Chapter 2
Adik Perempuan,
Muncul?
1
Istirahat siang
keesokan harinya. Suara keluhanku bergema di area kelas satu.
"Enggak, ini
sih mustahil ketemu..."
Ada tujuan
tertentu kenapa aku sengaja datang ke lantai satu—tempat yang biasanya hampir
tidak pernah kupijaki—bersama dengan Chocolat, Yukihira, dan Oujisaka.
Tujuannya adalah mencari 'pemain pengganti' untuk Pertandingan Antar-Klub.
Ya, karena
pertandingan ini merupakan bagian dari rangkaian acara penyambutan murid baru,
baik tim Peringkat Utama maupun tim "Lima Teritolak" punya sistem
yang merepotkan: anggota kelima harus dipilih dari murid kelas satu sebagai
pemain pengganti.
Kalau dipanggil
oleh tim Peringkat Utama sih mungkin jadi sebuah kehormatan, tapi kalau
berpartisipasi sebagai bagian dari tim "Lima Teritolak", reputasi
sebagai 'golongan orang aneh' bakal tertanam kuat, dan ada kemungkinan bakal
terpilih masuk daftar "Lima Teritolak" di pemungutan suara bulan
September nanti... Aku tidak yakin ada orang yang cukup gila untuk mau
bergabung.
"Yah,
tidak ada gunanya juga kita berempat berkeliling barengan. Gimana kalau kita
mencar dulu?"
Usul ini
lima puluh persen demi efisiensi, dan lima puluh persen sisanya karena aku
memang sedang tidak ingin bergerak dalam satu kelompok dengan orang-orang ini.
"Baiklah.
Kalau begitu, dua puluh menit lagi kita kumpul di sini. Aku berharap bisa
menemukan bakat yang setidaknya bisa membuatku mati tertawa."
"Okee!
Intinya aku harus cari anak yang 'nendang' banget, kan!?"
Yukihira
dan Oujisaka berjalan pergi menuju koridor yang lebih dalam. Mereka berdua
itu... apa tidak salah paham soal tujuannya, ya? Padahal tidak ada aturan kalau
pemain pengganti "Lima Teritolak" itu harus orang aneh juga...
"Kanade-san,
ayo kita berjuang mencarinya~!"
Berbanding
terbalik dengan Chocolat yang semangatnya meluap-luap, tensiku sama sekali
tidak naik.
...Meski
begitu, karena masalah ini berkaitan erat dengan penyelesaian misi, aku tidak
bisa tinggal diam saja.
Setelah
misi kemarin muncul, aku sempat tenggelam dalam keputusasaan untuk beberapa
saat, tapi tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Ini soal Absolute
Choice dan misi-misinya yang sangat suka dengan permainan kata licik.
Mungkinkah kata "Suka" yang tertulis di persyaratan itu tidak hanya
berarti 'Love' (cinta), tapi juga mencakup 'Like' (suka sebagai teman/manusia)?
Untuk
membuktikannya, aku mencoba bereksperimen pada Oujisaka.
"Hei
Oujisaka, apa kamu suka aku sebagai sesama manusia?"
"Iya, aku
suka kok!"
Oujisaka menjawab
instan tanpa ragu sedikit pun.
Nah, bagaimana
hasilnya? Tepat di saat aku memikirkan itu, sebuah surel masuk.
《Oujisaka Ouka: CLEAR》
Ooh...! Tadinya
aku cuma coba-coba, tapi ternyata hipotesis itu terbukti benar. Kalau makna
'Like' saja sudah oke, berarti tingkat kesulitannya turun drastis.
Mumpung lagi
semangat, aku mencoba menyelesaikan bagian Yukihira dengan taktik yang sama.
"Hei
Yukihira, apa kamu suka aku sebagai sesama manusia?"
"Eh?
Amakusa-kun itu manusia, ya?"
...Sebuah
balasan yang terlalu di luar nalar.
Kalau aku
protes, urusannya bakal panjang, jadi aku abaikan saja dan memaksa pembicaraan
kembali ke jalurnya.
"Oke, soal
aku manusia atau bukan kita simpan dulu. Intinya, kalau disuruh pilih antara
suka atau benci, kamu pilih yang mana?"
Mendengar kalimat
itu, Yukihira tiba-tiba menunduk dan mulai bertingkah gelisah.
"Ha-hal
seperti itu... mana mungkin bisa kukatakan..."
Reaksi apa-apaan
ini...?
"Enggak,
maksudku ini bukan masalah besar..."
Suaraku sama
sekali tidak masuk ke telinganya; dia sudah hanyut dalam dunianya sendiri.
"Aku...
aku... terhadap Amakusa-kun..."
Setelah terdiam
cukup lama untuk membangun suasana, dia berucap seolah telah memantapkan
tekadnya.
"Aku
benci."
"Kenapa tadi
pakai malu-malu segala, sih?!"
"Terang
saja, aku tidak bisa menyukai manusia yang nama panggilannya 'Norisuke'."
"Kan kamu
sendiri yang kasih nama itu, woi!"
Sial... tidak
bisa. Pembicaraan tidak akan maju kalau mengikuti alur biasanya. Aku harus
mengoreksi jalurnya secara paksa.
"Lalu, kalau
nama panggilan itu tidak ada, apa Yukihira bakal suka aku?"
"...Amakusa-kun,
apa kamu sedang mencoba menggiringku ke sesuatu?"
"Ugh..."
Sepertinya caraku
terlalu terang-terangan.
"E-enggak,
aku cuma ingin tahu apakah aku disukai sebagai pribadi saja..."
Melihatku yang
bicara gelagapan, Yukihira berucap dengan wajah serius.
"Maaf,
sepertinya bagaimanapun juga, aku tetap tidak bisa menganggap Norisuke sebagai
manusia."
"Kamu bisa
diprotes (oleh Norisuke asli) lho, ya!"
Akhirnya, aku
gagal mendapatkan pengakuan 'Suka' dari Yukihira.
◆◇◆
Dan begitulah
hingga akhirnya sampai ke situasi saat ini.
'Seluruh
siswi yang berpartisipasi dalam Pertandingan Antar-Klub'. Itu berarti siswi
dari tim Peringkat Utama juga termasuk, begitu pula dengan pemain pengganti tim
"Lima Teritolak" yang akan kami pilih.
Mencari
anak yang akan mengangguk jujur saat ditanya, 'Apa kamu menyukaiku sebagai
manusia?'. Itulah tujuan terpenting hari ini.
Yah,
meski aku sangat meragukan ada anak seperti itu yang mau membantu "Lima
Teritolak"... Ah, tunggu, sebelum itu, bukannya aku bisa pilih murid
laki-laki saja sebagai pemain pengganti?
Tapi
kalau dipikir lagi, ini benar-benar misi yang tidak masuk akal. Apa sih tujuannya menyuruhku melakukan hal
seperti ini?
"Hei
Chocolat, menurutmu misi kali ini gim—hm?"
Chocolat yang
seharusnya ada di sampingku baru saja, tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Saat aku
mengedarkan pandangan mencari keberadaannya, terdengar suara teriakan histeris
dari kelas terdekat.
"Lucunyaaa!"
"Wah,
kulitnya kenyal banget!"
"Ya ampun,
cara makannya kayak tupai!"
Aku
mendekat ke jendela dan mengintip ke dalam.
Chocolat sedang
dikerumuni oleh siswi kelas satu, sampai-sampai dia hampir 'tertelan'
kerumunan. Begitu menyadari tatapanku, Chocolat berseru dengan riang.
"Ah,
Kanade-san. Orang-orang
di sini juga memberiku banyak camilan!"
...Anak
ini, apa dia punya kemampuan khusus untuk membuat orang-orang memberikan
makanan secara cuma-cuma?
Aku
melangkah masuk ke kelas, lalu menarik tangan Chocolat keluar dari kerumunan.
"Maaf ya,
Chocolat-ku merepotkan kalian."
Para siswi kelas
satu itu sempat memasang wajah bingung sejenak, tapi melihat warna dasiku,
mereka tampaknya menyadari tingkatan kelasku. Salah satu dari mereka mewakili
yang lain untuk bicara.
"Anu...
Kakak kelas, ya?"
Chocolat juga
pakai dasi merah yang menandakan kelas dua, sih... tapi yah, memang sulit
menganggap anak ini sebagai kakak kelas.
Dari kerumunan
siswi di sekitar, terdengar bisik-bisik seperti, "Wah, ganteng,"
atau, "Bukannya dia lumayan keren?".
Ooh, reaksi
seperti ini... aku sudah tidak merasakannya sejak SMP, saat hidupku masih
normal. Perasaan yang sudah lama hilang ini membuat tensiku naik. Bagaimanapun
juga, manusia tidak akan merasa buruk kalau dipuji.
"Ah, namaku
Amakusa Kan—"
"Kanade-san,
mahyumaro (marshmallow) ini enak lho!"
Chocolat memotong
kalimatku sambil menempelkan tubuhnya padaku.
"He-hei,
jangan nempel-nempel!"
Dasar
bodoh, apa sih yang dia pikirkan di tempat ramai begini? Aku segera
menjauhkannya, tapi...
"KYAAA!"
"Ka-kawaii
banget!"
"Tuan
Majikan sudah dataaang!"
Teriakan histeris
itu menyebar dalam sekejap.
"Apa kalian
berdua pacaran!?"
Gadis yang tadi
menyapaku dengan segan, kini matanya berbinar-binar penuh semangat.
"E-enggak,
bukan begitu..."
Aku mencoba
menyangkal dengan gugup, tapi antusiasme para siswi tidak terbendung.
"Pasti iya!
Tadi dia bilang 'Chocolat-ku' lho!"
"Aku juga
mau Chocolat-chan!"
"Aku
juga mau pacar ganteng!"
Kalau
adegan ini terjadi di kelasku sendiri, aku yakin bakal habis dicaci maki.
Tapi bagi
para adik kelas yang belum tahu reputasi burukku (aku tidak mau mengakuinya,
tapi ya begitulah), reaksi mereka sangat segar dan positif.
Ini dia. Inilah yang kucari. Kehidupan sekolah yang damai seperti i—
PILIH:
① "Kuhahaha, kalian semua juga jadilah
peliharaanku, dasar betina rendah!"
② "Hei, hei, jangan buru-buru, aku
akan menyayangi kalian semua secara adil kok, kucing-kucing manisku."
Kehidupan... sekolah... yang damai...
"Sabar ya, Kanade-san!"
"Lagipula sudah pasti aku bakal terpilih masuk 'Lima
Teritolak' lagi bulan September nanti... Dengan begini aku bakal makin dibenci
oleh semua siswi di sekolah."
Dengan aura suram yang menyelimuti punggungku, aku berjalan
gontai di koridor.
Setelah terpaksa memilih opsi nomor ② dengan hati
hancur, aku teringat ekspresi para siswi yang langsung ilfeel (hilang
feeling) total dan menjauh dariku.
"Ja-jangan-jangan
orang ini Amakusa siapa-gitu itu?"
"Eh,
itu kan orang yang di siaran siang kemarin bilang pengen lepas celana
juga...?"
"I-iya,
suaranya persis begitu!"
"Yang
katanya 'Lima Teritolak' itu?"
"Eh?
Ternyata itu beneran ada ya?"
"Ngomong-ngomong,
kakak kelas di klubku juga bilang kalau 'Lima Teritolak' itu beneran
bahaya..."
...Sudahlah.
Kalau kuingat lebih jauh, aku bisa-bisa ingin berhenti jadi manusia.
"Tidak
apa-apa kok. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di samping
Kanade-san!"
"Chocolat..."
"Puk-puk,
ya."
Chocolat ternyata
sangat ahli dalam mengelus kepala. Sensasi tangannya yang empuk terasa nyaman,
dan rasanya hatiku sedikit lebih ringan.
"Yah, kalau
dengan begini makan malam hari ini bisa jadi daging sapi, itu harga yang
murah."
"Ternyata
ada udang di balik batu!"
Semuanya jadi
sia-sia.
"Dasar,
kenapa sih kamu itu selal—Aduh!"
Karena aku
berjalan sambil menoleh ke arah Chocolat, aku benar-benar tidak memperhatikan
jalan di depan. Aku menabrak seseorang telak.
"Ah,
maaf—eh!?"
Pikiranku
langsung kosong.
"Na...
na..."
Wajah gadis yang
seharusnya tidak mungkin ada di sini, berada tepat di depanku.
"Na-na-na-na,
kenapa kamu ada di sini!?"
Aku
mundur sejauh mungkin dengan sekuat tenaga.
Mustahil... mana
mungkin dia ada di tempat seperti ini. Benar, ini pasti salah li—
"Kanade-onii-chan?"
...Bukan salah
lihat.
"Ternyata
benar, Kanade-onii-chan!"
Belum
sempat dia selesai berteriak, dia sudah menerjang masuk ke pelukanku.
"Uwoh!"
Aroma
yang familier menggelitik hidungku. Bau manis yang khas ini... tidak salah
lagi.
"Le-lepaskan,
Yuragi!"
Secara
refleks aku menjauhkan gadis yang membenamkan wajahnya di dadaku itu, Hakoniwa
Yuragi.
"Aah,
Kanade-onii-chan pasti malu karena kita sudah setahun tidak bertemu, kan?"
Dilihat berapa
kali pun tetap sama. Di
depanku ini adalah orang yang sangat kukenal, sekaligus orang yang paling
merepotkan.
"Yuragi...
kenapa kamu ada di sini?"
Aku berucap pelan
kata demi kata, mencoba menenangkan pikiranku yang kacau.
"Kenapa? Ya
karena aku murid sini, lho?"
Yuragi menjawab
dengan santai. Benar saja, blazer merah tua dan dasi biru yang melingkar di
lehernya menunjukkan bahwa pemakainya adalah murid kelas satu di Akademi Seikou
ini.
"Tapi
bukannya keluargamu sudah pindah ke Amerika..."
Ya, aku dan gadis
bernama Hakoniwa Yuragi ini adalah apa yang orang sebut sebagai 'teman masa
kecil'.
Sekitar setahun
yang lalu, ayahnya dipindah tugaskan ke Amerika dan katanya tidak akan kembali
dalam hitungan tahun. Jadi, dia pergi ke sana bersama ibu dan ayahnya.
"Habisnya,
awalnya sih dibilang bakal lama di Amerika, tapi baru-baru ini ada penempatan
mendadak buat buka usaha baru di Benua Afrika... di daerah mana ya, aku lupa
nama detailnya... pokoknya di pedalaman banget!"
Dari Jepang ke
Amerika, lalu ke Afrika... seagresif apa sih perusahaannya?
"Terus,
karena di daerah itu tidak ada SMA, jadi cuma aku yang pulang ke tempat
Kanade-onii-chan!"
Yuragi menatap
wajahku dengan senyuman lebar yang memenuhi wajahnya.
"Hari ini
aku cuma datang untuk urusan administrasi pindahan, tapi mulai besok aku bakal
jadi murid sekolah ini juga, sama seperti Onii-chan!"
Reuni dengan
teman masa kecil setelah satu tahun. Biasanya ini adalah momen yang sangat
membahagiakan, tapi aku sama sekali tidak merasa begitu.
"Begitu ya,
aku paham. Yah, sekolah ini punya budaya yang bebas, jadi nikmatilah masa
sekolahmu. Kalau begitu, dah!"
"Onii-chan,
tunggu duluuu!"
Aku mencoba fade
out begitu saja, tapi lenganku ditarik dan dihentikan.
...Memang
tidak semudah itu, ya.
"Iih,
Kanade-onii-chan jahat! Padahal adik perempuannya yang imut ini sudah pulang
setelah setahun, kenapa reaksinya dingin banget!?"
"...Yah, itu
karena aku bukan kakakmu."
Seorang anak
kecil memanggil anak laki-laki yang lebih tua di tetangganya dengan sebutan
"Kakak" adalah hal yang lumrah. Tapi yang satu ini bukan jenis yang
menggemaskan seperti itu.
Hakoniwa Yuragi
ini memperlakukanku murni sebagai 'Kakak Kandung'.
Lebih tepatnya,
dia menemukan identitas mutlak dalam posisi menjadi 'Adik Seseorang'. Ya, yang
ada di depanku sekarang bukanlah Hakoniwa Yuragi yang asli. Dia hanya
memerankan sosok 'Adik' yang dia tetapkan sendiri.
"Kanade-san,
ini siapa?"
Chocolat
menarik-narik bajuku.
"Ah, gimana
ya bilangnya, dia ini—"
"Aku
adiknya!"
"Bukan!"
"? Jadi saya
boleh menganggap kalau Kanade-san menyuruh gadis yang bukan adiknya untuk
memanggilnya 'Kakak'?"
"Enggak
boleh!"
"Begitu,
saya sangat paham."
Enggak, paham
apanya sih...
"Salam kenal, nama saya Chocolat. Yuragi-san, mohon
bantuannya."
Chocolat menganggukkan kepalanya ke arah Yuragi.
"Ah, aku Hakoniwa Yuragi, salam kenal juga. Eh, mumpung
baru ketemu, boleh tidak kalau aku panggil Chocolat-onee-chan?"
Begitulah. Jangkauan 'Adik' miliknya ini tidak hanya berlaku
padaku, tapi diaplikasikan ke semua orang di sekitarnya.
"Chocolat-onee-chan..."
Chocolat seolah sedang meresapi frasa itu sejenak, lalu
wajahnya langsung bersinar.
"Panggilan
yang sangat manis! Tentu saja boleh!"
Wah... dia malah
senang.
"O-onii-chan,
makhluk ini lucu banget!"
"Ehehe."
Chocolat terlihat
senang kepalanya dielus. Sebelah mananya yang 'kakak'? Itu sih sudah dianggap
peliharaan total.
"Ah,
Chocolat-onee-chan, aku bawa camilan, mau makan?"
"Mauuu!"
Lagi-lagi... Yah, perasaannya mungkin sama seperti orang
yang ingin memberi makan anjing.
"Ngomong-ngomong,
kenapa Onii-chan ada di lantai satu?"
Benar juga,
karena reuni yang terlalu mendadak ini, aku sampai lupa tujuan utamaku.
"Bukan
urusan penting, kok."
"Hmm...
mencurigakan~"
Yuragi menoleh ke
arah Chocolat dengan suara yang dibuat-buat manis.
"Chocolat-onee-chaaan. Di dalam tas ini ada donat
spesial, lho. Kalau Onee-chan beri
tahu kenapa kalian ada di sini—"
"Kami sedang
mencari murid kelas satu yang agak aneh untuk ikut acara bersama-sama!"
"Cepat
banget kena sogoknya!"
"Ini
adalah rasa yang tak tertandingi!"
"Cepat
banget makannya!"
Untuk si
anjing bodoh yang mulutnya penuh donat ini, nanti bakal kuhukum dengan
penyitaan satu lauk saat makan... tapi kalau sudah begini, mencoba kabur malah
bakal makin merepotkan. Akhirnya aku menyerah dan menjelaskan situasinya pada
Yuragi.
"Hee~
sekolah ini ternyata melakukan hal yang cukup menarik ya... Eh, tapi bukannya
aneh?"
"Aneh?
Apanya?"
"Kenapa
Onii-chan ada di pihak 'Lima Teritolak' itu? Padahal waktu SMP kan Onii-chan
populer banget, menurutku seharusnya Onii-chan masuk peringkat yang satunya
lagi, lho."
Ah, benar
juga. Dia tidak tahu apa yang terjadi padaku selama setahun terakhir ini.
"Yah,
banyak hal terjadi..."
Memang
benar-benar 'banyak hal'. Aku tidak mungkin menjelaskan soal Absolute Choice,
jadi aku harus cari alasan yang tepat... Tunggu dulu, bukankah ini sebuah
kesempatan?
Kalau aku
menceritakan kondisiku yang kacau selama setahun ini dengan berlebihan dan
berhasil membuatnya ilfeel, mungkin perasaan menyimpannya padaku bakal hilang.
Masalahnya
adalah, bumbu seperti apa yang harus kutambahkan agar dia ilfeel—
PILIH:
① Berakting sebagai 'Playboy' dingin dan mengusirnya.
② Mengeluarkan ingus dingin dan menempel padanya.
...Opsi ② itu sih namanya cuma jadi orang
cabul!
Terpaksa... aku melangkah maju, lalu mengangkat dagu Yuragi
dengan jari telunjukku.
"Hmph, dasar bocah..."
"O-onii-chan?"
"Dalam setahun, manusia bisa berubah drastis. Aku yang
sekarang bukan lagi Amakusa Kanade yang kamu kenal. Tadinya aku pikir mau pura-pura baik sampai kamu
jadi milikku, tapi lupakan saja. Gadis ingusan sepertimu tidak akan bisa
memuaskanku. Pergi sana."
Yuragi memasang
ekspresi melongo. Bagus, reaksi yang mantap. Mari kita beri serangan tambahan.
"Semua
wanita di sekolah ini adalah milikku. Babi-babi betina yang sudah kubuang itu
merasa dendam dan memilihku hingga aku disebut 'Lima Teritolak'. Kalau kamu
memaksa, aku tidak keberatan meladeni bocah sepertimu sesekali, tapi kalau
tidak mau diperlakukan sebagai 'barang sekali pakai', mending cepat hilang dari
hadapanku—"
"Keren
banget!"
"...Hah?"
"Onii-chan
yang baik memang oke, tapi Onii-chan yang tipe Do-S (Sadis) dan arogan
begini juga keren banget!"
Entah kenapa,
pipi Yuragi malah merona merah.
"Akhirnya... Onii-chan yang dulu cuma bisa ditembak
tapi tidak berani merespons sama sekali, akhirnya dia terbangkitkan ke jalan
ini!"
...Benar.
Dia memang orang yang seperti ini.
Karena sudah lama
tidak bertemu, aku sempat meremehkan tingkat keanehannya. Kalau cuma diusir
sedikit saja dia sudah menyerah, hal itu pasti sudah berhasil kulakukan sejak
setahun yang lalu.
Yuragi
mengangkat tangannya ke arah ruang kosong seolah sedang berakting dalam drama.
"Kalau
Onii-chan jadi Do-S, aku akan jadi Do-M (Masokis) seperti apa
pun!"
"Chocolat...
ayo pergi."
"Eh?
Boleh?"
"Menyesuaikan
diri dengan sosok Kakak seperti apa pun adalah bentuk 'Adik' yang sejati!"
"...Sudahlah,
abaikan saja."
Aku meninggalkan
Yuragi yang sedang hanyut dalam dunianya sendiri dan segera pergi dari sana
dengan langkah cepat.
2
"Haaa..."
Yah, wajar saja
kalau aku ingin menghela napas panjang. Setelah mengalami kejadian menyedihkan
di kelas satu, aku malah harus bereuni dengan orang yang paling merepotkan.
"Ara,
Amakusa-kun."
Saat aku sedang
tertunduk lesu, suara Yukihira terdengar.
"Oh,
Yukihira. Gimana? Apa ada murid kelas satu yang mau bantu?"
"Begini. Aku
masuk ke kelas asal, lalu mengumumkan, 'Aku tidak tertarik pada manusia
biasa. Kalau di antara kalian ada alien, penjelajah waktu, orang dari dunia
lain, pengguna kekuatan supranatural, atau iblis super, datanglah padaku.
Sekian'. Tapi mereka malah ilfeel total, dan tidak ada satu pun yang
mengaku."
"Yah... itu
sih sudah sewajarnya."
"Sepertinya
aku salah pilih kata... Harusnya di bagian akhir aku sebut 'Pahlawan Super'
saja, ya."
"Enggak...
yang salah itu jelas bukan di bagian itunya!"
"Ooi,
semuanya sudah kumpul ya!"
Dari arah
berlawanan di koridor, Oujisaka ikut bergabung.
"Hm, ada
apa?"
Arah belakang
tempat Oujisaka berjalan tadi tampak sangat gaduh.
"Ah, itu?
Jadi begini, tadi ada anak laki-laki yang wajahnya kelihatan tua banget. Dia
mengintip ke dalam kelas dari koridor sambil napasnya haah-haah pas
lihat anak perempuan. Kupikir karakternya unik, jadi aku ajak bicara."
"Enggak, aku
benar-benar ogah kalau harus tampil bareng orang kayak gitu..."
"Ternyata
dia cuma paman-paman pengangguran umur tiga puluh tahun yang beli seragam
sekolah kita di toko cosplay."
"Itu namanya penyusupan ilegal, woi!"
Jadi itu alasan
kenapa di sana jadi ribut-ribut...
"Kalian
ini... apa tidak bisa mengajak orang dengan cara yang lebih normal
sedikit?"
Yah,
jujur saja aku memang tidak berharap banyak sejak awal.
"Kalau
Amakusa-kun sendiri, orang hebat seperti apa yang berhasil kamu temukan?"
"Ooh, jadi
penasaran, nih!"
"Ugh...
Enggak, aku juga belum mene—"
"Lho, lho lho lhooo!?"
Su-suara ini...
"Onii-chan, ketemuuu!"
Sialan... Di waktu yang paling buruk, orang yang paling
buruk malah muncul.
""Onii-chan?""
Suara Oujisaka dan Yukihira terdengar berbarengan.
"Enggak, ini tuh—"
"Iih, Onii-chan jahat! Masak aku ditinggal sendirian
begitu saja."
Yuragi memotong kalimatku sambil menggembungkan pipinya
sedikit.
"Eh, mereka ini siapa? Ah, jangan-jangan mereka ini
gadis-gadis yang tadi Onii-chan bilang sudah bosan terus dibu—mmph!"
Tepat sebelum dia membocorkan hal yang tidak-tidak, aku
segera membekap mulut Yuragi untuk membungkamnya. Aku mendekatkan wajahku dan
berbisik pelan.
(Yuragi... jangan katakan hal aneh-aneh di depan mereka
berdua.)
Setelah
memperingatkannya, aku melepaskan tanganku.
(Kenapa? Ah,
apa mereka target yang baru mau Onii-chan dekati?)
(Bukan begitu,
maksudku...)
Sial... kalau aku
mencoba menutup-nutupinya malah bakal makin runyam.
(Yang
aku bilang tadi itu bohong. Aku cuma... sedikit mau pamer saja.)
(Ya ampun,
Onii-chan yang mencoba terlihat keren di depan adik perempuannya manis banget!)
...Benar-benar
tidak tertolong, anak ini.
Aku ingin sekali
meninggalkannya seperti tadi, tapi... dalam situasi seperti ini, itu tidak
mungkin dilakukan.
Terpaksa, aku
menjelaskan hubunganku dengan Yuragi kepada Yukihira yang menatapku dengan mata
setengah tertutup (entah kenapa), dan kepada Oujisaka yang tampak sangat
penasaran.
"Begitu ya.
Intinya, Amakusa-kun itu seorang Siscon (Sister Complex), kan?"
"Tadi itu
kamu dengerin bagian mananya, sih!?"
"Ama-chi,
teman masa kecil sekaligus adik perempuan itu bukannya kombinasi yang INVINCIBLE!?"
"Aku sama
sekali tidak paham maksud 'Invincible' di sini apanya."
...Percuma saja
menjelaskan pada mereka.
"Hei
Onii-chan, kenalkan aku juga dong!"
Yuragi
menarik-narik ujung lengan kemejaku. Cih... meski aku tidak mau dia terlibat
lebih jauh, apa boleh buat.
"Ini teman
sekelasku, Yukihira Furano dan Oujisaka Ouka."
Yuragi menyalami
tangan mereka berdua dengan wajah riang.
"Maaf kalau
mendadak, tapi boleh tidak kalau aku panggil Furano-oneesama dan
Ouka-oneechan?"
Kumat
lagi... anak ini benar-benar tidak pandang bulu.
"Nggak
mau."
Yukihira
menolak dengan tegas. Yah,
kalau dipikir-pikir itu wajar. Siapa juga yang tidak bingung kalau baru pertama
ketemu tiba-tiba dianggap kakak perempuan.
"Kalau boleh
pilih, aku lebih suka dipanggil 'Tuan Putri' (Onee-sama) saja."
"Ke situ
arahnya!?"
"Kalau
begitu, Furano-oneesama!"
Tepat saat
dipanggil begitu, Yukihira mengulurkan tangannya perlahan ke arah kerah baju
Yuragi.
"Yuragi-san, dasimu agak miring, lho."
"Kamu cuma
pengen ngelakuin itu saja, kan!"
"Hei, hei,
Yuragi-chi. Boleh tidak aku minta kamu panggil 'Onii-chan' sekali lagi, tapi
per suku kata?"
Oujisaka
mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya.
"O-ni-i-chan."
"Okee!
Sekarang versi 'Onee-chan' ya, tolong!"
"O-ne-e-chan."
"Sip,
CUT!"
Dia
jelas-jelas merekamnya... buat apa coba?
Tiba-tiba,
Yuragi menepukan kedua tangannya.
"Ah, benar juga Onii-chan. Pemain pengganti untuk
Pertandingan Antar-Klub yang Onii-chan bilang tadi belum ketemu, kan? Kalau
begitu, biar aku saja—"
"Ditolak."
"Uuuh, dingin banget. Kanade-onii-chan,
jangan-jangan... kamu benci aku?"
"Iya, nggak pakai 'jangan-jangan' lagi, aku memang
benci."
"Laki-laki tipe Tsundere itu nggak ada pasarnya,
lho."
"Aku nggak ada niat buat Dere (manis) sama kamu.
Ini murni dari lubuk hati."
"Muuu, nggak
apa-apa! Aku nggak bakal minta tolong sama Onii-chan kok!"
Sambil
menggembungkan pipinya, Yuragi menghampiri para gadis.
"Furano-oneesama,
Ouka-oneechan, Chocolat-oneechan. Aku juga mau ikut main!"
Anak ini... dia
malah menyerang lewat jalur belakang.
Yuragi berakting
berlebihan dengan menangkupkan kedua telapak tangannya sambil memasang wajah
memelas yang dibuat-buat.
"Kurasa
boleh saja. Lagipula dia sepertinya anak yang jujur dan baik."
"Aku juga
setuju!"
"Karena tadi
donatnya enak, aku setuju-setuju saja!"
Sial... tapi
kalau mempertimbangkan misinya, bergabungnya Yuragi itu sebenarnya
menguntungkan. Tidak ada jaminan aku bisa menemukan pemain pengganti laki-laki,
dan bagiku, rasanya sulit menemukan gadis lain yang bisa dengan mudah bilang
'Suka' padaku selain dia.
"...Yah, mau
bagaimana lagi."
"Onii-chan,
makasiii!"
Yuragi menerjang
dan menyandarkan tubuhnya padaku.
"He-hei,
jangan peluk-peluk!"
"Enggak
mauuu! Habisnya aku sudah lama tidak peluk Onii-chan!"
Saat aku
sedang berjuang melepaskan diri dari anak ini, Yukihira angkat bicara.
"Hakoniwa-san,
kurasa tindakanmu di depan umum itu agak kurang sopan."
Aku kaget
mendengar kata 'kurang sopan' keluar dari mulut Yukihira.
"Eh,
kalau cuma begini sih masih dalam batas kasih sayang kakak-adik,
Furano-oneesama. Ah,
jangan-jangan Furano-oneesama juga mau melakukan hal seperti ini?"
Alis Yukihira
yang tadinya tanpa ekspresi berkedut sedikit.
"...Aku
tidak punya hobi memeluk laki-laki yang baunya seperti tikus got."
"Apa
aku beneran bau begitu...?"
"Maaf,
maksudku bau siluman tikus."
"Nggak jauh
beda!"
"Kanade-san
nggak bau, kok!"
"Kenapa kamu
malah ikutan peluk-peluk juga!?"
Chocolat ikut
menempel dari sisi kiri.
"Wah,
sepertinya alurnya memang mengharuskanku ikut juga, ya. Hup!"
"Kita bukan
anak kecil lagi, jangan asal nempel karena terbawa suasana!"
Ditambah lagi,
Oujisaka dari belakang.
"............"
Dari arah depan
yang merupakan satu-satunya sisi yang terbuka, Yukihira menatapku dalam diam
tanpa ekspresi... Tapi apa ini? Aku bisa merasakan tekanan tak kasat mata yang
sangat kuat darinya.
"Kalau
begitu... aku juga harus mengambil tindakan."
Yukihira
melangkah maju satu langkah. Lalu, tepat di depanku, dia merendahkan
tubuhnya... Eh, serius? Jangan-jangan Yukihira juga mau memeluk—
"GOFUH!"
Detik berikutnya, tinju Yukihira yang dilancarkan seperti
gerakan uppercut mendarat telak di ulu hatiku.
"Guefh...
a-apa yang kamu lakukan!?"
Aku jatuh
tersungkur di tempat dan berteriak protes sambil menatap Yukihira.
"Maaf. Terjadi anomali medan magnet lokal yang membuat tanganku dan perutmu berubah menjadi kutub Utara dan Selatan yang sangat kuat."
"Mana
mungkin begitu!"
"Atau
mungkin itu adalah takdir Tuhan."
"Bukan, itu
murni niat burukmu!"
"Oujisaka-san, Chocolat-san, Hakoniwa-san. Si elemen
pengacau ini sepertinya sedang berisik sekali, tapi setidaknya kita berempat
harus tetap menjaga kekompakan."
"Okee!"
"Siap,
Furano-oneesama!"
"Baiklah!"
"Kenapa
malah aku yang jadi penjahatnya, sih!?"
Tim
seperti ini...aku tidak menginginkannya.
3
Keesokan
harinya, setelah pengumuman bahwa Yuragi resmi menjadi pemain pengganti, kami
dipanggil oleh OSIS. Katanya, mereka ingin mengadakan pertemuan tatap muka
antaranggota yang akan berpartisipasi dalam Pertandingan Antar-Klub di ruang
OSIS sepulang sekolah.
Begitulah,
aku datang bersama Yukihira dan Oujisaka ke depan ruang OSIS di gedung kelas
khusus.
"Ini
sih... ruang direktur mana, coba?"
Itulah kata-kata
pertama yang meluncur dari mulutku saat berdiri di depan pintu. Pintu kayu yang
kokoh itu memancarkan kilauan yang tidak wajar, memancarkan kesan mewah yang
sangat kontras dengan pintu kelas lainnya.
"Anggaran
OSIS sepertinya melimpah ruah, ya. Daripada membuang uang untuk hal seperti
ini, lebih baik investasi untuk fasilitas kelas saja."
Komentar yang
cukup waras untuk ukuran Yukihira.
"Atau lebih
baik berikan saja uangnya padaku."
Komentar yang
sangat khas Yukihira.
"Ho~
ho~"
Oujisaka mengetuk
permukaan pintu dengan rasa ingin tahu.
"Ama-chi,
pintu ini kokoh banget lho! Kurasa kalau aku melakukan drop kick sekuat
tenaga pun, pintunya bakal baik-baik saja."
"Yah,
standar pengukuran kekokohanmu itu yang aneh..."
"Ah,
ada Onii-chan dan yang lain!"
Tiba-tiba
dari belakang, terdengar suara yang menyebalkan.
"Sudah
kuduga..."
Saat aku
menoleh, Yuragi sedang berjalan mendekat dengan riang.
"Eh,
Onii-chan, kok wajahmu kelihatan jijik begitu? Ada apa?"
Bukan
'kelihatan', tapi aku memang 'merasa' jijik.
Ya sudahlah,
dengan ini empat dari lima anggota tim "Lima Teritolak" sudah
berkumpul.
Satu orang lagi,
Kak Yumejima Karasu, masih belum terlihat batang hidungnya. Karena tidak ada
tanda-tanda dia akan muncul, aku memutuskan untuk mengetuk pintu.
"Permisi,
saya Amakusa dari kelas 2-1."
"Ouh,
masuk."
Terdengar balasan
suara yang kuyakin adalah Kak Shishimori.
"Permisi... Uwoh."
Begitu
melangkah masuk, aku spontan berseru kagum. Lantai yang dilapisi karpet tebal
di seluruh ruangan, ditambah berbagai interior dengan warna-warna elegan.
Apa yang
ada di dalamnya adalah sebuah ruang bergaya Barat yang megah, sampai-sampai
sulit dipercaya kalau ruangan ini berada di gedung yang sama dengan koridor
luar tadi.
Di depan,
Ketua Kokubyakuin yang berdiri berdampingan dengan Kak Shishimori tersenyum ke
arah kami.
"Maaf
ya mendadak memanggil kalian~ Teman-teman dari Peringkat Utama sudah datang,
lho~"
Di tengah
ruangan, terdapat sebuah meja bundar raksasa yang sepertinya cukup untuk
diduduki lebih dari dua puluh orang. Di sisi seberang, tiga orang sudah duduk
manis.
Aku
mengenali wajah gadis yang duduk dengan gaya sedikit angkuh itu. Reikado Ayame,
dia satu angkatan denganku, dan kalau tidak salah, dia berada di peringkat lima
kategori siswi.
Di
sebelahnya, ada seorang siswa laki-laki yang duduk dengan senyum ramah yang
tidak kukenali sama sekali. Mungkin dia adalah pemain pengganti dari kelas
satu.
Dan satu
orang lagi, seorang gadis yang duduk dengan kesan sangat menciut.
"Ah,
Ouka-chan!"
Melihat
Oujisaka, wajah gadis itu berbinar senang. Dia segera berdiri dan berlari kecil
menghampiri.
"Oh,
Konagi-tan, yaho!"
"Ouka-chan,
aku menunggumu lho. Di sini isinya orang yang tidak kukenal semua, jadi aku
tegang sekali."
Yaze
Konagi. Sahabat baik Oujisaka dan gadis yang namanya bertengger gagah di
peringkat tiga Peringkat Utama.
"Amakusa-kun
juga ikut Pertandingan Antar-Klub, ya?"
Konagi
mengalihkan pandangannya padaku. Saat misi beberapa hari yang lalu, kami sempat
cukup banyak berinteraksi.
Meski setelah
perbuatan bejatku akibat Absolute Choice, dia adalah tipe gadis murni
yang sangat langka di zaman sekarang karena tidak menunjukkan rasa jijik dan
tetap tersenyum padaku.
"Yah...
meski sebenarnya aku sama sekali tidak berniat ikut."
"Iya, aku
sangat paham. Aku juga tidak pandai dalam hal seperti ini. Tapi syukurlah,
selain Ouka-chan, ada orang lain yang kukenal."
Dia
menangkupkan kedua telapak tangannya sambil tersenyum lebar. Gerakan yang
membuat hati siapa pun yang melihatnya merasa tenang.
"Baiklah,
baikla~h. Kalian berempat, karena acaranya akan segera dimulai, silakan duduk.
Yaze-san juga, silakan kembali ke kursimu~"
Atas
arahan Ketua Kokubyakuin, kami duduk di sisi dekat pintu, berhadapan langsung
dengan anggota tim Peringkat Utama.
"Nah
semuanya, terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan kalian~ Hari
ini, kita berkumpul supaya bisa saling mengenal kepribadian satu sama lain
sebelum pertandingan dimulai~"
Yah,
meski judulnya 'pertarungan', bukan berarti kami bakal adu jotos. Memang lebih
baik mengenal lawan sebelumnya daripada tiba-tiba disuruh bertanding dengan
orang asing.
"Ngomong-ngomong,
Kak Yumejima ke mana?"
Di dalam
ruangan ini hanya ada sembilan orang termasuk aku.
"...Bajingan
itu tidak bisa ditangkap."
Kak
Shishimori mengerutkan dahi dengan kesal. Kalau dipikir-pikir, meski aku sering
mendengar nama dan rumor tentang Kak Yumejima, aku belum pernah melihat wujud
aslinya.
"Jangan
pikirkan hal tidak penting, cepat kita mulai."
Kak Shishimori
yang masih tampak gusar dan Ketua Kokubyakuin yang tetap santai seperti biasa
ikut duduk.
"Kalau
begitu, mari kita mulai perkenalannya~ Kita mulai dari pihak 'Lima Teritolak',
ya. Pertama, Amakusa-san."
Langsung aku, ya... Yah, daripada menunggu giliranku setelah
para orang aneh ini yang entah bakal bikin suasana seperti apa, mungkin lebih
baik diselesaikan di awal.
Aku
berdiri sambil menggaruk kepala sedikit.
"Amakusa
Kanade dari kelas 2-1. Aku tidak terlalu pandai dalam acara seperti ini, tapi
mohon bantuannya."
Saat aku
hendak duduk setelah memberikan perkenalan yang aman,
"Tunggu
sebentar, Amakusa."
Kak
Shishimori yang melipat tangan menatapku tajam dari kursinya.
"Dengar ya,
pertemuan ini diadakan supaya kalian tahu siapa lawan kalian. Kalau cuma
menyebutkan nama dan kelas, apa gunanya, hah?"
"Hah..."
"Kalau kamu
laki-laki, setidaknya ceritakan satu atau dua kisah duel hebatmu. Bilang saja begitu."
...Enggak,
tidak ada. Lagipula, duel...? Orang ini pasti dulunya preman.
Melihatku yang
kebingungan karena perbedaan nilai ini, Ketua Kokubyakuin memberikan bantuan.
"Benar juga
ya~ Mungkin akan lebih baik kalau kamu memberitahu hobi atau keahlianmu."
"Hobi dan
keahlian, ya..."
Meski aku mencoba
banyak hal, semuanya hanya sebatas kulitnya saja, jadi aku tidak punya hobi
spesifik yang bisa dibanggakan. Keahlian yang langsung terpikirkan juga tidak
ada...
"Amakusa-kun,
tidak perlu sungkan begitu."
"Hah?"
Tiba-tiba
Yukihira yang duduk di sebelahku menyela.
"Bukankah
kamu punya keahlian hebat yaitu Master of Areola?"
"Apa-apaan...
itu?"
"Sesuai
namanya, keahlian untuk mengidentifikasi individu hanya dengan melihat
lingkaran di sekitar puting susunya."
"Woi, itu
terlalu maniak...!"
"Masalahnya,
objek yang bisa diidentifikasi terbatas hanya pada babi saja."
"Itu sih
bukan level maniak lagi!"
"Cuma Pig
Joke kok."
"Jangan
mengatakannya seolah itu Black Joke!"
Ada apa sih
dengan seri leluconmu itu sejak tadi...?
"Kalau
begitu, apakah keahlian Amakusa-san boleh dicatat sebagai Pig Master of
Areola?~"
"Mana boleh, dong!"
Ini sudah melampaui level sesat atau semacamnya.
"Hobi saya membaca buku saja. Untuk keahlian... tidak
ada."
Membaca buku itu bukan bohong untuk menutupi keadaan. Aku
adalah tipe pembaca rakus yang melahap apa saja, mulai dari novel umum, light
novel, non-fiksi, sampai buku ilmiah populer, jadi rak bukuku penuh dengan
berbagai macam genre.
"Benar
sekali, Onii-chan memang suka sekali membaca buku sejak dulu!"
...Lagi-lagi
si pembuat onar menyela.
Mendengar
kata 'Onii-chan', anggota Peringkat Utama memasang wajah heran.
"...Apa yang
kamu bicarakan, Hakoniwa-san?"
Karena
merepotkan, aku memutuskan untuk pura-pura tidak kenal.
"Iih,
Onii-chan, kenapa bicaranya formal sekali seperti pada orang asing begitu
sih?"
Ya karena kita
memang orang asing, ada masalah?
"Kalau
Onii-chan bersikap jahat begitu, bakal aku bongkar lho kalau Onii-chan cuma
mengoleksi buku-buku mesum bertema adik perempuan."
"...Oke,
boleh tidak aku memukul wajahmu sekali saja?"
"Kalau di
sana ada bentuk cinta yang baru, boleh kok."
"Yang ada
cuma kemarahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata!"
"Onii-chan
Kanade, seorang kakak yang sebenarnya sangat, sangat sayang pada adiknya tapi
tidak bisa mengungkapkannya dan malah bersikap dingin. Benar-benar laki-laki
yang merepotkan."
"Kenapa kamu
bicara pakai nada narator Chibi Maru*o segala!"
Sial, kalau
kubiarkan mereka semau mereka, pembicaraan ini bakal makin melantur.
"Ke-Ketua,
perkenalanku sudah cukup, tolong lanjut ke yang lain."
"Ara, begitu
ya~? Kalau begitu selanjutnya, Yukihira-san, silakan~"
Setelah ditunjuk,
Yukihira berdiri dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Yukihira
Furano dari kelas 2-1. Hobiku adalah kegiatan sukarelawan. Kata-kata favoritku
adalah 'semua manusia adalah saudara'. Tokoh yang kukagumi adalah Bunda Teresa.
Poin menarik dariku adalah sifat jenaka yang suka mengobrol dengan boneka dan
fakta bahwa aku adalah orang yang gampang tertawa."
...Hebat juga dia
bisa mengocehkan kebohongan sebanyak itu dengan lancar... Yah, aku tahu kalau
dia memang gampang tertawa, tapi kalau mengatakannya dengan wajah datar begitu,
kurasa tidak akan ada yang percaya.
"Lalu,
keahlianku adalah Kikkou-shibari (Ikatan Tempurung Kura-kura)."
"Tunggu,
tunggu, tunggu!"
Aku tidak
tahan untuk tidak berteriak.
"Jangan
salah paham, Amakusa-kun. Ini bukan Kikkou-shibari dalam arti mesum,
tapi aku ahli mengikat tempurung kura-kura sungguhan dengan tali."
"Itu malah
lebih berbahaya!"
"Cuma Turtle
Joke kok."
"Apa-apaan
lagi itu!"
"Ngomong-ngomong,
aku tidak menyebutnya Turtle Joke dalam bahasa Inggris karena dulu aku
pernah salah dengar jadi Turtleneck."
"Itu
sih telinga pendengarnya yang bermasalah!"
"Sebagai
catatan, aku selalu memilih kura-kura yang Do-M (Masokis), jadi ini
bukan penyiksaan hewan."
"Poinnya
bukan di situ, woi!"
Benar-benar
deh, anak ini... Lihat, Kak Shishimori sampai ilfeel total
begitu.
Setelah merasa puas bercanda, Yukihira duduk, dan Ketua
menunjuk Oujisaka berikutnya.
"Iya, iya!
Oujisaka Ouka dari kelas 2-1! Makanan favoritku kari dan hamburger! Acara TV
favoritku anime dan tokusatsu! Pekerjaan rumah yang paling aku benci
adalah menulis resensi buku!"
...Kamu anak SD,
ya?
Ketua Kokubyakuin
menanggapi Oujisaka yang bicara sambil mengangkat tangan dengan penuh semangat.
"Oujisaka-san.
Aku punya hubungan baik dengan ayahmu lho~"
Ayah Oujisaka
itu... si Oujisaka Ouma itu, kan? Ada hubungan apa antara seorang siswi SMA dengan Presiden UOG?
"Eh, Ibu Ketua kenal dengan Ayahku?"
"Iya, beliau banyak membantuku~"
"Hee, hebat ya Ibu Ketua. Soalnya Ayahku itu orangnya
aneh, jadi kebanyakan orang tidak bisa mengobrol normal dengannya."
...Apa tidak apa-apa Presiden UOG yang tersohor itu disebut
begitu? Yah, menurut rumor di dunia luar, dia memang sosok yang cukup nyentrik.
Tapi kalau sampai Oujisaka menyebutnya aneh, pasti dia memang luar biasa.
"Tidak juga, Ayahmu itu orang yang sangat menarik. Aku juga banyak mendengar
tentangmu darinya lho~"
"Ah,
jangan-jangan soal aku dan Ayah yang masih mandi bareng?"
"Buh!"
Aku spontan
tersedak.
"Ada apa,
Ama-chi?"
"A-ada apa
katamu... kamu serius?"
"Ahaha, ya
nggak mungkin lah. Tapi, waktu aku bilang 'mulai sekarang aku mau mandi sendiri
saja', Ayah kaget setengah mati. Sambil berkaca-kaca dia bilang, 'Se-setidaknya aku akan pamer pada
orang-orang kalau kita masih mandi bareng!'"
"Kayak
anak kecil!"
Benar-benar
deh, keluarga Oujisaka ini isinya apa sih. Dan lagi, 'waktu aku bilang' itu
kapan tepatnya...? Aku terlalu takut untuk bertanya.
"Yah,
soal Ayahmu kita bahas lagi nanti ya. Oujisaka-san, terima kasih~"
"Okee!"
Dengan ini, tiga
dari empat orang yang hadir dari pihak "Lima Teritolak" sudah selesai
memperkenalkan diri. Sisanya tinggal Yuragi... tapi apa dia bakal baik-baik
saja?
Yuragi yang
ditunjuk Ketua berdiri sambil tetap menatap ke arahku.
"Hakoniwa
Yuragi dari kelas 1-8. Aku adik perempuannya Onii-chan Kanade!"
Uwaah...
"Yah...
karena penjelasannya kurang, tolong tambahkan sesuatu yang lain,
Hakoniwa-san."
Setidaknya
tambahkan kalau dia 'pura-pura' jadi adik, atau 'suka' berperan jadi adik
begitu.
"Semuanya,
orang ini cuma pura-pura tidak kenal karena malu, padahal aku ini adik
kandungnya."
"Jangan
asal menambahkan kata 'kandung' begitu!"
"Kalau
begitu, adik tiri."
"Kenapa
malah ganti! Kita beda bapak beda emak!"
"Meski
bapak dan emaknya beda, aku tetap adiknya."
"Itu
namanya orang asing!"
"Aku
adalah adik dengan status orang asing."
"Pokoknya
terserah kamu lah!"
Gawat...
anak ini benar-benar gawat.
"Amakusa,
sebenarnya siapa sih anak ini dari tadi? Bukannya kamu anak tunggal?"
Kak Shishimori
melemparkan pertanyaan yang sangat masuk akal.
"Lebih
tepatnya, aku bukan cuma adiknya Onii-chan Kanade, tapi adik seluruh umat
manusia. Jadi, aku juga adikmu lho, Onii-chan Souga!"
"A... pa?"
Wajah Kak
Shishimori langsung menegang seketika.
"Hm? Ada
apa, Onii-chan Souga?"
"...Hentikan."
Kenapa ya, sikap
Kak Shishimori terasa agak aneh.
"Eh, eh
eh?"
Saat aku
merasakan ada sesuatu yang tidak wajar dari reaksi aneh itu, Yuragi mengalihkan
pandangannya padaku.
"Jangan-jangan,
Onii-chan Kanade cemburu karena aku memanggil laki-laki lain dengan sebutan
Onii-chan?"
"Enggak...
sedikit pun tidak. Malah aku ingin kamu memanggil orang lain saja
sesukamu."
"Tenang
saja, Onii-chan 'murni'-ku cuma Onii-chan Kanade, jadi jangan khawatir!"
"Dengerin
orang ngomong dong..."
Lagipula,
apa-apaan itu istilah Onii-chan 'murni'...
"Sudah
cukup... hentikan perkenalan dari pihak sana."
Kak Shishimori
menutupnya secara paksa dengan ekspresi muak.
"Fufu,
benar-benar mencerminkan anggota 'Lima Teritolak' ya~"
Sebaliknya, Ketua
Kokubyakuin sama sekali tidak goyah. Dia menepukkan tangan dan mengalihkan
pandangan ke sampingnya.
"Kalau
begitu mari kita lanjut ke pihak Peringkat Utama~"
Rasanya sudah
lama sekali, padahal baru setengah jalan... Yah, karena ini anggota tim Utama,
kurasa tidak akan ada perkembangan yang terlalu aneh.
"Kalau
begitu, silakan dimulai dari Yaze-san."
"I-iya!"
Konagi yang
ditunjuk sebagai pembuka berdiri dengan wajah tegang.
"Anu... itu,
nama saya Yaze Konagi dari kelas 2-15... mohon bantuannya. Lalu, sisanya,
itu..."
Mungkin karena
tertekan atmosfer ruangan, Konagi bicara dengan sangat gugup dan terbata-bata.
Kak Shishimori pun melontarkan kata-kata padanya.
"Yaze, aku
tahu kamu tidak pandai dalam hal seperti ini. Tapi pertandingan tetaplah
pertandingan. Selama kamu berada di timku, aku tidak akan memaafkan sikap
lemah. Musuh ada di depan matamu. Berikan gertakan yang telak!"
Kak Shishimori
dengan pemikiran premannya yang masih membara. Konagi malah makin menciut dan
suaranya makin pelan.
"I-iya,
anu... saya akan berusaha sekuat tenaga supaya tidak kalah. Tapi, saya tidak
menganggap kalian musuh atau semacamnya, itu, saya harap kita bisa bertanding
dengan menyenangkan... ya kan, Ouka-chan?"
Mendapat tatapan
minta tolong, Oujisaka mengacungkan jempol dengan senyum lebar.
"Enggak
mau!"
PENOLAKAN
TOTAL.
"Fufu,
naif... kamu naif sekali Konagi-tan! Karena sudah jadi begini, kita adalah
musuh. Sampai hari pertandingan nanti, jangan harap aku mau bicara
denganmu!"
"Te-tega
sekali..."
Oujisaka
yang tampak sangat senang melipat tangannya dan berseru dengan suara lantang.
"FUHAHA!
Tunggulah, salah satu dari Empat Raja Kegelapan, 'Konagi Agung', aku akan
membasmimu sampai tak bersisa!"
Enggak,
kalau dilihat dari gayanya, sepertinya kamu deh yang jadi penjahatnya...
"Di
hari pertandingan nanti, seperti pahlawan di mana pun, kami berlima akan
mengeroyok dan menghajar Konagi Agung sampai babak belur!"
"Eeeh!?"
"Kenapa kita
jadi kayak tim Super Sentai begitu?"
"Habisnya
nama 'Lima Teritolak' itu terdengar cocok untuk itu, kan?"
Yah, kalau
dipikir-pikir memang benar... 'Pasukan Orang Aneh, Teritolak Five!'... Siapa
juga yang mau nonton acara kayak begini.
Ngomong-ngomong,
menurutku Sentai terbaik itu Dekaranger. Tidak terima perdebatan. Dan satu lagi, Rider terbaik itu
555 (Faiz). Benar-benar tidak terima perdebatan.
"Ka-kalau
begitu aku juga akan memanggil Raja Kegelapan lainnya untuk membantuku!"
Konagi
dengan setia mengikuti skenario yang dibuat.
"Fufufu,
itu mustahil. Konagi Agung yang terlalu baik hati selalu mengampuni manusia dan
tidak membunuhnya, jadi dia dibenci oleh Raja Kegelapan lain yang kejam!"
Konagi
Agung ternyata orang yang sangat baik hati.
"Dan
kami akan menggilas Konagi Agung yang sudah terisolasi tanpa bantuan dengan
robot raksasa!"
Makanya, siapa
sih yang jadi penjahat di sini...
"Padahal
aku benar-benar tidak ingin bertarung dengan Ouka-chan..."
"Kufufu,
Konagi Agung, meski kamu memasang wajah sedih begitu, teman-samamu tidak akan
datang menolongmuuu."
Tepat
saat Oujisaka mengeluarkan kalimat khas penjahat rendahan yang penuh dengan flag,
"Hei kamu,
apa-apaan sih ini. Jangan
biarkan orang-orang ini meremehkanmu terus."
Wah,
temannya beneran datang.
Gadis
yang tadi duduk dengan gaya angkuh itu berdiri.
"Reikado
Ayame dari kelas 2-10. Hobiku menikmati lukisan, keahlianku bermain
piano."
Mata yang
tajam, alis yang terbentuk sempurna, dan ekspresi yang seolah merendahkan orang
lain. Secara keseluruhan dia memberikan kesan yang judes, tapi tidak salah lagi
kalau dia adalah gadis yang sangat cantik.
Tapi
jujur saja, wajah dan atmosfernya itu hanya faktor sekunder. Hal yang patut
dicatat dari gadis bernama Reikado Ayame ini adalah—dadanya.
Meski aku
berusaha keras untuk tidak memikirkannya, mau tidak mau bagian yang ukurannya
di luar nalar itu tertangkap mataku.
Itu sudah
melampaui level Dada Besar (Big Oppai) dan mencapai ranah yang disebut Dada
Meledak (Busty).
"Yaze-san,
cukup. Duduklah."
"Ah...
iya."
Saat dia
bicara sambil menyibakkan rambutnya, gerakan kecil itu saja sudah membuat
asetnya berguncang hebat.
Yah, lupakan soal
itu. Sepertinya dia menolong Konagi bukan karena rasa kawan, tapi lebih karena
dia merasa kesal.
"Benar-benar
deh, kenapa gadis kampungan begini bisa ada di peringkat tiga."
"Haha...
maaf ya."
Tatapan Reikado
pada Konagi yang meminta maaf terasa dingin. Sepertinya dia tidak terima peringkat Konagi
lebih tinggi darinya yang berada di peringkat lima. Sesuai dugaanku, dia tipe
orang yang punya harga diri sangat tinggi.
Tapi,
terlepas dari sifatnya... dadanya beneran besar, ya.
Aku ini
bukan 'Alien Penggila Dada' yang menganggap makin besar makin bagus, tapi tetap
saja ukuran ini membuatku terbelalak. Dengan visual dan dada seperti ini, wajar
saja kalau dia dapat banyak suara meski sifatnya agak judes.
Malah di antara
para laki-laki di kelasku, ada jargon aneh yang beredar:
'Si Nomor Satu
yang Sempurna dan Tak Tergoyahkan (Ketua Kokubyakuin)', 'Si Nomor Tiga yang
Menggemaskan dan Ceroboh (Konagi)', dan 'Si Nomor Lima yang Dadanya Mantap
(Reikado)'.
Selain itu,
Reikado juga mendapat dukungan dari pihak selain para pecinta dada.
Kabarnya, sifat
judesnya ini sangat disukai oleh para laki-laki tipe Do-M (Masokis), dan
dia mendapat dukungan fanatik dari mereka.
Tapi... dadanya
beneran besar, ya.
"Amakusa-kun,
kurasa kamu terlalu berlebihan memandangi Gunung Kembar-nya."
"Buh!"
Teguran Yukihira
menyadarkanku.
Gawat... aku
benar-benar melakukannya secara tidak sadar, apa aku tadi sampai melotot
begitu?
"Sudah
kuduga... laki-laki memang lebih suka yang dadanya besar, ya."
"Hm? Kamu
bilang sesuatu?"
Yukihira
sepertinya menggumamkan sesuatu, tapi suaranya terlalu pelan sehingga tidak
terdengar.
"...Bukan
apa-apa."
Lalu, suara tajam
dari Reikado terdengar.
"Hei,
laki-laki menyedihkan di sana."
"Eh?
Menyedihkan itu... aku?"
"Iya, lebih
tepatnya laki-laki yang punya wajah kurang beruntung."
Uwaah...
orang ini sifatnya beneran buruk. Yah, aku tidak menyangkal kalau wajahku
memang kurang beruntung, tapi...
"Kalau kamu
laki-laki, wajar kalau matamu tertuju pada dadaku, jadi aku maafkan. Tapi
setidaknya gunakanlah etika dengan melirik saja. Kalau kamu terang-terangan
melotot begitu, aku merasa tidak nyaman."
"...Apa aku
melihatnya sejelas itu?"
"Makanya,
kan aku sudah bilang begitu."
"Ahaha,
Ama-chi sih melihatnya terlalu berani."
"Onii-chan
mesum... tapi Onii-chan yang begitu malah membuatku bergairah."
Jawaban instan
dari ketiga rekanku. Anak
yang terakhir itu agak aneh, ya.
"...Maaf
soal itu."
Aku
menundukkan kepala dengan jujur. Meski dilakukan secara tidak sadar, kalau
sampai semua orang menyadarinya, itu sudah termasuk pelecehan seksual tingkat
tinggi.
Setelah
menerima permintaan maafku, Reikado mendengus kecil lalu mengalihkan
pandangannya pada Yukihira.
"Dan
kamu, gadis Dada Rata di sana, berhentilah merasa cemburu yang tidak
berguna."
"Da... da...
rata?"
Seketika itu
juga, gerakan Yukihira terhenti total.
Wah, ini gawat...
topik dada rata adalah kata terlarang bagi Yukihira. Dulu waktu hal itu
disinggung di siaran sekolah, dia membuat pembawa acaranya mengalami kejadian
yang mengerikan.
"Reikado-san...
maaf kalau aku salah dengar, tapi jangan-jangan barusan kamu mengatakan kalau Aset
Berharga-ku tidak terlalu melimpah tanpa menggunakan bahasa kiasan?"
Wajahnya tetap
datar, tapi dia pasti marah besar. Buktinya area pelipisnya sampai
berkedut-kedut begitu.
"Hah? Aku
tidak paham apa yang kamu bicarakan dengan bahasa berbelit-belit begitu. Kan
aku bilang kamu Dada Rata."
"Dada
rata... kamu mengatakannya dua kali."
Yukihira bergumam
pelan dengan intonasi seperti Amuro saat dipukul Bright.
"Huh,
jangankan dua kali, aku akan mengatakannya berkali-kali. Berhentilah cemburu,
Dada Rata!"
Reikado memasang
senyum sadis. Sepertinya dia tipe orang yang secara alami merendahkan orang
lain untuk mempertahankan keunggulannya sendiri.
"Tiga
kali... target pemusnahan teridentifikasi."
Ini... gawat.
"Lagipula,
aku benar-benar tidak suka pada kalian. Padahal kalian sudah dicap sebagai
'Lima Teritolak' yang menjijikkan, harusnya kalian diam saja dengan rendah
hati, bukannya malah mencoba bersaing dengan kami—"
"Diamlah,
dasar Dada Busuk."
"...Hah?"
"Apa kamu
tidak dengar? Aku bilang Dada Busuk."
"A-apa-apaan
kata-kata kasar itu!"
"Kasar?
Dengan dada serendah itu, berani-beraninya kamu mengatakan hal seperti
itu."
"A-apanya yang rendah dari dadaku, hah!?"
"Mungkin warna kulit dan bagian hitamnya, ya."
"Itu kan semuanya, woi!"
"Ara, kamu
baru saja mengakui kalau Pai-rin (Lingkaran Dada)-mu menghitam,
ya."
"Bu-bukan...
di-diamlah!"
Wajah Reikado
memerah seketika. Ah, ada ya tipe orang yang suka mengatai orang lain tapi
giliran dikatai balik langsung tidak punya pertahanan sama sekali.
Lagipula, istilah
Pai-rin-mu itu... rasanya malah lebih mesum daripada menyebutnya
lingkaran puting biasa.
Setelah beberapa
detik dan tampak sedikit tenang, Reikado mencoba membalas.
"Hu-huh,
paling-paling itu cuma rasa iri dari si Dada Rata, kan?"
Yukihira
sepertinya sudah menduga balasan seperti itu. Dia tetap memasang wajah datar dan berucap
dengan tenang.
"Mungkin
saja begitu, wahai Yang Mulia Dada Raksasa. Tapi kalau kamu sebegitu bangganya
dengan dadamu, kenapa tidak coba tambahkan kata 'Dada' di setiap akhir
kalimatmu?"
"Hah? Apa
yang kamu bicarakan—"
"Aku Reikado
Ayame-dada. Aku bangga dengan dadaku yang besar-dada."
"He-hei..."
"Ah,
laki-laki di sana sedang melihat dadaku-dada. Fufu, bagaimana ya-dada. Apa aku
perlihatkan sedikit saja ya-dada~"
"Apa-apaan
kalimat yang kelihatan bodoh begitu!"
"Ah benar
juga Amakusa-kun. Aku memikirkan sesuatu yang inovatif."
Yukihira
tiba-tiba mengalihkan pembicaraan padaku dan memotong alur tadi.
"Hei...
kenapa malah bicara dengan orang lain!"
"Dalam manga
atau anime, kata-kata yang tidak boleh diucapkan biasanya disensor dengan suara
'Pi' atau lingkaran, kan? Kurasa itu terlalu kaku dan membosankan."
"Hmm...
begitu ya?"
"Kalau semua
kata terlarang diganti dengan kata 'Dada', kurasa akan jadi sedikit lebih
menarik."
"Yah,
premisnya saja sudah salah. Kata 'Dada' itu sendiri sudah hampir masuk kategori
terlarang, tahu."
"Yu-Yukihira-san,
kamu sedang berdebat denganku—"
"Mari kita
coba dulu."
"Hei...
jangan abaikan aku!"
"Taro
memasukkan dadanya yang tegak ke dalam dada Hanako yang sudah basah
kuyup."
"Itu sih sudah pasti OUT!"
"Begitu ya? Kalau begitu mari kita ubah arahnya sedikit."
"Ka-kamu...
kalau tidak berhenti, aku bakal marah lho!"
"Tidak
mungkin dadaku bisa sedada ini."
"Malah jadi kayak judul light novel!"
"Dada
dan dadaku terlalu dada."
"Lebih
dari setengah kalimat isinya cuma dada, woi!"
"Begitu?
Kalau begitu selanjutnya—"
"A-aku
mohon, ladeni aku dong!"
Teriakan pilu
Reikado bergema di seluruh ruangan.
"Ara,
ternyata ada si Dada Busuk."
"Di-diamlah!"
Yang
benar yang mana, sih.
"Uu...
uu... menganggap remeh orang..."
Reikado
yang merasa terpojok berteriak sekuat tenaga.
"Dasar
Dada Tepos!"
"—!"
Ah,
Yukihira terkena damage. Karena yang tadi itu bukan ejekan biasa tapi
teriakan jujur dari hati yang terdesak, dampaknya pasti besar.
"Dada
Tepos! Dada Tepos! Dada Tepos!"
"...Selanjutnya,
serangan dada seperti apa yang kamu inginkan untuk memojokkanmu?"
Gawat, kalau dibiarkan terus ini bakal jadi perang lumpur,
sebaiknya aku hentikan saja seka—
PILIH:
① "Ya ya, pertengkaran konyol ini
sampai di sini saja." Sambil mencubit puting susu sendiri.
② "Dada dada, pertengkaran konyol ini
sampai di sini saja."
...Konyol
banget. Meski ini berasal dari otakku sendiri, ini benar-benar konyol. Kamu
bodoh ya, Otak.
"Guh!"
Mungkin
karena tidak suka dianggap remeh, aku merasakan sakit kepala yang kuat. Sial...
terpaksa harus diucapkan.
"Dada
dada, pertengkaran konyol ini sampai di sini saja."
"Jangan
bercanda di saat orang sedang berdiskusi serius soal dada, bisa tidak?"
"Benar,
orang luar diam saja!"
Aku malah
dimarahi.
"Ah,
iya... maaf soal itu."
Aku pun
mundur dengan lesu.
Karena
tidak ada lagi yang menghentikan mereka, perang dada itu pun berlanjut.
Hasilnya,
"Uu...
si-siapa sih anak itu."
Reikado
tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca. Yah, Reikado sendiri yang mulai duluan
jadi ini salahnya sendiri, tapi aku merasa pertahanan Yukihira tadi sedikit
berlebihan.
"Fufu, pemandangan yang manis ya~"
Menyebut itu manis... orang ini juga sarafnya agak
bermasalah, ya.
Ketua Kokubyakuin kemudian mengalihkan pandangannya pada
siswa laki-laki yang sejak tadi tidak bicara sepatah kata pun.
"Kalau
begitu, Yoshiwara-san, silakan~"
Siswa itu
menjawab singkat, lalu berdiri dengan tenang.
"Yoshiwara
Touya dari kelas 1-11. Hobiku adalah perempuan, hal yang kusukai adalah
perempuan, dan tujuan hidupku adalah perempuan."
...Satu
lagi orang aneh muncul.
Siswa
kelas satu bernama Yoshiwara itu berjalan mendekati kami dengan senyum ramah di
wajahnya.
Begitu
sampai di depan Yukihira, dia menatap matanya dalam-dalam.
"Yukihira
Furano-san, permisi sebentar."
Belum
sempat dia selesai bicara, dia sudah menarik tangan Yukihira dan mengecup
punggung tangannya dengan lembut.
"...Apa
maksudnya ini?"
Setelah
terdiam sejenak, Yukihira bertanya dengan nada datar.
"Bukan
apa-apa, ini cuma salam. Aku tidak tahan jika tidak memberikan kecupan pada
gadis secantik dirimu yang ada di depanku."
Uwaah... kalimat
yang sangat murahan sampai-sampai rasanya mau terbang saking ringannya. Apa ada
gadis yang senang dibilang hal yang sudah jelas gombal begitu?
"Ka-kamu
cukup mengerti juga ya."
Ternyata ada!
"Yukihira...
kamu gampang banget ya."
Yukihira menjawab
dengan wajah tanpa dosa.
"Amakusa-kun,
jangan salah paham. Karena kulitku sangat kering, aku hanya senang karena
kulitku jadi lembap berkat air liurnya."
"Alasannya
terlalu dipaksakan!"
Dia pasti senang
tadi... Yah, karena baru saja dikatai dada rata berkali-kali dan merasa
tertekan, dipuji begitu pasti rasanya luar biasa menyenangkan.
"Lagipula,
aku bukan wanita murahan yang hatinya goyah hanya karena kata-kata bocah kencur
ini."
Bocah kencur...
padahal kalian cuma beda satu tahun, kan.
"Aduh,
jangan memaksakan diri untuk sok kuat begitu, Furano-san."
"Sok kuat?
Apa maksudmu?"
"Sejak dulu,
entah kenapa aku bisa langsung tahu tentang seorang wanita hanya dengan sekali
lihat."
"Bisa
tolong jelaskan lebih spesifik?"
"Yah,
pura-pura tidak tahu lagi. Meski kamu berakting jadi orang aneh, sebenarnya
kamu adalah orang yang sangat polos, kan? Reaksi senangmu tadi pun sebenarnya
adalah akting untuk menutupi perasaanmu yang sesungguhnya. Sebenarnya kamu
sedang menahan rasa malu setengah mati sampai ingin meringkuk setelah dikecup,
kan? Wah, Gap (perbedaan sifat)-mu luar biasa."
Yukihira
itu polos? Berakting jadi orang aneh? Apa-apaan yang dikatakan orang ini. Hal
seperti itu tidak mungkin... eh, tunggu dulu.
"Gap?
Rasanya... aku teringat sesuatu."
Ingatan
yang tertidur di dasar otakku seolah terpicu. Apa ini... sedikit lagi, kata
kunci yang menghubungkan Yukihira dengan 'Gap' seolah akan muncul.
"Benar,
atap sekolah! Yukihira, kamu di atap sekolah melakukan—"
"—!?"
Seketika itu
juga, mata Yukihira membelalak kaget.
"Ad-ada apa
Yukihi—Aduh!"
Benturan keras
menghantam kepalaku. Eh? Tinju? Apa dia baru saja memukul kepalaku dengan
tinju?
"Maaf.
Karena tadi ada tarantula, ular beludak, dan ikan buntal yang hinggap di
kepalamu secara bersamaan, aku berusaha memukulnya sekuat tenaga."
"Situasi
macam apa itu!"
Lagipula kalau
ketiga hewan itu hancur di atas kepalaku, malah jadi bencana besar, kan!
"...Yoshiwara-kun,
apa ada untungnya bagimu jika melanjutkan pembicaraan ini?"
Yukihira berbalik
dan menatap tajam ke arah Yoshiwara.
"Haha,
baiklah. Mari kita berhenti, Furano-san. Bukan hobiku membuat gadis merasa
tidak nyaman."
Yoshiwara
mengalihkan pandangannya dari Yukihira dengan senyum yang tetap sama.
Ngomong-ngomong,
tadi di atap ada kejadian apa ya... Saat aku membuat Yukihira tertawa karena
misi, sepertinya ada kejadian lain... Sial, aku tidak ingat.
"Oujisaka
Ouka-san."
Suara Yoshiwara
menarikku kembali dari lamunanku.
"Iya,
iya!"
Entah sejak kapan
Yoshiwara sudah berada di dekat Oujisaka. Dia menarik tangan Oujisaka yang
tidak diangkat dan mengecup punggung tangannya.
"Ooh,
kecupan! Kecupan!"
Oujisaka
kegirangan seperti anak kecil.
"Bagus
sekali, Ouka-san. Di balik sifat kekanak-kanakan yang polos ini, tubuhmu sudah
menjadi seorang wanita dewasa yang matang. Pesona yang dihasilkan dari
ketidakseimbangan ini benar-benar tidak tertahankan."
Hebat juga dia
bisa mengeluarkan kata-kata memalukan seperti itu dengan lancar. Apa ini yang
dinamakan 'Playboy Alami'?
"Ngomong-ngomong
Ouka-san, apa pernah punya pengalaman pacaran?"
"Tidak
punya!"
"Sudah
kuduga. Dari yang kulihat, mentalmu belum mencapai tahap untuk bisa jatuh
cinta... tapi,"
Yoshiwara menjeda
kalimatnya sejenak sebelum lanjut bicara.
"Aku bisa
merasakan sedikit benih kewanitaanmu yang mulai tumbuh. Apa baru-baru ini
terjadi sesuatu?"
"Sesuatu
apa?"
"Yah,
misalnya terjadi sesuatu yang membuat jantungmu berdebar atau kejadian
memalukan dengan seorang laki-laki."
Oujisaka
mengalihkan pandangannya ke udara sejenak, lalu menepukkan tangannya.
"Ah, kalau
dipikir-pikir waktu itu celana dalamku terliha—"
Dia terhenti di
tengah kalimat,
"Nggak jadi,
nggak jadi! Yang barusan nggak dihitung!"
Tidak
biasanya dia melambaikan tangannya dengan panik begitu.
Lalu, setelah
melirikku sekilas, dia membuang muka. Wajahnya terlihat sedikit memerah.
Apa?
Jangan-jangan dia hampir keceplosan soal waktu aku tidak sengaja melihat celana
dalamnya, tapi dia malu dan berhenti di tengah jalan? Tapi tadi dia
santai saja bicara soal mandi bareng... Aku benar-benar tidak paham standar
rasa malu Oujisaka.
Yoshiwara menatap sikap Oujisaka itu sambil tersenyum ramah.
"Hee, sepertinya benihnya tumbuh lebih besar dari
dugaanku. Hebat juga ya Amakusa-senpai, meski punya wajah kayak Jomblo Abadi
(Doutei), ternyata kamu cukup jago juga."
"Apa maksudmu dengan wajah 'Jomblo Abadi', hah!"
"Onii-chan,
meski kamu Jomblo Abadi pun aku tetap suka, kok!"
"Jangan ikut campur di saat begini, woi!"
...Kenapa ya, para gadis di timku ini selalu saja mencari
celah untuk ikut campur.
"Hm?"
Ponsel di
saku celanaku bergetar.
Ah, benar
juga. Barusan Yuragi baru saja bilang "Suka" padaku dengan sepenuh
hati.
Baiklah,
meski dia adalah lawan dengan tingkat kesulitan paling rendah, tidak diragukan
lagi kalau aku sudah semakin dekat untuk menyelesaikan misi. Memilih Yuragi
sebagai pemain pengganti ternyata ada gunanya juga.
Yoshiwara
kemudian melangkah menuju Yuragi. Sebenarnya, kenapa sih si brengsek ini harus
berinteraksi dengan setiap gadis padahal ini gilirannya memperkenalkan diri?
"Hakoniwa
Yuragi-san."
"Ada
apa, Onii-chan Touya?"
Yuragi...
ternyata kamu tetap pakai mode "adik" bahkan kepada teman seangkatan,
ya? Konsistensi yang luar biasa.
Yoshiwara
mengecup punggung tangan Yuragi. Gerakannya sangat sok keren, tapi yang
membuatku kesal adalah fakta bahwa dia terlihat pantas melakukannya.
"Ti-tidak
boleh, Onii-chan. Antara kakak dan adik tidak boleh melakukan hal seperti
itu..."
Kenapa
wajahmu memerah!? Kamu begitu mendalami peran adikmu itu sampai ke sumsum
tulang? Kamu bodoh, ya? Mau mati?
"Itu
salah, Yuragi. Di hadapan cinta sejati, hubungan darah tidaklah berarti."
DIA MALAH
IKUT-IKUTAN!
"Ka-kalau
Onii-chan bilang begitu... boleh deh."
"BOLEH
APANYA! Perkembangannya terlalu cepat! Ini novel mesum dari mana, hah!?"
Perkembangan yang
terlalu tiba-tiba ini membuatku mual melihatnya. Aku ini tipe orang yang
menuntut adanya alur cerita yang masuk akal... Eh, tunggu, apa sih yang sedang
kubicarakan?
"Ngomong-ngomong,
kalau boleh bicara detail, aku lahir di akhir Maret, jadi kurasa kamulah yang
sebenarnya 'kakak perempuan'-ku."
"Kalau
begitu, kamu adalah Onii-chan yang lebih muda!"
"Kalian
benar-benar seenaknya sendiri, ya!"
"Begitu
ya, kalau dipikir sebagai permainan situasi (roleplay), ini boleh
juga."
...Sial,
aku tidak bisa mengikuti percakapan sesama orang sesat ini.
Melihatku
yang sudah muak, Yuragi mendekat dengan wajah riang.
"Eh,
Onii-chan Kanade, kenapa wajahmu cemberut begitu? Jangan-jangan, kamu cemburu karena aku selingkuh
dengan Onii-chan la—"
"Bagian itu
merepotkan sekali, tahu!"
Yoshiwara
memperhatikan interaksiku dengan Yuragi sambil tersenyum ramah.
"Yuragi-san,
esensimu adalah... hmm, sepertinya bakal panjang kalau dijelaskan, jadi kita
lupakan saja. Aku sudah cukup menikmati tiga tipe gadis yang berbeda."
Yoshiwara yang
menyimpulkan sendiri pembicaraannya kembali ke kursinya dengan wajah puas.
Begitu Yoshiwara duduk, Ketua Kokubyakuin membuka suara untuk memberikan
penjelasan tambahan.
"Berdasarkan
hasil penyelidikanku~ jumlah siswi yang berkencan dengan Yoshiwara-san sudah
mencapai lebih dari sepuluh orang."
Serius...?
Padahal sekolah baru jalan dua bulan, tapi sudah lebih dari sepuluh orang...
"Yang patut
dicatat adalah fakta bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang merasa tidak
puas atau saling bermusuhan. Benar-benar keajaiban dalam hal after-care
ya~ Saat ini, dia dianggap sebagai kandidat terkuat untuk masuk ke Peringkat
Utama periode berikutnya~"
"Prinsipku
adalah membahagiakan semua gadis yang menjalin hubungan... ah, maksudku yang
berinteraksi denganku. Aku akan mencintai siapa pun dengan adil."
Enggak, meski
kamu mengatakannya dengan sangat fresh, isinya itu sampah banget tahu...
Lagipula,
Yoshiwara ini kelihatannya bakal mengajak bicara semua gadis yang dia temui.
Jangan-jangan, dia juga melakukan hal serupa pada anggota Peringkat Utama yang
datang lebih awal tadi?
Seolah menyadari
keraguanku dari gerakan mataku, Yoshiwara mengalihkan pandangannya pada Konagi.
"Ah, tentu
saja aku sudah memberi salam pada para gadis di sini. Reaksi Konagi-san sangat
imut, lho."
"He?
Ta-ta-ta-tapi..."
Karena tiba-tiba
diajak bicara, Konagi yang sepertinya teringat sesuatu langsung menunduk dengan
wajah merah padam.
"Bahkan
Ayame-san benar-benar jatuh hati padaku."
"A-apa yang
kamu bicarakan! Ak-aku tidak jatuh hati, tahu!"
Reikado
spontan menggebrak meja dan berdiri. Sepertinya dia sudah berhasil pulih dari damage
akibat serangan Yukihira tadi.
"Aku
sudah merayu banyak gadis sampai sekarang, tapi baru kali ini aku bertemu orang
yang jatuh hati semudah ini."
"Sudah
kubilang aku tidak jatuh hati!"
"Haha, cuma
bercanda kok. Kamu imut sekali."
"Apa...
ka-kamu berani menggoda kakak kelasmu..."
"Aku tidak
pernah bercanda saat memuji wanita. Kamu benar-benar imut."
"U...
au..."
...Anda
hampir jatuh hati sepenuhnya, Reikado-san.
"Ngomong-ngomong,
Ketua Seira punya pertahanan yang sangat kuat, jadi aku tidak diizinkan
mengecup tangannya."
"Fufu, meski
hanya tangan, aku sudah memutuskan hanya akan memberikan kecupan pada laki-laki
yang aku sukai saja~"
"Yah, itu
tidak masalah. Tapi Ketua Seira, bisakah kamu sedikit melonggarkan
pertahananmu? Di dalam hatimu sama sekali tidak ada celah, aku tidak bisa
membaca apa pun darimu."
"Hati
seorang gadis itu kompleks, tahu~"
Ketua Kokubyakuin dan Yoshiwara saling melempar senyum...
Kenapa ya, rasanya malah menyeramkan.
"Nah, kalau
begitu mari kita minta Kak Shishimori untuk memperkenalkan diri~"
Tepat saat Ketua
menepukkan tangannya dan perhatian semua orang tertuju pada Kak Shishimori—
"Kanade-san!"
"Hah?"
Tiba-tiba pintu
terbuka dengan keras, dan Chocolat melompat masuk ke dalam ruangan.
"Ka-kamu...
kenapa ada di sini? Kan
sudah kubilang tunggu di kelas."
"Aku
lapar!"
...Terus?
Seolah
membuktikan kata-katanya, suara gugyuuuuuuuu yang sangat kencang
terdengar dari perut Chocolat.
"Aku
lapar!"
...Makanya, terus
kenapa!?
"...Kamu kan
tadi sudah makan bekal porsi super besar, dan hari ini juga sudah dapat banyak
camilan, kan?"
"Semuanya sudah terserap ke dalam tubuh. Level organ
pencernaanku berbeda dengan orang biasa."
Kenapa kamu malah bangga begitu...
Padahal anggota di sini saja sudah terlalu
"berwarna", kalau ditambah Chocolat, aku tidak tahu kekacauan macam
apa yang bakal terjadi. Aku harus segera mengusirnya—
"I... ini dia!"
Suara
kursi yang bergeser dengan keras terdengar. Saat aku menoleh, Yoshiwara sudah berdiri sampai
kursinya terjatuh. Entah kenapa tubuhnya gemetar hebat.
"Ada apa
denganmu?"
Yoshiwara
sepertinya tidak mendengar pertanyaan Kak Shishimori. Dia langsung berlari
lurus ke arah Chocolat dan menggenggam kedua tangannya erat-erat.
"Menikahlah
denganku!"
"Hoe?"
...Hah?
"Siapa
namamu?"
"Chocolat."
"Chocolat-san, ya... Ini pertama kalinya. Dalam sejarah
petualangan cintaku, baru kali ini jiwaku terguncang sehebat ini. Kamu
sempurna!"
"Haa, aku sempurna ya."
Si brengsek ini... tiba-tiba bicara apa sih.
"Aku jatuh
cinta pada pandangan pertama. Aku tidak akan bilang 'menikah'. Mari kita mulai dari membuat anak saja."
"URUTANNYA
SALAH, WOI!"
Perkembangan
macam apa yang mendadak ini. Tapi, dilihat dari nada bicara Yoshiwara yang
jelas berbeda dari sebelumnya, dia sepertinya tidak sedang bercanda.
"Ah,
maaf. Saking senangnya, aku jadi terlalu bersemangat dan terburu-buru.
Bagaimana kalau kita keluar sebentar dan pergi ke gudang olahraga? Aku ingin
bicara berdua saja denganmu."
Yoshiwara
dengan santai merangkul bahu Chocolat.
"Tu-tunggu
sebentar!"
Refleks,
aku menyambar lengan Yoshiwara.
"Eh, kenapa
Amakusa-senpai ikut campur? Aku kan sedang bicara dengan Chocolat-san."
Yah, memang benar
sih, tapi...
"Po-pokoknya
yang tidak boleh ya tidak boleh!"
Argumenku
benar-benar tidak punya dasar logika sedikit pun.
"Aku
tidak terlalu paham, tapi kalau Kanade-san bilang tidak boleh, aku tidak akan
pergi."
Mendengar
perkataan Chocolat, Yoshiwara mundur satu langkah.
"Chocolat-san,
sebenarnya apa hubunganmu dengan Amakusa-senpai ini?"
"Hubungan
ya? Aku ada di sini untuk melayani Kanade-san!"
Chocolat
mendongak menatapku dengan senyum lebar.
"...Begitu
ya, sepertinya kalian punya kepercayaan yang sangat dalam."
Yah, daripada
disebut 'kepercayaan', lebih tepatnya dia itu 'manja' padaku.
Lalu, suara tajam
Kak Shishimori terdengar.
"Woi kalian, cukup main-mainnya. Aku mengumpulkan kalian di sini bukan untuk
melakukan drama percintaan konyol."
"Ah, maaf.
Kalau begitu Chocolat-san, kita lanjutkan lagi nanti ya."
Yoshiwara kembali
ke kursinya dengan santai. Senyum ramahnya sudah kembali, tapi kenapa ya dia
terlihat jauh lebih mengerikan daripada tadi.
...Yah, soal
Yoshiwara kita pikirkan nanti saja, yang penting sekarang adalah nasib Chocolat
di sini.
"Chocolat,
kalau kamu di sini semuanya jadi makin rumit, sana keluar—"
"Mumpung dia
di sini, bagaimana kalau Chocolat-san ikut mengobrol bersama kita saja? Silakan
duduk di mana saja yang kamu suka~"
Ketua malah
menambahkan satu kalimat yang tidak perlu dan memotong perkataanku.
"Terima
kasih!"
"Ah,
hei!"
Chocolat langsung
duduk sebelum sempat kuhentikan.
"Ya ampun...
baiklah, tinggal dua orang lagi, kalau kamu bisa diam dengan manis—HEI KENAPA
KAMU MALAH DUDUK DI PANGKUANKU!"
Seolah itu adalah
tempat duduk tetapnya, dia dengan santai duduk di atas pangkuanku.
"Tadi
katanya boleh duduk di mana saja."
"Pangkuanku
tidak termasuk dalam cakupan 'di mana saja' itu!"
"Kanade-san,
tsukkomi-mu sulit dimengerti."
"BERISIK!"
Aku
mencengkeram tengkuknya dan menurunkannya secara paksa.
"Uuu,
sungguh disayangkan-dada..."
Chocolat
duduk di sebelahku dengan wajah lesu. Yang disayangkan itu adalah cara
berpikirmu!
Ketua
yang melihat kejadian itu sambil tersenyum mengalihkan pandangannya pada Kak
Shishimori.
"Hai hai~
Kalau begitu Shishimori-san, silakan dilanjutkan~"
Kak Shishimori
berdiri dengan ekspresi wajah yang tampak sudah muak.
"Sial, kalian menghabiskan waktu berapa lama sih...
Yah, rasanya sudah telat, tapi perkenalkan, Shishimori Souga dari kelas 3-5,
Wakil Ketua OSIS. Keahlianku adalah semua jenis olahraga. Seperti yang kubilang
tadi, meski ini cuma acara sekolah, pertandingan tetaplah pertandingan. Aku
akan menghancurkan kalian sekuat tenaga, jadi bersiaplah."
Dia bilang 'semua jenis olahraga' dengan santai, tapi itu
memang fakta... Di festival olahraga tahun lalu, dia bisa menyaingi para pemain
inti dari berbagai klub di banyak cabang olahraga. Nilai akademisnya juga
kabarnya selalu berada di jajaran teratas. Dia benar-benar versi laki-laki dari
Oujisaka—sosok dengan spek yang mengerikan.
"Hai, aku
punya pertanyaan untuk Onii-chan Souga!"
Tiba-tiba
Yuragi mengangkat tangan.
"Aku
bukan kakakmu."
Kak
Shishimori mendelik tajam dengan kesal, tapi Yuragi sama sekali tidak peduli.
"Ah, itu dia. Barusan juga begitu, waktu aku
memanggilmu Onii-chan, wajahmu kelihatan sangat jijik, kan?"
Itu hal yang aku
rasakan juga. Yah, dipanggil Onii-chan oleh orang asing memang tidak
mengenakkan, tapi reaksi Kak Shishimori rasanya terlalu berlebihan.
"Sebenarnya
ya~ Kak Shishimori punya lima orang adik perempuan. Dari kelas 6 SD sampai
kelas 1 SMA, semuanya berurutan setiap tahun~"
Ketua Kokubyakuin
memberikan penjelasan tambahan dari samping. Satu laki-laki lima perempuan...
formasi yang luar biasa.
"Kokubyakuin,
jangan bicara hal yang tidak perlu."
Meski dipelototi
dengan tajam, Ketua Kokubyakuin sama sekali tidak goyah.
"Semua
adik-adiknya itu sangat menyayangi Kak Shishimori, dan setiap hari mereka
selalu memaksa untuk melakukan kontak fisik (skinship). Karena
intensitasnya yang terlalu ekstrem, Kak Shishimori jadi merasa ngeri dengan
adik perempuan~"
"Kenapa kamu
bisa tahu sampai sejauh itu, hah!"
"Karena itu
menarik~"
...Itu sama
sekali bukan jawaban.
Tapi apa-apaan
itu? Disukai oleh semua adik perempuannya, itu kan perkembangan ala harem.
Padahal dia sudah menyandang status Riajuu (orang sukses dalam kehidupan
sosial) terkuat di sekolah. Sebaiknya dia meledak... ah tidak, menguap saja
dari bumi.
"Mereka itu
ya, sehabis mandi cuma pakai handuk langsung memelukku, memaksaku menemani beli
pakaian dalam, atau diam-diam menyelinap ke kamarku dan masuk ke dalam selimut
di malam hari. Di mana pun aku berada di rumah, tidak ada waktu bagi jiwaku untuk
beristirahat."
...Kenapa ya,
'cerita malang' ini terdengar seperti pamer yang luar biasa menyebalkan. Yah,
aku tahu kalau dia benar-benar tidak bermaksud begitu dan sungguh-sungguh
merasa terganggu, tapi rasa marah tetap saja membuncah dalam diriku.
"Pokoknya,
begitulah. Karena mereka selalu menempel padaku sejak kecil, aku jadi tidak
bisa menerima wanita yang mendekatiku dengan rasa suka."
Aku pernah dengar
kalau Kak Shishimori menolak semua pernyataan cinta dari para gadis, ternyata
ada alasan seperti itu di baliknya.
"Hebat ya, Onii-chan Souga. Punya enam adik perempuan
di dunia nyata, itu sih sudah jadi King of Onii-chan!"
Yuragi secara alami memasukkan dirinya sendiri ke dalam
hitungan adik perempuan itu.
"Hakoniwa,
brengsek... kamu tadi dengerin ceritaku tidak? Aku bilang hentikan karena sosok
mereka jadi tumpang tindih denganmu."
"Ah, maaf
ya, apa karakterku mirip dengan salah satu dari kelima adikmu?"
"Bukan itu
maksudnya!"
Yuragi sama
sekali tidak gentar meski Kak Shishimori membentaknya. Dia meletakkan jari
telunjuk di bibirnya.
"Hmm, kalau
begitu, bagaimana kalau aku ganti sedikit?"
Ganti...?
Jangan-jangan dia mau melakukan 'itu'?
Tepat
saat firasat buruk yang tak terlukiskan muncul di dadaku—
"Kak,
jangan salah paham dulu dong."
Tatapan
mata Yuragi mendadak berubah menjadi sangat tajam.
...Firasatku
benar.
"Ada
apa denganmu?"
Kak
Shishimori menatap heran ke arah Yuragi yang gaya bicaranya berubah drastis.
"Apanya
yang 'ada apa'? Di sekolah setiap hari ditembak gadis-gadis, di rumah disukai
kelima adikmu selain aku, dan kamu tidak suka itu? Kamu bodoh ya? Kamu tahu
tidak berapa banyak laki-laki yang ingin berada di posisimu tapi tidak
bisa?"
Benar,
pola akting adik perempuan Yuragi bukan cuma satu. Sampai setahun yang lalu
pun, dia selalu mengikutiku dengan berbagai variasi peran adik.
Ngomong-ngomong, yang sekarang ini adalah pola 'Adik Tsundere yang tidak
bisa menunjukkan rasa suka pada kakaknya'.
"Oi
Hakoniwa, aku tidak punya waktu buat meladeni candaanmu."
"Hah,
kamu pikir dengan bersikap sok preman begitu semua wanita bakal bertekuk lutut
kepadamu, Kak? Lagipula, gaya bicaramu yang kayak preman pasar itu sudah kuno
dan norak, bisa berhenti tidak?"
Yuragi
benar-benar mendalami perannya.
"Kamu...
sudah cukup ya!"
Kak
Shishimori menggebrak meja dengan kepalan tangannya untuk menunjukkan
ketidaksukaannya.
"A-apa...
dengan wajah seram begitu, apa yang mau kamu lakukan... jangan mendekat!"
...Padahal
jangankan mendekat, Kak Shishimori bahkan tidak bergerak satu langkah pun
karena dia berada di sisi meja yang berlawanan... Sepertinya adegan drama
berdasarkan delusi sudah dimulai.
"Eh,
tu-tunggu... apa yang kamu lakukan, Kakak brengsek! Mentang-mentang
kalah debat, malah pakai kekerasan, kamu rendah sekali... Eh, kamu menyentuh
bagian ma—AKU SAYANG BANGET PADAMU!"
"Cara
Dere-nya aneh banget!"
Antara
'menyentuh' dan 'aku sayang banget' yang cuma jeda sesaat itu, sebenarnya
terjadi apa sih!?
Kak Shishimori
sendiri mematung tanpa bisa berkata-kata... Kondisi ini biasa disebut dengan istilah ilfeel
tingkat dewa.
"Yuragi,
sudah cukup. Tidak ada yang bisa mengikuti alurmu."
"Eh,
kurasa tidak begitu kok~"
Dalam
sekejap, Yuragi kembali ke mode standarnya (yah, ini pun sama sekali tidak
normal sih) dan memberikan senyum lebar padaku.
"Ah,
Onii-chan Kanade, jangan-jangan kamu cemburu karena aku memperhatikan Onii-chan
la—"
"SUDAH
KUBILANG BAGIAN ITU MEREPOTKAN!"
"Amakusa...
kenapa sih kamu memilih orang seperti ini sebagai pemain pengganti?"
Kak
Shishimori memegang keningnya dengan ekspresi yang benar-benar muak.
"...Aku juga
ingin tahu jawabannya."
Melihat kondisi
Kak Shishimori yang kelelahan secara mental, aku malah merasa punya rasa
simpati padanya.
Di tengah
situasi itu, sosok terakhir berdiri dengan senyum ramah yang selalu terpasang.
"Kalian
berdua sepertinya bersenang-senang ya~ Baiklah, meskipun lancang, izinkan saya
memperkenalkan diri~ Kurohakuyin Seira dari kelas 3-3. Saya menjabat sebagai
Ketua OSIS~"
Suaranya
tetap santun dan lembut seperti biasa, tapi nada bicaranya punya kekuatan aneh
yang membuat orang tanpa sadar mendengarkannya. Mungkin inilah alasan kenapa
dia menjadi karisma yang berdiri di puncak 1.800 siswa.
"Hobiku...
yah, mungkin 'mengamati manusia' ya~"
Dia sedikit
memiringkan kepalanya sambil menatapku. Lalu, dia memberikan tatapan penuh arti
pada Chocolat.
Sudah kuduga,
orang ini... apa dia tahu sesuatu?
"Nah~ karena
perkenalannya sudah selesai semua, kalau tidak ada hal lain dari kalian,
pertemuan ini kita akhiri sampai di sini."
Tepat saat Ketua
hendak menutup pertemuan dengan kecepatannya sendiri—
PILIH:
① Berteriak pada semua gadis: "Dengar ya kalian
semua, akan kubuat kalian bilang 'suka' padaku!"
② Dicintai oleh semua gadis di ruangan ini
(Tanpa penghapusan ingatan)
Apa-apaan ini?
Pilihan ② (Tanpa penghapusan ingatan)... Pilihan
semacam ini belum pernah muncul sebelumnya. Itu artinya hasil dari pilihan tersebut akan bertahan selamanya, kan?
...Ini yang
terburuk.
Selama ini,
karena aku tahu ingatan orang lain akan dihapus, aku bisa memilih opsi yang
bahkan mengendalikan tindakan orang lain. Tapi kalau pengaman itu hilang, aku
tidak bisa memilihnya kecuali isinya benar-benar tidak penting.
Ini pasti
perubahan pilihan akibat menyelesaikan misi, tapi frekuensi kemunculannya tidak
menentu, isinya juga samar dan tidak punya pola yang jelas. Apa mungkin kalau
aku terus menyelesaikan misi, perubahannya akan jadi lebih nyata?
Pokoknya kali ini
aku terpaksa memilih ①... Tapi kalau aku mengucapkannya, sudah
pasti tingkat kesulitan penyelesaian misi akan melonjak drastis...
"Ara~
Amakusa-san, wajahmu seolah ingin mengatakan sesuatu ya."
Ketua
tersenyum ramah ke arahku. Apa
cuma perasaanku saja, atau dia memang sedang menilaiku?
"Enggak,
bukan begi—GUH!"
Sial... aku cuma
perlu mengucapkannya, kan!
"Ketua...
boleh aku bicara satu hal saja?"
"Fufu,
silakan silakan~"
Sambil menahan
rasa sakit yang mengamuk di dalam kepalaku, aku mengedarkan pandangan ke arah
para gadis.
"DENGAR YA KALIAN SEMUA... AKAN KUBUAT KALIAN BILANG
'SUKA' PADAKU!"
"..............................................."
Keheningan
yang aneh menguasai ruangan. Wajar saja, aku sendiri merasa ini terlalu tiba-tiba. Kalau tiba-tiba ada
orang yang menyatakan hal seperti itu di tengah alur ini, siapa pun pasti akan ilfeel
total.
Keheningan itu
akhirnya pecah oleh suara Chocolat yang tidak tahu situasi.
"Ooh, enam
orang sekaligus, luar biasa Kanade-san!"
"E-enggak,
bukan begitu maksudku..."
Aku mencoba
membela diri, tapi gadis-gadis lain sudah mulai bereaksi secara serempak.
"Suka... hau..." Konagi memegang pipinya dengan
wajah memerah.
"Ka-kamu
benar-benar sampah rendahan!" Reikado melontarkan kalimat ala kesatria wanita di suatu tempat.
"Onii-chan
yang tidak hanya memberikan cintanya padaku juga boleh." Yuragi malah
terlihat senang entah kenapa.
"Ooh, berani
juga ya Ama-chi! ...Hm?" Oujisaka yang tadinya mau kegirangan tiba-tiba
memiringkan kepalanya heran.
"..." Yukihira diam tanpa ekspresi, aku tidak tahu
sama sekali apa yang dia pikirkan.
"Ara
ara~" Ketua Kokubyakuin tersenyum lebar.
"Bu-bukan,
semuanya, dengarkan dulu..."
Aku
mencoba membela diri lagi, tapi kata-kata tidak mau keluar dengan benar.
Lalu
Chocolat menepuk dadanya dengan mantap dan kembali membuka suara.
"Tenang
saja! Di dalam tumpukan buku berwarna kulit di kamar Kanade-san, ada banyak
cerita tentang satu laki-laki yang disukai oleh banyak perempuan! Kita semua di sini tinggal melakukan hal
yang sama seperti itu saja!"
...Sebaiknya aku
mati saja sekarang.



Post a Comment