 jelas di luar nalar. Karena ini bukan dialog, apa pun isinya pasti akan terjadi secara nyata jika dipilih. Menjadi saudara sedarah dengan Yuragi kemungkinan besar akan membuat dunia terdistorsi agar kami tinggal di rumah yang sama…… Memikirkannya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri.

……Eh, tunggu dulu. Mungkin aku harus memutar otak. Kalau kami benar-benar jadi saudara kandung, mungkin dia tidak akan mengejarku secara terang-terangan begi—ah, tidak mungkin. Kalau Yuragi, dia pasti bakal bilang, "Selama ada cinta, status bukan masalah, 'kan?!" atau semacamnya.

Lagipula, aku tidak mungkin sembarangan memilih opsi yang bisa mengubah takdir orang lain.

Artinya, secara eliminasi, hanya tersisa nomor 3…… Meskipun ini juga baunya mencurigakan sekali…… tapi tidak ada pilihan lain.

"……Abang saja sudah tidak cukup memuaskanku, bisa panggil aku dengan sebutan lain yang lebih beda?"

Yuragi tertegun sejenak, lalu wajahnya langsung berseri-seri.

"A-Abang akhirnya jadi dere!"

……Gawat, aku harus melakukan sesuatu sebelum ini jadi makin merepotkan.

"Bukan, aku tidak dere. Tadi aku salah bicara. Intinya ganti sebutan dasarnya dari Abang dan—"

"Aniki, Onii-sama, Onii-tan, Onii-chin, Onii-maro…… Aaah, mau yang mana ya!"

……Dia sama sekali tidak mendengarkan.

"Ah benar, sekaranglah saatnya mempublikasikan itu! Abang, dengar ya, dengar!"

Seolah baru ingat sesuatu, Yuragi menepuk tangannya dan mulai berceloteh tanpa menunggu jawabanku.

"Sebenarnya, dari dulu aku sudah memikirkan sebuah sistem. Nama panggilan Abang yang akan terus berubah seiring berjalannya hidup. Mirip ikan yang ganti nama saat tumbuh besar, sebut saja 'Evolusi Abang'."

……Namanya jelek banget.

Yah, dilarang pun dia tidak akan dengar, jadi biarkan saja dia bicara sesukanya dulu.

"Pertama, saat lahir namanya 'Abang Bayi'."

Dari awal saja maknanya sudah tidak jelas.

"Lalu kalau punya adik lagi, namanya jadi 'Abang x Abang'."

"Malah jadi kayak nama pairing diri sendiri!"

"Setelah itu, dia mulai meniti karier sebagai aktor cilik, dan berhasil mendapatkan peran utama dalam audisi musikal 'O-Nee'."

"Jangan disamain sama musikal Annie, dong!"

"Tapi sayangnya, cuma karya itu yang sukses. Jalan sebagai aktor tertutup, dia putus asa, kehilangan semangat sekolah, dan mulai meniti jalan sebagai 'Abang NEET'."

"Maksa banget itu!"

"Beberapa tahun kemudian, dia lelah dengan hidupnya dan berjalan-jalan di Shinjuku Ni-chome, lalu ada seseorang yang menepuk pundaknya. Orang itu melatih mentalnya kembali, dan dia mulai hidup sebagai 'Abang Waria'."

"Makin ribet saja!"

"Beberapa tahun kemudian lagi. Setelah melewati berbagai lika-liku, dia kembali normal dan menikah dengan wanita biasa. Karena dia masuk ke keluarga istrinya, marganya berubah, dan namanya jadi aneh: 'Anegasaki Ani'."

"Kenapa malah nikah sama Nene-san?! Yah, sebenarnya aku senang sih! Tapi namaku bukan Ani!"

"Tahun-tahun berlalu, dia dikaruniai anak dan mencoba memberi nama 'Penyuka-Adik-Haa-Haa', tapi ditolak oleh kantor kependudukan."

"Itu bukan sekadar nama aneh lagi!"

"Di usia empat puluh tahun, gairah yang terpendam membara kembali. Dia ikut audisi 'O-Nee' lagi, tapi tentu saja gagal total."

"Ya iyalah! Malah heran kok bisa dibolehkan ikut audisi!"

"Lalu, cucu pertamanya lahir, dan dia dipanggil 'Abang Kakek'."

"Kenapa nadanya mirip panggil abang kedua begitu!"

"Dan setelah meninggal, dia akan terus dikenang sebagai 'Mendiang Abang Yang Mulia'."

"Kualat kau nanti!"

……Apa-apaan ini. Isinya cuma minta dikomentari, tapi yah, kalau sudah bicara sebanyak ini dia pasti sudah puas.

"Gimana, sudah puas?"

Melihat ekspresiku yang sudah benar-benar malas, Yuragi memajukan bibirnya.

"Huuh, tidak asyik ah. Padahal Abang sendiri yang minta ganti panggilan."

"Makanya, maksudku panggil dengan sebutan yang jauh dari kata 'Abang'."

"Selain Abang, contohnya apa?"

"Ya, karena aku setahun lebih tua darimu, panggil saja 'Amakusa-senpai' kan biasa."

"Ehh, kedengarannya tidak sehat."

"Bagian mananya…… Malah panggil Abang padahal tidak sedarah itu yang lebih tidak sehat. Pokoknya coba dulu sekali."

Saat aku mendesaknya, Yuragi akhirnya bergumam dengan enggan.

"……Amakusa-senpai."

"!"

Seketika, tubuhku kaku. Wuih…… ini bukannya lumayan oke ya? Bukan karena ini Yuragi, tapi dipanggil 'Senpai' oleh adik kelas yang manis (secara fisik) itu memang impian setiap cowok.

"Yuragi, kau bisa juga 'kan. Mulai sekarang panggil begitu ter—"

"HOEEEKKKK!"

"K-Kau kenapa?!"

Tiba-tiba Yuragi memegangi dadanya dan mual-mual. Meskipun tidak sampai muntah, dia kehilangan tenaga dan langsung berlutut bertumpu pada kedua tangannya di lantai.

"K-Kau tidak apa-apa?"

Aku buru-buru mengelus punggungnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran, sebenarnya apa yang terjadi pada tubuh Yuragi?

"Ugh…… tidak, kalau memanggil orang tanpa embel-embel Abang atau Kakak, rasa jijiknya keterlaluan sampai aku mau muntah……"

"Segitunya banget?!"

◆◇◆

Karena sudah tidak sanggup meladeninya, aku paksa dia menerima tiketnya lalu aku kembali ke lantai dua. Ampun deh, kenapa cuma mau mengajak ke kolam renang saja capeknya begini……

Lagipula, kenapa tiba-tiba harus kolam renang? Sebelum pertandingan dimulai, aku sama sekali tidak dengar soal hadiah tambahan. Munculnya sekarang terasa agak tidak wajar.

"Dasar, si Ketua itu sebenarnya mikir apa sih—"

"Kamu memanggilku~?"

"WAAH!"

Tiba-tiba ada suara dari belakang yang membuatku hampir terjungkal.

"K-Ketua……"

Yang tersenyum dengan anggun di sana adalah Ketua OSIS sekaligus peringkat satu abadi di Peringkat Atas, kebanggaan Akademi Shingou yang karismatik, Seira Kokubyakuin.

"S-Sejak kapan Kamu ada di belakang saya……"

Tadi aku tidak merasakan kehadiran siapa pun, rasanya dia muncul begitu saja seolah baru saja terwujud secara instan.

"Entah kenapa, aku merasa dipanggil oleh Amakusa-san~"

"……Itu bukan jawaban, dan aku tidak memanggil Kamu."

"Aduh aduh, dingin sekali ya~"

Habisnya, Kamu itu mencurigakan sekali. Menunjukkan rasa suka palsu, bicara penuh teka-teki soal 'Kutukan', tujuannya benar-benar tidak terbaca.

"Ketua, sebenarnya apa maksudnya tiket kolam renang itu?"

Aku memberinya tatapan penuh selidik.

"Wah~, apa Kamu tidak suka?"

Tanpa merasa terganggu, Ketua malah membalas dengan senyum santai.

"Aku cuma berpikir, Amakusa-san yang menjalani hidup mengenaskan setiap hari ini mungkin butuh sedikit hiburan supaya lebih semangat~"

"Tunggu…… tolong jangan sembarangan bilang hidup orang mengenaskan."

"Habisnya, kalau aku yang harus memperkenalkan diri sambil telanjang bulat saat baru masuk sekolah, aku pasti tidak akan kuat~"

" Aku tidak sampai segitunya juga!"

"Lalu sampai mana~?"

"Waktu itu karena eliminasi, aku memperkenalkan diri sambil pamer separuh pantat…… Eh, ternyata hidupku memang mengenaskan?!"

……Hebat juga aku tahun lalu tidak sampai mogok sekolah. Kau luar biasa, diriku yang dulu.

"Kita melenceng dari topik. Apa yang Kamu rencanakan dengan menyuruhku ke kolam renang?"

"Tentu saja kebahagiaan Amakusa-san~"

"……Bohong, 'kan?"

"Bohong, kok~"

……Sudah kuduga, dia tidak berniat menjawab dengan serius.

"Aku ganti pertanyaannya. Kemarin Chocolat bertingkah aneh, Kamu tahu sesuatu?"

"Lho~, memangnya biasanya dia normal?"

Balasannya agak sedikit meleset.

"Yah…… biasanya juga sudah aneh sih."

"Kalau begitu artinya dia seperti biasa, 'kan~?"

……Sama saja, dia tidak mau menjawab. Setelah itu, aku mencoba bertanya hal-hal yang lebih inti seperti "Apakah Kamu adalah 'Dewa' yang mengirimkan pilihan padaku?" atau "Apa maksudnya pilihan akan hilang kalau aku mencium Kamu?", tapi seperti yang sudah diduga, semuanya diabaikan dengan cantik.

Sejak awal, salah kalau aku berharap bisa menggali informasi dari orang ini. Kalau tidak ada yang bisa didapat, secara pribadi aku tidak mau terlibat lebih jauh. Sebaiknya segera kabur.

"Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu."

"Aduh, padahal aku masih ingin mengobrol. Tapi aku juga harus menyerahkan sesuatu pada Yuukaze-san dan Reikadou-san, jadi sampai di sini saja ya~"

Yuukaze dan Reikadou…… dua orang dari Peringkat Atas yang ikut bertanding kemarin. Entah apa yang mau dia berikan, tapi ternyata dia rela turun ke lantai dua cuma untuk itu.

"Kalau begitu, aku berharap akan ada kejadian seru di kolam renang nanti ya~"

Ketua meninggalkan kata-kata itu lalu berjalan menjauh dengan langkah yang terasa sangat ringan.

Seru, ya. Dengan anggota tim seperti ini, ditambah ada misi pula, kejadian seru mana mungkin ada—


PILIH:

Menjadi Riajuu (orang sukses dalam kehidupan sosial) sejati di Aqua Galaxy, tapi kemudian meledak.

Di Aqua Galaxy, pada waktu yang acak, apa pun yang kau pikirkan akan langsung terucap dari mulutmu.

Menuju ke ujung Galaksi……


……Sudah kuduga, tidak mungkin ada.

◆◇◆

Aku kembali ke kelas dengan suasana hati yang anjlok parah. Apa-apaan pilihan itu tadi. Nomor 3 isinya terlalu sulit ditebak, nomor 1 pasti meledak (secara fisik). Aku bisa membayangkan diriku sedang dikerubungi gadis-gadis lalu tiba-tiba bom sungguhan muncul.

Tersisa nomor 2, tapi ini juga tergantung situasinya, bisa jadi kacau balau……

"Oh, Amacchi, gimana tadi si Yuragi?"

Suara Ouka membuatku teringat tujuan asliku. Benar juga, tadi aku pergi untuk memastikan hal itu.

"Ah, katanya dia (sayangnya) bakal ikut."

"Hore, jadi kita bisa main bareng!"

Chocolat dan Ouka kembali heboh seperti kemarin.

"Bisa bicara sebentar? Soal kolam renang itu."

Yukihira angkat bicara di samping mereka.

"Ada apa?"

"Maaf, tapi sepertinya aku tidak ikut."

Nada bicaranya terasa lebih kaku dari biasanya. Kalau dipikir-pikir, kemarin juga dia agak aneh.

"Tidak ikut? Apa kau ada urusan hari itu?"

Kalau begitu agak gawat. Karena misi ini punya batas waktu, aku harus pergi hari Minggu ini apa pun yang terjadi……

"Sayangnya, ini bukan masalah ada urusan atau tidak. Pokoknya kali ini, silakan pergi tanpaku."

"? Aku tidak paham, apa ada alasan kenapa kau tidak bisa ke kolam renang—"

"Habisnya…… aku tidak bisa berenang."

"Hah?"

Yukihira menggumamkan sesuatu, tapi suaranya terlalu kecil jadi tidak terdengar jelas.

"……Lagipula, kalau aku pakai baju renang berdampingan dengan Chocolat-chan dan Ouka-chan…… nanti dadaku yang kecil…… bakal makin kelihatan……"

"Eh? Apa katamu?"

Suaranya seperti mau menghilang, sama sekali tidak terdengar.

"……Bukan apa-apa."

Yah, aku tidak tahu apa masalahnya, tapi kalau orangnya bilang tidak mau, mendesaknya terus juga tidak sopan. Sepertinya dia memang tidak mau memberitahu alasannya…… tapi setidaknya ini bukan masalah jadwal, jadi aku agak lega.

"Begitu ya…… Sayang juga kalau tiketnya sisa, apa aku ajak orang lain saja ya?"

"Eh…… k-kau boleh lho membujukku sedikit lagi……"

Tetap tidak terdengar. Bukan cuma hari ini, Yukihira memang sering begini. Apa bergumam pelan itu memang hobinya?

"Maaf Yukihira, bisa bicara sedikit lebih keras?"

"……Makanya, kubilang bukan apa-apa."

Dia mengulangi kalimat yang sama sambil menunduk dan terdiam. Jelas sekali ini ada apa-apa……

Saat aku bingung harus bagaimana, tiba-tiba Yukihira mengangkat wajahnya.

"……Yah, tapi karena sudah dikasih, tiket ini kuambil saja."

Dia menyambar tiket itu dari tanganku.

"Oh, apa itu artinya kau jadi ikut?"

"Tidak, mau kujadikan pakan untuk kambing peliharaanku."

Eh…… kambing…… kambing apa coba…… Selagi aku bingung mau berkomentar apa, Yukihira sudah keburu meloyor pergi.

"Kenapa sih…… Yukihira memang sulit dimengerti."

"Yah~, Furanocchi tidak ikut ya, sayang sekali."

"Padahal aku pikir kalau main bareng-bareng bakal lebih seru……"

Chocolat dan Ouka terlihat kecewa.

"Yah, dia sudah bawa tiketnya, siapa tahu dia berubah pikiran. Nanti aku coba ajak sekali lagi."

Masalah Yukihira kusisihkan dulu, sekarang saatnya membahas rencana konkretnya.

"Masalahnya adalah transportasi. Normalnya sih naik kereta, tapi……"

Untuk sampai ke Aqua Galaxy yang ada di luar prefektur, butuh waktu satu setengah jam gonta-ganti kereta dari stasiun terdekat sekolah. Meskipun tiket masuk dan wahana gratis, ongkos jalannya tentu bayar sendiri.

Kalau harus menanggung ongkos pulang-pergi untukku dan Chocolat, jumlahnya lumayan bikin dompet jerit. Memang sih orang tuaku mengirim uang biaya hidup yang cukup, tapi uang saku bulanan itu soal lain. Bagi aku yang tidak bekerja paruh waktu, ini pukulan berat.

"Hmm, agak berat juga ya~"

Ouka yang sebenarnya anak orang kaya pun tampak berpikir keras, karena orang tuanya hanya memberi uang saku dalam jumlah sewajarnya.

Apalagi Yuragi yang tinggal sendirian di Jepang sementara orang tuanya di luar negeri, kondisinya pasti tidak jauh beda.

"Tapi tidak mungkin juga kan naik sepeda sejauh itu……"

Tiba-tiba, ada suara dari belakang.

"Amakusa, soal tumpangan biar aku yang urus."

Begitu menoleh, di sana ada wali kelas kami yang bertubuh loli, Utage-sensei.

"Ibu Guru…… maksudnya tumpangan bagaimana?"

"Duh, lamban banget sih kau. Pakai mobil lah, apalagi."

"Eh? Ibu Guru, memangnya boleh menyetir?"

"……Kau mau cari ribut denganku, hah?"

Kerah bajuku langsung ditarik…… seram sekali.

"Maafkan aku."

Karena penampilannya yang terlalu loli, aku sering lupa kalau orang ini sudah dewasa. Yah, namanya juga guru, tentu saja sudah dewasa.

Tapi meskipun secara usia tidak masalah, apa dengan tinggi badan segitu kakinya bisa sampai ke pedal rem dan gas?

"Kau pasti sedang memikirkan hal yang sangat tidak sopan, 'kan?"

Sambil dicengkeram kerah bajunya, aku menggelengkan kepala kuat-kuat.

"T-Tidak kok…… Tapi, apa Ibu Guru mau sengaja mengantar kami?"

"Buat kalian? Mana mungkin aku melakukan pekerjaan amal begitu."

Setelah melepaskanku, Utage-sensei mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. Ternyata itu tiket Aqua Galaxy yang sama dengan milik kami.

"Dari mana Ibu dapat itu?"

"Aku 'nyolong' dari OSIS."

"Hah?"

"Coba pikir, dari lima orang tim pemenang, empat di antaranya adalah murid kelasku. Artinya, tidak berlebihan kalau dibilang aku jugalah pemenangnya, 'kan?"

Berlebihan banget itu mah.

"Tapi kalian dapat tiket sedangkan aku tidak, itu kan tidak adil. Milik kalian adalah milikku juga."

……Ini sih namanya Gianism (paham Giant di Doraemon).

"Yah, itu tadi cuma bercanda. Senior Yumejima kelas tiga bilang dia tidak mau dan mengundurkan diri, jadi aku ambil tiketnya. Alasan yang sah, 'kan?"

Aku tidak tahu bagian mananya yang sah, dan kenapa dia malah bangga juga makin tidak paham. Lagipula, OSIS ternyata juga menyiapkan tiket untuk Senior Yumejima yang kabur dengan cara paling buruk di tengah pertandingan itu ya…… Baik hati sekali.

"Ayo! Ouka, si Gukguk, kalian semangat dong!"

"Okee!"

"Oke, Tuan!"

"Hajar kolam renangnya, Woy!"

"Hajarrr!"

"Hajar, Tuan!"

Kenapa suasananya jadi mirip rapat geng motor begini……


4

"Aku pulang!"

Saat aku sedang menyiapkan makan malam, Chocolat pulang dengan suara riang.

"Kanade-san, aku sudah membelinya!"

Yang disodorkan Chocolat adalah buku dari Penerbit UOG yang sudah tidak asing lagi bagiku.

……Padahal setiap kali beli tidak pernah ada gunanya, kenapa Chocolat tetap semangat membelinya ya?

Aku mengecilkan api kompor dan menerima bukunya. Judul kali ini adalah: '10 Cara Membuat Gadis Menangis ~Dengan Ini Kau Menjadi Raja Isak Tangis~'.

"……Lain kali tidak usah beli lagi ya."

Sambil memperingatkan Chocolat, aku membuka buku yang tebalnya tidak masuk akal itu dan langsung menuju halaman rangkuman seperti biasa.


[T/N: Isi Buku Panduan Konyol]

Membuat gadis menangis karena ingin melihat air matanya, bukankah itu perbuatan paling rendah? Terus kenapa kau tulis bukunya, woy! Penjelasan: Yah, itu kan pendapat umum, kalau aku sendiri sih malah bergairah. Kau ini memang orang paling rendah sekaligus mesum ya!

Ceritakan kejadian sedih dalam hidupmu. Beri contoh konkretnya dong. Penjelasan: Dia pasti akan menangis tersedu-sedu karena merasa sangat kasihan padamu. Kau anggap apa hidup pembacamu ini!

Semprotkan ekstrak habanero ke wajahnya. Kau ini iblis ya?! Penjelasan: Dari sanalah cinta yang membara mungkin akan dimulai. Mana ada!

Minta dia melakukan Play Bayi (Menangis Kencang). Ngomong apa sih orang ini…… Penjelasan: Minta dia melakukan Play Bayi (Menangis Kencang). Bukan hal penting tapi kenapa diulang dua kali! Tambahan: Minta dia melakukan Play Bayi (Menangis Kencang). Berisik banget, woy!

Aku ditolak istri saat minta Play Bayi (Menangis Kencang), bolehkah aku menangis? Mau dibahas sampai kapan?! Penjelasan: Sekarang aku rasanya ingin pulang ke rumah orang tua saja. Pulang saja sana! Dan jangan pernah kembali!

Suruh dia baca novel 'Seratus Miliar Air Mata'. Ah, itu novel mengharukan yang sempat jadi best seller ya. Aku juga sudah baca, dan memang bikin nangis sih. Penjelasan: Buku ini dijamin bakal membuat kelenjar air mata jebol, sialnya. Hm? Kenapa tiba-tiba kau merasa sial? Tambahan: Saat pertama baca, sebagai sesama penulis, aku merasa kalah. Sejak kapan kau merasa jadi penulis sungguhan!

Kukuku…… suaramu saat merintih lumayan merdu juga ya. Apa-apaan ini…… kayak yang sebelumnya, ini cuma pola 'karena aku ingin mengucapkannya' saja ya? Penjelasan: Eh, itu yang bilang barusan ayah kandung di depan mataku, aku harus bagaimana? Sudah terlambat! Di umur segitu masih kena penyakit Chuunibyou itu sudah tidak tertolong!

Saat cek kesehatan, tidak sengaja memakai celana dalam Ibu. ……Apa? Memang sih itu situasi putus asa yang bikin ingin menangis, tapi itu bukan 'cara', 'kan? Penjelasan: Ini juga pengalaman pribadiku, bolehkah aku hitung sebagai satu poin? Ya tidak boleh lah! Tambahan: Kalau diganti versi perempuan, jadinya 'tidak sengaja pakai celana brief ayah'. Mau dunia kiamat pun kesalahan begitu tidak mungkin terjadi! Ingin kupakaikan, padamu celana, brief milik ayah. Kenapa malah dibikin haiku segala! Sekali saja, ingin kulihat istri, sembunyikan uang. Tidak ada hubungannya sama Utamaru-san (komedian rakugo), woy!

Perasaan saja atau memang cara yang kusebutkan tadi semuanya tidak ada yang beres ya? Bukan perasaanmu saja, makanya berhenti saja sana! Penjelasan: APA KAU BILANG, BRENGSEK! Kenapa kau malah menulis sambil membayangkan bakal dikomentari begitu!

Di poin pertama aku bilang begitu, tapi menurutku, membuat gadis tertawa itu seribu kali lebih baik daripada membuatnya menangis. ……Bikin buku lain saja sana. Penjelasan: Buku '10 Cara Mendapatkan Senyum Gadis ~Dengan Ini Kau Menjadi Raja Populer~' sudah terbit! Ternyata sudah bikin! Beli ya! Siapa juga yang mau beli! ……Eh, aku sudah punya, 'kan?!


Yah, karena sudah biasa, aku cuma bisa mengomentari tanpa rasa marah lagi. "Buku ini harusnya dianggap buku komedi, bukan buku panduan praktis……"

Sambil menggerutu, aku membolak-balik sisa halamannya dengan santai. "Hm?" Mataku terhenti di sebuah bagian.

Buku-buku sebelumnya biasanya cuma membuang halaman untuk hal-hal konyol seperti '48 Teknik Menggelitik' atau 'Aliran Pemuja Celana Dalam', jadi aku pikir kali ini juga sama saja.

Tapi, informasi yang tertulis di sana terasa sedikit berbeda dari biasanya.

"I-Ini……"

—Mungkin bisa dipakai.


5

"Kanade-san, aku sudah tidak sabar, lho!"

Di hari Minggu, Chocolat berseru dengan suara riang di depan gerbang sekolah yang menjadi tempat janji temu kami.

"Ah, iya..."

Aku membalasnya dengan jawaban seadanya. Tidak, kalau dipikir secara normal, seharusnya aku sangat bersemangat karena akan pergi ke kolam renang bersama beberapa gadis sekaligus.

Tapi masalahnya, anggota grupnya ya begini, dan yang paling penting, beban Misi ini terasa sangat berat di pundakku, membuatku tidak bisa menikmatinya dengan tulus.

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari arah samping.

"Kak Kanade, Kak Chocolat, selamat pagi—!"

Yuragi berlari menghampiri kami sambil melambaikan tangannya dengan heboh.

"Selamat pagi~!"

"...Yo."

"Lho, Kakak kok kelihatannya tidak bersemangat, sih?"

"Enggak kok, bukan apa-apa. Jangan dipikirkan."

"HAH! Jangan-jangan Kakak lagi bad mood gara-gara aku tidak memakai baju renang sekolah yang ditulisi tulisan 'Adik Bajingan' ya...?"

"Memangnya seberapa cabul aku ini di matamu, HAH?!"

"Haha, bercanda kok, bercanda. Jadi, bagaimana menurutmu bajuku?"

Yuragi memegang ujung gaun one-piece putih bersihnya, lalu berputar sekali untuk memamerkannya.

Bagiku, gaun putih punya image yang polos dan anggun, tapi meski dipakai oleh Yuragi yang kepribadiannya berbanding terbalik dengan itu, ternyata cocok juga.




"Yah, lumayanlah."

Aku menanggapinya dengan dingin karena kalau aku memujinya dengan jujur, dia pasti bakal besar kepala dan ujung-ujungnya jadi merepotkan.

"Huaaa, Kak Chocolat! Kak Kanade jahat banget!"

Sambil pura-pura menangis, Yuragi memeluk Chocolat dan membenamkan wajahnya di dada gadis itu.

"Cup, cup, anak pintar."

Chocolat yang sedang berlagak seperti kakak perempuan itu mengusap kepala Yuragi.

Dia sendiri mengenakan celana hot pants yang sangat pendek dan tanktop ketat yang menempel di tubuh.

Dengan proporsi tubuh Chocolat yang seperti itu, lekuk tubuhnya terpampang nyata dan terlihat sangat... luar biasa.

"Eh, omong-omong Kak Ouka dan Bu Utage mana?"

Yuragi melepaskan wajahnya dari dada Chocolat lalu celingukan ke sana kemari.

"Belum datang juga, sih..."

Aku mengecek jam tangan, sebentar lagi sudah masuk waktu janji temu.

Aku sudah mengajak Yukihira sekali lagi, tapi dia menolak mentah-mentah. Jadi sisa dua orang itu saja yang ditunggu, tapi... sebuah firasat buruk terlintas di kepalaku.

Kalau sampai si Ouka itu tidak bisa datang karena suatu alasan, maka prasyarat Misi ini akan—

"Fuhahahaha!"

Tiba-tiba, terdengar suara dari atas.

"Apa?!"

Saat aku mendongak ke pohon sakura di dekat kami, terlihat Ouka sedang berdiri di atas dahan sambil bersedekap dan tertawa keras.

"Nahaha! Aku sengaja bersiap di sini sebelum Amacchi dan Chocolat-chi datang supaya bisa muncul dengan gaya yang keren!"

Ya... yah... dasar bocah.

"Hiat!"

Ouka melompat, berputar beberapa kali di udara (ini sebenarnya hebat banget), lalu mendarat dengan anggun.

"Heh, kau pakai rok super mini begitu lagi... ah, syukurlah kau pakai celana ketat."

Dilihat dari sudut posisiku tadi sih tidak kelihatan, tapi roknya tadi benar-benar tersingkap lebar, lho.

"Mufufu, hari ini aku tidak pakai celana ketat. Karena sudah tidak sabar, aku sudah pakai baju renang di dalam, jadi aman-aman saja!"

"Kau anak SD, ya?!"

"Terus, terus, saking semangatnya, aku sampai tidak bisa tidur semalam!"

"Kubilang, kau itu anak SD, ya?!"

Yah, tapi dalam satu sisi, ini memang gaya dia banget, sih.

Cittttttt!

"Uwoh!"

Di tengah percakapan kami, sebuah mobil melesat dengan kecepatan gila dan berhenti tepat di depan mataku.

"H-hampir saja..."

Aku tidak paham soal jenis mobil, tapi mobil ini berwarna hitam legam, sangat mengkilap, dan bodinya luar biasa panjang... Singkatnya, ini tipe mobil yang biasanya dinaiki oleh 'orang-orang dari dunia bawah'.

"Yo."

Yang turun dari mobil adalah wali kelas kami, si guru loli.

"...Bu, ini mobil sebenarnya punya siapa?"

"Punya siapa apanya?"

Dipikir pakai logika mana pun, barang ini harganya bukan cuma satu atau dua juta yen. Aku tidak tahu berapa gaji guru sekolah swasta, tapi ini bukan level barang yang bisa dibeli cuma dengan rajin menabung.

"Anu, sepertinya mustahil bisa beli ini kalau tidak melakukan sesuatu yang ilegal..."

"Oh, ini aku rebut dari orang-orang jahat."

...Oke, aku berhenti bertanya sampai di sini saja.

"Waaa, keren banget!"

"Kelihatannya mahal sekali ya!"

"K-kalau begini, banyak kakak laki-laki yang bisa naik sekaligus!"

Melihat mobil kesayangannya dipuji-puji, Bu Utage tampak bangga.

"Sip, cepat masuk. Ah, di sana-sini ada noda merah, tapi tidak usah terlalu dipikirkan."

"Itu noda darah, kan?!"

"Ngomong apa kau, Amakusa? Jangan sebut itu dengan nama murahan begitu. Itu adalah jiwa membara yang tumpah dari tubuh para pria saat mereka mempertaruhkan nyawa satu sama lain."

"Makanya, itu namanya noda darah!"

"Omong-omong ada noda ungu juga, tapi cuekin saja."

"Kenapa ada orang Namek yang naik mobil ini?!" (T/N: refrensi dragon ball)

Aku mengintip ke dalam dengan ragu, tapi sepertinya dia cuma bercanda karena bagian dalamnya sangat bersih... Aku akan berusaha keras mengabaikan gumamannya yang bilang, "Yah, soalnya kursinya sudah kuganti semua, sih."

Posisi duduknya: aku di kursi penumpang depan. Di belakang ada Chocolat, Ouka, dan Yuragi.

"Oke, berangkat! Siapkan mental kalian, bocah-bocah!"

Bersamaan dengan teriakan yang lebih mirip komando untuk menyerbu markas musuh, mobil yakuza yang dikemudikan guru bahasa Jepang itu pun melesat menuju kolam renang.

◆◇◆

"O-oooh, gila! Keren banget!"

Reaksi Ouka saat melihat penampakan Aqua Galaxy sama sekali tidak berlebihan.

Lahan itu sangat luas. Persis seperti yang Ouka katakan sebelumnya, tempat ini lebih cocok disebut taman hiburan atau theme park daripada sekadar kolam renang.

"B-banyak laki-laki setengah telanjang di mana-mana!"

"K-kalau seluas ini, aku bisa bebas melakukan ××× dengan Kakak sepuasnya..."

...Si fujoshi dan si mesum itu malah ikut bersemangat dengan cara yang aneh, tapi biarkan sajalah mereka.

Lewat spion, aku memperhatikan kondisi Ouka.

"Wah, aku jadi makin semangat nih!"

Setelah memastikan wajahnya yang penuh harap itu, aku melirik ke arah tasku.

...Di dalamnya ada sebuah senjata rahasia.

Buku tidak berguna yang biasanya selalu jadi beban itu, secara ajaib telah menghasilkan sesuatu yang berguna.

Sebuah item luar biasa yang hampir pasti bisa membuat Ouka menangis... Namun, item itu punya cacat yang sangat fatal, jadi memikirkan saat harus menggunakannya saja sudah membuat hatiku berat.

Selama beberapa hari terakhir, aku sudah memutar otak mencari cara lain, tapi tidak ada satu pun ide bagus yang muncul.

Yah, aku punya waktu seharian ini. Mari kita berpikir keras sampai detik terakhir supaya benda ini tidak perlu dikeluarkan.

"Ayo, kita serbu sekarang, WOOOY!"

Di saat aku membayangkan wajah menangis Ouka yang belum pernah kulihat, mobil yang dikemudikan Bu Utage melaju masuk ke area kolam renang dengan suara mesin yang menggelegar.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close